BAHAYANYA IRI HATI DAN IRIHATI YANG DI PERBOLEHKAN

قال الغزالي : الحسد هو المفسد للطاعات الباعث على الخطيئات وهو الداء العضال الذي ابتلي به كثير من العلماء فضلا عن العامة حتى أهلكهم وأوردهم النار وحسبك أن الله أمر بالاستعاذة من شر الحاسد فقال : * (ومن شر حاسد إذا حسد) * كما أمر بالاستعاذة من شر الشيطان

Imam al-Ghozali berkata : “Iri dapat merusakkan segala ketaatan serta menimbulkan berbagai dosa dan kesalahan, iri adalah penyakit berat yang menjadi cobaan besar bagi kebanyakan orang-orang alim terlebih orang-orang awam, ia mampu menghancurkan serta menyeret mereka ke jurang api neraka, sebagaimana Allah memerintahkan hambanya berlindung dari godaan syetan, Allah memerintahkan untuk berlindung dari orang-orang yang IRI HATI, Allah berfirman :

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”. (QS. 113:5)

Faidh al-Qadir III/549

وَقَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ : رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْل وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْل وَآنَاءَ النَّهَارِ (1)

 (1) حديث : ” لا حسد إلا في اثنين : رجل آتاه . . . ” . أخرجه البخاري ( الفتح 13 / 502 ط السلفية ) ومسلم ( 1 / 558 ط الحلبي ) من حديث عبد الله بن عمر .

Nabi Muhammad Saw bersabda, ”Iri hati (hasad) itu tidak diperbolehkan, kecuali terhadap dua hal, seseorang yang dikaruniai Allah kemampuan al-Qur’an dan ia terus menerus membacanya diwaktu malam dan siang dan seseorang yang dikaruniai harta yang banyak oleh Allah dan ia membelanjakannya (menginfaqkannya) malam dan siang.” (HR. Bukhari-Fath al-Baari XIII/502, Muslim I/558 dari Abdullah Bin Umar ra.)

قال العلماء الحسد قسمان حقيقي ومجازي فالحقيقي تمنى زوال النعمة عن صاحبها وهذا حرام بإجماع الأمة مع النصوص الصحيحة وأما المجازي فهو الغبطة وهو أن يتمنى مثل النعمة التي على غيره من غير زوالها عن صاحبها فإن كانت من أمور الدنيا كانت مباحة وان كانت طاعة فهي مستحبة

Berkata Orang-orang Alim  bahwa Iri terbagi atas dua bagian :

  • HAQIQI ialah iri dalam arti mengharapkan hilangnya kenikmatan dari orang sedang mendapatkannya, yang demikian haram secara kesepakatan ulama berdasarkan dalil-dalil nash yang tegas.
  • MAJAZI ialah iri dalam arti mengharapkan nikmat seperti nikmat yang diberikan pada orang lain tanpa berharap hilangnya kenikmatan tersebut dari lainnya, bila yang ia harapkan hal-hal yang bersifat duniawi maka hukumnya mubah (boleh), dan bila berupa ketaatan maka sangat dianjurkan, itulah arti iri yang terkandung dalam hadts nabi diatas.

Syarh an-Nawawy ala Muslim VI/97

PELAJARAN TENTANG IKHLAS

TENTANG IKHLAS

Dinukil dari kitab Tambihul Ghofiliin karya imam Abul Laits As Samarqondi :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ الْمَلَائِكَةَ يَرْفَعُونَ عَمَلَ عَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ

فَيَسْتَكْثِرُونَهُ وَيُزَكُّونَهُ حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ سُلْطَانِهِ فَيُوحِي اللَّهُ تَعَالَى

إِلَيْهِمْ: أَنَّكُمْ حَفَظَةٌ عَلَى عَمَلِ عَبْدِي وَأَنَا رَقِيبٌ عَلَى مَا فِي نَفْسِهِ، إِنَّ عَبْدِي هَذَا لَمْ يُخْلِصْ

لِي عَمَلَهُ فَاكْتُبُوهُ فِي سِجِّينٍ، وَيَصْعَدُونَ بِعَمَلِ عَبْدٍ فَيَسْتَقِلُّونَهُ وَيَحْتَقِرُونَهُ حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ

إِلَى حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ مِنْ سُلْطَانِهِ، فَيُوَحِيَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ أَنَّكُمْ حَفَظَةٌ عَلَى عَمَلِ عَبْدِي , وَأَنَا

رَقِيبٌ عَلَى مَا فِي نَفْسِهِ , إِنَّ عَبْدِي هَذَا أَخْلَصَ لِي عَمَلَهُ فَاكْتُبُوهُ فِي عِلِّيِّينَ “.

Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda, ” Sesungguhnya malaikat membawa naik amalan seorang hamba dari hamba2nya Allah kemudian malaikat tsb menganggapnya banyak dan memuji2nya hingga mereka sampai kpd apa yg di kehendaki oleh Allah ta’ala dari kerajaanNya, kemudian Allah mewahyukan kpd mereka : ‘Sesungguhnya kalian adalah malaikat penjaga amalan2 hambaKu dan Aku mengawasi thd apa yg ada di dalam hatinya, sesungguhnya hambaku ini tdk ikhlas ketika beramal kpdKu maka tulislah dia kedalam neraka sijjin.’ Dan malaikat membawa naik amalan seorang hamba maka mereka menganggap amalannya sedikit dan menghinanya hingga mereka sampai kpd apa yg dikehendaki oleh Allah dari kerajaanNya, kemudian Allah mewahyukan kpd mereka: ‘Sesungguhnya kalian adalah malaikat penjaga thd amalannya hambaKu dan aku mengawasi terhadap apa yg ada di dalam hatinya, sesungguhnya hambaku ini ikhlas ketika beramal kpdKu maka tulislah dia kedalam syurga illiyyiin.”

فَفِي هَذَا الْخَبَرِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ قَلِيلَ الْعَمَلِ إِذَا كَانَ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى خَيْرٌ مِنَ الْكَثِيرِ لِغَيْرِ وَجْهِ

اللَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّ الْقَلِيلَ إِذَا كَانَ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ اللَّهَ يُضَاعِفُهُ بِفَضْلِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ

تَعَالَى: {إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا} [النساء: 40]

وَأَمَّا الْكَثِيرُ إِذَا لَمْ يَكُنْ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا ثَوَابَ لَهُ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa sesungguhnya amalan yg sedikit jika adanya karena mengharap ridho Allah ta’ala itu lebih baik dari pada amalan yg banyak tapi tidak mengharap ridho Allah ta’ala, alasannya karena sesungguhnya amalan yg sedikit jika adanya karena mengharap ridho Allah ta’ala maka sesungguhny Allah melipatgandakanya dengan anugrahNya sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar “(an nisa’ ayat 40). Adapun amalan yg banyak jika adanya bukan karena mengharap ridho Allah ta’ala maka tiada pahala baginya dan tempat kembalinya adalah neraka jahannam.

وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ: مَنِ الْمُخْلِصُ؟ قَالَ: الْمُخْلِصُ الَّذِي كَتَمَ حَسَنَاتِهِ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتِهِ

Dan ditanyakan kpd sebagian ulama’ ahli hikmah : “Siapakah orang yg ikhlas itu?”

“Orang yg ikhlas adalah orang yg menyembunyikan kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya.”

وَقِيلَ لِبَعْضِهِمْ: مَا غَايَةُ الْإِخْلَاصِ؟ قَالَ: أَنْ لَا يُحِبَّ مَحْمَدَةَ النَّاسِ.

Ditanyakan kpd sebagian yg lain : “Apa puncaknya ikhlas ?”

“Puncaknya ikhlas adalah ketidaksukaan thd pujian manusia.”

وَقِيلَ لِذِي النُّونِ الْمِصْرِيِّ: مَتَى يَعْلَمُ الرَّجُلُ أَنَّهُ مِنْ صَفْوَةِ اللَّهِ تَعَالَى؟ يَعْنِي مِنْ

خَوَاصِّهِ الَّذِينَ اصْطَفَاهُمُ اللَّهُ تَعَالَى، قَالَ: يَعْرِفُ ذَلِكَ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: إِذَا خَلَعَ الرَّاحَةَ،

يَعْنِي تَرَكَ الرَّاحَةَ، وَأَعْطَى مِنَ الْمَوْجُودِ، يَعْنِي يُعْطِي مِنَ الْقَلِيلِ الَّذِي عِنْدَهُ، وَأَحَبَّ

سُقُوطَ الْمَنْزِلَةِ، وَاسْتَوَتْ عِنْدَهُ الْمَحْمَدَةُ وَالْمَذَمَّةُ

Ditanyakan kpd Dzun Nun al Misri : “Kapankah seseorang itu mengetahui bahwa sesungguhnya dia adalah termasuk sebagian dari pilihan Allah ? maksudnya sebagian dari orang2 khusus yg dipilih oleh Allah ta’ala. Dzu Nun menjawab: “Hal itu bisa diketahui dengan empat perkara:

  1. ketika dia mencabut kesenangan, maksudnya meninggalkan kesenangan.
  2. memberikan dari yg ada, maksudnya memberikan dari yg sedikit yg ada di sampingnya.
  3. suka terhadap jatuhnya derajat.
  4. sama baginya antara pujian dan celaan.

TINGKATAN KEIKHLASAN

Ada orang yang bertanya:  Apakah boleh kita membaca waqiah dengan tujuan meraih dunia (kelancaran rizki)? Apakah hal ini tidak termasuk kategori Riya’. Permasalahan seperti ini bisa saja menggangu pikiran para jamaah. Maka dalam kesempatan ini saya ingin meluruskan mengenai definisi riya, ikhlas dan tingkatannya seperti berikut dan selanjutnya anda yang akan menjawab pertanyaan diatas dengan sendirinya. Dalam Risalah qusyairiyah disebutkan :

وقال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى: (ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما) [“الرسالة القشيرية” ص95 ـ 96)

Fudhail bin iyadl Rahimahullah berkata: Meninggalkan Amal karena manusia itu namanya riya’, beramal karena manusia itu namanya syirik dan Ikhlas adalah jika engkau dijauhkan oleh Allah dari keduanya.

Sedang Ibnu Ajibah Rahimahullah berkata ;

الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.

Ikhlas terdiri atas tiga tahapan:

فإخلاص العوام: هو إخراج الخلق من معاملة الحق مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور.

(1) Ikhlas awam. Yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;

وإخلاص الخواص: طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية.

(2) Ikhlas Khusus. Yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;

وإخلاص خواص الخواص: إخراج الحظوظ بالكلية، فعبادتهم تحقيق العبودية والقيامُ بوظائف الربوبية محبة وشوقاً إلى رؤيته،

(3) Ikhlas khawasul khawas. Yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT. Dalam kitab minhajul abidin terdapat permasalahan yaitu: Banyak masyayikh yang mengamalkan surat waqiah sewaktu dilanda kesulitan (ayyamul usri), mereka membaca quran yang termasuk amalan akhirat tapi dengan menghendaki harta dunia, apakah tidak termasuk riya’? Imam ghazali menjawab bahwa tujuan mereka adalah dunia yang digunakan untuk kebaikan, mengajarkan ilmu, menolak ahli bid’ah, membela kebenaran, mengajak-ngajak manusia menuju ibadah, dan mempermudah ibadah.

فَهَذِهِ كُلُّهَا إرَادَاتٌ مَحْمُودَةٌ لَا يَدْخُلُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي بَابِ الرِّيَاءِ ؛ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْهَا أَمْرُ الْآخِرَةِ بِالْحَقِيقَةِ

Ini semua adalah keinginan / tujuan yang terpuji yang tidak masuk kedalamnya sesuatupun dari unsur riya’. Karena harta dunia (yang dicari dari surat waqiah) hakikatnya adalah berorientasi akhirat. Hal ini berlandaskan pada hadits shohih; “innamal a’mal bin niyyaat ” yang dijabarkan dalam sebuah hadits :

كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

PENJELASAN TENTANG TAWAKAL, TAFWIDL DAN TASLIM

Syaikh Abu Ali Ad Daqqoq berkata : ” Tawakkal itu ada 3 derajat, yaitu Tawakkal kemudian Taslim kemudian Tafwidl. Orang yang bertawakkal tenang pada janji-Nya, orang yang taslim merasa cukup dengan ilmu-Nya dan orang yang tafwidl ridlo dengan hukum-Nya. Tawakkal adalah permulaan, taslim adalah pertengahan dan tafwidl adalah puncaknya. Tawakkal adalah sifatnya mukminin, taslim adalah sifatnya para wali dan tafwidl adalah sifatnya muwahhidin.”

Tawakkal Adalah titik permulaan dari berbagai hâl yang khusus berhubungan dengan perintah atau perjalanan rohani, dengan menyandarkan diri kepada Allah dan bersikap percaya penuh (tsiqah) kepada-Nya; kemudian dilanjutkan dengan menggetakkan hati dalam kawasan keberlepasan diri dari segala bentuk kekuatan dan daya manusia. Hasil dari tawakal adalah: mengalihkan segala sesuatu kepada sang Mahakuasa yang kekuasaan-Nya absolut dan tercapainya penyandaran diri secara total kepada Allah secara spiritual di akhirnya.

Setelah tawakal, yang muncul kemudian adalah “taslîm”, setelah itu muncullah “tafwîdh”, dan ujungnya adalah “tsiqah”.

Tawakal berarti : Penyandaran hati kepada Allah mempercayai-Nya sepenuhnya, serta kesadaran hati untuk melarikan diri dari pengawasan kekuatan dan sumber manapun. Jika penyandaran diri dan kepercayaan penuh seperti ini belum tercapai, maka seorang hamba tidak dapat disebut sudah bertawakal. Selain itu, seorang hamba juga tidak akan pernah dapat mencapai tawakal yang sejati, selama pintu-pintu hatinya masih terbuka bagi yang selain Allah s.w.t..

Tawakal harus dilakukan dengan tetap memberi perhatian pada ikhtiyar dan tanpa meninggalkan ikhtiyar yang ada di kawasan al-asbâb. Barulah setelah itu kita harus menunggu gerakan takdir yang bersifat absolut terhadap kita semua. Dua langkah setelah tawakal, terdapat tahapan “taslîm” yang oleh para Ahl al-Haqq didefinisikan sebagai “sikap berserah diri seperti layaknya mayit di tangan orang yang memandikannya”. Setelah itu, terdapat maqam “tafwîdh” yang artinya adalah: Mengalihkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan menunggu segala sesuatu dari-Nya.

Jadi, tawakal adalah titik permulaan, sementara taslîm adalah hasilnya, dan tafwîdh adalah buahnya. Itulah sebabnya, tafwîdh lebih luas dari kedua maqam sebelumnya, dan ia layak bagi orang-orang yang sudah sampai di akhir, karena di dalam tafwîdh terkandung maqam yang melebihi maqam “keterlepasan manusia dari kekuatan dan daya yang dimilikinya” yang terdapat pada tahapan taslîm. Pada maqam inilah seseorang mencapai ufuk “lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh” (tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya pada Allah), dan ia akan merasakan isi dari “Khazanah Tersembunyi” (Kanz Makhfi) di setiap saat, serta ia juga akan memiliki seluruh kekayaan yang ada di dalam surga.

Dengan kata lain : Seorang salik yang menempuh jalan kebenaran, selalu merasakan kelemahan dan kefakirannya karena ia selalu ingat pada titik istinâd dan istimdâd yang ada di dalam hatinya. Setelah ia memiliki kesadaran atas dua hal itu, ia pun berkata: “Hamba tak mampu berpaling dari-Mu. Raihlah tangan hamba wahai Ilahi…raihlah tangan hamba…”, lalu ia bertawajuh menuju sang Sumber kekuatan, kehendak, dan keinginan.

Tawakal adalah sikap hamba untuk menjadikan Tuhannya sebagai tempatnya bergantung demi kemaslahatannya, baik pada urusan duniawi maupun ukhrawi. Adapun tafwîdh adalah istilah yang dipakai untuk menyebut pengakuan terhadap esensi yang ada di balik sikap tawakal dengan menggunakan perasaan hati.

Dengan kata lain: Tawakal adalah ketika seorang manusia bersandar kepada Allah dan segala yang dimiliki-Nya serta menutup semua pintu hati dari yang selain Dia. Kita juga mengatakan bahwa tawakal adalah membaktikan tubuh dalam ubudiyah dan mengaitkan hati dengan rububiyah.

Syihab bersyair tentang masalah ini:

    Tawakal-lah kepada Rahman di segala urusan

    Pasti tidak rugi orang yang bertawakal kepada-Nya

    Jadilah orang percaya kepada Allah dan sabarlah atas ketetapan-Nya

    Pasti kau raih segala anugerah yang kau harap dari-Nya.

( Madarijus Salikin -Ibn Al Qoyyim- 2/170 ). Wallohu a’lam.

Referensi :

Kitab Maslakul Atqiya’ hal. 146, Ihya’ 4/258, Sirojut Tholibin :

قال أبو علي الدقاق: التوكل ثلاث درجات: التوكل ثم التسليم ثم التفويض، فالمتوكل يسكن إلى وعده، وصاحب التسليم يكتفي بعلمه، وصاحب التفويض يرضى بحكمه، فالتوكل بداية والتسليم واسطة والتفويض نهاية، فالتوكل صفة المؤمنين والتسليم صفة الأولياء والتفويض صفة الموحدين

الموسوعة الفقهية الكويتية

تَوَكُّلٌ

التَّعْرِيفُ:

١ – التَّوَكُّل فِي اللُّغَةِ: إِظْهَارُ الْعَجْزِ وَالاِعْتِمَادُ عَلَى الْغَيْرِ وَالتَّفْوِيضُ وَالاِسْتِسْلاَمُ، وَالاِسْمُ مِنْهُ الْوَكَالَةُ. يُقَال: وَكَّل أَمْرَهُ إِلَى فُلاَنٍ أَيْ فَوَّضَهُ إِلَيْهِ، وَاعْتَمَدَ عَلَيْهِ فِيهِ، وَتَوَكَّل عَلَى اللَّهِ اعْتَمَدَ عَلَيْهِ وَوَثِقَ بِهِ، وَاتَّكَل عَلَيْهِ فِي أَمْرِهِ كَذَلِكَ. وَالتَّوَكُّل أَيْضًا قَبُول الْوَكَالَةِ، يُقَال وَكَّلْتُهُ تَوْكِيلاً فَتَوَكَّل. (١)

وَفِي الشَّرِيعَةِ يُطْلَقُ التَّوَكُّل عَلَى الثِّقَةِ بِاَللَّهِ وَالإِْيقَانِ بِأَنَّ قَضَاءَهُ مَاضٍ، وَاتِّبَاعٍ لِسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّعْيِ فِيمَا لاَ بُدَّ لَهُ مِنْهُ مِنَ الأَْسْبَابِ. (٢)

تَسْلِيمٌ

التَّعْرِيفُ:

١ – مِنْ مَعَانِي التَّسْلِيمِ فِي اللُّغَةِ: التَّوْصِيل، يُقَال سَلَّمَ الْوَدِيعَةَ لِصَاحِبِهَا: إِذَا أَوْصَلَهَا فَتَسَلَّمَ ذَلِكَ، وَأَسْلَمَ إِلَيْهِ الشَّيْءَ: دَفَعَهُ. وَمِنْهُ السَّلَمُ، وَتَسَلَّمَ الشَّيْءَ: قَبَضَهُ وَتَنَاوَلَهُ. وَسَلَّمْتُ إِلَيْهِ الشَّيْءَ فَتَسَلَّمَهُ: أَيْ أَخَذَهُ. وَسَلَّمَ الشَّيْءَ لِفُلاَنٍ: أَيْ خَلَّصَهُ. وَسَلَّمَهُ إِلَيْهِ: أَعْطَاهُ إِيَّاهُ. وَسَلَّمَ الأَْجِيرُ نَفْسَهُ لِلْمُسْتَأْجِرِ: مَكَّنَهُ مِنْ مَنْفَعَةِ نَفْسِهِ حَيْثُ لاَ مَانِعَ. وَالتَّسْلِيمُ بَذْل الرِّضَى بِالْحُكْمِ.

وَالتَّسْلِيمُ: السَّلاَمُ، وَسَلَّمَ الْمُصَلِّي: خَرَجَ مِنَ الصَّلاَةِ بِقَوْلِهِ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. وَسَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ: حَيَّاهُمْ بِالسَّلاَمِ، وَسَلَّمَ: أَلْقَى التَّحِيَّةَ، وَسَلَّمَ عَلَيْهِ: قَال لَهُ: سَلاَمٌ عَلَيْكَ. (١)

وَلاَ يَخْرُجُ مَعْنَى التَّسْلِيمِ فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ عَنِ الْمَعَانِي الْمَذْكُورَةِ.

تَفْوِيضٌ

التَّعْرِيفُ:

١ – التَّفْوِيضُ لُغَةً مَصْدَرُ فَوَّضَ، يُقَال: فَوَّضْتُ إِلَى فُلاَنٍ الأَْمْرَ أَيْ صَيَّرْتُهُ إِلَيْهِ وَجَعَلْتُهُ الْحَاكِمَ فِيهِ. (١) وَمِنْهُ حَدِيثُ الْفَاتِحَةِ فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي (٢) وَاصْطِلاَحًا يُسْتَعْمَل فِي بَابِ النِّكَاحِ. يُقَال: فَوَّضَتِ الْمَرْأَةُ نِكَاحَهَا إِلَى الزَّوْجِ حَتَّى تَزَوَّجَهَا مِنْ غَيْرِ مَهْرٍ، وَقِيل: فَوَّضَتْ أَيْ أَهْمَلَتْ حُكْمَ الْمَهْرِ، فَهِيَ مُفَوِّضَةٌ (بِكَسْرِ الْوَاوِ) لِتَفْوِيضِهَا أَمْرَهَا إِلَى الزَّوْجِ أَوِ الْوَلِيِّ بِلاَ مَهْرٍ.

وَمُفَوَّضَةٌ (بِفَتْحِ الْوَاوِ) مِنْ فَوَّضَهَا وَلِيُّهَا إِلَى الزَّوْجِ بِلاَ مَهْرٍ. (٣)

وَهُوَ فِي بَابِ الطَّلاَقِ: جَعَل أَمْرَ طَلاَقِ الزَّوْجَةِ بِيَدِهَا (٤) .

Dasar Kepemimpinan Wirotsah Tijaniyyah se-Dunia

Sayyidis Syeikh Ahmad at Tijany ra. menetapkan dasar kepemimpinan Wirotsah Tijaniyyah se-Dunia sebagai berikut :

  1.  Muqoddam Muqoyyad

    Membimbing ikhwan tentang ilmu” syariah, mengajarkan mereka akhlaqul kariimah, dan Memberi izin talqin wirid lazimah dan wazhifah.

 2.   Muqoddam Muthlaq

    Memberi izin ijazah Awrod Ikhtiyariyah dan menunjuk Imam Wadhifah dan Haylalah dan berhak mengangkat Muqoddam Muqoyyad (secara terbatas atau bebas sesuai dengan kebutuhan setempat). Muqoddam Muthlaq membawahi beberapa Muqoddam pilihannya yang berada diwilayahnya.

3.    Kholifah Dairoh

    Ada di setiap wilayah (provinsi) yg di angkat dan ditunjuk untuk membawahi beberapa Muqoddam Muthlaq di daerahnya.

4.    Kholifah Biladiyah

    Ada dalam satu negara yang menjadi sesepuh dr seluruh muqoddam yang ada di negara tersebut. Di akui ke sholehan dan ke alimannya. Beliau lah yang menjadi perantara dan pemersatu dari semua muqoddam, baik dalam negeri maupun luar negeri.

5.    Kholifah Amiyah

    Secara international diakui oleh seluruh muqoddam sedunia, membawahi seluruh Kholifah di setiap negara. yang sekarang dijabat oleh Maulana Sidi Ali Bil Aroby dan wakilnya Syekh Sidi Àllal (ayahanda Sidi Muhammad al Basyir). Beliau berkata : Suatu keharusan bagi setiap ikhwan Tijani utk mengetahui dan mengenal “KHOLIFAH ÀMIYAH“

SIFATNYA DUNIA YANG TIDAK MENYENANGKAN

Sifatnya Dunia

لا تستغرب وقوع الأكدار مادمت في هذه الدار فإنها ما أبرزت إلا ما هو مستحق وصفها و واجب نعتها

“Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni menjadi sifatnya.”

Jangan merasa aneh dengan berbagai macam kesusahan selagi engkau masih hidup di dunia…. Tidak selayaknya seseorang yang masih hidup di dunia ini mengharap rehat dan ketenangan hati (jiwa). karena, Allah sudah menciptakan dunia sebagai tempatnya ujian dan cobaan, maka pastilah kesusahan itu masih tetap ada selama engkau masih berada di dunia. jangan mengharapkan ada istirahat (dari kesusahan).

Kalian gemar mencari dua perkara, padahal kalian tidak akan mendapatkannya: yakni, istirahat dan bahagia di dunia, sementara keduanya hanya ada di surga. Rosulullah bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.”

Sungguh tidak ada yang ditampakkan di dunia, kecuali kesusahan. Karena kesusahan sudah dijadikan sifatnya dan ditetapkan sebagai yang layak baginya.

Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan.“

Syeikh Jafar As-shoddiq rodhiyallohu ‘anhu berkata:

من طلب مالم يُخلق اتعبَ نفسه ولم يُرزق. قيل له : وما ذاك؟ قال: الراحة فى الدنياَ

“Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Alloh, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia.”

Syeikh Junaid al-Baghdadi rodhiyallohu anhu berkata: “Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesulitan dan penderitaan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan, maka itu adalah suatu karunia dan kelebihan.”

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam berkata kepada Abdulloh bin Abbas: Jika engkau dapat beramal karena Alloh dengan ikhlas dan keyakinan, maka laksanakanlah dan jika tidak dapat, maka sabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan itu suatu keuntungan yang besar.”

Umar bin Khottob radhiyallohu ‘anhu berkata kepada orang yang dinasehatinya: “Jika engkau sabar, maka hukum [ketentuan – takdir] Alloh tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Alloh sedang engkau berdosa.”

Maka apapun yang menimpa dirimu tetaplah berserah diri kepada Alloh dengan penuh kesabaran, sebab ketentuan Alloh pasti akan terjadi padamu.

MAKNA LAMBANG THORIQOH AT TIJANIYYAH

LAMBANG THARIQAT TIJANIYAH

Lambang Thariqat Tijaniyah diciptakan oleh KH. Umar Baidlawi Kemalaten, Sepanjang, Surabaya dengan masukan-masukan dari :

  • Badri Masduqi Kraksaan Probolinggo :

    Tulisan nama Syekh Ahmad bin Muhammad Attijani dengan tulisan Khufi.

  • Ahmad Fauzan Adhiman fathullah Sidogiri, Kraton, Pasuruan :

    Mencatumkan Martabah Syekh Ahmad bin Muhammad Attijani, yaitu Al Khatmul Muhammadiyul Ma’lum, Al Quthbul Maktum dan Al Barzahul Maktum.

  • Mukhlas Ahmad Ghazi Fathullah Bladu Wetan, Banyuanyar, Probolinggo :

    Masyrab/lambang Thariqat Tijaniyah tersebut dilingkari Na’lur Rasul.

  • Habib Ja’far Ali Baharun Brani Wetan, Maron, Probolinggo :

    Na’lur Rasul dikelilingi sinar matahari.

Lambang Thariqat Tijaniyah ini diresmikan dalam pertemuan Muqaddam Tijani se Jawa Madura bertempat di Pondok Pesantren Al Munawwariyah Sudimoro Bululawang, Malang pada malam Selasa, Jam 11.35/23.35 WIB / 3 Rajab 1410 H/29 Januari 1990 M. Hadir dalam pertemuan tersebut 14  Muqaddam Tijani :

  1. Umar Baidlawi, Surabaya
  2. Mushthafa, Surabaya
  3. Mukhlash Ahmad Ghazi Fathullah, Probolinggo
  4. Ma’shum Bahrawi, Probolinggo
  5. Al Habib Ja’far Ali Baharun, Kraksaan
  6. Abdul Wahid, Kraksaan
  7. Dhafiruddin,                              Kraksaan
  8. Manshur Shalih, Jember
  9. Ahmad Fauzan Adhiman Fathullah, Pasuruan
  10. Hadin Mahdi, Blitar
  11. Abdul Ghafur, Bondowoso
  12. Nawawi, Bondowoso
  13. Jamaluddin, Sumenep, Madura  dan
  14. Ridlwan Abdur Rahman, Blitar

Lambang Thariqat Tijaniyah di Indonesia sebagaimana gambar.

Perinciannya sebagai berikut :

    Tulisan Nama Syekh Ahmad Bin Muhammad Attijani, Ditengah, Berbentuk Masyrab/Kendi, Melambangkan Al Masyrabul Kitamani.

 

وَاَن لَوِاسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لاَسْتَقَيْنَا كُمْ مَاءًغَذَقًا

 

Dan Andaikata Mereka Istiqamah Atas Thariqat Itu, Pastilah Kami Beri  Minum Mereka Air Yang Segar. (Al-Jinn/72 : 16)

 

    Nama Syekh Ahmad Bin Muhammad Attijani Menggunakan Tulisan Khufi, Nisbat Nama Kota Kuffah Di Iraq, Dengan Isyarat Menjadi Kufiya Yang Artinya Dicukupi. Melambangkan Martabat Terakhir Bagi Para Wali, Yaitu Khatmul Auliya’.

 

    Di Mulut Masyrab Terdapat Tasydid, Tanda Bacaan Dalam Tulisan Arab, Berbentuk Riak Air. Melambangkan Madad Syekh Ahmad Attijani Yang Selalu Melimpah Ruah.

 

عَيْنًايَشْرَبُ بِهَا عِبَادُاللهِ يُفَجِّرُوْنَهَا تَفْجِيْرًا

 

Sebuah Mata Air Yang Meminum Padanya Kekasih-Kekasih Allah, Yang Mereka Dapat Mengalirkannya Dengan Sebaik-Baiknya.

 

    Di Atas Masyrab Terdapat 3 Tulisan,

1) Al Kahtmul Muhammadiyul Ma’lum,

2) Al Quthbul Maktum,

3) Al Barzahul Makhtum.

 Melambangkan Keagungan Martabat Kewaliyan Syekh Ahmad Attijani.

 

    Sebelah Kanan Masyrab Terdapat Tujuh Ujung Tangkai Daun. Melambangkan Tujuh Hadlaratul Mustafidah.

 

    Tujuh Ujung Tangkai Daun Sebelah Kiri Melambangkan Tujuh Bacaan Shalawat Jauharatul Kamal.

 

    Semuanya Itu Dilingkari Na’lur Rasul. Melambangkan Bahwa Semua Gerak Langkah Ikhwan Tijani Harus Dalam Lingkaran Sunah Rasulullah Saw.

 

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَا تَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمْ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌرَحِيْمٌ

 

Katakanlah (Muhammad) : “Apabila Kamu Mencintai Allah, Maka Ikutilah (Sunnah)-Ku!! Niscaya Allah Mengasihi Kamu Dan Mengampuni Dosa-Dosa Kamu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (Ali Imron/3 : 31)

 

    Na’lur Rasul Dihiasi Tali. Melambangkan Ikatan, Pegangan Dan Persatuan Yang Kuat.

 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا

 

Dan Berpegang Teguhlah Kamu, Semuanya, Pada Tali/Agama Allah Dan Janganlah Kamu Bercerai Berai.

 

    Di Sekeliling Na’lur Rasul Diliputi Sinar Matahari Dengan Ujung Besar Dua Belas Melambangkan :

    Bahwa Thariqat Tijaniyah Untuk Siapa Saja Yang Mau Bertaubat.

    Dua Belas Ujung Besar Adalah 12 Bacaan Shalawat Jauharatul Kamal.

 

اَللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِى زُمْرَةِ اَبِى الْفَيْضِ التِّجَانِى #

         وَاَمِدَّنَا بِمَدَدِ خَتْمِ الْاَوْلِيآءِالْكِتْمَانِ #

بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ الْمُصْطَفَى العَدْنَانِى #

DUA MACAM RIYA (PAMER) YAITU JALIY DAN KHOFIY

Dalam Syarah Al-Hikam, Hikmah no 170 ;

(حظ النفس فى المعصية ظاهر جليّ وحظها فى الطاعات باطن خفي ومداومة ما يخفى صعب علاجه)

Artinya : “kesenangan-kesenangan nafsu dalam maksiat merupakan perkara yang dhohir dan jelas, sedangkan kesenangan-kesenangan nafsu dalam ketaatan adalah perkara yang sifatnya bathin/samar, dan megobati perkara yang masih samar itu sulit untuk menyembuhkannya.”

PENJELASAN

Kesenangan-kesenangan nafsu dari kema’siatan yang bisa melukai/mencederai pelakunya (menjadikannya berdosa) adalah perkara yang wujudnya dhohir, yang mana pengaruhnya sangat membekas di kalangan masyarakat. Kebanyakan hal ini ditimbulkan dari sesuatu yang bersifat materi.

Minum khomer, berbohong, bermain di tempat-tempat judi dan perbuatan tercela lainnya, kesemuanya itu secara dhohir merupakan kesenangan-kesenangan nafsu. Namun kesenangan-kesenangan tersebut sangat berpengaruh negatif yang berpotensi merusak tatanan kehidupan sosial dan keharmonisan hubungan sosial yang berlangsung di antara keluarga, Maka pengaruh yang bisa merusak ini seharusnya sudah cukup menjadi pengingat atau pencegah dalam melakukan hal yang negatif tersebut.

Adapun kesenangan-kesenangan nafsu yang bisa melukai dan menjadikan dosa bagi orang yang taat adalah sesuatu yang berasal dari dalam dan sangat samar. Tidak akan bisa merasakan kelembutan penyakit ini kecuali pelaku itu sendiri, oleh karena itu ia tidak akan menemukan sesuatu di depannya yang bisa mencegahnya dari penyakit tersebut, orang lain pun tidak mampu mendefinisikan bahwa ia (yang sedang melakukan ketaatan) sedang terserang penyakit atas amal ketaatan tersebut.

Kalau kita amati, tugas-tugas dakwah, jihad, amar ma’ruf, dzikir/kholwah, menyerahkan kelebihan harta bagi yang berhak menerimanya, kesemuanya itu secara dhohir tidak menghasilkan sesuatu kecuali hanya keletihan dan kecapean serta kerugian harta, lalu dari arah mana kesenangan-kesenangan nafsu yang didapatkan oleh orang yang melakukan ketaatan tersebut?

Ketaatan-ketaatan tersebut bisa dihinggapi dengan kesenangan nafsu yang samar yang mampu menghilangkan pahala ketaatan tersebut. Diantara kesenangan-kesenanagan nafsu yang samar tersebut adalah pujian dari manusia atas amal kebaikannya, ketenaran, dan perasaan pelakunya bahwa dirinya lebih baik dari orang lain.

Segi bahaya penyakit ini adalah kasamarannya dalam menggerogoti amal ketaatan sehingga masyarakat tidak bisa meneliti dan memantaunya, maka dari itu mereka tidak punya jalan untuk mengingatkannya karena kesamaran tersebut.

Kemudian hal-hal yang bisa menjadi pencegah bagi seorang hamba dari kemaksiatan sangat banyak sekali, untuk itu cukuplah bagi seorang hamba akan pantauan dan pandangan masyarakat terhadap kehormatannya.

Lalu apa yang bisa menjadi pencegah bagi hamba (yang taat) dari kesenangan-kesenangan nafsu (penyakit Qolbu) yang samar? Tidak lain adalah pendekatannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala (Muroqobah). Dari sini dapat disimpulkan bahwa perkara yang masih samar itu sulit untuk disembuhkan sebagai mana hikmah yang disampaikan oleh Ibnu ‘Athoillah.

DALIL

والله يعلم ما تسرون وما تعلنون (النحل : ١٩)

Artinya : ” Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan “(an nahl : 19)

وهو معكم أين ما كنتم ج والله بما تعملون بصير (الحديد : ٤ )

Artinya : ” Dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan ” al hadid : 04)

Dari ayat-ayat di atas kita tahu bahwa Allah itu Dzat yang Maha Melihat apa yang dikerjakan oleh seorang hamba. Baik amal itu dhohir maupun bathin Allah pasti akan tahu. Seorang hamba yang dari dhohirnya melakukan ibadah namun dari bathinnya masih ada unsur riya’ maka tidak akan mendapatkan pahala. Inilah yang disebut dengan penyakit bathin yang sangat sulit untuk disembuhkan.

APLIKASI/PENERAPAN

Adapun hikmah yang dipaparkan oleh beliau rahimahullah mengandung beberapa mau’idhoh diantaranya :

Seharusnya orang yang diberi taufiq oleh Allah untuk melaksanakan ketaatan dan menjalankan perintah-perintahNya supaya terus waspada terhadap kesenangan-kesenangan nafsu yang menggerogoti / masuk di dalamnya. Kesengangan nafsu ini Allah menyebutnya dengan باطن الإثم (dosa yang samar / bathin). Terkadang seseorang yang beribadah tidak merasa akan penyakit yang samar ini karena kesenangan-kesenangan tersebut tertutup rapat dengan dhohirnya ibadah dan ketaatan. Maka seyogyanya ia sadar bahwa Allah itu Maha Melihat ( بصير ), mengetahui akan ketidakjujuran mata dan apa yang disamarkan oleh hati. Jika seorang hamba tahu akan hal ini, seharusnya ia selalu mencurigai nafsunya sehingga kesenangan-kesenangan nafsu yang samar tersingkap dan mampu memerangi serta berusaha keras agar hatinya bersih dan selamat dari pemyakit itu sebelum ia berangkat menuju Allah.

Wajib bagi orang yang ingkar dan yang sedang menasehati/menakut-nakuti orang-orang fasik ( maksiat) yang terus menerus dalam kedholimannya agar tidak memposisikan dirinya pada kedudukan bahwa ia lebih baik dari mereka yang sedang dalam kefasikan dan kemaksiatan tersebut. Karena apabila ia merasakan hal ini, berarti justru ia sedang melakukan dosa yang samar ( باطن الإثم ).Banyak sekali orang yang taat tidak menemukan hasil ketaatannya di hari kiamat kecuali hanya dosa-dosa yang dibungkus dengan ketaatan. Dan banyak sekali orang yang sering melakukan kemaksiatan namun ia menyesali atas perilakunya yang keji dan melanggar syari’at tersebut tidak menemukan sesuatu di akhirat kecuali maghfiroh atas dosa-dosanya.

Jika sudah jelas bahwa mengobati penyakit hati yang masih samar dan berpotensi menghancurkan pahala amal ketaatan lebih sulit dari pada mengobati kejelekan-kejelekan yang sifatnya dhohir, maka selayaknya orang yang taat masih menganggap dirinya termasuk orang-orang yang maksiat dan segera menasehati dirinya sendiri sebelum menasehati orang lain .

Sesungguhnya solusi untuk menghilangkan kesenangan nafsu, dan mensucikan ketaatan/ibadah adalah kembali kepada pelakunya (‘abidnya) itu sendiri, ia tidak mempunyai alat untuk menolong, membersihkan dan menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, kecuali selalu melakukan pendekatan diri kepada Allah (Muroqobah) dengan cara memperbanyak dzikir. Ini adalah obat yang samar yang cocok untuk mengobati penyakit yang samar juga. Jika mampu mengambil obat ini, maka kejelekan-kejelekan nafsu tidak akan bisa masuk ke dalam dirinya.

Orang yang selalu muroqobah dengan berdzikir kepadaNya, sifat riya’ tidak akan menemukan jalan untuk ikut andil merusak amal ibadahnya. Dzikir ini sering disebutkan oleh para Ulama’ dengan sebutan “Dzikrul Qolbi”.

Akan tetapi, perlu diketahui, hamba yang taat sangatlah sulit untuk mengambil obat yang samar ini. Ia harus mampu menyingkirkan pemikiran-pemikiran negatif yang bersifat duniawi agar bisa menemukan lezatnya dzikir yang bersih di dalam qolbunya. Inilah bentuk jihad yang samar yang bisa menjadikan amal-amal lain menjadi baik.

Mau’idhotul Mukminin Syeh Jamaluddin Al Qosimi : Riya’ ada yang jali dan ada yang khofi

Riya’ jali adalah riya yang dapat membangkitkan dan mendorong suatu amalan walaupun dia bertujuan utk mendapatkan pahala, ini adalah riya’ yang  paling jali.sedangkan yang lebih samar sedikit dari itu adalah riya’ yang tidak dpt mendorong terhadap amalan dengan sendirinya tetapi dia bisa meringankan amalan yang karena Allah misalnya orang biasa sholat tahajud setiap malam dan terasa berat, tetapi ketika ada tamu dirumahnya dia menjadi giat tahajudnya dan terasa ringan.

Ada lagi yang lebih samar dari itu, yaitu riya’ yang tidak berpengaruh sama sekali dengan amalan juga tdk berpengaruh dalam merasa mudah dan ringan dalam beramal tetapi riya’ ini tersimpan dalam hati , tanda2nya yang paling jelas adalah merasa senang dengan penglihatan orang lain terhadap ketaatannya, terkadang seorang hamba itu ikhlas dalam amalannya dan tdk beri’tikad utk riya’ bahkan dia benci riya’ dan menolaknya serta menyempurnakan amalan amalannya, tetapi ketika orang lain melihat amalan tsb dia merasa senang didalam hati.rasa senang inila yg menunjukkan adanya riya’ yang tersembunyi karena andaikan tidak adanya lirikan hati terhadap manusia maka rasa senang tersebut tidak akan terlihat ketika amalannya di lihat oleh orang lain.

Riya yang tersimpan dlam hati ini bagaikan tersimpannya api didalam batu dan bisa terlihat bekasnya yaitu berupa rasa senang dan bahagia ketika amalan dilihat oleh orang lain , ketika telah merasakan senang dengan penglihatan orang lain dan tidak melawannya dengan rasa benci maka jadilah rasa senag itu sebagai kekuatan dan makanan bagi urat2 yang samar dalam riya hingga bisa menggerakan terhadap nafsunya dengan gerakan yang samar agar bisa diketahui misalnya dengan melirihkan suara atau bekas tetesan air mata.

اعلم أن الرياء جلي وخفي ، فالجلي هو الذي يبعث على العمل ويحمل عليه ولو قصد الثواب ، وهو أجلاه ، وأخفى منه قليلا هو ما لا يحمل على العمل بمجرده إلا أنه يخفف العمل الذي يريد به وجه الله كالذي يعتاد التهجد كل ليلة ويثقل عليه ، فإذا نزل عنده ضيف تنشط له وخف عليه .

وأخفى من ذلك ما لا يؤثر في العمل ، ولا بالتسهيل والتخفيف أيضا ولكنه مع ذلك مستبطن في القلب ، وأجلى علاماته أن يسر باطلاع الناس على طاعته ، فرب عبد يخلص في عمله ، ولا يعتقد الرياء ، بل يكرهه ويرده ويتمم العمل كذلك ، ولكن إذا اطلع عليه الناس سره ذلك وارتاح له وروح ذلك عن قلبه شدة العبادة ، وهذا السرور يدل على رياء خفي منه يرشح السرور ، ولولا التفات القلب إلى الناس ما ظهر سروره عند اطلاع الناس ، فلقد كان الرياء مستكنا في القلب استكنان النار في الحجر ، فأظهر منه اطلاع الخلق أثر الفرح والسرور ، ثم إذا استشعر لذة السرور بالاطلاع ولم يقابل ذلك بكراهية فيصير ذلك قوتا وغذاء للعرق الخفي في الرياء حتى يتحرك على نفسه حركة خفية فيتقاضى تقاضيا خفيا أن يتكلف سببا يطلع عليه بالتعريض أو بالشمائل كخفض الصوت وآثار الدموع .

NIAT DAN DZIKIR DALAM PENJELASAN HUJJATUL ISLAM IMAM GHOZALI ROHIMAHULLOH

الباب الرابع   باب النية

لابد للعبد من النية في كل حركة و سكون ( فإنما الأعمال بالنيات و لكل امرئ ما نوى ) و ( نية المؤمن خير من عمله )

Bab keempat tentang Niat

Seorang hamba mesti mempunyai niat dalam setiap gerakan dan diamnya.  “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang  mendapatkan apa yang diniatkannya”. “Niatnya orang beriman lebih baik daripada amalannya”.

و النية تختلف حسب اختلاف الأوقات , و صاحب النية نفسه منه في تعب , و  الناس منه في راحة , و ليس شيء على المريد أصعب من حفظ النية .

Niat  itu berbeda-beda menurut perbedaan waktunya, niat itu menyertai dirinya  di dalam keletihan dan menyertai manusia di dalam keleluasaan. Tiada  sesuatu yang lebih sulit bagi seorang murid daripada menjaga niatnya.

الباب الخامس  باب الذكر

اجعل قلبك قبلة لسانك و اشعر عند الذكر حياء العبودية و هيبة الربوبية .

Bab ke lima tentang dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblatnya lisanmu, peliharalah rasa malu di  saat beribadah dan rasa takut kepada Tuhan ketika berdzikir.

و  أعلم بأن الله تعالى يعلم سر قلبك و يرى ظاهر فعلك و يسمع نجوى قولك ,  فاغسل قلبك بالحزن و أوقد فيه نار الخوف فإذا زال حجاب الغفلة عن قلبك ,  كان ذكرك به مع ذكره لك ,

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala mengetahui  rahasia hatimu, melihat dhohir perbuatanmu dan mendengar bisikan  ucapanmu. Maka basuhlah hatimu dengan kesediha dan nyalakan di dalamnya  api perasaan takut . Ketika tabir kelalaian hilang dari hatimu, maka  dzikirmu kepada-Nya akan ada bersama dzikir-Nya kepadamu.

قال  الله تعالى : { ولذكر الله أكبر } ؛ لأنه ذكرك مع الغناء عنك , و أنت ذكرته  مع الفقر إليه , فقال الله تعالى : { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } ؛  فيكون اطمئنان القلب في ذكر الله له , و وجله في ذكره لله , قال الله تعالى  : { إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم } .

Allah ta’ala berfirman yang artinya :  ” sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar”. (QS 29:45). Sebab Dia mengingatmu disertai tiadanya butuh kepada dirimu sedangkan engkau mengingat -Nya disertai butuhmu kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya : “Ingatlah, sesungguhnya hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tentram.” (QS 13:28). Maka ketentraman hati ada saat mengingat Allah, dan bergetarnya hati ada saat dzikirnya karena Allah.  Allah ta’ala berfirman yang artinya : “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” (QS 8:2).

و الذكر ذكران :

ذكر خالص : بموافقة القلب في سقوط النظر إلى غير الله .

و ذكر صاف : بفناء الهمة عن الذكر , قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) : ” لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Dzikir terbagi menjadi dua:

  1. Dzikir murni : caranya dengan cocoknya hati di saat berhenti dalam memandang selain kepada Allah.
  2. Dzikir jernih : caranya dengan hilangnya keinginan jauh dari dzikir, Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “saya tidak bisa mengitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu sendiri.” Wallohu a’lam.

SERINGKALI MERASA HEBAT “OVER CONFIDENT” DENGAN IBADAH KITA

Seperti berulang kali disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), kita tidak boleh merasa paling benar, apalagi sembari menyalahkan orang lain. Sebab, Al-Qur’an telah mengajarkan pada kita untuk bersikap rendah hati, seperti yang tersirat dalam doa Nabi Adam dan Nabi Yunus: Rabbanâ dhalamnâ anfusanâ wa in lam taghfir lanâ wa tarhamnâ lanakûnannâ minal khâsirîn. Lâ ilâha illâ Anta subhânaka innî kuntu minadh dhâlimîn.

Surat Al-Fatihah yang kita baca setiap rakaat shalat bahkan juga memuat ayat yang meminta kita secara tersirat untuk senantiasa merasa belum benar. Ihdinash shirâthal mustaqîm (tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Permohonan kita kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus menunjukkan bahwa jalan yang kita tempuh selama ini masih mengandung kemungkinan tidak lurus, sehingga tak henti-hentinya kita memohon jalan yang lurus.

Pesan agar kita senantiasa rendah hati dan jangan merasa paling benar, ternyata juga terdapat dalam cerita yang dikisahkan Syihabuddin Al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir. Berikut ceritanya.

Dikisahkan seorang ahli ibadah (‘âbid) sedang melakukan shalat. Ketika ia sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), dalam hatinya ia membatin bahwa ia sudah benar-benar menjadi ahli ibadah yang sejati. Namun tiba-tiba ada suara gaib yang menyerunya.

“Engkau telah berbohong! Engkau sesungguhnya sedang menyembah makhluk.”

Mendengar suara gaib tersebut, seketika ia bertobat dan menjauh dari kehidupan manusia agar terhindar melakukan dosa.

Ia kemudian melakukan shalat lagi. Ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), kembali ada suara gaib yang terdengar.

“Engkau telah berbohong!Yang engkau sembah sesungguhnya istrimu,” demikian bunyi suara gaib itu.

Ia kemudian menceraikan istrinya. Ia melakukan shalat lagi, dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), lagi-lagi ada suara gaib yang menyerunya.

“Engkau berbohong! Engkau sesungguhnya menyembah hartamu.”

Mendengar seruan itu, ia kemudian mendermakan seluruh hartanya. Ia melakukan shalat lagi dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), untuk ke sekian kalinya kembali terdengar suara gaib.

“Engkau berbohong! Yang sesungguhnya engkau sembah adalah pakaianmu.”

Saat itu juga ia mendermakan seluruh pakaian yang ia miliki kecuali pakaian yang ia kenakan. Ia kembali melakukan shalat, dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), masih ada suara gaib yang terdengar. Namun kali ini suara gaib itu lain.

“Engkau benar, engkau telah menyembah-Ku. Engkau adalah seorang ahli ibadah sejati,” demikian akhirnya suara gaib itu berbunyi.

Kita tidak harus secara tekstual meniru apa yang dilakukan ahli ibadah dalam cerita tersebut dalam artian sampai menjauhi manusia, menceraikan istri, mendermakan seluruh harta dan pakaiannya. Sebab pesan yang ingin disampaikan bukan itu, tetapi pertama, kita tidak boleh merasa sudah menjadi orang yang benar seperti dibatinkan tokoh utama saat melakukan shalat.

Anggapan si ahli ibadah bahwa ia sudah benar-benar menjadi ahli ibadah ternyata dibantah berkali-kali oleh suara gaib.

Kedua, untuk menjadi ahli ibadah sejati, kita diminta melepaskan pikiran-pikiran duniawi saat melakukan ibadah. Manusia, istri, harta, dan pakaian adalah beberapa hal yang seringkali muncul dalam pikiran saat melakukan shalat. Maka, semua itu harus “dilepaskan”.

Wallahu a’lam bish shawab

FADILAH KEUTAMAAN HIZIB SAIFI AT-TIJANY

Hizib Saifi ini harus berganding dengan hizib Mughni, dan kalau membacannya dalam sekali duduk, tidak boleh dipisah. Doa ini diambil oleh Syekh Tijani langsung dari Rasulullah. Fadhilahnya sangat banyak. Sebagaimana termuat dalam Kitab Jawahirul Ma`ani.

Siapa membacanya:

1 kali pahalanya sama puasa bulan ramadah dan shalat di malam Lailatul Qadar, bahkan ibadah satu tahun.

  1. Seperti diterima oleh Syekh Ali Harazim dari Syekh Tijani dari Rasulullah mengatakan bahwa Hizib Saifi memilihi 12.000 khasiat.

Berkata Jibri kepada Rasulullah, bahwa hizib saifi mempunyai 12.000 khasiat. 6.000. di dunia dan 6000 di akhirat. Siapa membacanya ia akan mendapatkan seluruh khasiat di dunia dan Akhirat

  1. Berkata Syekh Abdullah al Andalusi, siapa yang berbahagia dalam catatan ilmunya Allah, orang tersebut akan mendapatkan doa Saifi ini.

Saifi punya Rasulullah yang diberikan kepada saidina Ali, bahkan dalam riwayat beliau menggepur orang khawarij dengan memamakai hizib saifi.

  1. Hizib Saifi memiliki 60.000 karamat, diantaranya, barang siapa melazimi membacanya pagi dan sore, Allah akan mencintai orang itu degan cinta yang khusus.
  2. Siapa yang menulis dan menggantungnya di tubuhnya dihukumkan dengan orang zikir walau ia tidak membacanya. (menulisnya dengan kaifiat tertentu dan ijazah tertentu).
  3. Syekh Umar Al Futi berkata siapa yang membacanya, tidak ditulis atas nya dosa. dan dihapus dosa yang telah lalu. Satu kali membacanya sama ibadat satu tahun, dua kali dua tahun dan seterusnya.
  4. Diantaranya lagi, siapa membaca setiap pagi sampai 40 pagi ia kan mencapai karamat para wali sehingga dimuliakan di antara makhluk.
  5. Siapa membaca atas diri dan anaknya sebanyak 41 kali maka ia tidak malihat di dunia dan akhirat kesusahan.
  6. Siapa membaca sekali sehari Allah menyelamatkan dari mati mendadak, Dan jika ia meninggal dunia ia akan meninggal dengan membawa iman dengan mengucapkan syahadat.
  7. Tidak keluar dari dunia kecuali beserta iman, dan ia mendapat karunia taubat nashuha.
  8. Siapa yang setiap pagi membacanya atas madu, atau gula putih lalu diberikan kepada keluarganya, anak-anaknya maka ia akan melihat atas keluarganya dan anak-anaknya itu segala macam peningkatan urusan dunia dan urusan akhirat.
  9. Mempunyai kelebihan dengan nama yang sangat banyak. siapa mengamalkan melaziminya maka akan dipeliharakan oleh Allah dari musuh, orang zalim, orang dengki, dari sihir, mata yang jahat, ular, kalajengking, macan, serigala. Senantiasa dihormati, ditaati perintahnya, orang memusuhinya berbalik mencintainya.
  10. Bila kena fitnah atau terpenjara. Dengan izin Allah ia akan dibebaskan dari tahanan. Berkat membacanya.
  11. Dibacakan pada orang kena gigitan ular dan kalajengkeng, racunnya akan keluar seketika.
  12. Siapa yang mengetahui akan dibunuh oleh penguasa zalim. Kemudian ia mandi dan memakai pakaian bersih dan dibacanya satu kali lalu ia tidak bicara, kepada siapapun lalu ia mengahdap kepada sultan sambil membaca ya haiyu qayum birahmatika astaghits, isyallah dipelihara dari kejahatan sultan yang zalim itu dengan kelebihan Allah.

16.Siapa kehilangan sesuatu, ia shalat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah fatihah wasyamsi waduhaha, rakaat kedua habis fatihah wadhuha dan alam nasyrah, kemudian baca hizib ini, lalu ia tidur dengan wudu ia akam melihat dalam mimpinya orang yang mencuri.

  1. Siapa yang ingin cepat dikabul hajatnya, hendaknya salat malam rabu, malam kamis, malam jumat dan malam sabtu, ayat yang dibaca adalah ayat seribu dinar, wamayattqillaha, seterusnya 25 kali, kemudian setelah salam baca hizib saifi insyaallah akan terbuka perkaranya.
  2. Ditulis dengan kaifiat tertentu dan ijazah tertentu kemudian disimpan di rumah, insyaallah terpelihara dari segala macam bala, pencuri, perampok, kebanjiran dan kebakaran.
  3. Siapa yang memiliki hizib ini, kalau ia berperang lalu ia berdiri di shaf terdepan niscaya ia menghadapi musuh-musuhnya hanya sorang diri tanpa bantuan tentara lain dan tak perlu denagan senjata.
  4. Orang yang senantiasa mengamalkan hizib saifi, ketika akan meningal dunia, hizib ini (amalannya) akan berupa makhluk yang sangat elok, sehingga ia memandangnya dengan kekaguman dan bertasbih kepada Allah, sehingga si pengamal itu tidak merasakan sakitnya ketika rohnya keluar dari jasadnya.
  5. Ketika ia berada di alam kubur dan didatangi Malaikat Munkar dan nakir untuk ditanya perkaranya, Allah utus amalan hizibnya ini untuk menjawab semua pertanyaan Malaikat.
  6. Ketika ia keluar dari kuburnya menuju padang makhsyar, wajahnya seperti bulan purnama, dan yang mula dijabat tangannya adalah Nabi, dan bila ia hadir untuk ditimbang amalnya, maka diperintahkan bahwa ia tidak perlu ditimbang.
  7. Ketika akan meniti titian menuju syurga, maka Allah akan mengutus Malaikat untuk menjadi tunggangannya, dan malaikat itu pun berkata: Naiklah ke punggungku aku adalah doamu (hizif Saifi) ketika di dunia, aku akan membawamu secepat kilat.
  8. Apabila menziarahi rasul Orang yang senantiasa mengamalkannya, akan dimasukkan ke syurga, pangkatnya tinggi disisini Allah. Setiap huruf yang dibacanya adalah satu derajat dalam syurga. Siapa yang membaca dan mengitikadkan berkatnya kehadiran tujuh puluh ribu malaikat Allah ketika membaca hizib ini sampai pada bacaan mubin sampai lailaha illa anta, maka para Malaikat itu sujud dan memohon kepada Allah agar dikabulkan hajat orang yang berdoa dengan hizib ini.
  9. Saifi adalah tanda-tanda keagungan Allah. Tanda kekuasan Allah. karena hizib ini mengandung keajaiban-keajaiban yang tidak bisa dihinggakan. Banyak ahlullah mendapat limpahan karunia dari Allah berkat mengamalkan doa ini. Ja`far shadik mengatakan bahwa hizib saifi banyak memiliki nama, banyak nama menandakan keagungan kandungannya, seperti diberi nama Saifullah, yaminullah qudratullah, shamshanullah, hirzul yamani, dan lain-lain.
  10. Fadhilah yang lain yaitu terlepas dari tipu daya musuh, sihir, santet, terhindar dari ular, macan, harimau, kalajengkeng dan lainnya dari binatang buas. Makbul dan dihormati daimanapun ia berada sekalipun dengan orang yang mebencinya bila ia datang ia akan dihormati, walau sebelumnya orang itu membencinya.

Demikian fadhilah hizib Saifi yang bisa di rangkum dari pembicaraan Abuya KH. Ahmad Anshari al Banjari. Dan untuk mengamalkan hizib ini harus mendapat izin Yg Khusus dari muqaddam, dan disyaratkan bagi yang membacanya agar mengimbanginya dengan shalawat fatih minimal dua ribu kali dali sehari semalam. Karena rohaniahnya sangat tinggi kita harus mempersiapkan pondasi atau landasan pacunya dengan memperbanyak membaca shalawat fatih.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪﻥ ﺍﻟﻔﺎﺗﺢ ﻟﻤﺎﺍﻏﻠﻖ ﻭﺍﻟﺨﺎﺗﻢ ﻟﻤﺎ ﺳﺒﻖ ﻧﺎﺻﺮﺍﻟﺤﻖ ﺑﺎ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺍﻟﻬﺎﺩﻱ ﺍﻟﻰ ﺻﺮﺍﻃﻚ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ