MENJADIKAN BULAN ROJAB UNTUK MENELADANI KEAGUNGAN AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW.

Bulan rojab merupakan salah satu bulan yang mulia di sisi Alloh swt, oleh karenanya, menjadi sangat penting bagi umat islam untuk bisa memanfaatkan momen yang penuh berkah dan bersejarah di bulan tersebut, guna memantapkan hati kita dalam mencintai dan meneladani makhluk termulia di muka bumi, agar kita semakin bertaqwa di sisi Alloh swt dan semakin bisa memperbaiki diri.

Beberapa hal yang bisa kita teladani dari akhlak Rosululloh saw di salah satu bulan yang mulia ini adalah :

Nabi Muhammad Saw, Tidak Mendo’akan yang Buruk Meski Dimusuhi

 “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” Sabda Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits.

Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia paripurna. Beliau telah memberikan teladan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana menjadi seorang pemuda, menjadi sahabat, menjadi suami, menjadi pemimpin agama, bahkan menjadi pemimpin negara dengan landasan akhlak yang luhur.

Hal ini ditegaskan Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Salah satu teladan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. adalah bagaimana menjaga lisan dari tutur kata yang buruk. Dalam sejarah hidupnya, Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata kotor, mengumpat, ataupun mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya –kaum musyrik yang memusuhi dakwah Islam- sekalipun. Sebaliknya, Nabi Muhammad saw. malah mendoakan mereka yang baik-baik.

Ada banyak cerita terkait dengan hal ini sebagaimana tertera dalam Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Diantaranya adalah ketika pasukan Islam menang dalam Perang Badar. Nabi Muhammad saw. melarang umat Islam mengumpat korban Perang Badar dari kalangan kaum musyrik. Kata Nabi Muhammad saw., umpatan akan menyakiti hati orang-orang yang masih hidup. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kekejian adalah sesuatu yang hina.

Begitu pun ketika Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya melewati kaum Tsaqif. Ada seorang sahabat yang meminta Nabi Muhammad saw. berdoa agar kaum Tsaqif mendapatkan laknat dari Allah. Namun Nabi Muhammad saw. malah melakukan hal yang sebaliknya. Beliau mendoakan agar kaumTsaqif mendapatkan hidayah dari Allah saw. Nabi Muhammad saw. juga mendoakan kaum Dus agar mendapatkan hidayah ketika beliau diminta salah seorang sahabat untuk melaknatnya.

Sebagaimana diketahui, kaum Tsaqif adalah penguasa wilayah Thaif pada saat itu. Tiga tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya hijrah ke Thaif. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Quraisy. Namun apa dikata, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika Perang Uhud selesai. Sebuah peperangan yang berat bagi pasukan umat Islam karena mereka kalah. Akibatnya, sebagian sahabat meminta agar Nabi Muhammad saw. melaknat kaum Quraisy. Namun permintaan itu dijawab sebaliknya oleh  Nabi Muhammad saw.

“Sesungguhnya saya diutus dengan membawa kasih sayang. Saya tidak diutus sebagai tukang melaknat. Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui,” jawab Nabi Muhammad saw.

Demikianlah teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah mendoakan yang jelek, mengumpat, berkata kotor, atau mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya sekalipun. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga menegur Sayyidina Abu Bakar ketika mendoakan Sa’id bin ‘Ash yang sudah meninggal dengan sesuatu yang buruk. Nabi Muhammad saw. baru akan ‘berdoa yang keras’ kepada musuh ketika mereka mengancam eksistensi komunitas umat Islam sebagaimana yang terjadi ketika Perang Ahzab.

 

Kejadian Ini yang Sebabkan Nabi Muhammad Saw Marah

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menceritakan, Nabi Muhammad saw. marah besar ketika mengetahui ada sahabat membunuh seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat dalam sebuah peperangan.

Ceritanya, orang yang dibunuh tersebut adalah dari kelompok kafir yang sedang berperang melawan umat Islam. Ketika sudah tersudut, orang kafir tersebut mengucapkan kalimat syahadat. Sahabat tersebut tidak bergeming dan tetap membunuh ‘orang kafir’ tersebut meski sudah melafalkan kalimat syahadat.

“Karena pengertiannya (sahabat tersebut) ini syahadat nya, syahadat politis,” kata Gus Mus menirukan sahabat tersebut dalam sebuah video yang diunggah akun @GusMus Channel di Youtube, Senin (2/4).

Melihat kejadian itu, lanjut Gus Mus, sahabat-sahabat Nabi Muhammad yang lainnya menegur dan marah kepada sahabat yang membunuh tersebut karena bagaimanapun juga orang kafir tersebut sudah membaca kalimat syahadat sehingga darahnya haram dibunuh.

Sahabat yang membunuh tersebut bersikukuh bahwa apa yang dilakukan itu benar. Sahabat tersebut juga menganggap bahwa orang kafir tersebut hanya membaca dan menjadikan kalimat syahadat sebagai alat untuk menyelamatkan diri.

Gus Mus menambahkan, kejadian pembunuhan itu lalu dilaporkan kepada Nabi Muhammad saw. Kepada Nabi Muhammad saw., sang sahabat tersebut kekeh berpendapat bahwa orang yang dibunuhnya tersebut hanya berpura-pura mengucapkan kalimat syahadat agar tidak dibunuh.

“Rasulullah kalau marah kelihatan hanya merah mukanya,” terangnya.

“Kenapa kamu tidak bedah dadanya supaya kamu tahu bahwa di dalamnya juga apa,” cerita Gus Mus menirukan respons Nabi Muhammad saw. kepada sahabatnya itu.

Penulis buku Fikih Keseharian Gus Mus ini menegaskan, siapapun yang sudah mengucapkan kalimat syahadat maka orang tersebut secara otomatis sudah menjadi seorang Muslim.

“Muslim belum shalat ada, Muslim belum haji banyak, Muslim belum zakat lebih banyak lagi,” jelasnya.

Dia mengkritik mereka yang mengafirkan Muslim lain yang tidak satu pemahaman dengan mereka. Bagi Gus Mus, mereka melakukan hal demikian berdasarkan nafsu bukan semangat beragama.

“Semangat beragama itu adalah semangat mengajak semua orang untuk berbahagia di dunia maupun di akhirat,” ungkapnya.

 

Mereka yang Diampuni Rasulullah Saw Usai Fathu Makkah

Pembebasan kota Makkah atau dikenal dengan Fathu Makkah menjadi kemenangan yang nyata bagi umat Islam. Bagaimana tidak, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, dan tanpa ada yang menghunus pedang, umat Islam berhasil menduduki kota Makkah dari kaum musyrik Quraisy.

Sebaliknya, bagi kaum musyrik Quraisy peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M itu adalah hari yang sangat mencekam. Mereka resah karena selama ini mereka kerap kali memusuhi dan menindas umat Islam. Takut kalau-kalau umat Islam membalas balik.

Akan tetapi apa yang mereka kira salah. Rasulullah, sang panglima umat Islam, pada saat berpidato  menegaskan bahwa Fathu Makkah adalah hari kasih sayang (yaumul marhamah), bukan hari balas dendam (yaumul malhamah). Seketika itu masyarakat musyrik Quraisy menjadi cukup tenang. Namun tidak dengan musuh-musuh yang sangat kejam dan terkenal memusuhi umat Islam.

Mulanya, Rasulullah menjatuhi mereka hukuman mati atas perbuatan mereka terhadap umat Islam. Tetapi mereka kemudian meminta ampun atau dimintakan ampun. Rasulullah pun mengampuni dan tidak jadi menghukum mati mereka.

Merujuk buku Muhammad: Nabi Untuk Semua (Maulana Wahiddudin Khan, 2005), berikut musuh-musuh Islam yang diampuni Rasulullah dari hukuman mati ketika atau usai peristiwa Fathu Makkah.

Pertama, Quraibah. Quraibah adalah budak dari Abdullah bin Khatal. Ia menghadap Rasulullah dan meminta suaka manakala ia dijatuhi hukuman mati. Rasulullah mengabulkan permintaannya. Quraibah pun akhirnya memeluk Islam.

Kedua, Sarah. Ia adalah budak Ikrimah bin Abu Jahal. Sebelumnya ia senang sekali memperolok-olok dan mencemooh Rasulullah dan pengikutnya. Pada saat Fathu Makkah ia dijatuhi hukuman mati, tapi ia mendapatkan ampunan setelah meminta suaka kepada Rasulullah. Akhirnya ia masuk Islam dan hidup hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Ketiga, Harits bin Hisyam dan Zubair bin Abu Umayyah. Keduanya lari dan sembunyi di rumah  saudaranya, Ummi Hani binti Abi Jahal, manakala hendak dihukum mati. Ummi Hani kemudian menghadap Rasulullah untuk memintakan mereka ampunan.

“Siapapun yang mendapat perlindunganmu, juga mendapat perlindungan kami,” kata Rasulullah kepada Ummi Hani. Harits dan Hisyam lolos dari hukuman mati.

Keempat, Ikrimah bin Abu Jahal. Ia adalah putra dari salah satu musuh Islam paling berbahaya dan kejam, Abu Jahal. Sama seperti bapaknya, Ikrimah juga sangat memusuhi Islam dan Rasulullah. Pada saat Fathu Makkah, Ikrimah dijatuhi hukuman mati. Ia kemudian mengungsi ke Yaman. Istri Ikrimah, Ummi Hakim binti Harits yang telah masuk Islam, mendatangi Rasulullah untuk mengampuni suaminya. Permintaan Ummi Hakim dikabulkan.

Ikrimah lantas balik ke Makkah dan juga memeluk Islam. Setelah menyatakan diri menjadi umat Rasulullah, Ikrimah betul-betul berjuang untuk Islam –baik dengan harta atau pun tenaga. Ia juga kerap kali ikut berperang melawan musuh-musuh Islam.

Kelima, Habbar bin Aswad. Ia juga merupakan musuh Islam yang keji. Diceritakan suatu ketika Zainab, putri Rasulullah, dalam sebuah perjalanan dari Makkah ke Madinah. Di tengah jalan,  Habbar bin Aswad menusuk unta yang ditunggangi Zaibah. Akibat kejadian itu, Zainab yang tengah hamil terjatuh dari untanya dan mengalami keguguran. Habbar juga disebut-sebut sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembantaian dan penindasan umat Islam yang menyebabkan banyak korban.

Saat Fathu Makkah, Habbar disanksi hukuman mati. Ia kemudian menghadap Rasulullah untuk meminta ampun. Rasulullah mengabulkan permintaannya sehingga Habbar bebas dari hukuman mati.

Keenam,  Wahsyi bin Harb. Ia adalah pembunuh paman Rasulullah, Hamzah, pada saat Perang Uhud. Ketika Fathu Makkah, Wahsyi melarikan diri ke Thaif untuk mencari tempat aman. Wahsyi semakin ‘terjepit’ manakala penduduk Thaif juga masuk Islam sesaat setelah peristiwa Fathu Makkah.

Ia lantas pergi ke Madinah untuk meminta ampun Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah mengampuninya. Setelah memeluk Islam, Wahsyi menunggu kesempatan untuk menebus segala kesalahannya. Wahsyi berhasil memenggal kepala nabi palsu Musailamah pada saat Perang Yamamah dengan menggunakan lembing yang sama ketika ia menghabisi Hamzah.

Ketujuh, Ka’ab bin Zuhair. Ia merupakan seorang pujangga terkenal lihai membuat puisi. Sayangnya, ia membuat puisi untuk menghina dan mencemooh Rasulullah. Ia lari dari Makkah pada saat peristiwa Fathu Makkah. Ia kemudian menghadap Rasulullah di Madinah untuk meminta ampun dari hukuman mati. Tidak hanya itu, Rasulullah memberikan hadiah kain setelah Ka’ab menyatakan diri masuk Islam.

Kedelapan, Abdullah bin Zib’ari. Sama hal nya dengan Ka’ab bin Zuhair, Abdullah bin Zib’ari juga menghina Rasulullah melalui puisi-puisi yang dibuatnya. Ia melarikan diri ke Najran ketika umat Islam berhasil menduduki Makkah. Ia merupakan salah satu musuh Islam yang yang masuk daftar hitam atau dihukum mati. Namun sebelum dihukum ia mendatangi Rasulullah dan meminta ampunan. Rasulullah mengampuninya. Abdullah bin Zib’ari lantas bertobat dan memeluk Islam.

Kesembilan, Hindun binti Utbah. Ia merupakan istri dari Abu Sufyan. Sama seperti Abu Sufyan sebelum memeluk Islam, Hindun sangat benci terhadap Islam. Bahkan, ia sampai memakan jantung Hamzah pada saat Perang Uhud setelah Hamzah berhasil dipenggal Wahsyi. Atas segala perbuatannya terhadap umat Islam, Hindun dijatuhi hukuman mati. Namun kemudian Rasulullah mengampuninya setelah Hindun memohon ampun dan memeluk Islam.

Meski demikian, musuh-musuh Islam yang tidak minta ampun atau dimintakan ampun tetap dieksekusi mati atas segala kejahatan mereka kepada umat Islam. Mereka diantarannya adalah Abdullah bin Khatal, Fartana, Huwairits bin Nafidz bin Wahab, Miyas bin Subabah, dan Harits bin Talatil.

Ada juga musuh Islam yang melarikan diri dari Makkah dan tidak pernah kembali sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di negeri nan jauh dari Makkah. Dialah Hubairah bin abu Wahab Makhzumi yang melarikan diri ke Najran dan meninggal di sana.

ISLAM BERPERAN DALAM MEMPERBAIKI SEJARAH DUNIA

Kejayaan Islam tak pernah menjadi momok kebiadaban moral manusia, namun justru sebaliknya. Islam selalu menjadi spirit perbaikan moral manusia

Kita tengok banyak sejarah yang mencerminkan akan hal itu, terlebih lagi di tanah timur yang merupakan asal muasal muncul dan berkembangnya Islam, pada masa Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan masa Sahabat, Tabiin, Tabiit tabiin dan seterusnya hingga sampai masa Wali Songo yang terbukti nyata melalui ritus- ritus sejarah di tanah Jawa. Bagaimana mereka memperjuangkan niat mereka sungguh besar jasanya, hingga dapat kita rasakan sampai sekarang.

Pada masa akhir kejayaan Majapahit di bawah komando Prabu Brawijaya, dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa kehidupan para pemimpin dan rakyatnya (baca: penduduk Jawa) sangat dekat dengan hal-hal yang bersifat Jahiliyahisme, menyembah berhala, memberikan tumbal anak perawan, membunuh jabang bayi yang baru lahir, menghamili anak orang dan masih banyak lagi.

Singkat kata, berkat ketekunan dan keberanian para pejuang Islam dari Tanah Juldah, mereka mampu memberikan tekanan-tekanan dan berkembang pesat. Raden Patah dibantu para Wali mengumpulkan daya untuk menaklukkan kedigdayaan Prabu Brawijaya.

Ada beberapa versi tentang bagaimana Prabu Brawijaya menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Raden Patah, namun terlepas dari hal itu adalah bagaimana gambaran kemajuan kualitas moral penduduk tanah Jawa setelah kepemimpinan khilafah Islamiyah di bawah komando para Wali. Perbaikan moral sedikit demi sedikit mucul ke permukaan seiring dengan bertambahnya para pemeluk Islam. Hasil yang membanggakan itu tentunya tak lepas dari hasil jerih payah mereka dan juga ajaran- ajaran Islam (syariat) yang di tanamkan pada penduduk Jawa, hingga berbuah menjadi sebuah keyakinan.

Syariat agama Islam bagi pemeluknya adalah ibarat pakaian bagi pemakainya. Syariat diibaratkan pakaian, karena dengan pakaian apa yang seharusnya pemakai tutup dapat tertutup dan tak terlihat oleh orang lain, mampu menjadi penghangat disaat musim dingin, sehingga pakaian menjadi tameng dari penyakit, dan lain sebagainya. Sedangkan pemeluknya diibaratkan orang yang memakai pakaian, ia dapat merasakan manfaat dari pakaian yang ia kenakan tersebut.

Berbagai macam model dan bentuk pakaian mampu memberikan manfaat dan fungsi yang berbeda-beda, semisal jaket, maka akan berfungsi sebagai penghangat tubuh dan menjauhkannya dari influenza. Kemudian sarung berfungsi menggantikan celana, sebagai penutup kemaluan dan bisa pula sebagai selimut, dan masih banyak lagi.

Begitupun dengan syariat, karena di dalamnya tercakup hal-hal yang dibutuhkan oleh pemeluknya sebagaimana pakaian dibutuhkan pemakainya, dari amaliyyah (kegiatan) keseharian mereka yang berupa ibadah (ubudiyyah), bersosial dengan sesama dalam masalah bisnis ataupun non bisnis (muamalah), hubungan sesama jenis ataupun lain jenis, bahkan dalam berkeyakinan pun syariat memberikan batasan, dan lain sebagainya, sehingga mampu mengatur kelangsungan moral jasmani dan rohani mereka.

Secara ringkas, syariat adalah bermakna apa yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW melalui Risalahnya dan disampaikan kepada seluruh ummatnya guna sebagai media ‘rohmatan lil’alamin’, dan tentunya kebaikan akan kembali pada diri pemegang syariat itu sendiri. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah aku (allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali karena sebagai rahmat bagi seluruh alam”(QS. Al-Anbiya’.107).

Dari ayat diatas dapat kita fahami bahwa diutusnya Nabi SAW dengan apa yang dibawanya (agama/syariat) tak lain sebagai media rahmat bagi seluruh alam (universal). Mengenai ma’na rahmat, imam As- Showiy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dikatakan rahmat, sekiranya apa yang disampaikan oleh Nabi SAW pada ummatnya memiliki nuansa yang selalu menghantarkan ummatnya pada keberuntungan agung (dunia dan akhirat) dan kebaikan yang bisa dirasakan bersama, kehidupan pemeluknya menjadi teratur dan diatur oleh hukum syariat. Bahkan Imam At-Thobari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rohmat itu akan sampai pada seluruh lapisan, dalam arti rahmat itu akan sampai pada kaum muslim dan non muslim, meski ada beberapa ulama’ ahli tafsir yang berbeda pendapat. Hal diatas akan sangat kentara bila kita menilik sejarah, sejarah arab ataupun Jawa sebagaimana hikmah daripada syariat Islam bagi kesejahteraan sosial. Dimana dalam kurun Nabi SAW di Madinah dan setelah Fathu Makkah kehidupan para shahabat tak pernah lepas dari ketentraman dan kebaikan, bias dari ajaran yang dibawakan oleh Nabi SAW yang ditanamkan serta dipegang teguh para pengikutnya dan diajarkan pada generasi selanjutnya. Hal itu sangat kontras dengan corak kehidupan sebelum diutusnya Nabi SAW kepada mereka, kehidupan yang diselimuti oleh kebodohan, sehingga masa itu disebut dengan zaman jahiliyyah. Kala itu bila seorang ibu melahirkan anak berjenis kelamin perempuan maka ia akan dukubur hidup-hidup, karena konon bila mereka memiliki anak perempuan maka akan mendatangkan celaka dikemudian hari, menyembah berhala yang mereka pahat sendiri, adalah sebagian kecil dari kebiasaan dizaman itu. Begitupun diranah Jawa sebelum kedatangan para Wali Songo, hal-hal yang serba irasional (tak masuk akal) menjadi adat istiadat, kedholiman menjadi santapan sehari-hari, bahkan hal yang sebenarnya terpuji menjadi hal yang tercela dimasa itu, memberikan sesajen dibawah pohon beringin tua, menyembah lelembut dan patung, menguburkan jabang bayi perempuan hidup-hidup dan lain sebagainya. Namun setelah kedigdayaan Brawijaya takluk oleh kerendah hatian Raden Patah dan Walisongo, dan berkat ketlatenan dan ketekunan Walisongo secara perlahan corak kehidupan penduduk Jawa kian membaik dan semakin menjauhi jahiliyahisme, karena ajaran yang dibawakannya adalah rahmat bagi seluruh alam. Dan lebih dahsyatnya adalah bukti sumbangsih yang mereka berikan dimasa mereka dapat kita rasakan hingga kini.

Namun yang selalu menjadi tanda tanya adalah mampukah generasi kita dan selanjutnya mengemban risalah yang diajarkan turun temurun dari Nabi SAW, Sahabat-sahabatnya, Tabi’in, Tabi’ittabi’in, Walisongo hingga kini? Mengingat kondisi dewasa ini yang kian rancau dan jauh dari Islamisme bahkan kian dekat saja dengan jahiliyahisme. Melihat kondisi diatas, penulis mencoba untuk mengambil sebuah kesimpulan sekaligus solusi, yaitu: betapa pentingnya kini menyemarakkan penanaman syariat sejak dini. Nabi SAW pernah bersabda,

مُرُوْاالصّبيَّ باالصَّلَاَةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وإذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْربُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah (sekalian orang tua) anak dengan sholat ketika ia telah genap berumur tujuh tahun, dan ketika ia genap berumur sepuluh tahun maka pukullah ia bila meninggalkan sholat”

Hadist shohih diatas adalah sebuah ashlu (pokok dalil) diwajibkannya orang tua untuk memerintahkan anaknya melakukan sholat ketika ia telah genap berumur tujuh tahun dan memberikan pukulan yang tidak sampai menyakiti sebagai peringatan bila didapati sang anak yang berumur sepuluh tahun meninggalkan sholat. Selain mengungkapkan hukum diatas, hadist tersebut juga mengungkapkan bahwa betapa pentingnya penanaman syari’at sejak dini. Sejak usia masih jauh dari kedewasaan dalam bertingkang laku dan berfikir, usia yang lazimnya hanya fantasi bermain dan selalu ingin tahu berada dalam benaknya. Dunia kanak-kanak yang lekat dengan kepolosan dan kemanjaan. Namun di usia masih kanak-kanak ini Nabi telah menyerukan pada sekalian orang tua untuk ngugemi (memperhatikan dengan seksama) dan memerintahkan ihwal sholat anak-anak mereka. Sebagai penanaman moral agamis sejak mereka terlepas dari buaian orang tua. Mengenai hikmah kandungan hukum hadist diatas telah diungkapkan dalam Fathal Mu’in yang diantaranya adalah: وَحِكْمَة ذَلِكَ التَّمْرِيْنُ عَلَى العِبَادَةِ لِيَتَعَوَّدَهَا فَلَا يَتْرُكُهَا

“Hikmah (kebiksanaan) diatas adalah melatih dan melemaskan (anak) untuk selalu melakukan ibadah agar ia menjadi terbiasa, sehingga ia enggan meninggalkannya.”

Sudah jelas bahwa maksud perintah diatas adalah menjadikan syari’at sebagai bagian dari kebiasaan hidup, dan itu dimulai sejak dini, sejak terlepas dari buaian, hingga ia terbiasa dan tidak meninggalkannya.

Mengapa sejak dini?

Jika dipandang melalui perspektif ilmu psikologi (kejiwaan), masa dibawah remaja (dini, kanak kanak) adalah masa yang rentan dengan pengaruh lingkungan, dalam arti apa-apa yang telah dibiasakan dalam masa itu akan mempengaruhi dan mampu membentuk tabiatnya dikemudian hari ketika ia telah beranjak dewasa. Sebuah tamtsil saja, baru-baru ini dalam beberapa surat kabar dijumpai berita menggelikan, dimana seekor anak anjing disusui oleh induk kucing betina, bersama anak-anak kucing yang lainnya (yang memang nyata berupa kucing) anak anjing itu pun turut bergantian menyusu pada kucing yang dianggap sebagai induknya, dan bertingkah laku bak kucing hingga ia mati. Berita lain dengan topik yang sama malah sebaliknya berita diatas, yaitu anak kucing menyusu pada induk anjing. Meskipun agak naif apabila diperbandingkan dengan tamtsil diatas, namun pointnya tetap sama, yaitu pengaruh lingkungan akan mampu membentuk tabiat seseorang, terlebih dimasa kanak kanak. Sebuah kalam matsal mengungkapkan “ buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

Falhasil, bila masyarakat dan generasi kita sejak dini sudah dibiasakan dengan syariat , bolehlah kita berharap citra sejarah kehidupan dimasa Walisongo bahkan para Tabi’in bisa kembali terulang di zaman millenium ini. Amin.

INILAH KISAH IBUNDA SAYIDINA ALI KARROMALLOHU WAJHAH

Beliau adalah Fatimah, ibu khalifah keempat Ali bin Abi Thalib RA ini, putri dari pasangan Asad bin Hasyim dan Fatimah binti Hazm bin Rawahah. Perempuan keturunan bangsa Hasyim ini menikah dengan keponakan ayahnya yakni Abu Thalib dan dikaruniai empat putra dan dua putri, Thalib, Aqil, Ja’far, Ali, Ummu Hani’ (nama aslinya Fakhitah) dan Jamanah.

Jarak kelahiran antara satu anak dengan lainnya adalah sepuluh tahun. Semua putra putrinya memeluk agama Islam kecuali Thalib. Setelah kematian suaminya, dia pun termasuk dalam barisan wanita yang pertama kali masuk Islam setelah pernah hidup ditengah arus kejahiliyahan. Ia pun turut ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi Saw.

Fathimah merupakan sosok perempuan salihah. Ketika Nabi Saw masih dalam tanggungan Abu Thalib atas wasiat kakeknya Abdul Muthallib, Fatimah turut membantu suaminya mengawasi keponakannya itu. Ia mengasuh dan mengurus semua keperluan Nabi Saw. layaknya ibu kandung sendiri. Atas kasih sayang yang diberikannya itulah, Nabi Saw. sangat memuliakannya.

Dan ketika menginjak dewasa dan telah memiliki rumah sendiri, Nabi Saw. pun membalas kebaikan Fatimah dan suaminya yang saat itu krisis materi dengan mengasuh anak bungsunya Ali bin Abi Thalib yang masih umur enam tahun. Nabi Saw. mengasuh sepupunya sendiri, Ali bin Abi Thalib, yang kemudian dinikahkan dengan putrinya, Fatimah az-Zahra.

Ketika Fatimah, bibi Nabi Saw.wafat, Nabi Saw. memberi penghormatan terakhir. Nabi Saw. duduk di samping jenazah beliau, dan  seraya mengajak berbincang dengan bibinya yang ia sebut dengan ibu, “Semoga Allah merahmatimu wahai ibuku, engkaulah ibuku setelah ibu kandungku, ketika engkau lapar, justru engkau mengenyangkanku, ketika engkau tak punya baju, engkau justru memberikan ku baju, ketika engkau menahan diri untuk tidak makan makanan yang enak, engkau justru memberikanku makanan, engkau lakukan itu semua hanya semata karena Allah, dan akhirat.”

Setelah itu, Nabi Saw. memerintahkan keluarganya untuk memandikan Fatimah binti Asad ini. Selain itu, Nabi Saw. juga melepas bajunya dan memberikan bajunya untuk dijadikan kain kafan. Setelah semuanya selesai,  Nabi Saw. memerintahkan Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab, dan Aswad untuk menguburkan jenazah bibinya itu.

Sebelum memakamkan jenazah bibinya, Rasulullah Saw. berbaring di liang lahad, dan berdoa di dalam: “Allah yang menghidupkan dan mematikan hambanya, ia lah yang maha hidup dan tidak mati, ampunilah ibuku: Fatimah binti Asad, luaskan tempatnya dengan haq nabimu, dan para nabi sebelumku, sungguh engkaulah yang maha pengasih.”

Setelah itu Nabi Saw. pun mengucapkan takbir empat kali lalu Abbas dan Abu Bakar memasukkan Fatimah ke liang lahad. Melihat peristiwa pemakaman yang tak seperti biasanya itu membuat sebagian sahabat ingin bertanya kepada Nabi, “Rasul, kita melihat apa yang engkau lakukan kepada Fatimah tidak seperti yang engkau lakukan kepada yang lainnya, mengapa demikian?”

Nabi Saw. menjawab, “Sungguh aku memakaikan baju gamisku untuk dijadikan kafan bibiku agar dia memakai baju dari surga kelak, dan aku berbaring di kuburannya karena aku berharap Allah Swt. meringakannya dari adzab kubur, sungguh ia adalah makhluk Allah yang paling mulia yang diciptakan untuk membantuku setelah Abu Thalib.”

Nabi Saw. juga pernah mendoakan Fatimah ketika menziarahi kuburannya, “Semoga Allah Swt. membalas kebaikan ibu, karena sungguh engkau adalah sebaik-baik ibu. Allah yang menghidupkan dan mematikan hambanya, Ia Yang Maha Hidup dan Tidak Mati, ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad. Ajarkan dia bagaimana berhujah menghadapi pertanyaan malaikat, luaskan tempatnya dengan haq nabimu, dan para nabi sebelumku, sungguh Engkaulah Yang Maha Pengasih.

PENGELOMPOKAN KITAB HADITS DAN PENGARANGNYA DARI KRONOLOGI PENYUSUNANYA

ENAM KITAB HADITS DAN ULAMA PENYUSUNNYA

KITAB HADITS yang beredar di dunia Islam cukup banyak dan beragam, namun tidak semuanya mendapat pengakuan dan dipakai oleh masyarakat secara luas. Bab ini mengetengahkan tentang pengelompokan kitab hadits, enam peringkat kitab hadits, dan biografi singkat ‘ulama penyusun enam peringkat kitab hadits tersebut.

PENGELOMPOKAN KITAB HADITS

Dari segi kronologis penyusunannya, kitab hadits dikelompokkan menjadi enam, yakni

  1. al-Musannaf adalah kitab hadits yang disusun jauh sebelum shohih Bukhori. Cirinya, hadits-haditsnya disusun berdasarkan bab-bab tertentu. Contohnya kitab al-Muwaththo’. Kitab-kitab hadits yang tergolong Musannaf ini pernah beredar di Khurasan, Kufah, Mekah, dan Madinah.
  2. al-Musnad adalah kitab hadits yang beredar sesudah periode al-Musannaf. Kitab ini disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya. Misalnya al-Musnad yang khusus memuat hadits-hadits yang berasal dari Abu Huroiroh ra. Salah satu contohnya adalah Musnad Abu Dawud Sulaiman at-Tayasili, yang disebut sebagai Musnad pertama yang ditulis.
  3. Shohih adalah suatu kitab hadits yang menurut penyusunnya hanya mengemukakan hadits yang derajatnya atau nilainya shohih. Misalnya Shohih Bukhori, dan Shohih Muslim.
  4. al-Mu’jam adalah kitab hadits yang memuat hadits-hadits menurut nama-nama sahabat, kabilah, atau tempat hadits itu diperoleh. Dengan demikian al-Mu’jam (alfabetis) ini menyerupai indeks. Al-Mu jam yang terkenal antara lain karyakarya Thobroni: as-Shoghiir, dan al Kabiir.
  5. al-Mustadrak adalah suatu kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits yang tidak diriwayatkan oleh kitab-kitab lainnya, padahal hadits-hadits itu dinilainya shohih. Suatu contohnya al-Mustadrak karya al-Hakim an-Naisaburi.
  6. al-Mustakhroj adalah suatu kitab hadits yang berisi kumpulan hadits tertentu. Metode penulisannya pun tidak mengikuti cara dan sanad kitab sumbernya. Jadi penyusun al-Mustakhroj ini memakai cara dan sanadnya sendiri, namun pada akhirnya bertemu dengan sanad hadits yang dicuplik dari kitab tersebut.

Contoh al-Mustakhroj yang paling terkenal adalah karya Abu Bakar al-Isma’ili yang hadits-haditsnya dicuplik dari Kitab Bukhori.

HUKUM RUQYAH DAN SEJARAHNYA DALAM AGAMA ISLAM

Kajian Tafsir tentang Al-Qur’an sebagai ayat ruqyah

وننَزِّلُ مِنَ القرآنِ مَا هُوَ شفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ، وَلاَ يَزيْدُ الظالِمِيْنَ إلاَّ خَساراً

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82)

Menurut Abu Bakar Al Jazairi, huruf MIN (من) pada ayat di atas berfungsi sebagai penjelas (مبينة) bagi huruf maushul ما, bukan ibtida’ atau zaidah. [Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Aisaru Al Tafasir Li Kalam AL ‘Aliyyi Al Kabir. Kairo: Dar Al Hadits, 2006, Juz 2, hal. 249]

Sementara itu, Muhammad Sayyid Thanthawi mengatakan bahwa huruf MIN (من) pada ayat tersebut bukan unt tab’idh (للتبعيض) atau menunjukkan sebagian, melainkan al jins (للجنس). Maka makna ayat وننزل من القران di atas adalah

وننزل من هذا الجنس الذي هو قرآن ما هو شفاء

Dengan demikian, ayat tersebut menegaskan bahwa semua kandungan Al Qur’an merupakan obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Muhammad Sayyid Thanthawi, Al Tafsir Al Wasit. Kairo: Dar Al Sa’adah, 2007, Jilid 8, hal. 416.]

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan adanya dua pendapat ulama tentang penyakit yang bisa disembuhkan dengan ayat Al-Qur’an.

Pendapat pertama, bahwa Al-Qur’an itu menyembuhkan hati (القلوب) dari penyakit KEBODOHAN dan KERAGUAN.

Pendapat kedua, menyembuhkan penyakit-penyakit JASMANI dengan cara RUQYAH, ta’awwudz dan sejenisnya. [Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an. Kairo, 1940, juz 10, hal 316]

Ketahuilah kenapa RUQYAH dimasukkan dalam KITAB FIQIH ada bahasan Thib bukan masuk dalam bab IBADAH.

Karena dalam thib dalam hal ini ruqyah memiliki unsur TAJRIBAH (hasil penelitian) yang berkembang sesuai dengan zaman juga memiliki unsur TA’ABUDIYAH dimana ada batasan syar’i (tidak syirik).

Kenapa Thib Ruqyah masuk dalam bab Fiqih bukan IBADAH, sebab ada ruang untuk ijtihad dan penelitian, itulah mengapa timbul beragam teknik pengobatan ruqyah. Sedangkan Jika masuk dalam bab ibadah maka wajib 100% menghilangkan inovasi sebab jatuhnya nanti bid’ah bahkan sesat.

Resikonya Thib Ruqyah dimasukkan ulama pada kitab FIQIH, maka sampai KIAMAT pasti ada perbedaan pendapat juga pro dan kontra. Jika ada yang Tidak setuju dengan salah satu teknik hendaknya menghargai orang yang melakukannya sebab mereka juga punya dalil. Yang tidak boleh itu adalah berpecah belah dan saling bermusuhan karena hanya perbedaan pendapat dalam teknik ruqyah dari hasil tajribah yang ada sandaran ilmiyah dan syar’iyyah juga.

Saya melihat sekarang ini ada perpecahan dikalangan peruqyah dalam memahami metode ruqyah. Ada yang mengatakan bahwa ruqyah harus dengan ayat Al-Qur’an dan berbahasa arab dan katanya seorang peruqyah itu harus menguasai beragam disiplin ilmu syar’i. Sementara yang lain cara meruqyahnya memakai bahasa daerah yang tetap memohon kesembuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan cara ini katanya TIDAK SYAR’I dan DILARANG.

Benarkah demikian? Baiklah kita kaji bersama tentang ruqyah tersebut.

Ruqyah secara bahasa adalah sebuah terapi dengan membacakan jampi-jampi atau mantera-mantera. Sedangkan Ruqyah yang katanya syar’iyah yaitu sebuah terapi dengan cara membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa perlindungan yang bersumber dari sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ruqyah dilakukan oleh seorang muslim, baik untuk tujuan penjagaan dan perlindungan diri sendiri atau orang lain, dari pengaruh buruk pandangan mata manusia dan jin (al-ain) kesurupan, pengaruh sihir, gangguan kejiwaan, dan berbagai penyakit fisik dan hati. Ruqyah juga bertujuan untuk melakukan terapi pengobatan dan penyembuhan bagi orang yang terkena pengaruh, gangguan dan penyakit tersebut.

Diantara tujuan ruqyah adalah menyembuhkan penyakit seperti yang dilakukan shahabat Anas radliyallahu ‘anhu yang mana beliau meruqyah Tsabit dengan ruqyah yang pernah digunakan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam

Adzkar Nawawi hal 113

وروينا في ” صحيح البخاري ” عن أنس رضي الله عنه، أنه قال لثابت رحمه الله: ألا أرقيك برُقْيَة رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: بلى، قال: ” اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البأسِ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي، لا شافِيَ إِلاَّ أَنْتَ، شِفاءً لا يُغادِرُ سَقَماً “.

قلت: معنى لا يغادر: لا يترك، والبأس: الشدّة والمرض

Diantara tujuan ruqyah lagi adalah untuk membentengi seseorang dari bahaya sebagaimana yg dilakukan Rosulullah sholla Allahu ‘alaihi wa sallam terhadap kedua cucunya yaitu sayyidina Hasan dan sayyidina Husain

Al Adzkar An Nawawi hal 273

وروينا في ” صحيح البخاري ” حديث ابن عباس أن النبي (صلى الله عليه وسلم) كان يُعوِّذ الحسن والحسين: ” أُعِيذُكُمابِكَلِماتِ

اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطانٍ وَهامَّةِ وَمِنْ كُلّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ، ويقول: إنَّ أباكُما كانَ يعوّذ بهما إسماعيلَ وإسحاقَ

Ruqyah adalah terapi atau pengobatan yang sudah ada di masa JAHILIYAH. Dan ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasulullah, maka ditetapkanlah Ruqyah yang dibolehkan dalam Islam. Allah menurunkan surat al-Falaq dan An-Naas salah satu fungsinya sebagai pencegahan dan terapi bagi orang beriman yang terkena sihir.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca kedua surat tersebut dan meniupkannya pada kedua telapak tangannya, mengusapkan pada kepala dan wajah dan anggota badannya. Dari Abu Said bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dahulu senantiasa berlindung dari pengaruh mata jin dan manusia, ketika turun dua surat tersebut, Beliau mengganti dengan keduanya dan meninggalkan yang lainnya” (HR At-Tirmidzi).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ (لذيغ) وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Said al-Khudri RA berkata, “Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Datanglah seorang wanita dan berkata, “ Sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan, sedangkan sebagian kami tengah pergi. Apakah ada di antara kalian yang biasa meruqyah?”

Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami bertanya,

”Apakah Anda bisa? Apakah Anda meruqyah?“

Ia berkata, ”Tidak, saya tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.”

Kami berkata, “Jangan bicarakan apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Dan beliau berkata,

“Tidakkah ada yang memberitahunya bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan beri saya satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Auf bin Malik al-Asyja’i berkata,

”Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyah,

dan kami bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu?”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Perlihatkan padaku ruqyah kalian. Tidak apa-apa dengan ruqyah jika tidak mengandung kemusyrikan .” (HR Muslim)

Hukum Ruqyah

Para ulama berpendapat pada dasarnya ruqyah secara umum DILARANG.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah (mantera), tamimah (jimat) dan tiwalah (pelet) adalah kemusyrikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka dirinya akan diserahkan kepadanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Hakim)

عن عِمْرَان قَالَ: قَالَ نَبِيّ اللّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ” قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللّهِ؟ قَالَ: “هُمُ الّذِينَ لاَ يَكْتَوُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبّهِمْ يَتَوَكّلُونَ

Dari Imran berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” Akan masuk surga dari umatku 70 ribu dengan tanpa hisab”.

Sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah ?”

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan kay (besi), tidak minta diruqyah dan mereka bertawakkal pada Allah”. (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama banyak membicarakan hadits ini, di antaranya yang terkait dengan ruqyah. Ulama sepakat bahwa ruqyah secara umum DILARANG, kecuali tidak ada unsur kemusyrikan.

ما توكل من استرقى

”Tidaklah bertawakkal orang yang minta diruqyah.” (HR At-Tirmidzi)

Adapun selain itu, seperti berlindung dengan Al-Qur’an, Asma Allah Ta’ala dan ruqyah yang telah diriwayatkan (dalam hadits), maka itu TIDAK DILARANG. Dan dalam konteks ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang meruqyah dengan Al-Qur’an dan mengambil upah :

من أخذ برقية باطل فقد أخذتُ برقية حق

”Orang mengambil ruqyah dengan batil, sedang saya mengambil ruqyah dengan benar. ” (HR At-Tirmidzi)

“Jadi dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa meruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Asma Allah atau dengan do’a-do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mengandung KEMUSRIKAN meskipun tidak dengan bahasa arab itu DIBOLEHKAN.”

Ruqyah Dzatiyah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai kesempatan menyampaikan kepada para sahabatnya untuk melakukan ruqyah dzatiyah, yaitu seorang mukmin melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin dan sihir. Hal ini lebih utama dari meminta diruqyah org lain. Dan pada dasarnya setiap orang beriman dapat melakukan ruqyah dzatiyah.

Beberapa hadits di bawah adalah anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang beriman untuk melakukan ruqyah dzatiyah

“من قرأ آية الكرسي في دبر الصلاة المكتوبة كان في ذمة الله إلى الصلاة الأخرى”

“Siapa yg membaca ayat Al-Kursi setelah shalat wajib, maka ia dalam perlindungan Allah sampai shalat berikutnya” (HR At-Tabrani).

عن عبد الله بن خُبَيْبٍ عن أَبيهِ قالَ: “خَرَجْنَا في لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ وظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يُصَلّي لَنَا قالَ فأَدْرَكْتُهُ فقالَ: قُلْ. فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. ثُمّ قالَ: قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. قالَ قُلْ فَقُلْتُ مَا أقُولُ قال قُلْ: قُلْ {هُوَ الله أَحَدٌ} وَالمُعَوّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلّ شَيْء”.

Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya berkata,

”Kami keluar di suatu malam, kondisinya hujan dan sangat gelap, kami mencari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami kami, kemudian kami mendapatkannya.”

Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ” Katakanlah”. “ Saya tidak berkata sedikit pun”.

Kemudian beliau berkata, “Katakanlah.”

“Sayapun tidak berkata sepatahpun.”

“Katakanlah, ”

Saya berkata, ”Apa yang harus saya katakan?“

Rasul bersabda, ”Katakanlah, qulhuwallahu ahad dan al-mu’awidzatain ketika pagi dan sore tiga kali, niscaya cukup bagimu dari setiap gangguan.” (HR Abu Dawud, At-tirmidzi dan an-Nasa’i)

مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah setiap malam, maka cukuplah baginya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

مَنْ نَزَلَ مَنْزلاً ثُمَّ قالَ: أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ، لَم يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذلكَ”.‏

“Siapa yang turun di suatu tempat, kemudian berkata, ‘A’udzu bikalimaatillahit taammaati min syarri maa khalaq’, niscaya tidak ada yang mengganggunya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR Muslim)

Oleh karena itu orang beriman harus senantiasa melakukan ruqyah dzatiyah dalam kesehariannya. Hal-hal yang harus dilakukan dengan ruqyah dzatiyah adalah:

  1. Memperbanyak dzikir dan doa yang ma’tsur dari Nabi SAW, khususnya setiap pagi, sore dan setelah selesai shalat wajib.
  2. Membaca Al-Qur’an rutin setiap hari
  3. Meningkatkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.
  4. Menjauhi tempat-tempat maksiat
  5. Mengikuti majelis ta’lim dan duduk bersama orang-orang sholeh

Mengambil Upah dari Ruqyah

Para ulama sepakat membolehkan mengambil upah dari mengobati dengan cara ruqyah syar’iyah. Bahkan dalam hadits terkenal tentang para sahabat yang meruqyah kepala suku yang terkena bisa ular, Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “ Saya tidak bersedia meruqyah sampai kalian memberiku upah”. Sehingga dalam kitab Shahih Al-Bukhari, salah satunya memasukkan hadits ini dalam bab al-ijarah. Dalam ujung hadits Abu Said Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Bagilah (upah itu), dan beri aku satu bagian.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan upaya menjadikan pengobatan ruqyah sebagai usaha rutin dan tafarrugh, maka hukumnya sama dengan mengambil upah dari pengobatan yang lainnya. Hal ini karena pengobatan ruqyah membutuhkan waktu yang cukup dan dilakukan secara profesional. Begitu juga para peruqyah dituntut senantiasa meningkatkan ilmu dan keikhlasan.

Namun demikian karena pengobatan ruqyah adalah bagian dari fardhu kifayah dan kebutuhan ummat, maka sebaiknya jangan dijadikan sarana komersial atau bisnis murni, demikian halnya dengan pengurusan jenazah, khutbah, imam shalat, adzan dan iqomah, mengajarkan Al-Qur’an, bimbingan haji dan lain-lain.

INILAH SHOHABAT NABI SAW YANG SANGAT TERKENAL : JULAIBIB RA.

Julaibib RA merupakan seorang pemuda yang berasal dari kota Madinah.  Sifat fisikalnya yang rendah dan tidak menarik menyebabkan beliau  kurang dikenali di Madinah. Namun, Julaibib r.a. adalah salah seorang  sahabat Rasulullah SAW yang amat disayangi oleh baginda. Disebabkan keadaan fisikalnya yang kurang menarik, masyarakat Madinah kurang senang dengan keberadaan beliau di kota tersebut. Anas bin Malik menuturkan, “Ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Julaibib dengan wajahnya yang kurang tampan. Rasulullah menawarkan pernikahan untuknya. Dia berkata, “Kalau begitu aku orang  yang tidak laku?” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau di sisi Allah orang yang laku.” (HR Ya’la).

Selepas peristiwa Hijrah, baginda Rasulullah SAW mengangkat martabat beliau dalam hadithnya yang bermaksud :”Sesungguhnya Julaibib ini sebahagian daripada aku dan aku ini sebahagian daripada dia”. Malah, atas usaha baginda, Julaibib dinikahkan dengan seorang gadis Madinah yang baik dan solihah.

Jasa dan perjuangannya

Julaibib setia mengikuti baginda dalam ekspedisi peperangan namun beliau gugur dan jenazahnya dikuburkan oleh baginda sendiri. Tidak selang beberapa hari pernikahannya, Nabi SAW  keluar dalam peperangan, dan Julaibib ikut serta bersama beliau.  Setelah peperangan usai, dan manusia mulai saling mencari satu sama  lain. Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan si fulan dan si fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan  seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…” Beliau  bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.”

Mereka pun mencari dan memeriksanya di antara orang-orang  yang terbunuh. Tetapi mereka tidak menemukannya di arena pertempuran.  Terakhir, mereka menemukannya di sebuah tempat yang tidak jauh, di sisi  tujuh orang dari orang-orang musyrik. Dia telah membunuh mereka,  kemudian mereka membunuhnya.

Nabi SAW  berdiri memandangi mayatnya, lalu berkata,”Dia membunuh tujuh orang  lalu mereka membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang lalu mereka  membunuhnya. Dia dari golonganku dan aku dari golongannya.” Lalu  Rasulullah SAW membopongnya di atas kedua lengannya dan memerintahkan mereka agar menggali tanah untuk menguburnya.

Anas bertutur, “Kami pun menggali kubur, sementara Julaibib  radhiallahu ‘anhu tidak memiliki alas kecuali kedua lengan Rasulullah SAW,  hingga ia digalikan dan diletakkan di liang lahatnya.” Anas radhiallahu  ‘anhu berkata, “Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah orang Anshar  yang lebih banyak berinfak daripada istrinya. Kemudian, para tokoh pun  berlomba melamarnya setelah Julaibib…” Benarlah, “Dan barangsiapa  yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan  bertakwa kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang mendapat  kemenangan.” (An-Nur: 52).

Nabi SAW  juga telah bersabda, sebagaimana dalam ash-Shahih, “Setiap umatku akan  masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai  Rasulullah, siapakah yang engan itu?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat  kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku berarti ia  telah enggan.”

أن  النبي صلى الله عليه و سلم كان في مغزى له فأفاء الله عليه فقال لأصحابه  هل تفقدون من أحد ؟ قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل تفقدون من أحد  ؟ قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل تفقدون من أحد ؟ قالوا لا قال  لكني أفقد جليبيبا فاطلبوه فطلب في القتلى  فوجدوه إلى جنب سبعة قد قتلهم ثم قتلوه فأتى النبي صلى الله عليه و سلم  فوقف عليه فقال قتل سبعة ثم قتلوه هذا مني وأنا منه هذا مني وأنا منه قال  فوضعه على ساعديه ليس له إلا ساعدا النبي صلى الله عليه و سلم قال فحفر له  ووضع في قبره ولم يذكر غسلا

Bahwasanya Nabi صلى الله  عليه وسلم ada di suatu peperangan beliau, lalu Alloh memberikan harta  kemenangan untuk meliau. Maka beliau bertanya kepada para Shohabat  beliau: “Apakah kalian kehilangan seseorang?” mereka menjawab: “Iya, si  fulan, dan fulan, dan fulan.” Kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian  kehilangan seseorang?” mereka menjawab: “Iya, si fulan, dan fulan, dan  fulan.” Kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian kehilangan seseorang?”  mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Akan tetapi aku kehilangan  Julaibib. Carilah dia.” Maka merekapun mencarinya di kalangan  orang-orang yang mati. Maka mereka menemukannya di samping tujuh orang.  Julaibib membunuh tujuh orang, lalu tujuh orang itu membunuhnya. Maka  Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri di sampingnya lalu bersabda: “Dia telah  membunuh tujuh orang, lalu tujuh orang itu membunuhnya. Dia adalah  dariku dan aku adalah darinya, dia adalah dariku dan aku darinya.” Lalu  beliau meletakkan Julaibib di kedua lengan beliau. Dia tak punya selain  kedua lengan Nabi صلى الله عليه وسلم . lalu digalilah untuknya lubang  lalu dia diletakkan di kuburannya. Beliau tidak menyebutkan bahwa dia  dimandikan. Wallahu a’lam. [Mujawib : Dimasyqi Fata]  @santrialit

– SYARAH NAWAWI ‘ALA MUSLIM :

باب من فضائل جليبيب رضي الله عنه

حدثنا إسحق بن عمر بن سليط حدثنا حماد بن سلمة عن ثابت عن كنانة بن نعيم  عن أبي برزة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في مغزى له فأفاء الله عليه  فقال لأصحابه هل تفقدون من أحد قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل  تفقدون من أحد قالوا نعم فلانا وفلانا وفلانا ثم قال هل تفقدون من أحد  قالوا لا قال لكني أفقد جليبيبا فاطلبوه فطلب في القتلى فوجدوه إلى جنب  سبعة قد قتلهم ثم قتلوه فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فوقف عليه فقال قتل  سبعة ثم قتلوه هذا مني وأنا منه هذا مني وأنا منه قال فوضعه على ساعديه ليس  له إلا ساعدا النبي صلى الله عليه وسلم قال فحفر له ووضع في قبره ولم يذكر  غسلا

باب من فضائل جليبيب رضي الله عنه .

هو بضم الجيم .

قوله : ( كان في مغزى له ) أي في سفر غزو . وفي حديثه أن الشهيد لا يغسل ، ولا يصلى عليه .

قوله صلى الله عليه وسلم : ( هذا مني وأنا منه ) معناه المبالغة في اتحاد طريقتهما ، واتفاقهما في طاعة الله تعالى

– FATHUL MUN’IM :

عن أبي برزة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في مغزى له.  فأفاء الله عليه فقال لأصحابه: “هل تفقدون من أحد؟” قالوا: نعم فلانا  وفلانا وفلانا. ثم قال: “هل تفقدون من أحد؟” قالوا: نعم فلانا وفلانا  وفلانا ثم قال: “هل تفقدون من أحد؟”  قالوا: لا. قال: “لكني أفقد جليبيبا. فاطلبوه” فطلب في القتلى. فوجدوه إلى  جنب سبعة قد قتلهم ثم قتلوه فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فوقف عليه فقال:  “قتل سبعة ثم قتلوه. هذا مني وأنا منه هذا مني وأنا منه” قال: فوضعه على  ساعديه. ليس له إلا ساعدا النبي صلى الله عليه وسلم قال: فحفر له ووضع في  قبره ولم يذكر غسلا.

رجل دميم الخلقة قصير لا يؤبه له  حضر أو غاب لكنه عند الله عظيم وعند رسول الله صلى الله عليه وسلم عزيز  عظيم سأله رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما: لم لم تتزوج يا جليبيب؟  فقال: إذن تجدني يا رسول الله كاسدا في سوق الرجال فقال: إنك عند الله لست  بكاسد وذكر له ابنة أنصاري، فلما علم الأنصاري وزوجته كأنهما كرها ذلك  فسمعت ابنتهما بما أراد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقرأت قوله تعالى وما  كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من  أمرهم [الأحزاب: 36] ثم قالت: رضيت وسلمت لما يرضى لي به رسول الله صلى  الله عليه وسلم فدعا لها رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: اللهم اصبب  عليها الخير صبا ولا تجعل عيشها كدا، وتزوجته، وجاهد في سبيل الله، وغنم  وغنم وغنم ونفله رسول الله صلى الله عليه وسلم لبطولته فلما افتقده رسول  الله صلى الله عليه وسلم في نهاية غزوة وفي تصفية مكاسبها وخسائرها سأل  أصحابه، سؤال توجيه وتعليم: من فقدتم من الأبطال في هذه المعركة؟ قالوا:  فقدنا فلانا وفلانا وفلانا، يذكرون من يؤبه لهم إذا حضروا ويسأل عنهم إذا  غابوا، وأعاد الرسول صلى الله عليه وسلم السؤال، فذكروا فلانا وفلانا  وفلانا، غير من ذكروا أولا، فكرر الرسول صلى الله عليه وسلم السؤال فلم  يذكروا فيمن ذكروا جليبيبا، فقال: أما أنا فأفتقد جليبيبا، ابحثوا عنه وقام  معهم يبحث عنه بين القتلى فوجده بين سبعة من المشركين قتلهم قبل أن  يستشهد، فقال: هكذا تكون البطولة، وهكذا يكون الجندي المجهول وهكذا يكون  الجهاد في سبيل الله هو يشبهني في الشجاعة وأنا أشبهه، ثم حمله رسول الله  صلى الله عليه وسلم على ساعديه لم يسمح للصحابة أن يحملوه إلى قبره بل حمله  هو بنفسه حتى وضعه في حفرته، أما زوجته فكانت بعده من أكثر النساء مالا  ونفقة.

مثل أعلى في تكريم الأعمال قبل تكريم الهيئات،  والأجسام، وطوبى لعبد يجاهد في سبيل الله، لا يهتم بتقدير الناس إن كان في  المقدمة أو كان في الساقة هو يتعامل لله ومع الله ولدين الله. رضي الله عنه  وأرضاه.

المباحث العربية

(جليبيب) قال الحافظ ابن حجر في الإصابة: اسم غير منسوب، أي لم يذكر له نسب من أهل النسب، وهو على هيئة تصغير جلباب.

(كان في مغزى له) أي في سفر غزو من أسفار غزواته، ولم أر من حدد هذه الغزوة.

(هذا مني وأنا منه) قال النووي: معناه المبالغة في اتحاد طريقتهما واتفاقهما في طاعة الله.

فقه الحديث

فيه منقبة عظيمة لجليبيب وتقدير النبي صلى الله عليه وسلم للكفايات وتكريمهم، وفيه أن الشهيد لا يغسل ولا يصلى عليه.

والله أعلم.

SEJARAH ILMU DAN KITAB DALAM PENDIRIAN MADZHAB SYAFI’IYYAH

Kitab Fiqih dalam Mazhab Syafi’i Rhl. Yang dikarang oleh Ulama’-ulama’ Syafi’i dari abad keabad adalah mewarisi pusaka ilmu, kitab-kitab tersebut dikarang oleh sahabat-sahabat Imam Syafi’i Rhl. (Ulama’-ulama’ pengikut Syafi’i) sudah demikian banyaknya. Hampir setiap ulama’ itu mengarang kitab Fikih syafi’i untuk dijadikan pusaka bagi murid-muridnya dan bagi pencinta-pencintanya sampai akhir zaman. Tidak terhintung lagi banyaknya kerana di antaranya ada yang tidak sampai ke tangan kita, tidak pernah kita melihat dan bahkan kadang-kadang ada yang tidak pernah didengari mengenai kitab-kitab dari segi nama kitabnya, pengarangnya, bahkan tidak mengetahui langsung tentang hal kitab dan para ulama’ bagi penuntut ilmu islam. Fenomena ini perlu kita sedari bahwa, hal demikian perlu diambil tahu dan peka bagi setiap penuntut ilmu dari siapa kitab menuntut ilmu, dan dari mana kitab mengambil rujukan hukumnya. Kerana dikhuatiri tiada panduan di dalam menetapkan hukum islam. Menjadi tanggungjawab kita mengetahui hal demikian moga-moga jelas hukumnya, dan benar pengambilannya.

Untuk diketahui lebih mendalam di bawah ini kami sediakan sebuah gambar rajah yang dapat mengambarkan situasi yang telah berlangsung dalam memperjelas, memperinci dan meringkaskan kitab-kitab Syafi’iyyah dari dulu sampai sekarang.

Keterangan :

  1. Kitab-kitab Imam Syafi’i. “Al-Imla” dan “al-Hujjah” adalah kitab-kitab Qaul qadim yang digunakan lagi, kerana semua isinya sudah termasuk dalam kitab-kitab Qaul Jadid.
  2. Kitab-kitab Imam Syafi’i yang diguna sebagai kitab induk adalah kitab Umm, Mukhtasar, Buwaiti dll.
  3. Imam haramain mengikhtisarkan (memendekkan) kitab-kitab Imam syafi’i dengan kitabnya yang bernama “An-Nihayah.
  4. Imam Ghazali memendekkan juga kitab-kitab Imam Syafi’i dengan kitab-kitabnya yang bernama Al-Basith, Al-wasith, Al-Wajiz.
  5. Imam Ghazali juga mengikhtisarkan lagi dengan kitabnya yang bernama Al-Khulasoh.
  6. Imam Rafi’i mensyarahkan kitab Imam Ghazali Al-Wajiz dengan kitabnya yang bernama Al-‘Aziz.
  7. Dan Imam Rafi’i juga memendekkan kitab Imam Ghazali Al-Khulasoh dengan kitabnya yang bernama Al-Muharrar.
  8. Imam Nawawi memendekkan dan menambah di sana sini kitab Al-Muharrar itu dengan kitabnya yang bernama MINHAJUT THALIBIN (Minhaj).
  9. Kitab Imam Nawawi, Minhaj disyarahkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitabnya Tuhfa, oleh Imam Ramli dengan kitabnya An Nihayah, oleh Imam Zakaria al-Anshori dengan kitabnya yang bernama Minhaj jug, oleh Imam Khatib Syarbaini dengan Mughni al-Muntaj.(Kitab-kitab tersebut dalam nombor 8 dan 9 ini banyak beredar di pasentren).
  10. Dan Imam Rafi’i pernah mensyarah kitab karangan Imam Ghazali Al-Wajiz dengan kitabnya yang bernama Al-‘Ajiz.
  11. Imam Nawawi pernah memendekkan kitab Imam Rafi’i denagn kitabnya yang bernama Ar-Raudhah.
  12. Imam Quzwaini pernah memendekkan kitab Al-‘Ajiz dengan kitabnya yang bernama Al-Hawi.
  13. Kitab Al-Hawi pernah diikhtisarkan oleh Ibnul Muqri dengan kitabnya yang bernama Al-Irsyad dan kitab al-Irsyad ini disyarah oleh Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitabnya yang bernama Fathul Jawad dan juga dengan kitabnya yang bernama Al-Imdad.
  14. Kitab Imam Nawawi bernama Ar-Raudhah pernah diiktisarkan oleh Imam Ibnu Muqri dengan nama Ar-Roudh dan oleh Imam mazjad dengan Al-Ubab.
  15. Kitab Ibnul Muqri Al-Irsyad pernah disayarah oleh Imam Ibnu Hajar dengan kitabnya yang bernama Al-Imdad, dan dengan kitabnya bernama Fathul Jawad.
  16. Kitab Ar-Roudh dari Ibnul Muqri pernah disyarah oleh Imam Zakaria Al-Anshori dengan nama Asnal Mathalib.
  17. Imam Zakaria al-Anshori pernah mensyarah kitabnya yang bernama Al-Minhaj dengan kitabnya yang bernama Fathul Wahab.

Demikianlah keterangan ringkas dari jalur kitab-kitab dalam Mazhab Syafi’i yang sangat teratur rapi, yang merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. (ibaratnya daripada penulis, ia bagaikan sebuah keluarga dari jalur keturunan).

Kemudian banyak lagi kitab-kitab fikih Syafi’i yang dikarang oleh Ulama’ mutaakhirin yang tidak tersebut dalam jalur ini kerana terlalu banyak, seperti kitab-kitab Al-Mahalli karangan Imam Jalaluddin al-Mahalli, Kitab Fathul Mu’in karangan al-Malibari, Kitab I’anahtut Thalibin karangan Said Abu Bakar Syatha dan lain-lain yang banyak sekali.

Dengan perantaraan kitab-kitab ini kita sudah dapat memahami dan mengamalkan fatwa fiqih dalam Mazhab Syafi’i secara teratur dan secara rapid an terperinci, yang kesimpulannya sudah dapat mengamalkan syari’at dan ibadah Islam dengan sebaik-baiknya.

Biografi singkat pendiri madzab Syafi,I

Madzhab Syafi’I didirikan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Mutholib bin Abdi Manaf atau yang lebih terkenal dengan sebutan Imam Syafi’I (dinisbatkan pada kakek beliau yang bernama Syafi’ bin Saib). Beliau di lahirkan di daerah Ghaza Palestina pada tahun 150 H. dan meninggal di Mesir pada tahun 204 H. dalam usia 54 tahun

Pengembaraan ilmu

Petualangan imam Syafi’I dalam menuntut ilmu bermula ketika sang ibu mengajak beliau berhijrah dari tanah kelahirannya di Ghaza menuju tanah suci Mekah. Pada waktu itu umur beliau masih balita. Mula-mula beliau belajar Al Qur’an kepada ulama kota Mekah, dan belum menginjak umur 7 tahun beliau sudah mampu menghafalnya di luar kepala. Kemudian diteruskan dengan belajar kepada ulama-ulama besar Mekah dengan keberagaman ilmu yang mereka kuasai. Diantaranya adalah Ismail bin Qostantin, Sufyan bin Uyainah (seorang ahli hadits), Muslim bin Kholid Azzanjy (pakar fiqh), Sa’id bin Salim Al Qoddah, Dawud bin Abdurrahman Al ‘Atthar, dan Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Ubay.

Setelah merasa cukup belajar pada ulama-ulama Mekah, beliau meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Madinah. Pada waktu itu, ulama yang paling menonjol di Madinah adalah Imam Malik bin Anas, muallif kitab Muwatho’. Beliau ingin sekali belajar langsung kepada Imam Malik, akan tetapi melihat Syai’I yang masih berumur 13 tahun, imam Malik menganggap Syafi’i kecil belum layak untuk menerima pengajian langsung dari beliau, dan diperintahkannya untuk mengaji kepada murid-murid seniornya terlebih dahulu. Setelah Syafi’I kecil mengaji kepada murid-murid seniornya, baru Syafi’I disuruh menghadap dan membacakan apa yang baru saja ia pelajari. Imam Malik terkagum-kagum akan bacaan Syafi’I yang bagus dan teliti, dan langsung memberikan perhatian husus kepada Syafi’I kecil. Beliau belajar kepada imam Malik selama 15 tahun, yaitu dari tahun 164 H. sampai tahun 179 H.

Selain belajar intensif kepada imam Malik, beliau juga belajar kepada Ibrahim bin Sa’ad Al Anshory, Abdul Aziz bin Muhammad Ad Darowardy, Ibrahim bin Abi Yahya Al Aslamy, Muhammad bin Sa’id bin Abi Fadik dan Abdullah bin Nafi’ As Shoigh

Kemudian menuju Baghdad pada tahun 184 H. Disana belaiu secara intens belajar kepada imam Muhammad bin Hasan, seorang murid imam Abi Hanifah. Dari beliau , imam Syafi’I belajar tentang madzhad Hanafi secara mendalam dan juga mempelajari seluruh karya-karyanya. Disamping itu, imam Syafi’I juga belajar kepada imam Waki’ bin Jarroh, Abdul Wahab bin Abdul majid Atsaqofy Abu Usamah Hammad bin Usamah Al Kufy, Ismail bin ‘Ulayyah yang kesemuanya adalah para penghafal hadits nabi. Setelah merasa cukup, imam Syafi’I kembali ke Mekah untuk menggelar pengajian perdananya.

Beliau berumur 45 tahun ketika meninggalkan Mekah menuju ke Baghdad dalam rangka menyebar luaskan buah pemikirannya. Di Baghdad inilah, buah pemikiran Syafi’I dapat diterima secara luas dan mampu memberikan corak baru dalam kehidupan dan dunia intelektual penduduk Baghdad. Dari sinilah cikal bakal madzhab Syafi’I tersemai dan akan tumbuh menjadi madzhab yang dipeluk oleh mayoritas umat islam di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia tenggara pada umumnya dan hususnya di Indonesia.

Setelah beberapa lama tinggal di Baghdad, beliau kembali ke Mekah, dan setelah itu kembali lagi ke Baghdad untuk ketiga kalinya pada tahun 198 H.. Akan tetapi beliau hanya tinggal beberapa bulan di Baghdad. Kemudian meneruskan perjalanannya menuju Mesir sampai Alloh memanggilnya pada tahun 204 H.

Dasar-dasar pengambilan hukum dalam madzhab Syafi’i

Dalam pengambilan hukum, madzhab Syafi’I senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan Hadits serta mengedepankan dalil (nash). Hal inilah yang menjadi ciri has madzhab Syafi’i. Beliau selalu menyandarkan segala hal kepada nash, disaat imam lain secara terang-terangan mengikuti kebiasaan penduduk di salah satu daerah atau taqlid kepada ulama-ulama generasi sebelumnya, seperti yang di lakukan oleh imam Malik dan imam Abu Hanifah, beliau tetap bersikukuh akan dalil nash. Dan apabila dalam Al Qur’an dan hadits tidak ditemukan sebuah dalil yang dapat digunakan sebagai sandaran hukum, beliau mengacu kepada pendapat para sahabat, setelah itu baru mengacu kepada qiyas, istishab dan terahir adalah istiqro’. Sedangkan untuk sumber-sumber yang lain, seperti maslahat mursalah, istihsan, adat kebiasaan penduduk Madinah dan ajaran/syariat nabi terdahulu, imam Syafi’I tidak mempergunakannya.

Mata rantai periwayatan madzhab Syafi’i

Dalam periwayatan madzhab Syafi’I, yaitu mata rantai penyampaian ajaran Syafi’i hingga sampai ke tangan kaum muslimin sekarang ini, kita mengenal adanya dua corak/jalur periwayatan, yaitu jalur Khurosan dan jalur Irak. Hal ini berkaitan dengan perjalanan beliau dalam memperkenalkan pemikiran-pemikirannya dalam rentang waktu antara tahun 179 H. sampai tahun 204 H.

untuk lebih jelasnya, mari kita lihat peta pertumbuhan dan perkembangan madzhab Syafi’I berikut ini:

– Fase persiapan membangun madzhab, yaitu semenjak meninggalnya imam Malik sampai perjalanan beliau ke Baghdad untuk kali kedua pada tahun 195 H.

– Fase madzhab qodim, yaitu dimulai semenjak kedatangan beliau ke Baghdad yang kedua (195 H.) sampai beliau pindah ke Mesir pada tahun 199 H.

– Fase penyempurnaan dan pemantapan madzhab yang baru, yaitu semenjak tinggal di Mesir sampai wafat pada tahun 204 H.

– Fase penyeleksian pendapat dan buah pemikiran imam Syafi’i, hal ini dimulai semenjak imam Syafi’I wafat sampai pada pertengahan abad ke 5 hijriyah.

– Fase stabil, yaitu setelah selesai fase penyeleksian,. Ditandai dengan bermunculannya kitab-kitab mukhtasor dalam madzhab yang berisikan pendapat-pendapat yang rojih dalam madzhab Syafi’I dan penjelasannya dengan metode sistematik.

Dari beberapa fase tadi, ada dua fase yang menjadikan pembagian jalur periwayatan madzhab Syafi’I menjadi dua, yaitu fase kedua dan ke tiga. Hal ini terjadi dikarenakan murid-murid imam Syafi’I setelah belajar dari beliau, menyebar luaskan ajarannya di beberapa daerah, dan yang paling menonjol dalam hal pencetakan kader-kader penerus madzhab Syafi’I adalah di Khurosan dan di Irak.

Sebenarnya, kedua jalur periwayatan tadi sama-sama mengikuti dasar-dasar alur pemikiran Syafi’I, hanya saja dalam beberapa hal, misalnya dalam beristimbat, dasar-dasar yang dijadikan dalil dalam menentukan sebuah hukum dan dalam pemikiran masalah-masalah fiqh keduanya mempunyai sedikit perbedaan. Dan inilah yang menjadikan jalur periwayatan madzhab Syafi’I ada dua corak, corak Khurosan Dan corak Irak.

Untuk mengenal siapa-siapa yang menjadi penopang kedua aliran dalam madzhab Syafi’I, kita akan mengutip perkataan imam Nawawi. Beliau berkata: “Saya mempelajari Fiqh madzhab Syafi’I dari beberapa ulama kenamaan, yaitu:

Imam Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al Maghriby, kemudian kepada Syaikh Abu Abdirrohman bin Nuh bin Muhamad bin Ibrahim Al Maqdisy, Abu Hafsh Umar bin As’ad bin Abu Tholib Ar Ruba’I, kesemuanya berguru kepada imam Abu Amr Ibnu Sholah dan beliau berguru kepada ayahandanya, dan dari ayahnya itulah dua corak madzhab Syafi’I dipelajarinya.

Adapun untuk jalur periwayatan ulama-ulama Irak, beliau (bapak dari Ibnu Sholah) mempelajarinya dari Ibnu Sa’id Abdullah bin Muhammad bin Hibbatulloh bin Ali bin Abu ‘Asrun Al Musawy, beliau belajar kepada Abu Ali AL Fariqy, Abu Ali belajar kepada Abu Ishaq Al Syaerozy, Abu Ishaq belajar kepada Qodhy Abu Thoyyib Al Thobary (Thohir bin Abdullah), Al Thobary belajar kepada Abu Hasan Al Masarjisy (Muhammad bin Ali bin Sahal bin Muslih), Abu Hasan belajar kepada Abu Ishak Al Marwazy (Ibrahim bin Ahmad), Al Marwazy belajar kepada Ibnu Suraij (Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij), beliau belajar kepada Abu Qosim Utsman bin Basyir Al Anmathy, Abu Qosim belajar kepada imam Muzani (Abu Ibrahim Ismail bin Yahya) dan imam Muzani belajar langsung kepada imam Syafi’i.

Imam Syafi’I belajar ilmu Fiqh kepada imam Malik bin Anas, imam Sufyan bin Uyainah dan imam Abu Kholid Muslim Al Zanjy.

Dan dari ketiga ulama inilah mata rantai keilmuan imam Syafi’I sampai kepada Rosululloh SAW. Lebih jelasnya, imam Malik berguru kepada imam Rabi’ah yang mendapatkan pengetahuannya dari sahabat Anas dan imam Nafi’, murid dari Ibnu Umar. Imam Sufyan bin Uyainah belajar kepada Amr bin Dinar yang menjadi murid dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Sedangkan imam Abu Khold Al Zanjy belajar kepada Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, beliau belajar kepada ‘Atho bin Abi Robah dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas belajar kepada para sahabat- sahabat besar, yaitu: Umar bin Khotob, Ali bin Abu Tholib, dan Zaid bin Tsabit.

Untuk jalur Khurosan, beliau imam Nawawy mendapatkannya dari ulama-ulama yang telah disebutkan di atas, dari mereka bersambung kepada imam Ibnu Sholah, dari Bapaknya, dari Abu Qosim bin Bazary Al Jazary, dari Elkaya Al Harosy (Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Ali), dari imam Haramain (Abul Ma’aly Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al Juwainy), dari bapaknya (Abu Muhammad Al Juwainy), dari imam Qofal (Al Marwazy Al Shoghir), dari Abu Zaid Al Marwazy (Muhammad bin Ahmad bin Abdullah), dari Abu Ishaq Al Marwazy, dari Ibnu Suraij dan seterusnya sampai kepada Rosululloh SAW.

Dari jalur periwayatan tadi, kita temukan dua ulama yang yang mempertemukan kedua arus periwayatan madzhab imam Syafi’I, yaitu imam Abu Ishaq Al Marwazy dan imam Ibnu Sholah, hanya saja imam Marwazy menelorkan murid yang meneruskan kedua aliran tadi sedangkan imam Ibnu sholah menggabungkan keduanya hingga tidak ada lagi corak Khurosan dan corak Irak. Yang ada hanya madzhab Syafi’I tanpa embel-embel Khurosan Atau Irak.

Thobaqot ulama Khurosan

Sebelum membahas siapa saja yang berdri dalam barisan ulama Khurosan, alangkah lebih baik kita mengenal daerah Khurosan lebih dahulu. Khurosan adalah satu daerah di tanah Persia, lebih tepatnya sebelah tenggara kota Teheran, ibu kota Iran. Khurosan zaman dahulu dibagi menjadi 4 kota, yaitu: Naisabur, Haroh, Balkh, dan Marwa. Dari keempat kota tadi yang terbesar adalah Marwa, makanya kadang kala ulama yang berasal dari daerah Khurosan di nisbatkan kepada kota Marwa menjadi Al Murowazah (Ulama-ulama yang berasal dari daerah Marwa). Marwa sendiri di bagi menjadi dua, ada Marwa Syahijan ada Marwa Roudz. Ketika laadz Marwa disebutkan tanpa ada qoyidnya, maka yang dimaksud adalah Marwa Syahijan, dan orang-orangnya memakai gelar Al Marwazy di belakangnya. Sedangkan untuk Marwa Roudz harus disebutkan secara keseluruhan, dan orang-orangnya biasanya menyandang gelar Al Marwarodzy yang disingkat menjadi Al Marwadzy.

Ulama-ulama Syafi’iyah generasi pertama yang berada di daerah Khurosan adalah murid-murid langsung dari imam Syafi’I, diantaranya adalah Ishaq bin Rohuyah Al Handzoly, Hamid bin Yahya bin Hani’ Al Balkhy, beliau belajar kepada Imam Syafi’I dan imam Sufyan bin Uyainah wafat tahun 202 H, Abu Sa’id Al Isfahany (Al Hasan bin Muhammad bin Yazid), belaiu adalh orang pertama yang membawa ajaran imam Syafi’I ke Isfahan dan yang terahir adalah Abu Hasan An Naisabury (Ali bin Salamah bin Syaqiq) Wft. Tahun 252 H.

Generasi kedua adalah para murid dari ulama generasi pertama. Yang paling menonjol dari generasi ini adalah Abu Bakar bin Ishaq bin Khuzaimah, dan Abu Abdillah Muhammad bin Nashr Al Marwazy, beliau lahir di Baghdad pada tahun 202 H, menghabiskan masa kecilnya di Naisabur, kemudian belajar di Mesir kepada murid-murid Imam Syafi’I dan menghabiskan masa tuaanya di Samarkand sampai wafat pada tahun 294 H. kemudian Abu Muhammad Al Marwazy (‘Abdan bin Muhammad bin Isa) beliau adalah murid dari imam Muzani. Selanjutnya adalah Abu Ashim Fudhail bin Muhamad Al Fudhaily, seorang pakar fikih di daerah Haroh sekaligus menjadi mufti disana. Dan untuk seterusnya adalah Abu Hasan As Shobuny, Abu Sa’id Ad Darimy, Abu Umar Al Khofaf (Penguasa Naisabur), dan terahir adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al Ubady Al Busyinjy.

Generasi ketiga di komandani oleh Abu Ali Al Tsaqofy, Abu Bakar Ahmad bin Ishaq bin Ayyub Al Shubaghy, Abu Bakar Al Mahmudy Al Marwazy dan Abu fadl Ya’kub bin Ishaq bin Mahmud Al Harowy.

Generasi keempat dipimpin oleh Abu Ishaq Al Marwazy, murid dari Ibnu Suraij, dan telah disinggung sebelumnya bahwa beliaulah orang yang mempertemukan dua arus interpretasi madzhab Syafi’I. berdiri dibelakangnya Abu Walid Hassan bin Muhamad Al Qurosyi An Naisabury, Abu Hasan An Nasawy, Abu Bakar Al Baihaqy, dan Abu Mansur Abdullah bin Mahron.

Ulama-ulama yang menempati generasi kelima terbilang sedikit, diantaranya adalah Abu Zaid Al Marwazy, Abu Sahal As Sho’luky, Abu Abbas Al Harowy dan Abu Hafsh Al Harowy.

Ulama-ulama yang menempati generasi ke enam adalah: Abu Bakar Al Qofal Al Marwazy, Abu Thoyib As Sho’luky, Abu Ya’kub Al Abyurdy dan Abu Ishaq Al Isfiroyiny.

Generasi ke tujuh adalah: Qodhy Husain, Abu Ali As Sinjy dan Abu bakar As Shoidalany.

Generasi ke delapan dari ulama khurosan di wakili oleh Imam Haromain, seorang ulama besar pengarang kitab Nihayatul Mathlab Fi Diroyatil Madzhab, kitab inilah yang dikemudian hari menjadi sumber awal dari silsilah kitab-kitab ulama Syafi’iyah.

Dan terahir adalah generasi ke Sembilan, karena setelah generasi ini kedua jalur melebur menjad satu dengan prakarsa Imam Ibnu Sholah. Termasuk dalam ulama generasi ke Sembilan ini adalah El Kaya Al Harosy, Abu Sa’ad Al Mutawally, Al Baghowy, Al Ruyany, dan Al Ghozaly.

 

Kitab-kitab buah karya ulama Khurosan

Kitab utama ulama Syafi’iyah yang terkenal dengan aliran Khurosan adalah kitab-kitab buah karya Ali As Sinjy yang menjabarkan pendapat-pendapat imam Muzani, yang dinamakan dengan Al Madzhab Al Kabir oleh imam Haromain, kemudian di belakangnya yaitu Syarh Talkhish karya Ibnu Qosh, dan Syarh Furu’ karya Ibnu Haddad yang banyak di jabarkan (Syarah) oleh ulama-ulama generasi sesudahnya.

Selain dari tiga kitab yang sudah disebutkan tadi ada beberapa kitab yang lain diantaranya adalah: kitab komentar karya Qodhi Husein, kitab Silsilah, dan Al Jam’u wal Farqu karya Imam Juweny, An Nihayah karya Imam Haromain, At Tahdzib karya Al Baghowy, Al Ibanah dan Al ‘Umdah karya Al Faurony, Titimmatul Ibanah karya Al Mutawally, Al Basith, Al Wasith, Al Wajiz dan Al Khulashoh karya Al Ghozaly, Syarh Al Wasith karya Ibnu Rif’ah, Isykalatul Wasith wal Wajiz karya Al ‘Ujaily, Hasyiyah Wasith karya Ibnu Sukary, Isykalatul Wasith karya ibnu Sholah, Syarh Kabir, Syarah Shoghir dan At Tahdzib karya Ar Rofi’I, Ar Roudhoh karya An Nawawy, Mukhtasorul Mukhtashor karya Imam Juweny, Al Mu’tabar, Al Muharror, Al Minhaj, dan Tadzkirotul ‘Alim karya Abu Ali bin Suraij dan Al Lubab karya As Syisyi.

 

Thobaqot ulama Irak

Generasi pertama aliran Irak adalah murid-murid dari Imam Syafi’I yang mengembangkan madzhab Syafi’I di Irak, mereka adalah Abu Tsaur Ibrahim bin Kholid Al Kalaby Al Baghday, imam Ibnu Hambal, Abu Ja’far Al Kholal Ahmad bin Kholid Al Baghdady, Abu Ja’far An Nahlasyi, Abu Abdillah As Shoirofy, Abu Abdirrahaman Ahmad bin Yahya bin Abdul Aziz Al Baghdady, Al Harits bin Suraij, Al Hasan bin Abdul Aziz Al Mashry dan terahir Al Karobisi Al Husein bin Ali Al Baghdady.

Ulama generasi ke dua diantaranya adalah Abu Qosim Al Anmathy, Abu Bakar An Naisabury, Abu Ja’far Muhammad bin Ahmadbin Nasr At Tirmidzy, Qodhi Abu Ubaid Ali bin Husein bin Harbaweh Al Baghdady, abu Ishaq Al Harby dan Abu Hasan Al Mundziry.

Generasi ketiga diwakili olaeh imam Ibnu Suraij, nama lengkapnya adalah Abu Abas Ahmad bin Umar bin Suraij, seorang Qodhi kota Baghdad dan guru sebagian besar dari ulama-ulama Syafi’iyah setelahnya. Dalam generasi ini juga tercatat nama Abu Said Al Istokhry, Abu Ali bin Khoiron, dan Abu hafsh yang terkenal dengan sebutan Ibnu Wakil.

Generasi ke empat dipimpin oleh Abu Ishaq Al Marwazy, di belakangnya ada imam Abu Ali bin Abu Huraiarah, Abu Thoyib Muhammad bin Fadhol bin Maslamah Al Baghdady, Abu Bakar As Shoirofy, Abu Abbas bin Al Qodhi, Abu Ja’far Al Istirabadzy, Abu Bakar Ahmad bin Husein bin Sahal Al Farisi dan terahir adalah Abu Husein Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Qothon.

Dalam generasi ke lima hanya tercatat tiga ulama besar, yaitu: imam Ad Dariky, Abu Ali At Thobary dan Abu Hasan bin Marzaban.

Untuk generasi ke enam juga di wakili oleh tiga ulama besar, yaitu: Abu Hamid Al Isfiroyini (Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Baghdady, wft. Tahun 406 H.), Abu Hasan Al Masarjisi dan Abu Fadhol An Nasawy.

Ulama generasi ke tujuh di komandani oleh Abu Hasan Al Mawardy (muallif kitab Al Hawy), Qodhi Abu Thoyib, Salim bin Ayyub Ar Rozy, Abu Hasan Al Mahamily, imam Syasyi, Al Bandanijy dan Qodhi Abu Sa’id.

Dan ulama generasi terahir di tempati oleh Qodhi abu Saib, Abu Hasan Al Mahamily Al Kabir, Abu Sahal Ahmad bin Ziyad, Faqih Al Baghdady, Abu Bakar Muhammad bin Umar Az Zabady Al Baghdady, Abu Muhammad Al Jurjany dan Abu Thoyib As Shoid.

Kitab-kitab hasil karya ulama Syafi’iyah sekte Irak

Ulama-ulama penyokong madzhab Syafi’I yang membekingi aliran Irak termasuk ulama yang produktif. Hal ini tergambar jelas dari setiap tingkatan generasi yang menelorkan berpuluh-puluh kitab. Dan dari satu kitab tersebut ada berpuluh-puluh jilid, semisal kitab yang membahas tentang komentar Syaikh Abu Hamid yang mencapai 50 jilid. Dari kitab-kitab tadi, kitab yang menjadi rujukan utama adalah kitab komentar Syeih Abu Hamid Al Isfiroyiny. Sedangkan kitab-kitab yang lain menempati posisi di belakangnya, seperti kitab Ad Dzahiroh buah karya Al Bandanijy, Ad Dariq karangan syeikh Abu Hamid, Al Majmu’, Al Ausath, Al Muqni’, Al Lubab, At Tajrid karya Al Muhamily, kitab komentar(ta’liq) karya Thoyib At Thobary, Al Hawy, dan Al Iqna’ karya Al Mawardy, Al Lathif karya Abu Husain bin Khoiron, At Taqrib, Al Mujarrod dan Al Kifayah karya Sulaim, Al Kifayah karya Al ‘Abdary, At Tahdzib, Al Kafi dan Syarah Al Isyaroh karya Nasr Al Maqdisy, Al Kifayah karya Al Muhajiry, At Talqin karya Ibnu Suroqoh, Tadznibul Aqsam karya Al Mar’asyi, Al Kafi karya Az Zabidy, dan masih banyak lagi kitab-kitab lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam tulisan ini.

Setelah mengetahui diantara pengikut madzhab Syafi’I sekte Irak dan sekte Khurosan, mungkin akan timbul pertanyaan: siapakah diantara keduanya yang paling unggul? Untuk menjawab pertanyaan tadi memang agak sulit, karena pada masing-masing sekte punya kelebihan dan kekurangan. Walhasil, tidak ada yang lebih unggul dalam segala aspek, untuk aspek penukilan nash-nash imam Syafi’I, kaidah-kaidah madzhabnya dan berbagai macam pendapat para ulama-ulama syafi’iyah generasi awal, sekte Irak di bilang unggul. Sedangkan sekte Khurosan lebih unggul dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan hukum dan kelengkapannya.

Ulama-ulama penyokong madzhab Syafi’i

  1. Abu Umayyah At Thursusi: Muhammad bin Ibrahim, wft. 273 H
  2. Abu Ishaq, ketika tidak ada qoyidnya maka yang dimaksud adalah Al Marwazy.
  3. Abu Ishaq Al Isfiroyini: Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim bin Mahron, wft. 418 H.
  4. Abu Ishaq Al Syaerozy: Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdullah Al Syaerozy, wft. 472 H.
  5. Abu Ishaq Al Marwazy: Ibrahim bin Ahmad Al Marwazy, padanya bertemu dua sekte dalam madzhab Syafi’I, w. 340 H.
  6. Abu Hasan Al Mawardy: Ali bin Muhammad bin Habib, muallif kitab Hawy, w.450H.
  7. Abu Hasan Al Masarjisi: Muhammad bin Ali bin Sahal bin Muflih, w. 384 H.
  8. Abu Husain bin Qothon: Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Qothon Al Baghdady, w. 359 H.
  9. Abu Rabi’ Al Ilaqy: Thohir bin Muhammad bin Abdillah, w. 465 H.
  10. Abu Thoyib As Sho’luky: Sahal bin Muhammad bin Sulaiman Al ‘Ajaly, w. 387 H.
  11. Abu Thoyib Al Thobary: Qodhi Thohir bin Abdullah bin Thohir, w. 450 H.
  12. Abu Abbas bin Suraij: Ahmad bin Umar bin Suraij Al Baghdady, w. 306 H.
  13. Abu Abbas bin Qosh: Ahmad bin Abi Ahmad Al Qosh Al Thobary, w. 335 H.
  14. Abu Qosim Ad Dariky: Abdul Aziz bin Abdullah, w. 375 H.
  15. Abu Walid An Naisabury: Hassan bin Muhammad bin Ahmad bin Harun, w. 349H.
  16. Abu Bakar Al Ismaily: Ahmad bin Ibrahim bin Ismail Al Jurjany, w. 371 H.
  17. Abu Bakar As Shobughy: Ahmad bin Ishaq, w.342 H.
  18. Abu Bakar AS Shoirofy: Muhammad bin Abdillah, w. 330 H.
  19. Abu Bakar An Naisabury: Abdullah bin Muhammad bin Ziyad, w. 324 H.
  20. Abu Bakar bin Haddad: Muhammad bin Ahmad A Qodhy Al Mashry, w. 345 H.
  21. Abu Bakar bin Mundzir: Muhannad bin Ibrahim bin Mundzir, w. 309 H.
  22. Abu Bakar bin Lal: Ahmad bin Ali bin Ahmad, w. 378 H.
  23. Abu Tsaur: Ibrahim bin Kholid Al Kalaby, w. 240 H.
  24. Abu Hamid Al Isfroyini: Ahmad bn Muhammad bin Ahmad, w. 406 H.
  25. Abu Hamid Al Marwarodzy: Ahmad bin Bisyr bin Amir Al Qodhi, w. 362 H.
  26. Abu Zaid Al Marwazy: Muhammad bin Ahmad bin Abdullah, w. 371 H.
  27. Abu Sa’ad Al Mutawally: Abdurrahman bin Ma’mun, w. 478 H.
  28. Abu Sa’id Al Ishthokhry: Al Hasan bin Ahmad bin yazid bin Isa, w. 328 H.
  29. Abu Sahal As Sho’luky: Muhammad bin Sulaiman bin Muhammad Al ‘Ajaly, w. 369H.
  30. Abu Thohir Az Zabady: Muhammad bin Muhammad bin Mahmisy bin Ali. w.400 H.
  31. Abu Abdillah Az Zubairy: Zubair bin Ahmad bin Sulaiman, w. sebelum 320 H.
  32. Abu Ali Atsaqofy: Muhammad bin Abdul Wahab An Naisabury, w. 328 H.
  33. Abu Ali As Sinjy: Husain bin Syu’aib
  34. Abu Ali At Thobary: Hasan bin Qosum, w. 350 H.
  35. Abu Ali bin Abu Hurairah: Qodhi Hasan bin Husain Al Baghdady, w. 345 H.
  36. Al Abyurdy: Abu Mansur Ali Bin Husain, w. 487 H.
  37. Al Adzro’i: Syihabudin Ahmad bin Abdullah Al Adzro’I, w. 708 H.
  38. Al Anmathy: Utsman bin Sa’id bin Basyar, w. 288 H.
  39. Al Audani: Abu Bakar Muhammad bin Abdullah, w. 385 H.
  40. Al Isnawy: Jamaludin Abdurrahim bin Hasan, w. 772 H.
  41. Imam Haramain: Dhiyauddin Abu Ma’aly Abdul Malik bin Syaikh Abu Muhammad Al Juweny, w. 478 H.
  42. Ibnu Abi ‘Ishrun: Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah Al Maushuly, w. 585 H.
  43. Ibnu Abu Hurairah: Al Qodhi Hasan bin Husain Al Baghdady, w. 345 H.
  44. Ibnu Rif’ah: Abu Yahya Najmudin Ahmad bin Muhammad bin Ali Al Anshory, w. 735 H.
  45. Ibnu Subky: Jamaludin, Tajudin, Bahaudin.
  46. Ibnu Shobbagh: Abu Nashor Abdu Sayid bin Muhammad bin Abdul Wahid, w. 477H
  47. Ibnu Sholah: Taqiyudin Abu Amr Utsman bin Abdurrahman Al Kurdy, w. 643 H.
  48. Ibnu Mundzir: Muhamad bin Ibrahim bin Mundzir, w. 309 H.
  49. Ibnu Binti Syafi’i: Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al Mathlaby As Syafi’I
  50. Ibnu Burhan: Abul Fath Ahmad bin Ali bin Burhan, w. 518 H.
  51. Ibnu Huzaimah: Muhammad bin Ishaq, w. 311 H.
  52. Ibnu Khoiron: Ali bin Husain bin Sholih bin Khoiron Al Baghdady, w. 310 H.
  53. Ibnu Suraij: Abu Abbas bin Suraij
  54. Ibnu Kaji: Qodhi Yusuf bin Ahmad Ad Dainury, w. 405 H.
  55. Ibnu Marziban: Abu Hasan Ali bin Ahmad Al Baghdady, w. 366 H.
  56. Al Istirobadzy: Ahmad bin Muhammad Abu Ja’far
  57. Al Baghowy: Muhyi Sunnah Husain bin Mas’ud, w. 510 H.
  58. Al Bandanijy: Qodhi Abu Ali Hasan bin Abdullah , w. 425 H.
  59. Bahaudin bin Subky: Abu Hamid Ahmad bin Ali, w. 773 H.
  60. Al Busyinjy: Abu Abdilah Muhammad bin Ibrahim Al Busyinjy, w. 290 H. dan Abu Sa’id Ismail bin Abu Qosim Abdul Wahid bin Ismail, w. 530 H.
  61. Al Buwaithy: Abu Ya’kub Yusuf bin Yahya Al Qurasyi, w. 231 H.
  62. Al Baihaqy: Abu Bakar Ahmad bin Husain, w. 458 H.
  63. Tajudin Ibnu Subky: Syaikul Islam Abdul Wahab bin Ali, w. 771 H.
  64. Al Jurjany: AbuAhmad Muhammad bin Ahmad, w. 373 H. Abu Abas Al Jurjany Ahmad bin Muhammad Al Qodhy, w. 482 H.
  65. Jamludin Ibnu Subky: Husain bin Ali, w. 755 H.
  66. Al Juwainy: Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf, w. 438 H.
  67. Al Halimy: Abu Abdillah Hasan bin Husain, w. 406 H.
  68. Al Humaidy: Abdullah bin Zubair, w. 219 H.
  69. Al Hudhory: Muhammad bin Ahmad Al Marwazy
  70. Al Khotib Al Baghdady: Abu Bakar Ahmad bin Khotib Al Baghdady, w. 463 H.
  71. Ad Darimy: Abu Farah Muhammad bin Abdul Wahid Al Baghdady, w. 449 H.
  72. Ar Rozy: Fahrudin Umar bin Husain, 606 H.
  73. Ar Rofi’i: Abu Qosim Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim Al Qozwiny, w. 623 H.
  74. Ar Robi’ Al Jizy: Ar Robi’ bin Sulaiman Al Murody, w. 256 H.
  75. Ar Robi’ Al Murody: Ar Robi’ bin Sulaiman Al Murody, w. 270 H.
  76. Ar Ruyani: Abdul Wahid bin Ismail Abu Mahasin Fakhrul Isla Ar Ruyani, w. 502 H. dan keponakannya Abu Makarim Ar Ruyani Abdullah bin Ali, serta sepupunya yaitu Qodhi Syuraih bin Abdul Karim Ar Ruyani, w. 505 H.
  77. Az Zarkasyi: Badrudin Muhammad bin Bahadir, w. 794 H.
  78. Az Za’farony: Abu Ali Hasan bin Muhammad bin Shobah, w. 260 H.
  79. As Subky: Syaikhul Islam TaqiyudinAli bin Abdul Kafi, w. 756 H. serta anak-anaknya yaitu, Jamaludin As Subky, Tajudin As Subky, dan Bahaudin As Subky.
  80. As Sirjisi: Abu Hasan Muhammad bin Ali, w. 374 H.
  81. Salim Ar Rozy: Salim bin Ayyub Abu Ftah Ar Rozy, w. 547 H.
  82. As Sam’ani: Abu Mudzofar Mansur bin Muhammad At Tamimy, w. 489 H.
  83. As Syasyi: Fahrul IslamMuhammad bin Ahmad bin Husain As Syasyi, w. 507 H.
  84. Syarofudin Ibnul Muqri: Ismail bin Abu Bakar Al Muqry, w. 837 H.
  85. Syaikh Abu Hamid: Ahmad bin Muhammad bin Ahmad, Abu Hamid Al Isfiroyini, w. 406 H.
  86. As Shoidalany: Abu Bakr Muhammad bin Dawud Al Marwazy, w. 427 H.
  87. Al ‘Ubady: Abu ‘Ashim Nuhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Harowy, w. 458 H. dan anaknya Abu Hasan Al ‘Ubady Ahmad bin Abu ‘Ashim, w. 495 H.
  88. ‘Izzudin bin Abdul Aziz bin Abdussalam Ad Dimasyqy As Sulamy, w. 660 H.
  89. Al Ghozaly: Muhammad bin Muhammad, w. 505 H.
  90. Al Fariqy: Abu Ali Hasan bin Ibrahim Al Fariqy, w. 528 H.
  91. Al Faorony: Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad, w. 461 H.
  92. Al Qhodhy, jikalau di katakana oleh genersai akhir dari sekte Khurosan, mak ayng dimaksud adalah Qodhi Husain. Apabila di katakan oleh generasi pertengan dalam sekte Irak maka yang dimaksud adalah Qodhi Abu Hamid Al Marwa rodzy. Dan apabila ditembungkan dalam kitab ushul maksudnya adalah Qodhi Abu Bakar Al Baqillany. Dan Qodhi Al Jubbai bila yang mengucapkan orang mu’tazilah.
  93. Qodhi Abu Hamid: Ahmad bin Bisyr bin Amir Al Marwarodzy, w. 362 H.
  94. Qodhi Husain: Husain bin Muhammad Abu Ali Al Marwazy, w. 462 H.
  95. Qodhi Al Majaly: Bahaudin Abu Ali Al Majally bin Naja Al Makhzumy Al Asyuthy Al Mashry, w. 549 H.
  96. Al Qofal As Syasyi, Al Qofal Al Kabir: Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ismail, w. 336 H.
  97. Al Qofal Al Marwazy, Al Qofal As Shoghir: Abdullah bin Ahmad Al Qofal Al Marwazy, w. 417 H.
  98. Al Karobisi: Husain bin Ali bin Yazid, w. 248 H.
  99. Al Karkhy: Abu Qosim Mansur bin Amr, w. 447 H.
  100. El Kaya Al Harosy: Abu Hasan ImadudinAli bin Muhammad At Thobary, w. 504 H.
  101. Al Masarjisy: Abu Hasan Muhammad bin Ali bin Sahal.
  102. Al Mahamily: Abu Hasan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad, w. 415 H.
  103. Al Mahmudy: Abu Bakar Muhammad bin Mahmud Al Marwazy.
  104. Al Marwazy: Nuhammad bin Nashor, w. 294 H.
  105. Al Muzany: Abu Ibrahim Ismailbin Yahya, w. 264 H.
  106. Al Mas’udy: Muhammad bin Abdul malik bin Mas’ud, w. 420 H.
  107. Nashor Al MAqdisy: Abu Fath Nashor bin Ibrahim Al Maqdisy, w. 490 H.
  108. An Nawawy: Yahya bin Syarof Abu Zakariya An Nawawy, w. 676 H.
  109. Al Harowy: Qodhi Abu Sa’ad Muhammad bin Ahmad bin Abu Yusuf, w. 488 H.
  110. Waliyudin Al ‘Iraqy: Ahmad bin Abdurrahim, anak dari Al ‘Iraqy, W. 826 H.

NASAB NABI MUHAMMAD SAW HINGGA NABI ADAM SERTA NAMA-NAMA NENEK BELIAU

Nasab Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Aalihi wa Sallam  Sampai Nabi  Adam ‘Alaihissalam Serta Nama-Nama Kakek dan Nenek Beliau sampai ‘Adnan.

NASAB NABI MUHAMMAD ROSULILLAH Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Sallam dari JALUR AYAH :

1- MUHAMMAD

 2- ABDULLAH

 3- ABDUL MUTHOLLIB (‘AMIR )

 4- HASYIM (‘AMRU )

 5- ABDU MANAF (AL MUGHIROH)

 6- QUSHOYY

 7- KILAB

 8- MURROH

 9- KA’AB

 10- LUAYY

 11- GHOLIB

 12- FIHRU

 13- MALIK

 14- AN NADRU

 15- KINANAH

 16- KHUZAIMAH

 17- MUDRIKAH

 18- ILYAS

 19- MUDHOR

 20- MA’AD

 21- ‘ADNAN

نسبه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم

  هُوَ أَبُو الْقَاسِم مُحَمَّد بن عبد الله بن عبد الْمطلب بن هَاشم بن  عبد منَاف ابْن قصي بن كلاب بن مرّة بن كَعْب بن لؤَي بن غَالب بن فهر بن  مَالك بن النَّضر ابْن كنَانَة بن خُزَيْمَة بن مدركة بن إلْيَاس بن مُضر  بن معد بن عدنان

 ‘ADNAN bernasab sampai Nabi ISMAIL bin  IBROHIM ‘alaihimassalam tanpa ragu , akan tetapi Ulama’ Ahli Nasab  berbeda pendapat nama-nama antara ‘ADNAN sampai NABI ISMAIL alaihissalam.

Dan riwayat yang lebih mantab mengenai nasab ‘ADNAN sampai NABI ISMAIL  ‘alaihissalam adalah riwayat dr Abi Muhammad bin As Samarqondiy Al  Hafidz dari ‘Ali bin ‘Ubaid Al Kufiy murid Tsa’lab Muhammad bin  Abdullah, beliau menyebutkan dr ‘ADNAN sampai NABI ADAM alaihissalam  sebagai berikut :

22- UDAD

23- ZAID

24- YAQDAD

25- ALMUQOWWAM

26- ILYASA’

27- NABAT

28- QIDAR

29- NABI ISMAIL alaihissalam

30- NABI IBRAHIM alaihissalam

31- TAROH

32- NAKHUR

33- SYARUKH

34- AR’U

35- FALIGH

36-‘ABIR

37- SYALIKH

38- ARFAKHSYAD

39- SAM

40- NABI NUH alihissalam

41- LAMIK

42- MATUSYALAKH

43- KHONUKH

44- BARROH

45- MAHLAYIEL

46- QOINAN

47- ANWAS

48- NABI SYIST alaihissalam

49- NABI ADAM alaihissalam

  وعدنان من ولد إِسْمَاعِيل بن إِبْرَاهِيم بِغَيْر شكّ غير أَن أهل  النّسَب يَخْتَلِفُونَ فِي الْأَسْمَاء مَا بَين عدنان وَإِسْمَاعِيل  وَرُبمَا جرى مِنْهُم فِي أَكثر الْأَسْمَاء تَصْحِيف أَو اخْتِلَاف ,   وَمن أثبت مَا رَأَيْت فِي ذَلِك مَا نقلته من خطّ أبي مُحَمَّد بن  السَّمرقَنْدِي الْحَافِظ قَالَ نقلت من خطّ عَليّ بن عبيد الْكُوفِي  وَهُوَ صَاحب ثَعْلَب مُحَمَّد بن عبد الله فَذكره كَمَا ذَكرْنَاهُ إِلَى  عدنان بن أدد بن زيد بن يقدد ابْن الْمُقَوّم بن اليسع بن نبت بن قيدار بن  إِسْمَاعِيل بن إِبْرَاهِيم بن تارح بن ناحور ابْن شاروخ بن أرعو بن فالغ  بن عَابِر بن شالخ بن أرفخشد بن سَام بن نوح ابْن لامك بن متوشلخ بن خنوخ  بن برة بن مهلاييل بن قينن بن أنوس ابْن شِيث بن آدم

Sedangkan nasab Beliau Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Aalihi wa Sallam dr JALUR IBU yaitu :

 1- NABI MUHAMMAD SAW

 2- AMINAH

 3- WAHAB

 4- ABDI MANAF

 5- ZUHROH

 6- KILAB

 7- MURROH

 8- dst ….

فَأَما أمه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَهِيَ آمِنَة بنت وهب بن عبد منَاف بن زهرَة بن كلاب بن مرّة

NENEK NABI MUHAMMAD Shollallohu ‘alaihi wa Aalihi wa Sallam dari JALUR AYAHNYA ( Sayyid Abdullah) :

1- ABDULLAH bin

2- ‘ATIKAH/FATHIMAH al Makhzumiyyah binti

3- SHOKHROH binti

4- TAKHMARA binti Abdu bin Qushoyy

أَسمَاء جداته صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من قبل أَبِيه

  فَهُوَ عبد الله بن عَاتِكَة بنت أبي وهب بن عمر بن عَائِذ أدْرك  الْإِسْلَام وَأسلم وَثَبت مَعَ النَّبِي يَوْم حنين وعاتكة وَهِي  المخزومية وَيَقُول ابْن قُتَيْبَة فِي المعارف اسْمهَا فَاطِمَة بنت عمر  بن عَائِذ بن عمرَان بن مَخْزُوم وَاسم أم فَاطِمَة صَخْرَة بنت عبد بن  عمرَان وَاسم أم صَخْرَة تخمر بنت عبد بن قصي وَفِي العواتك يَقُول صلى  الله عَلَيْهِ وَسلم أَنا ابْن العواتك

» Sayyid Abdul Muthollib bin Hasyim itu mempunyai 5 istri :

 1- NATILAH , punya 2 anak

 2- HALAH , punya 4 anak

 3- FATHIMAH , punya 8 anak

 4- SAMRO’ , punya 1 anak

 5- LUBNA , punya 1 anak

» Dari Sayyidah Fathimah al Makhzumiyyah binti Umar  bin ‘Aaidz lahirlah Sayyid Abdullah bin Abdul Muthollib ,

 » Sedangkan ibu dari Sayyid Abdul Muthollib adalah SALMA  al  Khozrojiyyah binti ‘Amru dari Bani Najar Saba’ Yaman dan ibunya SALMA  bernama ‘AMIROH binti Shokhru bin Mazin.

وجده صلى الله عَلَيْهِ  وَسلم عبد الْمطلب واسْمه عَامر كَمَا فِي معارف ابْن قُتَيْبَة وَقَالَ  أَبُو حَاتِم اسْمه شيبَة لِأَنَّهُ كَانَ فِي رَأسه شيبَة وَكَانَ تَحت  عبد الْمطلب خمس نسَاء نتيلة وهالة وَفَاطِمَة وسمراء ولبنى وَكَانَ لعبد  الْمطلب من كل امْرَأَة أَوْلَاد من فَاطِمَة ثَمَانِيَة بَنِينَ وَمن  هَالة أَرْبَعَة بَنِينَ وَمن نتيلة ابْنَانِ وَمن سمراء ابْن وَاحِد وَمن  لبنى ابْن وَاحِد

 وتفصيله هَكَذَا من بطن نتيلة بنت جناب نسبتها إِلَى  أبي جدها ولدان عَبَّاس وَضِرَار وَمن بطن هَالة بنت أهيب حَمْزَة والمقوم  بن عبد الْمطلب وحجل وَصفِيَّة وَمن بطن فَاطِمَة بنت عمر بن عَائِذ عبد  الله وَالِد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَأَبُو طَالب  وَالزُّبَيْر وَأم حَكِيم الْبَيْضَاء وعاتكة وَأُمَيْمَة وأروى وبرة وَمن  بطن سمراء بنت جُنْدُب بن صَخْر الْحَارِث وَمن بطن لبنى بنت هَاجر من عبد  منَاف أَبُو لَهب وَأم عبد الْمطلب اسْمهَا سلمى بنت عَمْرو من بني النجار  فَهِيَ خزرجية وهم من الْيمن من سبأ وَكَانَت أمهَا عميرَة بنت صَخْر بن  مَازِن وَأم أمهَا مِنْهُم

» Nama Ibunya Sayyid Hasyim bin Abdu Manaf adalah ‘ATIKAH binti Murroh bin Hilal bin Falij bin Dzakwan dari Bani Sulaim.

 وَمن أجداده صلى الله عَلَيْهِ وَسلم هَاشم بن عبد منَاف واسْمه عَمْرو  وَأمه عَاتِكَة بنت مرّة ابْن هِلَال بن فالج بن ذكْوَان من بني سليم  فَهِيَ مسلمية

» Nama ibunya Sayyid Abdu Manaf bin Qushoyy  adalah HUYAYY binti Halil Al Khuzaiyyah ,Halil adalah pemegang kunci  Ka’bah kemudian diambil alih oleh  Sayyid Qushoyy bin Kilab.

 وَمن أجداده صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عبد منَاف واسْمه الْمُغيرَة بن قصي  وَكَانَ يلقب بقمر الْبَطْحَاء وَاسم أمه حييّ بنت حليل الْخُزَاعِيَّة  وَكَانَ مِفْتَاح الْكَعْبَة فِي يَد حليل الْخُزَاعِيّ ثمَّ أَخذه قصي بن  كلاب

» Nama ibunya Sayyid Qushoyy bin Kilab adalah FATHIMAH  dan ibunya Fathimah bernama FATHIMAH binti Sa’ad dari Qobilah  Azdissaroh ,

» Nama ibunya Sayyid Kilab adalah WAHNAH , dan dlm  Tarikh Abu Hatim dan ibnu Qutaibah namanya NU’AIM binti Sarir al  Kinaniyyah ,

» Nama ibunya Sayyid Murroh adalah WAHSYIYYAH binti Syaiban al Fihriyyah ,

» Nama ibunya Sayyid Ka’ab adalah SALMA binti Maharib,

 » Nama ibunya Sayyid Luayy adalah SALMA binti Umar bin Amir al  Kinaniyyah dan menurut Abu Hatim dan Ibnu Qutaibah : namanya WAHSYIYYAH  binti Mudlij ,

» Nama ibunya Sayyid Gholib adalah ‘ATIKAH Al  Hudzaliyyah ,dan menurut Abi Hatim dan Ibnu Qutaibah : namanya SALMA  binti Sa’ad ,

» Nama ibunya Sayyid Fihru adalah JANDALAH binti Al Haris al Jurhumiy ,

 » Nama ibunya Sayyid Malik adalah ‘AKROSYAH al Qoisiyyah , dan menurut  Abu Hatim dan Ibnu Qutaibah : namanya HINDUN binti ‘Adwan bin Amru dari  Bani Qois ‘Ailan ,

» Nama ibunya Sayyid An Nadhru adalah BARROH al Mariyah ,

» Nama ibunya Sayyid Kinanah adalah ‘Awanah ,

» Nama ibunya Sayyid Huzaimah adalah SALMA binti Sa’ad bin Qois ,

» Nama ibunya Sayyid Mudrikah adalah KHONDAFA ( LAILA ),

» Nama ibunya Sayyid Ilyas adalah ROBABAH ,

» Nama ibunya Sayyid Mudhor adalah SAUDAH ,

» Nama ibunya Sayyid Nizar adalah MU’ANAH ,

» Nama ibunya Sayyid Ma’ad adalah  MAHROH ,

» Nama ibunya Sayyid ‘Adnan adalah BALHA

 وَمن أجداده صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قصي بن كلاب وَاسم قصي زيد ويدعى  مجمعا لِأَنَّهُ جمع قبائل قُرَيْش وأنزلها مَكَّة وقصي تَصْغِير بِمَعْنى  بعيد لِأَنَّهُ بعد عَن عشيرته فِي بِلَاد قضاعة حِين احتملته أمه فَاطِمَة  وَاسم أم قصي فَاطِمَة بنت سعد من أَزْد السراة فَهِيَ أزدية وَاسم أم  كلاب وهنة وَفِي تَارِيخ أبي حَاتِم وَابْن قُتَيْبَة اسْمهَا نعيم بنت  سَرِير الكنانية وَاسم أم مرّة وحشية بنت شَيبَان الفهرية المعارف

 وَاسم أم كَعْب سلمى بنت محَارب المعارف

 وَاسم أم لؤَي سلمى بنت عمر بن عَامر الكنانية وَعند أبي حَاتِم وَابْن قُتَيْبَة اسْمهَا وحشية بنت مُدْلِج

 وَاسم أم غَالب عَاتِكَة الهذلية وَعند أبي حَاتِم وَابْن قُتَيْبَة سلمى بنت سعد

 وَاسم أم فهر جندلة بنت الحارس الجرهمي

 وَاسم أم مَالك عكرشة القيسية وَعند أبي حَاتِم وَابْن قُتَيْبَة هِنْد بنت عدوان ابْن عَمْرو من قيس عيلان

 وَاسم أم النَّضر برة المرية وَقيل فكيهة وَعند أبي حَاتِم وَكَانَت تَحت أَبِيه كنَانَة فخلف عليها بعد أَبِيه

 وَاسم أم كنَانَة عوَانَة وَقيل هِنْد

 وَاسم أم خُزَيْمَة سلمى بنت سعد بن قيس

 وَاسم أم مدركة خندف وَهِي ليلى

 وَاسم أم إلْيَاس ربابة

 وَاسم أم مُضر سَوْدَة

 وَاسم أم نزار معانة

 وَاسم أم معد مهرَة وَفِي الطَّبَرِيّ مهدد

 وَاسم أم عدنان بلها

  وَقد ورد فِي الدَّلَائِل للبيهقي عَن أنس رَضِي الله عَنهُ مَرْفُوعا  خرجت من نِكَاح وَلم أخرج من سفاح من لدن آدم حَتَّى انْتَهَيْت إِلَى أبي  وَأمي فَأَنا خَيركُمْ نسبا وخيركم أَبَا

NAMA NAMA NENEK ROSULULLAH Shollallohu alaihi wa Aalihi wa Sallam dari JALUR IBUNYA (Sayyidah Aminah ) ,

 Ibu Sayyidah Aminah :

 1- MURROH binti Abdul ‘Uzza ,ibunya bernama :

 2- UMMU HABIB binti Asad ,ibunya bernama :

 3- BARROH binti ‘Auf ,ibunya bernama :

 4- QOLABAH ,ibunya bernama :

 5- HINDUN binti Yarbu’

» Menurut Ibnu Hisyam dan Ibnu Qutaibah : Nama ibunya Sayyidah Aminah adalah BARROH (bukan Murroh ) ,

 » Nama ibunya Sayyid Wahab ( kakek Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wa  Aalihi wa Sallam ) adalah ‘ATIKAH binti Al Auqosh bin Murroh bin Hilal ,

 » Dan Sayyid Zuhroh bin Kilab adalah Saudara laki lakinya Qushoyy bin  Kilab, dan ibu dari kedua saudara tersebut namanya FATHIMAH binti Sa’ad dari  Qobilah Azdissaroh .

أَسمَاء جدات رَسُول الله من قبل أمه

 مرّة أم حبيب برة قلَابَة هِنْد

  أم آمِنَة اسْمهَا مرّة بنت عبد الْعُزَّى وَاسم أم مرّة أم حبيب بنت أَسد  وَاسم أم أم حبيب برة بنت عَوْف وَاسم أم برة قلَابَة وَاسم أم قلَابَة  هِنْد بنت يَرْبُوع

 وَنقل ابْن هِشَام وَابْن قُتَيْبَة أَن اسْم أم آمِنَة برة لَا مرّة

  وَاسم أم وهب جد النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من قبل أمه عَاتِكَة  بنت الأوقص بن مرّة ابْن هِلَال وَعبد منَاف أَبُو وهب أمه زهرَة وإليها  ينْسب وَلَدهَا دون الْأَب وَلَا أعرف اسْم الْأَب وَقد أُقِيمَت فِي  التَّذْكِير مقَام الْأَب

 وزهرة بن كلاب أَخُو قصي بن كلاب وأمهما فَاطِمَة بنت سعد من أَزْد السراة

Naqoltu Dari Kitab : Talqihu Fuhumi Ahlil Atsar Fi ‘Uyunittarikh Wassiyar .

تلقيح فهوم أهل الأثر في عيون التاريخ والسير  المؤلف: عبد الرحمن بن علي بن محمد بن علي بن الجوزي أبو الفرج

R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya BUPATI CILACAP YANG NAMANYA DI ABADIKAN SEBAGAI NAMA MASJID DI PCNU CILACAP

R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya adalah nama Bupati Cilacap ke-5 yang menjabat selama periode tahun 1927-1950. Hal itu bisa dilihat di laman resmi Pemerintah Kabupaten Cilacap.

Bupati R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya dikenal juga sebagai Bupati Tiga Jaman; jaman penjajahan Belanda, jaman penjajahan Jepang dan jaman Orde Lama.

Beliau ikut menjadi saksi pengeboman Jepang di hari nahas, Sabtu Pahing. Demikian sebuah keterangan yang dinukil dari keterangan foto R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya.

Berikut ini daftar Bupati Cilacap selengkapnya:

  1. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)
  2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)
  3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)
  4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)
  5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)
  6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)
  7. R. Witono (1952-1954)
  8. Raden Mas Kodri (1954-1958)
  9. D.A Santoso (1958-1965)
  10. Hadi Soetomo (1965-1968)
  11. HS. Kartabrata (1968-1974)
  12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)
  13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)
  14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)
  15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)
  16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)
  17. Tatto Suwarto Pamuji (2011-sekarang).

Nama R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya  atau dalam sebutan lain dengan nama Tjokrosiwojo diabadikan sebagai nama Masjid di lingkungan PCNU Cilacap. Hal itu berkaitan dengan proses pemberian wakaf oleh keluarga besar R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya melalui puterinya yang bernama Hj. R. Ayu Sukeri Kusumo Retno Sugianto.

Wakaf diberikan dalam bentuk bangunan Masjid utuh, yang kemudian diberi nama Masjid Nur Tjokrosiwojo PCNU Cilacap. Pemberian nama tersebut atas usulan dari Hj. R. Ayu Sukeri Kusumo Retno Sugianto. Masjid tersebut diresmikan penggunaannya pada tanggal 3 Desember 2018.

BIOGRAFI IBNU ‘ATHOILLAH AS-SAKANDARY PENGARANG KITAB AL-HIKAM

Nama lengkapnya adalah Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Atha’illah as-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 709 H/1309 M. julukan al-Iskandari atau as-Sakandari dari merujuk kota kelahirannya. Keluarga Ibnu Atha’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fikih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Fakih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami.

Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atha’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fikih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawuf dan para Auliya’ Shalihin.

Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syaikh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri Tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fikih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili. Ia dikenal sebagai master atau syaikh ketiga dalam lingkungan Tarikat Syadzili setelah pendirinya Abu Al-Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abu Al-Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha’illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara.

Ibnu Atha’illah tumbuh sebagai seorang fakih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefakihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atha’ menceritakan dalam kitabnya “Lathaiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya.

Di sinilah guru Ibnu Atha’ yaitu Abul Abbas al-Mursi mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fikih Iskandariah (Ibnu Atha’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fikih (kakek Ibnu Atha’illah) demi orang yang alim fikih ini”. Pada akhirnya Ibn Atha’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fikih sampai bisa memadukan fikih dan tasawuf.

Oleh karena itu sejarah menyebutkan riwayat hidup Atha’illah menjadi tiga masa:

Masa pertama

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fikih, dalam hal ini Ibnu Atha’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya terhadap ulama’ tasawuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atha’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athailah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan: “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian aku menghadapnya dan berkata: “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Beliau memandangku sebentar kemudian berkata: “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Masa ketiga

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atha’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke Allah swt pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atha’illah dalam ilmu fikih dan ilmu tasawuf. Ia membedakan antara Uzlah dan khulwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, khalwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah swt.

Menurut Ibnu Atha’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atha’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atha’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus shalih, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atha’illah adalah orang yang shalih, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakikat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tabaqah al-syafi’iyyah al-Kubra”.

Karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

    Di dalam kitab “Jami’u Karamatil Aulia” pada jilid 1 halaman 525, cetakan “Darul Fikr”, Bairut, Libanon diterangkan tentang karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, Di antara karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari adalah sebagai berikut:

    Suara Syaikh terdengar dari dalam Kubur. Pada suatu hari Syaikh Al-Kamal Ibnu Al-Hammam berziarah ke makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah. Kemudian di sisi makam beliau, Al-Kamal Ibnu Al-Hammam membaca surat Hud sampai pada ayat:

    فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

    Artinya: “Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia”. (Q.S. Hud {11}: 105)

    Tiba-tiba Syaikh Ibnu ‘Athaillah dari dalam kuburnya menjawab dengan suara yang tinggi (keras) : “Wahai Kamal ! Tidak ada di antara kita yang celaka”.

    Karena menyaksikan karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah yang agung itu, kemudian Ibnu Hammam berwasiat (kepada sahabat-sahabatnya) apabila beliau meninggal nanti supaya jenazahnya dimakamkan di sana, di dekat makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah.

    Pada suatu ketika salah seorang murid Syaikh Ibnu ‘Athaillah berangkat haji. Kemudian di sana si murid melihat sang guru (Syaikh Ibn Athaillah) sedang melakukan tawaf. Dia juga melihat sang guru sedang berada di belakang maqam Ibrahim. Begitupula di tempat sa’i dan di Padang Arafah.

    Kemudian, ketika pulang haji, dia bertanya kepada teman-teman di kampung halamannya tentang gurunya apakah beliau pergi haji atau tidak? Jawab mereka: Tidak. Mendengar jawaban itu, kemudian langsung dia pergi ke rumah gurunya. Sesampainya di sana, dia mengucapkan salam. Setelah itu, sang guru bertanya kepadanya: Siapa saja yang engkau lihat dalam perjalanan ibadah hajimu? Jawab dia: Ya, tuanku. Aku melihat tuanku berada di sana. Kemudian, sang guru tersenyum dan berkata: Orang besar bisa memenuhi alam jagad raya. Seandainya seorang Wali Quthub berdoa di kamar tempat penyepiannya, maka sudah barang tentu Allah akan mengabulkan doanya.

Karangan Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atha’ meninggalkan banyak karangan lebih kurang sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitabah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama al-Hikam, yang telah diberikan komentar (Syarahan) oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.

Salah satu karangan fenomenalnya Syaikh Ibnu Atha’illah adalah kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tauhid dantasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.

Menurut keterangan Syaikh Zarruq, kitab ini tidak ditulis sendiri oleh Syaikh Ibn Athaillah, namun didiktekan kepada muridnya yang bernama Syaikh Taqiyuddin al-Subki, seorang ahli fikih dan kalam yang terkenal akan ketelitian dan kejujurannya.

Kitab karyanya yang lain adalah Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah, yang berisi penjelasan tentang metode zikir. Di dalamnya beliau memaparkan beberapa jenis zikir dan Asma Allah yang cocok untuk berbagai kondisi murid.

Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir merupakan penjelasan ajaran Tarikat Syadiziliyyah tentang berbagai bentuk kebajikan, seperti ikhlas, harapan, cinta, dan sebagainya.

Lathaif al-Minan merupakan kitab yang menjelaskan biografi dua tokoh Tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, yakni biografi Syaikh Abu Hasan al-Syadzili dan Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Di dalamnya juga dipaparkan keterangan tentang Wali Allah dan beberapa amalan utama (zikir, hizib dan doa) dua Wali Allah tersebut.

Kitab Al-Qash al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad, yang menyajikan pembahasan ringkas Asma al-Husna, dengan pemaparan teori menafisika Asma al-Husna.

Kitab Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib an-Nufus, berisi kutipan-kutipan dari al-Hikam, at-Tanwir dan Lathaif.

Wafatnya Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qarrafah al-Kubra.