NASIHAT DAN RAMBU-RAMBU INTERAKSI DENGAN ALLOH JUGA BERMASYARAKAT

SEMOGA KITA SEMUA DI BERI KEKUATAN OLEH ALLOH SWT. UNTUK MENGAMALKANYA. AMIN…

Dalam kehidupan bermasyarakat kita sering mengalami apa yang diibaratkan orang,“Bagai makan buah simalakama”. Tatkala terlalu membuka diri, kita bisa dianggap tidak etis, main selonong aja, kurang sopan dan lainnya. Namun tatkala kita menutup diri, kita bisa dianggap sombong, tidak butuh sama tetangga, eksklusif atau dicap egois. Bermasyarakat memang tidak mudah, butuh kesabaran dan ketabahan hati. Oleh karena itu Allah menyediakan pahala ekstra bagi siapa saja yang lulus menghadapi cobaan-cobaan dalam bermasyarakat.

Sakit hati bisa jadi merupakan menu keseharian sebagai konseksuensi hidup berkeluarga, bertetangga, bersahabat, dan bermasyarakat. Namun apalah arti sakit hati itu bila dibandingkan dengan surga yang serba nikmat bila kita mampu melewati.

Berikut adalah nasehat-nasehat Habib Hamid bin Umar Hamid mengenai sikap-sikap yang perlu diambil dalam kehidupan bersosial sehari-hari.

Pandai-pandailah menempatkan diri dalam pergaulan sosial. Jangan menutup diri, akan tetapi jangan pula banyak berinteraksi dengan sembarangan orang. Hindarilah majelis-majelis yang kurang berarti, yang kosong dari pembicaraan tentang ilmu pengetahuan atau pembahasan kitab-kitab bermanfaat. Tatkala kalian merasa harus menghadirinya, umpama untuk keperluan keluarga, hajatan tetangga, atau yang lainnya, maka hadirlah seperlunya, lalu jagalah diri kalian dari perbuatan yang melanggar norma-norma syari’ah di dalamnya. Berprasangka baiklah kepada setiap orang yang berada di sekitar kalian, jangan melecehkan mereka, jangan pula membicarakan aib-aib mereka seusai berpisah dengan kalian. Sering-seringlah Minta kepada Allah SWT agar senantiasa dikaruniai lingkungan pergaulan yang baik dan dipalingkan dari yang buruk.

Ada satu bacaan yang Insya Allah pahalanya bisa menjadi pelebur dosa-dosa yang terjadi dalam kumpulan-kumpulan yang tidak baik, dan bisa pula menuntun kalian berjalan menuju kumpulan yang baik. Bacaan itu adalah, :

سُبْحَانَكَ الَّلهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ اَنْ لاَ ِالَهَ اِلاَّ أَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ اِلَيْكَ

“Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan pujian-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu serta bertobat kepada-Mu.”

Bacalah bacaan diatas seusai bubar dari suatu majelis atau perkumpulan!

 ZIARAH DAN TAWASSUL

Jangan pernah ada bosan-bosannya menziarahi orang-orang yang saleh. Sisihkan sebagian waktu luang kalian mengikuti acara-acara yang bernilai ibadah seperti majelis zikir, pengajian ilmu, tahlil atau pembacaan maulid Nabi SAW. Terutamanya, apabila pada acara itu turut hadir pula seorang ulama yang dikenal kesalehannya. Sebab ulama seperti inilah yang bisa menjadi wasilah makhluk untuk memperoleh rahmat dari Al-Khalik.

Besaran rahmat diperoleh menurut kadar keyakinan orang yang mengharapkannya.

Prasangka baik adalah gerbang Allah SWT yang terbuka lebar bagi siapa saja untuk masuk dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Segala kebaikan senantiasa diperoleh seseorang yang hatinya selalu berprasangka baik kepada siapa saja.

Karakteristik khas orang yang beriman adalah suka menerima uzur orang lain, sedangkan orang munafik lebih cenderung suka mengorek-orek kesalahan orang lain.

Raihlah manfaat orang-orang yang dikenal kesalehan dan keistiqamaannya dan bertawasullah dengannya, bahkan dengan setiap orang muslim sambil berprasangka baik bahwa mereka semua adalah baik dan andai sekarang tidak baik barangkali kelak ia akan menjadi orang yang baik.

Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah, maka ia masuk surga. Sekalipun ia pernah berzina atau mencuri.”

Jelas Nabi Saw. Beliau menuturkan demikian tiga kali sebagai isyarat bahwa prasangka baik haruslah lebih dikedepankan, dan perbuatan dosa besar bukanlah tolok ukur bahwa si pelaku akan berakhir tragis lalu masuk neraka.

Hadits yang menyebutkan bahwa Allah SWT memberikan dispensasi kepada bala tentara Badr hingga Ia memberikan jaminan dengan instruksi-Nya, “Perbuatlah semau kalian!” adalah isyarat akan agungnya nilai husnud dzan (pikiran positif) bahwa mereka semua sudah pasti syahid dan termasuk orang-orang istimewa di sisi-Nya. Dan tersirat pula makna roja’ (harapan besar) bahwa amalan-amalan baik bisa mengantarkan pelakunya memperoleh akhir yang manis.

Berlemah lembutlah kepada istrimu, anak-anakmu, kerabatmu dan semua orang yang ada disekitarmu. Jangan pernah menyebarkan aib mereka, yang rahasia maupun yang sudah diketahui secara umum, agar hatimu senantiasa terbebas dari prasangka.

Manakala dirimu menyaksikan atau mendengar perilaku mereka yang kurang baik namun dalam batasan yang masih ditolerir syari’ah, baiknya abaikan saja dan lupakanlah semua itu. Bersikaplah seolah-olah dirimu tak pernah menyaksikan atau mendengarnya.

Awas, jangan sekali-sekali berusaha mengorek edaran gosip atau kabar burung. Sebab gosip dan kabar-kabar yang tak bisa dipertanggung jawabkan adalah benih-benih fitnah.

Di masa sekarang ini, seorang mukmin baru bisa memperoleh kedamaian hidup dan keselamatan akidah apabila ia tak pernah ambil pusing dengan omongan-omongan dan tingkah pola orang-orang sekitarnya serta selalu tabah menerima gangguan mereka.

Orang-orang baik, perbuatan-perbuatan baik dan ucapan-ucapan yang baik amatlah sulit dijumpai saat ini. Sedangkan perbuatan munkar telah mendapatkan momentumnya.

Rasulullah SAW pernah merumuskan bahwa keselamatan terdiri dari sepuluh bagian, sembilan bagiannya didapatkan dengan sikap membisu (diam tak banyak omong), dan satunya dengan menjauhi orang-orang. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW bersabda, “Sosok terbaik diantara kalian pada masa dua ratus tahun lagi adalah orang yang keadaanya tenang, tidak berharta dan tidak beranak.”

Hadits tersebut adalah isyarat bahwa kebahagiaan hidup dan keselamatan agama akan lebih mudah didapat tatkala tak banyak beban tanggung jawab.

Sikap yang patut dipegang teguh oleh seseorang yang kesehariannya berkumpul bersama keluarga atau bermasyarakat adalah murah hati dan sabar dalam menahan sakit hati dan kegelisahan akibat ulah mereka.

Berlemah lembutlah, Jangan pernah membalas perbuatan jahat mereka dengan kekerasan. Sebab sikap lemah lembut adalah baik dalam segala hal. Orang yang berlaku lemah lembut akan mendapatkan limpahan anugerah istimewa dari Allah SWT yang tak bisa didapatkan oleh orang yang berlaku kasar. Wallahul Musta’an ‘alal umuri kulliha.”

Sungguh menyejukkan nasehat-nasehat al-Imam Hamid bin Umar di atas. Tinggal bagaimana kita menerima dan menerapkannya.

RAMBU-RAMBU

Ada sebuah rambu-rambu agar pergaulan menjadi indah yang dirumuskan oleh Imam al-Qusyairi. Dalam risalahnya beliau berkata,:

“1. Hubungan dengan Allah SWT harus didasari dengan adab yang baik, rasa takut serta kesadaran bahwa setiap saatnya berada di bawah pengawasan-Nya.

2. Hubungan dengan Rasulullah SAW harus didasari dengan keikhlasan untuk patuh kepada ajaran-ajarannya dan berusaha melestarikan ilmu-ilmunya.

3. Hubungan dengan wali Allah harus didasari dengan kesediaan untuk hormat dan berkhidmat kepadanya.

4. Hubungan dengan sesama muslim harus didasari dengan niat dan usaha untuk selalu membahagiakannya dengan cara yang sesuai rel syari’ah.

5. Hubungan dengan orang-orang awam yang minus ilmu pengetahuan harus didasari dengan ketulusan untuk senantiasa mendoakan dan mengasihi mereka.”

WALLOHU A’LAM

HIKMAH MULIA DARI SAYYIDINA UMAR BIN KHOTTOB RA.

1. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

2. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.

3. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.

4. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.

5. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

6. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.

7. “Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau,”

8. “Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat,”

9. “Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga,”

10. “Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya,”

11. “Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki,”

12. Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar. – Sayyidina Umar bin Khattab RA

13. Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri menunjukkan kata-kata lemah lembut

14. Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yg menimbulkan persangkaan maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk padanya

15. “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan,”

16. Tidak ada ertinya Islam tanpa jemaah dan tidak ada ertinya jemaah tanpa pemimpin dan tidak ada ertinya pemimpin tanpa ketaatan

17. Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku kerana aku tidak tahu manakah diantara keduanya yang lebih baik dariku

18. “Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar,”

19. “Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku,”

20. “Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai,”

21. Kalau kita bermewah-mewah di dunia akan kurang ganjarannya di akhirat

22. “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya,”

23. Apabila engkau melihat orang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah ia mengenai agamanya, kerana orang yang mencintai sesuatu ia akan menyibukkan diri dengan apa yang dicintainya itu

24. “Duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah,”

MUTIARA HIKMAH DARI SAYYIDINA ABU BAKAR AS SHIDIQ RA.

1. Ketika beliau dipuji oleh orang-orang, beliau akan berdo’a kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, Engkau mengenalku lebih baik dari diriku sendiri, dan Aku lebih mengenal diriku daripada orang-orang yang memujiku. Jadikanlah Aku lebih baik daripada yang dipikirkan oleh orang-orang ini mengenai diriku, maafkanlah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah jadikan Aku bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan.

2. Semenjak aku masuk Islam, belum pernah kukenyangkan perutku, demi dapat merasakan segarnya beribadah; dan belum pernah pula aku puas minum, karena sangat rindunya aku kepada Ilahi.

3. Patuhilah Aku selama Aku patuh kepada Allah swt dan Rasulullah saw, bila Aku tidak mematuhi Allah swt dan Rasulullah saw, maka jangan patuhi Aku lagi.

4. Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu.

5. Orang yang cerdas ialah orang yang takwa

Orang yang dungu ialah orang yang durhaka

6. Kami diuji dengan kesusahan, maka kami sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kemewahan), hampir-hampir kami tidak sabar.

Tidak ada pembicaraan yang baik, jika tidak diarahkan untuk memperoleh ridha Allah swt.

7. Mahasuci Allah yang tidak memberi hamba-hamba-Nya jalan untuk mendapat pengetahuan mengenai-Nya kecuali dengan jalan ketidak-berdayaan mereka dan tidak ada harapan untuk meraih pencapaian itu

8. Jika kalian mengharapkan berkah Allah, berbuatlah baik terhadap hamba-hamba-Nya.

9. Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan kesabarannya.

10. Ah, ingin aku jadi rumput saja, supaya dimakan oleh kuda (karena sangat ngerinya akan siksaan Allah).

11. Kita menemukan kedermawanan dalam Taqwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam Yaqin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati.

12. Bila telah masuk waktu salat, berdirilah kalian menuju ketempat apimu yang sedang menyala dan padamkanlah ia.

13. Waspadalah terhadap kebanggaan, sebab kalian akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan oleh cacing.

14. Tidak boleh seorang muslim menghina muslim yang lain.Yang kecil pada kaum muslimin, adalah besar pada sisi Allah.

15. Aku adalah manusia biasa dan aku bukanlah manusia yang terbaik diantara kamu. Apabila kalian lihat perbuatanku benar, maka ikutilah aku. Tapi bila kalian lihat perbuatanku salah, maka betulkanlah.

16. Suatu hari beliau memanggil ‘Umar ra dan menasihati nya sampai ‘Umar ra menangis. Abu Bakar ra berkata kepadanya,“Jika engkau memegang nasihatku, engkau akan selamat, dan nasihatku adalah “Harapkan kematian selalu dan hidup sesuai dengannya.

17. Jika seseorang tertarik dengan pesona dunianya yang rendah, Allah swt tidak akan ridha kepadanya selama dia masih menyimpan hal itu dalam hatinya.

18. Orang yang dusta ialah orang yang khianat

Orang yang benar ialah orang yang dapat dipercaya.

NASIHAT BIJAK DARI NABI ILYAS DAN NABI IBROHIM ALAIHIMAS SALAM

KATA – KATA BIJAK NABI IBRAHIM AS.

1 . Kesabaran yang disertai iman kepada Allah membawa kemenangan.

2 . Orang yang bahagia ialah orang yang berwaspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal-amal solehnya.

3 . Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah dan berdoa maka ikhlaskanlah niatmu demikian pula puasa dan solatmu.

4 . Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan janganlah menuntup sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5 . Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah.

6 . Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, karena mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya.

7 . Barang siapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.

8 . Tanpa membagi-bagikan nikmat yang diperolehnya seorang tidak dapat bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang diperolehnya itu.

KATA – KATA BIJAK NABI ILYAS AS.

1. Hendaklah orang-orang yang menginginkan untuk mengerjakan amal-amal yang saleh memperhatikan diri mereka karena seseorang tidak akan memperoleh manfaat ketika mendapati dunia mendapatkan keuntungan sementara ia mendapati kerugian.

2. Hendaklah orang yang mengajari orang lain berusaha untuk lebih baik daripada orang lain karena tidak akan bermanfaat suatu nasihat yang diberikan oleh orang yang tidak mengamalkan apa yang dikatakannya. Sebab, bagaimana seorang yang salah dapat memperbaiki kehidupannya sementara ia mendengar seorang yang lebih buruk darinya berusaha untuk mengajarinya.

3. Kemudian hendaklah orang yang mencari Allah berusaha lari dari percakapan dengan manusia karena Musa ketika berada sendirian di atas gunung Saina’ maka beliau menemukan Allah dan berdialog dengan-Nya sebagaimana seorang pecinta berdialog dengan kekasihnya.

4. Hendaklah orang-orang yang mencari Allah berusaha keluar sekali setiap tiga puluh kali ke tempat yang biasa di jadikan perkumpulan oleh masyarakat dunia. Karena boleh jadi ia dapat melakukan suatu amal pada satu hari saja namun dihitung amalnya itu selama dua tahun, khususnya berkaitan dengan pekerjaan yang di situ ia mencari ridha Allah.

5. Hendaklah ketika ia berbicara tidak melihat ke arah mana pun kecuali ke arah dua kakinya, dan ketika ia berbicara hendaklah mengatakan hal yang penting saja.

6. Hendaklah ketika ia makan tidak berdiri dari meja makan dalam keadaan kekenyangan.

7. Hendaklah mereka berpikir setiap hari karena boleh jadi mereka tidak akan menemui hari berikutnya.

8. Dan hendaklah mereka benar-benar memanfaatkan waktu mereka sebagaimana mereka selalu bernafas.

9. Hendaklah satu baju dari kulit binatang cukup untuk mereka.

10. Hendaklah mereka setiap malam berusaha untuk tidur tidak lebih dari dua jam.

11. Hendaklah mereka berusaha berdiri di tengah-tengah salat dengan rasa takut.

12. Kerjakanlah semua ini dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT dengan menjunjung tinggi syariat-Nya yang Allah SWT karuniakan kepada kalian melalui Nabi Musa.

13. Karena dengan cara seperti ini, kalian akan menemukan Allah SWT dan kalian akan merasakan pada setiap zaman dan tempat bahwa kalian berada di bawah naungan Allah SWT dan Dia akan selalu bersama kalian.”

NASIHAT BIJAK DARI NABI ADAM ‘ALAIHIS SALAM

Dituliskan dalam buku al-Manhaj al-Sawy sebagai berikut;

“Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Nabi Adam berpesan kepada anak-anaknya dengan berkata,

“Wahai anak-anakku, ketika kalian ingin melakukan sesuatu, prioritaskan tiga hal terpenting beritkut ini;

1. Bermusyawarahlah dengan orang-orang yang bijak (al-Akhyâr). Sebab andai aku meminta pendapat terlebih dahulu kepada para malaikat perihal memakan buah (khuldi) saat di surga itu, niscaya mereka pasti memberi saran kepadaku untuk tidak memakannya.

2. Kalian juga harus perhatikan akibatnya. Andai dulu aku perhatikan imbasnya, pastilah aku enggan memakan dari pohon surga tersebut.

3. Dan yang terakhir, jika kalian ingin (melakukan) sesuatu kemudian hati kalian gelisah-ragu, maka jangan sesekali kalian melakukannya! Karena sesungguhnya aku ketika berhasrat untuk memakan buah (khuldi), hatiku langsung gelisah-ragu.”

[Al-Manhaj al-Sawy Syarh Ushul Thariqat al-Sadat Ali Ba’alawy (hal. 748-749) karya al-’Allamah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smaith.]

ORANG YANG TIDAK BISA BERSYUKUR DENGAN HARTA YANG SEDIKIT MAKA APALAGI YANG BANYAK

Barangsiapa tidak pandai mensyukuri harta yang sedikit, ia tak akan mampu mensyukuri harta yang banyak. Barangsiapa tidak bisa memanfaatkan ilmu yang sedikit, ia akan lebih tidak mampu memanfaatkan ilmu yang banyak. (Imam Abdullah Al Haddad)

Seseorang yang pandai bersyukur dengan sedikitnya harta, di kemudian hari ia akan lebih “cerdas” bersyukur dengan limpahan harta yang banyak. Rezeqi yang diterima dengan senang hati dan lapang dada, bermuara pada kenikmatan yang tiada terkira. Meski rezeqi tersebut minim, namun karena diterima dengan suka-cita, bakal menjadi nikmat dan kebahagian.Sebaliknya, jika seseorang tiada mempunyai rasa syukur dan terima kasih atas karunia Allah kepada dirinya, sampai kapan pun dirinya tidak pernah merasa puas. Hawa nafsunya terasuki sifat tamak dan rakus. Walaupun gajinya sekian juta tiap bulannya, tapi sikap tamak pada dirinya itulah yang menjadikannya merasa bak orang melarat, miskin yang selalu mengemis.

Tentu berbeda halnya dengan seseorang yang Syâkir (bersyukur) dan Qanû` (orang yang menerima apa-adanya), berapapun kuantitas rizqi yang diperoleh, selalu ia sikapi dengan menghargai serta memanfaatkan dengan sebaik-baikya. Orang yang bersyukur, dengan beberapa lembar uang ribuan, ia memberi nafkah keluarganya mulai : sandang, papan, pangan. Dengan rezeqi yang cukup itu, ia ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan-Nya. Dengan begitu, ia telah menjadi orang “kaya” seketika itu pula.

Itu sebabnya, Nabi Muhammad saw bersabda :

لَيْسَ الغِنىَ بِكَثْرَةِ العَرَضِ إِنَّمَا الغِنىَ غِنىَ النَّفْسِ

“Kekayaan itu tidak terletak pada banyaknya harta, tapi ada pada kekayaan hati.”

Dalam haditsnya lainnya, Nabi saw juga berkata: “Tamak adalah penyakit yang menyebar.”

Pada prinsipnya, orang yang rakus, yang tidak memiliki rasa syukur, selalu berada dalam kemiskinan dan kekurangan. Kefakiran yang ia rasakan itu tidak perlu menunggu lenyapnya harta yang dimiliki. Cukup dengan ketamakan serta kerakusannya itulah yang akhirnya membawa dirinya dalam lembah kehinaan, kenistaan, dan kehilangan harga diri sebagai makhluk yang sempurna.

Renungkanlah ungkapan indah Nabi saw berikut ini :

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى الثَّالِثَ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ   رواه احمد

“Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah (terisi) dari emas, pasti ia mengingkinkan lembah ketiga; tidak ada yang mengisi perut anak Adam kecuali tanah, serta Allah meneriman taubatnya orang yang mau kembali kepada-Nya.”

Demikian peringatan Nabi Muhammad guna membuat diri kita memiliki sikap Qanâ`ah. Sikap Qanâ`ah-lah yang membuat hati kita kaya akan rasa syukur. Dengan Qana`ah , maqam kita akan jauh melesat menuju maqam ridha, ridha dengan rezeki yang Allah bagikan kepadanya.

Dalam kaitan ini, perlu kita tahu bahwa segala sesuatu sudah ada ukuran dan porsinya, tak terkecuali dalam persoalan pembagian rezeqi. Setiap orang tak akan luput dari rezeqinya; tidak akan tertukar dengan lainnya. Karena itulah, qana`ah bisa menjadi tameng dari sikap rakus harta. Syarat utama seorang yang qanâ`ah rela dengan takdir Allah, rela dengan rezeki-Nya. Habib Abdullah Al Haddad bersyair :

إِنَّ القَناَعَةَ كَنْزٌ لَيْسَ بِالفاَنِيْ * فَاغْنَمْ هُدِيْتَ أُخَيَّ عَيْشَهَا الهَانِيْ

وَعِشْ قَنُوْعاً بِلاَ حِرْصٍ وَلاَ طَمَعٍ * تَعِشْ حَمِيْدًا رَفِيْعَ القَدْرِ وَالشَّأْنِ

Sikap Qana`ah adalah lumbung yang tak pernah ada habisnya

Hai saudaraku, manfaatkan hidup di dunia dengan sikap Qana`ah, niscaya kau terbimbing

Hiduplah sebagai seorang yang bersahaja tanpa rasa tamak dan rakus

Pasti engaku akan hidup dalam keadaam mulia

Di sisi lain, harta adalah kotoran. Anda membeli roti dan memakannya selang beberapa jam akan menjadi kotoran. Baju yang Anda kenakan saat ini mungkin tampak begitu indah, tapi siapa menyangka bahwa sepuluh tahun baju itu telah menjadi barang usang dan gombal. Tubuh yang Anda rawat dengan baik, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, namun ketika Anda mati menjadi bangkai yang dinikmati oleh cacing-cacing kuburan. Dunia adalah kotoran, seperti dikatakan bahwa “Barangsiapa tujuan hidupnya untuk dunia maka nilai orang tersebut sama dengan kotoran yang keluar dari perutnya.”

Dikisahkan, suatu kali imam Ali dan sahabat-sahabatnya berjalan dan melihat tumpukan sampah di salah satu sudut jalan. Di situ imam Ali berhenti dan berkata, “Inilah sampah bekas barang yang kemarin dibangga-banggakan oleh orang-orang.”

Masih dalam kaitan ini, pernah Rasulullah melihat bangkai kambing diseret oleh penduduk setempat untuk dibuang. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabatnya, “Bagaimana pendapatmu tentang kambing ini?”

“Iya, wahai Rasul, begitu hinanya kambing ini sampai dibuang begitu saja.”

“Allah lebih jijik dengan dunia ini yang kehinaannya melebihi kambing bangkai tersebut,” kata Rasul.

Orang yang melarat adalah orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Kala Anda menyantap tempe jangan berpikir makan sate tapi santaplah makanan sekelas tempe itu dengan memikirkan keadaan saudara-saudara Anda di kolong jembatan yang kadang kala tidak makan seharian penuh.

Qana`ah dan Ilmu

Penting pula untuk diketahui, bahwa sikap Qanâ`ah akan lahir bila kita membekali diri dengan ilmu. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang diamalkan. Ilmu dicari untuk diamalkan, sebagaimana pena yang dibeli digunakan untuk mencatat atau cangkul yang digunakan untuk menggarap sawah, seperti itulah ilmu, ia berfungsi sebagai alat untuk beramal kebajikan. Tidak perlu banyak ilmu yang terpenting bisa termafaatkan. Kata Nabi saw : “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, Allah akan berikan ilmu yang tidak ia ketahui.”

Misal ilmu yang bermanfaat, bahwa Anda tahu keutamaan shalat berjamaah, maka setiap waktu Anda melaksanakan shalat secara berjamaah. Anda tahu dosa berbohong, maka jangan sampai Anda berbohong. Indikasi ketidakmanfaatan ilmu adalah bahwa tindak-tanduk Anda bertentangan dan berlawanan dengan ilmu yang Anda pelajari. Anda tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi lisan Anda “basah” dengan dusta dan kebohongan.

Ilmu tidak sama dengan harta. Allah memberi kita ilmu guna dikerjakan, diajarkan, di situlah Allah akan memberi bonus. Namun berbeda halnya dengan harta. Anda punya uang lima ribu lalu anda sedekahkan dua ribu sisanya tiga ribu. Ilmu semakin bertambah jika disedekahkan sedang harta justru menyusut jika diinfakkan.

Seorang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya justru menjadi perusak bak pengembala kambing ditugaskan untuk menjaga domba piaraan agar tidak tersesat atau terjatuh ke jurang. Tentunya beda dengan pengembala yang jahat, ia justru menjadi sumber kecelakaan bagi domba-domba itu sendiri seperti ilustrasi kata bijak

وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْميِ الذِّئْبَ عَنْهَا ، فَكَيْفَ إِذاَ الرُّعاَةُ لَهَا ذِئاَبُ

“Seorang pengembala kambing (bertugas) menjaga kambing dari sergapan serigala namun bagaimana halnya bila ternyata pengembala itu sendiri adalah serigala? .”

Ulama yang hidup di masyarakat, tugasnya melindungi masyarakat dari kemunkaran dan kerusakan akhlaq. Ironisnya, tidak sedikit di antara para ulama yang akhlaqnya seperti Yahudi dan Nashrani. Dengan kata lain, mereka bercirikhaskan

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al Baqarah [02]:44)

Ayat di atas menceritakan sikap orang-orang Yahudi dan ternyata banyak dari kalangan orang-orang berilmu yang bersikap demikian pula. Akibat dari sikapnya itu, kaum Yahudi dan kaum Nashrani bertengger dalam kehinaan dan keburukan. Sebab mereka mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahui. Kebenaran yang diperoleh bukan diamalkan malah diingkari. Jadilah mereka kaum yang hina.

الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebagaian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Qs. Al Baqarah [02]: 146)

KALAM HABIB AHMAD BIN ZEIN AL-HABSYI : PAHALA ITU TIADA BATAS

Kalam Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi

Negeri ini tengah muram. Bencana demi bencana menerpa silih berganti. Kasihan saudara kita yang tertimpa. Mereka menderita, sedih, dan mengharap uluran tangan. Kita musti berempati. Ibarat satu raga, bila seorang muslim merasakan sakit, muslim yang lain turut merasakan perihnya itu.

Tapi mereka tak perlu berkecil hati. Setiap bencana memendam berlaksa hikmah. Yang Maha Kuasa telah menyediakan pahala yang jumlahnya tak terhingga untuk mereka. Dan pahala itu bisa mereka petik dengan satu sikap yang kita yakin mereka punya: sabar.

Dengan bijak, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi mengurai kesabaran dalam kalam-kalamnya. Coba kita simak penuh seksama.

“Sabar adalah puncak Islam dan iman, sekaligus hakikat agama yang semestinya. Sabar berarti menahan dan menabahkan diri agar senantiasa berteguh pada tuntunan syariat. Dari satu sisi, sabar dan syukur masih satu makna. Akan tetapi, di sisi lain, sabar merupakan esensi syukur. Syukur tak bakal sempurna tanpa dibarengi kesabaran. Seorang yang bersabar, berarti ia telah mensyukuri nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepadanya.

Insan mukmin, tatkala harus memilih antara kepentingan individu dan agama, lalu ia mengedepankan agama dari egonya, maka ia telah melintasi maqam sabar dalam sikapnya itu. Dalam kitab-Nya yang agung, Allah SWT berulang kali menyitir dan menyanjung kesabaran serta pelakunya. Begitu pula baginda Rasul, dalam hadis-hadisnya, juga para pesuluk jalan Allah SWT.

Sabar memiliki beragam arti. Setiap laku menuntut kesabaran tersendiri. Ada sabar dari godaan maksiat dan hawa nafsu, sabar menjalani ibadah, sabar tatkala didera musibah, dan ada sabar untuk tidak berkeluh kesah kepada sesama makhluk. Adapun menyambat kepada Sang Kuasa itu adalah perbuatan elok.

Dalam salah satu firman, Allah SWT menyitir munajat Nabiyullah Ayub kepada-Nya,

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

Allah SWT kemudian memuji dan mengakui ketabahan Nabi Ayub A.S,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا

“Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar.”

Kedua ayat tersebut mengilustrasikan bahwa Allah SWT memberikan cobaan kepada makhluk yang dicintai-Nya karena Ia memang ingin mendengar ratapannya, hanya kepada-Nya.

Ada begitu banyak faedah kesabaran. Ayat-ayat suci serta hadis nabawi berulang kali menyebutkan keutamaan sabar. Allah SWT berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Ketahuilah, pahala kesabaran tiada batas maupun ukuran. Orang sabar bakal mendapat balasan terbaik dari-Nya. Allah SWT berfirman lagi,

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Mereka, orang-orang yang memiliki sikap sabar, adalah panutan umat. Dalam Al Quranul Karim, Allah SWT menyebut maqam sabar di lebih dari tujuh puluh ayat.

Mengenai keistimewaan sikap sabar, Rasulullah SAW menyabdakan, “Sabar adalah separo iman.” Beliau menambahkan pula, “Barangsiapa telah memperoleh keyakinan dan sifat sabar, maka kelak tak dipertanyakan lagi apakah ia kerap bangkit untuk salat malam atau banyak melakukan puasa sunnah.”

Sabar adalah investasi akhirat. Ketika ditanya tentang keimanan, Rasulullah pernah memberikan jawab, “Iman adalah sabar dan mudah memaafkan.”

HIKMAH

“Pangkal dari rasa syukur adalah kesenangan, adapun pangkal dari kesabaran adalah kesedihan. Namun, terkadang, keduanya bermuara dari satu hal yang sama: musibah, salah satunya.

Untuk sebagian orang, musibah tak ubahnya suatu kenikmatan, dan karena itu, ia mensyukurinya. Betapa tidak. Musibah adalah azab yang ditimpakan lebih cepat di dunia. Dan itu berarti anugerah. Sebab kelak ia akan terbebas dari siksa akhirat—yang sejatinya lebih pedih dan lebih abadi. Musibah juga merupakan wujud tarbiyah Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman. Seakan-akan, dengan musibah itu, Allah SWT mengingatkan manusia: untuk apa kau mencintai dunia? Apa yang bisa diharap dari kesenangan dunia? Kenapa hatimu merasa nyaman dengan dunia? Inilah perhatian dari-Nya. Tiada bimbingan yang lebih indah dari bimbingan-Nya. Karenanya, tiap insan patut mensyukuri. Di balik bencana yang tampak oleh mata, tersimpan serpihan-serpihan hikmah yang luhur dari-Nya.”

BEBERAPA HIKMAH YANG TERDAPAT DALAM IBADAH QURBAN

Ada beberapa hikmah yang terkandung dalam ibadah qurban yang pelaksanaanya dilakukan ketika idul adha dan tiga hari tasyriq yang mengiringinya, diantaranya :

1. Ibadah Qurban sebagai Syiar dari Allah SWT, sebagai mana difirmankanNya dalam Surat Al Hajj: 32-34

Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Bagi kalian pada binatang-binatang hadyu itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul ‘Atiq (Baitullah).

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS al- Hajj : 32-34).

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ –  لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ – لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

2. Hikmah dari Ibadah Qurban, untuk mengenang ujian kesabaran atas Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. al Shaaffat: 102)

3. Hikmah Qurban sebagai ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Dalam suatu hadits riwayat ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا أحب الى الله تعالى من إراقة الدم إنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها

“Tidak ada amalan anak cucu Adam pada Hari Raya Idul Kurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (berkurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan itu akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya.”….. ( HR. Hakim dan Ibnu Majah )

4. Sebagai ciri keislaman seseorang. Allah SWT berfirman:

وَلا الْهَدْيَ وَلا الْقَلائِدَ

Jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan binatang-binatang qolaid. (Al-Maidah: 2)

Maksudnya janganlah kalian tidak berkurban dan janganlah kalian tidak memberinya kalungan sebagai tanda hewan ternak untuk dikurbankan. Sementara Rasulullah Muhammad SAW bersabda : Barang siapa yang mendapati dirinya dalam kelapangan lalu ia tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Id kami. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

5. Ibadah Qurban memiliki Hikmah sebagai ungkapan syukur :

والحكمة من تشريع الأضحية : هو شكر الله على نعمه المتعددة وعلى بقاء الإنسان من عام لعام ولتكفير السيئات عنه

Hikmah disyariatkannya udlhiyyah atau qurban adalah: sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas beberapa nikmat dan keberlangsungan kehidupan manusia dari tahun ketahun

6. Ibadah Qurban juga memiliki Hikmah sebagai pelebur kejahatan dan wasilan terampuninya dosa. Segala macam kesalahan atau perselisihan dan kekurang patuhan akibat pengaruh sifat bahimiyyah (sifat hewani) akan lebur disebabkan qurban, yang kesemuanya sifat hewan tersebut terpotong untuk dikurbankan, yang divisualkan dengan memotong unta, sapi atau kambing.

7. Ibadah Qurban mengandung misi kepedulian terhadap sesama. Dengan berkurban bisa memberi keluasan dan memanjakan untuk makan enak terhadap keluarga yang diberi (daging hewan) qurban dan lingkungan sekitarnya, sebagaimana sabda Nabi SAW: ” Hari Raya Kurban adalah hari untuk makan, minum, dan dzikir kepada Allah SWT” ( HR. Muslim)

Jadi, 7 Hikmah dari Ibadah Qurban dan dalil-dalilnya (tersebut di atas) secara ringkas adalah sebagai berikut:

    Sebagai Syiar (dari) Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

    Hikmah Ibadah Qurban untuk mengenang ujian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam;

    Qurban adalah Ibadah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

    Ibadah Udlhiyyah ini sebagai ciri keislaman seseorang;

    Ibadah Qurban sebagai ungkapan syukur;

    Hikmah Ibadah Qurban sebagai pelebur kejahatan dan wasilah terampuninya dosa;

    Hikmah dari Ibadah Qurban sebagai misi kepedulian terhadap sesama.

JANGANLAH MENJADI MANUSIA MODEL SARINGAN TEPUNG

قال الفضيل بن عياض رحمه الله ، يوصي طلبة العلم : لا تكونوا كالمنخل يخرج الدقيق الطيب و يمسك النخالة ، تخرجون الحكمة من أفواهكم و يبقى الغل في صدوركم
إن من يخوض النهر لا بد أن يصيب ثوبه وإن اجتهد ألا يصيبه،
فويحكم ثم و يحكم ثم و يحكم

صفة الصفوة لابن الجوزي (١ / ٤٥٧)

Berkata Al-Imam Fudlail Bin ‘Iyadl Rohimahullah seraya berwasiat kepada para penuntut ilmu :

Janganlah kalian seperti ‘saringan’ yang hanya bisa mengeluarkan tepung yang bagus nan halus tetapi yang kasar dan buruk dibiarkan. Kalian ucapkan kata – kata hikmah dari mulut kalian tetapi kalian biarkan sifat buruk seperti unek – unek (kepada sesama muslim) tetap bersarang dihati kalian.

Sesungguhnya orang menyelam kedalam sungai dapat dipastikan bajunya akan basah kuyup walaupun ia berusaha untuk menyelamatkannya.
Celakalah kalian…! Celakalah kalian…! Celakalah kalian…!

Maksud dari maqolah diatas adalah sebanyak apapun kata kata hikmah yang keluar dari mulut kita selama kita masih seperti saringan tepung maka kita tidak akan selamat dari sifat – sifat buruk yang mencelakakan walaupun kita berusaha menghindarinya.

Bagaikan orang yang masuk kesungai, baju yang dipakainya akan basah kuyup walaupun berusaha keras menyelamatkannya.

Kitab Shofwatus Shofwah – Abul Faroj Ibnul Jauzi

SYAIKH IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM ‘MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK MUSIBAH COVID-19’

Siapa yang tak sedih dengan mewabahnya pandemic Covid-19 di Indonesia saat ini. Hingga tulisan ini dibuat jumlah pasien suspek sudah 3000 lebih. Belum lagi aspek ekonomi masyarakat yang sangat terdampak akan wabah ini. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan wabah ini. Pun berbagai pihak juga telah bersama-sama ikut saling bahu-membahu mengawal pemerintah dalam berbagai sektor. Baik dalam pengadaan APD, masker hingga penyaluran bantuan sembako pada masyarakat di kota terdampak.

Pemerintah juga telah menginstruksikan masyarakat yang bekerja di sektor formal untuk bekerja dari rumah, Kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyedot banyak massa pun ditiadakan. Pun sekolah dan kampus juga diliburkan. Semua ini  dilakukan untuk meminimalisir penyebaran.

Namun, dalam perjalanannya iktikad baik dari pemerintah dan para ahli ini pun seakan mendapat tantangan. Kebijakan-kebijakan yang telah dikaji dengan matang nyatanya riuh di permukaan. Oleh sebagian masyarakat yang berkelakar di media social. Berbagai narasi yang dibumbui agama dan budaya pun dimunculkan.

Masyarakat pun kebingungan. Ditengah suasana yang sangat mengkhawatirkan ini, ternyata masih ada sebagian kalangan yang bukannya berperan aktif menenangkan  dan berbuat positif, justru menebar kepanikan dan bersikap apatis. Tentu realita ini sangat mengkhawatirkan.

Namun, dari semua ini kita seharusnya tetap bersikap positif dan mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang telah terjadi. Ada banyak sekali hikmah-hikmah yang tersimpan dari sebuah cobaan. Bukankah demikian?

Allah SWT telah banyak memberikan contoh dalam hal ini. Allah tidak akan membuat sesuatu sekecil apapun di dunia ini, dengan nir faidah. Sama halnya dalam Musibah Covid-19 yang menguji ketabahan seluruh penduduk bumi ini.

Syekh Izzuddin Bin Abdissalam (660 H) seorang Ulama kenamaan dari Madzhab Syafi’i jauh-jauh hari telah merangkum berbagai faidah dan hikmah dari sebuah Musibah dan bencana dalam satu karangannya.

Ulama yang bergelar Sulthanul Ulama ini menulis sebuah kitab berjudul Al-Fitan wa al-Balaya Wa al-Mihan wa al-Razaya atau dalam manuskrip lain kitab ini berjudul Fawaid al-balwa wa al-Mihan.

Dalam kitab ini Syekh Izzuddin bin Abdisslam menyebutkan secara ringkas 17 faidah dan hikmah dibalik sebuah musibah atau pun bencana.

Berikut akan saya tuliskan semua hikmah yang telah dirangkum Syekh Izzudin bin Abdissalam tentu dengan menambahi redaksi dan narasi yang sesuai konteks saat ini.

Pertama, dalam musibah ini kita bisa menyaksikan betapa agungnya kekuasaan Allah. Karena pada hakikatnya semua musibah ini berasal dari Allah, sehingga patut kiranya dari musibah ini kita kembali menyadari bahwa semua ini adalah bentuk Keagungan Allah yang tiada tara.

Kedua, kita hanyalah hamba yang tak berdaya. Di tengah berbagai upaya manusia menghadapi wabah ini kita kembali harus menyadari kita semua hanyalah hambanya. Ketika semua upaya telah dikerahkan, semua kemampuan juga telah digerakkan kita akan menemui sebuah batas kehambaan. Setelah itu semua keputusan adalah hak Allah. Dan kita pun harus menyadari ‘semua ini telah digariskan’.

Ketiga, ikhlas menerima musibah ini. Karena tidak ada yang sanggup menghilangkan musibah ini kecuali Allah. Pun tak akan ada yang sanggup meringankannya kecuali Allah. Sehingga mau tidak mau kita harus ikhlas menerima semua ini sebagai bentuk ketundukan kita sebagai seorang hamba.

Keempat, kita akan menyadari bahwa Allah lah tempat kembali yang sejati. Hal ini selaras dengan apa yang diisyarahkan Allah dalam surat Az-Zumar ayat 8 “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.”

Kelima, kita dilatih dan dibiasakan untuk Berdoa kepada Allah. Dengan kondisi seperti ini, rasanya tidak mungkin kita menggantungkan harapan pada selain Allah. Karena Allah sudah berjanji untuk selalu mengabulkan permintaan dari hambanya yang sudi menengadahkan tangan untuk meminta.

Keenam, kita dilatih untuk bersikap tenang menghadapi situasi seperti ini. Syekh Izzzuddin bin Abdissalam dalam hal ini menyitir cerita Nabi Ibrahim yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an sebagai orang yang tenang dalam menghadapi musibah (Q.S At-Taubah : 114). Begitupula kita dalam situasi ini kita dituntutut dan dilatih untuk tetap bersikap hilm.

Ketujuh, memaafkan kepada sesama manusia. Dalam konteks ini tentu sangat relevan dengan kondisi bangsa ini. Dimana banyak diantara kita yang justru menjadikan berbagai kelompok sebagai kambing hitam pandemik ini. Sebagaimana kita saksikan sendiri banyak yang menyatakan pandemik ini adalah adzab Allah atas kedaliman China, juga ada yang mengaitkannya dengan penindasan etnis Uyghur disana. Dari hikmah ketujuh ini kita seakan ditohok oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam untuk menanggalkan semua sikap itu. Kita lebih baik fokus pada upaya-upaya produktif menanggulangi dampak Covid-19 ini bagi bangsa ini.

Kedelapan, kita harus bersikap sabar.

Kesembilan, kita harus bergembira atas berbagai hikmah dibalik musibah ini. Artinya kita harus memandang ini dengan kacamata hikmah. Syekh Izzuddin bin Abdissalam menganalogikan hal ini dengan seseorang yang sedang sakit, tentu ia harus mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang pahit rasanya. Nah, dari sini seyogyanya seorang tersebut tidak merasakan pahitnya obat tersebut, namun harus meyakini efek positif setelah meminum obat tersebut.

Kesepuluh, kita harus mensyukuri musibah ini. Sebagaimana seorang pasien yang berterima kasih atas pelayanan seorang dokter yang telah mengobati lukanya.

Kesebelas, hal ini merupakan ajang peleburan dosa itu. Dengan adanya musibah ini barangkali ini merupakan cara Allah untuk mensucikan kotoran-kotoran yang mengotori diri kita.

Kedua belas, memupuk rasa kemanusiaan kita. Hal ini menjadi penting diutarakan oleh Syekh izuddin bin Abdissalam karena terdapat riwayat hadis dalam Kitab Muwattho’ Imam Malik. “Diantara manusia ada yang diberi kesehatan ada pula yang diberi cobaan. Maka kasihanilah (mereka) yang tertimpa cobaan dan syukurilah atas kesehatan.”

Dalam musibah Covid-19 ini pun kita juga telah menyaksikan betapa banyak manusia yang terpanggil untuk ikut serta menyumbangkan apa yang mereka punya untuk membantu sesama. Dari sini kita harus merenung hal apa sajakah yang telah kita lakukan atas “solidaritas kemanusiaan” ini?

Ketigabelas, kita baru menyadari betapa pentingnya kesehatan. Dalam hal ini, kita bisa merenung betapa hal remeh dalam kehidupan kita seperti cuci tangan rutin, pola hidup, pola makan sehat tiba-tiba menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Bahkan di akhir Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengungkapan ungkapan popular yang kini sering didengungkan “kita akan tahu betapa berharganya kesehatan setelah kehilangnya”.

Keempatbelas, di balik semua ini menyimpan pahala yang besar bagi orang yang bersabar.

Kelimabelas, di balik semua ini juga terdapat hikmah yang luar biasa. Syekh Izzuddin bin Abdissalam mencontohkan ketika Nabi Ibrahim mendapat cobaan dengan kehilangan sosok Siti Sarah dalam hidupnya. Allah mendatangkan Siti Hajar sebagai penggantinya bahkan ia melahirkan seorang penerus yakni Nabi Ismail AS.

Keenambelas, mencegah merebaknya kemaksiatan. Sebagaimana kita tahu dengan mewabahnya virus ini banyak lokasi-lokasi maksiat yang menjadi tutup. Banyak orang takut melakukan maksiat. Dan hal ini merupakan hikmah yang luar biasa.

Ketujuhbelas. Hikmah yang terakhir ini merupakan puncak hikmah yang diberikan oleh Allah. Namun tidak semua hambanya bisa mencapai fase ini. Apa itu? Yakni lahirnya sikap rida atas segala ketentuan Allah. Sikap ini menjadi puncak dari segala hikmah diatas adalah karena dengan keridaan kita terhadap apa yang telah digariskan Allah akan melahirkan Ridho Allah pada kita pula.