SEJARAH PENTING PARA NABI AS. DI HARI ASYURO 10 MUHARROM

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut:

(1) Nabi Adam ‘alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya.

 (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan.

(3) Selamatnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar.

(4) Nabi Yusuf ‘alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah.

(5) Nabi Yunus ‘alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu.

(6) Nabi Ayyub ‘alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan.

(7) Nabi Musa ‘alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya.” (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka.” Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga.” (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu.” (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram.

Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No: 1977)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram.” (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram.

Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah.

Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.

SEJARAH ISLAM : MUJADDID DARI MASA KE MASA DAN KEDUDUKAN IMAM ROMLI SERTA IMAM IBNU HAJAR AL-HAITAMY

Daftar Mujaddid Dari Abad ke Abad

Mujaddid adalah orang yang menghidupkan atau mengembalikan apa yang hilang dari agama, dan memperjelas yang mana sunnah dan mana yang bidah. Mujaddid ada dalam kurun waktu seratus tahun sekali , sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

ان الله يبعث لهذه أﻷمة من يجدد لها دينها رواه أبو راود والحاكم والبيهقي

“Sesungguhnya allah mengutus untuk umat ini seorang mujaddid” (HR. Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi)

 

Berikut ini nama-nama mereka dari abad pertama sampai ke tiga belas:

  1. Umar bin Abdul Aziz.
  2. Muhammad bin Idris as-Syafi’i.
  3. Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij al-Baghdadi
  4. Abu hamid Ahmad bin Muhammad al-Isfiraini, Syaikh/Guru besar Khurasyiin. Pendapat kedua mengatakan mujaddid abad ke/kurun keempat ini adalah Abu Sahal Muhammad bin Sulaiman as-Sa’aluki.
  5. Abu hamid Muhammad bin al-Ghazali/Imam Ghazali
  6. Abu Qasim Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i/Imam Rafi’i
  7. Taqiyuddin Muhammad bin Daqiq al-‘id/ Syaikh Daqiqil ‘id.
  8. Siraj Umar bin Ruslan al-bulqaini/Imam Bulqaini
  9. Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Ada yang mengatakan kalau Mujaddid abad ini adalah Syaikh Zakaria al-Anshari.
  10. Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli/Imam Ramli.
  11. Sayid Abdul Qadir bin Abu Bakar al-‘Aidarus al-Hadharami. Pendapat kedua mengatakan Mujaddib abad ini adalah Sayid Muhammad bin Rasul al-Barzanji al-Madani
  12. Syihab Ahmad bin Umar ad-Dairabi. Pendapat keduan mengatakan Mujaddid abad ini adalah Abdur Rauf Basyibisyi al-Misri.
  13. Abdullah bin Hijazi as-Syarqawi.

Demikianlah tiga belas orang Mujaddid mulai dari qurun/abad pertama hingga tiga belas baik yang disepakati atau tidak (khilaf) menurut Syaikh Muhammad Isa Yasin Alfadani dalam kitab beliau Fawaid Janiyyah. Mengingat banyaknya para Ulama yang mencukupi Syarat untuk menjadi Mujaddid saat itu, maka banyak sekali perbedaan siapa yang jadi Mujaddid pada amsa itu, Terlepas dari demikian, kita semua mengakui kalau mereka adalah orang yang menghidupkan Sunnah Rasulullah saw dan menumpas Bid’ah, pewaris sekaligus penjaga agama dari fitnah dan kemunafikan golongan-golongan yang mendakwa diri beragama padahal amalan mereka tidak menjelaskan demikian. Wallahua’lam.

Referensi: Fawaidul Janiah hal 73

 

Kedudukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli dalam Mazhab Syafi’i

Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H) dan Imam Syamsuddin Muhammad Ramli (919-1004 H) yang di kenal dengan gelar syafii shaghir (Imam Syafii Kecil), merupakan dua ulama mutaakhirin dalam mazhab Syafii yang menjadi rujukan utama para ulama semasa dan sesudah keduanya sampai sekarang. Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.

Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, dan kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihabuddin Ramli.

Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihabuddin Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli”.

Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “kemungkinan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.

Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramalisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.

Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain”. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”. Pernyataan Syeikh Sai`d Sunbul ini juga di ikuti oleh Syeikh Muhammad Shalih al-Muntafiqy.

Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, Itsmidul ainaian fi ba’dh ikhtilaf asy-Syaikhaini karangan karangan Syeikh ‘Ali Bashiri yang di cetak bersamaan dengan kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Ba’alawi al-Hadhrami, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi.

Ibnu Hajar, selain dengan kitab Tuhfahnya juga di kenal karena banyak meninggalkan kitab-kitab karangan yang lain dalam berbagai jenis ilmu.

 

Beberapa kitab Ibnu Hajar dalam ilmu fiqh adalah :

  1. Tuhfatul Muhtaj Syarah Minhaj
  2. al-Imdad Syarah al-Irsyad
  3. Fathul Jawad Syarah al-Irsyad (3 jilid)
  4. Ittihaf ahli al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam
  5. al-I’lam bi Qawathi’ al-Islam
  6. Idhah al-Ahkam lima Ya`khuzuhu al-‘Ummal wa al-Hukam
  7. al-`i’ab Syarah al-Ubab
  8. Hasyiah ‘ala Idhah Manasik Imam Nawawi
  9. Syarah Mukhtashar ar-Raudh
  10. Syarah Mukhtashar Abi Hasan al-Bakri
  11. Syarah Muqaddimah Bafadhal yang kemudian di beri hasyiah oleh ulama Nusantara, Syeikh Mahfudh Termasi
  12. Kaff ar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima`
  13. Fatawa Kubra Fiqhiyah, sebuah kitab kumpulan fatwa-fatwa beliau.

Dalam kitab fatwa tersebut banyak kitab-kitab risalah Ibnu Hajar yang merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang datang kepada beliau.

Dari kitab-kitab Imam Ibnu Hajar al-Haitami tersebut, yang lebih di dahulukan adalah Kitab Tuhfah Muhtaj `ala Minhaj Thalibin kemudian kitab al-Imdad, selanjutnya Syarh Bafadhal kemudian kitab Fatawa beliau, kemudian kitab Syarah al-Ubab.

Di Indonesia, ilmu fiqh kedua imam ini berkembang dengan baik. Kitab fiqh yang banyak membawa pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami yang di ajarkan di pesantren di Indonesia antara lain, Fathul Mu’in yang merupakan karangan murid Ibnu Hajar al-Haitami, Syeikh Zainuddin al-Malibari, Hasyiah Qalyubi ‘ala Syarah al-Mahalli. Sedangkan kitab fiqh yang banyak membawa pendapat Imam Ramli yang di ajarkan di pesantran antara lain kitab Hasyiah al-Bajuri karangan Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah Syarqawi ‘ala Syarah Tahrir karangan Syeikh Abdullah Syarqawi, Kitab Hasyiah Bujairimi karangan Syeikh Sulaiman al-Bujairimi. Sedangkan Hasyiah I’anatuth Thalibin karangan Sayyid bakri Syatha lebih sering membawa pendapat kedua Imam ini ketika terjadi perbedaan di antara keduanya tanpa menguatkan salah satunya.

Referensi:

Fawaid Madaniyah, Syeikh Sulaiman Kurdi , Dar Nur Shabah th 2011

Ibnu Hajar al-Haitami, Abdul Mu’izz Abdul Hamid, Kairo th 1981

MENGENANG JASA SAYYIDINA UMAR BIN KHOTTOB RA DI TAHUN BARU ISLAM

Menjelang wafat pada tahun 634 M, Abu Bakar As-Shiddiq Ra berwasiat Umar sebagai penggantinya. Umar enggan memakai sebutan khalifah, tetapi memakai sebutan Amirul mukminin, pemimpin orang-orang beriman. Gelar Amirul Mukminin dalam sejarah Islam hanya disandang oleh Umar bin Khattab Ra.

Khalid Muhammad Khalid dalam Kehidupan para Khalifah teladan menulis, “Menemui Amirul Mukminin tidak seperti menemui raja dan penguasa lainnya. Keadaannya jauh berbeda. Tidak ada tempat bagi makanan, minuman yang nyaman dan kehidupan yang penuh kenikmatan. Ia ahli ibadah yang ibadahnya membangkitkan kecerdasan, amal dan kebangkitan. Dia adalah pengajar yang membetulkan pengertian-pengertian kehidupan.”

Selama 10 tahun memimpin, Umar merilis beragam kebijakan. Diantaranya,  dialah yang pertama memakai pegawai khusus untuk mengurusi pungutan dan premi. Mengutip Atlas Sejarah Islam (2011), pungutan itu dipakai untuk menggaji tentara dan kemashlahatan kaum Muslimin. Pungutan ini ada 4 macam: kharaj, usyur (1/10 hasil bumi), sedekah dan jizyah (12 dirham per tahun). Umarlah yang memerintahkan agar mata uang dirham bertuliskan “Allahu akbar.”

Umar melakukan terobosan yaitu menghentikan pendistribusian zakat untuk salah satu asnaf, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam, alasannya karena kondisi negara telah kuat. Atas saran Ali bin Abi Thalib, umar memungut zakat atas kuda yang oleh Rasulullah dibebaskan dari zakat. Karnaen A. Perwataatmadja dalam Jejak rekam Ekonomi Islam (2008) menyebut terobosan ini merupakan tuntutan pada saat itu. Kuda tidak pernah dikembangkan untuk diperdagangkan dalam skala besar pada masa Rasulullah dan hanya dipakai sebagai alat transportasi, sedangkan di masa Umar memimpin, kuda-kuda diternakkan dan diperdagangkan dalam jumlah besar.

Selain itu Umar tercatat pernah menaklukkan Suriah dan palestina. Kemudian Irak dan Persia. Di Yerussalem, Umar terlibat dalam pembangunan masjid yang kemudian dikenal dengan “Masjid Umar”. Prestasi lainnya yang perlu dikenang di masa Amirul Mukminin ini adalah penerapan kalender Hijriyah.

KLIK DI SINI UNTUK PENJELASAN LENGKAP SEJARAH KALENDER HIJRIYYAH

DO’A AKHIR DAN AWAL TAHUN BARU ISLAM

KIAT AGAR KITA SEMAKIN BAIK DI SISI ALLOH DI AWAL TAHUN BARU ISLAM

Sebelum meninggal dunia, lagi-lagi Umar tak lelah memikirkan nasib generasi penerusnya. Amirul Mukminin masih sempat membentuk majelis Syura untuk memilih penggantinya. Ada enam sahabat yang tergabung didalamnya, diantaranya: Usman bin Affan, Ali bin Abi thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Sa’ad hingga Abdurrahman bin Auf. Pada akhirnya, Usman bin Affan yang terpilih sebagai penggantinya.

Majid ali Khan dalam Sisi hidup para Khalifah Saleh (2000), menyebut Umar pernah meminta kepada Siti Aisyah RA agar dimakamkan disebelah makam Rasul. Meski Aisyah bermaksud menyediakan tempat tersebut bagi dirinya sendiri, tetapi demi permintaan Umar, maka Aisyah memberikan kepada umar. Menurut Ahmad al-Usairy dalam Sejarah Islam (2005), Umar meninggal dunia gara-gara ditusuk Abu Lu’luah al-Majusi dengan belati beracun.

Akhir kata, sekalipun Amirul Mukminin telah meninggalkan kita, namun prestasi dan pengaruh kepemimpinan masih dapat dirasakan hingga kini. Tak heran, sarjana Barat yakni Michael H. Hart memasukkan Umar ke dalam daftar “100 tokoh paling Berpengaruh Sepanjang Masa.” Dalam bukunya, Hart menulis: “Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan (futuhat) dalam Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam dapat menyebar luas sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang. Penaklukan di bawah kepemimpinan Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama, lebih bermakna daripada apa yang dilakukan oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.”

Wallahu’allam.

PARA ULAMA DAN RAJA JUGA PANGLIMA PERANG YANG TIDAK HAJI SAMPAI AKHIR HAYAT

Haji itu rukun Islam. Haji itu kemuliaan. Haji itu sejarah agaung umat Islam. Betul semua. Semua itu tak terbantahkan. Tapi kita harus akui juga, haji itu bukan segala-galanya. Dari sisi mana kita menilai haji bukan segala-galanya?

Salah satunya dari sisi bahwa banyak ulama, tokoh penting dalam sejarah Islam, tidak sempat, atau tidak ditakdirkan naik haji. Siapa ulama yang belum haji?

Beberapa di antara mereka banyak yang belum mampu berhaji karena beberapa hal. Salah satunya adalah Imam Syirazi.

Beliau bernama lengkap Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali al-Syirazi dan lahir di Kota Fairuzabad pada awal abad 10 Masehi. Beliau adalah pengarang al-Muhadzdzab, sebuah matan ensiklopedik tentang fikih Mazhab Syafi’i.

    Kenapa Imam Syirazzi tidak haji? Kekurangan materi menjadi penyebab beliau tidak mampu pergi berhaji.

Dalam Siyar A’lam al-Nubala’, al-Dzahabi menceritakan bahwa makanan sehari-hari beliau adalah bubur tsarid yang dicampur dengan kuah sayuran. Namun beliau tetap sabar menerima keadaannya.

Meski tidak pernah pergi berhaji, dalam kitab fikihnya terutama al-Muhadzdzab beliau sanggup menjelaskan detil-detil ibadah haji, bahkan hingga tata letak Kakbah dan tempat-tempat sekitarnya beliau mampu menjelaskannya. Di kalangan pesantren (namun penulis tidak pernah menemukan referensinya) jamak dikisahkan bahwa beliau pergi berhaji secara kasyaf.

Tokoh selanjutnya adalah ‘Ali bin Ahmad Ibnu Hazm. Seorang penghafal puluhan ribu hadis dari Andalus. Beliau lahir di Kordoba pada November 994 Masehi dari ayah seorang pejabat ternama di Dinasti Umayyah kedua yang berkuasa di Andalus.

Beliau dikenal karena ketajaman pikiran beliau, keteguhan dalam mempertahankan pandangan, serta pelestari mazhab Zhahiriyyah yang saat itu hampir punah di Timur Tengah. Al-Muhalla Bil Atsar adalah masterpiece beliau dalam menuangkan pandangan-pandangan beliau.

Abu Zahrah ketika menjelaskan biografi Ibnu Hazm mengatakan bahwa meski beliau terlahir dari keluarga berkecukupan pada awalnya, namun ketika ayah beliau meninggal beliau tinggal di sebuah perkebunan dan membuat gubuk sederhana untuk mengajar murid-murid beliau. Hal ini dikarenakan sebuah konflik yang menimpa beliau. Hal ini juga tak terlepas dari pribadi beliau yang teguh dalam memegang pendapat—namun diiringi pula oleh keilmuan yang mumpuni.

Kondisi geografis yang jauh membuat beliau tidak mampu pergi berhaji. Maklum saja, jika kita melihat catatan harian Ibn Jubair dari Granada dalam Rihlat ibnu Jubair membutuhkan waktu tujuh bulan perjalanan menunaikan ibadah haji. Tidak sedikit pula para ulama yang berkata bahwa orang Maghrib (nama bagi daerah Islam yang paling barat mencakup Maroko, Spanyol, Portugal, dan lain-lain) sudah tidak berwajib melaksanakan haji di masa itu. Meskipun fatwa ini berlebihan, namun kondisi yang ada memang tidak memungkinkan untuk melaksanakan haji.

    Menariknya, dalam Zadul Ma’ad, Ibnu Jauzi menukil bahwa Ibnu Hazm pernah berkata bahwa Sa’i antara Shafa dan Marwah dilakukan sebanyak empat belas kali. Hal ini bisa dimaklumi karena Ibnu Hazm belum pernah berhaji.

Meskipun demikian, nukilan Ibnu Jauzi ini tidak penulis temukan di al-Muhalla, karya fikih Ibnu Hazm yang terbesar. Dalam forum-forum internet ramai dibincangkan bahwa Abu Turab al-Zhahiri (seorang alim dari India, peneliti Ibnu Hazm, dan pengajar di Al-Azhar) yang meninggal pada tahun 2002, pernah melakukan badal haji untuk Ibnu Hazm.

Ulama berikutnya adalah Qadhi ‘Iyadh, seorang hakim agung dari tanah Maroko yang meninggal tragis (anggota tubuhnya dipotong-potong) karena dituduh Yahudi hanya karena beliau tidak pernah keluar ketika hari Sabtu. Padahal beliau mengkhususkan hari itu untuk mengarang kitab. Versi lain mengatakan bahwa beliau dibunuh karena tidak mau mengakui Ibnu Tumart sebagai Imam Mahdi, versi ini lebih masyhur.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat bahwa Qadhi ‘Iyadh mengatakan tawaf wada’ harus dilakukan dua kali karena dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa setelah tawaf wada’ Nabi saw pergi ke Abthah yang ada di utara Makkah dan beliau mengulangi tawafnya ketika beliau hendak pulang ke Madinah.

Mengomentari ini Ibnu Hajar berkata, “Hal ini bisa dimaklumi karena Qadhi ‘Iyadh belum pernah menyaksikan Makkah secara langsung.”

    Adapula Ibnu Sidah seorang ahli bahasa dan penghafal hadis dari Andalus pernah mengatakan bahwa lempar jumrah dilakukan di ‘Arafah. Kenapa? Karena belum haji.

Pahlawan Islam yang Tidak Haji: dari Mufasir, Panglima Perang, hingga Raja

Haji adalah rukun Islam kelima. Maka tidak diragukan lagi status wajibnya ibadah haji. Namun ada satu syarat haji yang terpenting, yakni mampu. Mampu memiliki dua konotasi: mampu harta dan mampu jasmani. Jika syarat “mampu” ini tidak terpenuhi, maka haji tidak wajib bagi orang tersebut.

Sejarah mencatat ada beberapa  ulama dan tokoh-tokoh penting, bisa dikatakan pahlawan dalam Islam, yang tidak berhaji hingga akhir hayatnya. Tentu saja beliau-beliau tidak berhaji karena tidak mampu. Berikut adalah ulama-tokoh Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Al-Baghowi

Nama lengkapnya adalah Husein bin Mas’ud. Dia adalah ulama besar bermazhab Syafi’i. Dia juga seorang penafsir Alquran dan membuat sebuah karangan yang terkenal dalam bidang tafsir berjudul Ma’alimut Tanzil.

Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’ menyebutkan bahwa Baghowi belum pernah berhaji. Barangkali kemiskinan adalah penyebabnya.

Baghowi lahir pada tahun 433 H di kota Marw Rudz (sekarang Bala Murghab Afghanistan). Beliau lahir dari keluarga tidak mampu. Dzahabi menceritakan bahwa sejak kecil Baghowi hanya makan roti tanpa lauk karena kemiskinannya. Kadang-kadang ia mencampurnya dengan minyak zayt saat bosan makan hanya dengan roti hambar.

Namun kemiskinan tidak pernah menyurutkan semangat belajarnya. Dia sangat aktif menghadiri pelajaran-pelajaran yang diampu Qadli Husein, seorang ulama Syafi’iyah yang masyhur. Bahkan karena kedekatannya dengan gurunya ini, saat ia meninggal ia dimakamkan bersebelahan dengan Qadli Husein.

Ibnu Abdil Barr

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah. Beliau lahir di Kordoba pada tahun 368 H. Beliau adalah ulama bermazhab Maliki dan digelari orang paling alim di tanah Maghrib di zamannya. ‘Ali Asy-Syibli seorang da’i  dari Arab Saudi pernah bercerita dalam ceramahnya bahwa mufti Saudi Abdul Aziz Alu Syaikh pernah melakukan badal haji untuk Ibnu Abdil Barr.

Jarak yang jauh adalah penyebab ketidakmampuan Ibnu Abdil Barr berhaji. Karena memang penduduk Andalus jarang ada yang berhaji karena jarak yang jauh. Rihlah Ibnu Jubair mencatat bahwa perjalanan dari Andalus menuju Makkah menghabiskan waktu sekitar tujuh bulan. Maka perjalanan pulang pergi menghabiskan waktu lebih dari setahun.

Salahuddin Al-Ayyubi

Beliau adalah panglima perang yang membebaskan Yerusalem dari tangan Tentara Salib. Ya, benar beliau belum pernah berhaji sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Syadad dalam Nawadir Sulthoniyyah.

Mengenai penyebab beliau tidak berhaji, Ibnu Syadad mengatakan bahwa Salahuddin adalah orang miskin, meskipun ia panglima perang. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan harta jarahan yang ia dapat? Nah, di situlah kehebatan Salahuddin. Dia adalah pria zuhud yang sangat jujur sehingga harta jarahan tidak pernah masuk ke kantongnya melebihi jatahnya.

Bahkan Ibnu Syadad mencatat Salahuddin tidak pernah zakat. Bukan karena apa, tapi karena ia sangat miskin sehingga hartanya tak pernah mencapai nishab zakat.

Raja-raja Utsmani

Jika kita biasa baca buku tarikh semacam Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, maka seringkali kita temukan kata “Di tahun ini Harun Rasyid berhaji .. di tahun itu Al-Manshur berhaji .. di tahun sekian Al-Makmun berhaji ..”

Namun tidak demikian dengan sultan dan khalifah Utsmaniyyah yang berjumlah tiga puluh raja lebih itu. Tidak ada satu buku sejarah pun yang mencatat mereka pernah berhaji (kecuali Abdul Hamid II, sebagian sumber mengatakan ia pernah berhaji sembunyi-sembunyi). Ya benar, kekhilafahan yang diidam-idamkan kelompok Hizbut Tahrir ini rajanya tidak pernah berhaji. Syakib Arslan dalam bukunya Tarikh Daulah Utsmaniyyah pun mengakui hal ini.

Sebaliknya, catatan tentang selir raja-raja Utsmani yang katanya jumlahnya puluhan ribu justru memenuhi buku-buku tarikh tentang Utsmani.

IJTIHAD KITAB KUNING KH. WAHAB CHASBULLOH UNTUK PRESIDEN RI 1 “BUNG KARNO”

Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah akrab dengan kitab kuning tidaklah aneh. Itu sudah sewajarnya seorang kiai. Kitab kuning telah mendarah daging dalam sosok seorang ulama. Yang khas dari beliau adalah mampu mengaktualisasikan kitab kuning tersebut di tengah kehidupan politik.

Penulis mendapatkan cerita dari KH. Dimyathi Rois, paman penulis dari jalur istri, saat sowan Lebaran di ndalem-nya, komplek pesantren  Al Fadlu wal fadilah Kaliwunggu Kendal.

Alkisah, pada kahir dekade 50-an dan awal dekade 60-an. Presiden  Soekarno sedang bersitegang dengan pemerintah kerajaan Belanda terkait klaim Wilayah Irian Barat. Indonesia mengeluarkan ultimatum bahwa maksimal tahun 1960 Belanda sudah harus menyerahkan Papua Barat ke Indonesia sebagaimana kesepakatan perjanjian.

Tetapi Belanda terlihat ngotot mendudukinya dan tidak terlihat ada itikat baik menyerahkan. Beberapa upaya perundingan selalu kandas. Dalam pada itu, Bung Karno senantiasa meminta petunjuk dari para ulama sepuh.

Bung Karno menghubungi KH. Wahab Chasbullah (Rais Am Nadhatul Ulama) di Tambakberas Jombang. Bung Karno menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang belanda yang masih bercokol  di Irian Barat. Kiai Wahab menjawab tegas, ”Hukumnya sama dengan orang yang Ghosob”.  Bung Karno bertanya lagi, “apa artinya  ghosob, Kiai?” Mbah Wahab menjawab, “ghosob itu istihqaqu malil ghair bi ghairi idznihi; menguasai hak milik orang lain tanpa ijin”.

“Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yang ghosob?”  tanya Bung Karno lag.

“Adakan pendamaian,” tegas Kiai Wahab. Lalu bung Karno bertanya lagi, “Menurut insting Kiai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil? Sementara pendudukan ini sebenarnya sudah tidak sah sebagaimanan isi perjanjian sebelumnya?”

Mbah Wahab menjawab, “Tidak”.

“Lalu kenapa kita tidak potong kompas saja, kiai?” tanya Bung karno sedikit memancing.

“Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata Kiai Wahab.

Selanjutnya Bung Karno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Seperti perkiraan, perundingan ini pun akhirnya gagal.

Kegagalan ini disampaikan bung Karno kepada kiai Wahab. “Kiai, apa solusi selanjutnya meneyelesaikan masalah Irian Barat?”

Mbah Wahab menjawab, “Akhodzahu Qohron”  (ambil kuasai dengan paksa!).

Bung Karno bertanya, “Sebenarnya apa rujukan Kiai untuk memutuskan masalah ini?”

Mbah Wahab Menjawab, “Saya mengambil literatur kitab  Fathul qorib  dan syarahnya ( Al-Bayjuri)”.

Setelah itu barulah Bung Karno membentuk barisan komando mandala dan ultimatum Trikora (Tiga Komando Rakyat) untuk diberangkatkan merebut Irian Barat. Demikianlah kisah bagaimana kokohnya ulama indonesia dalam menjalankan syariat Agama melalui produk turunan fiqihnya beserta produk turunannya.

“Kita bisa membayangkan, jika Fathul qorib dan al-Bayjuri  yang notabene kitap fikih dasar di pesantren dan madrasah diniyah, bisa dikontekstualisasikan untuk menyelesaikan masalah internasional seperti kasus Irian Barat, bagaimana dengan kitab-kitab lain yang level pembahasanya lebih tinggi, kompleks dan mendalam?” terang Kiai Dimyanthi kepada penulis.

Cerita ini beberapa kali di sampaikan KH. Dimyanthi Rais kepenulis dalam beberapa kali kesempatan sowan  ke beliau. Tentu disela sela rangkaian dawuh  beliau mengisahkan cerita-cerita ulama-ulama masa lalu lainya.  Sebenarnya beliau mewanti-wanti untuk tidak mempublikasikan dengan alasan tidak ada sumber bukunya. Tetapi mengingat betapa kuatnya pesan cerita itu untuk generasi mendatang, saya terpaksa menerjang wanti-wanti ini .

”Cerito iki ojo ditulis mergo ora ono sumber bukune, tapi aku oleh soko wong tsiqah, dadi aku percoyo seratus persen, yoiku almarhim yai Saefudin Zuhri, mentri agama RI jaman Bung Karno, mosok aku ra percoyo karo kiai Syaifudin?”.  Demikian KH. Dimyat Rois menutup pembicaraan kala itu.

Kisah Mbah Wahab Chasbullah dan nasihat Fathul qorib-nya kepada Bung Karno ini juga pernah didapatkan dari almarhum KH. Hamid baidhowi Lasem saat sowan-sowan ke ndalem beliau bersama saudara-saudara Tambakberas lainya. (Tulisan ini diambil dari buku: Sejarah Tambakberas Menelisik Sejarah, Mencari Uswah)

SEJARAH MASUKNYA SIMTUD DUROR KE TANAH NUSANTARA INDONESIA

Saat ini kitab maulid Simthud Durar adalah salah satu kitab maulid yang umum dibaca di Nusantara, selain Barzanji, Syaraful Anam, Diba’i, Burdah dan Dhiya’ul Lami’. Secara umum diketahui bahwa kitab maulid Simthud Durar ditulis oleh seorang ulama karismatik asal Hadramaut Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi (w. 1915).

Karena nama pengarang ini pula, banyak yang menyebut kitab ini dengan sebutan ‘Maulid al-Habsyi’. Habib Ali menulis kitab pada 1913 yang dua tahun kemudian 1915, Habib Ali meninggal dunia.

Sejarawan dan antropolog, Linda Boxberger, menyebut bahwa pada masa hidupnya, Habib Ali selalu mengadakan perayaan maulid dengan membaca kitab ini satu minggu sekali di Masjid Riyadh di kota Say’un, Hadramaut.

    Khusus pada Kamis terakhir bulan Rabiulawal, perayaan maulid ini diadakan secara meriah dan diikuti oleh banyak jamaah. Masjid Riyadh sendiri didirikan oleh Habib Ali pada 1886.

Bagaimana maulid Simthud Durar masuk ke Indonesia dan akhirnya bisa dikenal seantero negeri? Yang sering datang ke majelis kajian para habib tentu tahu dan sering mendengar ceritanya. Tulisan ini diperuntukkan bagi para sahabat yang tidak familiar dan tahu tentang informasi tersebut.

Kitab maulid Simthud Durar dipopulerkan di Nusantara melalui dua jalur: yang pertama murid dan yang kedua keturunan Habib Ali. Untuk jalur murid, yang pertama kali membawa Simthud Durar ke Indonesia adalah Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (w. 1917).

    Awalnya Habib Muhammad mengadakan maulid di Jatiwangi, Cirebon sebelum memindahkannya ke Bogor.

Karena beberapa hal, Habib Muhammad pindah ke Surabaya dan secara reguler mengadakan kajian maulid di kota ini sampai akhir hayatnya pada 1917. Setelah wafatnya Habib Muhammad, yang melanjutkan tradisi perayaan maulid Simthud Durar adalah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (w. 1968) atas izin keluarga Habib Muhammad.

Baca juga:  Gus Dur, Quraish Shihab, dan Sepak Bola

Habib Ali Abdurrahman al-Habsyi termasuk dalam kategori murid Habib Ali pengarang Simthud Durar. Hal ini dikarenakan sejak umur 11 tahun ia memperdalam agama di Hadramaut yang mana salah satu gurunya adalah Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.

Setelah mendapatkan izin dari keluarga Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi awalnya mengadakan maulid di kantor pusat Jamʿiyyat al-Khayr Jakarta sebelum memindahkannya ke masjid yang beliau dirikan di daerah Kwitang, Jakarta Pusat.

    Di Masjid Kwitang inilah, Habib Ali memulai majelis maulid pada 1918 dan berhasil mengundang banyak jamaah.

Menurut catatan Guillaume Frédéric Pijper dari Kantor Penasehat Urusan Pribumi pemerintah kolonial Belanda, ketika ia mengobservasi kegiatan tersebut pada 1930-an, peringatan maulid Nabi di Kwitang dipenuhi sesak oleh para jamaah.

Ia memperkirakan, sekira 3.000 orang hadir dalam acara tersebut. Tidak hanya dari sekitar Jakarta Pusat, menurut Pijper, jamaah juga datang dari daerah Tanjung Priok, Jatinegara dan Tangerang. Karena populernya majelis ini, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi kemudian lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Kwitang

    Selain jalur pertama, maulid Simthud Duror juga dipopulerkan melalui keturunan Habib Ali yaitu Habib Alwi bin Ali al-Habsyi (w. 1953).

Habib Alwi adalah putra Habib Ali yang mengembara ke Nusantara setelah kematian sang ayah. Awalnya, Habib Alwi tinggal di Jakarta, sebelum pindah ke Semarang dan akhirnya menetap di Surakarta (Solo).

Pada 1934, Habib Alwi mendirikan masjid di daerah kecamatan Pasar Kliwon. Masjid tersebut diberi nama Riyadh merujuk pada nama masjid ayahnya di kota Say’un. Karena dirinya adalah putra pengarang Simthud Durar, banyak orang menghormati dan ingin mendapatkan barokah Habib Alwi termasuk mengikuti kajian maulid yang beliau lakukan.

    Habib Alwi meninggal pada 1953 di Palembang tetapi atas wasiatnya, jasad Habib Alwi dimakamkan di samping masjid Riyadh di Surakarta.

Pasca wafatnya Habib Alwi, tradisi maulid Simthud Durar dilanjutkan oleh sang putra, Habib Anis bin Alwi al-Habsyi (w. 2006). Di tangan Habib Anislah, perayaan maulid Nabi dengan kitab Simthud Durar semakin dikenal oleh umat Islam di Surakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Sepanjang hidupnya, Habib Anis dikenal sebagai ulama bani Alawi terkemuka di Indonesia. Untuk mengenang pengarang Simthud Durar (dan juga keturunannya: Habib Alwi dan Habib Anis), setiap bulan Rabiussani masjid Riyadh mengadakan haul Habib Ali.

Haul ini bisa dikatakan salah satu even haul terbesar di Indonesia. Karena besarnya acara ini pula, sejak 2014, Pemkot Surakarta memasukkannya dalam agenda resmi tahunan pemerintah dalam satu frame kebijakan ‘Solo Kota Sholawat’.

MENGHORMATI ULAMA DAN BAGAIMANA ISLAM TANPA INDONESIA

Menaruh hormat pada orang yang dihormati adalah fitrah. Hormat bisa kepada siapa saja yang dianggap terhormat. Dalam etika pendidikan Islam yang direpresentasikan, salah satunya, oleh kitab ta’limul muta’allim, konsekuwensi hormat pada ilmu adalah hormat pada buku, pemilik ilmu, guru dan sekeluarganya meski yang masih kecil sekali sekalipun.

Untuk bernostalgia dengan nuansa hormat pada ilmu dan konsekuwensinya, mari kita lihat secara riil di pesantren-pesantren atau membaca kitab ta’limul muta’allim yang kelar dibaca satu kali duduk dengan visualisasi imajiner.

Begitu rincinya dalam hormat dan cara mereka hormat, bagaimana jika sosok yang kita hormati adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pembawa ilmu dan kota ilmu itu tersendiri?

    Ada adagium populer yang menjadi patron ber-Islam, ia berbunyi, “Etika lebih didahulukan dari pada mengikuti perintah.”

Kaidah ini membuat banyak umat Islam melakukan manuver keagamaan yang secara zahir berselisih dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah, sang pembawa syariat. Abu Bakar yang saat itu ditunjuk Rasulullah mengganti sebagai imam salat, dan nabi berdiri di belakang, Abu Bakar perlahan mundur.

Nabi memberi isyarat kepada Abu Bakar untuk tetap di tempat imam, tapi Abu Bakar tetap mundur teratur. Ia “membangkang” dari perintah sang kinasih.

Sementara ulama sampai ada juga yang lirih membaca surat al-lahab ­dalam shalatnya, al-lahab adalah sebuah surat yang menceritakan tentang celakanya Abu Lahab, salah satu tokoh Qurasy yang paling menentang dakwah Nabi. Ia beralasan kendatipun Abu Lahab terlaknat, namuna bagaimanapun ia adalah tetap paman nabi.

Dalam ranah ushul fikih ada pembahasan yang boleh dikata sensitif. Pembahasan ini, kata Syekh Ali Jum’ah, timbul akibat teori filsafat Aristoteles yang mengatakan bahwa jika di depan seseorang ada dua jalan dalam menempuh suatu pengetahuan, yang satu pasti (qath’i) dan yang satu lagi praduga (zhanni), apakah boleh mengambil jalan kedua sementara kita mampu untuk untuk mengabil jalan pertama?

Apa pembahasan yang sensitif itu? Adalah pembahasan ijtihad Rasulullah. Apakah beliau berijtihad apakah tidak? Jika beliau berijtihad yang hasil dari ijtihad ada dua kemungkinan; benar dan keliru.

Ulama banyak mengulas tentang hal ini dalam kitab-kitabnya, namun yang menarik di sini adalah sikap Imam Ibnu as-Subki (771 H).

Beliau mengatakan pada kitab yang mulanya ditulis oleh sang ayah, Imam as-Subki (756 H), yaitu kitab al-Ibhaj sebuah syarah apik atas kitab minhajul wushul karya Imam Baidhawi dalam fan ushul fikih. Begini bunyinya: “Saya menyucikan kitab saya ini dari pendapat selain pendapat ini”.

Ia tidak banyak mengulasnya dan langusng ke inti pendapat yang kuat baginya, yaitu kendati berijtihad, Rasul tidak keliru. Meski ada pendapat lain yang mengatakan sebaliknya, beliau tidak menyebutkannya demi hormat pada sang kinasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selanjutya, sebuah kata dalam ilmu nahwu bisa mendapat kedudukan i’rab yang beragam. Kendati demikian, Syekh Ibrahim al-Baijuri (1277 H) dalam syarah atas Jauhar Tauhid saat mengulas kedudukan kata “Muhammad” yang saat itu bisa dibaca dalam tiga kedudukan; rafa’, nashab dan jer, beliau memilih rafa’ pada kata “muhammad” dengan alasan:

“ini (rafa’) lebih utama dalam sisi takzim, supaya nama yang agung itu marfu’un (terangkat derajatnya) dan menjadi asas (umdah) sebagaimana esensinya (madlul) menunjukkan keagungan kedudukan dan sandaran tiap makhluk”.

    Islam memang tidak pernah hening dari perbedaan ulamanya dalam memahami Islam. Ini harus kita ingat baik-baik.

Namun, perbedaan tidak serta merta membuat repot, bahkan jika kita berakal sehat, perbedaan itu keberkahan bagi umat seperti kita.

Salah satu perbedaan itu adalah tentang nama-nama Allah dan nama-nama Nabi Muhammad. Apakah nama-nama itu tauqifi (paten) atau tidak. Ibnul Arabi, murid Imam al-Ghazali yang bermazhab Maliki itu berkata bahwa ulama sepakat kalau nama-nama Allah adalah paten, tidak boleh menyematkan nama yang tidak dipatenkan oleh Allah sendiri.

Namun ulama berbeda dalam menyikapi nama-nama Nabi Muhammad. Lagi-lagi ulama memilih nama beliau sebagai tauqifi juga dengan hujah sad dzariah (menutup kemungkinan-kemungkinan buruk) dengan alasan sebab Nabi Muhammad adalah manusia dan itu pasti rentan bagi kita untuk memberi nama pada Rasululullah seenak kita yang boleh jadi itu tidak patut bagi kedudukan Nabi.

Islam tanpa Indonesia

Mari sejenak membayangkan bagaimana nasib Islam bila Allah tak menitipkan tongkat estafetnya pada bangsa besar Nusantara?

Hasilnya adalah, “anak kandung” agama bahari ini sudah punah sejak kemangkatan Rasulullah Muhammad Saw pada abad ke-7 M. Keratuan Kalingga barangkali tak harus meleburkan mugiya rahayu sagung dumadhi menjadi assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, yang dibawa ‘Ali bin Abi Thalib ke sini. Generasi awal Wali Songo mungkin tak usah membangun jaringan luar biasa kokoh di sepanjang pantai utara Jawa hingga ke tanah Hijaz.

Kubilai Khan ndak usah repot-repot mengutus armada militernya menghadap Dyah Wijaya—lantas menitahkan anaknya, Hulagu Khan, memberangus Dinasti Abbasiyah yang melenceng. Belanda tak perlu repot-repot menghadapi Sultan Agung, Aru Palakka, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Imam Bonjol, lalu dikemudian dihadapi secara intelek oleh Umar Said Cokroaminoto dan para bangsawan pikiran lainnya. Takkan ada lah Liga Bangsa-Bangsa (kini PBB) yang dianjurkan Raden Mas Panji Sosrokartono.

Muslim sedunia takkan mengenal Syekh Yusuf Makassar yang menginspirasi Nelson Mandela. Ulama di muka bumi usah pula mengagumi Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Syekh Nawawi al Bantani, dan Syekh Yasin Isa al Fadani, lantaran daya jangkau ilmu ke-Islaman mereka yang menembusi tepian batas zaman.

    Ibn Saud nggak mesti mengindahkan Komite Hijaz pimpinan Kiai Wahab Chasbullah, demi membendung kegilaannya yang ingin membongkar makam Nabi Muhammad Saw.

Kolonialisme-neoliberalisme tak perlu berhadapan dengan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan—dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang mereka dirikan. Dua organisasi Islam yang skalanya melebar ke seantero dunia. Pendidikan umat Islam Indonesia hari ini, jelas berhutang budi pada dua matahari kembar Tanah Jawa tersebut—yang cerlang cahayanya masih bersinaran hingga saat ini.

Gerakan Non-Blok yang digelorakan Sukarno takkan melecut nyali para pemimpin revolusi besar, untuk menumpas tirani kolonialisme. Pertemuan para pendiri negara-bangsa Asia-Afrika yang berkumpul di Mesir pada 1961, kemudian menahbisnya sebagai Pahlawan Islam. KTT Asia Afrika setahun kemudian, adalah buah manis yang dipetik Bung Karno dari pergulatannya dengan Dunia Islam.

Setengah abad berselang, Gus Dur melanjutkan kerja besar kakeknya. Menumbangkan rezim Orde Baru. Memimpin Indonesia sebagai presiden. Melanglang buwana menjalin persaudaraan semesta. Mengenalkan Islam secara jenaka kepada para pemimpin dunia. Mengubah peta jalan politik. Menekan Israel dengan lobi tingkat tinggi yang belum pernah dilakukan presiden mana pun.

Sekarang kita kaji sisi lainnya. Indonesia bukan hanya unggul secara kuantitas selaku negara berpenduduk Muslim terbesar sedunia. Tak hanya itu. Di negeri ini, ada 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 742 rumpun bahasa, dan ini yang mencengangkan: 200-an lebih keyakinan tua yang beberapa di antaranya malah lebih dulu ada sebelum Nabi Muhammad Saw lahir ke bumi.

    Uniknya, semua itu lebur dalam Islam, atau sebaliknya. Sehingga kehadiran agama Langit terakhir ini, seolah menjadi pelengkap rasa sejati bagi masyarakat Nusantara.

Bukti terkait itu bisa kita telusuri melalui tinggalan lontara pada abad ke-14 M karangan Mpu Prapanca yang berjudul Nirarthaprakreta, dalam pupuh keenam:

(baris pertama) Iwa mankaneki gati san hyan umibeki samuhanin dadi. Ya mawak pawak ya ginawe gumaway ikan acintya niskala. Sasinadhyanin tapa masadhya rin angulahaken giwarcana. Hana tan tumut tuwi tumut ta ya raket i sapolahin sarat.

Seperti itulah halnya Dia, yang ada dalam seluruh makhluk dan yang memenuhi segala makhluk. Dia Hyang Meliputi dan sekaligus Diliputi. Dia-lah yang diciptakan ini semua, dan Dia juga yang menciptakan, yang tak dapat dicapai dengan pikiran dan segenap indra; menjadi tujuan semua pertapa yang menyembah-Nya. Dia hadir dan dekat dengan segala makhluk, ikut di dalam segala perbuatan makhluk, tetapi juga tidak berbuat.

    (baris kedua) Rin apan kawastwan i siran grahana tubu widehalaksana. Ya matannya durgama kapangihanika tekapin mamet hayu. Humenen nda tan wenan atarka ri karegepanin samankana. Katunan tutur hidepikan lebar abalika wreddhyanin lupa.

Bagaimanakah (manusia) dapat menggambarkan-Nya dan meraba-Nya, karena Dia sungguh-sungguh bersifat ‘Tak bermateri’? Itulah sebabnya Dia sangat sukar ditemukan oleh orang yang berniat mencapai Kebahagiaan. Hanya pada waktu manusia mampu men-‘diam’-kan diri (dari segala pikiran liarnya) dan disaat manusia ‘tak merasa menemukan-nya’, maka akan hilang lenyap rasa dan pikiran kembali kepada ‘Ke-alpa-an yang Sempurna’, (dan dapat bertemu Dia).

Leluhur kita dahulu mengalihbahasakan lagi wejangan Mpu Prapanca itu menjadi tan keno kiniro (tiada terperi), tan keno kinoyo ngopo (tak berkesejajaran dengan apa pun). Islam hadir dengan bahasa Arab yang artinya juga bermiripan. Laysa kamitslihi say’un (tiada sesuatu yang bisa menyamai) atau mukhalafatu lil hawaditsi (berbeda dari makhluk-Nya).

Bentuk pencapaian makrifat sedemikianlah, yang membuat Islam tumbuh subur di zamrud Khatulistiwa ini. Muslim di Timur Tengah sana, yang dalam sejarah bahkan telah menyaksikan langsung kehadiran para Nabi-Rasul Tuhan, tak sanggup mengelola kesukuan bangsa mereka yang padahal homogen.

    Hingga tulisan ini kami susun, Saudi Arabia, Suriah, Libya, Tunisia, Lebanon, Irak, Iran, masih bertikai sengit antar sesama—yang ironisnya sama-sama muslim.

Sebagai antidot bagi saudara kita di Timteng sana, bangsa kita dianugerahi Tuhan serbaneka kelebihan yang tak terperikan. Dari sekian banyak bangsa di dunia, dari pelbagai aneka umat Muslim yang ada, hanya bangsa Indonesia yang dengan tingkat keseriusan tinggi, membakukan mudik sebagai ritus bersama. Berjamaah tapi tanpa imam. Dirayakan, bahkan dalam diam.

Sejak tiga dekade lalu kami mengenal Ramadan, rasanya sukar mencari orang perdana yang “mengajari” muslim Indonesia mudik ke kampung halaman. Lebih dari itu, mudik juga sudah ditradisikan pula oleh saudara sebangsa kita yang bukan beragama Islam. Dengan suka cita, mereka pun turut dalam gelombang besar pemudik pada penghujung Ramadhan—setiap tahun.

Entah bagaimana riwayat asli mudik sebelum jadi seperti sekarang ini, hanya Tuhan sajalah yang tahu. Itu ranah yang tak perlu dipusingkan. Sebab yang utama dari mudik adalah, kita wajib menjalankan perintah-Nya agar “saling kenal mengenal dan menyayangi”. (QS. al-Hujurat [49]: 13).

    Mudik, sangat dekat dengan upaya saling mengenal. Sangat besar kemungkinan mengajari kita arti penting rasa kasih-sayang yang kental.

Mengalami momen mudik dan lebaran, membuat kami kian yakin bahwa bangsa kita sudah berbakat bahagia sejak dahulu kala. Keriuhan Pilpres 2019 seketika mereda jelang akhir Ramadhan. Para pendukung Jokowi dan Prabowo mendadak senasib sepenanggungan manakala melintasi jalur mudik menuju kampung halaman. Semata karena ingin bersua handai tolan.

Sebelum Jokowi berhasil memenangkan pertarungan pilpres, dan menjabat orang nomor satu Indonesia medio 2019-2024, ia telah lebih dulu didapuk sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB selama lima tahun ke depan. Inilah kali pertama seorang kepala negara beragama Islam, menduduki posisi paling strategis pada zaman modern. Pertanyaannya, kenapa harus Jokowi?

Dari sekian banyak negara berpenduduk muslim, tak satu pun yang sanggup menenggang perbedaan mazhab kalam (ushuluddin), fiqh, dan tariqat yang masih jumbuh dalam sejarah manusia. Iran yang dulu Sunni, kini Syi’ah. Saudi yang semula kosmopolit, sekarang sumpek-judeg dengan Wahabisme. Begitu juga dengan Afghanistan, Pakistan, Bangladesh.

    Pembedanya pun lumayan tegas. Di Indonesia belum pernah, dan mungkin takkan ada yang namanya mufti. Kita sudah cukup bersyukur dihadiahi Allah dengan seorang Prof. Quraisy Shihab, Mbah Maimun Zubair, Gus Mus, Habib Luthfi.

Tiada diperlukan lembaga sertifikasi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya sekadar nama. Bukan penentu kebijakan. Empat nama di atas itu saja, belum mewakili golongan khawash l-khawash (khususnya khusus) yang lazim dirujuk para kiai dalam sunyi-sepi hiruk-pikuk manusia.

Belum lagi jika kita menguliti bagaimana para pemeluk Nasrani dan Yahudi, yang dengan leluasa menjalankan laku beragama mereka. Bahkan hanya di sini saja ada pemeluk Nasrani yang lidahnya bisa dengan mudah menyebut alhamdulillah, insyaallah, Allahu akbar, tanpa harus merasa risih.

Ajaran rahmatan lil ‘alamin yang menjadi spirit utama Islam, sudah sejak lama mendarah daging dalam kehidupan orang Nusantara. Kita biasa mengenalnya dengan istilah gotong-royong, tepo seliro, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Islam yang mengedepankan napas komunalisme, kemudian bersalin rupa menjadi Partai Komunis Indonesia pada ranah politik. Wajar bila Vladinir Lenin kebingungan melihat Tan Malaka—yang lucunya telah menghafal Alquran sedari usia tujuh tahun.

Apalagi yang telah dan akan terus disumbangsihkan muslim Indonesia?

Jawaban yang paling tak bisa ditampik adalah: kedamaian. Ya, di Bumi Pertiwi inilah serbaneka manusia hidup rukun berdampingan, sejak lama sekali. Tak perlu konsep ahlul dzimmi sebagaimana yang diterapkan Dinasti Umayyah II di Spanyol.

Sebagai penerus ajaran Budhi Dharma, Kapitayan, Brahma (merujuk pada Nabi Ibrahim as yang juga disebut Abraham), menjadi mudah bagi kita menerima dan menjalankan Islam secara utuh dengan pendekatan akhlak sempurna. Laku luhur yang lindap di negeri para nabi itu, sudah semerbak mewangi di Sundalandia. Nama kuno bangsa kita sebelum kelak menjadi Indonesia—yang dari segi arti, mengandung konotasi yang kurang tepat.

Demi melacak jejak sumber penerimaan Islam sejak awal kehadirannya di dunia, kita bisa merujuk pada hasil telisik Stephen Oppenheimer, Arysio Santos, dan terkini, sekelompok peneliti Jepang yang mendaku bahwa seluruh umat manusia berasal dari Sundalandia.

Riset yang cukup mumpuni juga dikerjakan oleh Denys Lombard dalam tiga jilid Nusa Jawa Silang Budaya. Ia berhasil menguraikan dengan baik bagaimana bangsa agung Nusantara menyalin ulang begitu banyak khazanah kemanusiaan—yang sesungguhnya bermula dari sini, dan kembali pulang ke pangkuan Ibu Prativi.

Beberapa penelitian terbaru yang di antaranya berdasarkan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), termasuk yang dari Jepang, menyatakan bahwa anak-cucu manusia modern saat ini berasal dari Sundaland (dalam tulisan Jepang: スンダランド = ditranskripsikan menjadi Sundarando). Bangsa pertama yang membangun peradaban maju, dengan kondisi alam terkaya di dunia.

    Kita semua berawal mula dari bangsa Sunda: Besar dan Kecil. Berjiwa Jawa (bahagia). Berkonsep kenegaraan Nusantara, dengan motto sosial-kerakyatan Silihwangi (saling mengharumkan) melalui proses Silih asah, silih asih, silih asuh (saling menularkan pengetahuan, berbagi kasih, dan saling mengasuh). Dialihrupakan oleh Sukarno menjadi Pancasila.

Barangkali sidang pembaca sekalian sudah cukup akrab dengan begitu banyak ayat, hadis, dan atsar (tinggalan jejak) dari para sahabat Nabi Saw, terkait hidup dalam balutan cinta, kasih, dan sayang. Kami tak perlu lagi menyertakannya dalam tulisan sederhana ini. Silakan gali sendiri seturut kebutuhan masing-masing. Bila Anda ingin dicintai kehidupan, maka cintailah diri sendiri dan orang lain.

Islam sudah cukup selaras dengan hidup manusia. Soalnya, manusia lah yang tak pernah mau menyocokkan dirinya dengan ajaran kebaikan dari Tuhan. Kegagalan mengenali hidup sendiri, berdampak besar pada kegagapan menjalani laku lampah secara universal. Kegalatan mengenal diri, berujung pada kesesatan yang nyata dalam rimba raya jagat pramudhita.

DI BALIK SECANGKIR KOPI ADA BANYAK SEJARAH BESAR TERJADI

Bersama para santri, KH Anwari Siroj, waliyullah dari Payaman, Magelang, Jawa Tengah. Saat itu tengah membahas kenapa saat membaca kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah dengan menggeleng-nggelengkan kepala. Menurut Riwayat yang diceritakan Habib Umar Muthohar Semarang (2016), para santri tersebut sedang melakukan bahtsul masail, yakni bahtsul masail diniyah atau pembahasan masalah-masalah keagamaan.

Santri-santri itu mencari-cari kitab yang menjelaskan dasar membaca tauhid dengan menggeleng-nggelengkan kepala. Tentu saja tidak ketemu-ketemu. Tak berapa lama, Mbah Siroj mampir dan minta dibuatkan kopi. Segan terhadap ulama besar tersebut, para santri menghentikan bahtsul masail dan segera menyuguhkan kopi. Waliyullah tersebut lalu menikmati kopi dengan menyeruputnya.

“Nikmatnya,” ucap Mbah Siroj sambil menggeleng-nggelengkan kepala, begitu selama tiga kali kemudian pergi tanpa membantu santri yang sedang mencari landasan membaca kalimat tauhid dengan menggeleng-nggelengkan kepala.

Sepeninggal Mbah Siroj tersebut, para santri gamang, melanjutkan pembahasan atau tidak. Namun seorang santri menjawab tidak perlu diteruskan sehubungan waliyullah itu sudah mengurai persoalan mereka dengan cara santun dan sederhana, yakni menikmati kopi.

Serupa kisah di atas, riwayat menikmati kopi di masa-masa sulit kerap ditemukan ketika melakukan perjuangan melawan penjajah. Seperti diketahui, perjuangan tak kenal lelah untuk mencapai kemerdekaan lahir dan batin terus ditempuh oleh para aktivis, santri, dan ulama pesantren. Berbagai langkah telah dilakukan, baik melalui diplomasi damai, perlawanan kultural hingga bentrokan fisik. Namun, kondisi melelahkan tersebut tidak ingin terlalu dirasakan oleh para pejuang. Mereka tetap sesekali melepas penat dan bersantai dengan menghirup dan menyeruput kopi.

KH Saifuddin Zuhri mengungkapkan bahwa antara 1940-1942 merupakan waktu di mana perjuangan mengalami pasang surut gejolaknya. Sebagai salah satu pimpinan Gerakan Pemuda Ansor kala itu, Zuhri hendak sowan ke salah seorang ulama di Purbalingga, Kiai Hisyam, pimpinan Pesantren Kalijaran, Purbalingga.

Sebuah pesantren dengan lebih kurang 700 orang santri yang datang dari berbagai pelosok Jawa Tengah dan sebagian dari Jawa Timur. Pesantren ini terletak di derah pegunungan, jauh dari kota. Tidak ada kendaraan yang dapat digunakan untuk mencapai pesantren tersebut. Memakai sepeda pun amat susah karena harus berkali-kali menyeberangi sungai yang deras airnya dan penuh dengan batu-batu kali di tebing-tebingnya.

Setelah bersusah payah menempuh perjalanan ke Pesantren Kalijaran, Zuhri tiba di waktu ashar dan langsung diterima oleh Kiai Hisyam. Saat itu Kiai Hisyam juga sedang menerima tamu yaitu Kiai Raden Iskandar dari Karangmoncol. Ketika sejumlah kiai yang duduk bersama, tidak lain untuk membicarakan konsolidasi perjuangan melawan kolonialisme. Kesadaran untuk mengusir penjajah sudah melekat pada diri kiai karena saking dekatnya dengan masyarakat, kelompok yang kerap menjadi korban kekejaman penjajah.

Baik Kiai Hisyam dan Kiai Raden Iskandar menanyakan hal yang sama, Zuhri menempuh perjalanan dengan mamakai apa dan dengan siapa? Pertanyaan ini muncul karena memang susahnya akses untuk mencapai Pesantren Kalijaran. Letak pesantren seperti ini secara otomatis sulit juga dijangkau oleh penjajah yang pergerakannya tidak luput untuk menelusuri jejak tokoh-tokoh penting untuk diperangi.

Di tengah obrolan mengenai pergerakan nasional, Kiai Hisyam memanggil santrinya untuk membuat kopi untuk Saifuddin Zuhri. “Santri, bikinkan kopi tubruk yang kental, pakai cangkir besar, cangkir tutup,” ucap Kiai Hisyam menyuruh khadamnya untuk membuat kopi istimewa. (Guruku Orang-orang dari Pesantren, 2001)

Zuhri tahu betul kebiasaan para kiai. Kopi tubruk yang kental dan manis dengan cangkir tutup yang besar adalah suatu hidangan kehormatan dan hanya disuguhkan kepada orang yang dipandang harus dihormati. Kalau seseorang itu disuguhi kopi, baik siang atau malam, pertanda kehormatan besar. Apalagi jika dengan cangkir besar yang bertutup. Ini suatu kehormatan istimewa. Minum teh, apalagi memakai gelas dianggap bukan suguhan, Cuma sekadar pembasah tenggorokan.

Di tengah menyeruput kopi, tiga tokoh pesantren tersebut membicarakan perihal Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang mengungsi ke London karena Hitler dengan pasukan Nazi-nya telah menduduki Belanda. Tentu saja ‘hijrah’-nya Wilhelmina agar dapat meneruskan pemerintahan terhadap negara-negara jajahannya, termasuk tetap memegang kendali penuh Hindia Belanda di Indonesia. Informasi tersebut di antaranya didapat oleh Kiai Hisyam dengan membaca koran.

Perbincangan ini tentu saja terkait dengan strategi geopolitik internasional untuk kepentingan diplomasi dan perjuangan rakyat Indonesia. Penguasan Nazi Jerman di Belanda turut mempengaruhi eksistensi Hindia Belanda yang kemungkinan harus berhadapan dengan Jepan (Nippon), sekutu Hitler. Langkah ini penting untuk menentukan perjuangan selanjutnya. Dalam hal ini, kopi tubruk membuat obrolan menjadi terang benderang di tengah lelahnya berjuang melawan kolonialisme. Selain dilakukan dengan santai, obrolan kiai juga tidak pernah luput dari guyon (humor).

Meskipun meminum kopi dianggap oleh sebagian orang merupakan aktivitas yang menghabiskan banyak waktu, tetapi tidak dengan para kiai yang tetap menyeduh kopi ketika membicarakan hal-hal genting. Artinya, pembahasan genting harus dikemas dengan suasana santai dengan menyeduh kopi.

Bahkan, pada sekitar tahun 1650-an, Mark Pendergrast dalam bukunya Sejarah Kopi mengungkapkan, kedai-kedai kopi di Eropa dipenuhi oleh banyak orang. Kedai kopi menjadi tempat bukan hanya untuk menikmati secangkir kopi, tetapi juga sebagai ruang bertukar gagasan. Revolusi Perancis dirancang di kedai-kedai kopi. Sementara itu, kopi yang mereka sesap berasal dari perbudakan orang-orang Afrika di Koloni Perancis di Karibia. Budak-budak yang menggarap perkebunan kopi ini nantinya melakukan revolusi kulit hitam pertama yang sukses.

MUSLIMAH TERHEBAT DI ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW.

Aisyah binti Abi Bakr

Perempuan muda yang merupakan istri kinasih Rasulullah ini sangat aktif belajar. Kedekatannya dengan suaimnya yang agung dan rumahnya yang berada persis di samping masjid membuatnya berkesempatan untuk belajar dengan sangat baik. Imam Hakim mengatakan, seperempat hukum-hukum syariat dinukil dari Sayyidah Aisyah. Pembesar-pembesar sahabat bahkan banyak merujuk kepadanya.

Abu Musa Al-Asyari mengatakan,

    “Tak satu pun Hadis merepotkan kami, para sahabat, lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan ilmu darinya.”

Muridnya yang tercatat berjumlah 299, 67 di antaranya adalah perempuan.

 

Arwa binti Abdul Muththalib

Dia adalah bibi Rasulullah saw., perempuan tangguh dan cemerlang sebelum dan sesudah masuk Islam. Penyair wanita top ini menggunakan kepiawaiannya dalam menggubah syair untuk membela junjungannya, Nabi Muhammad saw, yang tak lain adalah keponakannya sendiri.

 

Asma binti Abi Bakr

Menurut Ibn Ishaq, putri khalifah pertama ini masuk Islam di urutan setelah tujuh belas. Ia termasuk as-sabiqqun al-awwaluun. Kedekatannya dengan sumber wahyu menjadikannya sebagai salah satu perawi Hadis terkenal. Hadis yang tercatat darinya ada 85 Hadis. Saat Rasulullah dan Abu Bakr bersembunyi di Gua Hira, dialah yang mengantarkan makanan di sore hari. Ia menyobek kerudungnya menjadi dua, yang satu untuk mengikat bekal makanan yang ia siapkan untuk Baginda Rasul dan yang satunya lagi ia gunakan sebagai ikat pinggang.

 

Asma binti Yazid

Perempuan dari Anshar ini masuk Islam pada tahun pertama kedatangan Nabi. Ia pembelajar yang istimewa. Keberaniannya untuk bertanya kepada Nabi Muhammad menjadikannya sering mendapat titipan pertanyaan dari teman-teman lainnya. Dia juga perempuan pemberani. Saat perang Yarmuk, ia mengambil tiang kemah, lalu melaju ke medan perang dan membunuh sembilan tentara Romawi.

 

Ummu Waraqah binti Al-Harits

Perempuan dari Sahabat Anshar ini adalah pembelajar yang giat. Ia telah banyak menghafal Al-Quran. Ia juga adalah wanita pemberani. Pada saat Perang Badar, ia minta izin kepada Rasul untuk ikut dalam perang untuk merawat dan mengobati para korban yang luka-luka. Rasulullah saw. tak mengizinkannya, dan memerintahkan dia untuk tetap tinggal di rumah. Dalam “jihad rumahannya” ini, ia mendapatkan izin untuk menjadi imam salat bagi anggota keluarganya. Barangkali, dia adalah perempuan pertama dalam sejarah umat Muhammad yang menjadi imam salat. Wanita mulia ini mendapatkan berita gembira dari Nabi, bahwa kelak ia akan diberi kematian syahid.

 

Rufaida binti Sa’d al-Aslamiyyah

Perempuan dari Anshar ini ikut menjemput Rasulullah saat kedatangannya di Madinah. Kegemarannya adalah belajar keperawatan dan pengobatan kepada ayahandanya. Ia mengabdikan hidupnya pada bidang kesehatan masyarakat. Untuk ini, ia membuat tenda klinik di masjid Rasulullah dan mengajarkan keperawatan dan pengobatan kepada para wanita, termasuk kepada Sayyidah Aisyah, istri Rasul. Pada saat Perang Khandaq, Sa’d bin Muadz, pemimpin Kabilah Aus, terkena panah. Rasulullah memerintahkan agar dia dirawat di kemah klinik milik Rufaida. Namanya diabadikan dalam berbagai penghargaan-penghargaan di bidang kesehatan di sejumah negeri muslim.

MENELADANI NABI IBROHIM AS DALAM BERDO’A

Nabi Ibrahim as melakukan serangkaian perjalanan bolak-balik antara Palestina dan Makkah sebanyak empat kali.

Pertama, ketika membawa isterinya, Hajar, dan anaknya, Ismail, yang masih bayi. Di waktu inilah air Zamzam keluar.

Kedua, perjalanan ketika Ismail beranjak dewasa. Keduanya kemudian membangun membangun Ka’bah.

Ketiga, ketika Ismail sudah beristeri pertama dengan perempuan dari suku Jurhum.

Keempat, ketika Ismail beristeri baru setelah menceraikan isteri pertama karena ketidakcocokan dan atas desakan ayahnya karena ketidakcocokan itu.

Ketika Nabi Ibrahim pertama kali datang ke satu lembah yang tandus yang masih belum ada penduduk, Ismail masih kecil. Nabi Ibrahim berdoa dengan dua permintaan, pertama, agar  kawasan di lembah itu pada satu saat nanti menjadi satu kota yang aman. (lihat redaksi Al-Qur’an: baladan tanpa al atau lam ta’rif)

Permintaan kedua, agar penduduknya baik muslim maupun kafir mendapat limpahan rezeki. (lihat Al-Baqarah: 126).

Doa ini dikabulkan oleh Allah sehingga kawasan ini menjadi kota yang  ramai (lihat redaksi Al-Balad dengan al atau lam ta’rif) dengan pendatang baru yang penduduknya heterogen, di antara mereka banyak  orang-orang musyrik.

Ketika itu anaknya  Ismail sudah beranjak dewasa,  pada saat itulah Nabi Ibrahim berdoa lagi kepada Allah dengan enam permintaan (Ibrahim : 35).

Pertama, agar kota Makkah menjadi aman dan tenteram.

Kedua, keluarganya dijauhkan dari kemusyrikan.

Ketiga, mereka selalu melaksanakan shalat.

Keempat, hati manusia cenderung untuk datang ke Makkah.

Kelima, penduduknya diberi rezeki berupa buah-buahan.

Keenam, dosa-dosanya, dosa kedua orang tuanya dan dosa senua kaum mukmin diampuni.

Dari doa yang dipanjatkan ini, kelihatan sosok Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba Allah yang sangat taat yang rela membawa istri dan anaknya ditempatkan di satu kawasan yang masih baru sama sekali.

Kering, tandus dan tak ada pepohonan. semua karena perintah Allah. Sosok ayah dan pemimpin yang  sangat peduli kepada keluarganya dan masyarakatnya baik dalam soal keyakinan,  kesejahteraan hidup atau keamanan, ketenteraman jiwa dan raga.

Tiga pokok unsur kehidupan ini ( keimanan, keamanan dan kesejahteraan lahir) ini jika  bisa diraih oleh seseorang, itulah satu kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh setiap orang.

Atas ketaatan, kepatuhan dan ikhlasnya dalam berdoa, semua doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dikabulkan oleh Allah.

 

Do’a nabi Ibrohim as agar di karuniai anak

Anak adalah karunia Allah yang menjadi idaman utama pasangan suami-istri (pasutri). Karena sebuah karunia, kehadiran momongan tidak bisa dijadwalkan manusia. Untuk itu, setiap pasutri dianjurkan berdoa untuk diberikan bukan hanya anak, tetapi juga keturunan yang saleh.

Pasutri yang belum dikaruniakan momongan tidak perlu cemas atau frustasi karena anak adalah hak penuh Allah. Sementara anugerah-Nya tidak berkaitan dengan kesalehan pasutri yang bersangkutan. Banyak orang saleh, kiai, ulama, bahkan rasul yang tidak dikaruniai anak atau dikaruniakan di akhir hayatnya.

Satu sama lain juga tidak perlu saling menyalahkan karena tidak ada yang salah pada masing-masing dari keduanya. Yang diperlukan adalah keduanya berdoa dan mendekatkan diri selalu kepada Allah.

Berikut ini doa Nabi Ibrahim AS ketika mengharapkan kehadiran momongan.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Rabbi hab lî minas shâlihîn

Artinya: Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100)

Doa ini menjadi alternatif sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi Banten dalam Marahu Labid li Kasyfi Ma‘na Quranin Majid, juz II, halaman 221, Darul Fikr, 1980

لما هاجر إلى الأرض المقدسة أراد الولد فقَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ أي ولدا من المرسلين فاستجبنا له

Artinya, “Ketika hijrah menuju tanah suci, Nabi Ibrahim AS merindukan kehadiran seorang anak. Kala itu ia berdoa, ‘Tuhanku, berikan lah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100). Maksudnya seorang anak dari kalangan rasul. Lalu Kami kabulkan permohonannya.”

 

Belajar dari Cara Nabi Ibrahim as Berdo’a

Imam Abu Bakr Muhammad bin al-Walid al-Thurthusyi al-Andalusi (450/451-520 H) menulis sebuah kitab berisi kumpulan doa dari Rasulullah, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu. Kitab ini ditulis sekitar satu setengah abad sebelum al-Adzkar karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H). Dalam bab ketiga, Imam Abu Bakr menjelaskan soal adab-adab berdoa kepada Allah (fî adâb al-du’â lillah). Ia menulis:

فمن آدابه أن تعلم أن سيرة الأنبياء والمرسلين والأولياء الصالحين، (إن) أرادوا استقصاء حاجة عند مولاهم، أن يبادروا قبل السؤال فيقوموا بين يدي ربهم فيصفوا أقدامهم ويبسطوا أكفهم ويرسلوا دموعهم علي خدودهم، فيبدؤوا بالتوبة من معاصيهم والتنصل من مخالفتهم، ويستبطنوا الخشوع في قلوبهم

“Sebagian dari adab berdoa, kau harus mengetahui cara para nabi, rasul, dan wali yang saleh. (Jika) hendak memohon hajat kepada Tuhannya, mereka bergegas (menyiapkan diri) sebelum meminta, bersimpuh di hadapan Tuhannya, menata (posisi) kaki, membentangkan telapak tangan, mengalirkan air mata di pipi mereka. Kemudian, mereka memulainya dengan tobat dari kemaksiatan dan membebaskan (diri) dari pelanggaran, memasukan kekhusyu’an di hati mereka yang terdalam.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 17)

Kemudian, Imam Abu Bakr menjadikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagai contoh. Ketika berdoa, Nabi Ibrahim memulainya dengan memuji Tuhannya (bada’a bits tsanâ’i ‘ala rabbihi qabla su’âlihi). Dalam surat al-Syu’ara: 78-82 dikatakan:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ، وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ، وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ، وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ، وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakanku, dan Dialah yang memberi petunjuk (kepada)ku. Dan Tuhan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan Ketika aku sakit, Dia menyembuhkanku. Dan Tuhan yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). Dan Tuhan yang sangat kuinginkan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (kelak).”

Ayat tersebut merupakan ucapan Nabi Ibrahim sebelum berdoa kepada Allah, karena di ayat berikutnya Nabi Ibrahim berdoa (QS. Al-Syu’ara: 83): “rabbi hab lî hukman wa alhiqnî bish shâlihîn” (Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh). Sebelum berdoa, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memuji Allah dengan lima pujian. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan:

فأثني علي الله سبحانه بخمسة أثنية: أنه الخالق الهادي، المطعم المسقي، الشافي من الأوصاب، والمحيي والمميت، والغافر

“Nabi Ibrahim memuji Allah subhanahu (wa ta’ala) dengan lima pujian: (1) Sang Pencipta yang memberikan petunjuk, (2) Sang Pemberi makan dan minum, (3) Sang Penyembuh segala penyakit, (4) Yang maha menghidupkan dan mematikan, dan (5) Maha mengampuni.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18)

Hal ini menunjukkan bahwa pujian sebelum berdoa sangat penting. Para nabi, rasul dan wali terdahulu melakukannya. Contohnya Nabi Musa, ketika beliau memohon kepada Allah, beliau mendahuluinya dengan kalimat (QS. Al-A’raf: 155), “anta waliyyunâ faghfir lanâ war hamnâ” (Engkau adalah Pemimpin kami, maka ampunilah [dosa-dosa] kami dan rahmatilah kami). Mereka biasa mendahului doa-doa mereka dengan pujian, penyucian, pengagungan dan seterusnya. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menulis:

فيبدؤون بالثناء علي معبودهم وتقديسه وتنزيهه وتعظيمه والثناء عليه بما هو اهله ثم يرغبون في الدعاء

“Mereka mendahului (doanya) dengan pujian kepada Tuhan yang disembah, menguduskan-Nya, menyucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan pujian yang berhak diberikan kepadaNya, kemudian (mengajukan) permohonan dalam doa (mereka).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 17)

Untuk memperkuat pentingnya memuji Allah sebelum berdoa, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip hadits syafaat yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa banyak orang akan meminta syafaat kepada para nabi di hari kiamat kelak. Setiap nabi menceritakan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya dan meminta mereka meminta kepada nabi lainnya. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فأقول أنا لها فأستأذن علي ربّي، فإذا رأيته وقعت ساجدا فيدعني ما يشاء ثم يقال: ارفع رأسك وسل تعطه وقل تسمع، واشفع تشفع، فيلهمني محامد أحمده بها، فأحمده بتلك المحامد

“Aku berkata: Aku memiliki syafaat. Aku telah minta izin kepada Tuhanku. Saat aku melihat-Nya aku lekas bersujud, dan Allah membiarkanku (dalam keadaan ini selama) yang Dia kehendaki. Kemudian Dia berfirman: ‘Angkatlah kepalamu. Mintalah maka kau akan diberi. Berkatalah maka kau akan didengar. Berikanlah syafaat maka kau akan diberi syafaat. Kemudian Allah mewahyukan kepadaku pujian-pujian (untuk) aku memuji-Nya dengan itu, maka aku memuji-Nya dengan pujian-pujian tersebut.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 18-19)

Dalam riwayat di atas, Allah mengajarkan langsung pujian-pujian untuk-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Artinya. Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya. Karena itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang berdoa tanpa memuji Allah dan bershalawat kepadanya, Rasulullah mengatakan: “’ajjala hadza” (ini tergesa-gesa). Kemudian beliau memanggilnya dan mengatakan (HR. Imam Abu Daud dan Imam al-Tirmidzi):

إذا صلي أحدكم فليبدأ بتحميد ربّه والثناء عليه ثمّ يصلي علي النبيّ صلي الله عليه وسلم, ثمّ يدعو بعد بما شاء

“Jika salah satu dari kalian berdoa, maka dahuluilah dengan bertahmid kepada Tuhannya dan memujiNya, kemudian bershalawatlah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berdoa setelahnya dengan apa yang ia maui.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 19)

WALLOHUA’LAM BIS SHOWAB