HIKMAH MENCINTAI PARA ULAMA SEBAGAI WAROSATUL ANBIYA

Sayyidina Abubakar RadhiAllahu anhu selalu mengiringi Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam berjalan pulang bersama setelah menunaikan sholat isya berjamaah.. dan mereka berpisah ketika nabi masuk rumahnya.. Dan terkadang berpisah sejenak sangatlah terasa berat bagi Abubakar, beliau duduk didepan pintu rumah nabi hingga fajar tiba !!! Rasulullah keluar dari rumah untuk sholat subuh dan Abubakar berangkat bersama orang terkasihnya lagi, nabi bertanya, “kenapa sampai demikian duhai Abubakar?”. Dan Abubakar menjawab ,

قرة عينى بك يا رسول الله

“qurratu ‘ayni bika ya Rasulullah”

(engkau adalah segala penghias dan pengobat rindu bagi mataku, wahai Rasulullah)

Bagi kita yang tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam cukuplah berkumpul dan menatap para auliya atau ulama, Imam Hasan Al Basri berkata:

سأل رجل الحسن البصري فقال يا إمام دلني على عمل يقربني الى الله ويدخلني الجنه . قال احب احد أولياءه عسى الله ان يتطلع إلى قلبه فيجد اسمك مكتوب فيه فيدخلك معه الجنه

Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Basri “wahai Imam hasan katakan amalan apa yang bisa membuat aku dekat dengan Allah dan menyelamatkan diriku ditempat terbaik di yaumil akhir (jannah) dan imam Hasan menjawab “cintailah para auliya atau ulama (orang yang dekat dengan Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya itu dan disana tertulis namamu, dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik Nya” In syaa Allah, Aamiin .

Mencintai Ulama dan Anjuran Untuk Memuliakannya

Kuncup cinta tak boleh layu. Deburan asmara mesti menggebu. Rasa cinta adalah fitrah. Cinta ulama mengais berkah. Penting bagi kita semua untuk menggali pembahasan tentang Mencintai Ulama dan Memuliakannya. Hal ini agar kita lebih mampu mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa melalui jalan ilmu. Jalannya orang-orang yang diridloi oleh Allah SWT.

Siapa Ulama?

Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan Agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu agama. Mensyiarkan pengetahuan pada umat agar tetap berpegang pada kebenaran diatas Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ulama berperan mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada umat agar mereka berilmu dalam beramal. Sebab keimanan, ucapan, dan perbuatan apabila dilakukan tanpa disertai dengan ilmu maka semuanya malah bisa menjadi pedang yang menghunus, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Pemahaman dalam urusan agama harus menjadi pendalaman yang mendarah daging. Apalagi ketika kita dihadapkan pada berbagai kewajiban yang menuntut kita untuk mengetahui ilmunya.

Mengapa Harus Mencintai dan Memuliakan Ulama?

Allah SWT Berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِماً بِالْقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu..” (QS.  Ali-Imran: 18).

Dalam ayat diatas, Allah SWT memulai dengan menyebut nama-Nya Yang Agung. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebut malaikat lantas kemudian pada para ahli ilmu. Hal ini menunjukan kemuliaan dan keutamaan para ahli ilmu disisi Allah SWT. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai para ulama sebagai bagian dari ahli ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

وقال صلى الله عليه وسلم: أكرموا العلماء فإنهم عند الله كرماء مكرمون

“Handaknya kamu semua memuliakan ulama’, karena mereka itu orang-orang yang mulia menurut Allah dan dimulyakan.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال صلى الله عليه وسلم: فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Nabi SAW bersabda: “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang.” (Kitab Lubabul Hadits)

فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أُمَّتِي :وفي رواية للحارث بن أبي أسامة عن أبي سعيد الخدري عنه صلى الله عليه وسلم

Dalam satu riwayat Al Harits bin Abu Usanah dari Sa’id Al Khudri ra. dari Nabi SAW bersabda : “Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas umatku.” (Kitab Tanqihul Qaul)

وقال صلى الله عليه وسلم: من نظر إلى وجه العالم نظرة ففرح بها خلق الله تعالى من تلك النظرة ملكا يستغفر له إلى يوم القيامة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memandang wajah orang alim dengan satu pandangan lalu ia merasa senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari pandangan itu dan memohonkan ampun kepadanya sampai hari kiamat.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من أكرم عالما فقد أكرمني، ومن أكرمني فقد أكرم الله، ومن أكرم الله فمأواه الجنة

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa memuliakan orang alim maka ia memuliakan aku, barangsiapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah, dan barangsiapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga.” (Kitab Lubabul Hadits)

رواه الخطيب البغدادي عن جابر  .أكْرِمُوا العُلَمَاءَ فإنَّهُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، فَمَنْ أكرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ الله وَرَسُولَهُ  :وقال صلى الله عليه وسلم

Nabi SAW bersabda : “Hendaknya kamu semua memuliakan para ulama, karena mereka itu adalah pewaris para Nabi, maka barangsiapa memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ

Nabi SAW bersabda : “Tidurnya orang alim itu lebih utama daripada ibadah orang bodoh.” (Kitab Lubabul Hadits)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَمَّا زَارَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّما صَافَحَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّما جَالَسَنِي في الدُّنْيَا، وَمَنْ جَالَسَنِي في الدُّنْيَا أَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim maka ia seperti mengunjungi aku, barangsiapa berjabat tangan kepada orang alim ia seperti berjabat tangan denganku, barangsiapa duduk bersama orang alim maka ia seperti duduk denganku didunia, dan barangsiapa yang duduk bersamaku didunia maka aku mendudukkanya pada hari kiamat bersamaku.” (Kitab Lubabul Hadits)

وعن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ زَارَ عَالِما فَقَدْ زَارَنِي، وَمَنْ زَارَنِي وَجَبَتْ له شَفَاعَتي، وكانَ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ أَجْرُ شَهِيدٍ

Dari Anas bin Malik ra., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah memperoleh pahala orang mati syahid.” (Kitab Tanqihul Qaul)

وعن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ زَارَ عَالِما ضَمِنْتُ لَهُ عَلى الله الجَنَّةَ

Dari Abu Harairah ra., saya mendengar Rasulullah saww. bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka aku menjamin kepadanya dimasukkan surga oleh Allah”. (Kitab Tanqihul Qaul)

فقيه واحد متورع أشد على الشيطان من ألف عابد مجتهد جاهل ورع :وقال صلى الله عليه و

Nabi SAW bersabda : “Seorang alim fiqih yang perwira (wara’) adalah lebih berat bagi syaitan daripada seribu orang ahli ibadah yang tekun yang bodoh lagi perwira.” (Kitab Tanqihul Qaul)

Sungguh hina apabila kita menemukan orang-orang yang membenci ulama. Hal ini menyedihkan karena merupakan pelecehan terhadap agama. Sebab, agama senantiasa diperjuangkan oleh ilmu-ilmu yang disyiarkan oleh ulama. Lantas apabila ada orang yang menghinakan ulama itu berarti ia sungguh-sungguh telah melecehkan agama. Bukan hanya itu, orang yang melecehkan ulama seolah sedang menentang Nabi SAW. Sebab Nabi SAW jelas-jelas memerintahkan kita selaku umatnya agar memuliakan ulama, bukan malah menghinakannya. Naudzubillah. Semoga kita dijadikan orang-orang yang selalu dekat dengan ulama. Mencintai dan memuliakannya dengan penuh keikhlasan. Serta dijadikan orang yang senantiasa tidak bosan untuk mengambil ilmu dari mereka. Agar kita menjadi orang-orang yang diangkat derajatnya dan didekatkan dengan Allah SWT.

Mari kita mencintai para ulama, sebab para ulama adalh warasatul anbiya…

Hujjatul islam imam Ghozali ra bukanlah dari keturunan ulama, tetapi orang tuanya yang sangat ta’dzim, mahabbah, wa takrimah kepada ulama dan berdoa kepada Allah, semoga anaknya menjadi ulama, dan alhamdulillah anak2nya menjdi ulama yang terkenal sangat alim.

Semoga kelak keturunan kita menjadi ulama yang istiqomah, bertaqwa, waroi, tawdhu, roja, khauf, mahabbah kepada allah. Amin…..

Ulama Pewaris Nabi

Rasulullah bersabda

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud)

Rasulullah bersabda

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّو

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Periwayat Terbayak Sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadits ialah:

Abu Hurairah 5374 hadits, Ibnu Umar 2630 hadits, Anas bin Malik 2286 hadits, Aisyah 2210 hadits, Ibnu ‘Abbas 1660 hadits, Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits, Abu Sa’id Al-Khudri 1170 hadist, Ibnu Mas’ud 848 hadits, Ibnu ‘Amr bin Ash 700 hadits, Abu Dzarr Al- Ghifari 281 hadits, Abu Darda’ 179 hadits (Talqih fahum ahli al-atsar karya Ibn Jauzi)

Nabi bersabda

 خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)

Imam Malik rohimahullah telah berkata :

 كُلُّ خَيْرٍ فِي إتِباَعِ مَنْ سَلَف وَ كُلُّ شَرٍّ فِي إبْتِداَعِ مَنْ خَلَفِ

“Setiap kebaikan adalah apa-apa yang mengikuti para pendahulu (salaf), dan setiap kejelekan adalah apa-apa yang diada-adakan orang kemudian (kholaf)” dan “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali kembali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama”.

Rasulullah bersabda

“Akan senantiasa ada di antara ummatku sekelompok orang yang tampil membela kebenaran, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka sehingga datang (hari Kiamat) ketetapan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Hadits Muslim)

Permasalahannya umat Islam banyak pula yang merasa lebih pandai dan mengabaikan nasehat para ulama.alias meninggalkan para ulama

Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al‐Bantani Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya, Nasha‐ihul Ibad fi bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi Li Yaumil Ma’adi membawakan sepotong hadits tentang larangan meninggalkan para ulama

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِمُ اللهُ تَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ: اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَانٍ

“Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha’, maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, iaitu

  1. Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari rizki (usaha) mereka,
  2. Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan
  3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman

Dekat dengan Ulama dan Patuh terhadap Hukama

عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء فإنّ الله تعالى يحي القلب الميت بنور الحكمة كما يحي الأرض الميتة بماء المطر

“Hendaklah kalian berkumpul dengan para ulama’ dan mendengarkan perkataan hukama’, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.”

Hikmah adalah suatu ilmu yang bermanfaat, sedangkan hukama’ adalah para ahli hikmah. Berdasarkan hadist ini, hukama’ adalah ahli hikmah yang mengetahui Dzat Allah, senantiasa berada dalam kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Adapun ulama adalah orang alim (shaleh) yang mengamalkan ilmunya.

Ath-Thabrani juga telah meriwayatkan dari Abu Hanifah sebagai berikut:

جالسواالكبراء وسائلواالعلماء وخالطواالحكماء

“Hendaklah kalian berkumpul (bergaul) dengan para kubara’, dan bertanyalah kepada para ulama’ serta dekatlah kalian dengan para hukama’.”

Dalam riwayat yang lain:

جالس العلماء وصاحب الحكماء وخالط الكبراء

“Hendaklah kamu berkumpul dengan para ulama, bersahabat dengan para hukama’ dan dekat dengan para kubara’.”

Mengenai bertanya kepada para ulama’, hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (Al-Anbiya: 7)

Dan mengenai berkumpul bersama para ulama atau hukama, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Ulama dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu: a. Ulama’, yaitu orang yang ‘alim (pengetahuannya luas) tentang hukum-hukum Allah dan mereka itu berhak memberikan petunjuk (nasihat).

  1. Hukama’ adalah orang-orang yang mengetahui Dzat Allah SWT. Dekat dengan mereka dapat membuat watak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Dzat Allah lebih dekat lagi dan rahasia-rahasia yang lain) dan dari jiwa mereka terpantul sinar keagungan Ilahi.
  2. Kubara’, yaitu orang-orang yang dianugerahi makrifat terhadap hukum-hukum Allah dan terhadap Dzat Allah.

Berkumpul dengan orang yang ‘alim (mengetahui tentang Allah) dapat mendidik tingkah laku menjadi lebih baik. Hal ini tidak lain karena pengaruh kebiasaan-kebiasaan mereka yang tentunya lebih baik daripada lisan. Jadi, kebiasaan seseorang yang dapat bermanfaat bagimu, tentu akan bermanfaat pula ucapannya. Begitu juga sebaliknya.

As-Sahwardi pernah meninjau ke sebagian masjid Al-Khaif di mina seraya memandangi wajah orang-orang yang berada di dalamnya. Lalu beliau ditanya oleh seseorang (yang berada disana), “Mengapa tuan memandang wajah-wajah orang itu?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan beberapa orang yang apabila memandang kepada orang lain maka orang yang dipandangnya itu akan merasa damai (bahagia) dan saya pun sedang mencari orang yang seperti itu.”

Hal ini sebagaimana Rasulullah saw. telah bersabda,

سيأتي زمان على أمتي يفرّون من العلماء والفقهاء فيبتليهم الله بثلاث بليّات ألاها يرفع الله البركة من كسبهم والثانية يسلّط الله تعالى صلطانا ظالما والثالثة يخرجون من الدنيا بغير إيمان

“Akan datang suatu masa pada umatku, mereka lari (jauh) dari ulama’ dan fuqaha’ (orang-orang yang paham mengenai agama), maka Allah akan menurunkan tiga macam adzab kepada mereka; Pertama, Allah mencabut keberkahan dari usaha mereka. Kedua, Allah memberikan kekuasaan kepada pemimpin yang kejam (di dunia). Ketiga, mereka keluar dari dunia ini (mati) tanpa membawa iman.

WALLOHU ‘ALAM BIS SHOWAB

Nasha-ihul Ibad karangan Syaikh Nawawi al-Bantani

KEISTIMEWAAN KETIKA MANUSIA DIAM TIDAK BANYAK BICARA

Islam mengajarkan agar setiap orang untuk tidak banyak bicara dan seandainya berbicara, hanya berbicara tentang perihal yang benar dan baik-baik saja. Diam sepertinya satu hal yang sederhana, namun untuk merealisasikannya tidak mudah. Sikap tenang dan mengamati lalu berbicara menurut kadar yang cukup sering kali menjadi kunci sukses dari keadaan seseorang terhadap suatu keadaan yang terjadi dan berlangsung disekitarnya, dan tentunya berbicaira yang bermanfaat dan pada tempatnya adalah mutiara.

Berkata sebahagian para ulama, bahwasanya pada diam itu ada tujuh ribU kebaikan, dan tujuh ribu kebaikan itu terkumpul pada tujuh kalimat, pada tiap-tiap dari tujuh kalimat ini mengandung seribu kebaikan.

 أولها أن الصمت عبادة غير أولها أن الصمت راحة غير عناء

Pertama:

Merupakan Ibadah tanpa harus kerja keras atau berusaha.

 والثاني زينة من غير حلي

Kedua:

Merupakan hiasan diri tanpa perhiasan

 والثالث هيبة من غير سلطان

Ketiga:

Wibawa tanpa kekuasaan

 والرابع حصن من غير حافظ

Keempat:

Benteng tanpa dinding (selalu terkawal tanpa perlu pengawal atau penjaga )

 والخامس استغناء عن الاعتذار إلى الناس

Kelima:

Tidak perlu meminta maaf kepada siapapun yang disebabkan oleh perkataan

 والسادس إراحة الكرام الكاتبين

Keenam:

Malaikat pencatat amal menjadi rehat dan tidak lelah

 والسابع ستر لعيوبه

Ketujuh:

Penutup keburukan dan sisi-sisi kejahiliyahan dan kekurangan diri

Diam adalah ciri khas dari orang berilmu, dengan diam, kita mendapatkan kekuatan hebat untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang terjadi di sekeliling, serta dapat konsentrasi dengan penuh tentang rasionalitas suatu jawaban.

Diam adalah kesempatan untuk menilai kehidupan, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kesempatan untuk istirahat, diam adalah kekuatan yang besar, dengan diam kita telah menguasai orang-orang yang ada di hadapan kita melalui pandangan. Diam bisa menjadi solusi paling jitu dalam menghadapi berbagai problema rumah tangga ringan yang bertumpuk-tumpuk. Di saat-saat genting, diam dapat melahirkan sikap dihormati, sebaliknya, perlawanan dan perdebatan dapat melahirkan sikap semakin menjauh dan dendam. Dengan diam, kita telah menghancurkan berbagai senjata musuh. Diam telah menjadi guru yang baik agar kita belajar menjadi pendengar yang baik, di mana banyak orang telah kehilangan sifat ini. Keselamatan manusia terletak pada bagaimana dia menjaga lidahnya.

Demikianlah 7 manfaat dari diam yang kami kutib dari kitab “Muraqi Ubudiyyah” karangan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jaawi.

KLIK DI SINI UNTUK MENONTON VIDEO YANG BERKAITAN DENGAN MATERI INI BERSAMA KH. ZUHRUL ANAM (GUS ANAM)

Wallahua’lam.

BEBERAPA KEMULIAAN ORANG YANG DUDUK BERSAMA AHLI ILMU

Ada banyak kelebihan bagi seorang yang menuntut ilmu pengetahuan agama. Bahkan kelebihan dalam menuntut ilmu tak hanya di dapatkan oleh penuntut ilmu agama saja, melainkan juga didapatkan oleh seseorang yang duduk di dekat penuntut ilmu agama.

Di dalam kitab Bujairimi ‘Alal khatib disebutkan, bahwa seseorang yang duduk disisi orang alim, sedangkan dia tidak mampu menghafal ilmu darinya, maka baginya itu mendapatkan 7 macam karamah.

  1. Mendapati kelebihan orang-orang yang belajar.

Meskipun ia hanya duduk disamping seorang yang alim, dan tidak belajar darinya, namun dia tetap dikatakan sebagai seseorang yang belajar dan mendapatkan kelebihan-kelebihan orang-orang yang sedang belajar.

  1. Tercegah dari segala macam dosa selama duduk disisi orang alim tersebut.

Setiap manusia pasti melakukan dosa dalam kehidupannya. Dosa tersebut ada yang dosa kecil maupun dosa yang besar. Bahkan, tidak mengingat Allah juga merupakan dosa bagi orang-orang tertentu seperti para Nabi dan Rasul. Nah, kalau kita mau duduk disisi orang alim, maka akan terhalang dari kemungkinan berbuatnya dosa.

  1. Apabila keluar dari tempat itu untuk mencari ilmu, maka akan turun rahmat kepadanya.

Dalam setiap gerak langkahnya, ia juga akan mendapatkan rahmat, yaitu ketika berangkat dari tempat duduknya bersama orang alim tersebut untuk mencari ilmu pengetahuan.

  1. Apabila duduk di halaqah ilmu, dan turun rahmat kepada mereka, maka dia juga mendapatkan bagian rahmat itu.

Rahmat yang turun kepada majlis yang mencari ilmu, juga akan turun kepadanya, meskipun dia tidak sedang belajar, hanya duduk saja.

  1. Selama ia mendengar, dituliskan sedang mengerjakan perbuatan taat baginya.

Yang terpenting, ia harus selalu mendengar apapun ilmu pengetahuan yang mungkin disampaikan oleh seorang alim tersebut. Karna hanya mendengar saja, itu telah tercatat sebagai perbuatan taat baginya.

  1. Apabila ia mendengar, namun berkecil hati karna tidak memahaminya, maka jadilah kesedihan hatinya itu sebagai perantara kepada hadirat Allah swt.

ketika tidak memahami pelajaran yang disampaikan, Allah ta’ala tidak meninggalkan kita. Allah akan memberikan kelebihan kepada orang-orang yang bersedih ketika tidak mampu memahami pelajaran. Kesedihan di hatinya akan menjadi perantara bagi dirinya kepada hadirat Allah swt.

  1. Dia akan menyadari bahwa orang-orang muslim akan memuliakan orang alim dan orang-orang muslim akan mencela orang fasiq. Karenanya, hatinya akan condong kepada ilmu dan menjauhi kefasiqan.

NASIHAT- NASIHAT MULIA UNTUK HAMBA ALLOH SWT.

Alhamdulillah, kita bisa mengkaji kitab yang sangat populer karangan  Al Alim Alamah Syaikhina Nawawi Al Bantany. Semoga dengaN sajian Kitab Kuning Nashoihul Ibad Versi Terjemahan ini bisa dirasakan semua kalangan, Khususnya umat Islam. Amin Yaa Robbal ‘alamin.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah nafa’ana Alloh Fi ‘ulumihi Fiddaroini, Amin.

Maqolah 1

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim). Baik degan ucapan atau kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan badannya.

RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala hajji yang mabrur).

Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).

Baik membahayakan atas badannya, atau hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.

Maqolah 2

Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan kalam para ahli hikmah) artinya orang yang mengenal Tuhan.

(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para ‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua macam, 1. orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa, dan 2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka itulah para hukama’ yang dengan bergaul dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak, karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr / rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur keagungan Allah. Telah bersabda Nabi SAW, akan hadir suatu masa atas umatku, mereka menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka dengan tiga cobaan, 1. Allah akan menghilangkan berkah dari rizkinya. 2. Allah akan mengirim kepada mereka penguasa yang zalim 3. Mereka akan keluar meninggalkan dunia tanpa membawa iman kepada Allah Ta’ala Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Maqolah 3

Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan se tenggelam-tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang meminta pertolongan.

Maqolah 4

Dari ‘Umar RA, -dinukilkan dari Syaikh Abdul Mu’thy As-sulamy, sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Jibril AS, ‘Beritahukan kepadaku sifat kebaikan sahabat ‘Umar’. Maka Jibril menjawab, ‘Jika saja lautan dijadikan tinta dan tumbuh-tumbuhan dijadikan pena niscaya tidak akan uckup melukiskan sifat kebaikannya. Kemudian Nabi bersabda, beritahukan kepadaku kebaikan sifat Abu Bakar,”. Maka Jibril menjawab, ”’Umar hanyalah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar RA.

‘Umar RA berkata, (kemuliaan dunia dengan banyaknya harta. Dan kemuliaan akhirat adalah dengan bagusnya amal). Maksudnya, urusan dunia tidak akan lancar dan sukses kecuali dengan dukungan harta benda. Demikian pula perkara akhirat tidak akan menjadi sempuran kecuali dengan amal perbuatan yang baik.

Maqolah 5

Dari ‘Utsman RA. (menyusahi dunia akan menggelapkan hati. Dan menyusahi akhirat akan menerangkan hati). Artinya, menyusahi urusan yang berhubungan dengan urusan dunia maka akan menjadikan hati menjadi gelap. Dan menyusahi perkara yang berhubungan dengan urusan akhirat akan menjadaikan hati menjadi terang. Yaa Allah jangan jadikan dunia sebesar-besar perkara yang kami susahi, dan bukan pula puncak ilmu kami.

Maqolah 6

Dari ‘Aly RA wa KarramaLlaahu Wajhah. (Barang siapa yang mencari ilmu maka surgalah sesungguhnya yang ia cari. Dan barang siapa yang emncari ma;siyat maka sesungguhnya nerakalah yang ia cari) Artinya barang siapa yang menyibukkan diri denagn mencari ilmu yang bermanfaat, yang mana tidak boleh tidak bagi orang yang aqil baligh untuk mengetahuinya maka pada hakekatnya ia mencari surga dan mencari ridho Allah SWT. Dan barang siapa yang menginginkan ma’siyat, maka pada hakekatnya nerakalah yang ia cari, dan kemarahan Allah Ta’ala.

Maqolah 7

Dari Yahya bin Muadz RA. (Tidak akan durhaka kepada Allah orang-orang yang mulia) yaitu orang yang baik tingkah lakunya Yaitu mereka yang memuliakan dirinya dengan menghiasinya dengan taqwa dan menjaga diri dari ma’siyat. (Dan tidak akan memilih dunia dari pada akhirat orang-orang yang bijaksana) Artinya orang bijak / hakiim tidak akan mendahulukan atau mengutamakan urusan dunia dari pada urusan akhirat. Adapun orang hakiim adalah orang yang mencegah dirinya dari pada bertentangan dengan kebenaran akal sehatnya.

Maqolah 8

Dari A’Masy, naam lengkapnya adalah Abu Sulaiman bin Mahran AL-Kuufy RA. (Barang siapa yang bermodalkan taqwa, maka kelulah lidah untuk menyebutkan sifat keberuntungannya dan barang siapa yang bermodalkan dunia, maka kelulah lidah untuk menyebut sebagai kerugian dalam hal agamanya). Artinya barang siapa yang bermodalkan taqwa dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dimana dasar dari amal perbuatannya adalah selalu bersesuaian dengan syari’at, maka baginya pasti mendapatkan kebaikan yang sangat besar tanpa dapat dihitung dalam hal kebaikan yang diperolehnya.

Dan kebalikannya barang siapa yang perbuatannya selalu berseberangan dengan hukum syari’at, maka baginya kerugian yang sangat besar bahkan lidahpun sampai tidak dapat menyebutkannya.

Maqolah 9

Diriwayatkan dari Sufyan Atsauri, beliau adalah guru dari Imam Malik RA. ( Setiap ma’siyat yang timbul dari dorongan syahwat yaitu keinginan yangteramat sangat akan sesuatu maka dapat diharapkan akan mendapat ampunanNya. Dan setiyap ma’siyat yang timbul dari takabur atau sombong yaitu mendakwakan diri lebih utama atau mulia dari yang lain , maka maksiyat yang demikian ini tidak dapat diharapkan akan mendapat ampunan dari Allah). Karena maksiyat iblis berasal dari ketakaburannya yang tidak mau hormat kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah dimana ia menganggap dirinya lebih mula dari Nabi Adam AS yang diciptakan dari tanah sedangkan ia/iblis diciptakan dari api. Dan sesungguhnya kesalahan Nabi

Adam AS adalah karena keinginannya yang teramat sangat untuk memakan buah yang dilarang oleh Allah untuk memakannya.

Maqolah 10

Dari sebagian ahli zuhud yaitu mereka yang menghinakan kenikmatan dunia dan tidak peduli dengan nya akan tetapi mereka mengambil dunia sekedar dharurah/darurat sesuai kebutuhan minimumnya. (Barang siapa yang melakukan perbuatan dosa dengan tertawa bangga, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis- karena seharusnya ia menyesal dan memohon ampunan kepada Allah bukannya berbangga hati. Dan barang siapa yang ta’at kepada Allah dengan menangis- karena malu kepada Allah dan Takut kepadaNya karena merasa banyak kekurangan dalam hal ta’at kepaadNya Maka Allah akan memasukkanNya ke dalam surga dalam keadaan tertawa gembira. ) dengan sebenar-benar gembira karena mendapatkan apa yang menjadi tujuannya selama ini yaitu ampunan dari Allah.

Maqolah 11 Maqolah ke sebelas : dari sebagian ahli hikmah / Aulia’ (Janganlah kamu menyepelekan dosa yang kecil) kerana dengan selalu menjalankannya maka lama kelamaa akan tumbuhlah ia menjadi dosa besar. Bahkan terkadang murka Tuhan itu ada pada dosa yang kecil-kecil.

Maqolah 12

Dari Nabi SAW : (Tidaklah termasuk dosa kecil apabila dilakukan secara terus menerus) karena dengan dilakukan secara terus menerus, maka akan menjadi besarlah ia. (Dan tidaklah termasuk dosa besar apabila disertai dengan taubat dan istighfar) Yaitu taubat dengan syarat-syaratnya. Karena sesungguhnya taubat dapat menghapus bekas-bekas dosa yang dilakukan meskipun yang dilakukan tersebut dosa besar. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-dailamy dari Ibni Abbas RA.

Maqolah 13

(Keinginan orang arifiin adalah memujiNya) maksudnya keinginan orang ahli ma’rifat adalah memuji Allah Ta’ala dengan keindahan sifat-sifatnya. (dan keinginan orang-orang zuhud adalah do’a kepadaNya) yaitu permintaan kepaad Allah sekedar hajat kebutuhannya dari du nia dengan segenap hatinya, dimana yang dimaksud do’a adalah meminta dengan merendahkan diri kepadaNya dengan memohon diberi kebaikan kepadanya. (Karena keinginan orang arif/ ahli ma’rifat dari Tuhannya bukanlah pahala ataupun surga) sedangkan keinginan orang zuhud adalah untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu untuk kemanfatan dirinya dari pahala dan surga yang didapatkannya. Maka demikianleh perbedaan orang yang keinginan hatinya mendapatkan bidadarii dan orang yang cita-citanya adalah keterbukaab hatinya.

Maqolah 14

(diriwayatkan dari sebagian hukama’) yaitu orang yang ahli mengobati jiwa manusia, dan mereka itulah para wali Allah. -(Barang siapa yang menganggap ada pelindung yang lebih utama dari Allah maka sangat sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah) Maknanya adalah barang siapa yang menganggap ada penolong yang lebih dekat daripada pertolongan Allah, maka maka sesungguhnya dia belul mengenal Allah. (Danbarang siapa yang menganggap ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya sendiri, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya tentang nafsunya) Artinya adalah brang siapa yang berperasangka ada musuh yang lebih kuat dari pada hawa nafsunya yang selalu mengajak kepada kejahatan, maka sedikitlah ma’rifatnya/pengetahuannya akan hawa nafsunya sendiri.

Maqolah 15

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menafsiri firman Allah Ta’ala, “Sungguh telah nyatalah kerusakan baik di daratan maupun di lautan, maka beliau memberikan tafsirannya (Yang dimaksud Al-Barr/daratan adalah lisan.

Sedangkan yang dimaksud Al-Bahr / lautan adalah hati). Apabila lisan telah rusak dikarenakan mengumpat misalnya, maka akan menangislah diri seseorang / anak cucu adam. Akan tetapi apabila hati yang rusak disebabkan karena riya’ misalnya, maka akan menangislah malaikat. Dan diperumpamakan hati/qalb dengan lautan adalah dikarenkan sangat dalmnya hati itu.

Maqolah 16

(Dikatakan, karena syahwat maka seorang raja berubah menjadi hamba sahaya/budak) karena sesungguhnya barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akna menjadi hamba dari sesuatu yang dicintainya. (dan sabar akan membuat seorang hamba sahaya berumab menjadi seorang raja) karena seoang hamba dengan kesabarannya akan memperoleh apa yang ia inginkan. (apakah belum kita ketahui kisah seorang hamba yang mulia putra seorang yang mulia, putera seorang yang mulia Sayyidina Yusuf AS Ash-Shiddiq, putera Ya’qub yang penyabar, putera Ishaq yang penyayang, putera Ibrahim Al-Khalil AS dengan Zulaikha. Sesungguhnya ia zulaikha sangat cinta kepada Sayyidina Yusuf AS dan Sayyidina Yusuf bersabar dengan tipudayanya.

Maqolah 17

(Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin) dengan mengikuti petunjuk akalnya yang sempurna (sedangkan hawa nafsunya menjadi tahanan) (dan celakalah bagi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai penguasanya, dengan melepaskannya dalam menuruti apa yang di inginkannya, sedangkan akalnya menjadi hambanya yaitu akal tersebut terhalang untuk memikirkan ni’mat Allah dan keagungan ALlah).

Maqolah 18

(Barang siapa yang meninggalkan perbuatan dosa, maka akan lembutlah hatinya), maka hati tersebut akan senang menerima nasihat dan ia khusyu’/memperhatikan akan nasihat tersebut. (Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang haram) baik dalam hal makanan, pakaian dan yang lainnya (dan ia memakan sesuatu yang halal maka akan jerniglah pikirannya) didalam bertafakur tentang semua ciptaan Allah yang menjadi petunjuk akan adanya Allah Ta’ala yang menghidupkan segala sesuatu setelah kematiannya demikian pula menjadi petunjuk akan keEsaan Allah dan kekuasaanNya dan ilmuNya. Dan yang demikian ini terjadi apabila ia mempergunakan fikirannya dan melatih akalnya bahwa Allah SubhanaHu Wata’ala yang menciptakan dia dari nuthfah di dalam rahim, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemujdian Allah menjadikan tulang dan daging dan urat syaraf serta menciptakan anggota badan baginya. Kemudian Alah memberinya pendengaran, penglihatan dan semua anggota badan, kemudian Allah memudahkannya keluar sebagai janian dari dalam rahim ibunya, dan memberinya ilham untuk menyusu ibunya, dan Allah menjadikannya pada awwal kejadian dengan tanpa gigi gerigi kemudian Allah menumbuhkan gigi tersebut untuknya, kemudian Allah menanggalkan gigi tersebut pada usia 7 tahun kemudian Allah menumbuhkan kembali gigi tersebut. Kemudian Allah menjadikan keadaan hambanya selalu berubah dari kecil kemudian tumbuh menjadi besar dan dari muda berubah menjadi tua renta dan dari keadaan sehat berubah menjadi sakit. Kemudian Alah menjadikan bagi hambaNya pada setiap hari mengalami tidur dan jaga demikian pula rambutnya dan kuku-kukunya manakala ia tanggal maka akan tumbuh lagi seperti semula.

Demikian pula malam dan siang yang selalu bergantian, apabila hilang yang satu maka akan disusul dengan timbulnya yang lain. Demikian pula dengan adanya matahari, rembulan, bintang-bintang dan awan dan hujan yang semuanya datang dan pergi. Demikian pula bertafakur tentang rembulan yang berkurang pada setiap malamnya, kemudian menjadi purnama, kemudian berkurang kembali. Seperti itu pula pada gerhana matahari dan rembulan ketika hilang cahayanya keudian cahaya itu kembali lagi. Kemudian berfikir tentang bumi yang

gersang lagi tandus maka Allah menumbuhkannya dengan berbagai macam tanaman, kemudian Allah menghilangkan lagi tanaman tersebut kemudian menumbuhkannya kembali. Maka kita akan dapat berkesimpulan bahwa Allah Dzat yang mampu berbuat yang sedemikian ini tentu mampu untuk menghidupkan sesuatu yang telah mati. Maka wajib bagi hamba untuk selalu bertafakur pada hal yang demikian sehingga menjadi kuatlah imannya akan hari kebangkitan setelah kematian, dan pula ia mengetahui bahwa Allah pasti membangkitkannya da membalas segala amal perbuatannya. Maka dengan seberapa imannya dari hal yang demikian yang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakan ta’at atau menjauhi ma’siyat.

Maqolah 19

Telah diwahyukan kepada sebagian Nabi ( Ta’atlah kepadaKu akan apa yang Aku perintahkan dan janganlah bermaksiyat kepadaku dari apa yang Aku nasehatkan kepadamu). Artinya dari nasihat yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dan dengan apa yang dilarang maka seorang hamba akan tehindar dari kerusakan.

Maqolah 20

(Dikatakan sesungguhnya kesempurnaan akal adalah mengikuti apa yang diridhai Allah dan meninggalkan apa yang dimurkai Allah). artinya apa saja yang tidak seperti konsep di atas adalah kegilaan / tak berakal.

Maqolah 21

(Tidak ada keterasingan bagi orang yang mulia akhlaknya, dan tidak ada tempat yang terhormat bagi orang-orang yang bodoh ). Artinya seseorang yang bersifat memiliki ilmu dan amal maka sesungguhnyania akan dihormati diantarea manusia di mana saja berada. Oleh karena itu di mana saja berada layaknya mereka seperti di negeri sendiri dan dihormati. Sebaliknya orang yang bodoh adalah kebalikannya meskipun di negeri sendiri mereka merasa asing.

Maqolah 22

Barang siapa yang baik dalam keta’atannya kepada Allah maka dia akan terasing diantara manusia). Artinya orang yang merasa cukup dengan menyibukkan seluruh waktunya untuk ta’at kepadan Allah maka ia akan terasing diantara manusia.

Maqolah 23

(Dikatakan bahwa gerakan badan melakukan keta’atan kepada ALlah adalah petunjuk tentang kema’rifatan seseorang sebagaimana gerakan anggota badan menunjukkan / sebagai dalil adanya kehidupan di dalamnya). Artinya, bahwa ekspresi ketaatan serang hamba dalam menjalankan perintah Allah maka yang demikian itu adalah petunjuk /a dalil kema’rifatannya kepada ALlah. Apabila banyak amal ta’at maka menunjukkan bahwa banyak pula ma’rifatnya kepada Allah dan apabila sedikit ta’at, maka menunjukkan pula sedikit ma’rifat, karena sesungguhnya apa yang lahir merupakan cermin dari apa yang ada di dalam bathin.

Maqolah 24

Nabi SAW bersabda, (Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia,) dan yang dimaksud dari dumia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan. (Dan sumber segala fitnah adalah mencegah / tidak mau mengeluarkan sepersepuluh dan tidak mau mengeluarkan zakat).

Maqolah 25

(Mengaku merasa kekurangan dalam melakukan ta’at adalah selamanya terpuji dan mengakui akan kekurangan / kelemahan dalam melakukan ta’at adalah tanda-tangda diteimanya amal tersebut) karena dengan demikian menunjukkan tidak adanya ujub dan takabur di dalamnya.

Maqolah 26

(Kufur ni’mah adalah tercela) maksudnya adalah dengan tidak adanya syukur ni’mat menunjukkan rendahnya nafsu. (dan berteman dengan orang bodoh) yaitu orang yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya padahal ia mengetahui akan keburukan sesuatu tersebut. (adalah keburukan) yaitu tidak membawa berkah . Oleh karena itu janganlah berteman dengannya disebabkan karena buruknya akhlak / keadaan tingkah lakunya karena sesungguhnya tabi’at itu dapat menular.

Maqolah 27

Disebutkan dalam syair….Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamkan mereka Bukankah mereka selalu dalam keadaan lupa – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka Sesungguhnya kematian datangnya mendadak Dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.

Addailamy meriwayatkan hadits dari RasuluLlah SAW yang bersabda, “Meninggalkan kenikmatan dunia lebih pahit dari pada sabar, dan lebih berat daripada memukulkan pedang di jalan Allah. Dan tiada sekali-kali orang mahu meninggalkan kenikmatan dunia melainkan Allah akan memberi sesuatu seperti yang diberikan kepadapara Syuhada’. Dan meninggalkan kenikmatan dnia adalah dengan menyedikitkan makan dan kekenyangan, dan membenci pujian manusia karena sesungguhnya orang yang suka di puji oleh manusia adalah termasuk mencintai dunia dan kenikmatannya. Dan barang siapa menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya maka hendaklah ia meninggalkan kenikmatan dunia dan pujian dari manusia”.

Dan Ibnu Majah telah meriwayatkan sesungguhnya RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang niatnya adalah untuk akhirat, niscaya Allah akan mengumpulkan kekuatan baginya dan Allah membuat hatinya menjadi kaya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa yang niatnya dunia maka Allah akan menceraiberaikan segala urusannya, dan Allah menjadikan kefakiran di depan kedua belah matanya dan tiadalah dunia akan mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya”.

Maqolah 28

Dari Aby Bakr Asy-Syibly RahimahuLlahu Ta’ala, Beliau tinggal di Baghdad, berkawan dengan Syaikh Abul Qasim Junaidy Al-Baghdady bahkan menjadi murid beliau, dan beliau hidup hingga usia 87 tahun, wafat pada tahun 334 H dan dimakamkan di Baghdad. Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘arif biLlah. Beliau berkata di dalam munajatnya :

Wahai Tuhanku…

Sesungguhnya aku senang

Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku

Sementara aku sangat faqir dan lemah

Oleh karena itu wahai Tuhanku,

Bagaimana Engkau tidak senang

Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku

Sementara Engkau Maha Kaya

Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu

Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu

Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca setelah melaksanakan shalat Jum’at 7 kali dari bait syair sebagai berikut:

Ilahy lastu lil firdausi ahla

Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi

Fahably zallaty wahfir dzunuuby

Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi

Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi

Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi

(Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Mmaka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat RasuluLlah SAW di dalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium Syaikh Abu Bakr As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mataAs-Syibly. Maka aku bertanya, ‘Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?’. RasuluLlah SAW menjawab,

‘benar, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca Laqad jaa a kum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim….setelah itu dia /As-Syibly mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi….

Maqolah 29

Telah berka Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab,’ Allah Ta’ala berfirman kepadaku,’Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?’

Maka aku menjawab, ‘Dengan amal baikku”.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan ikhlas dalam ubudiyahku ‘.

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab,’Dengan hajiku dan puasaku ?’

Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak’.

Aku menjawab, ‘Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.

Allah Ta’ala berfirman,’Tidak’.

Akupun bertanya, ‘Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“

Allah Ta’ala menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”

Aku menjawab, ‘Ya’.

Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, ‘Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu’.

Maqolah 30

Telah berkata Asy-Syibli, “Jika engkau telah merasakan nikmatnya pertemuan (wushlah – dekat dengan Allah SWT) niscaya engkau akan mengerti rasa pahitnya perpisahan (Qathi’ah-yaitu jauh dari Allah Ta’ala) . karena sesungguhnya berjauhan dari Allah SWT merupakan siksaan yang besar bagi AhluLlah ta’ala. Dan termasuk salah satu dari do’a SAW adalah ,”Allahummarzuqny ladzatan nadzari ilaa wajhiKal Kariim, wasyauqu ilaa liqaaiK”. (Yaa Allah berikanlah kepadaku kelezatan dalam memandang wajah-Mu yang Mulia dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu)

Maqolah 31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakanakan ia telah mengadukan Tuhannya. “. Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“. kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”. RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh. Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al- Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yangpertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 32. telah berkata Sayidina Aby Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara yang tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara lainnya. Artinya ada tiga perkara, dimana tiga perkara tersebut tidak akan dapat diperoleh dengan tiga perkara, yaitu yang pertama Kekayaan dengan hanya berangan-angan. Sesungguhnya kekayaan tidak dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan akan tetapi dengan pembagian dari Allah. yang ke dua Muda dengan bersemir. Maka tidak akan dapat diperoleh kemudaan usia hanya dengan menyemir rambut dan lain sebagainya. Yang ketiga, Kesehatan dengan obat-obatan.

Maqolah 32

Dari Abu Bakar As-Shidiq RA, “Tiga perkara tidak dapat di capai/didapatkan dengan tiga perkara lainnya : 1. Kekayaan dengan angan-angan. Artinya tidaklah kekayaan itu dapat diperoleh hanya dengan berangan-angan tanpa kerja nyata, dan pembagian dari Allah. 2. Muda usia dengan semir. Artinya tidaklah akan diperoleh keadaan menjadi muda hanya karena disemirnya rambut dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah bertambah usia (tua) tidaklah mungkin berubah menjadi muda kembali meskipun dengan rambut disemir atau yang lainnya. Dan umur akan terus berjalan hingga akhirnya habislah umur itu kembali menghadap sang Khaliq. 3. Dan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan. Artinya kesehatan tidak dapat diperoleh dengan

mengkonsumsi obat-obatan akan tetapi sesuai sunnah Allah harus dengan menjaga diri dengan makanan yang halal dan olah raga secara teratur serta rajin beribadah.

Maqolah 33

Dari Sahabat Umar RA, “bersikap kasih sayang dengan manusia adalah setengah dari sempurnanya aka”l. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Thabrani dan Baihaqi dari Jabir bin abdiLlah dari Naby SAW bersabda, “Berperilaku baik terhadap manusia adalah shadaqah”. Artinya berperilaku yang baik terhadap manusia melalui ucapan dan perbuatan pahalanya sama dengan orang yang bersedekah. Dan sebagian dari suritauladan Naby dalam bersikap baik dalam pergaulan adalah beliau tidak pernah mencela makanan dan menghardik pelayan dan tidak pernah memukul wanita termasuk isteri beliau. Dan yang lebih tepat untuk perilaku yang baik ini adalah meninggalkan kesenangan duniawi karena tuntutan agama. Dan rajn bertanya (kepada Ulama) adalah setengah dari ilmu. Karena ilmu akan dipeorleh apabila kita rajin bertanya terhadap segala sesuatu yang kita tidak tahu. Dan rajin bekerja adalah setengah dari penghidupan. Karena dengan rajin bekerja kita akan memperoleh rizki sebagai bekal untuk kelangsungan hidup kita.

Maqolah ke 37

Dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal :

  1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat.
  2. Bergaul dengan pergaulan yang baik.
  3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Maqolah ke 38

Dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah:

  1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
  2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.
  3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah karena Allah).

Adapun (tiga) yang merusakkan adalah:

  1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia).
  2. Hawa nafsu yang selalu diikuti.
  3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari hilangnya ni’mat itu).

Adapun yang meninggikan derajat adalah:

  1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal).
  2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan).
  3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap (yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang sedang lalai dalam ni’matnya tidur).

Adapun yang dapat menghapus dosa adalah :

  1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya).
  2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
  3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya di masjid yang sama).

Maqolah ke 39 :

قال جبریل علیھ السلام یا محمد عش ما شئت فئنك میت, وأحبب من شئت فئنك مفارقة, واعمل ما شئت فئنك مجزى بھ,

Jibril As berkata, “Ya Muhammad hiduplah sesuka engkau karena sesungguhnya engkau akan meninggal dunia. Dan cintailah orang yang engkau suka karena engkau pasti akan berpisah (disebabkan kematian). Dan beramalah sesuka engkau karena engkau akan di beri pahala atas amal itu.

Maqolah ke 40 :

قال النبي صل الھ علیھ وسلم : ثلاثة نفر یظلھم الله تحت ظل عرشھ یوم لاظل الا ظلھ. المتوضئ فى المكاره, والماشى الى المساجد فى الظلم, ومطعم الجائع.

Tiga golongan yang akan mendapatkan naungan الله di bawah naungan ‘arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. 1 orang yang berwudhu pada waktu yang sangat berat (dingin bersangatan). 2. orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan )untuk mengerjakan shalat berjama’ah). 3. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan.

Maqolah ke 41 :

قیل لابراھیم علیھ السلام, “لأي شیئ اتخذك الله خلیلا ؟ قال بثلاثت اشیاء : اخترت امر الله تعالى على أمر غیره, وما اھتممت بما تكفل الله لى وما تعیشت وما تغدیت الا مع الضیف

Ditanyakan kepada Nabi Ibrahim AS, “Dengan sehingga الله menjadikan engkau sebagai kekasih ?” Maka Ia menjawab, “Dengan tiga hal, Aku memilih melaksanakan perintah الله daripada perintah selain الله . Dan aku tidak bersedih hati atas apa yang telah الله tanggung untukku (dari rizki). Dan tidak sekali-kali aku makan malam atau makan pagi kecuali bersama-sama dengan tamu.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berjalan satu mil atau dua mil untuk mencari orang yang mau dijak makan bersamanya.

Maqolah ke 42 :

عن بعض الحكماء : ثلاثة اشیاء تفرج الغصص 1 ذكر الله تعالي, 2 ولقاء أولیائھ, 3 وكلام الحكماء

Diriwayatkan dari sebagian ahli hikmah (orang-orang yang pandai mengobati penyakit hati). Tiga perkara dapat menghilangkan kesusahan. 1 Dzikir kepada الله dengan lafadz apapun seperti banyak membaca kaliamat لاالھ الاالله dan kalimat لاحولولاقوةالابالله , atau dengan bermunajat kepada-Nya. 2 Bertemu kekasih / Aulia-Nya dari para ulama dan orang-orang saleh. 3 Mendengarkan kalam (nasihat) para hukama’ (orang yang menunjukkan kepada kebajikan dunia dan akhirat).

Maqolah ke 43

عن حسن البصرى رضي الله عنھ : من لا أدبلھ لاعلم لھ, ومن لاصبرلھ لادین لھ, ومن لاورع لھ لازلفى لھ.

Dari Hasan Al Bashri RA, Barang siapa yang tidak memiliki adab/etika (kepada الله dan kepada makhluk) maka tiadalah ilmu baginya. Barang siapa yang tidak memiliki kesabaran (karena menanggung bala’ dan menanggung disakiti oleh makhluk, dan atas beratnya menjahui maksiyat dan atas melaksanakan kewajiban), maka tiadalah agama baginya. Barang siapa yang tidak wara’ (dari yang haram dan syubhat) maka tidak ada pujian (martabat) baginya di hadapan الله dan tiada kedekatan baginya kepada الله

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

KALAM HIKMAH TENTANG SEBAIK-BAIKNYA MANUSIA DALAM KEHIDUPAN

Kalimah berikut ini adalah kalam hikmah yang sangat baik :

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ كَفَّ فَكَّهُ وَفَكَّ كَفَّهُ

Sebaik² manusia adalah orang yang bisa menahan mulutnya (yaitu menjaga ucapannya) dan membuka tangannya (yaitu ringan tangan dan suka membantu).

وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ فَكَّ فَكَّهُ وَكَفَّ كَفَّهُ

Sejelek² manusia adalah orang yang suka membuka mulutnya (yaitu tidak menjaga mulutnya) dan menahan tangannya (yaitu tidak suka menolong).

فَكَمْ مِنْ فَكَةِ كَفٍّ كَفَتْ فُكُوكَهُمْ

Betapa banyak orang yang membuka tangannya (suka menolong) menahan mulutnya (menjaga ucapannya)

وَكَمْ مِنْ كَفَةِ فَكٍّ فَكَتْ كُفُوفَهُمْ

Dan betapa banyak orang yang menahan tangannya (tidak suka menolong) membuka mulutnya (tidak menjaga ucapannya).

كَفُّوا فُكُوكَكُمْ وَفَكُّوا كُفُوْفَكُمْ

Tahanlah mulut² kalian (yaitu jagalah mulut kalian) dan bukalah tangan² kalian (yaitu suka menolong). Wallohu a’lam

DI BALIK KESEDERHANAAN ROSULULLOH SAW ADA HIKMAH YANG LUAR BIASA

Diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah Ibn ‘Abbas رضي الله تعالى عنهما , beliau berkata, Sayyidina Umar رضي الله تعالى عنه telah menceritakan, ketika beliau masuk kerumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم beliau menceritakan, “Ketika aku masuk ke rumah Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka aku melihat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم berada di atas tikarnya (yang terbuat dari pelepah kurma) maka aku duduk diatas hamparan sarung Rasulullah صلى الله عليه وسلم , tiada apapun di bawahnya, hanya tanah dibalik sarung tersebut, maka aku lihat lambung Rasulullah صلى الله عليه وسلم terdapat bekas hamparan tikar tempat beliau tidur, maka tiba2 aku pun terkejut, aku melihat ada segenggam/sekitar 1 sho’ gandum (tidak lebih) kemudian aku pun terkejut, hanya terdapat 1 kulit tempat mimum air Rasulullah yang digantungkan (teramat sangat sederhana). Maka tanpa kusadari kedua air mataku pun mengalir…”

Rasulullah pun melihatnya kemudian beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibn Khottob?”

Maka saya pun menjawab,“ Wahai Rasulallah, bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah memberikan bekas pada lambungmu wahai Rasulallah, Engkau tidak mempunyai harta apa-apa kecuali yang saya lihat. Sedangkan kita melihat bagaimana raja-raja, kaisar-kaisar yang hidup di istana mereka dikelilingi buah2an segar dan sungai2 jernih yang menyegarkan, sedangkan Engkau Nabi Allah, orang yang disucikan oleh Allah Ta’ala, hanya ini saja yang engkau miliki wahai Nabi Allah?”

Rasulullah pun berkata, “Wahai Ibn Khottob, tidakkah engkau ridha, jika nanti kita mendapat keni’matan di akhirat, sedangkan bagi mereka hanya di dunia saja. Mereka itulah kaum yang disegerakan oleh Allah Ta’ala keni’matannya hanya di dunia, keni’matan sementara, sedangkan kita adalah kaum yang ditunda keni’matan yang didapatkan kelak di akhirat.”

(Dinukil dari kitab wa saaili a-wushul ilaa syamaail al-rasul, fashl yang ke dua)

وعن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما قال حدثني عمر ابن الخطاب رضي الله عنه قال دخلت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على حصير قال فجلست فاذا عليه ازارو ليس عليه غيره واذا الحصير قداثر في جنبه واذا بقبضة من الشعير نحو الصاع واذا هاب معلق فابتدرت عيناي فقال ما يبكيك يا ابن الخطاب فقلت يا نبي الله ومالي لا ابكى وهذا الحصير قداثر في جنبك وهذه خزائنك لا ارى فيها الا ما ارى وذاك كسرى وقصير في الثمار والانهار وانت نبي الله وصفوته وهذه خزائنه قال يا ابن الخطاب اما ترضى ان تكون لنا الاخرة ولهم الدنيا اولئك قوم عجلت لهم طيباتهم وهي وشيكة الانقطاع وانا قوم اخرت لنا طيبتنا في اخرتنا

(وسائل الوصول الى شمائل الرسول، الفصل الثاني في صفة فراشه صلى الله عليه وسلم وما يناسبه، ص ٤٨ )

MUTIARA HIKMAH DARI IMAM SYAFI’I RA DAN SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANY RA

MUTIARA HIKMAH SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANY

Ia bertutur:

Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu:

(1) harus menjaga perintah-perintah Allah,

(2) harus menghindar dari segala yang haram,

(3) harus ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin, paling tidak, memiliki tiga hal ini. Berarti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan ini.

Ia bertutur :

Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid’ah, patuhilah

selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid

dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbatkan

sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu

sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran.

Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.

Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah

dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya.

Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu

Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang maupun

malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka

kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu

Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di

dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan

hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya

wanita, dengan karunia-karunia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para

shiddiq, para syahid, dan para shaleh di surga yang tinggi.

Ia bertutur:

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia

mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan

kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia

sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada

Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo’a kepada-Nya dengan

kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan

berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya,

maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya

dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo’a merendah diri,

memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha

Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo’a dan tak mengabulkannya, hingga ia

sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya

mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi,

segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha

Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat

haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan

dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan

segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia;

tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah,

tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan

dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan,

kecuali karena ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan,

dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke

keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya

sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya

dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat

sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau

mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat

ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat

kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha,

bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa

enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya;

makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia

bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan

termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka

segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Ia bertutur:

Bila kamu abaikan ciptaan, maka:

“Semoga Allah merahmatimu,” Allah melepaskanmu dari kedirian,

“Semoga Allah merahmatimu,” Ia mematikan kehendakmu; “Semoga

Allah merahmatimu,” maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).

Kini kau terkaruniai kehidupan

abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikaruniai kemudahan dan kebahagiaan

nan abadi, dirahmati,dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari

ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada

Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau

pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau

sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahasiakan.

Maka, kau menjadi pengganti para

Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang

masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan

sawah ladang terpaneni melalui do’amu; dan sirnalah melalui do’amu, segala

petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang

dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian

kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan

masyarakat.

Orang-orang bergegas-gegas

mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala

kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk

dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin

berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik

segala rahmat.

Ia bertutur:

Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian,

dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari

manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan

jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah,

membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan

mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi

kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang

berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan

semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga

akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan

menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun

termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam

dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh,

hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau

atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya.

Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru

namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan

busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah

mendahuluimu.

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada

dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air,

atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu

menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan

adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu,

padahal sebenarnya dari Allah.

Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya

telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru

dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah

bersabda: “Tiga hal yang kusenangi dari dunia – wewangian, wanita dan

shalat – yang pada mereka tersejukkan mataku.” Sungguh, hal-hal dinisbahkan

kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami

isyaratkan. Allah berfirman: “Aku bersama orang-orang yang patah hati demi

Aku.”

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila

kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah

menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau

berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka

Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini

Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih

maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan

Tuhan. Inilah makna firman Allah: ” Aku bersama orang-orang yang putus asa

demi Aku, ” Dan makna kata: “Kedirian masih maujud” ialah

kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam

sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: “Hamba-Ku yang

beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat

sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah

mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi

matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan

menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.” Tak dir agukan lagi, beginilah

keadaan fana.

Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke

dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat,

kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana

(penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa

beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak

Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari

badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan

kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.

Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang

Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka

sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak

bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para

malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari

kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral,

tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari

kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua

keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan

ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Ia bertutur:

Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada

Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa

perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan

segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu,

setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai

pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan.

Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan

berintim dengannya. Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah.

Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba

kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya.

Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu

kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia

dengan sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang

musyrik. Allah berfirman: “Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa)

dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak

menyekutukanNya.” (QS 18.Al Kahfi: 110)

Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan

menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik.

Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu

selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan

terlena. Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan

mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri. Maka, bila kau

berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada

orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari,

keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati

mereka. Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap

abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara.

Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan

orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan

dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: “Segala

yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih

baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha

Kuasa atas segala sesuatu.” (QS 2.Al Baqarah: 106)

Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap

ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal

ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang

diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid,

dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang

dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia

berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam

sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia

berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan

untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu

berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena, dengan begini, ada pengakuan

akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada

seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai

pusaka dari Adam as., ‘bapak’ manusia, dan pilihan Allah.

Berkatalah Adam a.s.: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami

sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami

akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. 7.Al-A’raaf: 23). Maka

turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan

tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu

Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa

bertaubat.

Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat

wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka

menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat

sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka, ikutilah

Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam,

pilihan-Nya – keduanya adalah kekasih Allah – dalam hal mengakui kesalahan dan

berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu’ dalam segala

keadaan kehidupan.

KALAM HIKMAH DARI IMAM ASY-SYAFI’I

Beit ini adalah kata-kata hikmah dari Imam syafi’i , ada yang mengatakan qoul nya sayyidina Ali karromallahu wajhahu.

ويقول فى الاسفار خمس فوائد:

تغرب عن الاوطان فى طلب العلى *** وسافر ففى الاسفارخمس فوائد

تفرج هم واكتساب معيشــــــــــــه *** وعلم واداب وصحبه ماجــــــد

Dalam kesempatan lainnya Imam Syafi’I juga menulis :

تغرب عن الأوطان تكتسب العلا وسافر ففي الأسفار خمس فوائد

تفريج هـمٍّ واكتسـاب معيشـة وعلـم وآداب وصحبـة مـاجد

فان قيل فـي الأسفار ذل وشدة وقطع الفيافي وارتكاب الشدائـد

فموت الفتى خير له من حيـاته بدار هوان بين واش وحـاسـد

“ Tinggalkan negaramu, niscaya engkau akan menjadi mulia, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah .

Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.

Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan,dan kekerasan, dan harus mlewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,

Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki. “

Para ulama-pun melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdullah yang menempuh perjalanan selama dua bulan dari Madinah menuju Mesir, hanya mencari satu hadits. Begitu juga yang dilakukan imam Syafi’I sendiri, yang berpindah dari tempat kelahirannya Palestina menuju Mekkah, kemudian dilanjutkan ke Iraq, kemudian ke Yaman, dan akhirnya ke Mesir hingga wafat beliau.

تَغَرَّبْ عَنِ الأَوْطَانِ فِيْ طَلَبِ العُلَى =وسافِرْ ففي الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِـدِ

تَفَرُّجُ هَـمٍّ، واكتِسَـابُ مَعِيْشَـةٍ =وَعِلْمٌ ، وآدابٌ، وصُحْبَـةُ مَاجِـدِ

فإن قيلَ في الأَسفـارِ ذُلٌّ ومِحْنَـةٌ =وَقَطْعُ الفيافي وارتكـاب الشَّدائِـدِ

فَمَوْتُ الفتـى خيْـرٌ له مِنْ قِيامِـهِ =بِدَارِ هَـوَانٍ بيـن واشٍ وَحَاسِـدِ

عالم السفر جميل جداً

يمنح السفر الإنسان لحظة يبتعد فيها عن مجريات العمل ومتاعب الحياة اليومية،

فالسفر له فوائد يجنيها الشخص ، يضاف إلى ذلك زيادة التعرف على الناس والإطلاع على حضارات الدول وثقافات الشعوب ، والأحرى أن يتوجه المرء عند وصوله إلى أي دولة إلى أقرب مكتبة يسأل عن أهم إصدارات كتاب تلك الدولة ، وسيتعرف من خلالها على تلك الدولة وشعبها .

ويحاول أن يطوف أرجاءها قاصداً مؤسساتها السياحية التي تحتوي بين جنبات تاريخها وحضارتها

إن المواقف التي تستمر في الذاكرة بعد السفر هي كيف استطاع أن يستغل وقته خلال الإجازة وأن يعطي نفسه قدراً من الحرية في ربوع تلك الدولة وتلك الأماكن ، ويسجل تلك اللحظات بعدسته للرجوع إليها ، حيث إن المناظر تعيده إلي تلك اللحظات التي تعمل علي إسعاده وإشعاره بالراحة .

ومن المعلوم أن السياحة في الأرض والتأمل في عجائب الدنيا عند السفر مما يزيد العبد المؤمن معرفة بالله جل وعلا، ويقيناً بأن لهذا الكون رباً ومدبراً يستحق العبادة وحده دون ما سواه، قال تعالى: { وفي الأرض آيات للموقنين } ( الذاريات:20)،

ويعتبر السفر من جملة حاجات الإنسان التي جاءت الشريعة بتنظيمها، فينبغي لمن أراد السفر أن يحافظ على هدي النبي صلى الله عليه وسلم، الذي جاءت السنة ببيانه:-

فقد كانت أسفاره صلى الله عليه وسلم دائرة بين أربعة أسفار:

سفر لهجرته، وسفر للجهاد، وسفر للعمرة وسفر للحج.

وكان عليه الصلاة السلام قبل أن يخرج يودع أهله وأصحابه، فعن ابن عمر رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يودعنا فيقول: ( أستودع الله دينك وأمانتك وخواتيم عملك ) رواه الترمذي ، وكان يوصيهم بتقوى الله في كل حين.

وكان صلى الله عليه وسلم يوصي أصحابه بالجماعة في السفر، وينهى عن الوحدة، فقال صلى الله عليه وسلم: ( لو يعلم الناس ما في الوحدة ما أعلم، ما سار راكب بليلٍ وحده ) رواه البخاري ، فعلى المسافر أن يصطحب معه رفيقاً يكون له عوناً على سفره، يرغبه في الخير ويبعده عن الشر، إن نسي ذكره، وإن تعب شد من أزره.

وكان صلى الله عليه وسلم يأمر أصحابه إذا خرجوا لسفر أن يجعلوا عليهم أميراً، حتى يكون رأيهم واحداً، ولا يقع بينهم الاختلاف، وكل ذلك حرصاً منه عليه الصلاة والسلام على لزوم الجماعة وتجنب أسباب الفرقة.

وكان يستحب – صلى الله عليه وسلم – الخروج يوم الخميس في أول النهار، فعن كعب بن مالك رضي الله عنه قال : ” لقلَّما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج إذا خرج في سفر إلا يوم الخميس ” رواه البخاري ، وكان عليه السلام يدعو الله تبارك وتعالى أن يبارك لأمته في بكورها.

وشرع رسول الله صلى الله عليه وسلم جملة من الأذكار والأدعية للمسافر:-

منها أنه إذا ركب على دابته، واستقر عليها قال: ( الحمد لله، سبحان الذي سخر لنا هذا وما كنا له مقرنين وإنا الى ربنا لمنقلبون، ثم يقول: الحمد لله، الحمد لله، الحمد لله، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، سبحانك إني ظلمت نفسي، فاغفر لي إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت ) رواه أبو داود ثم يقول: ( اللهم إنا نسألك في سفرنا هذا البر والتقوى، ومن العمل ما ترضى، اللهم هون علينا سفرنا هذا واطو عنا بعده، اللهم أنت الصاحب في السفر والخليفة في الأهل، اللهم إني أعوذ بك من وعثاء السفر، وكآبة المنظر، وسوء المنقلب، في المال والأهل ) رواه مسلم

ومما ورد عنه من الأذكار أثناء المسير أنه كان صلى الله عليه وسلم إذا علا شرفاً – وهو المكان المرتفع- كبَّر الله تعالى، وإذا هبط وادياً سبح الله تعالى، ففي حديث جابر الطويل في صفة حجة النبي صلى الله عليه وسلم ، قال: ( كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا ) رواه البخاري .

ومن جملة الأدعية في هذا الشأن، أنه صلى الله عليه وسلم إذا دخل قرية أو شارف على دخولها، قال:- ( اللهم رب السماوات السبع وما أظللن ورب الأرضين وما أقللن، ورب الشياطين وما أضللن، ورب الرياح وما ذرين، فإنا نسألك خير هذه القرية، وخير أهلها، ونعوذ بك من شرها، وشر أهلها، وشر ما فيها ) رواه النسائي ، وكان إذا نزل منزلاً قال: ( أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق ) رواه مسلم .

وكان إذا قضى حاجته من سفره، ورجع إلى أهله، ذكر دعاء السفر السابق، وزاد: ( آيبون تائبون عابدون لربنا حامدون ) رواه البخاري

وكان من هديه صلى الله عليه وسلم في السفر أخذه بما رخصه الله له، ومن ذلك قصر الصلاة الرباعية ركعتين، والفطر إذا شق عليه الصوم، والمسح على الخفين مدة ثلاث أيام بلياليهن، ولم يحفظ عنه أنه صلى في أسفاره السنن الرواتب، إلا سنة الفجر والوتر، فإنه لم يكن يدعهما في حضر ولا سفر.

ومن جملة ما نهى عنه – صلى الله عليه وسلم- في السفر: اصطحاب الكلب والجرس، وفي هذا جاء قوله صلى الله عليه وسلم: ( لا تصحب الملائكة رفقة فيها كلب ولا جرس ) رواه مسلم .

ومما نهى عنه عليه الصلاة والسلام سفر المرأة بدون محرم، لما يترتب عليه من حصول الفتنة والأذية لها، فقد قال – صلى الله عليه وسلم: ( لا تسافر امرأة إلا ومعها محرم ) رواه البخاري .

وكذلك نهى – صلى الله عليه وسلم – أن يطرق المسافر أهله ليلاً، ففي الحديث عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:- ( إذا طال أحدكم الغيبة ، فلا يطرق أهله ليلاً ) رواه البخاري ، وعنه أيضاً أنه قال: ( نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يطرق الرجل أهله ليلاً يتخونهم أو يطلب عثراتهم ) رواه البخاري .

فالزم هدي نبيك صلى الله عليه وسلم في حياتك كلها، تنعم بالسعادة في الدنيا والآخرة.

AGAR SELAMAT KITA BISA MENGAMALKAN NASIHAT SAYYIDINA UMAR RA DALAM KEHIDUPAN MODERN INI

Inilah beberapa nasehat sayyidina Umar bin Khotob RA.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang

pertama, bila kalian menemukan aib

yang ada dalam diri seseorang, maka

galilah aib yang ada dalam diri kalian

sendiri, karena aib kalian belum

tentu sedikit.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

dua, bila kalian ingin memusuhi

seseorang atau sesuatu, maka

musuhilah perut kalian, karena tidak

ada musuh yang lebih berbahaya

bagi kalian selain perut kalian

sendiri.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

tiga, bila kalian ingin memuji, pujilah

Allah SWT, karena tidak ada sesuatu

yang lebih banyak memberi kepada

kalian dan lebih santun serta lembut

kepada kalian selain Dia.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke-

empat, bila ada yang ingin kalian

tinggalkan, maka tinggalkanlah

kesenangan dunia, sebab justru bila

kalian tinggalkan kalian akan menjadi

terpuji.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke

lima, bila kalian ingin bersiap-siap

untuk sesuatu, maka bersiaplah

untuk mati, sebab bila kalian tidak

menyiapkan bekal untuk mati kalian

akan menderita, rugi dan penuh

penyesalan.

  1. Wasiat Umar bin Khattab yang ke

enam, bila kalian ingin menuntut

sesuatu maka tuntutlah akhirat

karena kalian tidak akan

mendapatkannya kecuali dengan

mencarinya.”

Itulah enam wasiat dari Sayyidina Umar bin Khattab yang patut kita renungkan dan ikuti.

SIFATNYA DUNIA YANG TIDAK MENYENANGKAN

Sifatnya Dunia

لا تستغرب وقوع الأكدار مادمت في هذه الدار فإنها ما أبرزت إلا ما هو مستحق وصفها و واجب نعتها

“Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni menjadi sifatnya.”

Jangan merasa aneh dengan berbagai macam kesusahan selagi engkau masih hidup di dunia…. Tidak selayaknya seseorang yang masih hidup di dunia ini mengharap rehat dan ketenangan hati (jiwa). karena, Allah sudah menciptakan dunia sebagai tempatnya ujian dan cobaan, maka pastilah kesusahan itu masih tetap ada selama engkau masih berada di dunia. jangan mengharapkan ada istirahat (dari kesusahan).

Kalian gemar mencari dua perkara, padahal kalian tidak akan mendapatkannya: yakni, istirahat dan bahagia di dunia, sementara keduanya hanya ada di surga. Rosulullah bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.”

Sungguh tidak ada yang ditampakkan di dunia, kecuali kesusahan. Karena kesusahan sudah dijadikan sifatnya dan ditetapkan sebagai yang layak baginya.

Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan.“

Syeikh Jafar As-shoddiq rodhiyallohu ‘anhu berkata:

من طلب مالم يُخلق اتعبَ نفسه ولم يُرزق. قيل له : وما ذاك؟ قال: الراحة فى الدنياَ

“Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Alloh, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia.”

Syeikh Junaid al-Baghdadi rodhiyallohu anhu berkata: “Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesulitan dan penderitaan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan, maka itu adalah suatu karunia dan kelebihan.”

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam berkata kepada Abdulloh bin Abbas: Jika engkau dapat beramal karena Alloh dengan ikhlas dan keyakinan, maka laksanakanlah dan jika tidak dapat, maka sabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan itu suatu keuntungan yang besar.”

Umar bin Khottob radhiyallohu ‘anhu berkata kepada orang yang dinasehatinya: “Jika engkau sabar, maka hukum [ketentuan – takdir] Alloh tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Alloh sedang engkau berdosa.”

Maka apapun yang menimpa dirimu tetaplah berserah diri kepada Alloh dengan penuh kesabaran, sebab ketentuan Alloh pasti akan terjadi padamu.

EMPAT HIKMAH NABI SAW DI LAHIRKAN DI HARI SENIN BULAN ROBI’IL AWWAL

Setiap tahun pada bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud selalu diperingati Kelahiran Nabi SAW, sebagai sosok manusia terbaik di muka bumi ini, juga sebagai pemberi Rahmat kepada seluruh alam. Beliau sosok yang menginspirasi semua makhluk dalam segala lini kehidupan, baik akhlaknya dalam segi perkataan maupun perbuatan sangat dipuji oleh setiap orang, juga sebagai pembawa perubahan dari zaman jahiliah menuju zaman ilmiah.

Imam as-Suyuti dalam kitab al-Hawi Lil Fatawa mengutip perkataan Ibnu al-Hajj yang mengupas tentang hikmah kelahiran Nabi di hari Senin bulan Rabiul Awal, tidak di bulan lainnya seperti Ramadhan atau bulan lainnya, alasannya yaitu:

Pertama, ada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa di hari Senin Allah menciptakan as-Syajar(pohon). Hal ini sebagai pertanda bahwa Allah menciptakan bahan makanan, Rizki, buah-buahan dan segala kebaikan yang diberikan kepada manusia sebagai sumber kehidupan mereka.

Kedua, arti Rabi‘ berarti musim semi. Hal ini sebagai Tafaul (mengambil inspirasi kebaikan) seperti pendapat Abdurrahman As-Shaqli yang menyatakan bahwa setiap nama membawa arti membawa arti filosofi tersendiri.

Ketiga, bulan Rabi’ul Awal sebagai musim yang paling tenang dan paling nyaman cuacanya, begitu juga Syariat Nabi Muhammad sebagai Syariat yang paling moderat dan sesuai dengan kondisi apapun.

Keempat, Allah Sebagai Dzat yang Maha bijaksana atau al-Hakim hendak memuliakan bulan kelahiran Baginda Nabi, seumpama Nabi dilahirkan pada bulan mulia yang lain seperti Ramadhan maka orang akan menganggap Nabi mulia disebabkan bertepatan dengan bulan yang mulia.

Keempat hal itu ternyata menjadi rahasia tersendiri bagi beliau dan umatnya agar selalu bersemi, selalu bangkit dari keterpurukan, juga mampu berubah menjadi yang lebih baik.

Semoga kita tercatat sebagai Umat yang taat kepadanya. AMIN……