MENGENAL ANTARA SUFI HAQIQI DAN SUFI PALSU

Orang-orang yang mengikuti perjalanan ruhani menuju Allah (Ahli Suluk atau Ahli Thariqat) terbagi menjadi dua golongan.

Yang pertama, ialah golongan Ahli Sunnah Wal-Jama’ah.

Ciri-cirinya :

    Mereka mematuhi ajaran al-Qur’an dan mematuhi amalan dan peraturan yang dicontohkan dari perilaku dan kata-kata Nabi Muharnmad Saw.

    Mereka mengikuti panduan tersebut dalam perkataan, dalam bertindak, dalam pemikiran dan dalam perasaan mereka.

    Mereka mengikuti maksud di dalam hati atau intisari yang tersirat dan yang terpendam dalam ajaran Islam.

    Mereka sangat paham dan tidak mengikuti begitu saja ajaran-ajaran Islam.

    Mereka mematuhi ajaran Islam sepenuhnya, menghayati dan menikmati manisnya ajaran dan prinsip agama.

    Mereka melakukan ibadah bukan karena paksaan, tetapi mereka merasa nikmat melakukannya. Inilah jalan mistik (keruhanian) yang mereka patuhi.

    Mereka adalah kaum pencinta Allah yang sebenarnya.

Ada sebagian dari mereka yang dijanjikan dengan surga tanpa dihisab terlebih dahulu di hari Pengadilan. Ada sebagian merasakan sedikit azab di Hari Pembalasan, kemudian dimasukkan ke surga. Ada pula yang terpaksa merasakan azab neraka untuk sekian lama guna membersihkan dosa-dosa mereka sebelum dimasukkan ke surga. Tetapi tidak ada yang berada selama-lamanya dalam neraka itu. Yang kekal dalam neraka ialah orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

 

Yang kedua, ialah kaum yang sesat atau kaum Sufi yang palsu yang terdiri dari berbagai golongan. Mereka ini adalah kaum yang sesat di zaman ini.

Banyak golongan orang-orang yang sesat yang mengaku sufi (palsu) antara lain:

  1. Golongan Hululiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka berpendapat adalah halal melihat badan orang yang bukan mahram, yang menggiurkan nafsu, dan paras yang cantik yang bisa mendorong kepada zina, baik lelaki atau perempuan, siapa pun baik anak atau isteri orang.

    Mereka berbaur antara lelaki dan perempuan dan menari bersama-sama. Hal ini jelas sekali berlawanan dengan ajaran dan prinsip Islam.

  1. Golongan Haliyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini gemar menyanyi, menari, memekik, menjerit dan menepuk tangan. Konon, dalam keadaan demikian mereka dapat mengatasi dan melampaui hukum-hukum syari’at Islam.

    Tidak perlu lagi bersyari’at karena telah melampaui peringkat syari’at. Hal ini jelas sesat karena Nabi Muhammad Saw. sendiri pun mengikuti syari’at, walaupun ia kekasih Allah Swt.

  1. Golongan Auliaiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini mendakwakan diri dekat dengan Allah. Dengan kata lain telah mencapai peringkat Aulia Allah. Apabila telah jadi Waliullah tidak perlu lagi shalat, puasa, haji, dan beribadah lainnya.

    Mereka berpendapat bahwa seseorang Wali menjadi anak Allah dan dengan itu mereka lebih tinggi derajatnya dari Nabi. Mereka mengatakan bahwa ilmu atau wahyu sampai kepada Nabi melalui malaikat Jibril, tetapi Waliyullah menerima ilham atau hikmah langsung dari Allah. Itulah dakwaan mereka. Pendapat mereka ini adalah silap atau salah dan sesat yang akan membawa mereka kepada kebinasaan dan akan menjerumuskan mereka ke lembah bid’ah dan kafir.

  1. Golongan Syamuraniyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka percaya kalam (perkataan) adalah kekal dan barangsiapa menyebut kalam yang kekal (kalam Allah) itu tidak terikat dengan hukum atau syari’at agama.

    Mereka tidak peduli dengan hukum halal atau haram. Dalam upacara ibadah mereka menggunakan alat musik. Perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu. Tidak ada hijab lelaki dengan perempuan. Ini sudah jelas sesat dan menyimpang jauh dari ajaran al-Qur’an.

  1. Golongan Hubbiyyah:

Ciri-cirinya :

    Golongan ini berkata bahwa apabila seseorang sampai ke peringkat cinta, mereka tidak lagi berada di bawah hukum syari’at.

    Mereka tidak peduli dengan pakaian. Kadang-kadang mereka bertelanjang bugil. Tidak ada lagi perasaan malu pada diri mereka.

Inilah ajaran sesat dan menyesatkan.

  1. Golongan Huriyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka senang berteriak-teriak, memekik-mekik, menyanyi, dan bertepuk tangan, konon katanya untuk mendapatkan Dzauq (ekstasi).

    Mereka mendakwa bahwa dalam keadaan Dzauq itu mereka bersenggama atau bersetubuh dengan bidadari. Setelah mereka keluar dari keadaan Dzauq, mereka pun mandi hadas. Mereka ini tertipu oleh nafsu mereka sendiri. Sesatlah mereka.

  1. Golongan lbahiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini tidak menyuruh berbuat baik dan tidak melarang berbuat jahat. Sebaliknya mereka menghalalkan yang haram. Zina pun dihalalkan. Bagi mereka, semua wanita halal untuk semua lelaki. Inilah golongan yang sesat dan miskin yang meminta sedekah dari rumah ke rumah.

    Mereka beranggapan bahwa mereka menerima azab Allah yang hina.

  1. Golongan Mutakasiliyyah:

Ciri-cirinya :

Mereka mengamalkan prinsip bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Mereka telah me- ninggalkan dunia dan keduniaan. Maka musnahlah mereka dalam kemalasan mereka sendiri.

  1. Golongan Mutajahiliyyah:

Mereka berpura-pura bodoh dan berpakaian tidak senonoh dan bersikap seperti orang kafir.

Padahal Allah berfirman:

“Janganlah kamu cenderung meniru orang-orang yang zalim, kelak kamu akan di sentuh (dijilat) api neraka” (Hud: 113).

Nabi pun pernah bersabda:

“Barangsiapa mencoba menyerupai sesuatu kaum, maka mereka dikira sebagai ahli kaum itu. ”

  1. Golongan Wafiqiyyah:

Ciri-cirinya :

Mereka berpendapat bahwa Allah yang mampu mengenal Allah. Dengan itu mereka tidak mau berusaha mencari hakikat atau kebenaran. Karena kebodohan mereka itu, mereka terseret ke jurang kerusakan dan kesesatan.

  1. Golongan Ilhamiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini mementingkan ilham. Tidak mau menuntut ilmu dan tidak mau belajar.

    Mereka berkata bahwa al-Qur’an adalah hijab bagi mereka.

    Mereka menggunakan puisi karangan mereka sebagai ganti al-Qur’an.

    Mereka membuang al-Qur’an dan meninggalkan ibadah shalat, dan lain-lain.

    Mereka mengajarkan anak-anak mereka berpuisi sebagai ganti al-Qur’an. Maka sesatlah mereka.

Demikian banyak ajaran-ajaran sesat dari guru Sufl palsu di zaman ini, kata Syeikh Abdul Qadir al-jailani.

 

Sufi yang Benar dan Sufi Palsu

Sebenarnya golongan sesat dari kaum yang mengaku dirinya Sufi itu akan terus ada di setiap masa, baik dari golongan kaum Muslimin yang melenceng dari jalan yang benar maupun dari golongan kaum kafir juga.

Adapun kaum kafir, sejak semula mereka telah tersesat dalam belenggu kekufuran. Meskipun mereka bertabiat seperti seorang Sufi, dan mereka menahan diri dari segala macam tuntutan hawa nafsu untuk bertaqarrub, namun dasar kepercayaan mereka sendiri itu telah salah dan melenceng dari jalan Allah yang sebenarnya.

Mereka seperti yang sering kita lihat pada orang-orang yang berkeperecayaan Hindu dan Buddha dan sebagainya. Sayang sekali jerih payah mereka dalam mengendalikan diri dari hawa nafsu dunia itu ditujukan untuk kepercayaan yang sesat, bukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Allah berfirman:

“Dan siapa yang memohon kepada tuhan yang selain Allah, dia tidak mempunyai alasan apa pun tentang kepercayaannya itu, maka sesungguhnya perhitungannya nanti di sisi Tuhannya jua, sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang tidak beriman itu” (Al-Mu’minun: 117).

Sungguh menyedihkan keadaan mereka. Mereka telah bersusah payah menahan segala kenikmatan di dunia, tetapi tidak mampu memetik hasil dari jerih payahnya itu, karena apa yang mereka lakukan adalah sia-sia belaka. Sementara di akhirat mereka pun akan mendapat hukuman, siksa di dalam api neraka untuk selama-lamanya karena tidak mengikuti petunjuk yang benar.

Bagaimana dengan orang-orang yang beriman, tetapi kemudian yang tersesat jalan? Mungkin pada awalnya mereka melangkah di jalan yang benar atau berniat baik untuk tujuan Sufi. Tetapi tidak mustahil, mereka bisa tertipu dalam perjalanan kesufiannya itu, karena terpengaruh oleh hawa nafsu.

Nafsu yang akan ditentangnya ternyata berbalik muka menjadi gejala yang menentangnya. Orang yang menentang hawa nafsu itu bertujuan menghadapkan wajahnya kepada Tuhan yang dicari-Nya agar dikenali-Nya. Perlakuannya di dalam kesufian itu bukanlah bertujuan untuk mencari pangkat atau memperoleh pujian dan nama dalam masyarakat pengikutnya.

Apabila dilihatnya dirinya dihormati, para pengikutnya berkerumun mengelilinginya, dan terharulah hatinya, ia sangat senang dengan keadaan ini. Padahal, inilah penyakit, yang dalam istilah kesufian disebut Istidraj, yakni perkara-perkara yang datang sebagai cobaan dan ujian kepada seorang Sufi.

Orang yang semacam ini, memang setan senang sekali berdampingan dengannya. Dia malah lebih senang menyenderkan dirinya dengan Sufi palsu ini daripada orang yang bodoh dari liku-liku urusan agamanya. Memang mudah orang yang ‘bodoh’ itu dapat dipengaruhi dan diperdayakan oleh setan, tetapi hasilnya hanya seorang saja. Berbanding dengan Sufi palsu ini, dia mempunyai pengikut yang banyak, kalau dapat diperdayakan setan satu orang Sufi, maka Sufi itu dapat menghantar perdayaan itu kepada semua pengikutnya, kecuali orang yang diselamatkan Allah.

Setan akan berbisik kepada si Sufi palsu itu: Engkau seorang besar! Pengaruhmu sungguh mengagumkan! Sebab para pengikutmu banyak sekali, karena itu engkau jangan bimbang! Mereka tidak akan menyia-nyiakanmu. Engkaulah orang Sufi yang benar! Engkau wali, dan bukankah wali itu orang kesayangan Tuhan! Apa pedulimu kepada orang-orang bodoh yang merendahkan derajatmu. Mereka itu tidak mengerti. Masih jahil. Jahil murakkab. Engkau begini, dan begitu, dan seterusnya. Bisikan itu tidak ada akhirnya. Diberikan kepadanya Khatir-khatir, yakni lintasan-lintasan hati yang semuanya palsu dan keliru, sedang dia termakan semua umpan yang dipasangkan di dalam perangkapnya.

Itulah dia Istidraj yang selalu menimpa orang yang mengangan-angankan diri menjadi Sufi sebelum waktunya. llham yang diterimanya bukan ilham dari Allah Swt., tetapi ilham dari setan, sedang dirinya tidak tahu.

Orang Sufi palsu ini sungguh berbahaya kepada umat Islam. Dia lebih berbahaya daripada sang Sufi sesat, yang perjalanannya benar, tetapi kepercayaannya salah dan sesat. Sebab orang Sufi sesat itu, semua orang Islam telah mengenalinya dan mudah dikenali. Namun sang Sufi palsu itu akan membawa kekeliruan kepada khalayak yang tidak mengerti, atau orang yang mudah terpengaruh dengan hal-hal yang tidak asli atau tiruan. Lalu bukan saja dia yang sesat, malah dia akan menyesatkan banyak orang yang tidak berdosa, hanya salahnya karena terpengaruh dengan yang salah yang digambarkan sebagai benar,

Pendapat Ahli Sunnah Wal-jama’ah

Para pemimpin dan guru-guru Sufi dari golongan Ahli Sunnah Wal-Jama’ah berpendapat bahwa para sahabat, dengan berkat ajaran dan kehadiran Nabi, adalah dalam keadaan Dzauq keruhanian yang tinggi martabatnya. Setelah zaman berlalu, keadaan keruhanian yang tulen ini makin lama makin kurang dan tipis. Kemudian keadaan keruhanian ini diwarisi oleh guru-guru mursyid yang kemudian, pecah menjadi banyak firqah dan cabang.

Oleh karena terlalu banyak firqah dan golongan kaum mursyid itu, hikmah dan tenaganya pun makin tipis dan makin berpecah-belah. Dalam banyak hal, yang tinggal hanya bentuk zahir saja yang berlagak seperti guru Sufi, padahal batinnya dan hakikatnya bukan Sufi. Lama kelamaan timbullah Sufi-Sufi palsu dan bid’ah.

Ada yang menganut golongan Haydari dan berpura-pura menjadi perwira dan pahlawan. Ada pula yang menamakan diri mereka kaum Adhami dan berpura-pura mengikuti jejak langkah Ibrahim Adham, yaitu seorang Sufi besar yang meninggalkan istana dan pangkat sultan karena hendak mengamalkan ilmu Sufi. Bahkan, masih banyak lagi ajaran sesat dari guru Sufi palsu yang timbul.

Dalam zaman ini, ahli-ahli Sufi yang sebenarnya, yang bersesuaian dengan syari’at, makin lama makin berkurangan jumlah mereka.

Ahli Sufi yang hakiki dapat dikenali dengan dua cara:

Pertama, zahir mereka, yaitu mereka mengamalkan syari’at.

Kedua, batin mereka, yaitu boleh dijadikan contoh teladan karena mereka mewarisi keruhanian Nabi Saw. Sebenarnya contoh manusia yang paling baik ialah Nabi Besar Muhammad Saw. Dialah sebenar-benar Sufi yang hakiki. Syari’at dan Hakikat hendaklah bersama seiring jalan untuk kesinambungan agama dalam kehidupan mukmin dan mukminah sejati.

Seorang Waliyullah yang mewarisi keruhanian Nabi akan memberi berkat kepada Si Salik dengan kehadiran fisiknya. Sesungguhnya Iblis tidak dapat menyerupai Nabi Saw.

Awas, wahai Salik, orang buta tidak boleh menunjukkan jalan pada si buta yang lain. Pandangan kita hendaklah tajam supaya kita dapat membedakan kebaikan dengan kejahatan, walau sebesar zarrah pun.

Ingatlah, bahwa perjalanan Sufi itu bukan medan permainan. Bila suka boleh ikut, bila malas boleh ditinggalkan. la adalah jalan menuju ke Hadhirat Ketuhanan, yang kepadanya tidak semudah diucapkan lisan. walaupun begitu, wajarlah ia menjadi tujuan setiap insan. Yang ingin mencari ketenangan diri dan makrifat hakikat penciptaan Tuhan. Bukankah kita disuruh menyembah-Nya menurut bunyi sebuah firman? Bagaimana boleh menyembah kalau belum sempat untuk berkenalan?

 

Khatir yang Datang Kepada Sufi

Khatir itu ialah lintasan-lintasan hati, atau cetusan yang muncul di hati orang Mukmin karena sesuatu sebab atau yang lain. la biasanya datang secara tiba-tiba sehingga mengharukan orang yang didatanginya. Kalau ia telah terbiasa dengan khatir- khatir seperti itu, maka perkaranya agak mudah sedikit, akan tetapi khatir yang datang sekali-sekali harus diberikan perhatian yang cukup dan dipertimbangkan dengan sehalus- halusnya agar dia tidak tertipu.

Apabila khatir itu muncul, dan hatinya kuat mengatakan, bahwa dia itu datang dari Malaikat, yakni Khatir-Al-Malak, mestilah dia bertenang lebih dahulu dan bertanya pada dirinya:

Siapa engkau ini, dan engkau datang dari mana? Mungkin tidak sukar ia akan mendengar suara hatinya menjawab: Aku ini sebagian Nubuwah, yakni pemberitahuan khusus yang datang dari Al-Haqq, yaitu Tuhan yang sebenarnya. Aku memang benar. Aku datang dari Habib (siapa yang dicintai) dan Ar-Rafiq (Rakan).

Khatir, atau bisikan hati ini akan memenuhi kebatinannya, pendengarannya dan pemandangannya. Sikap orang yang didatangi Khatir ini gemar sekali mengasingkan diri dari kumpulan orang ramai, tidak suka banyak berbicara, seperti orang sakit lagaknya.

Mukanya terlalu masyghul karena tekanan Khatir yang datang menyelubungi jiwanya itu.

Dalam keadaan yang serupa itu, orang yang tidak tahu akan mengatakan bahwa dia sedang ditimpa gangguan dalam dirinya, karena semua sifatnya berubah dan seolah-olah dia berada di tempat yang bukan tempat yang dia sedang berada itu. Tetapi sebentar lagi keadaannya akan berubah pula, dan dia kelihatan penuh perasaan tenteram dan tenang, dan sedikit demi sedikit keadaannya akan kembali pulih seperti sediakala seolah-olah tiada sesuatu yang menimpa dirinya.

Di dalam keadaan dia sedang diselubungi Khatir itu, dia kelihatan seperti orang yang terkena putau, yang kesadarannya tidak penuh. Kadang-kadang dia akan mengatakan sesuatu yang boleh didengar oleh orang yang berada di sisinya, dan kadang-kadang tidak kedengaran apa yang dikatakannya itu, seolah-olah dia sedang asyik berbicara sesuatu dengan seseorang yang berada di sisinya. Namun siapa yang mengerti semua keadaan ini kecuali orang yang sudah mengalaminya, dan orang yang mengalami hampir semuanya tidak mau menceritakannya, karena semua itu adalah rahasia-rahasia ketuhanan yang halus yang tidak boleh dibocorkan. Dan kalau diberitahukan pula, mungkin ramai orang yang tidak percaya. Mungkin dikatakan orang, dia itu terasuki jin, wallahu-a’lam.

 

lkhlas dalam Beramal

Berkata Syeikh Abdul Qadir al-Jailani: Sekiranya kita ikhlas dalam amalan, kita akan diceraikan dari kalangan makhluk, sehingga seolah-olahnya kita merasa jemu untuk duduk-duduk bersama mereka. Hanya dengan menceraikan diri dari makhluk, kita dapat ‘bersatu’ dengan Allah!

Memang benar sekali, pintu menuju kepada Allah itu ialah mengosongkan hati sama sekali dari urusan dengan makhluk, barulah hati itu akan lapang dan dapat dikuasai oleh hal-hal yang datang dari Tuhan tanpa terganggu. Sebab para shalihin senang sekali memunajatkan dirinya kepada Allah di waktu malam, di waktu semua orang terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Apabila kita mengasingkan diri dari manusia, dan bergiat membuat amalan-amalan yang berupa taqarrub, maka ketika itu akan terbuka bagimu suatu pintu khusus yang menyambung dengan Hadhirat Ketuhanan.

Hati kita akan bersinar cemerlang, membawa jiwa atau ruhmu mengintip rahasia-rahasia yang halus yang akan mempengaruhi dirimu. Itulah yang dikatakan makrifat, yang menurut istilah yang lahir, bila dicarinya tidak akan ditemukan.

Tetapi apabila hati itu dibersihkan dan disucikan dari segala kekotoran keduniaan, makrifat malah datang mencarimu, dan akan didudukinya tempat di muka hati yang sudah dibersihkan itu. Sehingga memancarlah sinar cahaya yang cemerlang tadi, wallahu-a’lam.

Allah Swt. telah menjadikan hati itu tempat letaknya makrifat dan ilmu. Ilmu itu cahaya, tidak ingin duduk di tempat yang ada kotoran. Makrifat itu adalah cahaya yang cemerlang, tidak akan setempat dengan daki-daki kekotoran.

Allah Swt. menilik hati itu dalam sehari semalam sampai 360 kali, dan sekiranya Dia tidak membiarkan ilmu dan makrifat itu berdiam di hati itu, niscaya hati itu akan hancur berantakan. Tinggallah hati itu menjadi keras dan mati. Tetapi bila hati itu kembali baik dan menghampirkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan menjadikan sungai kenikmatan mengalir dari muka hati itu.

Allah menjadikan Ahlullah itu sebagai pembela agama. Peringkat yang tertinggi di antara para makhluk ialah para Nabi dan Rasul. Di bawah peringkat itu ialah para sahabatnya, dan berikut sesudahnya ialah para tabi’in dan seterusnya tabi’ tabi’in. Mereka ini semua senantiasa patuh dan mengamalkan apa yang diperintah Tuhan. Mereka laksanakan suruhan Allah dan Rasul-Nya dengan kata dan doa, sama ketika sendirian ataupun di khalayak ramai. Itulah orang-orang yang mewarisi para Nabi.

Mereka ini sering disebut dan dibanggakan oleh Allah Swt. sebagai para hamba-Nya yang shalihin, yang setiap gerak langkahnya diiringi dengan takwa dan setia. Mereka telah membelakangi dunia dan semua urusan dunia, manakala orang lain sibuk mengejarnya dan berusaha dengan penuh daya upaya untuk mencapainya. Sebab itu dikatakan, bahwa orang yang mengejar dunia, dunia akan lari meninggalkannya. Dan siapa meninggalkan dunia, dunia akan datang mendapatkannya.

Namun begitu, bagi orang yang sudah mengenal hakikat dirinya, semua urusan dunia itu akan menjadi tipis dalam pandangannya. Dunia pada hakikatnya tidaklah bernilai, lantaran ia bukan dari jenis barang yang kekal. Sebab itu Allah telah mengatakan, sekiranya dunia itu bernilai atau berharga hanya satu sayap nyamuk, atau lalat, niscaya tidak akan diberikan-Nya kepada orang kafir. Lantaran dia tidak berharga apa pun, maka diberikan kepada orang kafir itu untuk menjadi pokok yang membinasakan. Maka apakah orang yang beriman itu, yang sudah kenal arti dan harga iman itu masih mau menjual imannya dengan harta yang tidak bernilai itu?

Itulah pokok kefahaman orang Sufi dibandingkan dengan orang biasa, maka di manakah kita berada sekarang ini?!

wallohu a’lam bish-shawab,-

PENGERTIAN ROBITHOH SERTA ALAM MALAKUT DAN JABARUT

180_B.TIF

    Robithoh adalah mengaitkan perjalanan ruhani dengan Mursyid atau Syeikh yang membimbing anda. Robithoh biasanya menjadi tradisi para Sufi ketika awal penempuhan perjalanan menuju kepada Allah, bisa melalui Tawassul ketika berdoa, atau hadiah surat Al-Fatihah kepada mereka. Namun cara ber-Robithoh pun juga ada aturannya sesuai dengan petunjuk Syeikhnya. Dalam robithoh seorang murid hendaknya tidak membayang-bayangkan wajah atau foto sang Syeikh atau sang Mursyid. Orientasinya hanya kepada Wajah Allah saja. Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan, “kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.” Bukan wajah makhluk Allah, atau wajah guru atau Mursyid.

    Dalam Robithoh disebutkan mengenai at-Tashawwur bi-Shurotis Syeikh, yang artinya membayangkan gambar atau sosok guru, dimaksud sesungguhnya bukannya seseorang membayangkan wajah syeikh. Namun, ketika anda suluk dan berdzikir atau bertawajuh, tiba-tiba melintas – tanpa anda kehendaki— wajah guru, itulah yang disebut Tashawur bishuratis Syeikh. Bukan berusaha menghadirkan sosok Mursyid atau Syeikh.

    Alam Malakut adalah tahap atau derajat ruhaniyah yang digambarkan sebagai alam atau wilayah kebajikan hakiki atau sejatinya rasa jiwa. Disanalah dunia Ruh hanya merindukan dan menghendaki Allah semata (tanzih), dan disanalah Alam Malakut itu menjadi taman jiwa yang hakiki, dengan keindahan Asma’ dan sifatNya Allah yang terpantul dalam hamparan Ruh kekasih Allah.

    Sedangkan Alam Jabarut adalah Alam Ilahi yang menjadi hamparan Ma’rifatullah, dimana seluruh elemen satu dalam banyak dan banyak dalam satu, menjelma dalam penyucian tasbih kepada Allah semata. Dunia Rahasia Ilahi, itulah Alam Jabarut. Nah, di atas Alam Jabarut masih ada lagi Alam Lahut, Alam Hahut dan Bahut serta Ahut. (Maha Ghuyubul Ghuyub) . Wallahu A’lam.

    Kita tidak diperintah untuk memasuki alam-alam itu. Dan jangan berambisi untuk memasukinya. Karena yang memasukkan ke alam-alam itu Allah jua. Bukan kehendak kita.

MADZHAB IMAM ALI ZAINAL ABIDIN DALAM MENSYUKURI NIKMAT ALLOH SWT.

“Atha menceritakan bahwa suatu hari ia bersama Ubaid bin Umair bertamu ke rumah Siti Aisyah ra. Ia bertanya kepada Siti Aisyah ra, “Beritahukan kepada kami suatu hal yang menakjubkan dari Rasulullah saaw yang pernah engkau saksikan.” Aisyah ra menangis lalu berkata, “Keadaan Rasul yang mana yang tidak menakjubkan? Pada suatu malam beliau berada di rumahku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan. Beliau mengatakan, “Wahai puteri Abu Bakar, tinggalkanlah diriku, aku ingin beribadah kepada Tuhanku.” “Saya ingin lebih dekat denganmu, “ pintaku.

Aisyah ra kemudian mengambilkan gerabah air, dan Rasulullah saaw berwudhu dengannya. Setelah itu, Rasulullah saaw berdiri melaksanakan salat, dan menangis hingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau rukuk, sujud, dan mengangkat kepalanya dalam keadaan manangis. Begitulah, sampai Bilal mengumandangkan azan untuk salat subuh. “Ya Rasulullah saaw, apa yang membuatmu menangis begitu rupa, padahal seluruh dosamu, yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah swt.” tanya Aisyah ra. Rasulullah saaw berkata, “Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang senantiasa bersyukur.” (H.R. Ibnu Hibban)

Syukur umumnya diartikan sebagai ungkapan terima kasih, yang biasanya diungkapkan dengan bacaan alhamdulillahi rabbil ‘alamin, yang berarti “segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Prof. Quraish Shihab (dalam Nafis, 1996: 162-163) menjelaskan kata hamd seringkali diterjemahkan pujian dan dianggap mempunyai kemiripan dengan syukur bahkan mungkin disamakan artinya. Namun pada hakikatnya dari segi bahasa, keduanya berbeda. Hamd (pujian) disampaikan kepada yang dipuji, walaupun yang bersangkutan tidak memberi apapun. Ia dipuji karena ada sifat atau sikapnya yang indah/baik. Kalau anda memuji dan mensyukuri Allah, atas segala perbuatan dan sifat-Nya, maka pada hakikatnya anda mengakui bahwa segala perbuatan dan sifat Allah adalah indah dan baik. Kalaupun pada lahirnya ada perbuatan/ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kaca-mata manusia dinilai “kurang baik” maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam arti pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandanganya sehingga penilaian menjadi demikian. Walhasil, alhamdulillah berarti “segala puji bagi Allah.”

Adapun syukur, lanjut Quraish, pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus penuh penghormatan atas nikmat yang dianugerahkan, baik dengan ucapan atau dengan perbuatan. Dalam Bahasa Arab, kata kerja syukur (syakara) lebih diartikan sebagai “membuka/menampakkan.” Karena itu, Alquran juga memperhadapkan kata itu dengan kufr/kafara “yang berarti menutup atau kikir,” seperti dalam firman-Nya : la in syakar tum la azidanna kum wa la in kafar tum inna adzabi la syadid, ”Kalau kamu bersyukur, pasti bertambah nikmat-Ku untukmu, dan kalau kamu kufur, sesungguhnya azabku sangat pedih”  (Q.S. Ibrahim : 7); atau wa asykur-u li wa la takfurun, “Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlan kufur” (Q.S. al-Baqarah : 152).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Madarij as-Salikin mendefenisikan syukur sebagai kondisi hati untuk cinta pada wujud Allah yang telah memberikan nikmat-Nya, dilanjutkan dengan pembuktian anggota badannya yang diarahkan untuk senantiasa mentaati-Nya, disertai pengakuan lisan melalui pujian kepada-Nya. Dengan defenisi ini, para ulama umumnya membagi syukur pada tiga tingkatan : syukur hati; syukur lisan; dan syukur perbuatan. Ketiga tahapan syukur itu harus berkesinambungan dan terjalin erat. Kita diberikan oleh Allah mata, maka syukurnya kita adalah dengan menggunakan mata itu untuk hal-hal kebaikan. Kita diberikan telinga, maka gunakanlah untuk mendengar kebaikan. Kita diberikan lisan, maka ucapkanlah kata-kata yang mengajak pada keimanan. Kita diberi uang, harta, jabatan, yakinlah itu rahmat Allah, ucapkanlah alhamdulillah, dan yang terpenting pergunakanlah semuanya untuk jalan yang diridhai Tuhan, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau mengabarkannya” (Q.S. ad-Dhuha : 11). Karenanya, kita belum dinilai bersyukur, jika hanya meyakini memperoleh nikmat dari Allah, lalu mengucapkan alhamdulilah, tetapi menggunakan nikmat itu pada jalan maksiat.

Lantas, bagaimana agar syukur kita selaras antara hati, lisan dan tindakan? Prof. Quraish Shihab  menjawab bahwa untuk mensyukuri suatu nikmat secara sempurna, seseorang harus mengetahui untuk apa nikmat tersebut diciptakan/dianugerahkan Allah. Jika telah ditemukan jawabnya, maka gunakanlah nikmat itu sesuai dengan tujuan dimaksud. Karena itu, defenisi syukur adalah menggunakan segala apa yang dianugerahkan Allah sesuai dengan tujuan penciptaan anugerah itu. Kesadaran yang bermula dari lubuk hati yang terdalam itu, mengantar seseorang untuk menyampaikan pujian kepada-Nya dalam bentuk lisan, disusul dengan menggunakan semua anugerah/nikmat yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahan-Nya. Melalui syukur peringkat ketiga ini, terpenuhi janji Allah yang mengatakan

: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Kalau kamu bersyukur, pasti bertambah nikmat-Ku untukmu” (Q.S. Ibrahim : 7).

Jika kita cermati, Q.S. Ibrahim : 7 di atas, menunjukkan juga dimensi syukur dua arah, yakni dari hamba dan dari Tuhan, dari makhluk dan dari Khaliq. Manusia beryukur kepada Allah swt, dan Allah juga “bersyukur” kepada manusia. Menurut al-Qusyairi dalam risalah-nya (2007: 244), syukurnya hamba kepada Allah swt, adalah dengan memuji kepada-Nya dan dengan mengingatkan kebaikan-Nya; sedangkan syukurnya Allah swt kepada hamba bermakna Allah memuji kepadanya dan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah swt, sedangkan perbuatan baik Allah swt adalah dengan memberikan tambahan kenikmatan dan pertolongan. Karena itulah, pada hakikatnya kita tak mampu mensyukuri seluruh nikmat Allah,seperti diungkapkan Alquran, “Kalau kamu mencoba-coba menghitung nikmat Allah , niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya”, dan juga karena setiap syukur kita membutuhkan syukur lagi, dan kesadaran mensyukuri nikmat Allah juga merupakan bagian dari kenikmatan itu sendiri.

Dikisahkan, Nabi Daud as pernah menyatakan, “Ya Tuhan, bagaimana aku mampu bersyukur kepada-Mu, sedangkan setiap syukurku kepada-Mu merupakan juga nikmat dari-Mu?” Mendengar itu, Allah swt menurunkan wahyu kepada Nabi Daud as, “Sekarang, engkau telah benar bersykur kepada-Ku.”

Imam Ali Zainal Abidin dalam salah satu doanya tentang ketidaksanggupan dirinya untuk bersyukur dan mentaati Allah (dalam Shahifah Sajjadiyah, doa no. 37) mengungkapkan :

    “Ya Allah! Tidaklah mungkin seseorang mampu mensyukuri-Mu,

    kecuali datanglah kepadanya kebaikan-Mu,

    yang mengharuskannya lagi untuk mensyukuri-Mu.

    Tidaklah, meskipun sudah mencobanya, seseorang mencapai tingkat mentaati-Mu,

    tanpa merasakan kekurangan dalam memenuhi hak-Mu

    semua itu karena anugerah-Mu.

    Hamba-Mu yang paling bersykur, tidak mampu dalam mensyukuri-Mu

    Hamba-Mu yang paling berbakti, tidak sanggup mentaati-Mu”

Dalam doanya yang lain “Doa Para Pensyukur Nikmat”, cucu Rasulullah saaw ini megungkapkan :

“Tuhanku, runtunan karunia-Mu telah melengahkan aku

untuk bernar-benar bersyukur pada-Mu

Limpahan anugerah-Mu telah melemahkan aku

untuk menghitung pujian atas-Mu

Iringan ganjaran-Mu, telah menyibukkan aku

untuk memperbanyak pujaan pada-Mu

Inilah tempat orang yang mengakui limpahan nikmat

tetapi membalasnya tanpa terima kasih

yang menyaksikan kelalaian dan kealpaan dirinya

Padahal Engkau Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Baik, Maha Pemurah

yang tak kan mengecewakan pencari-Nya

yang tak kan menolakkan dari sisi-Nya pendamba-Nya

Di halaman-Mu singgah kafilah pengharap

Di serambi-Mu berhenti dambaan para pencari karunia

Janganlah membalas harapan kami dengan kekecewaan dan keputusasaan

Janganlah menutup kami dengan jubah keprihatinan dan keraguan

Tuhanku, besarnya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukurku

Memudar—disamping limpahan anugerah-Mu—puji dan sanjungku

Karunia-Mu yang berupa cahaya iman menutupku dengan pakaian kebesaran

Curahan anugerah-Mu membungkusku dengan busana kemuliaan

Pemberian-Mu merangkaikan padaku kalung nan tak terpecahkan

dan melingkari leherku dengan untaian yang tak teruraikan

Anugerah-Mu tak terhingga sehingga kelu lidahku menyebutkannya

Karunia-Mu tak berbilang, sehingga lumpuh akalku memahaminya

apalagi menentukan luasnya

Bagaimana mungkin aku berhasil mensyukuri-Mu

Karena rasa syukurku pada-Mu memerlukan syukur lagi

Setiap kali aku dapat mengucapkan : “Bagi-Mu pujian”

Saat itu juga aku terdorong mengucapkan lagi : “Bagi-Mu pujian”

Tuhanku, sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu

dan memelihara kami dengan pemberian-Mu

Sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu

Tolakkan dari kami kejelekan azab-Mu

Berikan bagi kami—di dunia dan akhirat

yang paling tinggi dan paling mulia lambat atau segera

Bagi-Mu pujian –atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu

(Bagi-Mu) pujian yang selaras dengan ridha-Mu

yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu

Wahai Yang Maha Agung— Wahai Yang Maha Pemurah dengan rahmat-Mu

Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya arhamar rahimin.

(ImamAli Zainal Abidin, Shahifah Sajjadiyah : hal. 229-231)

Demikianlah untaian doa yang sangat indah dari lisan mulia Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad. Semoga kita senantiasa mampu bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat, ujian, dan cobaan-Nya.

KISAH PERJALANAN SPIRITUAL IMAM GHOZALI RAHIMAHULLOH DALAM MENCARI TUHAN

“Kebanyakan orang pasti pernah mengalami masa depresi. Kegalauan yang biasa sampai luar biasa. Ketika ada masalah yang kian banyak dan makin bertumpuk, atau ada sejuta pertanyaan tak terjawab, ‘saklar’ kesadaran itu otomatis ‘padam’.”

Imam Al-Ghazali mengalami petualangan ilmiah yang luar biasa hebat. Rihlah tholabul ‘ilminya panjang dan “melelahkan”. Tapi dengan hasil yang tak mengecewakan, Hujjatul Islam ini mampu menguasai tidak hanya satu disiplin ilmu. Tidak cukup satu gelar saja untuk menggambarkan kepakarannya. Beliau bukan hanya pakar fiqih, kalam, dan ushul, beliau lebih dari itu semua. Namun dihari-hari  terakhirnya, beliau lebih memilih sembunyi dan pulang ke kampung halamannya. “Ingin dikenal orang sebagai warga Thus biasa, seperti halnya petani dan pedagang lainnya”. Begitulah mungkin. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya, dalam ushul fiqih, Al-Mushtasfanya adalah salah satu dari empat kitab ushul terbaik yang pernah ada, yang kemudian di resume menjadi Al-Mahshul. Dalam fiqh, Al Basith,Al-Wasith,dan Al-Wajiz adalah kitab-kitab pokok Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh kitab-kitab ulamamutaakhirin merujuk kepada tiga kitab tersebut. Bisa dibilang, kalau kita sedang belajar  fiqh ala Syafi’iyyah atau  ushul fiqh, disitu ada “ilmunya imam Al-Ghazali”. Beliau adalah pahlawan sejati Ahlussunah yang gigih membela islam sunni dari dua ancaman besar pada masa itu, rasionalis Mu’tazilah dan Syiah garis keras Isma’iliyyah. Juga ancaman umum dunia intelektual, Filsafat Yunani. Banyak orang menilai Imam Al- Ghazali sebagai filsuf, namun dari kiprah beliau tak nampak kalau beliau adalah seorang filsuf. Justru sebaliknya, beliau adalah mistikus.

Imam Al- Ghazali, nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi. Bergelar Hujjatul Islam. Di dunia barat beliau dikenal dengan nama Algazel. Ditanah kelahirannya, Thus, beliau dilahirkan tahun 1059 M/450 H. Dan beliau wafat.diusianya yang ke lima puluh lima.

Al-Ghazali kecil terlahir dari keluarga miskin. Beliau punya seorang saudara kandung bernama Ahmad. Ayah beliau sehari-hari bekerja sebagai pemintal wol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah beliau terkenal orang  yang saleh, sangat mencintai para ulama dan gemar melayani mereka. Sering ayah beliau menghadiri majlis-majlis pengajian, disitu tak jarang ayah beliau menagis berkaca-kaca. Dalam do’anya, ingin sekali beliau dikaruniai putra-putra  yang kelak menjadi ulama besar. Do’a ayah Al-Ghazali dijawab oleh Allah SWT. dikemudian hari. Baik Al-Ghazali maupun saudaranya, Ahmad, keduanya sama-sama  menjadi  ulama besar.

Ketika ayahnya wafat kedua bersaudara ini dititipkan kepada kerabatnya agar dididik, supaya diajari tentang  agama. Ketika kerabat ayahnya tak mampu lagi membiayai mereka, mereka berdua masuk ke madrasah setempat agar bisa mendapatkan makanan. Bermula dari sini, rihlah ilmiah Al-Ghazali dimulai. Al-Ghazali kecil ngaji di tanah kelahirannya bersama saudara kandungnya,  Ahmad ditempat yang diasuh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Zâdzakâni. Setelah sekian lama, beliau pindah ke Jurjan, ngaji bersama Syaikh Abi Nashr Al-Isma’ili. Beliau membuat Ta’liqot, catatan hasil belajar, tanpa menghafalkannya. Sepulang dari sana, rombongan Al-Ghazali dirampok, dan semua barang bawaan dijarah. Termasuk buku ta’ilqot Al-Ghazali selama di Jurjan. Al-Ghazali diejek oleh pimpinan perampok ketika hendak meminta kembali buku ta’liqotnya, “Kalau saja buku ini hilang kamu tak lagi punya ilmu apa-apa.” Kalimat ini menjadkian beliau terpacu untuk menghafalkan seluruh ilmunya. Setibanya  kembali di rumah, beliau menghafalkan seluruh ilmu yang dia dapatkan.

Setelah beberapa saat  dirumah, Al-Ghazali memutuskan ikut rombongan pelajar yang hendak berangkat ke Naisabur, Khurasan. Negri itu dikenal sebagai kotanya ilmu pengetahuan. Disana adalah tempat para pelajar mengadu  nasib, karena menjadi tempat asimilasi ilmu pengetahuan dari berbagai tokoh besar. Disana beliu memutuskan untuk ngaji kepada tokoh sentral Mazhab Syafi’I, salah satu ulama terbesar dimasanya, Imam Al-Haramain yang mengasuh Madrasah Nidzamiyyah Naisabur. Madrasah yang diprakarsai Alp Arslan. Disinilah akhirnya beliau dapat mengukuhkan dan menguasai pemahaman tentang  fiqh, ushul, ilmu khilaf, jadal, manthiq, hikmah, dan filsafat. Padahal usia beliau kala itu baru menginjak dua puluh delapan tahun. Beliau aktif menulis karya ilmiah, dan mengikuti aktifitas keilmuan lain. Karir beliau menanjak dan beliau mulai memiliki nama besar. Murid kesayangan Imam  Al-Haramain ini bahkan sampai dijiluki Al-Bahr Al-Mughdiq (Lautan luas-deras) oleh gurunya. Al-Ghazali juga mulai diminta membantu mengajar oleh gurunya dan menggantikan gurunya jika berhalangan. Bahkan beliau adalah orang yang dipersilahkan duduk ditempat duduk gurunya, Imam Al-Haramain. Sepeninggal gurunya, beliau meninggalkan Madrasah Nidzamiyyah Naisabur menuju tempat perdana mentri Nidzamul Mulk didekat kota Naisabur. Tempat itu dikenal sebagai perkumpulannnya ulama-ulama besar berdiskusi. Al-Ghazali yang memang juga jago berdebat segera mendapat nama dan diakui kehebatnnya. Popularitas beliau segera menanjak. Nama Al-Ghazali cukup disegani karena kedalaman ilmunya. Beliau segera diundang  oleh perdana mentri Nidzamul Mulk yang memang mencintai ilmu pengetahuan ke Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang bergengsi dimasanya.  Ketika tiba di Baghdad  tahun 1091 M/484 H puncak karir imam Al-Ghazali mencapai babak baru.

Nama Imam Al-Ghazali semakin bersinar. Maklum, Baghdad adalah ibukota pemerintahan islam “yang sah” saat itu. Dan Madrasah Nidzamiyyah Baghdad seolah menjadi sentralnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia islam. Fatwa-fatwanya bisa mencapai pelosok negeri. Karya-karyanya dibaca dan dikaji dimana-mana. Diusia beliau yang tergolong masih muda, tiga puluh tiga tahun, bisa dikatakan semua sudah diraih Imam Al-Ghazali. Hidup di istana sebagai penasihat perdana mentri Nidzamul Mulk, fasilitas hidup serba mewah, penghormatan setinggi-tingginya, dan menjadi profesor di Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Seperti mimpi, padahal tiga puluh tahun silam, beliau masih hidup dalam kubangan kemiskinan ditengah-tengah keluarga yang nyaris tak memiliki “nama” di Thus. Nama Imam Al-Ghazali segera dikenal sebagai imamnya orang-orang Iraq, setelah sebelumnya dikenal sebagai imamnya orang-orang Khurasan.

Di Baghdad beliau dikenal gigih memperjuangkan Mazdhab Ahlusssunnah Al-Asy’ari dari serangan bermacam-macam ancaman aktual kala itu. Permasalahan akidah kala itu menjadi pembahasan mainstream, dimana semua orang mengaku benar, dan semua orang mengaku yang paling selamat. Selain itu, dalam karyanya, “Tahafut Al-Falasifah” (kerancauan filsafat), Imam Al-Ghazali mempersoalkan keberadaan filsafat sebagi polemik. Jika saja filsafat hanya berkaitan dengan fenomena dunia yang nampak, seperti kedokteran, astronomi, atau matematika, bukan masalah metafisika  yang membahas ketuhanan, maka filsafat akan sangat berguna. Tidak mungkin doktrin emanasi dibuktikkan. Dan anggapan mereka bahwa tuhan terlalu agung untuk tahu hal-hal yang juz’I, partikular, adalah realitas rendah yang tak masuk akal. Akhirnya, menurut beliau filsuf jadi tidak filosofis karena menggali sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Meskipun begitu, sanggahan Imam Al-Ghazali segera mendapat tanggapan dari Ibn Rusydi, ulama Andalusia, yang segera menulis karya tandingan, “Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan KitabTahafut Al-Falasifah). Adu argumen tak terelakkan, ketika konon Imam Al-Ghazali dengan mudah menjawab kitab Ibn Rusydi dengan karyanya “Tahafut Al-Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan kitab Tahafut  Al-Tahafut). Imam Al-Ghazali juga menghadapi konflik internal dalam madzhabnya sendiri. Banyak kalangan yang mencoba menyerang pemikirannya, dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bisa dibaca dalam karya-karyanya, beliau cukup prihatin dengan kondisi sosial kala itu.

Sifatnya yang amat kritis sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya. Ketika akhirnya beliau mulai ditimpa kegalauan yang luar biasa. Keresahan intelektual ini mulai dialami empat tahun setelah beliau tinggal di Baghdad dalam puncak karirnya. Beliau adalah orang yang dirundung nestapa atas ketidak pastiannya kesimpuan-kesimpulan yang beliau hasilkan. Setiap kesimpulan yang beliau rumuskan pada suatu hari, akan beliau klaim salah pada hari yang lain. Semakin dalam beliau menggali pengetahuan, semakin banyak saja hal yang tidak beliau ketahui. Pada awal karirnya, Imam Al-Ghazali percaya pada fakta-fakta indrawi. Tapi tak lama kemudian beliau mempertanyakannya kembali. Kemudian beliau beralih menjadi orang yang percaya dengan logika. Namun akhirnya hal ini dikritik juga. Banyak orang yang menilai pemikiran beliau inkonsisten, ambigu, dan kontradiktif. Tentu saja sulit membaca sepak terjang wawasan Imam Al-Ghazali karena keilmuwannya yang kaya. Banyak sarjana-sarjana modern di timur dan barat banyak yang gagal menyimpulkan benang merah pemikiran beliau. Beliau bukan saja sosok yang misterius bagi banyak orang, namun barangkali juga bagi dirinya sendiri.

Kekecewaan-kekecewaan banyak beliau alami ketika bergelut dalam ilmu kalam dan filsafat. Hingga pada bulan Rajab 488 H, tulis Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz Min Al-Dzalal, selama hampir enam bulan hari demi hai beliau dilanda kebimbangn dan kegalauan luar biasa.

Hingga akhirnya pada tahun yang sama, 1094 M. beliau tidak mampu lagi berbicara sepatah katapun untuk sekedar member kuliah pada murid-muridnya. Imam Al-Ghazali mengalami depresi  klinis, para dokter dengan tepat mendiagnosis adanya konflik batin mendalam dalam jiwanya.

“Aku pernah memaksakan diri untuk mengajar pada suatu hari. Namun lidahku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.” (Al-Munqidz Min Al-Dzalal)

Akhirnya beliau mengambil keputusan yang mencengangkan. Beliau mengundurkan diri dari dunia keilmuan, meninggalkan seluruh pencapaian prestisiusnya, dan memilih mengembara ke Damaskus. Beliau meminta saudara kandungnya, Syaikh Ahmad untuk menggantikan posisi beliau di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih melupakan nama besarnya di dunia intelektual. Babak lain perjalanan Imam Al-Ghazali sudah dimulai. Beliau menyendiri dan beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayah di Damaskus. Untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis, mengunjungi maqam Nabi Ibrahim AS. Disana beliau bernadzar tiga hal, tidak akan lagi menerima harta pemberian apapun dari penguasa, tidak akan pergi menemui penguasa, dan tidak akan lagi berdebat dengan siapapun. Dalam syairnya yang terkenal, Imam Al-Ghazali bersenandung;

تركت هوي ليلي و سعدي بمعزل ><و عدت الي تصحيح أول منزل

ونادت بي الأشواق: مهلا فهذه ><منازل من تهوى رويدك فأنزل

“Aku Pernah tinggalkan Laela dan Su’ada sendiri ditempat terasing. Aku kini pulang, membenahi rumahku yang awal. Kerinduan demi kerinduan memnggilku. Oh, pelan-pelan saja tuan. Inilah rumah-rumah orang yang engkau cinta. Aku singgah….”

Ketika beliau kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Thus. Disini beliau mempertahankan nadzarnya diatas maqam Nabi Ibrahim AS. Untuk tidak mendekati penguasa dengan menolak surat permintaan penguasa Baghdad agar kembali mengajar di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih hidup sederhana di Thus, dengan sebuah lahan miliknya, yang cukup sederhana untuk menghidupi keluarga kecil beliau. Beliau tidak tergiiuar dengan tawaran hidup kaya raya dan mapan dengan menjadi professor di Madrasah Nidzamiyyah.

Ketika menunaikan ibadah haji dan umrah, beliau kembali singgah di Damaskus dan kembali sambil menutup pintu, Imam Al-Ghazali beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayyah. Pada saat inilah, menurut cerita, beliau mengarang master piecenya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Ada yang mengatakan setelah ini beliau singgah di Mesir dan Iskandariyyah, beliau sempatkan, menurut cerita, mengunjungi Maqam Imam Syafi’I dan Imam Muzani. Lalu saat hendak kembali pulang melewati Khurasan, beliau singgah tak berapa lama di Baghdad. Di pondoknya Abi Sa’id Naisaburi dekat Madrasah Nidzamiyyah. Namun bukan dalam rangka kembali mengajar, beliau hanya sempatkan singgah beberapa saat untuk kemudian menuju Khurasan dan pulang ke Thus. Di tanah kelahirannya ini Imam Al-Ghazali membangun “pondok” kecilnya dengan sekitar seratus lima puluh murid, beliau menghabiskan masa-masa akhirnya dengan mengkhatamkan Alquran, mengaji dan kegiatan lain sehingga waktu beliau tak pernah kosong dari hal-hal positif. Beliau kembali menolak dengan beragam alasan ketika datang kembali surat permohonan dari perdana mentri Iraq supaya Imam Al-Ghazali mau mengajar kembali di Madrasah Nidzamiyyah.

Nihayatus sâlik bidâyatuhu. Masa-masa akhir “seseorang” kadang justru adalah kembali mengulangi masa-masa awal yang dulu ia tinggalkan. Hanya saja dengan sikap yang lebih matang.

Disarikan dari kitab Thâbaqât Al-Syafi’iyyah Kubrâ, Pengantar Kitab Al-Bâsith dan Al-Munqidz Min Al-Dzalal.

MARILAH GAPAI RIDLO ALLOH SWT DENGAN BERISTIGHFAR

Manusia dalam beraktivitas sehari-hari kerap melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setiap orang mempunyai potensi yang besar melakukan perbuatan dosa.

Contoh kecil, kesalahan yang sering diperbuat anggota tubuh mata. Dari bangun pagi sampai saat ini, sudah berapa banyak dosa yang diperbuat. Mulai dari ketidaksengajaan melihat sesuatu yang tidak baik hingga sengaja melihatnya. Apalagi dengan ditambah anggota tubuh lain seperti telinga dengan mendengarkan yang tidak bermanfaat, lisan yang salah berucap, hati yang salah persepsi, dan lain-lain. Tapi, dosa-dosa kecil itu dapat dihapus sedikit demi sedikit dengan istighfar atau meminta ampn kepada Allah.

Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw beristighfar kepada Allah tidak kurang dari 70 kali dalam sehari. Hal ini patut menjadi renungan bersama, beliau nabi sekaligus rasul, beliau dijamin surganya oleh Allah dan mendapatkan tingkatan surga tertinggi, bahkan beliau dijamin terjaga dari dosa (ma’shum). Dengan seluruh jaminan tersebut beliau masih menyempatkan diri untuk beristighfar 70 kali setiap hari. Bagaimama dengan orang biasa? Surga atau neraka saja masih belum jelas, bahkan esok akan meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah atau tidak pun masih abu-abu.

Akhlak Rasulullah di atas dapat menjadi teladan bagi siapapun, yakni jika ingin dijaga dari dosa-dosa kecil, maka harus membiasakan diri untuk membaca istighfar. Orang-orang yang selalu beristighfar dan membiasakannya bukan hanya akan dijaga dari dosa-dosa kecil, melainkan cinta Allah juga akan turun kepadanya. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Cinta selalu menuntut pembuktian. Jika seseorang mencintai Allah, dalam ayat tersebut seseorang dituntut untuk membuktikannya dengan mengikuti utusan-Nya, yakni Nabi Muhammad Saw. Begitu banyak hal yang bisa diikuti darinya. Contoh kecil ketika Rasulullah makan, beliau memberikan berbagai macam contoh seperti makan diawali dengan membaca basmalah, menggunakan tangan kanan, mengambil makanan yang dekat dan tidak pernah menjadikan makanan mubadzir (sia-sia). Masih banyak lagi akhlak keseharian maupun ibadah yang dilakukan Nabi Saw yang dapat diteladani oleh para umatnya.

  1. Ali Imran 31 di atas memberikan kesimpulan bahwa jika seseorang serius dalam mencintai Allah, maka buktikan cinta tersebut dengan mengikuti Nabi Muhammad. Jika seseorang serius dalam mencintai Nabi Saw, maka cinta Allah akan diturunkan kepadanya. Kejutan Allah bukan hanya sampai di situ, selain cinta-Nya, Allah juga akan mengampuni dosa-dosanya.

Cinta Allah kepada makhluk-Nya bersanding dengan ampunan-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang sering meminta ampunan kepada Allah maka akan lebih besar potensinya untuk mendapatkan cinta Allah. Beristighfar merupakan salah satu kunci efektif untuk mendapatkan cinta Allah. Lebih hebatnya lagi, bagi orang yang sudah mendapatkan cinta Allah, maka tanpa meminta pun doanya akan dikabulkan. Bukankah jika kita mencintai seseorang, kita akan bersedia untuk melakukan apapun untuknya?

Khasiat atau faedah istighfar tersebut pernah dibuktikan oleh tukang roti pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal. Ketika Imam Ahmad melakukan safar atau perjalanan ke Mesir, Imam Ahmad ingin beristirahat sejenak pada suatu masjid. Karena busananya yang sangat sederhana, orang-orang tidak tahu kalau ia seorang “syaikh” (guru besar). Ketika beliau masuk ke dalam masjid, beliau diusir oleh salah  seorang lelaki. Imam Ahmad berkata kepadanya bahwa ia ingin beristirahat sejenak, tapi lelaki tersebut tetap bersikukuh untuk mengusirnya.

Ketika Imam Ahmad meninggalkan masjid tersebut, sampai di luar dia dipanggil oleh tukang roti di dekat masjid untuk beristirahat di tokonya. Imam Ahmad terkesima dengan akhlak tukang roti tersebut. Tiap mengerjakan apapun dia selalu mengucap istighfar. Karena ingin mengujinya, Imam Ahmad bertanya “Ya Fulan, apa faedahnya istighfar buatmu?”

Tukang roti tersebut menjawab: “Wallahi, selama aku merutinkan istighfar ini, Allah selalu mengabulkan doaku. Hanya satu doa yang belum Allah kabulkan. Saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal sebelum aku meninggal atau beliau yang meninggal lebih dulu.”

Imam Ahmad tekejut bukan main. “Allahu Akbar, rupanya aku diperjalankan oleh Allah jauh-jauh ke Mesir dan diusir dari rumah Allah, hingga sampai di sini gara-gara istighfar-mu,” kata Imam Ahmad.

Sungguh begitu banyak hikmah yang dapat diambil dari kisah-kisah di atas. Membiasakan diri dengan meminta ampunan Allah atau membaca istighfar (Astaghfirullaha-l ‘adhim) dapat menghapus dosa-dosa kecil dan mendapatkan cinta-Nya. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan: “Jika engkau mempunyai permohonan yang cukup banyak dalam waktu yang singkat, cukuplah dengan merutinkan istighfar.”A

KASYAFA ADALAH TERBUKANYA HIJAB ANTARA MAKHLUK DAN TUHANYA

Kasyaf adalah terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal gaib….

Tersebutlah syaikh Abdul Gani Harahap. Tokoh ini hidup jauh sebelum masa revolusi (diperkirakan sekitar 1818). Dia menjadi legenda di kampung halamannya, Baringin, Sipirok, Tapanuli Selatan. Dia juga dikenal sebagai penyebar agama Islam di Baringin. Waliyullah yang dicitrakan sebagai seorang yang gagah dengan kuda putihnya ini menyampaikan Islam hingga ke wilayah Tanjung Balai, Asahan. Tak mengherankan bila murid dan pengikutnya bertebaran di sepanjang Tapanuli hingga Asahan.

Cerita tentang kewaliannya pun mengisahkan, bahwa Syaikh Abdul Gani Harahap memiliki sejumlah karamah. Salah satunya yang hingga kini dikisahkan di kampung itu adalah kisah saat dia berpangkas. Di saat rambutnya yang baru setengah tercukur, dia mendadak mengucapkan, “Terbakar Makkah!”

Lalu, setelah menyuruh tukang pangkas menghentikan mencukur, Tuan Syekh seketika muksa. Beberapa jam kemudian, raganya kembali muncul di tempat pangkas rambut, untuk meneruskan cukurannya. Konon ketika hilang, Syekh Abdul Gani Harahap terbang ke Makkah untuk turut memadamkan api di sana. Dalam sekejap mata dia telah berada di Makkah.

Orang-orang yang beriman tak menampik terjadinya peristiwa yang di luar jangkauan nalar manusia itu, mengingat bahwa Allah adalah Dzat yang serba Maha. Tak seorang pun dapat mengukur kemahaan-Nya itu, termasuk dalam memberikan karunia kepada orang-orang pilihan-Nya.

Apa yang dialami Syekh Abdul Gani, dalam ajaran tasawuf, disebut kasyaf. Kasyaf adalah salah satu bentuk karamah yang dikaruniakan Allah kepada para kekasih­Nya. Kasyaf dapat diartikan terbuka, yakni terbukanya tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Kasyaf juga berarti Allah membukakan bagi seseorang untuk dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui apa yang hendak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dan diketahui oleh orang-orang biasa.

Bagi orang awam, apa yang dilakukan sang Syekh Abdul Gani adalah hal yang aneh dan misterius. Namun, apa yang diucapkannya, ternyata terbukti, dan diketahui belakangan hari. Makkah pada waktu itu memang pernah terbakar. Peristiwa yang tak masuk akal seperti ini pun, pernah terjadi pada diri sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab ra. Ketika itu, menjabat khalifah. Banyak sekali orang menjadi saksi mata. Pada waktu itu, Umar bin Khattab ra tengah melakukan.shalat. Ketika sedang berada di mimbar menyampaikan khutbahnya, tiba-tiba Umar berseru, “Hai, Sariah, hai tentaraku. itu, bukit itu, bukit itu!” Jamaah shalat Jumat geger. Ucapan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan Umar. Beberapa  penilaian miring pun terucap dari mereka. Tetapi, Abdurrahman bin Auf salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, tidak mau gegabah. Dia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka, usai shalat, didatanginya Umar.

“Wahai Amirul mukminin, mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbahmu seraya pandanganmu menatap ke kejauhan?” Tanyanya.

Umar dengan tenang menjelaskan, “Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berteriak, “Bukit itu, bukit itu, bukit itu… ! ”

Setengah tidak percaya, Abdurrahman bin Auf mengerutkan kening, namun dia enggan untuk meneruskan pertanyaannya. Dia lebih memilih untuk mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar, sebab dia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi.

Akhimya, bukti pun datang tanpa dimintanya. Yaitu, manakala Sariah yang dikirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas luka-luka yang diderita oleh mereka. Tapi, mereka datang dengan membawa kemenangan. Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dahsyatnya peperangan yang mereka alami.

“Kami dikepung tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai arah. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat shalat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas,”Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Tiga kali seruan tersebut diulang-­ulang, hingga kami tahu maksudnya. Serta merta kami pun meluncur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni arah depan. Itulah awal kejayaan kami.

Mendengar cerita ini Abdurrahman bin Auf mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Dia berkata, “Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi itu. Sebab, dia dapat melihat sesuatu yang indra kita tidak mampu melacaknya.”

Selain kisah Sayyidina Umar dan Syekh Abdul Gani, malah banyak lagi cerita tentang mukasyafah atau kasyaf Misalnya saja, kisah Abah Anom saat bertemu Khalifah Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Amerika Serikat, Syekh Nadzim Haqqani.

Ketika itu, sekitar tiga tahun lalu, Syekh Nadzim Haqqani bertamu ke Suryalaya. Kunjungan itu dipandu oleh Ketua Dewan Tertinggi Jam’iyah Ahli Thariqah Al Mu`tabarah An-Nahdiliyah, Habib Luthfi bin Yahya Saat itu Syekh Nadzim mengaku mengenal.Abah Anom melalui ilham yang diperolehnya ketika memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Katanya, di tengah kehidupan dunia yang carut marut seperti sekarang masih ada seseorang di Timur yang sangat ikhlas. Siapakah dia? Setelah dirunut, petunjuk itu mengarah kepada seorang ulama sepuh, yang kini usianya baru saja melewati 90 tahun (dalam hitungan kalender Masehi) atau mendekati 100 tahun menurut kalender Hijriah. Setelah pertemuan yang mengharukan itu, terjadilah peristiwa yang sarat dengan bahasa isyarat.

Syaikh Nadzim Haqqani mengeluarkan sebuah peluit kecil. Dia minta agar Abah Anom meniupnya.

“Priiit…!”

Setelah itu gantian Syaikh Nadzim Haqqani, mungkin sebagai makmum meniup pluit tersebut, “Priiiitt… !”

Tak seorang yang tahu apa makna isyarat itu. “Saya juga tidak tahu. Tapi mungkin maksudnya sebagai ikrar bersama untuk tetap teguh berjalan di atas kebenaran Allah,” kata Kyai Zaenal, yang bertindak sebagai penerjemah.

Dalam pertemuan itu juga muncul sebuah isyarat yang luar biasa, yakni ketika Syekh Nadzim Haqqani, dalam Bahasa Inggris, berkata, “Sesungguhnya kami tidaklah memerlukan penerjermah. Sebab apa yang saya kemukakan sesungguhnya sudah dimengerti oleh Abah Anom, karena sebelumnya kami.. sudah berkomunikasi secara spiritual. Biar pun Abah tertunduk seperti itu, sebenamya beliau tidak tidur, tapi dapat mendengarkan dengan baik.”

Kasyaf atau mukasyafah adalah buah dari zuhud. Zuhud membawa kita melintas alam syahadah, nyata, dan memasuki alam gaib. Dengan menggunakan istilah para sufi, zuhud mengantarkan kita pada alam mukasyafah. Namun, sesungguhnya kasyaf bukanlah tujuan para sufi. “ilmu” ini merupakan akibat dari kondisi psikologis para sufi yang amat mencintai Allah SWT. Menurut para sufi, kasyaf adalah karunia Allah sebagai pemberian kepada hamba-Nya, dia tidak bisa diperoleh lewat usaha dan latihan.

Bagi para waliyullah, hal-hal kasyaf sebenamya telah dijanjikan Allah seperti yang termaktub dalam hadits Qudsi, yang artinya, “Orang yang mendekatkan diri kepada-Ku, mengerjakan yang fardhu dan yang sunnah, sehingga Aku cinta kepada mereka dan Aku menjadi penglihatan mereka.”

Kasyaf Para wali Allah ini ada beberapa macam. Pertama, kasyaf mata. Mata dapat melihat alam mawaraulmaddah atau disebut juga alam gaib. Mata dapat melihat perkara-­perkara yang tidak dapat dilihat manusia biasa seperti malaikat, jin, dan setan. Kasyaf inilah yang menjadikan orang seperti Sayyidina Umar bin Khattab ra, dapat melihat apa yang sedang terjadi pada Sariahnya (Pasukan), dan Syaikh Abdul Gani Harahap yang dapat melihat Makkah terbakar.

Kedua, kasyaf telinga, yang disebut juga hatif. Seseorang yang dianugerahi kasyaf semacam ini dapat mendengar suara­-suara gaib, tetapi tidak melihat wujudnya. Misalnya, suara jin, malaikat,.atau sesama waliyullah. Suara.itu adakalanya membawa berita gembira, adakalanya sebaliknya. Tujuannya ialah, Allah hendak menghibur orang yang mendapatkannya. Kalau itu berita gembira, sang waliyullah akan gembira. Dan kalau berita duka, juga akan mengembirakannya, karena dia tahu terlebih dahulu, sehingga bisa menyiapkan diri dalam menghadapi ujian tersebut.

Ketika, kasyaf mulut. Allah memberi kelebihan seseorang dari ucapannya, Seperti doanya makbul, atau apa yang dia ucapkan akan terjadi. Dengan ucapannya itu, sang waliyullah berdakwah, mengajar, dan memberi nasihat. Dan dengan ucapannya pula, dia dapat mengubah hati seseorang. Karamah seperti ini biasanya dikaruniakan,. kepada pemimpin dan para juru dakwah.

Keempat kasyaf akal. Seorang waliyullah mendapat berbagai macam ilmu tanpa harus belajar, membaca, dan sebagainya, ilmu ini disebut juga ilmu laduni.

Kelima, kasyaf hati, dinamakan juga firasat. Inilah  “kasyaf” yang tertinggi di antara “kasyaf-kasyaf” yang disebutkan tadi. Biasanya dikaruniakan kepada pemimpin, itu pun tidak banyak, karena Allah mengaruniakan hanya kepada pemimpin yang sangat shalih, sabar dalam menanggung ujian yang begitu berat. Kasyaf hati ialah rasa hati atau gerakan hati yang tepat lagi benar. Dia juga dapat membaca hati atau pikiran seseorang.

Nabi bersabda, “Hendaklah kamu takut terhadap firasat orang mukmin, karena dia melihat dengan pandangan Allah.” Apa yang dimaksudkan dengan firasat oleh Rasulullah SAW ini adalah kasyaf hati.

BIOGRAFI ATAU MANAQIB SYAIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AT TIJANY RA.

Syekh Ahmad al-Tijani (1150-1230 H, 1737-1815 M) dikenal di dunia Islam melalui ajaran thariqat yang dikembangkannya yakni Thariqat Tijaniyah. Untuk mengetahui kehidupan Syekh Ahmad al-Tijani, Penulis menelusurinya melalui Kitab-kitab yang memuat kehidupan dan ajaran Syekh Ahmad al-Tijani terutama kitab-kitab yang di tulis Khalifah Syekh Ahmad al-Tijani diantaranya kitab Jawahir al-Ma`ani (Mutiara-mutiara Ilmu). tulisan Syekh Ali Harazim.

Dalam kitab-kitab yang menulis kehidupan Syekh Ahmad al-Tijani, disepakati bahwa Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-jazair. Mengenai tanggal kelahirannya sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Secara geneologis Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw.

Nama al-Tijani diambil dari suku Tijanah yaitu suatu suku yang hidup di sekitar Tilimsan, Aljazair; dari pihak ibu, dan Syekh Ahmad al-Tijani berasal dari suku tersebut. Keluarga Syekh Ahmad Al-Tijani adalah keluarga yang dibentuk dengan tradisi taat beragama. Dikatakan, bahwa ayah Syekh Ahmad al-Tijani adalah seorang ulama yang disiplin menjalankan ajaran agama. Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia balig dinikahkan oleh ayahnya. Sejak usia berapa tahun beliau menikah? Dalam kitab-kitab yang menulis riwayat hidup Syekh Ahmad al-Tijani tidak dijelaskan. Namun apabila dihubungkan dengan tahun meninggal kedua orang tuanya, mereka meninggal berturut-turut pada tahun yang sama yakni tahun 1166 H. Diduga beliau nikah antara usia 15-16 tahun, sebab beliau lahir pada tahun 1150 H. Dari hasil pernikahannya beliau mempunyai dua orang putra yakni Muhammad al-Habib dan Muhammad al-Kabir yang kelak secara berturut-turut memimpin zawiyah (pesantren Sufi yang beliau dirikan). Mengenai tempat meninggalnya, dalam kitab-kitab yang menulis Syekh Ahmad al-Tijani, disepakati bahwa beliau wafat di kota Fez Maroko. Hal ini bisa dimengerti karena sebagaimana akan dilihat nanti, di kota ini Syekh Ahmad al-Tijani mempunyai kesempatan untuk mengembangkan ajarannya dengan dukungan penguasa. Dengan demikian tidak ada alasan bagi beliau untuk meninggalkan Maroko. Sebagaimana tempat wafatnya, tahun wafatnya pun disepakati, yakni beliau wafat pada tahun 1230 H., dengan demikian beliau wafat dalam usia 80 tahun, karena beliau lahir pada tahun 1150 H. Demikian juga mengenai hari dan tanggal wafatnya, disepakati bahwa beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal dan dimakamkan di kota Fez Maroko.

Landasan dan Rumusan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani

Dasar-dasar tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani di bangun di atas landasan dua corak tasawuf, yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Dengan kata lain, Syekh Ahmad al-Tijani menggabungkan dua corak tasawuf, dimaksud dalam ajaran thariqatnya. Pengkajian menyangkut tasawuf falsafi, bukan sesuatu hal yang sederhana, sebab pengkajian ini sudah masuk dalam wilayah pemikiran; dan kaum thariqat, terlebih ummat Islam pada umumnya yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memasuki wilayah ini sangat terbatas. Keterbatasn ini, ditunjukan dalam sejarah pekembangan pemikiran Islam khusunya bidang tasawuf, banyak ummat Islam, menilai, bahwa tasawuf falsafi dianggap sebagai pemikiran yang menyimpang dari ajaran syari’at Islam. Dasar-dasar tasawuf falsafi yang dikembangkan Syekh Ahmad at-Tijani adalah tentang maqam Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah dan rumusan wali Khatam. Dua hal ini telah dibahas oleh sufi-sufi filusuf, seperti al-Jilli, ibn al-Farid dan ibn Arabi. Tentang pemikiran sufi-sufi ini, Syekh Ahmad al-Tijani mengembangkan dalam amalan shalawat wirid thariqatnya, yakni : shalawat fatih dan shalawat jauhrat al-Kamal. Konsep dasar haqiqat al-Muhammadiyyah ini disamping kontroversial, ia juga complicated. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan apabila Syekh Ahmad al-Tijani memberikan “aba-aba” kepada setiap orang, termasuk muridnya yang ingin memasuki secara lebih jauh tentang diri dan thariqatnya. Untuk itu Syekh Ahmad al-Tijani menegaskan

“Apabila kamu mendengar apa saja dariku, maka timbanglah ia dengan neraca (mizan) syari’at. Apabila ia cocok, kerjakanlah dan apabila menyalahinya, maka tinggalkanlah”Menurut KH. Fauzan, penegasan Syekh Ahmad al-Tijani ini merupakan pertanggung jawaban yang terbuka, lapang dada dan menyeluruh terhadap ajaran yang dikembangkannya, Sedangkan KH. Badruzzaman melihat bahwa penegasan Syekh Ahmad al-Tijani tadi menunjukan pertaggung jawabannya bahwa segala sesuatu yang diungkapkannya mempunyai dasar-dasar syari’at. Hemat penulis, penegasan Syekh Ahmad al-Tijani di atas dilatar belakangi dua hal : Pertama; Ia sendiri menyadari banyak ungkapan-ungkapan pengalaman spiritual dan fatwanya, akan sulit dijangkau oleh pemahaman masyarakat umum. Untuk itu, beliau menekankan untuk senantiasa mengembalikan kepada tatanan dasar syair’at. Dengan kata lain, secara terbuka dan tegas ia mengharuskan setiap orang yang akan meneliti ajarannya untuk senantiasa terlebih dahulu memahami petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw., secara menyeluruh dan mendalam. Kedua; Penegasan tersebut, dikarenakan “kekhawatirannya”, akan terjadi salah atau kurang tepat dalam memahami pengalaman spiritual dan fatwanya-fatwanya, sehingga tidak sesuai atau salah alamat dari apa yang dimaksudkan oleh dirinya. Kekhawatiran ini, didasarkan atas upaya penggabungan dua corak tasawuf yang dirumuskan dalam bentuk bacaan thariqatnya sebagai mana telah disebutkan. Sejak abad ke- Hijri, ajaran tasawuf terpisah menjadi dua corak yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang dalam sejarah perkembangannya masing-masing mempunyai metode tersendiri. Sebagai wali yang mengaku memperoleh maqam wali khatm, al-Quthb al-Maktum, ia menyatukan kembali dan atau mengutuhkan kembali dua corak tasawuf tersebut. Hemat penulis, disinilah keunggulan Syekh Ahmad al-Tijani. Dan diduga peran inilah yang dimaksud dengan ungkapannya : “Dua kakiku ini di atas tengkuk semua Waly Allah Swt.”

Agaknya, hal tersebut di atas, sangat diantisipasi oleh KH. Badruzzaman, ia menegaskan, bahwa dalam melihat dan memahami fatwa-fatwa Syekh Ahmad al-Tijani, senantiasa harus melihatnya melalui petunjuk al-Qur’an dan sunnah secara menyeluruh dan mendalam, lahiriyah dan batiniyah. Penegasan KH. Badruzzaman ini, didasarkan atas pengalaman dirinya dalam menganalisis Syekh Ahmad al-Tijani dan Thariqatnya; dimana sebelum merintis pengembangan ajaran thariqat tijaniyah, ia adalah “penentang yang gigih” terhadap thariqat ini. Landasan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani, sebagai mana telah dijelaskan membangun rumusan tasawufnya. Ada dua rumusan tasawuf yang dikemukakannya.

:

  1. Tentang definisi tasawuf; menurut Syekh Ahmad al-Tijani, tasawuf adalah :

“Patuh mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik lahir maupun batin, sesuai dengan ridha-Nya bukan sesuai dengan ridha’mu”. Melalui rumusan definisi di atas, Syekh Ahmad al-Tijani ingin menunjukan bahwa pada dasarnya, ajaran tasawuf merupakan pengamalan syari’at Islam secara utuh, sebagai sarana menuju Tuhan dan menyatu dalam kehendak-Nya. Keterpaduan dalam tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani antara amaliah lahir dan amaliah batin, adalah sebagai wujud pengamalan syari’at Islam secara keseluruhan. Sebab pada bagian lain ia menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah : “Ilmu yang terpaut dalam qalbu para wali yang bercahaya karena mengamalkan al-Qur’an dan sunnah.

Sejalan dengan pendapat ini, al-Tusturi (w. 456 H.) mengatakan bahwa ilmu tasawuf dibangun melalui kekuatan keterikatan terhadap Qur’an dan Sunnah. Sebagai wujud keterikatan Syekh Ahmad Al-Tijani dan thariqatnya terhadap syari’at, ia mengatakan bahwa syarat utama bagi orang yang mau mengikuti ajarannya adalah memelihara shalat lima waktu dan segala urusan syari’at. Dalam mengomentari landasan tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani, Muhammad al-Hapidz dalam ahzab wa awrad, mengatakan: “Landasan pokok Thariqat Tijaniyah yang menjadi asas penopangnya adalah menjaga syari’at yang mulia, baik ilmiyah maupun alamiyah”Sedangkan KH. Badruzzaman, mengatakan bahwa landasan pokok Thariqat tijaniyah adalah memelihara syari’at yang mulia baik yang berhubungan dengan amaliah kalbu seperti khusyu (khusyuk), ikhlas (ikhlas) dan tawadha (rendah hati).

  1. Tentang penegasan ajaran tasawufnya Sebagai wujud penekanan keterikatan ajarannya terhadap syari’at, Syekh al-Tijani menegaskan bahwa patokan utama pengembangan ajarannya adalah al-Qur’an dan sunnah. Lebih tegas ia menyatakan : “Kami hanya mempunyai satu pedoman (Kaidah) sebagai sumber semua pokok persoalan (ushul), bahwasanya tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada ibarat dalam hukum kecuali firman Allah swt., dan sabda Rasul-Nya. Penekanan Syekh Ahmad al-Tijani ini, dimaksudkan untuk menegaskan keterikatan ajarannya terhadap syari’at (al-Qur’an dan sunnah). Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H. di Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko. Dari keluarga besar/Kabilah Tijan. Kabilah ini banyak melahirkan ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh. Dari garis ayah adalah Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad Salim bin Al ‘id bin Salim bin Ahmad Al-‘Alwani bin Ahmad bin Ali bin Abdulloh bin Al-Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Ishaq bin Ali Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad An-Nafsiz Zakiyah bin Abdulloh bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan As-Sibthi bin Ali bin Abi Tholib dan Sayyidah Fatimatuzzahra binti Rasulullah Muhammad SAW. Dari garis ibu adalah Ahmad binti Sayyidah Aisyah binti Abu Abdillah Muhammad bin As-Sanusi At-Tijani Al-Madhawi. Keabsahan silsilah ini berdasarkan beberapa keterangan garis keturunannya secara turun temurun. Juga dinyatakan langsung oleh Rasululloh SAW: “Engkau benar-benar anakku (Anta waladi haqqan). Nasabmu melalui Hasan bin Ali adalah shahih.” Kedua orang tuanya mengasuh dengan didikan beberapa etika sunah, rahasia syari’at dan cahaya kebenaran. Sehingga masa kecilnya sangat terjaga. Beliau pun tumbuh dalam kebesaran akhlak muhammadiyah. Pada umur 7 tahun telah hafal Alqur’an dalam qira’at Imam Nafi’ dengan baik di bawah bimbingan gurunya, Sayid Muhammad bin Hamawi At-Tijani. Seorang guru yang alim dan terkenal keshalehan serta kewaliannya. Al-Hamawi terkenal sebagai pendidik anak-anak di Ain Madhi. Diceritakan bahwa Sayid Muhammad bin Hamawi mimpi bertemu Allah SWT dan membaca Alqur’an dalam Qira’at Imam Warasy sehingga khatam. Allah SWT berfirman kepadanya: “Demikianlah Alqur’an diturunkan.” Beliau meninggal pada tahun 1162 H. Pendidikannya dilanjutkan dengan mempelajari beberapa ilmu yang bermanfaat. Seperti: Ilmu Usul, Furu’ dan Adab. Orang tua Syeikh Ahmad sangat mempercayakan pendidikan masa kecil Syeikh kepada Al-Hamawi. Syeikh banyak mempelajari cabang ilmu dari Al-Hamawi. Dengan kecerdasannya Beliau cepat menguasai beberapa ilmu dengansempurna.

           Di samping Al-Hamawi, Syeikh Ahmad menyelesaikan Al-Mukhtasor karya Imam Kholil, Ar-Risalah karya Ibnu Rusyd dan Al-Muqaddimah karya Imam al-Akhdhari dari gurunya yang lain, Sayid Al-Mabruk bin Bu Afiyah At-Tijani. Tahun 1166 H. kedua orang tuanya meninggal pada hari yang bersamaan, karena penyakit tho-un/lepra yang mewabah. Yaitu ketika Syeikh Ahmad berumur 16 tahun. Dalam usia yang relatif muda, Syeikh telah menunjukkan kelebihannya dan keluasan ilmunya. Dunia ilmu pendididikan terus dijalaninya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Syeikh tetap aktif dalam membaca ilmu, mengajar, menulis dan memberi fatwa. Pada tahun 1171 Syeikh mulai memasuki dunia sufi. Dalam salah satu fatwanya Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Dalam nash syara’ hanya diterangkan kewajiban tiap orang untuk memenuhi beberapa hak Alloh secara penuh, lahir dan batin. Tanpa adanya alasan apa pun. Tidak ada alasan apa pun untuknya dari hawa nafsu dan kelemahannya. Dalam syara’ hanya mewajibkan hal tersebut dan mengharamkan lainnya. Karena adanya siksa. Tidak ada kewajiban mencari guru selain guru ta’lim yang mengajarkan tata cara perkara syara’ yang dituntut untuk dilaksanakan seorang hamba. Baik berupa perintah yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ditinggalkan. Tiap orang bodoh harus mencari guru ini. Tidak ada keluasan atau alasan meninggalkannya. Ada pun guru-guru lainnya setelah guru ta’lim tidak ada kewajiban mencarinya menurut syara’. Akan tetapi wajib mencarinya dari sisi nadhar. Seperti halnya orang yang sakit dan kehilangan kesehatannya. Apabila dia keluar untuk mencari kesembuhannya, maka mencarinya adalah wajib. Kami katakan wajib mencari dokter yang ahli dalam mendiagnosa penyakit, asalnya, obatnya, cara memperolehnya.

Jawaban Syeikh ini memberikan kejelasan dalam masalah pencarian guru. Karena sebagian ulama telah mengatakan bahwa meninggalkan pencarian terhadap guru tarbiyah dianggap maksiat.

Dari sini dapat diketahui bahwa masuknya Syeikh dalam dunia sufi tidak dikarenakan mengikuti kebanyakan manusia yang dilakukan zaman sekarang. Mereka memasuki sebuah jalan tujuan, tanpa adanya pertimbangan berdasarkan pengetahuan tentang sesuatu yang sedang mereka masuki. Mereka memasuki jalan tidak lebih karena anggapan sebagian orang yang menilainya dengan keindahan luarnya belaka. Syeikh memasuki dunia sufi berdasarkan pemikiran dan pengetahuan pada sesuatu yang dikehendakinya dan memantapkannya. Sebagai bukti seorang murid (pencari kebenaran) yang shadiq. Murid yang mengetahui keagungan Rububiyah dan hak-hak Ilahiyah. Mengetahui bagian yang ada dalam dirinya, berupa kelemahan, kemalasan, menyukai kenikmatan, dan meninggalkan amal shaleh. Di mana jika keadaan itu terus ada dalam dirinya akan menyebabkannya tidak dapat memperoleh puncak tujuan dunia-akhirat. Itu pun dilakukan setelah menguasai cabanng-cabang ilmu. Pengetahuannya membawa dirinya untuk segera kembali dengan tekad, semangat dan kemantapan; mencari seorang yang dapat membuka belenggu syahwatnya dan menunjukkannya kepada jalan untuk sampai ke hadapan Robnya.Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani berkata: “Ini adalah ciri murid shadiq (pencari kebenaran sejati). Adapun lainnya hanya murid thalib atau pencari biasa. Terkadang dia dapat mendapatkan hasil. Terkadang tidak mendapatkan apa-apa.” Oleh karenanya sebagian ulama mengatakan bahwa setiap orang yang awalnya kokoh, maka akhirnya akan sempurna.

Menginjak usia 21 tahun Syeikh melakukan berbagai kunjungan ke beberapa daerah di Fas. Melakukan banyak diskusi dengan beberapa ahli kebaikan, agama, rehabilitasi jiwa, dan penemu kebahagian hakiki. Lawatan itu mengantarkannya ke Gunung Zabib dan bertemu dengan seorang wali kasyaf yang memberikan isyarat agar kembali ke negeri atau daerahnya, yaitu Ain Madhi. Wali tersebut memeberitahukan akhir kedudukan yang akan dicapainya. Tanpa harus menetap di daerah lain. Kemudian Syeikh segera kembali ke daerahya. Orang yang paling banyak mewarnai corak kehidupan Syeikh adalah Sayid Abdul Qadir bin Muhammad. Seorang kutub yang tinggal di ‘negeri putih’ (Baladul Abyadh) Shahara Dzar. Daerah ini agaknya tidak jauh di Ain Madhi. Karena di sela-sela pengabdiannya, Syeikh sering pulang ke rumahnya. Syeikh menetap di Zawiyahnya 5 tahun untuk menuntut ilmu, mengajar dan beribadah. Selanjutnya Syeikh tetap tinggal di Ain Madhi sesuai dengan petunjuk wali kasyaf di Gunung Zabib.

Di antara beberapa guru yang ditemui Syeikh dalam perjalanan ke Fas dan sekitarnya adalah wali kutub yang terkenal, Maulana Ahmad As-Shaqali Al-Idrisiyah, salah seorang ternama dalam Thariqat Khalwatiyah di Fas. Dalam pertemuannya ini As-shaqali tidak banyak melakukan pembahasan. Syeikh pun tidak mengambil apa pun darinya. Kemudian Syeikh bertemu dengan Sayid Muhammad bin Hasan Al-Wanjali. Salah seorang wali kasyf di sekitar Gunung Zabib. Ketika bertemu, sebelum mengucapkan apa pun, Al-Wanjali berkata kepada Syeikh Ahmad Attijani:

“Dirimu pasti akan menemukan kedudukan al-quthbul kabir Maulana Abil Hasan.”

Agaknya Al-Wanjali merupakan salah seorang tokoh dari Thariqat Syadziliyah. Karena isyarat yang diberikan olehnya menunjukkan bahwa Syeikh akan mencapai kedudukan Abil Hasan Asy-Syadzili. Menurut Al-Wanjali perjalanan yang telah ditempuh oleh Syeikh dari daerahnya (Ain Madhi) sampai ke Fas Al-Idrisiyah dan beberapa daerah Maghribi lainnya untuk mencari seseorang yang dapat mengantarkannya kepada Makrifat Billah adalah bukti kehendaknya untuk mencapai keinginan tersebut. Al-Wanjali banyak menyingkap rahasia yang tersimpan dalam diri Syeikh dan memberitahukan kedudukan yang akan diperolehnya. Meskipun tidak mengambil wirid dari Al-Wanjali, akan tetapi penyingkapan yang telah disampaikannya memiliki andil dalam memperkuat cita-cita Syeikh. Sehingga akhirnya semua itu menjadi kenyataan. Al-Wanjali meninggal sekitar tahun 1185 H.

Wali Kutub lain yang ditemui Syeikh adalah Maulana At-Thayib bin Muhammad bin Abdillah bin Ibrahim Al-Yamlahi. Sejarah hidup keluarganya sangat terkenal dan banyak ditulis oleh para pengikutnya sebagai orang besar di Fas. Legenda keluarganya secara beberapa generasi telah memperoleh kedudukan kutub. Maulana At-Thayib mewarisi kekhilafahan para pendahulunya dalam memberikan petunjuk kepada manusia di jalan Alloh dan kesempurnaan makrifatnya. Ia menjadi khalifah menggantikan saudaranya Maulana At-Tihami yang menggantikan Sayid Muhammad yang menggantikan Maulana Abdulloh. Diceritakan bahwa Maulana Abdulloh (w. th. 1089 H.), kakek At-Thayib adalah orang pertama yang menetap di Wazin. Agaknya keluarga At-Thayib secara turun-temurun memegang Thariqat Jazuliyah. Hal ini terbukti bahwa kakeknya telah berkhidmah kepada Ahmad bin Ali Ash-Sharsori, salah seorang tokoh Thariqat Jazuliyah. Ciri pokok tarekat ini adalah dengan memperbanyak shalawat. Ayah At-Thoyib, Sayid Muhammad yang juga mencapai kedudukan kutub mengatakan: “Seseorang tidak akan memperoleh derajat tertinggi, melainkan dengan banyak membaca shalawat kepada Nabi SAW.” Sayid Muhammad meninggal pada Malam Jum’at, tanggal 29 Muharam 1120 H.

Dalam pertemuannya dengan Ath-Thayib Syeikh mengambil wirid darinya. Bahkan dalam ijazahnya, At-Thayib telah memberikan izin kepada Syeikh untuk memberikan talkin pada orang yang hendak mengambil wiridnya. Akan tetapi Syeikh menolak hak talkin tersebut karena pada saat itu masih mempunyai cita-cita sendiri dan belum berminat untuk memegang salah satu jenisnya. Di sini Syeikh menunjukkan ketinggian cita-citanya berdasarkan asal fitrahnya. Di samping itu Syeikh belum mengetahui akhir kedudukannya pada waktu tersebut. At-Thayib adalah salah satu guru yang diakui oleh Syeikh pada awal perjalannya. Beliau wafat pada Hari Ahad, Bulan Rabiuts Tsani, tahun 1181 H. Selanjutnya, Syeikh bertemu dengan Sayid Abdulloh bin Al-Arabi bin Ahmad bin Muhammad bin Abdulloh Al-Andalusi di Fas. Thariqatnya bercorak Isyrak (konsep cahaya). Pertemuan ini banyak memperbincangkan beberapa masalah. Meskipun tidak mengambil sesuatu darinya, Al-Arabi memberikan doa yang sangat berarti dalam perjalanan Syeikh selanjutnya. Al-Arabi mendoakan kebaikan dunia dan akhirat dan pada akhir perjumpaannya berkata: “Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu (menolongmu). “Alloh akan menuntun tanganmu(menolongmu).”

Al-Arabi wafat pada tahun 1188 H. Syeikh juga pernah mengambil Thariqat Qadiriyahnya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani di Fas dari seseorang yang mempunyai izin untuk mentalkinkannya. Hanya saja kemudian ditinggalkan. Thariqat lainnya yang pernah diambil oleh Syeikh adalah Thariqat Nashiriyah dari Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah An-Nazani. Tidak berapa lama thariqat ini pun ditinggalkan. Kemudian Thariqat Sayid Muhammad Al-Habib bin Muhammad, seorang kutub yang masyhur dengan Al-Ghamari As-sijlimasi Ash-Shadiqi (w. th. 1165 H.) melalui orang yang telah mendapatkan izin. Thariqat ini pun ditinggalkan. Selanjutnya Syeikh mengambil ijazah dari Tokoh Malamatiyah, Sayid Abul Abbas Ahmad Ath-Thawas di Tazah. Ath-Thawas mengajarkan salah satu isim (nama ilahi) kepadanya dan berkata:

“Tetaplah khalwat, menyendiri dan dzikir. Sabarlah, sehingga Alloh memberikan futuh kepadamu. Sesungguhnya dirimu akan memperoleh kedudukan yang agung.”

           Perkataan At-Thawas agaknya tidak ditanggapi oleh Syeikh Ahmad Tijani, sehingga ia mengulangi perkataannya: “Tetapkanlah dzikir ini dan abadikan, tanpa harus kholwah dan meyendiri. Maka Alloh akan memberikan futuh kepadamu atas keadaan tersebut.”

Perkataan At-Thawas yang kedua ini tidak banyak dikutip. Justeru perkataan pertama yang banyak ditulis. Padahal perkataan yang kedualah yang menunjukkan pokok dasar pemikiran Syeikh At-Tijani yang kemudian menjadi ciri utama Thariqatnya. Di samping itu, Ath-Thawas juga memberikan isyarat dari kedudukan yang akan diperoleh Syeikh. Beliau melakukan dzikir tersebut tidak lama, kemudian meninggalkannya. At-Thawas meninggal pada tanggal 18 Jumadil Ula 1204 H di Tazah. Dalam proses pencarian ini, Syeikh banyak mengetahui beberapa aliran Thariqat dan mengamalkannya. Meskipun kemudian tidak diteruskan. Karena adanya Inayah Robbaniyah untuk menolaknya dan tidak mengambilnya. Kecuali dari Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sebagai kekhasan seorang yang mempunyai cita-cita tinggi.

Sebagaimana telah diterangkan terdahulu, bahwa setelah melakukan lawatannya ke Fas, Syeikh menetap di Zawiyahnya Sayid Abdul Qadir bin Muhammad di Shahara Dzar, tidak jauh dari Ain Madhi. Sebagaimana petunjuk yang diperoleh sebelumnya. Bahwa futuhnya akan diperoleh di sana.

Syeikh memasuki Tunisia pada tahun 1180 H. Di daerah Azwawi, Al-Jazair Syeikh menemui seorang guru besar yang arif, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrohman Al-Azhari. Syeikh mengambil Thariqat Khalwatiyah darinya. Al-Azhari meninggal pada permulaan Muharam tahun 1180 H. Selanjutnya Syeikh menuju ke Tilmisan pada tahun 1181 dan menetap di sana. Syeikh mengabdikan dirinya dengan ibadah dan membaca ilmu. Terlebih Ilmu Hadits dan Tafsir. Syeikh terus-menerus melakukan taqarrub dengan bertawajjuh pada keagungan rububiyah dengan menyatakan ke-shidiq-an ubudiyahnya. Memberikan kemanfaatan kepada manusia dengan keluasan ilmunya. Sehingga mulai terlihat kefutuhan yang membuka beberapa hijab yang menghalangai antara seorang hamba dan Alqudus (Alloh). Syeikh menyatakaan hijab yang tersingkap adalah 165.000 hijab. Maka batinnya dipenuhi oleh cahaya Tauhid dan Irfan.

Setelah memperoleh banyak penyingkapan di Tilmisan Syeikh pergi melaksanakan haji dan ziarah kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh berangkat dari Tilmisan pada tahun 1186 H.

Dalam perjalanannya Syeikh berhenti di Tunisia dan menetap di Susah, selama setahun. Syeikh berjumpa dan bersahabat baik dengan seorang wali yang terkenal, Sayid Abdus Shamad Ar-Rahawi, salah seorang dari 4 murid wali kutub negeri tersebut. Wali kutub itu sendiri tidak dapat ditemui oleh siapa pun, kecuali seorang di antara 4 orang muridnya. Pertemuan tersebut hanya dilakukan pada malam hari, khususnya Malam Jum’at dan Senin. Hal itu disebabkan untuk menutupi kedudukannya. Syeikh meminta supaya Sayid Abdus Shamad berkenan mempertemukan dan mengenalkannya. Yang pada akhirnya Beliau pun dapat berjumpa dengannya.

Thariqat Tijaniyah adalah Thariqat yang dikembangkan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad. Mengambil dari nama kabilahnya. Thariqat ini juga masyhur dengan nama Thariqat Al-Muhammadiyah. Thariqat ini diterima langsung dari Rasululloh SAW dalam keadaan jaga. Bukan dalam keadaan tidur. Memang sebelum mendapatkan ijazah langsung dari Rasululloh SAW, Syeikh Ahmad pernah mengambil beberapa jalur Thariqat dari beberapa Syeikh lain. Seperti Thariqat Khalwatiyah dari Abi Abdillah bin Abdur Rahman Al-Azhari.

Pada usia 46 tahun (tahun 1196 H.), Beliau dianugerahi berjumpa dengan Rasululloh SAW dalam keadaan Yaqdhah (terjaga). Dan sejak saat itu Rasululloh SAW selalu mendampinginya dan tidak pernah hilang dari pandangannya. Keadaan inilah yang disebut dengan Al-Fathul Akbar (terbukanya tirai yang menghalangi antara seseorang dan Rasululloh). Rasululloh SAW selalu membimbing Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani dan memerintahkan kepada Syeikh untuk meninggalkan sandaran kepada guru-gurunya. Karena gurunya sekarang adalah Rasululloh SAW secara langsung. Sehingga Beliau selalu berkata dengan menyandarkannya kepada Rasululloh SAW. Ketika itu, Rasululloh SAW mentalkin (mengajarkan) dzikir/wirid berupa Istighfar dan Shalawat. Masing-masing dibaca 100 kali. Pengajaran dzikir ini disempurnakan oleh Rasululloh SAW pada tahun 1200 H. dengan tambahan Hailalah 100 kali. Dzikir inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW untuk disebarluaskan dan diajarkan kepada seluruh umat manusia dan jin. Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang Arafah, Makah Al-Mukaramah.

Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Faz, Maroko, tahun 1230 H.

Kitab Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi.

 

CINTA DALAM PERSPEKTIF SUFI DAN ULAMA ULAMA TASAWUF

 Kitab Risalatul Qusyairiyah hal 317

قال الاستاذ القشيري : المحبة حالة شريفة شهد الحق سبحانه بها للعبد وأخبر عن محبته للعبد، فالحق سبحانه يوصف بأنه يحب العبد، والعبد يوصف بأنه يحب الحق سبحانه … ويفسر الأستاذ القشيري المحبة في هذا الموضع بالإرادة، وعلى هذا الأساس فمحبة الله تعالى للعبد إرادته الخير له، ورحمته به وإنعامه عليه.

Berkata syeikh qusyairiy :

Mahabbah adalah tingkat keadaan yang mulia,Allah menyaksikan kecintaannya langsung kepada hambanya,dan Allah akan menyaksikan kepada hamba yang lain akan kecintaanNYA kepada hambaNYA.Allah mensifati,bahwa Allah mencintai hambanya,dan si hambaNya sangat mencintaNYA.

Syeikh qusyairiy memerikan penafsiran atas kata mahabbah disini dengan “irodah/kehendak”.Artinya jika Allah mencintai hambaNYA,maka hamba tersebut diberikan kehendak dan keinginan untuk menjalankan kebaikan dan amal sholeh,dan Allah merahmatinya serta memberikan ni’mat kepadanya.

MAHABBAH ATAU CINTA MENURUT ULAMA TASAWUF

>Sufyan ats-tsauri: mengikuti perilaku Rasulullah SAW.

>Al-junaid al baghdadi: Allah menghalangi atas orang yg hatinya ada fikiran dunia.

>Dzun nun al-misry: berkatalah kepada orang yg cinta pada Allah “takutlah kamu direndahkan karna mencintai selain Allah”.

>As-sybli: orang ma’rifat apabila berbicara maka binasa, begitu pula orang yg cinta bila berdiam juga binasa.

>Rabiah al-adawiyah: barangsiapa yg menunjukkan pada kekasihku (Allah).

>Pembantu rabiah: kekasihku ada bersamaku, namu dunia telah memutuskannya.

>Ibn jala’: Allah memberi wahyu pada Musa as, “sungguh ketika aku memberi tahu akan rahasia pada seorang hamba, maka aku tak menemukan kecintaan pada dunia dan akhirat krn telah penuh kecintaannya padaKU dan penjagaanKU”.

>Ibrahim bin adham: ya Allah, sungguh engkau mengengetahui bahwa surga tak terbesit padaku sesayap lalat pun, engkau memulyakanku dg mencintaiMU, dan membahagiakanku dg mengingatMU, dan memberi waktu agar tafakur pada keagunganMU.

>As-sariy: barangsiapa cinta Allah maka dia hidup, bila cinta dunia maka akan keras (hatinya), dan orang bodoh tiap pagi-sore selalu bergantung pada dunia, dan orang pandai bila mengetahui celanya akan lari darinya.

>Abu yazid al-bustomi: seorang pecinta tak akan mencintai dunia dan akhirat, karna cintanya hanya penuh pada penciptanya (Allah).

>Al-khowas: hancurnya segala keinginan, dan terbakarnya sifat ketergantungan dan semua hajat (dunia akhirat).

>Sahl: Allah melunakkan hati seorang hamba karna telah mampu “melihat”NYA setelah faham apa yang diinginkannya.

>Harm bin hibban: orang mukmin tatkala mengetahui Tuhannya maka akan mencintaiNYA, bila sudah mencinyaiNYA maka akan memfokuskanNYA, dan ketika menemukan manisnya fokus padaNYA maka tak akan melirik dunia dg pandangan keinginan (syahwat) dan tak akan melirik akhirat dg pandangan kesunyian, artinya lemah pada urusan agama dan sibuk urusan akhirat.

ULAMA-ULAMA LAINNYA

>Selalu mengingatNYA.

>MendahulukanNYA.

>Benci berlama-lama didunia.

>Memaksa hati untuk menemukanNYA, namun melarang lisan untuk menggambarkanNYA.

>Dll

CARA BERTAUBAT AGAR BISA SUNGGUH SUNGGUH

Agar bertaubat dapat sungguh-sungguh dan diterima Allah maka dibutuhkan syarat. Para ulama menjelaskan syarat- syarat taubat yaitu:

  1. Islam, tidak sah taubat dari dosa dan kemaksiatan kecuali dari seorang muslim, sebab taubatnya orang kafir adalah masuk islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Qs. An Nisaa:18)

  1. Ikhlas. Tidak sah taubat seseorang kecuali dengan ikhlas dengan cara menujukan taubatnya tersebut semata mengharap wajah Allah, ampunan dan penghapusan dosanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إلاَّ مَا كَانَ خَالِصًا وَ ابْتَغَي بِهِ وَجْهَ الله

“Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan kecuali dengan ikhlas dan mengharap wajahNya.”

Sehingga seorang yang bertaubat atau meninggalkan perbuatan dosa karena bakhil atas hartanya atau takut dicela orang atau tidak mampu melakukannya tidak dikatakan bertaubat secara syar’I menurut kesepakatan para ulama. Oleh karena itu kata taubat dalam Al Qur’an mendapat tambahan kata ‘kepada Allah’, seperti firman Allah:

إِن تَتُوبَآ إِلَى اللهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)” (Qs. At Tahrim:4)

  1. Mengakui dosanya. Tidak sah taubat kecuali setelah mengetahui, mengakui dan memohon keselamatan dari akibat jelek dosa yang ia lakukan, sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada A’isyah dalam kisah Fitnatul Ifki:

بَعْدُ يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَافَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ وَإِنْ كُنْتِأَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ فَإِنَّالْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ إِلَى اللَّهِ تَابَاللَّهُ عَلَيْه

Amma ba’du, wahai A’isyah sungguh telah sampai kepadaku berita tentangmu bagini dan begitu. Apabila kamu berlepas (dari berita tersebut) maka Allah akan membersihkanmu dan jika kamu berbuat dosa tersebut, maka beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepadaNya. Karena seorang hamba bila mengakui dosanya kemudian bertaubat kepada Allah niscaya Allah akan menerima taubatnya. (HR Al Bukhori).

  1. Menyesali perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Penyesalan memberikan tekad, kemauan dan pengetahuan kepada pelakunya bahwa kemaksiatan yang dilakukannya tersebut akan menjadi penghalang dari Rabbnya, lalu ia bersegera mencari keselamatan dan tidak ada jalan keselamatan dari adzab Allah kecuali berlindung kepadaNya, sehingga muncullah taubat dalam dirinya. Oleh karena itu tidak terwujud taubat kecuali dari penyesalan, sebab tidak menyesali perbuatannya adalah dalil keridhoan terhadap kemaksiatan tersebut, seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat.”

  1. Berlepas dan meninggalkan perbuatan dosa tersebut apabila kemaksiatannya adalah pelanggaran larangan Allah dan bila kemaksiatannya berupa meninggalkan kewajiban maka cara meninggalkan perbuatan dosanya adalah dengan melaksanakannya. Ini termasuk syarat terpenting taubat. Dalilnya adalah firman Allah:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (Qs. Al Imran:135)

Al Fudhail bin Iyaadh menyatakan: “Istighfar tanpa meninggalkan kemaksiatan adalah taubat para pendusta.”

  1. Berazzam dan bertekad tidak akan mengulanginya dimasa yang akan datang.
  1. Taubat dilakukan pada masa diterimanya taubat. Apa bila bertaubat pada masa ditolaknya seluruh taubat manusia, maka tidak berguna taubatnya. Masa tertolaknya taubat ini di tinjau dari dua sisi:
  1. Dari pelaku itu sendiri, maka waktu taubatnya sebelum kematian. Apabila bertaubat setelah sakaratul maut, maka taubatnya tidak diterima. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya :

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Qs. 4:18)

Hal inipun disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْد مَا لَمْ يُغَرغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama belum sakaratul maut.”

Oleh karena itu Allah tidak menerima taubat Fir’aun ketika tenggelam, seperti dikisahkan dalam firmanNya:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia:”Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Qs. Yunus:90-92)

  1. Dari manusia secara umum. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan :

الْهِجْرَةُ لاَ تَنْقَطِعُ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْتَوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ الْتَوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Hijroh tidak terputus sampai terputusnya taubah dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat.”

Dan sabda beliau :

إِنَّاللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَمُسِيئُ النَّهَارِوَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّىتَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk mene-rima taubat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga matahari terbit dari barat.”

Apabila matahari telah terbit dari barat maka taubat seorang hamba tidak bermanfaat, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firmanNya :

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن تَأْتِيهُمُ الْمَلآئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْساً إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْراً قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabbmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfa’at lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah:”Tunggulah olehmu sesungguhnya kamipun menunggu(pula)” “. (Qs. Al An’am: 158)

  1. Khusus yang berhubungan dengan orang lain maka ada tambahan berlepas dari hak saudaranya, apabila itu berupa harta atau sejenisnya, maka mengembalikannya kepadanya dan bila berupa hukuman menuduh (zina) maka memudahkan hukuman atau memohon maaf darinya dan bila nerupa ghibah, maka memohon dihalalkan dari ghibah tersebut.

 “Adapun bila dosa tersebut antara kamu dengan manusia, apabila berupa harta, harus menunaikannya kepada pemiliknya dan tidak diterima taubtanya kecuali dengan menunaikannya. Contohnya kamu mencuri harta dari seseorang lalu kamu bertaubat dari hal itu, maka kamu harus menyerahkan hasil curian tersebut kepada pemiliknya. Juga contoh lain, kamu mangkir dari hak seseorang, seperti kamu punya tanggungan hutang lalu mangkir darinya, kemudian kamu bertaubat, maka kamu harus pergi kepada orang yang bersangkutan dan memeberikan pengakuan dihadapannya sehingga ia mengambil haknya. Apabila orang tersebut telah meninggal dunia, maka kamu berikan kepada ahli warisnya. Apabila tidak tahu atau ia menghilang darimu dan kamu tidak mengetahui keberadaannya maka bersedekahlah dengan harta tersebut atas namanya agar bebas dari (kewajiban) tersebut dan Allahlah yang mengetahui dan menyampaikannya kepadanya. Apabila kemaksiatan yang kamu lakukan terhadap orang lain berupa pemukulan atau sejenisnya, maka datangilah ia dan mudahkanlah ia untuk membalas memukul kamu seperti kamu memukulnya. Apa bila yang dipukul punggung maka punggung yang dipukul dan bila kepala atau bagian tubuh lainnya maka hendaklah ia membalasnya.

Hal ini didasarkan pada firman Allah:

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, (Qs. 42:40)

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

Dan firmanNya:

Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.(Qs. 2:194)

Apabila berupa perkataan (menyakitinya dengan perkataan), seperti kamu mencela, menjelek-jelekinya dan mencacinya dihadapan orang banyak, maka kamu harus mendatanginya dan meminta maaf darinya dengan apa saja yang telah kamu berdua sepakati, sampai-sampai seandainya ia tidak memaafkan kamu kecuali dengan sejumlah uang maka berilah. Sedang yang ke empat adalah apabila hak orang lain tersebut berupa ghibah, yaitu kamu pernah membicarakannya tanpa sepengetahuan nya dan kamu menjelek-jelekkannya dihadapan orang banyak ketika ia tidak ada. Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang menyatakan ia harus mendatanginya dengan menyatakan: “Wahai fulan saya pernah merumpi (menggibahi) kamu dihadapan orang maka saya mohon kamu memaafkan saya dan menghalalkannya”. Sebagian ulama menyatakan: “Tidak menemuinya namun harus diperinci permasalahannya. Apabila orang tersebut telah mengetahui perbuatan ghibah tersebut, maka harus menemuinya dan minta dimaafkan. Namun bila tidak mengetahuinya maka jangan berangkat menemuinya namun cukup memintkan ampunan untuknya dan menyampaikan kebaikan-kebaikannya dimajlis-majlis yang kamu pernah gunakan dalam menggibahinya, karena kebaikan-kebaikan menghapus kejelekan”. Inilah pendapat yang rajih (kuat)”.

Sedangkan Syaikh Saalim bin Ied Al Hilali memberikan syarat bila tidak menimbulkan mafsadat yang lebih besar lagi. Beliau berkata: “Apabila dosa itu berupa ghibah maka ia meminta dihalalkan (dimaafkan) selama tidak menimbulkan mafsadat lain akibat dari permintaan maaf itu sendiri. Apabila menimbulkan maka yang wajib baginya adalah mencukupkan dengan mendoakan kebaikan untuknya.”

DOSA DOSA BESAR DAN PERTAUBATANYA

Dosa adalah tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Allah.

Hanya sekedar mengingatkan, bukan untuk menggurui. Apa sajakah yang termasuk 10 macam dosa besar menurut al quran?

  1. Syirik (Menyekutukan Allah SWT).

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An Nisaa: 48).

Dan Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga”. (Al Maidah: 72)

  1. Berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah SWT.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(Yusuf: 87).

  1. Merasa aman dari ancaman Allah SWT.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf: 99)

  1. Berbuat durhaka kepada kedua orang tua.

Karena Allah SWT mensifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy ‘orang yang sombong lagi celaka’.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”. (Maryam: 32).

  1. Membunuh.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya”. (An Nisaa: 93).

  1. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (An Nuur: 23)

  1. Memakan riba.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”. (Al Baqarah: 275)

8.Lari dari medan pertempuran.

Maksudnya, saat kaum Muslimin diserang oleh musuh mereka, dan kaum Muslimin maju mempertahankan diri dari serangan musuh itu, kemudian ada seseorang individu Muslim yang melarikan diri dari pertempuran itu.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (Al Anfaal: 16)

  1. Memakan harta anak yatim.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (An Nisaa: 10)

  1. Berbuat zina.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu”. (Al Furqaan: 68-69)

MENGHAPUS DOSA BESAR

Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun

besar dan meskipun banyak.

“Artinya : Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap

diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.

Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semunya. Sesungguhnya Dia-lah

Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az-Zumar : 53]

Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan

besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala

berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain berserta

Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)

kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang

melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya),

(yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia

akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang

yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu

kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Furqan : 68-70]

Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat.

Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meniatkan

taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat

dari adzabnya.

Kedua : Menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena

melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

Ketiga : Meninggalkan kemasiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu

berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia

meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram dan ia segera

mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan

kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka

segera ia membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada

yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

Keempat : Bertekad untuk tidak kembali kepada kemasiatan tersebut di masa yang

akan datang.

Kelima : Taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya,

baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat

tenggelamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang

mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada

seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan. ‘Sesungguhnya saya

bertaubat sekarang” [An-Nisa : 18]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bertubat sebelum matahri terbit dari tempat

tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya” [Hadits Riwayat Muslim

daalm Adz-Dzikir wa Ad-Du’a, No. 2703]

Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan

terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha

Mengetahui.