PENGUKUHAN KOTA MULIA TANAH HAROM DAN CINTA NABI SAW KEPADA MADINAH AL MUNAWWAROH

Anda dapat menyelami dalamnya cinta Rasulullah terhadap Madinah dalam setiap sabdanya tentang Madinah. Anda dapat merasakan hal tersebut dari do’a-do’a beliau agar Madinah diliputi kebaikan, beliau telah berdo’a kepada Allah agar Madinah menjadi kota yang mereka cintai :

“Ya Allah, berilah kami kecintaan terhadap Madinah seperti cinta kami terhadap Mekkah atau melebihinya. ” [HR.Bukhari no. 1889, HR.Muslim no. 1376]

Tidak diragukan lagi bahwa do ‘a beliau pasti terkabul.

Hadits-hadits yang mengisyaratkan akan kecintaan beliau terhadap Madinah sangat banyak, cobalah simak sabda beliau berikut ini:

“Madinah adalah tempat hijarahku, di sana tempat tinggalku, dari sana aku nanti di bangkitkan, penduduknya adalah tetanggaku, tentulah menjadi suatu kewajiban bagi umatku menjaga tetanggaku.” [Al- Firdaus oleh: Ad-Dailami no.6953]

Dalam hadits ini kita dapati betapa perasaan emosional dan rasa cinta Nabi begitu menyatu dengan Madinah tanpa perlu menggunakan argumen lagi.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas, rasa cinta ini lebih jelas dan lebih terfokus lagi, “Bahwa Nabi apabila datang dari safar (perjalanan) jauh dan melihat batas Madinah, beliau langsung memacu kendaraannya, dan jika beliau menunggang keledai beliau menggerakkannya (agar cepat sampai) karena besarnya rasa cinta beliau terhadap Madinah.” [HR. Bukhari no. 1886]

PENGUKUHAN MADINAH SEBAGAI TANAH HARAM

Pengukuhan Madinah sebagai tanah haram termasuk salah satu keutamaan kota ini, tapi sengaja pembahasannya dipisah, mengingat begitu pentingnya dan terkait dengan hukum-hukum syar’i. Pengukuhan Madinah sebagai tanah haram disebutkan dalam beberapa hadits shahih, diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin ‘ Ashim bahwa Nabi bersabda :

“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Mekkah sebagai tanah haram dan ia mendo ’akan para penduduknya, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram seperti yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap Mekkah, dan aku mendo’akan agar sha’ dan mud’-nya diberkahi dua kali lipat dari doa Ibrahim untuk penduduk Mekkah.” [HR. Bukhari no. 2129 dan HR. Muslim no. 1360]

Hadits di atas menjadi dalil bagi jumhur (mayoritas) ulama yang berpendapat bahwa Madinah adalah tanah haram. Juga hadits-hadits lain yang diriwayatkan dari sepuluh orang sahabat bahkan lebih.

Dalam shahihain diriwayatkan dari ‘ Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda :

“Madinah adalah tanah haram antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur, maka siapa yang melakukan suatu perbuatan maksiat di sana atau memberikan tempat bagi pelaku maksiat, niscaya laknat Allah, malaikat dan semua manusia akan menimpanya, dan di hari kiamat Allah tidak akan menerima amalannya baik yang fardhu maupun sunnat.” [HR. Bukhari no. 1870 dan Muslim no. 1370]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, “Andai aku melihat kijang di dalam Madinah sedang memakan rumput, niscaya aku tidak akan mengejutkannya, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: “Antara dua (harra) bebatuan hitam adalah tanah haram.” [HR.Bukhari no. 1873 dan Muslim no. 1372]

Hadits diatas menunjukkan bahwa hewan buruan dan pepohonan di dalam Madinah haram di ganggu. Dalam hadits itu juga dijelaskan bahwa batas tanah haram adalah antara bukit Tsaur dan ‘Air; Tsaur yaitu: bukit kecil berwarna merah yang terletak di belakang bukit Uhud, kemiringan sisinya curam seolah-olah laksana orang berdiri. Saat ini kalau kita menuju Jeddah melalui jalan ke Airport akan melewati belakang bukit tersebut. Jalan ini sengaja dibuat sedikit jauh diluar batas tanah haram agar dapat di lalui oleh non muslim. Adapun ‘Air, yaitu: bukit besar yang berwama hitam terletak di sebelah tenggara Dzulhulaifah. [Lihat: Ad-durr ats-tsamin: oleh Syinqiti hal.16-17]

Pengukuhan tanah haram ini tentulah mengakibatkan berlakunya hukum: ‘hewannya tidak boleh diusik, pepohonannya tidak boleh ditebang, barang temuan (yang tercecer) disana tidak boleh diambil’. Hukum ini sama dengan hukum yang berlaku di tanah suci Mekkah.

Diriwayatkan dari ‘ Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda: “Rerumputannya (Madinah) tidak boleh dipotong, hewan buruannya tidak boleh dikejar, barang yang tercecer tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang ingin mencari pemiliknya, dan tidak pantas seorang laki-laki membawa senjata tajam untuk membunuh seseorang, dan tidak pantas dia memotong pepohonannya kecuali bagi orang yang ingin sekadar memberi makan untanya.” [HR.Abu Daud no.2035]

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak boleh diinjak dan dicabut rerumpatan di padang yang dilarang Rasulullah, tetapi boleh dipatahkan dengan cara yang lunak sekadamya.” [HR.Abu Daud no.2039]

Hadits-hadits di atas seluruhnya menguatkan pemyataan bahwa Madinah adalah tanah haram, berarti hewan buruan, pepohonan dan rerumputannya dilarang diusik, dan hadits-hadits tersebut kevalidan sanadnya tidak kalah dengan hadits-hadits yang mengharamkan Mekkah.

BUKIT ‘AIR

‘Air dengan harkat fathah ‘ain adalah sebuah bukit yang terletak di selatan Madinah Al Munawwarah. Bukit ini adalah batas tanah haram dari arah selatan. Nabi ketika datang hijrah ke Madinah melewati sebelah timur bukit ini. Bukit ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi, bahwa Nabi menjadikan tanah haram di antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur, dari lereng sebelah timur bukit ini mengalir air ke dataran rendah Ranuna. [Lihat ad-Dur ats- Tsamin oleh Syinqithi hal. 252-253]

‘Iyadh rahimahullah berkata, “Perkataan orang yang mengingkari keberadaan bukit ‘Air di Madinah tidak perlu dibahas, karena bukit ini sangat populer, seperti juga bukit ini disebut-sebut dalam bait syair mereka”.

BUKIT TSAUR

Yang biasa dikenal, gua tempat persembunyian Rasulullah dan sahabatnya Abu Bakar As-Shiddiq berada di sebuah bukit yang dinamakan bukit Tsaur, yaitu di Mekkah seperti yang kita ketahui.

Di Madinah juga ada bukit yang juga bernama bukit Tsaur, penduduk Madinah baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam mengenal bukit ini, yaitu sebuah bukit kecil berwama merah yang tegak berdiri seperti seekor lembu, berada di belakang bukit Uhud. Bila kata Tsaur disertakan dengan bukit, maka maksudnya adalah bukit Tsaur di Madinah, sedangkan bukit Tsaur yang di Mekkah biasa disebut tanpa menyertakan kata bukit, inilah perbedaan di antara dua bukit tersebut. [Lihat ad-Dur ats- Tsamin oleh Syinqithi hal. 252-253]

Diriwayatkan dalam hadits, bahwa Nabi telah mengukuhkan antara bukit Tsaur dan bukit ‘Air sebagai tanah haram. Orang yang ingin menuju ke Jeddah melewati jalan ke Airport akan melewati sebelah utara bukit Tsaur, jalan ini sengaja dibuat di belakang bukit, agar non Muslim bisa melewati jalan ini di luar batas Madinah.

HIKMAH MENGGEMBALA KAMBING DAN DI OPERASINYA ROSULULLOH SAW.

Pembedahan Dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Jibril telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala sedang bermain dengan anak-anak, kemudian Jibril mengambilnya dan membedah dadanya kemudian mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan darinya gumpalan darah, ia (Jibril) berkata, “Ini adalah jatah setan pada dirimu,” kemudian jantung itu dicuci dengan air zamzam pada bejana yang terbuat dari emas, kemudian dia kembalikan kepada tempatnya.

Kemudian anak-anak teman bermainnya itu menemui ibunya, mereka berkata, “Muhammad telah dibunuh.” Kemudian mereka menemuinya dan mendapati dia dalam kondisi pucat. Anas berkata, “Saya telah melihat melihat bekas jahitan pada dadanya.” [HR.Muslim 1/147, Kitab Al Iman, No.261]

Pada riwayat Abu Nu’aim dari Ibnu Katsir terdapat tambahan perincian, naskahnya sebagai berikut, “Perawat saya adalah wanita dari Bani Sa’ad bin Bakrah. Suatu saat saya dan anaknya pergi bersama domba-domba kami, sementara kami belum membawa bekal makanan, saya berkata , “Wahai saudaraku, pergilah minta bekal air ibunda kita.”

Saudara saya itu pergi dan saya menunggu disekitar domba-domba kami, kemudian datanglah dua makhluk terbang seakan-akan dua ekor burung elang, salah satu di antara keduanya berkata kepada temannya, “Apakah orang ini yang dimaksud?” Dia berkata, “Iya.” Kemudian keduanya mendatangi saya, merebahkan saya dan membedah dadaku, kemudian mengeluarkan jantungku dan mengeluarkan dua gumpalan darah berwarna hitam. Salah satu di antara keduanya berkata, “Berikan saya air salju, lalu mereka mencuci bagian dalam dadaku, kemudian dia berkata lagi, “Berikan saya air embun”, kemudian mereka berdua mencuci jantung saya. Dia berkata lagi, “Datangkan kemari sakinah (ketentraman).” Dia akhirnya menanam ketentraman itu dalam jantungku, kemudian dia berkata, “Jahit”, Dia menjahit dadaku dan memberikan stempel kenabian di atas dadaku.”

Ibunya cemas telah terjadi sesuatu dengannya, maka dengan segera dia membawanya ke ibunya di Mekah, Dia berkata, “Saya telah menunaikan amanah dan tugas saya.” Saya menceritakan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, sedangkan ibunya Aminah, berkata dengan maksud menenangkan perasaan Halimah, “Saya telah melihat waktu saya mengandungnya terdapat cahaya yang keluar dari diri saya yang menerangi istana-istana yang ada di Syam.”

Pendapat yang rajih (kuat) adalah kejadian itu terjadi pada saat usia Rasulullah empat tahun, dan telah benar kejadiannya bahwa pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj seperti yang akan di bahas secara khusus telah terjadi pembedahan dada untuk yang kedua kalinya.

Hikmah menggembala kambing

~ Ibnu Hajar rahimahullah berkata, para ulama berkata, “Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika manusia.”[Fathu Al Bari 1/144]

Para nabi berprofesi sebagai penggembala kambing semenjak kecil, agar mereka menjadi penggembala manusia pada waktu mereka besar. Sebagaimana Musa dan Muhammad serta para nabi lainnya shalawatullahi ‘Alaihim wa Salamuh, pada awal kehidupan mereka telah berhasil menjadi penggembala kambing yang baik, agar mengambil pelajaran setelah keberhasilan mengendalikan binatang ternak menuju keberhasilan mengurus anak cucu Adam dalam mengajak, memperbaiki dan mendakwahi mereka. Agar sang da’i bisa sukses dalam berdakwah, maka perlu memiliki pengetahuan tentang pentingnya kesinambungan dan praktik secara langsung.

~ Dalam pekerjaan mengembala kambing terdapat pelajaran membiasakan diri untuk sifat menyantuni dan mengayomi. Tatkala mereka bersabar dalam mengembala dan mengumpulkannya setelah terpencar di padang gembalaan, mereka mendapat pelajaran bagaimana memahami perbedaan tabiat umat, perbedaan kemampuan akal. Dengan perbedaan tersebut maka yang membangkang mesti ditindak tegas dan yang lemah mesti disantuni.

Hal ini memudahkan bagi yang memiliki pengalaman seperti itu untuk menerima beban dakwah dibandingkan yang memulai dari langsung dari awal. Itulah awal pembelajaran bagi para Nabi dengan cara menghadapi tabiat yang berbeda, ada yang lemah, ada yang pincang dan bermaksud mendaki gunung, ada yang tidak mampu untuk melintasi lembah. Dari situ, dia mempelajari bagaimana meraih keinginan yang beragam sebagai pengantar untuk mengenal manusia dengan tujuan dan maksud yang juga beragam.

~ Para Nabi mengembala kambing semenjak mereka kecil dan mereka menyandarkan kehidupan mereka melalui usaha mereka, memberikan pesan tentang pentingnya seorang da’i menggantungkan dirinya kepada Allah dan tidak menggantungkan hidupnya pada belas kasian orang lain.

Jika seorang menyandarkan dirinya kepada orang lain, maka akan terjadi basa basi, sementara dakwah tidak mengenal basa basi, dan seorang da’i mesti menjauhkan dirinya dari pemberian dan sedekah orang lain. Manusia tidak akan menerima dakwah orang yang pernah suatu hari menerima sedekah dan belas kasihannya, kemudian hari yang lain, dia menasehatinya dan memperingatinya agar tidak terlena dengan dunia. Oleh karena itu, rezeki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadi pembicaraan orang Quraisy, Rasulullah hidup di antara mereka dengan tidak meminta belas kasihan mereka, hal yang menyebabkan mereka setelah itu mengungkit jasa dan kebaikan mereka.

SEJARAH PENTING “PIAGAM MADINAH”

Teks Piagam Madinah adalah teks perjanjian dengan orang-orang Yahudi, bentuk TEKS PIAGAM MADINAH berupa Kalimat-kalimat shahifah (piagam), seperti tercantum dalam kitab Sirah al Nabawiyah Ibn Hisyam, tersusun secara bersambung, tidak terbagi atas pasal-pasal dan bukan berbentuk syair. Bismillah al Rahman al Rahim tertulis pada awal naskah, disusul dengan rangkaian kalimat berbentuk prosa. Ilmuan muslim dan non muslim banyak yang mengutip naskah ituyang dibagi atas pasal-pasal. Muhmmad Hamidullah, misalnya mengutip teks itu selengkapnya dan membaginya atas 47 pasal.(Majmu’ah al Wasa’iq al Siyasiyah Li al ‘Ahd al Nabawiyy wa Khilafah al Rasyidah).

Naskah Piagam Madinah yang paling banyak dikutip adalah yang tercantum di dalam kitab Sirah Al Nabawiyah susunan Ibnu Hisyam, karena kitab sirah inilah yang agaknya paling banyak beredar.

قال ابن إسحاق وكتب رسول الله صلى الله عليه وسلم كتابا بين المهاجرين والأنصار وادع فيه يهود وعاهدهم وأقرهم على دينهم وأموالهم وشرط لهم واشترط عليهم

Ibnu Ishaq berkata : “ Setelah itu Rasulullah SAW membuat perjanjian antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dalam perjanjian tersebut, Rasulullah SAW tidak memerangi orang-orang Yahudi, membuat perjanjian dengan mereka, mengakui agama dan harta mereka dan membuat persyaratan bagi mereka.

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan menyebut Nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang”

هذا كتاب من محمد النبي صلى الله عليه وسلم بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم

“ini adalah piagam dari Muhammad, Nabi SAW, dikalangan mukminin dan Muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yasrib dan orang yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.”

 إنهم أمة واحدة من دون الناس

1.      “Sesungguhnya mereka satu Ummat, lain dari (komunitas) manusia yang lain”

المهاجرون من قريش على ربعتهم يتعاقلون بينهم وهم يفدون عانيهم بالمعروف والقسط بين المؤمنين

2.      “Kaum Muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan )mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang bak dan adil di antara mukminin.”

وبنو عوف على ربعتهم يتعاقلون معافلهم الأولى كل طائفة تفدى عانيها المعروف والقسط بين المؤمنين

3.      “Banu ‘Awf, sesuai keadaan mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.”

 وبنو ساعدة على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

4.      “Banu Sa’idah sesuai keadaan mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو الحارث على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

5.      “Banu al Hars, sesuai keadaan mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو جشم على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

6.      “Banu Jusyam, sesuai keadaan mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

وبنو النجار على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

7.      “Banu An Najjar, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو عمرو بن عوف على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

8.      “Banu Amr Ibnu ‘Auf, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو النبيت على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

9.      “Banu Al Nabit, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو الأوس على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

10.  “Banu Al Aus, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

وإن المؤمنين لا يتركون مفرحا بينهم ان يعطوه بالمعروف في فداء أو عقل

11.  “Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang  berat menanggung utang di antara mereka, tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diyat.”

قال ابن هشام المفرح المثقل بالدين والكثير العيال قال الشاعر … إذا انت لم تبرح تؤدي أمانة … وتحمل أخرى أفرحتك الودائع

“Ibnu Hisyam berkata : Al Mufrah adalah orang yang mempunyai hutang yang berat dan memiliki tanggungan keluarga yang banyak. Seorang penyair berkata : …ketika engkau tidak jelas menyampaikan amanah…..dan engkau menanggung yang lain maka aku menitipkan kepadamu barang-barang titipan…”

 وأن لا يحالف مؤمن مولى مؤمن دونه

12.  “Seorang Mukmin tidak dibolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.”

وإن المؤمنين المتقين على من بغى منهم أو ابتغى دسيعة ظلم أو إثم أو عدوان أو فساد بين المؤمنين وإن أيديهم عليه جميعا ولو كان ولد أحدهم

13.  “Orang-orang mukmin yang takwa harus menentang orang yang di antara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara dzalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan dikalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.”

 ولا يقتل مؤمن مؤمنا في كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن

14.  “Seorang Mu’min tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman.”

 وإن ذمة الله واحدة يجير عليهم أدناهم وإن المؤمنين بعضهم موالي بعض دون الناس

15.  “Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungn) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling  membantu, tidak tergantung pada manusia lain.”

 وإنه من تبعنا من يهود فإن له النصر والأسوة غير مظلومين ولا متناصرين عليهم

16.  “Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terdzalimi dan ditentang (olehnya).”

وإن سلم المؤمنين واحدة لا يسالم مؤمن دون مؤمن في قتال في سبيل الله إلا على سواء وعدل بينهم

17.  “Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin yang lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.”

 وإن كل غازية غزت معنا يعقب بعضها بعضا

18.  “Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain.”

وإن المؤمنين يبيء بعضهم على بعض بما نال دماءهم في سبيل الله وإن المؤمنين المتقين على أحسن هدي وأقومه

19.  “orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertaqwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.”

وأنه لا يجير مشرك مالا لقريش ولا نفسا ولا يحول دونه على مؤمن

20.  “orang musyrik (Yasrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh campur tangan melawan orang beriman.”

 وإنه من اعتبط مؤمنا قتلا عن بينة فإنه قود به إلا أن يرضى ولي المقتول وإن المؤمنين عليه كافة ولا يحل لهم إلا قيام عليه

21.  “Barangsiapa membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.”

 وإنه لا يحل لمؤمن أقر بما في هذه الصحيفة وآمن بالله واليوم الآخر أن ينصر محدثا ولا يؤويه وأنه من نصره أو آواه فإن عليه لعنة الله وغضبه يوم القيامة ولا يؤخذ منه صرف ولا عدل

22.   Tidak halal bagi orang mukmin yang mengaki piagam ini, percaya kepada Allah dan hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari Kimat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.”

 وإنكم مهما اختلفتم فيه من شيء فإن مرده إلى الله عز وجل وإلى محمد صلى الله عليه وسلم

23.  Apabila kalian berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah ‘Azza Wazalla dan keputusan Muhammad SAW.”

 وإن اليهود ينفقون مع المؤمنين ما داموا محاربين

24.  “Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.”

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهل بيته

25.  “Kaum Yahudi Dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.”

 وإن ليهود بني النجار مثل ما ليهود بني عوف

26.  “Kaum Yahudi Bani Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

 وإن ليهود بني الحارث مثل ما ليهود بني عوف

27.  “Kaum Yahudi Bani Al Haris diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

وإن ليهود بني ساعدة مثل ما ليهود بن عوف

28.  “Kaum Yahudi Bani Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

وإن ليهود بني جشم مثل ما ليهود بني عوف

29.  “Kaum Yahudi Bani Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

وإن ليهود بني الأوس مثل ما ليهود بني عوف

30.  “Kaum Yahudi Bani Al Aus diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

 وإن ليهود بني ثعلبة مثل ما ليهود بني عوف إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهل بيته

31.  “Kaum Yahudi Bani Tsa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf. Kecuali orng Dzaim atau khianat. Hukumannya hanya menimpa diri dan keluarganya.”

وإن جفنة بطن من ثعلبة كأنفسهم

32.  “suku Jafnah dari Tsa’labah( diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Tsa’labah).

 وإن لبني الشطيبة مثل ما ليهود بني عوف وإن البر دون الإثم

33.  “Banu Syuthaibah (diperlakukan) sama seperti Yahudi Banu ‘Auf. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu lain dari kejahatan.

وإن موالي ثعلبة كأنفسهم

34.  “Sekutu-seutu Tsa’labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Tsa’labah)

وإن بطانة يهود كأنفسهم

35.  “Kerabat Yahudi (diluar kota madinah) sama seperti mereka (Yahudi).”

 وإنه لا يخرج منهم أحد إلا بإذن محمد صلى الله عليه وسلم وإنه لا ينحجز على نار جرح وإنه من فتك فبنفسه فتك وأهل بيته إلا من ظلم وإن الله على أبر هذا

36.  “Tidak seorangpun dibenarkan ke luar (untuk perang), kecuali seizing Muhammad SAW. ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) uka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balsan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan (ketentuan )ini.”

وإن على اليهود نفقتهم وعلى المسلمين نفقتهم وإن بينهم النصر على من حارب أهل هذه الصحيفة وإن بينهم النصح والنصيحة والبر دون الإثم وإنه لم يأثم امرؤ بحليفه وإن النصر للمظلوم

37.  “Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (yahudi dan Muslimin) saling membantu dalam menghadapi musuh warga Piagam ini. Mereka saling memeberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.”

 وإن اليهود ينفقون مع المؤمنين ما داموا محاربين

38.  “Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.”

 وإن يثرب حرام جوفها لأهل هذه الصحيفة

39.  “Sesungguhnya Yasrib itu tanahnya Haram (suci) bagi warga Piagam ini.”

 وإن الجار كالنفس غير مضار ولا آثم

40.  “Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.”

وإنه لا تجار حرمة إلا بإذن أهلها

41.  “Tidak boleh jaminan diberikan, kecuali seizizn ahlinya.”

 وإنه ما كان بين أهل هذه الصحيفة من حدث او اشتجار يخاف فساده فإن مرده إلى الله عز وجل وإلى محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم وإن الله على أتقى ما في هذه الصحيفة وأبره

42.  “Bila terjadi suatu peristiwa atau suatu perselisihan di antara pendukung Piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah ‘Azza wa Jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi piagam ini.”

 وإنه لا تجار قريش ولا من نصرها

43.  “Sungguh tidak ada jaminan perlindungan bagi quraisy (Mekah) dan juga bagi pendukung mereka.”

وإن بينهم النصر على من دهم يثرب

44.  “Mereka (pendukung Piagam) bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yasrib.”

وإذا دعوا إلى صلح يصالحونه ويلبسونه فإنهم يصالحونه ويلبسونه وإنهم إذا دعواإلى مثل ذلك فإنه لهم على المؤمنين إلا من حارب في الدين على كل أناس حصتهم في جانبهم الذي قبلهم

45.  “Apabila mereka (pendukung  Piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan ) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.”

وإن يهود الأوس مواليهم وأنفسهم على مثل ما لأهل هذه الصحيفة مع البر المحض من أهل هذه الصحيفة. قال ابن هشام ويقال مع البر المحسن من أهل هذه الصحيفة

قال ابن إسحاق وإن البر دون الإثم لا يكسب كاسب إلا على نفسه وإن الله على أصدق ما في هذه الصحيفة وأبره

46.  “Kaum Yahudi Al Aus, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung Piagam ini, bersama kebaikan yang murni dari pendukung Piagam ini. Ibnu Hsyam berkata : dan dikatakan bersama kebaikan yang berbuat baik dari pendkung piagam ini. Ibnu Ishaq berkata : sesungguhnya kebaikan itu bukanlah dosa. Setiap orang bertanggungjawab atas perbuatannya. Sesunggunya Allah paling memebenarkan dan memandang baik isi piagam ini.”

 وإنه لا يحول هذا الكتاب دون ظالم وآثم وإنه من خرج آمن ومن قعد آمن بالمدينة إلا من ظلم أو أثم وإن الله جار لمن بر واتقى ومحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم

47.  “ sesungguhnya piagam ini tidak membela orang dzalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang yang berada di Madinah aman, kecuali orang yang dzalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan taqwa. Muhammad SAW.”

 السيرة النبوية لابن هشام (- (3 / 35)

INILAH DUA ULAMA ISLAM YANG TIDAK SEMPAT BERHAJI SAMPAI AKHIR HAYAT

selfie saat umroh

Kita semua sudah mengetahui, kalau tahun ini kemungkinan besar ibadah haji di tiadakan, tentu hal itu menjadikan problem tersendiri bagi umat islam di indonesia dan dunia terutama bagi yang sudah ada jadwal pemberangkatan melaksanakan ibadah haji tahun ini.

Tapi, kalau kita menengok sejarah dalam dunia islam, hal seperti itu sudah pernah terjadi dan bahkan yang terkena imbas tidak bisa melaksankan ibadah haji bukan saja umat islam golongan awam tetapi juga seluruh ulama dan pejabat pemerintah yang menangani urusan haji dinegara timur tengah tersebut.

Dalam islam ada dua ulama agung yang tidak sempat melaksanakan ibadah haji, walaupun berbeda kasus dan situasi yang menjadi penyebab tidak bisa berangkatnya, Faktor mampu dalam ibadah haji memang sangat urgen dalam pelaksanaanya, termasuk mampu untuk bisa sampai ke makkah dengan selamat.

Al Qodli ibn Hani’ berkata :

قال القاضي ابن هانئ : إمامان ما اتفق لهما الحج ، أبو إسحاق ، وقاضي القضاة أبو عبد الله الدامغاني . أما أبو إسحاق فكان فقيرا ، ولو أراده لحملوه على الأعناق . والآخر لو أراده لأمكنه على السندس والإستبرق

[[Ada dua Imam besar yang belum sempat menjalankan ibadah haji, yaitu imam Abu Ishaq as-Syirozy & Qodli qudlot (gelar hakim tertinggi) Abu Abdillah Addamighoni.

Adapun Imam Abu Ishaq lantaran pilihan hidup beliau sebagai orang miskin, andai beliau mau, pastilah penduduk kota Baghdad tempat beliau menetap akan berebut memberangkatkannya.

Sedang Imam Abu Abdillah lantaran kesibukannya sebagai hakim tertinggi yang tidak memberinya kesempatan untuk menunaikannya]].

Imam Abu Ishaq Al Syirozy adalah pengarang kitab al MUHADZDZAB,

Nama lengkap beliau adalah Syeikh al-Imam Abu Ishaq, Ibrohim bib ‘Ali bin Yusuf al-Fairuzabadi al-Syirozy

Demikian luas & detail sekali penjabaran beliau terkait ritual ibadah haji dalam kitabnya AL-MUHADZDZAB, yang jauh lebih lengkap dibanding buku-buku panduan haji milik KBIH manapun, bak seorang yang sudah puluhan kali menjalankan ibadah haji.

Dalam menjelaskan tempat-tempat bersejarah di tanah haram pun demikian gamblang sekali, seakan beliau melihat langsung tempat-tempat itu & memang begitulah adanya.

Dalam kitab “KAROMATUL AULIYA” disebutkankan bahwa diantara karomah beliau, bisa melihat langsung masjidil haram dan ka’bahnya dari kediaman beliau di Baghdad.

Jadi sekalipun secara lahiriyah dan jasmani beliau tidak penah terlihat melaksanakan ibadah haji, Namun dengan karomah yang beliau miliki, melaksanakan haji bukan hal yang sulit. SUBHANALLOH

Kesimpulan : Ibadah haji hanya wajib bagi yang telah MAMPU

Sumber : Siyar A’laami Nubala karya Al-imam Muhammad bin Ahmad bin Utsman Al-dzahabi [Imam Dzahabi]

Wallohu a’lam

SEJARAH PUNCAK PANDEMI WABAH DI NEGERI ISLAM

Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis karya seputar wabah tha’un dari segi teologi, hadits, dan historis yang pernah terjadi di dunia Islam. Al-Asqalani juga menyinggung beberapa peristiwa wabah dengan beragam durasinya bertahan di masyarakat. (Al-Asqalani, Badzlul Ma‘un fi Fadhlit Tha‘un, [Riyadh, Darul Ashimah: tanpa tahun]).
Cerita Ibnu Katsir, kutip Al-Asqalani, menyebut suatu masa wabah bertahan sejak Rabiul Awal hingga akhir tahun di Damaskus. Selama 9 bulan wabah memakan korban hingga pernah mencapai 1000 jiwa per hari dari warga yang terhitung di dalam gerbang Kota Damaskus. (Al-Asqalani: 329). Wabah penyakit juga pernah terjadi selama tiga hari. Hal ini terjadi di zaman Nabi Daud AS. (Al-Asqalani: 82).

Allah memberikan tiga pilihan azab kepada Nabi Daud AS atas kedurhakaan umatnya, yaitu kemarau panjang selama dua tahun, penindasan musuh selama dua bulan, atau wabah penyakit selama tiga hari. Pilihan itu disampaikan oleh Nabi Daud kepada umatnya. “Kau adalah nabi kami. Pilihkan saja untuk kami,” kata umatnya. Nabi Daud AS kemudian berpikir. Paceklik selama dua tahun jelas bala bencana. Mereka tidak akan tahan kelaparan. Di bawah penindasan musuh, mereka jelas tidak akan tersisa. Nabi Daud AS lalu memilih wabah penyakit selama tiga hari sebagai azab umatnya. Di hari pertama, wabah thaun menyerang. Sejak pagi hingga gelincir matahari atau sekira waktu masuk Shalat Dzuhur, wabah telah menelan korban sebanyak konon sebanyak 70.000 (bahkan ada yang mengatakan 100.000 jiwa). Nabi Daud AS tidak tahan. Ia berdoa kepada Allah. Wabah pun diangkat dari umatnya. “Allah telah menurunkan rahmat-Nya untuk kalian. Hendaklah kalian bersyukur atas bala yang diturunkan kepada kalian,” demikian pidato Nabi Daud AS. Allah memerintahkan mereka untuk membangun masjid yang penyempurnaannya dilakukan di zaman Nabi Sulaiman AS. (Al-Asqalani: 82).

Wabah penyakit pernah terjadi di luar negeri Syam dan Mesir. Wabah itu menyerang masyarakat dalam durasi cukup lama, sekira satu tahun tiga bulan. Wabah mulai menjangkiti masyarakat pada Dzulqa‘dah 48 Hijriyah. Wabah kemudian mereda pada Shafar 50 Hijriyah. (Al-Asqalani: 224). Al-Asqalani dalam karyanya yang lain, Inba‘ul Ghamar bi Abna’il Umur fit Tarikh, menyebut wabah di Damaskus pada 774 Hijriyah bertahan enam bulan. Jumlah korban pernah dalam satu harinya mencapai 200 jiwa. Bertepatan pada Rabiul Awalnya, sungai-sungai di Damaskus meluap yang memorak-porandakan tempat penggilingan tepung dan kolam pemandian umum. (Al-Asqalani, Inba‘ul Ghamar bi Abna’il Umur fit Tarikh, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1986 M/1406 H], juz I, halaman 37). Pada tahun 782, wabah menewaskan banyak orang di negeri Syam. Sebanyak 10-20 orang dimakamkan pada satu liang kubur tanpa dimandikan dan dishalatkan. Konon wabah ini bertahan di tengah masyarakat selama kurang lebih tiga tahun. Tetapi situasi pada tahun pertama adalah yang paling sulit. (Al-Asqalani, 1986 M/1406 H: I/155).

Wabah penyakit juga pernah menjangkiti masyarakat Baridah dan Sa’al. Wabah yang mulai menyerang pada bulan Shafar hingga pertengah tahun 802 Hijriyah ini menewaskan banyak orang. (Al-Asqalani, 1986 M/1406 H: IV/115). Al-Maqrizi menceritakan wabah thaun yang terjadi di Mesir. Menurutnya, kehebatan wabah ini belum pernah terjadi sebelum pada era umat Islam. Wabah mulai turun menyerang pada akhir musim tanam. Wabah itu terjadi tepatnya pada musim rontok pada pertengahan tahun 48 Hijriyah. Memasuki tahun 49 Hijriyah, wabah terus menyebar hingga seluruh pelosok desa-desa di Mesir. Wabah itu memuncak di negeri Mesir pada bulan Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal. Wabah mereda pada pertengahan bulan Dzulqa‘dah 49 Hijriyah. Wabah penyakit ini menewaskan ribuan warga di sana. (Al-Maqrizi, As-Suluk li Marifati Duwalil Muluk, juz II, halaman 152).

WASHIYAT NABI SAW. TERKAIT POLITIK KEMASYARAKATAN

Menjelang wafat, Kanjeng Nabi menyampaikan “wasiat politik” penting sebagaimana dikisahkan oleh sahabat agung Abdullah ibn Abbas dan direkam dalam Shahih Bukhari (hadis nomor 885 dalam edisi Musthafa Dib Bugha).

Kisah ini dituturkan oleh Ibn Abbas dengan cara yang amat “visual”, dengan detil-detil yang cermat, membuat siapapun yang membacanya akan terharu. Ini adalah wasiat terakhir Nabi menjelang wafat, dan disampaikan dalam keadaan fisik beliau sudah amat lemah.

Demikianlah kisah Ibn Abbas

Suatu hari, Nabi naik mimbar yang ada di masjid beliau (sekarang dikenal dengan “Masjid Nabawi”; dulu letaknya persis di samping rumah Kanjeng Nabi; atau lebih tepatnya, Nabi tinggal dan “ngenger” di sebuah ruangan di samping masjid). Beliau kemudian menyampaikan pidato.

“Wa kana akhira majlisin jalasahu,” demikian tutur Ibn Abbas. Ini adalah majlis, kumpulan, dan pidato terakhir yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi. Saya membayangkan, saat menyampaikan keterangan tambahan ini, sangat mungkin Ibn Abbas merasakan keharuan dan kesedihan yang mendalam, mengingat detik-detik terakhir kehidupan manusia yang dicintainya itu.

Saat menyampaikan pidato itu, Kanjeng Nabi masih mengenakan selimut yang ia lingkarkan ke tubuhnya, dan disampirkan ke pundaknya. Sementara itu, kepalanya terbalut oleh sebuah kain yang sudah mulai lusuh dan berminyak (‘ishabatin dasimatin), saking seringnya dipakai dan dilaburi air serta minyak selama hari-hari ketika beliau sakit.

Kemudian, demikian kisah Ibn Abbas, Kanjeng Nabi memulai pidatonya dengan memanjatkan puja-puji bagi Allah, sebagaimana kebiasaan yang selalu ia lakukan saat menyampaikan pidato (catatan: tradisi terus bertahan hingga sekarang di tengah-tengah umat Islam, yakni: menyampaikan pidato dengan pembukaan sebagaimana kita kenal sekarang).

“Wahai para manusia, kemarilah, kemarilah, mendekatlah kepadaku,” demikian Nabi membuka pidatonya.

“Amma ba’du. Suatu hari kelak, orang-orang Ansar yang mendiami kota Madinah ini akan berkurang jumlahnya. Dan bangsa-bangsa lain dari luar Arab akan makin banyak jumlahnya.”

Pidato bisa kita baca sebagai semacam “prediksi” Kanjeng Nabi bahwa kelak jumlah bangsa-bangsa yang memeluk Islam dari luar Arab akan lebih besar dibandingkan dengan bangsa Arab sendiri.

Prediksi ini, sebagaimana kita naca dalam sejarah, benar terjadi. Kira-kira sepuluh tahun setelah Nabi wafat, imperium Sasan di Persia (salah satu dari kekuatan politik terbesar di dunia saat itu selain kekaisaran Romawi yang berpusat di Byzantium — atau Turki saat ini) takluk dan jatuh ke tangan umat Islam. Kejatuhan ini terjadi di masa pemerintahan khalifah kedua: Umar bin Khattab.

Setelah era Umar, kekuasaan politik Islam makin melebar dan meluas sehingga terbentang dari semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugis) di bagian Barat, hingga Afghanistan dan India di sebelah timur.

“Oleh karena itu,” demikian lanjutan pidato Kanjeng Nabi, “jika ada di antara kalian kelak ada yang menjadi penguasa yang mampu mencelakai atau membawa manfaat bagi orang lain (dengan kekuasaannya itu), hendaklah dia bersikap ksatria. Hendaklah dia menerima kebaikan (yang dilakukan rakyatnya), dan memaafkan mereka (jika melakukan kesalahan).”

Bagi saya, ini adalah “wasiat politik” yang amat penting, terutama dalam konteks peradaban manusia, termasuk bangsa Arab, pada abad ke-7. Tradisi yang dominan pada zaman itu adalah “the culture of revenge“, kebiasaan untuk melakukan balas dendam (al-tha’r wa al-fatk).

Nabi mengenalkan etika baru dalam berkuasa: “the ethics of magnanimity”, الحلم, yaitu memaafkan orang lain, terutama jika kesalahan itu datang dari orang yang kebetulan menjadi bawahan dan rakyat.

Kita bisa membayangkan, jika penguasa yang memiliki alat-alat kekuasaan dengan “daya pukul” yang besar memiliki sifat pendendam, betapa sengsaranya rakyat yang hidup di bawah kekuasaannya!

Nabi tak mau hal ini terjadi. Beliau menghendaki agar kekuasaan yang muncul setelah era Islam berubah secara kualitatif dari model-model kekuasaan yang ada sebelumnya. Nabi mengajarkan kekuasaan yang dikendalikan oleh “the ethics of magnanimity” ini — kekuasaan yang didasari kasih sayang dan kemampuan untuk mengampuni (dalam bahasa sekarang: “truth and reconciliation”).

Sekian dan selamat menikmati akhir pekan. Jangan lupa, tetap di rumah, sering cuci tangan dan pakailah masker jika terpaksa keluar. Semoga wabah ini segera diangkat oleh Allah.

SEJARAH ASAL USUL NAMA NABI MUSA AS.

Asal muasal kata “MUSA” Pada “Nabi Musa AS”

(قوله موسى) هو اسم اعجمي غير منصرف وهو فى الاصل مركب. والاصل موشى بالشين لان الماء بالعبرانية يقال له “مو”، والشجر يقال له “شى” فغيرته العرب وقالوه بالسين . سمي بذلك لان فرعون اخذه من بين الماء والشجر حين وضعته امه فى الصندوق والقته فى اليم كما سيأتى فى سورة القصص . وهذا بخلاف موسى الحديد فإنه عربي مشتق من اوسيت رأسه اذا حلقته، وعاش موسى مائة وعشرين سنة

تفسر الصاوى ، ج١ ص ٢٩

(Firman Allah SWT lafadz MUSA)

Dari segi bahasa lafadz musa adalah isim a’jami (kata yang bukan berasal dari bahasa arab) dan ghoir munshorif (tidak bisa di tashrif).

Sebenarnya lafadz MUSA bukan terdiri dari satu kata pada asalnya, tetapi tersusun dari DUA KATA (murokab)

ASAL dari kata MUSA (موسى) adalah MUSYA (موشى) dengan syin besar.

Karena dalam bahasa ibrani, kata (الماء) – Al Ma`u = Air, biasa di ucapkan dengan kata (مو) => Mu.

Dan kata (الشجر) – Al Syajaru = Pohon, biasa diucapkan dengan kata (شى) => Sya.

Maka orang arab (dulu) merubah penyebutannya dan mengucapkannya dengan SYIN KECIL (سى) /sa

Mengapa Nabi Musa AS dinamai dengan nama Musa ?

Karena dulu fir’aun menemukan dan mengambil musa diantara AIR dan POHON/peti.

Sebagaimana ma’lum bahwa ketika itu Fir’aun memerintahkan pasukannya agar membunuh setiap bayi laki laki yang lahir,maka Musa kecil/bayi di masukkan dalam peti kayu dan di hanyutkan di laut, dan ada irigasi/saluran air dari laut yang menuju istana fir’aun.

Nabi Musa Hidup selama 120 tahun.

Lafadz (موسى) dalam bahasa arab dikenal satu kata dengan dua arti berbeda

1. Musa (موسى) isim a’jami ghoir munshorif => berarti yang dimaksud adalah Nabi MUSA AS

2. Musa (موسى) arobiy dan munshorif => mempunyai arti atau makna PISAU CUKUR

Wallohu a’lam

SHAHABAT UMAR BIN KHOTTOB DAN AMRU BIN ASH DALAM MENYIKAPI SERTA MENGHADAPI WABAH AMWAS

Pada tahun 17 Hijriah, khalifah Umar bin Khattab bersama segenap bala tentara berangkat menuju daerah Syiria. Ketika rombongan sang khalifah singgah di sebuah daerah bernama Saragh, datanglah para panglima perang memberikan kabar bahwa daerah Syiria sedang dilanda wabah Pes.

“Kumpulkanlah segenap sahabat dari kalangan pembesar kaum Muhajirin.”

Maka, di antara para pembesar Muhajirin ada yang berkomentar: “Wahai Khalifah, engkau hendak berangkat ke Syiria karena Allah, dan bagi kami tak mungkin wabah seperti itu menyurutkan langkahmu.”

Sedangkan, sebagian yang lain menyerukan: “Wabah itu hanyalah musibah yang pasti akan berlalu, kita pasti mampu berangkat ke sana.”

Kemudian sang khalifah Umar bin Khattab pun mengumpulkan segenap sahabat dari kalangan pembesar kaum Anshar. Uniknya, para pembesar kaum Anshar pun sepakat dengan pendapat pembesar kaum Muhajirin untuk tetap berangkat ke negara Syiria.

Tak beberapa lama, Khalifah Umar bin Khattab berseru, “Kumpulkanlah segenap pembesar kaum Muhajirin dari kalangan suku Quraisy.”

Maka, para pembesar kaum Muhajirin dari suku Quraisy pun berpendapat, “Wahai Khalifah, kita harus kembali sungguh wabah ini adalah musibah yang amat besar.”

Setelah mendengar seluruh pendapat para sahabat, khalifah Umar bin Khattab pun berseru di hadapan khalayak ramai: “Wahai Manusia, aku memutuskan untuk kembali maka kembalilah semuanya.”

Sontak, sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah pun berdiri seraya berkata, “Wahai Khalifah, apakah engkau ingin lari dari takdir Allah?”

Umar bin Khattab pun menimpali, “Sungguh kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apakah engkau tahu seandainya ada seorang penggembala yang diberi pilihan untuk memilih di antara dua bukit, yang satu subur dan yang satu lagi kering kerontang. Bukankah seorang penggembala yang memilih bukit yang subur dan seorang penggembala yang memilih bukit yang kering kerontang juga atas izin Allah?”

Esok harinya, Abdurrahman bin Auf yang tak sempat mengikuti musyawarah bersama khalifah Umar bin Khattab pun menghadap untuk memberikan pendapatnya

“Wahai Khalifah, aku memiliki pendapat atas kejadian ini.”

“Sungguh engkau wahai Abdurrahman bin Auf adalah seorang yang terpercaya, Apakah yang ingin engkau utarakan?” Umar bin Khattab mempersilakan sahabatynya.

“Wahai Khalifah, aku mendengar Rasulullah bersabda ‘Ketika kalian mendengar sebuah wabah menyebar di suatu negeri maka janganlah kalian masuk kedalamnya dan ketika wabah tersebut berada di daerah kalian maka jangan kalian lari darinya,” Abdurrahman bin Auf menjelaskan dengan mengutip Nabi saw.

Umar bin Khattab pun sangat gembira mendengar jawaban Abdurrahman bin Auf, “Segala puji bagi Allah, mari kita kembali semua.”

Sekembalinya rombongan khalifah Umar bin Khattab tersiar kabar menyebarnya wabah Pes yang dijuluki dengan wabah Amwas pada tahun 18 Hijriah. Nama Amwas sendiri diambilkan dari sebuah daerah di sekitar negara Palestina yang bernama desa Amwas sekitar enam mil dari kota Ramalah yang menjadi titik awal menyebar wabah ganas tersebut.

Wabah Pes Amwas ini menyebar hingga ke kota-kota di negara Syiria. Di antara para sahabat yang wafat akibat wabah ini adalah sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abu Sufyan, Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail, dan masih banyak lagi.

Maka wabah ini kian mengganas hingga didapuklah sahabat Amr bin Ash sebagai gubernur Syiria. Di hari pertamanya menangani wabah ganas tersebut, Amr bin Ash berseru:

“Wahai manusia, kesengsaran akibat wabah ini telah terjadi terus menerus seperti halnya bara api yang kian membakar seluruh apa yang ada. Maka, pergilah kalian semua ke gunung-gunung berpisah-pisahlah kalian di sana hingga Allah mengangkat wabah ini dari kita semua.”

Maka, seluruh warga pun tercerai berai mencari tempat yang baik untuk menetap. Tak lama kemudian, sirnalah wabah tersebut.

Dari kisah ini, kita melihat dua hal penting dalam menyikapi sebuah wabah yang sukar untuk ditaklukkan, yaitu kecerdasan seorang pemimpin dalam menjaga rakyatnya serta ketegasannya untuk mengisolasi rakyatnya agar tidak tertular wabah tersebut.

Dalam konteks kita akhir-akhir ini, menerapkan penjagaan yang baik bagi setiap diri kita masing-masing agar tidak berkumpul dan menambah resiko tertular penyakit Corona adalah sebuah kebijaksanaan yang tepat sebagaimana gubernur Amr bin Ash juga pernah melakukannya kepada warga Syiria. Begitu juga, menjaga agar para penderita wabah tidak bercampur dengan masyarakat telah diwasiatkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagaimana hadis yang diceritakan oleh shahabat Abdurrahman bin Auf.

(Sumber: Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah “Daulah Umawiyyah” karya Muhammad al-Khudr Bik)

PENYAKIT YANG PERNAH MEWABAH DALAM SEJARAH DUNIA ISLAM

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar an-Nawawiyah mengetengahkan suatu fasal tentang wabah (tha’un) yang pernah melanda kaum muslimin. Menurut Abu Hasan al-Madani, sebagaimana dikutip Imam Nawawi, penyakit tha’un yang terkenal melanda umat di masa Islam ada lima macam, yaitu:

Pertama, Tha’un Syiruwaih, pernah melanda kota Madain di Masa Nabi Muhammad saw. Wabah ini terjadi pada tahun enam Hijriah.

Kedua, Tha’un Amwas, terjadi di Masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. Wabah ini melanda Negeri Syam dan memakan korban dua puluh lima ribu jiwa. Salah satu korban adalah sahabat Rasulullah saw, Muadz bin Jabal yang pernah diutus oleh Nabi untuk menyebarkan Islam di Yaman. Sahabat Muadz sangat masyhur dengan hadisnya tentang ijtihad (ra’yu) bertebaran di kitab-kitab hadis.

Ketiga Tha’un yang terjadi di Masa Ibnu al-Zubair dalam bulan Syawal pada tahun 69 Hijriah. Wabah ini terjadi selama tiga hari. Dan setiap hari memakan korban tujuh puluh ribu jiwa. Di antara korban jiwa adalah anak-anak dari sahabat Rasulullah, Anas bin Malik. Sekitar delapan puluh tiga atau atau tujuh puluh tiga anak-anak Anas bin Malik meninggal dunia karena wabah ini. Abdul Rahman bin Abi Bakrah juga kehilangan empat puluh orang anaknya akibat penyakit ini.

Empat, Tha’un al-Futyaat terjadi di dalam bulan Syawal tahun 87 Hijriah. Dinamakan tha’un al-Futyaat menurut Ibnu Qutaibah, karena pada mulanya wabah ini melanda para gadis di Kota Bashrah, Wasith, Syam dan Kufah. Wabah ini juga dikenal dengan nama tha’un al-asyraf, karena wabah ini melanda orang-orang terhormat. Menurut Ibnu Qutaibah, penyakit tha’un belum pernah terjadi di Kota Makkah dan Madinah.

Lima. Wabah (tha’un) yang terjadi pada tahun 131 Hijriah dalam bulan Rajab. Wabah ini kian mewabah dalam bulan Ramadan, di Kota Sikkatul Marbad. Setiap hari sebanyak seribu orang meninggal dunia akibat wabah ini. Namun dalam bulan Syawal wabah ini mulai berkurang.

Di Kota Kufah juga, lanjut al-Madaini, pernah terjadi penyakit tha’un pada tahun 50 Hijriah. Al-Mughirah bin Syu’bah wafat akibat penyakit ini.

Catatan sejarah dari Abu Hasan al-Madani yang membuat kita merinding ini menginformasikan, bahwa apa yang terjadi hari ini dengan merebaknya virus Corona yang mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dunia, pernah juga terjadi di awal masa-masa Islam, dan juga banyak sahabat meninggal dunia karenanya. Bahkan pernah terjadi di bulan Ramadan yang menelan seribu korban setiap harinya (naudzu billahi min dzalik).      

Marilah bersama pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat bahu-membahu untuk menghentikan penularan virus ini. Jangan panik dan tetap waspada! Mari Kita bertaubat, bermunajat, berdoa kepada Sang Pencipta yang Maha Kuasa semoga virus Corona cepat berlalu, segera diangkat Allah Swt. Dan semoga saudara-saudara kita yang terkena virus segera disembuhkan, dan obatnya segera ditemukan.

Bismillahi alladzi la yadhurru ma’a ismihi syai’un fi al-ardhi wa la fi al-sama’i wa huwa al-sami’u al-alim. Amiin

CORONA (COVID19) APAKAH BISA DI SAMAKAN DENGAN WABAH PENYAKIT THO’UN DI ZAMAN DULU

Man shabara Dzafira (من صبر ظفر)

Ya.. sebuah pepatah dalam bahasa arab yang mengandung arti luar biasa, yaitu siapa yang bersabar maka ia akan beruntung.

Maksud tujuan penulisan ini adalah supaya lebih sabar dalam melewati musibah atau supaya lebih tidak terlalu sering mengaduh pada kekurangan atau dalam hal yang kurang menyenangkan didalam hati. Karena musibah yang kita alami sekarang ini ini terhitung kecil jika dibandingkan dengan musibah-musibah yang terdahulu, Wabah Tho’un.

Memang belum jelas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Wabah Tho’un, akan tetapi dalam As-Shahih, Imam Muslim (Radliallaahu ‘anh), meriwayatkan sedikit penggambaran tentang Wabah Tho’un, beliau meriwayatkan dari Abdulloh bin Maslamah (Abdurrahman Al-Haritsy) sarat dengan perawinya bahwa Rosul Saw pernah bersabda:

الطاعون آية الرجز ابتلى الله عز وجل به ناسا من عباده فإذا سمعتم به فلا تدخلوا عليه وإذا وقع بأرض وأنتم بها فلا تفروا منه
Wabah Tho’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Alloh Azza Wajall yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tho’un, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, jika Tho’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian disana, maka janganlah kalian keluar darinya.

Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam kitabnya Zaadul Ma’aad (IV/37) berkata, “Tha’un adalah sejenis wabah penyakit. Menurut ahli medis, thaun adalah pembengkakan kronis dan ganas, sangat panas dan nyeri hingga melewat batas pembengkakan sehingga kulit yang ada di sekitarnya bisa berubah menjadi hitam, hijau, atau berwarna buram dan cepat bernanah. Biasanya pembengkakan ini muncul di tiga tempat: Ketiak, belakang telinga, puncak hidung dan disekitar daging lunak.”

Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa Wabah Tho’un itu semacam Wabah penyakit Kolera yang sangat, hingga tidak ada satu dokterpun yang mampun menjumpai obat yang mujarab untuk kesembuhannya. Wallahu a’lam

Sekali lagi, maksud tujuan penulisan ini, supaya lebih sabar dan mendapat pelajaran bahwa musibah manusia sekarang ini terhitung kecil jika dibandingkan dengan musibah-musibah yang terdahulu. Kemudian seberapa Wabah Tho’un yang terjadi terhitung setelah diutusnya Rosul Saw sebagai sebagai Rosululloh Saw. Al-Imam Nawawi dalam Sarah Muslim menjelaskan panjang lebar tentang Wabah Tho’un ini, kemudian beliau mengulang pembahasannya lebih Muhtashar (ringkas) satu bab khusus tentang “Wabah Tho’un” dalam kitabnya Al-Adzkar beliau meriwayatkan perkataan Abu Hasan Al-Madainy Sbb:

Abu Hasan Al-Madainy berkata: Kejadian besar wabah tha’un yang terkenal dalam peradapan islam ada lima, pertama: Tha’un Syirawaih, yang terjadi di Madinah pada masa Rosulullah saw pada tahun ke-Enam Hijriyah. Kemudian, Tha’un ‘Amawas dizaman Umar bin Khatab ra, yang ada di Syam, dalam kejadian itu ada sekitar 25.000 orang meninggaldunia.

Kemudian, Tha’un yang terjadi pada masa Ibnu Zubair, pada bulan Syawal pada tahun 69 Hijriyah, kejadian ini selama tiga hari, pada tiap harinya orang yang meninggaldunia 7000 oarang, termasuk didalamnya kematian putra Anas bin Malik sebanyak 83 orang. ada pendapat lain yang mengatakan sebanya 70 orang. kemudian juga mati pada waktu itu putra Abdurrahman bin Abi Bakar sebanyak 40 orang.

Kemudian, Tha’un yang terjadi pada bulan Syawal, pada tahun 87 Hijriyah. Kemudian, Thaun yang terjadi pada tahun 131 Hijriyah pada bulan Rajab, dan menjadi parah pada bulan Ramadlan. Di Sikkatul Mirbad, pada tiap harinya terdapat 1000 orang menjadi korban. Kemudian, di Kufah Tha’un terjadi pada tahun 50 Hijriyah. Dalam kejadian ini, termasuk meninggalnya Al-Mughirah bin Syu’bah. Demikian ini akhir penjelasan Al-Madaini.

Ibnu Qutaibah, dalam kitabnya Al-Ma’arif dari riwayat Al-Asmu’i juga menjelaskan hal yang serupa, dikatakan Tha’un Fatayat, karena pada awalnya menyerang gadis-gadis di Basrah-Baghdad.

Kemudian Wasith, Syam dan Kufah. Dikatakan Tha’un Al-Asyraf, yang berarti mulia dikarenakan didalamnya yang meninggaldunia orang-orang mulia. Kemudian tidak menimpa wabah Tha’un di Madinah dan Makkah kecuali hanya sekali saja.

Semoga kita termasuk orang² yang selalu sabar dlm keadaan apapun. Semoga bermanfaat.