SIFATNYA DUNIA YANG TIDAK MENYENANGKAN

Sifatnya Dunia

لا تستغرب وقوع الأكدار مادمت في هذه الدار فإنها ما أبرزت إلا ما هو مستحق وصفها و واجب نعتها

“Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni menjadi sifatnya.”

Jangan merasa aneh dengan berbagai macam kesusahan selagi engkau masih hidup di dunia…. Tidak selayaknya seseorang yang masih hidup di dunia ini mengharap rehat dan ketenangan hati (jiwa). karena, Allah sudah menciptakan dunia sebagai tempatnya ujian dan cobaan, maka pastilah kesusahan itu masih tetap ada selama engkau masih berada di dunia. jangan mengharapkan ada istirahat (dari kesusahan).

Kalian gemar mencari dua perkara, padahal kalian tidak akan mendapatkannya: yakni, istirahat dan bahagia di dunia, sementara keduanya hanya ada di surga. Rosulullah bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.”

Sungguh tidak ada yang ditampakkan di dunia, kecuali kesusahan. Karena kesusahan sudah dijadikan sifatnya dan ditetapkan sebagai yang layak baginya.

Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan.“

Syeikh Jafar As-shoddiq rodhiyallohu ‘anhu berkata:

من طلب مالم يُخلق اتعبَ نفسه ولم يُرزق. قيل له : وما ذاك؟ قال: الراحة فى الدنياَ

“Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Alloh, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia.”

Syeikh Junaid al-Baghdadi rodhiyallohu anhu berkata: “Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesulitan dan penderitaan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan, maka itu adalah suatu karunia dan kelebihan.”

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam berkata kepada Abdulloh bin Abbas: Jika engkau dapat beramal karena Alloh dengan ikhlas dan keyakinan, maka laksanakanlah dan jika tidak dapat, maka sabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan itu suatu keuntungan yang besar.”

Umar bin Khottob radhiyallohu ‘anhu berkata kepada orang yang dinasehatinya: “Jika engkau sabar, maka hukum [ketentuan – takdir] Alloh tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Alloh sedang engkau berdosa.”

Maka apapun yang menimpa dirimu tetaplah berserah diri kepada Alloh dengan penuh kesabaran, sebab ketentuan Alloh pasti akan terjadi padamu.

EMPAT HIKMAH NABI SAW DI LAHIRKAN DI HARI SENIN BULAN ROBI’IL AWWAL

Setiap tahun pada bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud selalu diperingati Kelahiran Nabi SAW, sebagai sosok manusia terbaik di muka bumi ini, juga sebagai pemberi Rahmat kepada seluruh alam. Beliau sosok yang menginspirasi semua makhluk dalam segala lini kehidupan, baik akhlaknya dalam segi perkataan maupun perbuatan sangat dipuji oleh setiap orang, juga sebagai pembawa perubahan dari zaman jahiliah menuju zaman ilmiah.

Imam as-Suyuti dalam kitab al-Hawi Lil Fatawa mengutip perkataan Ibnu al-Hajj yang mengupas tentang hikmah kelahiran Nabi di hari Senin bulan Rabiul Awal, tidak di bulan lainnya seperti Ramadhan atau bulan lainnya, alasannya yaitu:

Pertama, ada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa di hari Senin Allah menciptakan as-Syajar(pohon). Hal ini sebagai pertanda bahwa Allah menciptakan bahan makanan, Rizki, buah-buahan dan segala kebaikan yang diberikan kepada manusia sebagai sumber kehidupan mereka.

Kedua, arti Rabi‘ berarti musim semi. Hal ini sebagai Tafaul (mengambil inspirasi kebaikan) seperti pendapat Abdurrahman As-Shaqli yang menyatakan bahwa setiap nama membawa arti membawa arti filosofi tersendiri.

Ketiga, bulan Rabi’ul Awal sebagai musim yang paling tenang dan paling nyaman cuacanya, begitu juga Syariat Nabi Muhammad sebagai Syariat yang paling moderat dan sesuai dengan kondisi apapun.

Keempat, Allah Sebagai Dzat yang Maha bijaksana atau al-Hakim hendak memuliakan bulan kelahiran Baginda Nabi, seumpama Nabi dilahirkan pada bulan mulia yang lain seperti Ramadhan maka orang akan menganggap Nabi mulia disebabkan bertepatan dengan bulan yang mulia.

Keempat hal itu ternyata menjadi rahasia tersendiri bagi beliau dan umatnya agar selalu bersemi, selalu bangkit dari keterpurukan, juga mampu berubah menjadi yang lebih baik.

Semoga kita tercatat sebagai Umat yang taat kepadanya. AMIN……

DENGAN BERSHOLAWAT ORANG YANG SEDANG DI SIKSA DI ALAM KUBUR DI BEBASKAN

Dari Kitab Riyadl Al-Badi’ah halaman 92, karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Nawawi menganjurkan beberapa amalan agar senantiasa dilaksanakan kaum muslimin muslimat, salah satunya adalah membaca sholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Dan berikut adalah salah satu faidah agung tentang FADHILAH SHOLAWAT  :

حكي ان امرأة جاءت الي الحسن فقالت له توفيت لي ابنة واريد رؤيتها في النوم ،فقال لها صلي اربع ركعات بعد العشاء واقرئي في كل ركعة بعد الفاتحة سورة الهاكم مرة ثم اضطجعي وصلي علي النبي صعلم الي ان تنامي ففعلت فراتها في العقوبة مسلسلة ومغلولة، فجاءت اليه فاحبرته فاغتم وقال لها تصدقي عنها ففعلت ثم راي في تلك الليلة كانه في روضة من رياض الجنة وفيها سرير عليه جارية جميلة وعلي راشها تاج من نور فقالت له اعرفتني فقال لا ، فقالت له انا ابنة تلك المراة فقال لها بغير هذا وصفت لي امك حالك، فقالت كنت كذلك فقال ثم بماذا بلغت هذا، قالت كنا سبعين الف نفس في تلك العقوبة فعبر واحد من الصالحين علي قبورنا وصلي علي النبي صعلم مرة وجعل ثوابها لنا فاعتقنا الله من ذلك ببركته وبلغ نصيبي مارايت اه

Dikisahkan, ada seorang wanita (seorang ibu) datang kepada Syeikh Hasan, dan ia berkata: “Aku telah ditinggal wafat oleh anak perempuanku, dan aku ingin sekali memimpikan dia”. Berkata Syeikh Hasan pada si ibu: “Lakukanlah sholat sunah empat roka’at setelah isya, dan bacalah pada setiap roka’atnya surat AT-TAKATSUR satu kali setelah fatihah, kemudian berbaringlah dan bacalah sholawat hingga engkau tertidur”.

Si ibu ini melakukan apa apa yang telah disampaikan syeikh padanya. Maka malam itu si ibu memimpikan anak perempuannya sedang disiksa dengan kaki dan tangan terbelenggu rantai besi. Keesokannya si ibu datang lagi kepada syeikh dan mengabarkan mimpinya.

Sejenak Syeikh diam dan kemudian beliau berkata: “Shodaqohlah atas nama anak perempuanmu”. Maka kemudian si ibu melaksanakan shodaqoh atas nama anak perempuannya (menghadiahkan ganjaran shodaqoh tersebut kepada anaknya).

Kemudian pada malam berikutnya, Syeikh bermimpi seolah beliau berada di pertamanan syurga, Beliau melihat ada seorang gadis yang sangat cantik berada diatas sebuah ranjang dengan memakai mahkota dari cahaya dikepalanya.

Gadis ini berkata kepada Syeikh: “Apakah engkau tidak mengenaliku wahai Syeikh ?”

 “Tidak !” jawab Syeikh.

Berkata gadis itu: “Aku adalah anak perempuan dari wanita yang datang padamu”

Syeikh berkata: “Tapi tidak dalam keadaan seperti yang aku lihat saat ibumu menceritakan keadaanmu”. Berkata si gadis: “Sebelumnya aku memang seperti apa yang telah diceritakan ibuku”.

Syeikh berkata: “Lalu bagaimana engkau bisa seperti ini ?”.

Si gadis menjelaskan: “Aku adalah salah satu dari 70.000 orang yang sedang disiksa, Maka lewatlah diantara pekuburan kami seorang yang sholih,orang sholih tersebut membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW hanya satu kali, kemudian ia menghadiahkan pahala satu kali sholawat tersebut kepada kami, Kemudian Allah membebaskan kami (70.000 orang) dari siksaan tersebut dengan berkah Nabi SAW (sholawat), Dan hasil dari satu kali sholawat yang dihadiahkan pada kami adalah seperti apa yang engkau lihat padaku (seperti ini bagianku). 

Wallohu a’lam

KEUTAMAAN ORANG YANG MAKAN SAHUR DAN WITIR LEBIH DARI SATU KALI DALAM SEMALAM

ORANG YANG MAKAN SAHUR MENDAPAT SHOLAWAT DARI ALLOH DAN MALAIKAT

 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang melaksanakan sahur.” (HR Ibnu Hibban).

  1. Di antara orang-orang yang berbahagia dengan shalawat para Malaikat adalah orang yang makan sahur, dan di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah :

Imam Ibnu Hibban dan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

‘Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.

– Kitab Al ‘ilal li ibni hatim

– Al mughni

  • Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu bersabda:

“اَلسَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ, فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.”

‘Makan sahur adalah makanan yang penuh dengan keberkahan, maka janganlah engkau meninggalkannya, walaupun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.’”

  1. Benar, sudah termasuk sahur walau hanya meminum seteguk air

– Fadhoil syuhuri romadhon :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الإِسْكَنْدَرَانِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ ، وَالثَّرِيدُ بَرَكَةٌ ، وَالسُّحُورُ بَرَكَةٌ ، تَسَحَّرُوا فَإِنَّهُ يَزِيدُ فِي الْقُوَّةِ ، تَسَحَّرُوا وَلَوْ عَلَى جَرْعٍ مِنْ مَاءٍ ، صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ ” .

Dari Abi sa’id al-iskandary, ia berkata, telah bersabda Rosulillah SAW : Berjama’ah itu berkah, sahur itu berkah, maka lakukanlah sahur karena ia menambah kekuatan, sahurlah walau dengan seteguk air, rahmat Allah atas orang orang yang melaksanakan sahur. Wallahu a’lam.

Puasa itu nanti akan bicara pada Robbnya untuk memintakan ampun bagi orang yang berpuasa di hari Qiyamat

Dalam musnad imam ahmad disebutkan :

وورد أيضاً أن الصيام يشفع لصاحبه يوم القيامة، فقد روى الإمام أحمد عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة، يقول الصيام: أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه، ويقول القرآن: منعته النوم بالليل فشفعني فيه، قال: فيُشَفَّعان).

Puasa dan (amalan membaca) al-Quran akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : Wahai Tuhanku, akulah yang mencegahnya dari makan dan syahwat di waktu siang. Maka jadikanlah aku bisa memberi syafaat untuknya. (Amalan baca alQuran) berkata: Akulah yang mencegahnya untuk tidur di waktu malam, maka jadikan aku memberi syafaat untuknya. Maka keduanyapun memberi syafaat untuknya (H.R Ahmad). Wallohu A’lam [Rizalullah].

Takhrij haditsnya :

الحديث فى مسند الامام أحمد

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا موسى بن داود ثنا بن لهيعة عن حيي بن عبد الله عن أبي عبد الرحمن الحبلى عن عبد الله بن عمرو ان رسول الله قال الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فشفعني فيه قال فيشفعان

والحديث أخرجه الحاكم فى مستدركه

حدثنا عبد الله بن سعد الحافظ أخبرني موسى بن عبد المؤمن ثنا هارون بن سعيد الأيلي ثنا عبد الله بن وهب أخبرني حيي بن عبد الله عن أبي عبد الرحمن الحبلى عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رسول الله e قال الصيام والقرآن يشفعان للعبد يقول الصيام رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فيشفعان هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه

وهو فى كتاب الزهد لابن المبارك

– أَخْبَرَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَن حيي عَن أبي عَبد الرحمن عَن عَبد الله بن عَمْرو بن العاص عَن النبي صلى الله عليه وسلم أن الصيام والقرآن يشفعان للعبد يقول الصيام رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه فيشفعان

الحديث بطرقه مداره على حيي قال ف ابن حجر فى التقريب

حيي بضم أوله ويائين من تحت الأولى مفتوحة ابن عبدالله ابن شريح المعافري المصري صدوق يهم من السادسة مات سنة ثمان وأربعين

وابن لهيعة قال عنه الحافظ فى التقريب

– عبدالله ابن لهيعة بفتح اللام وكسر الهاء ابن عقبة الحضرمي أبو عبدالرحمن المصري القاضي صدوق من السابعة خلط بعد احتراق كتبه ورواية ابن المبارك وابن وهب عنه أعدل من غيرهما وله في مسلم بعض شيء مقرون مات سنة أربع وسبعين وقد ناف على الثمانين م د ت ق

وتابع ابن لهيعة فى الروايت عن حيي رشدين بن سعد شيخ ابن المبارك وهو ضعيف كما فى التقريب و عبدالله بن وهب وهو ثقة حافظ

 

SHOLAT WITIR SEMALAM LEBIH DARI SATU KALI

Witir adalah sholat sunnah yang tidak disunnahkan jama’ah kecuali di bulan Romadlon saja, sehiingga otomatis jika bulan Romadlon boleh dikerjakan 2 kali karena disunnahkan jamaah, sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Majmu’. Disunnahkan i’adatush sholat hanya dengan syarat sholat yang berupa fardhu atau sunnah itu disyari’atkan jama’ah, meskipun berupa sholat witir menurut imam ibnu hajar. Karena witir disyariatkan jama’ah hanya di bulan ramadhan maka boleh (sunnah) di-i’adah di bulan ramadhan. Bahkan ada pendapat, Sholat i’adah diulangi tanpa batas selama waktu belum keluar. Shahabat Abu bakar & Utsman diriwayatkan mengerjakan sholat witir sebelum tidur kemudian bangun untuk tahajjud, sedang shahabat Umar & Ali tidur, kemudian bangun kemudian sholat tahajjud dan witir.

Namun dari keterangan di Nihatulmuhtaj dan begitu pula Tuhfah, tidak dituntut untuk mengulangi witir, jika mengulangi dengan niat witir dengan sengaja dan mengetahui (terhadap ketidak-bolehannya) maka haram mengulangi tersebut, dan tidak sah karena hadits “tidak ada dua witr dalam satu malam”. Hal ini senada dengan keterangan di Hasyiyah Al-Bajuri : “Shalat witir itu minimal satu rakaat, waktunya antara waktu shalat Isya’ sampai terbit fajar. Disunatkan melaksanakan shalat witir pada akhir shalat malam. Dalilnya hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim : Lakukanlah shalatmu yang paling akhir di waktu malam itu berupa shalat witir. Apabila seseorang biasa bertahajjud, maka witirnya diakhirkan setelah tahajjud dan andai kata dia melakukan witir lebih dulu kemudian baru melakukan shalat tahajjud, maka dia tidak disunatkan mengulang shalat witir, bahkan tidak sah jika diulang. Dalilnya hadits nabi : tidak ada (pelaksanaan) shalat witir dua kali pada satu malam”. Wallohu a’lam. [Ibnu Al-Ihsany, Sunde Pati, Mumu Bsa, Mbah Godek, Najwa Asnawi, Ibnu Mukmin El Mubasysyirot].

– Ibarot :

ويسن إعادة الفرض بنية الفرض مع منفرد أو جماعة وإن كان قد صلاها معها

)مع منفرد أو مع جماعة وإن كان قد صلاها معها( أو زادت الأولى بفضيلة كثرتها أو كون إمامها أعلم وإنما تسن فرضا أو نفلا تشرع فيه الجماعة ولو وترا عند حج وأن تكون مؤداة لا مقضية وكون الأولى صحيحة وإن لم تغن عن القضاء كمتيمم لبرد لا فاقد الطهورين إذ لا يجوز تنفله وأن لا تزيد الإعادة على مرة وأن ينوي بها الفرضية على ما مر وأن تقع جماعة من أولها إلى آخرها عند مر واكتفى بها حج بركعة كالجمعة وأن تقع منها في الوقت ركعة فأكثر وأن ينوي الإمام الإمامة وأن يكون فيها ثواب جماعة حال الإحرام بها فلو انفرد عن الصف أو اقتدى بنحو فاسق لم تنعقد للكراهة الموفتة لفضيلة الجماعة وأن تعاد مع من يرى جواز الإعادة فلو كان الإمام شافعيا والمأموم حنفيا لم تصح لأن المأموم لا يرى جواز الإعادة فكأن الإمام منفرد بخلاف العكس وأن لا تكون صلاة خوف أو شدة لأن المبطل إنما احتمل فيها للحاجة وأن تكون إعادتها للخروج من الخلاف وإلا ندب قضاءها ولو منفردا

– Busyrol karim hal 121 juz 1. Fokus :

وإنما تسن بشروط كونها فرضا أو نفلا تشرع فيها الجماعة ولو وترا عند حج

وتسن إعادة المكتوبة بشرط أن تكون في الوقت وأن لا تزاد في إعادتها على مرة خلافا لشيخ شيوخنا أبي الحسن البكرى رحمه الله تعالى ولو ولو صليت الأولى جماعة مع آخر ولو واحدا إماما كان أو مأموما في ابأولى أو في الثانية بنية فرض وإن وقعت نفلا فينوى إعادة الصلاة المفروضة واختار الإمام أنه أن ينوي الظهر أو العصر مثلا ولا يتعرض للفرض ورجحه في الروضة لكن الأول مرجح الأكثرين والفرض الأولى ولو بان فساد الأولى لم تجزئه الثانية على ما اعتمده النووى وشيخنا خلافا لما قاله شيخه زكريا تبعا للغزالي وابن العماد أى إذا نوى بالثانية الفرض

وقوله خلافا لشيخ شيوخنا أبي الحسن البكري أى في قوله إنها تعاد من غير حصر ما لم يخرج الوقت

– Fathul muin / hamisy i’anah thalibin juz 2 hal 5-7  :

ويسن وتر أي صلاته بعد العشاء لخبر الوتر حق على كل مسلم وهو أفضل من جميع الرواتب للخلاف في وجوبه ـ إلى أن قال ـ ولا يندب إعادته

– Hamisy i’anah al thalibin hal 248-252 :

قوله ولا يندب إعادته أى لا تطلب إعادته فإن أعاده بنية الوتر عامدا عالما حرم عليه ذلك ولا ينعقد لخبر لا وتران في ليلة إهـ نهاية ومثله في التحفة

– Busyrol karim hal 121 :

وإنما تسن بشروط كونها فرضا أو نفلا تشرع فيه الجماعة ولو وترا عند حج

– Fathul muin/hamisy ianatuth thalibin juz 1 hal 252 :

{فرع} يسن لمن وثق بيفظته قبل الفجر بنفسه أو غيره أن يؤخر الوتر كله لا التراويح عن أول الليل وإن فاتت الجماعة فيه بالتأخير في رمضان لخبر الشيخين اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا وتأخيره عن صلاة الليل الواقعة فيه ولمن لم يثق بها أن يجعله قبل النوم ولا يندب إعادته ثم إن فعل الوتر بعد النوم حصل به سنة التهجد أيضا وإلا كان وترا لا تهجدا وقيل الأولى أن يوتر قبل أن ينام مطلقا ثم يقوم ويتهجد لقول أبي هريرة رضي الله عنه أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام رواه الشيخان وقد كان أبو بكر رضي الله عنه قبل أن ينام ثم يقوم ويتهجد وعمر رضي الله عنه ينام قبل أن يوتر ويقوم ويتهجد ويوتر فترافعا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال هذا أخذ بالجزم يعني أبو بكر وهذا أخذ بالقوة يعني عمر وقد روي عن عثمان مثل فعل أبي بكر وعن على مثل فعل عمر رضي الله عنهم قال في الوسيط واختار الشافعي فعل أبي بكر رضي الله عنه . وأما الركعتان اللتان يصليهما الناس جلوسا بعد الوتر فليستا من السنة كما صرح به الجوجري والشيخ زكريا قال في المجموع ولا تغتر بمن يعتقد سنية ذلك ويدعوا إليه لجهالته

– Tuhfatul Habib :

تحفة الحبيب على شرح الخطيب (2/ 60)

قوله : ( لا وتران في ليلة ) أي أداء أما إذا كان أحدهما أداء والآخر قضاء فلا يمتنع بل يندب

– Tuhfatul Muhtaj :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (7/ 449)

( قَوْلُهُ : وَوِتْرُ رَمَضَانَ )وَعَلَيْهِ فَخَبَرُ { لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ } مَحَلُّهُ فِي غَيْرِ ذَلِكَ فَلْيُحَرَّرْ لَكِنْ قَالَ م ر لَا تُعَادُ لِحَدِيثِ { لَا وِتْرَانِ } إلَخْ وَهُوَ خَاصٌّ فَيُقَدَّمُ عَلَى عُمُومِ خَبَرِ الْإِعَادَةِ انْتَهَى أَقُولُ بَلْ بَيْنَهُمَا عُمُومٌ مِنْ وَجْهٍ وَتَعَارَضَا فِي إعَادَةِ الْوِتْرِ سم عَلَى الْمَنْهَجِ

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (7/ 441)

( قَوْلُهُ : وَوِتْرِ رَمَضَانَ )اعْلَمْ أَنَّ بَيْنَ خَبَرِ { لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ }وَخَبَرِ الْإِعَادَةِ كَحَدِيثِ { إذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا } عُمُومًا وَخُصُوصًا مِنْ وَجْهٍ وَتَعَارُضًا فِي إعَادَةِ الْوِتْرِ فَلْيُتَأَمَّلْ يُرَجَّحُ الْإِعَادَةُ

– Hawasyi Syarwani :

حواشي الشرواني (2/ 263)

قوله ( ووتر رمضان ) وعليه فخبر لا وتران في ليلة محله في غير ذلك فليحرر لكن قال م ر لا تعاد لحديث لا وتران الخ وهو خاص فيقدم على عموم خبر الإعادة انتهى أقول بل بينهما عموم من وجه وتعارضا في إعادة الوتر سم على المنهج ا هـ ع ش ومال البصري إلى ما جرى عليه م ر من عدم الإعادة ونقل عن الزيادي موافقته م ر وهو الأقرب

 

Ini ibarah witir ketika disunnahkan berjama’ah hendaknya menyeru dengan lafad ”Asholatu jami’ah” :

(ويقال في العيد ونحوه) من كل نفل تشرع فيه الجماعة كما صرَّح به في الحاوي ، كالعيد والكسوف والاستسقاء والتراويح حيث يفعل ذلك جماعة، قال شيخنا: والوتر حيث يسنُّ جماعة فيما يظهر اهـ. وهذا دخل في كلامهم (الصلاة جامعة) لوروده في الصحيحين في كسوف الشمس، وقِيسَ به الباقي،

– I’anatutu Tholibin :

إعانة الطالبين (2/ 6)

أما ما تسن فيها فتسن إعادتها ولو وترا خلافا لمر فإن الوتر عنده لا تصح إعادته

شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ص: 330)

وإنما تسن بشروط: كونها فرضاً أو نفلاً تشرع فيه الجماعة ولو وتراً عند (حج)

– kitab Al-Majmu’ :

المجموع شرح المهذب (4/ 15)

(فرع)إذا استحببنا الجماعة في التراويح استحبت الجماعة أيضا في الوتر بعدها باتفاق الاصحاب

[ Sub Bahasan ] Jika disunnahkan jama’ah pada shalat tarowih, maka disunnahkan pula jama’ah pada shalat witir setelahnya, sebagaimana telah disepakati ashab syafi’iyyah.

PENDAPAT YANG TIDAK MEMBOLEHKAN WITIR DUA KALI DALAM SEMALAM

– I’ANAH :

(قوله: وتأخيره عن صلاة الليل) معطوف على أن يؤخر، أي ويسن تأخيره عن صلاة ليل من نحو راتبة أو تراويح أو تهجد، وهو صلاة بعد النوم أو فائتة أراد قضاءها ليلا.(قوله: ولمن لم يثق بها) أي باليقظة.وقوله: أن يعجله أي لخبر مسلم: من خاف أن لا يقوم من آخر الليل فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل.(قوله: ولا يندب إعادته) أي لا تطلب إعادته، فإن أعاده بنية الوتر عامدا عالما حرم عليه ذلك، ولم ينعقد لخبر: لا وتران في ليلة.

Tidak disunahkan I’ADAH (mengulangi sholat witir) yaitu jika I’ADAH / mengulangi sholat witir dengan sengaja dan mengetahui ketidak-bolehannya maka haram I’ADAH sholat witir, karena tidak ada 2 witir dalam se-malam.

– I’ANATUT THOLIBIN :

(قوله: ولا يندب إعادته) أي لا تطلب إعادته، فإن أعاده بنية الوتر عامدا عالما حرم عليه ذلك، ولم ينعقد لخبر: لا وتران في ليلة.

– Hasyiyah Al-Bajuri juz I hal. 132 :

وَالْوَاحِدَةُ هِيَ أَقَلُّ الْوِتْرِ …. وَوَقْتُهُ بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَطُلُوْعِ الْفَجْرِ …. وَيُسَنُّ جَعْلُهُ آخِرَ صَلاَةِ اللَّيْلِ، لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ: اِجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ مِنَ اللَّيْلِ وِتْرًا. فَإِنْ كَانَ لَهُ تَهَجُّدٌ أَخَّرَ الْوِتْرَ إِلَى أَنْ يَتَهَجَّدَ، فَإِنْ أَوْتَرَ ثُمَّ تَهَجَّدَ لَمْ يُنْدَبْ لَهُ إِعَادَتُهُ، بَلْ لاَ يَصِحُّ، لَخَبَرِ : لاَ وِتْرَانِ فِيْ لَيْلَةٍ. اهـ

MENCONTOH CARA MAKAN DAN MINUM ROSULULLOH SAW.

Sebagai umat islam yang baik, tentunya kita semua ingin sekali bisa mencontoh apa yang di lakukan oleh beliau junjungan umat manusia Rosulillah Saw.  Berikut ini adalah hikmah hikmah dari cara Rosululloh Saw. dalam melakukan makan dan minum. Semoga kita semua bisa mencontoh Beliau, sehingga bisa mendapatkan hikmah yang terkandung di dalamnya, amin.

  1. Berdoalah sebelum makan dan minum, agar makanan dan minuman kita mengandung berkah. “Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar”. “Ya Allah berilah keberkahan dalam rizki (makanan) kami, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.
  2. Makan dan minum sambil duduk , sebagaimana HR. Muslim dan Turmudzi dari Anas dan Qatadah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnyabeliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimanadengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Bersabda Nabi SAW dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri !Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim). Hikmah yang diperoleh dari makan dan minum sambil duduk menurut Dr. Abdurrazaq Al-Kailani¹, ahwa minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum  atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Dr. Ibrahim Al-Rawi² menegaskan bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf(Vagal Inhibition)yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh spinchter

Spinchter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Spinchter lebih seperti gate/gerbang/seal windpipe yang berkontraksi,(menutup) dan relaxing (membuka) dan jumlah otot ini ada sekitar 50 otot tersebar di berbagai saluran lubang manusia.Berfungsi sebagai otot yang membuka dan menutup, sekresi, controlling substance in & out, semua sesuai fitrah manusia. Contoh ketika minum, sphincter di tenggorokan akan menutup agar tidak masuk ke saluran udara dan paru-paru. saat menerima fluid yang asam akan menutup hingga tidak kelebihan acid dalam lambung, ketika saluran kemih penuh, membuka sehingga bisa keluar urin,dll. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.

Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!  Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam.

  1. Ketika minum jangan sambil menghembuskan nafas dalam gelas, cangkir atau tempat minuman lainnya dan jangan meneguk air lebih dari 3 kali. Hikmah yang diperoleh adalah agar proses penyaringan oleh spinchter berjalan seimbang karena tidak melebihi kapasitas juga dapat menimbulkan spinchter berfungsi dengan baik dalam penyaringan.

  1. Makanlah dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan jari tengah), sesuai yang diajarkan Rasul SAW: Dari Anas: “Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu makan menggunakan tiga jari”.

  1. Usahakan makanan jangan sampai jatuh dan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Ketika suapan seseorang dari kamu jatuh, hendaklah diambil, dibersihkan dari kotorannya, lalu dimakan, jangan dibiarkan syetan yang makan.

  1. Makanlah sampai habis, karena mungkin berkahnya ada pada yang Anda sisakan. Dan Beliau Rasulullah SAW, menyuruh membersihkan sisa makanan di piring dengan sabdanya: “Kalian tiada mengetahui secara pasti di mana letak berkah pada makanan”(HR. Muslim).
  2. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: Makanlah dengan tangan kanan, karena syetan makan/minum dengan tangan kiri (HR Bukhari),

  1. Jangan meniup makanan/minuman (HR Tirmidzi). Hikmah yang dipetik dari hal ini adalah: a. Mencegah penyebaran kuman (penyakit) ke makanan yang berasal dari mulut.Menjaga kesehatan gigi, karena berti tidak boleh makan terlalu panas atau terlalu dingin.
  2. Setelah selesai makan, baca doa “Alhamdulillahi lladzii ath’amanaa wasaqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin”. Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan menjadikanku muslim.

Inilah cara makan terbaik. Bukankah Rasul adalah teladan terbaik?

 

MUTIARA HIKMAH DARI AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG IBADAH DAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

180_B.TIF

 Perintah ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan bapak):

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia¹. (Q.S. Al-Isra’: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil. (Q.S. Al-Isra’: 24).

    Q.S. 31: 14 dan 15 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun². Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman: 15).

    Fadhilah berbuat baik kepada ibu dan bapak:

Artinya:

“Barangsiapa yang berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, maka berbahagialah baginya, semoga Allah memperpanjang umurnya” (H.R. Bukhari).

Artinya: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”. (H.R. Imam Ahmad).

Artinya: “Berbuat baiklah kalian kepada dua orang ibu-bapakmu”. (H.R. Ath-Thabrany).

Dari Abdil-Rahman Abdullah bin Mas’ud, r.a. berkata: Saya pernah bertanya kepada Nabi SAW: “’Amal perbuatan apakah yang lebih dicintai oleh Allah?”. Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?”.Beliau menjawab: “Jihad pada jalan Allah”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

    4 (empat) macam dosa besar menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdillah bin Amr bin Al-‘Ash r.a.

“Dari ‘Abdillah bin Amr bin Al-’Ash r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: Dosa-dosa besar ialah: menyekutukan Allah, berani (durhaka) kepada kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu”. (H.R. Bukhari).

    Pelaksanaan sanksi perbuatan dosa yang langsung diterima pelakunya ketika masih hidup di dunia, di samping menerima sanksi di akhirat  menurut hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani:

Artinya:

Semua dosa pelaksanaannya ditangguhkan Allah Ta’ala menurut apa yang Ia kehendaki sampai hari qiyamat, kecuali dosa terhadap kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercepat balasan dosa terhadap kedua orang tua bagi pelakunya pada masa hidup di dunia sebelum mati. (H.R. Ath-Thabrani).

 

    Tiga ciri akhlak utama penghuni dunia dan penghuni akhirat menurut hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

Nabi SAW pernah bersabda kepada ‘Uqbah: “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu: menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, mema’afkan orang yang pernah menganiaya kamu”. (H.R. Al-Hakim, dari ‘Uqbah bin Al-Juhany).

 

    Deskripsi hadits mengenai jasa orang tua

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak dapat seorang anak membalas budi baik orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya itu tertawan menjadi budak, kemudian ia membelinya, lalu ia merdekakan. (H.R. Muslim).

 

    Prioritas yang berhak dilayani dengan baik

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW lalu ia bertanya: “Siapakah yang berhak aku layani dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Ia berkata: “Kemudian siapa?” Beliau brsabda: “Ibumu”. Ia berkata lagi: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda pula: “Ibumu”.Ia berkata lagi:”Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Bapakmu”. (Muttafaqun’alaih). Dalam riwayat lain disebutkan: “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih berhak kulayani dengan sebaik-baiknya?” Nabi menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat dan yang terdekat”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

 

    Orang yang kecewa karena tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: “Sungguh kecewa, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa, siapa yang mendapatkan kedua ibu-bapaknya atau salah satunya ketika tua, kemudian ia tidak masuk surga”. (H.R. Muslim).

    Q.S. 31: 14 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

“… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman: 14).

 

    Tentang Silaturrahm dan Hubungan Sesama Manusia

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus-sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S. An-Nisa’ (5): 36).

Dari Abi Muhammad, Jubair bin Muth’im r.a., bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus”. Sufyan berkata dalam sebuah riwayatnya: yakni memutuskan hubungan famili. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:”Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik terhadap tetangga, hingga aku mengira kalau-kalau akan diberi hak waris”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Hai wanita-wanita muslimat! Janganlah menganggap remeh memberi hadiah kepada tetangga, walau sekedar kikil (ujung kaki) kambing”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Sebaik-baik teman menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada tetangganya. (H.R. At-Tirmidzi).

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

<<<<<<<<<<<<

    ¹Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua tidak dibolehkanoleh agama, apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

    ²Maksudnya: Selambat-lambatnya waktu menyapih ialah setelah anak berumur 2 tahun.

PENGHAYATAN ISRA’ DAN MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW DALAM KEHIDUPAN

Dalam sebuah keterangan yang terdapat dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1]  Kronologi tersebut sebenarnya sudah dideskripsikan secara jelas oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai waktu kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi di antara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Dalam salah satycatatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang dianggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir. Berkenaa dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Menguatkan Semangat Dakwah

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87). WaAllahu a’lam

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

ANTARA YANG BERTAQWA DAN YANG DURHAKA

Dalam Al Fushulul Ilmiyah, Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad menerangkan sebuah pasal ihwal manusia yang bertaqwa dan berdosa. Berikut kalam beliau.

Segala sesuatu akan menjadi baik apabila di­sertai takwa dan ihsan: Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dan sempurna. Disebutkan dalam hadits Nabi SAW, ”Ihsan ialah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Dan jika yang demikian itu tidak mungkin, sadarilah bahwa Dia melihatmu”.

Hal ini berlaku atas semua ihwal yang bergantian pada diri manusia seperti dalam keadaan miskin dan kaya, sehat dan sakit, mulia dan hina, terlupakan dan diabaikan atau dikenal dan dipuja-puja, dan seterusnya. Demikian pula, segala sesuatu dari ihwal manusia akan menjadi buruk dan hambar apabila disertai perbuatan-perbuatan dosa dan kejahat­an. Berikut beberapa penjelasan yang dapat direnungkan.

Pertama, seorang yang selalu bertakwa dan berihsan apabila ditimpa kemiskinan, hubungannya dengan Allah SWT menjadi semakin baik karena selalu diliputi oleh berbagai suasana yang mulia, seperti kerelaan, qana’ah, kesabaran, wara’, dan ketidakber­gantungan kepada orang lain. Ia pun akan beroleh berbagai karunia Allah SWT, yang disebut luthf atau althaf ilahiyyah (Lutfh : Kelembutan dan kasih sayang. Yang dimaksud dengan Lutfh Illahi atau Althaf Illahiyah ialah kasih sayang Illahi yang menjaga seseorang dari terperosok dalam dosa-dosa, atau tertimpa berbagai bencana, atau merendam dampak bencana yang telah menimpa.”) seperti keridhaan, kedekatan kepada-Nya, pertolongan-Nya, dan peneguhan dari-Nya berupa ketabahan hati, kesabaran diri, ketahanan jiwa, dan sebagainya. Begitu juga dalam hubungannya dengan sesama manusia; ia selalu berhasil me­nyembunyikan penderitaannya dan tampak ceria di hadapan mereka. Dari mereka pun terdengar puji-pujian terhadapnya, dalam kemiskinannya, bahwasanya Allah SWT telah meng­arahkannya ke jalan orang-orang yang baik dan tulus, yakni para wali-Nya (Orang yang benar-benar beriman dan bertakwa sehingga sangat akrab hubungan timbal baliknya dengan Allah SWT, selalu mendekatkan diri kepada-Nya sehingga Dia pun melimpahkan anugerah-anugerahnya secara lahir dan batin) serta orang-orang pilihan-Nya.

Namun, sekiranya kemiskinan seperti ini menimpa orang fajir (orang yang durhaka) yang bergelimang dalam dosa, niscaya ia menyebab­kannya selalu dalam keadaan resah, cemas, dan marah. Me­lihat kekayaan orang lain, dalam dirinya timbul ketamakan dan perdambaan yang berlebih-lebihan untuk memper­oleh seperti itu. Orang seperti ini niscaya memperoleh hukuman Allah SWT berupa kemurkaan, kebencian, dan pen­cegahan dari bantuan, kesabaran, dan pertolongan-Nya. Sementara itu, dalam hubungannya dengan sesama manu­sia, ia pasti akan dicemooh dan diperolok dengan kemiskinan dan penderitaannya. Lidah-lidah mereka tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata celaan karena ia tidak becus dalam ikhtiar untuk dirinya dan kurang giat dalam upaya men­datangkan Iffah (mempertahankan kehormatan diri dari meminta-minta, pengekangan hawa nafsu, dan menjauh dari perbuatan rendah) dan kecukupan untuk dirinya, bahkan mereka akan menyatakan bahwa Allah SWT telah meng­hukumnya dengan kemiskinannya itu akibat keberagama­annya yang kurang kuat dan kebaikannya yang sedikit.

Kedua, selama manusia dalam keadaan bertakwa dan berihsan, lalu Allah SWT menganugerahkan kekayaan kepadanya dan me­luaskan rezeki baginya, maka sifat-sifat yang meliputinya dalam hubungannya dengan Allah ialah bersyukur kepada-Nya dan sangat menghargai nikmat-Nya. Ia selalu menggunakan nikmat sebagai sarana ketaatan kepada-Nya, membelanjakan harta­nya dalam berbagai bidang kebajikan, dan berbuat baik untuk siapa saja yang dekat maupun jauh. Ia pun akan beroleh perlakuan baik dari Allah, yakni keridhaan, kecintaan, dan pertolongan-Nya yang berupa tambahan kekayaan dan kelapangan rezeki. Demikian pula lidah-lidah manusia tak henti-hentinya mengucapkan puji-pujian kepadanya karena amal-amal kebaikan yang selalu diperbuatnya dan mereka selalu mendoakan baginya agar memperoleh tambahan kekayaan, kelapangan, dan sebagainya.

Namun, apabila ia tergolong ahli penyelewengan dan kejahatan, sedangkan ia memiliki harta dan kekayaan dunia, niscaya ia akan diliputi hasrat menumpuk-numpuk harta, meng­genggamnya karena kebakhilan, kurangnya sifat wara’ dan kuatnya dorongan kerakusan dan sifat-sifat buruk lainnya. Dalam hubungannya dengan Allah SWT, ia akan beroleh ke­murkaan dan kebencian-Nya. Lidah-lidah manusia pun tak henti-hentinya mengucapkan celaan terhadapnya disebab­kan sedikitnya kebajikan yang bersumber padanya, kebiasa­annya melanggar janji, tidak berpegang pada kejujuran, dan menolak memberikan santunan serta berbuat ihsan dan lain sebagainya.

Ketiga, apabila seorang ahli takwa dan ihsan diliputi kesehatan dan keselamatan, ia akan bersyukur kepada Allah SWT, bersungguh-­sungguh dalam mencari keridhaan-Nya, dan menggunakan kesehatan dan kekuatannya itu dalam ketaatan kepada-Nya. Ia pun akan beroleh balasan dari Allah SWT berupa keridhaan dan kemuliaan. Demikian pula lidah-lidah manusia terus-me­nerus menunjukan pujian-pujian kepadanya atas amal-amal salehnya serta kesungguhannya dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Keempat, apabila orang seperti itu—yakni ahli takwa dan ihsan—men­derita sakit, ia tetap ridha, sabar, pasrah terhadap kehendak Allah, hanya mengharapkan pertolongan dari-Nya, tidak resah dan tidak berkeluh kesah atau mengadukan halnya kepada siapa pun selain kepada Allah Taala. Allah SWT niscaya me­limpahkan kepadanya ridha dan inayah-Nya, memberinya pertolongan dan kekuatan agar merasa tenang dan tenteram, dan lain sebagainya. Lidah-lidah manusia pun mengucapkan pujian dan kekaguman bahwa Allah mengirim penyakit ini kepadanya semata-mata untuk menjadi kaffarah (Suatu pembayaran atau perbuatan untuk menghapus kesalahan atau dosa. Penyakit yang diterima dengan sabar oleh seorang mukmin dapat menghapus dosa-dosanya dan menyucikannya kembali) dosa, pe­nambah pahala, dan peninggi derajatnya.

Kelima, seseorang yang tergolong manusia durhaka dan buruk peri­lakunya apabila berada dalam keadaan sehat dan sentosa, ia akan bersikap angkuh, tak segan-segan melanggar hak orang lain, malas melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya dan sering kali menggunakan kekuatan serta kekuasaannya dalam penyimpangan dan perbuatan maksiat. Allah SWT pasti murka kepadanya dan menjauhkannya dan rahmat-Nya. Demikian pula lidah-lidah manusia tak henti-hentinya men­celanya atas pelanggaran, keangkuhan, serta perbuatan-per­buatannya yang dibenci Allah SWT.

Keenam, apabila orang seperti ini (si durhaka) menderita sakit atau ditimpa bencana, ia akan bersikap marah, putus asa, resah, selalu menggerutu, tak mau menerima ketetapan Allah, serta selalu dikuasai oleh sifat-sifat yang buruk. Jika sudah demikian halnya, Allah SWT akan memperlakukannya dengan kebenci­an dan pengusiran dari rahmat-Nya. Masyarakat sekitar pun tak segan-segan menunjukkan celaan dan kecaman kepada­nya dengan menyatakan bahwa Allah SWT. “menghukumnya dengan penyakit dan bencana disebabkan pembangkangan­nya, kezalimannya, serta banyaknya dosa dan kejahatan yang dilakukannya”.

Perhatikan hal-hal seperti itu dan jadikanlah sebagai pel­ajaran, baik dalam kejayaan atau kehinaan, ketika menjadi terkenal ataupun dilupakan orang, dalam kesempitan atau kemakmuran, dan seterusnya yang berkenaan dengan ihwal manusia yang bergantian. Anda akan mengetahui dan me­nyadari bahwa hanya takwa dan perbuatan ihsan saja yang akan memperindah ihwal manusia, dan dengan itu pula segala keadaannya akan menjadi baik dan lurus. Dan, bahwasanya perbuatan pelanggaran dan kejahatan akan membuat buruk dan tercelanya keadaan manusia serta mendatangkan cerca­an dan kecaman orang lain di samping kemurkaan dan keben­cian Allah. Perhatikan masalah ini dengan baik. Sebab, ia mengandung berbagai ilmu yang amat penting serta me­nyimpan solusi berbagai persoalan yang rumit. Sekiranya kami meneruskan pembahasan ini, niscaya ia akan menjadi panjang sekali. Dengan peringatan yang sedikit ini, kami berharap bisa mencukupi siapa saja yang mau menggunakan akalnya dengan kesadaran yang tinggi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

HUKUM KAIN WOL DAN MANFAAT MELIPAT PAKAIAN

MELIPAT PAKAIAN MENDAPATKAN DUA FAEDAH :

PERTAMA

Telanjang sewaktu tidur terdapat beberapa faedah diantaranya dapat memberi kenyamanan tubuh dari gerakan panas di siang hari, memudahkan tubuh bergerak kekanan dan kekiri, menarik rasa gembira terhadap istri dengan tambahan kemesraan. Menjalankan perintah (Nabi) karena Beliau melarang berbuat yang menyia-nyiakan harta, karena tidur dengan memakai pakaian akan merusak pakaian tersebut. Menjaga kebersihan karena pada umumnya pakaian tidur terdapat hewan kecil (kutu) yang dapat mengganggu pemakainya.

KEDUA:

Sebagian ahli ilmu berkata: “disunahkan melipat pakaian dimalam hari, karena dengan melipatnya dapat mengembalikan kondisi pakaian seperti semula dan bacalah basmalah. Jika tidak dilakukan, maka setan akan memakai pakaian terswbut  dimalam hari, sedang pemiliknya memakainya di siang hari. Dengan demikian akan mempercepat proses kerusakannya.

Nabi bersabda : ” Lipatlah pakaian kalian, sesungguhnya setan tidak akan mengenakan pakaian yang dilipat”.

Ada juga hadits lain : ” Lipatlah pakaian kalian, karena pakaian itu akan kembali pada kondisi semula”.

فائدتان) الاولى : فى التجريد من الثياب عند النوم فوائد منها ان فيه راحة البدن من

حرارة حركة النهار. و منها سهولة التقليب يمينا و شمالا. و منها ادخال السرور على الاهل بزيادة التمتع، و منها امتثال الامر لان النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن اضاعة المال و لا شك ان النوم فى الثوب الرفيع يفسده. و منها النظافة، اذ الغالب فى القوب النوم ان يكون فيه القمل و ما فى معناه.

الثانية) قال بعض اهل العلم يسن طيئ الثياب بالليل لان الطئ يرد اليها ارواحها و يسمى الله عند ذلك فان لم يفعل صار الشيطان يلبسها بالليل و هو يلبسهل بالنهار فتبلى سريعا و فى الحديث اطووا ثيابكم فان الشيطان لا يلبس ثوبا مطويا و ورد ايضا اطووا ثيابكم ترجع اليها ارواحها.

قرة العيون ٤٨

مكتبة دار احياء الكتب العربية

KAIN WOL NAJIS APA TIDAK

Hukum asalnya  yaitu suci

قال العراقي: أراد بالطيبة الطاهرة وبالطهور المطهر لغيره فلو كان معنى طهوراً طاهراً لزم تحصيل الحاصل وفيه أن الأصل في الأشياء الطهارة وإن غلب ظن النجاسة

Kitab Ahadis Yahtajju biha as Syi’ah juz 1 hal 90

Dalam masalah ini kain wol adalah terbuat dari bulu domba, sedangkan domba itu halal dimakan, jadi bulunya jika terpisah ketika dalam keadaan hidup maka hukumnya suci, terus yang jadi kendala itu bulu dari bangkai apa tidak? maka dikembalikan ke hukum asal, yaitu suci.

والجزء المنفصل من الحيوان كميتته إلا شعر المأكول وريشه وصوفه ووبره فطاهرات

Bagian tubuh yang terpisah dari hayawan yang masih hidup hukumnya sebagaimana bangkai kecuali rambutnya binatang yang halal dimakan.

(Kitab Muqaddimah al Hadhromiyah)

Kain wol biasanya terbuat dari bulu2 domba.Hukum bulu2,rambut dan sejenisnya adalah suci meski diambil dari hewan yg masih hidup,berbeda jika diambil dari bangkai maka najis.Beberapa ibaroh yg bisa disimak antara lain

و ما قطع من حي فهو ميت الا الشعور المنتفع بها فى المفارس والملابس و غيرهما

كفاية الاخيار ٢/٢٢٩

Segala sesuatu yg dipotong dari hewan yang masih hidup,maka hukumnya menjadi bangkai kecuali rambut yg bisa diambil manfaatnya untuk membuat permadani dan pakaian atau yg lainnya.

و عظم الميتة و شعرها نجسقوله و شعرها و مثله صوفها و وبروها و ريشا

الباجوري ١/٥٦

Dan tulang belulang bangkai serta rambut nya adalah najisContoh dari rambut diantaranya adalah bulu-bulu domba,bulu-bulu marmut dan bulu-bulu burung

Meski dihukumi suci bulu yg diambil dari binatang yang masih hidup,tetapi mencabut nya kala masih hidup hukumnya diharamkan.

و يحرم نتف شعر الحيوان لما فيه من تعذيبه و قيل بكرهته وهو محمل على ما لو حصل به اذى يحتمل عادة

الباجورى ١/٥٦

Dan di haramkan mencabut bulu-bulu hewan karena akan menyiksanya. Ada juga yg berpendapat hal itu makruh.

HIKMAH DAN HUKUM AL FATIHAH SELALU DI BACA DALAM SEMUA DO’A

Pertanyaan:

Sebagian besar umat Islam Indonesia sering melakukan doa dengan bacaan al-Fatihah, apakah terkait pembukaan acara, mengirim doa untuk para almarhum, ziarah kubur dan sebagainya.

Adakah dasar pembacaan al-Fatihah dalam do’a?

Jawaban:

Al-Quran menyebutkan bahwa ada 7 ayat yang diulang-ulang (as-Sab’u al-Matsani. QS al-Hijr: 87), para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud 7 ayat tersebut adalah surat al-Fatihah.

Dalam riwayat Bukhari (2276) dan Muslim (5863) Abu Said al-Khudri yang dimintai tolong oleh sekelompok suku yang pimpinannya sakit karena tersengat hewan. Abu Said mengobatinya dengan doa al-Fatihah. Inilah riwayat tersebut:

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ كَانُوْا فى سَفَرٍ فَمَرُّوْا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَلَمْ يُضِيْفُوْهُمْ فَقَالُوْا لَهُمْ هَلْ فِيْكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيْغٌ أَوْ مُصَابٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيْعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ فَأَتَى النَّبِىَّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَاللهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَتَبَسَّمَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ خُذُوْا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ (رواه مسلم رقم 5863 والبخاري رقم 5736)

“Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berada dalam perjalanan lalu melewati salah satu suku Arab. Mereka bertamu namun tidak disuguhi apapun. Penduduk suku bertanya: Apakah diantara kalian ada yang bias mengobati (ruqyah)? Sebab kepala suku kami terkena bias atau musibah. Salah seorang sahabat menjawab: Ya. Kemudian ia mendatanginya dan mengobatinya (ruqyah) dengan surat al-Fatihah. Pemimpin tersebut sembuh dan memberikannya bagian dari kambing, namun ia (sahabat) menolaknya, dan ia berkata: Saya akan menyampaikannya dahulu kepada Nabi Saw. Ia pun mendatangi Nabi Saw dan menceritakan kisah diatas kepada Nabi. Ia berkata: Wahai Rasulullah, Demi Allah. Saya hanya melakukan ruqyah dengan surat al-Fatihah. Rasulullah Saw tersenyum dan berkata: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah? Nabi Saw bersabda: Ambillah (kambing) dari mereka. Dan berilah saya bagian bersama kalian” (HR Muslim No 5863 dan al-Bukhari No 5736)

Imam Nawawi menganjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit dengan beristinbath pada hadis diatas:

(فَصْلٌ فِيْمَا يُقْرَأُ عِنْدَ الْمَرِيْضِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ الْمَرِيْضِ بِالْفَاتِحَةِ لِقَوْلِهِ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ فِيْهَا وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ (التبيان في آداب حملة القرآن للشيخ النووي 1 / 183)

“Dianjurkan membaca al-Fatihah di dekat orang yang sakit, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dalam hadis sahih tentang al-Fatihah: Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah adalah ruqyah?” (al-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Quran I/183)

Begitu pula ahli tafsir, Fakhruddin al-Razi, berwasiat agar dibacakan al-Fatihah khususnya untuk salah satu putranya yang telah wafat:

وَأَنَا أُوْصِي مَنْ طَالَعَ كِتَابِي وَاسْتَفَادَ مَا فِيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ النَّفِيْسَةِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَخُصَّ وَلَدِي وَيَخُصَّنِي بِقِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ وَيَدْعُوَ لِمَنْ قَدْ مَاتَ فِي غُرْبَةٍ بَعِيْداً عَنِ اْلإِخْوَانِ وَاْلأَبِ وَاْلأُمِّ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ فَإِنِّي كُنْتُ أَيْضاً كَثِيْرَ الدُّعَاءِ لِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فِي حَقِّي وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً آمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (تفسير

الرازي الكبير مفاتيح الغيب لفخر الدين الرازي 18 / 183)

“(Al-Razi berkata) Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri akan mendoakan mereka yang telah berdoa untuk saya” (Tafsir al-Razi 18/233-234)

Bahkan Ibnu Taimiyah, ulama yang menjadi panutan kelompok anti tahlil, senantiasa mengulang-ulang bacaan al-Fatihah lebih banyak dari kaum Nahdliyin, hal ini disampaikan oleh muridnya sendiri, Umar bin Ali al-Bazzar, yang menulis biografi Ibnu Taimiyah:

وَكُنْتُ اَسْمَعُ مَا يَتْلُوْ وَمَا يَذْكُرُ حِيْنَئِذٍ فَرَأَيْتُهُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيُكَرِّرُهَا وَيَقْطَعُ ذَلِكَ الْوَقْتَ كُلَّهُ – أَعْنِي مِنَ الْفَجْرِ اِلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ – فِي تَكْرِيْرِ تِلاَوَتِهَا (الأعلام العالية في مناقب ابن تيمية لعمر بن علي البزار 38)

“Saya mendengar apa yang dibaca dan yang dijadikan dzikir oleh Ibnu Taimiyah. Saya melihatnya membaca al-Fatihah, mengulang-ulanginya dan ia menghabiskan seluruh waktunya –yakni mulai salat Subuh sampai naiknya matahari– untuk mengulang-ulang bacaan al-Fatihah”

(al-A’lam al-‘Aliyah 38)