BEBERAPA TANDA MATA HATI KITA TERTUTUP ATAU BUTA

Syaik ibnu ‘Atthahillah As-Sakandary di dalam kitabnya Al Hakim merumuskan :

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فات من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

“ Diantara tanda matinya hati adalah tidak ada perasaan sedih bila terlewatkan kesempatan beralamal dan tidak ada penyesalan atas bermacam pelanggaran yang telah engkau kerjakan .”

Berdasarakan kalama hikmah tersebut dapat disimpulkan bahwa hati apabila hati masih hidup , maka akan merasa sedih dan gundah terhadap kesempatan beramal taat yang terlewatkan dan akan merasa menyesal terhadap pelanggaran-pelanggaran yang telah di kerjakan. Akan tetapi bila mana hati itu telah tertutup, maka mempunyai dua tanda :

  1. Tidak merasa gundah dengan kesempatan beramal yang sudah lewat.
  2. Tidak merasa menyesal dengan pelanggaran ( maksiat) yang sudah dikerjakan.

Selanjutnya, Syaik Ibnu Atthaillah As-Shakandary RA telah merumuskan di dalam kalam hikmah beliau yang lain , sebagai berikut :

اجتهادك فيما ضمن لك وتقصرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك

“ Kegiatan ( Bersungguh-sungguh ) engkau pada menghasilkan sesuatu yang telah terjamin untuk engkau dan di samping itu , engkau meninggalkan sesuatu dimana engkau di tuntut ( pada mengerjakannya) adalah menunjukakan atas (telah) butanya mata hati engkau.”

Sebelum memaparkan keterangan dari kalam tersebut, maka terlebih dahulu kita harus ketahui beberapa perkataan yang tertera di dalamnya:

  1. Perkatan ” اجتهاد “ maksudnya ialah bersungguh sungguh tanpa kenal lelah dan letih, dimana seluruh kekuatan kita kerahkan untuk memperoleh sesuatu yang tertuju, jadi, tidak di maksudkan di sini seperti di dalam fiqh islam.

  1. Perkataan “ تقصير “ maksudnya ialah meninggalkan sesuatu yang di maksud (dituntut) yang disebabkan oleh kelalaian dan kurang perhatian atas tidak mengerjakan sesuatu secara sempurna seperti yang di perintahkan.

  1. Perkataan “ البصيرة “ di sini berbeda dengan perkataan Syaik Athaillah As-Sakandari dalam definisinya sebagai berikut :

عين فى القلب تدرك الأمور المعنوية كما أن البصر يدرك اللأمور المحسوسة

“ البصيرة “ atau biasa disebut dengan mata hati ialah sesuatu yang disebut dengan mata di dalam hati yang dapat menanggkap segala sesuatu yang sifatnya maknawiyah ( sesuatu yang tidak bias di tanggakap oleh panca indra yang lima) sebagaimana bahwasanya “ البصر “ merupakan mata jasmani, yang dapat menangkap segala sesuatu yang bersifat hisi ( di tangakap oleh panca indra yang lima ).

Penjelasan kalam hikmah.

Kalam hikmah ini memberikan pengertian kepada kita agar kita jangan memperdulikan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah SWT. Kita boleh saja berusaha mencari rezeki, bahkan seterusnya mencari rezeki yang halal.

Bahkan dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

من بات كالا من طلب الحلال بات مغفورا له

“ Barang siapa tidur dalam keadaan letih dan lelah dalam mencari rezeki yang halal, maka ia tidur dalam keadaan diampuni dosa-dosanya.”

Namun dalam mencari rezeki, jangan sampai kita meninggalkan semua kewajiban yang telah Allah perintahkan , karena hal itu akan mengakibatkan kita akan tertutup mata hati, sebagaimana yang dimaksud dari kalam hikmah tersebut.

Padahal Allah SWT dengan karunia dan kebaikannya telah menjamin rezeki hambanya sebagaimana firman Allah dalam Alquran pada surat Al Angkabut ayat 60 :

و كأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“ Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezeki sendiri, Allah yang member rezeki kepadanya dan kepada kamu, dan Ia maha mendengar dan maha mengetahui.”

Dan dalam ayat lain Allah berfirman :

وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى

“ Dan perintahkan pengikut ( keluarga ) untuk sembahyang dan tetap mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Hanya kami yang memberikan rezeki kepadamu, dan akibat (yang baik) adalah untuk orang yang memelihara diri dari kejahatan.

Dua ayat ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam masalah rezeki, kita tidak boleh susah sebab, sudah ada dalam jaminan Allah, asal saja kita berusaha sesuai dengan ketentuan kita masing-masing.

Dan apabila masah rezeki sudah jelas persoalannya, maka imbalan dari pada itu ialah, Allah SWT menuntut kepada kita untuk melaksanakan amal ibadah berupa kewajiban-kewajiban dan mengerjakan amalan kebaikan-kebaikan seperti yang telah di gariskan oleh agama.

Dengan amal ibadah kita dapat sampai kebaikan akhirat yang kekal dan dengan amal ibadah kita dapat dekat dengan Allah SWT.

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

مآ أريد منهم من رزق ومآ أريد أن يطعمون إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين

“ Aku tidak menghendaki sedikitpun rezeki dari mereka dan aku tidak menghendaki mereka supaya mereka memberi aku makan, sungguh Allah dialah pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

Dalam ayat tersebut jelas, bahwasanya Allah tidak membutuhkan rezeki dari makhluk ciptaannya, namun ia menciptakan makhluknya ( manusia dan jin ) hikmahnya yaitu untuk berbuat amalan kebaikan dan senantiasa menyembah kepadanya.

Namun alangkah sayangnya, zaman sekarang banyak kita melihat orang-orang lebih mementingkan usahanya dari pada hubungannya dengan Rabbnya sehinnga mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah Allah perintahkan kepada mereka.

Mereka memiliki penglihatan, tetapi tidak mereka gunakan untuk membaca kalam Allah, mereka memiliki pendengaran, namun mereka malah mempergunakan untuk mendengar music, mereka memiliki mulut yang bias mereka gunakan untuk berbicara namun mereka sangat jauh dari zikir Allah dan Istighfar kepadanya.Inilah orang-orang yang termasuk kedalam golongan Ghafilun ( Orang-orang yang lalai dari mengingat Allah).

“ ايك يا اخوانى “ ( Takutlah wahai saudaraku ) terhadap kelelaian yang seperti itu, karena akan menjadiakan kita jauh dari keridhaan Allah dan dekat dengan kemurkaan Allah SWT. Namun “ عليك بالتوبة “ Lazimkan lah wahai saudaraku, dengan bertaubat dan meminta ampun kepadanya, karena dengan itu kita akan mendapatkan kebahagian yang hakiki, kebahagiaan yang di idam-idamkan oleh semua orang yang beriman, surga jannatunn naim.

آمين يا رب العالمين

MENGAMBIL PELAJARAN KESUFIAN DALAM FILM ALADIN DAN JIN LAMPU AJAIB

Setelah La La Land, The Greatest Show, dan A Star Is Born, film musikal dengan pangsa pasar berbeda menarik perhatian kita semua. Dialah Aladdin, diproduksi oleh Walt Disney Pictures, disutradarai Guy Ritchie, dan menjadi ‘karpet ajaib’ bagi, terutama, Mena Massoud, yang di awal proses syuting dikira penari latar oleh Will Smith, Sang Jin. Film Aladdin diangkat dari dongeng panjang dan legendaris, Seribu Satu Malam. Karya sastra ini menjadi bukti kuat tradisi story telling bagi masyarakat Padang Pasir.

Aladdin sendiri diceritakan sebagai seorang pemuda baik hati yang miskin dan sering kedapatan mencuri—walau hasil curiannya kadang diberikan kepada pengemis yang kelaparan (seperti Sunan Kalijaga atau Robin Hood). Aladdin berteman dengan seekor monyet bernama Abu dan dari pertemuan tak terduganya dengan Putri Jasmine yang menyamar, dia ditawan dan diperalat oleh Ja’far, wazir yang haus kekuasaan.

Dari sana, Aladdin ditumbalkan untuk mencari lampu ajaib di dalam gua mistis dan sebagaimana dapat ditebak, Aladdin akhirnya ‘berteman’ dengan si jin.

Walaupun ada western value yang kentara dalam narasi dan pembentukan karakter di film tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa kisah ini mewakili kisah masyarakat Arab di tataran grassroot level.

Kisah Aladdin memotret ketimpangan ekonomi antara mereka yang ada di dalam istana dan mereka yang mesti mencuri untuk bertahan hidup. Antusiasme masyarakat saat Pangeran Ali dari Ababwa datang serta kekaguman Putri Jasmine atas ‘the whole new world’ yang ia lihat bersama Aladdin dari karpet ajaib, menunjukkan kepedihan dan kemiskinan mereka.

Dan ketika seperti tidak ada jalan keluar, ide-ide soal kekuatan supranatural yang bisa bimsalabim menjadi ‘obat penenang’. Itu sebabnya narasi jin ini menjadi kuat—dan menariknya, bahkan masih relevan hingga sekarang.

Terlepas dari itu, kita bisa menarik pelajaran dari kisah Aladdin ini. Pelajaran sufisme—akhlak. Apa saja? Pertama, Aladdin berkata, “Jika kamu tidak punya apa-apa, bersikaplah seolah kamu memiliki segalanya.” Sikap ini mengandung dua akhlak mulia, pertama, bersyukur ‘ala kulli hal, merasa grateful dalam semua situasi dan kondisi. Kemiskinan yang dialami Aladdin membuat dia dapat melihat anugerah-anugerah yang biasa disepelekan dan dari sana terbangun suatu kesadaran dan kerendah-hatian. Kemiskinan tidak lagi mengganggu kualitas diri dan kebahagiaannya. Dan kualitas ini termasuk ke dalam akhlak sufisme nomor dua: ghina ‘anin naas.

Ghina ‘anin naas biasanya diartikan secara sederhana sebagai: mandiri. Padahal, ghina ‘anin naas sesungguhnya jauh lebih dalam daripada itu. Ghina ‘anin naas adalah keterlepasan kita dari setiran, hegemoni, dan bahkan perbudakan (ekspektasi kita atas) orang lain.

Secara kualitatif saya biasanya mendefinisikan ghina ‘anin naas sebagai situasi di mana (1) bahagia dan sedih kita tidak dipengaruhi oleh apa yang (harusnya) dilakukan atau tidak dilakukan oleh orang lain; (2) puas atau tidaknya kita tidak ditentukan oleh apa yang menurut kita harusnya diucapkan dan/atau dipikirkan oleh orang lain, tentang kita.

Dalam istilah Rumi, proses menuju ghina ‘anin naas dapat dilakukan dengan ‘menghancurkan diri sendiri’. Kita tidak dibelenggu oleh jebakan dan penjara citra dan apapun yang sifatnya menduakan cinta kita pada-Nya dan kesejatian. Kita tidak takut pada anggapan orang tentang kita. Sejauh yang saya pahami, almagfurlah Gus Dur adalah salah satu yang berhasil menerabas jebakan ini. Begitu pula Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Kedua, sufisme memperkuat kesadaran ihsani. Kesadaran bahwa kita senantiasa diawasi oleh Allah, sehingga setiap yang kita kerjakan harus dilandasi kesadaran seolah-olah kita melihat Allah. Alhasil, role of conduct kita senantiasa istiqomah di sirot al-mustaqiim. Pelajaran ini kita dapatkan dari cara Aladdin menyikapi kewenangan dan peluang yang dia peroleh dengan kepemilikan dan penguasaan atas jin. Aladdin bisa saja melanjutkan permintaannya menjadi Pangeran Ali, dengan sejumlah permintaan lain yang duniawi-oriented: kekuasaan politik dan ketakterbatasan sumber daya ekonomi.

Dan Aladdin nyaris tergoda ke arah sana ketika dia ogah untuk mengakui ke-Aladdin-annya dan berusaha mengkonstruksi ke-Ali-annya. Jin butuh waktu untuk berdebat dan mengingatkan Aladdin, dan Aladdin butuh waktu sampai dia menaklukkan ilusi dan godaan tersebut demi menemukan kesejatian dirinya.

    Sebagaimana kata Imam al-Ghazali, kita ini bukan tubuh kita, dan tidak selalu sesuai dengan narasi yang diembankan kepada kita. Kita adalah makhluk ruhani yang diuji dengan tubuh biologis dan sejumlah narasi yang tidak selalu kita setujui. Hanya, semua ujian itu dimaksudkan untuk melatih kita menemukan kesejatian.

Dan kesejatian itu Aladdin temukan ketika dia berhasil menemukan dirinya sendiri, menaklukkan egosentrisme dan nafsu pribadinya, dan bersedia mengorbankan semua peluang demi apa yang dia yakini sebagai Kebenaran. Aladdin, singkatnya, berhasil menemukan ‘Tuhan’ melalui kesadaran amanat yang mungkin harus dia tunaikan ketika takdir memilihnya berteman dengan sang jin. Itu sebabnya secara patriotik Aladdin membebaskan si jin.

Dan ketiga, ketika kita berhasil menaklukkan semua rintangan duniawi itu, kita dapat merasakan ketidakterbatasan kebahagiaan dan kekuatan. Persis seperti penari darwis di puncak trance dalam dzikirnya. Dan ketika demi kesejatian itu kita dikalahkan secara kasat mata, rezeki dan pertolongan Allah datang tak terbatas min haitsu laa yahtasib. Dan ketika datang pertolongan Allah, datang kemenangan—walau tidak selalu harus sesuai dengan apa yang manusia definisikan sebagai pertolongan dan kemenangan.

Bagi saya, kemenangan Aladdin adalah ketika dia berhasil menemukan ke-Aladdin-annya. Pernikahannya dengan Jasmine hanya bonus, hanya ujian, hanya jalan bagi ke-Aladdin-an itu termanifestasi menjadi kebaikan bagi umat yang banyak.

KONDISI RUH DAN BERAGAM MACAM JENISNYA

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati hal ini sangat jelas firman Allah SWT :

كُلّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

Kata  “mati” atau “kematian” tidak akan dikatakan kecuali apabila ruh telah berpisah dari jasad, namun kali ini kami akan berbagi  sedikit tentang kondisi pencabutan ruh. Di dalam Hasyiah Ianatuttalibin syeh sayyid Abu Bakar syata menyebutkan pada permasalahan shalat jenazah, segala arwah itu dapat dibagi kepada lima macam:

1,Ruh para ambiya

2.Ruh para syuhada (orang-orang syahid)

3.Ruh orang-orang ta’at

4.Ruh orang-orang bermaksiat dari orang beriman

5.Ruh segala orang kafir.

Setiap kelima pembagian tersebut memiliki berbagai macam keberagamannya saat dicabut oleh Allah SWT melalui malaikat izrailnya.

Adapun ruh para ambiya keluar dari jasadnya dengan bentuk seperti  jasad disertai dengan bau miski dan kafur ( wangian yang sangat harum) ruh tersebut menuju surganya Allah memakan makanan lezat dan kenikmatan lainnya, di waktu malamnya ruh para ambiya ini menetap pada tempat yang dipenuhi lampu-lampu hias yang indah dan anggun.

 Adapun ruh para syuhada apabila keluar dari jasadnya maka Allah jadikan ruh mereka menetap diatas satu burung yang hijau yang membawa ruh-ruh tersebut mengelilingi sungai-sungai di surga Allah SWT, memakan dan minum dengan penuh kenikmatan, diwaktu malam meraka menetap disuatu tempat yang indah bola lampunya bergantungan terbuat dari emas.

Selanjutnya  ruh orang-orang ta’at dari kalangan mu’min akan Allah pertempatkan dalam kebun surganya para ruh tersebut tidak makan dan tidak bernikmat-nikmat melainkan hanya melihatnya saja, namun seperti kita ketahui melihat nikmatnya saja itu sudah merupakan nikmat terbesar bagi kita, semoga Allah memberi kebaikan kepada semua kita saat pencabutan ruh nantinya.

Keempat adalah ruh orang yang maksiat kepada Allah dari kalangan orang mukmin ruh meraka akan Allah tempatkan diantara langit dan bumi layaknya seperti kapas yang  berterbangan. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari bahagian ini, Amin.

kelima, ruh orang-orang kafir akan ditempatkan diatas burung yang hitam dan berada dalam satu penjara di bawah bumi yang ketujuh badannya melengket dengan bumi dan mereka akan merasakan kesakitan yang luar biasa, sehingga hal ini bisa dirasakan oleh jasadnya dialam kubur sana.

Referensi : Hasyiah I’anatuttalibin Juz 2 Hal 107 Cet, Haramain

(واعلم) أن الأرواح على خمسة أقسام: أرواح الأنبياء، وأرواح الشهداء، وأرواح المطيعين، وأرواح العصاة من المؤمنين، وأرواح الكفار.

فأما أرواح الأنبياء: فتخرج عن أجسادها، وتصير على صورتها مثل المسك والكافور، وتكون في الجنة، تأكل، وتتنعم، وتأوي بالليل إلى قناديل معلقة تحت العرش.

وأرواح الشهداء: إذا خرجت من أجسادها فإن الله يجعلها في أجواف طيور خضر تدور بها في أنهار الجنة، وتأكل من ثمارها، وتشرب من مائها، وتأوي إلى قناديل من ذهب معلقة في ظل العرش، هكذا قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -.

وأما أرواح المطيعين من المؤمنين: فهي في رياض الجنة، لا تأكل ولا تتنعم، لكن تنظر في الجنة فقط.

وأما أرواح العصاة من المؤمنين: فبين السماء والأرض في الهواء.

وأما أرواح الكفار: فهي في أجواف طيور سود في سجين، وسجين تحت الأرض السابعة، وهي متصلة بأجسادها، فتعذب أرواحها، فيتألم بذلك الجسد.

كالشمس: في السماء الرابعة، ونورها في الأرض، كما أن أرواح المؤمنين في عليين، متنعمة ونورها متصل بالجثة

MENGETAHUI KETENTUAN ISTIQOMAH DAN HAKIKAT TAKABUR

ISTIQOMAH

Definisi atau Ta’rif istiqomah

الاستقامة : هي سلوك الطريق المستقيم، وهو الدين القويم من غير تعويج عنه يمنة و لا يسرة، و يشمل ذلك فعل الطاعات كلها الظاهرة و الباطنة و ترك المنهيات كلها كذلك “

Yang dimaksud istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

Inilah pengertian istiqomah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali.

Sedangkan menurut Ibnu Hajar dalam Fathul baari syarh shohih bukhori,beliau menjelaskan :

قوله : استقيموا ) أي اسلكوا طريق الاستقامة وهي كناية عن التمسك بأمر الله تعالى فعلا وتركا

Firman Allah lafadz “استقيموا ” ya’ni : Tempuhlah jalan (agama) dengan istiqomah.

Istiqomah ialah kinayah atau kiasan dari Tamassuk (berpegang teguh) pada perintah Allah SWT,baik perintah untuk mengerjakan dan perintah larangan untuk meninggalkan.

Keterangan lain dalam Durrotun Nashihin Hal 200

قال بعضهم الاستقامة باربعة اشياء الطاعة في مقابلة الامر ،والتقوي في مقابلة النهي ، والشكر في مقابلة النعمة ، والصبر في مقابلة الجنة

Berkata sebagian Ulama : ” Istiqomah terdapat pada empat perkara : Taat ketika menjalankan perintah-Nya, Taqwa ketika menjauhi larangan-Nya , Syukur ketika mendapatkan ni’mat-Nya dan Sabar ketika menempuh jalan yang menghantarkannya ke syurga “.

TAKABUR

Dalam kitab “Bariqoh Mahmudiyah” di sebutkan:

كتاب “بريقة محمودية في شرح طريقة محمدية وشريعة نبوية” – (ج 3 / ص 175 -176 ):

( وَالتَّكَبُّرُ حَرَامٌ ) عَلَى كُلِّ أَحَدٍ ؛ لِأَنَّهُ عَظِيمُ الْآفَاتِ وَمَنْبَعُ أَكْثَرِ الْبَلِيَّاتِ وَمُوجِبُ سُرْعَةِ عُقُوبَةِ اللَّهِ تَعَالَى ؛ لِأَنَّهُ لَا يَحِقُّ إلَّا لَهُ تَعَالَى فَإِذَا فَعَلَ الْعَبْدُ مَا يَخْتَصُّ بِالْمَوْلَى اشْتَدَّ غَضَبُ الْمَوْلَى ( إلَّا عَلَى الْمُتَكَبِّرِ ) مِنْ النَّاسِ فَالتَّوَاضُعُ عَلَى الْمُتَكَبِّرِ لَيْسَ بِجَائِزٍ .

قَالَ الْمُنَاوِيُّ : عَنْ الْغَيْرِ إذَا أَغْضَبَك أَحَدٌ بِغَيْرِ شَيْءٍ فَلَا تَبْتَدِئْهُ بِالصُّلْحِ ؛ لِأَنَّك تُذِلُّ نَفْسَك فِي غَيْرِ مَحَلٍّ وَتُكْبِرُ نَفْسَهُ بِغَيْرِ حَقٍّ وَمِنْ ثَمَّةَ قِيلَ الْإِفْرَاطُ فِي التَّوَاضُعِ يُورِثُ الْمَذَلَّةَ ، وَالْإِفْرَاطُ فِي الْمُؤَانَسَةِ يُورِثُ الْمَهَانَةَ وَإِذَا اُتُّفِقَ أَنْ يُقَامَ الْعَبْدُ فِي مَوْطِنٍ فَالْأَوْلَى فِيهِ ظُهُورُ عِزَّةِ الْإِيمَانِ وَجَبَرُوتِهِ وَعَظَمَتِهِ لِعِزِّ الْمُؤْمِنِ وَعَظَمَتِهِ وَأَنْ يَظْهَرَ فِي الْمُؤْمِنِ مِنْ الْأَنَفَةِ وَالْجَبَرُوتِ مَا يُنَاقِضُ الْخُضُوعَ وَالذِّلَّةَ فَالْأَوْلَى إظْهَارُ مَا يَقْتَضِيهِ ذَلِكَ الْمَوْطِنُ فَهَذَا مِنْ بَابِ إظْهَارِ عِزَّةِ الْإِيمَانِ بِعِزَّةِ الْمُؤْمِنِ ( فَإِنَّهُ قَدْ وَرَدَ فِيهِ أَنَّهُ صَدَقَةٌ ) عَلَى مَنْ تَكَبَّرَ عَلَيْهِ كَمَا وَرَدَ : التَّكَبُّرُ عَلَى الْمُتَكَبِّرِ صَدَقَةٌ ؛ لِأَنَّهُ إذَا تَوَاضَعْت لَهُ تَمَادَى فِي ضَلَالِهِ وَإِذَا تَكَبَّرْت عَلَيْهِ تَنَبَّهَ .

وَمِنْ هُنَا قَالَ الشَّافِعِيُّ تَكَبَّرْ عَلَى الْمُتَكَبِّرِ مَرَّتَيْنِ وَقَالَ الزُّهْرِيُّ التَّجَبُّرُ عَلَى أَبْنَاءِ الدُّنْيَا أَوْثَقُ عُرَى الْإِسْلَامِ .

وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَظْلَمُ الظَّالِمِينَ مَنْ تَوَاضَعَ لِمَنْ لَا يَلْتَفِتُ إلَيْهِ وَقِيلَ قَدْ يَكُونُ التَّكَبُّرُ لِتَنْبِيهِ الْمُتَكَبِّرِ لَا لِرِفْعَةِ النَّفْسِ فَيَكُونُ مَحْمُودًا كَالتَّكَبُّرِ عَلَى الْجُهَلَاءِ وَالْأَغْنِيَاءِ .  قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ : التَّكَبُّرُ عَلَى مَنْ تَكَبَّرَ عَلَيْك بِمَالِهِ تَوَاضُعٌ…)

Takabbur (sombong) hukumnya haram atas setiap orang. Karena sombong merupakan malapetaka yang besar dan merupakan sumber banyaknya bencana serta mempercepat siksaan Allah Ta’ala. karena tidak berhak untuk sombong kecuali Allah Ta’ala. maka ketika seorang hamba melakukan sesuatu yang hanya khusus bagi Allah maka Allah Ta’ala sangat murka, kecuali jika sombong terhadap manusia yang sombong. Maka tawadldlu’ terhadap orang yang sombong itu tidaklah diperbolehkan.

Al-Munawi berkata dari yang lain ketika seseorang membuatmu marah tanpa sebab maka jangan mengawali untuk berdamai, karena engkau menghinakan diri pada bukan tempatnya, engkau mengagungkan dengan tanpa haq, dan karena itu dikatakan terlalu berlebihan dalam tawadldlu’ menyebabkan orang terhina. dan berlebihan dalam.

Dan berlebihan dalam bersikap ramah itu menyebabkan tercela/terhina. Ketika seorang hamba sudah ditentukan ditempat di suatu medan peperangan, maka yang lebih utama baginya adalah menampakkan mulyanya, perkasanya dan agungnya keimanan untyk kemulyaan dan keagungan orang mu’min, dan menampakkan dalam diri orang yang beriman dari harga diri dan keperkasaan terhadap hal yang berseberangan dengan sikap rendah diri dan menghinakan diri. maka yang lebih utama menampakkan sesuatu yang menuntut/menunjukkan terhadap medan peperangan, maka ini termasuk menampakkan kemulyaan iman dengan kemulyaan orang yang beriman. Karena sesungguhnya telah datang perkataan yang menjelaskan bahwa bersikap sombong terhadap orang yang sombong adalah shodaqoh. Karena ketika engkau merendah diri kepada orang yang sombong maka dia akan terus menerus dalam kesesatan, dan ketika engkau bersikap sombong terhadap orang yang sombong maka dia akan tergerak dan mengerti (menyadari).

Dan dari sini Imam Asy-Syafii berkata : bersombong terhadap orang yang sombong dengan dua kali. Az-Zuhriy berkata : bersikap perkasa terhadap anak-anak dunia (kiasan terhadap orang yang cinta dan mementingkan dunia) itu lebih terpercayanya sisi islam. Dari Abu Hanifah rohimahullohu ta’ala paling dholimnya orang yang dholim adalah orang yang tawadldlu’ terhadap orang yang tidak menoleh / memperhatikan padanya. Dan dikatakan : terkadang sikap sombong itu untuk memperingatkan/menyadarkan orang yang sombong bukan karena mengangkat diri sendiri, maka sikap sombong itu terpuji seperti sombong terhadap orang-orang yang bodoh dan orang-orang kaya. Yahya bin Mu’adz berkata : Bersikap sombong terhadap orang yang dengan hartanya bersikap sombong terhadapmu itu merupakan tawadldlu’.

Wallohu a’lam.

MENJAGA KEKHUSYUAN SHOLAT DAN CARA SUJUD YANG BENAR

Bacaan untuk Menjaga Kekhusyuan Shalat

Khusyu’, tawadhu’ dan penuh konsentrasi memang bukan termasuk rukun dan syarat sahnya shalat. Akan tetapi masuk dalam tata krama (adab) shalat. Khusyu’ dan konsentrasi bersifat batiniah hanya diri orang yang shalat yang mengerti. Bisa saja seorang yang terlihat anteng dalam shalat tetapi pikiran dan angan-angannya melayang hingga kemana-mana. Bila diperhatikan, biasanya khusyu’ dan konsentrasi bisa lepas begitu saja ketika dalam shalatnya seseorang hanya diam saja. Yaitu ketika banyak tersedia waktu luang. Terutama bila menjadi ma’mum dan menunggu imam menyelesaikan bacaan fatihahnya. Seperti ketika rakaa’t ke dua atau keempat ketika shalat Magrib dan Isya’. Atau dalam shalat-shalat sirriyah. Yaitu sholat yang tidak bersuara seperti Dhuhur dan Ashar. Seringkali selepas ma’mum membaca fatihah, imam belum usai dengan bacaannya. Maka hal ini mengundang berbagai pikiran dan angan-angan masuk dalam shalat, mulai dari pekerjaan hingga makanan

Oleh karena itulah ada baiknya bagi ma’mum sembari menunggu imam melakukan gerakan selanjunya berdzikir dalam hati atau membaca ayat Al-Qur’an. Hal ini disunnahkan dan tidak merusak sahnya shalat bahkan dapat membantu ma’mum untuk tetap dalam jalur konsentrasi.

Begitulah keterangan yang terdapat dalam al-Fatawi  ­al-Fiqhiyyah al-Kubra.

بأن المأموم اذا فرغ من فاتحته ولم يسمع قراءة الإمام كأن بعد عنه أو سمع صوتا لايفهمه أو كان فى سرية وفى الثالثة  أوفى الرابعة من الرباعية سن له أن يقراء أو يدعووالقراءة أولى لان القيام محلها ولايسكت لأن الصلاة لاسكوت فيها الا فى مواضع ليست هذه منها… 

Ketika ma’mum selesai dengan bacaan Fatihahnya dan tidak mendengarkan apapun dari imam (baik karena terlalu jauh dari imam atau karena bisingnya suara lain) seperti ketika shalat sirriyah (Dhuhur dan Ashar) atau ketika rekaat ketiga dan keempat, maka disunnahkan bagi ma’mum membaca ayat Al-Qur’an (dalam hati) atau berdo’a. Tetapi membaca ayat Al-Qur’an lebih utama. Dan janganlah diam saja dalam shalat karena shalat (sebagaimana dialog dengan Tuhan) harus terus dinamis. Kecuali beberapa tempat yang mengharuskan diam.

 

Cara Sujud yang Benar

Para ulama fiqih mendifinisikan shalat sebagai tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan itu selanjutnya dinamakan rukun dan pemenuhannya menjadi satu keharusan. Berarti, bila tidak dikerjakan mengakibatkan shalatnya batal. Atau disebut sunnah jika berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurnaan saja. Sehingga, kalau ditinggalkan, tidak sampai berakibat membatalkan shalat.

Rukun shalat secara keseluruhan ada tujuh belas, yang merupakan satu kesatuan utuh, sehingga pelaksanaannya harus berkesinambungan. Akibatnya, bila ada salah satu saja dari rukun itu ditinggalkan atau dilaksanakan secara terpisah, seseorang belum dianggap melaksanakan shalat. Dalam bahasa ahli ushul fikih, belum bebas dari uhdatul wujub, atau belum bisa menggugurkan at-ta’abbud.

Setiap rukun mempunyai aturan dan cara-cara tertentu. Mulai dari cara membaca Fatihah, ruku’, sujud, I’tidal dan seterusnya semua itu berdasar pada cara shalat Rasulullah saw semasa hidup. Sebagaimana perintah beliau dalam sebuah hadits:

صلوا كما رأيتموني أصلي -رواه البخاري

Artinya: shalatlah kamu seperti yang kamu lihat saat aku mengerjakannya (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Cara dan aturan-aturan tersebut telah diterangkan oleh ulama dengan panjang lebar, melalui proses ijtihad secara serius, dalam karya mereka berupa kitab-kitab fiqih.

Dalam berijtihad mereka senantiasa berpedoman pada Al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas serta metode-metode istinbath yang lain. Karena itu dengan berpedoman pada kitab-kitab fiqih, bukan berarti kita tidak atau kurang mengamalkan Al-Qur’an dan hadits seperti anggapan minor sebagian kalangan tertentu.

Dengan demikian shalat yang dipraktikkan umat Islam, secara umum sama, karena berangkat dari sumber yang sama pula. Semua berdiri, membaca Fatihah, ruku’ dan sebagainya. Tapi di balik kesamaan-kesamaan tersebut, ada perbedaan-perbedaan kecil yang tidak begitu prinsip . Jangan sampai terjadi, perbedaan kecil itu merusak ukhuwah islamiyah di kalangan muslimin.

Misalnya dalam hal sujud, para ulama sendiri terbagi dalam dua kelompok, antara yang mendahulukan tangan dan yang mengakhirkannya setelah meletakkan lutut. Keduanya memiliki dasar masing-masing. Kalau ditelusuri perbedaan pendapat tersebut berpangkal pada dua hadits yang termaktub dalam Bulughul Maram, karangan Ibnu Hajar al-Asqalani.Hadits pertama riwayat dari sahabat Abu Hurairah ra yang menyatakan bahwasannya Rasulullah saw bersabda;

إذا سجد أحدكم فلايبرك كمايبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه – رواه أبوداود والترمذي والنسائي

Artinya: jika salah satu dari kalian bersujud, janganlah menderum seperti unta menderum, letakkanlah kedua tangan sebelum lutut. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Dalam hadits tersebut jelas kita diperintahkan untuk mendahulukan tangan. Sebuah pengertian yang berlawanan dengan hadits kedua riwayat sahabat Wail bin Hajar ra yang mengatakan:

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه ركبتيه -رواه أبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Artinya: saya melihat Rasulullah saw ketika sujud meletakkan (menjatuhkan) lutut sebelum tangannya. (HR. abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah)

Ketika ada dua hadits yang tampak bertentangan seperti itu, para ulama akan memilih mana yang lebih kuat; yang sahih didahulukan dari pada yang dhaif. Kalau kedudukannya sama, sebisa mungkin dikompromikan agar sejalan dan tidak saling bertentangan . Jika langkah  tersebut tidak mungkin dicapai, hadist yang terdahulu dirombak (dinasikh) oleh yang terakhir. Dengan catatan sejarah keduanya diketahui. Bila waktunya tidak jelas, sikap yang mereka ambil adalah al-waaf. Maksudnya kedua hadits tersebut tidak diamalkan, lalu beralih pada dalil lain. Solusi seperti itu diketemukan dalam kitab-kitab ushul fikih, seperti Tashit Thuraqat, Irsayadul Fukhul dan al-Luma’.Yang menjadi permasalahan adalah para ulama sering berbeda menilai sebuah hadits. hadits yang dianggap sahih oleh seorang ahli (muhadditsun) tertentu, pada saat yang sama kadang diklaim tidak sahih oleh ulama lain. Pada gilirannya, mereka cenderung berpendapat sesuai dengan hasil ijtihad masing-masing.

Pada kasus sujud Imam Malik dan Imam Auzai memilih hadits yang pertama. Sedangkan mazhab Syafi’I dan Hanafi cenderung mengamalkan hadits kedua. Dalam kaitan itulah mengapa khilaf tidak terelakkan. Apalagi jika hadits hanya diketahui oleh satu pihak saja. Namun yang pasti, ulama terdahulu telah berupaya semaksimal mungkin mendekati setiap kebenaran. Yang benar memperolehl dua pahala yang salah memperoleh satu pahala. Dengan syarat mereka benar-benar mempunyai kompetensi untuk berijtihad. Dalam arti, melengkapi diri dengan berbagai disiplin keilmuan yang diperlukan untuk tugas mulia yang sangat berat itu. Sekarang kita tinggal pilih sesuai dengan kemantapan dan keyakinan masing-masing. Kalangan pesantren yang akrab dengan kitab-kitab Imam syafi’I dalam hal sujud mungkin mendahulukan lutut. Tetapi kalangan yang lain bisa saja mendahulukan tangan. 

BERUSAHA BERTAUBAT DALAM MENGAMALKAN THARIQAH MU’TABARAH

Taubat

  1. Pengertian

Bagi seseorang pengamal tasawuf/tarikat, taubat adalah dasar utama untuk membersihkan diri dari dosa lahir maupun batin. Taubat sama dengan fondamen untuk suatu bangunan dan sama dengan akar bagi suatu pohon. Karena itu taubat harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya yaitu taubatan nashuha, yakni seseorang bertaubat lahir bathin dan ber’azam (bertekad bulat) untuk tidak melakukan dosa lagi.

Orang yang tidak bertaubat dengan taubat nashuha, adalah sulit baginya untuk meningkatkan kualitas Iman dan Takwa atau untuk meningkatkan kebersihan rohaniahnya pada tingkat- tingkat atau makam-makam dalam pengamalan tasawuf dan tarikat selanjutnya. Karena itu dikatakan bahwa orang yang tidak bertaubat, maka tidak ada makam baginya, sebagaimana halnya orang yang tidak punya tanah, tentunya tidak bisa membuat pondasi dan tidak bisa membangun.

Hakikat taubat ialah kembali dari sifat-sifat tercela kepada sifat-sifat terpuji. Yang demikian ini karena takut ancaman azab Allah SWT, atau malu dilihat Allah atau menghormati kebesaran Allah SWT, supaya tidak terjerumus ke dalam murka Allah SWT, seraya mengharapkan keselamatan dengan dekat kepada Allah, sehingga mendapatkan rahmat dan ridlo-Nya.

Seorang sufi terkenal yaitu Ibrahim bin Adham mengatakan hati seseorang mukmin itu laksana cermin. Kalau cermin itu bersih, maka dia akan melihat dan menerima cahaya ke-Tuhanan yang memancarkan Iman dan Takwa. Hati yang bersih itu juga melihat bahaya-bahaya perbuatan mungkar, termasuk juga mengetahui bahaya-bahaya yang dibisikkan oleh syetan. Kalau seseorang berbuat dosa, maka pada cermin hati itu tertutup oleh suatu bintik hitam, dan bintik hitam ini akan hilang dengan sendirinya manakala seseorang itu taubat. Manakala seseorang itu tidak taubat dan mengulangi perbuatan maksiat terus menerus, maka tertutuplah seluruh hati itu dengan bintik-bintik hitam, dan pada saat itu hati tersebut tidak sanggup lagi menerima nasehat kebaikan, bahkan menjadi butalah hatinya untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan agama, dan menganggap enteng seluruh urusan akhirat. Orang tersebut bergelimang selalu dengan kebesaran dan kemegahan dunia. Apabila dibicarakan kepadanya masalah agama dan akhirat dengan segala akibatnya, semuanya itu masuk dari telinga kanan dan keluar ke telinga kiri, serta tidak sedikitpun tergerak dalam hatinya untuk bertaubat. Kondisi yang demikian ini sama dengan seorang sakit parah, tidak bermanfaat lagi makanan baginya, sebagaimana halnya hati yang telah berkecimpung dengan cinta dalam kemegahan dunia dan tidak bermanfaat lagi baginya semua nasehat dan peringatan. Maka menjadilah dia seperti yang dikisahkan dalam Al Quran surat Al Mumtahanah 60 : 13,

Artinya : Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap hari akhirat, sebagaimana orang- orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.

Atau seperti dalam firman Allah SWT,

Artinya : Pada hari datangnya beberapa ayat Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah,”Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu pula” (Q.S. Al An’am 6 : 158).

  1. Kapan Taubat Itu Dilaksanakan

Taubat seseorang itu diterima oleh Allah SWT sebelum ajal (sakaratul maut) tiba. Karena salah satu syarat taubat itu ialah tekad bulat seseorang untuk meninggalkan maksiat dan tidak akan mengulanginya lagi untuk selama-lamanya. Bagi seorang yang sudah sekarat, tidak mungkin persyaratan ini terpenuhi. Seorang yang berbuat maksiat, yang maksiat itu menutup mata hati dan merusak iman, harus segera taubat. Mengulur-ngulurkan taubat, berarti memperbesar penutup mata hati, yang kalau berlarut-larut akan lebih sulit lagi untuk membersihkannya.

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan tiadalah taubat itu diterima oleh Allah SWT dari orang-orang yang mengajarkan kejahatan, yang apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka barulah ia mengatakan,”Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” (Q.S. An Nisa 4 : 18).

Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya taubat disisi Allah SWT hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (tidak tahu) kemudian mereka bertaubat dengan segera (Q.S. An Nisa 4 : 17).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya kebanyakan teriakan penghuni neraka itu adalah dari penundaan- penundaan. (H.R. )

Rasulullah SAW bersabda,

Artinya : Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejahatan itu. (H.R. )

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu membersihkan kejahatan-kejahatan sebagaimana air membersihkan kotoran (H.R. Abu Na’im).

Orang yang bertaubat itu dikasihi dan disukai Allah SWT.

Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang- orang yang mensucikan diri (Q.S.Al Baqarah 2 : 222).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Orang yang bertaubat itu kekasih Allah SWT dan orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa (H.R. Ibnu Majah dari hadis Ibnu Mas’ud).

Syarat orang bertaubat untuk menjadi kekasih Allah SWT manakala terpenuhi ketentuan. Seperti dalam firman Allah SWT,

Artinya : Mereka adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan untuk memelihara hukum-hukum Allah SWT (Q.S. At Taubah 9 : 112).

Sebaliknya orang yang bertaubat tapi masih bergelimang dengan maksiat, samalah dengan orang itu mempermainkan ayat-ayat Allah.

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan adapula orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka tetapi mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. (Q.S. At Taubah 9 : 102).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Orang yang memohon ampun dari dosa, sedangkan dia masih terus menerus mengerjakannya adalah seperti orang yang mengejek ayat-ayat Allah (H.R. Ibnu Abid Dunya dari hadis Ibnu Abbas).

  1. Dasar Hukum

Hukum taubat itu wajib berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (Q.S. An Nuur 24 : 31).

Firman Allah SWT,

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat nashuha (Q.S. At Tahrim 66 : 8).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk jasmani kamu dan tidak pula kepada harta kamu, tetapi Allah melihat kepada hati kamu (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat dari kejahatan di siang hari dan membuka tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat kejahatan di malam hari sampai matahari terbit dari sebelah barat (H.R. Muslim dan An Nasai).

Dari penjelasan ayat dan hadis tersebut, maka para ulama muhaqqiqin mengatakan bahwa bertobat itu hukumnya wajib. Allah akan menerima taubat seseorang dan karenanya seseorang itu tidak boleh berputus asa, sebab Allah itu Maha Penerima Taubat.

Firman Allah SWT,

Artinya : Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang mengerjakan sesuatu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa, sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Q.S. Az Zumar 39 : 53).

  1. Syarat-syarat Taubat

Syarat taubat itu adalah :

  1. mohon ampun atau bertaubat dan menyesali perbuatan-perbuatan dosa yang telah lalu.
  2. ber’azam atau bertekad bulat untuk tidak mengulanginya lagi selama-lamanya.
  3. mengembalikan hak-hak orang yang teraniaya kepada yang berhak menerimanya.

Bila perbuatan itu berkenaan dengan orang, hendaklah dia mendatangi orang itu, berbuat baik kepada mereka dan menghilangkan dendam kesumat kepada mereka.

Sewajarnyalah orang yang telah bertaubat berlatih untuk menjadi orang taat, sehingga dia merasakan manisnya taat lebih dari manisnya maksiat. Seseorang itu memulai dengan pencaharian yang halal, bekerja dengan tuntunan hukum syariat Allah SWT sehingga tidak ada terkesan lagi bahwa dia adalah sebagai orang yang jahat atau ‘ashi, tapi terkesan sebagai orang yang shaleh. Allah mewahyukan kepada Nabi Daud a.s.,

Artinya : “Wahai Daud, pengaduan orang yang berdosa lalu dia bertaubat dengan taubat nashuha lebih Aku sukai dari teriakan orang yang beribadat”. (Amin Kurdi 1994 :376)

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Ada dua titik yang sangat disukai oleh Allah SWT, yaitu titik air mata dari tangisnya orang yang takut kepada Allah dan titik darah yang tertumpah dalam perang sabilillah (H.R. Tarmizi).

  1. Tanda-tanda Diterimanya Taubat

Ada 8 macam tanda-tanda diterimanya taubat :

  1. Seseorang itu takut dalam urusan lidahnya supaya jangan berbicara tentang hal-hal yang tidak baik, apalagi yang mendatangkan dosa yang dilarang dalam agama. Umpamanya : berdusta, menggunjing, dan perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat. Lidahnya ingin disibukkan dengan zikrullah dan membaca Al Quran.
  2. Seseorang itu takut dalam urusan perutnya jangan termakan sesuatu yang haram dan karenanya dia tidak memasukkan kedalam perutnya itu kecuali yang halal.
  3. Seseorang itu takut dalam urusan penglihatannya, jangan terlihat yang haram. Dan kalaupun dia memandang masalah dunia, pandangannya itu adalah pandangan yang memberi ibarat atau iktibar.
  4. Seseorang itu takut dalam urusan tangannya, janganlah terambil sesuatu yang haram. Dan kalaupun tangannya mengambil, tentunya sesuatu yang diambil itu membawa kepada taat.
  5. Seseorang itu takut dalam urusan kakinya, jangan berjalan kepada tempat maksiat. Dan kalaupun kakiknya berjalan tentu menuju taat kepada Allah SWT.
  6. Seseorang itu takut dalam urusan hatinya, jangan terpetik urusan permusuhan, benci dan dengki, dan hendaklah hatinya itu penuh dengan nasehat dan memberi syafa’at kepada sesama muslim.
  7. Seseorang itu takut dalam urusan pendengarannya, supaya tidak mendengar sesuatu, kecuali sesuatu itu adalah yang hak.
  8. Seseorang itu takut dalam urusan taatnya kepada Allah, jangan sedikitpun terpetik ria, pamer dan nifaq (munafiq), kecuali taat itu hanya semata-mata ikhlas karena Allah SWT (Amin Al Kurdi 1994 : 377 – 378).

Itulah tanda-tanda taubat yang tuntas dari seseorang yang diterima oleh Allah SWT.

Dalam pengamalan Tarikat Naqsyabandiyah dianjurkan pengamalnya melaksanakan mandi taubat, dan melaksanakan shalat sunat wudhu dua rakaat setiap sesudah berwudhu, dilanjutkan dengan shalat sunat taubat dua rakaat pula.

Sabda Rasulullah SAW :

Artinya : Dari Qais bin Ashim, ketika dia masuk Islam, Rasulullah menyuruhnya mandi dengan air dan daun bidara. (Q.R. Ahmad, Abu Daud, Tarmizi dan Nasai).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Siapa yang berwudhu dengan cara sebaik-baiknya, kemudiam dia shalat sunat wudhu dua raka’at dengan khusuk, maka Allah akan mengampuni segala dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari Muslim).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Tidak ada seorang hambapun yang telah melakukan dosa, kemudian dia bangun dan berwudhu lalu shalat sunat taubat dua rakaat seraya memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosanya. (H.R. Abu Daud dan At Tarmizi).

Begitu pentingnya masalah melaksanakan taubat, yang setelah itu harus ditindaklanjuti lagi dengan akmalush-shalihat, maka tentu saja tanda-tanda yang tuntas tersebut di atas adalah bagi orang-orang khusus yang berkualitas siddiqin dan wali-wali Allah SWT. Bagi kita yang berkualitas umum dan sebagai murid pengamal tarikat, harus mujahadah, bersungguh-sungguh dan terus menerus agar kualitas itu meningkat dan akhirnya menjadi tuntas. Kita tidak boleh berputus asa, oleh sebab makam yang masih rendah, dan kalau Nur Ilahi telah menyinari hati sanubari, maka zulmah atau kegelapan akan menjadi hilang dan sirna, sebagaimana halnya sinar matahari melenyapkan awan yang menggelapkan dunia.

INILAH LIDAH ORANG YANG BERIMAN MENURUT IMAM GHOZALI RAHIMAHULLAH

Lidah Orang Beriman

Imam Al-Gazali dalam Afatul Lisan karyanya, menjelaskan: “Berkata keji, mencaci maki, dan mengumbar lidah untuk berkata kotor adalah perbuatan buruk dan jelas dilarang oleh Agama.”

“Orang yang beriman bukanlah orang yang gemar mencela, suka mengutuk, berkata keji, dan berlidah kotor.”

“Lidah yang ringan mengucapkan kata-kata kotor dan mengatakan hal-hal yang tidak patut merupakan bagian dari ciri kemunafikan.”

“Ada banyak hal yang mendorong seseorang mudah berkata keji dan mencaci maki, diantaranya adalah bertujuan menyakiti orang lain, atau karena telah menjadi watak dan kebiasaannya karena sering bergaul dengan orang-orang yang juga gemar mencaci maki.”

“Suatu ketika ada seseorang meminta nasehat kepada Nabi saw, kemudian Rasulullah menasehatinya, “Bertakwalah kepada Allah. Jika ada orang mencela dan memakimu dengan sesuatu yang kamu ketahui ada pada dirimu, janganlah kamu membalas dengan menyebut sesuatu yang kamu ketahui ada padanya. Dengan begitu bahaya celaan dan makian itu akan menimpanya, sedangkan pahalanya adalah bagimu. Ingat, jangan mencaci maki sedikitpun.”

“Rasulullah bahkan melarang mencaci orang yang tidak seiman bahkan setelah mereka meninggal. Rasulullah bersabda, “Kalian jangan mencaci maki mereka (yang telah meninggal), karena apa yang kalian ucapkan tidak akan mengubah keadaan mereka, sedangkan perkataanmu sudah pasti menyakiti mereka (yang masih hidup). Ketahuilah, lidah yang kotor itu tercela.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Kemudian, sambil memantapkan niat ‘yang diformalisasi’ itu dalam hati, kita mengangkat tangan sambil mengucap kalimat takbir: Allahu Akbar (Allah Maha Lebih Besar). Secara fikh, hukum mengangkat tangan saat takbiratul ihram adalah sunat, tetapi takbirotul ihramnya sendiri rukun. Alhasil: takbiratul ihram kita tidak akan sah tanpa menggunakan kalimat ‘Allahu Akbar’.

Kalau merujuk pada Syeikh Nawawi dalam Safinah, kita bisa menambahkan sifat Allah yang lain saat takbiratul ihram sepanjang :

(1) tidak menghilangkan sifat akbar.

(2) tidak menjeda terlalu jauh antara asma Allah dan sifat akbar.

Jika jedanya terlalu panjang dan/atau bahkan ada pembacaan yang keliru baik pada asma Allah maupun lafaz akbar, maka takbirnya dianggap tidak sah, alhasil shalatnya juga tidak sah.

Pertanyaannya kemudian: kira-kira kenapa ya, Allah memilih kata ‘akbar’ untuk beliau sandingkan dengan asma-Nya di takbiratul ihram? Padahal, Allah memiliki tak-hingga sifat yang juga, katakanlah, ‘tidak kalah penting’ dibandingkan dengan sifat ‘akbar’? Kenapa tidak Allahu Rahman, Allahu Rahim biar selaras dengan basmalah? Biar selaras dengan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamiin?

Bahkan kalau kita tarik lebih jauh: frasa Allahu Akbar malah adalah frasa yang paling banyak diucapkan oleh muazin saat memanggil kita salat. Ada apa dengan kalimat takbir dan salat?

Di tulisan awal, sudah di tawarkan analogi shalat sebagai sebuah pertemuan, persitatapan, suatu kencan dengan Maha Kekasih. Ada tujuan besar dari pertemuan itu, terkait dengan kedirian kita sebagai hamba-Nya, dan untuk itu Allah mengingatkan kita untuk memetakan kembali alasan dan tujuan segala aktivitas kita. Proses penyadaran itu kemudian dibarengi oleh perintah untuk mengingat kembali siapa diri kita di hadapan-Nya.

Barangkali oleh sebab Allah Maha Tahu kita ini gampang sekali merasa besar, merasa hebat, merasa pintar, hanya karena kita diberi potensi untuk menyadari ‘keberadaan’-nya di antara alam semesta. Apalagi kita sudah disanjung sebagai makhluk sempurna. Kita diuji dengan tarik-menarik akal dan hawa nafsu. Kita dipilih menjadi wakil-Nya di muka Bumi.

Kita tahu bahwa kita ini bahkan lebih kecil dari zarrah di hadapan semesta raya tetapi kemampuan kita mempelajari sang alam membuat kita merasa mampu menaklukkannya. Sedangkan goals dari shalat adalah, selain kecintaan yang bertambah dan ketenangan yang menentramkan dalam hati, juga ketakwaan yang membuat kita bisa mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Alhasil, agar goals itu tercapai dan proses upgrading akhlaknya berhasil, mula-mula Allah perlu mengingatkan kita, secara rutin dan sistematis, bahwa sebesar apapun engkau berbesar kepala, sesungguhnya Beliau Maha Lebih dan Lebih Besar Lagi. Tidak peduli apakah engkau merasa mampu membelah matahari dan menyeberangi samudera, merekayasa genetika dan menghancurkan planet sekali tembak, seungguhnya “Aku Maha Lebih dan Lebih Besar Lagi”, lalu apa yang sesungguhnya engkau banggakan, engkau sombongkan?

Semangat itupulalah yang mesti kita implementasikan saat meng-akbar-kan Allah di luar shalat, saat bertakbir selepas selesai bersitatap dengan-Nya. Sayangnya, sebagaimana digelisahkan oleh Gus Mus, dalam bertakbir kita ini jangankan merasa nihil, yang ada malah meng-akbar-kan ego dan hawa nafsu kita, dengan mempergunakan takbir-nya Allah sebagai alat.

WALLOHU A’LAM BIS SHOWAB

TASAWUF : OPTIMISME TERHADAP KENYATAAN HIDUP DAN USAHA BUKANLAH SEGALANYA

 Optimisme Terhadap Kenyataan Hidup

La yusyakkikannaka fi al-wa’di ‘adam wuqu’ al-mau’ud, wa-in ta’ayyana zamanuhu, li-alla yakuna dzalika qadhan fi bashiratika, wa ikhmadan li-nuri sariratika.

Janganlah janji Tuhan yang tak terwujud membuatmu meragukan akan janjiNya, meski taruhlah janji itu diberikan waktu yang jelas. Hal itu agar tak merusak kejernihan batinmu, dan memadamkan cahaya rohmu.

Pengertian Umum

Pada bagian terdahulu kita berbicara mengenai doa yang tampak tak pernah atau lama tak terkabulkan. Keadaan itu bisa membuat seorang beriman merasa putus asa, terdampar secara mental.

Intinya, sekali lagi, kita diajak oleh Ibnu Ataillah untuk membiasakan diri melihat hidup secara optimis, walau ia berjalan tak sesuai dengan “kehendak kecil” kita sebagai manusia.

Manakala Tuhan menjanjikan sesuatu, misalnya melalui Kitab Suci atau perantaraan yang lain, dan janji itu ternyata tak terpenuhi, bagaimana sikap kita? Apakah kita harus mengatakan bahwa Tuhan ingkar janji? Haruskah kita marah, kecewa, dan bahkan mencerca Tuhan? Atau, jika Anda seorang ateis atau agnostik: Haruskah Anda mencela kenyataan dan meneriakkan kekecewaan, “Dunia tak adil!”?

Dalam Alquran, Tuhan menjanjikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebaikan di bumi. Ini bisa dibaca di QS 24: 55.

Kenapa, mungkin kita sebagai umat Islam bertanya, kita sekarang justru terpuruk sebagai umat? Kenapa dunia Islam terbelakang? Manakah janji Tuhan akan memberikan kemenangan kepada umat Islam?

    Janji Tuhan yang tak terwujud, atau belum terwujud, janganlah membuat kita meragukan janji-Nya. Jika Anda telah bekerja sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku, sesuai dengan tip-tip kesuksesan yang diwedarkan oleh para juru motivator, janganlah putus asa terlebih dahulu.

Keputus-asaan semacam itu hanyalah akan membuat mata batin Anda menjadi pudar dan padam. Anda akan kehilangan ketajaman untuk melihat peluang lagi. Anda, dengan sikap yang negatif seperti itu, tak akan memiliki “tenaga psikologis” dan semangat untuk berbuat lagi, mencoba lagi, mengulangi lagi. Barangkali ada hal yang salah dalam proses Anda bekerja sebelumnya.

Jika umat Islam saat ini terdampar di pinggiran sejarah, padahal Tuhan menjanjikan dalam Kitab Suci-Nya bahwa Ia akan menolong mereka, janganlah hal itu membuat mereka patah-harapan, atau meragukan janji Tuhan.

Seorang beriman haruslah memiliki pandangan yang optimis tentang sejarah. Dalam pandangan yang seperti itu, keputus-asaan tak masuk dalam kamus seorang beriman.

Manfaat sikap positif semacam ini, kita tahu, adalah memberikan kita suatu tenaga mental untuk terus mencoba kembali. Janji Tuhan dalam bentuk hukum alam –barangsiapa bekerja keras, ia akan menuai hasil—akan pasti terwujud. Tetapi ia terwujud bukan dalam cara yang kita kehendaki. Kadang-kadang, ia terwujud secara tak terduga-duga, dalam bentuk yang tak pernah muncul dalam rencana awal.

Life is full of surprises. Hidup kerap berisi kejutan-kejutan di tikungan. Dan yakinlah, Anda sering mengalami hal semacam ini dalam hidup. Banyak hal yang kita rencanakan secara matang dari awal, dan kita bekerja keras, seraya berdoa, untuk meraih itu. Tetapi, pada ujungnya, rencana itu tak terwujud. Di tikungan hidup, yang muncul justru hal lain. Hal-hal semacam ini kerap-terjadi dalam hidup manusia. Itu mengkonfirmasi kebijaksanaan Ibnu Ataillah ini.

Pengertian Khusus

Ibnu ‘Ajibah, pengarang syarah al-Hikam, memberikan ajaran yang sangat penting bagi orang-orang yang sedang menjalani “suluk” atau perjalanan spiritual, di bawah bimbingan spiritual seorang guru (mursyid).

Ajaran itu ialah: Fandzur ahsan al-ta’wilat wa-l-tamis ahsan al-makharij. Jika engkau berhadapan dengan sebuah janji Tuhan, entah dikatakan lewat wahyu, ilham para wali, atau jalan-jalan yang lain, lalu janji itu tak segera atau malahan tak terwujud sama sekali, maka carilah “takwil” (pemahaman). Carilah cara bagaimana Anda mengerti kenapa sesuatu terjadi seperti itu, dan tidak dengan cara yang lain.

Selalu Ada jalan untuk mengerti kenapa sesuatu terjadi tidak seperti yang dijanjikan. Carilah jalan untuk mengerti, untuk men-takwil. Itulah ajaran dari pengarang komentar atas Kitab Hikam itu. Dengan pengertian seperti itu, seorang murid tarekat bisa menghindarkan pikiran dan sangkaan buruk mengenai Tuhan atau gurunya.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh dari ajaran Syekh Ibnu Ataillah ini?

    Kita, di sini, diajarkan untuk memahami kenyataan hidup yang tak sesuai dengan “hukum realitas” atau janji Tuhan dengan cara tertentu sehingga kita tak memiliki prasangka buruk. Sebab prasangka buruk hanyalah mendatangkan negative thinking, pikiran yang kotor dan situasi kejiwaan yang tak sehat.

 Usaha Penting, Tetapi Bukan Segala-galanya

Min ‘alamatil i’timad ‘alal ‘amal, nuqshan al-raja’ ‘inda wujudil zalal.

Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan atau terpeleset.

Ini kebijaksanaan yang mendalam. Bisa dipahami dalam pengertian “khusus” menurut para ahli mistik/tasawwuf. Atau dipahami secara awam atau umum.

Pengertian Umum

 Seorang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran bahwa ia bisa mencapai sesuatu bukan semata-mata karena pekerjaannya.

Kita berusaha, lalu berhasil. Kita bekerja, lalu sukses. Kita berdagang, lalu untung. Kita belajar, lalu menjadi orang pintar. Kita pedekate, lalu menjadi pasangan. Dan seterusnya. Semua hasil itu jangan semata-mata kita pandang sebagai melulu berkat usaha dan pekerjaan kita.

Kita harus menyisakan sedikit “ruang” bahwa keberhasilan kita ini jangan-jangan tidak seluruhnya karena faktor usaha kita, tetapi juga karena ada fakor X yang kita tidak tahu. Kehidupan manusia adalah sangat kompleks. Kita tidak bisa mengontrol seluruh faktor yang berpengaruh dalam tindakan sosial kita.

Ada faktor-faktor yang luput dari perhitungan dan kontrol kita. Faktor ini bisa membuat usaha kita sukses, bisa juga membuatnya gagal. Sebagai seorang beriman, kita percaya bahwa hanya Tuhan yang berkuasa atas faktor-faktor “misterius” semacam ini. Kalau Anda ateispun, Anda tetap bisa memahami logic di balik kata-kata bijak Ibnu Ataillah ini.

Manfaat dari sikap semacam ini adalah: Anda tidak langsung pesimis dan putus asa saat gagal mencapai suatu hasil. Jika Anda berpikir bahwa usaha Anda adalah satu-satunya faktor penentu, saat Anda gagal, Anda boleh jadi akan ngenes dan sedih: Saya sudah bekerja keras, kenapa tetap gagal?

Ajaran ini mau memberi tahu kita agar kita rendah hati.

Pengertian Khusus

Ada tiga jenis pekerjaan atau amal: amal syariat, amal thariqat, dan amal haqiqat.

Amal syariat adalah ketika Anda menyembah Tuhan sesuai dengan peraturan dan hukum agama. Amal thariqat adalah kesadaran bahwa saat Anda menyembah Tuhan, Anda tidak sekedar menyembah. Melainkan Anda sedang “on the journey”, sedang dalam petualangan dan perjalanan menuju Tuhan. Amal haqiqat adalah pengalaman spiritual yang disebut dengan “syuhud” atau “vision”.

Apa itu syuhud?

    Syuhud itu pengalaman mistik/spiritual yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang sungguh-sungguh menjalani dua amal sebelumnya. Dalam pengalaman itu, Anda merasa seolah-olah berjumpa, menyaksikan (vision) Tuhan. Tentu bukan penyaksian dengan indera lahir. Melainkan dengan indera batin.

Jangan sekali-kali Anda mengira bahwa amal syariat dan thariqat bisa langsung, secara otomatis, membawa Anda kepada pengalaman haqiqat. Amal syariat dan thariqat adalah jalan atau wasilah menuju ke sana. Anda harus melalui jalan itu. Tetapi Anda sampai ke puncak haqiqat atau tidak, itu bukan sepenuhnya ditentukan oleh usaha kita sendiri, melainkan karena kemurahan (fadl) Tuhan.

Seorang yang bijak pernah berkata: Ketika seseorang telah sampai pada hakikat Islam, dia tak mampu berhenti berusaha/ beramal baik. Ketika seseorang memahami hakikat iman, dia tak akan mampu beramal/bekerja tanpa disertai Tuhan. Ketika seseorang sampai kepada hakikat ihsan (kebaikan), dia tak mampu berpaling kepada selain Tuhan.

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kebijaksanaan Ibnu Athaillah ini?

 

Pertama, kita diajarkan agar tidak merasa paling alim sendiri, saleh sendiri, Islami sendiri, karena amalan kita. Sombong dan tinggi hati bukanlah perangai orang beriman.

Kedua, kita juga diajarkan untuk rendah hati, jangan merasa sok bahwa usaha kita menentukan segala-galanya. Sebab perasaan sombong semacam itulah yang akan menjerembabkan kita kepada perasaan mudah putus asa, patah hati, pesimis.

Orang beriman harus optimis terus, tak peduli keadaan apapun yang sedang mengerubuti kita!

Apa yang bisa kita petik dari uraian di atas?

  1. Banyak hal dan variabel dalam hidup ini yang di luar kontrol kita. Kita punya pilihan bebas untuk melakukan sesuatu, tetapi ada hal-hal di luar sana yang mempengaruhi pekerjaan dan pilihan kita, tetapi tak bisa kita kendalikan. Hanya Tuhanlah yang bisa mengendalikan itu semua. Karena itu, kita perlu mempunyai sikap “berserah diri” kepada Tuhan.
  2. Jangan menganggap bahwa pekerjaan dan amal kita menentukan segala-galanya. Ibadah kita sekalipun tak menjamin keselamatan kita, menjamin kita masuk sorga. Hanya kemurahan Tuhan lah yang akan menjamin.
  3. Ajaran Ibnu Ataillah yang pertama ini hendak mengajari kita “the ethics of humility”, etika rendah hati. Seorang beriman tak boleh menyombongkan amalnya, pekerjaan baiknya. Seorang beriman harus rendah hati. Kerendah-hatian inilah yang membuat kita sehat secara mental.

Wallohu a’lam bis showab

PENTINGNYA ILMU DAN PANCARAN SINAR TAWADLU….

قَالَ علي بن أبي طالب :

لَيْسَ الْجَـمَـالُ بِـأَثْوَابٍ تُزَيِّنُهَا *** إِنَّ الْجَمَـالَ جَمَـالُ الْعَقْلِ وَالأَدَبِ

Sayyidina ALI BIN ABI THOLIB berkata:

Tidaklah cantik atau tampan seseorang karena memakai HIASAN

Tapi sejatinya kecantikan atau ketampanan sebab ilmu dan KESOPANAN

وقال الحسن : لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم ، تعلموا العلم فإن تعلمه خشية ، وطلبه عبادة ، ومدارسته تسبيح، والبحث عنه جهاد ،وتعليمه من لا يعلمه صدقة، وبذله لأهله قربة ، وهو الأنيس في الوحدة ، والصاحب في الخلوة ، والدليل على الدين والصبر… على الضراء والسراء والقريب عند الغرباء ، ومنار سبيل الجنة ،

IMAM HASAN BASYRI berkata :

Andai tiada orang yang mengerti ilmu manusia tak ubahnya binatang,

Pelajarilah ILMU karena ;

Mempelajarinya berarti punya rasa takut pada Allah

Mencarinya bernilai ibadah

Mengulanginya berpahala tasbih pada Allah

Membahasnya berarti JIHAD kejalan Allah

Mengajarkannya pada yang belum tahu bernilai sodaqah

Menyerahkannya pada yang berhak bentuk pendekatan diri pada Allah

ILMU adalah penghibur kala kesendirian melanda

Petunjuk bagi kesempurnaan agama

Kesabaran di kala lara dan papa

Teman dekat kala tersesat

Rambu-rambu kejalan SURGA.

وقال الإمام الغزالي رحمه الله في الإحياء : ” إن الخاصية التي يتميز بها الناس عن سائر البهائم هو العلم فالإنسان إنسان بما هو شريف لأجله وليس ذلك بقوة شخصه فإن الجمل أقوى منه ولا بعظمه فإن الفيل أعظم منه ولا بشجاعته فإن السبع أشجع منه ولا بأكله فإن الثور أوسع بطنا منه ولا ليجامع فإن أخس العصافير أقوى على السفاد منه بل لم يخلق إلا للعلم

Berkata Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid Al-Ghozali :

Sesungguhnya keistimewaan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah ILMU, manusia dikatakan makhluk mulia hanya karena ilmunya

Bukan karena kekutannya, sebab bukankah unta lebih kuat ketimbang manusia ?

Bukan karena kebesarannya, sebab bukankah gajah lebih besar ketimbang manusia ?

Bukan karena keberaniannya, sebab bukankah binatang buas lebih berani ketimbang manusia ?

Bukan karena kemampuan makannya, sebab bukankah sapi jantan lebih besar perutnya ketimbang manusia ?

Bukan karena kuat setubuhnya, sebab bukankah paling hinanya burung pipit lebih kuat setubuhnya ketimbang manusia ?

Manusia tiada tercipta kecuali untuk ilmu…. Ilmu dan ilmu……..

Ihyaa ‘Uluumiddiin I/7

Karenanya tidak berlebihan bila Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ

Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga (HR Muslim XXXVIII/2699)

Imam Atthoiby dalam kKitab Faidh AlQoodir mengartikan hadits diatas :

والمعنى سهل الله له بسبب العلم طريقا من طرق الجنة وذلك لأن العلم إنما يحصل بتعب ونصب وأفضل الأعمال أحزمها فمن تحمل المشقة في طلبه سهلت له سبل الجنة سيما إن حصل المطلوب

“Sebab ilmu Allah memudahkan seseorang salah satu jalan yang menuju surga, hal ini karena ilmu dihasilkan seseorang dengan jerih payah sedang paling utamanya amal ibadah mengukur kadar upaya seseorang dalam mengikat keletihan, barangsiapa mau menanggung kesusahan dalam mencari ilmu maka Allah mudahkan jalannya kesurga terlebih bila ilmu tersebut juga tercapai”

Faidh AlQadir VI/199

Pancaran Sinar Tawadhu’

Pancaran sinar Tawadhu’ yang mengguncang hati dari para pecinta sang Nabi Saw, samudera kesempurnaan akhlak.

Nabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang merasa rendah hati maka Allah akan mengangkat derajatnya dan barangsiapa yang merasa sombong, maka Allah akan merendahkannya “.

♦ Ali bin Abi Tholib Ra berkata “ Barangsiapa yang ingin melihat ahli neraka, maka lihatlah kepada seseorang yang duduk sedangkan di hadapannya ada kaum yang berdiri “.

♦ Suatu kaum berjalan di belakang Hasan Al-Bashri Rh maka beliau malarang mereka dan berkata “ Ini tidak sepatutnya ada di hati seorang mukmin “.

♦ Ibnu Wahab Rh berkata “ Suatu hari aku duduk di dekat Abdul Aziz Ar-Rawwad lalu lututku menyentuh lututnya, maka aku alihkan lagi lututku dari lututnya, kemudian ia malah menarik bajuku dan mendekatkanku kembali padanya dan berkata “ kenapa anda berbuat padaku seperti perbuatan orang yang sombong, sesungguhnya aku tidak melihatmu lebih buruk dari aku “.

♦ Umar bin Abdul Aziz Ra suatu hari kedatangan tamu, sedangkan beliau sedang menulis dan tiba-tiba lampu obornya hampir padam. Si tamu berkata “ Biarkan aku yang berdiri dan memperbaikinya “. Beliau berkata “ Bukan termasuk sifat dermawan jika ia meminta bantuan kepada tamunya “. Si tamu itu berkata lagi “ Biar aku bangunkan pelayan ?”. Beliau menjawab “ Dia baru saja tidur “. Kemudian beliau berdiri, mengambil lampu obor itu dan mengisinya dengan minyak “. Si tamu berkata padanya “ Engkau melakukan semua ini sendiri wahai Amirul mukminin (pak perisiden)? Beliau menjawab “ Aku berjalan dan aku Umar, aku kembali dan aku tetap Umar, tidak ada yang kurang dariku sedikitpun dan sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah yang merasa rendah hati “.

♦ Syekh Umar  Al-Muhdor bin Abdurrahman as-Segaf : ” Andai aku tahu kalau satu sujudku diterima oleh-Nya, niscaya kujamu seluruh penduduk Tarim, bahkan ternak-ternak mereka sekalian.”

♦ Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aydrus Al-Adny berkata “ Mencium tanganku seperti menampar wajahku dan mencium kakiku seperti mencongkel mataku “.

Beliau juga berkata “ Aduhai andai saja aku tidak dikenal seoranpun dan aku tidak mengenal seorangpun. Andai saja aku tidak lahirkan “. Padahal beliau adalah seorang wali besar yang bertabur karamah.

♦ Sahl At-Tusturi sering berjalan di atas air tanpa sedikitpun kakinya menjadi basah. Seseorang berkata kepada Sahl: “ Orang-orang berkata bahwa engkau dapat berjalan di atas air “.

Beliau menjawab “ Tanyakanlah kepada muadzdzin di masjid ini, ia adalah seorang yang dapat dipercayai”.  Kemudian orang itu mengisahkan : “ Telah kutanyakan kepada si muadzdzin dan ia menjawab “ Aku tak pernah menyaksikan hal itu. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika hendak bersuci Sahl tergelincir ke dalam sumur dan seandainya aku tidak ada di tempat itu niscaya aia telah binasa “. Ketika Abu Ali bin Daqqaq mendengar kisah ini, ia pun barkata “ Sahl mempunyai berbagai karamah tetapi ia ingin menyembunyikan hal itu “

♦ Pada suatu hari pelayan wanita Rabi’ah Al-Adawiyyah hendak memasak sup bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak memasak makanan. Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Si pelayan berkata kepada Rabi’ah “ Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah “.

Tetapi Rabi’ah mencegah “ Telah 40 tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun selain kepada-Nya. Lupakanlah bawang itu “. Segera setelah Rabi’ah berkata demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah terkupas di paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam belangga.

Menyaksikan peristiwa itu Rabi’ah berkata “ Aku takut jika semua ini semacam tipu muslihat (istidraj) “. Rabi’ah tidak mau menyentuh sup bawang tersebut. Hanya roti sajalah yang dimakannya.

♦ Orang-orang bertanya kepada Malik bin Dinar “ Tidakkah engkau keluar bersama kami untuk minta hujan ? “ ia menjawab “ Aku takut akan turun hujan batu karena aku. Kalian sedang menanti hujan air sedangkan aku  merasa khawatir turun hujan batu sebab keluarnya aku bersama kalian “.

♦ Muhammad bin Wasi’ Rh berkata “ Kami telah tenggelam dalam dosa. Seandainya seseorang di antara kalian dapat mencium bau dosa niscaya ia tidak akan mampu duduk bersamaku “.

♦ Utbah Al-Ghulam Rh suatu hari pernah melewati suatu tempat lalu ia bergemetar keras hingga keringatnya bercucuran. Teman-temannya bertanya kepadanya “ Kenapa engkau seperti itu ? Beliau menjawab “ Ini adalah tempat aku pernah bermaksyiat dulu sewaktu aku masih kecil “.

♦ Malik bin Dinar Rh berangkat haji dari Bushro ke Makkah dengan berjalan kaki. Ketika ditanya “ Kenapa engkau tidak menaiki kendaraan ? Beliau menjawab “ Apakah seorang budak yang bersalah dan melarikan diri tidak merasa puas dengan berjalan kaki menuju tuannya untuk meminta maaf ? Demi Allah seandainya aku menuju Makkah dengan melewati bara api, pasti akan aku lakukan dan hal itu belum seberapa “.

♦ Yusuf bin Asbath Rh berkata “ Puncak tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumah dan engkau tidak melihat / berprasangka kepada orang lain kecuali orang itu lebih baik darimu “

Dinukil dari kitab Tanbih Al-Mughtarrin, karya Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni dan kitab Syarh ‘Ainiyyah karya Habib Abdullah Al-Haddad.

HUKUM MENGUPLOAD IBADAH KITA DI MEDIA SOSIAL

Pamer atau menampakkan ibadah pada orang lain melalui Facebook, Twitter, BBM, Instagram, Path atau alat komunikasi lain bagaimana hukumnya? Halal atau haram? Kapan boleh menampakkan amal ibadah di jejaring sosial dan kapan harus merahasiakannya?

MENAMPAKKAN IBADAH DI STATUS MEDSOS, BOLEHKAH?

RINGKASAN JAWABAN

  1. Menampakkan atau memberitahukan amal ibadah sunnah adalah haram kalau dikuatirkan riya. Kecuali bagi orang tertentu yang kuat agamanya yang hatinya tidak terpengaruh dengan hinaan dan pujian dan bertujuan agar kebaikannya diikuti orang lain maka boleh.
  2. Amal ibadah wajib seperti shalat wajib, puasa Ramadan, haji, zakat itu lebih utama ditampakkan supaya ditiru orang dan tidak menimbulkan prasangka buruk (dikira tidak melakukan).

URAIAN JAWABAN

Syaikh Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Qawaid al-Ahkam fi Qawaid Al-Anam hlm. 1/124 menyatakan definisi riya sebagai berikut:

الرياء إظهار عمل العبادة لينال مظهرها عرضا دنيويا إما بجلب نفع دنيوي ، أو لدفع ضرر دنيوي ، أو تعظيم أو إجلال ، فمن اقترن بعبادته شيء من ذلك أبطلها لأنه جعل عبادة الله وطاعته وسيلة إلى نيل أعراض خسيسة دنية ، فاستبدل الذي هو أدنى بالذي هو خير ، فهذا هو الرياء الخالص .

وأما رياء الشرك فهو أن يفعل العبادة لأجل الله ولأجل ما ذكر من أغراض المرائين وهو محبط للعمل أيضا ، قال تعالى : { من عمل عملا أشرك فيه غيري تركته لشريكه وفي رواية : تركته لشريكي }

Artinya: Riya’ adalah menampakkan amal ibadah untuk tujuan kemanfaatan duniawi atau menolak kemudaratan (bahaya) duniawi, atau pengagungan diri. Barangsiapa yang ibadahnya bersamaan dengan salah satunya maka (pahala) ibadahnya batal. Dia telah menjadikan ibadah dan ketaatan pada Allah untuk mencapai tujuan yang rendah. Dia telah menukar yang baik dengan yang rendah. Ini adalah bentuk riya’ yang murni.

Adapun riya syirik adalah melakukan ibadah karena Allah dan karena faktor-faktor yang disebut di atas. Ini juga membatalkan (pahala) amal. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Muslim, Allah berfirman, “Barangsiapa melakukan amalan yang menyekutukan selain aku, maka aku meninggalkan amalan itu untuk sekutuku.”

Selanjutnya, dalam halaman yang sama Izzuddin Ibnu Abdissalam membagi orang yang pamer ibadah (Arab, sum’ah) menjadi dua golongan:

أحدهما تسميع الصادقين وهو أن يعمل الطاعة خالصة لله، ثم يظهرها ويسمع الناس بها ليعظموه ويوقروه وينفعوه ولا يؤذوه. وهذا محرم وقد جاء في الحديث الصحيح: “من سمع سمع الله به. ومن راءى راءى الله به، وهذا تسميع الصادقين”.

الضرب الثاني: تسميع الكاذبين وهو أن يقول صليت ولم يصل، وزكيت ولم يزك، وصمت ولم يصم، وحججت ولم يحج، وغزوت ولم يغز. فهذا أشد ذنبا من الأول لأنه زاد على إثم التسميع إثم الكذب، فأتى بذلك معصيتين قبيحتين، بخلاف الأول فإنه آثم إثم التسميع وحده

وكذلك لو راءى بعبادات ثم سمع موهما لإخلاصها فإنه يأثم بالتسميع والرياء جميعا . وإثم هذا أشد إثما من الكاذب الذي لم يفعل ما سمع به ، لأن هذا أثم بريائه وتسميعه وكذبه ثلاثة آثام

Artinya: Golongan pertama, pamernya orang yang jujur yaitu dia melakukan ketaatan murni karena Allah, lalu memamerkannya pada orang lain supaya mereka memujinya, mengaguminya, mendapat manfaat darinya dan tidak menyakitinya. Ini hukumnya haram berdasarkan hadis sahih, “Siapa yg menampakkan amalannya agar di dengar orang lain, niscaya Allah beberkan aibnya pada hari kiamat,dan siapa yang menamapakkan amalannya agar di lihat (lalu dipuji) orang, niscaya Allah mempermalukannya pada hari kiamat.” Ini sum’ah orang yang jujur.

Golongan kedua, pamernya pembohong. Yaitu ia berkata “aku shalat”, tapi tidak shalat; “Aku zakat”, tapi tidak zakat, “Aku puasa” tapi tidak puasa, “Aku haji” tapi tidak haji, “Aku berperang” tapi tidak berperang. Ini adalah dosa yang lebih parah karena selain pamer juga bohong sehingga dia melakukan dua dosa. Sedangkan yang pertama hanya dosa pamer saja.

Begitu juga apabila seseorang memperlihatkan amal ibadahnya (riya) lalu mengabarkannya pada orang lain (sum’ah) dengan mengira dia ikhlas, maka ia berdosa karena dua hal yaitu sum’ah dan riya’ sekaligus. Dosa jenis ini lebih berat daripada bohong atas amal yang tidak dikerjakannya. Karena ini dosa karena riya, sum’ah dan bohong.

MENAMPAKKAN IBADAH YANG DIBOLEHKAN ISLAM

  1. Izzuddin bin Abdissalam menyatakan ada kalanya menampakkan ibadah itu dibolehkan.

ومن أمن الرياء لقوة في دينه فأخبر بما فعله من الطاعات ليقتدي الناس به ، كان له أجر طاعته التي سمع بها وأجر تسببه إلى الاقتداء في تلك الطاعات التي سمع بها على اختلاف رتبها

Artinya: Orang yang aman dari rasa riya karena agamanya sudah sangat kuat lalu mengabarkan pada orang lain amal saleh yang telah dilakukannya dengan tujuan agar diikuti oleh orang lain, maka hukumnya boleh dan ia mendapat pahala amalnya dan pahala amal orang yang menirunya sesuai dengan perbedaan tingkatannya.

  1. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk hlm. 6/228 menyatakan bahwa amal ibadah yang wajib juga boleh dan sebaiknya ditampakkan apabila tidak takut riya:

الأفضل في الزكاة إظهار إخراجها ; ليراه غيره فيعمل عمله ، ولئلا يساء الظن به , وهذا كما أن الصلاة المفروضة يستحب إظهارها , وإنما يستحب الإخفاء في نوافل الصلاة والصوم

Artinya: Yang paling utama dalam soal zakat adalah menampakkanya supaya dilihat dan ditiru orang lain dan agar tidak timbul buruk sangka. Begitu juga shalat wajib sunnah ditampakkan. Sedangkan yang sunnah disembunyikan adalah shalat dan puasa sunnah.

Ibnu Battal dalam Syarah Bukhari hlm. 3/420 menyatakan: Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama mujtahid bahwa memberitahukan amal zakat wajib itu lebih utama daripada merahasiakannya. Dan bahwa merahasiakan sedekah sunnah itu lebih utama daripada mengumumkannya .. begitu juga semua amal ibadah wajib dan amal ibadah sunnah semuanya.

Dalam Al-Masu’ah Al-Fiqhiyah hlm. 23/301 dikatakan: Menampakkan dan memberitahukan saat mengeluarkan zakat wajib … Tabari berkata: Ulama sepakat (ijmak) bahwa menampakkan amal ibadah yang wajib itu lebih utama. Adapun firman Allah dalam QS Al-Baqarah 2:271 maka itu relevansinya pada sedekah sunnah dan shalat sunnah.

CATATAN:

– Riya’ adalah menampakkan perbuatan amal ibadah di depan orang lain seperti berzakat diliput media.

– Sum’ah atau tasmi’ adalah tidak menampakkan amal ibadahnya, tapi memberitahukannya pada orang lain. Misalnya, selesai shalat tahajud lalu menulis update status di Facebook atau Twitter, “Alhamdulillah, baru saja selesai tahajud.”

– Dua istilah di atas adalah istilah dalam bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa Indonesia keduanya disebut riya’.

WALLOHU A’LAM