PENYEBAB DI SYAFA’ATINYA TUKANG RIBA OLEH NABI MUHAMMAD SAW.

Sebagai Dzat Yang Maha Segalanya, Allah Swt tentu saja tidak malaksanakan Ibadah sebagaimana kita mahlukNya. Allah Swt tentu saja tidak shalat, tidak puasa dan juga tidak berhaji.

Namun ada satu ibadah manusia yang Allah dan para MalaikatNya juga melakukannya, yaitu ber Shalawat pada Nabi SAW.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab: 56)

Nabi saw. bersabda :

“Dan kalau kamu membaca shalawat, maka bacalah dengan penuh penghormatan untuk ku.” Membaca shalawat untuk mencintai dan memuliakan Nabi saw.

Siti Aisyah ra. berkata : “Barangsiapa cinta kepada Allah Ta’ala, maka dia banyak menyebutnya dan buahnya ialah Allah akan mengingat dia, juga memberi rahmat dan ampunan kepadanya, serta memasukannya ke surga bersama para Nabi dan para wali. Dan Allah memberi kehormatan pula kepadanya dengan melihat keindahan-Nya. Dan barang siapa cinta kepada Nabi saw., maka hendaklah ia banyak membaca shalawat untuk Nabi saw., dan buahnya ialah ia akan mendapat syafaat dan akan bersama beliau di surga.”

Selanjutnya Nabi saw., bersabda : Barang siapa membaca shalawat untuk ku karena memuliakanku, maka Allah Ta’ala menciptakan dari kalimat (shalawat) itu satu malaikat yang mempunyai dua sayap, yang satu di timur dan satunya lagi di barat. Sedangkan kedua kakinya di bawah bumi sedangkan lehernya memanjang sampai ke Arasy.

Allah Ta’ala berfirman kepadanya :”Bacalah shalawat untuk hamba-Ku, sebagaimana dia telah membaca shalawat untuk Nabi-Ku. Maka Malaikat pun membaca shalawat untuknya sampai Hari Kiamat.” Allah SWT memberi salam kepada setiap orang yang memberi salam kepada Nabi saw., sebagaimana beliau bersabda :

“Saya berjumpa Jibril, maka dia berkata : ‘Sesungguhnya saya memberi kabar gembira kepadamu bahwA sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Barangsiapa memberi salam kepadamu, maka Aku memberi salam kepadanya dan barang siapa membaca shalawat untukmu, maka Aku membaca shalawat untuknya’.”

 Shalawat Nabi SAW dipercaya telah menjadi syafaat, rahmat, berkah, dan obat yang orisinil untuk menyelamatkan kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan kerap kali shalawat ini memutarbalikkan sebuah fakta inderawi.

Berikut sebuah kisah yang bertutur tentang keajaiban shalawat dari Ulama Besar, Imam Sufyan Ats-Tsauri..

Imam Sufyan Ats-Tsauri adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan gurunya. Nama lengkapnya adalah: Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah bin Muhabah bin Abi Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Mulkan bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah bin Ilyas.

Imam Sufyan Ats-Tsauri lahir pada tahun 77 H. di Kufah pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Imam Sufyan ats-Tsauri menuturkan, “ Aku pergi haji. Manakala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seorang pemuda yang tak berdoa apapun selain hanya bershalawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka’bah, di Padang Arafah, di mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanyalah shalawat kepada Baginda Nabi SAW.”

Di Saat kesempatan yang tepat datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati,

“Sahabatku, ada doa khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu.”

Namun, dia berkata, “Aku tahu semuanya. Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti tindakanku yang aneh ini.”

“Aku berasal dari Khurasan. Ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia. Dan aku mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT. Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai. Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain. Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur.

Lalu, pintu tenda kami terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Alangkah tampak sedih engkau! Ada apakah gerangan?” Aku pun berkata, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita. Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.” Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah Anda, wahai kekasih kebaikan?” Dia menjawab, “Aku Muhammad al Musthafa” (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya).

Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kakinya, menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.”

Kemudian dengan lembut beliau Saw berkata, “Ayahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, wajah tukang riba berubah menjadi wajah keledai, tetapi disini Allah Yang Maha Agung mengubah lagi wajah ayahmu. Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik. Setiap malam sebelum tidur, dia melafalkan shalawat seratus kali untukku. Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafaat karena shalawatnya kepadaku. Setelah diizinkan, aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.”

Sufyan menuturkan, “Anak muda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak berdoa selain shalawat kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya Shalawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.”

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku. Jibril As. berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.” Berkata pula Mikail As., “Mereka yang bershalawat atasmu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.” Dan Israfil As. berkata pula, “Mereka yang bershalawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT mengampuni orang itu.” Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, ”Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.”

Bagaimana kita tidak CINTA dan BERSHOLAWAT kepada Rasulullah SAW?

Sementara para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bershalawat atas Rasulullah SAW.

Dengan kisah yang dikemukakan di atas, semoga kita tidak akan melepaskan peluang untuk selalu bershalawat kepada pemimpin kita, cahaya dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah SWT, Rasul, dan para MalaikatNya. Semoga shalawat, salam, serta berkah senantiasa tercurah ke hadirat Nabi kita, Rasul kita, cahaya kita, dan imam kita, Sayyidina Muhammad al Musthafa SAW beserta seluruh keluarga, dan sahabat-sahabat beliau yang mengikutinya, dan seluruh kaum mukmin yang senantiasa untuk melazimkan bershalawat kepada beliau. Amin.

SELAMAT IDUL FITRI 1439 H.

WWW.JEJAKISLAM.COM MENGUCAPKAN : SELAMAT IDUL FITRI 1439 H.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

SEMOGA PUASA KITA DI TERIMA DI SISI ALLOH SWT. SEHINGGA DI HARI YANG FITRI INI KITA SEMUA KEMBALI MENJADI FITRI SEBAGAIMANA BAYI YANG BARU DI LAHIRKAN. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN.

تقبل الله صيامنا وصيامكم وجعلنا الله من العائدين والفائزين أمين

BEBERAPA TUJUAN MELAKSANAKAN PUASA RAMADHAN

Salah satu rukum Islam adalah menjalankan puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan salah satu perintah Allah SWT yang telah tertuang dalam Al qur’an.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q. S. Al Baqarah :183)

Adapun tujuan berpuasa di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut :

 

  1. Menjalankan perintah Allah SWT

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q. S. Al Baqarah :186)

 

  1. Menjadi lebih bersyukur

Dengan berpuasa,  maka seseorang akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak memiliki makanan untuk dimakan sehingga ia akan jauh lebih bersyukur.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.”

  1. Melatih pengendalian diri

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.”

“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.”

 

  1. Memohon ampunan

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ.”

“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.”

 

  1. Memohon surga Allah

dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.”

‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’

Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’”

  1. Membentuk akhlak mulia

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh yang bersifat lahiriah dan juga kekuatan bathin serta melindunginya dari faktor-faktor pencemaran yang merusak. Jika faktor-faktor pencemaran tersebut telah menguasai dirinya, maka ia akan rusak.

Dengan demikian, puasa akan menjaga kejernihan hati dan kesehatan anggota badan sekaligus akan mengembalikan segala sesuatu yang telah berhasil dirampas oleh nafsu syahwat. Puasa merupakan pembantu yang paling besar dalam merealisasikan ketakwaan…”

 

  1. Menjaga kesehatan

“…manfaat puasa juga dapat membersihkan tubuh dari pencemaran yang buruk dan memberikan kesehatan serta kekuatan. Hal tersebut telah diakui oleh banyak dokter. Bahkan mereka telah banyak mengobati pasien mereka dengan menggunakan puasa ini.”

 

  1. Menjaga diri dari api neraka

Sabda Rasulullah SAW :

الصّيِامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ اْلقِتَالِ

“Puasa itu perisai/penangkal dari api neraka seperti perisai bagi salah seorang kalian dari perang” (HR. Ahmad)

 

  1. Pahala langsung dari Allah

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Muslim)

 

  1. Mengharap syafaat di akhirat

Sabda Rasulullah SAW  :

الصِّيَامُ وَ الْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُوْلُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَ الشَّهْوَةَ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ. وَ يَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ فَيَشْفَعَانِ

“Puasa dan Al Qur’an memberi syafaat kepada hamba Allah pada hari kiamat. Puasa berkata : “Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya makan minum dan syahwatnya pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya”. Dan Al Qur’an pun berkata: “ Aku telah menghalanginya tidur pada malam, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya.”(HR. Ahmad)

 

11.Melatih keikhlasan

Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya “ (HR Ahmad dan Muslim)

 

  1. Melatih untuk istiqomah

Dari Aisyah ra, ia berkata:

Adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (ungkapan kesungguhan dan kesiapan dalam beribadah) (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Semua amalan bani adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipatnya, Allah ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena aku, maka Aku yang akan membalasnya.’

Dan bagi orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Benar-benar mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada harumnya misk.” (HR. Muslim)

Demikian penjelasan terkait apa saja tujuan berpuasa di bulan ramadan dan dalilnya. Semoga bermanfaat.

MENGENAL APA ITU USHUL(POKOK) DAN FURU'(CABANG) DALAM AGAMA

Banyak diantara saudara Muslim kita yang mudah sekali mencap saudaranya sebagai Kafir, Munafik, Ahlul Bid’ah, dsb dengan alasan dalil, bukan alasan zhahir yang telah disepakati para Ulama’ dengan syarat – syarat tertentu dan pertimbangan yang matang. Mereka hanya menelan mentah – mentah apa – apa yang guru mereka sampaikan tanpa melalui khazanah yang luas dan mendalam. Dalam memahami dalil juga diperlukan ilmunya. Adapun masalah itu, sudah terangkum dalam pengertian di bawah ini.

  1. MAKNA USHUL DAN FURU’

Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq. Ketiganya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, satu sama lainnya saling terkait dan saling menyempurnakan. Ketiganya terhimpun dalam Ajaran Islam melalui dua ruang ilmu, yaitu : USHULUDDIN dan FURU’UDDIN.

Ushuluddin biasa disingkat USHUL, yaitu Ajaran Islam yang sangat PRINSIP dan MENDASAR, sehingga Umat Islam wajib sepakat dalam Ushul dan tidak boleh berbeda, karena perbedaan dalam Ushul adalah Penyimpangan yang mengantarkan kepada kesesatan.

Sedang Furu’uddin biasa disingkat FURU’, yaitu Ajaran Islam yang sangat penting namun TIDAK PRINSIP dan TIDAK MENDASAR, sehingga Umat Islam boleh berbeda dalam Furu’, karena perbedaan dalam Furu’ bukan penyimpangan dan tidak mengantarkan kepada kesesatan, tapi dengan satu syarat yakni :ADA DALIL YANG BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN SECARA SYAR’I.

Penyimpangan dalam Ushul tidak boleh ditoleran, tapi wajib diluruskan. Sedang Perbedaan dalam Furu’ wajib ditoleran dengan jiwa besar dan dada lapang serta sikap saling menghargai dan menghormati.

  1. MENENTUKAN USHUL DAN FURU’

Cara menentukan suatu masalah masuk dalam USHUL atau FURU’ adalah dengan melihat Kekuatan Dalil dari segi WURUD (Sanad Penyampaian) dan DILALAH (Fokus Penafsiran).

WURUD terbagi dua, yaitu :

  1. Qoth’i : yakni Dalil yang Sanad Penyampaiannya MUTAWATIR.
  2. Zhonni : yakni Dalil yang Sanad Penyampaiannya TIDAK MUTAWATIR.

Mutawatir ialah Sanad Penyampaian yang Perawinya berjumlah banyak di tiap tingkatan, sehingga MUSTAHIL mereka berdusta.

DILALAH juga terbagi dua, yaitu :

  1. Qoth’i : yakni Dalil yang hanya mengandung SATU PENAFSIRAN.
  2. Zhonni : yakni Dalil yang mengandung MULTI PENAFSIRAN.

Karenanya, Al-Qur’an dari segi Wurud semua ayatnya Qoth’i, karena sampai kepada kita dengan jalan MUTAWATIR. Sedang dari segi Dilalah maka ada ayat yang Qoth’i karena hanya satu penafsiran, dan ada pula ayat yang Zhonni karena multi penafsiran.

Sementara As-Sunnah, dari segi Wurud, yang Mutawatir semuanya Qoth’i, sedang yang tidak Mutawatir semuanya Zhonni. Ada pun dari segi Dilalah, maka ada yang Qoth’i karena satu pemahaman dan ada pula yang Zhonni karena multi pemahaman.

Selanjutnya, untuk menentukan klasifikasi suatu persoalan, apa masuk Ushul atau Furu’, maka ketentuannya adalah :

  1. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud dan Dilalah sama-sama Qoth’i, maka ia pasti masalah USHUL.
  2. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud dan Dilalah sama-sama Zhonni, maka ia pasti masalah FURU’.
  3. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud Qoth’i tapi Dilalahnya Zhonni, maka ia pasti masalah FURU’.
  4. Suatu Masalah jika Dalilnya dari segi Wurud Zhonni tapi Dilalahnya Qoth’i, maka Ulama berbeda pendapat, sebagian mengkatagorikannya sebagai USHUL, sebagian lainnya mengkatagorikannya sebagai FURU’.

Dengan demikian, hanya pada klasifikasi pertama yang tidak boleh berbeda, sedang klasifikasi kedua, ketiga dan keempat, maka perbedaan tidak terhindarkan. Betul begitu ?!

  1. CONTOH USHUL DAN FURU’

  1. Dalam Aqidah :

Kebenaran peristiwa Isra Mi’raj Rasulullah SAW adalah masalah USHUL, karena Dalilnya QOTH’I, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH. Namun masalah apakah Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad atau dengan Ruh saja, maka masuk masalah FURU’, karena Dalilnya ZHONNI, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH.

Karenanya, barangsiapa menolak kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW maka ia telah sesat, karena menyimpang dari USHUL AQIDAH.

Namun barangsiapa yang mengatakan Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad atau Ruh saja, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah FURU AQIDAH.

  1. Dalam Syariat :

Kewajiban Shalat 5 Waktu adalah masalah USHUL, karena Dalilnya QOTH’I, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH. Namun masalah apakah boleh dijama’ tanpa udzur, maka masuk masalah FURU’, karena Dalilnya ZHONNI, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH.

Karenanya, barangsiapa menolak kewajiban Shalat Lima Waktu maka ia telah sesat karena menyimpang dari USHUL SYARIAT. Namun barangsiapa yang berpendapat bahwa boleh menjama’ shalat tanpa ’udzur atau sebaliknya, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah FURU SYARIAT.

  1. Dalam Akhlaq :

Berjabat tangan sesama muslim adalah sikap terpuji adalah masalah USHUL, karena Dalilnya QOTH’I, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH. Namun masalah bolehkah jabat tangan setelah shalat berjama’ah, maka masuk masalah FURU’, karena Dalilnya ZHONNI, baik dari segi WURUD mau pun DILALAH.

Karenanya, barangsiapa menolak kesunnahan jabat tangan antar sesama muslim, maka ia telah sesat, karena menyimpang dari USHUL AKHLAQ.

Namun barangsiapa yang berpendapat tidak boleh berjabat tangan setelah shalat berjama’ah atau sebaliknya, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah FURU’ AKHLAQ.

Mengerti kan, jadi dalam memahami suatu masalah, tidak usah ribut – ribut seperti anak kecil. Cukuplah dengan ilmu yang memadai, jiwa yang tegas dan hati yang bersih. Insya Allah, suatu permasalahan di kalangan kaum Muslimin bisa teratasi. Allah al musta’an…

KISAH CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN DI ZAMAN NABI SAW.

Kisah cinta Barirah dan Mughits adalah kisah cinta yang tak berbalas. Kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan itu terjadi di zaman Nabi.

Barirah dan Mughits adalah sepasang suami istri. Keduanya merupakan pasagan budak. Hingga Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha membeli Barirah dan memerdekakannya.

Ketika seorang budak telah merdeka, ia boleh memilih untuk tetap berada dalam pernikahannya dengan sesama budak atau melepaskan ikatan itu. Dan rupanya, Barirah sama sekali tidak mencintai Mughits. Ia pun memilih untuk berpisah dari suaminya.

Lain Barirah, lain pula Mughits. Mughits sangat mencintai Barirah. Segala upaya dilakukan Mughits agar Barirah tidak meninggalkannya. Ketika melihat Barirah di jalan, Mughits mengikutinya dari belakang sembari sesenggukan. Antara kesedihan kehilangan orang tercinta dan ingin dikasihani agar wanita itu kembali kepadanya.

Sampai-sampai saat Barirah berthawaf, Mughits juga mengikutinya sambil menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Melihat itu, Rasulullah kasihan.

“Wahai Abbas,” kata Rasulullah kepada Abbas yang juga menyaksikan peristiwa mengharukan itu, “tidakkah engkau heran melihat kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Barirah.

“Bagaimana kalau engkau ruju’ pada Mughits?” kata Rasulullah kepada Barirah.

“Wahai Rasulullah, apakah ini perintah buatku?” Demikianlah sikap shahabiyah. Ia ingin memastikan apakah hal itu perintah atau tidak. Sebab jika hal itu adalah perintah Rasulullah, maka hukumnya wajib dan tidak ada alasan untuk menolak perintah itu.

“Aku sekedar memberi syafaat (untuk suamimu)”

Mendengar bahwa hal itu bukan perintah, Barirah mengungkapkan isi hatinya. Ia tak mau lagi bersama Mughits. “Aku sudah tidak butuh kepadanya,” jawabnya.

Ketika menjelaskan hadits tentang Barirah yang menolak masukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa boleh bagi seseorang untuk menerima atau menolak masukan dari orang lain (meskipun orang itu adalah pemimpin atau ulama) selama tidak menyangkut hal yang wajib. Dan orang yang memberikan masukan atau saran hendaknya tidak marah ketika masukan atau sarannya tidak diterima. Bahkan Rasulullah pun tidak marah kepada Barirah atas sikap tersebut. Hanya saja, beliau kasihan pada Mughits.

Mungkin kita juga memiliki perasaan yang sama: mengasihani Mughits. Sebab cinta yang tak terbalas adalah kesedihan yang menyesakkan dada. Sebab cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah kesedihan yang mengundang derai air mata

KETERANGAN MAKNA BASYAR, A’BDUN DAN KHALIFAH Bag. 2

 KH

   III.             Khalifah

Kata berasal dari kata “khalf” (menggantikan, mengganti), atau kata “khalaf” (orang yang datang kemudian) sebagai lawan dari kata “salaf” (orang yang terdahulu). Sedangkan arti khilafah adalah menggantikan yang lain, adakalanya karena tidak adanya (tidak hadirnya) orang yang diganti, atau karena kematian orang yang diganti, atau karena kelemahan/tidak berfungsinya yang diganti, misalnya Abu Bakar ditunjuk oleh umat Islam sebagai khalifah penggan¬ti Nabi SAW, yakni penerus dari perjuangan beliau dan pemimpin umat yang menggantikan Nabi SAW. setelah beliau wafat, atau Umar bin Khattab sebagai pengganti dari Abu Bakar dan seterusnya; dan adakalanya karena memuliakan (memberi penghargaan) atau mengangkat kedudukan orang yang dijadikan pengganti. Pengertian terakhir inilah yang dimak¬sud dengan “Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi”, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. Fathir ayat 39, Q.S. al-An’am ayat 165.

Manusia adalah makhluk yang termulia di antara makh¬luk-makhluk yang lain (Q.S. al-Isra’: 70) dan ia dijadikan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psikhisnya (Q.S. al-Tin: 5), serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fitrah) yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena itulah maka sudah selayaknya manusia menyandang tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61), serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. al-Maidah : 16), dengan cara beriman dan beramal saleh (Q.S. al-Ra’d : 29), bekerja-sama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam mene¬gakkan kesabaran (Q.S. al-’Ashr : 1-3). Karena itu tugas kekhalifahan merupakan tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia pada akhir zaman yang akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadaNya (’abdullah).

Tugas-tugas kekhalifahan tersebut menyangkut: tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri; tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga; tugas kekhalifahan dalam masyarakat; dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi tugas-tugas: (1) menuntut ilmu pengetahuan (Q.S.al-Nahl: 43), karena manusia itu adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/diajar (Q.S. al-Baqarah: 31) dan yang mampu mendi¬dik/mengajar (Q.S. Ali Imran: 187, al-An’am: 51); (2) menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan kesengsaraan (Q.S. al-Tahrim: 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dan sebagainya; dan (3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlaq berasal dari kata khuluq atau khalq. Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/ jasmani. Keduanya tidak bisa dipisahkan, dan manusia terdiri atas gabungan dari keduanya itu yakni jasmani (lahir) dan rohani (batin). Jasmani tanpa rohani adalah benda mati, dan rohani tanpa jasmani adalah malaikat. Karena itu orang yang tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia sama halnya dengan jasmani tanpa rohani atau disebut mayit (bangkai), yang tidak saja membusukkan dirinya, bahkan juga membusukkan atau merusak lingkungannya.

Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga meliputi tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawaddah wa rahmah/cinta kasih (Q.S. ar-Rum: 21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-isteri atau ayah-ibu dalam rumah tangga.

Tugas kekhalifahan dalam masyarakat meliputi tugas-tugas : (1) mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Q.S. al-Hujurat: 10 dan 13, al-Anfal: 46); (2) tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (Q.S. al-Maidah: 2); (3) menegakkan keadilan dalam masyarakat (Q.S. al-Nisa’: 135); (4) bertanggung jawab terhadap amar ma^ruf nahi munkar (Q.S. Ali Imran: 104 dan 110); dan (5) berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk di dalamnya adalah para fakir dan miskin serta anak yatim (Q.S. al-Taubah: 60, al-Nisa’: 2), orang yang cacat tubuh (Q.S. ’Abasa: 1-11), orang yang berada di bawah penguasaan orang lain dan lain-lain.

Sedangkan tugas kekhalifahan terhadap alam (natur) meliputi tugas-tugas: (1) mengkulturkan natur (membudaya¬kan alam), yakni alam yang tersedia ini agar dibudayakan, sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia; (2) menaturkan kultur (mengalam¬kan budaya), yakni budaya atau hasil karya manusia harus disesuaikan dengan kondisi alam, jangan sampai merusak alam atau lingkungan hidup, agar tidak menimbulkan malapetaka bagi manusia dan lingkungannya; dan (3) mengIslamkan kultur (mengIslamkan budaya), yakni dalam berbudaya harus tetap komitmen dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-’alamin, sehingga berbudaya berarti mengerahkan segala tenaga, cipta, rasa dan karsa, serta bakat manusia untuk mencari dan mene-mukan kebenaran ajaran Islam atau kebenaran ayat-ayat serta keagungan dan kebesaran Ilahi.

Dari berbagai uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk Allah harus mampu mengemban amanah dari Allah, yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya di muka bumi. Manusia sebagai makhluk Allah mempunyai dua tugas utama, yaitu: (1) sebagai ’abdullah, yakni hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan KehendakNya serta mengabdi hanya kepadaNya; dan (2) sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang meliputi pelaksanaan tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, dalam keluarga/rumah tangga, dalam masyarakat, dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

 

PENUTUP

Konsep manusia sebagai basyar, abdun dan khalifah Dalam al-Qur’an, ada tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia, yaitu kata insan, kata basyar dan kata Bani Adam. Kata insan dalam al-Qur’an dipakai untuk manusia yang tunggal, sama seperti ins. Sedangkan untuk jamaaknya dipakai kata an-nas, unasi, insiya, anasi. Adapun kata basyar dipakai untuk tunggal dan jamak. Kata insan yang berasal dari kata al-uns, anisa, nasiya dan anasa, maka dapatlah dikatakan bahwa kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap, yang lahir dari adanya kesadaran penalaran [Musa Asy’arie, 1992 : 22]. Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan [M.Quraish Shihab, 1996 : 280].

Kata insan jika dilihat dari asalnya nasiya yang artinya lupa, menunjuk adanya kaitan dengan kesadaran diri. Untuk itu, apabila manusia lupa terhadap seseuatu hal, disebabkan karena kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. Maka dalam kehidupan agama, jika seseorang lupa sesuatu kewajiban yang seharusnya dilakukannya, maka ia tidak berdosa, karena ia kehilangan kesadaran terhadap kewajiban itu. Tetapi hal ini berbeda dengan seseorang yang sengaja lupa terhadap sesuatu kewajiban.

Sedangkan kata insan untuk penyebutan manusia yang terambil dari akar kata al-uns atau anisa yang berarti jinak dan harmonis, (Musa Asy’arie, 1996 : 20) karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya. Manusia mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup tinggi, untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan sosial maupun alamiah. Manusia menghargai tata aturan etik, sopan santun, dan sebagai makhluk yang berbudaya, ia tidak liar baik secara sosial maupun alamiah.

Di sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan. Firman allah [QS.al-Rum (3) : 20] “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya [Allah] menciptakan kamu dari tanah, ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran”. Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezki [M.Quraish Shihab,1996 : 279].

Penggunaan kata basyar di sini “dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab. Dan karena itupula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar [perhatikan QS al-Hijr (15) : 28], yang menggunakan kata basyar, dan QS. al-Baqarah (2) : 30 yang menggunakan kata khalifah, yang keduanya mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia [M.Quraish Shihab,1996 : 280]. Musa Asy’arie [1996 : 21], mengatakan bahwa manusia dalam pengertian basyar tergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan, pendidikan, penalaran, kesadaran, dan sikap hidupnya. Untuk itu, pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran, sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, makan, minum dan mati.

Dari pengertian insan dan basyar, manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psihis yang memiliki potensi untuk berkembang. Al-Qur’an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikan-Nya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain [Q.S.95 :4]. Allah sendirilah yang menciptakan manusia yang proporsional [adil] susunannya [Q.S.82:7].

PENJELASAN SEWA MENYEWA DALAM HUKUM AGAMA ISLAM

Apakah sewa menyewa itu?
SEW               Semua barang yang mungkin di ambil manfaatnya dengan tetap zatnya sah untuk disewakan, apabila kemanfaatanya itu dapat di tentukan dengan salah satu dari dua perkara, yaitu dengan masa dan perbuatan.

Sewa menyewa dengan mutlak (tidak memakai syarat) itu menetapkan pembayaran sewa dengan tunai, kecuali kalau di janjikan pembayaran dengan di tangguhkan.

Akad sewa menyewa tidak dapat di rusak oleh meninggalnya salah satu yang berakad, tetapi bisa rusak karena barang yang di sewakan.

Orang yang menyewa tidak menanggung resiko apa-apa kecuali karena kelengahanya.

Sewa menyewa artinya melakukan akad mengambil manfaat sesuatu yang di terima dari orang lain dengan jalan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah di tentukan, dengan syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Barang yang diambil manfaatnya, harus masih tetap ujudnya sampai waktu yang telah ditentukan menurut perjanjian.
  2. Waktunya harus dapat diketahui dengan jelas, misalnya sehari, seminggu, atau sebulan dan seterusnya.
  3. Pekerjaan dan manfaat sewa menyewa itu harus diketahui jenis, jumlah dan sifatnya serta sanggup menyerahkannya, dan manfaat yang boleh disewakan adalah manfaat yang berharga.
  4. Syarat Ijab Qabul serupa dengan syarat ijab qabul pada jual beli dengan tambahan menyebutkan masa waktu telah di tentukan.

Rusaknya Sewa Menyewa

  1. Meninggalnya salah satu dari orang yang menyewa dan menyewakan, tidak berakibat batalnya akad sew menyewa, akad sewa menyewa di anggap batal, apabila barang sewaanya rusak dan tidak di ambil manfaatnya lagi, hal ini kalau barang yang disewa itu tertentu pada waktu akad itu terjadi.
  2. Menyewa barang-barang dalam tanggungan seseorang, seperti menyewa mobil yang dinaiki untuk pergi dari bandung ke jakarta, maka rusaknya mobil yang dinaiki itu tidak membatalkan akad sewa menyewa, sebab sewa menyewa yang demekian pada hakikatnya bukan menyewa zatnya mobil, tetapi mengambil manfaat dari segi kemampuan mobil tersebut untuk mengangkut orang lain dari tempat ke tempat yang di tentukan.
  3. Apabila barang sewaanya sewaktu digunakan tiba-tiba rusak, maka penyewa tidak harus menggantinya, kecuali karena kelengahannya.

 

INILAH SEBAB KENAPA BAYI KETIKA LAHIR MENANGIS

 bayi              Kenapa setiap BAYI yang baru lahir itu menangis..…?

Karena tertikam oleh syaitan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :“Setiap anak adam ditusuk oleh syaitan dilambungnya dengan kedua jarinya saat dilahirkan selain Isa Bin Maryam”

Diantara solusi agar terhindar dari tikaman syetan pada anak yang hendak terlahirkan kelak, saat senggama jangan lupa berdoa: ALLAAHUMMA JANNIBNAA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANAA

قوله : (ما من بني آدم) أي ما من أولاده ، والمراد هذا الجنس (مولود إلا يمسه الشيطان) رفع مولود على أنه فاعل الظرف لاعتماده على حرف النفي ، والمستثنى منه أعم عام الوصف فالاستثناء مفرغ ، يعني ما وجد من بني آدم مولود متصف بشيء من الأوصاف حال ولادته إلا بهذا الوصف أي مس الشيطان له ، والمراد بالمس الحقيقي أي الحسي لقوله {صلى الله عليه وسلم} في رواية للبخاري : ((كل بني آدم يطعن الشيطان في جنبه بإصبعيه حين يولد غير عيسى بن مريم ، ذهب يطعن فطعن في الحجاب)). قال القرطبي : هذا الطعن من الشيطان هو ابتداء التسليط ، فحفظ الله مريم وابنها ببركة دعوة أمها. (فيستهل) أي يصيح (صارخاً) رافعاً صوته بالبكاء ، وهو حال مؤكدة ، أو مؤسسة أي مبالغة في رفعه ، أو المراد بالاستهلال مجرد رفع الصوت وبالصراخ البكاء (من مس الشيطان) أي لأجله ، يعني سبب صراخ الصبي أول ما يولد الألم من مس الشيطان إياه. قال الطيبي : وفي التصريح بالصراخ إشارة إلى أن المس عبارة عن الإصابة بما يؤذيه

“Tidak terdapat dari anak cucu adam saat terlahirkan kecuali ia tersentuh oleh syaitan”Rasulullah SAW bersabda “Setiap anak adam ditusuk oleh syaitan dilambungnya dengan kedua jarinya saat dilahirkan selain Isa Bin Maryam”.

Imam al-Qurthubi berkata “Penikaman syaithan tersebut adalah awal penguasaannya pada manusia, kemudian Allah menjaga Maryam dan puteranya berkah doanya dari hal yang demikian”Karenanya kemudian bayi menangis sekuat-kuatnya akibat tikaman syetan tersebut.

At-Thiby berkata “Dalam penjelasan jeritan bayi tersebut menandakan bahwa sentuhan syetan pada mengena pada hal yang menyakitkannya”.

Misykah al-Mashabih I/377

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { لو أن أحدهم : إذا أراد أن يأتي أهله قال : بسم الله اللهم جنبنا الشيطان ، وجنب الشيطان ما رزقتنا فإنه إن يقدر بينهما ولد في ذلك ، لم يضره الشيطان أبدا } .

وقع في رواية أحمد (ج1 : ص217) (( لم يضر ذلك الولد الشيطان أبدًا )) وفي أخرى له (ج1 : ص287) ولمسلم ، وابن ماجة (( لم يسلط عليه الشيطان أو لم يضره )) وهكذا وقع معرفًا في بعض الروايات عند البخاري وغيره . قال الحافظ : واللام للعهد المذكور في لفظ الدعاء ، وفي مرسل الحسن عند عبد الرزاق إذا أتى الرجل أهله فليقل بسم الله اللهم بارك لنا فيما رزقتنا ، ولا تجعل للشيطان نصيبًا فيما رزقتنا فكان يرجى ، إن حملت أن يكون ولدًا صالحًا ( أبدًا ) . قال القاري : فيه إيماء إلى حسن خاتمة الولد ببركة ذكر الله في ابتداء وجود نطفته في الرحم . فالضر مختص بالكفر . وقال السندي : لم يحمل أحد حديث الباب على العموم الضرر لعموم ضرر الوسوسة للكل ، وقد جاء كل مولود يمسه الشيطان ، إلا مريم وابنها ، فقيل لا يضره بالإغواء والإضلال بالكفر ، وقيل بالكبائر ، وقيل : بالصرف عن التوبة إذا عصى ، قيل إنه يأمن مما يصيب الصبيان من جهة الجان ، وقيل لا يكون للشيطان عليه سلطان ، فيكون من المحفوظين ، قال تعالى : ” إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ” (15 : 42) انتهى

“ Kalau sekiranya seorang dari kalian apabila ia hendak mendatangi istrinya mengucapkan doa: ALLAAHUMMA JANNIBNAA WA JANNIBIS SYAITHAANA MAA ROZAQTANAA“ Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau berikan kepada kami,“ maka sesungguhnya jika di takdirkan baginya anak saat itu maka setan tidak akan dapat menimpakan madharat terhadapnya selama-lamanya“. (HR: Bukhari Muslim).

(Maksud madharat terhadapnya selama-lamanya) adalah kekufuran.As-Sanadi berkata “tidak satupunn Ahli hadits yang memberi pengertian hadits ini dengan kemadharatan yang bersifat umum sebab kenyataan rasa was-was teralami oleh stiap manusia”.

Dalam sebuah hadits dikatakan “Setiap anak yang dilahir tersentuh oleh syaitan kecuali Maryam dan anaknya”.

Ada pendapat yang menyatakan arti madharat diatas adalah madharat berupa penyesatan dengan kekufuran, pendapat lain penyesatan dengan menjalani dosa besar, pendapat lain penyesatan melalaikan taubat saat menjalani maksiat, pendapat lain tidak tersentuh oleh jin yang sering mengganggu bocah kecil, pendapat lain, syetan tidak akan mampu menguasainya maka ia tergolong orang-orang yang terjaga sebagaimana firman Allah Ta’alaa :

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. 15:42).

Misykah al-Mashabih VIII/346

 

PENTINGNYA MENJAGA ADAB BERBICARA DALAM BERMEDIA

  fff             Media sosial saat ini tak ubahnya seperti senjata tajam. Ia dapat digunakan untuk agenda kebaikan, seperti menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan, dan dapat pula diarahkan untuk menusuk dan membinasakan nyawa orang. Memang pada saat update status tidak ada darah yang tertumpah seperti halnya menusuk pedang ke perut orang. Tetapi coba perhatikan, tidak jarang status ujaran kebencian yang mengundang provokasi, konflik, bahkan bertumpahan darah.

Maka dari itu, sejak dulu Islam menekankan pentingnya menjaga lisan. Andaikan dulu sudah ada media sosial, kemungkinan besar Nabi juga meminta umatnya agar pandai menggunakan media sosial. Gunakanlah untuk sesuatu yang bermanfaat dan jangan gunakan untuk pertikaian.

Dulu, sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari pernah bertanya kepada Rasul: Wahai Rasul siapakah muslim terbaik? Rasul menjawab, “Muslim yang mampu menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatannnya” (Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kedua hadits ini menunjukan betapa pentingnya menjaga lisan bagi Rasulullah. Bahkan standar kebaikan, keutamaan, dan kesempurnaan Iman diukur berdasarkan sejauh mana ia mampu menjaga lisannya. Dalam konteks bermedia sosial, tentu kualitas iman dan islam seorang muslim dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menggunakan media: apakah untuk kebaikan atau keburukan.

Status di media sosial, tentu seperti halnya kita bertutur kata sehari-hari. Mungkin pengaruh status yang kita ketik lebih besar ketimbang berbicara langsung. Karena pada saat bicara langsung pendengarnya sangat terbatas, sementara di media sosial siapapun dan dari belahan dunia manapun bisa membacanya.

Terkait pentingnya menjaga lisan, Imam al-Nawawi dalam al-Azkar mengingatkan:

اعلم أنه لكل مكلف أن يحفظ لسنانه عن جميع الكلام إلا كلاما تظهر المصلحة فيه، ومتى استوى الكلام وتركه فى المصلحة، فالسنة الإمساك عنه، لأنه قد ينجر الكلام المباح إلى حرام أو مكروه، بل هذا كثير أو غالب في العادة

Hendaklah setiap orang menjaga lisannya pada pembicaraan apapun, kecuali bila dipastikan ada kemaslahatannya. Namun jika bimbang, antara meninggalkan dan mengucapkannya sama-sama ada maslahahnya, disunnahkan tetap diam (tidak berkata apapun). Sebab terkadang perkataan biasa bisa berimplikasi pada keharaman dan makruh. Bahkan hal seperti ini banyak terjadi.”

Masih dalam kitab al-Azkar, Imam al-Nawawi mengutip pernyataan Imam al-Syafi’i terkait pentingnya menjaga kata:

إذا أراد الكلام فعليه أن يفكر قبل كلامه، فإن ظهرت المصلحة تكلم، وإن شك لم يتكلم حتى تظهر

Apabila kalian hendak bicara, berpikirlah sebelumnya. Jika ada kemaslahatan pada ucapan tersebut, bicaralah. Andaikan kalian ragu, lebih baik tidak bicara sampai ditemukan kemaslahatannya”.

Setidaknya ada 11 etika bagi seorang muslim di dalam menggeluti aktifitas di media sosial, yaitu:

  1. Dalam menjalani aktifitas sosial media, hendaknya dia memiliki motivasi ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkeyakinan penuh bahwa penyebaran informasi, baik dalam bentuk tulisan, gambar, dan suara memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat.
  2. Dalam bersosial media, hendaknya seorang muslim memiliki motivasi dakwah, yaitu misi memindahkan kondisi masyarakat dari situasi tidak baik menuju situasi baik, dalam semua sektor kehidupan, baik bidang agama, ekonomi, sosial, politik, keamanan, dan lainnya.
  3. Dalam mencapai tujuannya, hendaknya seorang muslim yang menggeluti dunia media sosial memiliki cita-cita untuk meraih maslahat dan menghindari mafsadat. Maslahat yang dicita-citakan itu adalah segala sesuatu yang bertujuan untuk mewujudkan maqashid syari’ah atau tujuan-tujuan syariat dalam semua peraturannya, dalam hal ini untuk memelihara lima hal pokok (kulliyat khams), yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Sedang mafsadat yang harus dihindari itu adalah hal-hal yang mencederai maqashid syari’ah tersebut.
  4. Dalam menggeluti dunia informasi di media sosial, hendaknya seorang muslim menguji kebenaran suatu informasi yang dia terima (tatsabbut, tabayyun). Dia meneliti kredibilitas dan kompetensi sumber berita, serta secara proporsional dan bertanggung jawab menyikapi berbagai jenis informasi sebagai kejadian biasa, atau; kejadian mengandung unsur kriminalitas atau berhubungan dengan hak orang lain, atau; berita yang menyangkut kepentingan umum, seperti keamanan negara.
  5. Dalam mengolah dan menyajikan informasi, hendaknya seorang muslim menentukan sudut pandang atau angle tulisan yang dipenuhi misi amar ma’ruf nahyi munkar, yaitu mengarahkan masyarakat untuk turut membenarkan perilaku baik dan melarang perilaku salah, sehingga terbentuk opini umum (public opinion) yang positif dan baik.
  6. Dalam aktifitas media sosial, hendaknya seorang muslim membekalinya dengan kejujuran, menyempurnakan kejujuran itu dengan akurasi, objektif dalam menjelaskan kejadian, mematuhi aturan dan etika umum, baik regulasi tentang ITE maupun UU apapun yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  7. Dalam menjalani tahapan proses pembuatan atau penyebaran informasi, hendaknya seorang muslim berkomitmen menjauhi berbagai larangan agama, seperti mengolok-olok agama, Allah, para Nabi, malaikat, termasuk melakukan plagiasi atau pecemaran nama baik pihak lain.
  8. Dalam penyajian tulisan di media sosial, hendaknya seorang muslim mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menghindari tulisan gunjingan atau ghibah, tulisan mengandung tuduhan zina (qadzaf), dan pembeberan rahasia orang, kelompok, atau negara. Hal-hal ini dalam Islam menjadi diperbolehkan (kondisi kecuali), sesuai dengan syarat, cara dan tujuan tertentu, yang bermuara pada misi amar ma’ruf nahyi munkar, bukan untuk tujuan dan kepentingan lain.
  9. Dalam tujuan pembuatan dan penyampaian informasi, hendaknya seorang muslim memperjuangkan peningkatan taraf pendidikan dan pengetahuan masyarakat. Maka seorang muslim dilarang menyebarkan informasi yang berisi unsur amoral dan kejahatan, serta secara cermat memperhatikan aturan fikih Islam mengenai berita kriminal dan berita seksualiti, atau pornografi.
  10. Dalam memahami kebebasan menyebarkan informasi, seorang muslim meyakini bahwa agama Islam memberi hak kepada umatnya untuk mengekspos setiap peristiwa, demi memperjuangkan kehormatan dan kebaikan mereka, bukan untuk menyebarkan, apalagi untuk membela kebatilan dan kemunkaran. Batasan kebebasan tersebut bertujuan untuk menghormati hak dan kebebasan pihak lain.
  11. Dalam menjalankan misi dan idealismenya ini, hendaknya seorang muslim memperjuangkan prinsip pembuatan dan penyebaran informasi, yaitu kebenaran dan kemanfaatan berita. Berita terbukti benar belum menjadi alasan bagi seorang muslim untuk menyajikannya. Dia harus dapat memastikan, apakah berita itu bermanfaat dan menjadi kebutuhan masyarakat (what people need, not what people want).

Jadi, pikirlah sebelum bicara atau melontarkan kata di media sosial. Timbang baik buruknya terlebih dahulu. Terkadang tidak semua pengetahuan dan informasi yang kita miliki mesti dipublikasikan. Adakalanya, informasi bagus tidak perlu disebarluaskan bila akan menganggu dan merusak ketenangan orang lain. Mari kita budayakan bermedia sosial yang sehat dan produktif.

Wallahu a’lam.

SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL

SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 22 OKTOBER 2016-21 MUHARROM 1438 H.

MARI KITA JADIKAN MOMEN BERSEJARAH INI UNTUK BERHIJRAH MENUJU KETAKWAAN KEPADA ALLOH SWT. SEHINGGA SELURUH BANGSA INI BISA MENCAPAI KEMAKMURAN SEBAGAIMANA CITA CITA PARA PEJUANG KEMERDEKAAN.

img20150418155115

WWW.JEJAKISLAM.COM Sholawat bukti cinta Rosululloh Saw