BEBERAPA HIKMAH YANG TERDAPAT DALAM IBADAH QURBAN

Ada beberapa hikmah yang terkandung dalam ibadah qurban yang pelaksanaanya dilakukan ketika idul adha dan tiga hari tasyriq yang mengiringinya, diantaranya :

1. Ibadah Qurban sebagai Syiar dari Allah SWT, sebagai mana difirmankanNya dalam Surat Al Hajj: 32-34

Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. Bagi kalian pada binatang-binatang hadyu itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul ‘Atiq (Baitullah).

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS al- Hajj : 32-34).

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ –  لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ – لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

2. Hikmah dari Ibadah Qurban, untuk mengenang ujian kesabaran atas Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. al Shaaffat: 102)

3. Hikmah Qurban sebagai ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Dalam suatu hadits riwayat ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا أحب الى الله تعالى من إراقة الدم إنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها

“Tidak ada amalan anak cucu Adam pada Hari Raya Idul Kurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (berkurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan itu akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya.”….. ( HR. Hakim dan Ibnu Majah )

4. Sebagai ciri keislaman seseorang. Allah SWT berfirman:

وَلا الْهَدْيَ وَلا الْقَلائِدَ

Jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya dan binatang-binatang qolaid. (Al-Maidah: 2)

Maksudnya janganlah kalian tidak berkurban dan janganlah kalian tidak memberinya kalungan sebagai tanda hewan ternak untuk dikurbankan. Sementara Rasulullah Muhammad SAW bersabda : Barang siapa yang mendapati dirinya dalam kelapangan lalu ia tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Id kami. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

5. Ibadah Qurban memiliki Hikmah sebagai ungkapan syukur :

والحكمة من تشريع الأضحية : هو شكر الله على نعمه المتعددة وعلى بقاء الإنسان من عام لعام ولتكفير السيئات عنه

Hikmah disyariatkannya udlhiyyah atau qurban adalah: sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas beberapa nikmat dan keberlangsungan kehidupan manusia dari tahun ketahun

6. Ibadah Qurban juga memiliki Hikmah sebagai pelebur kejahatan dan wasilan terampuninya dosa. Segala macam kesalahan atau perselisihan dan kekurang patuhan akibat pengaruh sifat bahimiyyah (sifat hewani) akan lebur disebabkan qurban, yang kesemuanya sifat hewan tersebut terpotong untuk dikurbankan, yang divisualkan dengan memotong unta, sapi atau kambing.

7. Ibadah Qurban mengandung misi kepedulian terhadap sesama. Dengan berkurban bisa memberi keluasan dan memanjakan untuk makan enak terhadap keluarga yang diberi (daging hewan) qurban dan lingkungan sekitarnya, sebagaimana sabda Nabi SAW: ” Hari Raya Kurban adalah hari untuk makan, minum, dan dzikir kepada Allah SWT” ( HR. Muslim)

Jadi, 7 Hikmah dari Ibadah Qurban dan dalil-dalilnya (tersebut di atas) secara ringkas adalah sebagai berikut:

    Sebagai Syiar (dari) Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

    Hikmah Ibadah Qurban untuk mengenang ujian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam;

    Qurban adalah Ibadah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

    Ibadah Udlhiyyah ini sebagai ciri keislaman seseorang;

    Ibadah Qurban sebagai ungkapan syukur;

    Hikmah Ibadah Qurban sebagai pelebur kejahatan dan wasilah terampuninya dosa;

    Hikmah dari Ibadah Qurban sebagai misi kepedulian terhadap sesama.

JANGANLAH MENJADI MANUSIA MODEL SARINGAN TEPUNG

قال الفضيل بن عياض رحمه الله ، يوصي طلبة العلم : لا تكونوا كالمنخل يخرج الدقيق الطيب و يمسك النخالة ، تخرجون الحكمة من أفواهكم و يبقى الغل في صدوركم
إن من يخوض النهر لا بد أن يصيب ثوبه وإن اجتهد ألا يصيبه،
فويحكم ثم و يحكم ثم و يحكم

صفة الصفوة لابن الجوزي (١ / ٤٥٧)

Berkata Al-Imam Fudlail Bin ‘Iyadl Rohimahullah seraya berwasiat kepada para penuntut ilmu :

Janganlah kalian seperti ‘saringan’ yang hanya bisa mengeluarkan tepung yang bagus nan halus tetapi yang kasar dan buruk dibiarkan. Kalian ucapkan kata – kata hikmah dari mulut kalian tetapi kalian biarkan sifat buruk seperti unek – unek (kepada sesama muslim) tetap bersarang dihati kalian.

Sesungguhnya orang menyelam kedalam sungai dapat dipastikan bajunya akan basah kuyup walaupun ia berusaha untuk menyelamatkannya.
Celakalah kalian…! Celakalah kalian…! Celakalah kalian…!

Maksud dari maqolah diatas adalah sebanyak apapun kata kata hikmah yang keluar dari mulut kita selama kita masih seperti saringan tepung maka kita tidak akan selamat dari sifat – sifat buruk yang mencelakakan walaupun kita berusaha menghindarinya.

Bagaikan orang yang masuk kesungai, baju yang dipakainya akan basah kuyup walaupun berusaha keras menyelamatkannya.

Kitab Shofwatus Shofwah – Abul Faroj Ibnul Jauzi

SYAIKH IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM ‘MENEMUKAN HIKMAH DI BALIK MUSIBAH COVID-19’

Siapa yang tak sedih dengan mewabahnya pandemic Covid-19 di Indonesia saat ini. Hingga tulisan ini dibuat jumlah pasien suspek sudah 3000 lebih. Belum lagi aspek ekonomi masyarakat yang sangat terdampak akan wabah ini. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan wabah ini. Pun berbagai pihak juga telah bersama-sama ikut saling bahu-membahu mengawal pemerintah dalam berbagai sektor. Baik dalam pengadaan APD, masker hingga penyaluran bantuan sembako pada masyarakat di kota terdampak.

Pemerintah juga telah menginstruksikan masyarakat yang bekerja di sektor formal untuk bekerja dari rumah, Kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyedot banyak massa pun ditiadakan. Pun sekolah dan kampus juga diliburkan. Semua ini  dilakukan untuk meminimalisir penyebaran.

Namun, dalam perjalanannya iktikad baik dari pemerintah dan para ahli ini pun seakan mendapat tantangan. Kebijakan-kebijakan yang telah dikaji dengan matang nyatanya riuh di permukaan. Oleh sebagian masyarakat yang berkelakar di media social. Berbagai narasi yang dibumbui agama dan budaya pun dimunculkan.

Masyarakat pun kebingungan. Ditengah suasana yang sangat mengkhawatirkan ini, ternyata masih ada sebagian kalangan yang bukannya berperan aktif menenangkan  dan berbuat positif, justru menebar kepanikan dan bersikap apatis. Tentu realita ini sangat mengkhawatirkan.

Namun, dari semua ini kita seharusnya tetap bersikap positif dan mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang telah terjadi. Ada banyak sekali hikmah-hikmah yang tersimpan dari sebuah cobaan. Bukankah demikian?

Allah SWT telah banyak memberikan contoh dalam hal ini. Allah tidak akan membuat sesuatu sekecil apapun di dunia ini, dengan nir faidah. Sama halnya dalam Musibah Covid-19 yang menguji ketabahan seluruh penduduk bumi ini.

Syekh Izzuddin Bin Abdissalam (660 H) seorang Ulama kenamaan dari Madzhab Syafi’i jauh-jauh hari telah merangkum berbagai faidah dan hikmah dari sebuah Musibah dan bencana dalam satu karangannya.

Ulama yang bergelar Sulthanul Ulama ini menulis sebuah kitab berjudul Al-Fitan wa al-Balaya Wa al-Mihan wa al-Razaya atau dalam manuskrip lain kitab ini berjudul Fawaid al-balwa wa al-Mihan.

Dalam kitab ini Syekh Izzuddin bin Abdisslam menyebutkan secara ringkas 17 faidah dan hikmah dibalik sebuah musibah atau pun bencana.

Berikut akan saya tuliskan semua hikmah yang telah dirangkum Syekh Izzudin bin Abdissalam tentu dengan menambahi redaksi dan narasi yang sesuai konteks saat ini.

Pertama, dalam musibah ini kita bisa menyaksikan betapa agungnya kekuasaan Allah. Karena pada hakikatnya semua musibah ini berasal dari Allah, sehingga patut kiranya dari musibah ini kita kembali menyadari bahwa semua ini adalah bentuk Keagungan Allah yang tiada tara.

Kedua, kita hanyalah hamba yang tak berdaya. Di tengah berbagai upaya manusia menghadapi wabah ini kita kembali harus menyadari kita semua hanyalah hambanya. Ketika semua upaya telah dikerahkan, semua kemampuan juga telah digerakkan kita akan menemui sebuah batas kehambaan. Setelah itu semua keputusan adalah hak Allah. Dan kita pun harus menyadari ‘semua ini telah digariskan’.

Ketiga, ikhlas menerima musibah ini. Karena tidak ada yang sanggup menghilangkan musibah ini kecuali Allah. Pun tak akan ada yang sanggup meringankannya kecuali Allah. Sehingga mau tidak mau kita harus ikhlas menerima semua ini sebagai bentuk ketundukan kita sebagai seorang hamba.

Keempat, kita akan menyadari bahwa Allah lah tempat kembali yang sejati. Hal ini selaras dengan apa yang diisyarahkan Allah dalam surat Az-Zumar ayat 8 “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.”

Kelima, kita dilatih dan dibiasakan untuk Berdoa kepada Allah. Dengan kondisi seperti ini, rasanya tidak mungkin kita menggantungkan harapan pada selain Allah. Karena Allah sudah berjanji untuk selalu mengabulkan permintaan dari hambanya yang sudi menengadahkan tangan untuk meminta.

Keenam, kita dilatih untuk bersikap tenang menghadapi situasi seperti ini. Syekh Izzzuddin bin Abdissalam dalam hal ini menyitir cerita Nabi Ibrahim yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an sebagai orang yang tenang dalam menghadapi musibah (Q.S At-Taubah : 114). Begitupula kita dalam situasi ini kita dituntutut dan dilatih untuk tetap bersikap hilm.

Ketujuh, memaafkan kepada sesama manusia. Dalam konteks ini tentu sangat relevan dengan kondisi bangsa ini. Dimana banyak diantara kita yang justru menjadikan berbagai kelompok sebagai kambing hitam pandemik ini. Sebagaimana kita saksikan sendiri banyak yang menyatakan pandemik ini adalah adzab Allah atas kedaliman China, juga ada yang mengaitkannya dengan penindasan etnis Uyghur disana. Dari hikmah ketujuh ini kita seakan ditohok oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam untuk menanggalkan semua sikap itu. Kita lebih baik fokus pada upaya-upaya produktif menanggulangi dampak Covid-19 ini bagi bangsa ini.

Kedelapan, kita harus bersikap sabar.

Kesembilan, kita harus bergembira atas berbagai hikmah dibalik musibah ini. Artinya kita harus memandang ini dengan kacamata hikmah. Syekh Izzuddin bin Abdissalam menganalogikan hal ini dengan seseorang yang sedang sakit, tentu ia harus mengkonsumsi berbagai obat-obatan yang pahit rasanya. Nah, dari sini seyogyanya seorang tersebut tidak merasakan pahitnya obat tersebut, namun harus meyakini efek positif setelah meminum obat tersebut.

Kesepuluh, kita harus mensyukuri musibah ini. Sebagaimana seorang pasien yang berterima kasih atas pelayanan seorang dokter yang telah mengobati lukanya.

Kesebelas, hal ini merupakan ajang peleburan dosa itu. Dengan adanya musibah ini barangkali ini merupakan cara Allah untuk mensucikan kotoran-kotoran yang mengotori diri kita.

Kedua belas, memupuk rasa kemanusiaan kita. Hal ini menjadi penting diutarakan oleh Syekh izuddin bin Abdissalam karena terdapat riwayat hadis dalam Kitab Muwattho’ Imam Malik. “Diantara manusia ada yang diberi kesehatan ada pula yang diberi cobaan. Maka kasihanilah (mereka) yang tertimpa cobaan dan syukurilah atas kesehatan.”

Dalam musibah Covid-19 ini pun kita juga telah menyaksikan betapa banyak manusia yang terpanggil untuk ikut serta menyumbangkan apa yang mereka punya untuk membantu sesama. Dari sini kita harus merenung hal apa sajakah yang telah kita lakukan atas “solidaritas kemanusiaan” ini?

Ketigabelas, kita baru menyadari betapa pentingnya kesehatan. Dalam hal ini, kita bisa merenung betapa hal remeh dalam kehidupan kita seperti cuci tangan rutin, pola hidup, pola makan sehat tiba-tiba menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Bahkan di akhir Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengungkapan ungkapan popular yang kini sering didengungkan “kita akan tahu betapa berharganya kesehatan setelah kehilangnya”.

Keempatbelas, di balik semua ini menyimpan pahala yang besar bagi orang yang bersabar.

Kelimabelas, di balik semua ini juga terdapat hikmah yang luar biasa. Syekh Izzuddin bin Abdissalam mencontohkan ketika Nabi Ibrahim mendapat cobaan dengan kehilangan sosok Siti Sarah dalam hidupnya. Allah mendatangkan Siti Hajar sebagai penggantinya bahkan ia melahirkan seorang penerus yakni Nabi Ismail AS.

Keenambelas, mencegah merebaknya kemaksiatan. Sebagaimana kita tahu dengan mewabahnya virus ini banyak lokasi-lokasi maksiat yang menjadi tutup. Banyak orang takut melakukan maksiat. Dan hal ini merupakan hikmah yang luar biasa.

Ketujuhbelas. Hikmah yang terakhir ini merupakan puncak hikmah yang diberikan oleh Allah. Namun tidak semua hambanya bisa mencapai fase ini. Apa itu? Yakni lahirnya sikap rida atas segala ketentuan Allah. Sikap ini menjadi puncak dari segala hikmah diatas adalah karena dengan keridaan kita terhadap apa yang telah digariskan Allah akan melahirkan Ridho Allah pada kita pula.

MENGETAHUI KEUTAMAAN DO’A NABI YUNUS AS.


Fadhilah Ayat/Do’a Nabi Yunus as.

(لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ)
YAITU : Meraih Segala Kebaikan Dan Menolak Segala Keburukan

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ بَكَّار الكَلاعي، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنِي بِشْر بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ مَالِكٍ -وَهُوَ ابْنُ أَبِي وَقَّاصٍ-يَقُولُ: سَمِعْتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “اسْمُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا دُعي بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِل بِهِ أَعْطَى، دعوةُ يُونُسَ بْنِ مَتَّى”. قَالَ: قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، هِيَ لِيُونُسَ خَاصَّةً أَمْ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ؟ قَالَ: هِيَ لِيُونُسَ بْنِ مَتَّى خَاصَّةً وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً، إِذَا دَعَوْا بِهَا، أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {: فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ} . فَهُوَ شَرْطٌ مِنَ اللَّهِ لِمَنْ دَعَاهُ بِهِ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala’i, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr ibnu Mansur, dari Ali ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’d ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata.” Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah Saw. menjawab, “Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya. Bukankah kamu telah mendengar firman Allah Swt. yang mengatakan, ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap. Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman’ (Al-Anbiya: 87-88). Ini merupakan syarat dari Allah bagi orang yang mengucapkannya di dalam doanya.”

Sumber:

  • Al Bidayah wan Nihayah
  • Khozinatul Asror : 81

HAL-HAL YANG DI SUKAI ALLOH SWT. NABI MUHAMMAD SAW. DAN PARA SAHABATNYA SERTA IMAM MADZHAB DAN MALAIKAT JIBRIL AS.

DALAM KITAB BAHJATUL DI JELASKAN ALLOH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW MENYUKAI TIGA HAL. BEGITU JUGA PARA SHOHABAT BELIAU DAN JUGA IMAM MADZHAB SERTA MALAIKAT JIBRIL. TIGA HAL TERSEBUT ADALAH :

NABI MUHAMMAD SAW.

  • Wangi wangian
  • Wanita
  • Sholat

ABU BAKAR ASH SHIDIQ RA.

  • Duduk bersamamu (Nabi)
  • Bersholawat kepadamu
  • Menginfaqkan hartaku untukmu

UMAR BIN KHOTHOB RA.

  • Amar ma’ruf
  • Nahi munkar
  • Menegakkan had/ hukum Allah dan RosulNya

‘UTSMAN BIN AFFAN RA.

  • Memberi makanan
  • Menebarkan salam/kedamaian
  • Sholat malam ketika manusia tertidur

ALI BIN ABI THOLIB RA.

  • Mengayunkan pedang dalam perang
  • Melakukan puasa ketika musim panas
  • Memuliakan tamu

Maka turunlah malaikat Jibril as mengutarakan tiga hal yang ia sukai kepada Nabi SAW.

JIBRIL AS.

  • Turun ke bumi untuk menemui para Nabi
  • Menyampaikan Risalah kepada para Rosul Allah
  • Memuji hanya kepada Allah SWT
    Kemudian Malaikat Jibril menyampaikan tiga hal yang Allah sukai

ALLAH SWT.

  • Lisan yang senantiasa berdzikir
  • Hati yang senantiasa bersyukur
  • Jasad yang senantiasa bersabar ketika mendapat cobaan dan ujian hidup

Ketika Hadits dan riwayat (diatas) sampai pada Imam madzhab yang empat, maka mereka (rodhiyallahu anhum) menyampaikan tiga hal pula.

IMAM ABU HANIFAH RAH.

  • Menghasilkan ilmu pengetahuan di sepanjang malam
  • Meninggalkan masyhur dan di agungkan (manusia)
  • Tidak memberi tempat di kalbunya untuk orang yang hubb dunia

IMAM MALIK RAH.

  • Enggan jauh dengan raudhoh Nabi SAW
  • Selalu ingin berada dalam turbah Nabi SAW
  • Selalu mengagungkan ahli beit Nabi SAW

IMAM SYAFI’I RAH.

  • Berakhlak dengan penuh kelembutan
  • Meninggalkan sesuatu agar yang lain tidak tertaklif
  • Mengikuti dan menetapi jalan tashawuf

IMAM AHMAD RAH.

  • Mengikuti Nabi melalui hadits hadits nya (yang ia terima)
  • Selalu tabarruk (mengambil keberkahan) dengan Nur Nabi SAW
  • Suluk (mengikuti Nabi) dengan atsar atsarnya.
    رضي الله عن الجميع وأمدنا بمددهم آمين

Bahjatul Wasail : 35

[ لطيفة ]
عن النبى صلى الله عليه وسلم « حبب إلي من دنياكم ثلاث ، الطيب والنساء وقرة عينى فى الصلاة . وقال أبو بكر الصديق : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الجلوس بين يديك والصلاة عليك وإنفاق مالى عليك، وقد أنفق أبو بكر على النبى صلى الله عليه وسلم أربعين ألفا. وقال عمر : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وإقامة الحدود. وقال عثمان : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث إطعام الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام . وقال على : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث : الضرب بالسيف والصيام فى الصيف وإقراء الضيف ، فنزل جبريل وقال : يا نبي الله وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث النزول على النبيين وتبليغ الرسالة للمرسلين والحمد لله رب العالمين. ثم قال إن الله تعالى يقول : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث لسان ذاكر وقلب شاكر وجسد على البلاء صابر ». فالعمل بهذا كله من علامات المحبة لمن اراد الدخول فى قوله صلى الله عليه وسلم : «من أحبنى كان معى فى الجنة » ولما وصل هذا الحديث إلى الأئمة الأربعة، قال الإمام أبو حنيفة : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث تحصيل العلم فى طول الليالى وترك الترفع والتعالى وقلب من حبّ الدنيا خالى. وقال الإمام مالك : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث مجاورة روضته صلى الله عليه وسلم وملازمة تربته وتعظيم أهل بيته. وقال الإمام الشافعى : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث الخلق بالتلطف وترك ما يؤدى إلى التكلف والإقتداء بطريق التصوف. وقال الإمام أحمد : وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث متابعة النبى فى أخباره والتبرك بأنواره وسلوك طريق آثاره ، رضى الله عن الجميع وأمدنا بمددهم آمين

NASIHAT SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANY RAH. : MENYIKAPI PENDERITAAN DAN KESUKSESAN

Kamu berada dalam salah satu di antara dua keadaan: menderita dan sentosa. Jika kamu menderita, maka hendaklah kamu bersabar, walaupun dengan usahamu sendiri, ini adalah peringkat yang paling tinggi. Kemudian hendaklah kamu memohon supaya ridha dengan qadha’ dan qadar Allah serta lelap di dalam qadha’ dan qadar itu. Ini sesuai dengan para Abdal, orang-orang yang memiliki ilmu kebatinan dan orang-orang yang mengetahui Allah SWT.
Jika kamu berada dalam kesentosaan, maka hendaklah kamu memohon supaya kamu dapat bersyukur. Syukur ini dapat dilakukan dengan lidah, dengan hati atau dengan anggota badan.
Bersyukur dengan lidah adalah menyadarkan diri kita bahwa karunia itu datang dari Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan manusia, diri kamu, usaha, kekuasaan, gerak dan daya kamu atau orang lain, walaupun karunia itu sampai kepadamu melalui diri kamu atau orang lain. Diri kamu dan orang lain itu hanyalah merupakan alat Tuhan saja. Pada hakekatnya, yang memberi, yang menggerakkan, yang mencipta, pelaku dan sumber karunia itu adalah Allah semata. Pemberi, pencipta dan pelaku itu adalah Allah. Hal ini sama dengan orang yang memandang baik terhadap tuan yang memberi hadiah dan bukan terhadap hamba pembawa hadiah tersebut.
Firman Allah, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS 30:7)
Firman ini ditujukan kepada orang-orang yang bersikap salah di dalam mensyukuri karunia. Mereka hanya dapat melihat yang lahir saja dan tidak melihat apa yang tersembunyi di balik itu. Inilah orang-orang yang jahil dan terbalik otaknya. Lain halnya dengan orang-orang yang berakal sempurna, mereka dapat melihat ujung setiap perkara.
Bersyukur dengan hati adalah mempercayai dan meyakini dengan sesungguhnya bahwa kamu dan apa saja yang kamu miliki seperti kebaikanmu dan kesenanganmu, lahir dan batinmu serta gerak dan diammu ialah datang dari Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah.
Syukur kamu dengan lisan akan menyatakan apa yang tersembunyi di dalam hatimu, sebagaimana firman Allah,: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16:53).
Firman-Nya lagi, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS 31:20)
Dari semua ayat tersebut di atas, dapatlah diketahui bahwa menurut pandangan seorang Muslim tidak ada yang memberi sesuatu selain Allah.
Bersyukur dengan menggunakan anggota badan ialah menggunakan anggota badan itu hanya untuk beribadah kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya. Kamu dilarang melakukan perintah mahluk, jika perintah itu bertentangan dengan perintah Allah atau penentang Allah. Termasuk ke dalam mahluk ini ialah diri kamu sendiri, kehendakmu dan lain-lain.
Ta’atlah kepada Allah yang semua mahluk takluk kepada-Nya. Jadikanlah Dia pemimpinmu. Jadikanlah selain Allah sebagai perkara sekunder atau perkara yang dikemudiankan setelah Allah. Jika kamu lebih mementingkan atau mendahulukan yang lain selain Allah, maka kamu telah menyeleweng dari jalan yang lurus dan benar, kamu men-dholim-i diri kamu sendiri, kamu menjalankan perintah yang bukan didatangkan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan kamu menjadi pengikut jalan yang bukan jalan orang-orang yang Allah beri nikmat.
Allah berfirman, “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya.
Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dholim.” (QS 5:45).
Dan Allah berfirman pula, “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS 5:47)
Mereka yang dholim dan melanggar batas-batas Allah akan menempati neraka yang bahan apinya terdiri atas manusia dan batu. Sekiranya kamu tidak tahan merasakan demam walau sehari saja di dunia ini atau terkena panas api walau sedikit saja di dunia ini, maka bagaimana mungkin kamu akan sanggup tinggal di dalam api neraka ? Oleh karena itu, larilah segera dan mintalah perlindungan kepada Allah.
Berhati-hatilah terhadap perkara-perkara tersebut di atas, karena selama hidupmu kamu tidak akan dapat bebas dari batas-batas Allah, baik kamu berada dalam dukacita maupun dalam sukacita.
Bersabarlah jika ditimpa dukacita dan bersyukurlah juga menerima sukacita. Janganlah kamu marah kepada orang lain, apabila kamu ditimpa musibah dan jangan pula kamu menyalahkan Allah serta meragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya untuk kamu di dunia dan di akhirat. Janganlah kamu berharap kepada orang lain untuk melepaskan kamu dari malapetaka, karena hal itu akan menjerumuskan kamu ke lembah syirik.
Segala sesuatu itu adalah milik Allah dan tidak ada yang turut memilikinya bersama Dia. Tidak ada yang memberikan mudharat dan manfaat, menimbulkan bencana atau kedamaian dan membuat sakit atau sehat, melainkan Allah jua.
Allah menjadikan segalanya. Oleh karena itu, janganlah kamu terpengaruh oleh mahluk, karena mereka itu tidak mempunyai daya dan upaya. Hendaklah kamu selalu bersabar, ridha, menyesuaikan dirimu dengan Allah dan tenggelamkan dirimu ke dalam lautan perbuatan-Nya.
Jika kamu tidak diberi seluruh berkat dan karunia ini, maka kamu perlu memohon kepada Allah dengan merendahkan dirimu dan ikhlas. Akuilah dosa dan kesalahanmu serta mintalah ampun kepada-Nya. Akuilah ke-tauhid-an dan karunia Allah. Nyatakanlah bahwa kamu tidak menyekutukan apa-apa dengan Allah Yang Maha Esa dan ridhalah dengan-Nya, sehingga suratan takdir dan malapetaka itu berlalu dan dihindarkan dari kamu.
Setelah tiba saat bencana itu habis, maka datanglah kesenangan dan kesentosaan sebagaimana terjadi kepada Nabi Ayyub as, seperti hilangnya gelap malam dan terbitnya terang siang atau seperti berakhirnya musim dingin dan bermulanya musim panas. Sebab, segala sesuatu itu mempunyai batas, waktu dan matinya. Segala sesuatu itu mempunyai lawannya.
Oleh karena itu, kesabaran adalah merupakan kunci, awal dan akhir serta jaminan kebajikan.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Pertalian antara sabar dengan iman itu bagaikan kepala dengan badan.”. Dan beliau bersabda pula, “Sabar itu adalah keseluruhan iman.”
Kadang-kadang syukur itu datang melalui rasa senang menikmati karunia Illahi yang dilimpahkan kepada kamu. Maka, syukur kamu itu adalah menikmati karunia-Nya di dalam keadaan fana’-nya diri kamu dan hilangnya kemauan serta keinginan kamu untuk menjaga dan memelihara batas-batas hukum. Inilah titik atau stasiun kemajuan terjauh yang bisa dicapai.
Ambillah contoh teladan dari apa yang telah kukatakan kepadamu, niscaya jika Allah menghendaki, kamu akan mendapatkan bimbingan Allah Yang Maha Mulia.

المقالة التاسعة والخمسون فـي الـرضـا عـلـى الـبـلـيـة و الـشــكـر عـلـى الـنـعـمـة قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا تخلو حالتك إما أن تكون بلية أونعمة. فإن كانت بلية فتطالب فيها بالصبر، وهو الأدنى، والصبر وهو أعلى منه. ثم الرضا والموافقة، ثم الفناء، وهو للإبدال، وإن كانت نعمة فتطالب فيها بالشكر عليها. والشكر باللسان والقلب والجوارح. أما باللسان فالاعتراف بالنعمة أنها من الله عز وجل : وترك الإضافة إلى الخلق لا إلى نفسك وحولك وقوتك وكسبك ولا إلى غيرك من الذين جرت على أديهم، لأنك وإياهم أسباب وآلات وأداة لها، وإن قاسمها ومجريها وموجدها والشاغل فيها والمسبب لها هو الله عز وجل والقاسم هو الله، والمجرى هو والموجد هو، فهو أحق بالشكر من غيره. لا نظر إلى الغلام الحمال للهدية إنما النظر إلى الأستاذ المنفذ المنعم بها قال الله تعالى في حق من عدم هذا المنظر : يَعْلَمُونَ ظَاهِراً مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ.الروم7. فمن نظر إلى الظاهر والسبب ولم يجاوز علمه ومعرفته فهو الجاهل الناقص قاصر العقل، إنما سمى العاقل عاقلاً لنظره في العواقب. وأما الشكر بالقلب، فبالاعتقاد الدائم. والعقد الوثيق الشديد المتبرم. إن جميع ما بك من النعم والمنافع واللذات في الظاهر والباطن في حركاتك وسكناتك من الله عز وجل لا من غيره، ويكون شكرك بلسانك معبراً عما في قلبك. وقد قال عز وجل : وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ.النحل53. وقال تعالى : وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ً.لقمان20. وقال تعالى: وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا.النحل18. فمع هذا لا يبقى لمؤمن منعم سوى الله تعالى. وأم الشكر بالجوارح فبأن تحركها وتستعملها في طاعة الله عز وجل دون غيره من الخلق، فلا تجيب أحداً من الخلق، فيما فيه إعراض عن الله تعالى، وهذا يعم النفس والهوى والإرادة والأماني وسائر الخليقة، كجعل طاعة الله أصلاً ومتبوعاً وإماماً وما سواها فرعاً وتابعاً ومأموماً، فإن فعلت غير ذلك كنت جائراً ظالماً حاكماً بغير حكم الله عز وجل الموضوع لعباده المؤمنين، وسالكاً غير سبيل الصالحين. قال الله عز وجل :وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ.المائدة44. وفى آية أخرى : وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.المائدة45. وفى أخرى : .هُمُ الْفَاسِقُونَ.المائدة47. فيكون انهاؤك إلى التي وقودها الناس والحجارة، وأنت لا تصبر على حمى ساعة في الدنيا وأقل بسطة وشرارة من النار فيها، فكيف صبرك على الخلود في الهاوية مع أهلها النجا النجا، الوحا الوحا، الله الله، أحفظ الحالتين وشروطهما، فإنك لا تخلو في جميع عمرك من أحديهما إما البلية وإما النعمة فأعط كل حالة حظها وحقها من الصبر والشكر على ما بينت لك، فلا تشكون في حالة البلية إلى أحد من خلق الله، ولا تظهرن الضجر لأحد ولا تتهمن ربك في باطنك. ولا تشكن في حكمته واختر الأصلح لك في دنياك، وآخرتك، فلا تذهبن بهمتك إلى أحد من خلقه في معافاتك فذاك إشراك منك به عز وجل، لا يملك معه عز وجل في ملكه أحد شيئاً لا ضار ولا نافع ولا دافع، ولا جالب ولا مسقم، ولا مبلي، ولا معاف ولا مبرئ غيره عز وجل، فلا تشتغل بالخلق لا في الظاهر ولا في الباطن، فإنهم لن يغنوا عنك من الله شيئاً، بل ألزم الصبر والرضا والموافقة والفناء في فعله عز وجل، فإن حرمت ذلك كله فعليك بالاستغاثة إليه عز وجل، والتضرع من شؤم النفس، ونزاهة الحق عز وجل والاعتراف له بالتوحيد بالنعيم، والتبرى من الشرك، وطلب الصبر والرضا والموافقة، إلى حين يبلغ الكتاب أجله، فتزول البلية وتنكشف الكربة، وتأتى النعمة والسعة والفرحة والسرور، كما كان في حق نبي الله أيوب عليه وعلى نبينا أفضل الصلاة وأشرف السلام، كما يذهب سواد الليل ويأتي بياض النهار، ويذهب برد الشتاء ويأتي نسيم الصيف وطيبه لأنه لكل شئ ضداً وخلافاً وغاية وبدءاً ومنتهى، فالصبر مفتاحه وابتداؤه وانتهاؤه وجماله كما جاء في الخبر ( الصبر من الإيمان كالرأس من الجسد ) وفى لفظ ( الصبر الإيمان كله ) وقد يكون الشكر هو التلبس بالنعم وهى أقسامه المقسومة لك، فشكر التلبس بها في حال فنائك، وزوال الهوى والحمية والحفظ، وهذه حالة الأبدال وهى المنتهى، اعتبر ما ذكرت لك ترشد إن شاء الله تعالى. و الله أعلم.

HIKMAH MENCINTAI PARA ULAMA SEBAGAI WAROSATUL ANBIYA

Sayyidina Abubakar RadhiAllahu anhu selalu mengiringi Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam berjalan pulang bersama setelah menunaikan sholat isya berjamaah.. dan mereka berpisah ketika nabi masuk rumahnya.. Dan terkadang berpisah sejenak sangatlah terasa berat bagi Abubakar, beliau duduk didepan pintu rumah nabi hingga fajar tiba !!! Rasulullah keluar dari rumah untuk sholat subuh dan Abubakar berangkat bersama orang terkasihnya lagi, nabi bertanya, “kenapa sampai demikian duhai Abubakar?”. Dan Abubakar menjawab ,

قرة عينى بك يا رسول الله

“qurratu ‘ayni bika ya Rasulullah”

(engkau adalah segala penghias dan pengobat rindu bagi mataku, wahai Rasulullah)

Bagi kita yang tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam cukuplah berkumpul dan menatap para auliya atau ulama, Imam Hasan Al Basri berkata:

سأل رجل الحسن البصري فقال يا إمام دلني على عمل يقربني الى الله ويدخلني الجنه . قال احب احد أولياءه عسى الله ان يتطلع إلى قلبه فيجد اسمك مكتوب فيه فيدخلك معه الجنه

Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Basri “wahai Imam hasan katakan amalan apa yang bisa membuat aku dekat dengan Allah dan menyelamatkan diriku ditempat terbaik di yaumil akhir (jannah) dan imam Hasan menjawab “cintailah para auliya atau ulama (orang yang dekat dengan Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya itu dan disana tertulis namamu, dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik Nya” In syaa Allah, Aamiin .

Mencintai Ulama dan Anjuran Untuk Memuliakannya

Kuncup cinta tak boleh layu. Deburan asmara mesti menggebu. Rasa cinta adalah fitrah. Cinta ulama mengais berkah. Penting bagi kita semua untuk menggali pembahasan tentang Mencintai Ulama dan Memuliakannya. Hal ini agar kita lebih mampu mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa melalui jalan ilmu. Jalannya orang-orang yang diridloi oleh Allah SWT.

Siapa Ulama?

Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan Agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu agama. Mensyiarkan pengetahuan pada umat agar tetap berpegang pada kebenaran diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ulama berperan mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada umat agar mereka berilmu dalam beramal. Sebab keimanan, ucapan, dan perbuatan apabila dilakukan tanpa disertai dengan ilmu maka semuanya malah bisa menjadi pedang yang menghunus, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Pemahaman dalam urusan agama harus menjadi pendalaman yang mendarah daging. Apalagi ketika kita dihadapkan pada berbagai kewajiban yang menuntut kita untuk mengetahui ilmunya.

Mengapa Harus Mencintai dan Memuliakan Ulama?

Allah SWT Berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu..” (QS.  Ali-Imran: 18).

Dalam ayat diatas, Allah SWT memulai dengan menyebut nama-Nya Yang Agung. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebut malaikat lantas kemudian pada para ahli ilmu. Hal ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan para ahli ilmu disisi Allah SWT. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai para ulama sebagai bagian dari ahli ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

وقال صلى الله عليه وسلم: أكرموا العلماء فإنهم عند الله كرماء مكرمون

“Handaknya kamu semua memuliakan ulama’, karena mereka itu orang-orang yang mulia menurut Allah dan dimulyakan.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال صلى الله عليه وسلم: فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Nabi SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” (Kitab Lubabul Hadits)

فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أُمَّتِي :وفي رواية للحارث بن أبي أسامة عن أبي سعيد الخدري عنه صلى الله عليه وسلم

Dalam satu riwayat Al Harits bin Abu Usanah dari Sa’id Al Khudri ra. dari Nabi SAW bersabda : “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas umatku.” (Kitab Tanqihul Qaul)

وقال صلى الله عليه وسلم: من نظر إلى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله تعالى من تلك النظرة ملكا يستغفر له إلى يوم القيامة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memandang wajah orang alim dengan satu pandangan lalu ia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu dan memohonkan ampun kepadanya sampai hari kiamat.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من أكرم عالما فقد أكرمني، ومن أكرمني فقد أكرم الله، ومن أكرم الله فمأواه الجنة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memuliakan orang alim maka ia memuliakan aku, barangsiapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah, dan barangsiapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga.” (Kitab Lubabul Hadits)

رواه الخطيب البغدادي عن جابر  .أكْرِمُوا العُلَمَاءَ فإنَّهُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، فَمَنْ أكرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ الله وَرَسُولَهُ  :وقال صلى الله عليه وسلم

Nabi SAW bersabda : “Hendaknya kamu semua memuliakan para ulama, karena mereka itu adalah pewaris para Nabi, maka barangsiapa memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ

Nabi SAW bersabda : “Tidurnya orang alim itu lebih utama daripada ibadah orang bodoh.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim maka ia seperti mengunjungi aku, barangsiapa berjabat tangan kepada orang alim ia seperti berjabat tangan denganku, barangsiapa duduk bersama orang alim maka ia seperti duduk denganku didunia, dan barangsiapa yang duduk bersamaku didunia maka aku mendudukkanya pada hari kiamat bersamaku.” (Kitab Lubabul Hadits)

وعن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ

Dari Anas bin Malik ra., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah memperoleh pahala orang mati syahid.” (Kitab Tanqihul Qaul)

وعن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ زَارَ عَالِما ضَمِنْتُ لَهُ عَلى الله الجَنَّةَ

Dari Abu Harairah ra., saya mendengar Rasulullah saww. bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka aku menjamin kepadanya dimasukkan surga oleh Allah”. (Kitab Tanqihul Qaul)

فقيه واحد متورع أشد على الشيطان من ألف عابد مجتهد جاهل ورع :وقال صلى الله عليه و

Nabi SAW bersabda : “Seorang alim fiqih yang perwira (wara’) adalah lebih berat bagi syaitan daripada seribu orang ahli ibadah yang tekun yang bodoh lagi perwira.” (Kitab Tanqihul Qaul)

Sungguh hina apabila kita menemukan orang-orang yang membenci ulama. Hal ini menyedihkan karena merupakan pelecehan terhadap agama. Sebab, agama senantiasa diperjuangkan oleh ilmu-ilmu yang disyiarkan oleh ulama. Lantas apabila ada orang yang menghinakan ulama itu berarti ia sungguh-sungguh telah melecehkan agama. Bukan hanya itu, orang yang melecehkan ulama seolah sedang menentang Nabi SAW. Sebab Nabi SAW jelas-jelas memerintahkan kita selaku umatnya agar memuliakan ulama, bukan malah menghinakannya. Naudzubillah. Semoga kita dijadikan orang-orang yang selalu dekat dengan ulama. Mencintai dan memuliakannya dengan penuh keikhlasan. Serta dijadikan orang yang senantiasa tidak bosan untuk mengambil ilmu dari mereka. Agar kita menjadi orang-orang yang diangkat derajatnya dan didekatkan dengan Allah SWT.

Mari kita mencintai para ulama, sebab para ulama adalh warasatul anbiya…

Hujjatul islam imam Ghozali ra bukanlah dari keturunan ulama, tetapi orang tuanya yang sangat ta’dzim, mahabbah, wa takrimah kepada ulama dan berdoa kepada Allah, semoga anaknya menjadi ulama, dan alhamdulillah anak2nya menjdi ulama yang terkenal sangat alim.

Semoga kelak keturunan kita menjadi ulama yang istiqomah, bertaqwa, waroi, tawdhu, roja, khauf, mahabbah kepada allah. Amin…..

Ulama Pewaris Nabi

Rasulullah bersabda

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud)

Rasulullah bersabda

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّو

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Periwayat Terbayak Sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadits ialah:

Abu Hurairah 5374 hadits, Ibnu Umar 2630 hadits, Anas bin Malik 2286 hadits, Aisyah 2210 hadits, Ibnu ‘Abbas 1660 hadits, Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits, Abu Sa’id Al-Khudri 1170 hadist, Ibnu Mas’ud 848 hadits, Ibnu ‘Amr bin Ash 700 hadits, Abu Dzarr Al- Ghifari 281 hadits, Abu Darda’ 179 hadits (Talqih fahum ahli al-atsar karya Ibn Jauzi)

Nabi bersabda

 خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)

Imam Malik rohimahullah telah berkata :

 كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)” dan “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.

Rasulullah bersabda

“Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sehingga datang (hari Kiamat) ketetapan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Hadits Muslim)

Permasalahannya umat Islam banyak pula yang merasa lebih pandai dan mengabaikan nasehat para ulama.alias meninggalkan para ulama

Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al‐Bantani Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya, Nasha‐ihul Ibad fi bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi Li Yaumil Ma’adi membawakan sepotong hadits tentang larangan meninggalkan para ulama

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِمُ اللهُ تَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ: اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَانٍ

“Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha’, maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, iaitu

  1. Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari rizki (usaha) mereka,
  2. Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan
  3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman

Dekat dengan Ulama dan Patuh terhadap Hukama

عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء فإنّ الله تعالى يحي القلب الميت بنور الحكمة كما يحي الأرض الميتة بماء المطر

“Hendaklah kalian berkumpul dengan para ulama’ dan mendengarkan perkataan hukama’, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.”

Hikmah adalah suatu ilmu yang bermanfaat, sedangkan hukama’ adalah para ahli hikmah. Berdasarkan hadist ini, hukama’ adalah ahli hikmah yang mengetahui Dzat Allah, senantiasa berada dalam kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Adapun ulama adalah orang alim (shaleh) yang mengamalkan ilmunya.

Ath-Thabrani juga telah meriwayatkan dari Abu Hanifah sebagai berikut:

جالسواالكبراء وسائلواالعلماء وخالطواالحكماء

“Hendaklah kalian berkumpul (bergaul) dengan para kubara’, dan bertanyalah kepada para ulama’ serta dekatlah kalian dengan para hukama’.”

Dalam riwayat yang lain:

جالس العلماء وصاحب الحكماء وخالط الكبراء

“Hendaklah kamu berkumpul dengan para ulama, bersahabat dengan para hukama’ dan dekat dengan para kubara’.”

Mengenai bertanya kepada para ulama’, hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)

Dan mengenai berkumpul bersama para ulama atau hukama, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Ulama dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: a. Ulama’, yaitu orang yang ‘alim (pengetahuannya luas) tentang hukum-hukum Allah dan mereka itu berhak memberikan petunjuk (nasihat).

  1. Hukama’ adalah orang-orang yang mengetahui Dzat Allah SWT. Dekat dengan mereka dapat membuat watak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Dzat Allah lebih dekat lagi dan rahasia-rahasia yang lain) dan dari jiwa mereka terpantul sinar keagungan Ilahi.
  2. Kubara’, yaitu orang-orang yang dianugerahi makrifat terhadap hukum-hukum Allah dan terhadap Dzat Allah.

Berkumpul dengan orang yang ‘alim (mengetahui tentang Allah) dapat mendidik tingkah laku menjadi lebih baik. Hal ini tidak lain karena pengaruh kebiasaan-kebiasaan mereka yang tentunya lebih baik daripada lisan. Jadi, kebiasaan seseorang yang dapat bermanfaat bagimu, tentu akan bermanfaat pula ucapannya. Begitu juga sebaliknya.

As-Sahwardi pernah meninjau ke sebagian masjid Al-Khaif di mina seraya memandangi wajah orang-orang yang berada di dalamnya. Lalu beliau ditanya oleh seseorang (yang berada disana), “Mengapa tuan memandang wajah-wajah orang itu?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan beberapa orang yang apabila memandang kepada orang lain maka orang yang dipandangnya itu akan merasa damai (bahagia) dan saya pun sedang mencari orang yang seperti itu.”

Hal ini sebagaimana Rasulullah saw. telah bersabda,

سيأتي زمان على أمتي يفرّون من العلماء والفقهاء فيبتليهم الله بثلاث بليّات ألاها يرفع الله البركة من كسبهم والثانية يسلّط الله تعالى صلطانا ظالما والثالثة يخرجون من الدنيا بغير إيمان

“Akan datang suatu masa pada umatku, mereka lari (jauh) dari ulama’ dan fuqaha’ (orang-orang yang paham mengenai agama), maka Allah akan menurunkan tiga macam adzab kepada mereka; Pertama, Allah mencabut keberkahan dari usaha mereka. Kedua, Allah memberikan kekuasaan kepada pemimpin yang kejam (di dunia). Ketiga, mereka keluar dari dunia ini (mati) tanpa membawa iman.

WALLOHU ‘ALAM BIS SHOWAB

Nasha-ihul Ibad karangan Syaikh Nawawi al-Bantani

KEISTIMEWAAN KETIKA MANUSIA DIAM TIDAK BANYAK BICARA

Islam mengajarkan agar setiap orang untuk tidak banyak bicara dan seandainya berbicara, hanya berbicara tentang perihal yang benar dan baik-baik saja. Diam sepertinya satu hal yang sederhana, namun untuk merealisasikannya tidak mudah. Sikap tenang dan mengamati lalu berbicara menurut kadar yang cukup sering kali menjadi kunci sukses dari keadaan seseorang terhadap suatu keadaan yang terjadi dan berlangsung disekitarnya, dan tentunya berbicaira yang bermanfaat dan pada tempatnya adalah mutiara.

Berkata sebahagian para ulama, bahwasanya pada diam itu ada tujuh ribU kebaikan, dan tujuh ribu kebaikan itu terkumpul pada tujuh kalimat, pada tiap-tiap dari tujuh kalimat ini mengandung seribu kebaikan.

 أولها أن الصمت عبادة غير أولها أن الصمت راحة غير عناء

Pertama:

Merupakan Ibadah tanpa harus kerja keras atau berusaha.

 والثاني زينة من غير حلي

Kedua:

Merupakan hiasan diri tanpa perhiasan

 والثالث هيبة من غير سلطان

Ketiga:

Wibawa tanpa kekuasaan

 والرابع حصن من غير حافظ

Keempat:

Benteng tanpa dinding (selalu terkawal tanpa perlu pengawal atau penjaga )

 والخامس استغناء عن الاعتذار إلى الناس

Kelima:

Tidak perlu meminta maaf kepada siapapun yang disebabkan oleh perkataan

 والسادس إراحة الكرام الكاتبين

Keenam:

Malaikat pencatat amal menjadi rehat dan tidak lelah

 والسابع ستر لعيوبه

Ketujuh:

Penutup keburukan dan sisi-sisi kejahiliyahan dan kekurangan diri

Diam adalah ciri khas dari orang berilmu, dengan diam, kita mendapatkan kekuatan hebat untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang terjadi di sekeliling, serta dapat konsentrasi dengan penuh tentang rasionalitas suatu jawaban.

Diam adalah kesempatan untuk menilai kehidupan, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kekuatan yang besar, dengan diam kita telah menguasai orang-orang yang ada di hadapan kita melalui pandangan. Diam bisa menjadi solusi paling jitu dalam menghadapi berbagai problema rumah tangga ringan yang bertumpuk-tumpuk. Di saat-saat genting, diam dapat melahirkan sikap dihormati, sebaliknya, perlawanan dan perdebatan dapat melahirkan sikap semakin menjauh dan dendam. Dengan diam, kita telah menghancurkan berbagai senjata musuh. Diam telah menjadi guru yang baik agar kita belajar menjadi pendengar yang baik, di mana banyak orang telah kehilangan sifat ini. Keselamatan manusia terletak pada bagaimana dia menjaga lidahnya.

Demikianlah 7 manfaat dari diam yang kami kutib dari kitab “Muraqi Ubudiyyah” karangan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jaawi.

KLIK DI SINI UNTUK MENONTON VIDEO YANG BERKAITAN DENGAN MATERI INI BERSAMA KH. ZUHRUL ANAM (GUS ANAM)

Wallahua’lam.

BEBERAPA KEMULIAAN ORANG YANG DUDUK BERSAMA AHLI ILMU

Ada banyak kelebihan bagi seorang yang menuntut ilmu pengetahuan agama. Bahkan kelebihan dalam menuntut ilmu tak hanya di dapatkan oleh penuntut ilmu agama saja, melainkan juga didapatkan oleh seseorang yang duduk di dekat penuntut ilmu agama.

Di dalam kitab Bujairimi ‘Alal khatib disebutkan, bahwa seseorang yang duduk disisi orang alim, sedangkan dia tidak mampu menghafal ilmu darinya, maka baginya itu mendapatkan 7 macam karamah.

  1. Mendapati kelebihan orang-orang yang belajar.

Meskipun ia hanya duduk disamping seorang yang alim, dan tidak belajar darinya, namun dia tetap dikatakan sebagai seseorang yang belajar dan mendapatkan kelebihan-kelebihan orang-orang yang sedang belajar.

  1. Tercegah dari segala macam dosa selama duduk disisi orang alim tersebut.

Setiap manusia pasti melakukan dosa dalam kehidupannya. Dosa tersebut ada yang dosa kecil maupun dosa yang besar. Bahkan, tidak mengingat Allah juga merupakan dosa bagi orang-orang tertentu seperti para Nabi dan Rasul. Nah, kalau kita mau duduk disisi orang alim, maka akan terhalang dari kemungkinan berbuatnya dosa.

  1. Apabila keluar dari tempat itu untuk mencari ilmu, maka akan turun rahmat kepadanya.

Dalam setiap gerak langkahnya, ia juga akan mendapatkan rahmat, yaitu ketika berangkat dari tempat duduknya bersama orang alim tersebut untuk mencari ilmu pengetahuan.

  1. Apabila duduk di halaqah ilmu, dan turun rahmat kepada mereka, maka dia juga mendapatkan bagian rahmat itu.

Rahmat yang turun kepada majlis yang mencari ilmu, juga akan turun kepadanya, meskipun dia tidak sedang belajar, hanya duduk saja.

  1. Selama ia mendengar, dituliskan sedang mengerjakan perbuatan taat baginya.

Yang terpenting, ia harus selalu mendengar apapun ilmu pengetahuan yang mungkin disampaikan oleh seorang alim tersebut. Karna hanya mendengar saja, itu telah tercatat sebagai perbuatan taat baginya.

  1. Apabila ia mendengar, namun berkecil hati karna tidak memahaminya, maka jadilah kesedihan hatinya itu sebagai perantara kepada hadirat Allah swt.

ketika tidak memahami pelajaran yang disampaikan, Allah ta’ala tidak meninggalkan kita. Allah akan memberikan kelebihan kepada orang-orang yang bersedih ketika tidak mampu memahami pelajaran. Kesedihan di hatinya akan menjadi perantara bagi dirinya kepada hadirat Allah swt.

  1. Dia akan menyadari bahwa orang-orang muslim akan memuliakan orang alim dan orang-orang muslim akan mencela orang fasiq. Karenanya, hatinya akan condong kepada ilmu dan menjauhi kefasiqan.

NASIHAT- NASIHAT MULIA UNTUK HAMBA ALLOH SWT.

Alhamdulillah, kita bisa mengkaji kitab yang sangat populer karangan  Al Alim Alamah Syaikhina Nawawi Al Bantany. Semoga dengaN sajian Kitab Kuning Nashoihul Ibad Versi Terjemahan ini bisa dirasakan semua kalangan, Khususnya umat Islam. Amin Yaa Robbal ‘alamin.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah nafa’ana Alloh Fi ‘ulumihi Fiddaroini, Amin.

Maqolah 1

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim). Baik degan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.

RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala hajji yang mabrur).

Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).

Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.

(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 1. orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan 2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah. Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan, 1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya. 2. Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim 3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.

Maqolah 4

Dari ‘Umar RA, -dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy, sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS, ‘Beritahukan kepadaku sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan uckup melukiskan sifat kebaikannya. Kemudian Nabi bersabda, beritahukan kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA.

‘Umar RA berkata, (kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan akhirat adalah dengan bagusnya amal). Maksudnya, urusan dunia tidak akan lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda. Demikian pula perkara akhirat tidak akan menjadi sempuran kecuali dengan amal perbuatan yang baik.

Maqolah 5

Dari ‘Utsman RA. (menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi akhirat akan menerangkan hati). Artinya, menyusahi urusan yang berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap. Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6

Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah. (Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang emncari ma;siyat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari) Artinya barang siapa yang menyibukkan diri denagn mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT. Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7

Dari Yahya bin Muadz RA. (Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia) yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat. (Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana) Artinya orang bijak / hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat. Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.

Maqolah 8

Dari A’Masy, naam lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA. (Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk menyebutkan sifat keberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal agamanya). Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam hal kebaikan yang diperolehnya.

Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9

Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA. ( Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan yangteramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat ampunanNya. Dan setiyap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan dari Allah). Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari tanah sedangkan ia/iblis diciptakan dari api. Dan sesungguhnya kesalahan Nabi

Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10

Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia dan tidak peduli dengan nya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar dharurah/darurat sesuai kebutuhan minimumnya. (Barang siapa yang melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati. Dan barang siapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam hal ta’at kepaadNya Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam keadaan tertawa gembira. ) dengan sebenar-benar gembira karena mendapatkan apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11 Maqolah ke sebelas : dari sebagian ahli hikmah / Aulia’ (Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil) kerana dengan selalu menjalankannya maka lama kelamaa akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar. Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12

Dari Nabi SAW : (Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus) karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi besarlah ia. (Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai dengan taubat dan istighfar) Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya. Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13

(Keinginan orang arifiin adalah memujiNya) maksudnya keinginan orang ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan sifat-sifatnya. (dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya) yaitu permintaan kepaad Allah sekedar hajat kebutuhannya dari du nia dengan segenap hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya. (Karena keinginan orang arif/ ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala dan surga yang didapatkannya. Maka demikianleh perbedaan orang yang keinginan hatinya mendapatkan bidadarii dan orang yang cita-citanya adalah keterbukaab hatinya.

Maqolah 14

(diriwayatkan dari sebagian hukama’) yaitu orang yang ahli mengobati jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah. -(Barang siapa yang menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah maka sangat sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah) Maknanya adalah barang siapa yang menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah, maka maka sesungguhnya dia belul mengenal Allah. (Danbarang siapa yang menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya tentang nafsunya) Artinya adalah brang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya akan hawa nafsunya sendiri.

Maqolah 15

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barr/daratan adalah lisan.

Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr / lautan adalah hati). Apabila lisan telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri seseorang / anak cucu adam. Akan tetapi apabila hati yang rusak disebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan diperumpamakan hati/qalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalmnya hati itu.

Maqolah 16

(Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba sahaya/budak) karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akna menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. (dan sabar akan membuat seorang hamba sahaya berumab menjadi seorang raja) karena seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan. (apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS Ash-Shiddiq, putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim Al-Khalil AS dengan Zulaikha. Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipudayanya.

Maqolah 17

(Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin) dengan mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna (sedangkan hawa nafsunya menjadi tahanan) (dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah).

Maqolah 18

(Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah hatinya), maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia khusyu’/memperhatikan akan nasihat tersebut. (Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram) baik dalam hal makanan, pakaian dan yang lainnya (dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jerniglah pikirannya) didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah dan kekuasaanNya dan ilmuNya. Dan yang demikian ini terjadi apabila ia mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemujdian Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan anggota badan baginya. Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai janian dari dalam rahim ibunya, dan memberinya ilham untuk menyusu ibunya, dan Allah menjadikannya pada awwal kejadian dengan tanpa gigi gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan kembali gigi tersebut. Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah menjadi tua renta dan dari keadaan sehat berubah menjadi sakit. Kemudian Alah menjadikan bagi hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan tumbuh lagi seperti semula.

Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain. Demikian pula dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan yang semuanya datang dan pergi. Demikian pula bertafakur tentang rembulan yang berkurang pada setiap malamnya, kemudian menjadi purnama, kemudian berkurang kembali. Seperti itu pula pada gerhana matahari dan rembulan ketika hilang cahayanya keudian cahaya itu kembali lagi. Kemudian berfikir tentang bumi yang

gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian menumbuhkannya kembali. Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk menghidupkan sesuatu yang telah mati. Maka wajib bagi hamba untuk selalu bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah pasti membangkitkannya da membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19

Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi ( Ta’atlah kepadaKu akan apa yang Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku nasehatkan kepadamu). Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang hamba akan tehindar dari kerusakan.

Maqolah 20

(Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang diridhai Allah dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa saja yang tidak seperti konsep di atas adalah kegilaan / tak berakal.

Maqolah 21

(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.

Maqolah 22

Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepadan Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23

(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk /a dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Maqolah 24

Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Maqolah 25

(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tangda diteimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Maqolah 26

(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 27

Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.

Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepadapara Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Maqolah 28

Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :

Wahai Tuhanku…

Sesungguhnya aku senang

Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku

Sementara aku sangat faqir dan lemah

Oleh karena itu wahai Tuhanku,

Bagaimana Engkau tidak senang

Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku

Sementara Engkau Maha Kaya

Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu

Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu

Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:

Ilahy lastu lil firdausi ahla

Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi

Fahably zallaty wahfir dzunuuby

Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi

Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi

Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi

(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,

‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Maqolah 29

Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’

Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“

Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”

Aku menjawab, ‘Ya’.

Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Maqolah 30

Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya pertemuan (wushlah – dekat dengan Allah SWT) niscaya engkau akan mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah Ta’ala) . karena sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk salah satu dari do’a SAW adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu ilaa liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu)

Maqolah 31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakanakan ia telah mengadukan Tuhannya. “. Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“. kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”. RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al- Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yangpertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara lainnya. Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda dengan bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya dengan menyemir rambut dan lain sebagainya. Yang ketiga, Kesehatan dengan obat-obatan.

Maqolah 32

Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di capai/didapatkan dengan tiga perkara lainnya : 1. Kekayaan dengan angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah. 2. Muda usia dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh keadaan menjadi muda hanya karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali meskipun dengan rambut disemir atau yang lainnya. Dan umur akan terus berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang Khaliq. 3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya kesehatan tidak dapat diperoleh dengan

mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan menjaga diri dengan makanan yang halal dan olah raga secara teratur serta rajin beribadah.

Maqolah 33

Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah setengah dari sempurnanya aka”l. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby SAW bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya berperilaku yang baik terhadap manusia melalui ucapan dan perbuatan pahalanya sama dengan orang yang bersedekah. Dan sebagian dari suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau tidak pernah mencela makanan dan menghardik pelayan dan tidak pernah memukul wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena tuntutan agama. Dan rajn bertanya (kepada Ulama) adalah setengah dari ilmu. Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah dari penghidupan. Karena dengan rajin bekerja kita akan memperoleh rizki sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.

Maqolah ke 37

Dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :

  1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
  2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
  3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Maqolah ke 38

Dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah:

  1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
  2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
  3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah karena Allah).

Adapun (tiga) yang merusakkan adalah:

  1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia).
  2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.
  3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari hilangnya ni’mat itu).

Adapun yang meninggikan derajat adalah:

  1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal).
  2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan).
  3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap (yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang sedang lalai dalam ni’matnya tidur).

Adapun yang dapat menghapus dosa adalah :

  1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).
  2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
  3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya di masjid yang sama).

Maqolah ke 39 :

قال جبریل علیھ السلام یا محمد عش ما شئت فئنك میت, وأحبب من شئت فئنك مفارقة, واعمل ما شئت فئنك مجزى بھ,

Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah sesuka engkau karena sesungguhnya engkau akan meninggal dunia. Dan cintailah orang yang engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian). Dan beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.

Maqolah ke 40 :

قال النبي صل الھ علیھ وسلم : ثلاثة نفر یظلھم الله تحت ظل عرشھ یوم لاظل الا ظلھ. المتوضئ فى المكاره, والماشى الى المساجد فى الظلم, ومطعم الجائع.

Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan الله di bawah naungan ‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1 orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan). 2. orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat berjama’ah). 3. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan.

Maqolah ke 41 :

قیل لابراھیم علیھ السلام, “لأي شیئ اتخذك الله خلیلا ؟ قال بثلاثت اشیاء : اخترت امر الله تعالى على أمر غیره, وما اھتممت بما تكفل الله لى وما تعیشت وما تغدیت الا مع الضیف

Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga الله menjadikan engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia menjawab, “Dengan tiga hal, Aku memilih melaksanakan perintah الله daripada perintah selain الله . Dan aku tidak bersedih hati atas apa yang telah الله tanggung untukku (dari rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau makan pagi kecuali bersama-sama dengan tamu.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang mau dijak makan bersamanya.

Maqolah ke 42 :

عن بعض الحكماء : ثلاثة اشیاء تفرج الغصص 1 ذكر الله تعالي, 2 ولقاء أولیائھ, 3 وكلام الحكماء

Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat menghilangkan kesusahan. 1 Dzikir kepada الله dengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat لاالھ الاالله dan kalimat لاحولولاقوةالابالله , atau dengan bermunajat kepada-Nya. 2 Bertemu kekasih / Aulia-Nya dari para ulama dan orang-orang saleh. 3 Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang yang menunjukkan kepada kebajikan dunia dan akhirat).

Maqolah ke 43

عن حسن البصرى رضي الله عنھ : من لا أدبلھ لاعلم لھ, ومن لاصبرلھ لادین لھ, ومن لاورع لھ لازلفى لھ.

Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adab/etika (kepada الله dan kepada makhluk) maka tiadalah ilmu baginya. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan menanggung disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas melaksanakan kewajiban), maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak ada pujian (martabat) baginya di hadapan الله dan tiada kedekatan baginya kepada الله

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB