ADAB BERDO’A : JANGANLAH BOSAN UNTUK BERDO’A KEPADA ALLOH SWT. WALAUPUN MERASA BELUM DI KABULKAN

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد .

“Ojo ono opo mundure mangsane peparingane Allah sedeng oleh jaluk (donga) ira ing Allah iku kelawan nggethu iku anyebabake dadi luwase (putus asane) iro oleh donga.Maka utawi Allah iku wis nanggung ing sira kelawan nembadani ing barang kang dadi pilihane Allah,dudu ing barang kang sira karepi milih lan ing dalem wektu kang Allah kersa ake,dudu ing dalem wektu kang sira kersa ake.”

Maksude,lamun sira wis nggethu olehe jaluk/donga ing Allah nuli durung diijabah dening Allah maka ojo iku dadi putus asane awak ira.Sebab saben-saben donga iku mesti den ijabah dening Allah,ananging kabeh gumantung ing putusane Allah lan pilihane Allah,kerana sak becik-becik pilihan iku pilihane Allah…Sing penting sira yakin kayak kang wis didhawuhake Gusti Allah ing dalem Al-Quran…”Padha dongaa sira kabeh ing ing Ingsun,mesti Ingsun ijabah.”

TERJEMAH BAHASA NASIONAL:

Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Di antara syarat diterimanya doa adalah apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak berputus asa. Belum terkabulnya doa seorang hamba, padahal ia telah berulang-ulang berdoa jangan sampai menjadikannya putus asa, karena Allah berfirman,

”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60)

Allah SWT. akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun demikian, terkabulnya doa tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah. Karena Allah Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hamba-Nya; terkadang Allah menolak permintaan seorang hamba, karena memang yang terbaik adalah tidak terkabulnya doa itu. Dalam konteks ini, ketika Allah menolak suatu doa sebenarnya secara tersirat memberi, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Atha’, ”Ketika Allah menolak sebuah permintaan sebenarnya memberi dan ketika memberi sebenarnya menolak.” Untuk memperkuat pandangan ini, simaklah ayat berikut ini,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Penolakan Allah dalam merealisasikan suatu doa, mempunyai substansi pemberian yang tepat bagi manusia. Demikian juga, Dia mengabulkan sebuah doa pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan. Jadilah seperti Musa yang sabar, karena sabar dan tidak tergesa-gesa merupakan sifat yang utama bagi seorang hamba. Simaklah kisah Musa dan Harun yang berdoa agar Fir’aun dan kaumnya beriman kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, ”Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.” (Yûnus: 88) Sampai akhir ayat yang mengisahkan tentang permohonan Musa dan Harun agar kaumnya beriman kepada Allah, dan ternyata permohonan itu baru dikabulkan setelah empat puluh (40) tahun berlalu, sebagaimana firman Allah berikutnya,

”Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu teteplah kalian berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Yûnus: 89)

Dalam sebuah hadits disebutkan, ”Sesungguhnya Allah menyukai kesabaran dalam doa.”

Juga dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya hamba yang shaleh apabila berdoa kepada Allah, malaikat Jibril berkata: Wahai Tuhanku, hamba-Mu fulan telah berdoa, maka kabulkanlah. Kemudian Allah berfirman: Berdoalah wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku senang mendengar suaramu.”

Demikianlah, tata krama dalam berdoa yang telah ditunjukkan oleh Allah agar menjadi pedoman bagi umat Islam. Terkadang Allah mengabulkan atau mengganti dengan hal lain yang notabene merupakan kebaikan dan tambahan yang lebih baik.

KETIKA SHALAT TIDAK KHUSYU’ DAN KEUTAMAAN WAKTU BA’DA ASHAR

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai muriid hendaknya kau terus-menerus bersungguh-sungguh dalam memperhatikan pelaksanaan shalat lima waktu, yakni dengan menyempurnakan kondisi berdirinya, bacaan-bacaannya, kekhusyu’annya, rukuknya, sujudnya dan memperhatikan kesempurnaan rukun-rukun yang lain serta sunah-sunahnya. Sebelum memasuki shalat buatlah hatimu merasakan kebesaran Dzat yang akan kau tuju dihadapan-Nya yakni Dzat Yang Maha Agung dan Maha Luhur.

Ingatlah! Jangan sekali-kali kau bermunajat pada Raja seluruh raja, Penguasa dari seluruh penguasa dengan hati lalai yang terlepas di dalam jurang kealpaan dan godaan syetan serta hati yang berkelana di wilayah angan-angan dan pikiran keduniawian. Karena hal itu menimbulkan kemarahan dari Allah dan akan ditolak dari pintu Allah.

وكُن-أيُّها المُريدُ- في غايَةِ الاِعتِناءِ بِإِقامةِ الصّلواتِ الخَمسِ بإتمامِ قِيامِهِنَّ وقِراءَتِهنّ وخُشوعِهنّ ورُكوعِهنّ وسُجودِهنّ وسائِرِ أركانِهِنّ وسُنَنِهنّ وأشعِر قَلبكَ قَبلَ الدُّخولِ في الصّلاةِ عَظمةَ مَن تُريدُ الوُقوفَ بَينَ يَديهِ جلَّ وعلا،

واحذَر أن تُناجِيَ مَلِكَ المُلوكِ وجبّارِ الجبابِرةِ بِقلبٍ لاهٍ مُستَرسِلٍ في أوديةِ الغَفلةِ والوَساوِسِ جائِلٍ في مَيادينِ الخَواطِرِ والأفكارِ الدُّنيَويّةِ، فَتَستوجِبَ المَقتَ مِن الله، والطَّردَ عن بابِ الله.

Rasulullah ‘alaihi asshalatu wassalam telah bersabda: “Ketika seorang hamba mendirikan shalat maka Allah (juga) mendatanginya dengan Dzat-Nya sendiri. kemudian ketika hamba tadi menengok ke belakang Allah ta’ala berkata: “dia (hamba tersebut) adalah keturunan Adam yang telah menoleh kepada orang yang lebih baik daripada-Ku.”

Kemudian apabila ia menoleh untuk yang kedua kalinya, Allah akan berkata yang sama. Kemudian jika si hamba tadi menoleh untuk yang ketiga kalinya, Allah akan berpaling darinya.”            

وقد قالَ عَليهِ الصّلاةُ والسّلامُ “إذا قامَ العَبدُ إلى الصّلاةِ أَقبلَ الله عَليهِ بِوَجههِ فإذا التَفتَ إلى ورائِهِ يَقولُ الله تعالى:” ابنُ آدمَ التَفَتَ إلى مَن هُو خيرٌ لهُ مِنّي”.

فإن التَفَتَ الثّانيةَ قالَ مِثلَ ذلِكَ فإن التَفَتَ الثّالِثةَ أعرَضَ الله عَنهُ”

Ketika orang yang menoleh dengan wajah fisiknya saja Allah berpaling darinya, bagaimana keadaan seseorang yang di dalam shalatnya menoleh dengan hati ke bagian-bagian dan perhiasan dunia (yang menipu)? Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat pada jasmani dan sisi lahir, Ia melihat hanya ada hati dan yang terdalam di dalamnya.              

فإذا كانَ المُلتفِتُ بِوَجهِهِ الظّاهِرِ يُعرِضُ الله عَنهُ فكيفَ يَكونُ حالُ مَن يَلتفِتُ بِقَلبِهِ في صلاتهِ إلى حُظوظِ الدُّنيا وزخارِفِها، والله سُبحانهُ وتعالى لاَ ينظُرُ إلى الأجسامِ والظّواهِرِ وإنّما ينظُرُ إلى القُلوبِ والسّرائِرِ.

Ketahuilah, bahwa ruh (esensi) seluruh ibadah dan maknanya adalah menghadirkan diri bersama Allah (hudhur) di dalam ibadahnya. Oleh karena itu, barang siapa ibadahnya tidak ada wujud hudhur-nya maka ibadahnya seperti debu yang berhamburan.       

واعلَم أنّ رُوحَ جَميعِ العِباداتِ ومَعناها إنّما هُو الحضُورُ معَ الله فيها، فَمن خَلت عِبادَتُهُ عنِ الحُضورُ، فعِبادتُهُ هباءٌ منثورٌ.

Analogi dari orang yang tidak hudhur bersama Allah dalam ibadahnya adalah seperti orang yang memberi hadiah pada penguasa yang tinggi sebuah dayang perempuan yang telah mati atau sebuah peti kosong. Bukankah ia sangat pantas mendapatkan hukuman dan tidak mendapat balasan (ganjaran).

ومثَلُ الّذي لاَ يَحضُرُ مَع الله في عِبادتهِ مَثلُ الذي يُهدي إلى ملِكٍ عظيمٍ وَصيفةٍ ميّتَةً أو صٌندوقاً فارغاً، فما أجدرُهُ بِالعقوبةِ وحِرمانِ المثوبة.

فصل

Ingatlah Wahai murid, jangan sekali-kali meninggalkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah. Karena hal tersebut yakni meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah termasuk kebiasaan orang-orang sesat dan tanda-tanda orang orang yang memiliki kebodohan.

Jagalah shalat-shalat rawatib yang disyariatkan sebelum dan setelah shalat fardhu. Dan biasakanlah melakukan shalat witir, dhuha dan mengisi dengan ibadah waktu Antara maghrib dan isya’. Jadilah kau -wahai muriid- orang yang sangat menyukai mengisi dengan peribadahan apapun pada waktu setelah subuh sampai terbitnya matahari dan di waktu setelah shalat ashar sampai terbenam matahari. Dua waktu yang mulia ini Allah melimpahkan pertolongan-pertolongannya kepada hamba-hamba yang menghadap-Nya.

واحذَر أيُّها المُريدُ كلَّ الحذَرِ مِن تَركِ الجمُعةِ والجَماعاتِ، فإِنَّ ذلكَ مِن عاداتِ أَهلِ البَطالاتِ وسِماتِ أَربابِ الجهالاتِ.

وحَافِظ على الرَّواتبِ المشروعاتِ قَبلَ الصَّلاةِ وبَعدها، ووَاظِب على صَلاةِ الوَترِ والضُّحى وإِحياءِ ما بينَ العِشاءين، وكُن شَديدَ الحِرصِ على عِمَارةِ ما بَعدَ صَلاةِ الصُّبحِ إلى الطُّلوعِ، وما بعد صلاةِ العصرِ إلى الغروبِ فهذانِ وقتانِ شريفانِ تَفيضُ فيهما من الله تعالى الأمدادُ، على المتوجهين إليه من العبادِ.

Dan dalam mempergunakan waktu setelah subuh terdapat keistimewaan yang potensial dalam memperoleh rejeki yang bersifat jasmani dan di dalam mempergunakan waktu setelah Ashar terdapat keistimewaan yang potensial untuk memperoleh pemberian-pemberian (rejeki) yang bersifat hati (ruhani). Hal tersebut sudah dipraktikkan oleh orang-orang yang memiliki mata hati yang tajam yakni para orang-orang ‘arif yang agung.          

وفي عمارةِ ما بعدَ صلاةِ الصبحِ خاصيةٌ قويةٌ في جلبِ الأرزاقِ الجسمانيةِ وفي عمارةِ ما بعد العصرِ خاصيةٌ قويةٌ لجلبِ الأرزاقِ القلبيةِ، كذلك جرَّبَه أربابُ البصائرِ من العارفين الأكابرِ.

Di dalam hadits (menyebutkan): “Sesungguhnya orang yang duduk di tempat sholatnya seraya berdzikir kepada Allah setelah waktu sholat subuh itu lebih mempecepat dalam mendapatkan rejeki daripada orang yang bekerja dalam berbagai daerah (orang yang merantau).” Maksudnya orang yang bepergian ke suatu tempat untuk mencari rejeki.               

وفي الحديثِ: (( إن الذي يقعدُ في مُصلاهُ يذكرُ اللهَ بعد صلاةِ الصبحِ أسرعُ في تحصيلِ الرزقِ من الذي يضربُ في الآفاقِ)) أعني يسافرُ فيها لطلبِ الأرزاقِ.

TINGKATAN IBADAH DAN TAUBAT ANTARA ORANG YANG AWAM DAN LAINYA

TINGKATAN DALAM IBADAH

Tingkatan dalam PUASA :

• Puasa orang biasa, adalah menahan diri dari makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.

• Puasa orang khususnya orang biasa, maksudnya adalah menahan diri dari hal yang diatas dengan disertai mencegah ucapan dan perbuatan dari hal-hal yang diharamkan

• Puasa orang khusus, adalah menahan diri dari melakukan segala sesuatu selain dzikir dan beribadah pada Allah Ta’aalaa.

• Puasa orang khususnya orang khusus, adalah menjaga diri dari selain Allah, tidak ada buka puasa baginya sampai datangnya hari kiamat, dan ini adalah maqam derajat yang tinggi. ( Fath al-Bari IV/109)

Tingkatan dalam SHALAT :

• Shalat orang biasa, adalah shalat kebanyakan orang pada umumnya dengan menjalankan perbuatan yang diawali takbiiratul ihram, diakhiri salam dengan disertai niat.

• Shalat orang khusus, adalah dengan meniadakan segala kehinaan yang terlintas dalam pikiran, keinginan-keinginan duniawi dalam shalatnya namun demikian diperkenankan baginya terlintasnya harapan-harapan yang bersifat ukhrawi seperti keinginan masuk dalam surga, aman dari siksa neraka.

• Shalat orang yang sangat khusus, adalah dengan khudurnya hati dan berpaling jauh-jauh dari segala hal selain Allah.

(Tafsir Ruh al-Ma’any XXIII/113)

Tingkatan dalam IKHLAS :

• Ikhlas orang biasa, dengan menepis keberadaan orang lain dalam tujuan ibadahnya disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dunia ataupun akhirat seperti berpengharapan diberikannya kesehatan, harta, rizki lapang, kemegahan serta bidadari-bidadari surga.

• Ikhlas orang khusus, disertai dengan tercapainya bagian dirinya baik berupa kebahagian dalam kehidupan akhirat bukan kebahagiaan dunia.

• Ikhlas orang yang sangat khusus, bila mampu menepis semua bagian dalam dirinya secara keseluruhan, ibadahnya semata-mata bentuk pengabdian, menyadari keberadaanya sebagai hamba yang mesti menjalani titah Tuhannya dengan suka cita dan selalu diliputi kerinduan yang mendalam pada Sang Kekasih. (Iiqaazh al-Himam Syarh Matan alHikam I/18)

Tingkatan dalam TAUBAT :

• Taubat orang biasa, dengan menyesali dosa yang telah terbuat, berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi kembali, mengembalikan hak-hak orang lain bila memungkinkan dan berniat mengembalikannya bila tidak memungkinkan.

• Taubat orang khusus, dengan berhenti dari hal-hal yang dimakruhkan Allah, berhenti dari kejelekan yang terlintas dalam pikiran, berhenti dari kelesuan dalam menjalani ibadah dan berhenti dari menjalani ibadah yang tidak sempurna.

• Taubat orang yang sangat khusus, bukan karena kesalahan atau kekurangan yang telah terjalankan tapi karena kesalahan dan kekurangan yang selalu terasakan, dengan taubat ini kian tinggilah maqam dan derajatnya disisi Allah Ta’aalaa. (Tafsiir al-Aluusi II/10)

Kitab Syarah Misykatul Mashobih

قال العارفون : التعبد إما لنيل الثواب ، أو التخلص من العقاب ، وهي أنزل الدرجات ، وتسمى عبادة ؛ لأن معبوده في الحقيقة ذلك المطلوب ، بل نقل الفخر الرازي إجماع المتكلمين على عدم صحة عبادته .

أو للتشرف بخدمته تعالى والانتساب إليه ، وتسمى عبودية ، وهي أرفع من الأولى ، ولكنها ليست خالصة له ،

أو لوجهه تعالى وحده من غير ملاحظة شيء آخر ، وتسمى عبودة ، وهي أعلى المقامات وأرفع الحالات

Ulama’ ahli ma’rifat berkata :

“Beribadah ada kalanya bertujuan untuk mendapatkan pahala atau agar selamat dari siksa, ini adalah derajat ibadan terendah dan dinamakan IBADAH, karena sesungguhnya yang disembahnya secara hakekat adalah tujuan tersebut.Bahkan fakhrur rozi menukil ijma’nya ulama’ kalam bahwa ibadah seperti itu tidaklah sah.

Atau tujuan ibadah adalah agar meraih kemuliyaan dengan berkhidmat kepada Allah ta’ala dan bersandar kepada-Nya, dan ini dinamakan sebagai UBUDIYAH, derajat ini lebih tinggi daripada yang awal,tetapi masih belum murni untuk Allah.

Atau tujuan ibadahnya hanyalah untuk meraih ridho Allah semata tanpa melirik sesuatu lainnya,ini dinamakan UBUDAH,dan ini adalah maqom dan keadaan tertinggi.”

TINGKATAN KEIKHLASAN

Ada orang yang bertanya: Apakah boleh kita membaca waqiah dengan tujuan meraih dunia (kelancaran rizki)? Apakah hal ini tidak termasuk kategori Riya’.

Permasalahan seperti ini bisa saja menggangu pikiran para jamaah. Maka disini meluruskan mengenai definisi riya, ikhlas dan tingkatannya seperti berikut dan selanjutnya anda yang akan menjawab pertanyaan diatas dengan sendirinya.

Dalam Risalah Qusyairiyah disebutkan :

 وقال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل

 من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما)

[“الرسالة القشيرية” ص95 ـ 96)

 Fudhail bin iyadl Rahimahullah berkata: Meninggalkan Amal karena manusia itu namanya riya’, beramal karena manusia itu namanya syirik dan Ikhlas adalah jika engkau dijauhkan oleh Allah dari keduanya.

Sedang Ibnu Ajibah Rahimahullah berkata ;

 الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.

 Ikhlas terdiri atas tiga tahapan:

 فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور. (1)

 Ikhlas awam. yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;

 وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية. (2)

Ikhlas Khusus. yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;

 وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته، (3)

Ikhlas khawasul khawas. yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT.

 Dalam kitab minhajul abidin terdapat permasalahan yaitu: Banyak masyayikh yang mengamalkan surat waqiah sewaktu dilanda kesulitan (ayyamul usri), mereka membaca quran yang termasuk amalan akhirat tapi dengan menghendaki harta dunia, apakah tidak termasuk riya’? Imam ghazali menjawab bahwa tujuan mereka adalah dunia yang digunakan untuk kebaikan, mengajarkan ilmu, menolak ahli bid’ah, membela kebenaran, mengajak-ngajak manusia menuju ibadah, dan mempermudah ibadah.

 فَهَذِهِ كُلُّهَا إرَادَاتٌ مَحْمُودَةٌ لَا يَدْخُلُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي بَابِ الرِّيَاءِ ؛ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْهَا أَمْرُ الْآخِرَةِ بِالْحَقِيقَةِ

Ini semua adalah keinginan / tujuan yang terpuji yang tidak masuk kedalamnya sesuatupun dari unsur riya’. Karena harta dunia (yang dicari dari surat waqiah) hakikatnya adalah berorientasi akhirat. Hal ini berlandaskan pada hadits shohih; “innamal a’mal bin niyyaat ” yang dijabarkan dalam sebuah hadits :

 كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

KHUSYU’ DALAM SHALAT DAN CARA MELAKUKANYA

KHUSYU’ ialah yang hadir dalam hatinya hanyalah apa-apa yang dibaca atau yang ada dalam shalat tersebut serta anggota badannya tidak bermain-main.

.وسن فيها خشوع بقلبه بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة وبجوارحه بأن لا يعبث بأحدها. إعانة الطالبين ١/١٨١

وكره صلاة بمدافعة حدث كبول وغائط وريح للخبر الآتي ولأنها تخل الخشوع بل قال جمع إن ذهب بها خشوع بطلت

Maksud ibarot di atas adalah : Apabila menahan hadats tersebut menghilangkan kekhusyu’an maka menurut segolongan ulama shalatnya tidak sah / batal, sebagaimana segolongan ulama’ yang mengatakan bahwa khusyu’ itu menjadi syarat sahnya shalat.

.ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة ولأن لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة. إعانة الطالبين ١/١٨١

Mengenai posisi “KHUSYU'” dalam shalat ulama’ berbeda pendapat :

1. Seorang yang dalam shalatnya tidak khusyu’ maka shalat tersebut tidak berpahala.

2. Khusyu’ adalah syarat sahnya shalat. Maka tidak sah shalatnya seseorang yang tidak khusyu’ dalam shalatnya.

.ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة ولأن لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة. إعانة الطالبين ١/١٨١

3. Shalat sudah dikatakan khusyu’ bila saat takbir menghadirkan hatinya.

.فإن قلت ان حكمت ببطلان الصلاة وجعلت حضور القلب شرطا في صحتها خالفت إجماع الفقهاء فإنهم لم يشترطوا الا حضور القلب عند التكبير. إعانة الطالبين ١/١٨٢

Berarti tak dapat pahala kalau tak khusyu’ hanya gugur kwajibannya ya ?

وفي الإحياء واعلم أن من مكايده أى الشيطان أن يشغلك في صلاتك بذكر الآخزة وتدبير فعل الخيرات

Sulam taufiq hal 29 :

وان يحضر قلبه فيها فليس له من صلاته الا ما عقل منها وان لايعجب بها

Kemakruhan tersebut terjadi apabila menahan hadats ketika mau (sebelum) masuk sholat, dan apa bila di dalam sholat maka hukumnya wajib menahan hadats. Kemakruhan pada situasi tersebut disebabkan karena bisa berpotensi menghilangkan kekhusyu’an, dimana Khusyu’ dlm sholat hukumnya sunnah.

Qola ”Jam’un”. Lafadz Jam’un di sini berisi ulama yang berpendapat bahwa khusyu’ merupakan syarat sah sholat, oleh karenanya ketika khusyu’ itu hilang maka  menurut mereka sholatnya batal.

Maksudnya tidak khusyu’ sholat jadi batal bagaimana? Yang dimaksud dengan batal atau tidak sah adalah Nihil / tidak dapat pahala nya shalat, hanya menggugurkan kewajibannya.

Imam nawawi berkata : Paling rendahnya ukuran khusu’ untuk orang awam yaitu ketika takbir ia ingat Alloh. Namun ini bukan berarti hanya mengingat di saat itu-itu saja. Namun harus tetep berusaha untuk terus mengingat-Nya.

Bahkan juga ada seorang ‘ulama’ mengatakan, cara untuk khusu’ itu ada 2 di antaranya:

1. Berusaha untuk selalu ingat Allah

2. Usahakan ngerti sama apa yang dibaca.

TIPS AGAR BISA SHOLAT DENGAN KHUSYU’

 SIFAT-SIFAT SHALAT KHUSYU’ sebagaimana Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hilali menuturkan bahwa sifat shalat khusyu di antaranya:

1) Meletakkan tangan kanan pada tangan kiri saat berdiri sebelum rukuk.

Sikap seperti itu menunjukkan bahwa shalat orang khusyu’. Tindakan seperti itu menunjukkan ketundukan dihadapan Allah.

2) Seluruh anggota tubuh (fisik) thuma’ninah (tenang) dalam setiap gerakan.

Sikap yang tenang dalam shalat mengandung arti bahwa setiap gerakan shalat dilakukan dengan tidak terburu-buru. Semua gerakan shalat dilakukan dengan sempurna. Karena dengan ketenangan akan mudah untuk mendapatkan rasa khusyu’.

3) Hati menghadap hanya pada Allah tidak kepada selain-Nya Hal ini dapat dipahami dengan dua keadaan :

Pertama, hati tidak berpaling pada Allah, dan men-kosongkan hati dari semua hal selain aktivitas shalat.

Kedua, hati dan penglihatan mata tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Pandangan mata tertuju ketempat sujud, sedang hati menghadap kepada Allah.

4) Rukuk, dengan menunjukkan ketundukan dan kepatuhan disertai dengan ketundukan hati kepada Allah.

5) Sujud dengan menundukkan kepala sejajar dengan bumi sebagai bukti ketaatan dan kepatuhan.

Ketika seseorang yang shalat merendahkan kepala yang menjadi anggota badan paling mulia dan sejajar dengan kaki serta muka mencium bumi, pada saat itulah manusia harus menyadari bahwa ia sangat hina dan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekuasaan dan keagungan Allah Swt. Lebih dalam lagi, manusia harus menyadari juga bahwa dulu ia diciptakan Allah dari tanah, maka ia pun akan kembali dikubur dalam tanah.

6) Mensifati Allah dengan sifat yang agung.

Selain dengan sikap rukuk dan sujud, kekhusyu’an seorang hamba kepada Allah disempurnakan dengan ungkapan pujian yang menunjukkan kemuliaan, kebesaran, keagungan, dan ketinggian sifat-sifat-Nya.

Dengan demikian, segala aktivitas yang dilakukan dalam shalat tidak ada yang sia-sia. Namun, mengandung makna dan manfaat terhadap jasmani dan rohani untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

TERNYATA PARA WALI ALLOH SWT SALING MENGENAL DI ALAM RUH

Al Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.

Mereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jalla akan saling mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.

Rasulullah adalah manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Beliau termasuk salah satu manusia yang telah kasyaf.

Kasyaf terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.

Mereka yang kasyaf dapat mengetahui atau mengenal siapa-siapa yang melakukan “perjalanan” kepada Sang Kekasih , Allah Azza wa Jalla. Inilah yang dikiaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan perkataannya yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”.

Bilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)

Dalam suatu riwayat. ”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”

Apa yang dilakukan oleh Bilal ra, selalu menjaga wudhunya atau selalu menjaga dalam keadaan bersuci adalah termasuk dzikrullah atau amal kebaikan atau perbuatan yang dilakukan bukan atas diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla namun atas kesadaran diri. Ini adalah salah satu bentuk memperjalankan diri kepada Allah ta’ala atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan cintaNya atau ridhoNya

Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan (amalan sunnah), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021).

Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajarkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Rasulullah shallallahu aliahi wasallam : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu aliahi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu aliahi wasallam

“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Para Wali Allah (kekasih  Allah) adalah mereka yang telah mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau mereka yang telah berma’rifat.

Mereka yang menjalankan tasawuf dalam Islam adalah mereka yang memperjalankan dirinya kepada Allah atau mereka yang berupaya untuk mencapai muslim yang ihsan atau berma’rifat

Apakah Ihsan ?

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11).

Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan

Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla

Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,

“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Muslim yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan  maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Jadi kalau ada yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf atau mengikuti tharikat atau mengaku-aku telah berma’rifat namun tidak menjalankan perkara syari’at seperti sholat lima waktu maka bisa dipastikan dia telah berdusta atau tharikat yang diikuti adalah thariqat palsu.

Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”

Pendapat syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.

Nasihat Imam Syafi’i ra,

“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat,  hakikat dan ma’rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ?   [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

 

Nasehat Imam Malik ra

“Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”.

BENARKAH SURGA HANYA DI MASUKI OLEH ORANG AHLI TASAWUF?

Masuk surga adalah keniscayaan bagi setiap manusia yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya. Agama adalah perintahNya dan laranganNya

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Setiap manusia yang berpegang teguh pada agama atau manusia yang memenuhi perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa maka manusia tersebut niscaya masuk surga.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin A’yan telah menceritakan kepada kami Ma’qil-yaitu Ibnu Ubaidullah- dari Abu az-Zubair dari Jabir bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Apa pendapatmu bila saya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadlan, menghalalkan sesuatu yang halal, dan mengharamkan sesuatu yang haram, namun aku tidak menambahkan suatu amalan pun atas hal tersebut, apakah aku akan masuk surga? Rasulullah menjawab: Ya. Dia berkata, Demi Allah, aku tidak akan menambahkan atas amalan tersebut sedikit pun (HR Muslim 18)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ahwash. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abu Ishaq dari Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub dia berkata, Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya bertanya, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkanku dari surga dan menjauhkanku dari neraka? ‘ Beliau menjawab: ‘Kamu menyembah Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyambung silaturrahim dengan keluarga.“  Ketika dia pamit maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia berpegang teguh pada sesuatu yang diperintahkan kepadanya niscaya dia masuk surga’. Dan dalam suatu riwayat Ibnu Abu Syaibah, Jika dia berpegang teguh dengannya. (HR Muslim 15)

Kaum non muslim atau manusia yang tidak bersyahadat , pastilah akan masuk neraka. Kunci surga adalah syahadat.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,  “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,  “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  ‘Setiap kali Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta’ala  menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah  yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )

Dalam Al Mustadrok, Imam Al Hakim berkata : Abu Sa’id Amr ibnu Muhammad Al ‘Adlu menceritakan kepadaku, Abul Hasan Muhammad Ibnu Ishak Ibnu Ibrahim Al Handhori menceritakan kepadaku, Abul Harits ‘Abdullah ibnu Muslim Al Fihri menceritakan kepadaku, ‘Abdurrahman ibnu Zaid ibnu Aslam menceritakan kepadaku, dari ayahnya dari kakeknya dari Umar RA, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

  لما اقترف آدم الخطيئة قال : يارب ! أسألك بحق محمد لما غفرت لي, فقال الله : ياآدم ! وكيف عرفت محمدا ولم أخلقه ؟ قال : يارب ! لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت فيّ من روحك

رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله , فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق اليك , فقال الله : صدقت يا آدم , إنه لأحب الخلق إليّ , أدعني

بحقه فقد غفرت لك , ولو لا محمد ما خلقتك

” Ketika Adam melakukan kesalahan, ia berkata Ya Tuhanku, Aku mohon kepada-Mu dengan haqqnya Muhammad agar Engkau mengampuniku.” Allah berkata; Wahai Adam bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya. “ Wahai Tuhanku, karena ketika Engkau menciptakanku dengan kekuatan-Mu dan Engkau tiupkan nyawa pada tubuhku dari roh-Mu, maka aku tengadahkan kepalaku lalu saya melihat di kaki-kaki ‘Arsy terdapat tulisan “ Laa Ilaha illa Allahu Muhammadur Rasulullah”, maka saya yakin Engkau tidak menyandarkan nama-Mu kecuali nama makhluk yang paling Engkau cintai,” jawab Adam. “ Benar kamu wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdo’alah kepada Ku dengan haqqnya Muhammad maka Aku ampuni kamu. Seandainya tanpa Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu,” lanjut Allah.

Imam Al Hakim meriwayatkan hadits di atas dalam kitab Al Mustadrok dan menilainya sebagai hadits shahih ( vol. 2 hal. 615 ). Al Hafidh As Suyuthi meriwayatkan dalam kitab Al Khashais An Nabawiyah dan mengategorikan sebagai hadits shahih. Imam Al Baihaqi meriwayatkanya dalam kitab Dalail Nubuwah, dan beliau tidak meriwayatkan hadits palsu sebagaimana telah ia jelaskan dalam pengantar kitabnya. Al Qasthalanidan Az Zurqani dalam Al Mawahib Al Laduniyah juga menilainya sebagai hadits shahih. vol. 1 hal. 62.

Senada dengan hadits di atas, Abu Nu’aim Al-Hafidh meriwayatkan dalam kitab Dalaailu al-Nubuwwah dan melalui jalur Syaikh Abi al-Faraj. Menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Rasyid, menceritakan kepadaku Ahmad ibn Sa’id al-Fihri, menceritakan kepadaku Abdullah ibn Ismail al-Madani dari Abdurrahman ibn Yazid ibn Aslam dari ayahnya dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

  لما أصاب آدم الخطيئة رفع رأسه فقال : يارب ! بحق محمد إلا غفرت لي , فأوحى اليه :

وما محمد ومن محمد ؟ فقال : يارب ! إنك لما أتممت خلقي رفعت رأسي إلى عرشك فإذ عليه مكتوب : لا إله إلا الله محمد رسول الله , فعلمت أنه أكرم خلقك عليك إذ قرنت اسمه مع اسمك ,

فقال : نعم , قد غفرت لك , وهو اخر الأنبياء من ذريتك , ولو لاه ما خلقتك.

“Ketika Adam melakukan kesalahan, ia mendongakkan kepalanya. “Wahai Tuhanku, dengan hak Muhammad, mohon Engkau ampuni aku,” ujar Adam. Lalu Adam mendapat pertanyaan lewat wahyu, “Apa dan siapakah Muhammad?” “Ya Tuhanku, ketika Engkau menyempurnakan penciptaanku, aku mendongakkan kepalaku ke arah ‘arsy-Mu dan ternyata di sana tertera tulisan “Laa Ilaaha illa Allaah Muhammadun Rasulullaah”. Jadi saya tahu bahwa Muhammad adalah makhluk Engkau yang paling mulia di sisi-Mu. Karena Engkau merangkai namanya dengan nama-Mu,” jawab Adam. “Betul,” jawab Allah, “Aku telah mengampunimu, dan Muhammad Nabi terakhir dari keturunanmu. Jika tanpa dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”

Firman Allah Azza wa Jalla  yang artinya, “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran,padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. (QS Al Baqarah [2]: 132 )

“illa wa antum muslimuun”, “kecuali dalam keadaan muslim” , “kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam”, kecuali manusia yang berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla, berserah diri dengan mentaati perintahNya dan laranganNya. PerintahNya dan laranganNya telah disempurnakan ketika Muhammad bin Abdullah diutus menjadi Rasulullah.

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku,dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” ( QS Al Maaidah [5]:3 )

Jadi penduduk surga pastilah seorang muslim, mereka yang telah bersyahadat.

Permasalahannya setiap penduduk surga mempunyai tingkatan atau maqom (derajat) disisiNya dan penduduk surga akan menempati surga dengan berbagai tingkatannya.

Kaum Sufi adalah mereka atas ridho Allah berupaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Allah Azza wa Jalla sebagaimana mereka berupaya mengikuti jalan (tharikat) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla atau dengan kata lain mereka yang atas ridho Allah berupaya menjadi wali Allah (kekasih Allah, manusia yang dicintaiNya)

Kaum Sufi adalah muslim bukan Nabi yang atas ridho Allah Azza wa Jalla menjadi wali Allah (kekasih Allah)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi  shallallahu alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Cara memperjalankan diri kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah hingga sampai (wushul) kepada Allah atau bertemu kepada Allah atau dapat melihat Allah dengan hati atau mencapai muslim yang Ihsan atau mencapai muslim berma’rifat adalah dengan dzikrullah

Dalam suatu riwayat.

”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”.

artinya; “Ali bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “ Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”

Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan/perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan / dzikrullah), maka Aku mencintai dia”

Bentuk-bentuk dzikrullah untuk memperjalankan diri kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berma’rifat atau muslim yang bertemu Allah atau muslim yang dapat melihat Allah dengan hati telah diuraikan dalam tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/amalan-dasar-tasawuf/

Bilal ra, memilih bentuk dzikrullah berupa  menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkanAllah kepada saya.” (HR Muslim 4497)

Uwais Ra menjadi  wali Allah (kekasih Allah) sehingga setiap permintaanya pasti dikabulkanNya dengan bentuk dzikrullah berupa selalu mentaati dan merawat ibunya yang telah seorang diri.

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :

“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.

Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.

“Siapa namamu?” tanya Umar.

“Aku Uwais”, jawabnya datar.

“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.

“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.

Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).

“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.

“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.

Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”

Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”

Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (H.R. Muslim dan Ahmad)

Seorang Wali Allah, mereka yang telah berma’rifat, mereka yang disisiNya, mereka yang telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla, jika mereka memohon kepada Allah Azza wa Jalla , pasti akan dikabulkanNya. Cuma mereka kadang malu untuk memohon kepada Allah karena telah mencukupkan diri kepada pengaturanNya

Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya”. (HR Muslim 6021)

Oleh karenanya kita sebaiknya mentaati atau mengikuti nasehat para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat, bahwa setelah kita menjalankan perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah maka selanjutnya adalah menjalankan tasawuf atau memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla , bertemu dengan Allah ketika kita masih di alam dunia, sehingga mendapatkan nikmat lebih awal dari kaum muslim kebanyakan yang menikmatinya ketika telah menjadi penduduk surga. Sehingga mereka yang menjalankan tasawuf maka perkara syariat bukanlah sebagai beban namun sebuah kenikmatan, kelezatan atau kesenangan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “….kesenanganku dijadikan dalam sholat” (diriwayatkan oleh Anas ra) atau sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Imam Sayyidina Ali ra minta dicabut anak panah ketika Beliau sedang sholat.

Dengan menjalankan tasawuf kita dapat memahami atau mengalami apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra “nikmatnya atau kelezatan taqwa“

Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih

dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikannasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Begitupula dengan  nasehat Imam Malik ra bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik

Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .

Dengan menjalankan tasawuf hingga mencapai muslim yang Ihsan , muslim yang baik, muslim berakhlakul karimah adalah mewujudkan tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Dengan menjalankan tasawuf adalah memenuhi anjuran para ulama pengikut Imam Mazhab yang empat seperti

Imam Nawawi Rahimahullah berkata :

أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.

“ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata :

وروى الخطيب بسند صحيح أن الإمام أحمد سمع كلام المحاسبي فقال لبعض أصحابه ما سمعت في الحقائق مثل كلام هذا الرجل ولا أرى لك صحبتهم . قلت – أي الإمام ابن حجر – إنما نهاه عن صحبتهم لعلمه بقصوره عن مقامهم فإنه في مقام ضيق لا يسلكه كل واحد ويخاف على من يسلكه أن لا يوفيه حقه. وقال الأستاذ أبو منصور البغدادي – عن الحارث المحاسبي – في الطبقة الأولى من أصحاب الشافعي كان إماما في الفقه والتصوف والحديث والكلام وكتبه في هذه العلوم أصول من يصنف فيها

“ Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa imam Ahmad mendengar ucapan Al-Muhasibi, maka beliau berkata pada sahabat-sahabatnya “ Aku belum pernah mendengar ucapan tentang hakikat-hakikat seperti ucapan al-Muhasibi ini dan aku berpendapat jangan engkau berteman dengan semisal al-Muhasibi. Aku (Ibnu Hajar) katakana : “ Sesungguhnya imam Ahmad melarang untuk berteman dengan orang semisal al-Muhasibi , karena beliau mengetahui pendeknya maqam (kedudukannya) dibandingkan kedudukan mereka. Karena al-Muhasibi berada di dalam maqam dhiq (sempit) yang tidak mampu ditapaki oleh setiap orang dan dikhawatirkan bagi orang yang menapaki tidak bisa memenuhi haqnya. Ustadz Abul Manshur al-Baghdadi berkata “ Dari al-Harits al-Muhasibi di dalam bab Tingkatan pertama dari pengikut Imam Syafi’i “ Beliau al-Muhasibi adalah seorang imam di bidang ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan kalam. Dan kitab beliau di dalam ilmu ini merupakan ushul  / sandaran bagi ulama yang mengarang kitab ilmu “. (Tahdzib at-Tahdzib juz 2 halaman : 117, karya imam Ibnu Hajar al-Asqalani)

Al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami berkata :

إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علينا بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.

“ Berhati-hatilah kamu dari menentang para ulama shufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama shufi, semoga Allah member manfaat kpeada kita dengan ma’rifat-ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yang Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dengan perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan-curahan ilmu ma’rifat mereka. Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan-kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.

Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutan-Nya dan rahasia-rahasia kehadiran-Nya. Kemudian Allah menimpakanpara penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan . Maka kami berlindung kepada-Mu ya Allah dari hantaman-hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan-tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami  apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan “. (Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)

Al-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Tajuddin As-Subuki berkata :

حَيَّاهمُ الله وبيَّاهم وجمعنا في الجنة نحن وإِياهم. وقد تشعبت الأقوال فيهم تشعباً ناشئاً عن الجهل بحقيقتهم لكثرة المُتلبِّسين بها، بحيث قال الشيخ أبو محمد الجويني لا يصح الوقف عليهم لأنه لا حدَّ لهم. والصحيح صحته، وأنهم المعرضون عن الدنيا المشتغلون في أغلب الأوقات بالعبادة.. ثم تحدث عن تعاريف التصوف إِلى أن قال: والحاصل أنهم أهل الله وخاصته الذين ترتجى الرحمة بذكرهم، ويُستنزل الغيث بدعائهم، فرضي الله عنهم وعنَّا بهم

“ Semoga Allah memanjangkan hidup para penganut tasawwuf dan mengangkat derajat mereka serta mengumpulkan kita dan mereka di surga. Sungguh telah banyak pendapat miring tentang mereka yang bersumber dari kejahilan akan hakekat mereka disebabkan oknum-oknum yang membuat samar ajaran tasawwuf. Oleh karenanya syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini berkata “ Tidak boleh berhenti dalam mendefiniskan mereka, sebab mereka tak memiliki batasan istilah. Yang benar adalah keabsahannya dan definisi shufiyyah adalah orang-orang yang berpaling dari dunia yang menyibukkan diri disebagian besar waktunya dengan beribadah. Kemudian bermunculanlah ta’rif-ta’rif baru tentang tasawwuf..(sampai ucapan beliau) : “..Kesimpulannya ulama tasawwuf adalah keluarga dan orang-orang khusus Allah yang diharapan  turunnya rahmat dengan menyebut nama mereka dan turunnya hujan dengan perantara doa mereka. Maka semoga Allah meridhoi mereka dan kita semua dengan sebab mereka “. (Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam halaman : 140, karya imam Subuki)

Al-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi berkata :

اعلم وفقني الله وإياك أن علم التصوف في نفسه علم شريف رفيع قدره سني أمره ، لم تزل أئمة الإسلام وهداة الأنام قديماً وحديثاً يرفعون مناره وَيُجِلُّون مقداره ويعظمون أصحابه ويعتقدون أربابه ، فإنهم أولياء الله وخاصته من خلقه بعد أنبيائه ورسله ، غير أنه دخل فيهم قديماً وحديثاً دخيل تشبهوا بهم وليسوا منهم وتكلموا بغير علم وتحقيق فزلوا وصلوا وأضلوا ، فمنهم من اقتصر على الاسم وتوسل بذلك إلى حطام الدنيا ، ومنهم من لم يتحقق فقال بالحلول وما شابهه فأدى ذلك إلى إساءة الظن بالجميع ، وقد نبه المعتبرون منهم على هذا الخطب الجليل ونصوا على أن هذه الأمور السيئة من ذلك الدخيل.

“ Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq-Nya padaku dan kamu, sesungguhnya ilmu tasawwuf itu sendiri adalah ilmu yang mulia, tinggi derajatnya dan luhur urusannya. Para imam Islam dan para ulama penunjuk manusia  sejak dulu hingga sekarang selalu mengangkat lambangnya, meninggikan martabatnya dan mengangungkan para pemeluknya dan meyakini kemulian ahlinya. Karena mereka adalah para wali Allah Swt dan orang-orang khusus-Nya dari makhluk-Nya setelah para nabi dan rasul-Nya, akan tetapi masuklah sesuatu yang asing sejak dulu hingga sekarang yang menyerupai penganut tasawwuf  padahal sama sekali mereka bukanlah dari ahli tasawwuf. Mereka berbicara tanpa ilmu dan mengerti hakikat, sehingga mereka tergelincir, sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang mencukupkan saja dengan nama dan menjadikanperantara untuk mengambil keuntungan dunia. Di antara mereka ada yang belum mencapai hakikat sehingga mereka berucap dengan hulul dan semisalnya, sehingga itu semua membuat munculnya buruk sangka terhadap semua ajaran tasawwuf. Sungguh para pengambil pelajaran dari mereka telah member peringatan atas nasehat mulia ini dan menetapkan bahwa semua perkara buruk ini muncul dari sesuatu yang asing (di luar tasawwuf) tersebut “. (Ta’yidul Haqiqah al-‘Aliyyah Wa Tasyiduth Thariqah asy-Syadziliyyah halaman : 7, karya imam as-Suyuthi)

Al-Imam Al-Allamah Al-Mufassir Fakhruddin Ar-Razi berkata :

الباب الثامن في أحوال الصوفية:اعلم أن أكثر مَنْ حَصَرَ فرق الأمة، لم يذكر الصوفية وذلك خطأ، لأن حاصل قول الصوفية أن الطريق إِلى معرفة الله تعالى هو التصفية والتجرد من العلائق البدنية، وهذا طريق حسن.. وقال أيضاً: والمتصوفة قوم يشتغلون بالفكر وتجرد النفس عن العلائق الجسمانية، ويجتهدون ألاَّ يخلو سرَّهم وبالَهم عن ذكر الله تعالى في سائر تصرفاتهم وأعمالهم، منطبعون على كمال الأدب مع الله عز وجل، وهؤلاء هم خير فرق الآدميين

“ Bab kedelapan : Tentang keadaan-keadaan ahli tasawwuf. Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan orang yang menghitung pembagian golongan umat tidak menyebut golongan ahli tasawwuf dan hal itu salah, karena keseluruhan ucapan ahli tasawwuf adalah sesungguhnya jalan menuju pengenalan kepada Allah Ta’ala adalah Tashfiyyah (penyucian) dan membersihkan diri dari ketergantungan badan, dan jalan ini merupakan jalan yang baik. Beliau juga berkata “ Kaum shufi adalah orang-orang yang menyibukkan diri dengan tafakkur dan membersihkan jiwa dari ketergantungan jasmaniyah, berusaha keras agar hati mereka tidak kosong dari mengingat Allah Ta’ala di dalam gerak-gerik mereka, selalu berpegang dengan kesempurnaan adab bersama Allah, dan merekalah paling baiknya golongan anak manusia “. (I’tiqadaat firaqil Muslimin wal musyrikin halaman : 72-73, Karya imam Fakhruddin Ar-Razi)

Al-Imam Al-Allamah Al-Hafidz Abdu Rauf al-Manawi berkata :

وإني كنت قبل أن يكتب الشباب خط العذار , أردد ناظري في أخبار الأولياء الأخيار , وأتتبع مواقع إشارات حكم الصوفية الأبرار , وأترقب أحوالهم وأسبر أقوالهم … حتى حصلت من ذلك على فوائد عاليات , وحكم شامخات ساميات فألهمت أن أقيد ما وقفت عليه في ورقات , وأن أجعله في ضمن التراجم , كما فعله بعض الأعاظم الأثبات , فأنزلت الصوفية في طبقات , وضربت لهم في هذا المجموع سرادقات , ورتبتهم على حروف المعجم عشر طبقات , كل مائة سنة طبقة , وجمعتهم كواكب كلها معالم للهدي , ومصابيح للدجى , ورجوم للمسترقة

“ Sesungguhnya aku sebelum seorang pemuda dicatat akan catatan alasannya, ingin mencermati kisah-kisah para wali Allah yang terpilih, aku telusuri isyarat-isyarat hokum ahli shufi yang baik dan aku selidiki keadaan-keadaan mereka dan aku kuak ucapan-ucapan mereka hingga aku mendapatkan beberapa faedah yang tinggi sebab itu dan hikmah-hikmah berbobot nan luhur. Lalu aku mendapatkan ilham agar mencatat apa yang aku dalami itu pada sebuah buku, dan agar aku buat isi biografi perjalanan mereka sebagaimana telah dilakukan sebagian besar ulama. Maka aku posisikan ulama shufi dalam beberapa tingkatan dan ku beberkan beberapa tenda dalam kumpulan ini. Aku tertibkan nama mereka menjadi sepuluh tingkatan. Setiap seratus tahun satu tingkatan dan aku kumpulkan bintang-bintang seluruhnya bagaikan petunjuk bagi kebenaran dan penerang bagi kegelapan serta panah api bagi si pencuri “. (Al-Kawaiku Ad-Durriyyah fii Tarajimi ash-Shufiyyah halaman : 3-4, karya imam Abdur Raouf al-Manawi)

Al-Imam Al-Kabir Abdul Qahir Al-Baghdadi berkata :

الفصل الأول من فصول هذا الباب في بيان أصناف أهل السنة والجماعة. اعلموا أسعدكم الله أن أهل السنة والجماعة ثمانية أصناف من الناس… والصنف السادس منهم: الزهاد الصوفية الذين أبصروا فأقصروا، واختَبروا فاعتبروا، ورضوا بالمقدور وقنعوا بالميسور، وعلموا أن السمع والبصر والفؤاد كل أُولئك مسؤول عن الخير والشر، ومحاسب على مثاقيل الذر، فأعدُّوا خير الإِعداد ليوم المعاد، وجرى كلامهم في طريقَيْ العبارة والإِشارة على سَمْتِ أهل الحديث دون من يشتري لهو الحديث، لا يعملون الخير رياء، ولا يتركونه حياء، دينُهم التوحيد ونفي التشبيه، ومذهبهم التفويضُ إِلى الله تعالى، والتوكلُ عليه والتسليمُ لأمره، والقناعةُ بما رزقوا، والإِعراضُ عن الاعتراض عليه. {ذلكَ فضلُ اللهِ يؤتِيهِ مَنْ يشاءُ واللهُ ذو الفضلِ العظيمِ

“ Fasal pertama dari fasal-fasal bab ini, tentang penjelasan kelompok-kelompok Ahlus sunnah waljama’ah. Ketahuilah, semoga Allah membuat kalian bahagia, sesungguhnya Ahlus sunnah waljama’ah ada delapan kelompok manusia..(hingga ucapan beliau)..” Kelompok ke enam di anatara mereka adalah orang-orang yang zuhud dan ahlis shufi yang mereka memandang dengan mata hati hingga mereka bisa  berlaku sederhana, mereka mendapat ujian dan mereka mengambil pelajarannya. Mereka ridha dengan ketentuan dan legowo dengan hal yang ringan. Mereka ahli shufi mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertangung jawabannya dari kebaikan atau keburukan dan akan dihisab walau seberat biji atom pun. Maka mereke mempersiapkan diri dengan sebaik-baik bekal untuk hari kembali kelak dan ucapan mereka berjalan di dalam dua jalan ibarat dan isyarat berdasarkan karakter ahli hadits bukan orang yang menjual permainan hadits. Mereka beramal kebaikan tidak dengan pamer dan tidak meninggalkan kebaikan karena malu. Agama mereka Tauhid dan meniadakan Tasybih (penyerupaan) dan mazdhab mereka Tafwidh (menyerahkan makna) kepada Allah Swt, tawakkal dan penyerahan diri kepada perintah Allah. Qonaah terhadap rezeki yang mereka dapat dan berpaling dari mengeluh atas-Nya. Itulah keutamaan Allah yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah maha memiliki keutamaan yang agung “. (Al-Farq bainal Firaq halaman : 236)

Al-Imam Al-Hafidz Abu Nu’aim Al-Ashfihani berkata :

أما بعد أحسن الله توفيقك فقد استعنت بالله عز وجل وأجبتك الى ما ابتغيت من جمع كتاب يتضمن أسامي جماعة وبعض أحاديثهم وكلامهم من أعلام المتحققين من المتصوفة وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك من قرن الصحابة والتابعين وتابعيهم ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق وباشر الأحوال والطرائق وساكن الرياض والحدائق وفارق العوارض والعلائق وتبرأ من المتنطعين والمتعمقين ومن أهل الدعاوى من المتسوفين ومن الكسالى والمتثبطين المتشبهين بهم في اللباس والمقال والمخالفين لهم في العقيدة والفعال وذلك لما بلغك من بسط لساننا ولسان أهل الفقه والآثار في كل القطر والأمصار في المنتسبين إليهم من الفسقة الفجار والمباحية والحلولية الكفار وليس ما حل بالكذبة من الوقيعة والإنكار بقادح في منقبة البررة الأخيار وواضع من درجة الصفوة الأبرار بل في إظهار البراءة من الكذابين , والنكير على الخونة الباطلين نزاهة للصادقين ورفعة للمتحققين ولو لم نكشف عن مخازي المبطلين ومساويهم ديانة , للزمنا إبانتها وإشاعتها حمية وصيانة , إذ لأسلافنا في التصوف العلم المنشور والصيت والذكر المشهور

“ Selanjutnya, semoga Allah memperbagus taufiqmu, maka sungguh aku telah memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan menjawabmu atas apa yang engkau mau dari pengumpulan kitab yang mengandung nama-nama kelompok dan sebagian hadits dan ucapan mereka dari ulama hakikat dari orang-orang ahli tasawwuf, para imam dari mereka, penertiban tingkatan mereka dari orang-orang ahli ibadah sejak zaman sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dan setelahnya dari orang yang memahami dalil dan hakikat. Menjalankan hal ihwal serta thariqah, bertempat di taman (ketenangan) dan meninggalkan ketergantungan. Berlepas dari orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang mengaku-ngaku, orang-orang yang berandai-andai dan dari orang-orang yang malas yang menyerupai mereka di dalam pakaian dan ucapan dan bertentangan pada mereka di dalam aqidah dan perbuatan. Demikian itu ketika sampai padamu dari pemaparan lisan kami dan lisan ulama fiqih dan hadits di setiap daerah dan masa tentang orang-orang yang menisabatkan diri pada mereka adalah orang-orang fasiq, fajir, suka mudah berkata mubah dan halal lagi kufur. Bukanlah menghalalkan dengan kedustaan, umpatan dan pengingkaran dengan celaan di dalam manaqib orang-orang baik pilihan dan perendahan dari derajat orang-orang suci lagi baik, akan tetapi di dalam menampakkan pelepasan diri dari orang-orang pendusta dan pengingkaran atas orang-orang pengkhianat, bathil sebagai penyucian bagi orang-orang jujur dan keluhuran bagi orang-orang ahli hakikat. Seandainya kami tidak menyingkap kehinaan dan keburukan orang-orang yang mengingkari tasawwuf itu sebagai bagian dari agama, maka kami pasti akan menjelaskan dan mengupasnya sebagai penjagaan, karena salaf kami di dalam ilmu tasawwuf memiliki ilmu yang sudah tersebar dan nama yang masyhur “.  (Muqoddimah Hilyah Al-Awliya, karya imam Al-Ashfihani)

Al-Imam Al-Kabir Al-Mufassir An-Nadzdzar Abi Al- muzdhaffar Al-Isfirayaini berkata :

في الباب الخامس عشر : في بيان اعتقاد أهل السنة والجماعة وبيان مفاخرهم ومحاسن أحوالهم وسادسها : علم التصوف والإشارات , وما لهم فيها من الدقائق والحقائق , لم يكن قط لأحد من أهل البدعة فيه حظ بل كانوا محرومين مما فيه من الراحة والحلاوة , والسكينة والطمأنينة وقد ذكر أبو عبد الرحمن السلمي من مشايخهم قريبا من ألف ، وجمع إشاراتهم وأحاديثهم ولم يوجد في جملتهم قط من ينسب إلى شيء من بدع القدرية والروافض ، والخوارج ، وكيف يتصور فيهم من هؤلاء وكلامهم يدور على التسليم ، والتفويض والتبري من النفس ، والتوحيد بالخلق والمشيئة ، وأهل البدع ينسبون الفعل ، والمشيئة ، والخلق ، والتقدير إلى أنفسهم ، وذلك بمعزل عما عليه أهل الحقائق من التسليم والتوحيد

Di bab ke-15 : Tentang penjelasan aqidah Ahlus sunnah waljama’ah dan penjelasan kebanggaan serta kebaikan hal ihwal mereka. Fasal yang ke- 6 adalah : Ilmu Tasawwuf dan isyarat dan apa yang mereka miliki dari ilmu-ilmu yang lembut dan ilmu hakikat. Yang tidak akan mendapat bagian sedikitpun dari ilmu ini orang-orang ahli bid’ah bahkan mereka terhalang mendapatkan apa yang ada pada ulama tasawwuf dari ketenangan, manisnya ibadah, sakinah dan tuma’ninah. Abu Abdirrahman As-Salmi telah menyebutkan guru-guru mereka hampir mendekati seribu, mengumpulkan isyarat dan hadits mereka namun tak ditemukan satu pun dari mereka orang-orang ahli bid’ah seperti qodariyyah, rowafidh dan khowarij. Bagaimana bisa tergambar pada mereka padahal ucapan ahli tasawwuf berputar pada taslim, tawakkal dan berlepas dari diri. Dan bertauhid  dengan akhlak dan keinginan. Sedangkan ahlul bid’ah menisbatkan perbuatan dan keinginan, akhlak dan pennetuan pada diri mereka. Hal ini bertentangan dengan ahli hakikat dari sifat taslim dan tauhid “. (At-Tabshir fiddin halaman : 164, karya imam al-Isfirayaini).

TA’DZIM DAN MENJAGA ADAB KEPADA GURU ADALAH KUNCI FUTUH SANG MURID

Al Imam Al Quthub Alhabib Ali bin Hasan al Atthas pengarang kitab “Syarah Ratib Alattas” radhiyallah anhu pernah mengatakan :

ﺍﻥ ﺍﻟﻤﺤﺼﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﺘﺢ ﻭﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻋﻨﻲ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﻠﺤﺠﺐ، ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺍﻻﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻭﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﻋﻨﺪﻙ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻚ ﺫﺍﻟﻚ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺷﻚ.

“Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab2 batinnya), adalah sesuai dg kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu. ”

(al Manhaj as Sawiy, hal. 217).

Oleh karena itu diceritakan bahwa Al -Imam Nawawi ra ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa,

“Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku “(Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah, hal, 155)

Dan beliau juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

ﻋﻘﻮﻕ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﺗﻤﺤﻮﻩ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﻋﻘﻮﻕ ﺍﻻﺳﺘﺎﺫﻳﻦ ﻻ ﻳﻤﺤﻮﻩ ﺷﻲﺀ ﺍﻟﺒﺘﺔ.

“Durhaka kepada orang tua dosanya bisa terhapus oleh taubat, tapi durhaka kepada gurumu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya “.

Al Imam Al Quthub Al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad ra juga mengatakan,

“Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali “_.

(Adaab Suluk al Murid, hal, 54).

Diceritakan bahwa ada seorang santri yg tengah menyapu tempat belajar milik gurunya, tiba2 Nabi Khidir datang kepadanya.

Maka santri tersebut tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara kepada Nabi Khidhir.

Lalu Nabi Khidhir pun berkata kepadanya, “Hai santri apakah engkau tidak mengenalku ?”

Santri itu menjawab, ” Iya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ”

Maka Nabi Khidhir berkata kembali, “Mengapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?”

Santri itu menjawab, “Guruku sudah cukup bagiku, sehingga tidak lagi tersisa satu hajatpun kepadamu “.

(Kalam al Habib Idrus al Habsyi, hal, 78).

Kaitannya dg hal ini Alimam Alquthub AlHabib Abdullah bin Alwi al Haddad ra berkata,

“Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya,Perintahkan aku ini, berikan aku ini”.Karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya.”

(Ghoyah al Qashd wa al Murad, jilid 2, hal 177).

Para ulama ahli hikmah mengatakan :

“Barangsiapa yang mengatakan ” kenapa ?” Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ”

(Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56).

Para ulama hakikat mengatakan :

“Tujuh puluh persen ilmu itu diperoleh karena faktor kuatnya hubungan (batin,adab dan baik sangka antara murid dengan gurunya ”

Saudaraku, keterangan di atas adalah nasihat, koreksi dan peringatan kepada kita semua agar senantiasa memuliakan guru. Jangan sampai kita mengecewakan atau bahkan jangan sampai berani (menjelek-jelekkan) kepadanya. Naudubillah..!

Semoga kita semua dijadikan oleh Allah Swt sebagai murid dan santri yang baik, taat, patuh, dan mendapat berkah serta ridho dari guru kita, sehingga kita akan mendapatkan barokah dan kemudahan dalam hidup kita, Aamiin…

Wallahu a’lam

FUTUH (TERBUKANYA MATI) SEBAGAI KEBUTUHAN RUHANI MANUSIA

Futuh Islam di akhir zaman telah diisyaratkan melalui beberapa riwayat hadis sahih. Pengertian futuh adalah terbukanya kebenaran agama Allah. Hal ini disebut sebagai kemenangan yang hakiki.

Allah akan menunjukkan Islam yang sesungguhnya (seperti yang dibawa oleh Rasulullah Saw), bukan yang dipikirkan oleh manusia.

Yang disebut futuh (kemenangan) akhir zaman bukanlah berupa kemenangan dengan menguasai wilayah-wilayah, negeri-negeri, atau kedudukan (kekuasaan). Hal itulah yang selama ini diburu, dicari dan diperjuangkan, sehingga pada akhirnya hanya menimbulkan conflict interest di antara umat manusia.

Sampai saat ini sudah banyak catatan konflik antar negara yang disebabkan karena berebut batas wilayah.

Ketika terjadi futuh Mekah, orang-orang Quraisy semula mengira dengan takluknya kota suci di tangan kaum muslimin, Rasulullah Saw akan menduduki kekuasaan sebagaimana para penguasa pada umumnya dan selanjutnya akan melakukan tindakan balasan atas apa yang telah diperbuat orang-orang Quraisy terhadap diri Beliau Saw beserta orang-orang yang beriman sebelumnya.

Rasulullah Saw saat itu menghalau mereka di depan Ka’bah, kemudian Beliau naik dan berdiri di depan pintu Ka’bah. Dalam khutbahnya Beliau Saw menyampaikan: ‘Aku bukanlah ingin menjadi raja yang berambisi terhadap kekuasaan. Tapi aku adalah Utusan Allah yang menyampaikan Risalah Allah kepada kalian! Maka pada hari ini aku bebaskan kesalahan-kesalahan kalian!’

Orang-orang Quraisy yang sudah takluk itu merasa kaget karena apa yang didesas-desuskan selama ini tentang ambisi Nabi Muhammad terhadap kekuasaan di tanah Arab tidaklah terbukti.

Kenyataan tersebut membuat orang-orang yang masuk Islam dengan berbondong-bondong tidak terbendung lagi. Dan turunlah Surat An Nashr, yang menegaskan futuh (kemenangan) agama Allah.

Hati orang-orang Quraisy yang terbuka dalam menerima ajaran Islam ini disebut sebagai kemenangan yang hakiki. Kemudian Allah memerintahkan untuk bertasbih: ‘fasabbih bihamdi robbika wastaghfirhu’.

Tuntunan Islam ketika mendapatkan kemenangan hakiki (sadarnya orang yang keras kepala) adalah dengan bertasbih-tahmid-istighfar, bukan bertepuk tangan atau pesta pora.

Kebanyakan umat Islam hari ini menganggap kemenangan Islam itu dalam bentuk diraihnya kekuasaan, atau berlimpahnya harta. Padahal yang dimaksud dengan futuh Islam di akhir zaman adalah dibukakan kebenaran Islam yang sesungguhnya ke dalam hati orang-orang yang ingkar.

Dalam rangka menyambut futuh Islam yang sesungguhnya tersebut perlu diwujudkan dengan perjuangan yang maksimal, sebagaimana masa panjang perjuangan Toh-tohan (maksimal)  Nabi Saw bersama para sahabat (sekitar 21 tahun).

Islam benar-benar terwujud nyata sebagai agama yang mempersatukan, toleran, jauh dari sikap/tindakan ekstrim, menanamkan nilai-nilai yang luhur, membangun masyarakat yang baik.

Islam hadir dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya dalam bentuk ayat per ayat atau surat per surat. Hasil didikan selama 22 tahun, melahirkan kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berekonomi, yang baik bagi para sahabat ra yang telah digembleng selama 22 tahun. Futuh adalah sebagai bukti kebenaran dan kemuliaan ajaran Islam.

Pentingnya meraih futuh (terbukanya mata hati)

Makna “Fath” (jamaknya futuh) adalah terbuka mata hati (dalam menerima kebenaran). Mayoritas ulama menafsirkannya dengan kemenangan. Makna kemenangan sesungguhnya adalah terbukanya hati-hati manusia, sehingga manusia menerima kebenaran. Bukan berupa kejayaan meraih kekuasaan dan sumber daya alam dari pihak lain.

Kita telah mengenal Hari Ied sebagai hari kemenangan. Karena pada hari itu seluruh orang-orang beriman tunduk melaksanakan perintah Allah Swt, sehingga diberi ampunan dosa dan kesucian bagai bayi baru dilahirkan. Inilah pengertian makna futuh atau kemenangan yang sesungguhnya. Makna dalam  ayat selanjutnya disebutkan, “Liyaghfiro Lakallaahu maa takoddama min dzanbika wa maa taakh-khoro”. (dengan terbukanya hati menyebabkan ampunan atas segala dosa, baik yang terdahulu maupun yang akhir).

Jadi nilai sepiritual-lah yang didapat dari futuh,bukan nilai materi yang diidam-idamkan banyak orang.

Jika hati tersambung maka gerak gerik kita dibawah keinginan Allah Swt. Sebaliknya jika tidak tersambung, pembawaan gerak gerik kita kepada hal-hal yang buruk. Mata, telinga, lisan, tangan, kaki hatinya akan bergerak kepada hal-hal negatif. Maka kunci ilmu tasawuf sebagai turunan diferensi Rukun Ihsan adalah menyambungkan hati kepada Allah Swt.

Ketika umat islam pada abad 1 Hijriah mengalami fitnah besar setelah wafat Nabi Muhammad Saw, sahabat-sahabat utama terbunuh. Setelah massa itu orang yang sungguh-sungguh  beribadah kepada Allah Swt tidak merasa cukup dengan “qoola waqiilaa” (katanya dan katanya), namun perlu adanya pembimbing. Mereka merindukan zaman Rsulullah Saw,dimana seluruh gerak-gerik para Sahabat RA berada dalam pantawan Rasullullaha Saw.

Rasulullah Saw membimbing para sahabat RA di segala aspek, baik di pasar, berkebun, rumah, maupun peperangan. Betapa Islam itu bersifat praktik (aplikatif). Tidak cukup dengan teori, tapi membutuhkan figur yang membimbing dan mencontohkan.

Lalu dengan kondisi tersebut, apa yang dilakukan oleh orang-orang pencinta kebenaran yang ingin beribadah dengan tulus?

Langkah pertama, membersihkan jiwa dari penyakit-penyakit batin berupa “hubud dunya”, cinta yang berlebih-lebihan mengalahkan cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Inilah yang namanya penyakit materialistis. Sehingga segala-galanya di ukur dengan harta karena hatinya dipenuhi oleh kecintaan kepada dunya. Ini adalah penyakit berbahaya.

Ada yang bernama “hubburri asah”, cinta kepada kekuasaan atau jabatan, seolah-olah dengan jabatan ia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya.

Ada penyakit takabur, mrasa besar atau tinggi, apakah ilmu, jabatan, status sosial, ketampanan, atau keturunan. Penyskit-penyakit batin tersebut akan mengganggu atau menjauhkan diri kita dari Allah Swt.

Pernah disampaikan bagiamna ajakan dakwah Nabi Musa AS kepada Firaun, penguasa zalim, jahat, sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Yang didakwahkan pertama kali kala itu adalah “Sudikah kiranya kamu membersihkan jiwamu dari penyakit batin?” Firaun di kuasai olehn penyakit takabur, sehingga tindakanya menjadi sewenang-wenang.

“Jika engkau sudi membersihkan kesombongan ‘hubb ar-riasah’, maka aku hantarkarkan aku kepada Tuhanm”.

Seorang tidak akan sampai kepaa Allah Swt jika hatinya tertanam rasa takabur.

“Engkau akan takluk, malu dihadapan Tuhanmu”. Inilah materi pertama yang di dakwahkan Nabi Musa kepada Firaun, burapa pembersihan hati dari penyakit batin.

Kembali kepada urayan semula. Ketika itu ada orang yang tidak puas dengan “katanya dan katanya” tanpa adanya figur pembimbing, maka langkah pertama yang dilakukan mereka adalah pembrsihan jiwa, yang diiringi dengan upaya mengolah rohani (riyadhah ruhiah). Hancurnya sendi-sendi sosial, pranata ekonomi,maupun kehidupan masyarakat dan bernegara karna manusia di kuasai penyakit batin.

Langkah kedua, menghiasi jiwa/hati dengan keindahan-keindahan (tashifiyatul qalbi). Dari jiwa kotor yang telah dibersihkan dengan kontinyu, lalu dihiasi dengan sifat-sifat Allah yang mulia dengan akhlak Nabi Muhammad Saw. Yang dilakukan untuk hal tersebut adalah untuk memprbanyak zikir atau menyebut Nama-nama Allah yang indah dan mulia maka disitulah ada makna ruhiyah yang masuk kedalam jiwanya.

Ketika menghayati makna “laailaaha illaah”, maka akan masuk kedalam jiwa. Ketika kalimat “thoyyibah” selalu disebut berulang-ulang dan dimaknai, maka jiwa akan merasa dekat dan tidak mau lepas dari Allah. Ia akan dapat mewarnai dan menghiasi jiwa.

Di samping itu Allah Swt memerintahkan membaca salawat. Innallaahawa mala-ikatahu yusholluna’alan nabiy. Yaa ayyuhalladzina aamanuu shoolu’alayhi wa sallimu tasliimaa,”Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersalawat kepada Nabi MuhamMad Saw. (Oleh karnanya) wahai orang yang beriman sampaikanlah salawat dan salam kalian kepadanya).

Hukum bersolawat adalah wajib. Salat tidak sah tanpa bersalawat kepada Beliau Saw. Hingga hari ini apakah kita sudah membaca salawat kepadnya?

Anak-anak zaman sekarang banyak mengidolakan artis. Pakaiannya ditiru-tiru, gaya rambut, topi, tas, lengkak-lengkok sepatunya diikuti. Tidak peduli apakah pantas atau tidak apa yang mereka expresikan. Hal ini semata dilakukan karena cinta.

Tanpa “mahabbah” tidak akan seseorang menjalankan sunah Rasullullah. Dengan membaca salawat, maka akhlak Rasulullah Saw menghiasi jiwa. Akan terbentuk karakter yang sesuai dengan apa yang diridhai Allah Swt dan Rasul-Nya. Misalnya cinta kepada pasangan karena Allah Swt bukan karena ketampanan, harta atau keturunan  yang tidak bersifat langgeng.

Langkah ketiga, setelah kedua tahap tersebut dilakukan selanjutnya meningkatkan kepada tahap “Tahzibul Akhlaq”, mewujudkan akhlak mulia dalam berbagai aspek kehidupan. Imam Ghazali mengatakan ‘ghayatut taswuf huwa akhlakul kariimah”. (puncak tasawuf adalah akhlak yang mulia). Baik terhaDap diri, keluarga, tetangga, masyaakat, bahkan alam semesta.

Buah dari ketiga, proses tadi adalah melahirkan jiwa yang futuh, sebagaimana yang diterima Rasulullah Saw. “Innaa fatahnaa laka fathan mubiina”. (sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata).

Jika hati masih tertutup, panggilan Allah Swt unuk melaksanakan perintah-Nya tidak akan direspon, padahal panggilan tersebut untuk memuliyakan dirinya. Tidak sedikitpun kemuliaan Alah Swt bertambah dengan ketaatan yang dia lakukan. Futuh itu, terbukanya pintu hati menjadi pintu gerbang meraih anugrah besar lainnya.

Ajaran islam tidak dimaknai secara teks, tapi jiwa merasa keagungan dibawah bimbingan islam. Jiwa yang merasakan keagungan tersebut tidak ingin lepas dengannya. Oleh sebab itu mengapa para sahabat Nabi rela melakukan hijrah meninggalkan kampunng halamannya. Karena iman sudah dirasakan manis. Salat, berinfak,  menghadiri majlis sudah dirasakan manis. Ibadah akan dirasakan pahit jika disikapi oleh hawa nafsu. Sebaliknya jalan menujiu neraka dikelilingi hal-hal yang menyenangkan karena disikapi dengan hawa nafsu pula. Akhlak paripurna diawali dengan keterbukaan mata hati.

Semoga kita semua merasakan futuh (terbuka hati) akan keagungan dan kebesaran dibalik ajaran Agama Allah Swt ini. Amin…

KHOTMUL AULIYA SEBAGAI PEWARIS UTAMA KHOTMUL ANBIYA SECARA KHUSUS DAN KAFFAH

Pengertian Wali Khatam

AL KHATMUL AULIYA’ ADALAH PEWARIS UTAMA KHATMUL ANBIYA’ SECARA KHUSUS DAN KAFFAH

Rasulullah SAW bersabda:

اَلعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ لَمْ يَرِثوُا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّماَ وَرَثوُا العِلْمَ وَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَهُ بِحَظٍّ وَاِفرٍ. (رواه البخاري)

“Al Ulama’ adalah pewaris para Nabi, mereka tidak mewariskan dinar dan dirham (harta kekayaan), dan mereka semata mata hanya mewariskan ilmu, dan barangsiapa yang mengambilnya, maka ia mengambil ilmu itu dengan keberuntungan yang banyak sekali”. (HR. Bukhari)

Dalam hadits diatas, sangat jelas bahwa para ulama yakni para wali (dalam pengertian ini) adalah pewaris para Nabi. Yang dimaksud para Nabi disini jelas bukan hanya Nabi Muhammad SAW, tapi semua Nabi sejak zaman Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu kalau kita mau awas / teliti dalam melihat fenomena ini, maka akan jelas terlihat bahwa terdapat persamaan dan kemiripan antara manaqib (biografi) seorang wali dengan sejarah salah satu Nabi, baik dari kemiripan rupa, sosok ketegapan tubuh, nama, sifat sifat secara khusus, karomah dengan mukjizatnya dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, dalam manaqib Sayyidi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, diceriterakan bahwa pada suatu hari ketika beliau makan, terdapat salah satu menu yang mengundang selera yaitu masakan seekor ayam. Pada saat itu datang tamu yaitu orang tua salah satu santrinya. Melihat lezatnya dan mutu makanan yang dimakan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani ra, tamu tersebut ingat anaknya dan jenis serta mutu makanan yang dimakan anaknya di pondok pesentren Syeikh Abdul Qadir ra. Dalam hati orang tersebut timbul perasaan iri, karena para murid makan makanan sangat sederhana sementara gurunya makan makanan lezat, bergizi dan bermutu tinggi.

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tahu apa yang tersirat dihati tamunya. Begitu selesai makan, maka beliau pandang tulang belulang ayam yang masih teronggok diatas meja makannya. Lalu beliau tunjuk seraya berkata : “Bangunlah (wahai ayam) atas izin Allah SWT!!!”, seketika itu juga ayam tersebut kembali utuh dan hidup kembali sebagaimana sediakala. Karomah ini sama dengan mu’jizat Nabi Musa yang menghidupkan kembali orang yang sudah mati dengan memukulkan lidah sapi betina pada mayat itu.

Disini bisa kita renungkan, Nabi Musa menghidupkan kembali orang mati (mayat itu masih dalam keadaan utuh) dengan cara memukulkan lidah sapi betina ke tubuh mayat tersebut, dan orang itu hidup kembali atas izin Allah SWT. Sedangkan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ra bisa menghidupkan kembali tulang belulang tanpa daging, tanpa perantara alat apapun. Cukup dia berkata “Bangunlah kamu atas izin Allah SWT !!!” maka hiduplah ia kembali dan bangun seperti dalam keadaan semula. Subhanallah… inilah salah satu karomah ummat terbaik dari nabi terbaik junjungan kita Nabi Muhaamd SAW, karomahnya lebih tinggi dari mu’jizat para nabi terdahulu.

Sebenarnya masih banyak kisah karomah para wali yang sama persis dan mirip dengan mu’jizat para Nabi sebelum Rasulullah SAW. Demikian juga banyak bukti ikhtiyar dan mujahadah mereka serta ujian para Wali untuk mencapai puncak kedudukan disisi Allah SWT. Diantaranya ada yang mirip Nabi Ayyub as, dia mengalami ujian kena penyakit lepra dan dikucilkan manusia, tapi justru dia merasakan nikmatnya sendiri bersama Allah SWT. Intinya kejadian kejadian tersebut adalah bukti nyata yang menjelaskan kebenaran Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa PARA WALI adalah pewaris PARA NABI. Bukan pewaris Nabi Muhammad SAW secara khusus. Lalu siapakan pewaris tunggal Khatmul Anbiya wal Mursalin Nabi Muhammad SAW ? untuk itu mari kita dalami secara khusus siapakah Al Khatmul Auliya’ yang menjadi pewaris khusus Al Khatmul Anbiya’ tersebut.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita renungkan firman Allah SWT berikut ini:

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُونَ (النحل: 34)

“Bertanyalah kalian kepada “Ahla Adz Dzikri” jika kamu tidak tahu”. (QS. An Nahl:43)

Khitab (orang yang dituju) dan dimaksud dalam ayat ini sebenarnya ahlul kitab yaitu Yahudi dan Kresten. Tapi konteks kejadiannya adalah ketidak percayaan orang arab Mekkah atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul bagi mereka. Anggapan mereka Rasul itu seharusnya bukan manusia tapi malaikat, oleh karena itu Allah SWT menyuruh mereka (Orang Arab Mekkah) untuk bertanya kepada orang orang Yahudi dan Kresten yang jujur tentang Nabi dan Rasul yang diutus pada mereka. Apakah manusia atau malaikat?…

Berbicara untuk membahas kenabian, sebenarnya jauh lebih sulit dan pelik dari pada berbicara masalah ketuhanan, jauh lebih sulit dan pelik lagi jika berbicara masalah kewalian. Ada sekelompok manusia percaya adanya tuhan tapi tidak percaya adanya nabi dan rasul, ada juga percaya adanya tuhan dan Nabi serta rasul tapi tidak percaya adanya wali. Hal ini terjadi karena tendensi manusiawi mereka atau disebabkan karena keterbatasan informasi, karena ilmu yang membahas masalah kewalian ini tergolong khusus dan tidak semua orang tahu.

Oleh karena terbatasnya pengetahuan kita dan terbatas pula informasi dan kitab rujukan kita, maka dalam pembahasan masalah kewalian ini mari kita berhusnudz dzanni untuk mengambil pendapat dan informasi dari para ulama yang kredible, tetapi tetap merujuk pada acuan utama kita terhadap Al Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Demikian juga pembahasan kita tentang Al Khatmul Wilayah Al Muhammadiyah Al Khaashah, kami kemukakan keterangan para ulama dan auliya’ yang jelas dan kredible dengan tetap mengacu pada Al Qur’an dan Sunnah. dalam kitab jawahirul Ma’ani Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijany RA. menyatakan :

وَلَناَقَاعِدَةٌ وَاحِدَةٌ عَنْهَا تُنْبِئُ جَمِيعُ الأُصُولِ: أَنَّهُ لاَحُكْمَ إِلاَّ للهِ وَرَسُولِهِ، وَلاَعِبْرَةَ فِي الحُكْمِ إِلاَّ بِقَولِ اللهِ وَقَوْلِ رَسُولِهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ،وَأَنَّ أَقَاوِيلَ العُلَمَاءِ كُلَّهَا بَاطِلَةٌ إِلاَّ مَاكَانَ مُستَنِدًا لِقَولِ اللهِ أَوقَولِ رَسُولِهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَكُلُّ قَولٍ لِعَالِمٍ لاَ مُستَنِدً لَهُ مِنَ القُرأَنِ وَلاَمِنْ قَولِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ بَاطِلٌ وَكُلُّ قَولَةٍ لِعَالِمٍ جَاءَتْ مُخَالِفَةٌ لِصَرِيحِ القُرأَنِ الْمُحْكَمِ أَولِصَرِيْحِ قَولِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَحَرَامُ الفَتوَى بِهَا وَإِنْ دَخَلَتْ فِى كُتُبِ الفِقْهِ، لِأَنَّ الفَتْوَى بِالقَوْلِ الْمُخَالِفِ لِنَصِّ القُرْأَنِ أَوِالحَدِيْثِ كُفْرٌصَرِيْحٌ مَعَ العِلْمِ بِهِ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ”وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ” وَقَالَ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ “مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهٌ فَهُوَ رَادٌّ”. (جواهر المعاني وبلوغ الأماني: 2/ 195-196)

Dan kami hanya punya satu pedoman / qoidah sebagai dasar dari semua usul. Bahwasanya tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah Swt. dan Rasulnya Saw. bahwasanya tidak ada ibarat dalam hukum kecuali firman Allah Swt. dan sabda Rasulullah Saw. Bahwasanya semua pendapat Ulama itu Batal (ditolak) kecuali berlandaskan Al Qur’an dan Al Hadits. Semua perkataan orang berilmu batal kecuali berlandaskan Al Qur’an dan Al Hadits, dan tiap-tiap pendapat orang berilmu yang bertentangan dengan Al Aqur’an yang shorih dan muhkam dan bertentangan pula dengan Hadits yang shohih, maka haram di fatwakan, walaupun pendapat tersebut dimasukkan dalam kitab kitab Fiqh. Karena fatwa yang diucapkan dengan sadar dan tahu kalau hal tersebut menyalahi Nas Al Qur an dan Hadits, maka itu (salah satu bentuk) kekafiran yang nyata. Allah SWT berfirman; ”Barangsiapa yang tidah bertahkim dengan apa yang diturunkan Allah ( Al Quran) maka mereka adalah orang orang kafir”. Dan Sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang mengada ada ( hal yang baru) dalam urusan kami ini (Agama Islam), sedangkan hal tersebut tidak ada dalam Islam, maka hal tersebut ditolak.” – (Jawahirul ma’ani : 2/195-196)

Lebih jauh dan tegas lagi, Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra menyatakan:

إِذَا سَمِعْتُم عَنِّى شَيْئًا فَزِنُوهُ بِمِيزَانِ الشَّرعِ فَإِنْ وَافَقَ فَاعْمَلُوا بِهِ فَإِنْ خَالَفَ فَاْترَكُوهُ (الإفادة الأحمدية: 13)

“Apabila kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah dengan neraca syariat Islam (Alquran dan Hadits), maka jika sesuai (dengan syariah) kerjakanlah dan jika menyimpang tinggalkanlah“(Al Ifaadatul Ahmadiyyah:13).

  1. Al Khatmul Auliya’ adalah seorang Wali besar yang mencapai maqam Al Katmu (Al Quthbul Maktum).

Kalau kita mencari istillah Al Khatmul Auliya’, Al Quthbu Al Maktum dalam kitab kitab tasawwuf seperti Ihya’ Ulumuddin, Al Hikam, Jami’ul Usul fil Auliya’ dan kitab kitab lain, mungkin tidak ada. Karena wali yang mampu membahas maqam ini secara khusus dan tuntas hanyalah mereka yang berada pada level tingkat atas saja. Diantara Wali yang mengungkap masalah ini secara panjang lebar adalah As Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi Alhaatimy. Beliau seorang ulama dan wali besar pada zamannya yang sangat produktif dan banyak menulis kitab dalam berbagai disiplin ilmu lebih dari 200 judul, beliau wafat pada tahun 638 H (awal abad ke 7).

Diantara kitab yang beliau tulis berjudul “Al futuuhatul Makiyah” yang terdiri dari 20 jilid. Didalam kitab tersebut beliau membahas cukup jelas tentang khatmul Auliya’ dengan sifat sifat dan berbagai tanda tanda khususi lainnya. Kemudian beliau menulis lagi kitab yang diberi judul: “Anqaa-u Maghrib fii Khatmil Awliya-i wa Syamsil Maghrib”. Inti dari bahasan beliau dalam kitab ini adalah penjelasan tentang khatmul Auliya’, diantara ciri cirri khatmul Auliya’ yaitu: Munculnya di Maghrib (saat ini bernama Maroko) dan mendapatkan cobaan berat diingkari banyak orang.

Wali lain yang membahas khatmul Auliya sebelum Syeikh Ibnul ‘Arabi adalah Ash Shufi Al Kabiir Muhammad bin Ali Al Hakim At Turmudzi (wafat pada tahun 255H) pertengahan abad ke 3 hijriyah. Salah satu kitab yang beliau tulis berjudul Khatmul Auliya’.

Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan makna Al Khatmul Auliya’ itu ada tiga macam.

  1. Al Khatmul Auliya’ adalah seorang wali yang menjadi puncak atau penutup pangkat para wali pada zamannya masing masing, kalangan sufi ada yang menyebutnya sebagai Quthbu Az Zaman atau Shahibul Waqti. Dimana pada setiap zaman terdapat seorang Wali Quthub yang menjadi pusat rujukan seluruh auliya’ pada zaman tersebut, dialah penyandang mahkota puncak kewalian pada zamannya, yang menjadi penutup pangkat (pemegang pangkat tertinggi) dan dari dialah mengalir seluruh karunia Allah atas seluruh mahluk. Khatmul Auliya’ jenis ini hanya ada satu dalam setiap zaman dan jika ia wafat maka Allah memilih orang lain sebagai penggantinya.
  2. Al Khatmul Auliya’ Al ‘Ammah (penutup para wali secara umum) yang hidup di akhir zaman. Dia hanya satu tidak ada duanya yaitu Nabi Isa bin Maryam as, yang akan turun di akhir zaman sebagai wali dari ummat Nabi Muhammad SAW. Dimana jika beliau wafat maka tidak ada wali lagi yang hidup setelahnya, maka dengan demikian ahlak ummat manusia akan mencapai puncak kerusakan yang menyebabkan terjadinya kiamat kubra.
  3. Al Khatmul Auliya’ Al Muhammadiyyah Al Khashshah. Adalah seorang wali quthub yang memegang mahkota puncak pangkat kewalian yang menjadi rujukan seluruh auliya’ sejak zaman Nabi Adam as sampai hari kiamat. Dari beliaulah memancar mata air ilmu kewalian yang dinikmati oleh para wali sejak zaman nabi Adam as sampai kiamat baik mereka sadar atau tanpa sadar. Beliau adalah Barzahul Barazaah atau Al Barzahul mahtum wal maktum yang menjadi garis pemisah (hijab) terakhir dan sangat dirahasiakan antara posisi para nabi dengan seluruh auliya’ dan mahluk semuanya.

Pembahasan Al Khatmul Auliya’ Al Muhammadiyyah Al Khaashshah inilah yang menjadi konsumsi pembahasan para wali besar sejak zaman dulu sampai saat ini. Mengingat masalah ini adalah masalah super khusus dan sangat rahasia maka dalam membahas masalah ini lebih lanjut maka kami akan mengutip berbagai pernyataan para tokoh yang memang berkompeten di bidang tersebut dan para ulama khas dan khasul khas membenarkannya. Oleh karena itu pada tatanan bahasan ini kita menggunakan mitode ‘undzur man qaala’ (melihat dan menilai siapa yang bicara). Karena yang bicara adalah orang yang berhak maka kita wajib taslim (menerima) dengan husnu dzan.

  1. Pengertian Al Katam (Al Quthbu Al Maktum).

Al Katam artinya tersembunyi atau dirahasiakan. Al Quthbul Maktum artinya Wali Quthub yang di rahasiakan. Dan untuk mengetahui lebih detail, mari kita telaah pernyataan Sayyidi Syeikh Al Quthbul Maktum Ahmad bin Muhammad At Tijani ra berikut ini:

فَقِيْلَ لَهُ وًمَا مَعْنَى الْمَكْتُومُ؟ فَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ هُوَ الَّذِي كَتَمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ حَتَّى الْمَلاَئِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ إِلاَّ سَيِّدُ الوُجُودِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ عَالِمٌ بِهِ وَبِحَالِهِ وَهُوَ الَّذِي حَازَ مَاعِنْدَ الأَولِيَاءِ مِنَ الكَمَالاَتِ الإِلَهِيَّةِ وَاحْتَوَى عَلَى جَمِيْعِهَا. (أقوى الأدلة والبراهين:40)

Maka ditanyakan kepadanya: dan apakah arti Al Maktum?.. Maka (Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra) menjawab: “Wali Al Maktum adalah wali yang dirahasiakan Allah dari semua mahluknya bahkan malaikat dan para nabipun (tidak tahu). Kecuali Sayyidul Wujud Rsulullah SAW, sesungguhnya beliau tahu kepadanya dan semua hal ihwalnya. Dialah wali yang menghimpun semua kesempurnaan sifat ilahiyah yang ada pada para wali dan menjadi penjaga bagi semuanya. (Aqwa Al Adillah wal Barahiin : 40).

Karena Wali Al Quthbul Maktum itu sangat dirahasiakan oleh Allah SWT, maka tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Sayyidul Wujud Rasulullah SAW. Oleh karena itu, ketika beliau lahir dan mendapat perintah untuk mengikrarkan jabatan dan martabat kewaliannya, maka timbullah beragam reaksi baik yang pro, kontra maupun yang bingung. Hal ini juga akibat tingginya ilmu dan asrarur rabbani yang beliau ceriterakan, sehingga para ‘arifiin yang tingkat tinggi sekalipun banyak yang tidak mengerti akibat terbatasnya daya jangkau akal dan dzauqiyah mereka. Sifat diingkari orang ini juga yang menjadi tanda tanda Al Katmu itu sendiri. Hal ini juga sudah diisyaratkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an:

بَلْ كَذَّبُوا بِمَالَمْ يُحِيْطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأتِهِمْ تَأوِيلُهُ (يونس:39)

“Bahkan mereka mendustakan terhadap apa yang mereka belum ketahui (dengan sempurna), padahal belum datang penjelasan pada mereka” (QS. Yunus:39).

Dalam satu kesempatan Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra ditanya apakah beliau akan diingkari orang atau tidak, beliau menyatakan:

أَيَكْذِبُ عَلَيْكَ؟ قَالَ نَعَمْ، إِذَا سَمِعْتُمْ عَنِّى شَيئًا فَزِنُوهُ بِمِيزَانِ الشَّرعِ فَإِنْ وَافَقَ فَاعْمَلُوا بِهِ فَإِن خَالَفَ فَاترَكُوهُ (الافادة الأحمدية: 13)

“Apakah kamu akan didustakan / diingkari? Beliau menjawab: Ia, (oleh karena itu) Apabila kalian mendengar sesuatu dariku, maka timbanglah dengan neraca syariat Islam (Alquran dan Hadits), maka jika sesuai (dengan syariah) kerjakanlah dan jika menyimpang tinggalkanlah “. (Al Ifaadatul Ahmadiyyah:13).

  1. Kedudukan Al Katam (Al Quthbul Maktum).

Untuk mengetahui kedudukan Al Quthbu Al Maktum, penulis kutip penjelasan Sayyidi Syeikh Al Quthbul Maktum Ahmad bin Muhammad At Tijani ra dalam ktab Rimah sebagai berikut:

أَنَّ القُّطْبَ الْمَكْتُومِ هُوَالوَاسِطَةُ بَيْنَ الأَنْبِيَاءِ وَالأَولِيَاءِ, فَكُلُّ وَلِيِّ اللهِ تَعَالَى مِنْ كِبَرِ شَأنِهِ وَمِنْ صِغَرِ لاَيَتَلَقَّى فَيضًا مِنْ حَضَرَةٍ النَّبِيِّ إِلاَّ بِوَاسِطَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَشْعُرُ بِهِ وَمَدَدِهِ الخَّاصُ بِهِ.إِنَّماَ يَتَلَقَّاهُ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلاَ اَطْلاَعَ لِأَحَدٍ مِنَ الأَنبِيَاءِ عَلَيهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى فَيْضِهِ الخَاصِ بِهِ لِأَنَّ لَهُ مَشْرَبًا مَعَهُمْ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. (رماح -ج :2 \ص:14)

Sesungguhnya Al Quthbul Maktum adalah wasithah (perantara) antara para Nabi dan para Auliya’. Maka seluruh Wali Allah baik yang berpangkat tinggi maupun yang rendah, tidak menerima limpahan karunia yang (mengalir) dari para nabi kecuali melalui wasithah (perantara) Al Quthbul Maktum radliyallaahu anhu itu dari arah yang tidak mereka sadari. Dan madad (pemberian karunia) khusus kepadanya hanya menerima (langsung) dari Sayyidul Wujud SAW. Dan tak seorang nabipun yang tahu terhadap limpahan khusus tersebut, karena untuk mereka (para Nabi) juga mempunyai sumber limpahan tersendiri dari Rasulullah SAW. (Rimah: juz 2 /14).

Dari penjelasan kitab Rimah tersebut diatas, tersimpul bahwa Wali Al Katam (Al Quthbul Maktum) adalah Wali tertinggi yang memegang kunci telaga ilmu kewalian yang bersumber dari telaga ilmu kenabian Rasulullah SAW. Dan dari telaga inilah mengalir ilmu kewalian menuju telaga telaga kecil maupun besar para auliya’ sejak zaman Nabi Adam as. sampai ahir zaman. Jadi orang yang menjabat Wali Katam (Al Quthbul Maktum) itu adalah Wali Khatam (Al Khatmul Auliya’). Sehingga dalam penyebutan lengkapnya adalah Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktuum (Wali Quthub penutup puncak pangkat para wali yang dirahasiakan).

Dalam banyak kitab disebut juga sebagai Al Khatmul Auliya’ Al Muhammadiyyah Al Khaashah (Penutup kewaliyan dari ummat Nabi Muhammad SAW yang khusus) maksudnya penutup puncak pangkat kewalian, sebagaimana pembagian khatmul auliya’ poin c yang dijelaskan oleh As Sufi Al Kabir Al Imam Muhammad bin Ali Al Hakim At Turmudzi tersebut pada halaman 110. oleh karena itu, jika urutan pangkat (martabat) kewaliyan tersebut disebut semua maka tersusunlah sebagai berikut: Al Quthbu Al Maktum wal Khatmu Al Auliya’ Al Muhammadiyyi Al Makluum artinya Wali Quthub yang dirahasiakan yang menjadi penutup (puncak martabat) kewaliyan dari Ummat Nabi Muhammad SAW yang sudah diketahui.

Menurut penjelasan Syeikh Muhyiddin Ibnu Al rabi Al Hatimi, kedudukan (martabat) Al Khatmul Auliya’ adalah sebagai berikut:

  1. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah tertinggi yang mendapat tugas kewaliyan sejak zaman azali (sebelum alam diciptakan) sampai akhir zaman, tapi kemunculan atau kelahirannya di dunia adalah tergolong akhir.
  2. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang menjadi pusat aliran karunia ilmu kewalian langsung dari Rasulullah SAW, (pemegang kunci telaga ilmu kewalian) dan dari dialah selanjutnya aliran ilmu itu memancar kepada semua Wali Allah sejak zaman Nabi Adam sampai kiamat.
  3. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang menjadi penutup martabat (pangkat) kewalian, dimana tidak ada lagi pangkat kewalian yang lebih tinggi lagi diatasnya kecuali pangkat kenabian.
  4. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang mempunyai ilmu, asror, nur, fuyudhat dan tajalliyat terbanyak dari semua wali yang ada di muka bumi dari zaman Nabi Adam sampai kiamat.
  5. Khatmul Auliya’ adalah Wali Allah yang menjadi hijab (barzah) terahir antara Al Hadrah hakekat Al Muhammadiyyah dengan Al Hadrah Jami’il Auliya’ wal makhluqat.

Sedangkan martabat / kedudukan Al Quthbul Maktum menurut Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani radliyallaahu anhu adalah:

  1. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang menjadi tumpuan dan rujukan seluruh auliya’ serta menjadi sumber limpahan karunia yang memancar ke seluruh alam sejak awal terjadinya alam raya ini sampai akhir zaman.
  2. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang terbanyak ilmu, asrarur rabbani, dan nur ilahiyahnya.
  3. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang menjadi wasithah / perantara antara para Nabi dengan para wali sejak zaman Nabi Adam as. sampai ditiupnya sangkakala (kiamat).
  4. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang mendapat karunia khususiyah secara langsung dari Sayyidul wujud Rasulullah SAW.
  5. Al Quthbul Maktuum adalah Wali Allah yang menduduki puncak tertinggi dalam martabat kewalian sejak zaman Nabi Adam sampai ditiupnya sangkakala.

Catatan penting yang perlu diketahui juga disini adalah:

Martabat Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktuum dalam tatanan kewalian lebih tinggi dari pada martabat Al Khatmul Auliya’ Al ‘Ammah yang disandang oleh Nabi Isa bin Maryam as, dimana beliau di akhir zaman kelak akan turun kembali ke bumi yang sekaligus juga menjadi tanda akan datangnya kiamat kubra. Tapi beliau hadir bukan sebagai Nabi dan Rasul yang membawa syariat, tapi sebagai wali terakhir Al Khatmul Auliya’ Al ‘Ammah karena martabat kenabian telah terkunci rapat sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terahir dimana tidak ada Nabi dan Rasul lagi setelahnya.

Dilain pihak Nabi Isa bin Maryam as. tetap lebih tinggi martabatnya dari pada Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktuum, karena dia aslinya adalah seorang Nabi dan Rasul yang tergolong ulul azmi yang mana martabat kenabian itu jelas lebih tinggi dari pada martabat kewalian.

  1. Orang orang yang pernah mengklaim sebagai Al Khatmul Auliya.

Secara naluri manusiawi, martabah Al Khatmul Auliyaa’ adalah martabat paling bergengsi dalam tatanan kewalian. Oleh karena itu tidak heran jika banyak orang khusus yang menginginkan martabat itu jatuh pada diri mereka. Diantara wali besar yang sempat mengira bahwa martabat Al Khatmul Auliyaa’ Al Quthbul Maktuum tersebut adalah miliknya antara lain:

  1. Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli. Beliau adalah seorang wali besar dan sangat masyhur, salah satu karya beliau yang fenomenal adalah kitab kumpulan shalawat yang berjudul “Dalaailul Khairaat”. Beliau wafat pada tahun 870 Hiriyah (abad 9 Hijriyah).
  2. Syeikh Muhammad Wafa, yang diketahui dari perkataan putranya Seikh Ali bin Muhammad Wafa.
  3. Syeikh Muhyiddin ibnu Al Arabi Al Hatimi. Wafat pada tahun 638 Hijriyah (awal abad ketujuh Hijriyah). Dia mengira bahwa dirinya adalah Al Khatmul Auliyaa’ dari isyarah mimpi. Dia bermimpi bahwa bangunan Ka’bah sedang direnofasi dan dibangun kembali dengan batu bata dari emas dan perak. Ketika renofasi selesai ternyata bangunan dinding Ka’bah antara rukun Yamani dan rukun Syami kurang dua buah batu bata, dan beliau dalam mimpi tersebut merasa sebagai batu bata terahir dan tertinggi tempatnya, sehingga dengan isyarah tersebut beliau merasa sebagai Al Khatmul Auliyaa’. Saat bangun dari tidurnya, beliau takwilkan mimpi tersebut dengan penuh keyakinan dan suka cita bahwa beliaulah Al Khatmul Auliya’ tersebut. Karena begitu senangnya perasaan beliau, maka pada saat itu beliau bersyair :

بِنَاخَتَمَ اللهُ الوِلاَيَةِ فَانتَهَتْ * إِلَينَا فَلاَ خَتْمَ يَكُونُ لِمَنْ بَعْدِي

وَمَا فَازَ بِالخَتْمِ الَّذِي لِمُحَمَّدٍ * مِنْ أُمَّتِهِ وَالعَلَمِ إِلاَّ أَنَاوَحدِي

Kamilah yang dijadikan penutup kewalian oleh Allah, maka (puncak martabah) kewalian berakhir (jatuh pada kami, maka tidak akan ada lagi wali khatam setelahku.

Dan tidak seorangpun dari ummat Nabi Muhammad SAW yang beruntung mendapat martabah Al Khatam (Khatmul Auliya’) dan ilmu kecuali aku sendiri.

Ketika beliau dalam suasana suka cita tersebut dan baru saja selesai bersair, terdengarlah oleh beliau seruan ghaib (hatif) yang mengatakan bahwa : “Bukan kepunyaanmu apa yang kamu duga dan kamu harapkan itu, itu kepunyaan seorang wali di akhir zaman. Tak ada wali yang lebih tinggi dan lebih mulia di sisi Allah SWT dari dia”. Mendengar teguran dari alam ghaib tersebut beliau menyambut baik dan mengatakan: “Keserahkan urusan perkara ini kepada Dzat yang menciptakan dan mewujudkan”.

Catatan penting:

  1. Klaim (pernyataan) bahwa dirinya sebagai khatmul auliya’ oleh ketiga wali besar tersebut diatas adalah pernyataan yang mereka dapat dari penafsiran terhadap bisyarah (pengalaman ruhani) mereka, dan tidak didukung oleh fakta dan pernyataan pihak lain yang mendukung, misalnya berita langsung dari Rasulullah SAW.
  2. Diantara pernyataan tersebut dicabut kembali oleh yang menyatakan.
  3. Selain dari ketiga wali besar tersebut diatas, tidak seorang walipun baik sebelum dan sesudahnya yang menyatakan bahwa dia sebagai khatmul auliya’.

Lebih jauh, kami kutip sebuah pernyataan Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Arabi Al Haatimi ra yang terdapat dalam kitab Futuuhaatul Makkiyah, dan juga dikutip oleh pengarang kitab Aqwal Adillah wal baraahiin pada halaman 17 sebagai berikut: “Dan pada tahun 595 Hijriyah. Saya (Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Arabi Al Haatimi ra) berjumpa dia (Al Khatmul Auliya’) yang merupakan wali tertinggi baik ilmu maupun martabatnya disisi Allah SWT yang tidak ada lagi derajat diatasnya, dalam pertemuan secara barzahi di alam arwah, (karena ia belum lahir kedunia). Pada pertemuan tersebut, saya melihat sedikit dari tanda tanda Al Khatmul Auliya’ yang disembunyikan Allah SWT dari mata para hamba-Nya. Dan Allah SWT membuka sedikit dari alamat rahasia besar tersebut pada saya, diantaranya; dia tinggal di kota Fas (sebuah kota di wilayah negara kerajaan Maroko saat ini), dan dia dihadapkan pada cobaan diingkari orang karena ketinggian ilmu dan asrar rabbaninya yang sangat dalam”.

Berita lain yang menambah atau melengkapi pernyataan Syeikh Muhyiddin Ibnu Al Arabi Al Haatimi ra. Adalah pernyataan seorang wali besar “Syeikh Mukhtar Al Kanati ra” yang hidup pada qurun / abad dua belas Hijriyyah. Beliau menyatakan bahwa qurun / abad dua belas Hijriyyah menyerupai qurun Rasulullah SAW, diantara alasannya adalah pada abad 12 Hijriyyah tersebut lahirnya Al Khatmul Auliya’ sebagaimana abad pertama Hijriyyah adalah abad kelahiran Al Khatmul Anbiya’.

Yang menjadi catatan penting dalam pernyataan tersebut diatas dan menjadi fakta fakta pendukung atas kebenaran klaim Al Khatmul Auliya’ yang dilontarkan oleh Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, bahwa:

  1. Syeikh Mukhtar Al Kanati hidup pada qurun 12 Hijriyah. Tapi dia tidak menyatakan bahwa dirinya sebagai Al Khatmul Auliya’.
  2. Pada pertengahan qurun 12 Hijriyyah tersebut lahir seorang Wali besar dan sangat terkenal yaitu Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, tepatnya pada tahun 1150 Hijriyyah dan wafat pada tahun 230 Hijriyyah.
  3. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, menyatakan bahwa dia adalah Al Quthbu Al Maktum wal Khatmul Auliya’ Al Muhammadiy.
  4. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, lahir di Ain Al Madi wilayah negara Al Jazair Afrika utara, kemudian beliau hijrah dan menetap di kota Fes, wilayah kerajaan Maroko saat ini dalam istilah bahasa arab dikenal dengan Al Maghribil Aqsha (Afrika barat).
  5. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, menyatakan bahwa dirinya adalah Al Quthbul Maktum yang menjadi Khatmul Auliya’ Al Khaashshah tersebut.
  6. Pernyataan beliau bersumber dari pernyataan Rasulullah SAW dalam pertemuah langsung tanpa perantara, secara sadar (yaqdzah) bukan mimpi.
  7. Tak seorangpun yang menyatakan pernyataan yang sama dan didukung oleh fakta fakta yang akurat baik sebelum maupun sesudah kelahiran Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra.
  8. Perbedaan mendasar antara pernyataan Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra. Dengan pernyataan ketiga auliya’ sebelumnya adalah pada sumber yang menjadi dasar pernyataan. Ketiga auliya’ yang menyatakan bahwa dia adalah Al Khatmul Auliya’ dasarnya adalah dzan (prasangka) dia pribadi terhadap fenomena pengalaman ruhani baik melalui mimpi atau peristiwa lain yang dialami mereka. Sedangkan Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang beliau terima melalui pertemuan langsung dalam sadar (yaqadzah) bukan mimpi.
  9. Bertemu Rasulullah SAW dalam sadar (yaqadzah) bukan mimpi adalah hal yang lumrah terjadi di kalangan wali kelas atas, dan hal tersebut termasuk karomah yang menjadi tanda kesempurnaan ma’rifah mereka.
  10. Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktum adalah pewaris tunggal dan khusus dari Rasulullah SAW.

Sebelum melangkah klebih jauh, mari kita renungkan secara jernih dan mendalam hadits Rasulullah SAW berikut ini:

اَلعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنبِيَاءِ لَمْ يَرِثوُا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّماَ وَرَثوُا العِلْمَ وَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَهُ بِحَظٍّ وَافِرٍ. (رواه البخاري)

“Al Ulama’ (dalam pengertian Al Auliya’) adalah pewaris para Nabi (bukan para Rasul), mereka tidak mewariskan dinar dan dirham (harta kekayaan), dan mereka semata mata hanya mewariskan ilmu, dan barangsiapa yang mengambilnya, maka ia mengambil ilmu itu dengan keberuntungan yang banyak sekali”. (HR. Bukhori)

Jadi berdasarkan hadits Nabi SAW tersebut diatas, jelas bahwa para auliya’ adalah pewaris ilmu, asrar, fuyudhat dan tajalliyat serta nur para Nabi dari Nabi Adam as sampai nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu ada diantara mereka yang cara dakwah dan thariqah serta karomahnya yang mirip Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub dll. Yang mewarisi Nabi Ayyub as mengalami sakit kulit parah sampai keluar nanah terus menerus, di kerubungi lalat berkepanjangan sampai dikucilkan, orang lain melihatnya dengan rasa jijik, kasihan dan lain lain. Tapi dia sendiri bisa menikmati kebahagiaan hidup hakiki dalam kondisi tersebut serta tetap istiqamah, asik beribadah dan munajat kepada Allah SWT.

Ada yang mewarisi Nabi Sulaiman as, hidup dengan kekayaan melimpah tapi hatinya tidak pernah bergeser dari kelezatan sejati yaitu terpusatnya pandangan dan perhatian mereka ke Hadrah Al Qudsiyyah. Ada yang mirip Nabi Musa as yang dihadapkan pada berbagai tantangan ummat yang sangat jahil. Sok pinter, culas dan lain sebagainya. Dia dapat karomah seperti mukjizat Nabi Musa as bisa melawan sihir, menghidupkan kembali orang maupun hewan yang sudah mati atas izin Allah SWT.

Adapun wali yang menjadi pewaris tunggal dan sekaligus juga wasithah (perantara) antara Sayyidul wujud Rasulullah SAW dengan para awliya’ adalah wali Allah yang berpredikat Al Quthbul Maktum wal Khatmul Muhammadiy. Dia adalah Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra. Karena memang dia yang menyandang predikat dan martabat tersebut, maka hanya dia pula yang bisa menjelaskan secara tepat dan akurat tentang kedudukan tersebut dan tugasnya. Untuk itu berikut ini kami kutip pernyataan beliau yang tertulis dalam kitab Rimah sebagai berikut:

أَنَّ القُّطْبَ الْمَكتُومِ هُوَالوَاسِطَةُ بَيْنَ الأَنبِيَاءِ وَالْأَولِيَاءِ, فَكُلُّ وَلِيِّ اللهِ تَعَالَى مِن كِبَرِ شَأنِهِ وَمِنْ صِغَرِ لاَيَتَلَقَّى فَيْضًا مِنْ حَضَرَةٍ النَّبِيِّ إِلاَّ بِوَاسِطَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ مِن حَيْثُ لاَيَشعُرُ بِهِ وَمَدَدِهِ الخَّاصُ بِهِ.إِنَّماَ يَتَلَقَّاهُ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ اَطْلاَعَ ِلأَحَدٍ مِنَ الأَنبِيَاءِ عَلَيهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى فَيْضِهِ الخَاصُ بِهِ ِلأَنَّ لَهُ مَشرَبًا مَعَهُمْ مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. (رماح -ج :2 \ص:14)

Sesungguhnya Al Quthbul Maktum adalah wasithah (perantara) antara para Nabi dan para Auliya’. Maka seluruh Wali Allah baik yang berpangkat tinggi maupun yang rendah, tidak menerima limpahan karunia yang (mengalir) dari para nabi kecuali melalui wasithah (perantara) Al Quthbul Maktum radliyallaahu anhu itu dari arah yang tidak mereka sadari. Dan madad (pemberian karunia) khusus kepadanya hanya menerima (langsung) dari Sayyidul Wujud SAW. Dan tak seorang nabipun yang tahu terhadap limpahan khusus tersebut, karena untuk mereka (para Nabi) juga mempunyai sumber limpahan tersendiri dari Rasulullah SAW. (Rimah: juz 2 /14).

  1. Al Quthbil Maktum Wal Khatmil Auliya’ Al Muhammadiy Al Khashah adalah Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra.

Dari semua uraian dan penjelasan tersebut diatas, kita sudah mengerti siapa sebenarnya Al Quthbul Maktum Wal Khatmul Auliya’ Al Muhammadiy Al Khashah. Dia mempunyai banyak kemiripan bahkan kesamaan yang amat sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Dan wali yang mirip dan hampir bisa dikatakan sama persis dengan pribadi Rasulullah SAW hanya satu. Dialah pewaris tunggal ilmu, sifat, asrar, fadhail, fuyudhat dan tajalliyat serta berbagai kekhususan Khatmul Anbiya’ wal Mursaliin Nabi kita Muhammad SAW. Dialah orangnya, yaitu Sayyidul Auliya’ Al Quthbi Al Maktum Wal Khatmi Al Muhammady Al Ma’luum sayyiduna wa habibuna Abul Abbas Ahmad bin Muhammad At Tijany ra.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

INILAH CARA BERDZIKIR KALIMAH THOYYIBAH YANG PALING SEMPURNA

Cara Yang Paling Sempurna Untuk Berzikir

 لآ إله إلا الله محمد رسول الله

Menurut Imam Sanusi Dalam kitab Ummul Barahin.

Berzikir dengan kalimah لآ إله إلا الله محمد رسول الله adalah sebuah ibadah sunnah yang sangat besar pahalanya. ini dikarenakan kalimat tersebut adalah kalimat syahadah yang nilainya di sisi Allah sangat tinggi dan juga mengandung bermacam-macam rahasia dan kelebihan yang amat banyak, Namun untuk meraih segala keagungan dan kelebihan kalimah tersebut, diperlukan cara khusus dalam berzikir agar hasil dan fadhilahnya sempurna.

Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan cara yang paling sempurna untuk berzikir لآ إله إلا الله محمد رسول الله menurut Imam Sanusi dalam kitabnya Ummul Barahin berikut ini.

  1. Mengambil wudhu, memakai pakaian suci, mencari tempat suci, khalwah semampunya, mencari waktu-waktu mulia seperti setelah subuh sampai munculnya matahari, setelah ashar sampai tenggelamnya matahari, antara magrib dan isya dan waktu sahur.

  1. Mengucapakan :

بتوفيقك أمتنا لا لأمرك مستعينا بك اللهم إني أستغفرك يا مولاى وأتوب اليك من جميع الصغائر والكبائر وهواتف الخواطر

  1. Membaca ta’awudz :

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

  1. Membaca Ayat Ke 20 dari Surat Al- Muzammil:

۞ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمُۢ. ٢٠

Artinya : “ Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”.

  1. Istighfar 100 kali.

  1. Membaca ta’awudz.

  1. Membaca dalam hati Ayat :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

  1. Menghadirkan (Membayangkan) betapa besarnya kedudukan dan keagungan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah taala dalam hati.

  1. Mengucapkan :

لبيك مولاى وسعديك والخير كله في يديك وها هو العبد الفقير الحقير راكن لمنيع جنابك متوسل اليك بأفضل أحبابك يقول بتوفيقك ممتثلا لأمرك ومستعينا بك فى جميع أموره.

  1. Membaca Sahalawat Kepada Nabi SAW sebanyak 500 kali dengan membayangkan seolah-olah nabi hadir dihadapan kita, contoh shalawatnya :

أللهم صلّ على سيدنا محمد نبيك ورسولك وخليلك صلاة اَرْقَى بها مراقي الإخلاص، وأنال بها غاية الاختصاص ، وسلم تسليماً عدد ما أحاط به علمك وأحصاه كتابك.

  1. Membaca Tahmid (Puji-Pujian) Sebanyak 3 atau 7 kali dengan menghayati akan besarnya nikmat Allah yang telah memberikan Taufiq bagi kita untuk memulai dan menyelesaikan bacaan Shalawat dan mensyukurinya, yaitu misalnya dengan membaca :

الحمدلله ألذي انعم علينا بنعمة الإيمان والإسلام وهدانا بسيدنا ومولانا محمد عليه من الله تعالى افضل الصلاة و ازكى السلام. الحمدلله هدانا لهذا وماكنا لنهتدي ان هدانا ألله ، لقد جاءت رسل ربنا بالحق.

  1. Membaca Ta’awudz ( أعوذ بالله من الشيطان الرجيم )

  1. Membaca Firman Allah Surat Muhammad ayat 19 : فاعلم انه لآ إله إلا الله

  1. Mengucapkan Doa :

لبيك مولاي وسعديك، والخير كله في يديك ، وها هو العبد الفقير الحقير يوحدك بالتهليل منخلعا من كل شرك ومن كل تغيير وتبديل بقوله مخلصا من قلبه ذاكرا لربه لآ إله إلا الله محمد رسول الله صلى الله عليه و سلم.

  1. Membacakan Dzikirلآ إله إلا الله محمد رسول الله dengan selalu menghayati maknanya sampai habis Jumlahnya (200 / 300 / 400 / 500 kali atau seterusnya seberapa banyak yang sanggup dibaca).

Demikianlah Cara berzikir “Laailahaillallah” yang paling sempurna yang insya Allah bila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan manfaat yang sangat besar juga. Wallahu ‘Alam Bisshawab,

Referensi : Kitab Hasyiah Dusuki ‘ala Ummul Barahin Halaman 230.