BANI UMAYYAH BENARKAH TIDAK MENYUKAI AHLUL BAIT ATAU BANI HASYIM

Ketika membaca sejarah Islam, terutama sejarah Bani Umayyah, kita lihat banyak penulis sejarah memberikan informasi negatif terhadap klan Quraisy satu ini. Mereka dicap sebagai perebut kekuasaan. Licik. Zhalim. Propagandis. Dan seabrek tudingan miring lainnya. Di antara faktor yang memicu tersebarnya berita buruk tentang mereka adalah pembukuan sejarah banyak terjadi pada periode musuh mereka, Bani Abbas. Juga fitnah yang disebar oleh orang-orang Syiah.

Terkadang, para kolumnis dan sejarawan terjebak fanatisme dan sekteranianisme ini, sehingga mereka tak mampu melihat fakta sejarah. Bahkan, di antara mereka ada yang mengkafirkan Bani Umayyah. Seperti al-Maqrizi dalam karyanya an-Naza’ wa at-Takhashum fi ma Baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim. Demikian juga Sayyid Quthb, yang karya-karya tulisnya cukup berpengaruh dan tersebar di kalangan umat Islam khususnya generasi muda. Dalam al-Adalah al-Ijtima’iyyah fi al-Islam, Sayyid Quthub berkomentar tentang Bani Umayyah, “Pun, Bani Umayyah di era Islam adalah Bani Umayyah di era jahiliyyah.” (Lathif, 2014: 4). Artinya, menurut Sayyid Quthub, Bani Umayyah di era Islam sama saja dengan Bani Umayyah di era jahiliyyah dalam permusuhannya terhadap Islam.

Dalam tulisan berikut ini, kita berusaha untuk adil terhadap Bani Umayyah. Karena di antara mereka banyak yang menjadi orang-orang kepercayaan Rasulullah dan tokoh-tokoh Islam.

Pengertian Ahlul Bait

Ahlussunnah memiliki pandangan yang berbeda dengan Syiah tentang pengertian ahlul bait (keluarga Nabi). Menurut Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah secara umum, ahlul bait adalah ash-habul kisa. Ash-habul kisa adalah Ali bin Abu Thalib, Fatimah binti Rasulullah, Hasan bin Ali, dan Husein bin Ali (al-Qarmusyi, 2013: 59).

Sementara Ahlussunnah wal Jamaah berpendapat, ahlul bait Nabi adalah semua keturunan Hasyim bin Abdu Manaf. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan klan Bani Hasyim terdiri dari keluarga Abbas bin Abdul Muthalib, keluarga Ali bin Abu Thalib, keluarga Ja’far bin Abu Thalib, keluarga Aqil bin Abu Thalib, dan keluarga al-Harits bin Abdul Muthalib (al-Qarmusyi, 2013: 50). Ibnul Arabi dan sebagian Malikiyah memasukkan istri-istri juga sebagai ahlul bait beliau (al-Qarmusyi, 2013: 55).

Dari pengertian di atas bisa kita kumpulkan data-data sejarah bagaimana hubungan Bani Umayyah dan ahlul bait Nabi, yakni Bani Hasyim.

Bani Umayyah dan Bani Hasyim Masa Pra Islam

Silsilah keturunan Bani Umayyah dan Bani Hasyim bertemu pada satu kakek, yaitu Abdu Manaf bin Qushay. Abdu Manaf memiliki empat orang anak laki-laki: Abdu Syams, Hasyim, al-Muthalib, dan Naufal. Di antara anak laki-laki Abdu Syams Umayyah. Kepada Umayyah inilah nasab penguasa Bani Umayyah terhubung. Karena itu, ketika Heraclius bertanya kepada kafilah Quraisy yang berdagang ke Syam, “Siapa yang paling dekat kekerabatannya dengan laki-laki yang mengaku Nabi itu?” Abu Sufyan menjawab, “Akulah orang yang paling dekat hubungan nasab dengannya. Dia adalah anak pamanku.”

Bani Abdu Manaf memiliki kedudukan terhormat di Mekah. Mereka adalah pemimpin kota suci itu. Kepemimpinan itu dimulai tatkala ayah mereka, Qushay bin Kilab berhasil mengembalikan kekuasaan kota Mekah ke tangan Quraisy, keturunan Nabi Ismail. Setelah sebelumnya dikuasai oleh orang-orang Khuza’ah. Ketika usia Qushay telah lanjut, ia menyerahkan posisinya kepada Abdur Dar, sang putra sulung. Adapun Abdu Manaf (putranya yang lain) telah kesohor semasa ayahnya masih hidup. Sejak saat itu, Abdud Dar memegang kepengerusan al-hijabah (pemeliharaan Ka’bah), al-liwa’ (panji perang), as-siqayah (pengadaan air minum untuk jamaah haji), dan ar-raifadah (pengadaan konsumsi jamaah haji).

Sepeninggal Qushay, seluruh putra-putrinya memenuhi hak saudara tertua mereka demi menghormati wasiat sang ayah. Tidak seorang pun di antara mereka berani lancang merebutnya. Namun setelah Abdud Dar dan Abdu Manaf wafat, putra-putri Abdu Manaf (Abdu Syams, Hasyim, al-Muthallib, dan Naufal) bersepakat merebut kekuasaan pengurusan Kota Mekah dan Ka’bah dari anak paman mereka. Hampir saja terjadi konflik terbuka. Namun tokoh-tokoh Mekah segera mengadakan rekonsiliasi agar benang kusut ini dapat terurai.

Realisasi dari putusan itu adalah pembagian tugas antara dua kabilah. Bani Abdu Manaf dipercaya untuk menyediakan air minum dan konsumsi. Sedangkan pemeliharaan panji dan pengelolaan lembaga permusyaratan tetap dipegang Bani Abdud Dar. Gemuruh konflik pun redam.

Kemudian, putra-putri Abdu Manaf menjalankan tugas mereka dengan tanggung jawab. Tugas ini secara penuh mereka serahkan kepada Hasyim. Karena ia salah satu yang terkaya di antara mereka. Setelah tugas ini meninggal diserahkan kepada al-Muthallib bin Abdu Manaf. Setelah itu kepada Abdul Muthallib bin Hasyim. Kemudian kepada az-Zubair bin Abdul Muhtallib. Selanjutnya kepada Abu Thalib bin Abdul Muthallib. Setelah itu, pengurusan dipegang oleh Abbas bin Abdul Muthallib.

Lihatlah bagaimana kokohnya hubungan persaudaraan Bani Abdu Manaf. Keturunan Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf tidak merasa berat hati dan protes kepengurusan Ka’bah turun-temurun dipegang oleh anak paman mereka dari keturunan Hasyim bin Abdu Manaf.

Kesetiaan itu diuji di masa sulit. Ini pun terjadi pada hubungan kekerabatan Bani Umayyah dan Bani Hasyim. Pada saat ancaman dari luar datang. Orang-orang Bani Umayyah dan Bani Hasyim bersatu. Pada saat terjadi perang yang dikenal dengan Perang Fijar. Orang-orang Quraisy bersatu dengan Bani Kinanah melawan musuh mereka dari Suku Qais Ghailan. Kepemimpinan Quraisy ketika itu dijabat oleh Harb bin Umayyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berusia 20 tahun juga terlibat langsung dalam perang ini.

Secara individu, tokoh-tokoh Bani Hasyim juga bersahabat dengan tokoh-tokoh Bani Umayyah. Seperti Abdul Muthallib -pemimpin Bani Hasyim- bersahabat dengan Harb bin Umayyah -pemimpin Bani Umayyah-. Demikian juga Abbas bin Abdul Muthalib -paman Nabi- bersahabat dengan Abu Sufyan bin Harb. Kisah keislaman Abu Sufyan saat terjadi Fathu Mekah adalah bukti konkrit dari semua itu.

Jelang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Mekah, Abbas sangat menginginkan kalau Rasulullah menduduki Mekah dengan tanpa kekerasan. Karena itu, sebelum kedatangan beliau, Abbas ingin terlebih berjumap dengannya. Abbas mencari seseorang yang bisa mengumumkan kepada penduduk Mekah ihwal pergerakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abbas pun berjumpa dengan Abu Sufyan yang kebetulan juga berangkat mencari informasi tentang kedatangan Rasulullah. Abbas berkata, “Abu Sufyan, waspadalah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bergerak bersama pasukan yang sangat banyak. Demi Allah, waspadalah wahai kaum Quraisy!” Abu Sufyan bertanya, “Demi ayah dan ibuku, bagaimana cara menghadapinya?” “Kalau kau kalah perang, pastilah beliau menjatuhimu hukuman mati. Naiklah keledai ini, agar engkau kubawa menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku akan memintakan perlindungan bagimu kepadanya”, kata Abbas. Lihatlah persahabatan antara dua tokoh Bani Hasyim dan Bani Umayyah ini.

Tidak hanya sampai di situ, bahkan Abbas mengusahakan agar wibawa Abu Sufyan tetap terjaga. Ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang yang suka dipandang (berbangga). Karena itu lakukanlah sesuatu untuknya.” Rasulullah menjawab, “Baiklah. Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman…”.

Abbas tidak hanya memohon agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perlindungan bagi Abu Sufyan. Tapi, ia juga mengusahakan agar Abu Sufyan mendapat keistimewaan yang tidak didapat orang Quraisy lainnya. Inilah persahabatan.

Bani Umayyah dan Bani Hasyim di Masa Islam

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu dan mendakwahkan Islam, banyak klan Quraisy yang memusuhi beliau. Entah mengapa, seolah-olah Bani Umayyah lah yang dikesankan sangat memusuhi dakwah ini. Padahal anggota klan Bani Hasyim sendiri juga memusuhi beliau. Seperti paman beliau, Abu Lahab bin Abdul Muthallib. Sepupu beliau Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muthallib. Dan Aqil bin Abu Thalib bin Abdul Muthallib. Permusuhan mereka tak kalah hebat dibandingkan dengan orang-orang Bani Umayyah.

Para propagandis lupa bahwa sebagian Bani Umayyah tergolong para pelopor yang paling dahulu masuk Islam. Bahkan, jumlah Bani Umayyah yang pertama-tama masuk Islam bisa jadi lebih banyak daripada Bani Hasyim. Utsman bin Affan bin Abul Ash bin Umayyah adalah salah satu Bani Umayyah yang paling dahulu masuk Islam. Putra-putra Said bin al-Ash bin Umayyah: Khalid bin Said dan Amr bin Said juga termasuk golongan pertama yang memeluk Islam. Khalid bin Said sendiri adalah orang yang kelima yang masuk Islam. Demikian juga dengan saudaranya, Amr bin Said, yang turut dua kali hijrah. Kemudian Aban bin Said. Khalid dan Aban adalah putra Said bin al-Ash yang menjadi pencatat wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lathif, 2014: 20).

Tapi sayang, bukti sejarah ini tidak memuaskan para pemuja hawa nafsu untuk tetap menghujat Bani Umayyah. Meskipun orang-orang Bani Umayyah ini telah mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk Islam. Rasulullah bahagia dengan keislaman mereka. Pemuja hawa nafsu tetap teguh pada kekeliruan mereka.

Bani Umayyah Diangkat Nabi Jadi Pejabat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu kedudukan Bani Umayyah, sehingga beliau senang dengan keislaman mereka. Beliau memberikan tempat dalam pemerintahannya guna memanfaatkan potensi mereka. Di antara contohnya adalah:

  • Nabi mengistimewakan Abu Sufyan dibanding orang-orang Quraisy lainnya saat Fathu Mekah.
  • Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah diangkat menjadi wali kota Najran.
  • Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah diangkat menjadi sekretaris Rasulullah.
  • Rasulullah mengangkat Attab bin Usaid bin Abul Ash bin Umayyah menjadi wali kota pertama untuk kota suci Mekah setelah peristiwa Fathu Mekah.
  • Rasulullah mengangkat Amr bin Said bin al-Ash bin Umayyah sebagai kepala desa Khaibar, Wadi al-Qura, Taima, dan Tabuk
  • Rasulullah mengangkat al-Hakam bin Said bin al-Ash bin Umayyah sebagai kepala pasar di Mekah.
  • Rasulullah mengangkat Khalid bin Said bin al-Ash bin Umayyah sebagai wali kota Shan’a.
  • Rasulullah mengangkat Aban bin Said bin al-Ash sebagai Gubernur Bahrain.

Pengangkatan orang-orang Bani Umayyah sebagai pejabat-pejabat Rasulullah, merupakan bukti konkrit akan pengakuan Nabi terhadap sifat amanah dan bagus keislaman mereka. Tokoh-tokoh besar lainnya adalah al-Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, Shafwan bin Umayyah, Yazid bin Abu Sufyan, dan Hakim bin Hizam.

Kesimpulan

Sikap sebagian Bani Umayyah sebelum terjadi Fathu Mekah tentulah sepakat kita kecam. Tidak seorang pun yang dapat membelanya. Namun permusuhan mereka terhadap Rasulullah bukan karena dendam. Atau permusuhan lama yang mengakar antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim (ahlul bait).

Setelah memeluk Islam, terutama setelah Fathu Mekah, Bani Umayyah menempati posisi-posisi penting. Bahkan menjadi orang-orang kepercayaan Rasulullah. Benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا

“Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak. Orang yang mulia pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang mulia juga dalam Islam apabila ia paham agama.” (HR. Muslim).

TUJUH ULAMA BESAR DI MADINAH ZAMAN TABI’IN RODLIYALLOHU’ANHUM

7 Ulama Besar Kota Madinah

Bagi Anda yang suka membaca buku-buku biografi dan sejarah Kota Madinah, tentu tak asing dengan istilah fuqoha sab’ah(الفقهاء السبعة). Suatu istilah yang ditujukan kepada tujuh orang tabi’in (murid para sahabat) yang merupakan ulama besar di Madinah zaman itu. Zaman tabi’in adalah zaman banyak ulamanya, namun tujuh orang yang hidup di masa bersamaan ini begitu menonjol dan menjadi rujukan utama. Dari mereka tersebar ilmu dan fatwa di dunia Islam (Haji Khalifah: Salmu al-Wushul ila Tabaqat al-Fuhul, 5/189).

Tujuh ulama (fuqoha sab’ah) itu adalah Said bin al-Musayyib, Urwah bin az-Zubair bin Awwam, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, Ubaidullah bin Abdullah, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dan Sulaiman bin Yasar. Untuk nama ketujuh diperselisihkan siapa orangnya; Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf atau Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab atau Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits.

Pertama: Said bin al-Musayyib

Said bin al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb al-Makhzumi al-Qurasyi. Kun-yahnya adalah Abu Muhammad. Ia adalah tokoh utama tabi’in. Kedudukannya di tengah-tengah para tabi’in bagaikan kedudukan Abu Bakar di antara para sahabat. Said dilahirkan di masa pemerintahan Umar bin al-Khattab. Ibunya adalah Ummu Said binti Hakim.

Dari sisi keilmuan, tentu Said sangat luar biasa. Ia adalah pakar dalam bidang hadits dan fikih. Sosoknya adalah pribadi yang zuhud dan wara’. Walaupun sibuk dengan ilmu dan dakwah, ia juga tetap bekerja untuk kehidupan dunianya. Tabi’in yang mulia ini adalah seorang pedagang minyak zaitun. Dan ia tidak menerima pemberian.

Said bin al-Musayyib wafat di Kota Madinah pada tahun 94 H. Ada juga yang menyatakan beliau wafat pada tahun 89 H. Pendapat lainnya menyebutkan 91 H. Atau 92 H, 93 h, atau 105 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/89-109).

Kedua: Urwah bin az-Zubair

Urwah bin az-Zubair adalah putra dari sahabat yang mulia az-Zubair bin al-Awwam. Satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. saudaranya adalah seorang sahabat. Yaitu Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhu. Dengan demikian, Urwah adalah seorang Quraisy yang nasabnya Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab. Kun-yahnya Abu Abdullah.

Ibu Urwah adalah Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia dilahirkan pada tahun 29 H. Pendapat lain menyatakan 23 H.

Ulama yang mulia ini sama sekali tak pernah turut campur dalam fitnah perpecahan. Dan perjalanan hidupnya tidak hanya dihabiskan di Kota Madinah. Ia pernah tinggal di Bashrah. Kemudian menuju Mesir dan menikah di sana. Lalu tinggal di negeri Nabi Musa itu selama tujuh tahun. Setelah itu baru ia kembali ke Madinah dan wafat di kota nabi itu pada tahun 94 H. Ada yang mengatakan 92, 93, atau 95 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/136-139).

Ketiga: al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq.

Dari silsilah namanya tentu kita mengetahui, ulama dengan nasab Quraisy ini adalah cucu dari khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Kun-yahnya adalah Abu Muhammad atau Abu Abdurrahman. Ibunya adalah seorang budak perempuan yang bernama Saudah.

Al-Qasim dilahirkan di Kota Madinah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tentu al-Qasim adalah seorang yang shalih dan terpecaya riwayat haditsnya. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkomentar tentangnya, “Kalau seandainya aku memiliki hak mengangkat pemimpin, maka akan aku angkat al-Qasim bin Muhammad menjadi seorang khalifah.”

Di masa tuanya, al-Qasim mengalami kebutaan. Dan ia wafat di Madinah pada tahun 106 H. Pendapat lain menyatakan 107 H, 108 H, atau 112 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/142-148).

Keempat: Ubaidullah bin Abdullah

Nasab Ubaidullah adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Hudzali al-Madani adh-Dharari. Kun-yahnya Abu Abdullah. Ia merupakan seorang mufti Madinah dan termasuk tabi’in yang paling berilmu. Ia seorang imam yang kuat hafalan dan argumentasinya. Seorang mujtahid. Yang terpercaya haditsnya, banyak riwayatnya, dan pandai bersyair. Ia adalah salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz.

Ubaidullah wafat pada tahun 102 H. Atau 97 H, 98 H, atau 99 H (Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat, 5/63).

Kelima: Kharijah bin Zaid bin Tsabit

Nama dan nasabnya adalah Kharijah bin Zaid bin Tsabit al-Anshari an-Najjari. Adapun kunyahnya Abu Zaid. Ibunya adalah Ummu Saad binti Saad bin Rabi’. Ia adalah seorang tabi’in mulia. Seorang ahli ilmu dan ahli ibadah. Di masa hidupnya, ia sempat menjumpai masa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Kharijah wafat pada tahun 90 H atau 100 H. saat itu usianya hanya 40 tahun saja (Ibnu Hibban dalam Masyahir Ulama al-Amshar, Hal: 106).

Keenam: Sulaiman bin Yasar

Sulaiman bin Yasar atau yang juga dikenal dengan kun-yah Abu Abdurrahman adalah bekas budak dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits radhiallahu ‘anha. Ia merupakan saudara dari Atha’ bin Yasar.

Sulaiman dilahirkan pada tahun 34 H, pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Ia merupakan seorang ahli ilmu lagi terpercaya. Hadits-haditnya pun banyak. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhum.

Ulama besar tabi’in ini wafat pada tahun 104 H. Dan beberapa riwayat lain menyebutkan: 107 H, 109 H, dan 110 H. Sementara usianya adalah 73 tahun. Ada pula yang menyatakan 76 tahun (al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir 4/41).

Sementara untuk nama ketujuh ada beberapa pendapat. Mereka adalah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam.

Ketujuh (1): Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf

Beliau adalah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/118). Kita tahu Abu Salamah adalah kun-yahnya. Dan ia lebih dikenal dengan kun-yah dibanding namanya. Terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdullah. Versi lainnya, namanya adalah Islamil. Dan ada pula yang mengatakan namanya memang Abu Salamah (adz-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam, 2/1199).

Ibunya adalah Tumadhur (تماضر) binti al-Ashbagh al-Kulabiyah Qurasyi (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/118). Ia dilahirkan pada tahun 20-an H. Dari tahun lahirnya, kita mengetahui bahwa Abu Bakar merupakan seorang generasi awal tabi’in (adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala, 4/287-288).

Abu Bakar bin Abdurrahman bin Auf adalah seorang ulama yang terpercaya. Seorang fakih. Dan banyak riwayat haditsnya. Ia termasuk seorang Quraisy yang paling utama dan ahli ibadah di tengah suku elit tersebut. Ia adalah imam dan panutan di Kota Madinah. Kedudukan tinggi yang ia capai tentu tidaklah mengherankan kalau kita mengetahui guru dekatnya. Ia adalah sepupu nabi, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu. Karena ketinggian ilmunya, ia pun sempat menjabat hakim Kota Madinah di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Tabi’in yang mulia ini wafat pada tahun 94 H di masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Saat itu usianya tengah menginjak 72 tahun.

Ketujuh (2): Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab

Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab al-‘Adawi al-Qurasyi. Kun-yahnya adalah Abu Amr. Atau Abu Abdullah. Ibunya merupakan seorang budak. Salim adalah seorang ulama yang dikenal wara’, terpercaya, dan banyak haditsnya. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya sendiri, Abdullah bin Umar. Juga Abu Hurairah, Abu Ayyub al-Anshari, dll. radhiallahu ‘anhum. Salim wafat di Kota Madinah, tahun 106 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/149-155).

Ketujuh (3): Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits

Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi al-Qurasyi. Ada yang berpendapat bahwa Abu Bakar hanyalah kun-yahnya saja. Adapun namanya adalah Muhammad. Namun pendapat yang lebih tepat adalah nama dan kun-yahnya sama. Yaitu Abu Bakar.

Abu Bakar dilahirkan di masa pemerintahan Umar bin al-Khattab. Ia seorang ulama yang fakih dan terpercaya. Ia juga meriwayatkan banyak hadits. Ia dijuluki sebagai ahli ibadahnya Quraisy karena begitu banyak ia mengerjakan shalat. Ia wafat di Madinah pada tahun 94 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/159-161).

MINORITAS SUNNI DI TENGAH MAYORITAS PENGANUT SYI’AH

Iran merupakan sebuah negara yang mayoritas penduduknya berpaham Syi’ah. Sementara, sebagian dari masyarakat Indonesia yang sebagian besar penganut Sunni selalu menaruh curiga terhadap Iran dengan Syi’ahnya. Bahkan, tak jarang diadakan seminar-seminar yang memuat propoganda kebencian dengan mengatakan bahwa Syi’ah bukan bagian dari Islam. Oleh karena itu, mereka memandang Syi’ah sebagai sebuah ancaman.

Selain itu, mereka juga meyakini bahwa hidup sebagai Sunni di Iran penuh dengan penderitaan. Mereka percaya, Sunni di Iran mendapatkan perlakuan diskriminatif dan tidak bebas menjalankan aktifitas keagamaannya. Bukan hanya itu, nyawa mereka pun terancam karena ke-Sunni-an mereka. Itu adalah informasi-informasi yang diyakini kebenarannya oleh sebagian dari masyarakat Indonesia.

Mayoritas masyarakat Iran memang menganut Syi’ah. Namun, bukan berarti agama dan paham lain tidak eksis di negara tersebut. Penganut Sunni juga ada di Iran. Selain itu, di sana juga terdapat penganut Kristen, Yahudi, dan Majusi. Mereka semua dijamin kebebasannya oleh Undang-Undang Iran. Bahkan, setiap minoritas mempunyai perwakilan yang duduk di parlemen untuk menyuarakan aspirasinya di pemerintahan.

Penganut Sunni di Iran biasanya berasal dari etnis Arab, Turkmen, Kurdi, Azeri dan Balochi. Mereka menempati bagian sisi-sisi negara yang berbatasan dengan negara lain. Etnis Balochi misalnya berbatasan langsung dengan Pakistan. Suku Turkmen yang berbatasan dengan negara Turkmenistan. Azeri mendiami wilayah dekat dengan Turki dan Azerbaijan. Suku Kurdi dan Arab yang berbatasan dengan negara Irak. Selain itu, Sunni juga banyak ditemukan di daerah Khurasan perbatasan dengan Afghanistan. Daerah-daerah tersebut adalah kantong dimana banyak penganut Sunni hidup.

Mereka semua hidup aman tanpa ada intimidasi dari pihak manapun. Tak jarang dalam satu kampung, penduduknya terdiri dari Sunni dan Syi’ah. Mereka dapat hidup berdampingan tanpa harus ada pertikaian. Sikap toleransi antara mereka tercermin dalam perayaan-perayaan keagamaan. Salah satunya adalah perayaan maulid Nabi. Bagi Sunni, maulid Nabi dirayakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal, sedangkan Syi’ah tanggal 17 di bulan yang sama. Pada tanggal-tanggal tersebut, mereka biasanya saling mengundang untuk merayakan bersama tanpa saling menyalahkan.

Penganut Sunni juga mempunyai masjid dan lembaga pendidikan sendiri. Lembaga pendidikan Sunni salah satunya terdapat di kota Mashad, Khurasan dengan nama Darul Ulum. Lembaga tersebut mirip seperti pondok pesantren di Indonesia lengkap dengan kajian kitab kuningnya.

Selain lembaga yang khusus untuk kelompok masing-masing, ada juga pusat pendidikan untuk kelompok yang berbeda. Lembaga tersebut dikenal dengan Taqrib baina Madzahib atau pendekatan antar madzhab. Lembaga ini menampung penganut Sunni maupun Syi’ah untuk belajar bersama di satu tempat. Tujuannya jelas yaitu untuk meningkatkan kesalingpahaman antara keduanya. Setidaknya ada dua lembaga seperti ini, satu di Teheran yang lebih menyerupai universitas dan satunya di kota Gorgon yang lebih mirip seperti pesantren.

Di lembaga antar madzhab ini fenomena yang tersaji sangat meneduhkan. Perbedaan tidak menghalangi mereka untuk bersatu. Ketika salat misalnya baik Sunni maupun Syi’ah akan salat berjamaah dengan cara mereka masing-masing. Yang bertugas menjadi imam pun silih berganti tanpa monopoli.

Selain di daerah perbatasan, Tehran sebagai ibukota negara juga dihuni banyak Sunni. Untuk melihat geliat Sunni di Tehran cukup mengikuti salat Jum’at di masjid-masjid mereka. Banyak orang berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah mingguan tersebut. Mereka biasanya adalah pekerja yang berasal dari etnis yang disebutkan di atas. Jadi, itu adalah berita bohong jika dikatakan Sunni mengalami kesusahan bahkan hanya untuk melaksanakan salat Jum’at di Iran.

Jadi, sebaiknya kita memang harus berhati-hati dengan informasi yang beredar. Kita wajib melakukan klarifikasi terhadap informasi yang diperoleh dari seorang yang kompeten agar tidak menjadi korban hoaks. Di tengah kemudahan informasi, selalu ada upaya dari pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menebarkan kebencian dan adu domba. Sudah saatnya kita bersikap bijaksana dalam menyikapi isu-isu yang mengarah kepada perpecahan.

KENAPA SANTRI BANYAK YANG TIDAK MENGUASAI SAINS? PADAHAL KITAB KUNING GUDANGNYA

Menjelang usia satu abad organisasi NU melalui lembaga pendidikannya berupa pondok pesantren masih terus eksis berperan membangun masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui forum-forum kajian, halaqah dan diskusi ala pesantren-an, seperti Bahtsul Masail yang belum lama dilaksanakan pada MUNAS dan MUBES NU di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar kota Banjar pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019, banyak sekali menghasilkan keputusan-keputusan yang mungkin bisa membantu para pemangku kebijakan dan pengelola pemerintahan dalam mengurai permasalahan bangsa ini. Forum Bahtsul Masail biasanya dihadiri oleh para Kyai-Kyai dan cendekiawan yang memiliki keahlian dalam keilmuan Islam.

Di forum bergengsi tersebut berbagai macam persoalan keagamaan dan kebangsaan yang belum ada hukumnya, belum pernah dibahas oleh ulama dahulu akan didiskusikan secara mendalam dalam forum ini. Menurut Idris Mas’udi, seorang pegiat Bahstul Masail jebolan pesantren Lirboyo dan Darussunnnah: “Pada gilirannya forum ini menjadi wadah utama untuk merawat tradisi intelektual di tubuh NU dalam merespons dan menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban hukum.”

Sedangkan rujukan utama dalam menjawab hukum-hukum di forum tersebut selain al Qur’an dan Hadits adalah pendapat ( qaul ) para ulama yang banyak bertebaran dalam lembaran Kitab Kuning.

Jadi, bisa dipastikan para peserta Bahtsul Masail adalah seseorang yang memiliki penguasaan Kitab Kuning. Sebab, penguasaan Kitab Kuning atau (Kutub al Turats) merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh intelektual-intelektual NU.

Di lingkungan NU, penguasaan terhadap Kitab Kuning diajarkan sangat ketat dan disiplin di lembaga pendidikan yaitu pesantren. Kurikulum pesantren yang berbasis Kitab Kuning dari berbagai disiplin keilmuan menjadi ciri khas tersendiri, baik ditingkat pemula (ibtida), pertengahan (wustha) dan tinggi (‘ulya). Para santri dituntut harus menguasai dalam bidang Fiqh misalnya; Mabadi al Fiqhiah, Safinah al Najah, Riyad al Badi’ah, Fath al Qarib, Fath al Mu’in dan Jam’u al Jawami’. Dalam bidang Nahwu; Matn al Ajurumiah, al ‘Imrithi, Mutammimah Kawakib al Duriah, dan Alfiah Ibnu Malik. Dalam bidang Akidah; Aqidah al ‘Awam, Kifayah al ‘Awam, Fath al Majid, Umm al Barahin, dan Syarah Umm al Barahin karya Al Dasuki. Begitu pula bidang lainya yaitu Tafsir, Hadits, ‘Ulum al Qur’an, Mushtalah al Hadits, Balaghah, Mantiq, dan Qira’ah.

Pesantren sudah cukup lama mengajarkan dan mengembangkan kajian keilmuan-keilmuan tersebut, namun ada beberapa bidang keilmuan yang belum banyak atau tidak tersentuh sama sekali oleh pesantren yaitu bidang ilmu-ilmu eksakta dan humaniora. Padahal Kitab Kuning yang ditulis oleh ulama terdahulu banyak juga yang mengkaji keilmuan tersebut.

Integrasi Keilmuan Pesantren

Fathi Hasan Malkawi dalam buku Manhajiyah al Takamu al Ma’rifi menyebutkan istilah Integrasi keilmuan ( al Takamul al Ma’rifi ) biasanya disematkan kepada seorang ensiklopedis yang memiliki kemampuan dan kepakaran terhadap berbagai disiplin keilmuan. Hal ini tidak sedikit kita menjumpai dari para ulama pesantren yang memiliki kemampuan dan kepakaran tidak hanya dalam satu bidang ilmu tertentu saja seperti bahasa atau sastra, namun pakar juga dibidang fiqh, ulum al Qur’an, ulum al hadits, sejarah, astronomi, hingga ilmu kedokteran dan matematika. Pada waktu itu, ilmu kedokteran selalu bergandengan dengan ilmu teologi. Para dokter sering merangkap dengan ahli metafisik dan filsafat. Ibnu Sina misalnya, dikenal pakar Filsafat juga kedokteran, Ibnu Rusyd terkenal ahli fiqh, teologi, filsafat dan kedokteran, dan Ibnu Taimiyah banyak menulis fiqh, teologi, hadits, tasawuf dan logika. Imam Thabari tidak hanya dikenal sebagai pakar tafsir, namun dikenal juga pakar fiqh, sejarah dan sastrawan. Ibnu Khaldun tidak hanya seorang petualang politik, namun beliau dikenal sebagai sejarawan, hakim mazhab Maliki di Mesir dan sebagai peletak dasar ilmu sosiologi, ekonomi, serta pendidikan.

Sejak dipercaya oleh guru saya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menjadi kepala pesantren dan madrasah Aliyah al Tsaqafah pada tahun 2013, yaitu tahun pertama pesantren berdiri dan diresmikan hingga sekarang, Saya selalu memberikan pemahaman kepada para santri tentang pentingnya integrasi ilmu-ilmu pengetahuan, bahwa disana tidak ada dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Semua cabang keilmuan sama pentingnya untuk dipelajari oleh para Santri. Adapun yang membedakan adalah klasifikasi pembagian dan peng-kelompok-an, baik sekala prioritas atau hukum mempelajari seperti diungkapkan oleh Imam al Ghazali dengan istilah “Ihya ‘Ulumuddin”.

Beliau mengkelompokan ilmu dari sisi hukum, yaitu Fardlu ‘Ain dan Fardlu Kifayah. Fardlu ‘Ain sudah jelas, sedangkan Fardlu Kifayah beliau membagi lagi, ada yang Syar’i dan bukan Syar’i. Kelompok Syar’i terbagi lagi, ada yang terpuji (mahmud), tercela (mazdmum), dan mubah.

Jika kita mengamati pemikiran Imam Syafi’i, kita akan mendapati beliau adalah seorang penganjur integrasi keilmuan. Beliau mengistilahkannya dengan “ Jima’ al ‘Ilm” atau Qiyas. Beliau mengkelompokan ilmu menjadi ; ’Ilm al Dien dan ‘Ilm al Dunya, ‘Ilm al Dien terbagi ; ‘Ammah ( Fardlu ‘Ain ) dan Khashshah ( fardlu Kifayah ). Begitu pula Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah yaitu bagian pertama dari kitab beliau berjudul al ‘Ibr wa Diwan al Mubtada wa al Khabar fi Tarikh al ‘Arab wa al ‘Azam wa al Barbar, beliau mengistilahkannya dengan ‘Ilm al Shanai’, terbagi dalam kelompok ; Thabi’i, yaitu ilmu hasil pemikiran manusia itu sendiri seperti hikmah atau filsafat dan Naqli, yaitu ilmu yang hanya diperoleh dari (khabar) informasi dari Tuhan dan disini tidak ada peran akal sama sekali kecuali hanya mengqiyaskan saja. Dengan demikian, apa yang sudah disebutkan oleh Imam Syafi’i, al Ghazali dan Ibnu Khaldun bahwa ilmu-ilmu pengetahuan seluruhnya terintegrasi, dan tidak ada dikotomi diantara cabang satu keilmuan dengan lainnya.

Urgensitas pembelajaran ilmu eksakta, sains dan humaniora di pesantren

Sebenarnya ada beberapa bidang keilmuan eksakta yang diajarkan di pesantren seperti Falak dan Faraid (disiplin ilmu penghitungan waris dalam fikih), namun itu sangat minim pengajarannya, kebanyakan pesantren mengajarkannya hanya sebagai mapel tambahan, bukan termasuk pembelajaran pokok dalam KBM seperti halnya Nahwu dan Fiqh.

Begitu pula bidang humaniora, pengajaran sejarah misalnya mungkin masih sebatas Sirah Nabawiyah seperti Khulashah Nurul Yaqin karya Umar Abdul jabar. Oleh karena itu, mestinya pesantren melalui Kitab Kuning harus mengajarkan dan mengembangkan bidang keilmuan tersebut. Saya meyakini bidang eksakta dan humaniora sama seperti Nahwu dan Fiqh atau lainnya, yaitu memiliki tahapan-tahapan kajian mulai dari level dasar sampai tingkat tinggi sehingga bisa diajarkan kepada para santri sesuai dengan tingkatan pembelajaran.

Salah satu contoh kitab kuning di bidang matematika yang sangat populer, selain kitab al Mukhtashar fi ‘Ilm al Jabar wa al Muqabalah karya Abu Musa al Khawarizmi, ada karya Ibnu Yasamin seorang ulama pakar matematika hidup sekitar abad 12 di kota fes Maroko berjudul al Urjuzah al Yasaminiyah fi al Jabr wa al Muqabalah atau Poem on Algebra and Restoration berbentuk syair ber-bahr rajaz seperti nazdam Alfiyah Ibn Malik dalam bidang gramatika bahasa Arab. Beliau memberikan rumusan tentang aljabar yang ia pahami pada masanya.

Menurutnya, aljabar terkait dengan angka, akar, dan rangkaian angka. Beliau memuat juga tentang persamaan yang dibuat al Khawarizmi berserta cara untuk memecahkan persamaan tersebut. Disisi lain, Ibnu Yasamin memberikan penjelasan tentang perbandingan, perkalian dan pembagian. Ada juga kitab ulama akhir abad 19 berjudul Risalah fi ‘Ilm al Jabar wa al Muqabalah ditulis oleh Syekh Ahmad zaini Dahlan.

Karya lain, yaitu bidang kedokteran yang ditulis oleh Ibnu Thufail berjudul Urjuzah fi al Thib. Puisi berbahar rajaz itu terdiri dari tujuh ribu tujuh ratus bait. Setelah muqaddimah, Ibnu Thufail mengawali pembahasan pertama tentang jenis-jenis penyakit di bagian kepala, seperti sakit kepala, mencegah rambut beruban sebelum waktunya, kurap di kepala, kotoran telinga, termasuk juga penyakit malaria dan jenis penyakit lainnya termasuk metode pengobatannya. Di akhir kajian, Ibnu Thufail menutup dengan pembahasan jenis-jenis penyakit badan akibat faktor ekternal dan cara pengobatannya dan tentang racun yang terbagi dalam empat puluh bab. Dan tentu masih banyak karya ulama terdahulu di bidang eksakta dan humaniora, seperti karya Ibnu Sina, Abu Qasim al Zahrawi, al Razi dan lainnya.

Dari sini, dunia pesantren dewasa ini sebenarnya sudah melakukan peng-integrasi-an ilmu-ilmu pengetahuan eksakta, humaniora dan agama dengan hadirnya sekolah-sekolah formal di lingkungan pesantren. Baik MTs, MA dalam kementrian agama, atau SMP, SMA dan SMK dari kemendikbud. Namun, yang saya tekankan disini adalah kajian-kajian eksakta dan humaniora yang bersumber langsung dari kitab kuning atau ( kutub al Turats ). Setidaknya kita bisa memberi bekal informasi kepada para santri bahwa ulama-ulama kita dahulu tidak sekedar menguasai ilmu-ilmu agama, namun mereka pakar bahkan menjadi peletak utama dasar-dasar ilmu-ilmu modern. Sehingga akan lahir generasi santri yang memiliki wawasan keilmuan multi disiplin. Wallahu A’lam bi Shawab.

SAYYIDINA UMAR BIN KHOTOB RA MEMBEBASKAN YERUSALEM

Yerusalem menjadi kota multiagama. Namun, menurut Nurcholis Madjid, setelah Yerusalem menjadi kota Kristen, para pemimpin Kristen sama sekali tidak memperbolehkan pemeluk Yahudi tinggal di kota tersebut.

(BEGITU JUGA YANG AKAN TERJADI KEPADA UMAT ISLAM DI BELAHAN DUNIA INI KETIKA SUDAH KALAH DARI UMAT LAIN.)

Perjanjian Muslim-Nasrani pasca-perang Yarmuk menjadi sejarah penting kerukunan umat beragama yang pernah ditampilkan Khalifah Umar bin Khattab. Hingga kini, Yerusalem masih diyakini masing-masing pemeluk agama samawi, yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani sebagai kota suci. Sejarah mencatat, kota ini sudah terbentuk ratusan tahun, bahkan ribuan tahun silam. Bagaimana tidak, Yerusalem sudah menjadi tempat lahir dan tinggalnya para nabi, seperti Nabi Sulaiman, Nabi Dawud, dan Nabi Isa, bahkan Nabi Muhammad pun pernah singgah saat menjalani Isra’ dan Mi’raj, tepatnya sebelum naik ke Sidratul Muntaha (Nurcholis Madjid, Fatsoen, Nurcholis Madjid, Jakarta: Penerbit Republika, 2002, hal. 57). Tak heran jika kota ini mendapat banyak julukan yang populer di masa para penguasanya, antara lain Jerusalem, al-Quds, Yerushaláyim, dan Aelia, yang menurut Abul Fida’, nama terakhir ini berarti ‘baiturrabb’ atau ‘rumah tuhan’ (Tarikh Abul Fida, 49). Yang terakhir ini memang jarang terdengar, tetapi faktanya nama inilah yang disebutkan Umar bin Khattab dalam surat perjanjian dengan kaum Nasrani. Sebab, pada masa Khalifah Umar bin Khathab-lah Yerusalem, sebuah kota yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘damai’, menjadi wilayah kekuasaan Islam. Sementara pada masa Nabi Muhammad, begitu pula zaman khalifah pertama Abu Bakar, Yerusalem belum terbebaskan (Tim Sunrise Pictures, (Ed.) Astutiningsih, Seratus Keajaian Dunia, Jakarta: Cikal Aksara-AgroMedia, 2010, hal. 18).

Ada yang menarik untuk dicermati dalam peristiwa pembebasan kota Yerusalem oleh Khalifah Umar bin Khathab. Dikisahkan, pada tahun 637 M, pasukan Islam sudah mendekati wilayah Yerusalem, yang saat itu di bawah tanggung jawab Uskup Sophronius selaku perwakilan Bizantium sekaligus kepala Gereja Kristen Yerusalem. Tatkala pasukan muslim pimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash sudah mengepung kota itu, Sophronius tetap tidak bersedia menyerahkan Yerusalem kepada kaum Muslimin. Pasalnya, sang uskup ingin langsung menyerahkannya kepada Khalifah Umar bin Khattab. (Tim Penusun, Al-Muslimun, Penerbit Yayasan Al-Muslimun, 1994, hal. 42). Mendengar kabar itu, Umar pun bergegas ke Yerusalem dengan berkendara seekor keledai, ditemani seorang pengawalnya. Setiba di Yerusalem, Umar disambut Sophronius yang benar-benar merasa kagum atas kesederhanaan dan kesahajaan sosok pemimpin yang satu itu. Kagum karena seorang penguasa bangsa yang kuat kala itu hanya bersandangkan busana lusuh ala kadarnya yang banyak jahitan dan tidak jauh berbeda dengan busana ajudannya. Sungguh jauh dengan penampilan para pemimpin dunia sekarang (Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar bin Khattab, Jakarta: Zaman-Serambi, 2009, hal. 95).

Oleh Uskup Sophronius, Umar sempat diajak mengelilingi Yerusalem, bahkan mengunjungi Gereja Makam Suci, yang menurut keyakinan Kristen, Nabi Isa pun dimakamkan di sana. Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilakan Umar untuk shalat di dalam gereja, namun Umar menolaknya, “Jika mendirikan shalat dalam gereja ini, saya khawatir orang-orang Islam nantinya akan menduduki gereja ini dan menjadikannya sebagai masjid.” Mereka mengambil alih gereja untuk dibangun masjid, dengan alasan Umar pun pernah shalat di situ, yang akibatnya kaum Nasrani jadi tersisih dan terzalimi (Kisah Hidup Umar bin Khattab, hal. 96; Rahasia di Balik Penggalian Al Aqsha, Jakarta: Ramala Books, 2007, hal. 54). Akhirnya, Umar memilih shalat di luar gereja, yang di kemudian hari, tepat di tempat Umar shalat itu dibangunlah masjid bernama Masjid Umar bin Khattab yang posisinya bersebarangan dengan Gereja Makam Suci kaum Nasrani. Untuk menunjukkan tingginya toleransi, maka shalat berjamaah pun tidak dilakukan di masjid itu, yang berarti agar kumandang azan tidak mengganggu jamaah gereja. Sungguh sebuah model kerukunan yang mengagumkan bagi pemeluk agama samawi di mana pun. (Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar bin Khattab, Jakarta: Penerbit Zaman-Serambi, 2009, hal. 96). Pembebasan Yerusalem pada masa pemerintahan Umar bin Khattab di tahun 637 M benar-benar peristiwa yang sangat penting dalam sejarah kerukunan dan perdamaian. Selama 462 tahun ke depan wilayah ini terus menjadi daerah kekuasaan Islam dengan jaminan keamanan memeluk agama dan perlindungan terhadap kelompok minoritas berdasarkan pakta yang dibuat Umar ketika membebaskan kota tersebut. Bahkan pada tahun 2012, ketika konflik Palestina kian memuncak, banyak umat Islam, Yahudi, dan Kristen menuntut diberlakukannya kembali pakta tersebut dan membuat poin-poin perdamaian yang merujuk pada pakta itu sebagai solusi konflik antara umat bergama di sana.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab hubungan antara kaum Muslimin dengan kaum Nasrani berlangsung harmonis. Hubungan itu tertuang dalam perjanjian Aelia, yaitu perjanjian antara orang-orang muslim dengan Kristen pasca-perang Yarmuk yang dimenangkan oleh tentara Umar. Ketika itu, Shapharnius selaku pemimpin Kristen kelahiran Damaskus, menyepakati untuk menyerahkan kunci-kunci kota Al-Quds kepada Umar bin Khattab, dengan syarat Umar harus memberikan jaminan untuk menghormati ritual dan tradisi umat Nasrani. Umar pun menyepakati persyaratan itu, sehingga ketika memasuki kota Al-Quds tak ada setetes darah pun yang tercecer. Dan setelah pembebasan pun, tak ada satu pun perlakuan buruk Khalifah Umar kepada kaum Nasrani. (Zuhairi Misrawi, Al-Quran Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lilalamin, Jakarta: Pustaka Oasis, 2010, hal. 355).

Abdul Husein Sya’ban sebagaimana dikutip Zuhairi Misrawi, menyebut perjanjian Umar bin Khattab itu dengan Uhdah Umariyyah (Perjanjian Umariyah), yang isinya mengatur hak dan kewajiban antara umat muslim Yerusalem dengan penduduk non-Muslim. Perjanjian ini ditandatangani langsung oleh Umar bin Khattab, Uskup Sophronius, dan beberapa perwakilan kaum muslimin.

Teks perjanjian tersebut berbunyi sebagaimana di bawah (Muhammad Mas’ad Yaqut, Nabiyurr Rahmah: ar-Risalah wal-Insan, Kairo: az-Zahra lil-I’lam al-Arabiy, 2007, hal. 72): Dengan nama Allah Yang Maha Esa Pengasih dan Maha Penyayang. Inilah jaminan keamanan yang diberikan hamba Allah, Umar, Amir al-Mu`minin kepada penduduk Aelia: Ia menjamin mereka keamanan untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, serta dalam keadaan sakit ataupun sehat, dan untuk agama mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari lingkungannya; serta tidak dari salib mereka, dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak dari seorang pun dari mereka boleh diganggu. Dan di Aelia tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka. Atas penduduk Aelia (Yerusalem) diwajibkan membayar jizyah sebagaimana jizyah itu dibayar oleh penduduk kota-kota yang lain (di Syria). Mereka berkewajiban mengeluarkan orang-orang Romawi dan kaum al-Lashut dari Aelia (Yerusalem). Tetapi jika dari mereka (orang-orang Romawi) ada yang keluar (meninggalkan Aelia) maka ia (dijamin) aman dalam jiwa dan hartanya sampai tiba di daerah keamanan mereka (Romawi). Dan jika ada yang mau tinggal, maka ia pun akan dijamin aman. Dia berkewajiban membayar jizyah seperti kewajiban penduduk Aelia. Dan jika ada dari kalangan penduduk Aelia yang lebih senang untuk menggabungkan diri dan hartanya dengan Romawi, serta meninggalkan gereja-gereja dan salib-salib mereka, maka keamanan mereka dijamin berkenaan dengan jiwa mereka, gereja mereka dan salib-salib mereka, sampai mereka tiba di daerah keamanan mereka sendiri (Romawi). Dan siapa saja yang telah berada di sana (Aelia) dari kalangan penduduk setempat (Syria) sebelum terjadinya perang tertentu (yakni, perang pembebasan Syrya oleh tentara Muslim), maka bagi yang menghendaki ia dibenarkan tetap tinggal, dan ia diwajibkan membayar jizyah seperti kewajiban penduduk Aelia; dan jika ia menghendaki, ia boleh bergabung dengan orang-orang Romawi, atau jika ia menghendaki ia boleh kembali kepada keluarganya sendiri. Sebab tidak ada suatu apa pun yang boleh diambil dari mereka (keluarga) itu sampai mereka memetik panenan mereka. Atas apa yang tercantum dalam lembaran ini ada janji Allah, perlindungan Rasul-Nya, perlindungan para Khalifah dan perlindungan semua kaum beriman, jika mereka (penduduk Aelia) membayar jizyah yang menjadi kewajiban mereka. Menjadi saksi atas perjanjian ini Khalid Ibn al-Walid, Amr Ibn al-Ashsh, Abdurrahman Ibn Auf, dan Muawiyah Ibn Abi Sufyan. Ditulis dan disaksikan tahun lima belas (Hijriah). (Musthafa Murad, Kisah Hidup Umar bin Khattab, Jakarta: Zaman-Serambi, 2009, hal. 95.

Meski dalam redaksi Arabnya tertulis Elia, sebagaimana dalam Tarikh Al-Quds Al-Arabiyyah, tetapi dalam menerjemahkan perjanjian tersebut, penerjemah menggunakan istilah Yerusalem. Lihat pula: Muin Hasib Farajullah, Tarikh Al-Quds Al-Arabiyyah, Yerusalem: Daru Saad As-Shabah, 1997). Melalui perjanjian itu, Umar bin Khattab membebaskan para penduduk Yerusalem beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, termasuk kaum Yahudi. Ini merupakan fakta penting dalam sejarah kerukunan umat beragama yang pernah ditampilkan oleh seorang Khalifah Umar yang sebelum masuk Islam terkenal sebagai sosok yang keras. Memang dalam perjanjian itu disebutkan, kaum Yahudi tidak diperbolehkan tinggal di Yerusalem, namun hal itu bukan berasal dari permintaan Umar, melainkan permintaan Uskup Sophronius. Pasalnya, kaum Nasrani tidak menyukai kaum Yahudi (Tim Balitbang PGI, Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia: Theologia Religionum, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007, hal. 182). Dalam sebuah riwayat, Umar bertanya, “Mengapa orang Yahudi tidak boleh? Harus boleh!” Uskup Sophronius menjawab, “Kalau begitu jangan dicampur sama orang Kristen, karena orang Kristen tidak menyukai orang Yahudi.” Dengan sangat terpaksa, Umar mengkapling Yerusalem menjadi empat kapling atau khai (dan sekarang masih ada), yang terdiri dari (1) kapling Kristen Armenia, (2) kapling Ortodoks, yang keduanya tidak dipersatukan, (3) kapling Yahudi, dan paling besar (3) kapling kaum muslimin. Sejak itu Yerusalem menjadi kota multiagama. Namun, menurut Nurcholis Madjid, setelah Yerusalem menjadi kota Kristen, para pemimpin Kristen sama sekali tidak memperbolehkan pemeluk Yahudi tinggal di kota tersebut (Nurcholish Madjid dan Asrori S. Karni, Pesan-pesan Takwa Nurcholish Madjid: Kumpulan Khutbah Jum’at di Paramadina, Jakarta: Paramadina, 2000, hal. 115).

SEJARAH PENTING PARA NABI AS. DI HARI ASYURO 10 MUHARROM

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut:

(1) Nabi Adam ‘alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya.

 (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan.

(3) Selamatnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar.

(4) Nabi Yusuf ‘alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah.

(5) Nabi Yunus ‘alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu.

(6) Nabi Ayyub ‘alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan.

(7) Nabi Musa ‘alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya.” (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka.” Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga.” (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu.” (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram.

Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No: 1977)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram.” (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram.

Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah.

Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.

SEJARAH ISLAM : MUJADDID DARI MASA KE MASA DAN KEDUDUKAN IMAM ROMLI SERTA IMAM IBNU HAJAR AL-HAITAMY

Daftar Mujaddid Dari Abad ke Abad

Mujaddid adalah orang yang menghidupkan atau mengembalikan apa yang hilang dari agama, dan memperjelas yang mana sunnah dan mana yang bidah. Mujaddid ada dalam kurun waktu seratus tahun sekali , sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

ان الله يبعث لهذه أﻷمة من يجدد لها دينها رواه أبو راود والحاكم والبيهقي

“Sesungguhnya allah mengutus untuk umat ini seorang mujaddid” (HR. Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi)

 

Berikut ini nama-nama mereka dari abad pertama sampai ke tiga belas:

  1. Umar bin Abdul Aziz.
  2. Muhammad bin Idris as-Syafi’i.
  3. Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij al-Baghdadi
  4. Abu hamid Ahmad bin Muhammad al-Isfiraini, Syaikh/Guru besar Khurasyiin. Pendapat kedua mengatakan mujaddid abad ke/kurun keempat ini adalah Abu Sahal Muhammad bin Sulaiman as-Sa’aluki.
  5. Abu hamid Muhammad bin al-Ghazali/Imam Ghazali
  6. Abu Qasim Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i/Imam Rafi’i
  7. Taqiyuddin Muhammad bin Daqiq al-‘id/ Syaikh Daqiqil ‘id.
  8. Siraj Umar bin Ruslan al-bulqaini/Imam Bulqaini
  9. Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Ada yang mengatakan kalau Mujaddid abad ini adalah Syaikh Zakaria al-Anshari.
  10. Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli/Imam Ramli.
  11. Sayid Abdul Qadir bin Abu Bakar al-‘Aidarus al-Hadharami. Pendapat kedua mengatakan Mujaddib abad ini adalah Sayid Muhammad bin Rasul al-Barzanji al-Madani
  12. Syihab Ahmad bin Umar ad-Dairabi. Pendapat keduan mengatakan Mujaddid abad ini adalah Abdur Rauf Basyibisyi al-Misri.
  13. Abdullah bin Hijazi as-Syarqawi.

Demikianlah tiga belas orang Mujaddid mulai dari qurun/abad pertama hingga tiga belas baik yang disepakati atau tidak (khilaf) menurut Syaikh Muhammad Isa Yasin Alfadani dalam kitab beliau Fawaid Janiyyah. Mengingat banyaknya para Ulama yang mencukupi Syarat untuk menjadi Mujaddid saat itu, maka banyak sekali perbedaan siapa yang jadi Mujaddid pada amsa itu, Terlepas dari demikian, kita semua mengakui kalau mereka adalah orang yang menghidupkan Sunnah Rasulullah saw dan menumpas Bid’ah, pewaris sekaligus penjaga agama dari fitnah dan kemunafikan golongan-golongan yang mendakwa diri beragama padahal amalan mereka tidak menjelaskan demikian. Wallahua’lam.

Referensi: Fawaidul Janiah hal 73

 

Kedudukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli dalam Mazhab Syafi’i

Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H) dan Imam Syamsuddin Muhammad Ramli (919-1004 H) yang di kenal dengan gelar syafii shaghir (Imam Syafii Kecil), merupakan dua ulama mutaakhirin dalam mazhab Syafii yang menjadi rujukan utama para ulama semasa dan sesudah keduanya sampai sekarang. Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.

Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, dan kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihabuddin Ramli.

Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihabuddin Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli”.

Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “kemungkinan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.

Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramalisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.

Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain”. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”. Pernyataan Syeikh Sai`d Sunbul ini juga di ikuti oleh Syeikh Muhammad Shalih al-Muntafiqy.

Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, Itsmidul ainaian fi ba’dh ikhtilaf asy-Syaikhaini karangan karangan Syeikh ‘Ali Bashiri yang di cetak bersamaan dengan kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Ba’alawi al-Hadhrami, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi.

Ibnu Hajar, selain dengan kitab Tuhfahnya juga di kenal karena banyak meninggalkan kitab-kitab karangan yang lain dalam berbagai jenis ilmu.

 

Beberapa kitab Ibnu Hajar dalam ilmu fiqh adalah :

  1. Tuhfatul Muhtaj Syarah Minhaj
  2. al-Imdad Syarah al-Irsyad
  3. Fathul Jawad Syarah al-Irsyad (3 jilid)
  4. Ittihaf ahli al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam
  5. al-I’lam bi Qawathi’ al-Islam
  6. Idhah al-Ahkam lima Ya`khuzuhu al-‘Ummal wa al-Hukam
  7. al-`i’ab Syarah al-Ubab
  8. Hasyiah ‘ala Idhah Manasik Imam Nawawi
  9. Syarah Mukhtashar ar-Raudh
  10. Syarah Mukhtashar Abi Hasan al-Bakri
  11. Syarah Muqaddimah Bafadhal yang kemudian di beri hasyiah oleh ulama Nusantara, Syeikh Mahfudh Termasi
  12. Kaff ar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima`
  13. Fatawa Kubra Fiqhiyah, sebuah kitab kumpulan fatwa-fatwa beliau.

Dalam kitab fatwa tersebut banyak kitab-kitab risalah Ibnu Hajar yang merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang datang kepada beliau.

Dari kitab-kitab Imam Ibnu Hajar al-Haitami tersebut, yang lebih di dahulukan adalah Kitab Tuhfah Muhtaj `ala Minhaj Thalibin kemudian kitab al-Imdad, selanjutnya Syarh Bafadhal kemudian kitab Fatawa beliau, kemudian kitab Syarah al-Ubab.

Di Indonesia, ilmu fiqh kedua imam ini berkembang dengan baik. Kitab fiqh yang banyak membawa pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami yang di ajarkan di pesantren di Indonesia antara lain, Fathul Mu’in yang merupakan karangan murid Ibnu Hajar al-Haitami, Syeikh Zainuddin al-Malibari, Hasyiah Qalyubi ‘ala Syarah al-Mahalli. Sedangkan kitab fiqh yang banyak membawa pendapat Imam Ramli yang di ajarkan di pesantran antara lain kitab Hasyiah al-Bajuri karangan Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah Syarqawi ‘ala Syarah Tahrir karangan Syeikh Abdullah Syarqawi, Kitab Hasyiah Bujairimi karangan Syeikh Sulaiman al-Bujairimi. Sedangkan Hasyiah I’anatuth Thalibin karangan Sayyid bakri Syatha lebih sering membawa pendapat kedua Imam ini ketika terjadi perbedaan di antara keduanya tanpa menguatkan salah satunya.

Referensi:

Fawaid Madaniyah, Syeikh Sulaiman Kurdi , Dar Nur Shabah th 2011

Ibnu Hajar al-Haitami, Abdul Mu’izz Abdul Hamid, Kairo th 1981

MENGENANG JASA SAYYIDINA UMAR BIN KHOTTOB RA DI TAHUN BARU ISLAM

Menjelang wafat pada tahun 634 M, Abu Bakar As-Shiddiq Ra berwasiat Umar sebagai penggantinya. Umar enggan memakai sebutan khalifah, tetapi memakai sebutan Amirul mukminin, pemimpin orang-orang beriman. Gelar Amirul Mukminin dalam sejarah Islam hanya disandang oleh Umar bin Khattab Ra.

Khalid Muhammad Khalid dalam Kehidupan para Khalifah teladan menulis, “Menemui Amirul Mukminin tidak seperti menemui raja dan penguasa lainnya. Keadaannya jauh berbeda. Tidak ada tempat bagi makanan, minuman yang nyaman dan kehidupan yang penuh kenikmatan. Ia ahli ibadah yang ibadahnya membangkitkan kecerdasan, amal dan kebangkitan. Dia adalah pengajar yang membetulkan pengertian-pengertian kehidupan.”

Selama 10 tahun memimpin, Umar merilis beragam kebijakan. Diantaranya,  dialah yang pertama memakai pegawai khusus untuk mengurusi pungutan dan premi. Mengutip Atlas Sejarah Islam (2011), pungutan itu dipakai untuk menggaji tentara dan kemashlahatan kaum Muslimin. Pungutan ini ada 4 macam: kharaj, usyur (1/10 hasil bumi), sedekah dan jizyah (12 dirham per tahun). Umarlah yang memerintahkan agar mata uang dirham bertuliskan “Allahu akbar.”

Umar melakukan terobosan yaitu menghentikan pendistribusian zakat untuk salah satu asnaf, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam, alasannya karena kondisi negara telah kuat. Atas saran Ali bin Abi Thalib, umar memungut zakat atas kuda yang oleh Rasulullah dibebaskan dari zakat. Karnaen A. Perwataatmadja dalam Jejak rekam Ekonomi Islam (2008) menyebut terobosan ini merupakan tuntutan pada saat itu. Kuda tidak pernah dikembangkan untuk diperdagangkan dalam skala besar pada masa Rasulullah dan hanya dipakai sebagai alat transportasi, sedangkan di masa Umar memimpin, kuda-kuda diternakkan dan diperdagangkan dalam jumlah besar.

Selain itu Umar tercatat pernah menaklukkan Suriah dan palestina. Kemudian Irak dan Persia. Di Yerussalem, Umar terlibat dalam pembangunan masjid yang kemudian dikenal dengan “Masjid Umar”. Prestasi lainnya yang perlu dikenang di masa Amirul Mukminin ini adalah penerapan kalender Hijriyah.

KLIK DI SINI UNTUK PENJELASAN LENGKAP SEJARAH KALENDER HIJRIYYAH

DO’A AKHIR DAN AWAL TAHUN BARU ISLAM

KIAT AGAR KITA SEMAKIN BAIK DI SISI ALLOH DI AWAL TAHUN BARU ISLAM

Sebelum meninggal dunia, lagi-lagi Umar tak lelah memikirkan nasib generasi penerusnya. Amirul Mukminin masih sempat membentuk majelis Syura untuk memilih penggantinya. Ada enam sahabat yang tergabung didalamnya, diantaranya: Usman bin Affan, Ali bin Abi thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Sa’ad hingga Abdurrahman bin Auf. Pada akhirnya, Usman bin Affan yang terpilih sebagai penggantinya.

Majid ali Khan dalam Sisi hidup para Khalifah Saleh (2000), menyebut Umar pernah meminta kepada Siti Aisyah RA agar dimakamkan disebelah makam Rasul. Meski Aisyah bermaksud menyediakan tempat tersebut bagi dirinya sendiri, tetapi demi permintaan Umar, maka Aisyah memberikan kepada umar. Menurut Ahmad al-Usairy dalam Sejarah Islam (2005), Umar meninggal dunia gara-gara ditusuk Abu Lu’luah al-Majusi dengan belati beracun.

Akhir kata, sekalipun Amirul Mukminin telah meninggalkan kita, namun prestasi dan pengaruh kepemimpinan masih dapat dirasakan hingga kini. Tak heran, sarjana Barat yakni Michael H. Hart memasukkan Umar ke dalam daftar “100 tokoh paling Berpengaruh Sepanjang Masa.” Dalam bukunya, Hart menulis: “Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan (futuhat) dalam Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam dapat menyebar luas sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang. Penaklukan di bawah kepemimpinan Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama, lebih bermakna daripada apa yang dilakukan oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.”

Wallahu’allam.

PARA ULAMA DAN RAJA JUGA PANGLIMA PERANG YANG TIDAK HAJI SAMPAI AKHIR HAYAT

Haji itu rukun Islam. Haji itu kemuliaan. Haji itu sejarah agaung umat Islam. Betul semua. Semua itu tak terbantahkan. Tapi kita harus akui juga, haji itu bukan segala-galanya. Dari sisi mana kita menilai haji bukan segala-galanya?

Salah satunya dari sisi bahwa banyak ulama, tokoh penting dalam sejarah Islam, tidak sempat, atau tidak ditakdirkan naik haji. Siapa ulama yang belum haji?

Beberapa di antara mereka banyak yang belum mampu berhaji karena beberapa hal. Salah satunya adalah Imam Syirazi.

Beliau bernama lengkap Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali al-Syirazi dan lahir di Kota Fairuzabad pada awal abad 10 Masehi. Beliau adalah pengarang al-Muhadzdzab, sebuah matan ensiklopedik tentang fikih Mazhab Syafi’i.

    Kenapa Imam Syirazzi tidak haji? Kekurangan materi menjadi penyebab beliau tidak mampu pergi berhaji.

Dalam Siyar A’lam al-Nubala’, al-Dzahabi menceritakan bahwa makanan sehari-hari beliau adalah bubur tsarid yang dicampur dengan kuah sayuran. Namun beliau tetap sabar menerima keadaannya.

Meski tidak pernah pergi berhaji, dalam kitab fikihnya terutama al-Muhadzdzab beliau sanggup menjelaskan detil-detil ibadah haji, bahkan hingga tata letak Kakbah dan tempat-tempat sekitarnya beliau mampu menjelaskannya. Di kalangan pesantren (namun penulis tidak pernah menemukan referensinya) jamak dikisahkan bahwa beliau pergi berhaji secara kasyaf.

Tokoh selanjutnya adalah ‘Ali bin Ahmad Ibnu Hazm. Seorang penghafal puluhan ribu hadis dari Andalus. Beliau lahir di Kordoba pada November 994 Masehi dari ayah seorang pejabat ternama di Dinasti Umayyah kedua yang berkuasa di Andalus.

Beliau dikenal karena ketajaman pikiran beliau, keteguhan dalam mempertahankan pandangan, serta pelestari mazhab Zhahiriyyah yang saat itu hampir punah di Timur Tengah. Al-Muhalla Bil Atsar adalah masterpiece beliau dalam menuangkan pandangan-pandangan beliau.

Abu Zahrah ketika menjelaskan biografi Ibnu Hazm mengatakan bahwa meski beliau terlahir dari keluarga berkecukupan pada awalnya, namun ketika ayah beliau meninggal beliau tinggal di sebuah perkebunan dan membuat gubuk sederhana untuk mengajar murid-murid beliau. Hal ini dikarenakan sebuah konflik yang menimpa beliau. Hal ini juga tak terlepas dari pribadi beliau yang teguh dalam memegang pendapat—namun diiringi pula oleh keilmuan yang mumpuni.

Kondisi geografis yang jauh membuat beliau tidak mampu pergi berhaji. Maklum saja, jika kita melihat catatan harian Ibn Jubair dari Granada dalam Rihlat ibnu Jubair membutuhkan waktu tujuh bulan perjalanan menunaikan ibadah haji. Tidak sedikit pula para ulama yang berkata bahwa orang Maghrib (nama bagi daerah Islam yang paling barat mencakup Maroko, Spanyol, Portugal, dan lain-lain) sudah tidak berwajib melaksanakan haji di masa itu. Meskipun fatwa ini berlebihan, namun kondisi yang ada memang tidak memungkinkan untuk melaksanakan haji.

    Menariknya, dalam Zadul Ma’ad, Ibnu Jauzi menukil bahwa Ibnu Hazm pernah berkata bahwa Sa’i antara Shafa dan Marwah dilakukan sebanyak empat belas kali. Hal ini bisa dimaklumi karena Ibnu Hazm belum pernah berhaji.

Meskipun demikian, nukilan Ibnu Jauzi ini tidak penulis temukan di al-Muhalla, karya fikih Ibnu Hazm yang terbesar. Dalam forum-forum internet ramai dibincangkan bahwa Abu Turab al-Zhahiri (seorang alim dari India, peneliti Ibnu Hazm, dan pengajar di Al-Azhar) yang meninggal pada tahun 2002, pernah melakukan badal haji untuk Ibnu Hazm.

Ulama berikutnya adalah Qadhi ‘Iyadh, seorang hakim agung dari tanah Maroko yang meninggal tragis (anggota tubuhnya dipotong-potong) karena dituduh Yahudi hanya karena beliau tidak pernah keluar ketika hari Sabtu. Padahal beliau mengkhususkan hari itu untuk mengarang kitab. Versi lain mengatakan bahwa beliau dibunuh karena tidak mau mengakui Ibnu Tumart sebagai Imam Mahdi, versi ini lebih masyhur.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat bahwa Qadhi ‘Iyadh mengatakan tawaf wada’ harus dilakukan dua kali karena dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa setelah tawaf wada’ Nabi saw pergi ke Abthah yang ada di utara Makkah dan beliau mengulangi tawafnya ketika beliau hendak pulang ke Madinah.

Mengomentari ini Ibnu Hajar berkata, “Hal ini bisa dimaklumi karena Qadhi ‘Iyadh belum pernah menyaksikan Makkah secara langsung.”

    Adapula Ibnu Sidah seorang ahli bahasa dan penghafal hadis dari Andalus pernah mengatakan bahwa lempar jumrah dilakukan di ‘Arafah. Kenapa? Karena belum haji.

Pahlawan Islam yang Tidak Haji: dari Mufasir, Panglima Perang, hingga Raja

Haji adalah rukun Islam kelima. Maka tidak diragukan lagi status wajibnya ibadah haji. Namun ada satu syarat haji yang terpenting, yakni mampu. Mampu memiliki dua konotasi: mampu harta dan mampu jasmani. Jika syarat “mampu” ini tidak terpenuhi, maka haji tidak wajib bagi orang tersebut.

Sejarah mencatat ada beberapa  ulama dan tokoh-tokoh penting, bisa dikatakan pahlawan dalam Islam, yang tidak berhaji hingga akhir hayatnya. Tentu saja beliau-beliau tidak berhaji karena tidak mampu. Berikut adalah ulama-tokoh Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Al-Baghowi

Nama lengkapnya adalah Husein bin Mas’ud. Dia adalah ulama besar bermazhab Syafi’i. Dia juga seorang penafsir Alquran dan membuat sebuah karangan yang terkenal dalam bidang tafsir berjudul Ma’alimut Tanzil.

Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’ menyebutkan bahwa Baghowi belum pernah berhaji. Barangkali kemiskinan adalah penyebabnya.

Baghowi lahir pada tahun 433 H di kota Marw Rudz (sekarang Bala Murghab Afghanistan). Beliau lahir dari keluarga tidak mampu. Dzahabi menceritakan bahwa sejak kecil Baghowi hanya makan roti tanpa lauk karena kemiskinannya. Kadang-kadang ia mencampurnya dengan minyak zayt saat bosan makan hanya dengan roti hambar.

Namun kemiskinan tidak pernah menyurutkan semangat belajarnya. Dia sangat aktif menghadiri pelajaran-pelajaran yang diampu Qadli Husein, seorang ulama Syafi’iyah yang masyhur. Bahkan karena kedekatannya dengan gurunya ini, saat ia meninggal ia dimakamkan bersebelahan dengan Qadli Husein.

Ibnu Abdil Barr

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Abdullah. Beliau lahir di Kordoba pada tahun 368 H. Beliau adalah ulama bermazhab Maliki dan digelari orang paling alim di tanah Maghrib di zamannya. ‘Ali Asy-Syibli seorang da’i  dari Arab Saudi pernah bercerita dalam ceramahnya bahwa mufti Saudi Abdul Aziz Alu Syaikh pernah melakukan badal haji untuk Ibnu Abdil Barr.

Jarak yang jauh adalah penyebab ketidakmampuan Ibnu Abdil Barr berhaji. Karena memang penduduk Andalus jarang ada yang berhaji karena jarak yang jauh. Rihlah Ibnu Jubair mencatat bahwa perjalanan dari Andalus menuju Makkah menghabiskan waktu sekitar tujuh bulan. Maka perjalanan pulang pergi menghabiskan waktu lebih dari setahun.

Salahuddin Al-Ayyubi

Beliau adalah panglima perang yang membebaskan Yerusalem dari tangan Tentara Salib. Ya, benar beliau belum pernah berhaji sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Syadad dalam Nawadir Sulthoniyyah.

Mengenai penyebab beliau tidak berhaji, Ibnu Syadad mengatakan bahwa Salahuddin adalah orang miskin, meskipun ia panglima perang. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan harta jarahan yang ia dapat? Nah, di situlah kehebatan Salahuddin. Dia adalah pria zuhud yang sangat jujur sehingga harta jarahan tidak pernah masuk ke kantongnya melebihi jatahnya.

Bahkan Ibnu Syadad mencatat Salahuddin tidak pernah zakat. Bukan karena apa, tapi karena ia sangat miskin sehingga hartanya tak pernah mencapai nishab zakat.

Raja-raja Utsmani

Jika kita biasa baca buku tarikh semacam Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, maka seringkali kita temukan kata “Di tahun ini Harun Rasyid berhaji .. di tahun itu Al-Manshur berhaji .. di tahun sekian Al-Makmun berhaji ..”

Namun tidak demikian dengan sultan dan khalifah Utsmaniyyah yang berjumlah tiga puluh raja lebih itu. Tidak ada satu buku sejarah pun yang mencatat mereka pernah berhaji (kecuali Abdul Hamid II, sebagian sumber mengatakan ia pernah berhaji sembunyi-sembunyi). Ya benar, kekhilafahan yang diidam-idamkan kelompok Hizbut Tahrir ini rajanya tidak pernah berhaji. Syakib Arslan dalam bukunya Tarikh Daulah Utsmaniyyah pun mengakui hal ini.

Sebaliknya, catatan tentang selir raja-raja Utsmani yang katanya jumlahnya puluhan ribu justru memenuhi buku-buku tarikh tentang Utsmani.

IJTIHAD KITAB KUNING KH. WAHAB CHASBULLOH UNTUK PRESIDEN RI 1 “BUNG KARNO”

Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah akrab dengan kitab kuning tidaklah aneh. Itu sudah sewajarnya seorang kiai. Kitab kuning telah mendarah daging dalam sosok seorang ulama. Yang khas dari beliau adalah mampu mengaktualisasikan kitab kuning tersebut di tengah kehidupan politik.

Penulis mendapatkan cerita dari KH. Dimyathi Rois, paman penulis dari jalur istri, saat sowan Lebaran di ndalem-nya, komplek pesantren  Al Fadlu wal fadilah Kaliwunggu Kendal.

Alkisah, pada kahir dekade 50-an dan awal dekade 60-an. Presiden  Soekarno sedang bersitegang dengan pemerintah kerajaan Belanda terkait klaim Wilayah Irian Barat. Indonesia mengeluarkan ultimatum bahwa maksimal tahun 1960 Belanda sudah harus menyerahkan Papua Barat ke Indonesia sebagaimana kesepakatan perjanjian.

Tetapi Belanda terlihat ngotot mendudukinya dan tidak terlihat ada itikat baik menyerahkan. Beberapa upaya perundingan selalu kandas. Dalam pada itu, Bung Karno senantiasa meminta petunjuk dari para ulama sepuh.

Bung Karno menghubungi KH. Wahab Chasbullah (Rais Am Nadhatul Ulama) di Tambakberas Jombang. Bung Karno menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang belanda yang masih bercokol  di Irian Barat. Kiai Wahab menjawab tegas, ”Hukumnya sama dengan orang yang Ghosob”.  Bung Karno bertanya lagi, “apa artinya  ghosob, Kiai?” Mbah Wahab menjawab, “ghosob itu istihqaqu malil ghair bi ghairi idznihi; menguasai hak milik orang lain tanpa ijin”.

“Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yang ghosob?”  tanya Bung Karno lag.

“Adakan pendamaian,” tegas Kiai Wahab. Lalu bung Karno bertanya lagi, “Menurut insting Kiai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil? Sementara pendudukan ini sebenarnya sudah tidak sah sebagaimanan isi perjanjian sebelumnya?”

Mbah Wahab menjawab, “Tidak”.

“Lalu kenapa kita tidak potong kompas saja, kiai?” tanya Bung karno sedikit memancing.

“Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata Kiai Wahab.

Selanjutnya Bung Karno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Seperti perkiraan, perundingan ini pun akhirnya gagal.

Kegagalan ini disampaikan bung Karno kepada kiai Wahab. “Kiai, apa solusi selanjutnya meneyelesaikan masalah Irian Barat?”

Mbah Wahab menjawab, “Akhodzahu Qohron”  (ambil kuasai dengan paksa!).

Bung Karno bertanya, “Sebenarnya apa rujukan Kiai untuk memutuskan masalah ini?”

Mbah Wahab Menjawab, “Saya mengambil literatur kitab  Fathul qorib  dan syarahnya ( Al-Bayjuri)”.

Setelah itu barulah Bung Karno membentuk barisan komando mandala dan ultimatum Trikora (Tiga Komando Rakyat) untuk diberangkatkan merebut Irian Barat. Demikianlah kisah bagaimana kokohnya ulama indonesia dalam menjalankan syariat Agama melalui produk turunan fiqihnya beserta produk turunannya.

“Kita bisa membayangkan, jika Fathul qorib dan al-Bayjuri  yang notabene kitap fikih dasar di pesantren dan madrasah diniyah, bisa dikontekstualisasikan untuk menyelesaikan masalah internasional seperti kasus Irian Barat, bagaimana dengan kitab-kitab lain yang level pembahasanya lebih tinggi, kompleks dan mendalam?” terang Kiai Dimyanthi kepada penulis.

Cerita ini beberapa kali di sampaikan KH. Dimyanthi Rais kepenulis dalam beberapa kali kesempatan sowan  ke beliau. Tentu disela sela rangkaian dawuh  beliau mengisahkan cerita-cerita ulama-ulama masa lalu lainya.  Sebenarnya beliau mewanti-wanti untuk tidak mempublikasikan dengan alasan tidak ada sumber bukunya. Tetapi mengingat betapa kuatnya pesan cerita itu untuk generasi mendatang, saya terpaksa menerjang wanti-wanti ini .

”Cerito iki ojo ditulis mergo ora ono sumber bukune, tapi aku oleh soko wong tsiqah, dadi aku percoyo seratus persen, yoiku almarhim yai Saefudin Zuhri, mentri agama RI jaman Bung Karno, mosok aku ra percoyo karo kiai Syaifudin?”.  Demikian KH. Dimyat Rois menutup pembicaraan kala itu.

Kisah Mbah Wahab Chasbullah dan nasihat Fathul qorib-nya kepada Bung Karno ini juga pernah didapatkan dari almarhum KH. Hamid baidhowi Lasem saat sowan-sowan ke ndalem beliau bersama saudara-saudara Tambakberas lainya. (Tulisan ini diambil dari buku: Sejarah Tambakberas Menelisik Sejarah, Mencari Uswah)