MUTIARA HIKMAH DARI IMAM SYAFI’I RA DAN SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANY RA

MUTIARA HIKMAH SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANY

Ia bertutur:

Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu:

(1) harus menjaga perintah-perintah Allah,

(2) harus menghindar dari segala yang haram,

(3) harus ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin, paling tidak, memiliki tiga hal ini. Berarti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan ini.

Ia bertutur :

Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid’ah, patuhilah

selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid

dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbatkan

sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu

sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran.

Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.

Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah

dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya.

Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu

Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang maupun

malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka

kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu

Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di

dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan

hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya

wanita, dengan karunia-karunia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para

shiddiq, para syahid, dan para shaleh di surga yang tinggi.

Ia bertutur:

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia

mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan

kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia

sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada

Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo’a kepada-Nya dengan

kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan

berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya,

maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya

dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo’a merendah diri,

memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha

Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo’a dan tak mengabulkannya, hingga ia

sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya

mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi,

segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha

Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat

haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan

dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan

segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia;

tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah,

tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan

dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan,

kecuali karena ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan,

dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke

keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya

sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya

dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat

sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau

mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat

ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat

kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha,

bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa

enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya;

makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia

bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan

termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka

segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Ia bertutur:

Bila kamu abaikan ciptaan, maka:

“Semoga Allah merahmatimu,” Allah melepaskanmu dari kedirian,

“Semoga Allah merahmatimu,” Ia mematikan kehendakmu; “Semoga

Allah merahmatimu,” maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).

Kini kau terkaruniai kehidupan

abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikaruniai kemudahan dan kebahagiaan

nan abadi, dirahmati,dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari

ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada

Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau

pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau

sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahasiakan.

Maka, kau menjadi pengganti para

Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang

masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan

sawah ladang terpaneni melalui do’amu; dan sirnalah melalui do’amu, segala

petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang

dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian

kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan

masyarakat.

Orang-orang bergegas-gegas

mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala

kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk

dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin

berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik

segala rahmat.

Ia bertutur:

Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian,

dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari

manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan

jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah,

membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan

mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi

kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang

berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan

semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga

akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan

menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun

termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam

dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh,

hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau

atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya.

Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru

namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan

busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah

mendahuluimu.

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada

dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air,

atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu

menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan

adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu,

padahal sebenarnya dari Allah.

Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya

telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru

dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah

bersabda: “Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita dan

shalat – yang pada mereka tersejukkan mataku.” Sungguh, hal-hal dinisbahkan

kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami

isyaratkan. Allah berfirman: “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi

Aku.”

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila

kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah

menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau

berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka

Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini

Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih

maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan

Tuhan. Inilah makna firman Allah: ” Aku bersama orang-orang yang putus asa

demi Aku, ” Dan makna kata: “Kedirian masih maujud” ialah

kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam

sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: “Hamba-Ku yang

beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat

sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah

mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi

matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan

menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.” Tak dir agukan lagi, beginilah

keadaan fana.

Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke

dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat,

kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana

(penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa

beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak

Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari

badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan

kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.

Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang

Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka

sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak

bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para

malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari

kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral,

tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari

kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua

keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan

ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Ia bertutur:

Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada

Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa

perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan

segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu,

setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai

pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan.

Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan

berintim dengannya. Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah.

Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba

kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya.

Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu

kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia

dengan sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang

musyrik. Allah berfirman: “Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa)

dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak

menyekutukanNya.” (QS 18.Al Kahfi: 110)

Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan

menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik.

Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu

selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan

terlena. Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan

mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri. Maka, bila kau

berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada

orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari,

keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati

mereka. Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap

abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara.

Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan

orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan

dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: “Segala

yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih

baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha

Kuasa atas segala sesuatu.” (QS 2.Al Baqarah: 106)

Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap

ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal

ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang

diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid,

dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang

dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia

berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam

sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia

berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan

untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu

berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena, dengan begini, ada pengakuan

akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada

seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai

pusaka dari Adam as., ‘bapak’ manusia, dan pilihan Allah.

Berkatalah Adam a.s.: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami

sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami

akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. 7.Al-A’raaf: 23). Maka

turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan

tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu

Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa

bertaubat.

Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat

wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka

menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat

sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka, ikutilah

Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam,

pilihan-Nya – keduanya adalah kekasih Allah – dalam hal mengakui kesalahan dan

berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu’ dalam segala

keadaan kehidupan.

KALAM HIKMAH DARI IMAM ASY-SYAFI’I

Beit ini adalah kata-kata hikmah dari Imam syafi’i , ada yang mengatakan qoul nya sayyidina Ali karromallahu wajhahu.

ويقول فى الاسفار خمس فوائد:

تغرب عن الاوطان فى طلب العلى *** وسافر ففى الاسفارخمس فوائد

تفرج هم واكتساب معيشــــــــــــه *** وعلم واداب وصحبه ماجــــــد

Dalam kesempatan lainnya Imam Syafi’I juga menulis :

تغرب عن الأوطان تكتسب العلا وسافر ففي الأسفار خمس فوائد

تفريج هـمٍّ واكتسـاب معيشـة وعلـم وآداب وصحبـة مـاجد

فان قيل فـي الأسفار ذل وشدة وقطع الفيافي وارتكاب الشدائـد

فموت الفتى خير له من حيـاته بدار هوان بين واش وحـاسـد

“ Tinggalkan negaramu, niscaya engkau akan menjadi mulia, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah .

Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.

Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan,dan kekerasan, dan harus mlewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,

Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki. “

Para ulama-pun melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdullah yang menempuh perjalanan selama dua bulan dari Madinah menuju Mesir, hanya mencari satu hadits. Begitu juga yang dilakukan imam Syafi’I sendiri, yang berpindah dari tempat kelahirannya Palestina menuju Mekkah, kemudian dilanjutkan ke Iraq, kemudian ke Yaman, dan akhirnya ke Mesir hingga wafat beliau.

تَغَرَّبْ عَنِ الأَوْطَانِ فِيْ طَلَبِ العُلَى =وسافِرْ ففي الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِـدِ

تَفَرُّجُ هَـمٍّ، واكتِسَـابُ مَعِيْشَـةٍ =وَعِلْمٌ ، وآدابٌ، وصُحْبَـةُ مَاجِـدِ

فإن قيلَ في الأَسفـارِ ذُلٌّ ومِحْنَـةٌ =وَقَطْعُ الفيافي وارتكـاب الشَّدائِـدِ

فَمَوْتُ الفتـى خيْـرٌ له مِنْ قِيامِـهِ =بِدَارِ هَـوَانٍ بيـن واشٍ وَحَاسِـدِ

عالم السفر جميل جداً

يمنح السفر الإنسان لحظة يبتعد فيها عن مجريات العمل ومتاعب الحياة اليومية،

فالسفر له فوائد يجنيها الشخص ، يضاف إلى ذلك زيادة التعرف على الناس والإطلاع على حضارات الدول وثقافات الشعوب ، والأحرى أن يتوجه المرء عند وصوله إلى أي دولة إلى أقرب مكتبة يسأل عن أهم إصدارات كتاب تلك الدولة ، وسيتعرف من خلالها على تلك الدولة وشعبها .

ويحاول أن يطوف أرجاءها قاصداً مؤسساتها السياحية التي تحتوي بين جنبات تاريخها وحضارتها

إن المواقف التي تستمر في الذاكرة بعد السفر هي كيف استطاع أن يستغل وقته خلال الإجازة وأن يعطي نفسه قدراً من الحرية في ربوع تلك الدولة وتلك الأماكن ، ويسجل تلك اللحظات بعدسته للرجوع إليها ، حيث إن المناظر تعيده إلي تلك اللحظات التي تعمل علي إسعاده وإشعاره بالراحة .

ومن المعلوم أن السياحة في الأرض والتأمل في عجائب الدنيا عند السفر مما يزيد العبد المؤمن معرفة بالله جل وعلا، ويقيناً بأن لهذا الكون رباً ومدبراً يستحق العبادة وحده دون ما سواه، قال تعالى: { وفي الأرض آيات للموقنين } ( الذاريات:20)،

ويعتبر السفر من جملة حاجات الإنسان التي جاءت الشريعة بتنظيمها، فينبغي لمن أراد السفر أن يحافظ على هدي النبي صلى الله عليه وسلم، الذي جاءت السنة ببيانه:-

فقد كانت أسفاره صلى الله عليه وسلم دائرة بين أربعة أسفار:

سفر لهجرته، وسفر للجهاد، وسفر للعمرة وسفر للحج.

وكان عليه الصلاة السلام قبل أن يخرج يودع أهله وأصحابه، فعن ابن عمر رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يودعنا فيقول: ( أستودع الله دينك وأمانتك وخواتيم عملك ) رواه الترمذي ، وكان يوصيهم بتقوى الله في كل حين.

وكان صلى الله عليه وسلم يوصي أصحابه بالجماعة في السفر، وينهى عن الوحدة، فقال صلى الله عليه وسلم: ( لو يعلم الناس ما في الوحدة ما أعلم، ما سار راكب بليلٍ وحده ) رواه البخاري ، فعلى المسافر أن يصطحب معه رفيقاً يكون له عوناً على سفره، يرغبه في الخير ويبعده عن الشر، إن نسي ذكره، وإن تعب شد من أزره.

وكان صلى الله عليه وسلم يأمر أصحابه إذا خرجوا لسفر أن يجعلوا عليهم أميراً، حتى يكون رأيهم واحداً، ولا يقع بينهم الاختلاف، وكل ذلك حرصاً منه عليه الصلاة والسلام على لزوم الجماعة وتجنب أسباب الفرقة.

وكان يستحب – صلى الله عليه وسلم – الخروج يوم الخميس في أول النهار، فعن كعب بن مالك رضي الله عنه قال : ” لقلَّما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج إذا خرج في سفر إلا يوم الخميس ” رواه البخاري ، وكان عليه السلام يدعو الله تبارك وتعالى أن يبارك لأمته في بكورها.

وشرع رسول الله صلى الله عليه وسلم جملة من الأذكار والأدعية للمسافر:-

منها أنه إذا ركب على دابته، واستقر عليها قال: ( الحمد لله، سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا الى ربنا لمنقلبون، ثم يقول: الحمد لله، الحمد لله، الحمد لله، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، سبحانك إني ظلمت نفسي، فاغفر لي إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت ) رواه أبو داود ثم يقول: ( اللهم إنا نسألك في سفرنا هذا البر والتقوى، ومن العمل ما ترضى، اللهم هون علينا سفرنا هذا واطو عنا بعده، اللهم أنت الصاحب في السفر والخليفة في الأهل، اللهم إني أعوذ بك من وعثاء السفر، وكآبة المنظر، وسوء المنقلب، في المال والأهل ) رواه مسلم

ومما ورد عنه من الأذكار أثناء المسير أنه كان صلى الله عليه وسلم إذا علا شرفاً – وهو المكان المرتفع- كبَّر الله تعالى، وإذا هبط وادياً سبح الله تعالى، ففي حديث جابر الطويل في صفة حجة النبي صلى الله عليه وسلم ، قال: ( كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا ) رواه البخاري .

ومن جملة الأدعية في هذا الشأن، أنه صلى الله عليه وسلم إذا دخل قرية أو شارف على دخولها، قال:- ( اللهم رب السماوات السبع وما أظللن ورب الأرضين وما أقللن، ورب الشياطين وما أضللن، ورب الرياح وما ذرين، فإنا نسألك خير هذه القرية، وخير أهلها، ونعوذ بك من شرها، وشر أهلها، وشر ما فيها ) رواه النسائي ، وكان إذا نزل منزلاً قال: ( أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق ) رواه مسلم .

وكان إذا قضى حاجته من سفره، ورجع إلى أهله، ذكر دعاء السفر السابق، وزاد: ( آيبون تائبون عابدون لربنا حامدون ) رواه البخاري

وكان من هديه صلى الله عليه وسلم في السفر أخذه بما رخصه الله له، ومن ذلك قصر الصلاة الرباعية ركعتين، والفطر إذا شق عليه الصوم، والمسح على الخفين مدة ثلاث أيام بلياليهن، ولم يحفظ عنه أنه صلى في أسفاره السنن الرواتب، إلا سنة الفجر والوتر، فإنه لم يكن يدعهما في حضر ولا سفر.

ومن جملة ما نهى عنه – صلى الله عليه وسلم- في السفر: اصطحاب الكلب والجرس، وفي هذا جاء قوله صلى الله عليه وسلم: ( لا تصحب الملائكة رفقة فيها كلب ولا جرس ) رواه مسلم .

ومما نهى عنه عليه الصلاة والسلام سفر المرأة بدون محرم، لما يترتب عليه من حصول الفتنة والأذية لها، فقد قال – صلى الله عليه وسلم: ( لا تسافر امرأة إلا ومعها محرم ) رواه البخاري .

وكذلك نهى – صلى الله عليه وسلم – أن يطرق المسافر أهله ليلاً، ففي الحديث عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:- ( إذا طال أحدكم الغيبة ، فلا يطرق أهله ليلاً ) رواه البخاري ، وعنه أيضاً أنه قال: ( نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يطرق الرجل أهله ليلاً يتخونهم أو يطلب عثراتهم ) رواه البخاري .

فالزم هدي نبيك صلى الله عليه وسلم في حياتك كلها، تنعم بالسعادة في الدنيا والآخرة.

AGAR SELAMAT KITA BISA MENGAMALKAN NASIHAT SAYYIDINA UMAR RA DALAM KEHIDUPAN MODERN INI

Inilah beberapa nasehat sayyidina Umar bin Khotob RA.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang

pertama, bila kalian menemukan aib

yang ada dalam diri seseorang, maka

galilah aib yang ada dalam diri kalian

sendiri, karena aib kalian belum

tentu sedikit.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

dua, bila kalian ingin memusuhi

seseorang atau sesuatu, maka

musuhilah perut kalian, karena tidak

ada musuh yang lebih berbahaya

bagi kalian selain perut kalian

sendiri.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

tiga, bila kalian ingin memuji, pujilah

Allah SWT, karena tidak ada sesuatu

yang lebih banyak memberi kepada

kalian dan lebih santun serta lembut

kepada kalian selain Dia.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

empat, bila ada yang ingin kalian

tinggalkan, maka tinggalkanlah

kesenangan dunia, sebab justru bila

kalian tinggalkan kalian akan menjadi

terpuji.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke

lima, bila kalian ingin bersiap-siap

untuk sesuatu, maka bersiaplah

untuk mati, sebab bila kalian tidak

menyiapkan bekal untuk mati kalian

akan menderita, rugi dan penuh

penyesalan.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke

enam, bila kalian ingin menuntut

sesuatu maka tuntutlah akhirat

karena kalian tidak akan

mendapatkannya kecuali dengan

mencarinya.”

Itulah enam wasiat dari Sayyidina Umar bin Khattab yang patut kita renungkan dan ikuti.

SIFATNYA DUNIA YANG TIDAK MENYENANGKAN

Sifatnya Dunia

لا تستغرب وقوع الأكدار مادمت في هذه الدار فإنها ما أبرزت إلا ما هو مستحق وصفها و واجب نعتها

“Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni menjadi sifatnya.”

Jangan merasa aneh dengan berbagai macam kesusahan selagi engkau masih hidup di dunia…. Tidak selayaknya seseorang yang masih hidup di dunia ini mengharap rehat dan ketenangan hati (jiwa). karena, Allah sudah menciptakan dunia sebagai tempatnya ujian dan cobaan, maka pastilah kesusahan itu masih tetap ada selama engkau masih berada di dunia. jangan mengharapkan ada istirahat (dari kesusahan).

Kalian gemar mencari dua perkara, padahal kalian tidak akan mendapatkannya: yakni, istirahat dan bahagia di dunia, sementara keduanya hanya ada di surga. Rosulullah bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.”

Sungguh tidak ada yang ditampakkan di dunia, kecuali kesusahan. Karena kesusahan sudah dijadikan sifatnya dan ditetapkan sebagai yang layak baginya.

Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan.“

Syeikh Jafar As-shoddiq rodhiyallohu ‘anhu berkata:

من طلب مالم يُخلق اتعبَ نفسه ولم يُرزق. قيل له : وما ذاك؟ قال: الراحة فى الدنياَ

“Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Alloh, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia.”

Syeikh Junaid al-Baghdadi rodhiyallohu anhu berkata: “Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesulitan dan penderitaan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan, maka itu adalah suatu karunia dan kelebihan.”

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam berkata kepada Abdulloh bin Abbas: Jika engkau dapat beramal karena Alloh dengan ikhlas dan keyakinan, maka laksanakanlah dan jika tidak dapat, maka sabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan itu suatu keuntungan yang besar.”

Umar bin Khottob radhiyallohu ‘anhu berkata kepada orang yang dinasehatinya: “Jika engkau sabar, maka hukum [ketentuan – takdir] Alloh tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Alloh sedang engkau berdosa.”

Maka apapun yang menimpa dirimu tetaplah berserah diri kepada Alloh dengan penuh kesabaran, sebab ketentuan Alloh pasti akan terjadi padamu.

EMPAT HIKMAH NABI SAW DI LAHIRKAN DI HARI SENIN BULAN ROBI’IL AWWAL

Setiap tahun pada bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud selalu diperingati Kelahiran Nabi SAW, sebagai sosok manusia terbaik di muka bumi ini, juga sebagai pemberi Rahmat kepada seluruh alam. Beliau sosok yang menginspirasi semua makhluk dalam segala lini kehidupan, baik akhlaknya dalam segi perkataan maupun perbuatan sangat dipuji oleh setiap orang, juga sebagai pembawa perubahan dari zaman jahiliah menuju zaman ilmiah.

Imam as-Suyuti dalam kitab al-Hawi Lil Fatawa mengutip perkataan Ibnu al-Hajj yang mengupas tentang hikmah kelahiran Nabi di hari Senin bulan Rabiul Awal, tidak di bulan lainnya seperti Ramadhan atau bulan lainnya, alasannya yaitu:

Pertama, ada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa di hari Senin Allah menciptakan as-Syajar(pohon). Hal ini sebagai pertanda bahwa Allah menciptakan bahan makanan, Rizki, buah-buahan dan segala kebaikan yang diberikan kepada manusia sebagai sumber kehidupan mereka.

Kedua, arti Rabi‘ berarti musim semi. Hal ini sebagai Tafaul (mengambil inspirasi kebaikan) seperti pendapat Abdurrahman As-Shaqli yang menyatakan bahwa setiap nama membawa arti membawa arti filosofi tersendiri.

Ketiga, bulan Rabi’ul Awal sebagai musim yang paling tenang dan paling nyaman cuacanya, begitu juga Syariat Nabi Muhammad sebagai Syariat yang paling moderat dan sesuai dengan kondisi apapun.

Keempat, Allah Sebagai Dzat yang Maha bijaksana atau al-Hakim hendak memuliakan bulan kelahiran Baginda Nabi, seumpama Nabi dilahirkan pada bulan mulia yang lain seperti Ramadhan maka orang akan menganggap Nabi mulia disebabkan bertepatan dengan bulan yang mulia.

Keempat hal itu ternyata menjadi rahasia tersendiri bagi beliau dan umatnya agar selalu bersemi, selalu bangkit dari keterpurukan, juga mampu berubah menjadi yang lebih baik.

Semoga kita tercatat sebagai Umat yang taat kepadanya. AMIN……

DENGAN BERSHOLAWAT ORANG YANG SEDANG DI SIKSA DI ALAM KUBUR DI BEBASKAN

Dari Kitab Riyadl Al-Badi’ah halaman 92, karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Nawawi menganjurkan beberapa amalan agar senantiasa dilaksanakan kaum muslimin muslimat, salah satunya adalah membaca sholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Dan berikut adalah salah satu faidah agung tentang FADHILAH SHOLAWAT  :

حكي ان امرأة جاءت الي الحسن فقالت له توفيت لي ابنة واريد رؤيتها في النوم ،فقال لها صلي اربع ركعات بعد العشاء واقرئي في كل ركعة بعد الفاتحة سورة الهاكم مرة ثم اضطجعي وصلي علي النبي صعلم الي ان تنامي ففعلت فراتها في العقوبة مسلسلة ومغلولة، فجاءت اليه فاحبرته فاغتم وقال لها تصدقي عنها ففعلت ثم راي في تلك الليلة كانه في روضة من رياض الجنة وفيها سرير عليه جارية جميلة وعلي راشها تاج من نور فقالت له اعرفتني فقال لا ، فقالت له انا ابنة تلك المراة فقال لها بغير هذا وصفت لي امك حالك، فقالت كنت كذلك فقال ثم بماذا بلغت هذا، قالت كنا سبعين الف نفس في تلك العقوبة فعبر واحد من الصالحين علي قبورنا وصلي علي النبي صعلم مرة وجعل ثوابها لنا فاعتقنا الله من ذلك ببركته وبلغ نصيبي مارايت اه

Dikisahkan, ada seorang wanita (seorang ibu) datang kepada Syeikh Hasan, dan ia berkata: “Aku telah ditinggal wafat oleh anak perempuanku, dan aku ingin sekali memimpikan dia”. Berkata Syeikh Hasan pada si ibu: “Lakukanlah sholat sunah empat roka’at setelah isya, dan bacalah pada setiap roka’atnya surat AT-TAKATSUR satu kali setelah fatihah, kemudian berbaringlah dan bacalah sholawat hingga engkau tertidur”.

Si ibu ini melakukan apa apa yang telah disampaikan syeikh padanya. Maka malam itu si ibu memimpikan anak perempuannya sedang disiksa dengan kaki dan tangan terbelenggu rantai besi. Keesokannya si ibu datang lagi kepada syeikh dan mengabarkan mimpinya.

Sejenak Syeikh diam dan kemudian beliau berkata: “Shodaqohlah atas nama anak perempuanmu”. Maka kemudian si ibu melaksanakan shodaqoh atas nama anak perempuannya (menghadiahkan ganjaran shodaqoh tersebut kepada anaknya).

Kemudian pada malam berikutnya, Syeikh bermimpi seolah beliau berada di pertamanan syurga, Beliau melihat ada seorang gadis yang sangat cantik berada diatas sebuah ranjang dengan memakai mahkota dari cahaya dikepalanya.

Gadis ini berkata kepada Syeikh: “Apakah engkau tidak mengenaliku wahai Syeikh ?”

 “Tidak !” jawab Syeikh.

Berkata gadis itu: “Aku adalah anak perempuan dari wanita yang datang padamu”

Syeikh berkata: “Tapi tidak dalam keadaan seperti yang aku lihat saat ibumu menceritakan keadaanmu”. Berkata si gadis: “Sebelumnya aku memang seperti apa yang telah diceritakan ibuku”.

Syeikh berkata: “Lalu bagaimana engkau bisa seperti ini ?”.

Si gadis menjelaskan: “Aku adalah salah satu dari 70.000 orang yang sedang disiksa, Maka lewatlah diantara pekuburan kami seorang yang sholih,orang sholih tersebut membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW hanya satu kali, kemudian ia menghadiahkan pahala satu kali sholawat tersebut kepada kami, Kemudian Allah membebaskan kami (70.000 orang) dari siksaan tersebut dengan berkah Nabi SAW (sholawat), Dan hasil dari satu kali sholawat yang dihadiahkan pada kami adalah seperti apa yang engkau lihat padaku (seperti ini bagianku). 

Wallohu a’lam

KEUTAMAAN ORANG YANG MAKAN SAHUR DAN WITIR LEBIH DARI SATU KALI DALAM SEMALAM

ORANG YANG MAKAN SAHUR MENDAPAT SHOLAWAT DARI ALLOH DAN MALAIKAT

 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang melaksanakan sahur.” (HR Ibnu Hibban).

  1. Di antara orang-orang yang berbahagia dengan shalawat para Malaikat adalah orang yang makan sahur, dan di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah :

Imam Ibnu Hibban dan Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.

‘Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.

– Kitab Al ‘ilal li ibni hatim

– Al mughni

  • Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu bersabda:

“اَلسَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ, فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.”

‘Makan sahur adalah makanan yang penuh dengan keberkahan, maka janganlah engkau meninggalkannya, walaupun salah seorang di antara kalian hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.’”

  1. Benar, sudah termasuk sahur walau hanya meminum seteguk air

– Fadhoil syuhuri romadhon :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الإِسْكَنْدَرَانِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْجَمَاعَةُ بَرَكَةٌ ، وَالثَّرِيدُ بَرَكَةٌ ، وَالسُّحُورُ بَرَكَةٌ ، تَسَحَّرُوا فَإِنَّهُ يَزِيدُ فِي الْقُوَّةِ ، تَسَحَّرُوا وَلَوْ عَلَى جَرْعٍ مِنْ مَاءٍ ، صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ ” .

Dari Abi sa’id al-iskandary, ia berkata, telah bersabda Rosulillah SAW : Berjama’ah itu berkah, sahur itu berkah, maka lakukanlah sahur karena ia menambah kekuatan, sahurlah walau dengan seteguk air, rahmat Allah atas orang orang yang melaksanakan sahur. Wallahu a’lam.

Puasa itu nanti akan bicara pada Robbnya untuk memintakan ampun bagi orang yang berpuasa di hari Qiyamat

Dalam musnad imam ahmad disebutkan :

وورد أيضاً أن الصيام يشفع لصاحبه يوم القيامة، فقد روى الإمام أحمد عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة، يقول الصيام: أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه، ويقول القرآن: منعته النوم بالليل فشفعني فيه، قال: فيُشَفَّعان).

Puasa dan (amalan membaca) al-Quran akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : Wahai Tuhanku, akulah yang mencegahnya dari makan dan syahwat di waktu siang. Maka jadikanlah aku bisa memberi syafaat untuknya. (Amalan baca alQuran) berkata: Akulah yang mencegahnya untuk tidur di waktu malam, maka jadikan aku memberi syafaat untuknya. Maka keduanyapun memberi syafaat untuknya (H.R Ahmad). Wallohu A’lam [Rizalullah].

Takhrij haditsnya :

الحديث فى مسند الامام أحمد

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا موسى بن داود ثنا بن لهيعة عن حيي بن عبد الله عن أبي عبد الرحمن الحبلى عن عبد الله بن عمرو ان رسول الله قال الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فشفعني فيه قال فيشفعان

والحديث أخرجه الحاكم فى مستدركه

حدثنا عبد الله بن سعد الحافظ أخبرني موسى بن عبد المؤمن ثنا هارون بن سعيد الأيلي ثنا عبد الله بن وهب أخبرني حيي بن عبد الله عن أبي عبد الرحمن الحبلى عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رسول الله e قال الصيام والقرآن يشفعان للعبد يقول الصيام رب إني منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فيشفعان هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه

وهو فى كتاب الزهد لابن المبارك

– أَخْبَرَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَن حيي عَن أبي عَبد الرحمن عَن عَبد الله بن عَمْرو بن العاص عَن النبي صلى الله عليه وسلم أن الصيام والقرآن يشفعان للعبد يقول الصيام رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن رب منعته النوم بالليل فشفعني فيه فيشفعان

الحديث بطرقه مداره على حيي قال ف ابن حجر فى التقريب

حيي بضم أوله ويائين من تحت الأولى مفتوحة ابن عبدالله ابن شريح المعافري المصري صدوق يهم من السادسة مات سنة ثمان وأربعين

وابن لهيعة قال عنه الحافظ فى التقريب

– عبدالله ابن لهيعة بفتح اللام وكسر الهاء ابن عقبة الحضرمي أبو عبدالرحمن المصري القاضي صدوق من السابعة خلط بعد احتراق كتبه ورواية ابن المبارك وابن وهب عنه أعدل من غيرهما وله في مسلم بعض شيء مقرون مات سنة أربع وسبعين وقد ناف على الثمانين م د ت ق

وتابع ابن لهيعة فى الروايت عن حيي رشدين بن سعد شيخ ابن المبارك وهو ضعيف كما فى التقريب و عبدالله بن وهب وهو ثقة حافظ

 

SHOLAT WITIR SEMALAM LEBIH DARI SATU KALI

Witir adalah sholat sunnah yang tidak disunnahkan jama’ah kecuali di bulan Romadlon saja, sehiingga otomatis jika bulan Romadlon boleh dikerjakan 2 kali karena disunnahkan jamaah, sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Majmu’. Disunnahkan i’adatush sholat hanya dengan syarat sholat yang berupa fardhu atau sunnah itu disyari’atkan jama’ah, meskipun berupa sholat witir menurut imam ibnu hajar. Karena witir disyariatkan jama’ah hanya di bulan ramadhan maka boleh (sunnah) di-i’adah di bulan ramadhan. Bahkan ada pendapat, Sholat i’adah diulangi tanpa batas selama waktu belum keluar. Shahabat Abu bakar & Utsman diriwayatkan mengerjakan sholat witir sebelum tidur kemudian bangun untuk tahajjud, sedang shahabat Umar & Ali tidur, kemudian bangun kemudian sholat tahajjud dan witir.

Namun dari keterangan di Nihatulmuhtaj dan begitu pula Tuhfah, tidak dituntut untuk mengulangi witir, jika mengulangi dengan niat witir dengan sengaja dan mengetahui (terhadap ketidak-bolehannya) maka haram mengulangi tersebut, dan tidak sah karena hadits “tidak ada dua witr dalam satu malam”. Hal ini senada dengan keterangan di Hasyiyah Al-Bajuri : “Shalat witir itu minimal satu rakaat, waktunya antara waktu shalat Isya’ sampai terbit fajar. Disunatkan melaksanakan shalat witir pada akhir shalat malam. Dalilnya hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim : Lakukanlah shalatmu yang paling akhir di waktu malam itu berupa shalat witir. Apabila seseorang biasa bertahajjud, maka witirnya diakhirkan setelah tahajjud dan andai kata dia melakukan witir lebih dulu kemudian baru melakukan shalat tahajjud, maka dia tidak disunatkan mengulang shalat witir, bahkan tidak sah jika diulang. Dalilnya hadits nabi : tidak ada (pelaksanaan) shalat witir dua kali pada satu malam”. Wallohu a’lam. [Ibnu Al-Ihsany, Sunde Pati, Mumu Bsa, Mbah Godek, Najwa Asnawi, Ibnu Mukmin El Mubasysyirot].

– Ibarot :

ويسن إعادة الفرض بنية الفرض مع منفرد أو جماعة وإن كان قد صلاها معها

)مع منفرد أو مع جماعة وإن كان قد صلاها معها( أو زادت الأولى بفضيلة كثرتها أو كون إمامها أعلم وإنما تسن فرضا أو نفلا تشرع فيه الجماعة ولو وترا عند حج وأن تكون مؤداة لا مقضية وكون الأولى صحيحة وإن لم تغن عن القضاء كمتيمم لبرد لا فاقد الطهورين إذ لا يجوز تنفله وأن لا تزيد الإعادة على مرة وأن ينوي بها الفرضية على ما مر وأن تقع جماعة من أولها إلى آخرها عند مر واكتفى بها حج بركعة كالجمعة وأن تقع منها في الوقت ركعة فأكثر وأن ينوي الإمام الإمامة وأن يكون فيها ثواب جماعة حال الإحرام بها فلو انفرد عن الصف أو اقتدى بنحو فاسق لم تنعقد للكراهة الموفتة لفضيلة الجماعة وأن تعاد مع من يرى جواز الإعادة فلو كان الإمام شافعيا والمأموم حنفيا لم تصح لأن المأموم لا يرى جواز الإعادة فكأن الإمام منفرد بخلاف العكس وأن لا تكون صلاة خوف أو شدة لأن المبطل إنما احتمل فيها للحاجة وأن تكون إعادتها للخروج من الخلاف وإلا ندب قضاءها ولو منفردا

– Busyrol karim hal 121 juz 1. Fokus :

وإنما تسن بشروط كونها فرضا أو نفلا تشرع فيها الجماعة ولو وترا عند حج

وتسن إعادة المكتوبة بشرط أن تكون في الوقت وأن لا تزاد في إعادتها على مرة خلافا لشيخ شيوخنا أبي الحسن البكرى رحمه الله تعالى ولو ولو صليت الأولى جماعة مع آخر ولو واحدا إماما كان أو مأموما في ابأولى أو في الثانية بنية فرض وإن وقعت نفلا فينوى إعادة الصلاة المفروضة واختار الإمام أنه أن ينوي الظهر أو العصر مثلا ولا يتعرض للفرض ورجحه في الروضة لكن الأول مرجح الأكثرين والفرض الأولى ولو بان فساد الأولى لم تجزئه الثانية على ما اعتمده النووى وشيخنا خلافا لما قاله شيخه زكريا تبعا للغزالي وابن العماد أى إذا نوى بالثانية الفرض

وقوله خلافا لشيخ شيوخنا أبي الحسن البكري أى في قوله إنها تعاد من غير حصر ما لم يخرج الوقت

– Fathul muin / hamisy i’anah thalibin juz 2 hal 5-7  :

ويسن وتر أي صلاته بعد العشاء لخبر الوتر حق على كل مسلم وهو أفضل من جميع الرواتب للخلاف في وجوبه ـ إلى أن قال ـ ولا يندب إعادته

– Hamisy i’anah al thalibin hal 248-252 :

قوله ولا يندب إعادته أى لا تطلب إعادته فإن أعاده بنية الوتر عامدا عالما حرم عليه ذلك ولا ينعقد لخبر لا وتران في ليلة إهـ نهاية ومثله في التحفة

– Busyrol karim hal 121 :

وإنما تسن بشروط كونها فرضا أو نفلا تشرع فيه الجماعة ولو وترا عند حج

– Fathul muin/hamisy ianatuth thalibin juz 1 hal 252 :

{فرع} يسن لمن وثق بيفظته قبل الفجر بنفسه أو غيره أن يؤخر الوتر كله لا التراويح عن أول الليل وإن فاتت الجماعة فيه بالتأخير في رمضان لخبر الشيخين اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وترا وتأخيره عن صلاة الليل الواقعة فيه ولمن لم يثق بها أن يجعله قبل النوم ولا يندب إعادته ثم إن فعل الوتر بعد النوم حصل به سنة التهجد أيضا وإلا كان وترا لا تهجدا وقيل الأولى أن يوتر قبل أن ينام مطلقا ثم يقوم ويتهجد لقول أبي هريرة رضي الله عنه أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أوتر قبل أن أنام رواه الشيخان وقد كان أبو بكر رضي الله عنه قبل أن ينام ثم يقوم ويتهجد وعمر رضي الله عنه ينام قبل أن يوتر ويقوم ويتهجد ويوتر فترافعا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال هذا أخذ بالجزم يعني أبو بكر وهذا أخذ بالقوة يعني عمر وقد روي عن عثمان مثل فعل أبي بكر وعن على مثل فعل عمر رضي الله عنهم قال في الوسيط واختار الشافعي فعل أبي بكر رضي الله عنه . وأما الركعتان اللتان يصليهما الناس جلوسا بعد الوتر فليستا من السنة كما صرح به الجوجري والشيخ زكريا قال في المجموع ولا تغتر بمن يعتقد سنية ذلك ويدعوا إليه لجهالته

– Tuhfatul Habib :

تحفة الحبيب على شرح الخطيب (2/ 60)

قوله : ( لا وتران في ليلة ) أي أداء أما إذا كان أحدهما أداء والآخر قضاء فلا يمتنع بل يندب

– Tuhfatul Muhtaj :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (7/ 449)

( قَوْلُهُ : وَوِتْرُ رَمَضَانَ )وَعَلَيْهِ فَخَبَرُ { لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ } مَحَلُّهُ فِي غَيْرِ ذَلِكَ فَلْيُحَرَّرْ لَكِنْ قَالَ م ر لَا تُعَادُ لِحَدِيثِ { لَا وِتْرَانِ } إلَخْ وَهُوَ خَاصٌّ فَيُقَدَّمُ عَلَى عُمُومِ خَبَرِ الْإِعَادَةِ انْتَهَى أَقُولُ بَلْ بَيْنَهُمَا عُمُومٌ مِنْ وَجْهٍ وَتَعَارَضَا فِي إعَادَةِ الْوِتْرِ سم عَلَى الْمَنْهَجِ

تحفة المحتاج في شرح المنهاج (7/ 441)

( قَوْلُهُ : وَوِتْرِ رَمَضَانَ )اعْلَمْ أَنَّ بَيْنَ خَبَرِ { لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ }وَخَبَرِ الْإِعَادَةِ كَحَدِيثِ { إذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا } عُمُومًا وَخُصُوصًا مِنْ وَجْهٍ وَتَعَارُضًا فِي إعَادَةِ الْوِتْرِ فَلْيُتَأَمَّلْ يُرَجَّحُ الْإِعَادَةُ

– Hawasyi Syarwani :

حواشي الشرواني (2/ 263)

قوله ( ووتر رمضان ) وعليه فخبر لا وتران في ليلة محله في غير ذلك فليحرر لكن قال م ر لا تعاد لحديث لا وتران الخ وهو خاص فيقدم على عموم خبر الإعادة انتهى أقول بل بينهما عموم من وجه وتعارضا في إعادة الوتر سم على المنهج ا هـ ع ش ومال البصري إلى ما جرى عليه م ر من عدم الإعادة ونقل عن الزيادي موافقته م ر وهو الأقرب

 

Ini ibarah witir ketika disunnahkan berjama’ah hendaknya menyeru dengan lafad ”Asholatu jami’ah” :

(ويقال في العيد ونحوه) من كل نفل تشرع فيه الجماعة كما صرَّح به في الحاوي ، كالعيد والكسوف والاستسقاء والتراويح حيث يفعل ذلك جماعة، قال شيخنا: والوتر حيث يسنُّ جماعة فيما يظهر اهـ. وهذا دخل في كلامهم (الصلاة جامعة) لوروده في الصحيحين في كسوف الشمس، وقِيسَ به الباقي،

– I’anatutu Tholibin :

إعانة الطالبين (2/ 6)

أما ما تسن فيها فتسن إعادتها ولو وترا خلافا لمر فإن الوتر عنده لا تصح إعادته

شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ص: 330)

وإنما تسن بشروط: كونها فرضاً أو نفلاً تشرع فيه الجماعة ولو وتراً عند (حج)

– kitab Al-Majmu’ :

المجموع شرح المهذب (4/ 15)

(فرع)إذا استحببنا الجماعة في التراويح استحبت الجماعة أيضا في الوتر بعدها باتفاق الاصحاب

[ Sub Bahasan ] Jika disunnahkan jama’ah pada shalat tarowih, maka disunnahkan pula jama’ah pada shalat witir setelahnya, sebagaimana telah disepakati ashab syafi’iyyah.

PENDAPAT YANG TIDAK MEMBOLEHKAN WITIR DUA KALI DALAM SEMALAM

– I’ANAH :

(قوله: وتأخيره عن صلاة الليل) معطوف على أن يؤخر، أي ويسن تأخيره عن صلاة ليل من نحو راتبة أو تراويح أو تهجد، وهو صلاة بعد النوم أو فائتة أراد قضاءها ليلا.(قوله: ولمن لم يثق بها) أي باليقظة.وقوله: أن يعجله أي لخبر مسلم: من خاف أن لا يقوم من آخر الليل فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره فليوتر آخر الليل.(قوله: ولا يندب إعادته) أي لا تطلب إعادته، فإن أعاده بنية الوتر عامدا عالما حرم عليه ذلك، ولم ينعقد لخبر: لا وتران في ليلة.

Tidak disunahkan I’ADAH (mengulangi sholat witir) yaitu jika I’ADAH / mengulangi sholat witir dengan sengaja dan mengetahui ketidak-bolehannya maka haram I’ADAH sholat witir, karena tidak ada 2 witir dalam se-malam.

– I’ANATUT THOLIBIN :

(قوله: ولا يندب إعادته) أي لا تطلب إعادته، فإن أعاده بنية الوتر عامدا عالما حرم عليه ذلك، ولم ينعقد لخبر: لا وتران في ليلة.

– Hasyiyah Al-Bajuri juz I hal. 132 :

وَالْوَاحِدَةُ هِيَ أَقَلُّ الْوِتْرِ …. وَوَقْتُهُ بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَطُلُوْعِ الْفَجْرِ …. وَيُسَنُّ جَعْلُهُ آخِرَ صَلاَةِ اللَّيْلِ، لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ: اِجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ مِنَ اللَّيْلِ وِتْرًا. فَإِنْ كَانَ لَهُ تَهَجُّدٌ أَخَّرَ الْوِتْرَ إِلَى أَنْ يَتَهَجَّدَ، فَإِنْ أَوْتَرَ ثُمَّ تَهَجَّدَ لَمْ يُنْدَبْ لَهُ إِعَادَتُهُ، بَلْ لاَ يَصِحُّ، لَخَبَرِ : لاَ وِتْرَانِ فِيْ لَيْلَةٍ. اهـ

MENCONTOH CARA MAKAN DAN MINUM ROSULULLOH SAW.

Sebagai umat islam yang baik, tentunya kita semua ingin sekali bisa mencontoh apa yang di lakukan oleh beliau junjungan umat manusia Rosulillah Saw.  Berikut ini adalah hikmah hikmah dari cara Rosululloh Saw. dalam melakukan makan dan minum. Semoga kita semua bisa mencontoh Beliau, sehingga bisa mendapatkan hikmah yang terkandung di dalamnya, amin.

  1. Berdoalah sebelum makan dan minum, agar makanan dan minuman kita mengandung berkah. “Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzaabannaar”. “Ya Allah berilah keberkahan dalam rizki (makanan) kami, dan selamatkanlah kami dari siksa neraka”.
  2. Makan dan minum sambil duduk , sebagaimana HR. Muslim dan Turmudzi dari Anas dan Qatadah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnyabeliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimanadengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)

Bersabda Nabi SAW dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri !Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim). Hikmah yang diperoleh dari makan dan minum sambil duduk menurut Dr. Abdurrazaq Al-Kailani¹, ahwa minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum  atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Dr. Ibrahim Al-Rawi² menegaskan bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf(Vagal Inhibition)yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh spinchter

Spinchter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Spinchter lebih seperti gate/gerbang/seal windpipe yang berkontraksi,(menutup) dan relaxing (membuka) dan jumlah otot ini ada sekitar 50 otot tersebar di berbagai saluran lubang manusia.Berfungsi sebagai otot yang membuka dan menutup, sekresi, controlling substance in & out, semua sesuai fitrah manusia. Contoh ketika minum, sphincter di tenggorokan akan menutup agar tidak masuk ke saluran udara dan paru-paru. saat menerima fluid yang asam akan menutup hingga tidak kelebihan acid dalam lambung, ketika saluran kemih penuh, membuka sehingga bisa keluar urin,dll. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter.

Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!  Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam.

  1. Ketika minum jangan sambil menghembuskan nafas dalam gelas, cangkir atau tempat minuman lainnya dan jangan meneguk air lebih dari 3 kali. Hikmah yang diperoleh adalah agar proses penyaringan oleh spinchter berjalan seimbang karena tidak melebihi kapasitas juga dapat menimbulkan spinchter berfungsi dengan baik dalam penyaringan.

  1. Makanlah dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan jari tengah), sesuai yang diajarkan Rasul SAW: Dari Anas: “Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu makan menggunakan tiga jari”.

  1. Usahakan makanan jangan sampai jatuh dan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Ketika suapan seseorang dari kamu jatuh, hendaklah diambil, dibersihkan dari kotorannya, lalu dimakan, jangan dibiarkan syetan yang makan.

  1. Makanlah sampai habis, karena mungkin berkahnya ada pada yang Anda sisakan. Dan Beliau Rasulullah SAW, menyuruh membersihkan sisa makanan di piring dengan sabdanya: “Kalian tiada mengetahui secara pasti di mana letak berkah pada makanan”(HR. Muslim).
  2. Makanlah dengan menggunakan tangan kanan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya: Makanlah dengan tangan kanan, karena syetan makan/minum dengan tangan kiri (HR Bukhari),

  1. Jangan meniup makanan/minuman (HR Tirmidzi). Hikmah yang dipetik dari hal ini adalah: a. Mencegah penyebaran kuman (penyakit) ke makanan yang berasal dari mulut.Menjaga kesehatan gigi, karena berti tidak boleh makan terlalu panas atau terlalu dingin.
  2. Setelah selesai makan, baca doa “Alhamdulillahi lladzii ath’amanaa wasaqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin”. Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum dan menjadikanku muslim.

Inilah cara makan terbaik. Bukankah Rasul adalah teladan terbaik?

 

MUTIARA HIKMAH DARI AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG IBADAH DAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

180_B.TIF

 Perintah ibadah kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu dan bapak):

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia¹. (Q.S. Al-Isra’: 23).

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil. (Q.S. Al-Isra’: 24).

    Q.S. 31: 14 dan 15 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun². Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Luqman: 15).

    Fadhilah berbuat baik kepada ibu dan bapak:

Artinya:

“Barangsiapa yang berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, maka berbahagialah baginya, semoga Allah memperpanjang umurnya” (H.R. Bukhari).

Artinya: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu”. (H.R. Imam Ahmad).

Artinya: “Berbuat baiklah kalian kepada dua orang ibu-bapakmu”. (H.R. Ath-Thabrany).

Dari Abdil-Rahman Abdullah bin Mas’ud, r.a. berkata: Saya pernah bertanya kepada Nabi SAW: “’Amal perbuatan apakah yang lebih dicintai oleh Allah?”. Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?”. Beliau menjawab: “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?”.Beliau menjawab: “Jihad pada jalan Allah”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

    4 (empat) macam dosa besar menurut hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abdillah bin Amr bin Al-‘Ash r.a.

“Dari ‘Abdillah bin Amr bin Al-’Ash r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: Dosa-dosa besar ialah: menyekutukan Allah, berani (durhaka) kepada kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu”. (H.R. Bukhari).

    Pelaksanaan sanksi perbuatan dosa yang langsung diterima pelakunya ketika masih hidup di dunia, di samping menerima sanksi di akhirat  menurut hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani:

Artinya:

Semua dosa pelaksanaannya ditangguhkan Allah Ta’ala menurut apa yang Ia kehendaki sampai hari qiyamat, kecuali dosa terhadap kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercepat balasan dosa terhadap kedua orang tua bagi pelakunya pada masa hidup di dunia sebelum mati. (H.R. Ath-Thabrani).

 

    Tiga ciri akhlak utama penghuni dunia dan penghuni akhirat menurut hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

Nabi SAW pernah bersabda kepada ‘Uqbah: “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlaq penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu: menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, mema’afkan orang yang pernah menganiaya kamu”. (H.R. Al-Hakim, dari ‘Uqbah bin Al-Juhany).

 

    Deskripsi hadits mengenai jasa orang tua

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak dapat seorang anak membalas budi baik orang tuanya, kecuali jika ia mendapatkan orang tuanya itu tertawan menjadi budak, kemudian ia membelinya, lalu ia merdekakan. (H.R. Muslim).

 

    Prioritas yang berhak dilayani dengan baik

Artinya:

Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW lalu ia bertanya: “Siapakah yang berhak aku layani dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Ia berkata: “Kemudian siapa?” Beliau brsabda: “Ibumu”. Ia berkata lagi: “Kemudian siapa?” Beliau bersabda pula: “Ibumu”.Ia berkata lagi:”Kemudian siapa?” Beliau bersabda: “Bapakmu”. (Muttafaqun’alaih). Dalam riwayat lain disebutkan: “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih berhak kulayani dengan sebaik-baiknya?” Nabi menjawab: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat dan yang terdekat”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

 

    Orang yang kecewa karena tidak berbuat baik kepada kedua orang tuanya

Dari Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW telah bersabda: “Sungguh kecewa, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa, siapa yang mendapatkan kedua ibu-bapaknya atau salah satunya ketika tua, kemudian ia tidak masuk surga”. (H.R. Muslim).

    Q.S. 31: 14 Perintah bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

“… Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman: 14).

 

    Tentang Silaturrahm dan Hubungan Sesama Manusia

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnus-sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S. An-Nisa’ (5): 36).

Dari Abi Muhammad, Jubair bin Muth’im r.a., bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus”. Sufyan berkata dalam sebuah riwayatnya: yakni memutuskan hubungan famili. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:”Jibril selalu berpesan kepadaku supaya baik terhadap tetangga, hingga aku mengira kalau-kalau akan diberi hak waris”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Hai wanita-wanita muslimat! Janganlah menganggap remeh memberi hadiah kepada tetangga, walau sekedar kikil (ujung kaki) kambing”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

Artinya:

Sebaik-baik teman menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga menurut pandangan Allah, ialah orang yang paling baik kepada tetangganya. (H.R. At-Tirmidzi).

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya”. (H.R. Bukhary dan Muslim).

<<<<<<<<<<<<

    ¹Mengucapkan kata “Ah” kepada orang tua tidak dibolehkanoleh agama, apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

    ²Maksudnya: Selambat-lambatnya waktu menyapih ialah setelah anak berumur 2 tahun.

PENGHAYATAN ISRA’ DAN MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW DALAM KEHIDUPAN

Dalam sebuah keterangan yang terdapat dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1]  Kronologi tersebut sebenarnya sudah dideskripsikan secara jelas oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai waktu kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi di antara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Dalam salah satycatatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang dianggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir. Berkenaa dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Menguatkan Semangat Dakwah

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87). WaAllahu a’lam

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

ANTARA YANG BERTAQWA DAN YANG DURHAKA

Dalam Al Fushulul Ilmiyah, Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad menerangkan sebuah pasal ihwal manusia yang bertaqwa dan berdosa. Berikut kalam beliau.

Segala sesuatu akan menjadi baik apabila di­sertai takwa dan ihsan: Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dan sempurna. Disebutkan dalam hadits Nabi SAW, ”Ihsan ialah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Dan jika yang demikian itu tidak mungkin, sadarilah bahwa Dia melihatmu”.

Hal ini berlaku atas semua ihwal yang bergantian pada diri manusia seperti dalam keadaan miskin dan kaya, sehat dan sakit, mulia dan hina, terlupakan dan diabaikan atau dikenal dan dipuja-puja, dan seterusnya. Demikian pula, segala sesuatu dari ihwal manusia akan menjadi buruk dan hambar apabila disertai perbuatan-perbuatan dosa dan kejahat­an. Berikut beberapa penjelasan yang dapat direnungkan.

Pertama, seorang yang selalu bertakwa dan berihsan apabila ditimpa kemiskinan, hubungannya dengan Allah SWT menjadi semakin baik karena selalu diliputi oleh berbagai suasana yang mulia, seperti kerelaan, qana’ah, kesabaran, wara’, dan ketidakber­gantungan kepada orang lain. Ia pun akan beroleh berbagai karunia Allah SWT, yang disebut luthf atau althaf ilahiyyah (Lutfh : Kelembutan dan kasih sayang. Yang dimaksud dengan Lutfh Illahi atau Althaf Illahiyah ialah kasih sayang Illahi yang menjaga seseorang dari terperosok dalam dosa-dosa, atau tertimpa berbagai bencana, atau merendam dampak bencana yang telah menimpa.”) seperti keridhaan, kedekatan kepada-Nya, pertolongan-Nya, dan peneguhan dari-Nya berupa ketabahan hati, kesabaran diri, ketahanan jiwa, dan sebagainya. Begitu juga dalam hubungannya dengan sesama manusia; ia selalu berhasil me­nyembunyikan penderitaannya dan tampak ceria di hadapan mereka. Dari mereka pun terdengar puji-pujian terhadapnya, dalam kemiskinannya, bahwasanya Allah SWT telah meng­arahkannya ke jalan orang-orang yang baik dan tulus, yakni para wali-Nya (Orang yang benar-benar beriman dan bertakwa sehingga sangat akrab hubungan timbal baliknya dengan Allah SWT, selalu mendekatkan diri kepada-Nya sehingga Dia pun melimpahkan anugerah-anugerahnya secara lahir dan batin) serta orang-orang pilihan-Nya.

Namun, sekiranya kemiskinan seperti ini menimpa orang fajir (orang yang durhaka) yang bergelimang dalam dosa, niscaya ia menyebab­kannya selalu dalam keadaan resah, cemas, dan marah. Me­lihat kekayaan orang lain, dalam dirinya timbul ketamakan dan perdambaan yang berlebih-lebihan untuk memper­oleh seperti itu. Orang seperti ini niscaya memperoleh hukuman Allah SWT berupa kemurkaan, kebencian, dan pen­cegahan dari bantuan, kesabaran, dan pertolongan-Nya. Sementara itu, dalam hubungannya dengan sesama manu­sia, ia pasti akan dicemooh dan diperolok dengan kemiskinan dan penderitaannya. Lidah-lidah mereka tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata celaan karena ia tidak becus dalam ikhtiar untuk dirinya dan kurang giat dalam upaya men­datangkan Iffah (mempertahankan kehormatan diri dari meminta-minta, pengekangan hawa nafsu, dan menjauh dari perbuatan rendah) dan kecukupan untuk dirinya, bahkan mereka akan menyatakan bahwa Allah SWT telah meng­hukumnya dengan kemiskinannya itu akibat keberagama­annya yang kurang kuat dan kebaikannya yang sedikit.

Kedua, selama manusia dalam keadaan bertakwa dan berihsan, lalu Allah SWT menganugerahkan kekayaan kepadanya dan me­luaskan rezeki baginya, maka sifat-sifat yang meliputinya dalam hubungannya dengan Allah ialah bersyukur kepada-Nya dan sangat menghargai nikmat-Nya. Ia selalu menggunakan nikmat sebagai sarana ketaatan kepada-Nya, membelanjakan harta­nya dalam berbagai bidang kebajikan, dan berbuat baik untuk siapa saja yang dekat maupun jauh. Ia pun akan beroleh perlakuan baik dari Allah, yakni keridhaan, kecintaan, dan pertolongan-Nya yang berupa tambahan kekayaan dan kelapangan rezeki. Demikian pula lidah-lidah manusia tak henti-hentinya mengucapkan puji-pujian kepadanya karena amal-amal kebaikan yang selalu diperbuatnya dan mereka selalu mendoakan baginya agar memperoleh tambahan kekayaan, kelapangan, dan sebagainya.

Namun, apabila ia tergolong ahli penyelewengan dan kejahatan, sedangkan ia memiliki harta dan kekayaan dunia, niscaya ia akan diliputi hasrat menumpuk-numpuk harta, meng­genggamnya karena kebakhilan, kurangnya sifat wara’ dan kuatnya dorongan kerakusan dan sifat-sifat buruk lainnya. Dalam hubungannya dengan Allah SWT, ia akan beroleh ke­murkaan dan kebencian-Nya. Lidah-lidah manusia pun tak henti-hentinya mengucapkan celaan terhadapnya disebab­kan sedikitnya kebajikan yang bersumber padanya, kebiasa­annya melanggar janji, tidak berpegang pada kejujuran, dan menolak memberikan santunan serta berbuat ihsan dan lain sebagainya.

Ketiga, apabila seorang ahli takwa dan ihsan diliputi kesehatan dan keselamatan, ia akan bersyukur kepada Allah SWT, bersungguh-­sungguh dalam mencari keridhaan-Nya, dan menggunakan kesehatan dan kekuatannya itu dalam ketaatan kepada-Nya. Ia pun akan beroleh balasan dari Allah SWT berupa keridhaan dan kemuliaan. Demikian pula lidah-lidah manusia terus-me­nerus menunjukan pujian-pujian kepadanya atas amal-amal salehnya serta kesungguhannya dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Keempat, apabila orang seperti itu—yakni ahli takwa dan ihsan—men­derita sakit, ia tetap ridha, sabar, pasrah terhadap kehendak Allah, hanya mengharapkan pertolongan dari-Nya, tidak resah dan tidak berkeluh kesah atau mengadukan halnya kepada siapa pun selain kepada Allah Taala. Allah SWT niscaya me­limpahkan kepadanya ridha dan inayah-Nya, memberinya pertolongan dan kekuatan agar merasa tenang dan tenteram, dan lain sebagainya. Lidah-lidah manusia pun mengucapkan pujian dan kekaguman bahwa Allah mengirim penyakit ini kepadanya semata-mata untuk menjadi kaffarah (Suatu pembayaran atau perbuatan untuk menghapus kesalahan atau dosa. Penyakit yang diterima dengan sabar oleh seorang mukmin dapat menghapus dosa-dosanya dan menyucikannya kembali) dosa, pe­nambah pahala, dan peninggi derajatnya.

Kelima, seseorang yang tergolong manusia durhaka dan buruk peri­lakunya apabila berada dalam keadaan sehat dan sentosa, ia akan bersikap angkuh, tak segan-segan melanggar hak orang lain, malas melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya dan sering kali menggunakan kekuatan serta kekuasaannya dalam penyimpangan dan perbuatan maksiat. Allah SWT pasti murka kepadanya dan menjauhkannya dan rahmat-Nya. Demikian pula lidah-lidah manusia tak henti-hentinya men­celanya atas pelanggaran, keangkuhan, serta perbuatan-per­buatannya yang dibenci Allah SWT.

Keenam, apabila orang seperti ini (si durhaka) menderita sakit atau ditimpa bencana, ia akan bersikap marah, putus asa, resah, selalu menggerutu, tak mau menerima ketetapan Allah, serta selalu dikuasai oleh sifat-sifat yang buruk. Jika sudah demikian halnya, Allah SWT akan memperlakukannya dengan kebenci­an dan pengusiran dari rahmat-Nya. Masyarakat sekitar pun tak segan-segan menunjukkan celaan dan kecaman kepada­nya dengan menyatakan bahwa Allah SWT. “menghukumnya dengan penyakit dan bencana disebabkan pembangkangan­nya, kezalimannya, serta banyaknya dosa dan kejahatan yang dilakukannya”.

Perhatikan hal-hal seperti itu dan jadikanlah sebagai pel­ajaran, baik dalam kejayaan atau kehinaan, ketika menjadi terkenal ataupun dilupakan orang, dalam kesempitan atau kemakmuran, dan seterusnya yang berkenaan dengan ihwal manusia yang bergantian. Anda akan mengetahui dan me­nyadari bahwa hanya takwa dan perbuatan ihsan saja yang akan memperindah ihwal manusia, dan dengan itu pula segala keadaannya akan menjadi baik dan lurus. Dan, bahwasanya perbuatan pelanggaran dan kejahatan akan membuat buruk dan tercelanya keadaan manusia serta mendatangkan cerca­an dan kecaman orang lain di samping kemurkaan dan keben­cian Allah. Perhatikan masalah ini dengan baik. Sebab, ia mengandung berbagai ilmu yang amat penting serta me­nyimpan solusi berbagai persoalan yang rumit. Sekiranya kami meneruskan pembahasan ini, niscaya ia akan menjadi panjang sekali. Dengan peringatan yang sedikit ini, kami berharap bisa mencukupi siapa saja yang mau menggunakan akalnya dengan kesadaran yang tinggi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.