KEINGINAN NABI MUSA AS UNTUK MENJADI UMATNYA NABI MUHAMMAD SAW.

Qatadah menjelaskan sehubungan dengan makna ayat:

أخذ الألواح

lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu. (Qs: Al-A’raf: 154)

Nabi Musa عليه السلام berkata; Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku lihat dalam luh-luh itu tertulis nama suatu umat yang merupakan sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan untuk umat manusia, mereka memerintahkan (manusia) berbuat kebajikan dan melarang (manusia) berbuat kemungkaran, maka jadikanlah mereka itu sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman ;

تلك أمة أحمد

Itu adalah umat Ahmad (Nabi Muhammad ﷺ ).

Nabi Musa berkata; Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku lihat dalam luh-luh itu tertulis tentang umat, mereka adalah orang-orang yang terakhir, tetapi mereka adalah orang-orang yang terdahuIu.( Terakhir diciptakan, tetapi yang pertama masuk surga.)

Nabi Musa berkata; Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman; Mereka adalah umat Ahmad .

Nabi Musa berkata; Wahai Tuhanku, dalam tulisan luh-luh itu aku menjumpai suatu umat yang kitab-kitab mereka ada di dada mereka, mereka membacanya dan menghafalnya. Padahal orang-orang sebelum mereka membaca kitabnya dengan melihatnya, hingga apabila kitab mereka diangkat, maka mereka tidak hafal sesuatu pun darinya dan tidak mengingatnya lagi. Dan sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umat itu suatu kekuatan daya hafal yang belum pernah diberikan oleh Allah kepada umat manapun. Nabi Musa melanjutkan perkataannya; Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman ; Mereka adalah umat Ahmad.

Nabi Musa berkata; Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melihat dalam luh-luh itu tertuliskan tentang suatu umat yang beriman kepada kitab-kitab terdahulu dan kitab yang terakhir, dan mereka memerangi kesesatan, hingga mereka memerangi si buta sebelah yang pendusta (Dajjal), maka jadikanlah mereka sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman; Mereka adalah umat Ahmad.

Nabi Musa berkata; Ya Tuhanku, aku menjumpai di dalam luh-luh itu tertuliskan suatu umat yang sedekah mereka dimakan oleh mereka sendiri, dimasukkan ke dalam perut mereka, tetapi mereka mendapat pahala dari sedekahnya. Sedangkan di kalangan umat-umat sebelum mereka, apabila ada suatu sedekah, Lalu sedekah itu diterima, maka Allah mengirimkan kepadanya api, kemudian api itu melahapnya. Jika sedekah itu ditolak, maka dimakan oleh hewan-hewan buas dan burung-burung pemangsa. Dan sesungguhnya Allah mengambil sedekah (zakat) dari kalangan hartawan mereka untuk kaum fakir miskin mereka. Musa melanjutkan perkataannya ;Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman ; Mereka adalah umat Ahmad.

Nabi Musa berkata; Ya Tuhanku, sesungguhnya aku temui di dalam luh-luh itu tertuliskan suatu umat yang apabila seseorang dari mereka berniat akan melakukan suatu kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan. Jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan yang semisal dengan kebaikannya sampai tujuh ratus kali lipat. Ya Tuhanku, jadikanlah mereka sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman ; Mereka adalah umat Ahmad.

Nabi Musa berkata; Ya Tuhanku, sesungguhnya aku lihat di dalam luh-luh itu tertuliskan perihal suatu umat, mereka adalah orang-orang memberi syafa’at dan diberi izin untuk memberikan syafa’at. Maka jadikanlah mereka sebagai umatku.

Allah ﷻ berfirman; Mereka adalah umat Ahmad.

Kemudian setelah itu Nabi Musa عليه السلام berdoa;

اللهم اجعلني من أمة أحمد

“Ya Allah, jadikanlah diriku termasuk umat Ahmad (Nabi Muhammad ﷺ )”

والله أعلم

Di Kutib dari Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-A’raf; 154

PARA WANITA SHOLIHAH DARI GENERASI AWAL ISLAM

Menurut keterangan Imam as Sya’roniy; orang-orang zaman dulu lebih mendahulukan Sayyidah ‘Abidah ini dari pada Sayyidah Robi’ah al ‘Adawiyyah tadi. Diantara manaqib beliau; selama hidupnya beliau hanya melulu menghadapkan diri/ber’ibadah di hadapan Alloh Swt. dan sabdanya: “Entah aku tak tahu pagi dan soreku (yang penting ‘ibadah)”. Beliau pernah mendengar perkataan: Tidak akan bisa mencapai pada semestinya taqwa sehingga yang disukai hanya ingin bisa mati/bertemu dengan Alloh. Seketika beliau terjatuh dan pingsan.

Selain Wali-wali utri yang telah tersebut di atas selain kaum putri dari para Sahabat dan orang kuno, gembong-gembong Wali putri yang ahli ma’rifat dan ngetop ber’ibadah yang juga terkenal masih banyak. Di dalam kitab-kitabyang menerangkan kami al faqir “Maftuh Basthul Birri” sempat menemukan ada 23 Nisa`illah minal Auliya’/ para Wali putri yang pada umumnya sama takut sekali kepada Alloh, sampai ada yang ahli menangis/banyak menangisnya, ada yang mudah pingsan/tak sadarkan diri. Diantaranya saja yaitu:

1. Sayyidah Majidah al Qurosyiyyah Ra. Diantara sabdanya : “Orang-orang yang tho’at tidak akan bisa masuk surga dan mendapat ridho Alloh kecuali jika mau memaksakan diri (memayahkan badannya) untuk beramal.

2. Istrinya Robah al Qoisiy Ra. Beliau ini semalam suntuknyahanya untuk menjalankan sholat saja sampai pagi. Setelah selesai sembahyang ‘Isyak beliau lalu menghias diri dan memakai harum-haruman kemudian bertanya kepada suaminya membutuhkan apa tidak. Kalau tidak kemudian berganti pakaian sholat dan terus menerus ber’ibadah. Setiap mendapat seperempat malam lalu membangunka suaminya dan diajak sholat malam. Suaminya tidak mau bangun, beliau berkata: “Terbujuk apa saja kamu, hanya selalu menentang dan semaunya sendiri. Demikian beliau melakukan pekerjaan membangunkan suaminya dalam setiap malamnya sampai terjadi 4 kali. Beliau mengambil bata merah merah dan berkata: “menurutku perkara dunia itu lebih ringan dan sepele dibannding ini (bata).

3. Sayyidah Manfusah bintuZaid Ra. ini ketika anaknya ada yang mati mendahului, lalu ketika dipegang dan dipangku beliau berkata: “Kamu mendahului akuadalah lebih bagus dan sabarku atas kamu adalah lebih uatama dari pada mengeluhku. Berpisah denganmu merana, akan tetapi mengharapkan pahalanya adalah betul-betul lebih bagus.

4. Sayyidah Fatimah al ‘Aina’ Ra. ini diantara karomahnya, setelah wafatnya ada yang berziarah di makamnya lalu menbaca surat al Kahfi, ada yang salah dalam bacaannya, kemudian beliau membetulkan dari dalam kuburan.

5. Sayyidah Umm Sathol Ra. diantara keramatnya, ular-ular banyak yang minum dari tangannya dan terbiasa tiduran di samping kepala beliau.

6. Sayyidah Nafisah bintul Hasan bin- bin- ‘Ali bin Abi Tholib Ra. beliau keturunan dari Sayyid asan bin ‘Ali. Lahirnya di Makkah tahun 145 H. besarnya di Madinah, selalu tekun ber’ibadah, bertapa, puasa dan sholat malam. Lalu mukim di Mesir tahun 208 H. sayyidah Nafisah ini brtul-betul memberkahi negara Mesir sejak itu sampai sekarang. Tatkala Imam Syafi’i Ra. pindah ke Mesir beliau sering sowan ke kanjeng nyai Nafisah ini dan sholat tarowih bersama beliau di masjidnya. Makam Sayyidah Nafisah ini sangat berwibawa, bercahaya dan mustajab/mujarab, diziarahi dari mana saja.

Pernah sang suami ingin memindahkan makamnya ke Madinah, orang Mesir semua tidak memperbolehkan. Lalu sang suami itu bermimpi ketemu kanjeng Nabi, beliau Nabi memberi dawuh: “Hai Abu Ishaq, kamu jangan mengganggu orang Mesir dengan keberadaan Nafisah itu. Karena dari berkahnya, rahmat Alloh selalu diturunkan kepada mereka.

Kanjeng Sayyidah Nafisah ini masyhur sekali kewaliannya dan banyak sekali kekeramatannya. Di kala hidupnya sering kali dibuat jurusan orang meratap kesusahandan sama berhasil. Termasuk orang Yahudi datang meratap dan berhasil, dan kemudian menyeberluaskan banyak sekali dari mereka yang masuk Islam di hadapannya.

Di dalam Kitab Jami’ul Karomatil Auliya’ : Ada perempuan mempunyai anak 4 perempuan semua. Yang dimakan berasal dari hasil memintal benang. Pada suatu hari sang ibu pergi untuk menjual pintalannya, tiba-tiba di tengah perjalanan pintalan yang digendongnya itu di sambar burung lalu dibawa terbang melayang dan menghilang. Lalu dia jatuh pingsan karena kehilangan penghasilannya itu, sampai dikerumuni orang banyak. Setelah sadar lalu diurus dan dipertanyakan perihalnya. Ringkasnya kemudian sang ibu itu ditunjukkan supaya sowan di hadapan kanjeng Sayyidah Nafisah itu supaya meminta berkah do’anya. Kemudian mau sowan dan menghaturkan kejadiannya dan meminta do’a. Lalu kenjeng Sayyidah Nafisah berdo’a. Setelah itu kanjeng nyai Nafisah berkata: “duduklah di sini dulu bu, yang tenang.. Alloh maha kuasa, jangan kwatir. Lalu sang ibu itu duduk menanti dan memikirkan anak-anaknya yatim di rumah nanti kelaparan bagaimana. Tidak lama kemudian datanglah orang banyak yang gagah-gagah perlu sowan menghadap kanjeng Nafisah dan berkata: “Kanjeng Sayyidah, kami semua ini kok mempunyai cerita yang lucu, begini. Kami semua ini adalah orang-orang yang berkelana sebagai pelaut dan sudah cukup lama dan Alhamdulillah ya selamat tidak ada apa-apa. Akan tetapi tadisetelah dekat dengan pantai sini perahu kami berlobang dan kemasukan air, kami berusaha menutupi akan tetapi tidak berhasil dan hampir saja tenggelam. Kemudian ada biurung datang menjatuhkan satu bingkisan isinya pintalan benang, lalu bisa kami pakai untuk menutup kebocoran perahu kami itu denganizin Alloh. Kami bersama menghadap ini perlu menghaturkan ini 500 dinar sebagai syukuran atas selamatnya kami semua. Lalu Sayyidah Nafisah menangis dan menghadap Tuhan dan berkata: Duh Gusti.. dst,,

Lalu nyai Nafisah berkata kepada sang ibu tadi: Bu, biasanya ibu kalau jualan pintalan laku berapa? = 20 dirham. Lalu 500 dirham tadi diberikan semuanya kepada sang ibu itu dan diterimanya dengan riang gembira, kemudian pulang ke rumah dan diceritakan semua kepada anak-anaknya. Kelanjutannya sang ibu ini memberhentikan pekerjaannya dan pergi menghadap sang nyai Sayyidah Nafisah. Setelah bertemu lalu bersalaman sambil mencucupi tangannya dan kemudian mencari berkah berkhidmad di hadapannya.

7. Sayyidah Fatimah bintul Mutsni Ra. kanjeng nyai Fatimah ini semua kebutuhannya cukup dengan menggunakan surat al Fatihah. Dan beliau sudah berumur 95 tahun kelihatan masih muda, cantik halus lembut bagaikan gadis berumur 14 tahun. Orang yang dianggap bisa melayani hanya beliau Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibnul ‘Arobiy. Kata Syaikh Muhyiddin dalam kitab Futuhal Makkiyyah ringkasnya begini: “Aku berbakti beberapa tahun sampai beliau berumur 95 tahun lebih. Beliau makannya hanya sedikit sekali dari makanan yang sudah terbuang di tempat sampah. Aku malu jika melihat wajahnya karena pipinya masih kelihatan merah, manis, halus dan cantik kalau orang menyangka umurnya masih 14 tahun. Beliau punya hal yang hebat dengan Gusti Alloh. Beliau berkata kepadaku: “Demi Alloh aku sendiri ya heran, Kekasihku Alloh kok mau memberi Fatihatul Kitab kepadaku, selalu melayani mencukupiku”. Berkata Syaikh Muhyiddin: “Aku masih dalam keadaan duduk, tiba-tiba ada seorang perempuan datang dan berkata kepadaku: Syaikh, suamiku berada di Syarisy sana jauh sekali, bagaimana caranya bisa kembali kesini lagi?. Permintaan orang perempuan ini lalu aku sampaikan kepada kanjeng nyai, kemdian beliau berkata: “Ya sudah, aku akan menyuruh dengan surat al Fatihah”. Maka beliau membaca surat Fatihah dan orang perempuan tadi juga ikut membaca. Tatkala surat Fatihah dibaca lalu terlihat ada bentuk bayangan kemudian beliau bilangi begini: “Berangkatlah ke Syarisy sana, suami perempuan ini datangkan kesini”. Kemudian setelah ada jangka waktu sekira sampai di sana, sang suaminya betul-betul datang. Maka setelah itu orang perempuan tadi lalu mengadakan upacara tasyakuran.

8. Sayyidah Fatimah bintul ‘Abbas Ra. ini wali putri yang komplit seperti orang laki-laki, ajli pertapa, ‘alim fiqh, ahli mengajar serta ahli pidato, ahli fatwa dan banyak jama’ah putrinya. Imam Ibnu Taimiyyah (gembong Wahabi) dan ‘Ulama’ lainnya sama heran dengan ilmunya, cerdasnya, khusu’nya dan menangisnya. Berkata Ibnu Taimiyyah: “Aku pernah mendngkol perasaanku/tidak enak hatiku lantaran dia naik mimbar berpidato, akan aku larang. Lalu malam berikutnya aku bermimpi bertemu Kanjeng Nabi dan beliau berkata: “Biarkan, itu perempuan sholihah”. Beliau wafatpada hari ‘Arofah di Kairo tahun 714 H.

9. Ruqoyyah al Mausholiyyah Ra. kanjeng Sayyidah ini amat sangat mahabbahnya kepada Alloh sampai beiau berkata: “Ilaahi wa Maulaaya, jika Tuan menyiksaku dengan segala siksaan, ini masih lebih ringan dari pada putusnya aku denganMu, dan jika Tuan memberi segala keni’matan di surga kepadaku, Oo.. Lezatnya cintaku denganMu masih lebih agung dan lebih lezat bagiku.

10. Sayyidah Roihanah al Majnuunah Ra. diantara Syi’ir beliau:

Artinya: Aku tidak butuh surga karna ni’matnya, akan tetapi aku butuh suraga karena ingin melihat Engkau ya Alloh.

11. Sayyidah Fahriyyah bintul ‘Utsman Ra. Beliau ini seorang putri yang paling tashowwuf pada zamannya, ahli puasa dan selalu tekun ber’ibadat. Beliau bertempat di Masjid Baitul Muqoddas selama 40 tahun lamanya bertempat di dekat pintu Baabul Harom semalaman sholat sampai pintu Masjid dibuka, lalu orang yang pertama kali masuk masjid dan paling terakhir keluarnya. Keramatnya banyak, di antaranya beliau ingin bisa mati di Makkah dan di makamkan di dekatnya Sayyidah Khodijah al Kubro, lalu terlaksana dikabulkan keinginannya, adapun wafat beliau pada tahun 753 H.

Min Jami’ wa Thobaqot wa Jumhuroh

SEJARAH PENULISAN BASMALAH DALAM AL-QUR’ANUL KARIM

Diriwayatkan bahwa Nabi shollallohu alaihi wasallam pada mulanya menulis dengan tulisan orang quraisy yaitu ” Bismikallohumma”, hingga turun firman Allah surat hud ayat 41 :

اركبوا فيها بسم الله مجراها ومرساها

Maka Nabi shollallohu alaihi wasallam menulis : “Bismillahi “. Kemudian turun firman Allah surat al isro’ ayat 11 :

قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن

Maka Nabi shollallohu alaihi wasallam menulis : “Bismillaahirrohmaani”. Kemudian turun firman Allah surat an nahl ayat 30 :

إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم

Maka Nabi shollallohu alaihi wasallam menulis : “Bismillahirrohmaanirrohiimi”.

Referensi :

Kitab tafsir al Kabir (1/200) :

الحجة السادسة عشرة: روى أنه صلى الله عليه وسلم كان يكتب في أول الأمر على رسم قريش ” باسمك اللهم ” حتى نزل قوله تعالى: * (اركبوا فيها بسم الله مجراها ومرساها) * (هود: 41) فكتب ” بسم الله ” فنزل قوله: * (قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن) * (الإسراء: 11) فكتب ” بسم الله الرحمن ” فلما نزل قوله تعالى * (إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم) * (النحل: 30) كتب مثلها،

وجه الاستدلال أن أجزاء هذه الكلمة كلها من القرآن، ومجموعها من القرآن، ثم إنه ثبت في القرآن فوجب الجزم بأنه من القرآن، إذ لو جاز إخراجه من القرآن مع هذه الموجبات الكثيرة ومع الشهرة لجاز إخراج سائر الآيات كذلك، وذلك يوجب الطعن في القرآن

حاشية الصاوي على تفسير الجلالين 4/461 دار الكتب العلمية

فائدة. روى الشعبي والأغمش أن رسول اللّٰه ﷺ كان يكتب : باسمك اللّٰهم حتى نزلت (وقال اركبوا فيها بسم اللّٰه مجراها ومرساها) كتب بسم اللّٰه، فلما نزلت (قل ادعوا اللّٰه أو ادعوا الرحمن) كتب : بسم اللّٰه الرحمن، فلما نزلت (إنه من سليمان وإنه بسم اللّٰه الرحمن الرحيم) كتبها

Faidah.

Diceritakan dari as Sya’bi dan al A’mash, bahwasannya Rasulullah SAW selalu Menulis :

باسمك اللّٰهم

Hingga turunlah Surat Hud ayat 41 : (Dan Nuh berkata : Naiklah kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah diwaktu berlayar dan berlabuhnya), maka Nabi SAW Menulis :

بســـم اللّٰه

Lalu ketika turun ayat 110 dari surat al Isra’ : (Serulah Allah dan serulah ar Rahman), maka Nabi SAW Menulis :

بســـم اللّٰه الرحمن

Dan ketika turun ayat 30 dari Surat an Naml : (Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”), maka barulah Beliau SAW Menulis :

بِسْـــمِ اللّٰهِ الرَّحْـمٰنِ الرَّحِـيْم

“Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

واللّٰه سـبحانه وتعالى أعلم

YANG MERACIK KOPI PERTAMA KALI DALAM SEJARAH KEISLAMAN

Kopi memiliki ‘anekdot sakaguru’, yang sangat disukai oleh para pedagang. Alkisah, suatu hari Kaldi, seorang gembala muda Etiopia, sedang mengamati hewan-hewan ternaknya yang tiba-tiba menggelinjang setelah memakan buah-buahan berwarna merah semak. Karena penasaran, Kaldi pun ikut mencicipi buah beri itu, dan anehnya tubuh Kaldi langsung bereaksi: Dia menari memutar-mutar tubuhnya dengan riang.

Setelah kejadian itu, Kaldi lantas meminta nasihat kepada seorang imam, yang juga mencicipi buah itu. Sang Imam a) merasakan khasiatnya, bahwa mereka berdua terjaga (melek) dalam ibadah dan doa sepanjang malam sehingga menjadikannya ‘infus’ untuk dibagikan kepada jemaah majelis; atau b) melemparkannya ke dalam api dengan jijik hanya untuk membaui aromanya yang harum dan lezat dari buah itu, lalu mengangkatnya dari bara api, menggilingnya, menambahkan air panas dan minum minuman yang telah diracik tersebut.

Cerita Kaldi ini pertama kali muncul di Eropa pada 1671 Masehi sebagai bagian dari risalah kopi yang diterbitkan oleh Antonio Fausto Naironi, seorang Kristen Maronit dari Levant (kiwari Lebanon) yang beremigrasi ke Roma. Mungkin cerita ini berasal dari tradisi lisan di tanah kelahirannya. Tepat kapan, di mana, dan dalam bentuk apa manusia pertama kali mengonsumsi kopi tidak dapat ditetapkan secara sabit. Ada kabar burung tentang kacang hangus yang ditemukan di situs kuno, dan beberapa menyarankan jamu dan ramuan yang dijelaskan dalam kitab al-Qānūn fī aṭ–Ṭibb (Canon of Medicine) karya tabib dan filsuf sekaligus ulama asal Persia Ibn Sīnā (980-1037), juga masyhur sebagai Avicenna, berasal dari tanaman kopi.

Sudah pasti bahwa selama dua ratus tahun pertama keberadaan kopi yang tercatat, antara tahun 1450 dan 1650, kopi dikonsumsi hampir secara eksklusif oleh masyarakat muslim yang kebiasaannya meniagakan komoditas kopi yang berpusat di sekitar Laut Merah. Laut Merah merupakan dunia tempat versi modern minuman ini berevolusi, sekaligus fondasi matra warung kopi kiwari dipanggungkan.

Suku Oromo, menetap di wilayah Etiopia selatan, termasuk daerah Kaffa dan Buno di mana kopi Arabika asli tumbuh subur, menyiapkan berbagai bahan makanan dan minuman yang memanfaatkan berbagai unsur tanaman. Ini termasuk kuti, teh yang terbuat dari daun tanaman muda yang dipanggang ringan, hoja, menggabungkan kulit kering beri dengan susu sapi, dan bunna qalaa, di mana biji kopi kering dipanggang dengan mentega dan garam untuk menghasilkan makanan ringan yang menggiurkan, dikonsumsi dalam ekspedisi maritim, dan dimakan untuk meningkatkan energi.

Bunna adalah yang paling masyhur. Sekam kopi kering yang dijerang dalam air mendidih selama lima belas menit sebelum minuman itu disajikan. Hari ini, petani kopi sudah mulai menjual produk serupa bernama cascara, yang terdiri dari kulit ceri kering yang telah proses, diseduh sebagai teh buah. Awalnya, minuman ini dihidangkan dengan seluruh sisa ceri kering–kulit,  bubur kayu, dan batu.

Dinamakan qishr dalam bahasa Arab, ‘infus’ ini tampaknya telah melintasi tigapuluh dua kilometer (20 mil) selat Bab-el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah selama pertengahan abad ke-15. Minuman ini lantas diadopsi oleh tarekat mistik sufi di Yaman untuk digunakan dalam zikir: Doa malam hari di mana para sufi berkonsentrasi hanya kepada Allah Swt., untuk mengesampingkan seluruh problematika duniawi. Ramuan yang menstimulasi yang disebut qahwa ini, disajikan ke dalam permulaan ritual, dipimpin oleh seorang mursyid tarekat dari sebuah kapal besar, dan diedarkan ketika kelompok tarekat itu mengumandangkan zikir, seperti, “La ilaha illallah, tiada Tuhan selain Allah.” Qahwa sangat penting karena tasawuf dipraktikkan oleh seorang muslim yang bekerja pada siang hari: Etimologi dari kata itu menyiratkan berkurangnya syahwat (mengantuk).

Qahwa awalnya disiapkan dengan kafta, daun tanaman khat. Daun ini memiliki sifat halusinogen yang meningkatkan rasa euforia, tetapi dengan menggunakan qishr akan membantu menjaga jamaah agar tetap terjaga. Invensi itu diduga diinisiasi oleh mufti sufi, Muhammed al-Dhabani, yang wafat pada 1470. Dia adalah tokoh sejarah pertama yang bisa kita kait-kelindankan dengan kopi. Sarjana Arab Abd al-Qadir al-Jaziri, yang manuskripnya berjudul Umdat al safwa fi hill al-qahwa, yang ditulis sekitar 1556, adalah sumber informasi utama tentang penyebaran kopi di dunia Islam, dan mennulis sebuah tulisan yang mengklaim bahwa al-Dhabani bepergian ke Etiopia,

Al-Dhabani menemukan orang-orang mengkonsumsi qahwa meskipun dia tidak mengetahui karakteristiknya. Setelah kembali ke Aden, dia jatuh sakit, dan mengingat [qahwa], dia meminumnya dan mendapat manfaat darinya. Dia menemukan bahwa di antara sifat-sifatnya adalah bahwa ia menghilangkan kelelahan dan kelesuan, dan membuat tubuhnya jadi lincah dan kuat. Oleh karena itu, ketika ia menjadi seorang sufi, ia dan sufi lainnya di Aden mulai menggunakan minuman yang diracik

Meskipun Ali ibn ‘Umar al-Shadhili dirayakan sebagai  ‘Bapak qahwa’ di Mocha, al-Jaziri mengatakan dalam catatannya, “Karena tidak ada kafta, jadi al-Dhabani berkata kepada jamaahnya… itu biji kopi… ia mempromosikan khasiatnya, ‘jadi cobalah qahwa yang dibuat darinya’. Mereka mencobanya, dan ternyata memang berfaedah, dengan sedikit biaya ataupun risiko,” terang al-Jaziri. Qahwa awalnya hanya merujuk pada ramuan spiritual, tapi kemudian menjadi istilah untuk kopi Arab yang disiapkan dengan kacang belaka, sedangkan qishr masih merujuk pada pasokan buah-buahan dan rempah-rempah kering.

Praktik sufistik inilah yang mentransmisikan khazanah kopi ke utara ke wilayah Arab, Hijaz, di pantai timur Laut Merah. Ini termasuk kota suci Mekah, Jeddah, dan Madinah. Kopi akhirnya tiba di Kairo, ibu kota kesultanan Mamluk yang berkuasa, sekitar 1500-an, tempat kopi itu pertama kali digunakan oleh para pelajar Yaman di Universitas Islam Al-Azhar. Kopi selanjutnya berdifusi di Timur Tengah karena diadopsi sebagai minuman sosial yang dikonsumsi di luar upacara keagamaan nan sakral. Praktik inilah yang menyebabkan momen pertama dan terkenal, tatkala kopi secara efektif ‘diadili’ oleh pengadilan Islam, di Mekah pada 1511.

Pada suatu patroli malam, Kh’air Beg, pasha (gubernur) kota Mamluk, menemukan sekelompok pria minum qahwa di pelataran masjid. Beg mengusir pria-pria itu dan, keesokan paginya, Beg mengadakan pertemuan dengan ulama fikih sekota untuk membahas berbagai pertanyaan seputar konsumsi kopi. Para ulama dengan cepat mengutuk pertemuan kopi darat (kopdar) itu, tetapi mereka tidak yakin, bahwa mengkonsumsi kopi bertentangan dengan ajaran Islam.

Argumen itu bergantung pada apakah minum kopi memicu keracunan, yang diterjemahkan sebagai keadaan di mana kontrol atas tubuh hilang. Beg lantas mendatangkan tiga dokter yang bersaksi, bahwa qahwa itulah penyebabnya, sehingga para ulama pun setuju. Beg menggunakan hasil pertemuan ini sebagai fatwa untuk melarang penjualan atau konsumsi kopi, secara publik atau pribadi, di seantero kota.

Mengapa? Kopi yang hampir tidak dikenali oleh Beg–telah dikonsumi secara terbuka untuk beberapa waktu. Kopi juga diperjual-belikan di banyak kedai, seperti kedai anggur, yang, secara teori, hanya melayani pelanggan non-muslim. Tampaknya tujuan Beg yang sebenarnya adalah untuk mendapatkan kontrol yang lebih besar atas kota. Para dokter yang bersaksi itupun terkenal karena penentangan mereka atas kopi, mungkin karena mereka takut bahwa bisnis kopi itu akan menjadi persaing bagi resep medis yang menjadi usaha mereka.

Haramnya mengkonsumsi kopi ini tidaklah berlangsung lama. Fatwa itu dikirim ke Kairo untuk diratifikasi. Ketika dikembalikan, larangan pertemuan publik untuk minum kopi ditegakkan, tetapi tidak pada konsumsi kopi itu sendiri. Tahun 1512, Beg dipecat, dan konsumsi kopi secara terbuka di jalan-jalan Mekah pun kembali. Tampaknya pihak berwenang Kairo setuju, bahwa tidak mungkin untuk berdebat tentang kopi bisa menyebabkan keracunan ketika, ‘seseorang minum kopi dengan nama Allah di bibirnya, dan tetap terjaga, sementara orang yang mencari suka cita dan lebih menyukai minuman keras itulah yang mengabaikan Allah, dan mabuk.’

Kalakian, kopi melanjutkan difusi di seluruh dunia Islam, dipromosikan oleh jemaah haji di Mekah. Penaklukan Turki Utsmaniyah atas Mesir pada 1516-17 memfasilitasi penyebaran kopi ke kekhalifahan Turki, mencapai Damaskus pada 1534 dan Istanbul pada 1554. Dua kedai kopi dibuka di ibu kota oleh warga Suriah, Hakam dan Sem, masing-masing berasal dari Damaskus dan Aleppo. Terletak di pusat kota, dekat pelabuhan, dan pasar sentral, kedai kopi ini menarik pelanggan kelas elite, termasuk penyair yang akan menyusun karya terbaru mereka, juga sesama penulis, pedagang yang juga terlibat dalam permainan, seperti dadu dan catur, dan pejabat Turki Utsmaniyah yang ngobrol dengan satu sama lainnya, sambil duduk di sofa dan karpet mewah. Begitulah keberhasilan Shem, ia dikisahkan kembali ke Aleppo tiga tahun kemudian, setelah mendapat untung 5.000 keping emas.

Akan tetapi, ada perbedaan warna yang mencolok antara kopi Arab dan kopi Turki. Kopi Arab (qahwa) disajikan (dan sedang) disajikan sebagai cairan cokelat muda yang semi-tembus cahaya. Kacang dipanggang setengah gosong sebelum didinginkan, ditumbuk, dan dicampur dengan rempah-rempah seperti jahe, kayu manis dan, terutama, kapulaga. Campuran itu dituangkan ke dalam panci tembaga, direbus dengan air selama sekitar lima belas menit, dan kemudian dituang ke dalam wadah penyajian yang lebih mungil, yang sering dipanaskan dengan cerat panjang. Tuan rumah menuangkan secangkir kecil, atau finjan, untuk setiap tamu.

Orang Turki, sebaliknya, meminum minuman gelap dan buram yang dilukiskan oleh penyair kiwari laksana ‘musuh tidur dan cinta’–cikal-bakal kopi Turki, atau kahve, kiwari. Kacang-kacangan dihitamkan dengan dipanggang dan kemudian ditumbuk menjadi bubuk. Kopi dituangkan dengan air di sebuah cezve (dikenal di luar Turki sebagai ibrik atau briki), panci terbuka lebar yang menyempit sebelum mencapai tepi yang lebih luas. Didihkan, dikeluarkan dari api, dan busa dari bagian atas cairannya disendok ke dalam gelas. Cairan itu lalu dapat didihkan kembali (setidaknya sekali, sering dua kali), dan air tambahan dituangkan ke dalam gelas, agar struktur busanya tetap konstan.

Praktik memanggang kacang itu digunakan oleh beberapa imam Istanbul untuk menyatakan, bahwa konsumsi kopi adalah haram karena karbonisasi biji berarti minuman dibuat dari zat mati (karena itu dilarang). Pada 1591 Bostanzade Mehmed Effendi, Sheik ul-Islam (otoritas agama tertinggi), mengeluarkan fatwa, secara definitif menyatakan bahwa minuman kopi tetap berasal dari sejenis sayuran, karena karbonisasi lengkap belum terjadi. Di antara para ulama, para syekh, dan wazir agung pun, tidak ada yang tidak meminumnya. Bahkan mencapai titik sedemikian rupa sehingga wazir agung membangun kedai kopi besar sebagai investasi, dan mulai menyewakannya dengan satu atau dua keping emas sehari.

Daya tarik kedai kopi terletak pada penyediaan ruang publik perdana yang sah untuk sosialisasi di kalangan lelaki muslim. Pada malam hari, umumnya masyarakat makan di rumah, jadi satu-satunya tempat terbuka identik dengan tongkrongannya mereka yang memiliki reputasi jelek (maksiat)–kedai-kedai anggur dan tempat-tempat penjualan boza, minuman ringan beralkohol yang dibuat dengan sereal yang difermentasi. kedai kopi- kedai kopi, yang diterangi oleh lampu-lampu besar yang tergantung di langit-langit, memberikan perlindungan pada malam-malam selama musim panas. Pada bulan suci Ramadan, banyak orang yang berbuka puasa dengan kopi setelah matahari terbenam. Pelanggan kedai kopi dapat duduk di luar di taman yang teduh dan wangi, mendengarkan pendongeng atau musisi dari kedai kopi yang, setidaknya di kedai kopi awal Hijaz, mungkin termasuk biduan perempuan, yang menghibur para tamu dengan lagu-lagu yang mereka dendangkan.

Munculnya kedai kopi menciptakan kemungkinan untuk bentuk-bentuk aktual interaksi sosial. Sebelumnya, orang-orang saling berkunjung dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi, dan tuan rumah pun biasanya menyediakan jamuan makan, mungkin disiapkan oleh pelayan, dan memajangkan budak (dan mungkin istri), yang semuanya menciptakan hierarki antara tuan rumah dan sang tamu. Sekarang orang bisa bertemu teman sebaya di kedai kopi, dan bertukar keramahtamahan dengan pijakan yang lebih setara, melalui cara sederhana untuk saling membeli secangkir kopi. Tata letak berbagai kedai kopi awal ini memfasilitasi atmosfer egaliter, ketika para pengunjung duduk sesuai dengan urutan kedatangan mereka, di bangku panjang atau bersandar di tiang yang berjejer di sepanjang dinding, bukan berdasarkan kasta mereka. Di samping kaum elite, format ini juga memungkinkan mereka yang memiliki cara lebih mudah untuk saling menghibur dan menunjukkan kedermawanan mereka.

Seorang pelancong yang mengunjungi Kairo pada 1599 bercerita, “Ketika para prajurit itu pergi… menjadikan kedai kopi dan mereka harus mendapatkan uang receh untuk koin emas, mereka pasti akan menghabiskan semuanya di sana. Mereka menganggap tidak pantas memasukkan uang receh ke dalam saku dan pulang. Dengan kata lain, hal ihwal ini adalah cara mereka menunjukkan kebesaran mereka kepada orang-orang biasa. Tetapi perlindungan besar mereka terdiri dari saling mentraktir secangkir kopi, membuat teman-teman mereka terkesan dengan satu cangkir berisi empat cangkir yang harganya satu orang.”

Begitu populernya kedai kopi di Istanbul sehingga diklaim bahwa pada 1564, sepuluh tahun setelah bisnis ini pertama dibuka, ada lebih dari lima puluh yang beroperasi; pada tahun 1595 jumlah ini diperkirakan mencapai enam ratus. Tampaknya angka ini melibatkan penggabungan beberapa kedai kopi dengan kedai minuman dan gerai boza, yang mungkin juga merepresentasikan realitas bisnis yang telah mengaburkan batas-batas antara aktivitas rakyat. Kedai kopi memungkinkan konsumsi zat-zat yang meragukan dan peluang untuk bermain dadu atau catur dan berjudi, sementara para perempuan belia dan ranum yang dipekerjakan sebagai pelayan dituduh biang kerok bagi pemuas hasrat para hidung belang, selain kafein kopi.

Tahun 1565, Sulaiman, sultan yang telah menyambut kedai kopi pertama ke Istanbul, mengeluarkan dekrit untuk menutup kedai minuman, penjual boza, dan kedai kopi Aleppo dan Damaskus, di mana orang-orang terus menghabiskan waktu mereka dengan menghibur dirinya sendiri, dan melakukan hal-hal maksiat, dan melarang pelbagai tindakan ‘yang mencegah mereka’ melaksanakan kewajiban syariat Islam. Keputusan lebih lanjut dan lebih parah dikeluarkan oleh penggantinya, Selim II (1566-74) dan Murad III (1574-95).

Perihal ini tampaknya memiliki dampak yang terbatas, paling tidak karena otoritas yang menegakkan dan anggota milisi fatwa biasanya adalah pelindung, dan bukan pemilik yang jarang, dari lembaga-lembaga ini. Kesuksesan binis kedai kopi mencerminkan perubahan dalam struktur sosial dan politik Kekhalifahan Turki. Model administrasi hierarkis yang tersentralisasi memberi jalan kepada masyarakat di mana kekuasaan terpecah-pecah, elitenya tercerai-berai, dan ideologi agama dan sekuler diperebutkan. Kedai kopi, tempat seseorang dapat berwicara langsung dengan siapa pun dan terlibat dalam percakapan terbuka, menjadi simbol budaya baru.

Kedai kopi diserang oleh kaum konservatif agama dan politikus justru karena konotasi progresif mereka. Sultan Murad IV, yang naik takhta pada 1623 tatkala masih di bawah umur, mengalami kesulitan besar membangun otoritasnya, dan melembagakan rezim yang sangat reaksioner lengkap dengan jaringan intel yang membuntuti kedai kopi-kedai kopi dan mendengarkan pelbagai gosip di sana.  Pada 1633, setelah kebakaran hebat yang membumihanguskan lima distrik di Istanbul, dan diduga penyebabnya adalah lelatu api rokok tembakau di sebuah kedai kopi, Murad menitahkan  penutupan semua kedai kopi seperti itu di kota. Titah itu kemudian dikirim ke kota-kota lain di bawah kekuasaan Turki, seperti kotamadya Eyüp,mewajibkan bahwa, dengan kedatangan titah ini, orang-orang dikirim untuk memusnahkan tungku kopi apa pun yang ada di zona yang anda kelola, dan bahwa mulai sekarang tidak ada seorang pun yang boleh membukanya. Mulai sekarang siapa pun yang membuka kedai kopi harus digantung di pintu depannya.

Meskipun penggunaan tembakau, diperkenalkan ke Turki pada pergantian abad ketujuh belas, tampaknya telah menjadi target utama, atau dalih, bagi Murad (dia terkenal telah menguntit kota itu dengan menyamar di malam hari, menyusun peraturan ringkas bagi pelanggar hukum), masalah bagi pemilik kedai kopi, seperti yang ditunjukkan oleh seorang pasha, adalah di kedai kopi, pemiliknya tidak menjual tembakau untuk memaksakan pelanggan kedainya, banyak dari mereka adalah prajurit, yang tidak merokok; para pengunjung itulah yang membawa tembakau sendiri di sakunya, ia mengeluarkannya dan merokok. Karena (perokok) memiliki hak istimewa dari pemegang kantor negara, pemilik kedai kopi dan penduduk kota lainnya tidak dapat melarangnya.

Larangan kedai kopi di Istanbul masih diberlakukan pada pertengahan 1650-an, meskipun di luar tembok kota, kedai kopi tetaplah banyak yang berjualan, seperti yang mungkin terus mereka lakukan di wilayah kekhalifahan tersebut selama periode ini. Pada kuartal terakhir abad ketujuh belas, kedai kopi-kedai kopi juga muncul kembali di Istanbul, dan para pelancong ke wilayah Turki berkomentar perihal sentralitas kedai kopi di lokasi-lokasi, termasuk pasar jalanan Kairo, rute karavan melalui Semenanjung Arab, dan taman-taman umum Istanbul.

Penyebaran kopi di seluruh dunia Islam menciptakan jaringan perdagangan jarak jauh nan kompleks yang menyatu di Kairo, dari mana kopi itu diteruskan ke seluruh Kekhalifahan Turki, dan akhirnya ke Eropa. Awalnya, kopi liar dari Etiopia ini dikeringkan dan dikirim dari Zeila (kini di Somalia utara di perbatasan dengan Djibouti). Di sini kopi akan ditambahkan ke kargo rempah-rempah yang berasal dari India dan Zanzibar dan Kepulauan Maluku, mengangkutnya ke Laut Merah dan diturunkan di pelabuhan melayani daerah-daerah di mana kopi telah diadopsi. Kargo kopi pertama yang disebutkan datang pada 1497, sebagai bagian dari pengiriman rempah-rempah pedagang dari Tur di ujung selatan semenanjung Sinai.

Etiopia tetap menjadi satu-satunya pemasok kopi sampai tahun 1540-an, tetapi kombinasi dari meningkatnya permintaan dan pasokan yang tidak dapat diandalkan karena konflik antara Kristen di utara kekaisaran Afrika dan muslim Afrika di selatan, menyebabkan kopi dibudidayakan di dataran tinggi pedalaman Yaman, antara dataran pantai Tihama dan ibu kota Sana’a. Benih-benih kopi itu berasal dari varietas kacang kecil yang ditemukan liar di Etiopia yang ditanam oleh petani, di samping tanaman subsisten di petak tanah milik keluarga mereka. Inilah kebun kopi pertama di dunia. Wilayah ini tetap menjadi satu-satunya pusat produksi kopi komersial selama hampir dua abad.  rumah-rumah semen bercat putih di desa-desa muncul di seluruh pegunungan, dikelilingi oleh perkebunan berdinding tembok batu yang diperkaya dengan tanah yang diairi oleh wadi setelah musim hujan. Pada 1700-an, daerah dataran tinggi ini mendukung populasi sekitar 1,5 juta orang.

Rantai ekonomi yang menghubungkan para produsen ini dengan konsumen akhir, seperti biasa, merupakan jaringan panjang dan terfragmentasi. Transportasi masih sangat sulit, dengan tidak lebih dari jalur bagal yang menghubungkan daerah pegunungan dengan pasar dataran rendah. Para petani akan membawa ceri kering mereka ke kota terdekat untuk menukarnya dengan barang-barang seperti kain dan garam. Kopi kemudian akan melewati berbagai makelar, sebelum berakhir di pasar grosir utama Bayt al-Faqih yang terletak di dataran pantai. Di sinilah kopi dibeli oleh pedagang dan disimpan di gudang, sebelum diangkut dengan kereta unta ke pelabuhan Al-Makha (atau dikenal sebagai Al-Mocha, Al-Mokka dan, ke Eropa, Mocha) dan Hudaydah untuk pengiriman. Sebagian besar pedagang ini adalah Banyan, anggota diaspora yang menyebar dari pelabuhan di Gujarat untuk mendominasi perdagangan di sekitar Samudera Hindia. Merekalah yang mengontrol jaringan ekonomi Yaman, sehingga memungkinkan mereka menjadi pemodal utama, dan pemrakarsa yang efektif, dari penanaman kopi.

Meskipun sifatnya terfragmentasi, perdagangan kopi menghasilkan pendapatan yang cukup besar, khususnya di antara para pemimpin tarekat Zaydi yang menuntutkan kesetiaan dari suku-suku pedalaman. Ini memudahkan perlawanan terhadap pemerintahan Turki Utsmaniah. Mereka dipaksa keluar dari Yaman tahun 1638 oleh dinasti Qasimi dari imam Zaydi, yang menyatukan negara untuk pertama kalinya dan mendapatkan kendali atas Zeila, sehingga memberi mereka monopoli yang efektif atas pasokan kopi dunia dari Yaman dan Etiopia. Kacang dari kedua tempat inilah yang kemudian dikenal dalam perdagangan sebagai ’Mocha’, karena ia diekspor berbarengan dari pelabuhan yang sama.

Keberhasilan pemberontakan Zaydi menyebabkan reorganisasi perdagangan Laut Merah. Kopi yang ditakdirkan untuk dikonsumsi di dalam kekhalifahan diangkut oleh perahu dhow dari Hudaydah ke Jedah. Kamar dagang didirikan sebagai usaha resmi oleh Turki, yang menggunakan pendapatan yang dihasilkan untuk membiayai tempat-tempat suci Islam. Kapal-kapal yang membawa sereal dari Suez dikembalikan dengan komoditas kopi untuk Kairo. Di sini para pedagang kota, yang telah mulai berdagang kopi secara teratur sejak 1560-an, akan mengirimkannya ke pusat-pusat kerajaan utama di Mediterania, seperti Salonika, Istanbul, dan Tunis. Setelah 1650-an, kopi dikirim ke Alexandria, tempat kopi itu diperoleh oleh para pedagang Marseille yang mengontrol akses ke pelabuhan-pelabuhan Eropa barat.

Sementara itu Mocha bertindak sebagai pelabuhan utama ke seluruh dunia yang mengonsumsi kopi–terutama tanah-tanah Islam di sekitar Teluk Persia, Laut Arab, dan Samudera Hindia. Sebagai hasilnya, Mocha juga menjadi perusahaan terkemuka untuk perdagangan India di seluruh Laut Merah. British East India Company (Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Britania) membuka sebuah depo di sana pada awal 1618 untuk mendapatkan saham dalam perdagangan, meneruskan pengiriman dari apa yang secara beragam digambarkan sebagai ‘cowa’,’cowhe’, ‘cowha’, ‘cohoo’, ‘couha’, dan kopi ke perusahaan (makelar kopi) di Persia dan Moghul India, lebih dari tigapuluh tahun sebelum kopi tersedia di Inggris. Meskipun perusahaan-perusahaan Eropa berhasil mengalihkan sebagian besar perdagangan rempah-rempah ke tangan mereka sendiri selama abad ketujuh belas, tatkala pertukaran antara Eropa dan Indocina meningkat, kopi sebagian besar tetap terkonsentrasi di dalam jaringan perdagangan muslim.

Bagian dari masalah bagi orang Eropa adalah kelanjutan dari ketidakpastian pasokan kopi. Struktur pertanian di dataran tinggi Yaman menyulitkan petani untuk merespons permintaan pasar. Jean de la Roque–seorang penulis, pelancong, dan putra pedagang yang memperkenalkan kopi ke Marseille–menulis laporan tentang dua ekspedisi perdagangan ke Mocha dari pelabuhan Breton St Malo, pada 1709 dan 1711. Dia menganggit, bahwa butuh enam bulan untuk mengisi kapal dengan angkutan kopi. Meskipun orang-orang Prancis menggunakan tengkulak Banyan, yang upayanya untuk memperoleh biji kopi atas nama mereka menaikkan harga di Bayt al-Faqih.

Para pedagang Belanda yang mereka temui juga mengaku membutuhkan waktu setahun untuk mendapatkan kargo dalam satu perjalanan. Pada 1720-an, pengiriman kopi Laut Merah telah mencapai 12.000–15.000 ton per tahun–efektifnya pasokan dunia. Kapasitas itu sebagian besar bersifat tetap, tidak berubah selama seratus tahun ke depan, meskipun tahun 1840 pengiriman kopi tidak lebih dari 3 persen dari produksi dunia. Mengingat hal ihwal ini, tidak mengherankan bahwa, ketika mereka semakin mengadopsi kopi sebagai minuman, orang Eropa berusaha untuk mendirikan pusat budidaya alternatif.

Setelah 1720-an, Belanda beralih ke Parahyangan (Jawa) dan Prancis ke Karibia, sehingga pembelian mereka dari Mocha dan Alexandria, masing-masing, merosot. Ini dikompensasi oleh peningkatan pembelian oleh Inggris dan Amerika. Pendapatan dari perdagangan kopi masih sedemikian rupa sehingga Muhammad Ali, penguasa ekspansionis Mesir, berusaha menaklukkan Yaman untuk mengendalikannya. Perihal ini menyebabkan Inggris merebut Aden pada 1839, melindungi pengaruhnya di wilayah tersebut, dan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada 1850. Tidak adanya bea cukai dan keberadaan dermaga air dan fasilitas pergudangan membuat Aden menyalip Mocha sebagai wilayah pelabuhan kopi utama. Saat ini, daerah pelabuhan Mocha menampung armada penangkap ikan kecil dan banyak reruntuhan, dan didekati melalui saluran berlumpur, yang diduga merupakan konsekuensi dari kapal-kapal Amerika abad ke-19 yang menggunakan pemberat mereka sebelum mengambil kopi di atas kapal.

Penyebab utama penurunan dalam ekonomi kopi Laut Merah adalah perubahan selera di antara konsumen muslim yang begitu banyak. Kini, komoditas teh dari India dan Iran pada awal abad ke-19 yang memiliki dampak paling dramatis, karena pasar-pasar tradisional Timur ini kehilangan kopi. Di Mesir, teh kemungkinan adalah minuman yang lebih populer, terbuat dari tanaman yang dibudidayakan di dalam negeri. Bagian dari program Kemal Ataturk untuk modernisasi/sekulerisasi Turki selama paruh pertama abad kedua puluh adalah mengubahnya menjadi negara peminum teh, menggantikan minuman yang dibuat dari produk lokal untuk impor yang mahal. Diperlukan kedatangan rantai kopi Barat untuk merangsang kebangkitan budaya kedai kopi Turki.

Sebaliknya, satu-satunya negara tempat ekonomi kopi berkembang selama dua abad terakhir adalah Etiopia. Selama abad kesembilan belas yang terakhir, Kaisar Menelik yang masyhur menggunakan pendapatan ekspor kopi untuk membeli senjata api, guna mengalahkan Italia di Adowa pada 1896, menjaga posisi Etiopia sebagai satu-satunya negara Afrika merdeka setelah pemisahan benua. Serta kopi ‘liar’ dari kerajaan Oromo barat daya, seperti Sidamo, Kaffa, dan Jimmah (mungkin diproduksi oleh para petani untuk memenuhi permintaan kerajaan sebagai upeti), perkebunan anyar didirikan di dekat wilayah timur Harar menggunakan kultivar Kopi Arabika yang telah berevolusi di daerah berkembang di seluruh dunia. Kacang yang lebih besar ini dikenal sebagai Mocha Longberry, untuk membedakan mereka dari ‘Mocha’ asli Yaman (dan Etiopia).

Dan, Orang Kristen Koptik di utara mulai menanam dan mengonsumsi kopi. Haile Selassie muda mengandalkan pendapatan kopi untuk memaksakan otoritasnya pada 1930-an. Namun dia, tidak dapat mencegah pendudukan Fasis Italia, yang warisan budayanya termasuk kedai kopi espresso dari Addis Ababa dan Asmara. Dan, Etiopia tetap menjadi salah satu dari sedikit negara berkembang yang juga mengonsumsi sebagian besar (sekitar 50 persen) dari hasil panennya sendiri.

Sekadar bacaan:

Armanios, Febe, & Boğaç Ergene. Halal Food: A History. Oxford University Press. 2018.

Ellis, Markman. The Coffee House: A Cultural History. Phoenix. 2005.

Fregulia, Jeanette M. A Rich and Tantalizing Brew: A History of How Coffee Connected the World. University of Arkansas Press. 2019.

McCook, Stuart George. Coffee is not Forever: A Global History of the Coffee Leaf Rust. Ohio University Press. 2019.

Morris, Jonathan. Coffee: A Global History. Reaktion Books. 2018.

Pendergrast, Mark. Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World.  (Revised Edition). Basic Books. 2019.

IMAM IBNU MAJAH RA SEBAGAI SALAH SATU AHLI HADITS DARI IMAM HADITS YANG ENAM

Imam Ibnu Majah adalah salah seorang ulama ahli hadits. Pemilik Sunan Ibnu Majah. Salah satu kitab hadits yang dimasukkan dalam kelompok kutubus sittah. Ibnu Majah alhir tahun 209 H dan wafat 273 H.

Nasab dan Daerah Asal

Ibnu Majah adalah seorang imam dan tokoh di bidang hadits. Beliau adalah Abu Abdullah, Muhammad bin Yazid bin Maja har-Rabi’I al-Qazwini. Ia dilahirkan di Qazvin -salah satu propinsi di Iran sekarang- pada tahun 209 H. Ibnu Khalikan mengatakan, “Kata ماجه dengan memfathahkan huruf mim dan jim. Dan di antara kedua huruf itu ada alif. Dan huruf Ha yang terakhir dibaca sukun.”

Pendidikan

Ibnu Majah tumbuh di lingkungan yang penuh ilmu. Di saat itu, umumnya para pemuda memiliki kecintaan yang besar dengan ilmu agama. Khususnya ilmu hadits. Ibnu Majah kecil memulai langkah belajarnya dengan runut. Pertama-tama ia menghafal Alquran yang merupakan sumber utama hukum-hukum Islam. Kemudian ia mondar-mandir di halaqoh ahli hadits yang saat itu mudah didapatkan di masjid-masjid Qazvin. Hingga di masa mendatang ia memetik hasil dan tingkatan besar dalam ilmu hadits.

Pada tahun 230 H, Ibnu Majah mulai bersafar mencari ilmu. Menemui banyak guru yang tersebar di berbagai penjuru. Ia menyambangi Khurosan, Bashrah, Kufah, Baghdad, Damaskus, Mekah, Madinah, Mesir, dll. Ia mengunjungi berbagai madrasah hadits. Dan perjalanan safar inilah yang mempertemukannya dengan banyak guru di neger-negeri yang ia kunjungi.

Guru-Gurunya

Dengan banyaknya negeri yang ia kunjungi, Ibnu Majah pun memiliki banyak guru. Di antara gurunya adalah Ali bin Muhammad ath-Thanasafi. Beliau adalah seorang hafizh dan Ibnu Majah banyak mengambil riwayat darinya. Kemudian Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami. Beliau adalah salah seorang murid Imam al-Bukhari. Ibnu Munzdir wafat pada tahun 236 H.

Ada juga nama Muhammad bin Abdullah bin Numair, Jabbaroh bin al-Mughlis, Abdullah bin Muawiyah, Hisyam bin Ammar, Muhammad bin Rumh, Dawud bin Rasyid, dll.

Setelah menempuh perjalanan belajar selama lebih dari 15 tahun, Ibnu Majah kembali ke Qazvin dan menetap di sana. Mulailah ia menulis buku dan menyampaikan riwayat hadits. Ia pun dikenal banyak pelajar. Kemudian mereka mendatangi Qazvin untuk belajar darinya.

Murid-Muridnya

Semangat Ibnu Majah dalam menyebarkan ilmu tidak hanya terbatas dengan karya tulis saja, ia juga membuka halaqah ilmu. Ia mendermakan waktunya dengan mengadakan pelajaran dan muhadoroh. Di antara murid-muridnya yang paling masyhur adalah Ali bin Said bin Abdullah al-Ghudani, Ibrahim bin Dinar al-Jarsyi al-Hamdani, Ahmad bin Ibrahim al-Qazwini, Abu ath-Thayyib Ahmad bin Ruh al-Masy’arani, Ishaq bin Muhammad al-Qazwini, Ja’far bin Idris, Muhammad bin Isa ash-Shafar, Abul Hasan Ali bin Ibrahim bin Salamah al-Qazwini, dll.

Karya Tulis

Di antara karya tulis Ibnu Majah adalah Sunan Ibnu Majah. Sebuah kitab legendaris yang hingga sekarang mudah kita temukan. Ia juga memiliki buku tafsir yang dipuji oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah dengan pujian Tafsir Hafil (Arab: تفسير حافل), tafsir yang kaya faidah. Buku lainnya adalah buku sejarah. Memuat sejarah sejak zaman sahabat sampai kejadian di zamannya. Ibnu Katsir juga memujinya dengan ungkapan Tarikh Kamil (Arab: تاريخ كامل), buku sejarah yang sempurna.

Kemuliaan Kitab Sunan Ibnu Majah

Ketenaran kitab Sunan Ibnu Majah tak lekang oleh zaman. Dengan kitab inilah nama Ibnu Majah abadi hingga saat ini. Kitab ini juga yang membuat namanya didudukkan bersama para pemuka ulama hadits. Inilah kitabnya yang paling berharga. Kitab Sunan Ibnu Majah termasuk empat kitab sunan yang dikenal kaum muslimin: Sunan Abu Dawud, Sunan at-Turmudzi, Sunan an-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah. Karyanya ini dikelompokkan bersama Shahih al-Bukhari dan Muslim dan dinamai dengan kelompok kutubus sittah. Keenam buku hadits ini menjadi rukukan utama hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Metode Ibnu Majah dalam menulis bukunya ini adalah dengan merunutkan bab-babnya. Terdiri dari muqoddimah, 37 kitab (pembahasan), 1500 bab, dan mencakup 4341 hadits. 3002 hadits di antaranya adalah hadits-hadits yang juga diriwayatkan di lima buku hadits yang lain. Dan 1329 hadits lagi ia sendiri yang meriwayatkan. Tidak ada di lima buku hadits yang lain. Terdapat 428 hadits yang shahih dan 119 hadits hasan. Ibnu Hajar mengatakan, “Ia bersendirian meriwayatkan banyak hadits yang shahih.” Maksudnya, hadits yang diriwayatkan darinya saja banyak sekali hadits yang shahih.

Ibnu Majah memulai sunannya dengan bab mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam bab ini tercantum hadits-hadits tentang sunnah adalah hujjah dan wajib mengikutinya serta beramal dengannya. Tentu metode yang digunakan Ibnu Majah ini adalah metode yang sangat baik.

Para Ulama Memandang Ibnu Majah

Ibnu Majah mencapai kedudukan yang luar biasa. Ia menjadi salah seorang ulama besar di bidang hadits. Ibnu Khallikan berkata, “Dia adalah seorang imam dalam hadits. Seorang yang berpengetahuan tentang ilmu hadits dan semua hal yang berkaitan dengan hadits.” Adz-Dzahabi berkata, “Ibnu Majah adalah seorang hafizh, pakar kritik hadits, seorang yang jujur, dan luas ilmunya.”

Wafat

Setelah mencurahkan usaha besar di bidang hadits selama usianya, baik ilmu dirayah maupun riwayat, belajar, mengajar, dan menulis, Ibnu Majah rahimahullah wafat. Yaitu pada tahun 273 H. Semoga Allah membalas jasanya atas Islam dan kaum muslimin.

IMAM ABUL ASWAD AD DUALI SEBAGAI BAPAKNYA ILMU NAHWU

Abul Aswad ad-Duali adalah seorang perumus ilmu nahwu. Sebuah ilmu gramatika bahasa Arab yang mengkaji tentang bunyi harokat akhir suatu kalimat. Apakah dhommah, fathah, kasroh, atau sukun. Abul Aswad lahir di masa jahiliyah. Dan memeluk Islam di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ia tidak berjumpa dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia merupakan sahabat dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. Dan berada di pihaknya saat Perang Shiffin.

Abul Aswad ad-Duali ada sosok yang populer. Ia seorang tabi’in. Seorang yang fakih. Ahli syair dan ahli bahasa Arab. Termasuk seseorang yang bagus visinya dan cerdas pemikirannya. Selain itu, ia juga piawai dalam menunggang kuda. Dialah peletak dasar ilmu nahwu. Dan menurut pendapat yang paling masyhur, dialah yang memberi titik pada huruf-huruf hijaiyah pada mush-haf Alquran (az-Zarkali: al-A’lam, 3/236-237).

Nasab dan Kelahirannya

Dia adalah Abul Aswad, namanya Zhalim bin Amr bin Sufyan bin Jandal (Ibnu Khalkan: Wafayatu-l A’yan, Daru-sh Shadir Beirut 1900, 2/535). Ad-Duali al-Kinani al-Bashri. Ibunya bernama Thuwailah dari Bani Abdu-d Dar bin Qushay (Khalifah bin Khayyath: Thabaqat Khalifah bin Khayyath, 1993 M, Hal: 328).

Abul Aswad lahir di masa jahiliyah (as-Suyuthi: al-Mazhar fi Ulumi-l Lughah wa Awa’iha, 1998, 2/392). Kemudian memeluk Islam di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (al-Mizzi: Tadzhibu-l Kamal, 33/37). Ia adalah tokoh besar di masa tabi’in. bersahabat dengan Ali bin Abi Thalib dan berada di pihaknya saat terjadi Perang Shiffin.

Kehidupannya

Abul Aswad ad-Duali tinggal di Bashrah di masa pemerintah Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Dan memerintah wilayah tersebut di masa Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu menggantikan Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma. Jabatan tersebut senantiasa ia pegang hingga wafatnya Ali bin Abu Thalib. Saat Muawiyah memegang tampuk kekuasaan, Abul Aswad menemuinya dan Muawiyah pun memuliakannya (az-Zarkali: al-A’lam, 3/236-237).

Bapak Ilmu Nahwu

Orang pertama yang merumuskan ilmu nahwu adalah Abul Aswad ad-Duali. Terdapat banyak versi tentang sebab perumusan ilmu nahwu. Ada yang mengatakan, “Abul Aswad menemui Abdullah bin Abbas. Ia berkata, ‘Aku melihat lisan-lisannya orang Arab sudah rusak gramatikanya. Aku ingin merumuskan sesuatu untuk mereka. Sesuatu yang meluruskan kembali lisan-lisan mereka’. Ibnu Abbas menanggapi, ‘Mungkin yang kau maksud adalah nahwu. Ya, itu benar. Buatlah rumusan dengan merujuk ke Surat Yusuf (al-Qifthi: Inbah ar-Ruwwati ‘ala Anba an-Nuhah, Cet. I 1982, 1/50-51).

Ada juga yang mengatakan, “Salah seorang anak perempuannya berkata,

يا أبت؛ ما أحسنُ السَّمَاء

Kata أحسن harakat terakhirnya dhommah. Dan kata السماء harokat terakhirnya kasroh. Anak tersebut ingin mengatakan “Hai ayah, alangkah indahnya langit!” Tapi karena bunyi harokat akhirnya salah, maka artinya “Apakah yang paling indah di langit?”. Sehingga Abul- Aswad menjawabnya,

يا بنية؛ نجومها

“Bintangnya, nak”

Anaknya berkata, “Yang kumaksud (bukan bertanya) sesuatu yang paling indah. Tapi aku takjub dengan betapa indahnya langit.”

Abul Aswad berkata, “Kalau begitu, katakan!

ما أحسنَ السَّمَاء

“Alangkah indahnya langit.”

Sejak itu ia menaruh perhatian besar dengan ilmu nahwu. Ada yang bertanya kepadanya, “Darimana kau memperoleh ilmu nahwu ini?” Ia menjawab, “Aku belajar kaidah-kaidahnya kepada Ali bin Abu Thalib.” (ath-Thayyib Ba Mukhramah: Qiladatu-n Nahwi fi Wafayati A’yani-d Dahr, 2008 M, 1/508).

Dengan demikian, ilmu nahwu sangat membantu orang-orang non-Arab dalam membaca teks Arab. Terutama teks Arab gundul. Dengan benarnya harokat seseorang bisa memahami teks Arab dengan pemahaman yang benar. Jika memahami teks dengan benar saja tidak mampu, maka bagaimana bisa akan mendapat kesimpulan dan pemahaman yang benar dari suatu teks. Inilah jasa besar Abul Aswad ad-Duali kepada umat ini.

Wafatnya

Abul Aswad ad-Duali wafat di Bashrah pada tahun 69 H/688 M. Ia terserang wabah tah’un. Saat itu usianya 80 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa ia wafat di masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Dan kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz dimulai pada bulan Shafar 99 H – Rajab 101 H (Ibnu Khalkan: Wafayat al-A’yan, 2/539).

PENGUKUHAN KOTA MULIA TANAH HAROM DAN CINTA NABI SAW KEPADA MADINAH AL MUNAWWAROH

Anda dapat menyelami dalamnya cinta Rasulullah terhadap Madinah dalam setiap sabdanya tentang Madinah. Anda dapat merasakan hal tersebut dari do’a-do’a beliau agar Madinah diliputi kebaikan, beliau telah berdo’a kepada Allah agar Madinah menjadi kota yang mereka cintai :

“Ya Allah, berilah kami kecintaan terhadap Madinah seperti cinta kami terhadap Mekkah atau melebihinya. ” [HR.Bukhari no. 1889, HR.Muslim no. 1376]

Tidak diragukan lagi bahwa do ‘a beliau pasti terkabul.

Hadits-hadits yang mengisyaratkan akan kecintaan beliau terhadap Madinah sangat banyak, cobalah simak sabda beliau berikut ini:

“Madinah adalah tempat hijarahku, di sana tempat tinggalku, dari sana aku nanti di bangkitkan, penduduknya adalah tetanggaku, tentulah menjadi suatu kewajiban bagi umatku menjaga tetanggaku.” [Al- Firdaus oleh: Ad-Dailami no.6953]

Dalam hadits ini kita dapati betapa perasaan emosional dan rasa cinta Nabi begitu menyatu dengan Madinah tanpa perlu menggunakan argumen lagi.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas, rasa cinta ini lebih jelas dan lebih terfokus lagi, “Bahwa Nabi apabila datang dari safar (perjalanan) jauh dan melihat batas Madinah, beliau langsung memacu kendaraannya, dan jika beliau menunggang keledai beliau menggerakkannya (agar cepat sampai) karena besarnya rasa cinta beliau terhadap Madinah.” [HR. Bukhari no. 1886]

PENGUKUHAN MADINAH SEBAGAI TANAH HARAM

Pengukuhan Madinah sebagai tanah haram termasuk salah satu keutamaan kota ini, tapi sengaja pembahasannya dipisah, mengingat begitu pentingnya dan terkait dengan hukum-hukum syar’i. Pengukuhan Madinah sebagai tanah haram disebutkan dalam beberapa hadits shahih, diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin ‘ Ashim bahwa Nabi bersabda :

“Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan kota Mekkah sebagai tanah haram dan ia mendo ’akan para penduduknya, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai tanah haram seperti yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap Mekkah, dan aku mendo’akan agar sha’ dan mud’-nya diberkahi dua kali lipat dari doa Ibrahim untuk penduduk Mekkah.” [HR. Bukhari no. 2129 dan HR. Muslim no. 1360]

Hadits di atas menjadi dalil bagi jumhur (mayoritas) ulama yang berpendapat bahwa Madinah adalah tanah haram. Juga hadits-hadits lain yang diriwayatkan dari sepuluh orang sahabat bahkan lebih.

Dalam shahihain diriwayatkan dari ‘ Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda :

“Madinah adalah tanah haram antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur, maka siapa yang melakukan suatu perbuatan maksiat di sana atau memberikan tempat bagi pelaku maksiat, niscaya laknat Allah, malaikat dan semua manusia akan menimpanya, dan di hari kiamat Allah tidak akan menerima amalannya baik yang fardhu maupun sunnat.” [HR. Bukhari no. 1870 dan Muslim no. 1370]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, “Andai aku melihat kijang di dalam Madinah sedang memakan rumput, niscaya aku tidak akan mengejutkannya, karena aku mendengar Rasulullah bersabda: “Antara dua (harra) bebatuan hitam adalah tanah haram.” [HR.Bukhari no. 1873 dan Muslim no. 1372]

Hadits diatas menunjukkan bahwa hewan buruan dan pepohonan di dalam Madinah haram di ganggu. Dalam hadits itu juga dijelaskan bahwa batas tanah haram adalah antara bukit Tsaur dan ‘Air; Tsaur yaitu: bukit kecil berwarna merah yang terletak di belakang bukit Uhud, kemiringan sisinya curam seolah-olah laksana orang berdiri. Saat ini kalau kita menuju Jeddah melalui jalan ke Airport akan melewati belakang bukit tersebut. Jalan ini sengaja dibuat sedikit jauh diluar batas tanah haram agar dapat di lalui oleh non muslim. Adapun ‘Air, yaitu: bukit besar yang berwama hitam terletak di sebelah tenggara Dzulhulaifah. [Lihat: Ad-durr ats-tsamin: oleh Syinqiti hal.16-17]

Pengukuhan tanah haram ini tentulah mengakibatkan berlakunya hukum: ‘hewannya tidak boleh diusik, pepohonannya tidak boleh ditebang, barang temuan (yang tercecer) disana tidak boleh diambil’. Hukum ini sama dengan hukum yang berlaku di tanah suci Mekkah.

Diriwayatkan dari ‘ Ali bin Abi Thalib, Rasulullah bersabda: “Rerumputannya (Madinah) tidak boleh dipotong, hewan buruannya tidak boleh dikejar, barang yang tercecer tidak boleh dipungut kecuali bagi orang yang ingin mencari pemiliknya, dan tidak pantas seorang laki-laki membawa senjata tajam untuk membunuh seseorang, dan tidak pantas dia memotong pepohonannya kecuali bagi orang yang ingin sekadar memberi makan untanya.” [HR.Abu Daud no.2035]

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak boleh diinjak dan dicabut rerumpatan di padang yang dilarang Rasulullah, tetapi boleh dipatahkan dengan cara yang lunak sekadamya.” [HR.Abu Daud no.2039]

Hadits-hadits di atas seluruhnya menguatkan pemyataan bahwa Madinah adalah tanah haram, berarti hewan buruan, pepohonan dan rerumputannya dilarang diusik, dan hadits-hadits tersebut kevalidan sanadnya tidak kalah dengan hadits-hadits yang mengharamkan Mekkah.

BUKIT ‘AIR

‘Air dengan harkat fathah ‘ain adalah sebuah bukit yang terletak di selatan Madinah Al Munawwarah. Bukit ini adalah batas tanah haram dari arah selatan. Nabi ketika datang hijrah ke Madinah melewati sebelah timur bukit ini. Bukit ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi, bahwa Nabi menjadikan tanah haram di antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur, dari lereng sebelah timur bukit ini mengalir air ke dataran rendah Ranuna. [Lihat ad-Dur ats- Tsamin oleh Syinqithi hal. 252-253]

‘Iyadh rahimahullah berkata, “Perkataan orang yang mengingkari keberadaan bukit ‘Air di Madinah tidak perlu dibahas, karena bukit ini sangat populer, seperti juga bukit ini disebut-sebut dalam bait syair mereka”.

BUKIT TSAUR

Yang biasa dikenal, gua tempat persembunyian Rasulullah dan sahabatnya Abu Bakar As-Shiddiq berada di sebuah bukit yang dinamakan bukit Tsaur, yaitu di Mekkah seperti yang kita ketahui.

Di Madinah juga ada bukit yang juga bernama bukit Tsaur, penduduk Madinah baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam mengenal bukit ini, yaitu sebuah bukit kecil berwama merah yang tegak berdiri seperti seekor lembu, berada di belakang bukit Uhud. Bila kata Tsaur disertakan dengan bukit, maka maksudnya adalah bukit Tsaur di Madinah, sedangkan bukit Tsaur yang di Mekkah biasa disebut tanpa menyertakan kata bukit, inilah perbedaan di antara dua bukit tersebut. [Lihat ad-Dur ats- Tsamin oleh Syinqithi hal. 252-253]

Diriwayatkan dalam hadits, bahwa Nabi telah mengukuhkan antara bukit Tsaur dan bukit ‘Air sebagai tanah haram. Orang yang ingin menuju ke Jeddah melewati jalan ke Airport akan melewati sebelah utara bukit Tsaur, jalan ini sengaja dibuat di belakang bukit, agar non Muslim bisa melewati jalan ini di luar batas Madinah.

HIKMAH MENGGEMBALA KAMBING DAN DI OPERASINYA ROSULULLOH SAW.

Pembedahan Dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Jibril telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala sedang bermain dengan anak-anak, kemudian Jibril mengambilnya dan membedah dadanya kemudian mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan darinya gumpalan darah, ia (Jibril) berkata, “Ini adalah jatah setan pada dirimu,” kemudian jantung itu dicuci dengan air zamzam pada bejana yang terbuat dari emas, kemudian dia kembalikan kepada tempatnya.

Kemudian anak-anak teman bermainnya itu menemui ibunya, mereka berkata, “Muhammad telah dibunuh.” Kemudian mereka menemuinya dan mendapati dia dalam kondisi pucat. Anas berkata, “Saya telah melihat melihat bekas jahitan pada dadanya.” [HR.Muslim 1/147, Kitab Al Iman, No.261]

Pada riwayat Abu Nu’aim dari Ibnu Katsir terdapat tambahan perincian, naskahnya sebagai berikut, “Perawat saya adalah wanita dari Bani Sa’ad bin Bakrah. Suatu saat saya dan anaknya pergi bersama domba-domba kami, sementara kami belum membawa bekal makanan, saya berkata , “Wahai saudaraku, pergilah minta bekal air ibunda kita.”

Saudara saya itu pergi dan saya menunggu disekitar domba-domba kami, kemudian datanglah dua makhluk terbang seakan-akan dua ekor burung elang, salah satu di antara keduanya berkata kepada temannya, “Apakah orang ini yang dimaksud?” Dia berkata, “Iya.” Kemudian keduanya mendatangi saya, merebahkan saya dan membedah dadaku, kemudian mengeluarkan jantungku dan mengeluarkan dua gumpalan darah berwarna hitam. Salah satu di antara keduanya berkata, “Berikan saya air salju, lalu mereka mencuci bagian dalam dadaku, kemudian dia berkata lagi, “Berikan saya air embun”, kemudian mereka berdua mencuci jantung saya. Dia berkata lagi, “Datangkan kemari sakinah (ketentraman).” Dia akhirnya menanam ketentraman itu dalam jantungku, kemudian dia berkata, “Jahit”, Dia menjahit dadaku dan memberikan stempel kenabian di atas dadaku.”

Ibunya cemas telah terjadi sesuatu dengannya, maka dengan segera dia membawanya ke ibunya di Mekah, Dia berkata, “Saya telah menunaikan amanah dan tugas saya.” Saya menceritakan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, sedangkan ibunya Aminah, berkata dengan maksud menenangkan perasaan Halimah, “Saya telah melihat waktu saya mengandungnya terdapat cahaya yang keluar dari diri saya yang menerangi istana-istana yang ada di Syam.”

Pendapat yang rajih (kuat) adalah kejadian itu terjadi pada saat usia Rasulullah empat tahun, dan telah benar kejadiannya bahwa pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj seperti yang akan di bahas secara khusus telah terjadi pembedahan dada untuk yang kedua kalinya.

Hikmah menggembala kambing

~ Ibnu Hajar rahimahullah berkata, para ulama berkata, “Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika manusia.”[Fathu Al Bari 1/144]

Para nabi berprofesi sebagai penggembala kambing semenjak kecil, agar mereka menjadi penggembala manusia pada waktu mereka besar. Sebagaimana Musa dan Muhammad serta para nabi lainnya shalawatullahi ‘Alaihim wa Salamuh, pada awal kehidupan mereka telah berhasil menjadi penggembala kambing yang baik, agar mengambil pelajaran setelah keberhasilan mengendalikan binatang ternak menuju keberhasilan mengurus anak cucu Adam dalam mengajak, memperbaiki dan mendakwahi mereka. Agar sang da’i bisa sukses dalam berdakwah, maka perlu memiliki pengetahuan tentang pentingnya kesinambungan dan praktik secara langsung.

~ Dalam pekerjaan mengembala kambing terdapat pelajaran membiasakan diri untuk sifat menyantuni dan mengayomi. Tatkala mereka bersabar dalam mengembala dan mengumpulkannya setelah terpencar di padang gembalaan, mereka mendapat pelajaran bagaimana memahami perbedaan tabiat umat, perbedaan kemampuan akal. Dengan perbedaan tersebut maka yang membangkang mesti ditindak tegas dan yang lemah mesti disantuni.

Hal ini memudahkan bagi yang memiliki pengalaman seperti itu untuk menerima beban dakwah dibandingkan yang memulai dari langsung dari awal. Itulah awal pembelajaran bagi para Nabi dengan cara menghadapi tabiat yang berbeda, ada yang lemah, ada yang pincang dan bermaksud mendaki gunung, ada yang tidak mampu untuk melintasi lembah. Dari situ, dia mempelajari bagaimana meraih keinginan yang beragam sebagai pengantar untuk mengenal manusia dengan tujuan dan maksud yang juga beragam.

~ Para Nabi mengembala kambing semenjak mereka kecil dan mereka menyandarkan kehidupan mereka melalui usaha mereka, memberikan pesan tentang pentingnya seorang da’i menggantungkan dirinya kepada Allah dan tidak menggantungkan hidupnya pada belas kasian orang lain.

Jika seorang menyandarkan dirinya kepada orang lain, maka akan terjadi basa basi, sementara dakwah tidak mengenal basa basi, dan seorang da’i mesti menjauhkan dirinya dari pemberian dan sedekah orang lain. Manusia tidak akan menerima dakwah orang yang pernah suatu hari menerima sedekah dan belas kasihannya, kemudian hari yang lain, dia menasehatinya dan memperingatinya agar tidak terlena dengan dunia. Oleh karena itu, rezeki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadi pembicaraan orang Quraisy, Rasulullah hidup di antara mereka dengan tidak meminta belas kasihan mereka, hal yang menyebabkan mereka setelah itu mengungkit jasa dan kebaikan mereka.

SEJARAH PENTING “PIAGAM MADINAH”

Teks Piagam Madinah adalah teks perjanjian dengan orang-orang Yahudi, bentuk TEKS PIAGAM MADINAH berupa Kalimat-kalimat shahifah (piagam), seperti tercantum dalam kitab Sirah al Nabawiyah Ibn Hisyam, tersusun secara bersambung, tidak terbagi atas pasal-pasal dan bukan berbentuk syair. Bismillah al Rahman al Rahim tertulis pada awal naskah, disusul dengan rangkaian kalimat berbentuk prosa. Ilmuan muslim dan non muslim banyak yang mengutip naskah ituyang dibagi atas pasal-pasal. Muhmmad Hamidullah, misalnya mengutip teks itu selengkapnya dan membaginya atas 47 pasal.(Majmu’ah al Wasa’iq al Siyasiyah Li al ‘Ahd al Nabawiyy wa Khilafah al Rasyidah).

Naskah Piagam Madinah yang paling banyak dikutip adalah yang tercantum di dalam kitab Sirah Al Nabawiyah susunan Ibnu Hisyam, karena kitab sirah inilah yang agaknya paling banyak beredar.

قال ابن إسحاق وكتب رسول الله صلى الله عليه وسلم كتابا بين المهاجرين والأنصار وادع فيه يهود وعاهدهم وأقرهم على دينهم وأموالهم وشرط لهم واشترط عليهم

Ibnu Ishaq berkata : “ Setelah itu Rasulullah SAW membuat perjanjian antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dalam perjanjian tersebut, Rasulullah SAW tidak memerangi orang-orang Yahudi, membuat perjanjian dengan mereka, mengakui agama dan harta mereka dan membuat persyaratan bagi mereka.

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan menyebut Nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang”

هذا كتاب من محمد النبي صلى الله عليه وسلم بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم

“ini adalah piagam dari Muhammad, Nabi SAW, dikalangan mukminin dan Muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yasrib dan orang yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.”

 إنهم أمة واحدة من دون الناس

1.      “Sesungguhnya mereka satu Ummat, lain dari (komunitas) manusia yang lain”

المهاجرون من قريش على ربعتهم يتعاقلون بينهم وهم يفدون عانيهم بالمعروف والقسط بين المؤمنين

2.      “Kaum Muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan )mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang bak dan adil di antara mukminin.”

وبنو عوف على ربعتهم يتعاقلون معافلهم الأولى كل طائفة تفدى عانيها المعروف والقسط بين المؤمنين

3.      “Banu ‘Awf, sesuai keadaan mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan baik dan adil di antara mukminin.”

 وبنو ساعدة على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الاولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

4.      “Banu Sa’idah sesuai keadaan mereka, bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو الحارث على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

5.      “Banu al Hars, sesuai keadaan mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو جشم على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

6.      “Banu Jusyam, sesuai keadaan mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

وبنو النجار على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

7.      “Banu An Najjar, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو عمرو بن عوف على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

8.      “Banu Amr Ibnu ‘Auf, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو النبيت على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

9.      “Banu Al Nabit, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

 وبنو الأوس على ربعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى وكل طائفة منهم تفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين

10.  “Banu Al Aus, sesuai keadaan (Kebiasaan) mereka , bahu membahu membayar diat di antara mereka (seperti) semula dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara Mukminin.”

وإن المؤمنين لا يتركون مفرحا بينهم ان يعطوه بالمعروف في فداء أو عقل

11.  “Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang yang  berat menanggung utang di antara mereka, tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diyat.”

قال ابن هشام المفرح المثقل بالدين والكثير العيال قال الشاعر … إذا انت لم تبرح تؤدي أمانة … وتحمل أخرى أفرحتك الودائع

“Ibnu Hisyam berkata : Al Mufrah adalah orang yang mempunyai hutang yang berat dan memiliki tanggungan keluarga yang banyak. Seorang penyair berkata : …ketika engkau tidak jelas menyampaikan amanah…..dan engkau menanggung yang lain maka aku menitipkan kepadamu barang-barang titipan…”

 وأن لا يحالف مؤمن مولى مؤمن دونه

12.  “Seorang Mukmin tidak dibolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.”

وإن المؤمنين المتقين على من بغى منهم أو ابتغى دسيعة ظلم أو إثم أو عدوان أو فساد بين المؤمنين وإن أيديهم عليه جميعا ولو كان ولد أحدهم

13.  “Orang-orang mukmin yang takwa harus menentang orang yang di antara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara dzalim, jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan dikalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.”

 ولا يقتل مؤمن مؤمنا في كافر ولا ينصر كافرا على مؤمن

14.  “Seorang Mu’min tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran (membunuh) orang kafir. Tidak boleh pula orang mukmin membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman.”

 وإن ذمة الله واحدة يجير عليهم أدناهم وإن المؤمنين بعضهم موالي بعض دون الناس

15.  “Jaminan Allah satu. Jaminan (perlindungn) diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling  membantu, tidak tergantung pada manusia lain.”

 وإنه من تبعنا من يهود فإن له النصر والأسوة غير مظلومين ولا متناصرين عليهم

16.  “Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terdzalimi dan ditentang (olehnya).”

وإن سلم المؤمنين واحدة لا يسالم مؤمن دون مؤمن في قتال في سبيل الله إلا على سواء وعدل بينهم

17.  “Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin yang lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.”

 وإن كل غازية غزت معنا يعقب بعضها بعضا

18.  “Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain.”

وإن المؤمنين يبيء بعضهم على بعض بما نال دماءهم في سبيل الله وإن المؤمنين المتقين على أحسن هدي وأقومه

19.  “orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertaqwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.”

وأنه لا يجير مشرك مالا لقريش ولا نفسا ولا يحول دونه على مؤمن

20.  “orang musyrik (Yasrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh campur tangan melawan orang beriman.”

 وإنه من اعتبط مؤمنا قتلا عن بينة فإنه قود به إلا أن يرضى ولي المقتول وإن المؤمنين عليه كافة ولا يحل لهم إلا قيام عليه

21.  “Barangsiapa membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali si terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.”

 وإنه لا يحل لمؤمن أقر بما في هذه الصحيفة وآمن بالله واليوم الآخر أن ينصر محدثا ولا يؤويه وأنه من نصره أو آواه فإن عليه لعنة الله وغضبه يوم القيامة ولا يؤخذ منه صرف ولا عدل

22.   Tidak halal bagi orang mukmin yang mengaki piagam ini, percaya kepada Allah dan hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan atau menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di hari Kimat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.”

 وإنكم مهما اختلفتم فيه من شيء فإن مرده إلى الله عز وجل وإلى محمد صلى الله عليه وسلم

23.  Apabila kalian berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah ‘Azza Wazalla dan keputusan Muhammad SAW.”

 وإن اليهود ينفقون مع المؤمنين ما داموا محاربين

24.  “Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.”

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وأنفسهم إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهل بيته

25.  “Kaum Yahudi Dari Bani Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.”

 وإن ليهود بني النجار مثل ما ليهود بني عوف

26.  “Kaum Yahudi Bani Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

 وإن ليهود بني الحارث مثل ما ليهود بني عوف

27.  “Kaum Yahudi Bani Al Haris diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

وإن ليهود بني ساعدة مثل ما ليهود بن عوف

28.  “Kaum Yahudi Bani Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

وإن ليهود بني جشم مثل ما ليهود بني عوف

29.  “Kaum Yahudi Bani Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

وإن ليهود بني الأوس مثل ما ليهود بني عوف

30.  “Kaum Yahudi Bani Al Aus diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf.”

 وإن ليهود بني ثعلبة مثل ما ليهود بني عوف إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهل بيته

31.  “Kaum Yahudi Bani Tsa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Bani Auf. Kecuali orng Dzaim atau khianat. Hukumannya hanya menimpa diri dan keluarganya.”

وإن جفنة بطن من ثعلبة كأنفسهم

32.  “suku Jafnah dari Tsa’labah( diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Tsa’labah).

 وإن لبني الشطيبة مثل ما ليهود بني عوف وإن البر دون الإثم

33.  “Banu Syuthaibah (diperlakukan) sama seperti Yahudi Banu ‘Auf. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu lain dari kejahatan.

وإن موالي ثعلبة كأنفسهم

34.  “Sekutu-seutu Tsa’labah (diperlakukan) sama seperti mereka (Banu Tsa’labah)

وإن بطانة يهود كأنفسهم

35.  “Kerabat Yahudi (diluar kota madinah) sama seperti mereka (Yahudi).”

 وإنه لا يخرج منهم أحد إلا بإذن محمد صلى الله عليه وسلم وإنه لا ينحجز على نار جرح وإنه من فتك فبنفسه فتك وأهل بيته إلا من ظلم وإن الله على أبر هذا

36.  “Tidak seorangpun dibenarkan ke luar (untuk perang), kecuali seizing Muhammad SAW. ia tidak boleh dihalangi (menuntut pembalasan) uka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balsan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesungguhnya Allah sangat membenarkan (ketentuan )ini.”

وإن على اليهود نفقتهم وعلى المسلمين نفقتهم وإن بينهم النصر على من حارب أهل هذه الصحيفة وإن بينهم النصح والنصيحة والبر دون الإثم وإنه لم يأثم امرؤ بحليفه وإن النصر للمظلوم

37.  “Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya, dan bagi kaum muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (yahudi dan Muslimin) saling membantu dalam menghadapi musuh warga Piagam ini. Mereka saling memeberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.”

 وإن اليهود ينفقون مع المؤمنين ما داموا محاربين

38.  “Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.”

 وإن يثرب حرام جوفها لأهل هذه الصحيفة

39.  “Sesungguhnya Yasrib itu tanahnya Haram (suci) bagi warga Piagam ini.”

 وإن الجار كالنفس غير مضار ولا آثم

40.  “Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.”

وإنه لا تجار حرمة إلا بإذن أهلها

41.  “Tidak boleh jaminan diberikan, kecuali seizizn ahlinya.”

 وإنه ما كان بين أهل هذه الصحيفة من حدث او اشتجار يخاف فساده فإن مرده إلى الله عز وجل وإلى محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم وإن الله على أتقى ما في هذه الصحيفة وأبره

42.  “Bila terjadi suatu peristiwa atau suatu perselisihan di antara pendukung Piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah ‘Azza wa Jalla, dan (keputusan) Muhammad SAW. sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi piagam ini.”

 وإنه لا تجار قريش ولا من نصرها

43.  “Sungguh tidak ada jaminan perlindungan bagi quraisy (Mekah) dan juga bagi pendukung mereka.”

وإن بينهم النصر على من دهم يثرب

44.  “Mereka (pendukung Piagam) bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yasrib.”

وإذا دعوا إلى صلح يصالحونه ويلبسونه فإنهم يصالحونه ويلبسونه وإنهم إذا دعواإلى مثل ذلك فإنه لهم على المؤمنين إلا من حارب في الدين على كل أناس حصتهم في جانبهم الذي قبلهم

45.  “Apabila mereka (pendukung  Piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan ) memenuhi perdamaian serta melaksanakan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.”

وإن يهود الأوس مواليهم وأنفسهم على مثل ما لأهل هذه الصحيفة مع البر المحض من أهل هذه الصحيفة. قال ابن هشام ويقال مع البر المحسن من أهل هذه الصحيفة

قال ابن إسحاق وإن البر دون الإثم لا يكسب كاسب إلا على نفسه وإن الله على أصدق ما في هذه الصحيفة وأبره

46.  “Kaum Yahudi Al Aus, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung Piagam ini, bersama kebaikan yang murni dari pendukung Piagam ini. Ibnu Hsyam berkata : dan dikatakan bersama kebaikan yang berbuat baik dari pendkung piagam ini. Ibnu Ishaq berkata : sesungguhnya kebaikan itu bukanlah dosa. Setiap orang bertanggungjawab atas perbuatannya. Sesunggunya Allah paling memebenarkan dan memandang baik isi piagam ini.”

 وإنه لا يحول هذا الكتاب دون ظالم وآثم وإنه من خرج آمن ومن قعد آمن بالمدينة إلا من ظلم أو أثم وإن الله جار لمن بر واتقى ومحمد رسول الله صلى الله عليه وسلم

47.  “ sesungguhnya piagam ini tidak membela orang dzalim dan khianat. Orang yang keluar (bepergian) aman, dan orang yang berada di Madinah aman, kecuali orang yang dzalim dan khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan taqwa. Muhammad SAW.”

 السيرة النبوية لابن هشام (- (3 / 35)

INILAH DUA ULAMA ISLAM YANG TIDAK SEMPAT BERHAJI SAMPAI AKHIR HAYAT

selfie saat umroh

Kita semua sudah mengetahui, kalau tahun ini kemungkinan besar ibadah haji di tiadakan, tentu hal itu menjadikan problem tersendiri bagi umat islam di indonesia dan dunia terutama bagi yang sudah ada jadwal pemberangkatan melaksanakan ibadah haji tahun ini.

Tapi, kalau kita menengok sejarah dalam dunia islam, hal seperti itu sudah pernah terjadi dan bahkan yang terkena imbas tidak bisa melaksankan ibadah haji bukan saja umat islam golongan awam tetapi juga seluruh ulama dan pejabat pemerintah yang menangani urusan haji dinegara timur tengah tersebut.

Dalam islam ada dua ulama agung yang tidak sempat melaksanakan ibadah haji, walaupun berbeda kasus dan situasi yang menjadi penyebab tidak bisa berangkatnya, Faktor mampu dalam ibadah haji memang sangat urgen dalam pelaksanaanya, termasuk mampu untuk bisa sampai ke makkah dengan selamat.

Al Qodli ibn Hani’ berkata :

قال القاضي ابن هانئ : إمامان ما اتفق لهما الحج ، أبو إسحاق ، وقاضي القضاة أبو عبد الله الدامغاني . أما أبو إسحاق فكان فقيرا ، ولو أراده لحملوه على الأعناق . والآخر لو أراده لأمكنه على السندس والإستبرق

[[Ada dua Imam besar yang belum sempat menjalankan ibadah haji, yaitu imam Abu Ishaq as-Syirozy & Qodli qudlot (gelar hakim tertinggi) Abu Abdillah Addamighoni.

Adapun Imam Abu Ishaq lantaran pilihan hidup beliau sebagai orang miskin, andai beliau mau, pastilah penduduk kota Baghdad tempat beliau menetap akan berebut memberangkatkannya.

Sedang Imam Abu Abdillah lantaran kesibukannya sebagai hakim tertinggi yang tidak memberinya kesempatan untuk menunaikannya]].

Imam Abu Ishaq Al Syirozy adalah pengarang kitab al MUHADZDZAB,

Nama lengkap beliau adalah Syeikh al-Imam Abu Ishaq, Ibrohim bib ‘Ali bin Yusuf al-Fairuzabadi al-Syirozy

Demikian luas & detail sekali penjabaran beliau terkait ritual ibadah haji dalam kitabnya AL-MUHADZDZAB, yang jauh lebih lengkap dibanding buku-buku panduan haji milik KBIH manapun, bak seorang yang sudah puluhan kali menjalankan ibadah haji.

Dalam menjelaskan tempat-tempat bersejarah di tanah haram pun demikian gamblang sekali, seakan beliau melihat langsung tempat-tempat itu & memang begitulah adanya.

Dalam kitab “KAROMATUL AULIYA” disebutkankan bahwa diantara karomah beliau, bisa melihat langsung masjidil haram dan ka’bahnya dari kediaman beliau di Baghdad.

Jadi sekalipun secara lahiriyah dan jasmani beliau tidak penah terlihat melaksanakan ibadah haji, Namun dengan karomah yang beliau miliki, melaksanakan haji bukan hal yang sulit. SUBHANALLOH

Kesimpulan : Ibadah haji hanya wajib bagi yang telah MAMPU

Sumber : Siyar A’laami Nubala karya Al-imam Muhammad bin Ahmad bin Utsman Al-dzahabi [Imam Dzahabi]

Wallohu a’lam