HIKMAH DAN HUKUM AL FATIHAH SELALU DI BACA DALAM SEMUA DO’A

Pertanyaan:

Sebagian besar umat Islam Indonesia sering melakukan doa dengan bacaan al-Fatihah, apakah terkait pembukaan acara, mengirim doa untuk para almarhum, ziarah kubur dan sebagainya.

Adakah dasar pembacaan al-Fatihah dalam do’a?

Jawaban:

Al-Quran menyebutkan bahwa ada 7 ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani. QS al-Hijr: 87), para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud 7 ayat tersebut adalah surat al-Fatihah.

Dalam riwayat Bukhari (2276) dan Muslim (5863) Abu Said al-Khudri yang dimintai tolong oleh sekelompok suku yang pimpinannya sakit karena tersengat hewan. Abu Said mengobatinya dengan doa al-Fatihah. Inilah riwayat tersebut:

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ كَانُوْا فى سَفَرٍ فَمَرُّوْا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَلَمْ يُضِيْفُوْهُمْ فَقَالُوْا لَهُمْ هَلْ فِيْكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيْغٌ أَوْ مُصَابٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيْعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ فَأَتَى النَّبِىَّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَاللهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَتَبَسَّمَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ خُذُوْا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ (رواه مسلم رقم 5863 والبخاري رقم 5736)

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berada dalam perjalanan lalu melewati salah satu suku Arab. Mereka bertamu namun tidak disuguhi apapun. Penduduk suku bertanya: Apakah diantara kalian ada yang bias mengobati (ruqyah)? Sebab kepala suku kami terkena bias atau musibah. Salah seorang sahabat menjawab: Ya. Kemudian ia mendatanginya dan mengobatinya (ruqyah) dengan surat al-Fatihah. Pemimpin tersebut sembuh dan memberikannya bagian dari kambing, namun ia (sahabat) menolaknya, dan ia berkata: Saya akan menyampaikannya dahulu kepada Nabi Saw. Ia pun mendatangi Nabi Saw dan menceritakan kisah diatas kepada Nabi. Ia berkata: Wahai Rasulullah, Demi Allah. Saya hanya melakukan ruqyah dengan surat al-Fatihah. Rasulullah Saw tersenyum dan berkata: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah? Nabi Saw bersabda: Ambillah (kambing) dari mereka. Dan berilah saya bagian bersama kalian” (HR Muslim No 5863 dan al-Bukhari No 5736)

Imam Nawawi menganjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit dengan beristinbath pada hadis diatas:

(فَصْلٌ فِيْمَا يُقْرَأُ عِنْدَ الْمَرِيْضِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ الْمَرِيْضِ بِالْفَاتِحَةِ لِقَوْلِهِ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ فِيْهَا وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ (التبيان في آداب حملة القرآن للشيخ النووي 1 / 183)

“Dianjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dalam hadis sahih tentang al-Fatihah: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah?” (al-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Quran I/183)

Begitu pula ahli tafsir, Fakhruddin al-Razi, berwasiat agar dibacakan al-Fatihah khususnya untuk salah satu putranya yang telah wafat:

وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (تفسير

الرازي الكبير مفاتيح الغيب لفخر الدين الرازي 18 / 183)

“(Al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri akan mendoakan mereka yang telah berdoa untuk saya” (Tafsir al-Razi 18/233-234)

Bahkan Ibnu Taimiyah, ulama yang menjadi panutan kelompok anti tahlil, senantiasa mengulang-ulang bacaan al-Fatihah lebih banyak dari kaum Nahdliyin, hal ini disampaikan oleh muridnya sendiri, Umar bin Ali al-Bazzar, yang menulis biografi Ibnu Taimiyah:

وَكُنْتُ اَسْمَعُ مَا يَتْلُوْ وَمَا يَذْكُرُ حِيْنَئِذٍ فَرَأَيْتُهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيُكَرِّرُهَا وَيَقْطَعُ ذَلِكَ الْوَقْتَ كُلَّهُ – أَعْنِي مِنَ الْفَجْرِ اِلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ – فِي تَكْرِيْرِ تِلاَوَتِهَا (الأعلام العالية في مناقب ابن تيمية لعمر بن علي البزار 38)

“Saya mendengar apa yang dibaca dan yang dijadikan dzikir oleh Ibnu Taimiyah. Saya melihatnya membaca al-Fatihah, mengulang-ulanginya dan ia menghabiskan seluruh waktunya –yakni mulai salat Subuh sampai naiknya matahari– untuk mengulang-ulang bacaan al-Fatihah”

(al-A’lam al-‘Aliyah 38)

HIKMAH MENGUSAP MATA DENGAN JEMPOL KETIKA MENDENGAR ADZAN

Masalah ini tidak berkaitan dengan hukum sunah atau yang lain bila dilakukan dalam Adzan, namun sebuah doa yang dilakukan beberapa ulama khususnya yang bermadzhab Malikiyah. Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdirrahman al-Maghrabi berkata:

وَرُوِيَ عَنْ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرْحَبًا بِحَبِيبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَبِّلُ إبْهَامَيْهِ ، وَيَجْعَلُهُمَا عَلَى عَيْنَيْهِ لَمْ يَعْمَ ، وَلَمْ يَرْمَدْ أَبَدًا (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل – ج 3 / ص 355)

“Diriwayatkan dari Nabi Khidlir bahwa ia berkata: Barangsiapa yang mendengar bacaan muadzin: ”Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, lalu ia berdoa: “Marhaban bi habibi wa qurrati aini Muhammadi ibni Abdillah Saw”, lalu mengecup dua jari jempolnya dan diletakkan (diusapkan) ke kedua matanya, maka ia tidak akan mengalami buta dan sakit mata selamanya” (Mawahib al-Jalil Syarah Mukhtashar Khalil 3/355)

Bahkan dalam referensi ulama Malikiyah tidak sekedar dijelaskan ‘tata caranya’, namun juga faedahnya:

( فَائِدَةٌ ) قَالَ فِي الْمَسَائِلِ الْمَلْقُوطَةِ : حَدَّثَنَا الْفَقِيهُ الصَّدِيقُ الصَّدُوقُ الصَّالِحُ الْأَزْكَى الْعَالِمُ الْأَوْفَى الْمُجْتَهِدُ الْمُجَاوِرُ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الْمُتَجَرِّدُ الْأَرْضَى صَدْرُ الدِّينِ بْنُ سَيِّدِنَا الصَّالِحِ بَهَاءِ الدِّينِ عُثْمَانَ بْنِ عَلِيٍّ الْفَاسِيِّ حَفِظَهُ اللَّهُ تَعَالَى قَالَ : لَقِيتُ الشَّيْخَ الْعَالِمَ الْمُتَفَنِّنَ الْمُفَسِّرَ الْمُحَدِّثَ الْمَشْهُورَ الْفَضَائِلُ نُورَ الدِّينِ الْخُرَاسَانِيَّ بِمَدِينَةِ شِيرَازَ ، وَكُنْتُ عِنْدَهُ فِي وَقْتِ الْأَذَانِ فَلَمَّا سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَبَّلَ الشَّيْخُ نُورُ الدِّينِ إبْهَامَيْ يَدَيْهِ الْيُمْنَى وَالْيُسْرَى وَمَسَحَ بِالظُّفْرَيْنِ أَجْفَانَ عَيْنَيْهِ عِنْدَ كُلِّ تَشَهُّدٍ مَرَّةً بَدَأَ بِالْمُوقِ مِنْ نَاحِيَةِ الْأَنْفِ ، وَخَتَمَ بِاللَّحَاظِ مِنْ نَاحِيَةِ الصُّدْغِ ، قَالَ فَسَأَلَتْهُ عَنْ ذَلِكَ ، فَقَالَ : إنِّي كُنْتُ أَفْعَلُهُ مِنْ غَيْرِ رِوَايَةِ حَدِيثٍ ، ثُمَّ تَرَكْتُهُ فَمَرِضَتْ عَيْنَايَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ ، فَقَالَ لِي لِمَ تَرَكْتَ مَسْحَ عَيْنَيْكَ عِنْدَ ذِكْرِي فِي الْأَذَانِ إنْ أَرَدْتَ أَنْ تَبْرَأَ عَيْنَاكَ فَعُدْ إلَى الْمَسْحِ أَوْ كَمَا قَالَ فَاسْتَيْقَظْتَ وَمَسَحْتَ فَبَرِئَتْ عَيْنَايَ وَلَمْ يُعَاوِدْنِي مَرَضُهُمَا إلَى الْآنَ . (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل للشيخ ابي عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن المغربي – ج 3 / ص 354 وحاشية العدوي على شرح كفاية الطالب الرباني للشيخ علي ابي الحسن المالكي – ج 2 / ص 281)

“(Faidah) disebutkan dalam kitab al-Masail al-Malquthah, bahwa telah bercerita kepada kami ahli fikih yang sangat terpercaya, yang saleh, bersih, berilmu sempurna, seorang mujtahid, bertatangga dengan masjid al-Haram, menyendiri, Shadruddin bin Sayidina Saleh Bahauddin Utsman bin Ali al-Fasi, hafidzahullah, ia berkata: “Saya bertemu dengan seorang syaikh yang ahli di bidang banyak ilmu, ahli tafsir, ahli hadis, yang popular keutamaannya, Nuruddin al-Khurasan di kota Syiraz. Saya berada di dekatnya saat adzan, ketika ia mendengar ucapan muadzin: “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maka syaikh Nuruddin mengecup kedua jari jempolnya, kanan dan kiri, lalu mengusapkan dengan kedua kuku ke kelopak matanya setiap bacaan syahadat, dimulai dari ujung mata yang lurus dengan hidung lalu mengenyamping ke arah pelipis.” Saya (Shadruddin) bertanya kepadanya tentang hal itu, ia menjawab: “Dulu saya melakukannya tanpa riwayat hadis, lalu saya meninggalkannya. Maka kedua mata saya sakit dan saya mimpi bertemu Rasuluallah Saw, beliau berkata kepadaku: ”Kenapa kamu tinggalkan mengusap kedua matamu ketika menyebutku dalam adzan. Jika kamu ingin kedua matamu sembuh maka ulangilah mengusap matamu.” Lalu saya bangun dan mengusap kedua mataku dan sampai sekarang tidak pernah sakit mata lagi” (Mawahib al-Jalil 3/354 dan Hasyiyah al-Adawi 2/281)

Kendati sudah masyhur dilakukan sebagian ulama, namun ulama Malikiyah menegaskan hal tersebut bukan bersumber dari hadis:

وَاشْتَهَرَ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ وِرْدٌ إِلَّا قَوْلَ الْمُؤَذِّنِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّهِ يُقَبِّلُوْنَ إِبْهَامَهُمْ وَيَمُرُّوْنُ بِهَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ قَائِلِيْنَ: مَرْحَبًاً بِحَبِيْبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ، وَهَذَا لَمْ يَرِدْ فِي حَدِيْثٍ (إرْشَادُ السَّالِك: للشيخ عبد الرحمن شهاب الدين البغدادي – ج 1 / ص 27)

“Telah masyhur di sebagian ulama sebuah wirid, kecuali saat ucapan muadzin ”Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, lalu mereka mengecup dua jari jempolnya dan diusapkan ke kedua matanya, kemudian mereka berdoa: “Marhaban bi habibi wa qurrati aini Muhammadi ibni Abdillah Saw”. Hal ini tidak bersumber dari hadis” (Syaikh Syihabuddin al-Baghdadi, Irsyad as-Saalik 1/27)

Sementara dalam madzhab Syafiiyah penjelasan tersebut terdapat dalam kitab I’anat ath-Thalibin (1/281) yang mengutip dari Hasyiyah Abi Jamrah karya Syaikh asy-Syinwani. Saya sendiri (Ma’ruf ibnu Khozin) mendapat ijazah ini dari Syaikh Abdul Malik bin KH Fathul Bari al-Makki, yang hadir saat itu adalah Alm. KH Zainullah bin KH Bukhari, abah saya Alm. H Khozin Yahya dan saya sendiri, sekitar tahun 1990.

[20/5 16.19] FARUQ ALI: Subhanallah…, super sekali

[20/5 16.21] Ahmad Hanafi Mojokerto Xxx: Ada juga yang mengerjakan amalan itu agar terhindar dari penyakit mata.

DOA TERHINDAR DARI SAKIT MATA

DOA TERHINDAR DARI SAKIT MATA

Barang siapa mendengarkan mu’addzin adzan, ketika mu’addzin membaca “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah” ( أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ), kemudian si pendengar membaca bacaan berikut ini, yaitu :

( مَرْحَبًا بِحَبِيْبِيْ وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ ابْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )

dengan mencucup kedua ibu jari tangan (Jempol 2 tangan), kemudian diusapkan ke dua matanya, maka si pendengar tadi tidak akan mengalami kebutaan dan sakit mata. Insya Allah….

ORANG ORANG YANG DI DOAKAN OLEH PARA MALAIKAT

Para malaikat mengucapkan “aamiin” ketika imam selesai membaca Al Fatihah

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” [Shahih Bukhari no. 782]

Melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.” [Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” [Shahih Muslim]

   Orang yang makan sahur

Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur.” [Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519]

Orang yang menjenguk orang sakit

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.” [Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar bahwa sanadnya shahih]

Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” [dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343]

Orang – orang yang berinfak

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu., bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

   “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.” [Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010]

Semoga amalan yang nampak ringan bagi orang – orang yang dirahmati oleh Allah ini mampu memotivasi kita untuk mendapatkan doa dari hamba – hamba Allah yang tidak pernah bermaksiat dan membantah Rabb-Nya, serta memacu kita menjadi manusia – manusia yang beruntung.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

LEBIH MUDAH MIMPI BERTEMU NABI MUHAMMAD SAW DARIPADA PARA WALI

Suatu hari, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, ditanya oleh seseorang yang bertamu kerumahnya “Habib saya minta diceritakan kisah Rasulullah Saw walaupun sedikit saja”. Maulana Habib Luthfi terdiam.

Kemudian tamu bertanya kembali, Apakah perasaan rindu kepada Rasulullah Saw nyata atau halusinasi? Maulana Habib Luthfi menjawab, perasaan itu nyata, itu hubungan antara Rasulullah saw dengan umatnya. Bukan halusinasi.

Kemudian sambil terisak menahan tangis, bertanya kepada Habib Luthfi bin Yahya, Apakah Rasulullah saw tahu dinamika dan detail kehidupan yang dijalani oleh umatnya?

Maulana Habib Luthfi bin Yahya menjawab : “Kalau tidak tahu dunia ini akan hancur. Rasulullah saw dengan ijin Allah menjaga kehidupan umat manusia, menjaga bumi ini. Jangankan Nabi saw, para walipun tahu. Oleh sebab itu para wali senantiasa memohon kepada Allah untuk menghindarkan musibah dari manusia dan memberikan segala kebaikan bagi kehidupan manusia di bumi”.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya melanjutkan, “karena kasih sayang Nabi kepada umatnya, umat mudah sekali bertemu dengan Rasulullah saw (melalui mimpi maupun secara langsung). Bahkan, lebih mudah bertemu Nabi saw daripada bertemu para wali, wakil-wakil Nabi di bumi ini”.

Kemudian Maulana Habib Luthfi bin Yahya membaca beberapa bagian dari kitab Sa’adat darain, yang disusun oleh Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani.

“Diantara manfaat terbesar membaca Shalawat kepada Nabi Saw adalah dapat melihat Nabi saw dalam mimpi. Dan akan terus meningkat kualitas mimpinya seiring semakin banyaknya shalawat yang dibaca, sampai bisa melihat Nabi saw dalam keadaan terjaga.

Nabi saw bersabda, “ ” ﻣﻦ ﺭﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻲ ﺣﻘﺎ

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata (hak)”. Jika ingin bertemu Nabi Saw maka hidupkanlah waktumu dengan memperbanyak shalawat. Dalam ada beberapa hadis lain tentang mimpi bertemu Nabi, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar:

ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﺄﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku”.

Dalam hadis lain riwayat Abu Hurairah,

ﻣﻦ ﺭﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻﻳﺘﺼﻮﺭ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ ﻻ ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻲ .

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku”.

Hadis ketiga diriwayatkan oleh Thariq bin Asyim RA, Rasulullah saw bersabda,

ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ

Dalam hadis lain disebutkan, ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺴﻴﺮﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻭﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga, dan Syaithan tidak dapat menyerupaiku.

Menurut ulama, hadis ini berlaku secara umum, baik dahulu ketika Rasulullah saw masih hidup, maupun saat ini, ketika Rasulullah saw sudah wafat. Lalu apakah ini berlaku bagi mukmin ahli maksiat yang bermimpi melihat Nabi Saw? Menurut ulama, berlaku secara umum baik yang bermimpi orang yang taat maupun mukmin yang tidak taat. Mukmin yang tidak taat yang bermimpi bertemu Nabi saw menjadi pertanda ia akan mendapatkan petunjuk untuk melakukan ketaatan. Nabi saw bersabda, “kalian yang akan dimasukan kedalam surga, akan diberi taufiq untuk beramal baik, meskipun hanya tinggal selangkah lagi ke neraka.

Hadis-hadis ini menjadi kabar baik dari Nabi saw untuk umatnya diakhir zaman.

Sebagaimana disampaikan Nabi saw, diakhir zaman kelak ada umatnya yang secara suka cita mengeluarkan sedekah, dan beramal kebaikan dengan harapan bisa bertemu Nabi saw. Nah, hadis-hadis tadi menjadi pelipur lara bagi umat yang ingin melihat Nabi. Dan Nabi menyatakan, bahwa mereka yang melihat Nabi dalam mimpi, akan berjumpa dengan Nabi dalam keadaan terjaga.

Dikisahkan suatu ketika, Ibn Abbas bermimpi bertemu Nabi, Ibn Abbas ingat sabda Nabi tentang orang yang melihat Nabi dalam mimpi. Kemudian Ibn Abbas menceritakan mimpinya kepada Shafiyah istri Nabi saw. Shafiyah memberikan jubah dan cermin yang pernah digunakan Nabi saw. Pada saat Ibn Abbas bercermin, yang Nampak dalam cermin adalah wajah Nabi saw, bukan wajahnya”.

Habib Luthfi menambahkan, melihat Nabi secara langsung bisa dengan dua kondisi, bisa dengan yaqdztan, bisa dengan thariq kasyf.

Melihat Nabi dengan thariq kasyf, terjadi seketika, seperti saat berhadapan dengan orang lain, saudara, guru, atau orang lainnya, tiba-tiba yang tampak dari wajah orang lain itu adalah wajah mulia Nabi saw. Seperti kasus, Ibn Abbas bercermin dengan cermin Nabi saw, akan tetapi yang tampak dalam cermin bukan wajah ibn Abbas melainkan wajah mulia Nabi Muhammad saw.

Terakhir Maulana Habib Luthfi mengatakan, untuk menjaga hubungan dengan Nabi saw adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi. Dan shalawat adalah tali silaturahim kita kepada Rasulullah saw.

HIKMAH DAN PELAJARAN BESAR DARI MENTAATI PEMIMPIN KITA

Jabal Uhud adalah nama dari sebuah bukit terbesar yang berada di kota Madinah. Letaknya kurang lebih 4 – 5 km dari pusat kota Madinah. Tepatnya berada di pinggir jalan lama antara kota Madinah-Makkah. Tidak seperti bukit-bukit yang lain di Madinah, Bukit Uhud atau Jabal Uhud berdiri sendiri, tidak menyambung dengan yang lain. Itulah kenapa ia disebut Bukit Uhud, yang artinya yang sendiri. Bagi jamaah haji wajib untuk mengunjungi lokasi ini.

Mulai tahun 1984 perjalanan haji dari kota Makkah ke Madinah atau dari Madinah Jeddah tidak lagi melalui jalan lama tersebut. Akan tetapi, melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir Jabal Uhud.

Dulu, di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat yaitu Perang Uhud. Peperangan antara kaum muslimin yang berjumlah 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah yang berjumlah lebih banyak, 3000 orang.

Sebelum pertempuran itu, pasukan musyrikin dikalahkan oleh pasukan muslim yang jumlahnya tidak sebanding dengan musuh. Peperangan itu kelak dikenal dengan nama Perang Badar dan menewaskan 915 (1300 pada riwayat lain) dari pihak musyrikin melawan hanya 313 pasukan muslim. Tapi, di Pada pertempuran tersebut ada 70 orang syuhada yang meninggal, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa Uhud

Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah. Waktu itu kaum musyrikin Makkah sampai di perbatasan Madinah, umat Islam mengadakan musyawarah bersama para sahabat yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Para sahabat mengusulkan agar umat Islam menyongsong kedatangan musuh di luar kota Madinah. Usul ini pun disetujui oleh Nabi.

Nabi menempatkan beberapa orang pemanah di atas gunung Uhud. Pasukan pemanah ini berada di bawah pimpinan Mash’ab bin Umair untuk melancarkan serangan-serangan ketika pihak musuh menggempur kedudukan umat Islam. Dalam perang dahsyat tersebut umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang. Akibatnya, kaum musyrikin lari pontang-panting.

Tidak Mematuhi Nabi

Selepas itu, beberapa pemanah muslim yang berada di atas gunung Uhud turun bukit. Mereka melihat barang-barang yang ditinggalkan oleh musuh. Akibatnya, banyak yang meninggalkan pos untuk turut mengambil barang-barang tersebut. Sebagai maestro Perang, sebenarnya Nabi melarang mereka meninggalkan pos dan tetap memertahankan posisi, apa pun yang terjadi.

Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut amatlah sangat dimanfaatkan dan digunakan oleh Khalid bin Walid—sebelum ia masuk islam—dan sosok itu merupakan seorang ahli strategi. Ia memimpin tentara berkuda, menggerakkan tentaranya kembali guna menyerang mereka yang turun, sehingga umat Islam mengalami kekalahan yang tidak sedikit. Ada sampai 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada’.

Dalam perang ini pun, Hindun binti ‘Utbah mengupah Wahsyi Alhabsyi, budak Zubair, untuk membunuh Hamzah, karena ayah Hindun dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar. Begitu pula Zubair bin Mut’im berjanji kepada Wahsyi akan memerdekakannya setelah ia membunuh paman Zubair dalam perang Badar.

Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapatkan luka. Para sahabat menduga bahwa nabi gugur karena tubuhnya penuh anak panah. Tapi, ternyata beliau masih selamat. Nabi ingin mengingatkan mereka yang turun tapi musuh sudah tiba terlebih dahulu dan membuat pasukan muslim kocar-kacir dan menderita kekalahan.

Setelah perang usai, musuh mengundurkan diri dan kembali ke Makkah. Nabi pun memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh. Sehingga ada satu liang kubur berisi beberapa syuhada, kuburan Uhud waktu sekarang dikelilingi tembok.

Hikmah yang bisa kita ambil secara garis besar dari peristiwa atau sejarah Jabal Uhud adalah tentang kepatuhan terhadap pemimpin. Beda ceritanya antara Perang Badar dan Perang Uhud. Ketika Perang Badar, semua tunduk dan patuh pada pimpinan, yakni Nabi Muhammad. Mereka menang tanpa cacat. Tapi lihat di perang Uhud. Ketika para asukan pemanah tergoda oleh harta rampasan perang, mereka lupa akan tugas dan instruksi yang diberikan Rasulullah. Akibatnya, pos pengamanan diambil alih dan pasukan musyrikin balik menggempur, membunuh 70 syuhada’.

Perihal peristiwa ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 59, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya dan ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.”

MUTIARA HIKMAH DALAM KITAB NASHOIHUL ‘IBAD KARYA SYAIKH NAWAWY AL BANTENY

Maqolah pertama:

(DIRIWAYATKAN DARI NABI SAW., BELIAU BERSABDA: SIAPA SAJA YANG BERPAGI HARI) yakni memasuki waktu pagi (DAN IA MENGELUHKAN) kepada orang-orang (AKAN KESULITAN HIDUPNYA, MAKA SEAKAN-AKAN IA MENGELUHKAN TUHANNYA).

Mengeluh/mengadu itu tidak pantas kecuali hanya kepada Allah, karna mengadu/mengeluh termasuk do’a. Adapun mengadu/mengeluh kepada manusia, maka itu termasuk tanda-tanda tidak ridho dengan pembagian Allah ta’ala kepadanya.

Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata: ”Rasulullah saw bersabda: ”maukah kalian aku ajarkan beberapa kalimat yang telah diucapkan oleh Nabi Musa as ketika beliau mengarungi lautan bersama bani isroil?”

Lalu kami berkata: ”tentu ya Rasulullah”

Nabi bersabda: ”ucapkanlah oleh kalian, ” ALLAHUMMA LAKAL HAMDU WA ILAIKAL MUSYTAKAA WA ANTAL MUSTA’AN WA LAA HAULA WA LAA QUWATA ILLA BILLAHIL ALIYIL ADHIIM”

(ya Allah hanya bagi-Mu segala puji,dan hanya kepada-Mu keluhan diadukan,dan Engkaulah yang dimintai pertolongan, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang maha luhur lagi maha agung)

Syekh Al-A’masy berkata: ” maka aku tidak perna meninggalkan kalimat do’a itu semenjak aku mendengarnya dari saudara kandungku, yaitu Al-Asadiy Al-kufiy, dan beliau menerima dari Sayyidina Abdullah ra.”

Syekh Al-A’masy berkata: ”telah datang kepadaku aat (sebangsa malaikat) beliau berkata: ”wahai sulaiman tambahkan pada do’a tersebut dengan kalimat ini: WA NASTA’INUKA ‘ALA FASAADI FIINA WA NAS’ALUKA SOLAAHA AMRINAA KULLIHI”

(dan kami memohon pertolongan-Mu atas kerusakan yang ada pada kami, dan kami memohon kepada-Mu kebaikan urusan kami seluruhnya).

(”SIAPA SAJA BERPAGI HARI) yakni memasuki pagi hari (MERASA SEDIH TERHADAP URUSAN DUNIA, MAKA SUNGGUH DIPAGI HARI IA TELAH MEMBENCI ALLAH)

Maknanya, siapa saja yang bersusah hati atas urusan dunia, maka sungguh ia telah marah kepada Allah, karna berarti ia tidak Ridho dengan Qodho Allah dan ia tidak sabar atas cobaan-Nya, dan ia tidak percaya dengan takdir-Nya, karna sesungguhnya setiap sesuatu yang terjadi di dunia, adalah berdasarkan Qodho dan Qodar-Nya.

(SIAPA SAJA YANG MERENDAHKAN DIRI TERHADAP ORANG KAYA KARNA KEKAYAANNYA, MAKA SUNGGUH TELAH HILANG 2/3 AGAMANYA”)

Maksudnya, karna sesungguhnya syariat mengajarkan bahwa adanya pengagungan terhadap menusia itu adalah karna alasan amal sholehnya dan karna ilmunya, bukan pengagungan karna alasan hartanya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailany ra, berkata: ”haruslah bagi setiap orang beriman melakukan 3 perkara dalam seluruh keadaanya, yaitu:

1.terhadap perintah,ia harus mematuhinya.

2.terhadap larangan,ia mesti menjauhinya.

3.terhadap takdir ia mesti merelakannya”.

Maka sekurang-kurangnya keadaan orang yang beriman, tidak boleh kosong pada dirinya salah satu dari 3 perkara tersebut. Maka selayaknyabaginya menetapkan cita-citanya (terhadap 3 perkara tsb) di dalam hatinya,dan membicarakan hal itu (3 perkara tsbt) pada dirinya dan ia mempergunakan anggota tubuhnya dengan halnya (3 perkara tsbt) itu pada seluruh keadaanya.

Maqolah ke 2:

Dari sayidina Abubakar Ash-Shiddiq ra: ”TIGA PERKARA TIDAK AKAN TERCAPAI DENGAN TIGA PERKARA,

-KAYA DENGAN ANGAN-ANGAN) maksudnya kaya tidak bisa diperoleh dengan angan-angan/lamunan-lamunan, akan tetapi berdasarkan pembagian dari Allah ta’ala.

(-MUDA DENGAN SEMIR)

yakni, muda tidak bisa diperoleh dengan menyemir rambut menggunakan inai (pacar rambut) dan semacamnya.

(-SEHAT DENGAN OBAT)

yakni, sehat tidak akan didapat dengan obat saja,akan tetapi melalui penyembuhan dari Allah ta’ala.

Maqolah ketiga:

Dari sayina Umar ra (”RASA SAYANG) mencintai (KEPADA MANUSIA ADALAH SETENGAH DARI KECERDASAN AKAL)..

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, Thobroniy dan Baihaqi dari Jabir bin Abdullah, bahwasannya Nabi saw bersabda:”ramah tamah terhadap manusia adalah shodaqoh”

Yakni: berlaku lemah lembut kepada manusia dengan ucapan dan perbuatan, akan diberi pahala perbuatannya itu sebagai pahala shodaqoh.

Diantara keramahan Nabi saw adalah, beliau tidak pernah mencelah makanan, tidak pernah membentak pembantu, dan tidak perna memukul istri.

Ramah tamah adalah meninggalkan dunia untuk tujuan agama, kebalikan dari mencari muka.

(PERTANYAAN YANG BAIK) kepada ulama (ADALAH SETENGAH ILMU) karna ilmu itu dapat diperoleh melalui bertanya.

Dan (PERENUNGAN YANG BAIK) yakni melakukan segala perkara berdasarkan pengetahuan tentang akibatnya (MERUPAKAN SETENGAH KEHIDUPAN”) yaitu lahan usaha seseorang yang bisa hidup dengan sebab-sebab tersebut.

Maqolah ke 4:

(DARI SAYYIDINA UTSMAN RA:- SIAPA SAJA YANG MENINGGALKAN DUNIA) yakni dengan menyedikitkan kenyang dan makan, dan tidak menyukai pujian dari manusia, (MAKA IA AKAN DICINTAI ALLAH TA’ALA) karna meninggalkan riya’ dan keangkuhan.

(-SIAPA SAJA YANG MENINGGALKAN DOSA,MAKA IA AKAN DICINTAI OLEH MALAIKAT), karna ia tidak melelahkan malaikat penulis, yaitu malaikat yang selalu mencatat perbuatan jelek.

(-DAN SIAPA SAJA YANG MENANGGALKAN SIFAT TAMAK TERHADAP MILIK MUSLIM LAIN),yakni memutuskannya (NISCAYA AKAN DICINTAI OLEH ORANG LAIN) orang yang menanggalkan sifat rakus/tamak terhadap milik orang lain akan dicintai semua orang, sebab dia tidak menjadi beban pikiran orang lain.

Maqolah ke 5:

(DARI SAYYIDINA ALI RA:”SESUNGGUHNYA DARI SEKIAN BANYAK NIKMAT DUNIA, CUKUPLAH ISLAM SEBAGAI NIKMAT BAGIMU)

Karna sesungguhnya nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba adalah Allah menciptakannya dari tidak ada menjadi ada, dan mengeluarkannya dari kegelapan kufur kepada cahaya islam.

(SESUNGGUHNYA DARI SEKIAN BANYAK KESIBUKAN, CUKUPLAH KETA’ATAN SEBAGAI KESIBUKAN BAGIMU)

Karna ta’at kepada Allah ta’ala merupakan kesibukan yang paling besar.

(DAN DARI SEKIAN BANYAK PELAJARAN, CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI PELAJARAN BAGIMU”).

Karna sesungguhnya kematian adalah nasehat yang paling besar bagi manusia.

Maqolah ke 6:

(DARI ABDULLAH BIN MAS’UD RA:” BETAPA BANYAK MANUSIA YANG DIHUKUM SECARA BERANGSUR-ANGSUR MELALUI KENIKMATAN YANG DIBERIKAN KEPADANYA.

BETAPA BANYAK MANUSIA YANG MENDAPAT FITNAH) yakni mendapat cobaan (DENGAN PUJIAN) dengan banyaknya pujian orang2 (KEPADANYA)

(DAN BETAPA BANYAK ORANG YANG TERTIPU) yakni merasa tenang hatinya di dunia dan melalaikan akhirat (DENGAN TERTUTUP) yakni dengan sebab Allah menutup aibnya (ATAS DIRINYA”).

Maqolah ke 7:

(DARI NABI DAWUD AS. BELIAU BERSABDA: ”TELAH DIWAHYUKAN DI DALAM KITAB ZABUR) yaitu kitab yang telah diturunkan kepada beliau (HAK ATAS ORANG BERAKAL) yakni kewajiban atasnya adalah (IA TIDAK MENYIBUKAN DIRI, KECUALI DENGAN TIGA) perkara (MENYEDIAKAN BEKAL UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH) yakni untuk akhiratnya, dengan melaksanakan segala perbuatan baik.

(MENYEDIAKAN ONGKOS UNTUK KEHIDUPAN) yakni memenuhi urusan hariaanya dan menjaga kehormatannya. Dalam ibarat lain dikatakan:pandai dalam mengatur kehidupannya.

(DAN MENCARI KELEZATAN DENGAN SESUATU YANG HALAL) Karna sesungguhnya usaha yang halal hukumnya wajib.

Maqolah ke 8:

(DARI ABU HURAIROH RA.)nama beliau adalah Abdurahman bin Shorin (BAHWASANNYA TELAH BERSABDA) Nabi Saw. (ADA TIGA PERKARA YANG DAPAT MENYELAMATKAN) yakni penyandangnya dari adzab (ADA TIGA PERKARA YANG DAPAT MEMBINASAKAN) yakni yg akan menimpa pelakunya di dalam kebinasaan. (ADA TIGA PERKARA YANG DAPAT MENINGGIKAN DERAJAT) yakni kedudukan yang tinggi di akhirat. (DAN ADA TIGA PERKARA YANG DAPAT MENGHAPUS DOSA) dosa-dosa pelakunya.

(ADAPUN YANG MENYELAMATKAN ADALAH: -TAKUT KEPADA ALLAH TA’ALA BAIK KETIKA BERADA DITEMPAT SEPI MAUPUN KETIKA BERADA DI TEMPAT RAMAI) didahulukan kata sepi, karna sesungguhnya taqwa kepada Allah secara diam-diam lebih tinggi derajatnya.

(-HIDUP SEDERHANA BAIK DI SAAT FAQIR DAN KAYA) yakni bersikap sedang didalam kehidupan, dengan tidak melewati batasan dalam kehidupan, dan ridho dengan hal tersebut.

(ADIL, BAIK DISAAT SENANG MAUPUN MARAH) dengan cara ia marah karna Allah dan ridho karna ridho Allah.

(TIGA PERKARA YANG DAPAT MEMBINASAKAN YAITU:- SANGAT KIKIR) yakni sangat pelit, hingga ia tidak melaksanakan apa yang wajib atasnya dari hak Allah dan hak Makhluk.

didalam riwayat lain:”sangat kikir yang dituruti”: yakni pelit yg diturutioleh manusia. Adapun jika pelit yang ada pada dirinya tidak dituruti, maka pelit itu tidak mencelakakan, karna sesungguhnya pelit termasuk sifat-sifat yang melekat/sifat dasar dalam jiwa manusia.

-(HAWA NAFSU YANG DITURUTI) yakni dengan mengikuti apa yang diperintahkan oleh hawa nafsunya.

(-DAN KEKAGUMAN SESEORANG PADA DIRINYA SENDIRI) yakni pandangannya kepada dirinya sempurna serta melupakan karunia Allah ta’ala dan merasa aman dari hilangnya karunia itu.

(ADAPUN YANG MENINGGIKAN DERAJAT YAITU:- MENEBARKAN SALAM) yakni mengucapkan ucapan salam diantara sesama manusia dengan cara engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.

(-MEMBERI MAKAN BERUPA MAKANAN) kepada tamu dan kepada orang yang lapar.

(DAN SOLAT DI MALAM HARI SEMENTARA ORANG-ORANG SEDANG TIDUR) yakni sholat tahhajud di tengah malam, di saat manusia sedang terlena dalam kenikmatan tidur.

(ADAPUN TIGA PERKARA YANG DAPAT MENGHAPUS DOSA) yakni segala perbuatan yang biasanya dapat menghapus dosa-dosa

(YAITU MENYEMPURNAKAN WUDHU DI WAKTU DINGIN) yakni dengan melakukan sunnah-sunnahnya.

(MELANGKAKAN KAKI UNTUK MELAKUKAN SOLAT BERJAMA’AH

-MENANTI SHOLAT SETELAH SHOLAT) yakni menunggu tibanya waktu sholat yang ke dua usai mengerjakan shalat yang pertama. dan seperti ini pula menunggu untuk melakukan setiap kebaikan.

Maqolah ke 9:

(JIBRIL AS. BERKATA: ”WAHAI MUHAMMAD HIDUPLAH ENGKAU SEKEHENDAKMU, SESUNGGUHNYA ENGKAU AKAN MATI) Karna sesungguhnya akhir kehidupan adalah kematian

(DAN CINTAILAH ORANG YANG ENGKAU KEHENDAKI, SESUNGGUHNYA ENGKAU AKAN BERRPISAH DENGANNYA) yakni berpisah dengan orang yang kau kehendaki sebab kematian.

(DAN BERAMALLAH SEKEHENDAKMU, SESUNGGUHNYA ENGKAU AKAN DIBALAS) karna semua hamba akan dibalas atas semua amal perbuatan mereka. jika amalnya baik, maka baik pula balasannya, dan jika jelek, maka jelek pula balasannya.

Maqolah ke 10:

”(NABI SAW. BERSABDA: ”ADA TIGA KELOMPOK MANUSIA YANG MEREKA AKAN DIBERI NAUNGAN OLEH ALLAH DI BAWA NAUNGAN ARSY-NYA DI HARI TIDAK ADA NAUNGAN KECUALI NAUNGAN-NYA) yakni hari kiamat.

1(ORANG YANG BERWUDHU DI WAKTU YANG TIDAKMENYENANGKAN) Maksudnya adalah di waktu2 yang memberatkan yaitu di waktu2 yg sangat dingin.

2.(ORANG YANG BERJALAN KE MASJID DI WAKTU GELAP) Untuk tujuan sholat bersama jama’ah

3.(ORANG YANG MEMBERI MAKAN ORANG YANG LAPAR)”

NIKMAT ALLOH SWT YANG PALING BESAR DAN KERAMAT SEORANG HAMBA

٭ مَتىَ جَعَلكَ فِى الظَّاهِرِ مُمتـَثِلاً لاَمْرِهِ وَرَزقكَ فِى البَاطِنِ الاِسْتِسْلاَمِ لِقَهْرِهِ فَقَد اَعْظَمَ المِنَّةَ عَلَيْكَ ٭

 

“Apabila Alloh telah menjadikan engkau pada lahirnya taat menurut perintahNya dan dalam hatimu menyerah/tawakkal kepadaNya, maka berarti Alloh memberi kepadamu nikmat karunia yang sebesar-besarnya.”

Jika Alloh telah memberi taufiq hidayah kepada hamba untuk melakukan segala perintahNya, dan didalam hati/batinnya diberi kekuatan bisa menyerahkan/tawakkal pada sifat qohrinya Alloh(selalu ridho atas apa yang terjadi atas dirinya), itu berarti Alloh telah memberi karunia nikmat yang sangat besar.karena Alloh telah mengumpulkan ‘Ubudiyyah (penghambaan)lahir dan ‘Ubudiyyah batin.

Sebab tugas manusia hanya untuk beribadah kepada Alloh lahir batin, dengan ikhlas, tentang semua kebutuhan dan hajatnya telah dicukupi oleh Alloh, maka jangan menuruti hawa nafsu yang tidak ada puasnya.

٭ لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيْصُهُ كـَمُلَ تَخـْـلِيْصُهُ ٭

” Tidak semua orang yang telah tampak jelas ke-kramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya(dari penyakit-penyakit hati dan hawa nafsu).”

Kramat(perkara yang luar biasa/tidak masuk akal)yang diberikan Alloh kepada para hambaNya, yang tujuannya untuk menambah keyakinan dan keimanan hamba,dan untuk memperkenalkan bukti kekuasaan Alloh itu tidak tergantung pada sebab dan kebiasaan,bahkan kebiasaan itu bisa menjadi sebab terhijabnya menusia dari Qudratnya Alloh. dan juga bisa menjadi fitnah, bagaikan awan yang menutupi sinar matahari keesaan Alloh.Maka dari itu menurut ajaran thoriqoh, siapa yang terterikat/silau pada keramat maka dia terhina.

Seorang sahabat Sahl bin Abdulloh berkata: adakalanya jika saya wudhu’ tiba-tiba air yang mengalir ditanganku menjadi lantakan emas dan perak. Jawab Sahl: Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka/mainan supaya diam.

Abu Nasher As-saroj berkata: saya bertanya kepada Al-hasan bin Salim: apakah arti ke-keramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Alloh sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu kemuliaan(keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu? Jawabnya: bukannya Alloh memberikan karena kotornya, tetapi diberi untuk menjadikan hujjah megalahkan bisikan hawa nafsu, yang selalu goncang kuatir tidak dapat rizki, sehingga oleh Alloh diperlihatkan yang demikian, sehingga dapat berkata: Bahwa Alloh yang dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizki dan memberi dari jalan yang tidak disangka.

Ishaq bin Ahmad berkata pada Sahl: Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan. Maka sahl berkata: Engkau ambil batu itu dan minta kepada Alloh supaya dijadikan makanan untuk kau makan.

Ishaq bertanya: jika berbuat demikian, maka siapa tauladan dalam berbuat demikian? Jawab sahl: Bertauladanlah pada Nabi Ibrohim as.ketika berkata : Hai Tuhan tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan sesuatu yang telah mati, supaya tentram hatiku, sebenarnya aku telah percaya tetapi nafsuku ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.

Seorang wali Ibrahim al-khowwas pada sutu hari berrkenalan dengan orang yahudi didalam kapal, keduanya membicarakan tentang agama, lalu yahudi tadi berkata: kalau agamamu ini benar, berjalanlah diatas laut bersamaku.

Lalu si yahudi turun dari kapal dan berjalan diatas laut bersama dengan Ibrahim, sesampainya didaratan yahudi berkata : aku ingin berteman danbersamamu, tapi dengan syarat kita tidak boleh masuk masjid dan gereja, mari kita masuk kehutan dan padang, tidak boleh bawa bekal. Dan disanggupi oleh Ibrahim, lalu keduanya berjalan ke padang yang tidak ada tumbuhan dan tidak ada air sama sekali. Sampai tiga hari keduanya tidak makan dan minum, ketika keduanya duduk-duduk tiba-tiba ada anjing datang dengan menggigit roti tiga biji,dan ditaruh didepan yahudi lalu anjingnya pergi, siyahudi lalu makan roti tadi tanpa mengajak Ibrahim ikut makan, tidak berapa lama ada pemuda yang tampan dan berbau harum datang dengan membawa nampan yang dipenuhi dengan makanan dan minuman yang sangat enak dan lezat, dan ditaruh didepan Ibrahim lalu dia pergi. Lalu Ibrahim mengajak yahudi untuk ikut makan, tapi yahudi tidak mau karena malu, akhirnya Alloh member hidayah kepada siYahudi sehingga masuk Islam dan menjadi murid Ibrahim al-khowwas..

Syeih Abu yazid Al-busthomi berkata: kamu jangan sampai tertipu dengan dengan keadaan yang luar biasa/tidakmasuk akal, yang di alami sseorang, tapi lihatlah bagaimana dia taatnya pada perintah Alloh dan menjauhi laranganNya..

BERUNTUNGLAH ORANG MISKIN KARENA ADA DOSA YANG HANYA TERHAPUS KETIKA BERSUSAH PAYAH MENCARI NAFKAH

حديث مرفوع : ” إِنَّ مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبًا لا يُكَفِّرُهَا الصَّلاةُ ، وَلا الصَّوْمُ ، وَلا الْحَجُّ ، وَيُكَفِّرُهَا الْهَمُّ فِي طَلَبِ الْمَعِيشَةِ ” ، الطبراني ، وأبو نُعيم في الحلية ، عن أبي هريرة به مرفوعا ، وهو عند الخطيب أيضا في تلخيص المتشابه ، وفي لفظ : عَرَقُ الجبين بدل الهم ، وللديلمي عن أبي هريرة مرفوعا : إن في الجنة درجة لا ينالها إلا أصحاب الهموم ، يعني في المعيشة ، ولأبي سليمان الداراني : من بات تعبا من كسب الحلال فإن اللَّه عنه راض .

Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah saw menegaskan: ”Ada sebagian dosa manusia yang tidak dapat diampuni dengan melakukan sholat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tapi dosa tersebut terampuni lantaran prihatin memikirkan nafkah keluarga”. (HR Imam Muslim).Keprihatinan dan kesulitan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Disamping termasuk bagian dari ibadah, juga dapat dijadikan sarana penebus dosa, yang dosa tersebut tidak dapat diampuni oleh Allah dengan melakukan ibadah fardhu maupun ibadah sunat.

Amal Istimewa

Bekerja keras dengan penuh tawakal sangat dianjurkan oleh Islam dan termasuk amal ibadah yang istimewa. Ketika Rasulullah saw ditanya tentang amal manakah yang istimewa? Jawab beliau adalah bekerja dengan ketrampilan tangan sendiri, Bahkan Rasulullah saw menegaskan: ”Bukanlah orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin beribadah mencari pahala akhirat dengan meninggalkan aktivitas bekerja untuk kepentingan kehidupan dunia, dan bukan pula orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin bekerja dengan meninggalkan aktivitas ibadah. Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang melaksanakan keduanya: rajin bekerja dan rajin pula beribadah. Sebab kekayaan dapat dijadikan sarana meraih kebahagiaan akhirat. Karenanya, janganlah kalian menjadi manusia pemalas.” (HR. Ibnu Asakir dari Anas).

Bagian dari Sedekah

Bekerja mencari nafkah yang halal adalah termasuk sedekah. Rasulullah saw menegaskan: “Apa saja yang engkau makan untuk dirimu sendiri adalah termasuk sedekah. Apa saja yang engkau berikan kepada anakmu adalah termasuk sedekah. Apa saja yang engkau berikan kepada istrimu adalah termasuk sedekah. Dan apa saja yang engkau berikan kepada pembantumu adalah termasuk sedekah bagi dirimu.” (HR Thabrani dari Miqdam bin Ma’dikariba). Di riwayat lain, Rasulullah saw telah menegaskan: ”Barangsiapa menginfakkan harta untuk diri sendiri dengan maksud untuk menjaga kehormatan diri, maka hal itu adalah termasuk amal sedekah. Dan barangsiapa menginfakkan hartanya untuk kepentingan anak, istri, dan keluarga yang menjadi tanggungannya, maka hal itu adalah termasuk amal sedekah.” (HR Ahmad dari Abu Umamah Al-Bahili).

Kelelahan dalam bekerja, dapat pula dijadikan tebusan dosa.Rasulullah saw menyatakan: “Barangsiapa di sore hari merasa kecapaian, karena seharian bekerja mencapai kecukupan keluarga, maka pada sore hari itu pula dia mendapatkan curahan ampunan dosa.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

MUTIARA HIKMAH : AGAR DI CINTAI NABI SAW DAN HIKMAH SHOLAT LIMA WAKTU

Sebagai umat nabi Muhammad SAW kita harus cinta dan menjadi kebanggaan-nya. Caranya yang pokok adalah dengan :

   Menghidupkan sunnah-sunnahnya

   Mencintai ahlul baitnya

   Mencintai sahabat-sahabatnya

   Mencintai pewarisnya (ulama’ Amilin)

   Memperbanyak membaca sholawat untuk nya

10 hikmah menjalankan sholat 5 waktu

   Mumpung masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, mari kita jaga sholat 5 waktu jangan sampai TELAT mengerjakannya, apalagi sampai TIDAK SHOLAT.sungguh itu sangat berat siksanya. Di dalam Sholat 5 waktu itu ada 10 keutamaan:

       1. Dapat menjadi perhiasan/putihnya wajah

      2. Menjadi cahayanya hati

Dalam sebuah hadist: “Sholatnya seorang laki-laki itu menjadi cahaya dalam hatinya, maka barang siapa yang mengerjakannya maka hatinya akan bercahaya” (HR. Ad-Dailami)

3. Dapat menjadi obat/enaknya badan

Dalam sebuah hadist: “Berdirilah dan sholatlah kamu, sesungguhnya didalam sholat itu ada obat” (HR.Imam Ahmad Ibnu Majjah)

Dalam hadist lain : “Sesungguhnya ketika Alloh menurunkan bencana dari langit kepada ahli bumi, maka hal yang dapat menolknya, diantaranya adalah ketika masih ada orang yang memakmurkan masjid” (HR. Al ‘Askury)

4. Dapat memudahkan/meringankan perkara dalam kubur

5. Dapat menyebabkab turunnya Rohmat Alloh

6. Dapat menjadi kuncinya langit

Dalam sebuah hadist : “Sholat itu sedekat-dekatnya setiap orang yang bertaqwa” (HR.Qudho’i dari Aly)

7. Dapat memberatkan timbangan amal

8. Menyebabkan mendapatkan Rodho Alloh SWT

Dalam sebuah hadist: “Tidak ada suatu perbuatan seorang hamba yang lebih disukai Alloh, kecuali ketika Alloh melihat seorang hamba tersebut sedang bersujud dan mengusap wajahnya dalam debu” (HR.At-Thobroni)

9. Menjadi harganya Surga

10. Dapat menjadi hijab/penghalang dari api neraka

(NASOIHUL IBAD, bab:10,maqolah:21, hal:64)

MUTIARA HIKMAH : TAFAKKUR DAN UJIAN ORANG YANG DI CINTAI ALLOH SWT.

Tafakkur 1jam langkung sae tinimbang ibadah 1th, dawuhipun ba’dul ‘Arifin: tafakur niku dados lampune ati. Buahe tafakur: keba’e ati demen dateng Alloh lan ketungkul syukur dateng Alloh. (Risalatul Mu’awanah,hal:11)

Wonten 7 golongan ingkang badhe angsal pitulunge Alloh wonten dinten ingkang mboten wontenpitulungan kejawi pitulunganupun Alloh:

–       Hakim ingkang adil

–       Pemuda ingkang sempurna imanipun

–       Tiyang ingkang nggantungaken manahipun dateng Masjid (memakmurkan Masjid)

–       Tiyang ingkang cinta/benci karena Alloh

–       Tiyang ingkang remen sodaqoh

–       Pemuda ingkang dipun ajak berzina nanging ia menolak

–       Tiyang ingkang wedi dateng Alloh lan menangis karena dosa wontwen wekdal rino lan wengi, injing lan sonten.

(Tafsir Yaa Sin, hal:19)

Jangan pernah ragu dan takut dalam berjuang menegakkan agama Alloh. Apapun peran kita, dimanapun kita berada, apapun aktifitas kita, selama kita ber-Niat untuk membantu menegakkan agama Alloh. Maka yakinlah bahwa Alloh yang akan menolong dan mencukupi segala kebutuhan kita. Dalam sebuah Hadist dijelaskan:”Tidak ada bagi seorang hamba yang berniat untuk menegakkan agama Alloh kecuali Alloh akan memberi kepa

danya pertolongan” (HR. Ahmad, Mukhtarol Ahadist, hal:154)

“Ada 3 orang yang sangat dicintai Alloh, yaitu: seorang laki2 yang suka Qiyamullail&membaca Al-Qur’an, seseorang yang bersodaqoh dg tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tdk tahu (sodaqoh siri/dirahasiakan),seorang laki2 yang berperang dijalan Alloh/dizaman sekarang yaitu orang yang menghidupkan Agama Alloh&siap menghadapi resiko apapun.” (HR.Thirmidi, Muhtarol Ahadist,hal:75)

Jika Alloh Cinta pada hambaNya, maka Alloh Pasti akan mengujinya untuk membuktikan kesungguhan hamba tersebut. 3PILAR kehidupan agar dapat dicintai Alloh SWT: 1.Sakhowatun Nafs, yaitu: mengerahkan segala apa yang dimilikinya (jiwa,raga,harta dan tenaga untuk menyenangkan orang lain (LOMAN), 2.Salamatus Shodr, yaitu: senantiasa melatih diri untuk selalu membersihkan hati dari sifat sombong, bangga diri, hasud, iri, dengki, kikir, suka mengeluh dll. 3.Rohmatan bil Ummah, yaitu: menebar kasih saying kepada orang lain dimanapun kita berada, seperti yang telah diteladankan Baginda Rosulillah SAW.