CARA AGAR SUAMI ISTRI HARMONIS DALAM MENGARUNGI RUMAHTANGGA

⇦ حسن الخلق معهن واحتمال الاذا ترحما عليهن لقصور عقلهن. وقال الله: وعاشروهن بالمعروف

⇦ ان يزيد علي احتمال الاذي بالمداعبة والمزح والملاعبة، فهي التي تطيب قلوب النساء، وقد كان رسول الله يمزح معهن. قال رسول الله: اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا والطفهم باهله

⇦ ان لا يتبسط في الدعابة وحسن الخلق والموافقة باتباع هواها الي حد يفسد خلقها ويسقط بالكلية هيبته عندها، بل يراعي الاعدال فيه. قال الحسن: والله ما اصبح رجل يطيع امراته فيما تهوي الا كبه الله في النار

⇦ الاعتدال في الغيرة. قال قلعم: ﺇِﻧِّﻲْ ﻟَﻐَﻴُﻮْﺭٌ ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺍِﻣْﺮِﺉٍ ﻻَ ﻳُﻐَﺎﺭُ ﺇِﻻَّ ﻣَﻨْﻜُﻮْﺱُ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ. قال صلعم: ﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﺮَﺓِ ﻏَﻴْﺮَﺓٌ ﻳَﺒْﻐَﻀُﻬَﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﻫِﻲَ ﻏَﻴْﺮَﺓُ

ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺭِﻳْﺒَﺔ

⇦ الاعتدال في النفقة فلا ينبغي ان يقتر عليهن في الانفاق ولا ينبغي ان يسرف، بل يقتصد. قال تعالي: وكلو واشربوا ولا تسرفوا

⇦ ان يتعلم المتزوج من علم الحيض واحكمه ما يحترز به الاحتراز الواجب، ويعلم زوجته احكام الصلاة وما يقضي منها وما لا يقضي، فانه امر بان يقيها النار بقوله: قو انفسكم واهليكم نارا.

⇦ اذا كان له نسوة فينبغي اي يعدل بينهن ولا يميل الي بعضهن فان خرج الي السفر واراد استصحاب واحد اقرع بينهن

▶▶Berperangai baik serta bersabar atas sakit yang diterima dari isterinya dalam rangka berbelaskasih pada istri karena pendek akal/pemikirannya. Allah berfirman: Dan pergaulilah istri kalian dengan cara yang baik.

▶▶Tidak cukup engkau bersabar saja, melainkan juga perlu ber-cumbu rayu, ber-senda gurau, sebab itu akan melegakan/menyenangkan hati isteri, Rasulullah-pun juga bergurau bersama para isterinya.

Rasulullah bersabda: “Paling sempurna iman-nya orang mukmin adalah yang paling baik perangainya dan paling lemah lembut pada keluarganya.

▶▶Jangan berlebihan dalam bersenda gurau, serta berperilaku baik dan jangan mengikuti segala keinginannya sampai pada batas dimana justru akan merusak akhlaknya, dan menggugurkan kewibaanmu dihadapannya.

Al-Hasan berkata: Demi Allah, tidaklah seorang lk (suami) yg taat pada isterinya dalam hal hawa (keinginan -nya) kecuali Allah akan melemparkannya ke dalam neraka.

▶▶Cemburu sewajarnya saja. Rasul bersabda: “Sesungguhnya aku adalah seorang pencemburu dan tidak ada seorang pun yang tidak cemburu pada istrinya kecuali dia adalah pria yang terbalik hatinya.”

Rasul bersabda: “Sesungguhnya di antara sifatcemburu, ada yang dibenci oleh Allah, yaitu cemburu pada istri tanpa ada kecurigaan.”

▶▶Sederhana dalam memberi nafkah (belanja), jangan terlalu hemat jangan berlebihan.

Allah berfirman: “Makanlah, minumlah tetapi jangan berlebihan”.

▶▶Belajar ilmu haid serta hukum-hukumnya, dan juga hal wajib yang berkaitan dengan haid. Mengajari isteri tentang sholat yang wajib di qada’ dan yang tidak. Sesungguhnya Allah memerintahkan suami untuk menjaga isterinya melalui firman-Nya “Jagalah dirimu serta keluargamu dari api neraka”.

▶▶Jika memiliki isteri lebih dari satu, hendaknya bersikap adil diantara keduanya, jangan condong pada salah satu dari mereka, jika hendak bepergian dengan isterinya, hendaklah mengundi diantara mereka, seperti itu yang dilakukan oleh Rasulullah.

Wallahu a’lam  Ihya’ Ulumuddin 2/55-62

KEANEHAN TINGKAH LAKU PARA WALI BUKANLAH HAL YANG HARUS DI CONTOH

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai anakku, Pernah diceritakan dibuku (yang berisi) pesan-pesan Luqman al-Hakim kepada puteranya. Dia berkata pada puteranya: “Nak, sungguh jangan sampai ayam jago lebih cerdas dari pada dirimu! Dia berkokok memanggil-manggil di waktu sahur sementara kamu tidur.”

ايها الولد، روي في وصايا لقمان الحكيم لابنه انه قال: يابني, لا يكونن الديك اكيس منك ينادي بالاسحار وانت نائم

Seseorang telah menggubah syair yang benar-benar bagus:
Ditengah malam, sungguh burung-burung merpati berkicau lemah di atas ranting sedangkan aku terlelap tidur.
Aku telah berdusta. Demi Baitullah, apabila aku benar-benar rindu pada Allah tentunya merpati itu tidak akan mendahuluiku menangis.
Aku kira diriku tak tahu arah karena rindu pada Allah, akan tetapi aku tak mampu menangis, sedangkan binatang-binatang sedang mengeluarkan air mata.

ولقد احسن من قال شعرا:
لقد هتفت في جنح ليل حمامة * على فنن وهنا وانى لنائم
كذبت وبيت الله لو كنت عاشقا * لما سبقتني بالبكاء الحمائم
وازعم اني هائم ذو صبابة * لربي فلا ابكي وتبكي البهائم
Wahai anakku, intisari ilmu adalah kamu mengerti (jawaban dari) apa itu hakikat ketaatan dan ibadah.

ايها الولد، خلاصة العلم ان تعلم الطاعة والعبادة ما هي
Ketahuilah, sesungguhnya taat dan ibadah itu mengikuti Syaari’ (Muhammad saw) dalam perintah, larangan, perkataan dan perbuatannya. Artinya, semua perkara yang kamu ucapkan, lakukan, dan tinggalkan itu keseluruhannya mengikuti syariat. Seperti halnya, jika kamu berpuasa pada dua hari raya dan hari-hari tasyrik, maka kamu adalah orang yang bermaksiat. Atau kamu sholat dengan pakaian ghasab, walaupun berbentuk ibadah kamu tetap berdosa.

اعلم ان الطاعة والعبادة متابعة الشارع في الاوامر والنواهي بالقول والفعل. يعني كل ما تقول وتفعل وتترك يكون باقتداء الشرع. كما لو صمت يوم العيد وايام التشريك تكون عاصيا. او صليت في ثوب مغصوب وان كانت صورة عبادة تأثم
Wahai anakku, lebih baik ucapan dan perbuatanmu itu sesuai dengan syariat. Karena ilmu dan amal tanpa mengikuti syariat itu sesat. Seyogyanya kamu tidak tertipu dengan keanehan dan hal-hal menakjubkan para sufi. Karena sesungguhnya menempuh jalan ini adalah dengan mujahadah, menghentikan kesenangan nafsu dan memeranginya dengan riyadhoh yang diserupakan pedang, bukan dengan keanehan dan perbuatan tak berguna

ايها الولد، ينبغي لك ان يكون قولك وفعلك موافقا للشرع. اذ العلم والعمل بلا اقتداء الشرع ضلالة. وينبغي لك الا تغتر بالشطح وطامات الصوفية. لان السلوك هذا الطاريق يكون بالمجاهدة وقطع شهوة النفس وقتل هواها بسيف الرياضة لا بالطامات والترهات

Ketahuilah bahwa sesungguhnya mulut yang tidak dikendalikan, hati yang tertutup yang telah dipenuhi kelalaian dan syahwat merupakan tanda-tanda celaka. Oleh karena itu, Ketika kamu tidak memerangi nafsumu dengan melakukan mujahadah yang serius, maka hatimu tidak akan hidup dengan cahaya-cahaya ma’rifat.

واعلم ان اللسان المطلق والقلب المطبق المملوء بالغفلة والشهوة علامة الشقاوة. فاذا لم تقتل النفس بصدق المجاهدة فلن يحي قلبك بانوار المعرفة

BERGURU KEPADA MURSYID KAMIL DAN ADAB SETELAH MENJADI MURIDNYA


Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid

“فـصـلٌ”

وَلتَكُن لَكَ -أيُّها المُريدُ- عِنايَةٌ تَامَّةٌ بِصُحبةِ الأَخيارِ وَمُجالَسَةِ الصَّالِحينَ الأَبرارِ. وَكُن شَديدَ الحِرصِ علَى طَلبِ شَيخٍ صَالِحٍ مُرشِدٍ نَاصِحٍ، عَارِفٍ بِالشَّريعَةِ، سَالِكٍ لِلطَرِيقَةِ، ذَائِقٍ لِلحَقِيقَةِ، كَامِلِ العَقلِ وَاسِعِ الصَّدرِ، حَسَنِ السِّيَاسَةِ عاَرِفٍ بِطبَقاتِ النَّاسِ مُمَيِّزٍ بَينَ غَرائِزِهِم وَفِطَرِهِم وَأَحوَالِهِم

“Fasal 17”
Wahai murid, hendaklah engkau mejadikan berkawan dengan orang-orang pilihan dan berkumpul dengan orang-orang shalih yang berbakti sebagai penolong yang sempurna bagimu, dan hendaklah engkau menjadi orang yang sangat berhasrat mencari tuan guru yang shalih, mursyid yang banyak memberikan nasehat, faham syari’at, penempuh jalan akhirat, yang merasakan manisnya hakikat, sempurna ‘akalnya, lapang dadanya, baik kebijakannya, mengenal tingkatan-tingkatan manusia dan mampu membedakan antara watak, fitrah dan keadaan manusia.

فَإِن ظَفِرتَ بِهِ فَألقِ نَفسَكَ عَليهِ وَحَكِّمهُ في جمَيعِ أُمورِكَ وَارجِع إِلى رَأيِهِ وَمَشُورَتِهِ في كُلِّ شَأنِكَ وَاقتَدِ بِهِ في جَميعِ أَفعَالِهِ وَأَقوَالِهِ إِلاَّ فِيمَا يَكونُ خَاصّاً مِنها بِمَرتَبةِ المَشيَخَةِ، كَمُخالَطَةِ النَّاسِ وَمُداَرَاتِهم وَدَعوَةِ القَريبِ والبَعيدِ إَلى الله وَمَا أَشبَهَ ذَلكَ فَتُسَلِّمُهُ لَهُ، وَلا تَعتَرِض عَليهِ في شَيءٍ مِن أَحوَالِهِ لا ظَاهِراً ولا بَاطِناً وَإِن وَقَعَ في قَلبِكَ شيءٌ مِنَ الخَواطِرِ في جِهَتِهِ فاجتَهِد في نَفْيِهِ عَنكَ فَإِن لَم يَنتَفِ فَحَدِّث بِه الشَّيخَ لِيُـعَرِّفَكَ وَجهَ الخَلاصِ مِنهُ، وَكَذلِكَ تُخبِرَهُ بِكُلِّ ما يَقَعُ لَكَ خُصوصاً فِيما يَتعَلَّقُ بِالطَّريقِ

Jika engkau telah menemukan seorang guru dengan ketentuan yang telah di sebutkan, maka pasrahkan dirimu padanya, dan mintalah fatwa kepadanya dalam setiap urusanmu, dan merujuklah pada pendapatnya dan bermusyawarah dengannya dalam setiap langkahmu, ikutilah semua perilaku serta ucapannya kecuali suatu perkara yang khusus bagi derajat seorang guru, seperti masalah bergaul dengan orang-orang dan berkecimpung dengan mereka, mengajak orang yang dekat dan yang jauh kepada Allah dan yang serupa dengannya, maka pasrahkanlah dirimu kepadanya (mursid), janganlah engkau menentang keadaannya sedikitpun baik secara dzahir maupun batin. Jika dalam hatimu terjadi sesuatu bisikan buruk tentangnya, maka bersungguh-sungguhlah engkau dalam menghilangkan hal tersebut darimu, jika engkau tidak mampu menghilangkannya, maka ceritakan hal itu pada guru mu, supaya ia memberitahukanmu cara untuk membersihkannya. Demikian pula, ceritakan pada gurumu setiap sesuatu yang terjadi padamu, terutama dalam hal yang berkaitan dengan jalan menuju Allah.

وَاحذَر أَن تُطيعَهُ في العَلانِيَةِ وَحَيثُ تَعلَمُ أَنَّهُ يَطَّلِعُ عَليكَ وَتَعصِيهِ في السِّرِّ وَحَيثُ لا يَعلَمُ فَتَقعُ في الهَلاكِ

Dan hindarilah engkau ta’at pada gurumu secara terang-terangan, sedangkan secara sembunyi-sembunyi engku durhaka kepadanya, baik gurumu mengetahuinya atau tidak, karena hal itu akan menyebabkanmu terperosok dalam jurang kehancuran

وَلا تَجتَمِعَ بِأَحدٍ مِنَ المَشايِخِ المُتَظاهِرينَ بِالتَّسلِيكِ إِلاَّ عَن إِذنِهِ، فَإِن أَذِنَ لَكَ فاحفَظ قَلبَكَ وَاجتَمِع بمَن أَرَدتَ وَإِن لمَ يَأذَن لَكَ فَاعلَم أَنَّهُ قَد آثَرَ مَصَلَحَتَكَ فَلا تَتَّهِمَهُ وَتَظُنَّ بِهِ الحَسدَ وَالغَيرَةَ، مَعَاذَ الله أَن يَصدُرَ عَن أَهلِ الله وَخاصَّتِهِ مِثلُ ذَلِكَ

Jangan engkau berkumpul dengan salah seorang dari para masyayikh yang menampakkan perjalanan spiritualnya kecuali mendapat idzin darinya, jika ia memberi idzin untukmu maka jagalah hatimu, dan berkumpullah dengan orang yang engkau kehendaki. Tetapi jika ia tidak memberi idzin untukmu, maka sadarlah bahwa ia lebih mementingkan kemaslahatanmu, janganlah engkau curiga dan menduganya dengan kedengkian dan kecemburuan, dan berlindunglah kepada Allah supaya tidak keluar dari ahli Allah dan ke utamaan semacam itu.

وَاحذَر مِن مُطالَبَةِ الشَّيخِ بِالكَرَامَاتِ وَالمُكَاشَفَةِ بِخَوَاطِرِكَ فَإِنَّ الغَيبَ لا يَعلَمُهُ إِلاَّ الله، وَغَايَةُ الوَلِيِّ أَن يُطلِعَهُ اللهُ علَى بَعضِ الغيُوبِ في بَعضِ الأَحيان، وَرُبَّما دَخَلَ المُريدُ علَى شَيخِهِ يَطلُبُ مِنهُ أَن يُكاشِفَهُ بِخاطِرِهِ فَلا يُكاشِفَهُ وَهُوَ مُطَّلِعٌ عَليهِ وَمُكاشَفٌ بِهِ صِيَانَةً لِلسِرِّ وَسَتراً لِلحالِ فَإِنَّهُم رَضِيَ الله عَنهُم أَحرَصُ النَّاسِ علَى كِتمانِ الأَسرارِ وَأَبعَدُهُم عَنِ التَّظاهُرِ بِالكرَاماتِ والخَوارِقِ وَإِن مُكِّنُوا مِنها وَصُرِّفُوا فِيها

Takutlah engkau mencari karamah dan mukasyafah (tersingkapnya hijab) dengan bisikan hatimu dari seorang guru, karena perkara ghaib itu tidak ada yang metahuinya kecuali Allah, dan puncak kewalian seorang wali, Allah hanya menampakkan kepadanya sebagian perkara ghaib pada sebagian masa. Terkadang seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) meminta gurunya (mursyid) untuk mukasyafah dengan bisikan hatinya (menunjukkan bisikan hatinya), akan tetapi seorang mursyid tidak akan menunjukkannya walaupun ia dapat melihat dan mukasyafah dengannya karena menjaga rahasia dan menutupi keadaan. Karena mereka radliyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang paling loba menutupi semua rahasia dan paling menjauh dari menampakkan karamah dan hal yang diluar kebiasaan sekalipun memungkinkan dan di perkenankan.

وَأكثَرُ الكرَاماتِ الوَاقِعَةِ مِنَ الأَولِيَاءِ وَقعَت بِدونَ اِختِيَارِهِم، وَكاَنوا إِذا ظَهرَ عَليهُم شَيءٌ مِن ذَلِكَ يُوصونَ مَن ظَهرَ لَهُ أَن لا يُحَدِّثَ بِهِ حَتَّى يَخرُجُوا مِنَ الدُّنيا، وَرُبَّما أَظهَرُوا مِنها شَيئاً اختِيَاراً لِمَصلحَةٍ تَزيدُ علَى مَصلَحةِ السِّترِ

Kebanyakan karamah itu terjadi pada wali-wali Allah tanpa adanya ikhtiyar (kemauan) dari mereka, dan jika nampak pada mereka suatu karamah maka ia akan meminta pada orang yang melihatnya untuk tidak menceritakannya sehingga ia (wali) meninggal dunia, tetapi terkadang mereka (para wali) juga menampakkan sebagian karamahnya berdasarkan ikhtiyar (kemaun) nya karena ada kemaslahatan yang lebih besar daripada menutupinya.

وَاعلَم أَنَّ الشَيخَ الكَامِلَ هُوَ الذِّي يُفِيدُهُ بِهِمَّتِهِ وَفِعلهِ وَقَولِهِ وَيحَفَظُهُ في حُضورِهِ وَغَيبَتِهِ وَإِن كانَ المُريدُ بَعيداً عَن شَيخِهِ مِن حَيثُ المَكانُ، فَليَطلُب مِنهُ إِشارَةً كُلِّيَةً فِيما يَأتي مِن أَمرِهِ وَيترُكُ. وَأَضرُّ شَيءٌ عَلى المُريدِ تَغَيُّرِ قَلبَ شَيخِهِ عَليهِ وَلَو اجتَمعَ علَى إصلاحِهِ بَعدَ ذَلِكَ مَشايخُ المَشرِقِ وَالمَغرِبِ لمَ يَستَطيعُوهُ إِلاَّ أَن يَرضَى عَنهُ شَيخُهُ

Ketahuilah bahwa seorang syaikh (tuan guru) yang sempurna ialah orang yang mampu memberikan faidah terhadap himmah (tekad spiritual) nya (murid), perbuatan dan ucapannya. Serta mampu menjaganya di saat hadir atau sedang pergi walaupun posisi murid jauh dari gurunya. Maka mintalah isyarah secara keseluruhan darinya (tuan guru) tentang perkara yang harus di jalankan dan yang harus di tinggalkan. Suatu perkara yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati tuan gurunya padanya meskipun setelah itu semua tuan guru mulai dari ujung timur sampai barat bersatu untuk memperbaiki kesalahannya, mereka tidak akan mampu memperbaikinya kecuali tuan gurunya itu ridla kapadanya.

وَاعلَم أَنَّهُ يَنبَغي لِلمُريدِ الذَّي يَطُلبُ شَيخاً أَن لا يُحَكِّمَ في نَفسِهِ كُلَّ مَن يُذكَرُ بِالمَشيَخَةِ وَتَسلِيكِ المُريدينَ حَتَّى يَعرِفَ أَهلِيَّتَهُ وَيَجتمِعَ عَليهِ قَلبُهُ، وَكذَلِكَ لا يَنبَغي للِشَيخِ إِذا جاءَ المُريدُ يَطلُبُ الطَّرِيقَ أَن يَسمَحَ لَهُ بِها مِن قَبلِ أَن يَختَبِر صِدقَهُ في طَلَبِهِ، وَشِدَّةِ تَعَطُّشِهِ إِلى مَن يَدُلُّهُ علَى رَبِّهِ

Ketahuliah bahwa bagi seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) yang sedang mencari seorang guru di anjurkan untuk tidak mudah menetapkan pada dirinya terhadap setiap orang yang disebut syaikh (guru spiritual) dan sedang menempuh jalan para penempuh jalan menuju Allah sehingga ia benar-benar mengetahui ke ahliannya dan menyatunya hati atasnya. Begitu pula bagi seorang syaikh (guru spiritual) ketika datang kepadanya seorang murid yang ingin mencari jalan menuju Allah tidak di anjurkan untuk bermurah hati kepadanya sebelum menguji kesungguhannya dalam mencarinya dan sangat hausnya pada orang yang yang dapat menunjukkan jalan menuju Tuhannya.

وَهذَا كُلُّهُ في شَيخِ التَّحكِيمِ، وَقَد شَرَطُوا عَلى المُريدِ أَن يَكونَ مَعهُ كَالَمِّيتِ بَينَ يَدَيِّ الغَاسِلِ وَكالطِّفلِ مَعَ أُمَّهِ، وَلا يَجرِي هَذا في شَيخِ التَّبَرُّكِ، وَمَهمَا كَانَ قَصدُ المُريدِ التَّبَرُّكَ دُونَ التَّحكِيمِ فَكُلَّما أَكثَرَ مِن لِقاءِ المَشايِخِ وَزِيارَتِهم وَالتَّبرُّكِ بِهم كَان أَحسَنَ

Ini semua berlaku bagi syaikh tahkim (mursyid atau guru spiritual) yang benar-benar memberi syarat kepada seorang murid yang bersamanya supaya menjadi bagaikan mayyit dihadapan orang yang memandikan dan bagaikan bayi bersama ibunya. Dan ini tidak berlaku bagi syaikh tabarruk (guru untuk mendapatkan barakahnya). Namun bagaimana pun juga jika tujuan murid adalah tabarruk (mencari barakah) bukan tahkim (bukan mengangkatnya sebagai guru spiritual), maka manakala ia banyak menjumpai para guru, berziyarah dan bertabarruk kepada mereka, demikian itu adalah lebih baik.

وَإذا لَم يَجِدِ المُريدُ شَيخاً فَعَليهِ بِمُلازَمَةِ الجِدِّ وَالاجتِهادِ مَعَ كَمالِ الصِّدقِ في الاِلتِجاءِ إِلى الله وَالاِفتِقارِ إِليهِ في أَن يُقَيِّضَ لَهُ مَنْ يُرشِدُهُ، فَسَوفَ يُجِيبُهُ مَن يُجِيبُ المُضطَرَّ، وَيَسُوقُ إِليهِ مَن يَأخُذُ بِيَدِهِ مِن عِبادِهِ

Ketika seorang murid tidak menemukan syaikh (mursyid atau guru spiritual), maka wajib baginya untuk senantiasa bersungguh-sungguh disertai dengan ketulusan yang sempurna dalam berlindung kepada Allah dan butuh kepada-Nya supaya Dia mendatangkan untuknya orang (mursyid atau guru spiritual) yang dapat menunjukkannya, maka kelak Allah akan mengabulkan orang yang dalam keadaan terpaksa, dan akan mengantarkan kepadanya orang yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya dengan kekuasaan-Nya.

وقد يحسِب بعضُ المريدين أنه لا شيخَ لهُ فتَجدُه يَطلبُ الشيخَ وله شيخٌ لم يَرَه ، يُربِّيهِ بِنَظَرهِ ويُراعِيهِ بِعَينِ عِنايَتِهِ وهو لا يَشعُرُ ، وإلّا فالمشايِخُ المُحَقِّقُونَ مَوجُودُون ، ولكِن سُبحانَ مَن لَم يَجعَل الدليلَ على أَوْلِيائهِ إِلَّا مِن حيثُ الدليلُ عليه ولم يُوصِل إليهم إلّا مَن أراد أن يُوصِله إليه

Terkadang sebagian murid merasa bahwa ia tidak memiliki seorang guru lalu ia mencari dan menemukan seorang guru yang memiliki guru yang tidak diketahui oleh murid, guru yang merawatnya dengan pandangan kasih sayangnya dan menjaganya dengan mata perlindungannya sedang ia (murid) tidak merasa. Jika ia merasa, maka itu adalah guru-guru yang maujud yang tidak di ragukan lagi, akan tetapi, Dzat yang Maha Suci tidak menjadikan tanda pada wali-wali-Nya kecuali tanda yang menunjukkan atas kebesaran-Nya, dan tidak akan sampai kepada mereka kecuali orang yang ingin sampai kepada-Nya.

MURID JANGANLAH MENCARI MUKASYAFAH TAPI CARILAH ISTIQOMAH


Risalah Adabu Sulukil Murid

“فـصـلٌ”

وَمِن أَضَرِّ شَيءٍ عَلى المُريدِ طَلبُهُ لِلمُكاشَفاتِ وَاشتِياقُهُ إِلى الكَراماتِ وخَوارِقِ العَاداتِ، وَهِيَ لاَ تَظهَرُ لَهُ مَا دَامَ مُشتهياً لِظُهُورِها لأَنَّها لا تَظهَرُ إِلاَّ عَلى يَدِ مَن يَكرَهُها وَلا يُريدُها غَالباً

“Fasal 15”
Sebagian dari perkara yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah mencari mukasyafah (tersingkapnya hijab) dan kerinduannya pada karamah dan khawariqil ‘aadah (hal-hal yang diluar kebiasaan), sedangkan hal tersebut tidak akan nampak baginya selama ia menginginkanya, karena (mukasyafah, karamah dan khawariqil ‘aadah) pada umumnya tidak akan nampak kecuali pada tangan orang-orang yang tidak menyukai dan tidak menginginkannya.

وَقَد تَقَعُ لِطَوائِفَ مِنَ المَغرورينَ اِستِدراجاً لَهُم وَاِبتِلاءً لِضَعَفةِ المُؤمنينَ مِنهُم، وَهِيَ في حَقِّهم إِهاناتٌ وَليست كرَاماتٍ
إِنَّما تَكونُ كرَاماتٍ إِذا ظَهرَت عَلى أَهلِ الاِستِقامَةِ

Namun terkadang hal tersebut terjadi pada segolongan orang yang terbujuk sebagai suatu tipuan bagi mereka dan sebagai cobaan bagi orang-orang mu’min yang lemah imannya, dan hal tersebut bagi mereka merupakan ihanah (kehinaan) bukan karomah (kemulyaan), karena
karamah hanya terjadi apabila nampak dari ahli istiqamah.

فإِن أَكرَمَك الله-أَيُّها المُريدُ- بِشيءٍ مِنها فَاحمُدهُ سُبحانَه علَيه

Wahai murid !. Jika Allah memuliakanmu dengan istiqamah maka memujilah pada Allah yang Maha Suci.

وَلا تَقِف مَعَ مَا ظَهرَ لَكَ وَلا تَسكُن إِليهِ، وَاكتُمهُ وَلاَ تُحَدِّث بِهِ النَّاسَ، وَإِن لَم يَظهَر لَكَ مِنها شَيءٌ فَلا تَتَمَنَّاهُ وَلا تَأسَف عَلى فَقدِهِ

Dan janganlah engkau berdiam diri bersama apa yang nampak bagimu dan janganlah merasa tenang terhadap hal tersebut, sembunyikanlah ia, dan janganlah menceritakannya pada orang-orang, dan jika tidak nampak bagimu sesuatu pun darinya (karamah), maka janganlah engkau mengharapkannya, dan jangan bersedih atas tidak adanya hal tersebut.

وَاعلَم أَنَّ الكَرامةَ الجَامِعَةَ لِجَميعِ أَنواعِ الكَراماتِ الحَقيقيَّاتِ والصُّورِيَّاتِ هِي الاِستِقامَةُ المُعَبَّرُ عَنها بِامتِثالِ الأَوامِرِ وَاجتِنابِ المَناهِي ظاهِراً وَبَاطِناً، فَعَليكَ بِتَصحِيحِها وَإِحكَامِها تخَدُمكَ الأَكوانُ العُلوِيَّةُ وَالسُّفلِيَّةُ خِدمَةً لا تَحجُبُكَ عَن رَبِّكَ وَلاَ تَشغَلُكَ عَن مُرادِهِ مِنكَ

Ketahuilah bahwa karamah yang mencakup seluruh macam karamah baik yang hakiky (sesungguhnya) maupun yang suwary (hanya dalam bentuknya saja) adalah “istiqamah” yang merupakan unggkapan dari menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan secara luar dalam, maka hendaklah engkau senantiasa mengoreksi serta mengukuhkannya (isyiqamah) sebab segala yang maujud baik yang luhur maupun yang rendah akan berkhidmah kepadamu dengan khidmah yang tidak akan menghalangimu dari Tuhan-mu dan tidak akan menyibukkanmu dari yang di kehendaki-Nya darimu.

MENJAGA BADAN AGAR TIDAK BERMAKSIAT DAN TIDAK TERTIPU GEMERLAPNYA DUNIA

Risalah Adabu Sulukil Murid

“فصل”

وعلي المريد ان يجتهد في كف جوارحه عن المعاصي والآثام, ولا يحرك شيئا منها إلا في طاعة, ولا يعمل بها إلا شيئا يعود عليه نفعه في الآخرة

Dan seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) harus bersungguh-sungguh di dalam mencegah anggota badannya dari melakukan kema’shiatan dan dosa, janganlah ia menggerakkan anggota badannya sedikit pun kecuali dalam hal ketaatan, dan janganlah ber’amal dengan anggota badan kecuali pada sesuatu yang manfa’atnya akan kembali padanya kelak di akhirat.

وليبالغ في حفظ اللسان فإن جرمه صغيرة وجرمه كبيرة, فليكفه عن الكذب والغيبة وسائر كلام المحظور, وليحترز من الكلام الفاحش, ومن الخوض فيما لا يعنيه, وإن لم يكن محرما فانه يقسي القلب ويكون فيه ضياع الوقت, بل ينبغي للمريد ان لا يحرك لسانه إلا بتلاوة او ذكر او نصح لمسلم او امر بمعروف او نهي عن منكر او شيئ من حاجات دنياه التي يستعين بها على اخره
وقد قال صلى الله عليه وسلم: “كل كلام ابن آدم عليه لا له إلا ذكر الله او امر بمعروف او نهي عن المنكر”

Dan seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) hendaknya melebih-lebihkan di dalam menjaga lisannya, sebab lisan itu bentuknya kecil tapi dampaknya besar. Hendaklah ia menjaga lisannya dari berbohong, ghibah dan segala hal yang dilarang untuk diucapkan. Hendaknya ia juga menjauhi perkataan yang buruk, dan bertandang hal yang tidak ada manfa’atnya meskipun bukan hal yang haram, karena perbuatan tersebut akan membuat hati menjadi keras, selain itu juga menyia-nyiakan waktu. Bahkan di anjurkan bagi seorang murid untuk tidak menggerakkan lisannya kecuali dengan membaca al-Qur’an, berdzikir, menasehati sesama muslim, atau memerintahkan perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perkara munkar, atau suatu hajat duniawi yang akan membantunya untuk urusan ukhrawinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda; “Setiap perkataan anak Adam akan kembali kepadanya dengan membawa bencana, dan tidak membawa keberuntungan baginya kecuali berdzikir kepada Allah, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”.

واعلم ان السمع والبصر بابان مفتوحان الى القلب يصير اليه كل ما يدخل منهما, وكم من شيئ يسمعه الانسان او يراه مما لا ينبغي يصل منه اثر الى القلب تعسر إزالته عنه فإن القلب سريع التأثر بكل ما يرد عليه, واذا تأثر بشيء يعسر محوه عنه, فليكن المريد حريصا على حفظ سمعه وبصره مجتهدا في كف جميع جوارحه عن الآثم والفضول, وليحذر من النظر بعين الإستحسان الي زهرة الدنيا وزينتها فإن ظاهرها فتنة, وباطنها عبرة

Ketahuilah bahwa pendengaran dan penglihatan merupakan dua pintu masuk ke dalam hati, segala hal yang masuk melewati keduanya akan masuk ke dalam hati, sudah berapa banyak perkara yang manusia dengar atau manusia lihat yang tidak sepantasnya pengaruh dari perkara tersebut sampai pada hati, dan sulit untuk di hilangkannya. Karena sesungguhnya hati mudah terpengaruh dengan segala sesuatu yang sampai padanya, dan ketika hati telah terpengaruh oleh sesuatu maka akan sulit menghapus pengaruh sesuatu itu darinya. Oleh karena itu hendaknya seorang murid (penempuh jalan menuju Allah) berkeinginan kuat untuk menjaga pendengaran dan penglihatannya dalam rangka bersungguh-sungguh dalam mencegah seluruh anggota badannya dari dosa dan perkara yang tiada guna. Dan hendaknya ia juga menjauh dari memandang baik pada ke elokan dan ke indahan dunia, sebab pada dzahirnya terdapat fitnah dan pada bathinnya terdapat pengajaran.

والعَينُ تَنظُرُ إلى ظاهِرِ فِتنَتِها والقلبُ يَنظُرُ إلى باطِنِ عِبرَتِها، وكم مِن مُريدٍ نَظرَ إلى شيءٍ مِن زَخارِفِ الدُّنيا فمَالَ بِقلبِهِ إلى مَحبَّتِها والسّعيِ في جَمعِها وعَمارَتِها، فيَنبغي لكَ أيُّها المُريدُ أن تَـغُـضَّ بَصرَكِ عَن جَميعِ الكائِناتِ ولا تنظُرَ إلى شيءٍ مِنها إلا على قصدِ الاِعتبارِ، ومعناهُ أن تذكُرَ عِندَ النّظَرِ إليها أنـَّها تَفنى وتَذهبُ وأنها قد كانَت مِن قَبلُ مَعدومةً، وأنَّهُ كَم نَظَر إليها أحدٌ مِنَ الآدميِّينَ فذهَبَ وبَقِيَت هِيَ، وكَم تَوارَثها خَلفٌ عن سَلفٍ

Dan mata akan melihat dzahirnya fitnah dunia sedangkan hati akan melihat pengajaran yang terdapat pada dunia, sudah berapa banyak murid (penempuh jalan menuju Allah) melihat perhiasan dunia hingga hatinya tertarik untuk mencintainya kemudian berupaya mengumpulkan dan mema’murkannya?. Wahai murid, seharusnya engkau memejamkan penglihatanmu dari segala hal yang ada (di dunia), janganlah engkau melihat pada sesuatu darinya kecuali hanya bermaksud i’tibar (mengambil pelajaran). Artinya ketika engkau melihat dunia engkau menjadi ingat bahwa dunia itu akan sirna dan musnah, karena dunia akan tetap ada sesbelum di tidakan. Sudah berapa banyak seseorang dari anak Adam yang melihat dunia kemudian hilang sedangkan dunia tetap ada, dan sudah berapa banyak generasi yang datang kemudian mewarisi dunia sebagai ganti dari generasi yang telah lalu?.

وإذا نظَرْتَ إلى الموجوداتِ فانظُر إليها نَظَر المُستدِلِّ بِها على كَمالِ قُدرةِ مُوجِدِها وبارِئِها سُبحانَهُ، فإنّ جميعَ الموجوداتِ تُنادِي بِلسانِ حالِها نِداءً يَسمعُهُ أهلُ القُلوبِ المُنَوَّرةِ، النّاظِرونَ بِنورِ اللهِ- أن لاَ إِله إلاّ اللهُ العزيزُ الحكيمُ

Dan ketika engkau melihat perkara yang maujud, maka lihatlah ia dengan pandangan sebagai petunjuk atas kesempurnaan kekuasaan Dzat Maha Suci yang mewujudkan dan yang menjadikannya, karena sesungguhnya segala hal yang maujud akan berseru dengan lisan halnya dengan seruan yang dapat didengar oleh pemilik hati yang bersinar terang dan memandang dengan cahaya Ilahy; “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana”.

YANG HARUS DI LAKUKAN BAGI MURID YANG BERKEDUDUKAN MAQOM TAJRID(TAWAKAL) DAN ASBAB(BEKERJA)


Kitab Risalah Adabu Sulukil Murid

“فـصـلٌ”

وَلتَكُن أيُّها المُريدُ حَسنَ الظَّنِّ بِرَبِّكَ أَنَّهُ يُعينُكَ وَيَكفِيكَ وَيَحفَظُكَ وَيَقِيكُ وَلاَ يَكِلُكَ إِلى نَفسِكَ وَلاَ إِلىَ أَحَدٍ مِنَ الخَلقِ، فَإِنَّهُ سُبحَانًهُ قَد أَخبَرَ عَن نَفسِهِ أَنَّهُ عِندَ ظَنِّ عَبدِهِ بِهِ، وَأَخرِج مِن قَلبِكَ خَوفَ الفَقرِ وَتَوَقُّعِ الحاجَةِ إِلى النَّاسِ

“Fasal 16”
Wahai murid, hendaknya engkau senantiasa berbaik sangka kepada Tuhanmu, bahwa Dia akan menolong, mencukupi, menjaga, dan melindungimu. Dan janganlah engkau memasrahkan dirimu pada seorang makhluk-pun, karena sungguh Allah subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan perihal diri-Nya bahwa Dia bergantung pada sangkaan hamba-Nya terhadap-Nya, keluarkan dari hatimu rasa takut faqir dan mengharapkan pemenuhan kebutuhan pada manusia.

وَاحذَر كُلَّ الحَذَرِ مِنَ الاِهتِمامِ بِأَمرِ الرِّزقِ وَكُن وَاثِقاً بِوَعدِ رَبِّكَ وَتَكَفُّلِهِ بِكَ، حَيثُ يَقولُ تَعالى (وَمَا مِنْ دَابَّةٍ في الأَرْضِ إِلاَّ عَلى اللهِ رِزْقُهَا) وَأَنتَ مِن جُملَةِ الدَّوَابِّ

Hindarilah olehmu dengan sungguh-sungguh dari memprihatinkan perihal rizki, hendaknya engkau berpegang teguh pada janji Tuhanmu dan tanggungan-Nya kepadamu. Allah Ta’ala berfirman; “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah menanggung rizkinya”.(Qs. Hud 6), sedang engkau (manusia) termasuk sebagian dari golongan binatang melata.

فَاشتَغِل بِمَا طَلبَ مِنكَ مِنَ العَمَلِ لَهُ عَمَّا ضَمَنَ لَكَ مِنَ الرِّزقِ فَإِنَّ مَولاكَ لاَ يَنسَاكَ، وَقَد أَخبَرَكَ أَنَّ رِزقَكَ عِندَهُ وَأَمَركَ بِطَلَبِهِ مِنهُ بِالعِبادَةِ. فَقالَ تعَالَى: (فَابْتَـغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ)

Sibukkanlah dirimu dengan ‘amal yang dituntut oleh Allah darimu perihal rizki yang telah dijaminkan oleh-Nya, sebab Tuhan yang melindungimu tidak akan lupa kepadamu. Allah telah mengkabarkan padamu bahwa rizkimu ada disisi-Nya dan Dia memerintahkanmu untuk mencari dari-Nya dengan ber’ibadah. Allah berfirman: “Maka carilah rizki itu disisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya”.(Qs. Al Ankabut 17).

أَمَا تَراهُ سُبحانَهُ يَرزُقُ الكافِرينَ بِهِ الذَّينَ يَعبُدونَ غَيرَهُ؟ أَ فَتَراهُ لاَ يَرزُقُ المؤمِنينَ الذَّينَ لاَ يَعبُدُونَ سِوَاهُ، وَيَرزُقُ العَاصِينَ لَهُ وَالمُخالِفينَ لأمرِهِ أَوَلاَ يَرزُقُ المُطيعينَ لَهُ المُكثِرينَ مِن ذِكرِهِ وَشُكرِهِ؟

Apakah engkau tidak melihat, Allah saja memberi rizki pada orang yang kafir kepada-Nya yaitu orangorang yang menyembah selain-Nya? Apakah engkau melihat bahwa Allah tidak memberi rizki kepada orang-orang mu’min yang tidak menyembah selain-Nya, dan memberi rizki kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya, menentang perintah-Nya atau apakah Dia tidak memberi rizki kepada orang-orang yang ta’at dan banyak berdzikir dan bersyukur kepada-Nya?

وَاعلَم أَنَّهُ لا حَرجَ عَليكَ في طَلبِ الرِّزقِ بِالحَركاتِ الظَّاهرَةِ علَى الوَجهِ المَأذونِ لَكَ فيهِ شَرعاً وإِنَّما البَأسُ والحَرجُ في عَدَمِ سُكونِ القَلبِ واهتِمامِهِ وَاضطِرابِهِ وَمُتابَعتِهِ لأوهامِهِ، وَمِمَّا يَدُلُّ عَلى خَرابِ القَلبِ اِهتِمامُ الإِنسانِ بِما يَحتاجُ إِليهِ في وَقتٍ لَم يَخرُج مِنَ العَدَمِ كاَليَومِ المُقبِلِ وَالشَّهرِ الآتي، وَقَولُهُ: إِذا نَفِذَ هَذا فَمِن أَين يَجيءُ غَيرُهُ، وإِذا لمَ يَجيء الرِّزقُ مِن هذَا الوَجهِ فَمِن أَيِّ وَجهٍ يَأتي؟

Ketahuilah bahwa tidak ada kesalahan bagimu dalam mencari rizki dengan menggerakkan anggota dzahir (anggota badan) dengan jalan yang diperbolehkan syara’, yang merupakan kerusakan dan kesalahan hanya dalam hal ketidak tenangan hatimu, keprihatinan, kesedihan, serta menuruti angan-angan. Sebagian dari perkara yang menunjukkan hancurnya hati adalah keprihatinan manusia dengan apa yang dibutuhkan pada waktu yang tidak keluar dari ketiadaan, seperti hari yang akan datang, bulan yang akan datang. Seperti ucapan: “Jika ini telah terlewatkan maka dari mana lagi akan datang yang lainnya, ketika rizki tidak datang melalui jalan ini maka dari jalan mana lagi rizki itu akan datang?”.

وَأمَّا التَّجَرُّدُ عَنِ الأَسبابِ والدُّخولُ فِيها فَهُمَا مَقامانِ يُقيمُ الله فيِهما مِن عِبادِهِ مَن يَشاءُ

Adapun Tajrid bermula dari Asbab dan masuk kedalamnya. Tajrid (lepas dari usaha dalam mendapatkan duniawi) dan Asbab (melekukan sebab-sebab dalam mendapatkan duniawi) merupakan dua maqam yang di dalamnyalah Allah Ta’ala menempatkan hamba-hamba-Nya yang di kehendaki.

فَمَن أقِيمَ في التَّجرُّدِ فَعَليهِ بِقُوِّةِ اليَقينَ وَسِعَةِ الصَّدرِ وَمُلازَمَةِ العِبادَةِ. وَمَن أقِيمَ في الأَسبابِ فَعليهِ بِتَقوى الله في سَبَبِهِ وَبِالاِعتِمادِ علَى الله دونَهُ، وَلِيَحذَر مِنَ الاشتِغالِ بِهِ عَن طَاعةِ رَبِّهِ، وَقَد تَرِدُ علَى المُريدِ خَواطِرُ في أَمرِ الرِّزقِ وفي مُراءاةِ الخلَقِ وفي غَيرِ ذَلكَ وَلَيسَ مَلُوماً وَلا مَأثُوماً عَليها إِذا كاَنَ كَارِهاً لَها وَمجُتَهِداً في نَفيِهَا مِن قَلبِهِ

Barangsiapa yang Allah Ta’ala tempatkan dalam maqam Tajrid, maka wajib baginya menguatkan keyanikan, lapang dada, dan senantiasa ber’ibadah. Dan barangsiapa yang Allah Ta’ala tempatkan dalam maqam Asbab, maka wajib baginya takut kepada Allah Ta’ala dalam melakukan sebab-sebabnya (mendapatkan duniawi) dan tetap bersandar kepada Allah, bukan selain-Nya, dan takutlah dari tersibukkan olehnya dari berbuat ta’at kepada-Nya.
Terkadang datang pada seorang murid bisikan hati dalam hal rizki, pamer pada makhluk dan lain sebagainya. Namun tidak ia dicela dan disalahkan atas hal itu (bisikan hati dan pamer) jika ia tidak merasa senang dengan hal itu dan bersungguh-sungguh dan menghilangkan hal itu dari hatinya.

MEMAHAMI MAKSUD DAN TUJUAN DARI PERKATAAN ULAMA SUFI SEBAGAI MURSYID THORIQOH

Perkataan Syeikh Ahmad At Tijani ra.

“Telah sampai riwayat bahwa suatu ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani RA akan pergi ke suatu tempat,dan memberitahu sahabat-sahabat­nya beliau (termasuk sahabat besar Quthub sidi Abul Hassan Ali bin Tamasini ra.), bahwa barang siapa yang mengikuti Syeikh Ahmad Tijani ra ke tempat tersebut akan masuk Neraka,

Ketika sidi Ali Harazim ra datang dan menanyakan Syeikh Ahmad Tijani ra kepada sahabat-sahabat­nya, mereka kemudian memberitahu bahwa Syeikh Ahmad Tijani ra pergi ke suatu tempat dan melarang untuk mengikutinya dan jika tetap mengikutinya akan masuk neraka, Namun, se­telah mendengar larangan ini, sidi Ali Harazim ra tetap pergi menyusul Syeikh Ahmad Tijani ra.

Setelah bertemu dengan Syeikh Ahmad Tijani ra, Syeikh Ahmad Tijani ra bertanya: ”apakah tidak ada orang yang memberitahumu bahwa barang siapa yang mengikutiku ke tempat ini akan masuk ke neraka?

Lalu di jawab YA(sudah di beritahu), namun sidi Ali Harazim ra menambahkan bahwa dirinya mengikuti Syeikh Ahmad Tijani bukan karena surga atau neraka, Namun mengikuti Syeikh Ahmad Tijani ra Kerena WAJAH ALLAH SEMATA..LI WAJHILLAH.

Set­elah mendengar jawaban Sidi Ali Harazim ra, Syeikh Ahmad Tijani ra kemudian menyuruh Sidi Ali Harazim untuk membuka telapak tangannya,

Kemud­ian Sidi Ali Harazim ra membuka telapak tangannya dan melihat 7 lapis langit dan 7 lapis bumi ada di dalam telapak tangan beliua. MasyaAllah..(Di­ sampaikan oleh Sayyid Hassan bin Abdul Aziz Debbarh ra.)”

Ini semua hanya ujian buat para shohabat Syeikh Ahmad Tijani Ra, apa dia cintanya kepada Beliu hanya ingin surga atau takut neraka..? Atau memang Cintanya Lillahi Ta’ala.Ternyata hanya Syeikh Ali Harazim yg Lulus dari ujian tersebut.?

Al Jawab : Semua Ulama’ sepakat, bahwasanya semua Amal ibadah itu harus di lakukan karena Alloh swt, hatta/sehingga beribadah karena Rasululloh saw pun tidak boleh. Dalam ibadah maka kedudukan niat/tujuan adalah termasuk bagian penentu di terima atau tidaknya satu amalan ibadah. Maka niat dalam ibadah harus semata untuk Alloh swt..

Dalam berthariqah kita wajib mengikut/taslim pada bimbingan guru atau Mursyid, dhoohiran wabaathinan/lahir dan batin. Karena Guru ini lah yang akan membawa kita pada tujuan berthareqah, dan tujuan utama berthareqah ada semata untuk sampainya/wushul kita pada Hadlrah Rabbiyah/kedudukan yang paling tinggi/darojah ‘aaliyah di sisi Alloh swt..dan tentunya dalam menempuh perjalanan/saalik thareqah harus di berniat semata karena Alloh swt.

Adapun Maqolah/ucapan Guru kami Syidi Syaikh Abil Abbas Ahmad bin Muhammad At-tijani: “Barang siapa ittiba’/mengikutiku karena Aku maka ia akan masuk neraka ,dan barang siapa mengikutiku karena Alloh swt,pasti masuk sorga”

(Mengikuti Beliau adalah satu keharusan, karena Beliau adalah Uswah, Qudwah dalam Thareqat yang paling agung ini, dan dalam mengikut Beliau tetap semata niat karena Alloh swt, karena kedudukan Beliau Sayidi Syaikh adalah WASHILAH, dan Alloh swt adalah ALGHOYAH/tujuan).. Hatta/sehingga ketika kita itba’/mengikut sunnah Baginda Rasululloh saw secara umum, kita melakukannya juga semata karena (niat) untuk Alloh swt.

Kesimpulannya:
Kedudukan Guru dalam Ibadah Thareqah adalah Wasilah/pengantar kita untuk sampai pada tujuan, maka wajib hukumnya mengikut/taslim padanya.

Kedudukan Alloh swt dalam ibadah adalah sebagai Tujuan/Alghoyah, maka wajib berniat semata karena-NYA.
Wallohu ‘alamu bisshowab.

CARA AGAR MURID MENDAPATKAN SIR ATAU RAHASIA DARI URU MURSYID

Ketika kau –wahai muriid- menginginkan dari syaikh-mu sesuatu hal atau kau memulai bertanya terlebih dahulu kepada beliau mengenai suatu perkara, maka jangan sampai keagungan beliau dan keharusan bertatakrama di hadapan beliau menghalangimu untuk meminta dan bertanya kepadanya. Tanyakanlah kepada beliau sekali, dua kali dan tiga kali. Diam tidak bertanya dan meminta kepada beliau bukanlah tatakrama yang baik. Kecuali syaikh memberi isyarat kepadamu untuk diam dan memerintahkanmu untuk tidak bertanya. Ketika dalam kondisi seperti itu maka wajib mematuhinya.
وَإِذا أَردتَ -أيُّها المُريدُ-مِن شَيخِكَ أَمراً أَو بَدا لَكَ أَن تَسأَلَهُ عَن شَيءٍ فَلا يَمنَعُكَ إِجلالهِ وَالتَّأدُّبُ مَعَهُ عَن طَلَبِهِ مِنهُ وَسُؤَالِهِ عَنهُ، وَتَسأَلُهُ المَرَّةَ وَالمرَّتينِ وَالثَّلاثَ، فَلَيسَ السُّكوتُ عَنِ السُّؤاَلِ وَالطَّلبِ مِن حُسنِ الأَدَبِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَن يُشيرَ عَليكَ الشَّيخُ بِالسِّكوتِ وَيَأمُرَكَ بِتَركِ السُّؤالِ، فَعِندَ ذَلكَ يَجِبُ عَليكَ اِمتِثالُهُ.

Dan ketika syaikh mencegahmu dari suatu perkara atau mendahulukan seseorang daripada kau maka janganlah kau mencurigainya. Hendaknya kau meyakini bahwa beliau telah melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih baik bagimu. Dan apabila kau melakukan suatu kesalahan (berbuat dosa) dan Si Syaikh merasa berat sebab kesalahan tersebut maka bergegaslah meminta maaf kepada beliau dari kesalahanmu sampai beliau lega (memberi ridha).
وَإِذا مَنعَكَ الشَّيخُ عَن أَمرٍ أَو قَدَّمَ عَليكَ أَحداً فَإِيَّاكَ أَن تَتَّهِمَهُ، وَلْتَكُن مُعتَقِداً أَنَّهُ قَد فَعَلَ مَا هُوَ الأَنفَعُ وَالأَحسنُ لَكَ، وَإذا وَقَع مِنكَ ذَنبٌ وَوَجدَ عَليكَ الشَّيخُ بِسَبَبِهِ فَبادِر بِالاِعتِذارِ إِليهِ مِن ذَنبِكَ حَتَّى يَرضَى عَنكَ.

Ketika kau menginkari hati Si syaikh kepadamu seperti kau tidak mendapati wajah beliau berseri-seri maka kau harus membuatnya senang atau yang lain sebagainya. Kemudian ceritakanlah apa yang terjadi padamu yakni kekhawatiranmu pada perubahan hati beliau kepadamu. Barangkali hati beliau berubah kepadamu karena suatu hal yang kau ceritakan kepadanya maka harus meminta maaf. Atau barangkali perkara yang kau curigai pada syaikh-mu itu tidak terjadi pada Si syaikh dan kau telah dijatuhkan oleh syetan supaya berbuat buruk kepada beliau. Untuk itu, ketika kau telah mengetahui bahwa si syaikh telah meridhaimu maka hatimu akan tenang, berbeda ketika kau tidak membicarakannya dan kau diam saja dengan sepengetahuanmu (persepsimu) saja yakni (merasa) kesalamatan ada dipihakmu.
وَإِذا أَنكَرتَ قَلبَ الشَّيخِ عَليكَ كَأَن فَقَدتَ مِنهُ بِشراً كُنتَ تَأَلَفُهُ أَو نَحوَ ذَلكَ، فَحَدِّثهُ بِما وَقعَ لَكَ مِن تَخَوُّفِكَ تَغَيُّرَ قَلبِهِ عَليكَ فَلَعلَّهُ تَغَيَّرَ عَليكَ لِشيءٍ أَحدَثتَهُ فَتَتُوبَ عَنهُ، أَو لَعَلَّ الذِّي تَوَهَّمتَهُ لَم يَكُن عِندَ الشَّيخِ وَأَلقاهُ الشَّيطانُ إِليكَ لِيَسُوءَكَ بِهِ، فَإِذا عَرَفتَ أَنَّ الشَّيخَ رَاضٍ عَنكَ سَكَنَ قَلبُكَ بِخلافِ مَا إِذا لَم تُحَدِّثهُ وَسَكَتَّ بِمَعرِفةٍ منِكَ بِسلامةِ جِهَتِكَ.

Ketika kau melihat seorang muriid dipenuhi dengan meng-agungkan dan memulyakan syaikh-nya yang terkumpul di lahir dan batinnya berdasakan keyakinan syaikh-nya, ketaaatan dan bertata karma dengan akhlak si syaikh maka pasti muriid tersebut akan mewarisi rahasia syaikh-nya atau akan memperoleh sebagian rahasia apabila si muriid masih hidup setelah syaikh-nya.
وَإِذا رَأيتَ المُريدَ ممُتَلِئاً بِتَعظِيمِ شَيخِهِ، وَإِجلالِهِ ، مُجتَمِعاً بِظاهِرِهِ وَبَاطِنهِ عَلى اِعتِقادِهِ، وَامتِثالِهِ ، وَالتَّأَدُّبِ بِآدابِهِ؛ فَلا بُدَّ أَن يَرِثَ سِرَّهُ ، أَو شَيئاً مِنهُ إِن بَقِيَ بَعدَهُ

Wallahu a’lam bishhawab…

INILAH ORANG PANDAI YANG DI ANCAM ROSULULLOH SAW.

بسم الله الرحمن الرحيم

Wahai anakku, Memberi nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya karena nasehat bagi orang yang menuruti nafsunya terasa pahit, sebab larangan-larangan itu justru dicintai dalam hatinya. Terlebih bagi seseorang yang mencari ilmu sebagai formalitas, sibuk pada prioritas nafsu dan prestasi keduniawian. Ia meyakini bahwa keselamatan dan kebahagiaannya hanya dengan ilmu an sich tanpa perlu mengamalkan. Yang demikian itu merupakan keyakinan para filosof –Maha Suci Allah Yang Maha Agung- . Orang yang terbujuk ini tidak mengerti bahwa saat ia memperoleh ilmu tanpa diamalkan terdapat dalil yang kuat seperti sabda Rosululloh SAW: Manusia yang paling berat mendapatkan siksa di hari qiyamat adalah orang yang mempunyai ilmu yang ilmunya tidak diberi kemanfaatan oleh Allah.
ايها الولد، النصيحة سهلة والمشكل قبولها، لانها في مذاق متبعي الهوى مرة. اذ المناهي محبوبة في قلوبهم، وعلى الخصوص لمن كان طالب العلم الرسمي ومشتغلا في فضل النفس ومناقب الدنيا. فانه يحسب ان العلم المجرد له سيكون نجاته وخلاصه فيه. وانه مستغن عن العمل وهذا اعتقاد الفلاسفة – سبحان الله العظيم- لا يعلم هذا المغرور انه حين حصل العلم اذا لم يعمل به تكون الحجة عليه آكد كما قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم- : اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لا ينفعه الله بعلمه

Diriwayatkan bahwa Syaikh al Junaid -qaddasa Allahu sirrahu- dimimpikan setelah wafatnya, lalu ditanyakan padanya: “Apa kabar wahai Abul Qosim?” Beliau menjawab “Telah binasa ibarat-ibarat itu dan telah lenyap isyarat-isyarat itu, tidak ada yang bermanfaat bagiku kecuali rakaat-rakaat kecil di tengah malam”.
وروي أن الجنيد –قدس الله سره- رؤي في المنام بعد موته فقيل له: ما الخبر يا أبا القاسم ؟ قال: طاحت تلك العبارات وفنيت تلك الاشارات وما نفعنا الا ركيعات ركعناها في جوف الليل

Wahai anakku, Janganlah kamu menjadi muflis (orang yang bangkrut) dari amal perbuatan dan jangan pula kosong dari ahwal[1]. Yakinlah ilmu tanpa amal tidak akan bisa membantu. Hal itu dicontohkan apabila ada seorang laki-laki di tengah hutan sambil memiliki sepuluh pedang Hindia dan beberapa senjata lain sementara itu ia pun seorang yang pemberani dan ahli perang. Kemudian ia disergap harimau yang besar dan ganas. Apa yang kamu pikirkan? Apakah senjata-senjata itu bisa menghalau kebuasan harimau tanpa digunakan dan dipukulkan? Tentu sudah jelas bahwa senjata tersebut tidak bisa menghalau kecuali digerakkan dan ditebaskan.
ايها الولد، لا تكن من الاعمال مفلسا ولا من الاحوال خاليا وتيقن ان العلم المجرد لا يأخذ باليد. مثاله لو كان على رجل في برية عشرة اسياف هندية مع اسلحة اخرى وكان الرجل شجاعا واهل حرب. فحمل عليه اسد عظيم مهيب، فما ظنك؟ هل تدفع الاسلحة شره عنه بلا استعمالها وضربها؟ ومن المعلوم انها لا تدفع الا بالتحريك والضرب.

Begitu juga apabila seseorang membaca, mengkaji 100.000 masalah keilmuan tanpa dipraktekan, maka semua itu tidak akan memberi manfaat sampai ilmu itu diamalkan. Sebagai contoh lagi jika seseorang terkena demam dan penyakit empedu (penyakit kuning) yang obatnya adalah dengan tumbuhan sakanjabin dan kaskab maka ia tidak akan sembuh kecuali dengan mengkonsumsi keduanya.
فكذا لو قرأ رجل مائة الف مسألة علمية وتعلمها ولم يعمل بها لا تفيد الا بالعمل. ومثله ايضا لو كان لرجل حرارة ومرض صفراوي يكون علاجه بالسكنجبين والكشكب فلا يحصل البرء الا باستعمالهما.

Jika engkau menakar 2000 kati arak, hal itu tidak akan menjadikanmu mabuk ketika kau tidak meminumnya.
كرمي دو هزار رطل همي يمائي * تامي نخورى نباشدت شيدائي.[2]

[1] Ahwal (احوال) merupakan plural dari hal (حال). Dalam terminologi tasawuf hal adalah kondisi maknawi yang datang ke hati tanpa diupayakan seperti susah, cemas, gelisah, gembira dan lain-lain. Sehingga menuntut manusia untuk beramal dan berbuat sesuai dalam kondisinya. Seperti ketika senang mengucapkan Alhamdulillah atau bersedekah, ketika gelisah karena dosa ber-istighfar. Amal perbuatan tadi setelah menjadi kecenderungan dan ajeg maka disebut maqom. Lihat kitab atta’rifat. Haramain. Hlm. 79
[2] Syaikh Muhammad Amin al Kurdi menerjemahkan bait tersebut dari bahasa Persi:
لو كلت الفي رطل خمر لم تكن * لتصير نشوانا اذا لم تشرب

ADAB BERDO’A : JANGANLAH BOSAN UNTUK BERDO’A KEPADA ALLOH SWT. WALAUPUN MERASA BELUM DI KABULKAN

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد .

“Ojo ono opo mundure mangsane peparingane Allah sedeng oleh jaluk (donga) ira ing Allah iku kelawan nggethu iku anyebabake dadi luwase (putus asane) iro oleh donga.Maka utawi Allah iku wis nanggung ing sira kelawan nembadani ing barang kang dadi pilihane Allah,dudu ing barang kang sira karepi milih lan ing dalem wektu kang Allah kersa ake,dudu ing dalem wektu kang sira kersa ake.”

Maksude,lamun sira wis nggethu olehe jaluk/donga ing Allah nuli durung diijabah dening Allah maka ojo iku dadi putus asane awak ira.Sebab saben-saben donga iku mesti den ijabah dening Allah,ananging kabeh gumantung ing putusane Allah lan pilihane Allah,kerana sak becik-becik pilihan iku pilihane Allah…Sing penting sira yakin kayak kang wis didhawuhake Gusti Allah ing dalem Al-Quran…”Padha dongaa sira kabeh ing ing Ingsun,mesti Ingsun ijabah.”

TERJEMAH BAHASA NASIONAL:

Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Di antara syarat diterimanya doa adalah apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak berputus asa. Belum terkabulnya doa seorang hamba, padahal ia telah berulang-ulang berdoa jangan sampai menjadikannya putus asa, karena Allah berfirman,

”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60)

Allah SWT. akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun demikian, terkabulnya doa tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah. Karena Allah Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hamba-Nya; terkadang Allah menolak permintaan seorang hamba, karena memang yang terbaik adalah tidak terkabulnya doa itu. Dalam konteks ini, ketika Allah menolak suatu doa sebenarnya secara tersirat memberi, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Atha’, ”Ketika Allah menolak sebuah permintaan sebenarnya memberi dan ketika memberi sebenarnya menolak.” Untuk memperkuat pandangan ini, simaklah ayat berikut ini,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Penolakan Allah dalam merealisasikan suatu doa, mempunyai substansi pemberian yang tepat bagi manusia. Demikian juga, Dia mengabulkan sebuah doa pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan. Jadilah seperti Musa yang sabar, karena sabar dan tidak tergesa-gesa merupakan sifat yang utama bagi seorang hamba. Simaklah kisah Musa dan Harun yang berdoa agar Fir’aun dan kaumnya beriman kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, ”Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.” (Yûnus: 88) Sampai akhir ayat yang mengisahkan tentang permohonan Musa dan Harun agar kaumnya beriman kepada Allah, dan ternyata permohonan itu baru dikabulkan setelah empat puluh (40) tahun berlalu, sebagaimana firman Allah berikutnya,

”Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu teteplah kalian berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Yûnus: 89)

Dalam sebuah hadits disebutkan, ”Sesungguhnya Allah menyukai kesabaran dalam doa.”

Juga dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya hamba yang shaleh apabila berdoa kepada Allah, malaikat Jibril berkata: Wahai Tuhanku, hamba-Mu fulan telah berdoa, maka kabulkanlah. Kemudian Allah berfirman: Berdoalah wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku senang mendengar suaramu.”

Demikianlah, tata krama dalam berdoa yang telah ditunjukkan oleh Allah agar menjadi pedoman bagi umat Islam. Terkadang Allah mengabulkan atau mengganti dengan hal lain yang notabene merupakan kebaikan dan tambahan yang lebih baik.