BERUSAHA BERTAUBAT DALAM MENGAMALKAN THARIQAH MU’TABARAH

Taubat

  1. Pengertian

Bagi seseorang pengamal tasawuf/tarikat, taubat adalah dasar utama untuk membersihkan diri dari dosa lahir maupun batin. Taubat sama dengan fondamen untuk suatu bangunan dan sama dengan akar bagi suatu pohon. Karena itu taubat harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya yaitu taubatan nashuha, yakni seseorang bertaubat lahir bathin dan ber’azam (bertekad bulat) untuk tidak melakukan dosa lagi.

Orang yang tidak bertaubat dengan taubat nashuha, adalah sulit baginya untuk meningkatkan kualitas Iman dan Takwa atau untuk meningkatkan kebersihan rohaniahnya pada tingkat- tingkat atau makam-makam dalam pengamalan tasawuf dan tarikat selanjutnya. Karena itu dikatakan bahwa orang yang tidak bertaubat, maka tidak ada makam baginya, sebagaimana halnya orang yang tidak punya tanah, tentunya tidak bisa membuat pondasi dan tidak bisa membangun.

Hakikat taubat ialah kembali dari sifat-sifat tercela kepada sifat-sifat terpuji. Yang demikian ini karena takut ancaman azab Allah SWT, atau malu dilihat Allah atau menghormati kebesaran Allah SWT, supaya tidak terjerumus ke dalam murka Allah SWT, seraya mengharapkan keselamatan dengan dekat kepada Allah, sehingga mendapatkan rahmat dan ridlo-Nya.

Seorang sufi terkenal yaitu Ibrahim bin Adham mengatakan hati seseorang mukmin itu laksana cermin. Kalau cermin itu bersih, maka dia akan melihat dan menerima cahaya ke-Tuhanan yang memancarkan Iman dan Takwa. Hati yang bersih itu juga melihat bahaya-bahaya perbuatan mungkar, termasuk juga mengetahui bahaya-bahaya yang dibisikkan oleh syetan. Kalau seseorang berbuat dosa, maka pada cermin hati itu tertutup oleh suatu bintik hitam, dan bintik hitam ini akan hilang dengan sendirinya manakala seseorang itu taubat. Manakala seseorang itu tidak taubat dan mengulangi perbuatan maksiat terus menerus, maka tertutuplah seluruh hati itu dengan bintik-bintik hitam, dan pada saat itu hati tersebut tidak sanggup lagi menerima nasehat kebaikan, bahkan menjadi butalah hatinya untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan agama, dan menganggap enteng seluruh urusan akhirat. Orang tersebut bergelimang selalu dengan kebesaran dan kemegahan dunia. Apabila dibicarakan kepadanya masalah agama dan akhirat dengan segala akibatnya, semuanya itu masuk dari telinga kanan dan keluar ke telinga kiri, serta tidak sedikitpun tergerak dalam hatinya untuk bertaubat. Kondisi yang demikian ini sama dengan seorang sakit parah, tidak bermanfaat lagi makanan baginya, sebagaimana halnya hati yang telah berkecimpung dengan cinta dalam kemegahan dunia dan tidak bermanfaat lagi baginya semua nasehat dan peringatan. Maka menjadilah dia seperti yang dikisahkan dalam Al Quran surat Al Mumtahanah 60 : 13,

Artinya : Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap hari akhirat, sebagaimana orang- orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.

Atau seperti dalam firman Allah SWT,

Artinya : Pada hari datangnya beberapa ayat Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah,”Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu pula” (Q.S. Al An’am 6 : 158).

  1. Kapan Taubat Itu Dilaksanakan

Taubat seseorang itu diterima oleh Allah SWT sebelum ajal (sakaratul maut) tiba. Karena salah satu syarat taubat itu ialah tekad bulat seseorang untuk meninggalkan maksiat dan tidak akan mengulanginya lagi untuk selama-lamanya. Bagi seorang yang sudah sekarat, tidak mungkin persyaratan ini terpenuhi. Seorang yang berbuat maksiat, yang maksiat itu menutup mata hati dan merusak iman, harus segera taubat. Mengulur-ngulurkan taubat, berarti memperbesar penutup mata hati, yang kalau berlarut-larut akan lebih sulit lagi untuk membersihkannya.

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan tiadalah taubat itu diterima oleh Allah SWT dari orang-orang yang mengajarkan kejahatan, yang apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka barulah ia mengatakan,”Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” (Q.S. An Nisa 4 : 18).

Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya taubat disisi Allah SWT hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (tidak tahu) kemudian mereka bertaubat dengan segera (Q.S. An Nisa 4 : 17).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya kebanyakan teriakan penghuni neraka itu adalah dari penundaan- penundaan. (H.R. )

Rasulullah SAW bersabda,

Artinya : Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejahatan itu. (H.R. )

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu membersihkan kejahatan-kejahatan sebagaimana air membersihkan kotoran (H.R. Abu Na’im).

Orang yang bertaubat itu dikasihi dan disukai Allah SWT.

Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang- orang yang mensucikan diri (Q.S.Al Baqarah 2 : 222).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Orang yang bertaubat itu kekasih Allah SWT dan orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa (H.R. Ibnu Majah dari hadis Ibnu Mas’ud).

Syarat orang bertaubat untuk menjadi kekasih Allah SWT manakala terpenuhi ketentuan. Seperti dalam firman Allah SWT,

Artinya : Mereka adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan untuk memelihara hukum-hukum Allah SWT (Q.S. At Taubah 9 : 112).

Sebaliknya orang yang bertaubat tapi masih bergelimang dengan maksiat, samalah dengan orang itu mempermainkan ayat-ayat Allah.

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan adapula orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka tetapi mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. (Q.S. At Taubah 9 : 102).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Orang yang memohon ampun dari dosa, sedangkan dia masih terus menerus mengerjakannya adalah seperti orang yang mengejek ayat-ayat Allah (H.R. Ibnu Abid Dunya dari hadis Ibnu Abbas).

  1. Dasar Hukum

Hukum taubat itu wajib berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Q.S. An Nuur 24 : 31).

Firman Allah SWT,

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat nashuha (Q.S. At Tahrim 66 : 8).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk jasmani kamu dan tidak pula kepada harta kamu, tetapi Allah melihat kepada hati kamu (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat dari kejahatan di siang hari dan membuka tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat kejahatan di malam hari sampai matahari terbit dari sebelah barat (H.R. Muslim dan An Nasai).

Dari penjelasan ayat dan hadis tersebut, maka para ulama muhaqqiqin mengatakan bahwa bertobat itu hukumnya wajib. Allah akan menerima taubat seseorang dan karenanya seseorang itu tidak boleh berputus asa, sebab Allah itu Maha Penerima Taubat.

Firman Allah SWT,

Artinya : Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang mengerjakan sesuatu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa, sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Q.S. Az Zumar 39 : 53).

  1. Syarat-syarat Taubat

Syarat taubat itu adalah :

  1. mohon ampun atau bertaubat dan menyesali perbuatan-perbuatan dosa yang telah lalu.
  2. ber’azam atau bertekad bulat untuk tidak mengulanginya lagi selama-lamanya.
  3. mengembalikan hak-hak orang yang teraniaya kepada yang berhak menerimanya.

Bila perbuatan itu berkenaan dengan orang, hendaklah dia mendatangi orang itu, berbuat baik kepada mereka dan menghilangkan dendam kesumat kepada mereka.

Sewajarnyalah orang yang telah bertaubat berlatih untuk menjadi orang taat, sehingga dia merasakan manisnya taat lebih dari manisnya maksiat. Seseorang itu memulai dengan pencaharian yang halal, bekerja dengan tuntunan hukum syariat Allah SWT sehingga tidak ada terkesan lagi bahwa dia adalah sebagai orang yang jahat atau ‘ashi, tapi terkesan sebagai orang yang shaleh. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud a.s.,

Artinya : “Wahai Daud, pengaduan orang yang berdosa lalu dia bertaubat dengan taubat nashuha lebih Aku sukai dari teriakan orang yang beribadat”. (Amin Kurdi 1994 :376)

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Ada dua titik yang sangat disukai oleh Allah SWT, yaitu titik air mata dari tangisnya orang yang takut kepada Allah dan titik darah yang tertumpah dalam perang sabilillah (H.R. Tarmizi).

  1. Tanda-tanda Diterimanya Taubat

Ada 8 macam tanda-tanda diterimanya taubat :

  1. Seseorang itu takut dalam urusan lidahnya supaya jangan berbicara tentang hal-hal yang tidak baik, apalagi yang mendatangkan dosa yang dilarang dalam agama. Umpamanya : berdusta, menggunjing, dan perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat. Lidahnya ingin disibukkan dengan zikrullah dan membaca Al Quran.
  2. Seseorang itu takut dalam urusan perutnya jangan termakan sesuatu yang haram dan karenanya dia tidak memasukkan kedalam perutnya itu kecuali yang halal.
  3. Seseorang itu takut dalam urusan penglihatannya, jangan terlihat yang haram. Dan kalaupun dia memandang masalah dunia, pandangannya itu adalah pandangan yang memberi ibarat atau iktibar.
  4. Seseorang itu takut dalam urusan tangannya, janganlah terambil sesuatu yang haram. Dan kalaupun tangannya mengambil, tentunya sesuatu yang diambil itu membawa kepada taat.
  5. Seseorang itu takut dalam urusan kakinya, jangan berjalan kepada tempat maksiat. Dan kalaupun kakiknya berjalan tentu menuju taat kepada Allah SWT.
  6. Seseorang itu takut dalam urusan hatinya, jangan terpetik urusan permusuhan, benci dan dengki, dan hendaklah hatinya itu penuh dengan nasehat dan memberi syafa’at kepada sesama muslim.
  7. Seseorang itu takut dalam urusan pendengarannya, supaya tidak mendengar sesuatu, kecuali sesuatu itu adalah yang hak.
  8. Seseorang itu takut dalam urusan taatnya kepada Allah, jangan sedikitpun terpetik ria, pamer dan nifaq (munafiq), kecuali taat itu hanya semata-mata ikhlas karena Allah SWT (Amin Al Kurdi 1994 : 377 – 378).

Itulah tanda-tanda taubat yang tuntas dari seseorang yang diterima oleh Allah SWT.

Dalam pengamalan Tarikat Naqsyabandiyah dianjurkan pengamalnya melaksanakan mandi taubat, dan melaksanakan shalat sunat wudhu dua rakaat setiap sesudah berwudhu, dilanjutkan dengan shalat sunat taubat dua rakaat pula.

Sabda Rasulullah SAW :

Artinya : Dari Qais bin Ashim, ketika dia masuk Islam, Rasulullah menyuruhnya mandi dengan air dan daun bidara. (Q.R. Ahmad, Abu Daud, Tarmizi dan Nasai).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Siapa yang berwudhu dengan cara sebaik-baiknya, kemudiam dia shalat sunat wudhu dua raka’at dengan khusuk, maka Allah akan mengampuni segala dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari Muslim).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Tidak ada seorang hambapun yang telah melakukan dosa, kemudian dia bangun dan berwudhu lalu shalat sunat taubat dua rakaat seraya memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosanya. (H.R. Abu Daud dan At Tarmizi).

Begitu pentingnya masalah melaksanakan taubat, yang setelah itu harus ditindaklanjuti lagi dengan akmalush-shalihat, maka tentu saja tanda-tanda yang tuntas tersebut di atas adalah bagi orang-orang khusus yang berkualitas siddiqin dan wali-wali Allah SWT. Bagi kita yang berkualitas umum dan sebagai murid pengamal tarikat, harus mujahadah, bersungguh-sungguh dan terus menerus agar kualitas itu meningkat dan akhirnya menjadi tuntas. Kita tidak boleh berputus asa, oleh sebab makam yang masih rendah, dan kalau Nur Ilahi telah menyinari hati sanubari, maka zulmah atau kegelapan akan menjadi hilang dan sirna, sebagaimana halnya sinar matahari melenyapkan awan yang menggelapkan dunia.

INILAH LIDAH ORANG YANG BERIMAN MENURUT IMAM GHOZALI RAHIMAHULLAH

Lidah Orang Beriman

Imam Al-Gazali dalam Afatul Lisan karyanya, menjelaskan: “Berkata keji, mencaci maki, dan mengumbar lidah untuk berkata kotor adalah perbuatan buruk dan jelas dilarang oleh Agama.”

“Orang yang beriman bukanlah orang yang gemar mencela, suka mengutuk, berkata keji, dan berlidah kotor.”

“Lidah yang ringan mengucapkan kata-kata kotor dan mengatakan hal-hal yang tidak patut merupakan bagian dari ciri kemunafikan.”

“Ada banyak hal yang mendorong seseorang mudah berkata keji dan mencaci maki, diantaranya adalah bertujuan menyakiti orang lain, atau karena telah menjadi watak dan kebiasaannya karena sering bergaul dengan orang-orang yang juga gemar mencaci maki.”

“Suatu ketika ada seseorang meminta nasehat kepada Nabi saw, kemudian Rasulullah menasehatinya, “Bertakwalah kepada Allah. Jika ada orang mencela dan memakimu dengan sesuatu yang kamu ketahui ada pada dirimu, janganlah kamu membalas dengan menyebut sesuatu yang kamu ketahui ada padanya. Dengan begitu bahaya celaan dan makian itu akan menimpanya, sedangkan pahalanya adalah bagimu. Ingat, jangan mencaci maki sedikitpun.”

“Rasulullah bahkan melarang mencaci orang yang tidak seiman bahkan setelah mereka meninggal. Rasulullah bersabda, “Kalian jangan mencaci maki mereka (yang telah meninggal), karena apa yang kalian ucapkan tidak akan mengubah keadaan mereka, sedangkan perkataanmu sudah pasti menyakiti mereka (yang masih hidup). Ketahuilah, lidah yang kotor itu tercela.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Kemudian, sambil memantapkan niat ‘yang diformalisasi’ itu dalam hati, kita mengangkat tangan sambil mengucap kalimat takbir: Allahu Akbar (Allah Maha Lebih Besar). Secara fikh, hukum mengangkat tangan saat takbiratul ihram adalah sunat, tetapi takbirotul ihramnya sendiri rukun. Alhasil: takbiratul ihram kita tidak akan sah tanpa menggunakan kalimat ‘Allahu Akbar’.

Kalau merujuk pada Syeikh Nawawi dalam Safinah, kita bisa menambahkan sifat Allah yang lain saat takbiratul ihram sepanjang :

(1) tidak menghilangkan sifat akbar.

(2) tidak menjeda terlalu jauh antara asma Allah dan sifat akbar.

Jika jedanya terlalu panjang dan/atau bahkan ada pembacaan yang keliru baik pada asma Allah maupun lafaz akbar, maka takbirnya dianggap tidak sah, alhasil shalatnya juga tidak sah.

Pertanyaannya kemudian: kira-kira kenapa ya, Allah memilih kata ‘akbar’ untuk beliau sandingkan dengan asma-Nya di takbiratul ihram? Padahal, Allah memiliki tak-hingga sifat yang juga, katakanlah, ‘tidak kalah penting’ dibandingkan dengan sifat ‘akbar’? Kenapa tidak Allahu Rahman, Allahu Rahim biar selaras dengan basmalah? Biar selaras dengan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamiin?

Bahkan kalau kita tarik lebih jauh: frasa Allahu Akbar malah adalah frasa yang paling banyak diucapkan oleh muazin saat memanggil kita salat. Ada apa dengan kalimat takbir dan salat?

Di tulisan awal, sudah di tawarkan analogi shalat sebagai sebuah pertemuan, persitatapan, suatu kencan dengan Maha Kekasih. Ada tujuan besar dari pertemuan itu, terkait dengan kedirian kita sebagai hamba-Nya, dan untuk itu Allah mengingatkan kita untuk memetakan kembali alasan dan tujuan segala aktivitas kita. Proses penyadaran itu kemudian dibarengi oleh perintah untuk mengingat kembali siapa diri kita di hadapan-Nya.

Barangkali oleh sebab Allah Maha Tahu kita ini gampang sekali merasa besar, merasa hebat, merasa pintar, hanya karena kita diberi potensi untuk menyadari ‘keberadaan’-nya di antara alam semesta. Apalagi kita sudah disanjung sebagai makhluk sempurna. Kita diuji dengan tarik-menarik akal dan hawa nafsu. Kita dipilih menjadi wakil-Nya di muka Bumi.

Kita tahu bahwa kita ini bahkan lebih kecil dari zarrah di hadapan semesta raya tetapi kemampuan kita mempelajari sang alam membuat kita merasa mampu menaklukkannya. Sedangkan goals dari shalat adalah, selain kecintaan yang bertambah dan ketenangan yang menentramkan dalam hati, juga ketakwaan yang membuat kita bisa mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Alhasil, agar goals itu tercapai dan proses upgrading akhlaknya berhasil, mula-mula Allah perlu mengingatkan kita, secara rutin dan sistematis, bahwa sebesar apapun engkau berbesar kepala, sesungguhnya Beliau Maha Lebih dan Lebih Besar Lagi. Tidak peduli apakah engkau merasa mampu membelah matahari dan menyeberangi samudera, merekayasa genetika dan menghancurkan planet sekali tembak, seungguhnya “Aku Maha Lebih dan Lebih Besar Lagi”, lalu apa yang sesungguhnya engkau banggakan, engkau sombongkan?

Semangat itupulalah yang mesti kita implementasikan saat meng-akbar-kan Allah di luar shalat, saat bertakbir selepas selesai bersitatap dengan-Nya. Sayangnya, sebagaimana digelisahkan oleh Gus Mus, dalam bertakbir kita ini jangankan merasa nihil, yang ada malah meng-akbar-kan ego dan hawa nafsu kita, dengan mempergunakan takbir-nya Allah sebagai alat.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

TASAWUF : OPTIMISME TERHADAP KENYATAAN HIDUP DAN USAHA BUKANLAH SEGALANYA

 Optimisme Terhadap Kenyataan Hidup

La yusyakkikannaka fi al-wa’di ‘adam wuqu’ al-mau’ud, wa-in ta’ayyana zamanuhu, li-alla yakuna dzalika qadhan fi bashiratika, wa ikhmadan li-nuri sariratika.

Janganlah janji Tuhan yang tak terwujud membuatmu meragukan akan janjiNya, meski taruhlah janji itu diberikan waktu yang jelas. Hal itu agar tak merusak kejernihan batinmu, dan memadamkan cahaya rohmu.

Pengertian Umum

Pada bagian terdahulu kita berbicara mengenai doa yang tampak tak pernah atau lama tak terkabulkan. Keadaan itu bisa membuat seorang beriman merasa putus asa, terdampar secara mental.

Intinya, sekali lagi, kita diajak oleh Ibnu Ataillah untuk membiasakan diri melihat hidup secara optimis, walau ia berjalan tak sesuai dengan “kehendak kecil” kita sebagai manusia.

Manakala Tuhan menjanjikan sesuatu, misalnya melalui Kitab Suci atau perantaraan yang lain, dan janji itu ternyata tak terpenuhi, bagaimana sikap kita? Apakah kita harus mengatakan bahwa Tuhan ingkar janji? Haruskah kita marah, kecewa, dan bahkan mencerca Tuhan? Atau, jika Anda seorang ateis atau agnostik: Haruskah Anda mencela kenyataan dan meneriakkan kekecewaan, “Dunia tak adil!”?

Dalam Alquran, Tuhan menjanjikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebaikan di bumi. Ini bisa dibaca di QS 24: 55.

Kenapa, mungkin kita sebagai umat Islam bertanya, kita sekarang justru terpuruk sebagai umat? Kenapa dunia Islam terbelakang? Manakah janji Tuhan akan memberikan kemenangan kepada umat Islam?

    Janji Tuhan yang tak terwujud, atau belum terwujud, janganlah membuat kita meragukan janji-Nya. Jika Anda telah bekerja sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku, sesuai dengan tip-tip kesuksesan yang diwedarkan oleh para juru motivator, janganlah putus asa terlebih dahulu.

Keputus-asaan semacam itu hanyalah akan membuat mata batin Anda menjadi pudar dan padam. Anda akan kehilangan ketajaman untuk melihat peluang lagi. Anda, dengan sikap yang negatif seperti itu, tak akan memiliki “tenaga psikologis” dan semangat untuk berbuat lagi, mencoba lagi, mengulangi lagi. Barangkali ada hal yang salah dalam proses Anda bekerja sebelumnya.

Jika umat Islam saat ini terdampar di pinggiran sejarah, padahal Tuhan menjanjikan dalam Kitab Suci-Nya bahwa Ia akan menolong mereka, janganlah hal itu membuat mereka patah-harapan, atau meragukan janji Tuhan.

Seorang beriman haruslah memiliki pandangan yang optimis tentang sejarah. Dalam pandangan yang seperti itu, keputus-asaan tak masuk dalam kamus seorang beriman.

Manfaat sikap positif semacam ini, kita tahu, adalah memberikan kita suatu tenaga mental untuk terus mencoba kembali. Janji Tuhan dalam bentuk hukum alam –barangsiapa bekerja keras, ia akan menuai hasil—akan pasti terwujud. Tetapi ia terwujud bukan dalam cara yang kita kehendaki. Kadang-kadang, ia terwujud secara tak terduga-duga, dalam bentuk yang tak pernah muncul dalam rencana awal.

Life is full of surprises. Hidup kerap berisi kejutan-kejutan di tikungan. Dan yakinlah, Anda sering mengalami hal semacam ini dalam hidup. Banyak hal yang kita rencanakan secara matang dari awal, dan kita bekerja keras, seraya berdoa, untuk meraih itu. Tetapi, pada ujungnya, rencana itu tak terwujud. Di tikungan hidup, yang muncul justru hal lain. Hal-hal semacam ini kerap-terjadi dalam hidup manusia. Itu mengkonfirmasi kebijaksanaan Ibnu Ataillah ini.

Pengertian Khusus

Ibnu ‘Ajibah, pengarang syarah al-Hikam, memberikan ajaran yang sangat penting bagi orang-orang yang sedang menjalani “suluk” atau perjalanan spiritual, di bawah bimbingan spiritual seorang guru (mursyid).

Ajaran itu ialah: Fandzur ahsan al-ta’wilat wa-l-tamis ahsan al-makharij. Jika engkau berhadapan dengan sebuah janji Tuhan, entah dikatakan lewat wahyu, ilham para wali, atau jalan-jalan yang lain, lalu janji itu tak segera atau malahan tak terwujud sama sekali, maka carilah “takwil” (pemahaman). Carilah cara bagaimana Anda mengerti kenapa sesuatu terjadi seperti itu, dan tidak dengan cara yang lain.

Selalu Ada jalan untuk mengerti kenapa sesuatu terjadi tidak seperti yang dijanjikan. Carilah jalan untuk mengerti, untuk men-takwil. Itulah ajaran dari pengarang komentar atas Kitab Hikam itu. Dengan pengertian seperti itu, seorang murid tarekat bisa menghindarkan pikiran dan sangkaan buruk mengenai Tuhan atau gurunya.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh dari ajaran Syekh Ibnu Ataillah ini?

    Kita, di sini, diajarkan untuk memahami kenyataan hidup yang tak sesuai dengan “hukum realitas” atau janji Tuhan dengan cara tertentu sehingga kita tak memiliki prasangka buruk. Sebab prasangka buruk hanyalah mendatangkan negative thinking, pikiran yang kotor dan situasi kejiwaan yang tak sehat.

 Usaha Penting, Tetapi Bukan Segala-galanya

Min ‘alamatil i’timad ‘alal ‘amal, nuqshan al-raja’ ‘inda wujudil zalal.

Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan atau terpeleset.

Ini kebijaksanaan yang mendalam. Bisa dipahami dalam pengertian “khusus” menurut para ahli mistik/tasawwuf. Atau dipahami secara awam atau umum.

Pengertian Umum

 Seorang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran bahwa ia bisa mencapai sesuatu bukan semata-mata karena pekerjaannya.

Kita berusaha, lalu berhasil. Kita bekerja, lalu sukses. Kita berdagang, lalu untung. Kita belajar, lalu menjadi orang pintar. Kita pedekate, lalu menjadi pasangan. Dan seterusnya. Semua hasil itu jangan semata-mata kita pandang sebagai melulu berkat usaha dan pekerjaan kita.

Kita harus menyisakan sedikit “ruang” bahwa keberhasilan kita ini jangan-jangan tidak seluruhnya karena faktor usaha kita, tetapi juga karena ada fakor X yang kita tidak tahu. Kehidupan manusia adalah sangat kompleks. Kita tidak bisa mengontrol seluruh faktor yang berpengaruh dalam tindakan sosial kita.

Ada faktor-faktor yang luput dari perhitungan dan kontrol kita. Faktor ini bisa membuat usaha kita sukses, bisa juga membuatnya gagal. Sebagai seorang beriman, kita percaya bahwa hanya Tuhan yang berkuasa atas faktor-faktor “misterius” semacam ini. Kalau Anda ateispun, Anda tetap bisa memahami logic di balik kata-kata bijak Ibnu Ataillah ini.

Manfaat dari sikap semacam ini adalah: Anda tidak langsung pesimis dan putus asa saat gagal mencapai suatu hasil. Jika Anda berpikir bahwa usaha Anda adalah satu-satunya faktor penentu, saat Anda gagal, Anda boleh jadi akan ngenes dan sedih: Saya sudah bekerja keras, kenapa tetap gagal?

Ajaran ini mau memberi tahu kita agar kita rendah hati.

Pengertian Khusus

Ada tiga jenis pekerjaan atau amal: amal syariat, amal thariqat, dan amal haqiqat.

Amal syariat adalah ketika Anda menyembah Tuhan sesuai dengan peraturan dan hukum agama. Amal thariqat adalah kesadaran bahwa saat Anda menyembah Tuhan, Anda tidak sekedar menyembah. Melainkan Anda sedang “on the journey”, sedang dalam petualangan dan perjalanan menuju Tuhan. Amal haqiqat adalah pengalaman spiritual yang disebut dengan “syuhud” atau “vision”.

Apa itu syuhud?

    Syuhud itu pengalaman mistik/spiritual yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang sungguh-sungguh menjalani dua amal sebelumnya. Dalam pengalaman itu, Anda merasa seolah-olah berjumpa, menyaksikan (vision) Tuhan. Tentu bukan penyaksian dengan indera lahir. Melainkan dengan indera batin.

Jangan sekali-kali Anda mengira bahwa amal syariat dan thariqat bisa langsung, secara otomatis, membawa Anda kepada pengalaman haqiqat. Amal syariat dan thariqat adalah jalan atau wasilah menuju ke sana. Anda harus melalui jalan itu. Tetapi Anda sampai ke puncak haqiqat atau tidak, itu bukan sepenuhnya ditentukan oleh usaha kita sendiri, melainkan karena kemurahan (fadl) Tuhan.

Seorang yang bijak pernah berkata: Ketika seseorang telah sampai pada hakikat Islam, dia tak mampu berhenti berusaha/ beramal baik. Ketika seseorang memahami hakikat iman, dia tak akan mampu beramal/bekerja tanpa disertai Tuhan. Ketika seseorang sampai kepada hakikat ihsan (kebaikan), dia tak mampu berpaling kepada selain Tuhan.

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kebijaksanaan Ibnu Athaillah ini?

 

Pertama, kita diajarkan agar tidak merasa paling alim sendiri, saleh sendiri, Islami sendiri, karena amalan kita. Sombong dan tinggi hati bukanlah perangai orang beriman.

Kedua, kita juga diajarkan untuk rendah hati, jangan merasa sok bahwa usaha kita menentukan segala-galanya. Sebab perasaan sombong semacam itulah yang akan menjerembabkan kita kepada perasaan mudah putus asa, patah hati, pesimis.

Orang beriman harus optimis terus, tak peduli keadaan apapun yang sedang mengerubuti kita!

Apa yang bisa kita petik dari uraian di atas?

  1. Banyak hal dan variabel dalam hidup ini yang di luar kontrol kita. Kita punya pilihan bebas untuk melakukan sesuatu, tetapi ada hal-hal di luar sana yang mempengaruhi pekerjaan dan pilihan kita, tetapi tak bisa kita kendalikan. Hanya Tuhanlah yang bisa mengendalikan itu semua. Karena itu, kita perlu mempunyai sikap “berserah diri” kepada Tuhan.
  2. Jangan menganggap bahwa pekerjaan dan amal kita menentukan segala-galanya. Ibadah kita sekalipun tak menjamin keselamatan kita, menjamin kita masuk sorga. Hanya kemurahan Tuhan lah yang akan menjamin.
  3. Ajaran Ibnu Ataillah yang pertama ini hendak mengajari kita “the ethics of humility”, etika rendah hati. Seorang beriman tak boleh menyombongkan amalnya, pekerjaan baiknya. Seorang beriman harus rendah hati. Kerendah-hatian inilah yang membuat kita sehat secara mental.

Wallohu a’lam bis showab

PENTINGNYA ILMU DAN PANCARAN SINAR TAWADLU….

قَالَ علي بن أبي طالب :

لَيْسَ الْجَـمَـالُ بِـأَثْوَابٍ تُزَيِّنُهَا *** إِنَّ الْجَمَـالَ جَمَـالُ الْعَقْلِ وَالأَدَبِ

Sayyidina ALI BIN ABI THOLIB berkata:

Tidaklah cantik atau tampan seseorang karena memakai HIASAN

Tapi sejatinya kecantikan atau ketampanan sebab ilmu dan KESOPANAN

وقال الحسن : لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم ، تعلموا العلم فإن تعلمه خشية ، وطلبه عبادة ، ومدارسته تسبيح، والبحث عنه جهاد ،وتعليمه من لا يعلمه صدقة، وبذله لأهله قربة ، وهو الأنيس في الوحدة ، والصاحب في الخلوة ، والدليل على الدين والصبر… على الضراء والسراء والقريب عند الغرباء ، ومنار سبيل الجنة ،

IMAM HASAN BASYRI berkata :

Andai tiada orang yang mengerti ilmu manusia tak ubahnya binatang,

Pelajarilah ILMU karena ;

Mempelajarinya berarti punya rasa takut pada Allah

Mencarinya bernilai ibadah

Mengulanginya berpahala tasbih pada Allah

Membahasnya berarti JIHAD kejalan Allah

Mengajarkannya pada yang belum tahu bernilai sodaqah

Menyerahkannya pada yang berhak bentuk pendekatan diri pada Allah

ILMU adalah penghibur kala kesendirian melanda

Petunjuk bagi kesempurnaan agama

Kesabaran di kala lara dan papa

Teman dekat kala tersesat

Rambu-rambu kejalan SURGA.

وقال الإمام الغزالي رحمه الله في الإحياء : ” إن الخاصية التي يتميز بها الناس عن سائر البهائم هو العلم فالإنسان إنسان بما هو شريف لأجله وليس ذلك بقوة شخصه فإن الجمل أقوى منه ولا بعظمه فإن الفيل أعظم منه ولا بشجاعته فإن السبع أشجع منه ولا بأكله فإن الثور أوسع بطنا منه ولا ليجامع فإن أخس العصافير أقوى على السفاد منه بل لم يخلق إلا للعلم

Berkata Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid Al-Ghozali :

Sesungguhnya keistimewaan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah ILMU, manusia dikatakan makhluk mulia hanya karena ilmunya

Bukan karena kekutannya, sebab bukankah unta lebih kuat ketimbang manusia ?

Bukan karena kebesarannya, sebab bukankah gajah lebih besar ketimbang manusia ?

Bukan karena keberaniannya, sebab bukankah binatang buas lebih berani ketimbang manusia ?

Bukan karena kemampuan makannya, sebab bukankah sapi jantan lebih besar perutnya ketimbang manusia ?

Bukan karena kuat setubuhnya, sebab bukankah paling hinanya burung pipit lebih kuat setubuhnya ketimbang manusia ?

Manusia tiada tercipta kecuali untuk ilmu…. Ilmu dan ilmu……..

Ihyaa ‘Uluumiddiin I/7

Karenanya tidak berlebihan bila Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ

Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga (HR Muslim XXXVIII/2699)

Imam Atthoiby dalam kKitab Faidh AlQoodir mengartikan hadits diatas :

والمعنى سهل الله له بسبب العلم طريقا من طرق الجنة وذلك لأن العلم إنما يحصل بتعب ونصب وأفضل الأعمال أحزمها فمن تحمل المشقة في طلبه سهلت له سبل الجنة سيما إن حصل المطلوب

“Sebab ilmu Allah memudahkan seseorang salah satu jalan yang menuju surga, hal ini karena ilmu dihasilkan seseorang dengan jerih payah sedang paling utamanya amal ibadah mengukur kadar upaya seseorang dalam mengikat keletihan, barangsiapa mau menanggung kesusahan dalam mencari ilmu maka Allah mudahkan jalannya kesurga terlebih bila ilmu tersebut juga tercapai”

Faidh AlQadir VI/199

Pancaran Sinar Tawadhu’

Pancaran sinar Tawadhu’ yang mengguncang hati dari para pecinta sang Nabi Saw, samudera kesempurnaan akhlak.

Nabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang merasa rendah hati maka Allah akan mengangkat derajatnya dan barangsiapa yang merasa sombong, maka Allah akan merendahkannya “.

♦ Ali bin Abi Tholib Ra berkata “ Barangsiapa yang ingin melihat ahli neraka, maka lihatlah kepada seseorang yang duduk sedangkan di hadapannya ada kaum yang berdiri “.

♦ Suatu kaum berjalan di belakang Hasan Al-Bashri Rh maka beliau malarang mereka dan berkata “ Ini tidak sepatutnya ada di hati seorang mukmin “.

♦ Ibnu Wahab Rh berkata “ Suatu hari aku duduk di dekat Abdul Aziz Ar-Rawwad lalu lututku menyentuh lututnya, maka aku alihkan lagi lututku dari lututnya, kemudian ia malah menarik bajuku dan mendekatkanku kembali padanya dan berkata “ kenapa anda berbuat padaku seperti perbuatan orang yang sombong, sesungguhnya aku tidak melihatmu lebih buruk dari aku “.

♦ Umar bin Abdul Aziz Ra suatu hari kedatangan tamu, sedangkan beliau sedang menulis dan tiba-tiba lampu obornya hampir padam. Si tamu berkata “ Biarkan aku yang berdiri dan memperbaikinya “. Beliau berkata “ Bukan termasuk sifat dermawan jika ia meminta bantuan kepada tamunya “. Si tamu itu berkata lagi “ Biar aku bangunkan pelayan ?”. Beliau menjawab “ Dia baru saja tidur “. Kemudian beliau berdiri, mengambil lampu obor itu dan mengisinya dengan minyak “. Si tamu berkata padanya “ Engkau melakukan semua ini sendiri wahai Amirul mukminin (pak perisiden)? Beliau menjawab “ Aku berjalan dan aku Umar, aku kembali dan aku tetap Umar, tidak ada yang kurang dariku sedikitpun dan sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah yang merasa rendah hati “.

♦ Syekh Umar  Al-Muhdor bin Abdurrahman as-Segaf : ” Andai aku tahu kalau satu sujudku diterima oleh-Nya, niscaya kujamu seluruh penduduk Tarim, bahkan ternak-ternak mereka sekalian.”

♦ Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aydrus Al-Adny berkata “ Mencium tanganku seperti menampar wajahku dan mencium kakiku seperti mencongkel mataku “.

Beliau juga berkata “ Aduhai andai saja aku tidak dikenal seoranpun dan aku tidak mengenal seorangpun. Andai saja aku tidak lahirkan “. Padahal beliau adalah seorang wali besar yang bertabur karamah.

♦ Sahl At-Tusturi sering berjalan di atas air tanpa sedikitpun kakinya menjadi basah. Seseorang berkata kepada Sahl: “ Orang-orang berkata bahwa engkau dapat berjalan di atas air “.

Beliau menjawab “ Tanyakanlah kepada muadzdzin di masjid ini, ia adalah seorang yang dapat dipercayai”.  Kemudian orang itu mengisahkan : “ Telah kutanyakan kepada si muadzdzin dan ia menjawab “ Aku tak pernah menyaksikan hal itu. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika hendak bersuci Sahl tergelincir ke dalam sumur dan seandainya aku tidak ada di tempat itu niscaya aia telah binasa “. Ketika Abu Ali bin Daqqaq mendengar kisah ini, ia pun barkata “ Sahl mempunyai berbagai karamah tetapi ia ingin menyembunyikan hal itu “

♦ Pada suatu hari pelayan wanita Rabi’ah Al-Adawiyyah hendak memasak sup bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak memasak makanan. Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Si pelayan berkata kepada Rabi’ah “ Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah “.

Tetapi Rabi’ah mencegah “ Telah 40 tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun selain kepada-Nya. Lupakanlah bawang itu “. Segera setelah Rabi’ah berkata demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah terkupas di paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam belangga.

Menyaksikan peristiwa itu Rabi’ah berkata “ Aku takut jika semua ini semacam tipu muslihat (istidraj) “. Rabi’ah tidak mau menyentuh sup bawang tersebut. Hanya roti sajalah yang dimakannya.

♦ Orang-orang bertanya kepada Malik bin Dinar “ Tidakkah engkau keluar bersama kami untuk minta hujan ? “ ia menjawab “ Aku takut akan turun hujan batu karena aku. Kalian sedang menanti hujan air sedangkan aku  merasa khawatir turun hujan batu sebab keluarnya aku bersama kalian “.

♦ Muhammad bin Wasi’ Rh berkata “ Kami telah tenggelam dalam dosa. Seandainya seseorang di antara kalian dapat mencium bau dosa niscaya ia tidak akan mampu duduk bersamaku “.

♦ Utbah Al-Ghulam Rh suatu hari pernah melewati suatu tempat lalu ia bergemetar keras hingga keringatnya bercucuran. Teman-temannya bertanya kepadanya “ Kenapa engkau seperti itu ? Beliau menjawab “ Ini adalah tempat aku pernah bermaksyiat dulu sewaktu aku masih kecil “.

♦ Malik bin Dinar Rh berangkat haji dari Bushro ke Makkah dengan berjalan kaki. Ketika ditanya “ Kenapa engkau tidak menaiki kendaraan ? Beliau menjawab “ Apakah seorang budak yang bersalah dan melarikan diri tidak merasa puas dengan berjalan kaki menuju tuannya untuk meminta maaf ? Demi Allah seandainya aku menuju Makkah dengan melewati bara api, pasti akan aku lakukan dan hal itu belum seberapa “.

♦ Yusuf bin Asbath Rh berkata “ Puncak tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumah dan engkau tidak melihat / berprasangka kepada orang lain kecuali orang itu lebih baik darimu “

Dinukil dari kitab Tanbih Al-Mughtarrin, karya Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni dan kitab Syarh ‘Ainiyyah karya Habib Abdullah Al-Haddad.

HUKUM MENGUPLOAD IBADAH KITA DI MEDIA SOSIAL

Pamer atau menampakkan ibadah pada orang lain melalui Facebook, Twitter, BBM, Instagram, Path atau alat komunikasi lain bagaimana hukumnya? Halal atau haram? Kapan boleh menampakkan amal ibadah di jejaring sosial dan kapan harus merahasiakannya?

MENAMPAKKAN IBADAH DI STATUS MEDSOS, BOLEHKAH?

RINGKASAN JAWABAN

  1. Menampakkan atau memberitahukan amal ibadah sunnah adalah haram kalau dikuatirkan riya. Kecuali bagi orang tertentu yang kuat agamanya yang hatinya tidak terpengaruh dengan hinaan dan pujian dan bertujuan agar kebaikannya diikuti orang lain maka boleh.
  2. Amal ibadah wajib seperti shalat wajib, puasa Ramadan, haji, zakat itu lebih utama ditampakkan supaya ditiru orang dan tidak menimbulkan prasangka buruk (dikira tidak melakukan).

URAIAN JAWABAN

Syaikh Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Qawaid al-Ahkam fi Qawaid Al-Anam hlm. 1/124 menyatakan definisi riya sebagai berikut:

الرياء إظهار عمل العبادة لينال مظهرها عرضا دنيويا إما بجلب نفع دنيوي ، أو لدفع ضرر دنيوي ، أو تعظيم أو إجلال ، فمن اقترن بعبادته شيء من ذلك أبطلها لأنه جعل عبادة الله وطاعته وسيلة إلى نيل أعراض خسيسة دنية ، فاستبدل الذي هو أدنى بالذي هو خير ، فهذا هو الرياء الخالص .

وأما رياء الشرك فهو أن يفعل العبادة لأجل الله ولأجل ما ذكر من أغراض المرائين وهو محبط للعمل أيضا ، قال تعالى : { من عمل عملا أشرك فيه غيري تركته لشريكه وفي رواية : تركته لشريكي }

Artinya: Riya’ adalah menampakkan amal ibadah untuk tujuan kemanfaatan duniawi atau menolak kemudaratan (bahaya) duniawi, atau pengagungan diri. Barangsiapa yang ibadahnya bersamaan dengan salah satunya maka (pahala) ibadahnya batal. Dia telah menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah untuk mencapai tujuan yang rendah. Dia telah menukar yang baik dengan yang rendah. Ini adalah bentuk riya’ yang murni.

Adapun riya syirik adalah melakukan ibadah karena Allah dan karena faktor-faktor yang disebut di atas. Ini juga membatalkan (pahala) amal. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Muslim, Allah berfirman, “Barangsiapa melakukan amalan yang menyekutukan selain aku, maka aku meninggalkan amalan itu untuk sekutuku.”

Selanjutnya, dalam halaman yang sama Izzuddin Ibnu Abdissalam membagi orang yang pamer ibadah (Arab, sum’ah) menjadi dua golongan:

أحدهما تسميع الصادقين وهو أن يعمل الطاعة خالصة لله، ثم يظهرها ويسمع الناس بها ليعظموه ويوقروه وينفعوه ولا يؤذوه. وهذا محرم وقد جاء في الحديث الصحيح: “من سمع سمع الله به. ومن راءى راءى الله به، وهذا تسميع الصادقين”.

الضرب الثاني: تسميع الكاذبين وهو أن يقول صليت ولم يصل، وزكيت ولم يزك، وصمت ولم يصم، وحججت ولم يحج، وغزوت ولم يغز. فهذا أشد ذنبا من الأول لأنه زاد على إثم التسميع إثم الكذب، فأتى بذلك معصيتين قبيحتين، بخلاف الأول فإنه آثم إثم التسميع وحده

وكذلك لو راءى بعبادات ثم سمع موهما لإخلاصها فإنه يأثم بالتسميع والرياء جميعا . وإثم هذا أشد إثما من الكاذب الذي لم يفعل ما سمع به ، لأن هذا أثم بريائه وتسميعه وكذبه ثلاثة آثام

Artinya: Golongan pertama, pamernya orang yang jujur yaitu dia melakukan ketaatan murni karena Allah, lalu memamerkannya pada orang lain supaya mereka memujinya, mengaguminya, mendapat manfaat darinya dan tidak menyakitinya. Ini hukumnya haram berdasarkan hadis sahih, “Siapa yg menampakkan amalannya agar di dengar orang lain, niscaya Allah beberkan aibnya pada hari kiamat,dan siapa yang menamapakkan amalannya agar di lihat (lalu dipuji) orang, niscaya Allah mempermalukannya pada hari kiamat.” Ini sum’ah orang yang jujur.

Golongan kedua, pamernya pembohong. Yaitu ia berkata “aku shalat”, tapi tidak shalat; “Aku zakat”, tapi tidak zakat, “Aku puasa” tapi tidak puasa, “Aku haji” tapi tidak haji, “Aku berperang” tapi tidak berperang. Ini adalah dosa yang lebih parah karena selain pamer juga bohong sehingga dia melakukan dua dosa. Sedangkan yang pertama hanya dosa pamer saja.

Begitu juga apabila seseorang memperlihatkan amal ibadahnya (riya) lalu mengabarkannya pada orang lain (sum’ah) dengan mengira dia ikhlas, maka ia berdosa karena dua hal yaitu sum’ah dan riya’ sekaligus. Dosa jenis ini lebih berat daripada bohong atas amal yang tidak dikerjakannya. Karena ini dosa karena riya, sum’ah dan bohong.

MENAMPAKKAN IBADAH YANG DIBOLEHKAN ISLAM

  1. Izzuddin bin Abdissalam menyatakan ada kalanya menampakkan ibadah itu dibolehkan.

ومن أمن الرياء لقوة في دينه فأخبر بما فعله من الطاعات ليقتدي الناس به ، كان له أجر طاعته التي سمع بها وأجر تسببه إلى الاقتداء في تلك الطاعات التي سمع بها على اختلاف رتبها

Artinya: Orang yang aman dari rasa riya karena agamanya sudah sangat kuat lalu mengabarkan pada orang lain amal saleh yang telah dilakukannya dengan tujuan agar diikuti oleh orang lain, maka hukumnya boleh dan ia mendapat pahala amalnya dan pahala amal orang yang menirunya sesuai dengan perbedaan tingkatannya.

  1. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk hlm. 6/228 menyatakan bahwa amal ibadah yang wajib juga boleh dan sebaiknya ditampakkan apabila tidak takut riya:

الأفضل في الزكاة إظهار إخراجها ; ليراه غيره فيعمل عمله ، ولئلا يساء الظن به , وهذا كما أن الصلاة المفروضة يستحب إظهارها , وإنما يستحب الإخفاء في نوافل الصلاة والصوم

Artinya: Yang paling utama dalam soal zakat adalah menampakkanya supaya dilihat dan ditiru orang lain dan agar tidak timbul buruk sangka. Begitu juga shalat wajib sunnah ditampakkan. Sedangkan yang sunnah disembunyikan adalah shalat dan puasa sunnah.

Ibnu Battal dalam Syarah Bukhari hlm. 3/420 menyatakan: Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mujtahid bahwa memberitahukan amal zakat wajib itu lebih utama daripada merahasiakannya. Dan bahwa merahasiakan sedekah sunnah itu lebih utama daripada mengumumkannya .. begitu juga semua amal ibadah wajib dan amal ibadah sunnah semuanya.

Dalam Al-Masu’ah Al-Fiqhiyah hlm. 23/301 dikatakan: Menampakkan dan memberitahukan saat mengeluarkan zakat wajib … Tabari berkata: Ulama sepakat (ijmak) bahwa menampakkan amal ibadah yang wajib itu lebih utama. Adapun firman Allah dalam QS Al-Baqarah 2:271 maka itu relevansinya pada sedekah sunnah dan shalat sunnah.

CATATAN:

– Riya’ adalah menampakkan perbuatan amal ibadah di depan orang lain seperti berzakat diliput media.

– Sum’ah atau tasmi’ adalah tidak menampakkan amal ibadahnya, tapi memberitahukannya pada orang lain. Misalnya, selesai shalat tahajud lalu menulis update status di Facebook atau Twitter, “Alhamdulillah, baru saja selesai tahajud.”

– Dua istilah di atas adalah istilah dalam bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa Indonesia keduanya disebut riya’.

WALLOHU A’LAM

DALIL IKHLAS (BERAMAL HANYA KARENA ALLOH SEMATA)

Beramal Kerana Allah Semata-mata adalah Keikhlasan Yang Paling Tinggi (dan Tidak Bertentangan dengan al-Quran dan al-Sunnah)

    Beramal kerana ingin mendapatkan pahala dan syurga bukanlah satu perkara yang bertentangan dengan Shariat. Namun, ia adalah salah satu daripada peringkat-peringkat ikhlas.

KATA-KATA PARA ULAMA’

(1) Al-Imam Ibnu ‘Ajibah rahimahullah menyatakan bahawa [Kitab I’qaz al-Himam fi Sharh al-Hikam]:

الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.

فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور.

وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية.

وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته، كما قال ابن الفارض: ليس سؤْلي من الجنان نعيماً غيرَ أني أحبها لأراكا

Maknanya:

“Ikhlas itu ada tiga darjat: Ikhlas orang awam; Ikhlas golongan khawas dan Ikhlas golongan khawas al-khawas.

Maka keikhlasan orang awam itu adalah menyingkirkan makhluk dalam hubungannya dengan Allah dan dalam masa yang sama menuntut kelebihan-kelebihan dunia dan akhirat seperti pemeliharaan badan, harta, kelapangan rezeki, istana-istana di syurga serta bidadari.

Dan keihklasan golongan khawas itu adalah hanya menuntut kelebihan-kelebihan di akhirat dan bukannya dunia.

Dan keikhlasan golongan khawas al-khawas itu adalah menyingkirkan (kehendak) kepada kelebihan-kelebihan secara keseluruhan (sama ada dunia mahupun akhirat). Maka ibadat mereka itu adalah untuk merealisasikan makna kehambaan dan menunaikan hak-hak ketuhanan kerana cinta dan rindu untuk melihat-Nya.

Ini adalah seperti satu syair oleh Ibn al-Faridh:

Maka tidaklah permintaanku untuk syurga itu kenikmatan,

Tetapi aku mencintainya (syurga) agar dapat melihat-Mu.”

(2) Al-Imam Al-Hafiz al-Suyuthi menyatakan di dalam kitabnya “Ta’yid al-Haqiqah al-‘Aliyyah]:

قال الإمام السيوطي رحمه الله تعالى: (القيامُ بالأوامر والنواهي لله وحده، لا لجلب ثواب ولا لدفع عقاب، وهذا حال من عبدَ الله لله، خلافُ من عبدَ الله للثواب وخوف العقاب، فإنما عَبَدَ لِحَظِّ نفسه، وإن كان هو محباً أيضاً، لكنه في درجة الأبرار، وذاك في درجة المقربين)

Maksudnya:

“Menunaikan perintah dan (meninggalkan) larangan adalah bagi Allah satu-satunya, bukanlah untuk mendapatkan pahala atau menolak balasan buruk, dan ini adalah keadaan seseorang beribadat kepada Allah kerana Allah.

Dan ini berbeza dengan seseorang yang beribadat kepada Allah kerana pahala dan takutkan hukuman, sesungguhnya dia mengerjakan ibadat untuk kebaikan dirinya, walaupun dia juga seseorang yang menyintai Allah, akan tetapi dia berada di darjat golongan al-abrar (soleh), dan yang pertama terdahulu itu adalah darjat al-Muqorrabin.”

Lihatlah bagaimana al-Imam al-Suyuthi menerangkan perbeadan di antara golongan al-abrar dan al-muqorrabin.

DALIL-DALIL AL-QUR’AN

Dalil-dalil al-Quran bahwa beramal semata-semata kerana Allah (tanpa memandang syurga dan neraka) itu adalah benar dan disebut di dalam al-Quran. [Bagi yang kurang mahir berbahasa Arab, silalah rujuk ke tafsir dengan terjemahan yang muktabar, bukan semata-mata terjemahan harfi atau hissi]

Firman Allah SWT:

  1. Surah al-Bayyinah: Ayat 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Maksudnya: “Dan mereka tidak diperintahkan melainkan untuk beribadat kepada Allah dengan hal keadaan mengikhlaskan bagi-Nya agama.”

  1. Surah al-Nisaa’: Ayat 146

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ

Maksudnya: “Melainkan orang-orang yang bertaubat dan memperbaiki amal soleh dan mencari keselamatan/perlindungan dengan Allah dan mengikhlaskan agama mereka bagi Allah.”

  1. Surah al-An’am: Ayat 162-163

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Maksudnya: “Katakanlah (Wahai Muhammad!). Sesungguhnya solatku dan ibadatku dan hidupku dan matiku hanyalah bagi Allah, Tuham Semesta Alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itulah aku diperintahkan dan akulah orang yang pertama-tama di kalangan orang Islam (yang menyerahkan diri).”

  1. Surah al-An’am: Ayat 52

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Maksudnya: “Dan janganlah engkau halau mereka yang berdoa kepada Tuhan mereka siang dan malam mencari “wajh” (zat) – Nya.”

  1. Surah al-Kahf: Ayat 28

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Maksudnya: “Dan sabarkanlah dirimu bersama mereka yang berdoa kepada Tuhan mereka siang dan malam mencari “wajh” (zat) – Nya.”

Takwilan bagi kalimah “wajh” bagi ayat-ayat di atas ialah zat Allah SWT. Ini adalah termasuk di dalam bab ilmu balaghah:

إطلاق البعض وإرادة الكل

Disebut sebahagian, namun yang dikehendaki adalah semua.

  1. Surah al-Zumar: Ayat 2-3

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Maksudnya: “Maka beribadatlah kepada Allah dengan hal keadaan mengikhlaskan agama bagi Allah. Dan tidakkah bagi Allah itu agama yang tulus.”

Bukankah semua ayat-ayat di atas menekankan keikhlasan hanya semata-mata kepada dan kerana Allah!!!

  1. Dan lihatlah Surah al-Ikhlas (yang dinamakan dengan al-Ikhlas) adakah di sana terdapat kisah tentang syurga atau neraka??? Ianya adalah semata-mata berkenaan dengan Allah SWT.
  2. Isteri Fir’aun yang beriman memohon kedudukan di sisi Allah terlebih dahulu sebelum memohon mahligai di syurga [Surah al-Tahrim: Ayat 11].

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Maksudnya: “Dan Allah memberi perumpamaan bagi orang-orang yang beriman mengenai isteri Fir’aun (ang beriman) apabila dia berkata: “Ya Allah! Binakanlah bagiku di sisi-Mu mahligai di syurga.”

KOMENTAR: Lihatlah wahai orang-orang beriman! Betapa halus dan tingginya perumpamaan ini! Isteri Fir’aun mendahulukan kedudukan di sisi Allah berbanding mahligai di dalam syurga. Sebab itulah dia tidak berdoa seperti di bawah:

رَبِّ ابْنِ لِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ عِنْدَكَ

Maksudnya: “Wahai Tuhanku! Bangunkanlah bagiku mahligai di dalam Syurga di sisi-Mu.”

Ini juga menunjukkan bahwa melakukan pendekatan kepada Allah SWT (taqarrub) adalah lebih utama daripada selainnya. Namun begitu, Syurga adalah jalan untuk mencapai nikmat bertaqarrub dengan Allah SWT.

KISAH SUFI DAN ANJURAN MENUTUP MAJLIS DENGAN SHOLAWAT

Ada banyak tokoh sufi klasik yang kisah tentangnya jarang terekspos. Salah satunya ialah Syaqiq Al-Balkhi rahimahullahu ta’ala. Beliau putra seorang hartawan yang memutuskan beralih melakoni perjalanan ruhani menjadi seorang zāhid.

Pada mulanya, dalam suatu perjalanan niaga ke Turki, Syaqiq sempat singgah masuk ke sebuah rumah penyembahan berhala. Di dalamnya terdapat banyak sekali berhala dan dilihatnya juga banyak rahib-rahib yang berkepala gundul dan tidak berjenggot.

Lantas Syaqiq Al-Balkhi berjumpa dengan salah seorang pelayan berhala, lalu berkata: “Kamu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Hidup dan Menghidupimu, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Maka menyembahlah kepada-Nya, tidak usah lagi menyembah berhala-berhala yang tidak memberikan mudarat maupun manfaat kepadamu!”

Kemudian dengan diplomatis pelayan itu menjawab enteng, “Jika benar apa yang kamu katakan, bahwa Tuhan Maha Kuasa memberi rezeki kepadamu di negerimu sendiri, kenapa Tuan dengan susah payah datang kemari untuk berniaga?”

Syaqiq melongo. Tercengang. Kena skak. Maka terketuklah hati Syaqiq dan untuk selanjutnya menempuh kehidupan zuhud.

Sementara satu kisah lainnya tentang Syaqiq Al-Balkhi, terjadi saat permulaan menempuh perjalanan zuhud. Ia menuju ke suatu daerah. Di sana ia melihat seorang budak sedang asyik bersenang-senang ria di tengah kehidupan perekonomian yang dilanda paceklik dan krisis secara merata—termasuk tuan si budak sendiri.

Kepada si budak itu Syaqiq bertanya, “Apa yang kamu kerjakan? Bukankah kamu tahu orang-orang sedang menderita karena paceklik?”

Budak itu menjawab polos, “Saya tidak mengalami paceklik, Tuan, karena majikanku memiliki perkampungan subur yang hasilnya sanggup mencukupi keperluan kami.” Di fase setelah mendengar rentetan kalimat si budak inilah, Syaqiq mendengar ketukan hati dan bisikan dalam dirinya, “Jika budak tersebut tidak memikirkan rezeki karena majikannya memiliki perkampungan yang subur—toh, padahal si majikan sendiri adalah masih tergolong makhluk yang melarat—maka bagaimana bisa disebut ‘patut’ saat seorang Muslim memikirkan rezekinya dengan berkalang keraguan, sedangkan ia punya Tuhan yang Maha Kaya dan Dermawan?”

Nilai yang tersirat di antaranya bahwa Syaqiq terlalu fokus ke luar dirinya, tapi jarang menengok ke dalam diri sendiri. Kebanyakan “ekstrospeksi”, kurang “retrospeksi” (mengenang kembali, atau wal tandhur nafsun ma qaddamat lighad) dan minim “introspeksi” (muhasabah).

Juga kenyataan implisit yang dirancang oleh Allah, tentang Syaqiq yang tidak akan menjadi seorang zāhid dan tidak akan dikenang sebagai sufi terpandang bila ia tidak bertemu dengan pelayan-berhala dan hamba sahaya dalam kisah. Suatu hal yang perlu ditelusuri kenapa sering kali Allah memperjalankan dan mempertemukan tokoh masyhur di masa kini dengan orang-orang yang seolah kurang penting, seakan-akan figuran, picisan, un-popular, dan bukan tokoh masyhur yang kebak make up, political-camuflage dan pencitraan artifisial. Namun Allah menjadikan ia atau mereka (tokoh cerita yang kita anggap “tak penting” itu) sebagai pemicu kejadian besar penting dan menentukan setelahnya. Sebuah titik balik kehidupan yang tidak main-main hikmahnya.

Sama halnya kisah Nabi Ya’qub dan pertemuannya dengan gelandangan gembel yang sempat ditolaknya di pintu rumah—sehingga seketika itu menuai teguran keras dari Allah.

Kisah Pemabuk Ditinggikan Derajatnya Berkah Shalawat.

Membaca shalawat memiliki keutamaan yang tidak diragukan lagi. Banyak kisah menakjubkan yang dialami oleh ahli shalawat. Nabi menjelaskan bahwa bacaan shalawat yang dibacakan oleh umatnya akan dibalas sepuluh kali lipat. Sebagian ulama bahkan menegaskan shalawat dapat menuntun seseorang menempuh jalan suluk. Shalawat sebagaimana ayat suci Al-Qur’an bernilai pahala dengan membacanya, meski tidak mengerti kandungan artinya, berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain.

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul. Syekh Nawawi mengutip cerita ini dari sebagian kaum sufi.

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga yang pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga ia tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun ia tidak menerimanya, ia masih tetap dengan kebiasaan mabuknya.

Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi, ia berada dalam derajat yang luar biasa mulia, ia memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga.

Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi bertanya:

بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

Artinya: “Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini?”

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya:

حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ.

Artinya: “Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barangsiapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga menegeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.”

                Demikian keagungan dan kehebatan membaca shalawat, hingga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemabuk. Kisah tersebut terang saja bukan hendak membenarkan praktik mabuk-mabukan yang memang diharamkan dalam Islam. Cerita itu sekadar merefleksikan keistimewaan shalawat yang bisa mengantarkan seseorang pada samudera kasih sayang dan pengampunan Allah ﷻ. Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah untuk istiqamah membaca shalawat dan diakui sebagai umat baginda Nabi MUHAMMAD .                                                                     

Anjuran Menutup Majelis dengan Bershalawat

Sekumpulan orang berkumul di sebuah rumah. Mereka baru saja bersama-sama melakukan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa kalimat thayibah. Setelah itu mereka menyantap hidangan yang disiapkan tuan rumah. Usai santap bersama pembaca acara menyampaikan beberapa kalimat sebelum akhirnya menyatakan selesainya acara pada malam itu, lalu memungkasinya dengan salam.

Namun demikian meski acara telah resmi ditutup namun mereka yang hadir tak kunjung bangun dan meninggalkan majelis. Beberapa di antaranya malah saling pandang, seperti ada yang ganjil bagi mereka. Hingga ketika salah seorang di antara mereka menyuarakan dengan lantang kalimat shallû ‘alan Nabiy Muhammad semuanya menjawab dengan lantang pula kalimat Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alaih, lalu serempak bangun dan meninggalkan majelis untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ya, pemandangan seperti itu jamak dijumpai di masyarakat muslim di Indonesia. Bahwa dalam sebuah perkumpulan acara kenduri atau selamatan mereka yang hadir baru akan bubar ketika dikomando untuk membaca shalawat. Tanpa dishalawati mereka belum mau membubarkan diri atau kalaupun bubar seperti ada yang kurang yang mengganjal di dalam hati. Itulah sebabnya ada yang berkelakar mengatakan bahwa shalawat yang dibaca untuk menutup sebuah majelis disebut dengan “shalawat bubar” atau “shalawat ngusir”.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi adat kebiasaan ini bukan tanpa sebab dan dasar. Tentunya mereka yang awam melakukan itu mengikuti apa yang diajarkan oleh para ulama atau tokoh masyarakat yang ada. Dan tentunya pula para tokoh masyarakat itu mengajarkan demikian dengan berdasar pada ilmu yang mereka pelajaran dari para gurunya terus berantai hingga Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Imam Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengutip beberapa hadits yang berkenaan dengan hal ini. Di antaranya hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis di mana merea tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi di dalam majelis itu kecuali majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka, dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtun ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 106)

Juga sebuah hadits dari Abu Hurairah:

أيُّما قَوْمٍ جَلَسُوا فأَطالُوا الجُلوسَ ثمَّ تَفَرَّقُوا قَبْلَ أنْ يَذْكرُوا الله تَعَالَى أوْ يُصَلُّوا على نَبِيِّهِ كانَتْ عَلَيْهِمْ تِرَةً مِنَ الله إنْ شاءَ عَذَّبَهُمْ وَإنْ شاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Suatu kaum yang duduk-duduk dan melamakan duduknya kemudian mereka berpisah sebelum berdzikir kepada Allah atau bershalawat kepada Nabi-Nya maka duduknya mereka itu akan menjadi kerugian bagi mereka dari Allah. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Abdur Rauf Al-Munawi, Faidlul Qadîr, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012], Jil. III, hal. 194)

Dari kedua hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa ketika sekumpulan orang berkumpul dalam sebuah majelis namun mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Baginda Rasulullah maka majelis itu akan menjadi kerugian dan penyesalan bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka merugi dan menyesal karena telah meninggalkan dzikir dan shalawat di dalam majelis sehingga tidak mendapatkan pahalanya. Kelak di hari kiamat Allah bisa saja menyiksa mereka karena perbuatan dosa yang mereka lakukan selama berada di majelis seperti menggunjing dan lainnya. Atau Allah juga bisa saja mengampuni mereka sebagai anugerah dan rahmat dari-Nya.

Sirajudin Al-Husaini menyatakan bahwa disunahkan bagi setiap orang yang ikut duduk di majelis itu untuk berdzikir kepada Allah dengan kalimat tahmid, tasbih, takbir, istighfar dan lainnya, juga untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Kesunahan berdzikir dan bershalawat ini menguat manakala mereka hendak bangun bubar dari majelis.

Kiranya inilah dasar mengapa dalam berbagai acara yang digelar oleh masyarakat muslim Indonesia—terlebih oleh kalangan Nahdliyin—selalu dibacakan shalawat terlebih dahulu sebelum para hadirin bangun membubarkan diri. Ini juga yang menjadi dasar dalam berbagai kegiatan Nahdliyin di dalam susunan acaranya selalu diadakan secara khusus acara pembacaan shalawat setelah dibacakannya ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Wallahu a’lam.

PENJELASAN THORIQOH TIJANIYYAH LENGKAP

SILAHKAN BACA JUGA : KEPUTUSAN MUKTAMAR NU TENTANG THORIQOH TIJANIYYAH

BAB I

DASAR DASAR PENGERTIAN MENGENAI

SYARIAT, THARIQAH, HAQIQAH DAN MA’RIFAH

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah-istilah agama yang kadang-kadang pengertian masyarakat masih rancu, istilah tersebut antara lain :

    Syariat

    Thariqah

    Haqiqah

    Ma’rifah

Ad. 1. Syariat :

Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakan mu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.

Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.

Ad. 2. Thariqah :

Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.

Thariqah ada 2(dua) macam :

    Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.

    Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .( ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)

“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )

Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )

“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.

Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.

Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), antara lain :

  1. Umariyah 23. Usysyaqiyyah
  2. Naqsyabandiyah 24. Bakriyah
  3. Qadiriyah 25. Idrusiyah
  4. Syadziliyah 26. Utsmaniyah
  5. Rifaiyah 27. ‘Alawiyah
  6. Ahmadiyah 28. Abbasiyah
  7. Dasuqiyah 29. Zainiyah
  8. Akbariyah 30. Isawiyah
  9. Maulawiyah 31. Buhuriyyah
  10. Kubrawiyyah 32. Haddadiyah
  11. Sahrowardiyah 33. Ghaibiyyah
  12. Khalwatiyah 34. Khodiriyah
  13. Jalwatiyah 35. Syathariyah
  14. Bakdasiyah 36. Bayumiyyah
  15. Ghazaliyah 37. Malamiyyah
  16. Rumiyah 38. Uwaisiyyah
  17. Sa’diyah 39. Idrisiyah
  18. Jusfiyyah 40. Akabirul Auliya’
  19. Sa’baniyyah 41. Subbuliyyah
  20. Kalsaniyyah 42. Matbuliyyah
  21. Hamzaniyyah 43. TIJANIYAH
  22. Bairumiyah 44. Sammaniyah.

*/ Diambil dari buku hasil keputusan Kongres & Mubes Jam’iyah Ahli Thariqah Mu’tabaroh An Nahdliyah, pada hasil Mu’tamar kedua di Pekalongan tanggal 8 Jumadil Ula 1379 H / 9 November 1959. halaman 25.

Ad.3. Haqiqah

Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan. Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.

Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.

Ad.4. Ma’rifah

Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

Catatan :

Untuk poin 1 dan 2 (syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajari sebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.

Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.

Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahui secara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah. Haqiqah dan ma’rifah ini tidak ada buku / kitabnya.

BAB II

THARIQAH AT TIJANY

trumpa.jpgThariqah At Tijany adalah salah satu dari Thariqah al Auliya‘ / Thariqah al Sufiyah yang dirintis oleh seorang wali besar akhir zaman Yaitu Sayyidi Syekh Al Qutbi Al Maktum Wal Khatmi Al Muhammady Al Ma’lum Ahmad bin Muhammad At Tijany Radhiyallaahu anhu. At Tijany adalah nama sebuah suku tempat asal kelahiran dan keluarga besar beliau yaitu suku Tijanah di daerah Ainul Madi (Magribi al aqsha).

    Nasab Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA.

Beliau adalah seorang bangsawan yang tergolong trah Ahlul Baiti Rasulullah Saw. dengan nasab dari Siti Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallaahu Wajhahu (ba’Alawi / Alawiyyin) dari garis Sayyidina Hasan (Al Hasany). Beliau keturunan ke 24 dari Rasulullah Saw. lengkapnya adalah : Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Al ‘iid bin Salim bin Ahmad Al Alwany bin Ahmad bin Ali bin Abdillah bin Abbas bin Abdil Jabbar bin Idris bin Ishaq bin Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Muhammad An Nafsiz Zakiyyah bin Abdullah al Kamil bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan As Sibti bin Ali bin Abi Tholib dari Syyidah Fatimah Al Zahra Al Batul binti Rasulullah Saw.

Ibu beliau adalah seorang wanita shalihah, Sayyidah Aisyah binti Sayyid Al Jalil Abi Abdullah bin Sanusi At Tijany Al Madhowi, Al Madhowi bernisbat pada desa Ain Al Madi sebuah desa yang terkenal di Gurun Sahara timur kota Maroko di Magribil Aqsha ( Afrika barat). */ Al Faidlur Rabbani : 5 – 6.

    Biografi singkat Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA.

    Beliau dilahirkan tahun 1150 H

    Hafal Al Qur’an dengan sempurna ketika berumur 7 tahun .

    Beliau sibuk menuntut ilmu dzahir sampai berumur 20 tahun, dan sudah dipercaya dan berhak mengeluarkan fatwa (Mufti) sejak masih muda yaitu ketika berumur 16 tahun.

    Kedua orang tua beliau wafat tahun 1166 H, ketika umur beliau 16 tahun .

    Sejak Umur 21 tahun beliau mendalami Ilmu-ilmu Tashawwuf dan banyak mengunjungi wali-wali besar dizamannya.

    Pada tahun 1186 H. beliau menunaikan ibadah Haji dan ziarah ke makam As Syarif Rasulullah Saw. dan dalam kesempatan itu pula beliau mengunjungi wali-wali besar baik selama perjalanan berangkat menuju Makkah dan Madinah juga ketika beliau tinggal di kedua kota suci tersebut, serta dalam perjalanan pulangnya.

    Wali-wali besar yang beliau temui antara lain :

        Abu Muhammad At Tayyib bin Muhammad bin Abdillah.

        Sayyid Muhammad Al Wanjali digunung Zabib mengatakan : engkau pasti mencapai maqam / pangkatnya As Syadily.

        Sayyidi Abdullah bin Al Araby bin Muhammad Al Andalusi yang mengatakan kepada beliau :

الله يأ حذ بيد ك ، الله يأ حذ بيد ك ، الله يأ حذ بيد ك ،

Allah yang membimbingmu 3X.

  1. Abu Abbas Ahmad At Thawasy.
  2. Abu Abdillah bin Abdir Rahman Al Azhary darinya beliau mendapat talkin thoriqoh Holwatiyah.
  3. Sayyid Mahmud Al Kurdi yang pada awal pertemuannya mengatakan:

أنت محبوب عند الله في الدنيا والآ خرة

Kamu adalah kekasih Allah Swt. di dunia dan Akhirat.

  1. Syaikhul Imam Abil Abbas Sayyidi Muhammad bin Abdillah An Hindi, darinya beliau mendapat ilmu, asror, hikmah dan cahaya, tanpa melalui pertemuan, cukup melalui risalah yang di sampaikan oleh khodamnya, yang menegaskan bahwa : “Engkau yang mewarisi ilmuku, Asrorku, Wibawaku dan Cahayaku”.
  2. Al Quthbil Kabir As Samman RA. yang memberi tahu bahwa dia adalah Al Quthbul Jami’.

Pada tahun 1196 H. beliau menuju Qasra Abi Samghun dan syalalah di gurun Sahara bagian timur. pada tahun tersebut beliau mendapat Fathul Akbar yaitu bertemu langsung dengan Rasulullah Saw. dalam sadar / tidak tidur / bukan mimpi. ketika bertemu langsung dengan Rasulullah Saw tersebut. beliau mendapat amanat wirid Istigfar 100x dan sholawat 100x untuk ditalqinkan kepada semua orang yang ingin kembali dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam kesempatan itu pula Rasulullah menjelaskan kepada beliau bahwa : “Tidak ada karunia bagi mahluk atas kamu dari para masyayikh Thariqah. Maka akulah (Rasulullah) sesungguhnya yang menjadi guru dan pembimbing kamu, oleh karena itu tinggalkan semua wirid yang kamu ambil dari Thariqah Thariqah lain.

Pada tahun 1200 H. Rasulullah Saw. menyempurnakan wirid Thariqah At Tijany dengan Hailalah 100x, dan Rasulullah menjamin kepada Syeikh Ahmad At Tijany RA dengan sabdaNya : “ Engkau ya Ahmad adalah pintu keselamatan bagi orang-orang yang berdosa yang ingin kembali kejalan Allah dengan mengikutiMu”.

Sejak saat itulah beliau turun kelapangan da’wah dan dari segala penjuru, banyak orang yang menyambut dan mengikuti da’wahNya.

    Kemudian beliau pindah ke kota Fas dan tinggal disana berjihad dan dakwah serta menjadi penasehat Raja sampai akhir hayatnya.

    Pada hari kamis 17 Syawwal 1230 H. pada usia 80 tahun, setelah menunaikan sholat subuh, beliau berbaring miring kesamping kanan , beliau minta air dan meminumnya, setelah beliau berbaring kembali sebagaimana semula maka berangkatlah ruh suci beliau menemui Dzat Al Khaliq, kekasih dan pujaanNya selama hidup dengan dijemput manusia terkasih guru besar pembimbing ruhani dan Datuknya, Rasulullah Saw.

    Beliau dimakamkan di kota Fas – Maroko.

( Riwayat beliau yang lebih lengkap baca buku Sayyidul Auliya’ Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany dan Thariqahnya yang disusun oleh K.H. Fauzan Adziman Fathullah Sidogiri).

  1. Keutamaan dan Karomah Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany ra.

    Karomah adalah sesuatu yang keluar dari adat kebiasaan yang terjadi pada diri seseorang wali Allah Swt. sebagai kelanjutan dari Mu’ jizat para Nabi.

    Keutamaan dan Karomah Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany sangat banyak dan tampak sejak kecil, baik kekeramatan Ma’nawy maupun Hissy ( tanpak Lahiriah).

Kekeramatan Ma’nawy jauh lebih tinggi nilainya, antara lain :

        Beliau sangat besar perhatian dan patuhnya terhadap Syariat Islam Lahir dan batin, dalm segala aspeknya, dalam segala hal ihwal menjiplak / taqlid pada Rasulullah Saw. jadi tidak nyeleneh-nyeleneh / berbuat macam-macam yang membuat orang bingung, bahkan beliau bersabda : “ Barang siapa mendengar sesuatu dariku cocokanlah dengan timbangan Syar’i (Al Qur’an dan Sunnah), jika cocok ambillah jika tidak tinggalkanlah”.

        Bisa melihat dan selalu bersama Rasulullah Saw., dalam keadaan sadar tidak pernah terhalang dengan beliau walau sekejap mata dan beliau selalu mendapat bimbingan dari Rasulullah Saw. dalam segala hal ikhwalnya.

        Barang siapa bertemu / bermimpi beliau (Syeikh Ahmad At Tijany) pada hari senin atau jum’at masuk surga tanpa hisab dan tanpa di siksa atas jaminan Rasulullah Saw. dari Allah Swt.

        Syeikh Ahmad At Tijany RA. dapat melakukan dzikir, menemui tamu dan berfatwa pada umat dan menulis dalam waktu dan tempat yang sama tanpa merasa sibuk.

        Beliau menguasai semua ilmu yang manfaat, sehingga mampu menjawab dan membahas semua masalah yang diajukan kepadanya dengan mudah dan tepat serta sangat memuaskan. Digambarkan seakan akan ada papan (yang berisi semua ilmu) dihadapannya.

        Syeikh Ahmad At Tijany adalah pemegang mahkota kewalian tertinggi yaitu Al Khatmul Aulia’ Al Muhammady, sebagai mana Rasulullah Saw. adalah Al Khatmul Anbiya’. Dari beliaulah (Syeikh Ahmad At Tijany RA.) semua wali Allah sejak dari zaman Nabi Adam sampai hari kiamat mendapat aliran / masyrab ilmu kewalian , Fuyudlat dan Tajalliat serta Asror-Asror yang mengalir dari Rasulullah Saw. baik mereka menyadari atau tidak,sebagaimana para nabi terdahulu, mereka mendapat Masyrab ilmu kenabian dari Rasulullah Saw. selaku Khatmul Anbiya’. (lebih jelas silahkan pelajari Ar Rimah Juz 2/17)”. Al Masyrabul Kitmani”.

        Beliau mengetahui “Ismul A’dzam” dan berdzikir dengannya

Dan masih banyak lagi karomah beliau yang tidak disebutkan dalam buku singkat ini.

Adapun Karomah Hissiyah Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany sangat banyak, diantaranya adalah :

    Ketika beliau dilantik “ Wali Al Quthbaniatul ‘Udzma”, pada bulan Muharram 1200 H. oleh Rasulullah Saw. rumah beliau dikota Fas Maroko (Afrika paling barat /Magribi), sedangkan pelaksanaan pelantikannya dijabal Rahmah Padang Arafah. (dapat menempuh jarak perjalnan jauh dalam sekejap).

    Beliau bisa menampakan diri dan memberikan bimbingan pada murid-muridnya di berbagai tempat yang berbeda dan berjauhan dalam waktu yang sama

    Pada bulan Muharram 1279 H. (49 tahun setelah beliau wafat) dimana pada saat itu terjadi kekeringan yang panjang dan sangat sulit air. dari kubur beliau memancar keluar air susu yang sangat lezat dan banyak, sehingga banyak orang berbondong-bondong datang untuk mengambil dan meminumnya, sampai saat ini susu tersebut masih ada tersisa (dimusiumkan) dan tetap tidak mengalami perubahan / tidak basi.

    Rasulullah Saw. sangat mencintai Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany RA. melebihi cinta seorang ayah kepada seorang anaknya.

    Barang siapa yang cinta kepada Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany RA. tidak akan mati kecuali telah menyandang predikat wali Allah.

    Barang siapa mencela / mencerca / menghujat Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany RA. kemudian tidak bertobat akan mati kafir ( hal ini jaminan dan peringatan langsung dari Rasulullah Saw).

وقا ل لى : يا احمد ان من سبك ولم يتب لا يموت الا كا فرا وان حج وجا هد ، قلت له يا رسول الله ان العا رف با لله سيد ى عبد الرحمن الشا مى ذ كر ان الحج لا يموت على سوء الخا تمه ،قا ل لى سيد ى الوجود : يا ا حمد من سبك ولم يتب ما ت كا فرا ولوحج وجا هد ، يا ا حمد كل من سعى في

هلا كك فأنا غضبا ن عليه ولم تكتب له صلاته ولاتنفعه ،

( الفيض الرباني : 28 )

“Berkata kepadaku Rasulullah Saw. : Ya Ahmad, sesungguhnya barang siapa mencelamu dan tidak bertobat tidak akan mati kecuali dalam kekafiran, walau haji dan berjihad. Saya berkata : Ya Rasulallah, sesungguhnya Al ‘Arif billah Sayyidy Abdurrahman As Syami mengatakan bahwa orang yang haji tidak akan mati su’ul khatimah, berkata kepadaku Sayyidul Wujud Rasulullah Saw. : Ya Ahmad, barang siapa mencelamu dan tidak bertobat, maka ia pasti mati kafir walaupun ia haji dan berjihad. Ya Ahmad barang siapa yang berusaha mencelakakanmu akulah yang marah kepadanya, dan tidak akan dicatat sholatnya, serta tidak akan membawa manfaat baginya”.

(al Faidl al Rabbani : 28).

Hal tersebut diatas sesuai dengan hadits qudsi :

من عا د ى لى وليا فقد اذنته با لحرب . ( رواه البخاري )

“Barang siapa menyakiti wali-Ku, maka kuumumkan perang kepadanya”.(HR. Buhori).

Adakah orang yang mampu dan menang jika perang melawan Allah Swt ?

Dan masih banyak lagi karomah-karomah lain dan masyhur, diantara para sahabat dan murid-muridnya

  1. Amalan-amalan dalam Thariqah At Tijany

Ada 2 (dua) macam amalan dalam Thariqah At Tijany, antara lain

    Auradul Laazimah / wirid wajib, yang harus di amalkan oleh murid / Ihwan Thariqah At Tijany, diantaranya :

        Wirid Laazim, yaitu :

            Istigfar 100x

            Sholawat 100x (Al Afdlal Sholawat Al Fatih)

            Hailalah (laailaaha illallah) 100x

Dikerjakan 2x sehari semalam, pagi dan sore. Pagi dimulai selesai sholat subuh sampai waktu ashar paling lambat sampai maghrib. Kalau belum sempat dikerjakan (ada udzur syar’i) bisa di qodha’ dimalam hari. Untuk wirid sore dimulai selesai sholat ashar sampai terbit fajar. Untuk wirid pagi hari bisa di takdim yaitu dilakukan malam hari dengan catatan harus selesai sebelum masuk waktu shalat subuh.

        Dzikir Wadzifah, yaitu :

            Istigfar 30x

            Sholawat Al fatih 50x (tidak bisa diganti dengan shalawat lain)

            Hailalah (laailaaha illallah)100x

            Shalawat Jauharotul kamal 12x (bisa diganti Shalawat Al Fatih 20x)

Dikerjakan 1x dalam sehari semalam, jika mampu Istiqomah bisa 2x sehari semalam, waktunya tidak mengikat dari selesai sholat ashar s/d waktu ashar esoknya. ( Al afdhol malam hari bagi yang melazimkan 1x sehari semalam).

  1. Dzikir Hailalah (laailaaha illallah) sebanyak 1000 / 1200 / 1600x. atau tanpa hitungan sampai menjelang adzan maghrib, dikerjakan satu minggu sekali, yaitu setiap hari jum’at selesai sholat ‘ashar. Diutamakan dzikir secara berjama’ah jika tidak ada udzur Syar’i. caranya berjama’ah dzikir wadzifah dulu, lalu dzikir Hailalah, diutamakan lagi agar selesai pas menjelang adzan maghrib.

Catatan :

    Untuk wirid Lazimah dan dzikir wadzifah jika udzur dan tidak dilaksanakan, misalnya dalam perjalanan dan sebagainya , maka wajib qadla’. Sedangkan dzikir hailalah jum’at tidak wajib qadla’, Cuma jangan sampai dilalaikan, karena meninggalkan wirid sebab lalai itu dosa besar.

    Orang yang sakit parah dan tidak mampu melaksanakan wirid juga orang yang haid dan nifas tidak wajib qadla’.

    Dalam melaksanakan wirid harus tartil dan tertib urutan-urutannya jadi tidak boleh diubah, dikurangi maupun ditambah, kalau terjadi kelalaian sampai lebih misalnya hailalah, sholawat, atau istigfar walaupun hanya satu, maka wajib bayar denda masing masing dengan baca istigfar 100x setelah selesai wirid. Jika kurang maka harus dilengkapi kekurangannya dan baca istighfar 100 X sebagai dendanya.

    Untuk wirid lazim tidak boleh dikerjakan berjamaah, jadi sendiri-sendiri. Sedangkan wadzifah dan hailalah sebisa mungkin harus berjama’ah, jika ada ikhwan di daerah tersebut.

    Untuk sholawat jauharatul kamal, ada syarat-syarat khusus dalam mengerjakannya antara lain :

        Harus punya wudhu’,tidak bisa dengan tayamum, kalau tidak maka saat wadhifah, jauharatul kamal yang 12x diganti dengan sholawat fatih 20x.

        Harus dibaca dalam keadaan duduk sempurna, tidak boleh dibaca dalam keadaan berdiri atau tiduran maupun di kendaraan atau di kapal laut, pesawat dan kendaraan lainnya.

        Suci baik badan, pakaian dan tempat wirid.

        Tempat wirid harus luas, minimal cukup untuk tempat duduk 7 orang termasuk yang berdzikir.

        Istihdhar / khusyu’ karena Rasulullah SAW bersama sahabat yang 4 dan Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany RA. hadir pada bacaan yang ke7 sampai selesai.

2) Aurad Ihtiyari :

Yaitu wirid tambahan, tidak wajib dilakukan, Cuma sangat dianjurkan bagi mereka yang bisa memeliharanya dengan istiqomah, seperti istighatsah, berbagai macam shalawat, hizib-hizib seperti hizbus Saifi, hizbul mughni, hizbul bahar dan lain-lain. Jika ingin mengamalkan harus ada izin dari muqaddam yang berhak memberi izin .

    Keutamaan wirid Thariqah At Tijany dan Dasar Hukumnya.

Semua thariqah mu’tabarah mempunyai sanad yang sambung sampai dengan Baginda Rasulullah Saw, masing-masing mempunyai wirid dan keutamaan sendiri-sendiri. Cuma kalau diperhatikan semua mempunyai kesamaan, yaitu wirid yang wajib diamalkan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan sunnah Nabawiyah, dengan tujuan yang sama yaitu Ilallah (sampai dan Ma’rifat ilallah). Sedangkan perbedaannya adalah dari segi metode (cara) melakukan wirid. Dari semua thariqah yang ada, dzikir yang dibaca tidak menyimpang dari antara lain : Istigfar, sholawat, dan hailalah serta Asmaul Husna juga ayat-ayat Al Qur’an. Hanya saja metode melakukan wirid yang berbeda beda, termasuk pula pada penekanan terhadap komponen tersebut diatas juga berbeda, ada yang menekankan pada sholawat saja, atau hanya hailalah saja atau lafadz Allah saja, ada juga yang kombinasi dan lain-lain. Sedangkan wirid thariqah At Tijany meliputi kesemuanya , ya istigfar, sholawat dan hailalah.

Dasar Hukum Aurad Thariqah At Tijany.

Adapun dasar hukum pada kesemua komponen diatas ( istighfar, shalawat, hailalah ), baik di Al Qur’an dan sunnah (Al Hadist Shohih) tidak diragukan lagi keabsahannya.

1) Istighfar

        Firman Allah Swt.

وما كا ن الله معذبهم وهم يستغفرون.(الانفا ل : 33)

“ Dan Allah tidak akan menyiksa suatu kaum sedangkan mereka ber istigfar (memohon ampun)”. (QS. Al Anfaal : 33)

استغفروا ربكم انه كا ن غفا را – (نوح : 29)

“ Mohonlah ampun (beristigfar) kepada tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun “. (QS. Nuh : 29)

        Al Hadits

قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : من لزم الاستغفا ر جعل الله تعالى له من كل ضيق مخرجا

ومن كل هم فرجا ورزقه من حيث لا يحتسب.( رواه ابو داود )

“Barangsiapa melazimkan istigfar (baca dengan Istiqomah) maka AllahSwt. Memberi jalan keluar atas kesulitannya dan kegembiraan atas semua kesusahannya serta memberinya rizki tanpa perhitungan / dari jalan diluar dugaannya”. (HR. Abu Daud)

والذى نفسى بيد ه لولم تذنبوا لذ هب الله تعالى بكمولجا ء بقوم يذ نبون فيستغفرون الله تعالى فيغفر لهم

( رواه مسلم )

“Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, andaikan kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah membinasakan kamu semua, dan kemudian Allah mendatangkan (menciptakan) satu kaum yang berbuat dosa kemudian mereka mohon ampunan, lalu Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)Sholawat

Firman Allah

قا ل الله تعالى : ان الله وملا ئكته يصلون على النبىيا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

( الاحزاب : 56)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersolawat atas Nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzaab : 56).

Dari ayat diatas yang perlu kita cermati yaitu perintah Allah yang didahului dengan pemberitahuan bahwa Dia (Allah Swt.) sendiri dan para malaikatNya bershalawat pada Nabi, baru kemudian dia memberikan himbauan / perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw. Oleh karena itu bisa kita bayangkan betapa besar arti dan nilai shalawat bagi Allah Swt. Adapun hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan shalawat sangatlah banyak, diantaranya :

وعن عبد الله بن عمرو بن العا ص رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “من صلى علي صلاة ، صلى الله عليه بها عشرا” ( رواه مسلم )

Diriwayatkan oleh Abdillah bin ‘Amru bin Al ’Ash Radiyallaahu ‘anhuma, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah membalas kepadanya dengan sepuluh shalawat”*/ (HR. Muslim) */(Shalawat Allah adalah dengan menurunkan rahmat).

وعن ابن مسعود رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قا ل : “أولى النا س بي يوم القيا مة أكثرهم علي الصلاة ” ( رواه الترمذ ي – وقا ل حديث حسن )

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling mulya disisiku pada hari qiyamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku”. (HR. Al Turmidzi – Hadits hasan).

وعن أوس بن أوس رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ان من أفضل ايا مكم يوم الجمعة ، فأكثروا علي من الصلاة فيه ، فا ن صلاتكم معروضة علي” فقالوا : يا رسول الله ، وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد ارمت؟…. قا ل: يقول : بليت ، قا ل : “ان الله حرم على الارض أجسا د الانبياء “( رواه ابو د اود با سنا د صحيح)

Diriwayatkan oleh Aus bin Aus RA : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hari yang paling utama bagimu adalah hari Jum’at. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku didalamnya. Sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku”. Para sahabat bertanya : Ya Rasulallah, Bagaimanakah shalawat kami disampaikan kepada Tuan, padahal Tuan sudah berkalang tanah?… Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bagi tanah untuk makan jasad para Nabi”. ( HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih ).

وعن ابي هريرة رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم :” رغم انف رجل ذكرت عند ه فلم يصل علي ” ( روا ه الترمذ ي )

Diriwayatkan oleh Ibu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh hina bagi seorang laki laki yang mana ketika disebut namaku disisinya, dia tidak bershalawat kepadaku”. ( HR. Al Turmudzi )

وعن ابي هريرة رضي الله عنه قا ل : قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : “ما من احد يسلم علي الا رد الله علي روحي حتى أرد عليه السلام ، ( رواه ابو د اود با سنا د صحيح)

Diriwayatkan oleh Ibu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: “Tak seorangpun yang bershalawat kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku, sehingga aku menjawab salamnya”. (maksudnya : Allah mengembalikan ruh Rasulullah kedalam jasadnya sehingga dia bisa menjawab setiap shalawat dan salam dari ummatnya. Akan tetapi karena Beliau ada di Alam Barzah maka tidak semua orang bisa melihat dan mendengarnya).

وعن فضا لة بن عبيد رضي الله عنه قا ل سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يد عو فى صلاته لم يمجد الله تعالى ولم يصل على النبي صلى الله عليه وسلم : فقا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” عجل هذ ا ” ثم دعا ه فقا ل له – أو لغيره-: اذا صلى ا حد كم فليبد اء بتحميد ربه سبحا نه والثناء عليه ، ثم يصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ، ثم يدعو بعد بما شا ء ”

( رواه أبو داود والترمذ ي – وقا ل حد يث حسن صحيح )

Diriwayatkan oleh Fudhalah bin ‘Ubaid RA berkata: “Rasulullah mendengar seorang laki laki yang berdoa dalam shalatnya, dia tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi SAW. lalu beliau bersabda: ‘orang ini tergesa gesa’, kemudian beliau memanggilnya dan beliau bersabda kepada dia dan orang lainnya : ‘Bila seorang diantaramu berdoa, maka hendaklah dimulai dengan memuji Allah, Tuhannya. Kemudian bershalawat kepada Nabi SAW, lalu berdoalah sekehendaknya’.” (HR. Abu Daud dan Al Turmudzi – Dia mengatakan bahwa Hadits ini Hasan shahiih).

Dengan menelaah ayat Al Qur an dan hadits hadits tersebut diatas serta hadits hadits lain dari berbagai sumber, dalam kitab Syaraful Ummati Muhammadiyah karangan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki menjelaskan bahwa faedah sholawat itu sangat besar dan banyak, ada 39 keutamaan yang dia sebutkan dalam kitab tersebut, diantaranya :

    Melaksanakan perintah Allah Swt.

    Meniru Allah Swt. dalam shalawat pada Rasulullah Saw. perbedaannya shalawat kita adalah do’a dan permohonan, sedangkan shalawat Allah Swt. adalah pujian dan kemulyaan atas Rasulullah Swt.

    Meniru pekerjaan para Malaikat.

    Mendapat imbalan 10 shalawat dari Allah untuk satu kali shalawat atas Rasulullah Saw.

    Mendapat Tambahan 10 derajat disisi Allah Swt.

    Ditulis bagi orang yang bersholawat 10 kebaikan.

    Dihapus darinya 10 keburukan / dosa.

    Penyebab terkabulnya do’a, karena do’a yang didalamnya tidak ada sholawat maka do’anya akan terkatung-katung antara langit dan bumi. Artinya doa tersebut tidak disampaikan kehadirat Allah SWT.

    Sarana untuk mendapatkan syafaat Rasulullah Saw.

    Penyebab diampuninya dosa.

    Penyebab tercapainya cita-cita.

    Penyebab dekatnya seseorang dengan Rasulullah Saw. di hari kiamat.

    Penyebab tercapainya hajad.

    Penyebab tercurahnya sholawat dari Allah Swt. dan para malaikat atas seorang hamba.

    Penyebab sampainya berita gembira masuk surga bagi seorang hamba sebelum mati, dan masih banyak lagi keutamaan bershalawat pada Nabi SAW yang tidak disebutkan dalam buku singkat ini.

Keutamaan shalawat tersebut diatas adalah keutamaan shalawat secara umum, sedangkan shalawat Al Faatih mempunyai keistimewaan tersendiri. Adapun keutaman Shalawat Al Fatihi Limaa Ughlig ada dua yaitu:

    Ketutamaan yang dirahasiakan.

    Keutamaan yang bisa dijelaskan, antara lain :

            Membaca 1x dalam sehari dijamin dengan mendapat kebahagiaan dunia akhirat.

            Membaca 1x dapat menghapus semua dosa dan mempunyai pahala semua tasbih, dzikir dan do’a yang diucapkan oleh semua orang tua dan muda yang terjadi pada waktu dibaca Al Fatih dan dilipat gandakan sebanyak 600.000 kali.

            10x sholawat Al Fatih pahalanya menyamai pahala ibadahnya wali ‘Ash sejuta tahun.

            1x sholawat Al Fatih lebih utama dari 600.000x sholawatnya para Malaikat, manusia dan jin, dihitung sejak dari baru pertamakali diciptakan sampai pada waktu dibacakannya sholawat Al Fatih.

            Pembacaan ke2 ke3 danseterusnya mendapat kembali pahala yang pertama dan seterusnya. Jelasnya bacaan ke2 mendapat tambahan pahala bacaan ke1. Bacaan ke3 mendapat tambahan pahala bacaan ke 1 dan ke2, demikian pula bacaan ke 4 ke 5 dan seterusnya.

            Jika ingin bermimpi jumpa Rasulullah Saw. bacalah sholawat Al Fatih 1000x tiga malam berturut-turut ( malam Rabu, Kamis dan jum’at) dengan badan pakaian serta tempat tidur yang suci. Dan masih banyak lagi keutamaan Al Fatih yang tidak ditulis dalam buku ini.

    Hailalah

Firman Allah Swt

قا ل الله تعالى : فاعلم انه لااله الا الله. (محمد: 19)

“ Maka ketahuilah sesungguhnya tiada tuhan selain Allah”. (QS. Muhammad : 19)

قا ل صلى الله عليه وسلم : افضل ما قلته والنبيون من قبلى

لااله الا الله. ( رواه مالك بن أنس )

“Ucapan paling utama yang Aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah “Laa ilaaha illallah”. (HR. Malik bin Anas)

عن جابر بن عبد الله يقول ، سمعت رسول الله صلى الله عليه

وسلم يقول: أفضل الذكر لآاله الاالله . ( رواه الترمذ ي )

“Dari Jabir bin Abdullah berkata; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Dzikir paling utama adalah ‘Laa ilaaha illallah’. (HR. Turmudzi)

عن أم هانيء قالت ، قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم :

لآاله الا الله لايسبقها عمل ولا تترك ذنبا . ( رواه ابن ما جه )

“Dari Ummu Hani’ berkata, Bersabda Rasulullah SAW : ‘Laailaaha illallah’ tidak ada satu amalpun yang melebihi (keutamaannya), dan tidak menyisakan satu dosapun”. (HR. Ibnu Maajah).

جد د وا ايمانكم ، قيل وكيف نجد د ايماننا يا رسول الله ؟ قا ل :

أكثروا من قول لآاله الا الله .( رواه احمد و الحكيم )

“Perbaharuilah iman kalian!, lalu Rasulullah SAW ditanya; Bagaimana cara kami memperbaharui iman kami ya Rasulullah? .. ‘Perbanyaklah mengucapkan Laailaaha illallah”. (HR. Imam Ahmad dan Imam Al Hakim).

قا ل صلى الله عليه وسلم : ما قا ل عبد لااله الا الله مخلصا منقلبه الا فتحت له ابواب السماء حتى يفضى الى العرش مااجتنبت الكبائر . ( رواه الترمذ ي والنسا ئى )

“Tidaklah seorang hamba yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya, kecuali dibuka baginya pintu-pintu langit sampai Arasy. Selama ia menjauhi dosa dosa besar”. (HR. Turmudzi dan Nasai)

قا ل صلى الله عليه وسلم : من قا ل عبد لا اله الا الله ومد ها هد مت له اربعة الاف ذنب من الكبائر. ( رواه الد يلمي )

“Barang siapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan madnya (dipanjangkan) digusur darinya 4000 dosa besar “. (HR. Al Dailamy)

قا ل صلىالله عليه وسلم : يقول الله تعالى : لا اله الا الله حصنىفمن د خل حصنى أمن من عذابى. ( الحديث القد سى، رماح : 2/92)

“Rasulullah SAW bersabda; Allah berfirman : Laa ilaaha illallah itu bentengku, barang siapa masuk kedalamnya aman dari azabku”. ( Hadits Qudsi – Rimah 2/92)

Diantara keutamaan wirid wadzifah adalah :

    menghapus dosa yang terjadi waktu antara dua wirid wadzifah.

    menghasilkan syafaat khusus dari Rasulullah Saw.

sedang keutamaan dzikir Hailalah Jum’at adalah Rasulullah Saw. hadir dan menyertai mereka (dalam dzikir) mulai awal dibaca dzikir sampai selesai.

Shalawat Jauharotul Kamal

Shalawat Jauharatul Kamal adalah salah satu shalawat yang diajarkan langsung oleh Sayyidil Wujud Rasulullah Saw. kepada Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany dalam keadaan sadar / jaga bukan dalam mimpi. adapun keutamaannya sangat banyak, diantaranya :

  1. 1x Sholawat Jauharatul Kamal menyamai tasbih seluruh alam 3x.
  2. Jika dibaca sebanyak 7x tiap hari dengan istiqomah Rasulullah Saw. cinta pada orang tersebut dengan cinta dan perhatian khusus.
  3. Jika dibaca 7x sebelum tidur dengan istiqomah akan bermimpi Rasulullah Saw. dengan catatan ketika akan tidur harus punya wudlu’ dan pakaian serta tempat harus suci.
  4. Rasulullah dan sahabat yang 4 serta Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany hadir pada bacaan ke 7 dan tetap mendampinginya sampai berhenti membaca dan berbicara.
  5. Jika dibaca 12x kemudian mengucapkan:

هذ ه هد ية منى اليك يا رسول الله ،،، الخ

Maka mendapat keutamaan sebagaimana ziarah kepada Nabi Muhammad Saw. dan para auliya’ serta shalihiin dari zaman awwalul wujud (mahluk pertama diciptakan) sampai dibacanya shalawat Jauharatul Kamal.

  1. Jika mengalami kesulitan yang sangat, bacalah Jauharatul Kamal 65x maka Allah akan melepas kesusahan itu secepatnya.dan masih banyak lagi keutamaan Jauharatul Kamal yang tidak tersebut dalam buku ini.
  2. Keutamaan Bagi Orang Yang Masuk (baiat) Thariqah At Tijany

Keutamaan Thariqah At Tijany ada 2 (dua) :

    Keutamaan bagi semua orang yang menyakini kewalian Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany dan hormat serta cinta kepada beliau juga senang dan hormat terhadap pengikut Thariqah At Tijany sampai mati, dengan catatan “ Tidak pernah merasa aman dari ancaman murka Allah Swt”. maka ia akan mendapatkan jaminan Allah SWT melalui Rasulullah SAW dengan jaminan antara lain:

    Akan mati membawa Islam Dan Iman.

    Dimudahkan dalam sakaratul maut

    Mendapat kemudahan dan kebahagiaan di alam kubur

    Allah Swt. menjamin keamanan baginya dari semua jenis siksaan dan semua kesulitan, sejak matinya sampai masuk kedalam surga.

    Diampuni semua dosanya yang terdahulu dan kemudian

    Mendapat Rahmat Allah karena semata-mata karunia Allah Swt. bukan karena kebaikan orang tersebut.

    Allah tidak akan menghisab / memperhitungkan amalnya dan tidak akan mengurangi sedikitpun serta tidak akan ditanya apapun tentang amalnya di hari kiamat.

    Allah memberi naungan dibawah Arasy di hari kiamat

    Allah akan memberi kekuatan ketika melewati syirath, sehingga sampai kesurga dalam sekejap mata dengan kawalan Malaikat.

    Diberi minum oleh Allah Swt. dari telaga Rasulullah Saw.

    Masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa dalam rombongan pertama bersama Rasulullah SAW.

    Allah meletakkannya / memberi tempat tinggal di Illiyyiin dalam surga firdaus dan aden.

    Rasulullah Saw. cinta pada orang yang cinta Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany dan dia tidak akan mati kecuali sudah menyandang predikat sebagai wali Allah.

    Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany RA. cinta pada orang yang cinta kepadanya.

Untuk keutamaan no.1 s/d 14 ini Allah Swt. memberikan kepada siapa saja yang cinta dan taslim kepada Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany sampai akhir hayat walaupun tidak mengikuti / tidak mengamalkan thariqah At Tijany.

    Bagi Mereka Yang Mengikuti / mengamalkan Thariqah At Tijany dengan baiat Shahiih akan mendapatkan keutamaan yang lebih banyak lagi diantaranya :

    Kedua orang tuanya, kedua mertuanya, istri istrinya serta anak anaknya dijamin masuk surga tanpa hisab (tanpa dihitung amalnya) dan tanpa disiksa serta diampuni dosa dosanya baik besar maupun kecil. Dengan catatan mereka itu semua orang Islam yang tidak benci dan tidak mencela Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany. Lebih terjamin lagi jika mereka itu cinta kepada Sayyidi Syeikh Ahmad Bin Muhammad At Tijany RA, walaupun tidak ikut mengamalkan wirid Thariqah At Tijany.

    Rasulullah SAW menjadi sandaran utama mereka sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA :

قا ل صلى الله عليه وسلم“فقراء ك فقرائى وتلاميذ كتلاميذ ى واصحابك اصحابى” فما اسرف هذ ه

الاضا ف ؟ . ( الفيض الربا ني : 28)

Artinya : Bersabda Rasulullah SAW : “Para fuqara’ (yang menjadi tanggunganmu) itu adalah fuqara’ku juga (tanggunganku juga), murid muridmu itu semua adalah murid muridku, sahabat sahabatmu adalah sahabat sahabatku”. Adakah tempat bersandar yang lebih mulya dari Rasulullah ?…..

    Ketika naza’ / sakaratul maut, Rasulullah SAW akan hadir menjemput ruhnya.

    Rasulullah SAW akan mendampinginya ketika ditanya oleh 2 malaikat (Munkar dan Nakiir).

    Imam Mahdi Al Muntadzar menjadi ihwan Thariqah At Tijany, dan sebagai tanda akan datangnya Imam Mahdi Al Muntadzar yaitu jika Ihwan Thariqah At Tijany sudah banyak, merata, tersebar di berbagai Negara sampai ke desa desa.

    Martabatnya Ihwan Thariqah At Tijany lebih tinggi derajatnya dari martabatnya wali Qutub walaupun mereka hanya sebagai orang awam.

فعلم صلى الله عليه وسلم : ان بين اصحابه وبيناصحا ب هذا الشيخ منا سبة تا مة ، وبتلك المنا سبة

كانوا عند الله اكبر من اكابر الاقطا ب والعا رفينوالاغواث وان كانوا فى الظا هر من جملة العوام .

( الفيض الربا ني : 28 )

Rasulullah Saw. Memberi tahu kepada Syeikh Ahmad At Tijany Ra. bahwa antara sahabat Rasululullah dan sahabatnya Syeikh Ahmad At Tijany mempunyai persamaan yang sempurna dan dengan kesamaan inilah ihwan Thariqah At Tijany bagi Allah Swt. lebih tinggi nilainya dari pada Qutub, Arifin dan Al Ghauts walaupun tampang dhohirnya hanyalah orang awam. (Al Faidlur Rabbani : 28)

    Pada saat mereka berdzikir, ikut berdzikir bersama mereka 70.000 malaikat selama dzikir berlangsung dan pahala berdzikir para malaikat tersebut ditulis untuk mereka.

    Dalam wirid lazim terdapat syighat ismul A’ dzam Cuma berbeda dengan Syighat Ismul A’dzom yang khusus untuk Nabi Saw.

    Mendapat pahala membaca ismul A’dzam walaupun tidak mengetahui Ismul A’dzam tersebut.

    Tidak akan mencicipi pedih / sakitnya prahara sakaratul maut.

    Diakhirat mendapat tempat khusus dibawah naungan Arasy

    Tidak mengalami atau merasakan dasyatnya mauqif / mahsyar, akan tetapi ihwan Tijani dikumpulkan bersama orang-orang yang aman didekat pintu surga, sampai masuk kedalam surga bersama Rasulullah Saw. dan para sahabatnya dirombongan pertama.

    Menjadi tetangga Rasulullah dan para sahabat disurga.

    Dan masih banyak lagi keutamaan lainnya.

  1. Syarat-syarat & kewajiban dalam Thariqah At Tijany

Thariqah At Tijany dalam mendidik, mengarahkan dan memelihara murid-muridnya yang dalam istilahnya disebut ihwan Thariqah At Tijaniy / Ikhwan At Tijany mempunyai syarat-syarat dan peraturan-peraturan, meliputi antara lain :

    Syarat masuk Thariqah At Tijaniyah

    Kewajiban atas Ikhwan At Tijany

    Larangan atas Ikhwan At Tijany

    Peraturan dan cara melaksanakan dzikir Thariqah Tijaniyah

Syarat-syarat masuk Thariqah At Tijaniyah :

    Calon Ikhwan Tijany tidak mempunyai dan mengamalkan Thariqah lain.

    Yang mentalqinnya telah mendapat idzin yang syah untuk memberi wirid.

    Di Talqin / mendapat idzin/ bai’at mengamalkan wirid Thariqah Tijaniyah.

Keterangan :

    Apabila calon Ikhwan Tijany itu telah masuk Thariqah selain Thariqah At Tijaniyah, maka Thariqahnya itu harus dilepas, sebab Thariqah At Tijaniyah tidak boleh dirangkap dengan Thariqah lain, sebenarnya thariqah lainpun juga tidak bisa dirangkap rangkap. Karena kalau seseorang mengamalkan lebih dari satu thariqah, berarti dia mempunyai dua guru pembimbing. Yang jadi masalah disini adalah tidak mungkin satu orang diantar kehadirat Allah oleh dua pengantar (Rijalullah). Tapi satu pembimbing (Syeikh / mursyid) bisa mengantar lebih dari satu orang murid.

    Wirid wirid selain dari Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany yang tidak termasuk ikatan thariqah seperti hizib-hizib, wirid-wirid, sholawat boleh diamalkan selama tidak mengganggu kewajiban thariqah. Tapi perlu diingat bahwa, guru kita Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany mempunyai amat sangat banyak wirid ikhtiyari yang beliau istiqamah membacanya tiap hari. Jadi jika untuk membaca punya guru sendiri saja tidak mampu karena banyaknya, untuk apa kita baca wirid wirid dari sumber lain. Kalau ingin tahu, sebagian wirid wirid beliau ada dalam kitab “Ahzab wa Aurad”.

Kewajiban Ikhwan Thariqah At Tijany :

    Harus menjaga syari’at.

    Harus menjaga sholat lima waktu dengan berjama’ah bila mungkin (jaga syarat-syarat berjama’ah sholat).

    harus mencintai Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany selama-lamanya (sampai mati).

    Harus menghormati siapa saja yang ada hubungannya dengan Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany.

    Harus menghormati semua wali Allah Swt. dan semua Thariqah.

    Harus mantap pada Thariqah, tidak boleh ragu-ragu.

    Selamat dari mencela Thariqah At Tijaniyah.

    Harus berbuat baik dengan kedua orang tuanya.

    Harus menjauhi orang yang mencela Thariqah At Tijaniyah.

    Harus mengamalkan Thariqah At Tijaniyah sampai akhir hayatnya.

Larangan atas Ikhwan Thariqah At Tijany:

    Tidak boleh mencaci, benci dan memusuhi Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA.

    Tidak boleh ziarah kepada wali manapun yang bukan Tijany.

    Tidak boleh memberikan wirid Thariqah At Tijaniyah pada orang lain tanpa ada izin yang syah untuk memberikan (sebelum dilantik jadi Muqaddam).

    Tidak boleh meremehkan wirid Thariqah At Tijaniyah, seperti mengahirkan waktunya tanpa udzur syar’i, atau mengerjakan secara asal asalan.

    Tidak boleh memutuskan hubungan dengan siapapun tanpa ada idzin syar’i terutama dengan ikhwan thariqah At Tijany.

    Tidak boleh merasa aman dari Makrillah (ancaman murka Allah).

Keterangan :

    Ziarah kepada wali yang bukan Tijany yang tidak boleh bagi Ikhwan Tijany ialah ziarah karena Istimdad ziarah untuk tawassul dan do’a. Apabila ziarah itu karena silaturahmi, ziarah untuk menuntut ilmu semata-mata karena Allah Swt. maka boleh berziarah. Bagi ikhwan Tijany yang belum mengerti perbedaan ziarah, maka jangan melaksanakannya, karena dikhawatirkan tanpa mereka sadari keluar dari Thariqah / Thariqahnya batal.

    Larangan ziarah atas murid / ikhwan Thariqah bukan hanya di thariqah Tijany saja. Sebelum Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany sudah ada larangan ziarah bagi murid Thariqah. Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Araby Alhatimiy berkata : “ Seorang guru Thariqah tidak mempermudah muridnya berijtima’ dengan guru lain, karena akan menimbulkan keraguan bagi si murid, tentang siapa diantara keduanya yang lebih tinggi (derajatnya) dan kepada siapa dia sebaiknya akan berguru. dan apa bila timbul keragu-raguan, maka si murid dilempar oleh hati mereka sendiri. Karena itu, dia tidak akan memperoleh manfaat dari keduanya. Jadi tujuan mengatur ziarah ialah untuk menjaga kemantapan hati si murid agar ia tidak keluar dari rangkulan gurunya sampai menghasilkan kesempurnaan.”

Syeikh Muhammad Al Munir dalam kitab Tuhfatus Saalikin berkata sebagai berikut :“Dan ketahuilah, melarang berziarah adalah wajib bagi guru Thariqah selama mereka (para murid) belum mencapai kesempurnaan dalam keyakinan”.

Sayyidi Uwais bin ‘amir Alqarany adalah sebaik-baik tabi’in berdasarkan hadits shohih Muslim. Ketika Hakim bin Maryam berkata : “ Hai Uwais, marilah kita adakan hubungan dengan ziarah dan pertemuan”, maka S. Uwais Alqarany menjawab : “ Saya telah mengadakan hubungan dengan kamu dengan apa yang lebih bermanfaat dari pada hubungan ziarah dan pertemuan, yaitu doa dari kejauhan. Sebab ziarah itu mengandung unsur-unsur memperlihatkan, berhias diri dan menampakkan yang tidak sesungguhnya.

Sebetulnya dalam Thariqah At Tijany tidak ada larangan ziarah secara mutlak, yang ada ialah mengatur cara berziarah, sebagaimana penjelasan Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA :

ان شيخنا رضى الله تعلى عنه وارضا ه وعنابه لم يعمم المنعلانه ما منع احد ا من أهل طريقته من التعلم من جميعالاولياء والعلماء ولامن حضور مجالسهم ولامن استماعمواعظهم وكلامهم ولا من التواصل فى الله وفىالرحم .

( رما ح : 1/156)

“Bahwa Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijany RA tidak melarang ziarah secara umum. Karena beliau tidak pernah melarang siapapun dari pengikut Thariqahnya menuntut ilmu kepada semua wali dan ulama, tidak melarang menghadiri majlis (ta’lim) mereka, tidak melarang mendengarkan wejangan-wejangan dan perkataan mereka dan tidak melarang mengadakan hubungan / ziarah karena Allah Swt. dan silaturrahim”. (Rimah : 1/156)

Dan ikhwan Thariqah Tijany berkewajiban menuntut ilmu untuk menjaga ‘aqidah dan amal ibadah nya.

اعلم انه يجب على كل مكلف أن يحصل من العلم مايصح به اعتقاد ه على مذ هب اهل السنة والجما عة ومما تصح به اعماله على وفق الشريعة المطهرة، ويجب على أهل السلوك الى طريق أهل الله الصا د قين أ ن يحصلوا من العلم ماتصح به أعما لهم على الوفا ق بين المذاهب الاربعة ( رما ح : 1/ 99)

Ketahuilah bahwa semua orang mukallaf berkewajiban menghasilkan ilmu yang menjadikan sah ‘aqidahnya sesuai dengan madzhab ahlus sunnah wal jama’ah dan ilmu-ilmu yang menjadikan syah amal ibadahnya sehingga cocok dengan syri’at yang suci itu. Dan wajib bagi orang yang mengikuti Thariqah para Ahlullah (wali Allah) yang benar, mencari ilmu yang mengantarkan pada kebenaran amal ibadahnya sesuai dengan salah satu madzhab Imam yang empat”. ( Rimah : 1/99).

    Yang dimaksud meremehkan wirid ialah asal asalan (seenaknya) dalam melaksanakan wirid Thariqah, mengundurkan waktunya padahal tidak ada udzur dan melaksanakan wirid sambil bersandar tanpa udzur.

    Makrillah ialah siksa / adzab Allah Swt. yang tampaknya rahmat atau kelihatan seperti rahmat Allah Swt. tapi sebetulnya adalah Adzab Allah Swt.

Peraturan melakukan dzikir :

    Suara dalam keadaan normal, bacaan dzikir harus terdengar oleh telinga si pembaca.

    Harus suci dari najis, baik badan, pakaian, tempat dan apa saja yang dibawanya.

    Harus sici dari hadats, baik dari hadats kecil maupun dari hadats besar.

    Harus menutupi aurat sebagai mana sholat, baik bagi pria maupun wanita.

    Tidak boleh berbicara.

    Harus menghadap qiblat (jika wirid sendiri atau dalam shaf).

    Harus duduk sempurna (tidak boleh bersandar dan kaki selonjor, kecuali ‘udzur syar’i )

    Harus Ijtima’ dalam melaksanakan wirid Wadhifah dan Hailalah sesudah shalat ‘ashar pada hari jum’at apabila di daerahnya ada ikhwan.

Keterangan :

    Kalau udzur boleh tidak duduk, seperti sakit atau dalam perjalanan.

    Kalau udzur boleh tidak menghadap qiblat seperti dalam perjalanan atau ijtima’.

    Kalau ada udzur boleh berbicara asalkan tidak lebih dari dua kata, kalau lebih dari dua kata maka wiridnya batal, kecuali karena menjawab panggilan orang tua atau suaminya sekalipun bukan Ikhwan Tijany.

    Selain delapan peraturan itu masih ada peraturan untuk kesempurnaan yaitu :

    Istihdlarul qudwah yaitu waktu melaksanakan wirid dari awal sampai akhir membayangkan seakan-akan berada dihadapan Syeikh Ahmad At Tijany dan lebih utama berada dihadapan Sayyidil Wujud Rasulullah Saw. dengan keyakinan bahwa beliau pembimbing kita untuk menghantarkan kita wushul ilallah.

    Mengigat dan membayangkan makna wirid dari awal sampai akhir wirid. Kalau tidak bisa, maka supaya memperhatikan dan mendengarkan bacaan wiridnya.

Syarat-syarat membaca Jauharatul Kamal :

  1. Harus suci :
  2. Dari najis badan, pakaian, tempat dan apa saja yang dibawanya.
  3. Dari hadats, baik dari hadats kecil maupun dari hadats besar dan bersuci harus dengan air (wudlu), tidak boleh dengan tayamum.
  4. Harus menghadap qiblat
  5. Harus duduk sempurna, tidak boleh bersandar atau kaki selonjor apalagi berjalan.
  6. Tempatnya harus luas dan cukup untuk 7 orang

Kalau keempat syarat tidak terpenuhi, maka diganti dengan shalawat Al faatih 20x

Hal hal yang menyebabkan keluar dari Thariqah At Tijany :

        Mengambil Wirid, selain dari Thariqah At Tijaniyah.

        Melanggar larangan ziarah pada wali diluar Thariqah At Tijany.

        Berhenti / tidak membaca wirid Thariqah Tijaniyah dengan sengaja.

Melanggar salah satu dari larangan tersebut diatas, maka ia telah keluar dari Thariqah At Tijaniyah / batal Thariqahnya. Kami mohon perlindungan dari yang demikian itu kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Amiin. BAB III

KAIFIYAH / CARA MELAKSANAKAN WIRID THARIQAHAT TIJANY

    WIRID LAZIM

        MUQADDIMAHNYA :

الى حضرة النبى المصطفى المرتضى رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى اله واصحابه وعلماء الذ ين بلغوانا د ين الاسلام وخصوصا الى حضرة سيد نا وسند نا وقد وتنا ابى العباس احمد بن محمد التجا نى رضى الله عنه وعلى اله واصحابه ومريد ه واتبا عه من الانس والجا ن رضوا ن الله ورحمته عليهم الفاتحة ،،

    Baca Al Fatihah

    Baca Shalawat Al Fatih 3 x

    Lalu membaca

ان الله وملا ئكته يصلون على النبى يا ايها الذ ين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما صلى الله على سيد نا محمد وعلى اله وصحبه وسلم تسليما ، سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين ، اعوذبالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم وما تقد موا لانفسكم من خير تجد وه عند الله هو خير واعظم اجرا واستغفر الله ان الله غفور رحيم

    Lalu niat, yaitu :

نويت تعبد الى الله تعالى با داء وردنا اللازم فىطريقتنا التجانية طريقة حمد وشكر ايمانا واحتسابا لله تعالى

  Lalu baca istigfar 100 x ( استغفر الله ) ditutup …

سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

    Lalu membaca Shalawat 100 x minimal

( اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ا ل ) namun lebih afdhalnya baca shalawat Al Fatih 100 x lalu ditutup :

سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين،

    Lalu membaca kalimatut Tauhid : 99 x

Lalu ditutup ( لااله الاالله)

( لااله الاالله) 1x yang dibaca keras dan panjang – lalu lafadz

سيدنا محمد رسول الله ، عليه سلام الله ، سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

  1. Tahtim (penutup)

ان الله وملا ئكته يصلون على النبى يا ايها الذ ين امنوا صلواعليه وسلموا تسليما صلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم تسليما ، سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين،

– ditutup dengan membaca fatihah dan do’a.

  1. DZIKRUL WADZIFAH
  2. MUQADDIMAH sama dengan muqaddimah wirid lazim
  3. Niyat :

اللهم انى نويت التعبد الىالله تعالىبا داء ذكر الوظيفة فى طريقتنا التجانية طريقة حمد وشكر ايمانا وحتسابا لله تعالى

  1. Baca Istigfar 30 x

استغفر الله العظيم الذ ى لااله الا هو الحي القيوم

lalu ditutup :

سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين،

  1. Baca shalawat Al Fatih 50 x (tidak bisa diganti dengan shalawat lain)

اللهم صل على سيد نا محمد الفاتح لما اغلق والخاتم

لما سبق نا صر الحق با لحق والهاد ى الى صراطك المستقيم وعلى اله حق قد ره ومقداره العظيم

lalu ditutup :

سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين،

        Baca kalimatut Tauhid ( hailalah ) ( لااله الا الله )

99 x ditutup dengan membaca

لااله الا الله ، سيدنا محمد رسول الله ، عليه سلام الله ..

yang di baca keras dan dipanjangkan – lalu ditutup

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

        Baca Jauharatul Kamal 12 x . pada bacaan ke 12 dibaca dengan menadahkan tangan (sikap berdoa).

اللهم صل وسلم علىعين الرحمة الربانية والياقوتة المتحققة الحائطة بمركز الفهوم والمعانى ونور الاكوان المتكونة الاد مى صا حب الحق الربانى البرق الاسطع بمزون الارباح المالئة لكل متعرض من البحور والاوانى ونورك اللامع الذ ى ملأت به كونك الحائط با مكنة المكانى اللهم صل وسلم علىعين الحق التى تتجلى منها عروش الحقائق عين المعارف الاقوم صراطك التام الاسقم ، اللهم صل وسلم على طلعة الحق با لحق الكنز الاعظم افا ضتك منك اليك احاطة النور المطلسم صلى الله عليه وعلى اله صلاة تعرفنا بها ايا ه.

Setelah selesai membaca yang ke 12 lalu ditambah dengan membaca :

ان الله وملائكته يصلون على النبى ياايها الذ ين امنواصلواعليه وسلموا تسليما ، و صلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم تسليما ،سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين .

Kemudian membaca :

يا سيد ى يا رسول الله هد ه هد ية منى اليك فا قبلها بفضلك وكرمك يا سيد ي يا رسول الله صلى الله عليك وعلى الك واصحابك وازواجك وذ ريتك . جزى الله عنا سيدنا ونبينا ومولانا محمد صلى الله عليه وسلم خيرا الجزاء ، جزى الله عنا سيدنا وقدوتنا واما منا الى الله القطب المكتوم ابى العباس احمد بن محمد التجانى رضى الله عنه خيرا الجزاء ، جزى الله عنا خليفته سيد ى الحاج على حرازم رضى الله عنه خيرا الجزاء ، جزاالله عنا سادتنا الكرام المجيزين لنا والمفيدين لناعن سيدنا رضى الله عنه خيرا الجزاء ، اللهم غمسنا واياهم فى دائرة الرضا والرضوان واغرقنا وايا هم فى د ائرة الفضل والامتنا ن ، اللهم امن روعتنا وروعتهم واقل عثرتنا وعثرتهم والطف بنا وبهم لطفا عاما ولطفا خاصا واد مالهم علينا من الحقوق والتبعات من خزاءن رحمتك بمحض فضلك ومنتك يا ذ ا الفضل الجسيم والمن العظيم آمين ، سبحا ن ربك رب العزة عما يصفون وسلام علىالمرسلين والحمدلله رب العالمين،

  1. Dzikrul Hailalah ( ba’dal ‘Asri Yaumil Jum’ah)
  2. Muqaddimah
  3. Niyat

نويت التعبد الى الله تعالى با داء ذ كر الهيللة يوم الجمعة فىطريقتنا التجانية طريقة حمد وشكر ايمانا واحتسابا لله تعالى

    Membaca Hailalah ( لااله الاالله ) atau membaca lafal ( الله ) atau kedua duanya tanpa dihitung sampai maghrib. Kalau sendirian maka bacalah sebanyak 1600 x / 1500 x / 1200 x / sedikitnya1000 X lalu akhiri dengan lafadz

،لااله الاالله ، سيدنا محمد رسول الله ، عليه سلام الله

yang dibaca dengan suara keras dan panjang, lalu membaca :

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين ،

  1. Tahtim dan do’a.

catatan :

Pada hari Jum’at ada saat / waktu yang istijabah. Salah satunya adalah setelah sholat ashar. Dalam kitab I’anatut Thalibin juz 1/ 91 disebutkan :

يوم الجمعة ثنتا عشر سا عة فيه سا عة لايوجد فيها مسلم يسأ ل الله شيئا الا اعطا ه ايا ه فالتمسوها أخر سا عة بعد العصر. ( اعانة الطالبين : 1/91)

Pada hari jum’at ada 12 saat / jam. Tak seorang muslimpun yang memohon sesuatu pada Allah Swt. kecuali Allah akan memberinya, carilah waktu tersebut pada akhir saat setelah waktu ashar. ( I’anatut Tholibin juz 1 halaman 91 ).

قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم : عن أبي هريرة قا ل : أ خذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بيد ي فقا ل : خلق الله عز وجل التربة يوم السبت وخلق فيها الحبا ل يوم الاحد وخلق الشجر يوم الاثنين وخلق المكروه يوم الثلاثاء وخلق النور يوم الاربعاء وبث فيها الدواب يوم الخميس وخلق أد م عليه السلام بعد العصر من يوم الجمعة في آخر الخلق في آخر سا عة من سا عة الجمعة فيما بين العصر الى اليل. (رواه مسلم)

Dari Abi Hurairah RA. ia berkata : “ Rasulullah Saw. memegang tanganku kemudian bersabda: Allah Azza Wajalla menciptakan tanah ( bumi ) pada hari sabtu, dan Allah menciptakan gunung-gunung diatas bumi pada hari ahad, dan menciptakan pepohonan pada hari senin, dan menciptakan kemalangan pada hari selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, menebarkan binatang-binatang melata pada hari kamis dan menciptakan nabi Adam AS, setelah ashar hari jum’at diakhir ciptaanNya pada detik-detik terakhir hari jum’at yaitu diantara waktu ashar hampir maghrib ( malam ) ( HR. Muslim ).

HAL YANG BISA MENYULITKAN DAN MEMUDAHKAN UNTUK BANGUN MALAM TAHAJUD

Diantara sebab-sebab yang bisa menyebabkan sulit melaksanakan sholat malam atau tahajjud ada 4 :

  1. Menganggap penting urusan dunia dan lalai hiruk pikuk akherat.
  2. Sibuk berbicara tentang dunia dan berbicara yang tidak berguna bahkan batil dan banyak gaduh.
  3. Memayahkan anggota tubuh dengan pekerjaan yang berat di siang hari.
  4. Kebanyakan makan sehingga mudah tidur.
SILAHKAN BACA JUGA : DO’A SHOLAT TAHAJUD BESERTA ARTINYA

Di antara sebab-sebab yang bisa menjadikan mudah untuk melaksanakan sholat malam atau tahajjud ada 4 :

  1. Tajdidul wudhu’ / selalu memperbaharui wudhu’.
  2. Berdzikir sebelum matahari tenggelam, termasuk diantaranya adalah membaca tasbih.

As Suhrawardi berkata : hendaknya diantara siang dan malam membaca tasbih berikut ini 100 kali :

 سبحان الله العلي الديان سبحان الله الشديد الأركان سبحان من يذهب بالليل  ويأتي بالنهار سبحان من لا يشغله شأن عن شأن سبحان الله الحنان المنان  سبحان الله المسبح في كل مكان

Subhaana’llaahi’l ‘aliyyi’d dayyaan, subhaa-na’llaahisy syadiidi’l arkaan, subhaanaman yadzhabu bi’l-lail,  wa ya’tii  bi’nna-haar, subhaana man laa yusy-ghiluhuu sya’nun ‘an sya’n,  subhaana’llahil han-naanil mannaan, subhaana’llaahi’l musabbahi fi ku’lli makaan.

Artinya : “Mahasuci Allah yang mahatinggi, lagi yang mahaperkasa, mahasuci  Allah, yang maha kokoh sendi-sendi ciptaanNya, mahasuci yang pergi  dengan malam dan datang dengan siang, mahasuci yang tidak disibukkan  oleh suatu keadaan dari keadaan. Mahasuci Allah, yang mahapenyantun,  yang melimpah-limpah ni’matNya. Mahasuci Allah yang dipujikan di seluruh tempat”.

Barang siapa membaca tasbih tersebut seratus kali maka tidak akan wafat hingga dia melihat tempatnya di syurga.

  1. Beribadah di antara maghrib dan isya’’.
  2. Tidak berbicara setelah melakukan ibadah itu.

Hujjatul Islam Imamuna Al Ghazali berkata : “Ketahuilah bahwa qiyamul lail itu sulit kecuali bagi orang yang telah  di tolong untuk melakukan qiyamul lail dengan syarat-syarat yang memudahkanya, melakukan qiyamul lail secara dhohir dan bathin .

Adapun syarat-syarat yang  memudahkanya secara dhohir ada 4 :

  1. Tidak memperbanyak makan yang bisa menyebabkan banyak minum dan banyak tidur jadinya berat untuk bangun malam.
  2. Tidak memayahkan dirinya disiang hari dengan pekerjaan yang melemahkan tubuh karena hal itu juga menyebabkan mudah tidur.
  3. Tidak meninggalkan qoilulah di siang hari karena qoilulah adalah sunnah yang bisa menolong qiyamul lail.
  4. Tidak melakukan dosa di siang hari karena melakukan dosa bisa mengkeraskan hati dan bisa menghalang-halangi antara dia dengan sebab-sebab rahmat.

Adapun syarat-syarat yang memudahkannya secara bathin ada 4 :

  1. Selamatnya hati dari rasa iri terhadap muslimin, bid’ah dan dari kelebihan urusan dunia yang menjadikannya bercita-cita menghabiskan waktunya untuk mengurusi dunia, hal ini menyebabkan sulit untuk qiyamul lail dan kalaupun bisa qiyamul lail maka tidak berfikir tentang qiyamul lailnya malahan yang difikir dalam qiyamul lailnya adalah urusan dunia.
  2. Perasaan takut yang sangat beserta memperpendek angan-angan, karena jika seseorang berfikir tentang hiruk pikuk akherat dan tingkatan neraka maka dia sulit untuk tidur dan besar rasa takutnya.
  3. Mengetahui keutaman-keutamaan qiyamul lail dengan mendengarkan ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar tentang qiyamul lail hingga menjadi tetap harapan dan kerinduannya pada pahalanya dan bisa membangkitkan rasa rindu untuk mencari tambahan dan kecintaan pada  derajat di syurga.
  4. Cinta kepada Allah dan kuatnya keimanan bahwa dalam qiyamul lail dia tidaklah berbicara dengan satu huruf kecuali dia sedang bermunajat/berbisik  dengan Rabbnya dan Dia memperhatikan hamba-Nya serta melihat apa yang terbersit di dalam hatinya, apa yang terbersit di dalam hatinya adalah dari Allah ta’ala dengan khitob bersamanya .

Ketika seseorang cinta kepada Allah ta’ala maka dia akan suka menyendiri tanpa ada keraguan,  dan akan merasa nikmat dengan bermunajat , oleh karena itulah nikmatnya  bermunajat dengan sang kekasih menjadikannya kuat qiyamul lail dalam waktu yang lama.

Wallohu a’lam. (Sumber : Kitab Syarah Al Adzkiya’)

AGAR IBADAH KITA TAK SIA-SIA MAKA INGATLAH EMPAT HAL INI

Tujuan manusia diciptakan Allah SWT adalah untuk beribadah dan beramal sebanyak mungkin. Allah SWT berfirman, “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” (Surat Az-Dzariyat 56).

Ibadah yang dilakukan manusia manfaatnya bukanlah untuk Allah SWT, tapi untuk manusia itu sendiri. Karena di akhirat kelak, tidak ada yang bisa membantu manusia kecuali amal baik selama hidup di dunia. Amal baik itu bisa berupa ibadah kepada Allah atau pun amal baik yang dilakukan terhadap sesama manusia.

Dikarenakan ibadah dan amalan sangat penting dikerjakan, maka ada baiknya mengenal apa saja yang mesti dilakukan pada saat melakukan sebuah ibadah atau amalan tertentu.

Setiap amalan dan ibadah ada ilmu dan cara mengerjakannya. Kalau cara ibadahnya tidak diketahui dan disempurnakan, bagaimana Allah akan menerimanya?

Sebab itu, Abu Laits Al-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin menjelaskan:

وقال بعض الحكماء: يجتاج العمل أربعة أشياء حتى يسلم: أولها العلم قبل بدئه لأن العمل لا يصلح إلا بالعلم، فإذا كان العمل بغير علم كان ما يفسده أكثر مما يصلحه. والثاني النية في مبدئه لأن العمل لا يصلح إلا بالنية…والثالث الصبر في وسطه، يعني يصبر فيه حتى يؤديه على السكون والطمأنينة. والرابع الإخلاص عند فراغه، لأن العمل لا يقبل بغير إخلاص، فإذا عملت بالإخلاص يتقبل الله تعالى منك، وتقبل قلوب العباد منك

Artinya, “Sebagian orang bijak berkata, ‘Amalan butuh pada empat hal agar selamat: pertama, berilmu sebelum memulainya, karena amal tidak sah tanpa ilmu. Bila amal dilakukan tanpa ilmu, mudharatnya lebih banyak ketimbang maslahatnya. Kedua, niat pada saat memulainya, karena amalan tidak sah tanpa niat. Ketiga, sabar ketika menjalankannya agar mencapai ketenangan. Keempat, ikhlas ketika selesai beramal, karena amalan tidak akan diterima tanpa keikhlasan, bila kamu ikhlas Allah akan menerima amalanmu dan hati orang-orang yang beribah pada Allah (beriman) juga akan menerimanya.”

Kutipan di atas menengaskan ada empat hal yang perlu dipersiapkan dan dilakukan ketika mengerjakan sebuah amalan atau ibadah. Keempat hal itu sebagai berikut:

Pertama, memiliki ilmu tentang ibadah yang dikerjakan. Ilmu sangatlah penting, terutama ilmu yang berkaitan dengan ibadah. Tanpa ilmu, kita tidak mengerti bagaimana cara shalat, puasa, zakat yang benar. Maka dari itu, belajarlah sebelum mengerjakan ibadah.

Kedua, tanamkan niat dalam hati pada saat mengerjakan amal ibadah. Niat menjadi rukun penting dalam ibadah. Niat menjadi pembeda antara suatu ibadah dengan ibadah lain, serta pembeda antara ibadah dengan yang bukan ibadah. Kalau tidak ada niat, ibadah yang dilakukan tidak ada gunanya.

Ketiga, tumbuhkan kesabaran pada saat ibadah. Dalam mengerjakan shalat misalnya, usahakan menahan diri dan bersabar sampai selesai. Kalau tidak sabar, ibadah yang dikerjakan terasa terburu-buru dan tidak mendapatkan ketenangan.

Keempat, usahakan ikhlas dalam setiap mengerjakan ibadah apapun, karena Allah hanya menerima ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Jangan sampai beramal karena dilihat orang, ingin mendapatkan pujian, dan melepaskan kewajiban semata. Sangat disayangkan orang yang beribadah untuk dilihat orang lain, karena semua itu tidak ada nilainya di hadapan Allah.