SYARAT AGAR BISA BERTEMU NABI KHIDIR AS.

Di dalam kitab “Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah” karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut:

Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-‘Ala’i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan.

Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya’juj wa Ma’luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:

بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله

بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله

بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله

بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله

Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.

Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu ‘Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.

Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat.

Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur’an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan.

AGAR BISA BERTEMU NABI KHIDIR AS.

Syekh Ali berkata “Termasuk syarat seseorang dari golongan auliya’ dapat bertemu Nabi Khidir adalah tidak menyimpan makanan untuk besok, siapa orang menyimpan makanan untuk esok hari maka tidak akan bisa bertemu dengan Nabi Khidir walaupun dia beribadah sebanyak ibadah seluruh jin dan manusia”

Abu Abdillah al-Yasari salah satu wali tersohor di zamannya sering bertemu Nabi Khidir dalam keadaan terjaga dan bercakap-cakap dengannya. Suatu ketika Syekh Ali lama tidak bertemu dengan Nabi Khidir dalam keadaan terjaga tetapi hanya bertemu dalam mimpi. Lantas beliau bertanya tentang sebab terputusnya pertemuannya secara terjaga.

Nabi Khidir menjawab: “Aku tidak mau berteman dengan orang yang menyimpan makanan untuk besok. Dan engkau pernah berkata kepada istrimu di waktu itu, “Ambil uang ini dan simpanlah untuk belanja besok”

Lalu Syekh Ali melanjutkan ceritanya, “Kejadian itu memang benar terjadi akan tetapi aku telah bertobat tidak lagi menyimpan makanan untuk besok”

Sejak kejadian itu Nabi Khidir tetap tidak pernah datang lagi menemui beliau dalam keadaan terjaga.

Wallahu a’lam.

( Tanbiihul- Mughtarriin. hal.129 )

KACAMATA TASAWUF DALAM MENELAAH DIAOG QURBAN ANTARA NABI IBROHIM DAN NABI ISMAIL ‘ALAIHIMAS SALAM

Ibadah kurban yang dikenal sampai saat ini tidak dapat dilepaskan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (sebagian riwayat menyebut Nabi Ishak). Ibadah kurban berawal dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Riwayat keduanya dapat ditemukan pada Surat As-Shaffat ayat 102. Riwayat tersebut menceritakan ungkapan Nabi Ibrahim AS kepada Ismail AS atas mimpinya selama tiga malam terakhir. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sungguh aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’”

Apa yang terjadi dalam mimpi Ibrahim AS dipahami oleh dirinya dan Ismail AS sebagai perintah Allah SWT. Pasalnya, mimpi para nabi, kata Ibnu Abbas RA, adalah wahyu ilahi. Muhammad bin Ka’ab mengatakan, wahyu ilahi mendatangi para nabi saat mereka terjaga dan tertidur. Oleh karena itu, keduanya memiliki pengertian yang sama atas takwil mimpi Ibrahim AS.

“Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” jawab Ismail AS.

Abu Ali Ad-Daqaq mengisahkan ulang perintah kurban yang melibatkan Ibrahim AS dan Ismail AS dari kajian tasawuf. Menurutnya, perintah kurban berkaitan erat dengan kewajiban untuk berjaga agar tidak tertidur. Tidur bagi sebagian orang saleh adalah sebuah kesalahan karena orang yang tidur adalah orang yang lalai kepada Allah. Sedangkan Ibrahim AS dengan sedih menceritakan mimpinya kepada Ismail AS.

“Bapakku, inilah balasan orang yang tidur melalaikan Kekasihnya (Allah). Seandainya bapak tidak tidur, niscaya bapak tidak diperintahkan untuk menyembelih anak sendiri,” jawab Ismail. (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H], halaman 210).

Tidur malam hari (semalam suntuk) bagi sebagian orang saleh pada tingkat tertentu merupakan sebuah kesalahan sebagaimana kaidah “Hasanatul abrār sayyi’ātul muqarrabīn” atau kebaikan bagi mereka di maqam abrār adalah kesalahan bagi muqarrabīn. Oleh karena itu, ulama tasawuf membuat syair sebagai berikut, “Sungguh aneh mereka yang mengaku para pecinta (Allah). Bagaimana mereka dapat tertidur nyenyak? Padahal tidur bagi para pecinta diharamkan.” (Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H: 210).

Wallahu a’lam.

ENAM MACAM ORANG-ORANG YANG MENCARI TUHAN

PARA PENCARI TUHAN

ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﻳﺪ ﻟﺤﺮﺙ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﺍﻟﺴﺎﻟﻚ ﻟﻄﺮﻳﻘﻬﺎ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﻋﻦ ﺳﺘﺔ ﺃﺣﻮﺍﻝ؛ ﺇﻣﺎ ﻋﺎﺑﺪ ﺃﻭ ﻋﺎﻟﻢ ﺃﻭ ﻣﺘﻌﻠﻢ ﺃﻭ ﻣﺤﺘﺮﻑ ﺃﻭ ﻭﺍﻝ ﺃﻭ ﻣﻮﺣﺪ ﻣﺴﺘﻐﺮﻕ ﺑﺎﻟﻮﺍﺣﺪ ﺍﻟﺼﻤﺪ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻩ

Ketahuilah bahwa orang yg menghendaki kehidupan akhirat yg menempuh jalan untuk mencapainya setidaknya ada enam bagian keadaan; Adakalanya seorang ahli ibadah, orang yg berilmu, pelajar, pengusaha, penguasa, atau orang yg menyatukan diri dg Dzat yg maha tunggal nan tak butuh selain-Nya.

ﻓﺎﻟﻌﺎﺑﺪ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺘﺠﺮﺩ ﻟﻠﻌﺒﺎﺩﺓ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺷﻐﻞ ﻟﻪ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺃﺻﻼ، ﻭﻟﻮ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻟﺠﻠﺲ ﺑﻄﺎﻻ، ﻓﺎﻷﻧﺴﺐ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻐﺮﻕ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻭﻗﺎﺗﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

Orang yg ahli ibadah adalah seseorang yg melulu melakukan peribadatan yg sama sekali tidak ada kesibukan baginya selain beribadah, dan andai dia tidak beribadah maka dia akan (merasa) nganggur. Maka patutlah baginya untuk menghabiskan lebih banyak waktunya dalam peribadatan.

ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻌﻠﻤﻪ ﻓﻲ ﻓﺘﻮﻯ ﺃﻭ ﺗﺪﺭﻳﺲ ﺃﻭ ﺗﺼﻨﻴﻒ، ﻓﺈﻥ ﺃﻣﻜﻨﻪ ﺇﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﺎ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﺑﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺎﺕ ﻭﺭﻭﺍﺗﺒﻬﺎ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻤﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺮﻏﺐ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﻳﺰﻫﺪﻫﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻳﻌﻴﻨﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻠﻮﻙ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﻗﺼﺪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﺍﻹﺳﺘﻌﺎﻧﺔ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻠﻮﻙ

Orang yg berilmu adalah seseorang yg memberikan kemanfaatan terhadap manusia dg ilmu pengetahuannya, baik dalam bentuk fatwa, pembelajaran, atau tersaji dalam bentuk karya.

Lantas apabila memungkinkan baginya untuk menghabiskan waktunya dalam hal tersebut, maka demikian merupakan kesibukan yg lebih utama setelah kefardhuan lima waktu dan rawatibnya.

Sedangkan yg dimaksud dg “Ilmu Pengetahuan” adalah ilmu yg menjadi pijakan untuk beribadah; ialah ilmu pengetahuan yg membuat manusia senang dalam kehidupan akhirat, menjauhkannya dari kesenangan duniawi, dan menolongnya menempuh jalan ke akhirat bilamana tujuan pembelajaran tersebut adalah menjadikan ilmu sebagai penolong untuk bisa menempuh perjalanan spiritualnya.

ﻭﺍﻟﻤﺘﻌﻠﻢ ﻫﻮ ﺍﻟﻘﺎﺻﺪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﺈﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺇﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻷﺫﻛﺎﺭ ﻭﺍﻟﻨﻮﺍﻓﻞ، ﺑﻞ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﻓﺤﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺇﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻷﻭﺭﺍﺩ

Pelajar adalah seseorang yg belajar ilmu pengetahuan bertujuan karena Allah, maka kesibukannya dg belajar itu lebih utama dari pada kesibukannya dg berdzikir dan melakukan ibadah sunnah, bahkan andai dia dari golongan orang-orang awam maka keikutsertaannya di majlis pengajian dan pembelajaran itu lebih utama dari pada kesibukannya dg berwirid.

ﻭﺍﻟﻤﺤﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﻟﻠﻜﺴﺐ ﻟﻌﻴﺎﻟﻪ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻀﻴﻊ ﺍﻟﻌﻴﺎﻝ ﻭﻳﺴﺘﻐﺮﻕ ﺍﻷﻭﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ، ﺑﻞ ﻭﺭﺩﻩ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺼﻨﺎﻋﺔ ﺣﻀﻮﺭ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻭﺍﻹﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﻜﺴﺐ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻨﺴﻰ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺻﻨﺎﻋﺘﻪ ﺑﻞ ﻳﻮﺍﻇﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺤﺎﺕ ﻭﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﻭﻗﺮﺃﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﻻ ﻳﻔﻮﺗﻪ، ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

Pengusaha atau Pekerja adalah orang yg membutuhkan usaha untuk menghidupi keluarganya, tidak diperkenankan baginya untuk mensia-siakan keluarganya dan menghabiskan waktunya dalam peribadatan,

Tapi bahkan di waktunya bekerja wiridannya adalah datang ke pasar dan menyibukkan diri dg pekerjaan, namun seyogyanya dia tidak lupa berdzikir pada Allah dalam aktivitasnya, dan bahkan tetap atas bacaan tasbih, dzikir, dan membaca al-Qur`an,

Karena demikian masih bisa dilakukan seraya beraktivatas dan hendaklah tidak mengenyampingkannya. Dan manakala dia telah selesai dari menghasilkan kebutuhannya maka hendaklah kembali untuk beribadah.

ﻭﺍﻟﻮﺍﻟﻲ ﻣﺜﻞ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭﻛﻞ ﻣﺘﻮﻝ ﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﺤﺎﺟﺎﺕ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺃﻏﺮﺍﺿﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻭﻓﻖ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﻭﻗﺼﺪ ﺍﻹﺧﻼﺹ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺇﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺎﻷﻭﺭﺍﺩ، ﻓﺤﻘﻪ ﺃﻥ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﺑﺤﻘﻮﻕ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻧﻬﺎﺭﺍ ﺃﻭ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺎﺕ ﻭﻳﻘﻢ ﺍﻷﻭﺭﺍﺩ ﻟﻴﻼ

Dan penguasa, seperti pemimpin negara, pemutus hukum, dan setiap orang yg mengurus kemashlahatan orang muslim, adalah pengatur kebutuhan orang-orang Islam sesuai tuntunan syari’at dan menjalaninya dg ikhlas itu lebih utama dari pada kesibukannya dg berwirid.

Maka sudah sepatutnya dia menyibukkan diri dg mengurus hak-hak manusia di waktu siang, atau meringkas kefardhuan shalat lima waktunya dan melakukan wiridan di malam hari.

ﻭﺍﻟﻤﻮﺣﺪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻐﺮﻕ ﺑﺎﻟﻮﺍﺣﺪ ﺍﻟﺼﻤﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺻﺒﺢ ﻭﻫﻤﻮﻣﻪ ﻫﻢ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﻼ ﻳﺤﺐ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﻳﺨﺎﻑ ﺇﻻ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻈﺮ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ، ﻓﻤﻦ ﺇﺭﺗﻔﻌﺖ ﺭﺗﺒﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﺭﺟﺔ ﻟﻢ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﺇﻟﻰ ﺗﻨﻮﻳﻊ ﺍﻷﻭﺭﺍﺩ ﻭﺇﺧﺘﻼﻓﻬﺎ، ﺑﻞ ﻭﺭﺩﻩ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺎﺕ ﻭﺍﺣﺪ، ﻭﻫﻮ ﺣﻀﻮﺭ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ، ﻓﻼ ﻳﺨﻄﺮ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺃﻣﺮ ﻭﻻ ﻳﻘﺮﻉ ﺳﻤﻌﻪ ﻗﺎﺭﻉ ﻭﻻ ﻳﻠﻮﺡ ﻟﺒﺼﺮﻩ ﻻﺋﺢ ﺇﻻ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﻋﺒﺮﺓ ﻭﻓﻜﺮﺓ ﻭﻣﺰﻳﺪ، ﻓﻬﺬﺍ ﺟﻤﻴﻊ ﺃﺣﻮﺍﻟﻪ ﺗﺼﻠﺢ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻹﺯﺩﻳﺎﺩﻩ. ﻭﻫﺬﻩ ﻣﻨﺘﻬﻰ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ، ﻭﻻ ﻭﺻﻮﻝ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﺍﻷﻭﺭﺍﺩ ﻭﺍﻟﻤﻮﺍﻇﺒﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ

Orang yg menyatukan diri dg Dzat yg maha tunggal nan menjadi tumpuannya adalah seseorang yg dalam hidupnya hanya mempunyai satu tujuan keinginan. Maka dia hanya cinta pada Allah, hanya takut terhadap-Nya, dan tidak menanti rezeki dari selain-Nya.

Lantas barangsiapa yg berhasil mencapai kedudukan ini maka dia tidak lagi butuh pada wiridan yg beragam dan berbeda-beda, tapi bahkan setelah shalat lima waktu wiridannya hanya satu; ialah hadirnya hati bersama Allah dalam setiap keadaan.

Maka tak ada sesuatupun yg terbesit dihatinya, tak ada suara apapun yg mengganggu pendengarannya, dan tak ada berkas cahaya apapun yg mampu mengalihkan pandangannya, kecuali dia sedang meniti sebuah pembelajaran nan tauladan dan berada di satu titik pusat pemikiran dalam hatinya.

Semua ini adalah keadaannya yg patut menjadi sebab bertambahnya imannya, dan ini merupakan puncak kedudukan orang-orang yg shiddiq, dan kedudukan tersebut hanya bisa dicapai setelah melakukan wiridan dan merutinkannya.

ــــــــــ والله تعالى أعلم ــــــــــ

ﺍﻟﺜﻤﺎﺭ ﺍﻟﻴﺎﻧﻌﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻳﺎﺽ ﺍﻟﺒﺪﻳﻌﺔ ﻟﻸﺳﺘﺎﺫ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﺎﻣﻞ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻧﻮﻭﻱ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ

Tsimar al-Yani’ah Fi al-Riyadh al-Badi’ah karya Syech Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten)

TANAMKANLAH RENDAH HATI KARENA USAHA ITU PENTING TAPI BUKAN SEGALANYA

Min ‘alamatil i’timad ‘alal ‘amal, nuqshan al-raja’ ‘inda wujudil zalal. Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan atau terpeleset.

Ini kebijaksanaan yang mendalam. Bisa dipahami dalam pengertian “khusus” menurut para ahli tasawwuf. Atau dipahami secara awam atau umum.

Pengertian Umum

Dimulai dengan pemahaman yang umum atau awam dulu. Pemahaman orang-orang biasa. Seorang yang beriman seharusnya memiliki kesadaran bahwa ia bisa mencapai sesuatu bukan semata-mata karena pekerjaannya.

Kita berusaha, lalu berhasil. Kita bekerja, lalu sukses. Kita berdagang, lalu untung. Kita belajar, lalu menjadi orang pintar. Kita pedekate, lalu menjadi pasangan. Dan seterusnya. Semua hasil itu jangan semata-mata kita pandang sebagai melulu berkat usaha dan pekerjaan kita.

Kita harus menyisakan sedikit “ruang” bahwa keberhasilan kita ini jangan-jangan tidak seluruhnya karena faktor usaha kita, tetapi juga karena ada fakor X yang kita tidak tahu. Kehidupan manusia adalah sangat kompleks. Kita tidak bisa mengontrol seluruh faktor yang berpengaruh dalam tindakan sosial kita.

Ada faktor-faktor yang luput dari perhitungan dan kontrol kita. Faktor ini bisa membuat usaha kita sukses, bisa juga membuatnya gagal. Sebagai seorang beriman, kita percaya bahwa hanya Tuhan yang berkuasa atas faktor-faktor “misterius” semacam ini. Kalau Anda ateispun, Anda tetap bisa memahami logic di balik kata-kata bijak Ibnu Ataillah ini.

Manfaat dari sikap semacam ini adalah: Anda tidak langsung pesimis dan putus asa saat gagal mencapai suatu hasil. Jika Anda berpikir bahwa usaha Anda adalah satu-satunya faktor penentu, saat Anda gagal, Anda boleh jadi akan ngenes dan sedih: Saya sudah bekerja keras, kenapa tetap gagal?

Ajaran ini mau memberi tahu kita agar kita rendah hati.

Pengertian Khusus

Ada tiga jenis pekerjaan atau amal: amal syariat, amal thariqat, dan amal haqiqat.

Amal syariat adalah ketika Anda menyembah Tuhan sesuai dengan peraturan dan hukum agama. Amal thariqat adalah kesadaran bahwa saat Anda menyembah Tuhan, Anda tidak sekedar menyembah. Melainkan Anda sedang “on the journey”, sedang dalam petualangan dan perjalanan menuju Tuhan. Amal haqiqat adalah pengalaman spiritual yang disebut dengan “syuhud” atau “vision”.

Apa itu syuhud?

    Syuhud itu pengalaman mistik/spiritual yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang sungguh-sungguh menjalani dua amal sebelumnya. Dalam pengalaman itu, Anda merasa seolah-olah berjumpa, menyaksikan (vision) Tuhan. Tentu bukan penyaksian dengan indera lahir. Melainkan dengan indera batin.

Jangan sekali-kali Anda mengira bahwa amal syariat dan thariqat bisa langsung, secara otomatis, membawa Anda kepada pengalaman haqiqat. Amal syariat dan thariqat adalah jalan atau wasilah menuju ke sana. Anda harus melalui jalan itu. Tetapi Anda sampai ke puncak haqiqat atau tidak, itu bukan sepenuhnya ditentukan oleh usaha kita sendiri, melainkan karena kemurahan (fadl) Tuhan.

Seorang yang bijak pernah berkata: Ketika seseorang telah sampai pada hakikat Islam, dia tak mampu berhenti berusaha/ beramal baik. Ketika seseorang memahami hakikat iman, dia tak akan mampu beramal/bekerja tanpa disertai Tuhan. Ketika seseorang sampai kepada hakikat ihsan (kebaikan), dia tak mampu berpaling kepada selain Tuhan.

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari kebijaksanaan Ibnu Athaillah ini?

Pertama, kita diajarkan agar tidak merasa paling alim sendiri, saleh sendiri, Islami sendiri, karena amalan kita. Sombong dan tinggi hati bukanlah perangai orang beriman.

Kedua, kita juga diajarkan untuk rendah hati, jangan merasa sok bahwa usaha kita menentukan segala-galanya. Sebab perasaan sombong semacam itulah yang akan menjerembabkan kita kepada perasaan mudah putus asa, patah hati, pesimis.

Orang beriman harus optimis terus, tak peduli keadaan apapun yang sedang mengerubuti kita!

Apa yang bisa kita petik dari uraian di atas?

1. Banyak hal dan variabel dalam hidup ini yang di luar kontrol kita. Kita punya pilihan bebas untuk melakukan sesuatu, tetapi ada hal-hal di luar sana yang mempengaruhi pekerjaan dan pilihan kita, tetapi tak bisa kita kendalikan. Hanya Tuhanlah yang bisa mengendalikan itu semua. Karena itu, kita perlu mempunyai sikap “berserah diri” kepada Tuhan.

2. Jangan menganggap bahwa pekerjaan dan amal kita menentukan segala-galanya. Ibadah kita sekalipun tak menjamin keselamatan kita, menjamin kita masuk sorga. Hanya kemurahan Tuhan lah yang akan menjamin.

    3. Ajaran Ibnu Ataillah yang pertama ini hendak mengajari kita “the ethics of humility”, etika rendah hati. Seorang beriman tak boleh menyombongkan amalnya, pekerjaan baiknya. Seorang beriman harus rendah hati. Kerendah-hatian inilah yang membuat kita sehat secara mental.

Wallahu a’lam

SEPERTI INILAH HAKIKAT DARI TAWADLU’ ATAU ANDAP ASOR MERENDAH DIRI

“Orang yang tawaduk itu bukan ia yang ketika merendah (bersikap tawaduk) menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya. Tetapi, orang yang tawadhu’ adalah orang yang ketika merendah (tawaduk) menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya.”

ليس المتواضع الذي إذا تواضع رأى أنه فوق ما صنع ولكن المتواضع الذي إذا تواضع رأى أنه دون ما صنع

Ketika belajar al-Hikam ini dan kaitannnya dengan kesombongan, Syekh Muhammad Bassam Dhifda’ sambil memegang kitab rujukan Syarh al-Hikam al-Athoiyyah yang dikarang oleh Syekh Abdul Majid asy-Syarnubiy (w.1348H), menjelaskan:

“Bila seseorang ingin dianggap orang lain tawaduk lalu memposisikan dirinya di tempat yang bakal dipandang sebagai orang yang rendah hati, misalnya dalam satu majlis dia memposisikan dirinya di belakang namun dalam hatinya terbersit ‘seharusnya saya di depan bukan disini, di belakang’. Maka Itu bukanlah orang yang tawaduk tapi orang yang sombong. Orang dikatakan tawaduk itu bila dia merasa dan melihat hal keadaannya itu berada di bawah dari apa yang sewajarnya dia kerjakan. Sebagai misal, pada suatu kesempatan di satu majlis dia diposisikaan duduk di depan tapi dia melihat dan merasa bahwa yang wajar buat dirinya itu adalah di belakang bukan di depan. Ini yang namanya tawaduk”.

Orang yang tawaduk itu tidak menetapkan sifat tawaduk itu pada dirinya sendiri, karena ia merasa masih banyak ketidakpantasan pada dirinya sehingga dia tidak berani mengaku/merasa sudah tawaduk . Suatu saat Abu Yazid al-Busthomi ditanya:” Kapan orang itu tawaduk?

Beliau menjawab:

اذا لم ير لنفسه مقاما ولا حالا, ولا يرى أن في الخلق من هو شر منه

“jika sudah tidak merasa ada kedudukan dan kemuliaan pada dirinya,dan dia tidak melihat makhluk (orang) lain itu lebih jelek/hina daripada dirinya.” (asy-Syaikh Hazim Abu Ghozalah, al-Durar al-Ghazaliyah syarh al-Hikam al-Athoiyyah, hal. 155/ hikam nomor 234).

Tawaduk merupakan hasil dari perjuangan lahiriah dan batiniah kita dalam menghadapi nafsu agar jangan sampai sombong dan takabur. Karena nafsu yang ada pada diri kita, mengajak dan menghendaki ketinggian diri yang berakibat merendahkan orang lain, sedangkan hati nurani kita justru menghendaki sebaliknya.

Jadi tawaduk itu lahir dari dalam diri kita dan memang sudah tabiat kita, sudah pembawaan batin kita –bukan dibuat-buat agar dikatakan tawaduk– sebagai akibat pemahaman kita yang mendalam tentang keimanan dan keagungan Allah.

الُتواضعُ الحقيقيُّ هُوَ ماكانَ ناَشِـئا عن شهود عظمةِ وَتجلّىِ صِفتهِ

“Tawaduk yang sejati(hakiki) ialah yang muncul karena melihat/memperhatikan keagungan Allah dan terbukanya sifat-sifat Alloh (pada makhluk-Nya).”

Jadi tawaduk yang sejati/hakiki itu yang muncul sebab melihat / menyaksikan keagungan Allah dan terbuka (tajalli)nya dzat dan sifat-Nya. Ketika seseorang sudah melihat dan menyadari keagungan Alloh maka hilanglah sifat-sifat nafsunya. Dalam konteks inilah Imam Dzun nun al-Mishriy mengatakan:

من اراد التواضع فليوجه نفسه الى عظمة الله تعالى, فانها تذوب و تصغر, و من نظر الى سلطان اللله تعالى ذهب عنه سلطان نفسه لأن النفوس كلها ذليلة عند هيبته

“Siapa yang menginginkan tawaduk maka hendaknya dia menghadapkan nafsunya kepada kebesaran Allah dan keagungan-Nya, dan nafsunya akan meleleh dan melemah/hina. Dan siapa yang melihat kekuasaan Allah, maka akan hilanglah kekuasaan nafsunya, karena segala macam nafsu begitu hina bila dihadapkan dengan keagungan Allah Swt” ( asy-Syaikh Hazim Abu Ghozalah, al-Durar al-Ghazaliyah syarh al-Hikam al-Athoiyyah, hal. 156/ hikam nomor 236)

Namun yang perlu difahami juga tawaduk bukan berarti kita merendahkan diri dihadapan orang lain sehingga kita dihina dan dilecehkan, tawaduk juga bukan kita memandang tinggi diri kita sehingga merendahkan orang lain dan melecehkannya. Islam mengajarkan ummatnya agar memiliki ‘izzah dan martabat diri. Dan tawaduk salah satu sifat yang membuat diri kita memiliki ‘izzah dan martabat diri, bukan sebaliknya. Terkait hal ini ada uraian cukup menarik dari syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Syadziliy al-Aqshara’I al-Hanafiy (w.709 H):

أقول: التواضع بين الضعة والتكبر. فالضعة أن تكون مهانا وحقك ضائعا، والتكبر أن يكون غيرك بك مهانا وحقه ضائعا، والتواضع أن لا تهان ولا يهان بك غيرك، ولا يضيع حقك ولا يضيع بك حق غيرك

“Aku katakan: ketawadukan itu berada diantara kerendahan dan ketakaburan. Kerendahan itu adalah kamu menjadi hina dan hakmu terlantar. Sementara takabur adalah kamu menjadi sebab atas kehinaan orang lain dan hak orang lain tersebut terlantar karena kamu. Sedangkan ketawadhuan itu adalah kamu tidak menjadi hina dan orang lain tidak menjadi hina karena kamu; hak kamu tidak terlantar dan hak orang lain tidak terlantar karena kamu,” ( Ihkamul Hikam Fi Syarh al-Hikam al-‘Athoiyyah, pada fasal penjelasan matan “Man Atsbata Linafsihi Tawadhu’an…”).

Wallahu a’lam

USWAH : AMPLOP DA’I JANGAN JADI TUJUAN

Ada seorang Sayyid sepuh yang sangat mencintai Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, beliau biasa dipanggil “Syekh Syu’aib” dan umurnya jauh lebih tua dari Abuya, saya baru tahu kalau beliau itu seorang Sayyid ketika Abuya menyebut nama beliau dengan gelar “Assayyid” saat menulis buku harian, tapi saya lupa marganya. Syekh Syu’aib selalu menghadiri majlis Abuya, beliau juga sering bertamu pada Abuya di siang hari dan selalu membawa hadiah.

Suatu ketika saya sedang bersama Abuya dan datanglah Syekh Syu’aib dengan membawa hadiah, Abuya menerima hadiah itu dan langsung menciumnya dengan wajah gembira, Syekh Syu’aib nampak gembira dengan sambutan Abuya. Namun tiba-tiba wajah Abuya berubah seperti menghawatirkan sesuatu dan kemudian berkata: “Wahai Syekh Syu’aib, saya senang sekali menerima hadiah anda dan saya berterima kasih banyak, tapi saya mohon, kalau ke sini jangan selalu membawa hadiah.”

“Kenapa, wahai Sayyid?” Kata Syekh Syu’aib.

“Saya tidak mau terbiasa menerima hadiah dari Anda dan siapapun, karena saya hawatir ketika suatu saat anda tidak membawa hadiah kemudian hati saya berburuk sangka, misalnya saya akan mengira anda tidak mencintai saya lagi, atau anda tidak dermawan lagi dan sebagainya.”

Setelah mendengar penjelasan Abuya, Syekh Syu’aib tertawa kecil kemudian berkata: “Wahai Sayyid, katakan itu pada orang lain. Kalau saya, jangan halangi saya untuk membawa hadiah.” Mendengar ucapan Syekh Syu’aib itu Abuyapun tertawa terbahak-bahak.

Subhanallah, Abuya begitu ketatnya didalam menjaga hati, saya sendiri belum pernah berfikir akan hal itu, bahwa selalu menerima hadiah dari sesorang itu dapat memunculkan buruk sangka ketika suatu saat orang itu tidak memberi hadiah. Saya yakin orang sekelas Abuya tidak akan berburuk sangka seperti itu, karena, yang saya tahu, beliau orangnya sangat arif dan penyabar, beliau bahkan selalu berbaik sangka pada orang yang jelas-jelas menyakiti beliau. Kalau melihat raut Abuya ketika mengatakan itu, saya merasa Abuya mengatakannya dari hati, itu artinya beliau selalu rendah hati di hadapan Allah dan manusia. Walaupun beliau adalah seorang ulama besar yang sejak kecil sudah terbiasa menjaga hati, namun beliau selalu menghawatirkan keselamatan hati dari sifat-sifat tercela, beliau tidak merasa kebal dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang dapat mengotori hati, beliau selalu mencurigai hawa nafsu dan berhati-hati didalam melakukan apapun.

Ucapan singkat Abuya kepada Syekh Syu’aib itu memberi arti yang sangat dalam. Bagi saya, seandainya Abuya hanya berbasa-basi dengan ucapan itu, tetap saja ucapan itu adalah sebuah tarbiyah serius bagi saya yang mendengarnya, apalagi kami (santri beliau) yang dari Indonesia akan mengalami hal itu, dimana para pendakwah di Indonesia umumnya mendapat hadiah ketika menghadiri undangan ceramah. Sebagai manusia biasa, penceramah yang terbiasa menerima amplop ketika berceramah bisa merasa tidak nyaman ketika suatu saat panitia tidak memberinya amplop, perasaan tidak nyaman itupun bisa bermacam-macam, misalnya buruk sangka pada tuan rumah atau panitia. Dalam hal ini, Abuya Ali Karrar mempunyai cara yang bagus dan patut ditiru, beliau tidak pernah membuka amplop yang beliau terima ketika diundang ceramah, beliau langsung menyerahkannya pada bendahara pribadi beliau, beliau juga tidak pernah menanyakan saldo uang yang dipegang bendahara kecuali sedang ada perlu untuk keperluan Pesantren atau program dakwah.

Saya sediri memiliki banyak pengalaman saat berlatih “tidak peduli amplop”, diantaranya ketika saya tinggal di Jakarta, saya pernah diundang ceramah ke Jawa Timur dan panitia salah memberi amplop, dia memberi saya amplop yang semestinya untuk penceramah lokal, isinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja, sementara dari jakarta ke Surabaya saya naik pesawat, dari Bandara Surabaya ke tempat acara menggunakan mobil dan supir sewaan.

Saya harap pembaca memaklumi kalau saya berharap isi amplop itu cukup untuk menutup biaya transportasi, karena biaya itu saya dapat dari berhutang. Hal serupa juga pernah terjadi ketika saya diundang ceramah di sebuah kampung pedalaman di Madura, ketika itu saya juga masih tinggal di Jakarta, setelah berceramah dan hendak pulang, tuan rumah memberi saya amplop isinya lima ratus ribu rupiah, hanya cukup untuk membayar sewa mobil dan supir dari Bandara ke tempat acara.

Ketika melepas saya pulang, tuan rumah berkata pada saya: “Terima kasih, Kiyai. Semoga anda bisa hadir setiap tahun.” Setelah membuka amplop dan menyerahkan isinya ke supir untuk membayar sewa mobil, saya teringat dengan kata-kata tuan rumah tadi, “Semoga anda bisa hadir setiap tahun”, sayapun berjanji di hati, kalau dia mengundang lagi maka saya akan datang walaupun harus berhutang untuk membeli tiketnya.

Saya juga memiliki pengalaman pernah menolak amplop, ketika itu saya marah karena ada seorang “penceramah komedian” yang dengan terang-terangan berkata bahwa dirinya memilih pindah profesi sebagai penceramah karena penghasilannya lebih bagus daripada profesi sebelumnya, sayapun menasehatinya walaupun ketika itu saya baru berumur dua puluh tiga tahun dan dia sudah hampir lima puluh tahun, namun dia malah berkata: “Sampean, kan, juga merima amplop kalau diundang ceramah.” Sayapun -yang ketika itu masih muda dan mudah marah- merasa jengkel dan tidak mau berteman dengannya, sampai-sampai saya menolaknya ketika dia bertamu ke rumah saya, ketika itu dia tidak turun dari mobil dan menyuruh asistennya untuk melihat apakah saya ada di rumah atau tidak, sayapun berkata pada asistennya: “Katakan saja bahwa saya ada di rumah tapi tidak mau menemuinya.”

Begitulah galaknya saya ketika masih muda dan baru pulang dari Makkah. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak menerima amplop ketika diundang ceramah atau apapun, saya bahkan berpesan pada tuan rumah atau panitia ketika datang untuk mengundang saya agar saya tidak diberi amplop. Itu adalah perubahan yang cukup berat bagi saya, karena kebiasaan saya sejak kecil adalah memiliki uang dari pemberian orang, baik hadiah dari santri-santri ayah saya maupun amplop ketika menghadiri undangan.

Di tempat saya, putra-putra Kiyai ketika hadir majlis diberi amplop oleh tuan rumah walaupun tidak berceramah atau memimpin doa, cukup hadir saja. Jadi, sejak kecil saya sudah terbiasa menerima amplop, ketika mulai diundang ceramah di umur tujuh belas tahunan sayapun terbiasa menerima amplop yang isinya lumayan banyak. Sebagaimana ayah saya, saya tidak berfikir untuk bekerja atau berwira usaha, karena uang yang saya dapat dari amplop itu sudah cukup untuk memenuhi keperluan saya, apalagi ayah saya yang setiap hari juga banyak tamunya dan setiap tamu pasti memberi amplop.

Nah, begitu saya memutuskan untuk tidak menerima amplop, sayapun mengalami kesulitan dan kemudian mulai sering “ngutang” bensin, tapi saya langsung mencoba untuk bekerja seperti orang biasa dan saya memilih berdagang. Pertama kali saya berdagang adalah berjualan bawang merah, saya nekat meminjam mobil box yang sudah tiga bulan tidak pernah dipakai, mobil box itu saya gunakan untuk mengangkut dua ton bawang merah dari Probolinggo dan saya bawa ke pasar Sukorejo. Setibanya di pasar saya bingung untuk menjual bawang merah itu, saya hanya berdiri di sebelah mobil box di parkiran pasar, namun tiba-tiba ada orang yang mengenal saya dan diapun menghampiri saya seraya berkata: “Sedang apa, Gus?”

“Saya punya bawang merah dan ingin menjualnya di sini.” Jawab saya dengan agak ragu dan malu-malu.

“Oo.. Di mana bawangnya, Gus?”

“Di dalam mobil ini.”

“Baiklah, Gus, saya akan beri tahu teman-teman saya di dalam pasar.” Kata orang itu kemudian bergegas masuk ke dalam pasar. Tidak lama kemudian orang itu kembali bersama beberapa orang penjual sayur dan rempah, sayapun kebingungan karena tidak menyiapkan timbangan dan kantong plastik, akhirnya salah satu dari mereka meminjamkan timbangan dan memberi saya kantong palstik, hanya dalam beberapa puluh menit saja bawang merah sayapun terjual beberapa kwintal.

Itu adalah pengalaman saya ketika baru pulang dari Makkah, ketika itu ayah saya tidak tahu kalau saya menolak amplop saat diundang ceramah, bahkan beliau tidak tahu kalau saya berdagang bawang merah. Hal itu berlangsung beberapa bulan dan kemudian saya keluar dari rumah karena disuruh menikah, ketika itu saya tidak mau menikah karena merasa belum harus “duduk” di rumah, ayah dan paman-paman saya masih sehat, saya pikir, saya masih bisa menambah pengalaman di luar.

Yang saya alami itu mungkin juga dialami oleh orang lain, maka saya berpesan pada adik-adik dan anak-anak didik saya yang mulai terjun di bidang dakwah, kalian boleh menerima amplop ketika berdakwah, yang penting jangan sampai amplop itu menjadi tujuan, walaupun hanya tujuan sampingan. Kalau memang perlu uang untuk transport sebaiknya berterus terang saja pada panitia agar disiapkan, akan lebih baik lagi kalau disiapkan tiketnya bukan dalam bentuk uang, daripada berharap amplop untuk mengganti tiket kemudian kecewa dan rusaklah keikhlasan kalian. Kalau kalian terkenal dan kalian memiliki banyak uang dari manapun, tunjukkan kesederhanaan dan kepedulian pada tetangga kalian. Usahakan mereka melihat kalian suka memberi sehingga kalian tidak hanya dikenal suka menerima. Kalau kalian memiliki banyak jadwal undangan ceramah yang biasanya diberi amplop, maka luangkanlah waktu untuk berdakwah tanpa diundang, misalnya dengan mendatangi kampung-kampung didekat rumah kalian untuk berdakwah model silaturrahim atau majlis kecil-kecilan.

Menurut pengalaman saya, dakwah dengan ceramah di panggung itu tidak banyak hasilnya, majlis seperti itu kadang lebih dipandang sebagai hiburan karena mendatangkan penceramah yang lucu atau terkenal, pengaruhnya lebih kuat dakwah model silaturrahim, dengan interaksi dari hati ke hati dan menunjukkan peduli, apalagi kalau kalian adalah putra guru mereka turun temurun. Jangan malas apalagi gengsi untuk bersilaturrahim pada masyarakat bawah.

Oh ya, mungkin ada yang bertanya, apakah sekarang saya masih menolak amplop? Jawabannya “tidak”, tapi ketahuilah bahwa amplop yang saya terima dari undangan ceramah tidak lebih banyak dari penghasilan saya berjualan buku, kebanyakan biaya pembangunan Pesantren saya juga dari hasil penjualan buku. Kemudian, selain berjualan buku, saya juga memiliki usaha yang penghasilannya cukup untuk keperluan saya dan keluarga saya. Kalau ada yang mengundang saya maka saya hanya minta agar disiapkan stand untuk buku-buku saya, atau agar panitia membantu menjualkan buku-buku saya, bahkan terkadang saya membeli tiket sendiri dengan uang dari hasil penjualan buku-buku itu.

DIDI KEMPOT DAN MERABA JIWA MANUSIA YANG BEGITU SAJA

Gus Ulil dalam pengajian Ihya-nya pernah bertutur begini, “Manusia itu struktur jiwanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah banyak.” Kalimat ini sangat dalam sekali maknanya.

Dalam lanjutan penjelasannya Gus Ulil menuturkan, kendati ada perkembangan yang luar biasa itu keberadaannya di luar dari jiwa manusia. Ada revolusi industri 4.0, ada perkembangan teknologi, otomotif, internet dan banyak lagi. Itu kesemuanya tadi merupakan perkembangan yang ada pada luaran jiwa manusia.

Lalu apa makna dari “manusia itu struktur jiwanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah banyak”? maknanya begini, kalau anda amati dari zaman manusia mengendarai keledai, unta sampai manusia mengendarai kendaraan bermesin seperti sekarang ini, masalah yang dihadapi jiwa manusia itukan begitu-begitu saja.

Itulah kenapa tulisan maupun nyanyian perihal jiwa manusia mengenai tema-tema spiritualitas, balas dendam, patah hati, cinta, dan penghianatan dari dulu sampai sekarang tetap eksis dan bahkan cenderung digemari oleh kebanyakan orang.

Penjelasan akan fenomena ini menurut Gus Ulil hanya ada satu jawabannya, yaitu ini mengindikasikan bahwa jiwa manusia tidak mengalami perkembangan signifikan dalam rentang waktu ratusan tahun dan bahkan ribuan tahun, itulah kenapa kitab Ihya yang ditulis ratusan tahun yang lalu kita kaji sekarang terasa seperti baru kemarin sore ditulis; dan bahkan ada bagian-bagian yang ditulis Al-Gazali kok seperti menjelaskan keadaan sekarang.

Sampai di sini penulis mulai meraba-raba jiwa, bahwa sebenarnya manusia sangat dekat sekali dengan jiwanya; dan bahkan penulis beranggapan bahwa manusia itu ya jiwa itu sendiri, atau manusia itu ya rohani itu sendiri.

Akhir-akhir ini mendadak Didi Kempot seperti lahir kembali. Didi Kempot mendadak ada di berbagai lini masa: di berita online, media sosial, televisi, youtube, bahkan aplikasi streaming musik macam Spotify membuat playlist khusus berjudul This is Didi Kempot.

Beberapa hari yang lalu Mas Didi Kempot juga datang ke Jakarta, beliau didatangkan untuk mengisi acara hari jadi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mas Didi mendendangkan senandung tentang patah hati serta kesedihan di hadapan manusia-manusia yang berlumur nestapa.

Diksi seperti ketaman asmoro, tresno sliramu, nelongso, cidro, mblenjani janji, nglarani, ngapusi, netes eluh dan aneka rupa diksi cinta sekaligus patah hati Mas Didi Kempot tak ubahnya suara-suara jiwa dan rohani manusia yang dilanda cinta maupun patah hati.

Jogedan dan teriakan gerombolan manusia saat Mas Didi mendendangkan khutbah cinta dan patah hatinya merupakan ejawantah bahwa “manusia itu struktur jiwanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah banyak” dan manusia menggemari tema-tema cinta dan sakit hati sebagaimana yang diutarakan Gus Ulil. Jiwa mereka hanya berputar-putar saja pada cinta dan sakit hati. Dimensi ini sangat rohani sekali.

Akhirnya, baik Gus Ulil dan Mas Didi, keduanya merupakan sosok manusia rohani yang mampu meng-influencer para pendengarnya. Gus Ulil melalui Ngaji Ihya-nya, Mas Didi melalui dendangan khutbahnya tentang cinta dan patah hati. Keduanya tak ubahnya misionaris jiwa dan rohani yang mengajak para pendengarnya untuk selalu berpositif dalam hidup ini, dan jangan berlarut-larut dalam keterpurukan. Sekian.

APAKAH ANDA TERMASUK? INILAH 85 TINGKATAN PARA WALINYA ALLOH SWT.

فَائِدَةٌ فِى تَعْرِيْفِ اْلقُطْبِ

أَخْبَرَ الشَّيْخُ الصَّالِحُ اْلوَرَعُ الزَّاهِدُ الْمُحَقِّقُ الْمُدَقِّقُ شَمْسُ الدِّيْنِ بْنُ كَتِيْلَةُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَنَفَعَ بِهِ آمِيْنَ قَالَ : كُنْتُ يَوْمًا جَالِسًا بَيْنَ يَدِي سَيِّدِي فَخَطَرَ بَبًّالِيْ أَنْ أَسْأَلَهُ عَنِ اْلقُطْبِ فَقُلْتُ لَهُ : يَاسَيِّدِي مَا مَعْنَى اْلقُطْبُ ؟

( Faedah ) Mengenai definisi Wali Qutub

telah memberitahukan seorang guru yang sholih, wara` , Zuhud, seorang penyelidik, seorang yang teliti yakni Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala menceritakan: “ suatu hari Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu wahai tuanku?”

فَقَالَ لِيْ : اْلأَقْطَابُ كَثِيْرَةٌ ، فَإِنَّ كُلَّ مُقَدَّمِ قَوْمٍ هُوَ قُطْبُهُمْ وَأَمَّا قُطْبُ اْلغَوْثِ اْلفَرْدِ الْجَامِعِ فَهُوَ وَاحِدٌ

Lalu beliau menjawab kepadaku, “Quthub itu banyak. Setiap muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya. Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu.

( Dinuqil dari Mafahirul A`liyyah )

فالقطب عارف بهم جميعا ومشرف عليهم ولم يعرفه أحد ولايتشرف عليه وهو إمام الأولياء

Wali Quthub yang A`rif ( yang mengenal Allah Swt. ) berkumpul bersama mereka dan yang mengawasi mereka dan tidak mengetahuinya seorangpun juga , dan tidak mendapat kemuliaan atasnya, ia ( wali Quthub ) adalah imam para wali

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

وثمّة رجل واحد هو القطب والغوث الذى يُغيث كلّ العالم

Dan ada 1 orang ia adalah Wali Quthub dan Wali Gauts yang menolong di seluruh dunia.

ومتى انتقل القطب إلى الآخرة حل مكانه آخر من المرتبة التى قبله بالتسلسل إلى أن يحل رجل من الصلحاء والأولياء محل أحد الأربعة

Dan ketika Wali Quthub pindah ke akhirat keadaan tempatnya digantikan oleh peringkat lain yang sebelumnya dengan berurutan untuk menempati kedudukan orang dari para Sholaha dan Auliya yang bertempat di salah satu dari yang empat .

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

Para Quthub senantiasa bicara dengan Akal Akbar ( akal yang agung ), dengan Cahaya-cahaya Ruh (Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A’la), dengan Kesucian yang sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang Agung (Ismul A’dzam), dengan Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah), dengan Yaqut yang mememancarkan cahaya ruhani, dengan Asma’-asma, huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia ( Para Quthub )bicara dengan cahaya matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia seorang yang alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan kedalaman makna yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, hikmah dan etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Sulthanul Auliya Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily – semoga Allah senantiasa meridhoi .

والغوث عبارة عن رجل عظيم وسيد كريم تحتاج إليه الناس عند الاضطرار فى تبيين ماخفى من العلوم المهمة والأسرار ، ويطلب منه الدعاء لأنه مستجاب الدعاء لو أقسم على الله لأبرقسمه مثل أويس القرنى فى زمن رسول الله صلعم ، ولايكون القطب قطبا حتى تجتمع فيه هذه الصفات التى اجتمعت فى هؤلاء الجماعة الذين تقدم ذكرهم انتهى من مناقب سيدي شمس الدين الحنفى

Wali Ghauts, yaitu seorang tokoh besar ( agung ) dan tuan mulia, di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya, terutama untuk menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka juga memohon doa kepada al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi doanya. Jika ia bersumpah langsung terjadi sumpahnya, seperti Uwais al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub tidak bisa disebut Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral dari para Wali.

Demikian pendapat dari kitab manaqib Sayyidi Syamsuddin Al-Hanafi…

( Dinuqil dari Mafahirul ‘Aliyyah )

والواحد هو الغوث واسمه عبدالله وإذ مات الغوث حلّ محله أحد العمدة الأربعة ثمّ يحل محل العمدة واحد من الأخيار ، وهكذا يحل واحد من النجباء محل واحد من الأخيار ويحل محل أحد النقباء الذى يحل محله واحد من الناس

Dan berjumlah 1 orang yaitu Wali Gauts, namanya adalah Abdullah, dan jika Wali Gauts wafat maka kedudukannya digantikan oleh 1 orang dari Wali U`mdah yang berjumlah 4 orang kemudian kedudukan Wali U`mdah digantikan oleh 1 orang dari Wali Akhyar demikian pula kedudukan 1 orang dari Wali Nujaba menggantikan 1 orang dari Wali Akhyar dan kedudukan Wali Nuqoba digantikan oleh 1 orang dari manusia.

Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

قُطْبُ اْلغَوْثِ اْلفَرْدِ الْجَامِعِ

1. Qutubul Ghautsil Fardil Jaami`i ( 1 abad 1 Orang )

Wali yang paripurna. Bertugas memimpin para wali diseluruh alam. Jumlahnya tiap masa hanya 1 orang, bila ia wafat, ia akan digantikan oleh wali Imaamaan / Aimmah.

ويقول فى مرآة الأسرار : إنّ طبقات الصّوفيّة سبعة الطالبون والمريدون والسالكون والسّائرون والطائرون والواصلون وسابعهم القطب الذى قلبه على قلب سيّدنا محمّد صلعم وهو وارث العلم اللّدني من النبي صلعم بين الناس وهو صاحب لطيفة الحقّ الصحيحة ما عداالنبى الأمّى

Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) mengatakan dalam kitab Miratil Asror :

Sesungguhnya tingkatan-tingkatan kewalian itu ada 7 tingkat diantaranya :

Thoolibun

Muriidun

Saalikun

Saairun

Thooirun

Waashilun

Dan ke 7 dari mereka yaitu Wali Qutub yang hatinya menempati Hati Nabi Muhammad saw. Dan ia ( wali Quthub ) merupakan pewaris ilmu laduni dari Nabi Saw. diantara manusia, dan ia ( wali Quthub ) yang memiliki lathifah ilahiyyah yang benar yang telah berlari kepada Hati Nabi yang Ummi Saw.

والطالب هو صاحب قوىّ مزكيّة للطيفته الخفية الجسميّة

والمريد هو صاحب قوىّ للطيفته النفسيّة

والسالك هو من يكون صاحب قوىّ مزكيّة للطيفة القلبيّة

والسائر هو الذى يكون صاحب قوىّ مزكيّة للطيفة السّرّيّة

والطائر هو الذى وصل إلى للطيفة الروحيّة

والواصل هو الشحص الذى اصبحت قواه اللطيفة مزكّاّة على لطيفة الحقّ

Thoolib adalah yang memiliki kekuasaan menyucikan bagi lathifah Jasad yang tersembunyi

muriid adalah yang memiliki kekuasaan lathifah Nafsu

Saalik adalah orang yang memiliki kekuasaan menyucikan bagi lathifah Hati

Saair adalah orang memiliki kekuasaan menyucikan bagi lathifah Rasa

Thooir adalah orang yang sampai kepada lathifah Ruh

Wasil adalah orang yang menjadi kan kekuatan lathifahnya menyucikan terhadap lathifah ilahiyyah.

ويقولون : إنّ رجال الله هم الأقطاب والغوث والإمامان اللذان هما وزيرا القطب والأوتاد والأبدل والأخيار والأبرر والنقباء والنجباء والعمدة والمكتومون والأفراد أي المحبوبون

Mereka ( Para Hukama ) mengatakan: Sesungguhnya Para Wali Allah yaitu Wali Qutub, Wali Gauts, Wali Dua Imam, yang keduanya Wali Imamaim merupakan pelayan Wali Qutub, Wali Autad, Wali Abdal, Wali Akhyar, Wali Abrar, Wali Nuqoba, Wali Nujaba, Wali U`mdah, Wali Maktumun, dan Wali Afrad ia disebut pula Wali Mahbubun.

( Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

الإِمَامَانِ

2. Imaamani / Imaamain /Aimmah ( 1 Abad 2 orang )

Wali yang menjadi dua imam

وأما الإمامان فهما شخصان أحدهما عن يمين القطب والآخر عن شماله فالذي عن يمينه ينظر فى الملكوت وهو أعلى من صاحبه ، والذى عن شماله ينظر فى الملك ، وصاحب اليمين هو الذي يخلف القطب ، ولهما أربعة أعمال باطنة وأربعة ظاهرة :

Adapun Wali Dua Imam (Imamani), yaitu dua pribadi ( 2 orang ) , salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam Malakut (alam batin) — dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kiri –, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah Batin, dan empat amaliyah Lahir.

فأما الظاهرة ، فالزهد والورع والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara’, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.

وأما الباطنة فالصدق والإخلاص والحياء والمراقبة

Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Sidiq ( Kejujuran hati) , Ikhlas, Mememlihara Malu dan Muraqabah.

وقال القاشاني فى اصطلاحات الصوفية

Syaikh Al-Qosyani dalam istilah kitab kewaliannya Berkata :

الإمامان هما الشخصان اللذان أحدهما عن يمين القطب ونظره فى الملكوت

Wali Imam adalah dua orang, satu di sebelah kanan Qutub dan dan senantiasa memandang alam malakut ( alam malaikat )

والآخر عن يساره ونظره فى الملك،

, dan yang lainnya ( satu lagi ) di sisi kiri ( wali Qutub ) –, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak).

وهو أعلى من صاحبه وهو الذى يخلف القطب ،

dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kanan, Sosok di kiri Quthub adalah Badal dari Quthub

قلت وبينه وبين ما قبله مغايرة فليتأمل

Syaikh Al-Qosyani berkata, diantara dirinya ( yang sebelah kiri ) dan antara sesuatu yang sebelumnya ( sebelah kanan ) memiliki perbedaan dalam perenungan

(Dinuqil dari Mafahirul `Aliyyah )

Al Imamani bentuk isim tasniyyah ( bentuk ganda ) berasal dari kata tunggal Al- imam yang mempunyai arti pemimpin begitu juga Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai arti pemimpin.

Wali Imaaman merupakan Pembantu Wali Qutubul Ghautsil Fardil Jaami`i. Jumlahnya ada 2 orang. Bila Wali Qutubul Ghautsil Fardil Jaami`i wafat, maka salah 1 seorang wali Aimmah akan menggantikan posisinya.

Gelar Wali Aimmah :

1) Abdul Rabbi عَبْدُ الرَّبِّ

bertugas menyaksikan alam ghaib

2) Abdul Malik عَبْدُ الْمَالِكِ

Bertugas menyaksikan alam malaikat

الأَوْتَادُ

3. Autad ( 1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin )

Wali paku jagat

ثمّ الأوتاد وهم عبارة عن أربعة رجال منازلهم منازل الأربعة أركان من العالم شرقا وغربا وجنوبا وشمالا ومقام كل واحد منهم تلك ولهم ثمانية أعمال أربعة ظاهرة وأربعة باطنة ،

Kemudian Wali Autad mereka berjumlah 4 orang tempat mereka mempunyai 4 penjuru tiang -tiang, mulai dari penjuru alam timur, barat, selatan dan utara dan maqom setiap satu dari mereka itu, Mereka memiliki 8 amaliyah: 4 lagi bersifat lahiriyah, dan 4 bersifat batiniyah

فالظاهرة :كثرة الصيام ، وقيال الليل والناس نيام ، وكثرة الإيثار ، والإستغفار بالأسحار

Maka yang bersifat lahiriyah: 1) Banyak Puasa, 2) Banyak Shalat Malam, 3) Banyak Pengutamaan ( lebih mengutamakan yang wajib kemudian yang sunnah ) dan 4) memohon ampun sebelum fajar.

وأما الباطنة : فالتوكل والتفويض والثقة والتسليم ولهم واحد منهم هو قطبهم

Adapun yang bersifat Bathiniyah : 1) Tawakkal, 2) Tafwidh , 3) Dapat dipercaya ( amanah) dan 4) taslim.dan kepercayaan, pengiriman, dan dari mereka ada salah satu imam ( pemukanya), dan ia disebut sebagai Quthub-nya.

( dituqil dari mafahirul a`liyyah )

وثمّة أربعون آخرون هم الأوتاد الذين مدار استحكام العالم بهم . كما الطناب بالوتد . وثلاثة آخرون يقال لهم النقباء أي نقباء هذه الأمّة.

Dan ada 40 orang lainnya mereka adalah Wali Autad yang gigih mereka diatas dunia. Sebagai tali pasak. Dan tiga orang lainnya disebut bagi mereka adalah Wali Nuqoba artinya panglima umat ini

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai arti pasak/ tiang. Yang memperoleh pangkat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.

Jumlahnya selalu 4 ( empat ) setiap masa. Masing – masing menguasai 4 mata angin yg berpusat di Ka’bah Mekkah.

dalam maqam Autad kadang terdapat wali wanita.

gelar autad :

1. Abdul Hayyi عَبْدُ الْحَيِّ

2. Abdul Alim عَبْدُ الْعَالِيْمِ

3. Abdul Qadir عَبْدُ الْقَادِرِ

4. Abdul Murid عَبْدُ الْمُرِيْدِ

الأَبْدَالُ

4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada Waliyahnya ( Wanita ).

وأما الأبدال فهم سبعة رجال ، أهل كمال واستقامة واعتدال ، قد تخلصوا من الوهم والخيال ولهم أربعة أعمال باطنة وأربعة ظاهرة

Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan paripurna, istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan. Mereka telah lepas dari imajinasi dan khayalan, dan Mereka memiliki 8 amaliyah: 4 bersifat batiniyah, dan 4 lagi bersifat lahiriyah

فأما الظاهرة فالصمت والسهر والجوع والعزلة

Adapun yang bersifat lahiriyah: 1) Diam, 2) Terjaga dari tidur, 3) Lapar dan 4) ‘Uzlah.

ولكل من هذه الأربعة ظاهر وباطن

Dari masing-masing empat amaliyah lahiriyah ini juga terbagi menjadi empat pula:

Lahiriyah dan sekaligus Batiniyah:

أما الصمت فظاهره ترك الكلام بغير ذكر الله تعالى

Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya berdzikir kepada Allah Ta’ala.

وأما باطنه فصمت الضمير عن جميع التفاصيل والأخبار

Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya dari seluruh rincian keragaman dan berita-berita batin.

وأما السهر فظاهره عدم النوم وباطنه عدم الغفلة

Kedua, terjaga dari tidur secara lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari dzikrullah.

وأما الجوع فعلى قسمين : جوع الأبرار لكمال السلوك وجوع المقربين لموائد الأنس

Ketiga, lapar, terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena kesempurnaan penempuhan menuju Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun karena penuh dengan hidangan anugerah sukacita Ilahiyah (uns).

وأما العزلة فظارها ترك المخالطة بالناس وباطنها ترك الأنس بهم :

Keempat, ‘uzlah, secara lahiriyah tidak berada di tengah keramaian, secara batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak orang, karena suka cita hanya bersama Allah.

وللأبدال أربعة أعمال باطنة وهي التجريد والتفريد والجمع والتوحيد

Amaliyah Batiniyah kalangan Abdal, juga ada empat prinsipal: 1) Tajrid (hanya semata bersama Allah), 2) Tafrid (yang ada hanya Allah), 3) Al-Jam’u (berada dalam Kesatuan Allah, 3) Tauhid.

ومن خواص الأبدال من سافر من القوم من موضعه وترك جسدا على صورته فذاك هو البدل لاغير، والبدل على قلب إبراهيم عليه السلام ،

Salah satu keistimewaan-keistimewaan wali abdal dalam perjalanan qoum dari tempatnya dan meninggalkan jasad dalam bentuk-Nya maka dari itu ia sebagai abdal tanpa kecuali

وهؤلاء الأبدال لهم إمام مقدم عليهم يأخذون عنه ويقتدون به ، وهو قطبهم لأنه مقدمهم ،

Wali abdal ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.

karena sesungguhnya ia sebagai muqoddam abdal-Nya.

وقيل الأبدال أربعون وسبعة هم الأخيار وكل منهم لهم إمام منهم هو قطبهم ،

Dikatakan bahwa wali abdal itu jumlahnya 47 orang mereka disebut juga wali akhyar dan setiap dari mereka ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.

(Dinuqil dari Mafahirul `ALiyyah )

وأورد فى مجمع السلوك : أنّ الأولياء أربعون رجلا هم الأبدال وأربعون هم النقباء وأربعون هم النجباء وأربعون هم الأوتاد وسبعة هم الأمناء وثلاثة هم الخلفاء

Dikutip di dalam kitab Majmu`us Suluk : bahwa para wali berjumlah 40 orang mereka disebut Wali Abdaal , dan 40 orang disebut wali Nuqoba, 40 orang disebut wali Nujaba, 40 orang disebut wali Autad, 7 orang disebut wali Umana dan 3 orang disebut wali Khulafa.

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai arti menggantikan. Yang memperoleh pangkat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain.

Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan derajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.

Wali Abdal ( Pengganti) ini apabila salah satu anggotanya ada yang wafat, maka para wali / al Ghauts akan menunjuk penggantinya.

Jumlahnya selalu 7 orang setiap masa dan mereka menguasai 7 iklim.

النُّجَبَاءُ

5. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang )

Wali yang dermawan

ثُمَّ النُّجَبَاءُ أَرْبَعُوْنَ وَقِيْلَ سَبْعُوْنَ وَهُمْ مَشْغُوْلُوْنَ بِحَمْلِ أَثْقَلِ الْخَلْقِ فَلَا يَنْظُرُوْنَ إِلَّا فِى حَقِّ اْلغَيْرِ ، وَلَهُمْ ثَمَانِيَةُ أَعْمَالٍ. أَرْبَعَةٌ بَاطِنَةٌ ،وَ أَرْبَعَةٌ ظَاهِرَةٌ ،

Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali. Tugas mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia. Karena itu yang diperjuangkan adalah hak orang lain (bukan dirinya sendiri). Mereka memiliki 8 amaliyah: 4 bersifat batiniyah, dan 4 lagi bersifat lahiriyah:

فالظاهرة : الفتوة والتواضع والأدب وكثرة العبادة ،

Yang bersifat lahiriyah adalah 1) Futuwwah (peduli sepenuhnya pada hak orang lain), 2) Tawadlu’, 3) Menjaga Adab (dengan Allah dan sesama) dan 4) Ibadah secara maksimal.

وأما الباطنة فالصبر والرضا والشكر والحياء وهم أهل مكارم الأخلاق

Sedangkan secara Batiniyah, 1) Sabar, 2) Ridla, 3) Syukur), 4) Malu. Dan meraka di sebut juga wali yang mulia akhlaqnya.

والنجباء : هم المشغولون بحبل أثقال الخلق وهم أربعون اهـ

Dan Nujaba mereka disibukan dengan tali beban-beban makhluk jumlah Wali Nujaba 40 orang

(Dinuqil dari Mafahirul a`liyyah )

ويقول أيضا فى كشف اللغات : النجباء أربعون رجلا من رجال الغيب القائمون بإصلاح أعمال الناس . ويتحملون مشاكل الناس ويتصرفون فى أعمالهم ويقول فى شرح الفصوص : النجباء سبعة رجال يقال لهم رجال الغيب والنقباء ثلاثمائة ويقال لهم الأبرار وأقل مراتب الأولياء هي مرتبة النقباء

Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) juga mengatakan dalam Kitab kasyful Lughoh : bahwa Wali Nujaba berjumlah 40 orang dari golongan Wali Rijalil Ghoib yang menyelenggarakan dengan amal-amal manusia dan menanggung masalah manusia serta mereka bertindak dalam amal-amal mereka , dan ia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) mengatakan di dalam kitab syarohul Fushush : bahwa Wali Nujaba berjumlah 7 orang dan disebut juga mereka Wali Rijalul Ghoib , Wali Nuqoba berjumlah 300 orang disebut juga mereka Wali Abrar dan peringkat yang lebih rendah dari para wali adalah pangkat wali Nuqoba.

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

وثمّة سبعون آخرون يقال لهم النجباء ، وهؤلاء فى المغرب وأربعون آخرون هم الأبدال ومقرّهم فى الشام ،

Dan ada 70 orang yang lain disebut bagi mereka Wali Nujaba, dan orang-orang ini tinggal di Maroko dan 40 orang lainnya adalah Wali Abdal yang berpusat di Suriah,

( dituqil dari safinatul Qodiriyyah )

Wali ini hanya bisa dikenali oleh wali yg tingkatannya lebih tinggi.

jumlahnya selalu 8 orang dan du`a mereka sangat mustajab An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahwa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi derajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari 8 orang.

النُّقَبَاءُ

6. Nuqoba’ ( Naqib ) ( 1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap-tiap Bulan).

Wali yang mengetahui batinnya manusia

وَتَفْسِيْرُ ذَلِكَ أَنَّ النُّقَبَاءَ هُمُ ثَلَثُمِائَةٌ وَهُمُ الَّذِيْنَ اِسْتَخْرَجُوْا خَبَايًّا النُّفُوْس وَلَهُمُ عَشْرَةُ أَعْمَالٍ : أَرْبَعَةٌ ظَاهِرَةٌ وَسِتَّةٌ بَاطِنَةٌ

Dan penjelasan tersebut : sesungguhnya bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu yang menggali rahasia jiwa dalam arti mereka itu telah lepas dari reka daya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: 4 amaliyah bersifat lahiriyah, dan 6 amaliyah bersifat bathiniyah.

فَاْلأَرْبَعَةُ الظَّاهِرَةُ : كَثْرَةُ اْلعِبَادَةِ وَالتَّحْقِقُ بِالزُّهَّادَةَ وَالتَّجْرِدُ عَنِ اْلإِرَادَةَ وَقُوَّةُ الْمُجَاهَدَةَ

Maka 4 `amaliyah lahiriyah itu antara lain: 1) Ibadah yang banyak, 2) Melakukan zuhud hakiki, 3) Menekan hasrat diri, 4) Mujahadah dengan maksimal.

وَأَمَّا ْالبَاطِنَةُ فَهِيَ التَّوْبَةُ وَاْلإِنَابَةُ وَالْمُحَاسَبَةُ وَالتَّفَكُّرُ وَاْلإِعْتِصَامُ وَالرِّيَاضَةُ فَهَذِهِ الثَّلَثُمِائَةٌ لَهُمْ إِمَامٌ مِنْهُمْ يَأْخُذُوْنَ عَنْهُ وَيَقْتَدُوْنَ بِهِ فَهُوَ قُبْطُهُمْ

Sedangkan `amaliyah batinnya: 1) Taubat, 2) Inabah, 3) Muhasabah, 4) Tafakkur, 5) Merakit dalam Allah, 6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.

وفى اصطلاحات شيخ الإسلام زكريا الأنصاري : النقباء هم الذين استخرجوا خبايا النفوس وهم ثلثمائة

Dalam istilah Syaikh al-Islam Zakaria Al-Anshar ra.: Wali Nuqoba adalah orang-orang yang telah menemukan rahasia jiwa, dan mereka ( wali Nuqoba ) berjumlah 300 orang

(Dinuqil dari Mafahirul A`liyyah )

والنقباء ثلاثمائة شخص واسم كلّ منهم على

والنجباء سبعون واسم كلّ واحد منهم حسن

والأخيار سبعة واسم كل منهم حسين

والعمدة أربعة واسم كلّ منهم محمّد

Dan Wali Nuqoba berjumlah 300 orang dan nama masing-masing dari mereka yaitu A`li

Dan Wali Nujaba berjumlah 70 orang dan nama salah satu dari mereka yaitu Hasan

Dan Wali Akhyar berjumlah 7 orang dan nama masing-masing dari mereka yaitu Husain

Dan Wali U`mdah berjumlah 4 orang dan nama masing-masing dari mereka yaitu Muhammad

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

وأما مكان إقامة النقباء فى أرض المغرب أي السويداء واليوم هناك من الصبح إلى الضحى وبقية اليوم ليل أما صلاتهم فحين يصل الوقت فإنهم يرون الشمس بعد طيّ الأرض لهم فيؤدّون الصلاة لوقتها

Adapun tempat kediaman Wali Nuqoba di tanah Magrib yakni Khurasan , pada hari ini dari mulai Shubuh sampai Dhuha dan pada sisa malam hari itu mereka shalat ketika waktu tiba, mereka melihat matahari sesudah bumi melipat , mereka melakukan Shalat pada waktunya.

(Dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )S

Jumlahnya selalu 12. mereka sangat menguasai hukum syariat.

Jika wali Nuqaba’ melihat jejak kaki seseorang, maka ia akan dapat mengetahui apakah jejeak tsb milik orang baik, jahat, pandai atau bodoh.

An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai arti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahsia seseorang kepada seorang waliNya?

الرُّقَبَاءُ

7. Ruqooba ( 1 Abad 4 Orang)

Wali yang waspada akan firman-firman Allah

الْخَتْمُ الزَّمَانِ

8. Khotmz Zamaan ( penutup Wali Akhir zaman )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A S ketika diturunkan kembali ke dunia, Alloh Angkat menjadi Wali Khotmz Zamaan.

Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang mempunyai arti penutup atau penghabisan. Maksudnya pangkat AlKhatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada pangkat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa,yaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.

الرِّجَالُ الْمَاءِ

9. Rijalul Ma’ ( 1 Abad 124 Orang )

Wali yang beribadah didalam air dan berjalan di atas air

Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.

الرِّجَالُ الْغَيْبِ

10. Rijalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang )

Wali yang dapat melihat rahasia alam ghaib dengan mata hatinya

Tiap-tiap Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.

الرِّجَالُ الشَّهَادَةِ

11. Rijalul Syahaadah /Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang )

Wali yang ahli dalam ibadah zhohir

الرِّجَالُ اْلإِمْدَادِ

12. Rijalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )

Wali penolong

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat kurniaan Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap abad. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.

الرِّجَالُ الْهَيْبَةِ وَالْجَلَالِ

13. Rijalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )

Wali yang berwibawa dan memiliki keagungan

الرِّجَالُ الْفَتْحِ

14. Rijalul Fath ( 1 Abad 24 Orang )

Wali yang terbuka mata hatinya

Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )

ويقول فى توضيح المذاهب :

Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) berkata dalam kitab Taudhil Madzahib:

اْلمَكْتُوْمُوْنَ

15. Wali Maktum ( para wali yang tersembunyi )

berjumlah 4.000 orang

ويقول فى توضيح المذاهب :

Dia ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) berkata dalam kitab Taudhil Madzahib:

المكتومون أربعة آلاف رجل ويبقون مستورين وليسوا من أهل التصرف.

Wali Maktum berjumlah 4.000 orang dan tetap Masturin ( yakni tetap menjadi para wali yang tidak dikenal oleh orang-orang ) dan mereka bukan dari Ahlut Tashrif.

أما الذين هم من أهل الحل والعقد والتصرّف وتصدر عنهم الأمور وهم كقرّبون من الله فهم ثلاثمائة .

Adapun Ahlu Tashrif mereka itu dari Ahlul Hal yakni orang yang berpengaruh dan bertindak dengan mereka yakni Wali Kaqorrobun dari Allah Swt dan mereka berjumlah 300 orang.

( dituqil dari safinatul Qodiriyyah )

قُطْبُ الْخَتْمِ الْمَكْتُوْمِ

16. Quthbul khotmil maktum( 1 Abad 1 Orang )

Wali paripurna yang disembunyikan

كَقَرَّبُوْنَ

17. Wali Kaqorrobun

berjumlah 300 orang.

الْخُلَفَاءُ

18. Wali Khulafa ( wali para pengganti )

Berjumlah 3 orang

والثلاثة الذين هم الخلفاء من الأئمة يعرفون السبعة ويعرفون الأربعين وهم البدلاء والأربعون يعرفون سائر الأولياء من الأئمة ولا يعرفهم من الأولياء أحد فإذا نقص واحد من الأربعين أبدل مكانه من الأولياء وكذا فى السبع والثلاث والواحد إلا أن يأتي بقيام الساعة انتهى

Dan berjumlah 3 orang yang merupakan Wali Khulafa dari 7 Wali Aimah yang A`rif, dan 40 yang A`rif mereka adalah Wali Budalaa dan 40 golongan para wali yang A`rif dari Wali Aimah dan tidak ada yang mengetahui mereka dari para wali seorang pun Jika salah satu dari 40 kurang maka ia menggantikan tempatnya dari para wali demikian juga yang berjumlah tujuh dan tiga dan satu orang kecuali jika datang kiamat. ( dituqil dari safinatul Qodiriyyah )

البُدَلَاءُ

19. Budala’ ( 1 Abad 12 orang )

Wali yang menjadi penggantinya ulama

Budala’ Jama’ nya ( Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’) dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal

وقال أبو عثمان المغربي : البدلاء أربعون والأمناء سبعة والخلفاء من الأئمة ثلاثة والواحد هو القطب :

Said Abu U`tsman Al Maghriby berkata : bahwa Wali Budala`a berjumlah 40 orang, Wali Umana berjumlah 7 orang, Wali Khulafa dari Wali A’imah berjumlah 7 orang dan 1 orang adalah Wali Qutub .

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

اْلأَخْيَارُ

20. Wali Akhyar ( para wali pilihan )

Berjumlah 7 orang

وفى كشف اللغات يقول : الأولياء عدة أقسام : ثلاثمائة منهم يقال لهم أخيار وأبرار وأربعون يقال لهم الأبدل وأربعة يسمّون بالأوتاد وثلاثة يسمّون النقباء وواحد هو المسمّى بالقطب انتهى

Dalam Kitab Kasyful Lughoh ( Syaikh Abdul Qodir Jailani ra. ) mengatakan: bahwa para wali ada beberapa tingkatan : 300 orang dari mereka disebut Wali Akhyar dan Wali Abrar dan 40 orang disebut dengan Wali Abdal dan 4 orang disebut dengan Wali Autad dan 3 orang disebut dengan Wali Nuqoba dan 1 orang disebut dengan Wali Quthub……….. berakhir

( dituqil dari safinatul Qodiriyyah )

وفى رواية خلاصة المناقب سبعة . ويقال لهم أيضا أخيار وسيّاح ومقامهم فى مصر.

Di dalam kitab Riwayat ringkasan Manaqib yang ke-7 . Dikatakan bahwa Wali Akhyar juga melakukan perjalanan di muka bumi, dan tetap tinggal di Mesir.

وقد أمرهم الحقّ سبحانه بالسياحة لإرشاد الطالبين والعابدين .

Sungguh telah memerintahkan mereka kepada Allah yang Maha Haq lagi yang maha suci dengan perjalanan petunjuk untuk memandu pemohon ( Tholibun ) dan A`bidun.

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

اْلعُمْدَةُ

21. Wali Umdah ( para wali pembaiat )

Berjumlah 4 orang

وثمّة خمسة رجال يقال لهم العمدة لأنهم كالأعمدة للبناء والعالم يقوم عليهم كما يقوم المنزل على الأعمدة . وهؤلاء فى أطراف العالم .

Dan ada 5 orang disebut bagi mereka Wali U`mdah, karena sesungguhnya mereka seperti tiang bagi gedung dan dunia yang berdiri bagi mereka, sebagai mana berdirinya rumah diatas tiang. Dan orang-orang ini tinggal di belahan dunia.

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

وأما العمدة الأربعة ففى زوايا الأرض وأمّاالغوث فمسكنه مكّة وأمّا الأخيار فهم سيّاحون دائما وأمّا النجباء فمسكنه مصر ولايقرّون فى مكان وهذا غير صحيح

ذلك لأنّ حضرة السيد عبد القادر الجلاني رحمه الله وكان غوثا إنّما أقام فى بغداد .

Adapun ( tempat kediaman ) wali U`mdah di empat penjuru bumi, dan Wali Gauts tempat kediamannya di Makkah, Wali Akhyar melakukan perjalan (sayyâhûn) di muka bumi) selamanya, Wali Nujaba di Mesir dan mereka tidak menetap di satu tempat maka hal ini tidak benar, karena sesungguhnya Hadroh Sayyid Abdul Qodir Jailani menjadi Wali Gauts dan pastinya tempat kediaman Wali Gauts di Baghdad.

هذا وتفصيل أحوال الباقى فسيأتي فى مواضعه

Ini perincian kondisi sisanya yang akan datang pada tempatnya

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

اْلأَبْرَارُ

22. Wali Abrar ( para wali yang berbakti )

Berjumlah 7 orang

وثمّة سبعة هم الأبراروهم فى الحجاز .

Dan Ada 7 orang mereka adalah Wali Abrar dan mereka tinggal di Hijaz.

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

اْلمَحْبُوْبُوْنَ

23. Wali Mahbubun ( para wali yang saling mencintai )

Berjumlah 7 orang

الرِّجَالُ الْمَعَارِجِ اْلعُلَى

24. Rijalul Ma’arijil ‘Ula ( 1 Abad 7 Orang )

Wali yang terus naik derajat luhurnya

الرِّجَالُ الْعَيْنِ التَّحْكِيْمِ وَالزَّوَائِدِ

25. Rijalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )

Wali yang kuat keyakinannya dengan ilmu hikmah ( ilmu para hukama/para wali ) dan ma`rifatnya

الرِّجَالُ الْغِنَى بِاللهِ

26. Rijalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang )

Wali yang merasa cukup

sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina ” Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).

الرِّجَالُ اْلإِسْتِيَاقِ

27. Rijalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )

الرِّجَالُ الْجَنَانِ وَالْعَطْفِ

28. Rijalul Janaani wal A`thfi ( 1 Abad 15 Orang )

Wali yang ahli menjaga jiwanya dan pengasih

Ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir maupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.

الرِّجَالُ تَحْتِ اْلأَسْفَلِ

29. Rijalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )

الرِّجَالُ اْلقُوَّاةِ اْلإِلَهِيَّةِ

30. Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang )

Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zaman. Wali jenis ini mempunyai keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka mengecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Beliau dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.

خَمْسَةُ الرِّجَالِ

31. Khomsatur Rijal ( 1 Abad 5 orang )

رَجُلٌ وَاحِدٌ

32. Rojulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )

رَجُلٌ وَاحِدٌ مَرْكَبٌ مُمْتَزٌّ

33. Rojulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )

Wali dengan Maqom Rojulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ” Rojulun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.

الشَّمْسُ الشُّمُوْسِ

34. Syamsis Syumus ( 1 abad 1 orang )

Wali yang bercahaya bagaikan matahari

القُطْبَانِيَّةُ الْعُظْمَى / قُطْبُ اْلأَعْظَمُ

35. Quthbaniyatul Uzhma ( 1 abad 1 orang )

Penghulu wali yang agung

الشَّخْصُ الْغَرِيْبِ

36. Syakhshul Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )

الشَّخْصُ الْوَاحِدِ

37. Syakhshul Wahid ( 1 Abad 1 Orang )

قُطْبُ السَّقِيْطِ الرَّفْرَفِ ابْنِ سَاقِطِ الْعَرْشِ

38. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang menerima firman dari rof-rof putra wali yang menerima firman dari arasy

قُطْبُ السَّاقِطِ الْعَرْشِ

39. Saqitil ‘Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang menerima firman dari arasy

الْأَنْفَاسِ

40. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang )

Wali yang ahli menjaga nafasnya dengan dzikir

salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibty

الرِّجَالُ الْعَالَمِ الْأَنْفَاسِ

41. Rijalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang )

حَوَارِىٌّ

42. Hawariyyun ( 1 Abad 1 Orang )

Wali Pembela. Jumlahnya 1 orang.

Tugasnya membela agama Allah baik dengan argumen maupun dengan senjata. Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi. Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang sahaja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darjat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh Rasululloh: “Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”. Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Karena beliau tahu hanya Zubair saja yang meraih pangkat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.

رَجَبِىٌّ

43. . Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.

Jumlahnya selalu 40 orang. tersebar diberbagai negara dan mereka saling mengenal satu sama lain.

Karamah mereka muncul setiap bulan RAJAB.

Konon tiap memasuki bulan rajab, badan kaum Rajabiyyun terasa berat bagai terhimpit langit.

mereka hanya berbaring diranjang tak bergerak & kedua mata mereka tak berkedip hingga sore hari.

Keesokan harinya hal tsb mulai berkurang. Pada hari ketiga, mereka masih berbaring tapi sudah bisa berbicara & menyaksikan tersingkapnya rahasia Illahi. Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya pada bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya keadaan mereka kembali biasa seperti semula. Setiap masa, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang sahaja. Para wali Rajbiyun ini terbagi di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal dan ada yang tidak saling mengenal.

Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya berlangsung di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.

قَلْبُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامِ

44. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang )

قَلْبُ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامِ

45. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang )

قَلْبُ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامِ

46. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 40 Orang )

قَلْبُ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامِ

47. Qolbu Musa A.S ( 1 Abad 7 Orang )

قَلْبُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامِ

48. Qolbu Isa A.S ( 1 Abad 3 Orang )

قَلْبُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

49. Qolbu Muhammad Saw. ( 1 Abad 1 Orang )

وعن النبي صلعم أنّه قال : فى هذه الأمّة أربعون على خلق إبرهيم وسبعة على خلق موسى وثلاثة على خلق عيسى وواحد على خلق محمّد عليهم السلام والصلاة فهم على مراتبهم سادات الخلق

Sebagaimana Nabi Saw. Bersabda : ” Pada Ummat ini ada 40 orang pada hati Nabi Ibrahim as, 7 orang pada hati Nabi Musa as, 3 orang pada hati Nabi Isa as , dan 1 orang pada hati Nabi Muhammad Saw. atas mereka tingkatan-tingkatan hati yang mulia.

( dituqil dari safinatul Qodiriyyah )

قَلْبُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ

50. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang )

قَلْبُ مِيْكَائِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ

51. Qolbu Mikail A.S ( 1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih )

Alloh selalu mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat )

قَلْبُ إِسْرَافِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ

52. Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang )

إِِلَهِىٌ رُحَمَانِيٌّ

53. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang )

Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rahmaniyyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Allah.

الرِّجَالُ اْلغَيْرَةِ

54. Rijalul Ghoiroh ( 1 Abad 5 Orang )

Wali pembela agama Allah

الرِّجَالُ الْأَخْلَاقِ

55. Rijalul Akhlaq( 1 Abad 3 Orang )

Wali yang mempunyai budi pekerti yang luhur

الرِّجَالُ السَّلَامَةِ

56. Rijalul Salamah( 1 Abad 7 Orang )

Wali penyelamat

الرِّجَالُ الْعِلْمِ

57. Rijalul Ilmi ( 1 Abad 11 Orang )

Wali yang berilmu

الرِّجَالُ الْبَسْطِ

58. Rijalul basthi ( 1 Abad 9 Orang )

Wali yang lapang dada

الرِّجَالُ الْضِّيْفَانِ

59. Rijalul dhiifaan( 1 Abad 3 Orang )

Wali yang ahli menghormati tamu

الشَّخْصُ الْجَامِعِ

60. Syakhshul Jaami`i ( 1 Abad 5 Orang )

Wali yang ahli mengumpulkan ilmu syari`ah, thoriqoh, haqoiqoh dan ma`rifat

قُطْبُ الْعِرْفَانِ

61. Quthbul Irfan( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang tinggi ma`rifatnya

الرِّجَالُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

62. Rijalul Ghoibi wasy syahadah ( 1 Abad 28 Orang )

Wali yang tidak kelihatan dan kelihatan

الرِّجَالُ الْقُوَّةِ وَالْعَزْمِ

63. Rijalul Quwwati wal `Azmi ( 1 Abad 17 Orang )

Wali yang ahli meningkatkan ketaatannya kepada Allah

الرِّجَالُ النَّفْسِ

64. Rijalun Nafsi ( 1 Abad 3 Orang )

Wali yang ahli memerangi nafsunya

الصَّلْصَلَةِ الْجَرَسِ

65. Sholsholatil Jaros ( 1 Abad 17 Orang )

Wali yang ahli menerima ilham yang suaranya bagaikan bel

قُطْبُ الْقَاهِرِ

66. Quthbul Qoohir ( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang menjadi paku jagat yang mengalahkan

قُطْبُ الرَّقَائِقِ

67. Quthbur Roqooiq ( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang hatinya lunak

قُطْبُ الْخَشْيَةِ

68. Quthbul Khosyyah ( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang penakut kepada Allah

قُطْبُ الْجِهَاتِ السِّتِّ

69. Quthbul Jihatis sitti ( 1 Abad 1 Orang )

Wali yang menetap pada enam arah

الْمُلَامَتِيَّةُ

70. Mulamatiyyah ( 1 Abad 300 Orang )

Wali yang tidak menampakkan kebaikannya dan tidak memendam kejahatannya

الرِّجَالُ الْفُقَرَاءِ

71. Rijalul Fuqoro ( 1 Abad 4 Orang )

Wali yang mengharafkan rahmat Allah

الرِّجَالُ الصُّوْفِيَّةِ

72. Rijalush Shufiyah( 1 Abad 3 Orang )

Wali yang bersih jiwanya

الرِّجَالُ الْعُبَّادِ

73. Rijalul ibbad( 1 Abad 7 Orang )

Wali yang ahli ibadah

الرِّجَالُ الزُّهَادِ

74. Rijaluz Zuhad( 1 Abad 17 Orang )

Wali yang menjauhi dunia

الْأَفْرَادِ

75. Afrod( 1 Abad 7 Orang )

Wali yang menyendiri

قال : الأفراد هم الرجال الخارجون عن نظر القطب

Berkata Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala : Wali Afrod adalah Orang-orang yang keluar dari penglihatan wali qutub artinya Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia Quthub.

(Dinuqil dari Safinatul Qodiriyyah )

الْأُمَنَاءِ

76. Umana( 1 Abad 13 Orang )

Wali kepercayaan Allah

الأمناء : وهم الملامتية ، وهم الذين لم يظهر مما فى بواطنهم أثر علي ظواهرهم وتلامذتهم فى مقامات أهل الفتوة

Wali Umana Mereka adalah kalangan Malamatiyah, yaitu orang-orang yang tidak menunjukkan dunia batinnya ( mereka yang menyembunyikan dunia batinnya ) dan tidak tampak sama sekali di dunia lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul Futuwwah, yaitu mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan.

(Dinuqil dari safinatul Qodiriyyah )

الرِّجَالُ اْلقُرَّاءِ

77. Rizalul Qurro ( 1 Abad 7 Orang )

Wali yang selalu membaca Al-Qur`an

الرِّجَالُ الْأَحْبَابِ

78. Rijalul Ahbab ( 1 Abad 3 Orang )

Wali yang menjadi kekasih Allah

الرِّجَالُ اْلأَجِلَّاءِ

79. Rijalul Ajilla( 1 Abad 3 Orang )

Wali yang tinggi pangkatnya

الرِّجَالُ الْمُحَدِثِيْنَ

80. Rijalul Muhaditsin( 1 Abad 5 Orang )

Wali yang ahli hadits

السُّمَرَاءِ

81. Sumaro( 1 Abad 17 Orang )

Wali yang ahli bangun malam bermunajat kepada Allah

الرِّجَالُ اْلوَرَثَةَ الظَّالِمِ لِنَفْسِهِ مِنْكُمْ وَالْمَقْتَصِدِ وَالسَّابِقِ بِالْخَيْرَاتِ

82. Rijalul warotsatazh Zholimi Linnafsih( 1 Abad 4 Orang )

Wali yang mewarisi para wali yang selalu zholim kepada dirinya serta menuju dan berlomba kepada kebaikan

اْلأَبْطَالُ

83. Abthol( 1 Abad 27 Orang )

Wali pahlawan

الْأَطْفَالُ

84. Athfal( 1 Abad 4 Orang )

Wali yang bertingkah seperti anak kecil

الدَّاخِلُ الْحِجَابِ

85. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )

Wali yang berada dalam hijab Allah

Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Thowaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz, dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab ” Berada di Dalam Hizabnya Alloh “.

Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.

Wallohu a’lam

PENYEBAB-PENYEBAB AHLI TAFSIR TIDAK MAMPU MNGUAK RAHASIA AL-QUR’AN

Tak terelakkan lagi bahwa al-Quran itu memiliki makna lahir dan batin. Hal ini diamini oleh Nabi sendiri, sebagaimana sabdanya yang tersebar dengan beragam redaksi; Dari jalur Ibn Mas’ud Nabi pernah bersabda, “Alquran diturunkan dengan tujuh huruf, setiap ayatnya mengandung makna lahir dan batin.” Sedangkan dari jalur ‘Abd Rahman bin ‘Auf mencatat nabi pernah berkata, “Alquran berada di atas ‘Arsy baginya memiliki makna lahir dan batin.” Dan dari jalur Ibn ‘Ubayd dari Hasan meriwayatkan, “Setiap ayat terdapat makna lahir dan batin, dan setiap huruf memiliki batasan (hadd) dan setiap hadd memiliki mathla’.” Dan masih banyak lagi riwayat yang menunjukan bahwa Alquran memiliki dimensi lahir dan batin.

Kalau kita telisik ke berbagai kitab tafsir sufi seperti Tafsir al-Tustari, Tafsir al-Qusyairi, Tafsir Ibn Arabi (Ta’wilat al-Kasyani), Ta’wilat al-Najmiyyah, dll kita akan menemukan di dalam muqadimah kitab tersebut terdapat segudang riwayat terkait makna batin Alquran.

Sebegitu pentingnya menguak makna batin al-Quran, Imam as-Suyuthi di dalam al-Itqan menyandingkan sebuah riwayat yang dilaporkan oleh Abu Darda’ yaitu, “Seorang tidaklah disebut sebagai faqih hingga ia mampu menjadikan Alquran memiliki wujuh (makna) yang beragam.”

Lalu apa penyebab yang membuat kita sebagai pembaca Alquran tak mampu memperoleh makna batin yang sebegitu pentingnya itu?

Menjawab pertanyaan tersebut, dalam kitab Ihya’ tepatnya pada pembahasan tentang Adab Tilawah Alquran, pada pasal ketiga Imam al-Ghazali menjelaskan secara detail terkait penyebab manusia tertutup pemahamannya dalam menyingkap makna batin Alquran. Hal ini disebabkan karena adanya setan yang sengaja menutupi pintu hati manusia sebagaimana diisyaratkan oleh hadis Nabi Muhammad saw.

قال صلى الله عليه وسلم : لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى الملكوت

“Seandainya setan tidak merancaukan hati manusia, niscaya mereka mampu menyingkap keterhijaban alam malakut.” (HR. Imam Ahmad)

Menjelaskan hadis di atas, Imam Al-Ghazali percaya akan makna hakiki Alquran yaitu meliputi alam malakut. Yaitu alam yang tidak terjangkau dengan panca indra, dan hanya bisa diketahui lewat kebeningan cahaya hati (nurul bashirah).

Lebih spesifik lagi Imam Al-Ghazali mengeksplor bahwa, menurutnya ada 4 penyebab utama yang membuat pembaca Alquran terhijab dalam mereguk makna batin Alquran yaitu :

Pertama, pembaca Alquran tersibukkan pada perihal eksoteris Alquran seperti; makharij al-huruf, tajwid, serta qira’ah (irama membaca Al-Quran). Di sini, perlu dicatat, dalam menjelaskan sebab pertama, al-Ghazali tidak menegasikan sama sekali pentingnya ilmu-ilmu yang telah disebutkan, karena apabila kita tengok sebelum pembahasan ini dalam Ihya’ al-Ghazali membahas secara komprehensif terkait 10 Adab/Amaliyah Dhahir Membaca Alquran yang meliputi pentingnya membaca Alquran secara tartil dan memiliki kesesuaian dengan kaidah-kaidah tajwid yang berlaku.

Atas dasar itu, Imam al-Ghazali menekankan bahwa mufasir selamanya tidak akan mampu melihat keindahan dan keluasan makna batin Alquran apabila ia berhenti dan tersibukkan dengan keindahan lahiriyah semata. Untuk itu mufasir/pembaca/pengkaji Alquran tidak dianjurkan berhenti pada dimensi lahir semata, melainkan ia harus terus menerus berjalan ke ranah yang lebih dalam yaitu batin Alquran.

Kedua, Taklid buta pada mazhabnya. Terkait dengan ini al-Ghazali mengutip ungkap Sufyan al-Tsauri ra yang pernah berujar, “Terkadang ilmu itu akan menjadi hijab bagi mereka yang dibutakan oleh sikap taklid.” Menurut Al-Ghazali yang dimaksud dengan ilmu dalam konteks ini ialah kepercayaan (mazhab) yang diikuti secara membuta.

Ketiga, terus menerus melakukan kemaksiatan/dosa, watak kesombongan, takluk akan nafsu dunia. Semuanya itu adalah penyebab hati menjadi gelap dan berkarat. Ketika dosa dan hasrat akan duniawi ini semakin bertambah saat itulah hakikat makna Alquran semakin tersembunyi. Sebaliknya ketika hati telah jernih, maka penyingkapan akan makna Alquran semakin terang nan nampak.

Di sini, penting bagi kita untuk melakukan mujahadah (perang besar dengan penuh kesungguhan menundukkan hawa nafsu), tazkiyyah al-nafs (penyucian jiwa/hati dari sifat-sifat tercela) Jika kita telah sukses di tahap ini, hati kita akan menjadi bening dan saat itu juga cahaya Alquran mulai merasuki ke relung kalbu kita yang terdalam.

Keempat, memiliki keyakinan untuk menegasikan makna batin Alquran dan hanya menerima, mengakui makna lahir semata. Di dalam kitab Misykat al-Anwar Imam al-Ghazali menyebutkan kelompok ini dengan sebutan kelompok Hasyawiyyah. Paham ini selamanya tidak akan mampu menguak makna batin Alquran.

Semoga kita semua diberikan kemampuan dan kesiapan untuk menerima pancara Ilahi, sehingga kita mampu merasakan keindahan, kedahsyatan, dan keluasan akan makna Alquran baik lahir dan batin.

CARA AGAR SUAMI ISTRI HARMONIS DALAM MENGARUNGI RUMAHTANGGA

⇦ حسن الخلق معهن واحتمال الاذا ترحما عليهن لقصور عقلهن. وقال الله: وعاشروهن بالمعروف

⇦ ان يزيد علي احتمال الاذي بالمداعبة والمزح والملاعبة، فهي التي تطيب قلوب النساء، وقد كان رسول الله يمزح معهن. قال رسول الله: اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا والطفهم باهله

⇦ ان لا يتبسط في الدعابة وحسن الخلق والموافقة باتباع هواها الي حد يفسد خلقها ويسقط بالكلية هيبته عندها، بل يراعي الاعدال فيه. قال الحسن: والله ما اصبح رجل يطيع امراته فيما تهوي الا كبه الله في النار

⇦ الاعتدال في الغيرة. قال قلعم: ﺇِﻧِّﻲْ ﻟَﻐَﻴُﻮْﺭٌ ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺍِﻣْﺮِﺉٍ ﻻَ ﻳُﻐَﺎﺭُ ﺇِﻻَّ ﻣَﻨْﻜُﻮْﺱُ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ. قال صلعم: ﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮَﺓِ ﻏَﻴْﺮَﺓٌ ﻳَﺒْﻐَﻀُﻬَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﻫِﻲَ ﻏَﻴْﺮَﺓُ

ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺭِﻳْﺒَﺔ

⇦ الاعتدال في النفقة فلا ينبغي ان يقتر عليهن في الانفاق ولا ينبغي ان يسرف، بل يقتصد. قال تعالي: وكلو واشربوا ولا تسرفوا

⇦ ان يتعلم المتزوج من علم الحيض واحكمه ما يحترز به الاحتراز الواجب، ويعلم زوجته احكام الصلاة وما يقضي منها وما لا يقضي، فانه امر بان يقيها النار بقوله: قو انفسكم واهليكم نارا.

⇦ اذا كان له نسوة فينبغي اي يعدل بينهن ولا يميل الي بعضهن فان خرج الي السفر واراد استصحاب واحد اقرع بينهن

▶▶Berperangai baik serta bersabar atas sakit yang diterima dari isterinya dalam rangka berbelaskasih pada istri karena pendek akal/pemikirannya. Allah berfirman: Dan pergaulilah istri kalian dengan cara yang baik.

▶▶Tidak cukup engkau bersabar saja, melainkan juga perlu ber-cumbu rayu, ber-senda gurau, sebab itu akan melegakan/menyenangkan hati isteri, Rasulullah-pun juga bergurau bersama para isterinya.

Rasulullah bersabda: “Paling sempurna iman-nya orang mukmin adalah yang paling baik perangainya dan paling lemah lembut pada keluarganya.

▶▶Jangan berlebihan dalam bersenda gurau, serta berperilaku baik dan jangan mengikuti segala keinginannya sampai pada batas dimana justru akan merusak akhlaknya, dan menggugurkan kewibaanmu dihadapannya.

Al-Hasan berkata: Demi Allah, tidaklah seorang lk (suami) yg taat pada isterinya dalam hal hawa (keinginan -nya) kecuali Allah akan melemparkannya ke dalam neraka.

▶▶Cemburu sewajarnya saja. Rasul bersabda: “Sesungguhnya aku adalah seorang pencemburu dan tidak ada seorang pun yang tidak cemburu pada istrinya kecuali dia adalah pria yang terbalik hatinya.”

Rasul bersabda: “Sesungguhnya di antara sifatcemburu, ada yang dibenci oleh Allah, yaitu cemburu pada istri tanpa ada kecurigaan.”

▶▶Sederhana dalam memberi nafkah (belanja), jangan terlalu hemat jangan berlebihan.

Allah berfirman: “Makanlah, minumlah tetapi jangan berlebihan”.

▶▶Belajar ilmu haid serta hukum-hukumnya, dan juga hal wajib yang berkaitan dengan haid. Mengajari isteri tentang sholat yang wajib di qada’ dan yang tidak. Sesungguhnya Allah memerintahkan suami untuk menjaga isterinya melalui firman-Nya “Jagalah dirimu serta keluargamu dari api neraka”.

▶▶Jika memiliki isteri lebih dari satu, hendaknya bersikap adil diantara keduanya, jangan condong pada salah satu dari mereka, jika hendak bepergian dengan isterinya, hendaklah mengundi diantara mereka, seperti itu yang dilakukan oleh Rasulullah.

Wallahu a’lam  Ihya’ Ulumuddin 2/55-62