MAKNA LAMBANG THORIQOH AT TIJANIYYAH

LAMBANG THARIQAT TIJANIYAH

Lambang Thariqat Tijaniyah diciptakan oleh KH. Umar Baidlawi Kemalaten, Sepanjang, Surabaya dengan masukan-masukan dari :

  • Badri Masduqi Kraksaan Probolinggo :

    Tulisan nama Syekh Ahmad bin Muhammad Attijani dengan tulisan Khufi.

  • Ahmad Fauzan Adhiman fathullah Sidogiri, Kraton, Pasuruan :

    Mencatumkan Martabah Syekh Ahmad bin Muhammad Attijani, yaitu Al Khatmul Muhammadiyul Ma’lum, Al Quthbul Maktum dan Al Barzahul Maktum.

  • Mukhlas Ahmad Ghazi Fathullah Bladu Wetan, Banyuanyar, Probolinggo :

    Masyrab/lambang Thariqat Tijaniyah tersebut dilingkari Na’lur Rasul.

  • Habib Ja’far Ali Baharun Brani Wetan, Maron, Probolinggo :

    Na’lur Rasul dikelilingi sinar matahari.

Lambang Thariqat Tijaniyah ini diresmikan dalam pertemuan Muqaddam Tijani se Jawa Madura bertempat di Pondok Pesantren Al Munawwariyah Sudimoro Bululawang, Malang pada malam Selasa, Jam 11.35/23.35 WIB / 3 Rajab 1410 H/29 Januari 1990 M. Hadir dalam pertemuan tersebut 14  Muqaddam Tijani :

  1. Umar Baidlawi, Surabaya
  2. Mushthafa, Surabaya
  3. Mukhlash Ahmad Ghazi Fathullah, Probolinggo
  4. Ma’shum Bahrawi, Probolinggo
  5. Al Habib Ja’far Ali Baharun, Kraksaan
  6. Abdul Wahid, Kraksaan
  7. Dhafiruddin,                              Kraksaan
  8. Manshur Shalih, Jember
  9. Ahmad Fauzan Adhiman Fathullah, Pasuruan
  10. Hadin Mahdi, Blitar
  11. Abdul Ghafur, Bondowoso
  12. Nawawi, Bondowoso
  13. Jamaluddin, Sumenep, Madura  dan
  14. Ridlwan Abdur Rahman, Blitar

Lambang Thariqat Tijaniyah di Indonesia sebagaimana gambar.

Perinciannya sebagai berikut :

    Tulisan Nama Syekh Ahmad Bin Muhammad Attijani, Ditengah, Berbentuk Masyrab/Kendi, Melambangkan Al Masyrabul Kitamani.

 

وَاَن لَوِاسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لاَسْتَقَيْنَا كُمْ مَاءًغَذَقًا

 

Dan Andaikata Mereka Istiqamah Atas Thariqat Itu, Pastilah Kami Beri  Minum Mereka Air Yang Segar. (Al-Jinn/72 : 16)

 

    Nama Syekh Ahmad Bin Muhammad Attijani Menggunakan Tulisan Khufi, Nisbat Nama Kota Kuffah Di Iraq, Dengan Isyarat Menjadi Kufiya Yang Artinya Dicukupi. Melambangkan Martabat Terakhir Bagi Para Wali, Yaitu Khatmul Auliya’.

 

    Di Mulut Masyrab Terdapat Tasydid, Tanda Bacaan Dalam Tulisan Arab, Berbentuk Riak Air. Melambangkan Madad Syekh Ahmad Attijani Yang Selalu Melimpah Ruah.

 

عَيْنًايَشْرَبُ بِهَا عِبَادُاللهِ يُفَجِّرُوْنَهَا تَفْجِيْرًا

 

Sebuah Mata Air Yang Meminum Padanya Kekasih-Kekasih Allah, Yang Mereka Dapat Mengalirkannya Dengan Sebaik-Baiknya.

 

    Di Atas Masyrab Terdapat 3 Tulisan,

1) Al Kahtmul Muhammadiyul Ma’lum,

2) Al Quthbul Maktum,

3) Al Barzahul Makhtum.

 Melambangkan Keagungan Martabat Kewaliyan Syekh Ahmad Attijani.

 

    Sebelah Kanan Masyrab Terdapat Tujuh Ujung Tangkai Daun. Melambangkan Tujuh Hadlaratul Mustafidah.

 

    Tujuh Ujung Tangkai Daun Sebelah Kiri Melambangkan Tujuh Bacaan Shalawat Jauharatul Kamal.

 

    Semuanya Itu Dilingkari Na’lur Rasul. Melambangkan Bahwa Semua Gerak Langkah Ikhwan Tijani Harus Dalam Lingkaran Sunah Rasulullah Saw.

 

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَا تَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمْ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌرَحِيْمٌ

 

Katakanlah (Muhammad) : “Apabila Kamu Mencintai Allah, Maka Ikutilah (Sunnah)-Ku!! Niscaya Allah Mengasihi Kamu Dan Mengampuni Dosa-Dosa Kamu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (Ali Imron/3 : 31)

 

    Na’lur Rasul Dihiasi Tali. Melambangkan Ikatan, Pegangan Dan Persatuan Yang Kuat.

 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوْا

 

Dan Berpegang Teguhlah Kamu, Semuanya, Pada Tali/Agama Allah Dan Janganlah Kamu Bercerai Berai.

 

    Di Sekeliling Na’lur Rasul Diliputi Sinar Matahari Dengan Ujung Besar Dua Belas Melambangkan :

    Bahwa Thariqat Tijaniyah Untuk Siapa Saja Yang Mau Bertaubat.

    Dua Belas Ujung Besar Adalah 12 Bacaan Shalawat Jauharatul Kamal.

 

اَللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِى زُمْرَةِ اَبِى الْفَيْضِ التِّجَانِى #

         وَاَمِدَّنَا بِمَدَدِ خَتْمِ الْاَوْلِيآءِالْكِتْمَانِ #

بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ الْمُصْطَفَى العَدْنَانِى #

DUA MACAM RIYA (PAMER) YAITU JALIY DAN KHOFIY

Dalam Syarah Al-Hikam, Hikmah no 170 ;

(حظ النفس فى المعصية ظاهر جليّ وحظها فى الطاعات باطن خفي ومداومة ما يخفى صعب علاجه)

Artinya : “kesenangan-kesenangan nafsu dalam maksiat merupakan perkara yang dhohir dan jelas, sedangkan kesenangan-kesenangan nafsu dalam ketaatan adalah perkara yang sifatnya bathin/samar, dan megobati perkara yang masih samar itu sulit untuk menyembuhkannya.”

PENJELASAN

Kesenangan-kesenangan nafsu dari kema’siatan yang bisa melukai/mencederai pelakunya (menjadikannya berdosa) adalah perkara yang wujudnya dhohir, yang mana pengaruhnya sangat membekas di kalangan masyarakat. Kebanyakan hal ini ditimbulkan dari sesuatu yang bersifat materi.

Minum khomer, berbohong, bermain di tempat-tempat judi dan perbuatan tercela lainnya, kesemuanya itu secara dhohir merupakan kesenangan-kesenangan nafsu. Namun kesenangan-kesenangan tersebut sangat berpengaruh negatif yang berpotensi merusak tatanan kehidupan sosial dan keharmonisan hubungan sosial yang berlangsung di antara keluarga, Maka pengaruh yang bisa merusak ini seharusnya sudah cukup menjadi pengingat atau pencegah dalam melakukan hal yang negatif tersebut.

Adapun kesenangan-kesenangan nafsu yang bisa melukai dan menjadikan dosa bagi orang yang taat adalah sesuatu yang berasal dari dalam dan sangat samar. Tidak akan bisa merasakan kelembutan penyakit ini kecuali pelaku itu sendiri, oleh karena itu ia tidak akan menemukan sesuatu di depannya yang bisa mencegahnya dari penyakit tersebut, orang lain pun tidak mampu mendefinisikan bahwa ia (yang sedang melakukan ketaatan) sedang terserang penyakit atas amal ketaatan tersebut.

Kalau kita amati, tugas-tugas dakwah, jihad, amar ma’ruf, dzikir/kholwah, menyerahkan kelebihan harta bagi yang berhak menerimanya, kesemuanya itu secara dhohir tidak menghasilkan sesuatu kecuali hanya keletihan dan kecapean serta kerugian harta, lalu dari arah mana kesenangan-kesenangan nafsu yang didapatkan oleh orang yang melakukan ketaatan tersebut?

Ketaatan-ketaatan tersebut bisa dihinggapi dengan kesenangan nafsu yang samar yang mampu menghilangkan pahala ketaatan tersebut. Diantara kesenangan-kesenanagan nafsu yang samar tersebut adalah pujian dari manusia atas amal kebaikannya, ketenaran, dan perasaan pelakunya bahwa dirinya lebih baik dari orang lain.

Segi bahaya penyakit ini adalah kasamarannya dalam menggerogoti amal ketaatan sehingga masyarakat tidak bisa meneliti dan memantaunya, maka dari itu mereka tidak punya jalan untuk mengingatkannya karena kesamaran tersebut.

Kemudian hal-hal yang bisa menjadi pencegah bagi seorang hamba dari kemaksiatan sangat banyak sekali, untuk itu cukuplah bagi seorang hamba akan pantauan dan pandangan masyarakat terhadap kehormatannya.

Lalu apa yang bisa menjadi pencegah bagi hamba (yang taat) dari kesenangan-kesenangan nafsu (penyakit Qolbu) yang samar? Tidak lain adalah pendekatannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala (Muroqobah). Dari sini dapat disimpulkan bahwa perkara yang masih samar itu sulit untuk disembuhkan sebagai mana hikmah yang disampaikan oleh Ibnu ‘Athoillah.

DALIL

والله يعلم ما تسرون وما تعلنون (النحل : ١٩)

Artinya : ” Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan “(an nahl : 19)

وهو معكم أين ما كنتم ج والله بما تعملون بصير (الحديد : ٤ )

Artinya : ” Dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan ” al hadid : 04)

Dari ayat-ayat di atas kita tahu bahwa Allah itu Dzat yang Maha Melihat apa yang dikerjakan oleh seorang hamba. Baik amal itu dhohir maupun bathin Allah pasti akan tahu. Seorang hamba yang dari dhohirnya melakukan ibadah namun dari bathinnya masih ada unsur riya’ maka tidak akan mendapatkan pahala. Inilah yang disebut dengan penyakit bathin yang sangat sulit untuk disembuhkan.

APLIKASI/PENERAPAN

Adapun hikmah yang dipaparkan oleh beliau rahimahullah mengandung beberapa mau’idhoh diantaranya :

Seharusnya orang yang diberi taufiq oleh Allah untuk melaksanakan ketaatan dan menjalankan perintah-perintahNya supaya terus waspada terhadap kesenangan-kesenangan nafsu yang menggerogoti / masuk di dalamnya. Kesengangan nafsu ini Allah menyebutnya dengan باطن الإثم (dosa yang samar / bathin). Terkadang seseorang yang beribadah tidak merasa akan penyakit yang samar ini karena kesenangan-kesenangan tersebut tertutup rapat dengan dhohirnya ibadah dan ketaatan. Maka seyogyanya ia sadar bahwa Allah itu Maha Melihat ( بصير ), mengetahui akan ketidakjujuran mata dan apa yang disamarkan oleh hati. Jika seorang hamba tahu akan hal ini, seharusnya ia selalu mencurigai nafsunya sehingga kesenangan-kesenangan nafsu yang samar tersingkap dan mampu memerangi serta berusaha keras agar hatinya bersih dan selamat dari pemyakit itu sebelum ia berangkat menuju Allah.

Wajib bagi orang yang ingkar dan yang sedang menasehati/menakut-nakuti orang-orang fasik ( maksiat) yang terus menerus dalam kedholimannya agar tidak memposisikan dirinya pada kedudukan bahwa ia lebih baik dari mereka yang sedang dalam kefasikan dan kemaksiatan tersebut. Karena apabila ia merasakan hal ini, berarti justru ia sedang melakukan dosa yang samar ( باطن الإثم ).Banyak sekali orang yang taat tidak menemukan hasil ketaatannya di hari kiamat kecuali hanya dosa-dosa yang dibungkus dengan ketaatan. Dan banyak sekali orang yang sering melakukan kemaksiatan namun ia menyesali atas perilakunya yang keji dan melanggar syari’at tersebut tidak menemukan sesuatu di akhirat kecuali maghfiroh atas dosa-dosanya.

Jika sudah jelas bahwa mengobati penyakit hati yang masih samar dan berpotensi menghancurkan pahala amal ketaatan lebih sulit dari pada mengobati kejelekan-kejelekan yang sifatnya dhohir, maka selayaknya orang yang taat masih menganggap dirinya termasuk orang-orang yang maksiat dan segera menasehati dirinya sendiri sebelum menasehati orang lain .

Sesungguhnya solusi untuk menghilangkan kesenangan nafsu, dan mensucikan ketaatan/ibadah adalah kembali kepada pelakunya (‘abidnya) itu sendiri, ia tidak mempunyai alat untuk menolong, membersihkan dan menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, kecuali selalu melakukan pendekatan diri kepada Allah (Muroqobah) dengan cara memperbanyak dzikir. Ini adalah obat yang samar yang cocok untuk mengobati penyakit yang samar juga. Jika mampu mengambil obat ini, maka kejelekan-kejelekan nafsu tidak akan bisa masuk ke dalam dirinya.

Orang yang selalu muroqobah dengan berdzikir kepadaNya, sifat riya’ tidak akan menemukan jalan untuk ikut andil merusak amal ibadahnya. Dzikir ini sering disebutkan oleh para Ulama’ dengan sebutan “Dzikrul Qolbi”.

Akan tetapi, perlu diketahui, hamba yang taat sangatlah sulit untuk mengambil obat yang samar ini. Ia harus mampu menyingkirkan pemikiran-pemikiran negatif yang bersifat duniawi agar bisa menemukan lezatnya dzikir yang bersih di dalam qolbunya. Inilah bentuk jihad yang samar yang bisa menjadikan amal-amal lain menjadi baik.

Mau’idhotul Mukminin Syeh Jamaluddin Al Qosimi : Riya’ ada yang jali dan ada yang khofi

Riya’ jali adalah riya yang dapat membangkitkan dan mendorong suatu amalan walaupun dia bertujuan utk mendapatkan pahala, ini adalah riya’ yang  paling jali.sedangkan yang lebih samar sedikit dari itu adalah riya’ yang tidak dpt mendorong terhadap amalan dengan sendirinya tetapi dia bisa meringankan amalan yang karena Allah misalnya orang biasa sholat tahajud setiap malam dan terasa berat, tetapi ketika ada tamu dirumahnya dia menjadi giat tahajudnya dan terasa ringan.

Ada lagi yang lebih samar dari itu, yaitu riya’ yang tidak berpengaruh sama sekali dengan amalan juga tdk berpengaruh dalam merasa mudah dan ringan dalam beramal tetapi riya’ ini tersimpan dalam hati , tanda2nya yang paling jelas adalah merasa senang dengan penglihatan orang lain terhadap ketaatannya, terkadang seorang hamba itu ikhlas dalam amalannya dan tdk beri’tikad utk riya’ bahkan dia benci riya’ dan menolaknya serta menyempurnakan amalan amalannya, tetapi ketika orang lain melihat amalan tsb dia merasa senang didalam hati.rasa senang inila yg menunjukkan adanya riya’ yang tersembunyi karena andaikan tidak adanya lirikan hati terhadap manusia maka rasa senang tersebut tidak akan terlihat ketika amalannya di lihat oleh orang lain.

Riya yang tersimpan dlam hati ini bagaikan tersimpannya api didalam batu dan bisa terlihat bekasnya yaitu berupa rasa senang dan bahagia ketika amalan dilihat oleh orang lain , ketika telah merasakan senang dengan penglihatan orang lain dan tidak melawannya dengan rasa benci maka jadilah rasa senag itu sebagai kekuatan dan makanan bagi urat2 yang samar dalam riya hingga bisa menggerakan terhadap nafsunya dengan gerakan yang samar agar bisa diketahui misalnya dengan melirihkan suara atau bekas tetesan air mata.

اعلم أن الرياء جلي وخفي ، فالجلي هو الذي يبعث على العمل ويحمل عليه ولو قصد الثواب ، وهو أجلاه ، وأخفى منه قليلا هو ما لا يحمل على العمل بمجرده إلا أنه يخفف العمل الذي يريد به وجه الله كالذي يعتاد التهجد كل ليلة ويثقل عليه ، فإذا نزل عنده ضيف تنشط له وخف عليه .

وأخفى من ذلك ما لا يؤثر في العمل ، ولا بالتسهيل والتخفيف أيضا ولكنه مع ذلك مستبطن في القلب ، وأجلى علاماته أن يسر باطلاع الناس على طاعته ، فرب عبد يخلص في عمله ، ولا يعتقد الرياء ، بل يكرهه ويرده ويتمم العمل كذلك ، ولكن إذا اطلع عليه الناس سره ذلك وارتاح له وروح ذلك عن قلبه شدة العبادة ، وهذا السرور يدل على رياء خفي منه يرشح السرور ، ولولا التفات القلب إلى الناس ما ظهر سروره عند اطلاع الناس ، فلقد كان الرياء مستكنا في القلب استكنان النار في الحجر ، فأظهر منه اطلاع الخلق أثر الفرح والسرور ، ثم إذا استشعر لذة السرور بالاطلاع ولم يقابل ذلك بكراهية فيصير ذلك قوتا وغذاء للعرق الخفي في الرياء حتى يتحرك على نفسه حركة خفية فيتقاضى تقاضيا خفيا أن يتكلف سببا يطلع عليه بالتعريض أو بالشمائل كخفض الصوت وآثار الدموع .

NIAT DAN DZIKIR DALAM PENJELASAN HUJJATUL ISLAM IMAM GHOZALI ROHIMAHULLOH

الباب الرابع   باب النية

لابد للعبد من النية في كل حركة و سكون ( فإنما الأعمال بالنيات و لكل امرئ ما نوى ) و ( نية المؤمن خير من عمله )

Bab keempat tentang Niat

Seorang hamba mesti mempunyai niat dalam setiap gerakan dan diamnya.  “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang  mendapatkan apa yang diniatkannya”. “Niatnya orang beriman lebih baik daripada amalannya”.

و النية تختلف حسب اختلاف الأوقات , و صاحب النية نفسه منه في تعب , و  الناس منه في راحة , و ليس شيء على المريد أصعب من حفظ النية .

Niat  itu berbeda-beda menurut perbedaan waktunya, niat itu menyertai dirinya  di dalam keletihan dan menyertai manusia di dalam keleluasaan. Tiada  sesuatu yang lebih sulit bagi seorang murid daripada menjaga niatnya.

الباب الخامس  باب الذكر

اجعل قلبك قبلة لسانك و اشعر عند الذكر حياء العبودية و هيبة الربوبية .

Bab ke lima tentang dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblatnya lisanmu, peliharalah rasa malu di  saat beribadah dan rasa takut kepada Tuhan ketika berdzikir.

و  أعلم بأن الله تعالى يعلم سر قلبك و يرى ظاهر فعلك و يسمع نجوى قولك ,  فاغسل قلبك بالحزن و أوقد فيه نار الخوف فإذا زال حجاب الغفلة عن قلبك ,  كان ذكرك به مع ذكره لك ,

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala mengetahui  rahasia hatimu, melihat dhohir perbuatanmu dan mendengar bisikan  ucapanmu. Maka basuhlah hatimu dengan kesediha dan nyalakan di dalamnya  api perasaan takut . Ketika tabir kelalaian hilang dari hatimu, maka  dzikirmu kepada-Nya akan ada bersama dzikir-Nya kepadamu.

قال  الله تعالى : { ولذكر الله أكبر } ؛ لأنه ذكرك مع الغناء عنك , و أنت ذكرته  مع الفقر إليه , فقال الله تعالى : { ألا بذكر الله تطمئن القلوب } ؛  فيكون اطمئنان القلب في ذكر الله له , و وجله في ذكره لله , قال الله تعالى  : { إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم } .

Allah ta’ala berfirman yang artinya :  ” sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar”. (QS 29:45). Sebab Dia mengingatmu disertai tiadanya butuh kepada dirimu sedangkan engkau mengingat -Nya disertai butuhmu kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya : “Ingatlah, sesungguhnya hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tentram.” (QS 13:28). Maka ketentraman hati ada saat mengingat Allah, dan bergetarnya hati ada saat dzikirnya karena Allah.  Allah ta’ala berfirman yang artinya : “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” (QS 8:2).

و الذكر ذكران :

ذكر خالص : بموافقة القلب في سقوط النظر إلى غير الله .

و ذكر صاف : بفناء الهمة عن الذكر , قال رسول الله ( صلي الله عليه و سلم ) : ” لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Dzikir terbagi menjadi dua:

  1. Dzikir murni : caranya dengan cocoknya hati di saat berhenti dalam memandang selain kepada Allah.
  2. Dzikir jernih : caranya dengan hilangnya keinginan jauh dari dzikir, Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : “saya tidak bisa mengitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diri-Mu sendiri.” Wallohu a’lam.

SERINGKALI MERASA HEBAT “OVER CONFIDENT” DENGAN IBADAH KITA

Seperti berulang kali disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), kita tidak boleh merasa paling benar, apalagi sembari menyalahkan orang lain. Sebab, Al-Qur’an telah mengajarkan pada kita untuk bersikap rendah hati, seperti yang tersirat dalam doa Nabi Adam dan Nabi Yunus: Rabbanâ dhalamnâ anfusanâ wa in lam taghfir lanâ wa tarhamnâ lanakûnannâ minal khâsirîn. Lâ ilâha illâ Anta subhânaka innî kuntu minadh dhâlimîn.

Surat Al-Fatihah yang kita baca setiap rakaat shalat bahkan juga memuat ayat yang meminta kita secara tersirat untuk senantiasa merasa belum benar. Ihdinash shirâthal mustaqîm (tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Permohonan kita kepada Allah untuk ditunjukkan jalan yang lurus menunjukkan bahwa jalan yang kita tempuh selama ini masih mengandung kemungkinan tidak lurus, sehingga tak henti-hentinya kita memohon jalan yang lurus.

Pesan agar kita senantiasa rendah hati dan jangan merasa paling benar, ternyata juga terdapat dalam cerita yang dikisahkan Syihabuddin Al-Qalyubi dalam kitab An-Nawadir. Berikut ceritanya.

Dikisahkan seorang ahli ibadah (‘âbid) sedang melakukan shalat. Ketika ia sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), dalam hatinya ia membatin bahwa ia sudah benar-benar menjadi ahli ibadah yang sejati. Namun tiba-tiba ada suara gaib yang menyerunya.

“Engkau telah berbohong! Engkau sesungguhnya sedang menyembah makhluk.”

Mendengar suara gaib tersebut, seketika ia bertobat dan menjauh dari kehidupan manusia agar terhindar melakukan dosa.

Ia kemudian melakukan shalat lagi. Ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), kembali ada suara gaib yang terdengar.

“Engkau telah berbohong!Yang engkau sembah sesungguhnya istrimu,” demikian bunyi suara gaib itu.

Ia kemudian menceraikan istrinya. Ia melakukan shalat lagi, dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), lagi-lagi ada suara gaib yang menyerunya.

“Engkau berbohong! Engkau sesungguhnya menyembah hartamu.”

Mendengar seruan itu, ia kemudian mendermakan seluruh hartanya. Ia melakukan shalat lagi dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), untuk ke sekian kalinya kembali terdengar suara gaib.

“Engkau berbohong! Yang sesungguhnya engkau sembah adalah pakaianmu.”

Saat itu juga ia mendermakan seluruh pakaian yang ia miliki kecuali pakaian yang ia kenakan. Ia kembali melakukan shalat, dan ketika sampai pada bacaan “iyyâka na‘budu” (hanya kepada-Mu kami menyembah), masih ada suara gaib yang terdengar. Namun kali ini suara gaib itu lain.

“Engkau benar, engkau telah menyembah-Ku. Engkau adalah seorang ahli ibadah sejati,” demikian akhirnya suara gaib itu berbunyi.

Kita tidak harus secara tekstual meniru apa yang dilakukan ahli ibadah dalam cerita tersebut dalam artian sampai menjauhi manusia, menceraikan istri, mendermakan seluruh harta dan pakaiannya. Sebab pesan yang ingin disampaikan bukan itu, tetapi pertama, kita tidak boleh merasa sudah menjadi orang yang benar seperti dibatinkan tokoh utama saat melakukan shalat.

Anggapan si ahli ibadah bahwa ia sudah benar-benar menjadi ahli ibadah ternyata dibantah berkali-kali oleh suara gaib.

Kedua, untuk menjadi ahli ibadah sejati, kita diminta melepaskan pikiran-pikiran duniawi saat melakukan ibadah. Manusia, istri, harta, dan pakaian adalah beberapa hal yang seringkali muncul dalam pikiran saat melakukan shalat. Maka, semua itu harus “dilepaskan”.

Wallahu a’lam bish shawab

FADILAH KEUTAMAAN HIZIB SAIFI AT-TIJANY

Hizib Saifi ini harus berganding dengan hizib Mughni, dan kalau membacannya dalam sekali duduk, tidak boleh dipisah. Doa ini diambil oleh Syekh Tijani langsung dari Rasulullah. Fadhilahnya sangat banyak. Sebagaimana termuat dalam Kitab Jawahirul Ma`ani.

Siapa membacanya:

1 kali pahalanya sama puasa bulan ramadah dan shalat di malam Lailatul Qadar, bahkan ibadah satu tahun.

  1. Seperti diterima oleh Syekh Ali Harazim dari Syekh Tijani dari Rasulullah mengatakan bahwa Hizib Saifi memilihi 12.000 khasiat.

Berkata Jibri kepada Rasulullah, bahwa hizib saifi mempunyai 12.000 khasiat. 6.000. di dunia dan 6000 di akhirat. Siapa membacanya ia akan mendapatkan seluruh khasiat di dunia dan Akhirat

  1. Berkata Syekh Abdullah al Andalusi, siapa yang berbahagia dalam catatan ilmunya Allah, orang tersebut akan mendapatkan doa Saifi ini.

Saifi punya Rasulullah yang diberikan kepada saidina Ali, bahkan dalam riwayat beliau menggepur orang khawarij dengan memamakai hizib saifi.

  1. Hizib Saifi memiliki 60.000 karamat, diantaranya, barang siapa melazimi membacanya pagi dan sore, Allah akan mencintai orang itu degan cinta yang khusus.
  2. Siapa yang menulis dan menggantungnya di tubuhnya dihukumkan dengan orang zikir walau ia tidak membacanya. (menulisnya dengan kaifiat tertentu dan ijazah tertentu).
  3. Syekh Umar Al Futi berkata siapa yang membacanya, tidak ditulis atas nya dosa. dan dihapus dosa yang telah lalu. Satu kali membacanya sama ibadat satu tahun, dua kali dua tahun dan seterusnya.
  4. Diantaranya lagi, siapa membaca setiap pagi sampai 40 pagi ia kan mencapai karamat para wali sehingga dimuliakan di antara makhluk.
  5. Siapa membaca atas diri dan anaknya sebanyak 41 kali maka ia tidak malihat di dunia dan akhirat kesusahan.
  6. Siapa membaca sekali sehari Allah menyelamatkan dari mati mendadak, Dan jika ia meninggal dunia ia akan meninggal dengan membawa iman dengan mengucapkan syahadat.
  7. Tidak keluar dari dunia kecuali beserta iman, dan ia mendapat karunia taubat nashuha.
  8. Siapa yang setiap pagi membacanya atas madu, atau gula putih lalu diberikan kepada keluarganya, anak-anaknya maka ia akan melihat atas keluarganya dan anak-anaknya itu segala macam peningkatan urusan dunia dan urusan akhirat.
  9. Mempunyai kelebihan dengan nama yang sangat banyak. siapa mengamalkan melaziminya maka akan dipeliharakan oleh Allah dari musuh, orang zalim, orang dengki, dari sihir, mata yang jahat, ular, kalajengking, macan, serigala. Senantiasa dihormati, ditaati perintahnya, orang memusuhinya berbalik mencintainya.
  10. Bila kena fitnah atau terpenjara. Dengan izin Allah ia akan dibebaskan dari tahanan. Berkat membacanya.
  11. Dibacakan pada orang kena gigitan ular dan kalajengkeng, racunnya akan keluar seketika.
  12. Siapa yang mengetahui akan dibunuh oleh penguasa zalim. Kemudian ia mandi dan memakai pakaian bersih dan dibacanya satu kali lalu ia tidak bicara, kepada siapapun lalu ia mengahdap kepada sultan sambil membaca ya haiyu qayum birahmatika astaghits, isyallah dipelihara dari kejahatan sultan yang zalim itu dengan kelebihan Allah.

16.Siapa kehilangan sesuatu, ia shalat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah fatihah wasyamsi waduhaha, rakaat kedua habis fatihah wadhuha dan alam nasyrah, kemudian baca hizib ini, lalu ia tidur dengan wudu ia akam melihat dalam mimpinya orang yang mencuri.

  1. Siapa yang ingin cepat dikabul hajatnya, hendaknya salat malam rabu, malam kamis, malam jumat dan malam sabtu, ayat yang dibaca adalah ayat seribu dinar, wamayattqillaha, seterusnya 25 kali, kemudian setelah salam baca hizib saifi insyaallah akan terbuka perkaranya.
  2. Ditulis dengan kaifiat tertentu dan ijazah tertentu kemudian disimpan di rumah, insyaallah terpelihara dari segala macam bala, pencuri, perampok, kebanjiran dan kebakaran.
  3. Siapa yang memiliki hizib ini, kalau ia berperang lalu ia berdiri di shaf terdepan niscaya ia menghadapi musuh-musuhnya hanya sorang diri tanpa bantuan tentara lain dan tak perlu denagan senjata.
  4. Orang yang senantiasa mengamalkan hizib saifi, ketika akan meningal dunia, hizib ini (amalannya) akan berupa makhluk yang sangat elok, sehingga ia memandangnya dengan kekaguman dan bertasbih kepada Allah, sehingga si pengamal itu tidak merasakan sakitnya ketika rohnya keluar dari jasadnya.
  5. Ketika ia berada di alam kubur dan didatangi Malaikat Munkar dan nakir untuk ditanya perkaranya, Allah utus amalan hizibnya ini untuk menjawab semua pertanyaan Malaikat.
  6. Ketika ia keluar dari kuburnya menuju padang makhsyar, wajahnya seperti bulan purnama, dan yang mula dijabat tangannya adalah Nabi, dan bila ia hadir untuk ditimbang amalnya, maka diperintahkan bahwa ia tidak perlu ditimbang.
  7. Ketika akan meniti titian menuju syurga, maka Allah akan mengutus Malaikat untuk menjadi tunggangannya, dan malaikat itu pun berkata: Naiklah ke punggungku aku adalah doamu (hizif Saifi) ketika di dunia, aku akan membawamu secepat kilat.
  8. Apabila menziarahi rasul Orang yang senantiasa mengamalkannya, akan dimasukkan ke syurga, pangkatnya tinggi disisini Allah. Setiap huruf yang dibacanya adalah satu derajat dalam syurga. Siapa yang membaca dan mengitikadkan berkatnya kehadiran tujuh puluh ribu malaikat Allah ketika membaca hizib ini sampai pada bacaan mubin sampai lailaha illa anta, maka para Malaikat itu sujud dan memohon kepada Allah agar dikabulkan hajat orang yang berdoa dengan hizib ini.
  9. Saifi adalah tanda-tanda keagungan Allah. Tanda kekuasan Allah. karena hizib ini mengandung keajaiban-keajaiban yang tidak bisa dihinggakan. Banyak ahlullah mendapat limpahan karunia dari Allah berkat mengamalkan doa ini. Ja`far shadik mengatakan bahwa hizib saifi banyak memiliki nama, banyak nama menandakan keagungan kandungannya, seperti diberi nama Saifullah, yaminullah qudratullah, shamshanullah, hirzul yamani, dan lain-lain.
  10. Fadhilah yang lain yaitu terlepas dari tipu daya musuh, sihir, santet, terhindar dari ular, macan, harimau, kalajengkeng dan lainnya dari binatang buas. Makbul dan dihormati daimanapun ia berada sekalipun dengan orang yang mebencinya bila ia datang ia akan dihormati, walau sebelumnya orang itu membencinya.

Demikian fadhilah hizib Saifi yang bisa di rangkum dari pembicaraan Abuya KH. Ahmad Anshari al Banjari. Dan untuk mengamalkan hizib ini harus mendapat izin Yg Khusus dari muqaddam, dan disyaratkan bagi yang membacanya agar mengimbanginya dengan shalawat fatih minimal dua ribu kali dali sehari semalam. Karena rohaniahnya sangat tinggi kita harus mempersiapkan pondasi atau landasan pacunya dengan memperbanyak membaca shalawat fatih.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪﻥ ﺍﻟﻔﺎﺗﺢ ﻟﻤﺎﺍﻏﻠﻖ ﻭﺍﻟﺨﺎﺗﻢ ﻟﻤﺎ ﺳﺒﻖ ﻧﺎﺻﺮﺍﻟﺤﻖ ﺑﺎ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺍﻟﻬﺎﺩﻱ ﺍﻟﻰ ﺻﺮﺍﻃﻚ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ

CARA AGAR TERBEBAS DARI HUTANG KETIKA SI PENGHUTANG SUDAH TIADA

PERTANYAAN :

Saya ketika mau membayar hutang, ternyata alamat dan nama orang yang menghutangi sudah tidak ingat atau mungkin sekali telah meninggal.

Agar terbebas dari hutang tersebut apa yang harus saya lakukan?

JAWABAN :

Berusahalah mencari alamat terakhirnya, bila tidak lagi dapat diketemukan, bersedekahlah bila memang berkemampuan dengan mengatasnamakan namanya, bila tidak punya kemampuan bersedekah, berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya, serahkan segalanya pada Allah, memohonlah dengan penuh kerendahan agar Allah memberi ampunan atas tanggungan yang belum terlunaskan kelak di hari kiamat.

ثم رأيت فى منهاج العابدين للغزالى أن الذنوب التى بين العباد إما فى المال ويجب رده عند المكنة فإن عجز لفقر استحله فإن عجز عن استحلاله لغيبته أو موته وأمكن التصدق عنه فعله وإلا فليكثر من الحسنات ويرجع إلى الله ويتضرع إليه فى أن يرضيه عنه يوم القيامة .اهـ

“Kemudian aku melihat dalam kitab Minhaj al-‘Aabidiin karya al-Ghozaly dikatakan : Bahwa dosa yang terjadi antar sesama hamba-hamba Allah adakalanya berhubungan dengan harta benda Dan wajib mengembalikan harta tersebut (pada pemilik harta) bila dalam kondisi berkemungkinan, bila tidak mampu karena kefakirannya maka mintalah halal darinya, bila tidak mampu meminta halal karena ketiadaannya atau telah meninggalnya dan (pemilik tanggungan) berkemungkinan bersedekah, maka bersedekahlah dengan atas namanya, dan bila masih tidak mampu maka perbanyaklah berbuat kebajikan, kembalikan segalanya pada Allah, rendahkanlah diri dihadapanNya agar kelak dihari kiamat Allah meridhoi beban tanggungan harta (yang masih belum tertuntaskan)”.

[ Hasyatul Jamal V/388 ].

Wallahu A’lam Bis showaab

INILAH SHOLAWAT DARI SYAIKH AHMAD TIJANY RA SELAIN SHOLAWAT FATIH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَعْدِلُ جَمِيْعَ صَلَوَاتِ أَهْلِ مَحَبَّتِكَ . وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَلاَمًا يَعْدِلُ سَلاَمَهُمْ .

Artinya:” Ya Allah berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebenar-benar shalawat yang menyamai seluruh shalawat ahli mahabbah kepada-Mu. Dan berikanlah salam kepada Nabi Muhammad serta keluarganya sebenar-benar salam yang menyamai seluruh salam ahli mahabbah kepada-Mu.”

Penjelasan:

Shalawat ini disebut oleh sebagian ulama dengan nama shalawat Ahlul Mahabbah. Shalawat ini salah satu shalawat yang ditalqinkan oleh Rasulullah shallahu alaihi Wa sallam dalam pertemuan Ruhani Yaqzhatan (sadar) kepada seorang wali besar al-Imam Sayyidi Syaikh Ahmad Bin Muhammad Attijaniy (1150-1230 H).

Sayyidi Syaikh Ahmad Tijaniy berkata: “Ketika aku pergi dari kota Tilimsan ke kota Abi Samaghun, aku diberikan oleh Rasulullah redaksi shalawat, bila membacanya satu kali sama dengan membaca kitab Dalail al-Khairat 1000 kali. Dalam riwayat lain, Qadhi al-Imam Ahmad al-Sukairij mengatakan: Siapa yang membacanya membandingi pahala mengkhatamkan 70.000 kali Dalailul khairat.

Shalawat Ahlul mahabbah ini memiliki keutamaan yang sangat besar lantaran di dalamnya terdapat rahasia-rahasia yang tersimpan yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang telah mendapat khushusiyat dari Allah Taala untuk mengetahuinya.

Hendaknya seseorang mengamalkan shalat ini dengan niat yang baik dan benar tanpa disertai keraguan dan buruk sangka. Karena siapa saja yang memiliki niat dan persangka yang baik, maka ia akan mendapatkan keistimewaan tersebut.

(lihat kitab: كشف الحجاب عمن تلاقى مع الشيخ التجاني من الأصحاب halaman 440).

SHOLAWAT JAUHAROTUL KAMAL VERSI ARAB INDONESIA DAN ARTI SERTA SYARAT DAN HIKMAHNYA

Shalawat Jauharatul Kamal Fi Madh Khair al-Rijal

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِيّ، وَنُوْرِ اْلأَكْوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ اْلرَّبَّانِيّ، اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِي، وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ الْحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلأَسْقَمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ الْمُطَلْسَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ  .

ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA ‘AINIR ROHMATIR ROBBANIYYAH WAL YAQUTATIL MUTAHAQQIQOTIL HA ITHOH BI MARKAZIL FUHUMI WAL MA’ANI WA NURIL AKWANIL MUTAKAWWINATIL ADAMI SHOHIBIL HAQQIR ROBBANI AL BARQIL ASTO’I BI MUZUNIL ARBAHIL MALIATI LIKULLI MUTA’ARRIDIM MINAL BUHURI WAL AWANI WA NURIKAL LAMI’IL LADZI MALA’TA BIHI KAUNAKAL  HA ITHO BI AMKINATIL MAKANI ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA ‘AINIL HAQQIL LATI TATAJALLA MINHA ‘URUSYUL HAQOIQ ‘AINIL MA’ARIFIL AQWAM SHIROTIKAT TAMMIL ASQOM ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALA THOL’ATIL HAQQI BIL HAQQIL KANZIL A’DZOM IFADLOTIKA MINKA ILAIKA IHATHOTIN NURIL MUTHOLSAM SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA ‘ALA ALIH SHOLATAN TU’ARRIFUNA BIHA IYYAH

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakikat Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang  yang menghadap-Nya. seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh Hakikat keadilan yang seperti ‘arsy sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus. Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat.”

Shalawat Jauharatul Kamal adalah salah satu shalawat yang menjadi Wazhifah (tugas rutin) dalam Thariqah Tijaniyyah selain shalawat al-Fatih yang dibaca secara berjamaah ataupun dalam keadaan sendiri. Redaksi shalawat Jauharatul Kamal diajarkan langsung oleh Sayyidul Wujud Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidi Syaikh al-Imam Ahmad Ibn Muhammad At-Tijany (1150-1230 H, 1737-1815 M) dalam keadaan sadar/jaga (bukan mimpi). Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidi Syaikh al-Imam Muhammad al-Arabiy al-Tijaniy:

جَوْهَرَةُ الْكَمَالِ مِنْ إِمْــلاَءِ

                            اِمَـامِ اْلاِرْسَـالِ وَاْلأَنْبِيَاءِ

عَلَى حَبِيْبِهِ الْوَلِـيِّ الْعَالِـمِ

                   قُطْبِ الْوَرَى أَحْمَـدَ نَجْلِ سَالِـمِ

Artinya:”Shalawat Jauharatul Kamal berasal dari ucapan Nabi Muhammad yang merupakan pemimpin para Rasul dan Nabi. Yang disampaikan kepada kekasihnya seorang wali yang A’lim, manusia terkemuka yaitu Syaikh al-Imam Ahmad al-Tijaniy merupakan keturunan syaikh Ibn Salim.”[1]

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy berkata:

وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْقَطَـعُ جَمِيْعُ مَدَدِهِ عَلَى أُمَّتِهِ بِمَوْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَسَائِرِ اْلأَمْوَاتِ ، فَقَدْ جَهِلَ رُتْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسَاءَ اْلأَدَبَ مَعَهُ وَيُخْشَى عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ كَافِراً ، إِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَذَا اْلاِعْتِقَادِ .

Artinya:” Siapa saja yang meragukan Rasulullah dengan mengatakan bahwa bantuan Rasulullah telah terputus kepada ummatnya dengan sebab wafatnya beliau sama seperti halnya mayyit yang lain, maka sungguh ia tidak mengenal sama sekali akan kedudukan Rasulullah dan ia telah melakukan adab yang buruk kepada Rasulullah, dikhawatirkan ia mati dalam keadaan kafir jika ia tidak bertaubat dari keyakinan seperti itu.”[2]

Redaksi Shalawat Jauharatul Kamal, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat al-Fatih yakni pada kalimat ( اَلْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ   )  Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad, sebagai Hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat yang dipuji, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai wujud yang paling sempurna.

Makna  al-Fatih li ma Ughliqa pada intinya adalah :

1)      Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud (ada) di alam.

2)      Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah (kasih saying Tuhan) bagi para makhluk di alam.

3)      Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.

Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :

1)      Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.

2)      Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.

3)      tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syaikh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih Lima Ughliq dan al-Khatim Lima Sabaq. Syaikh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud (yang ada di alam). Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujubaniyat al-Buthun). Wujud Nabi Muhammad menjadi “sebab”  atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Nabi Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Nabi Muhammad, Allah tidak akan menciptakan segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Imam Muhammad Ibn Said al-Bushiriy mengatakan dalam al-Burdah:

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ

                     لَوْلاَهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَـدَمِ

Artinya:” Bagaimana mungkin kesusahan beliau dapat menyeru kepada dunia, padahal kalau bukan karena beliau dunia ini tidak tercipta.”

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syaikh Ahmad al-Tijaniy merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagaimana telah dikemukakan para sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakikat) Nabi Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syaikh Ahmad al-Tijaniy menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya: Nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syaikh Ahmad al-Tijaniy adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh Imam ‘Abdul Karim al-Jiliy dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Imam Ibn Arabiy dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili  yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Pemikiran Syaikh Ahmad al-Tijaniy “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf  yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijriyah sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan masuk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad, karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin (penutup para nabi).

Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal

Diantara keutamaan membaca shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan langsung oleh Rasulullah kepada Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy sebagai berikut :

أَنَّ الْمَرَّةَ الْوَاحِدَةَ تَعْدِلُ تَسْبِيْحَ الْعَالَمِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:” Membaca shalawat Jauharatul Kamal sekali, pahalanya menyamai tiga kali lipat tasbihnya alam.”

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ فَأَكْثَرَ يَحْضُرَهُ رُوْحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءِ اْلأَرْبَعَةِ مَا دَامَ يَذْكُرُهَا

Artinya:” Siapa yang membacanya 7 kali atau lebih, maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 khulafaur Rasyidin selama ia dalam keadaan membaca shalawat itu.”

أَنَّ مَنْ لاَزَمَهَا أَزْيَدَ مِنْ سَبْعِ مَرَّاتٍ يُحِبُّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَبَّةً خَاصَّةً وَلاَ يَمُوْتُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ

Artinya:” Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 kali, maka ia akan sangat dicintai oleh Rasulullah sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Allah.”

Adapun keutamaan shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan oleh Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy adalah:

مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهَا سَبْعًا عِنْدَ النَّوْمِ عَلَى طَهَارَةٍ كَامِلَةٍ وَفِرَاشٍ طَاهِرٍ يَرَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:” Siapa saja yang konsisten membacanya 7 kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), maka ia akan melihat Nabi Muhammad.”

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ التِّجَانِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَعْطَانِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً تُسَمَّى بِجَوْهَرَةِ الْكَمَالِ مَنْ ذَكَرَهَا اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقَالَ : هَذِهِ هَدِيَّةٌ مِنِّي اِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , فَكَأَنَّمَا زَارَهُ فِي رَوْضَتِهِ الشَّرِيْفَةِ, وَكَأَنَّمَا زَارَ أَوْلِيَاءَ اللهِ تَعَالَى وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ أَوَّلِ الْوُجُوْدِ اِلَى وَقْتِهِ وَفِي رِوَايَةٍ اِلَى اْلأَبَـدِ

Artinya:” Syaikh Ahmad al-Tijaniy berkata: Rasulullah memberikan kepadaku redaksi shalawat yang dinamai Jauharatul kamal, siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 kali dan berkata: Shalawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya rasulullah. Maka seakan-akan ia menziarahi Rasulullah di Raudhahnya yang mulia dan seolah-olah ia telah menziarahi para wali Allah besera menziarahi orang-orang shalih dari sejak zaman Nabi Adam sampai waktu ia membacanya bahkan riwayat lain menyebutkan sampai dunia musnah.”

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy mengumpulkan keutamaan shalawat Jauharatul kamal dalam Nazham al-Durratul Kharidah:

بِسَابِعَةٍ مِنْهَا حُضُوْرُ نَبِيِّنَا

                  مَعَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَقُدْوَتِي

Dengan membaca 7 kali Jauharatul kamal, akan hadir Nabi Muhammad beserta para Khulafaur Rasyidin dan Syekh Ahmad al-Tijaniy.

وَلَوْ دُمْتَ ذِكْرَهَا دُهُوْرًا طَوِيْلَةً

                  لَمَا فَارَقُوْكَ بِالذَّوَاتِ الْكَرِيْمَةِ

Seandainya engkau konsisten membacanya sampai masa yang lama, maka mereka semua tidak akan meninggalkan engkau dengan zat mereka yang mulia.

وَتَغْيِيْرُ جِلْسَةٍ بِهَا لِلتَّأَدُّبِ

                  جَرَى عَمَلٌ بِهِ لَدَا جُلِّ اِخْوَتِي

Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para khalifah dan syaikh Ahmad al-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah).

وَمَنْ دَامَ عِنْدَ النَّوْمِ سَبْعًا يَرَى النَّبِيّ

                 بِشَرْطِ الْوُضُوْءِ مَعْ طَهَارَةِ بُقْعَةِ

Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 kali, maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis).

وَتَالٍ لَهَا اثْنَتَيْنِ مَعْ عَشْرَةٍ كَأَنَّ

                      مَا زَارَ أَحْمَدَ النَّبِيَّ بِرَوْضَةِ

Yang membacanya sebanyak 12 kali seakan-akan ia telah menziarahi Nabi Muhammad di Raudhah.

وَكُلِّ نَبِيٍّ مَعْ وَلِيٍّ مِنْ أَدَمَا

                 اِلَى وَقْتِ ذِكْرِهَا بِإِذْنِ الْوَسِيْلَةِ

Seolah-olah ia juga telah menziarahi seluruh Nabi dan para wali dari sejak zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca  shalawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syaikh Ahmad al-Tijaniy dan pengikutnya.

وَبَعْدَ الْفَرَاغِ قُلْ بِقَلْبِ مَذَلَّةٍ

                   اِلَيْكَ رَسُوْلَ اللهِ هَذِى هَدِيَّتِي

Setelah selesai membaca jauharatul kamal maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh ketundukan dan khusyu’: “Aku hadiahkan shalawat ini kepada engkau Ya Rasulullah.

وَخَمْسًا وَسِتِّيْنَ اتْلُهَا عِنْدَ شِدَّةِ

                      وَلِلْخَيْرِ مَرَّةً بُعَيْدَ الْفَرِيْضَةِ

Bacalah jauharatul kamal sebanyak 65 kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan shalat fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan.

Keutamaan-keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan di atas hanya akan diperoleh bagi orang yang telah melakukan baiat Thariqah Tijaniyah dan istiqamah mengamalkannya.

<<< Perhatian>>

Persyaratan membaca shalawat ini:

  1. wajib bersuci atau berwudhu dengan sempurna .. jika bertayammum tidak mencukupi syarat dan tidak diperkenankan membaca shalawat ini
  2. wajib suci tempat, pakean, badan dari najis dan hadas
  3. wajib dibaca pada tempat yg agak luas sekira muat 6 orang
  4. jangan dibaca saat di kendaraan baik darat, laut maupun udara.
  5. orang yg beristinja (cebok) pake tisu atau sejenisnya yang bukan menggunakan air maka ia tidak diperbolehkan membaca shalawat ini walaupun ia ketika berwudhu pakai air. lantaran bersuci yang ia lakukan tidak tahaqquq (sempurna) kata orang betawi kaga danta.
  6. Shalawat Jauharatul Kamal ini saya tidak ijazahkan secara umum, lantaran shalawat ini bagian Asrar dari Thariqah Tijaniyah dan hanya Khusush buat pengamal Thariqah Tijaniyah.

MENGENAL ANTARA SUFI HAQIQI DAN SUFI PALSU

Orang-orang yang mengikuti perjalanan ruhani menuju Allah (Ahli Suluk atau Ahli Thariqat) terbagi menjadi dua golongan.

Yang pertama, ialah golongan Ahli Sunnah Wal-Jama’ah.

Ciri-cirinya :

    Mereka mematuhi ajaran al-Qur’an dan mematuhi amalan dan peraturan yang dicontohkan dari perilaku dan kata-kata Nabi Muharnmad Saw.

    Mereka mengikuti panduan tersebut dalam perkataan, dalam bertindak, dalam pemikiran dan dalam perasaan mereka.

    Mereka mengikuti maksud di dalam hati atau intisari yang tersirat dan yang terpendam dalam ajaran Islam.

    Mereka sangat paham dan tidak mengikuti begitu saja ajaran-ajaran Islam.

    Mereka mematuhi ajaran Islam sepenuhnya, menghayati dan menikmati manisnya ajaran dan prinsip agama.

    Mereka melakukan ibadah bukan karena paksaan, tetapi mereka merasa nikmat melakukannya. Inilah jalan mistik (keruhanian) yang mereka patuhi.

    Mereka adalah kaum pencinta Allah yang sebenarnya.

Ada sebagian dari mereka yang dijanjikan dengan surga tanpa dihisab terlebih dahulu di hari Pengadilan. Ada sebagian merasakan sedikit azab di Hari Pembalasan, kemudian dimasukkan ke surga. Ada pula yang terpaksa merasakan azab neraka untuk sekian lama guna membersihkan dosa-dosa mereka sebelum dimasukkan ke surga. Tetapi tidak ada yang berada selama-lamanya dalam neraka itu. Yang kekal dalam neraka ialah orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

 

Yang kedua, ialah kaum yang sesat atau kaum Sufi yang palsu yang terdiri dari berbagai golongan. Mereka ini adalah kaum yang sesat di zaman ini.

Banyak golongan orang-orang yang sesat yang mengaku sufi (palsu) antara lain:

  1. Golongan Hululiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka berpendapat adalah halal melihat badan orang yang bukan mahram, yang menggiurkan nafsu, dan paras yang cantik yang bisa mendorong kepada zina, baik lelaki atau perempuan, siapa pun baik anak atau isteri orang.

    Mereka berbaur antara lelaki dan perempuan dan menari bersama-sama. Hal ini jelas sekali berlawanan dengan ajaran dan prinsip Islam.

  1. Golongan Haliyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini gemar menyanyi, menari, memekik, menjerit dan menepuk tangan. Konon, dalam keadaan demikian mereka dapat mengatasi dan melampaui hukum-hukum syari’at Islam.

    Tidak perlu lagi bersyari’at karena telah melampaui peringkat syari’at. Hal ini jelas sesat karena Nabi Muhammad Saw. sendiri pun mengikuti syari’at, walaupun ia kekasih Allah Swt.

  1. Golongan Auliaiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini mendakwakan diri dekat dengan Allah. Dengan kata lain telah mencapai peringkat Aulia Allah. Apabila telah jadi Waliullah tidak perlu lagi shalat, puasa, haji, dan beribadah lainnya.

    Mereka berpendapat bahwa seseorang Wali menjadi anak Allah dan dengan itu mereka lebih tinggi derajatnya dari Nabi. Mereka mengatakan bahwa ilmu atau wahyu sampai kepada Nabi melalui malaikat Jibril, tetapi Waliyullah menerima ilham atau hikmah langsung dari Allah. Itulah dakwaan mereka. Pendapat mereka ini adalah silap atau salah dan sesat yang akan membawa mereka kepada kebinasaan dan akan menjerumuskan mereka ke lembah bid’ah dan kafir.

  1. Golongan Syamuraniyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka percaya kalam (perkataan) adalah kekal dan barangsiapa menyebut kalam yang kekal (kalam Allah) itu tidak terikat dengan hukum atau syari’at agama.

    Mereka tidak peduli dengan hukum halal atau haram. Dalam upacara ibadah mereka menggunakan alat musik. Perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu. Tidak ada hijab lelaki dengan perempuan. Ini sudah jelas sesat dan menyimpang jauh dari ajaran al-Qur’an.

  1. Golongan Hubbiyyah:

Ciri-cirinya :

    Golongan ini berkata bahwa apabila seseorang sampai ke peringkat cinta, mereka tidak lagi berada di bawah hukum syari’at.

    Mereka tidak peduli dengan pakaian. Kadang-kadang mereka bertelanjang bugil. Tidak ada lagi perasaan malu pada diri mereka.

Inilah ajaran sesat dan menyesatkan.

  1. Golongan Huriyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka senang berteriak-teriak, memekik-mekik, menyanyi, dan bertepuk tangan, konon katanya untuk mendapatkan Dzauq (ekstasi).

    Mereka mendakwa bahwa dalam keadaan Dzauq itu mereka bersenggama atau bersetubuh dengan bidadari. Setelah mereka keluar dari keadaan Dzauq, mereka pun mandi hadas. Mereka ini tertipu oleh nafsu mereka sendiri. Sesatlah mereka.

  1. Golongan lbahiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini tidak menyuruh berbuat baik dan tidak melarang berbuat jahat. Sebaliknya mereka menghalalkan yang haram. Zina pun dihalalkan. Bagi mereka, semua wanita halal untuk semua lelaki. Inilah golongan yang sesat dan miskin yang meminta sedekah dari rumah ke rumah.

    Mereka beranggapan bahwa mereka menerima azab Allah yang hina.

  1. Golongan Mutakasiliyyah:

Ciri-cirinya :

Mereka mengamalkan prinsip bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Mereka telah me- ninggalkan dunia dan keduniaan. Maka musnahlah mereka dalam kemalasan mereka sendiri.

  1. Golongan Mutajahiliyyah:

Mereka berpura-pura bodoh dan berpakaian tidak senonoh dan bersikap seperti orang kafir.

Padahal Allah berfirman:

“Janganlah kamu cenderung meniru orang-orang yang zalim, kelak kamu akan di sentuh (dijilat) api neraka” (Hud: 113).

Nabi pun pernah bersabda:

“Barangsiapa mencoba menyerupai sesuatu kaum, maka mereka dikira sebagai ahli kaum itu. ”

  1. Golongan Wafiqiyyah:

Ciri-cirinya :

Mereka berpendapat bahwa Allah yang mampu mengenal Allah. Dengan itu mereka tidak mau berusaha mencari hakikat atau kebenaran. Karena kebodohan mereka itu, mereka terseret ke jurang kerusakan dan kesesatan.

  1. Golongan Ilhamiyyah:

Ciri-cirinya :

    Mereka ini mementingkan ilham. Tidak mau menuntut ilmu dan tidak mau belajar.

    Mereka berkata bahwa al-Qur’an adalah hijab bagi mereka.

    Mereka menggunakan puisi karangan mereka sebagai ganti al-Qur’an.

    Mereka membuang al-Qur’an dan meninggalkan ibadah shalat, dan lain-lain.

    Mereka mengajarkan anak-anak mereka berpuisi sebagai ganti al-Qur’an. Maka sesatlah mereka.

Demikian banyak ajaran-ajaran sesat dari guru Sufl palsu di zaman ini, kata Syeikh Abdul Qadir al-jailani.

 

Sufi yang Benar dan Sufi Palsu

Sebenarnya golongan sesat dari kaum yang mengaku dirinya Sufi itu akan terus ada di setiap masa, baik dari golongan kaum Muslimin yang melenceng dari jalan yang benar maupun dari golongan kaum kafir juga.

Adapun kaum kafir, sejak semula mereka telah tersesat dalam belenggu kekufuran. Meskipun mereka bertabiat seperti seorang Sufi, dan mereka menahan diri dari segala macam tuntutan hawa nafsu untuk bertaqarrub, namun dasar kepercayaan mereka sendiri itu telah salah dan melenceng dari jalan Allah yang sebenarnya.

Mereka seperti yang sering kita lihat pada orang-orang yang berkeperecayaan Hindu dan Buddha dan sebagainya. Sayang sekali jerih payah mereka dalam mengendalikan diri dari hawa nafsu dunia itu ditujukan untuk kepercayaan yang sesat, bukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Allah berfirman:

“Dan siapa yang memohon kepada tuhan yang selain Allah, dia tidak mempunyai alasan apa pun tentang kepercayaannya itu, maka sesungguhnya perhitungannya nanti di sisi Tuhannya jua, sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang tidak beriman itu” (Al-Mu’minun: 117).

Sungguh menyedihkan keadaan mereka. Mereka telah bersusah payah menahan segala kenikmatan di dunia, tetapi tidak mampu memetik hasil dari jerih payahnya itu, karena apa yang mereka lakukan adalah sia-sia belaka. Sementara di akhirat mereka pun akan mendapat hukuman, siksa di dalam api neraka untuk selama-lamanya karena tidak mengikuti petunjuk yang benar.

Bagaimana dengan orang-orang yang beriman, tetapi kemudian yang tersesat jalan? Mungkin pada awalnya mereka melangkah di jalan yang benar atau berniat baik untuk tujuan Sufi. Tetapi tidak mustahil, mereka bisa tertipu dalam perjalanan kesufiannya itu, karena terpengaruh oleh hawa nafsu.

Nafsu yang akan ditentangnya ternyata berbalik muka menjadi gejala yang menentangnya. Orang yang menentang hawa nafsu itu bertujuan menghadapkan wajahnya kepada Tuhan yang dicari-Nya agar dikenali-Nya. Perlakuannya di dalam kesufian itu bukanlah bertujuan untuk mencari pangkat atau memperoleh pujian dan nama dalam masyarakat pengikutnya.

Apabila dilihatnya dirinya dihormati, para pengikutnya berkerumun mengelilinginya, dan terharulah hatinya, ia sangat senang dengan keadaan ini. Padahal, inilah penyakit, yang dalam istilah kesufian disebut Istidraj, yakni perkara-perkara yang datang sebagai cobaan dan ujian kepada seorang Sufi.

Orang yang semacam ini, memang setan senang sekali berdampingan dengannya. Dia malah lebih senang menyenderkan dirinya dengan Sufi palsu ini daripada orang yang bodoh dari liku-liku urusan agamanya. Memang mudah orang yang ‘bodoh’ itu dapat dipengaruhi dan diperdayakan oleh setan, tetapi hasilnya hanya seorang saja. Berbanding dengan Sufi palsu ini, dia mempunyai pengikut yang banyak, kalau dapat diperdayakan setan satu orang Sufi, maka Sufi itu dapat menghantar perdayaan itu kepada semua pengikutnya, kecuali orang yang diselamatkan Allah.

Setan akan berbisik kepada si Sufi palsu itu: Engkau seorang besar! Pengaruhmu sungguh mengagumkan! Sebab para pengikutmu banyak sekali, karena itu engkau jangan bimbang! Mereka tidak akan menyia-nyiakanmu. Engkaulah orang Sufi yang benar! Engkau wali, dan bukankah wali itu orang kesayangan Tuhan! Apa pedulimu kepada orang-orang bodoh yang merendahkan derajatmu. Mereka itu tidak mengerti. Masih jahil. Jahil murakkab. Engkau begini, dan begitu, dan seterusnya. Bisikan itu tidak ada akhirnya. Diberikan kepadanya Khatir-khatir, yakni lintasan-lintasan hati yang semuanya palsu dan keliru, sedang dia termakan semua umpan yang dipasangkan di dalam perangkapnya.

Itulah dia Istidraj yang selalu menimpa orang yang mengangan-angankan diri menjadi Sufi sebelum waktunya. llham yang diterimanya bukan ilham dari Allah Swt., tetapi ilham dari setan, sedang dirinya tidak tahu.

Orang Sufi palsu ini sungguh berbahaya kepada umat Islam. Dia lebih berbahaya daripada sang Sufi sesat, yang perjalanannya benar, tetapi kepercayaannya salah dan sesat. Sebab orang Sufi sesat itu, semua orang Islam telah mengenalinya dan mudah dikenali. Namun sang Sufi palsu itu akan membawa kekeliruan kepada khalayak yang tidak mengerti, atau orang yang mudah terpengaruh dengan hal-hal yang tidak asli atau tiruan. Lalu bukan saja dia yang sesat, malah dia akan menyesatkan banyak orang yang tidak berdosa, hanya salahnya karena terpengaruh dengan yang salah yang digambarkan sebagai benar,

Pendapat Ahli Sunnah Wal-jama’ah

Para pemimpin dan guru-guru Sufi dari golongan Ahli Sunnah Wal-Jama’ah berpendapat bahwa para sahabat, dengan berkat ajaran dan kehadiran Nabi, adalah dalam keadaan Dzauq keruhanian yang tinggi martabatnya. Setelah zaman berlalu, keadaan keruhanian yang tulen ini makin lama makin kurang dan tipis. Kemudian keadaan keruhanian ini diwarisi oleh guru-guru mursyid yang kemudian, pecah menjadi banyak firqah dan cabang.

Oleh karena terlalu banyak firqah dan golongan kaum mursyid itu, hikmah dan tenaganya pun makin tipis dan makin berpecah-belah. Dalam banyak hal, yang tinggal hanya bentuk zahir saja yang berlagak seperti guru Sufi, padahal batinnya dan hakikatnya bukan Sufi. Lama kelamaan timbullah Sufi-Sufi palsu dan bid’ah.

Ada yang menganut golongan Haydari dan berpura-pura menjadi perwira dan pahlawan. Ada pula yang menamakan diri mereka kaum Adhami dan berpura-pura mengikuti jejak langkah Ibrahim Adham, yaitu seorang Sufi besar yang meninggalkan istana dan pangkat sultan karena hendak mengamalkan ilmu Sufi. Bahkan, masih banyak lagi ajaran sesat dari guru Sufi palsu yang timbul.

Dalam zaman ini, ahli-ahli Sufi yang sebenarnya, yang bersesuaian dengan syari’at, makin lama makin berkurangan jumlah mereka.

Ahli Sufi yang hakiki dapat dikenali dengan dua cara:

Pertama, zahir mereka, yaitu mereka mengamalkan syari’at.

Kedua, batin mereka, yaitu boleh dijadikan contoh teladan karena mereka mewarisi keruhanian Nabi Saw. Sebenarnya contoh manusia yang paling baik ialah Nabi Besar Muhammad Saw. Dialah sebenar-benar Sufi yang hakiki. Syari’at dan Hakikat hendaklah bersama seiring jalan untuk kesinambungan agama dalam kehidupan mukmin dan mukminah sejati.

Seorang Waliyullah yang mewarisi keruhanian Nabi akan memberi berkat kepada Si Salik dengan kehadiran fisiknya. Sesungguhnya Iblis tidak dapat menyerupai Nabi Saw.

Awas, wahai Salik, orang buta tidak boleh menunjukkan jalan pada si buta yang lain. Pandangan kita hendaklah tajam supaya kita dapat membedakan kebaikan dengan kejahatan, walau sebesar zarrah pun.

Ingatlah, bahwa perjalanan Sufi itu bukan medan permainan. Bila suka boleh ikut, bila malas boleh ditinggalkan. la adalah jalan menuju ke Hadhirat Ketuhanan, yang kepadanya tidak semudah diucapkan lisan. walaupun begitu, wajarlah ia menjadi tujuan setiap insan. Yang ingin mencari ketenangan diri dan makrifat hakikat penciptaan Tuhan. Bukankah kita disuruh menyembah-Nya menurut bunyi sebuah firman? Bagaimana boleh menyembah kalau belum sempat untuk berkenalan?

 

Khatir yang Datang Kepada Sufi

Khatir itu ialah lintasan-lintasan hati, atau cetusan yang muncul di hati orang Mukmin karena sesuatu sebab atau yang lain. la biasanya datang secara tiba-tiba sehingga mengharukan orang yang didatanginya. Kalau ia telah terbiasa dengan khatir- khatir seperti itu, maka perkaranya agak mudah sedikit, akan tetapi khatir yang datang sekali-sekali harus diberikan perhatian yang cukup dan dipertimbangkan dengan sehalus- halusnya agar dia tidak tertipu.

Apabila khatir itu muncul, dan hatinya kuat mengatakan, bahwa dia itu datang dari Malaikat, yakni Khatir-Al-Malak, mestilah dia bertenang lebih dahulu dan bertanya pada dirinya:

Siapa engkau ini, dan engkau datang dari mana? Mungkin tidak sukar ia akan mendengar suara hatinya menjawab: Aku ini sebagian Nubuwah, yakni pemberitahuan khusus yang datang dari Al-Haqq, yaitu Tuhan yang sebenarnya. Aku memang benar. Aku datang dari Habib (siapa yang dicintai) dan Ar-Rafiq (Rakan).

Khatir, atau bisikan hati ini akan memenuhi kebatinannya, pendengarannya dan pemandangannya. Sikap orang yang didatangi Khatir ini gemar sekali mengasingkan diri dari kumpulan orang ramai, tidak suka banyak berbicara, seperti orang sakit lagaknya.

Mukanya terlalu masyghul karena tekanan Khatir yang datang menyelubungi jiwanya itu.

Dalam keadaan yang serupa itu, orang yang tidak tahu akan mengatakan bahwa dia sedang ditimpa gangguan dalam dirinya, karena semua sifatnya berubah dan seolah-olah dia berada di tempat yang bukan tempat yang dia sedang berada itu. Tetapi sebentar lagi keadaannya akan berubah pula, dan dia kelihatan penuh perasaan tenteram dan tenang, dan sedikit demi sedikit keadaannya akan kembali pulih seperti sediakala seolah-olah tiada sesuatu yang menimpa dirinya.

Di dalam keadaan dia sedang diselubungi Khatir itu, dia kelihatan seperti orang yang terkena putau, yang kesadarannya tidak penuh. Kadang-kadang dia akan mengatakan sesuatu yang boleh didengar oleh orang yang berada di sisinya, dan kadang-kadang tidak kedengaran apa yang dikatakannya itu, seolah-olah dia sedang asyik berbicara sesuatu dengan seseorang yang berada di sisinya. Namun siapa yang mengerti semua keadaan ini kecuali orang yang sudah mengalaminya, dan orang yang mengalami hampir semuanya tidak mau menceritakannya, karena semua itu adalah rahasia-rahasia ketuhanan yang halus yang tidak boleh dibocorkan. Dan kalau diberitahukan pula, mungkin ramai orang yang tidak percaya. Mungkin dikatakan orang, dia itu terasuki jin, wallahu-a’lam.

 

lkhlas dalam Beramal

Berkata Syeikh Abdul Qadir al-Jailani: Sekiranya kita ikhlas dalam amalan, kita akan diceraikan dari kalangan makhluk, sehingga seolah-olahnya kita merasa jemu untuk duduk-duduk bersama mereka. Hanya dengan menceraikan diri dari makhluk, kita dapat ‘bersatu’ dengan Allah!

Memang benar sekali, pintu menuju kepada Allah itu ialah mengosongkan hati sama sekali dari urusan dengan makhluk, barulah hati itu akan lapang dan dapat dikuasai oleh hal-hal yang datang dari Tuhan tanpa terganggu. Sebab para shalihin senang sekali memunajatkan dirinya kepada Allah di waktu malam, di waktu semua orang terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Apabila kita mengasingkan diri dari manusia, dan bergiat membuat amalan-amalan yang berupa taqarrub, maka ketika itu akan terbuka bagimu suatu pintu khusus yang menyambung dengan Hadhirat Ketuhanan.

Hati kita akan bersinar cemerlang, membawa jiwa atau ruhmu mengintip rahasia-rahasia yang halus yang akan mempengaruhi dirimu. Itulah yang dikatakan makrifat, yang menurut istilah yang lahir, bila dicarinya tidak akan ditemukan.

Tetapi apabila hati itu dibersihkan dan disucikan dari segala kekotoran keduniaan, makrifat malah datang mencarimu, dan akan didudukinya tempat di muka hati yang sudah dibersihkan itu. Sehingga memancarlah sinar cahaya yang cemerlang tadi, wallahu-a’lam.

Allah Swt. telah menjadikan hati itu tempat letaknya makrifat dan ilmu. Ilmu itu cahaya, tidak ingin duduk di tempat yang ada kotoran. Makrifat itu adalah cahaya yang cemerlang, tidak akan setempat dengan daki-daki kekotoran.

Allah Swt. menilik hati itu dalam sehari semalam sampai 360 kali, dan sekiranya Dia tidak membiarkan ilmu dan makrifat itu berdiam di hati itu, niscaya hati itu akan hancur berantakan. Tinggallah hati itu menjadi keras dan mati. Tetapi bila hati itu kembali baik dan menghampirkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan menjadikan sungai kenikmatan mengalir dari muka hati itu.

Allah menjadikan Ahlullah itu sebagai pembela agama. Peringkat yang tertinggi di antara para makhluk ialah para Nabi dan Rasul. Di bawah peringkat itu ialah para sahabatnya, dan berikut sesudahnya ialah para tabi’in dan seterusnya tabi’ tabi’in. Mereka ini semua senantiasa patuh dan mengamalkan apa yang diperintah Tuhan. Mereka laksanakan suruhan Allah dan Rasul-Nya dengan kata dan doa, sama ketika sendirian ataupun di khalayak ramai. Itulah orang-orang yang mewarisi para Nabi.

Mereka ini sering disebut dan dibanggakan oleh Allah Swt. sebagai para hamba-Nya yang shalihin, yang setiap gerak langkahnya diiringi dengan takwa dan setia. Mereka telah membelakangi dunia dan semua urusan dunia, manakala orang lain sibuk mengejarnya dan berusaha dengan penuh daya upaya untuk mencapainya. Sebab itu dikatakan, bahwa orang yang mengejar dunia, dunia akan lari meninggalkannya. Dan siapa meninggalkan dunia, dunia akan datang mendapatkannya.

Namun begitu, bagi orang yang sudah mengenal hakikat dirinya, semua urusan dunia itu akan menjadi tipis dalam pandangannya. Dunia pada hakikatnya tidaklah bernilai, lantaran ia bukan dari jenis barang yang kekal. Sebab itu Allah telah mengatakan, sekiranya dunia itu bernilai atau berharga hanya satu sayap nyamuk, atau lalat, niscaya tidak akan diberikan-Nya kepada orang kafir. Lantaran dia tidak berharga apa pun, maka diberikan kepada orang kafir itu untuk menjadi pokok yang membinasakan. Maka apakah orang yang beriman itu, yang sudah kenal arti dan harga iman itu masih mau menjual imannya dengan harta yang tidak bernilai itu?

Itulah pokok kefahaman orang Sufi dibandingkan dengan orang biasa, maka di manakah kita berada sekarang ini?!

wallohu a’lam bish-shawab,-

PENGERTIAN ROBITHOH SERTA ALAM MALAKUT DAN JABARUT

180_B.TIF

    Robithoh adalah mengaitkan perjalanan ruhani dengan Mursyid atau Syeikh yang membimbing anda. Robithoh biasanya menjadi tradisi para Sufi ketika awal penempuhan perjalanan menuju kepada Allah, bisa melalui Tawassul ketika berdoa, atau hadiah surat Al-Fatihah kepada mereka. Namun cara ber-Robithoh pun juga ada aturannya sesuai dengan petunjuk Syeikhnya. Dalam robithoh seorang murid hendaknya tidak membayang-bayangkan wajah atau foto sang Syeikh atau sang Mursyid. Orientasinya hanya kepada Wajah Allah saja. Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan, “kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah.” Bukan wajah makhluk Allah, atau wajah guru atau Mursyid.

    Dalam Robithoh disebutkan mengenai at-Tashawwur bi-Shurotis Syeikh, yang artinya membayangkan gambar atau sosok guru, dimaksud sesungguhnya bukannya seseorang membayangkan wajah syeikh. Namun, ketika anda suluk dan berdzikir atau bertawajuh, tiba-tiba melintas – tanpa anda kehendaki— wajah guru, itulah yang disebut Tashawur bishuratis Syeikh. Bukan berusaha menghadirkan sosok Mursyid atau Syeikh.

    Alam Malakut adalah tahap atau derajat ruhaniyah yang digambarkan sebagai alam atau wilayah kebajikan hakiki atau sejatinya rasa jiwa. Disanalah dunia Ruh hanya merindukan dan menghendaki Allah semata (tanzih), dan disanalah Alam Malakut itu menjadi taman jiwa yang hakiki, dengan keindahan Asma’ dan sifatNya Allah yang terpantul dalam hamparan Ruh kekasih Allah.

    Sedangkan Alam Jabarut adalah Alam Ilahi yang menjadi hamparan Ma’rifatullah, dimana seluruh elemen satu dalam banyak dan banyak dalam satu, menjelma dalam penyucian tasbih kepada Allah semata. Dunia Rahasia Ilahi, itulah Alam Jabarut. Nah, di atas Alam Jabarut masih ada lagi Alam Lahut, Alam Hahut dan Bahut serta Ahut. (Maha Ghuyubul Ghuyub) . Wallahu A’lam.

    Kita tidak diperintah untuk memasuki alam-alam itu. Dan jangan berambisi untuk memasukinya. Karena yang memasukkan ke alam-alam itu Allah jua. Bukan kehendak kita.