TATA KRAMA ITU PENTING DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Dalam penerbitan perdana sebuah jurnal ilmiah bulanan  NU, yang diterbitkan tahun 1928 dan bertahan sampai tahun 60- an, KH M. Hasyim Asy’ari menuliskan fatwa beliau: bahwa kentongan (alat dari kayu yang dipukul hingga berbunyi nyaring) tidak dapat diperkenankan untuk memanggil sholat dalam hukum Islam. Dasar dari pendapatnya itu adalah kelangkaan hadis Nabi; biasanya disebut sebagai tidak adanya teks tertulis (dalil naqli) dalam hal ini. Dan dalam penerbitan bulan berikutnya, pendapat tersebut disanggah oleh wakil beliau Kyai Faqih dari Maskumambang, Gresik, yang menyatakan bahwa kentongan harus diperkenankan, karena ia dianalogi/ diqi’as-kan kepada beduk sebagai alat pemanggil sholat/ sembahyang. Karena beduk diperkenankan, atas adanya sumber tetulis (dalil naqli) berupa hadis Nabi Muhammad SAW. Mengenai adanya/ digunakannya alat tersebut pada jaman nabi, maka kentonganpun harus diperkenankan.

Segera setelah uraian Kyai Faqih itu muncul, KH M. Hasyim Asy’ari segera memanggil para ulama se Jombang dan para santri senior beliau berkumpul di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Dan ia pun memerintahkan kedua artikel itu untuk dibacakan kepada para hadirin. Setelah itu, beliau menyatakan mereka dapat menggunakan salah satu dari kedua alat pemanggil itu dengan bebas. Yang beliau minta hanyalah satu hal saja, yaitu hendaknya di mesjid Tebu Ireng, Jombang kentongan itu tidak akan digunakan selama-lamanya. Pandangan beliau itu mencerminkan sikap sangat menghormati pendirian Kyai Faqih dari Maskumambang tersebut, dan bagaimana sikap itu didasarkan pada “kebenaran” yang beliau kenal.

Dalam bulan Maulid/ Rabi’ul Awal berikutnya, KH M. Hasyim Asy’ari diundang berceramah di pesantren Maskumambang. Tiga hari sebelumnya, para utusan Kyai Faqih Maskumambang menemui para ketua/ pimpinan ta’mir mesjid dan surau yang ada di kabupaten Gresik dengan membawa pesan beliau. Pesan itu adalah, selama Kyai M. Hasyim Asy’ari berada di kawasan kabupaten tersebut, semua kentongan yang ada harus diturunkan dari tempat bergantungnya alat tersebut. Sikap ini diambil beliau karena penghormatan beliau terhadap Kyai Hasyim Asy’ari, yang bagaimanapun juga adalah atasan beliau dalam berorganisasi. Kebenaran, tidak berarti hilangnya sikap menghormati pandangan seseorang, sebagai sebuah sikap tanda kematangan pribadi kedua tokoh tersebut.

*****

Sikap saling menghargai satu sama lain, antara kedua tokoh tersebut yaitu antara Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU itu, menunjukkan tata krama yang sangat tinggi antara dua orang ulama yang berbeda pendapat, namun menghargai satu sama lain. Inilah yang justru tidak kita lihat saat ini, terlebih-lebih antara pemimpin gerakan Islam dewasa ini, yang tampak mencuat justru sikap saling menyalahkan, sehingga tidak terdapat kesatuan pendapat antara mereka.  Yang menonjol adalah perbedaan pendapat, bukan persamaan antara mereka. Penulis tidak tahu, haruskah kenyataan itu disayangkan  ataukah justru dibiarkan?

Mungkin hal itu adalah  “kehausan” yang penulis rasakan, adalah sisa-sisa dari sebuah nostalgia yang ada mengenai “keagungan” masa lampau belaka, tetapi bukankah seseorang berhak merasa seperti itu? Bukankah kitab suci Al Quran menyatakan; “sesungguhnya telah-Ku ciptakan kalian (dalam bentuk) lelaki dan perempuan dan Ku- jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa” (Inna khalqna kum min dzakarin wa undza wa dzalanakum su’uban wa qaba illa li ta’arafu inna aqramakum inza allahi hattaqum). Ayat ini jelas membenarkan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin. Karenanya, justru ayat ini menolak penyeragaman (uniformisasi) dalam pandangan kaum muslimin. Dan hal itu tercermin berdirinya sekian banyak kelompok yang ada dalam gerakan mereka, sepanjang sejarah Islam sendiri.

Namun Allah juga berfirman dalam kitab suci-Nya itu: “Dan berpeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/ terpecah belah” (wa tashimu bihabli allahi jami’an wa la tafaroqu), ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lain. Hal ini diperkuat oleh sebuah ayat lain: ‘bekerjasamalah kalian dalam (bekerja untuk) kebaikan dan ketakwaan”(Ta’awanu alla al-birri wa al-taqwa) yang jelas-jelas mengharuskan kita melakukan koordinasi berbagai kegiatan. Tetapi, kerjasama seperti hanya dapat dilakukan oleh kepemimpinan tunggal dalam berbagai gerakan Islam.

*****

Masalahnya sekarang adalah langkanya kepemimpinan seperti itu. Para pimpinan gerakan Islam saling bertengkar, minimal hanya bersatu dalam ucapan, yang oleh seorang wartawan kita diungkapkan sebagai “basa-basi” belaka. Mengapakah demikian? Karena para pemimpin itu hanya mengejar ambisi pribadi belaka, dan jarang yang berpikir mengenai umat Islam secara keseluruhan, padahal sikap seperti itupun juga salah. Seharusnya, mereka berpikir tentang bagaimana melestarikan agama Islam sebagai budaya, melalui upaya melayani dan mewujudkan kepentingan seluruh bangsa. Ambisi politik masing-masing akan terwujud jika ada pengendalian diri, dan jika diletakkan dalanm kerangka kepntingan seluruh bangsa.

Dalam ajaran Islam dikenal istilah “ikhlas” dan ketulusan yang dimaksudkan oleh istilah tersebut adalah peleburan ambisi pribadi masing-masing ke dalam pelayanan kepentingan seluruh bangsa. Di sinilah justru harus ada kesepakatan antara para pemimpin berbagai gerakan/ organisasi Islam yang ada, dan ketundukkan kepada keputusan sang pemimpin dirumuskan. Untuk melakukan perumusan seperti itu, diperlakukan dua persyaratan sekaligus, yaitu kejujuran sikap dan ucapan, yang disertai dengan sikap “mengalah” kepada kepentingan berbagai gerakan organisasi itu. Tanpa kedua hal itu, sia-sialah upaya “menyatukan” umat Islam dalam sebuah kerangka perjuangan yang diperlukan.

Dalam hal ini, penulis lagi-lagi teringat kepada sebuah adagium yang sering dinyatakan berbagai kalangan, sebagi ucapan Nabi Muhammad SAW: “Tak ada agama tanpa kelompok, tak ada kelompok tanpa kepemimpinan dan tak ada kepemimpinan tanpa sang pemimpin” (La diina illa bizma’atin wa laa jam’ata illa bii immamatin wa-laa imammata illa bii imammin). Adagiumnya memang benar, walaupun sekelompok kecil pernah mengajukan klaim kepemimpinan itu dan minta diterima sebagi pemimpin. Namun sikap mereka yang memandang rendah kelompok lain, justru menggagalkan niatan tersebut, sedangkan kelompok-kelompok lain tidaklah memiliki kepemimpinan kohesif seperti itu. Herankah kita, jika wajah berbagai gerakan Islam di Tanah Air kita saat ini tampak tidak memiliki kepemimpinan yang jelas? Di sinilah kita perlu embangun kembali “kesatuan” umat (ummatan wahiditan). Mudah diucapkan, namun sulit diwujudkan bukan?

SUNAN AMPEL MEMPUNYAI AYAM JAGO YANG SELALU JUARA

SETELAH membangun Langgar Tiban bersama mertuanya (Mbah Karimah Wiroseroyo) di Kembang Kuning, Sunan Ampel (Raden Rahmat) lalu melanjutkan perjalanannya ke Ampel Denta. Sebelum sampai di Ampel Denta, Raden Rahmat beserta Nyai Karimah menyempatkan diri untuk singgah di Kampung Peneleh.

Dengan menggunakan armada perahunya dari Majapahit, Raden Rahmat menyusuri Kali Brantas, hingga tibalah ia di sebuah kampung bernama Peneleh yang artinya orang pilihan itu. Lokasi “Kampung Peneleh memang dekat sekali dengan Kali Peneleh, jarak dari tepi sungai dengan tepi kampung sekitar 10 meter,” ucap Muhammad Sufyan, Takmir Masjid Peneleh.

Raden Rahmat memilih Peneleh sebagai tempat kedua setelah Kembang Kuning karena ia sangat tertarik dengan warga di wilayah ini yang sudah mengenal ketauhidan. Raden Rahmat singgah di Peneleh untuk menyebarkan agama Islam.

“Setibanya di sini (Peneleh), Raden Rahmat melihat ada bermacam-macam perkumpulan dari berbagai agama. Ada Hindu, Budha serta aliran kepercayaan,” tuturnya.

Raden Rahmat pun merasakan keguyupan warga Kampung Peneleh ini, lalu ia pun memutuskan untuk tinggal di sini bersama Nyai Karimah. Setelah berhasil beradaptasi dengan masyarakat di Peneleh, ia pun bisa dengan jelas mengamati kehidupan sehari-hari mereka. Akhirnya Raden Rahmat pun mendapatkan sebuah kenyataan bahwa warga Peneleh sangat senang dengan judi sabung (adu) ayam jago.

Siasat pun ia lancarkan untuk bisa masuk ke kepercayaan warga. Ada ide untuk memenangkan hati warga dengan ikut menjadi peserta pertandingan sabung ayam jago itu dan harus selalu menang dalam setiap pertandingan.

Maka ikutlah Raden Rahmat dengan membawa ayam istimewanya itu di setiap pertandingan. Ternyata, kemenangan pun selalu di pihak Raden Rahmat bersama ayam istimewanya itu. Kemenangan yang berturut-turut diterima oleh Raden Rahmat bersama ayamnya ini lama-kelamaan menimbulkan rasa penasaran warga. “Rasa penasaran warga pun bertambah saat ayam jago juara bertahan kampung juga ikut kalah,” paparnya.

Karena semakin kuat rasa penasarannya, akhirnya warga pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Raden Rahmat. Ia lalu mengumpulkan warga ke dalam rumahnya yang semakin lama tidak bisa menampung antusias warga. Melihat momen ini, warga pun diajak untuk membangun sebuah tempat yang lebih besar dari rumah Raden Rahmat.

“Hal ini pula yang menjadi cikal bakal dibangunnya Masjid Jami’ Peneleh yang nantinya akan dimanfaatkan Raden Rahmat untuk mengenalkan agama Islam ke warga Peneleh,” tandasnya.

Belakangan diketahui bahwa ayam istimewa yang dipakai Raden Rahmat sebagai ayam jagonya terbuat dari sebuah batu. “Karena beliau termasuk Waliyullah, dengan izin Allah, batu pun bisa diubah menjadi ayam jago. Sampai saat ini ada orang yang lelaku bisa mendengar kokok dari ayam Kanjeng Sunan Ampel ini. Dan di salah satu tiang masjid ada tempat favoritnya untuk bertengger,” ungkapnya.

KEMULIAAN DAN KEUTAMAAN UMMUL MUKMININ DEWI KHADIJAH RA.

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Berikut ini adalah rangkaian panjang dalam bingkai siroh perjalanan hidup Umul Mukminin, istri Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dilahirkan lima belas tahun sebelum tahun gajah, dalam nasab, dirinya termasuk berada pada kalangan menengah dalam suku Quraisy, dan yang paling tinggi kemuliaannya. Sampai dirinya dikenal dengan kesuciannya dari hal-hal buruk yang dilakukan para wanita pada zaman jahiliyah.

Beliau seorang saudagar wanita yang sukses dengan harta yang melimpah. Dan beliau dipersunting oleh Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam sedangkan saat itu umurnya sudah sampai empat puluh tahun, dan Nabi berusia dua puluh lima. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memadu dengan wanita lain sampai setelah kematiaannya dikarenakan kedudukan serta keutamaan beliau dihati Nabi, sesungguhnya dia adalah sebaik-baik teman hidup.

Darinya lahir anak-anak beliau, pertama anak laki-laki yang bernama Qosim, dimana dengan sebab itu beliau dipanggil ayahnya. Kemudian lahir Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah serta Abdullah.

Beliau dijuluki dengan wanita yang paling baik akhlaknya lagi suci. Dari anak-anak yang lahir darinya, semua anak laki-lakinya meninggal ketika masih kecil, adapun anak-anak perempuannya maka seluruhnya menjumpai masa Islam dan semuanya masuk agama Islam dan ikut hijrah, dan mereka semua menjumpai ibunya kecuali Fatimah, sesungguhnya ibunya meninggal beberapa bulan setelah kelahirannya.

Dirinya adalah orang pertama yang beriman dan percaya kepada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam sebelum ada seorangpun yang beriman padanya. Beliau yang meneguhkan Nabi supaya tetap teguh, serta membawanya kepada anak pamannya Waraqah. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menyuruh Nabi       -Nya supaya memberi kabar gembira kepadanya, dengan rumah disurga dari emas yang tidak ada kebisingan serta rasa capek didalamnya.

Dialah Ibunda kuam mukminin Khadijah binti Khuwailid bin Asad al-Quraisyiyah al-Asadiyah. Beliau adalah wanita yang paling mulia pada umat ini. Imam adz-Dzahabi mengatakan tentang beliau: ‘Seorang yang sangat berakal lagi terhormat, teguh beragama, terjaga dari sifat keji lagi mulia, yang termasuk penghuni surga. Adalah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa memujinya dan mengutamakan dirinya dari semua istri-istrinya. Sehingga beliau sangat mengaguminya, sampai kiranya Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: ‘Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap madu yang lainnya melebihi kecemburuanku pada Khadijah, dikarenakan saking seringnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebut-yebut dirinya’.

Disebutkan dalam sebuah hadits, yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: ‘Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan pada beliau:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Wahai Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam, Ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah disurga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai”. HR Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432.

As-Suhaili mengomentari hadits diatas: ‘Hanya saja beliau diberi gambar seperti itu, dengan mendapat rumah disurga yang terbuat dari batu permata, dikarenakan dirinya telah menghimpun berbagai sarana sebagai pionir terdepan yang beriman kepada suaminya, dibarengi dengan sikapnya yang tenang dan tidak merasa capai dalam pembelaannya. Dan dikarenakan dalam kehidupannya beliau tidak pernah mengangkat suara kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak membikin suaminya merasa capai apalagi menganggu urusannya’.

Ibnu Ishaq mengatakan: ‘Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam merasa begitu sedih tatkala Abu Thalib dan istrinya Khadijah meninggal secara berurutan. Khadijah adalah istri sekaligus pembantunya yang sangat tulus. Dalam garis silsilah nasab, Ayah beliau bertemu dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek yang ke empat yaitu Qusai bin Kilab, sedangkan ibunya bertemu dalam silsilah keturunan bersama Nabi pada kakeknya yang kedelapan yaitu Lu’ay bin Ghalib. Khadijah adalah seorang yang banyak harta, maka beliau menawarkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawa dagangannya ke negeri Syam ditemani budaknya Maisaroh. Tatkala Nabi pulang dengan membawa keuntungan yang sangat banyak, serta melihat kejujurannya, maka beliau terpikat dengannya, lalu dia menawarkan supaya mau menikah dengannya, lalu Nabi pun menikah bersamanya dengan mahar dua puluh unta betina’.

Diantara kejadian dan sikapnya yang sangat mulia ialah sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ …ثُمَّ ذكر في آخر الحديث: فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Pertama kali yang nampak pada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam dari wahyu ialah memperoleh mimpi yang baik tatkala tidur. Adalah beliau, ketika tidur tidaklah melihat sebuah mimpi melainkan pada keesokan harinya pasti melihat kejadian yang sama seperti apa yang dilihatnya didalam mimpi tersebut….. kemudian di ceritakan pada akhir hadits ini: “Maka beliau langsung pulang dalam keadaan ketakutan, lalu masuk kedalam rumah menemui istrinya Khadijah binti Khuwailid sembari mengatakan padanya: ‘Selimuti aku, selimuti aku’. Maka Khadijah menyelimutinya sampai rasa cemas yang ada pada diri Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam hilang. Setelah itu beliau menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada Khadijah, seraya mengadu padanya: ‘Sungguh aku sangat khawatir terhadap keselamatan diriku”.  Lalu Khadijah menjawab: “Sungguh tidak, demi Allah. Allah tidak akan mencelakaimu, sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menyambung tali silaturahim, membantu orang, menyantuni fakir, memuliakan tamu, dan senang membantu”.

Lalu beliau dibawa pergi oleh Khadijah ketempat Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak dari paman Khadijah. Dan Waraqah ini adalah seorang yang beragama Nashrani pada zaman Jahiliyah, beliau biasa menulis kitab dengan bahasa Ibrani, dirinya menulis Injil dengan bahasa Ibrani sesuai yang Allah kehendaki, beliau seorang yang sudah tua lagi buta. Maka Khadijah menceritakan padanya, lalu mengatakan: ‘Wahai anak pamanku, dengarlah kisah apa yang akan dikatakan oleh anak sudaramu’.

Waraqah lalu mengatakan pada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam: ‘Wahai anak saudaraku! Apa yang engkau lihat? Maka Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam menceritakan kejadian yang beliau alami. Setelah selesai Waraqah berkata padanya: ‘Ini adalah Namus yang telah Allah utus kepada Nabi Musa. Duhai sekiranya aku masih kuat pada saat itu, aduhai sekiranya aku masih hidup tatkala kaum mu mengusirmu’. Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam merasa heran lalu menanyakan padanya: ‘Apakah mereka akan mengusirku? Ia, jawabnya. Tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang engkau bawa, melainkan pasti akan mendapat cobaan, kalau seandainya aku menjumpai hari dimana kamu diusir, pasti aku akan membela serta menolongmu’. Setelah itu, tidak selang berapa lama Waraqah meninggal lalu wahyu terputus“. HR Bukhari no: 3, Muslim no: 160.

Diantara kisah beliau yang terpuji adalah keikutsertaanya bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam suka maupun duka. Turut bersama Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan sulit tatkala di isolir oleh kaumnya, hingga sampai pada kondisi yang sangat memprihatinkan dalam kehausan dan kelaparan, hingga disebutkan oleh sebagian sejarawan sampai-sampai kaum muslimin pada saat itu memakan daun pepohonan. Dan pada tahun tatkala embargo tersebut diakhiri beliau meninggal.

Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah wanita terbaik yang ada pada umat ini, sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita: ‘Aku pernah mendengar Ali ketika di Kufah beliau mengatakan: ‘Aku pernah mendengar Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam putri Imran dan Khadijah“. HR Bukhari no: 3432. Muslim no: 2430.

Beliau termasuk wanita yang paling dicintai oleh Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta seringkali menunaikan haknya. Diterangkan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلَّا خَدِيجَةُ فَيَقُولُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ » [أخرجه البخاري ومسلم]

“Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah, dan aku belum pernah berjumpa dengannya. Akan tetapi, beliau sering sekali menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dan mengirim pada teman-teman Khadijah. Sampai pernah aku mengatakan padanya: ‘Seakan-akan tidak ada wanita lain didunia ini kecuali Khadijah’. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya dia itu wanita begini dan begitu, darinya aku dikarunia anak“. Dalam salah satu riwayat dikatakan: “Sesungguhnya aku di karunia buah hati darinya“. HR Bukhari no: 3818. Muslim no: 2434, 2435.

Masih dalam riwayat Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah riwayat dari Aisyah, dia bercerita: ‘Pada suatu hari Halah binti Khuwailid saudari Khadijah meminta izin pada Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam untuk masuk kerumah, maka beliau menjadi teringat dengan suara istrinya Khadijah, dan beliau mengatakan: ‘Allahuma Halah binti Khuwailid’. Dari situ (kata Aisyah) timbul kecemburuanku, sehingga aku berkata: ‘Kenapa engkau selalu ingat pada wanita tua itu yang sudah mati, sudah tua, jompo lagi. Sedangkan engkau telah diganti oleh Allah dengan wanita yang lebih baik’. HR Bukhari no: 3821. Muslim no: 2437.

Dalam satu riwayat dikatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ » [أخرجه أحمد]

“Allah belum pernah menggantikan yang lebih baik darinya. Dirinya telah beriman padaku tatkala manusia mengingkariku, dia mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku, dirinya telah mengorbankan seluruh hartanya manakala orang lain mencegahnya dariku, dan dengannya Allah memberiku rizki anak tatkala hal itu tidak diberikan pada istri-istriku yang lainnya“. HR Ahmad 41/356 no: 24864.

Dan beliau meninggal pada bulan Ramadhan sepuluh tahun setelah kenabian, ada yang mengatakan; Delapan tahun, ada yang bilang tujuh tahun. Dirinya tinggal bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam selama dua puluh lima tahun. Beliau dikubur di Hajun dan tahun kematiannya disebutkan dalam siroh Nabi dengan tahun kesedihan, dikarenakan kesedihan yang sangat dalam yang dirasakan oleh beliau ketika harus berpisah dengan istri tercintanya Khadijah, semoga Allah Shubhanhu wa ta’alla meridhoi ibunda kaum mukminin Khadijah, serta membalas segala kebaikkannya untuk Islam dan kaum muslimin, dengan sebaik-baik balasan.

Akhirnya kita tutup dengan memuji Allah Shubahanahu wa ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan merambah kepada keluarga beliau serta seluruh para sahabatnya.

UMMUL MUKMININ DEWI KHADIJAH RA.

UMMUL MUKMININ DEWI KHADIJAH RA.

Mengenalnya

Dia adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al-Quraisyiah al-Asadiyah. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Jundub. Beliau dilahirkan di Mekah tahun 68 sebelum hijrah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Quraisy. Khadijah dididik dengan akhlak mulia dan terhormat sebagai seorang wanita. Sehingga tumbuhlah ia dengan karakter yang kuat, cerdas, dan menjaga kehormatan.

Nasab Khadijah bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek kelima, Qushay. Ia adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang pertama yang menerima dakwah Islam. Dan wanita yang paling dicintai beliau.

 

Khadijah di Masa Jahiliyah

Di masa jahiliyah, sebelum kenal dengan Rasulullah, Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu dikenal sebagai seorang wanita yang kaya dan seorang pedagang besar. Ia bekerja sama dengan laki-laki untuk bagi hasil barang dagangannya. Karena laki-lakilah yang terbiasa bersafar ke Syam untuk berdagang. Sedangkan wanita-wanita di masa itu tidak terbiasa keluar-keluar menuju tempat yang jauh. Inilah tradisi Arab kala itu, hal ini juga sesuai dengan sifat menjaga kesucian diri yang beliau miliki.

Hari-hari terus berlalu, hingga beliau mendengar kisah tentang seseorang yang bernama Muhammad bin Abdullah. Seorang laki-laki yang berakhlak mulia. Jujur lagi terpercaya. Jarang sekali terdengar di masa jahiliyah ada seorang laki-laki memiliki sifat sedemikian mulia. Ia kirim seseorang untuk menawarkan kerja sama dagang menuju Syam. Ia berikan barang kualitas super, yang tidak ia percayakan kepada pedagang lainnya.

Ketika Khadijah dan Muhammad telah sepakat bekerja sama, Khadijah menyertakan seorang budak laki-lakinya yang bernama Maisaroh untuk membawa barang dagangan itu hingga ke Syam. Di daerah Romawi itu, Muhammad bin Abdullah berteduh di bawah pohon dekat dengan kuil milik seorang pendeta. Si pendeta datang mendekati Maisaroh. Ia berkata, “Siapa laki-laki yang berteduh di bawah pohon itu?” “Ia seorang laki-laki Quraisy dari penduduk al-Haram”, jawab Maisaroh. Si pendeta berkata lagi, “Tak seorang pun yang singgah di bahwa pohon ini kecuali seorang nabi.”

Kemudian Rasulullah mulai menjual barang dagangannya dan membeli barang lainnya yang beliau inginkan. Sesampainya di Mekah, beliau menemui Khadijah dengan hasil keuntungan dagangnya. Kemudian Khadijah membeli barang bawaannya. Beliau pun mendapatkan untung berkali lipat.

Maisaroh mengabarkan tentang kemuliaan akhlak Muhammad bin Abdullah dan sifat-sifatnya yang istimewa, yang ia lihat saat bersafar bersama. Demikianlah safar, ia menampakkan sesuatu yang tersembunyi dari perangai manusia. Terlebih safar di masa itu yang kendaraan dan keadaannya tidak senyaman sekarang.

Membuka Hati Untuk Laki-Laki Mulia

Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali. Pertama menikah dengan Atiq bin A’id al-Makhzumi, kemudian ia meninggal. Dan yang kedua, dengan Abu Halah bin Nabbasy at-Tamimi, yang juga meninggal. Tapi dari Abu Halah, ia mendapatkan seorang putra yang bernama Hind bin Abu Halah. Setelah itu, Khadijah menutup hatinya dari semua laki-laki. Ia tak ingin lagi menikah dan memutuskan hidup sendiri. Tapi, cerita-cerita tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia dengar dari orang-orang dan dari Maisaroh menggoyahkan keteguhannya. Ia begitu kagum dengan seorang laki-laki yang begitu mulia akhlaknya. Tidak hanya mendengar, ia pun membuktikkan dan “mengujinya” dengan mengajak kerja sama dalam masalah uang. Semakin tampaklah amanahnya dan sifat-sifat mulia lainnya.

Dari sini dapat kita petik pelajaran, saat tertarik dengan seorang laki-laki atau perempuan, jangan tergesa-gesa menyatakan perasaan padanya. Uji dulu akhlaknya, apakah kebaikan yang disampaikan seseorang tentangnya benar atau hanya kabar burung saja. Khadijah adalah wanita yang cerdas, ia tidak tergesa-gesa. Emosinya stabil. Sehingga ia bisa mengetahui kabar tentang Nabi Muhammad, tanpa membuatnya merasa malu atau jatuh harga dirinya.

Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara dua orang yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Khadijah binti Khuwailid. Maharnya adalah 500 dirham. Hal ini semakin menegaskan bahwa jodoh seseorang sesuai dengan keadaan dirinya. Pernikahan ini berlangsung saat Muhammad bin Abdullah belum mendapatkan kedudukan istimewa sebagai seorang nabi dan rasul. Sebelum Muhammad dikenal dan memiliki banyak pengikut. Sebelum Muhammad kaya dan menjadi pemimpin negara. Rumah tangga keduanya berlangsung kurang lebih selama 25 tahun. Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

Kedua pasangan mulia ini terus bersama hingga Khadijah wafat di usia 65 tahun. Dan Rasulullah berusia 50 tahun. Ini adalah masa terlama kebersamaan nabi bersama istrinya, dibanding dengan istri-istri yang lain. Nabi tak menikahi wanita lain saat bersama Khadijah. Hal itu karena kemuliaan yang dimiliki Khadijah. Ia juga memberi beliau putra dan putri. Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan si bungsu Fatimah adalah buah dari pernikahan keduanya.

 

Memeluk Islam

Allah Ta’ala menganugerahkan Ummul Mukminin Khadijah hati dan ruh yang suci dan cahaya keimanan. Sehingga ia begitu siap ketika kebaikan datang menghampirinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [Quran Al-Alaq: 1].

Nabi segera pulang dalam keadaan takut dan gemetar. Kemudian beliau bertemu dengan istrinya. “Selimuti aku. Selimuti aku.”, kata Nabi. Khadijah menyelimutinya sampai rasa cemasnya sirna. Nabi berkata,

أَيْ خديجة، ما لي لقد خشيت على نفسي

“Khadijah, apa yang terjadi padaku? Aku khawatir terjadi apa-apa pada diriku.” Khadijah menanggapi dengan kalimat yang sangat berarti bagi pskisi Nabi, ia berkata,

كلا أبشر، فوالله لا يخزيك الله أبدًا، فوالله إنك لتصل الرحم، وتصدق الحديث، وتحمل الكلَّ، وتكسب المعدوم، وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق

“Tidak. Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, engkau adalah seorang yang menyambung silaturahim, jujur ucapannya, memikul kesulitan orang lain, menanggung orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung usaha-usaha kebenaran.”

Kemudian ia mengajak Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Di masa jahiliyah, Waraqah adalah seorang laki-laki Nasrani. Ia menulis Injil dengan Bahasa Arab. Dan ia sudah tua sampai-sampai buta karena ketuaannya. Ia memberi kabar baik kepada Nabi. Waraqah bercerita bahwa apa yang baru saja beliau jumpai adlaah an-Namus (Jibril) yang juga datang menemui Musa.

Dalam keadaan yang aneh dan membingungkan itu, Khadijah lah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu hal ini semakin meringankan beban psikis Nabi. Nabi tak pernah mendengar sesuatu pun dari Khadijah yang membuat beliau tidak suka. Tidak mendustakannya dan membuatnya bersedih. Melalui wanita mulia ini, Allah berikan banyak jalan keluar dan kemudahan untuk beliau. Saat ia pulang mendakwahkan risalahnya, Khadijah selalu membuatnya jiwa kembali teguh dan bersemangat. Meringankan dan membenarkannya di saat orang-orang mendustakannya.

Membayangkan keadaan tersebut. Dan sulitnya merintis dakwah di tengah orang-orang yang mengingkari. Tidak hanya mengingkari, mereka juga memusuhi dan merespon dakwah dengan gangguan. Tapi beliau memiliki istri seperti Khadijah. Yang melapangkan dan tak pernah mengecewakannya sedikit pun. Dari sini kita tahu, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikahi wanita lain selain dirinya saat ia masih hidup.

 

Wanita Yang Cerdas

Semua sumber-sumber sejarah yang menceritakan biografi Khadijah pasti menukilkan bahwa beliau adalah wanita yang cerdas. Hal itu terlihat dari bagaimana Khadijah meneliti sifat Muhammad bin Abdullah sebelum menjadi nabi dan bagaimana ia mampu bernegosiasi membersarkan usahanya.

Kecerdasarnnya yang lain adalah saat ia ingin menikah dengan Nabi. Ia memilih seorang utusan yang bernama Nafisah bin Maniyah. Wanita ini ia pilih dan tugaskan meneliti Nabi Muhammad setelah pulang dari Syam. Agar ia tidak merasa malu -karena umumnya wanita malu menyatakan perasaan terlebih dahulu-, tampaklah seolah-olah Nabi Muhammad lah yang menginginkan Khadijah dan meminta dirinya untuk menikah dengan beliau.

Setelah menikah, kembali Khadijah memberi ketaladanan dalam kematangan akal dan pikiran. Ia tidak panik tatkala suaminya dalam kebingunan menerima wahyu pertama. Ia jawab dengan yakin bahwa Allah tidak akan menghinakan suaminya. Jawaban itu ia kuatkan dengan alasan-alasan. Sehingga sang suami benar-benar merasa tenang. Tidak cukup sampai di situ, ia bawa suaminya ke Waraqah agar semakin tenang dengan peristiwa ajaib yang tengah terjadi. Perhatikanlah tahapan-tahapan Khadijah dalam menenangkan suaminya dalam menerima wahyu, pasti semakin tampaklah kecerdasan dan kematangan jiwanya.

 

Membantu Dakwah Islam

 

Bantuan Ummul Mukminin -setelah taufik dari Allah- terhadap dakwah amatlah banyak. Kalau seandainya kita sebutkan satu saja, sebagai orang pertama yang beriman, tentu itu sudah cukup sebagai keutamaan beliau. Itu sangat penting bagi Rasulullah. Sangat penting untuk beliau diterima di lingkungannya. Karena istrinya adalah orang pertama yang beriman.

Setelah memeluk Islam, beliau korbankan hidupnya. Kehidupan yang tenang dan nyaman, berubah menjadi kehidupan yang menantang dan penuh gangguan. Kehidupan dakwah, jihad, dan pengepungan. Keadaan tersebut sama sekali tak mengurangi cintanya kepada suaminya, bahkan ia bertambah cinta kepada sang suami. Bertambah cinta pula terhadap agama yang ia bawa. Ia senantiasa mendampingi dan mendukungnya mencapai tujuan yang diperintahkan Allah Ta’ala.

Ketika orang-orang Quraisy memboikot dan mengasingkan bani Hasyim ke pinggiran Mekah, Khadijah tak ragu pergi bersama suaminya. Waktu pengasingan dan boikot tersebut bukanlah waktu yang singkat. Bani Hasyim begitu menderita, kekurangan makanan, sampai-sampai mereka makan dedaunan karena tak ada makanan. Mereka seolah-olah akan mati kelaparan. Bayangkan! Quraisy memboikot mereka dengan tidak menikahi mereka, tidak membeli atau menjual sesuatu kepada mereka selama tiga tahun. Penderitaan seperti apa yang akan terjadi kalau demikian keadaannya? Dalam keadaan tersebut, Khadijah yang bukan bagian dari Bani Hasyim, tetap menemani sang suami. Padahal ia dulunya wanita kaya dan berkecukupan. Inilah jalan dakwah, tidak mudah. Sehingga pasangan hidup orang-orang yang meniti jalan dakwah pun adalah orang-orang yang tangguh. Sekali lagi, inilah di antara alasan nabi senantiasa mengenangnya dan tidak melakukan poligami saat bersamanya. Sekali lagi kita renungkan pula, jodoh seseorang itu sekadar kualitas dirinya.

Keutamaan dewi Khadijah Ra.

 

Pertama: Wanita terbaik

Tidak diragukan lagi, wanita dengan keadaan demikian adalah wanita yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lisannya sendiri memuji kemuliaan Khadijah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

“Cukup bagimu 4 wanita terbaik di dunia: Maryam bintu Imran (Ibunda nabi Isa), Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, dan Asiyah Istri Firaun.” (HR. Ahmad 12391, Turmudzi 3878, dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

 

Kedua: Allah menitip salam untuknya melalui Jibril

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: ‘Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan pada beliau:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Wahai Rasulallah shalallahu’alaihi wa sallam, Ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai.” (HR. Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432).

 

Ketiga: Nabi menganggap mencintainya adalah karunia.

Setelah mengetahui bagaimana setianya ibunda Khadijah menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita paham bagaimana kedudukan beliau di sisinya. Hal itu juga tampak dari riwayat-riwayat betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyebut namanya. Memuliakan teman-temannya sepeninggal beliau. Sampai-sampai Rasulullah ucapkan sebuah kalimat di hadapan Aisyah, yang menjelaskan kedudukan Khadijah di hati beliau.

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah.” (HR. Muslim no 2435).

 

Wafatnya

Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu wafat tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Saat itu beliau berusia 65 tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang turun memakamkan jenazah sang istri tercinta. Dengan tangannya yang mulia, beliau memasukkan jenazahnya ke kuburnya.

Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah sangat berdekatan waktunya dengan wafatnya Abu Thalib. Rasulullah benar-benar merasa sedih dengan wafatnya dua orang yang beliau cintai ini. Dua orang penolong dakwahnya. Ditambah lagi, sang paman wafat dalam keadaan berada di atas agama nenek moyangnya. Karena begitu sedihnya Rasulullah, tahun ini pun dinamakan Tahun Kesedihan.

SEJARAH MATA RANTAI KITAB KITAB MADZHAB SYAFI’IYYAH

Imam Al Haramain Abdul Malik bin Abdillah al Juwainiy telah mengumpulkan kitab-kitab Imam Syāfi’iy; yaitu kitab al Umm, Al Imlā, ar Risālah dan selainnya, dengan disertakan karya murid-murid Imam Syāfi’i seperti Mukhtasor al Muzaniy, al Buwaithiy dan selain keduanya, dan kitab-kitab ashābul wujuh dan at Tarjihāt beserta syarahnya dalam kitab : “Nihāyatul Mathlab fi Dirāyati al Madzhab”, ia merupakan kitab yang luar biasa. As Syafi’iyah bersepakat dalam memujinya. Ibnu Khullakān rahimahulāh berkata : “Tidak pernah ditulis dalam Islam (karya tulis) yang semisal itu”.

Kemudian al Ghazāliy meringkas an Nihāyah dan menaminya dengan al Basīth, kemudian meringkasnya kembali menjadi al Wasīth, dan meringkas dengan ringkasan yang lebih ringkas lagi dengan nama Al Wajīz.

Ibnu Hajar al Haitamīy rahimahullah berkata : “Al Ghazaliy meringkas an Nihayah yang telah disebutkan dalam ringkasan yang panjang lagi berbobot, dia menamainya al Basīth, yang dia meringkasnya juga dengan ringkasan yang lebih sedikit darinya dan menamainya dengan nama al Wasīth, dan pula meringkasnya dengan yang lebih ringkas lagi (dari al Wasīth) dan menamainya al Wajīz.

Kemudian datanglah ar Rāfi’iy, dia mensyarah al Wajiz dengan syarah yang ringkas, kemudian syarah yang besar. Tidak pernah di tulis dalam madzhab asy Syāfi’iy yang seperti an Nihayah”.

Al Imām al ‘Alāmah asy Syaikh Najmuddien Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin ar Rif’ah; Syāfi’iy pada zamanya (w. 710) telah mensyarah al Wasīth dengan syarah yang diberi Nama “al Mathlabul ‘āliy bi Syarhi wasīth al Ghazalīy”, namun beliau wafat sebelum menyempurnakan syarh nya tersebut, maka asy Syaikh al Hamawiy menyempurnakannya; kitabnya sebanyak 26 jilid.

Selain Najmuddien ar Rif’ah, ada juga syarh Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abi Hazm Makkiy bin Yasin bin al ‘Abbās Najmuddien (w. 727 H) dengan syarah yang dinamai “Al Bahru Al Muhīth bi Syarhi al Wasīth”, sebagimana juga mensyarh al Wasīth al ‘Ālim al ‘Alāmah Syihābuddien Ahmad bin Abdullah al Adra’īy (w. 783 H) dengan nama : “At Tawasuth wal Fath baina Ar Raulhoh wa Syarh” seanyak sepuluh jilid.

Sebagimana telah lalu perkataan Ibnu Hajar al Haitamiy rahimahullah, bahwa al Imām Abul Qōsim ar Rāfi’iy; Abdul Karim bin Muhammd menyarah al Wajīz al Ghazāliy dengan dua syarh (penjelasan), yang satu kecil dan yang satu besar; dengan nama “Fathul ‘Azīz bi Syarhi al Wajīz”, maka manusia pun mengambil faidah dari syarah ini; dipelajari dan diringkas.

Imam Muhyiddien an Nawawiy meringkas kitab “Fathul ‘Azīz” dengan suatu kitab yang diberi judul “Raudotu ath Thālibīn ‘wa ‘Umdatu al Muftīn”, dan kitab ini sangat diperhatikan para ‘Ulama.

Kitab “Raudotu ath Thālibīn” diperhatikan para ‘ulama dengan dijabarkan dan dijelaskan. Telah mensyarh “ar Raudoh” al ‘Alāmah Badruddien Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abdullah az Zarkāsiy (w. 479 H) dengan nama “Khādimu asy Syarh ar Raudoh”, ia merupakan kitab yang besar, ada empat belas jilid. Di dalamnya disebutkan tentang hal-hal sulit yang terdapat dalam “ar Raudoh”, cara penyajiannya seperti kitab “At Tawasuth” karya al Adzrā’iy”.

Abul Qōsim Ar Rāfi’iy meringkas kitab “al Wajīz” al Ghazāliy dengan suatu ringkasan yang dinamai dengan “al Muharar” [Sebagian peneliti berpendapat bahwa al Muharor kitab tersendiri; bukan ringkasan “al Wajīz”].

Kemudian Asy Syaikh Najmuddien Al Qozawainiy meringkas “al Muharrar” dengan kitab yang dinamai dengan al Hāwīy Ash Shagīr. Ia termasuk ringkasan yang istimewa.

Dan penjelasan (syarh) Al Wajīz karya Ar Rāfi’iy dikenal dengan nama “Asy Syarhu Al Kabīr”.

Asy Syaikh Sirājuddien Abu Hafs ‘Umar bin ‘Ali bin Al Mulaqqin telah mentakhrij hadis “Asy Syarhu al Kabīr” dan menjelasakan mana yang sahih dan mana yang dlho’if dalam kitab yang besar; tujuh jilid, dengan nama “Al Badu al Munīr Fi Takhrīj Ahāditsi Asy Syarhi Al Kabīr”, kemudia beliau pun meringkasnya kembali dengan nama “Mukhtasor al Badru Al Munīr”. Kemudian asy Syaikh Al Hāfidz Syihābuddien Ahmad bin Muhammad bin Hajar al ‘Asqolāniy meringkas “al Badru al Munīr” dan menamainya dengan judul “Talkhīs Al Habīr Khulāshoh al Badri Al Munīr”. Rahimahumullah.

Imam Nawawi rahumahullah meringkas Syarh Al Wajīz Ar Rāfi’iy dengan kitab yang dinamai dengan judul “Raudotu at Thālibīn wa ‘Umdatu al Muftīn”; dua belas jilid”. Kemudian, Imam Nawawi meringkas “al Muharror” karya ar Rāfi’iy dengan kitab lain yang berjudul “Minhāju ath Thālibīn”, kitab ini (Minhāju ath Thālibīn) memiliki kedudukan istimewa dalam madzhab, sehingga mereka mengajarkannya, mensyarahnya dan juga menghafalnya.

Diantara Syarh al Minhāj adalah syarah Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ibrāhīm bin Ahmad Jalāluddien al Mahalliy, syarh ini deikenal dengan nama Syarh Jalāluddien al Mahalliy. Dan Syarh al Mahalliy ini menjadi bekal bagi para pelajar dan pengajar, sehingga jika para penulis yang datang setelahnya menyebutkan : “Qōla Asy Syārihu [Pensyarah telah berkata]”, maka yang dimaksudkan adalah al Mahalliy.

Dan diantara yang memberikan ta’liq kepada syarh al Mahalliy adalah Syihābuddien Ahmad bin Ahmad bin Salāmah al Qolyūbiy dan Syihābuddien Ahmad; ‘Amīrah (w. 958 H).

Sebagimana pula telah mensyarh “Minhāju ath Thālibīn” Syihābuddien Ahmad bin Muhammad bin Hajar al Haitamiy rahimahullah (w. 974 H) dengan syarh (penjelasan) yang berjudul “Tuhfatul Al Muhtāj.

Asy Syaikh Syamsuddien Muhammad bin Abi Al ‘Abbās Ahmad bin Hamzh Ar Ramliy al Mishriy (w. 1004 H), beliau juga mensyarh “al Minhāj” dengan kitab yang popular; berjudul Nihāyatul Muhtāj ilā Syarhi al Minhāj.

Asy Syaikh Syamsuddien Muhammad bin Muhammad al Khothiy asy Syarbīniy pun menyarh “al Minhāj” dengan judul kitab “Mughniy al Muhtāj ilā Ma’āniy Alfādzi al Minhāj”

Demikian juga Asy Syaikh Al Muhaqiq Muhammad Az Zuhriy al Ghomrāwiy menysrah “al Minhāj” dengan syarh (penjelasan) yang ringkas, yaitu dalam kitab “As Sirājul Waĥāj ‘Ala Alfādzi Al Minhāj.

Kemudian Syaikhul Islam Zakaria al Anshāriy meringkas “Minhāju at Thālibīn” dalam suatu ringkasan yang berjudul “Manhaju Ath Thūlāb”, kemudian beliau mensyarhnya sendiri dalam tulisan yang berjudul “Fathul Wahhāb bi Syarhi Manhaji Ath Thūlāb”, ia merupakan kitab yang mu’tamad dalam madzhab. Al Bajrīmiy telah menambahkan hasyi-yah yang mencukupi, dan menamainya dengan “at Tajrīdu linNaf’i al ‘Abīd”.

Asy Syaikh Syarafuddien Ismā’il bin Abi Bakar; Ibnul Muqriy al Yamaniy meringkas “Raudathu Ath Thālibīn” dengan judul kitab “Raudlhu Ath Thālib”. Syaikhul Islam Zakaria al Anshāriy telah mensyarhnya dengan judul kitab “Asnā al Mathālib Syarh Raudhi Ath Thālib”, ia merupkan kitab yang bagus dan menjadi pegangan (mu’tamadah) muta-akhiirin.

Kemudian asy Syaikh Syarafuddien Ismāīl bin Abu Bakar al Muqriy, meringkas kitab “Al Hāwiy As Shagīr” dalam judul kitab “Al Irsyād”. Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Hajar al Haitamiy telah menyarah (menjelasakan) ringkasan ini dalam kitabnya yang besar, dengan judul “Al Imdād”, kemudian dia sendiri meringkasnya dengan nama “Fathul Jawwād”.

Demikianlah seiring bergulirnya waktu hingga kita saat ini, di zaman kita ada dua tulisan yang berjudul al Fiqhu al Manhaji fil Fiqhi asy Syāfi’iy dan Al Mu’tamad fil Fiqhi asy Syāfi’iy, dua tuilisan yang sama-sama menyajikan kembali pendapat yang mu’tamad (pendapat resmi madzhab) dengan penyajian kekinian.

IMAM JA’FAR SHODIQ RA BUKAN IMAM DARI GOLONGAN SYI’AH

Tokoh dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dicatut oleh Syiah sebagai tokoh sekte mereka, sebagai imam keenam dalam keyakinan Syiah Itsna Ayriyah, padahal jauh panggang dari api. Akidahnya sangat berbeda jauh dengan akidah sekte Syiah.

Nasab dan Kepribadiannya

Ia adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. Lahir di Madinah tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H, dalam usia 68 tahun.

Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu tersemat kepadanya, karena ia terkenal dengan kejujurannya dalam hadis, ucapan, dan tindakan. Ia tidak dikenal berdusta. Tidak hanya pada Syiah, gelar ini juga masyhur di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam sering menyebutnya dengan gelar ini.

Laqob lain yang menempel pada Ja’far adalah al-imam dan al-faqih, karena memang ia adalah seorang ulama dan tokoh panutan dari kalangan ahlul bait. Namun yang membedakan keyakinan umat Islam dengan keyakinan Syiah, bahwa menurut umat Islam Ja’far ash-Shadiq bukanlah imam yang ma’shum, bebas dari kesalahan dan dosa.

Imam Ja’far ash-Shadiq dikarunia beberapa orang anak, mereka adalah Isma’il (dijadikan imam oleh Syiah Ismailiyah), Ismail adalah putra tertuanya, wafat pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup. Kemudian  Abdullah, dari Abdullah inilah terambil kun-yah Ja’far, Abu Abdullah. Kemudian Musa, ia dijadikan oleh Syiah Itsna Asyriyah sebagai imam yang ketujuh setelah Ja’far. Kemudian Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fatimah.

Ja’far dikenal sebagai seorang yang dermawan dan sangat murah hati. Sifat ini seakan warisan dan tradisi dari keluarga yang mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling murah hati di antara keluarga ini.

Dalam hal kedermawanan, ia juga mewarisi sifat kakeknya Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Kisah yang masyhur tentang Ali Zainal Abidin bahwa pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging, dan membawa uang dirham di atas pundaknya, lalu ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang-orang fakir dan miskin di Kota Madinah. Keadaan demikian tidak diketahui oleh orang-orang yang mendapat pemberiannya sampai ia wafat dan penduduk Madinah merasa kehilangan dengan sosok misterius yang senantiasa membagi-bagikan uang dan makanan di malam hari.

 

Perjalanan Keilmuannya

Ja’far ash-Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma. Dia juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.

Mayoritas ulama yang ia ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-‘Ala. Demikian juga imam darul hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.

Para imam hadis –kecuali Imam Bukhari- meriwayatkan hadis melalui jalurnya di kitab-kitab mereka. Sementara Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui jalurnya pada kita selain ash-Shahih.

Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepadanya:

Abu Hanifah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih faqih daripada Ja’far bin Muhammad.”

Abu Hatim ar-Razi dalam al-Jarh wa at-Ta’dil, 2: 487 berkata, “(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber dia.”

Ibnu Hibban berkomentar, “Dia termasuk tokoh dari kalangan ahlul bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ at-tabi’in, dan ulama Madinah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah” (Minhaju as-Sunnah, 2:245).

Demikian sebagian kutipan dari para ulama yang meuji kedudukan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq.

Ja’far ash-Shadiq Tidak Mencela Abu Bakar dan Umar RA.

Orang-orang Syiah bersikap berlebihan terhadap Ja’far ash-Shadiq. Mereka mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka ini hanyalah klaim sepihak saja. Buktinya, apa yang Ja’far ash-Shadiq yakini dan ia katakan sangat jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Syiah.

Misalnya sikap Ja’far ash-Shadiq terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Besarnya kecintaan Ja’far kepada kedua tokoh Islam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkatam “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang shaleh di Madinah. Maka tolong sampaikan (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma’shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menduga aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’,”

Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, ia berkata, ‘Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah-buahan surga?’”

Pernyataan Ja’far ini sangat jelas bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang mencela dan memaki Abu Bakar dan Umar serta mayoritas sahabat lainnya dan menjadikan hal itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ja’far ash-Shadiq tidak mungkin mencela mereka. Ibunya, Ummu Farwa adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibunya adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Apabila anak-anak Abu Bakar ini adalah paman-pamannya dan Abu Bakar sendiri adalah kakeknya dari dua sisi, maka sulit dibayangkan seorang Ja’far ash-Shadiq yang berilmu dan shaleh ini melontarkan cacian dan makian kepada kakeknya, Abu Bajar ash-Shiddiq.

 

Klaim Bohong Syiah

Pada masa Ja’far, bid’ah al-Ja’d bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah Alquran sebagai makhluk, akan tetapi Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Bukan Khaliq (pencipta), bukan juga makhluk, tetapi kalamullah.” Akidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu’tazilah, dengan pemahaman akidahnya, Alquran adalah makhluk.

Artinya prinsip akidah yang dipegangi oleh Ja’far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahlussunnah wal Jamaah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Syiah Imamiyah (Itsna Asyriyah), mereka berselisih dengan ahlul bait dalam kebanyakan pemahaman akidah mereka. Dari kalangan imam ahlul bait seperti Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dll. tidak ada yang mengingkari keyakinan melihat Allah di hari kiamat, tidak ada yang meyakini Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak ada yang mengakui imam yang dua belas adalah ma’shum atau mencela Abu Bakar dan Umar.”

Orang-orang Syiah juga berdusta dengan meyakini bahwa Ja’far ash-Shadiq adalah imam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kematian. Hingga saat ini, menurut mereka Ja’far ash-Shadiq telah menulis banyak karya untuk mendakwahkan ajaran Syiah. Di antara buku yang diklaim Syiah sebagai karya Imam Ja’far adalah Rasailu Ikhwani ash-Shafa, al-Jafr (buku yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi), ‘Ilmu al-Bithaqah, Ikhtilaju al-A’dha, Qiraatu al-Quran fi al-Manam, dll.

Sebuah prinsip yang harus kita pegang adalah kita tidak menerima suatu perkataan pun dari Ja’far ash-Shadiq dan imam-imam yang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, dan didukung dalil, maka baru perkataan tersebut bisa kita terima. Dan yang perlu diketahui, pada masa hidup Ja’far ash-Shadiq adalah masa-masa yang kering dari karya tulis (80-148 H).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Syariat mereka (Syiah) tumpuannya berasal dari riwayat sebagian ahlul bait seperti Abu Ja’far al-Baqir, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dan lainnya. Tidak diragukan lagi, mereka (yang dijadikan Syiah sebagai tumpuan riwayat) adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam-imam umat ini. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan oleh orang-orang seperti mereka. Namun sayang, banyak nukilan dusta banyak disematkan kepada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kapasitas dalam hal periwayatan. Mereka layaknya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), semua riwayat-riwayat yang mereka jumpai dalam buku-buku mereka, langsung mereka terima (tanpa selesksi). Berbeda dengan Ahlussunnah, mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam ilmu periwayatan, sebagai piranti untuk membedakan mana kabar yang benar dan kabar yang dusta.” (Minhaj as-Sunnah, 5: 162).

Diadaptasi dari muqoddimah tahqiq kitab al-Munazharah (Munazharah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ma’a ar-Rafidhi fi at-Tafdhili Baina Abi Bakr wa ‘Ali) karya Imam al-Hujjah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq Ali bin Abdul Aziz al-Ali Alu Syibl.

INILAH BUKTI KALAU SYI’AH TIDAK DI SUKAI OLEH KELUARGA NABI SAW.

Problematika Ahlussunnah atau Sunni dengan Syiah di akhir zaman ini seolah-olah sebuah isu yang tidak ada ujungnya. Banyak pihak menganggap ini adalah persoalan pelik yang tak berujung. Demikian juga masyarakat modern saat ini mengalami kesulitan yang sangat untuk memihak salah satu di antara dua kelompok ini, sehingga mereka dudukkan sikap menurut mereka yang benar adalah yang tidak memihak keduanya.

Sebenarnya permasalahan ini akan menjadi mudah apabila kita mengembalikannya kepada data-data sejarah. Dan di antara keistimewaan umat Islam adalah ilmu periwayatan yang umat ini miliki sehingga sejarah mereka terjaga, dan orang-orang yang coba memalsukannya akan dengan mudah diketahui oleh orang-orang yang berilmu.

Sejarah Islam hanya memandang satu kata untuk ajaran Syiah, yaitu ajaran yang merusak Islam dari dalam. Hal ini dibuktikan sendiri oleh keluarga Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam (ahlul bait), di antaranya sikap ahlul bait itu mereka buktikan dengan menikahkan anak-anak mereka, atau ahlul bait menikahi orang-orang dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, dan tidak pernah mereka menikahi atau menikahkan anak-anak mereka dengan seorang pun dari tokoh Syiah.

Dimulai dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menikahi dan menikahkan putri-putrinya kepada imam Ahlussunnah wal Jamaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi anak dari Abu Bakar yakni Aisyah, dan menikahi anak Umar bin Khattab yakni Hafshah. Lalu beliau menikahkan putri-putri beliau Ruqayyah dan Ummu Kultsum kepada Utsman bin Affan, dan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya:

    Ramlah binti Ali bin Abi Thalib, dengan Muawiyah bin Hakam saudara dari khalifah Bani Ummayah Marwan bin Hakam.

    Khadijah binti Ali bin Abi Thalib dinikahkan oleh bapaknya (Ali) dengan Abdurrahman bin Amir dari Bni Abdusy Syam, sepupu Muawiyah bin Abi Sufyan.

    Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib dinikahkan dengan Umar bin Khattab.

    Hasan bin Ali menikahi anak perempuan Thalhah bin Ubaidillah.

Putri-putri Husein bin Ali bin Abi Thalib:

    Sukainah binti Husein dinikahkan dengan cucu Utsman bin Affan, Abdullah bin Amr bin Utsman.

    Fathimah binti Husein dinikahkan juga dengan cucu Utsman bin Affan, Zaid bin Amr bin Utsman.

Putri-putri Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib:

    Yazid bin Muawiyah adalah menantu Ja’far bin Abi Thalib.

    Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umayyah, juga beristrikan anak Ja’far bin Abi Thalib.

Dua orang cucu Hasan bin Ali bin Abi Thalib dinikahi oleh Walid bin Abdul Malik, Khalifah Bani Umayyah.

Demikian juga ahlul bait menikahi putri-putri Ahlussunnah, karena pada hakikatnya ahlul bait adalah Ahlussnah wal Jamaah, orang-orang yang berpegang kepada sunnah Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ibu dari Ja’far ash-Shadiq adalah cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sebagaimana kita ketahui periwayat hadis yang paling terkenal dari kalangan Syiah adalah Zurarah bin Sansan yang hidup sezaman dengan Ja’far ash-Shadiq, bahkan orang-orang Syiah mengatakan Zurarah adalah murid dekat dari Ja’far ash-Shadiq. Lalu apakah Ja’far ash-Shadiq menikahkan putrinya dengan Zurarah? Tidak satu pun! Atau adakah tokoh-tokoh Syiah yang menikah dengan putri-putri Ali bin Husein atau putri-putri Muhammad al-Baqir atau putri-putri Musa al-Kazhim atau putri-putri Ali ar-Ridha? Tidak satu pun, semua putri mereka dinikahkan dengan Ahlussunnah.

Mereka juga, orang-orang yang diklaim Syiah sebagai imam mereka ini menikahi  wanita-wanita Ahlussunnah, tidak menikahi wanita Syiah. Mengapa ini terjadi dalam sejarah Islam? Karena para ahlul bait ini adalah orang-orang yang berlepas diri dari Syiah.

Demikian juga imam-imam ahlul bait ini menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama tokoh Ahlussunnah/Sunni: Abu Bakar, Umar, Aisyah, Utsman. Inilah nama putra dan putri Ali, Husein, dan Hasan, Ali bin Husein, Muhammad al-Baqir, mereka menamakan putra dan putri mereka dengan nama sahabat nabi. Mereka juga tinggal di lingkungan Ahlussunnah/Sunni, yakni bersama para sahabat nabi.

Ali bin Abi Thalib pernah tinggal di Kufah (daerah orang-orang Syiah) selama 4 tahun, dan Ali mendoakan kejelekan untuk penduduk Kufah karena buruknya perngai mereka. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ya Allah, gantikanlah aku dengan orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikanlah untuk mereka orang yang lebih buruk dari diriku.”

Husein bin Ali bin Abi Thalib terbunuh di Kufah, masyarakat Kufah yang memanggilnya agar keluar dari Kota Madinah menuju Kufah, lalu mereka sendiri yang membunuhnya. Lalu mereka mengagungkan tanah Karbala tempat terbunuhnya Husein sebagaimana orang Nasrani mengagungkan salib, karena menurut mereka Nabi Isa ‘alaihissalam disalib.

Maksud dari pembicaraan ini adalah para ahlul bait adalah orang-orang yang jauh dari mereka, ahlul bait berlepas diri dari orang-orang Syiah sebagaimana Nabi Isa ‘alaihisslam berlepas diri dari orang-orang Nasrani.

Ali bin Abi Thalib memiliki 20 anak perempuan dan 19 anak laki-laki, sebutkan satu saja diantara mereka yang menikah atau dinikah oleh seorang Syiah! Atau anak-anak Hasan, Husein, Ali bin Husein, Musa al-Kazhim, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali ar-Ridha, satu saja dari anak-anak mereka!

Lalu bagaimana bisa dikatakan ahlul bait mereka klaim mencintai Syiah atau ahlul bait membenci Ahlussunnah. Apa yang mereka lakukan hanyalah untuk menimbulkan saling kebencian antara sesama umat Islam, demikianlah kiranya musuh dalam selimut yang menghancurkan Islam dari dalam.

Inilah fakta sejarah yang kita temui, jawabannya satu dan tidak ada kesamaran, tidak ada keragu-raguan bahwasanya pendahulu umat ini baik dari kalangan ahlul bait atau selain ahlul bait berlepas diri dari ajaran Syiah.

MERENUNGI KEMEGAHAN KOTA DUBAI DAN KEBENARAN SABDA NABI MUHAMMAD SAW.

Kehidupan ini adalah nyata. Lebih nyata dari pendapat siapa pun tentang kenyataan. Ia terus bergerak, mengalir, dan berubah. Hari ini, seseorang miskin bertelanjang kaki. Esok hari, tiba-tiba ia menjadi miliyuner yang membangun gedung pencakar langit yang tinggi. Nabi ﷺ pernah bersabda menggambarkan situasi kehidupan akhir zaman,

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”

Sabda beliau ini nyata! Lebih nyata dari pendapat siapapun tentang kenyataan.

Kali ini kita bercerita tentang Dubai, sebuah emirat (propinsi) di negara Uni Emirat Arab yang menjadi bukti dari sekian banyak kebenaran sabda Nabi.

Sabda Nabi ﷺ

Suatu hari, bumi menjadi saksi pertemuan dua makhluk agung dan mulia. Malaikat yang terbaik berjumpa dengan manusia termulia. Malaikat Jibril datang menjumpai Nabi kita Muhammad ﷺ. Jibril datang dengan wujud manusia. Ia datang dengan penampilan indah. Mengenakan baju yang teramat putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Ia datang berdialog dengan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat. Jibril bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya tentang tanda kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ adalah,

 

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ.

 

“Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).

Inilah di antara tanda-tanda hari kiamat. Tanda hari kiamat ada yang sifatnya baik. Ada pula yang buruk. Ada pula hanya sekedar kabar atau tanda yang aslinya tidak bersifat baik ataupun buruk. Hanya sekadar tanda dan kabar agar manusia sadar bahwa kiamat pasti terjadi. Contohnya seperti berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi ini.

Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada keterangan tambahan. Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُـولَ اللهِ، وَمَنْ أَصْحَابُ الشَّاءِ وَالْحُفَاةُ الْجِيَـاعُ الْعَالَةُ قَالَ: اَلْعَرَبُ.

 

“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).

 

Emirat Dubai

Dubai adalah salah satu emirat di wilayah Uni Emirat Arab (UAE). UAE sendiri merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat yang kaya akan minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah: Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwain. Pada tahun 1971, enam dari emirat ini – Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, dan Umm al-Qaiwain – bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab. Setahun berikutnya, Ras al-Khaimah menyertai mereka. Dubai adalah ke-emiran yang paling populer.

Ada yang mengatakan, nama kota ini berasal dari bahasa Persia. Karena dulu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Sasaniyah Persia. Ada pula yang mengatakan kata Dubai berasal dari bahasa Arab dabba (Arab: دَبَّ – يَدُبُّ) yang artinya menjalar atau mengalir. Karena di Dubai terdapat aliran sebuah sungai air garam yang sekarang dikenal dengan Khor Dubai atau Dubai Creek.

Dubai terletak di sepanjang pantai Teluk Arab dipimpin oleh keluarga al-Maktoum sejak 1883. Pemimpinnya saat ini adalah Mohammed bin Rashid al-Maktoum yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA.

Dalam wawancara dengan BBC, Syaikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum menunjukkan rumah kakeknya, tempat bermain di masa kecilnya. Ia mengatakan, “Inilah tempat ayahku, ibuku, dan kami tinggal. Saat aku lahir tidak ada listrik di sini. Hanya bagian itu dan itu (ia menunjuk dua titik tempat lampu menyala di rumah besar itu) dan tidak ada air”.

Pernyataan singkat ini, menggambarkan bagaimana keadaan Dubai sebelum bertransofmasi menjadi kota metropolis. Rumah keluarga al-Maktoum, keluarga Emir Dubai, adalah rumah yang gelap dan kesulitan air. Apalagi rumah rakyat biasa.

Meskipun minyak sudah ditemukan sejak tahun 1966, tahun 1973, hanya ada satu hotel berkelas di sana, Hotel Sheraton. Kalau sekarang malah sangat sulit menemukan hotel yang tidak berbintang lima di Dubai, bahkan ada hotel berbintang tujuh di sana.

Islam adalah agama yang tidak menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovasi dalam hal dunia dibuka selebar-lebarnya selama tidak melanggar syariat. Di zaman dahulu umat Islam terkenal dengan kemajuan arsitekturnya. Oleh karena itu, tanda hari kiamat berupa berlomba-lombanya manusia dalam meninggikan bangunan tidak dikategorikan sebagai permasalahan yang nilai dasarnya jelek. Bahkan bisa jadi pembangunan ini bermanfaat dan maslahat.

Sekarang di Dubai, semuanya serba besar, luas, dan tinggi. Megah, mewah, sampai membuat mulut ternganga. Dubai adalah kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Gurun yang kosong telah berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Onta-onta telah berubah menjadi Ferrari, Mercedes, Hummer, dll. Di antara bangunan tinggi di Dubai adalah:

Pertama: Burj Dubai atau yang dikenal Burj Khalifa, Merupakan bangunan tertinggi di dunia. Tingginya 818 m, kurang 182 m lagi jadi 1 Km. di dalamnya ada 30.000 rumah dan 9 hotel mewah.

Kedua: 10 Hotel tertinggi di dunia, 7 di antaranya ada di Dubai. Lima hotel tertinggi; JW Marriott Marquis Dubai (355 m), Rose Rayhaan (333 m), Burj Al Arab (321 m) hotel termewah di dunia, Jumeirah Emirates Towers Hotel (309 m), The Address Downtown Dubai (306 m), semuanya ada di Dubai.

Ketiga: Shopping Mall terbesar di dunia adalah Dubai Mall dengan luas 50 kali luas lapangan sepak bola dan terdapat 1.200 toko. Di dalamnya ada akuarium terbesar di dunia yang isinya 33.000 hewan laut.

Keempat: al-Maktoum International Airport atau Dubai International Airport merupakan bandara terluas ke-3 di dunia.

Kelima: Dubailand. Sekarang Walt Disney World Resort di Orlando memegang rekor taman bermain terluas di dunia. Kalau pembangunan Dubailand rampung, maka taman yang luasnya dua kali lipat Walt Disney ini akan memegang rekor baru.

Masih banyak lagi gedung-gedung tinggi dan bangunan-bangunan yang ‘wah’ di Dubai. Ada menara kembar Emirates Tower yang bentuknya seperti dua batang cokelat Toblerone. Hotel bawah laut di kedalam 33 m. Gedung 68 lantai, yang tiap lantainya bisa berputar 360°. Belum lagi pulau buatannya seperti The World terdapat 300 pulau buatan membentuk peta dunia. Kemudian juga Palm Island yang terdapat 2000 vila dan 40 hotel mewah. Belum lagi kendaraan super mewah. Anda masih berpikir orang Arab identik mengendarai onta? Ubah segera perspektif lama itu. Di Dubai, mobil mewah berlapis perak dan emas pun ada. Sampai-sampai polisi Dubai layak disebut World’s Fastest Police karena kendaraan mereka McLaren MP4-12C, Lamborghini, Aston Martin, Bentley, dan Ferrari.

Mereka yang dulu miskin, telanjang kaki, tak berbaju itu telah membuktikan kebenaran sabda Nabi ﷺ.

Pelajaran:

Kita tidak menginginkan pembaca hanya terpaku dan terhenti dalam khayalan, membayangkan kemegahan Dubai. Bukan itu pesan yang ingin disampaikan.

Cobalah renungkan Sabda Nabi ﷺ. Benarlah apa yang beliau kabarkan. Hal itu pula menunjukkan mukjizat beliau. Beliau mengabarkan tentang sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Orang yang hidup di masa tersebut akan menyaksikannya.

Beliau mengabarkan tentang orang-orang miskin berlomba-lomba meninggikan bangunan. Hal itu telah terjadi. Dan kita telah menjadi saksinya. Beliau mengabarkan tentang turunnya Nabi Isa, keluarnya Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, hal ini pun pasti terjadi. Orang yang hidup di zamannya akan menjadi saksinya.

Dan beliau ﷺ mengabarkan tentang kenikmatan surga dan kengerian neraka, orang yang percaya sebelum mereka menyaksikannya, merekalah orang yang beruntung dan berbahagia. Orang yang baru percaya ketika menyaksikannya, mereka benar-benar dalam penyesalan dan duka cita yang mendalam.

“Saat ini, dunia itu nyata dan neraka hanyalah berita. Akan tetapi ketika di akhirat, Neraka adalah nyata dan dunia hanyalah cerita.”

KUBURAN TERBESAR DAN TERMULIA DI DUNIA ADALAH BAQI’

Harga satu meter tanah di Pemakaman Baqi’ terhitung cukup mahal, mencapai setengah juta Riyal. Bisa jadi, hal ini dilakukan untuk menekan permintaan orang-orang yang ingin dimakamkan di Baqi’. Jika dipermudah tentu berakibat pada ketidak-seimbangan geografis Kota Madinah. Semua orang ingin dimakamkan di sana. Karena tempat ini memiliki kedudukan dari sisi agama dan sejarah. Generasi pertama umat Islam, ahlul bait dan  para sahabat Rasulullah ﷺ di makamkan di pekuburan yang bertetangga dengan Masjid Nabawi itu. Kira-kira ada 10.000 orang sahabat yang dimakamkan di sana.

Pemakaman Baqi’ atau yang dikenal dengan sebutan Jannatul Baqi’ adalah bagian bumi yang Allah ﷻ perintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk dijadikan pekuburan kaum muslimin di Madinah. Dan sekarang tempat ini menjadi tempat bersejarah yang paling dekat dengan Masjid Nabawi.

Pemakaman ini berada di sebelah tenggara Masjid Nabawi. Tanah lapang pekuburan dipagari dengan marmer yang tinggi. Luasnya mencapai 180.000 m2. Pemerintah Arab Saudi menaruh perhatian besar terhadap pemakaman ini. Karena kedudukannya bagi umat Islam dan nilai historis yang berkaitan dengan Nabi ﷺ.

Seorang sejarawan, Tinedhib al-Faidi, mengatakan, “Arti kata baqi’ secara bahasa adalah setiap tempat yang terdapat pokok pohon (sisa pohon yang habis ditebang) yang ditebang dari berbagai sisi. Oleh karena itu, ia dinamakan Baqi’ al-Gharqad. Al-gharqad adalah sejenis pohon besar yang berduri. Baqi’ al-Gharqad memiliki nilai penting sejak zaman Rasulullah ﷺ hingga saat ini. Di sanalah para sahabat dan tabi’in dimakamkan. Sahabat pertama dari kalangan muhajirin yang dimakamkan di sana adalah Utsman bin Mahzun radhiallahu ‘anhu”.

Al-Faidi menambahkan bahwasanya Baqi’ al-Gharqad bukan satu-satunya pekuburan di Madinah sebelum kedatangan Islam. Ada beberapa pekuburan lain di Madinah dan sekitarnya. Dan Baqi’ tidak memiliki keistimewaan dibanding selainnya sampai Rasulullah ﷺ menjadikannya sebagai pekuburan kaum muslimin. Ditambah lagi, pemilihan Baqi’ merupakan perintah dari Allah ﷻ kepada Rasul-Nya ﷺ.

Dalam sebuah hadits dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرتاد لأصحابه مقبرة يدفنون فيها الأموات، وطلب نواحي المدينة وأطرافها، وقال: (أمرت بهذا الموضع) يعني البقيع، فكان أمر الله عز وجل لرسوله صلى الله عليه وسلم باتخاذ البقيع مقبرة للمسلمين أكبر فضل له وقد تعهدها الرسول الكريم بالزيارة

Rasulullah ﷺ meminta kepada para sahabatnya sebuah pekuburan untuk memakamkan orang yang telah meninggal. Beliau meminta sebuah tempat di pinggir Kota Madinah. Beliau bersabda, ‘Aku diperintahkan memilih tempat ini’. Yaitu Baqi’. Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk menjadikan Baqi’ sebagai pekuburan kaum muslimin. Dan termasuk di antara keutamaan Baqi’ adalah Rasulullah berjanji untuk menziarahinya.

Inilah yang menjadi alasan banyaknya orang-orang menziarahi makam Baqi’ saat mereka berada di Kota Madinah. Mereka datang dan berdoa untuk ahli kuburnya. Di antara para sahabat yang dimakamkan di tempat ini adalah: istri-istri Rasulullah ﷺ, putri-putri dan ahli baitnya, dan para sahabat yang lain.

Banyak hadits yang meriwayatkan tentang keutamaan Pemakaman Baqi’ di antaranya hadits:

مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا ؛ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

“Siapa yang bisa meninggal di Madinah, silahkan meninggal di Madinah. Karena aku akan memberikan syafaat bagi orang yang meninggal di Madinah.” (HR. Turmudzi 3917, dishahihkan an-Nasai dalam Sunan al-Kubro (1/602).

Di Baqi’ terdapat tempat pemandian mayat terbesar di dunia. Karena pemakaman ini menampung ragam manusia dari seluruh penjuru dunia, dengan berbagai kewarga-negaraannya. Tentu selain dari para syuhada, sahabat Nabi, dan ulama kaum muslimin.

Pemerintah Arab Saudi menaruh perhatian besar terhadap pemakaman Baqi’. Melalui Hai-ah al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar di Kota Madinah, pemerintah Arab Saudi mengadakan bimbingan dan nasihat bagi para peziarah. Hal itu dalam rangka menghormati orang-orang utama yang dimakamkan di sana dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Baik berupa praktik yang menyimpang dari syariat, kekacauan, dan terganggunya prosesi pemakaman.

Hai-ah menempatkan petugas-petugas mereka setiap jam –termasuk penerjemah- dari usai shalat subuh hingga malam hari. Mereka memberi pengarahan tentang prosesi jenazah dan bimbingan terhadap peziarah. Hal ini penting untuk mencegah peziarah melakukan hal-hal yang merusak akidah dan menyimpang dari syariat. Karena tidak dipungkiri banyak orang-orang yang meminta-minta di pekuburan itu.

Hai-ah juga menempatkan beberapa layar yang memberikan penjelasan tentang adab-adab ziarah yang sesuai syariah dan memberikan peringatan dari kekeliruan-kekeliruan yang terjadi di Baqi’. Selain adab ziarah dan adab menghadiri jenazah, layar tersebut juga menayangkan silsilah nasab Nabi Muhammad ﷺ.

IMAM SYAFI’I RA BERGURU KEPADA CUCU NABI SAYYIDAH NAFISAH RA.

Ini kisah tentang perempuan suci, cicit dari Nabi Muhammad Saw. Ia juga seorang ilmuwan terkemuka di masanya, sehingga Imam Syafi’i pun berguru padanya. Sayyidah Nafisah (145 H -208 H), itulah namanya. Makamnya di Kairo, Mesir, sampai sekarang masih dipenuhi para peziarah.

Di luar masjid Sayyidah Nafisah, dijual buku yang mengupas biografi perempuan yang disebut-sebut sebagai sumber pengetahuan keislaman yang berharga (Nafisah al-‘Ilm), pemberani, sekaligus ‘abidah zahidah (tekun menjalani ritual dan asketis). Bahkan, sebagian orang mengatagorikannya sebagai wali perempuan dengan sejumlah keramat.

Sejak kecil, Sayyidah Nafisah sudah hafal Al-Qur’an dan setiap selesai membaca Al-Qur’an beliau selalu berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim”. Ia memahami bahwa Nabi Ibrahim adalah bapak moneteisme sejati, sekalligus bapak Nabi Muhammad lewat jalur Nabi Ismail yang notabene keturunan Nabi Ibrahim. Sedangkan Sayyidah Nafisah sendiri adalah keturunan dari Nabi Muhammad.

Dengan mengunjungi makam Nabi Ibrahim, boleh jadi ia berharap menarik benang merah perjuangan para leluhurnya. Ketika Allah mengabulkan doanya dan ia bisa berziarah ke makam kakek moyangnya, Nabi Ibrahim, terjadilah peristiwa spiritual (yang sebaiknya tidak perlu diceritakan di sini).

Ketika ia berusia 44 tahun, ia tiba di Kairo pada 26 Ramadhan 193 H. Kabar kedatangan perempuan yang luar biasa ini telah menyebar luas. Ia pun disambut oleh pebduduk Kairo yang merasa bersyukur didatangi oleh Sayyidah Nafisah. Ratusan orang tiap hari datang hendak menemuinya. Dari mulai berkonsultasi, meminta doa ataupun mendengar nasihat dan ilmu darinya.

Bahkan, dikabarkan banyak yang sampai kamping bermalam di luar kediamannya, menunggu kesempatan untuk bisa bertemu. Lambat laun, Sayyidah Nafisah merasa waktunya tersita melayani umat. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kairo dan kembali ke Madinah agar bisa berdekatan dengan makam kakeknya, Nabi Muhammad Saw.

Tapi, penduduk Kairo keberatan dan memelas agar Sayyidah Nafisah membatalkan keputusannya untuk mudik ke Madinah. Gubernur Mesir turun tangan. Ia melobi Sayyidah Nafisah untuk bertahan di Kairo. Gubernur menyediakan tempat yang lebih besar baginya, sehingga kediamannya bisa

menampung umat lebih banyak. Gubernur juga menyarankan agar ia menerima umat hanya pada hari Rabu dan Sabtu saja. Di luar waktu itu, ia bisa kembali berkhalwat beribadah menyendiri.

Gubernur menunggu beberapa saat. Sementara Sayyidah Nafisah terlihat diam, menunggu petunjuk Allah. Akhirnya, setelah mendapat izinNya, ia pun menerima tawaran Gubernur dan memutuskan tinggal di Kairo sampai ajal menjemputnya.

Sebelum tiba di Mesir, Imam al-Syafi’i sudah lama mendengar ketokohan perempuan ulama ini dan mendengar pula bahwa banyak ulama yang datang ke rumahnya untuk

mendengarkan pengajian dan ceramahnya. Al-Syafi’i datang ke kota ini lima tahun sesudah Sayidah Nafisah.

Beberapa waktu kemudian, al-Syafi’i meminta bertemu dengannya di rumahnya. Sayidah Nafisah menyambutnya dengan seluruh kehangatan dan kegembiraan. Perjumpaan itu dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang sering. Masing-masing saling mengagumi tingkat kesarjanaan dan intelektualitasnya.

Bila al-Syafi’i berangkat untuk mengajar di masjidnya di Fustat, ia mampir ke rumahnya. Begitu juga ketika pulang kembali ke rumahnya. Dikabarkan bahwa al-Syafi’i adalah ulama yang paling sering bersama Sayyidah Nafisah dan mengaji kepadanya, justru dalam status Imam al-Syafi’i sebagai tokoh besar dalam bidang usul al-fiqh dan fiqh.

Kita tahu bahwa sebelum datang ke Mesir, Imam al-Syafi’i sudah terlebih dahulu terkenal dan harum namanya di Baghdad. Fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i di Baghdad dikenal sebagai ‘qaul qadim’, sedangkan fatwa beliau di Kairo dikategorikan sebagai ‘qaul jadid’. Pada Ramadhan, al-Syafi’i juga sering shalat Tarawih bersama Sayyidah Nafisah di masjid ulama perempuan ini.

Begitulah kedekatan kedua orang hebat ini. Manakala Imam al-Syafi’i sakit, ia mengutus sahabatnya untuk meminta Sayidah Nafisah mendoakan bagi kesembuhannya. Begitu sahabatnya kembali, sang Imam tampak sudah sembuh. Ketika dalam beberapa waktu kemudian al-Syafi’i sakit parah, sahabat tersebut dimintanya kembali menemui Sayyidah Nafisah untuk keperluan yang sama, meminta didoakan.

Kali ini, Sayyidah Nafisah hanya mengatakan, “Matta’ahu Allah bi al-Nazhr Ila Wajhih al-Karim” (Semoga Allah memberinya kegembiraan ketika berjumpa denganNya). Mendengar ucapan sahabat sekaligus gurunya itu, al-Syafi’i segera paham bahwa waktunya sudah akan tiba.

Al-Imam kemudian berwasiat kepada murid utamanya, al-Buwaithi, meminta agar Sayyidah Nafisah menyalati jenazahnya jika kelak dirinya wafat. Ketika al-Syafi’i kemudian wafat, jenazahnya dibawa ke rumah sang ulama perempuan tersebut untuk dishalatkan.

Menurut KH. Husein Muhammad, di antara nasihat Sayyidah Nafisah kepada para muridnya adalah:

  1. Jika kalian ingin berkecukupan, tidak menjadi miskin, bacalah QS. al-Waqi’ah [56].
  1. Jika kalian ingin tetap dalam keimanan Islam, bacalah QS. al-Mulk [67].
  1. Jika kalian ingin tidak kehausan pada hari dikumpulkan di akhirat, bacalah QS. al-Fatihah [1].
  1. Jika kalian ingin minum air telaga Nabi di akhirat, maka bacalah QS. al-Kautsar [108].

Sayyidah Nafisah adalah fakta sejarah bahwa seorang perempuan bisa menjadi seorang ulama tersohor, bahkan menjadi guru bagi seorang Imam Syafi’i. Kita merindukan munculnya Sayyidah Nafisah berikutnya di dunia Islam.