WALAUPUN KEINGINAN DAN HAJAT TERTUNDA JANGANLAH BERPUTUS ASA

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد

Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Di antara syarat diterimanya doa adalah apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak berputus asa. Belum terkabulnya doa seorang hamba, padahal ia telah berulang-ulang berdoa jangan sampai menjadikannya putus asa, karena Allah berfirman,

”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60)

Allah SWT. akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun demikian, terkabulnya doa tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah. Karena Allah Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hamba-Nya; terkadang Allah menolak permintaan seorang hamba, karena memang yang terbaik adalah tidak terkabulnya doa itu. Dalam konteks ini, ketika Allah menolak suatu doa sebenarnya secara tersirat memberi, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Atha’, ”Ketika Allah menolak sebuah permintaan sebenarnya memberi dan ketika memberi sebenarnya menolak.” Untuk memperkuat pandangan ini, simaklah ayat berikut ini,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Penolakan Allah dalam merealisasikan suatu doa, mempunyai substansi pemberian yang tepat bagi manusia. Demikian juga, Dia mengabulkan sebuah doa pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan. Jadilah seperti Musa yang sabar, karena sabar dan tidak tergesa-gesa merupakan sifat yang utama bagi seorang hamba. Simaklah kisah Musa dan Harun yang berdoa agar Fir’aun dan kaumnya beriman kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, ”Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.” (Yûnus: 88) Sampai akhir ayat yang mengisahkan tentang permohonan Musa dan Harun agar kaumnya beriman kepada Allah, dan ternyata permohonan itu baru dikabulkan setelah empat puluh (40) tahun berlalu, sebagaimana firman Allah berikutnya,

”Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu teteplah kalian berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Yûnus: 89)

Dalam sebuah hadits disebutkan, ”Sesungguhnya Allah menyukai kesabaran dalam doa.”

Juga dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya hamba yang shaleh apabila berdoa kepada Allah, malaikat Jibril berkata: Wahai Tuhanku, hamba-Mu fulan telah berdoa, maka kabulkanlah. Kemudian Allah berfirman: Berdoalah wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku senang mendengar suaramu.”

Demikianlah, tata krama dalam berdoa yang telah ditunjukkan oleh Allah agar menjadi pedoman bagi umat Islam. Terkadang Allah mengabulkan atau mengganti dengan hal lain yang notabene merupakan kebaikan dan tambahan yang lebih baik.

ZINA MATA DAN BAHAYA LAKI LAKI BABYFACE SERTA ONANI ATAU MASTURBASI

ZINA MATA DAN ZINA HATI

Anggota badan itu memang berpotensi unt berbuat zina : Zina mata adalah penglihatan yang digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Sedangkan zina hati adalah hati mempunyai keinginan pada yang diharamkan kepada ALLAH.

.كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا مدرك له لا محالة العينان زناهما النظر والأذنان زناهما الإستماع واللسان زناه الكلام واليد زناها البطش والرجل زناها الخطا والقلب يهوي و يتمنى و يصدق ذلك الفرج أو يكذبه. الحديث. إسعاد الرفيق : ص : ٦٧

Memandang foto yang mengumbar aurat hukumnya adalah harom :

الحلال والحرام في الإسلام : ص : ١١٣ :

.فتصوير النساء عاريات أو شبه عاريات و إبراز موانع الأنوثة و الفتنة منهن و رسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات موقظة للغوائر الدنيا كما ترى ذلك واضحا في المجلة والصحف و دور السينما كل ذلك مما لا شك في حرمته و حرمة تصويره وحرمة نشره على الناس وحرمة إقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمجلات وتعليقه على الجدران وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته.

Yag memberi foto juga ikut berdosa karena termasuk membantu dan pelantara pada perbuatan ma’siat :

إسعاد الرفيق ٢/١٢٧

ومنها الإعانة على المعصية أى على معصية من معاصي الله بقول أو فعل أو غيره تم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك

أصول الفقه لمحمد أبو زهرة : ص : ٢٨٨

و بيان ذلك أن موارد الأحكام قسمان مقاصد وهي الأمور المكونة للمصالح والمفاسد في أنفسها أى التي هي في ذاتها مصالح أو مفاسد و وسائل وهي الطرق المقضيةإليها وحكمها حكم ما أفضت إليه من تحليل أو تحريم غير أنها أخفض رتبة من المقاصد في حكمها

Allah swt berfirman :

يعلم خائنة الاعين وما تخفى الصدور

Artinya : Dan (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang di sembunyikan oleh hati. (QS. Ghaafir : 19).

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة فأمرنى ان اصرف بصرى

Artinya : Aku bertanya kepada Rasulullah saw dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja) maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku. (HR. Muslim).

Makna pandangan tiba-tiba adalah pandangan kepada wanita ajnabiyah tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada pandangan pertama dan wajib untuk memalingkan pada saat itu juga. Apabila dipalingkan pada saat itu juga maka tidak berdosa tapi apabila terus-menerus memandang, maka berdosa berdasarkan hadist ini. Seorang penyair berkata :

كل الحودث مبدأها من النظر * ومعظم النار من مستصغر الشرر.

كم نظرة بلغت فى قلب صاحبها * كمبلغ السهم بين القوس والوتى.

والعبد ما دام ذا طرف يقلبه * فى اعين الناس موقوف على الخطر.

يسر مقلته ماضر مهجته * لا محر حبا بسر ورعاد بالضرر.

Artinya :

Seluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan * dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil.

Betapa banyak pandangan yang jatuh menimpa hati yang memandang * sebagaimana jatuhnya anak panah yang terlepaskan antara busur dan talinya.

Selama seorang hamba masih memiliki mata yang bisa ia bolak balik * maka ia sedang berada di atas bahaya di antara pandangan manusia.

Menyenangkan mata apa yang menjadikan penderitaan jiwa * sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.

– Dalam shohih bukhori, disebutkan :

ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﺗَﺰْﻧِﻲ، ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻳَﺰْﻧِﻲ، ﻓَﺰِﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦِ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮُ، ﻭَﺯِﻧَﺎ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻤَﻨِّﻲ، ﻭَﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ ﻳُﺼَﺪِّﻕُ ﻣَﺎ ﻫُﻨَﺎﻟِﻚَ ﺃَﻭْ ﻳُﻜَﺬِّﺑُﻪُ

“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)

– Syarah ‘Uquudul lujain :

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُتِبَ عَلَىَ ابْنِ آدَمَ) أي قضى عليه وأثبت في اللوح المحفوظ (نَصِيبُهُ مِنَ الزّنَا) أي مقدماته كما نقله العزيزي عن المناوي (مُدْرِكٌ) أي فهو مدرك (ذَلِكَ)  أي ما كتب عليه (لاَ مَحَالَةَ) بفتح الميم أي لا بد ولا شك (فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النّظَرُ) إلى ما لا يحل (وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ)  إلى ما لا ينبغى شرعا (وَاللّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ) بما لا ينفع دنيا ولا دينا (وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ) أي القهر والأخذ بالعنف (وَالرّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا) بضم الخاء المعجمة  أي نقل الأقدام إلى مل لا يحل (وَالْقَلْبُ يَهْوَى) بفتح الواو أي يحبّ (وَيَتَمَنَّى) مالايحل (وَيُصَدّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذّبُه) أي بالإتيان بما < ص 17 > هو المقصود من ذلك، أو بالترك. رواه مسلم عن أبي هريرة.

Rosulullah SAW bersabda : Telah di tetapkan atas bani adam,jika tertulis di lauhil mahfudz ia berzina,maka itu akan terjadi, pasti ! Zina kedua mata adalah melihat pada hal yang tidak halal baginya,Zina kedua kuping adalah ketika diperdengarkan pada hal yang tak sepantasnya di dengar menurut syara’. Zina lisan adalah digunakan untuk mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi dunia dan agamanya. Zina tangan adalah merebut paksa. Zina kaki adalah digunakan untuk melangkah / berjalan menuju tempat yang tidak halal baginya. Dan hati ketika ditumpangi syahwat dan berharap sesuatu yang tak halal, adakalanya farjinya ikut membenarkan atau menganggap itu hanya dusta

وقال عليه السلام: {لِكُلِّ ابْنِ آدَمَ حَظٌّ مِنَ الزِّنَا، فَالعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَظَرُ، وَاليَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا البَطْشُ، وَالرِّجْلاَنِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا المَشْيُ، وَالفَمُ يَزْنِيْ وَزِنَاهُ القُبْلَةُ، وَالْقَلْبُ يَهُمّ أَوْ يَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبَهُ} كذا في الإحياء.

Rosul SAW bersabda : Pada setiap bani adam ada bagian dari zina.Kedua mata berzina dan zina keduanya adalah melihat, Kedua tangan berzina dan zina keduanya adalah merampas (mengambil paksa / tanpa hak). Kedua kaki berzina dan zina keduanya adalah digunakan berjalan ke tempat yang tak halal. Mulut berzina dan zinanya adalah melakukan ciuman. Dan hati berangan-angan atau mengharap/menghayalkan sesuatu yang tak halal baginya.

 

ZINA YANG DILAKUKAN BANCI YANG OPERASI GANTI KELAMIN

.وبواضح فرج الخنثى المشكل فلا يسمى الإيلاج فيه زنا لاحتمال ذكورته وكون هذا المحل زائدا. الباجوري ٢/٢٣٠

Untuk syarat zina yang masuk ke dalam zina yang dihad ada 12, diantaranya :

  1. Gender harus nyata, jadi jika khuntsa muskil yang punya 2 alat kelamin, maka tidak bisa dikatakan zina
  2. Alat kelamin harus asli. Bilamana ada seorang laki-laki punya 2 kelamin yg serupa dan sama maka tidak dihad
  3. Alat kelamin menempel, jadi jika dgn kelamin yg sudah putus maka tidak dihad
  4. Alat kelamin yg dimasuki nyata (wadeh). Dan lain-lain.

و الحاصل ان شروط وجوب حد الزنا بالجلد او بالرجم اثنا عشراحدها ان يكون المولج مكلفا….ثانيها واضح الذكورة فخرج الخنثى المشكل الذى له التان للرجال و النساء اذ اولج الة الذكورة فلا حد عليه لاحتمال انوثته و لاحتمال كون هذا عرقا زائدا……..ثالثها اولج جميع حشفته فخرج ما لو اولج بعض الحشفة فلا حد رابعها اصالة الذكر فخرج مالو خلق له ذكران مشتبهان فاولج احدهما فلا حد للشك فى كونه اصلياخمسها اتصال الذكر فخرج الذكر المبان فلا حد فيهسادسها ايلاج الحشفة فى قبل واضح الانوثة فخرج مالو اولج فى فرج خنثى مشكل فلا حد لاحتمال ذكورته و كون هذا محل زائدا……

نهاية الزين ٣٤٧

 

AMROD BABYFACE DAN PRILAKU HOMOSEKSUAL

Dalam HADITS : Nabi Muhammad shallaahu alaihi wa sallama bersabda :

أهل الجنة جرد مرد لا يفنى شبابهم

“Penduduk surga itu jurd (orang yang tidak memiliki rambut di tubuhnya), murd (yang tidak memiliki jenggot di janggutnya) dan yang kemudaannya tidak akan sirna”. [ Faidh Alqoodir III/85 ].

Dalam FIQH :

الأمرد وهو الشاب الذي لم تنبت لحيته ولا يقال لمن أسن ولا شعر بوجهه أمرد بل يقال له ثط بالثاء المثلثة

“Amrod adalah pemuda yang tidak tumbuh jenggotnya hanya saja bagi orang yang telah berusia yang tidak memiliki jenggot tidak bisa disebut amrod melainkan disebut dengan Tsath”. [ Al-Iqnaa Li Assyarbiiny II/407 ].

AMROOD (Meeril, Thuyuur) dan BAHAYANYA

( 1 ) ( اتفق الأئمة عليهم رضوان الله تعالى على تحريم اللواط في نظر الشرع وعلى أنه م…ن الفواحش العظام بل إنه لأفحش من جريمة الزنا وإنه كبيرة من الكبائر وذلك للأحاديث المتواترة في تحريمه ولعن فاعله……… آية 34 من العنكبوت وقال تعالى : { ولوطا اذ قال لقومه أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين إنكم لتأتون الرجال شهوة من دون النساء بل أنتم قوم مسرفون…….

وروى الترمذي عن أبن عباس رضي الله عنهما أنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( لا ينظر الله عز و جل إلى رجل أتى رجلا أو امرأة في دبرها ) رواه النسائي………

اللواط يستوجب لعنة الله حقا إن اللواط يستوجب لعنة الله وغضبه ولعنة الملائكة والناس أجمعين لآنه فعل شاذ ينتافى مع العقل السليم والذوق المستقيم ويدل على أن صاحبه قد خلع جلباب الحياء والمروءة وتخلى عن سائر صفات أهل الشهامة وتجرد حتى من عادات …..

ولهذا شدد علماء الإسلام في البعد عن هذه الجريمةن من إطالة النظر إلى الغلام الأمرد ولا سيما إن كان صاحب صورة جميلة . وبعضهم اشترط في تحريمها أن تكون بشهوة لأنها ذريعة للفاحشة ومهيجة للشهوة الكامنة . عن الحسن بن ذكوان رحمه الله أنه قال : لا تجالسوا أولاد الأغنياء فإن لهم صورا جميلة كصورة النساء وهم أشد فتنة من النساء . وعن النجيب بن السدي رحمه الله أه قال : كان يقال : ( لايبيت الرجل في بيت مع الأمرد ) وعن أبن سهل أنه قال : سيكون في هذه الأمة قوم يقال لهم اللوطيون وهم على ثلاثة أصناف : صنف ينظرون وصنف يصافحون وصنف يعملون ذلك العمل

وعن مجاهد أنه قال : لو أن الذي يعمل ذلك العمل ( يعني عمل قوم لوط ) اغتسل بكل قطرة نزلت من السماء وكل قطرة في باطن الأرض لم يزل نجسا حتى يتوب من ذنبه . وجاء رجل إلى مجلس الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله ومعه صبي حسن الوجهن جميل الصورة فقال له الإمام من هذا منك ؟ قال : أبن أختي قال له لا تجىء به هنا مرة ثانية ولا تمشي معه في الطريق لئلا يظن بك من لا يعرفك ويعرفه . وجخل سفيان الثوري رحمه الله الحمام العام فدخل عليه صبي حسن الوجه عاري الجسد فصرخ أغمض عينيه وقال : أخرجوه فإني أرى مع كل امرأة شيطانا وأرى مع كل صبي أرد بضعة عشر شيطانا . وذلك كله لأن ضرر هذه الفعلة الشنيعة من أخطر الأضارار على الرجال والنساء بل على الفرد والمجتمتع والإنسانية كلها فنسأل الله الحفظ والعصمة أنه سميع الدعاء

Ulama Madzhab Arba’ah (Hanafi, maliki, Syafi’I dan Hanbali) sepakat tentang keharamam sodomi bahkan keharamannya melebihi ketimbang perbuatan zina sekalipun dan termasuk dosa besar karena berdasarkan hadits-hadits yang mutawatir. Allah Subhaanahu wa ta’aala mengutuk perbuatan ini dengan firmanNya :

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (menjijikan) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf : 80 – 81)

Imam Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melihat lelaki yang ‘mendatangi’ lelaki dan perempuan yang ‘mendatangi’ perempuan dalam duburnya” (HR. an-Nasaa’i)

Sodomi merupakan perbuatan yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah Ta’aala, para malaikat dan semua manusia karena menjalaninya berarti melakukan perbuatan menyimpang yang tidak dapat di terima oleh akal sehat dan naluri yang lurus, menunjukkan pelakunya adalah mereka yang telah hilang rasa malunya, harga dirinya, bersedia melepas jiwa kesatriaannya dan menggantinya dengan perilaku binatang……

Karenanya demi menghindari perbuatan dosa ini para Ulama Islam sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari memandang PEMUDA AMROD terlebih bila ia sangatlah tampan, meski hanya sekedar memandang mereka menghukuminya haram namun sebagian ulama lain mensyaratkan keharaman memandang AMROOD tersebut bila di sertai unsur syahwat karena memandang AMROD memang bisa menjadi perantara perbuatan keji dan bisa membangkitkan syahwat yang terpendam. Hasan Bin Zakwaan berkata :

“Janganlah kalian duduk bersanding pemuda-pemuda pelantun lagu karena mereka memiliki wajah rupawan layaknya wajah perempuan dan fitnah (cobaan) yang ditimbulkan mereka lebih kuat ketimbang fitnah terhjadap wanita”.

Najib Bin Sayyidi berkata : “Jangnlah seseorang bermalam serumah bersama amrod”.

Ibnu Sahal berkata : “Akan datang di umat Muhammad shollallaahu ‘Alaihi wa sallam ini segolongan kaum yang di sebut “ALLUUTHIYYUUN (pengikut kaum Luth)”, mereka terbagi atas tiga kelompok : sekelompok hanya suka memandang, sekelompok saling berjabat tangan dan sekelompok yang lain melakukan penyimpangan seperti halnya kaum Luth (sodomi).

Imam Mujahid berkata : “Andai yang melakukan perbuatan tersebut (sodomi seperti kaum Nabi Luth As.) mandi dengan setiap tetes air yang turun dari langit dan setiap tetes air yang keluar dari bumi, kenajisan mereka tetap tak akan hilang selama ia belum bertaubat”.

Tersebutlah seorang lelaki yang sudah biasa mendengarkan pengajian di Majlis Ta’lim Imam Ahmad Bin Hanbalsuatu saat datang dengan membawa seorang pemuda tampan,

Imam Hanbal bertanya pada lelaki tersebut,

“Siapa pemuda tampan ini ?”

“Anak saudara perempuanku” Jawab lelaki tersebut

“Jangan kau bawa dia untuk kedua kalinya kesini” Larang Ahmad Bin Hanbal

“Dan jangan engkau membawanya berjalan bersamamu agar tidak menimbulkan sakwa sangka bagi orang yang tidak mengenalmu atau mengenalnya” Tambah Imam Ahmad Bin Hanbal .

Sufyan Atssauri memiliki kamar mandi umum yang biasa di buat buat mandi oleh orang-orang sekitarnya, suatu saat datang seorang anak tampan yang mandi dengan telanjang, Sufyan Atssauri berteriak sambil memejamkan mata,

“Keluarkan dia dari kamar mandi …..!!,

bersama wanita aku hanya melihat satu syetan tapi bersama setiap anak tampan aku dapat melihat lebih sepuluh syetan”

Semua keterangan di atas untuk menjaga diri dari bahayanya perbuatan menjijikkan yang bisa mengarah pada perbuatan sodomi, semoga Allah Ta’aala selalu menjaga kita dari semua perbuatan nista, Aamiin Yaa Robb. [ Al-fiqh ‘Alaa Madzaahib al-Arba’ah V/63-64 ].

وحكم اللواط وإتيان البهائم كحكم الزنا

ومن وطئ فيما دون الفرج عزر ولا يبلغ بالتعزير أدنى الحدود

Hukum Liwath/sodomi dan men’datangi’ binatang seperti hukumnya zina/haram. Dan barangsiapa siapa men’datangi’ pada anggauta selain farji (alat kelamin wanita) berhak di ta’zir. [ Matan Abi Sujaa’ I/206 ].

Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan :

أخبرنا قتيبة بن سعيد قال ثنا عبد العزيز وهو الدراوردي عن عمرو هو بن أبي عمرو عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعن الله من عمل عمل قوم لوط لعن الله من عمل عمل قوم لوط لعن الله من عمل عمل قوم لوط قال أبو عبد الرحمن عمرو ليس بالقوي تابعه خالد بن مخلد عن سليمان بن بلال عن عمرو

Rosululloh Sallallaahu ‘Alaihi wa sallam melaknat orang yang berbuat seperti kaum Luth dengan bersumpah sebanyak 3 kali. Rosululloh Sallallaahu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “La’anallohu man ‘amila amalan qoumi luth wa la’anallohu man ‘amila ‘amalan qoumi luth wa la’anallohu man ‘amila ‘amalan qoumi luth.” ( Alloh melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum luth dan Alloh melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum luth dan Alloh melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum luth). [ Sunan Kubro li An-Nasaai IV/322 ].

Coba perhatikan (kurang lebihnya) cacian Imam Nawawy terhadap pelaku sodomi berikut ini :

بل أقبح وأفظع من العجماوات فناهيك برذيلة تتعفف عنها الكلاب والحمر والخنازوير فكيف يليق فعلها ممن هو في صورة كبيرة أو غني أو عظيمن كلان بل هو اسف من قدره وأشأم من خبةه

انت من الجيفة القذرة وأحق بالشرور وأولى بالفضيحة من غيره وأهل للخزي والعار فإن القاتل والسارق والزاني لا يكون في نظر المجتمع مثل الائط بل يكونون أحسن منه حالا واشرف بالنسبة له لأنه خائن لعهد الله تعالى وما له من المانة فبعدا وسحقا وهلاكا في جهنم ورئس المصير

“Perbuatan sodomi itu lebih hina dan nista dari apapun, engkau memandang hina kelakuan anjing, keledai dan babi (maaf) maka bagaimana mungkin perbuatan itu layak dilakukan dari makhluk semulya manusia, engkau bangkai yang menjijikkan, lebih berhak mendapatkan aneka kejelekan dan celaan dari lainnya, berhak caian dan umpatan, sesungguhnya pencuri dan pezina sekalipun lebih baik keadaannya ketimbang tukang sodomi karena mereka adalah para pelaku yang menghianati janji Allah, sedang pelaku sodomi ? Apa yang dihasilkan dari sekitar pinggang ? Jauh amat, terjerumus sekali, rugi sekali (bila harus di tanggung) dalam neraka jahannam dan merasakan kepedihan dalam tempat kembali kelak”. [Alfiqh ‘Alaa Madzaahib al-Arba’ah V/63].

Onani Termasuk Dosa Besar Atau Kecil?

Dalam kajin fiqih madzhab Syafi’i onani termasuk dosa kecil. Tapi dosa kecil yang diulang² akan menjadi dosa besar. ( Nihayatuzzein hal 214, lihat redaksi ibaroh di daftar referensi). Tapi mari kita simak hadis berikut dalam kitab Hasyiyah Aljamal 5/128 :

حاشية الجمل ٥ ص ١٢٨

وَقَدْ رَوَى أَبُو جَعْفَرٍ الْفِرْيَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْبَجَلِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا «سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَيَقُولُ لَهُمْ اُدْخُلُوا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ وَالنَّاكِحُ يَدَهُ وَنَاكِحُ الْبَهِيمَةِ وَنَاكِحُ الْمَرْأَةِ فِي دُبُرِهَا وَالْجَامِعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَابْنَتِهَا وَالزَّانِي بِحَلِيلَةِ جَارِهِ وَالْمُؤْذِي جَارَهُ حَتَّى يَلْعَنَهُ اللَّهُ» اهـ

Makna; Benar² Abu Ja’far Al Firyaniy telah meriwayatkan dari Abdurrohman Al Bajaliy dari Ibnu ‘Umar hadis marfu’ : ” Tujuh orang yg Alloh Ta’ala tidak akan melihat (tidak akan merahmati) mereka di hari kiyamat dan Alloh Ta’ala tidak akan mensucikan mereka , dan mereka akan disiksa dg pedih dan dikatakan pada mereka : “masuklah kalian ke neraka bersama orang² yg masuk neraka yaitu:

  1. Pelaku liwath dan yg di liwath.

( Liwath adalah memasukkan dzakar ke anus laki² maupun anus perempuan).

  1. Orang yg kawin dg tangannya (termasuk onani baik dg tangan ataupun alat).
  2. Orang yg mengawini menyetubuhi hewan.
  3. Orang yg mengawini wanitanya di anusnya.
  4. Orang yg menikahi wanita dan anaknya (Atau menikahi ibunya juga menyetubuhi putrinya atau sebaliknya).
  5. Orang yg menzinai (menyelingkuhi) istri tetangganya.
  6. Orang yg menyakiti tetangganya sampai dilaknat oleh Alloh.

Demikian juga dalam kitab Syu’ubul-iman onani masuk ke dalam 7 golongan orang yang tidak dilihat oleh Alloh Ta’ala dengan penglihatan rohmat, dan tidak akan disucikan oleh Alloh Ta’ala dan akan diasingkan.

شعب الإيمان

٥٠٨٧ – أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذَبَارِيُّ، وَأَبُو عَبْدِ اللهِ الْحُسَيْنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ بُرْهَانَ الْغَزَّالُ، وَأَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ، وَأَبُو مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ السُّكَّرِيُّ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، ثنا عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ الْجَزَرِيُّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَا يَجْمَعُهُمْ مَعَ الْعَالَمِينَ، يُدْخِلُهُمُ النَّارَ أَوَّلَ [ص: ٣٣٠] الدَّاخِلِينَ إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، فَمَنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ النَّاكِحُ يَدَهُ، وَالْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ، وَالْمُدْمِنُ بِالْخَمْرِ، وَالضَّارِبُ أَبَوَيْهِ حَتَّى يَسْتَغِيثَا، وَالْمُؤْذِي جِيرَانَهُ حَتَّى يَلْعَنُوهُ، وَالنَّاكِحُ حَلِيلَةَ جَارِهِ ” ” تَفَرَّدَ بِهِ هَكَذَا مَسْلَمَةُ بْنُ جَعْفَرٍ هَذَا ” قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ

Makna Hadis; Dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ bersabda : ” Tujuh yg Alloh Azza wa Jalla tidak akan melihat pada mereka di hari kiyamat dan Alloh Ta’ala tidak akan mensucikan mereka dan Alloh Ta’ala tidak akan mengumpulkan mereka bersama orang² , Alloh Ta’ala akan memasukkan mereka ke Neraka dalam golongan awal orang² yang masuk neraka , kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat. Maka sesiapa saja yg bertaubat maka Alloh Ta’ala menerima taubat mereka.

Tujuh tersebut adalah:

  1. Orang yang menikahi tangannya (melampiaskan syahwat dg tangan, onani maupun dg alat).
  2. Pelaku liwath dan
  3. Orang yang di liwath.

( Liwath adalah memasukkan dzakar ke anus laki² maupun anus perempuan).

  1. Orang yang pemabuk dengan khomer.
  2. Orang yang memukul kedua orang tuanya sampai keduanya minta tolong.
  3. Orang yang menyakiti tetangganya sehingga tetangganya melaknatnya.
  4. Orang yang menikahi (menyelingkuhi) istri tetangganya.

Daftar referensi lainnya:

جامع الأحاديث

٣٣٩٣٧- عن الحارث عن على قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سبعة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم، يقال لهم: ادخلوا النار مع الداخلين، إلا أن تتوبوا، إلا أن يتوبوا، إلا أن يتوبوا:الفاعل، والمفعول به، والناكح يده، والناكح حليلة جاره، والكذاب الأشر، ومعسر المعسر، والضارب والديه حتى يستغيثا (ابن جرير وقال: لا يعرف عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إلا رواية على ولا يعرف له مخرج عن على إلا من هذا الوجه غير أن معانيه معانى قد وردت عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بها أخبار بألفاظ خلاف هذه الألفاظ [كنز العمال ٤٤٣٦٣]

نهاية الزين ، ص ٢١٤

وَتجب فِي جَمِيع هَذِه الْمُحرمَات الْفِدْيَة إِلَّا عقد النِّكَاح فَلَا فديَة فِيهِ لِأَنَّهُ لَا ينْعَقد فوجوده كَالْعدمِ وَلَا دم فِي النّظر بِشَهْوَة والقبلة بِحَائِل وَإِن أنزل بِخِلَاف مَا سوى ذَلِك من الْمُقدمَات فَإِن فِيهِ الدَّم إِن بَاشر عمدا بِشَهْوَة وَبِخِلَاف الاستمناء فَلَا تجب الْفِدْيَة إِلَّا إِذا أنزل وَكلهَا صغائر إِلَّا قتل الصَّيْد وَالْجِمَاع الْمُفْسد فَإِنَّهُمَا من الْكَبَائِر

أسنى المطالب

(ومن الصغائر) جمع صغيرة وهي كل ذنب ليس بكبيرة. (النظر المحرم – ومن ذلك القبلة للصائم التي تحرم شهوته والوصال في الصوم والاستمناء ومباشرة الأجنبية بغير جماع.

Wallohu A’lam.

HUKUM BERPARTAI DAN GAJIH DARI PARTAI YANG LAMA DAN BARU

Tahun ini di negara kita banyak bermunculan berbagai partai baru, sehingga situasi seperti ini telah dibuat kesempatan oleh sebagian warga yang berkedudukan di partai lama, ikut bekecimpung dalam partai baru.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukumnya kita berpartai ?.
  2. Bagaimana hukum mengambil gaji dari partai lama, padahal ia sudah berkecimpung dalam partai lain ?.
  3. Dan bagaimana hukumnya menerima gaji dari partai baru ?.

Jawaban a. :

Hukumnya Fardlu Kifayah, kalau memang :

  1. Berpartisipasi.
  2. Partainya bertujuan menegakkan agama Islam.
  3. Tidak menimbulkan perpecahan, sedangkan simpati pada partai tersebut hukumnya Fardlu ‘Ain.

Referensi :

1. Fatawa Syaikh Kisyik Juz.I Hal.141.

  1. Syarhul Jadid Li Jauharotit Tauhid Hal. 157.
  2. Imamatul ‘Udhma Hal. 158.
  3. Bughyatul Mustarsyidin Hal. 251.
  4. Wahdatul Ummah Al Islamiyyah Hal. 48 – 49.

1-وفى فتاوى الشيخ كشك للشيخ عبد الحميد كشك ما نصه :

موقف الإسلام من الأحزاب ليس رفضا مطلقا او اباحة مطلقة انما يتحدد الموقف من الأحزاب السياسية فى النظرة الإسلامية بالموقف الذى تفقه هذه الأحزاب ذاتها من مبادئ الإسلام السياسية والإقتصادية والإجتماعية وبصفة عامة مبادئ الإسلام المتعلقة بتنظيم الحياة العامة فى الدولة وقد سئل ابن تيمية عن موقف الإسلام من الأحزاب السياسية فأجاب بأن الأحزاب التى تدعو الى خير وحق ويؤدى وجودها الى تحقيق مصالح الناس تدخل فى نطاق قوله تعالى عن المؤمنين {أولئك حزب الله ألا ان حزب الله هم المفلحون} وان الأحزاب التى

تقوم على محاداة الله ورسوله تدخل فى وصف الله سبحانه وتعالى للضالين بأنهم {حزب الشياطين}.

2-وفى شرح الجديد لجوهرة التوحيد ما نصه :

المعنى أنه يجب وجوبا كفائيّا على جماعة المسلمين أن ينصبوا عليهم إماما يقوم بتنفيذ أحكامهم وإقامة حدودهم وسدِّ ثُغورهم . وتجهيز جيوشهم وأخذ صدقاتهم وقهر المتغلّبة والمتلصّصة وقطّاع الطريق واقامة الجمعة والاعياد وقطع المنازعات الواقعة بين العباد وقبول الشهادات القائمة على الحقوق وتزويج الصغار والصغائر الذين لا أولياء لهم وقسمة الغنائم اهـ.

3-وفى إمامة العظمى ما نصه :

قلنا الإمامة وسيلة الى إقامة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر بمفهومه الواسع – وهذا واجب على أفراد الأمة الإسلامية حيث انه لا يمكن به على وجه الأكمل إلا بعد تنصيب إمام للمسلمين يقودهم وينظمونهم طريق الوصول الى القيام بهذا الواجب اهـ.

4-وفى بغية المسترشدين للسيد عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر ما نصه :

{مسئلة ج} ونحوه أى الأمر بالعروف والنهي عن المنكر قطب الدين فمن قام به من أيّ المسلمين وجب على غيره إعانته ونصرته ولا يجوز لأحد التقاعد عن ذلك والتغافل عنه وإن علم أنه لا يفيد.

5-وفى وحدة الأمة الإسلامية للشيخ الدكتور زكريا عبد الرزاق المصري ما نصه :

وعند ما تغفل الأمة عن قضية الولاء فيما بينها يدب فيها الضعف والتفكك فيطمع فيها الأعداء على اختلاف أصنافهم ومذاهبهم وتياراتهم للإجهاز على هذه الأمة وتقطيع أوصالها وتحويلها الى خلايا حية فى أجساد أعدائها كما تتحول الأطعمة فى المائدة الى خلايا فى جسد المتحلقين عليها من الأكلين كما أخبر النبى صلى الله عليه وسلم  عن هذه الحقيقة الصارخة والماثلة امام أعيننا بكل وضوح نحس بها فى الليل وفى النهار فى السر وفى العلانية بقوله :

” يوشك أن تداعى عليكم الأمم كما تداعى الأكلة الى قصعتها قالوا : أمن قلة نحن يومئذ يا رسول الله ؟ قال : بل أنتم كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل – اى مفككون لا محبة ولا مناصرة فيما بينكم – ولينـزعن الله المهابة من صدور عدوكم منكم وليقذفن الله فى قلوبكم الوهن، قيل : وما الوهن يا رسول الله، قال : حب الدنيا وكراهية الموت “، وحب الدنيا يؤدى الى التنافس عليها مما يجر الى التباغض بين المتنافسين، وكراهية الموت يؤدى الى الجبن عن التناصر حبا فى السلامة، فيكون الضعف والهوان والذل وطمع العدو فيهم بسبب زوال هيبة المؤمنين من قلوب أعدائهم بتعدد ولائهم وتفكك أواصرهم وانفصال أجزاء جسدهم بعضها عن بعض فيتجرأ عليهم العدو كما تتجرأ القطط على سبع مقطع الأوصال لا رأس له ولا أطراف .

ومن هنا جاء النكير الشديد فى القرآن الكريم وفى السنة النبوية على الفرقة والنـزاع والخلاف المؤدى الى التناحر والتدابر والتكفي والإستنصار على المؤمنين بغير المؤمنين لما يؤدى اليه ذلك من هدم كيان الأمة وتطويعه للكفر وأهله .اهـ

*) Catatan :

    Membentuk pimpinan hukumnya Fardlu Kifayah, sedangkan di negara kita – Indonesia – partai adalah satu-satunya sarana untuk membentuk pimpinan sekaligus sebagai salah satu sarana Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang efektif terhadap pemerintah karena DPR sebagai kepanjangan tangan partai kedudukannya seimbang dengan pemerintah. Kesimpulan inilah yang dibuat acuan jawaban diatas وللوسائل حكم المقاصد  .

Jawaban b. :

  • Hukumnya HALAL, apabila gajinya dari pemerintah.
  • Dan HARAM, kalau memang gajinya dari donatur yang menyaratkan tidak berkecimpung pada partai lain.

Referensi : 1. Ihya’ ‘Ulumuddin Juz II  hal. 153.

  1. Bughyatul Mustarsyidin Hal. 273.
  2. Hamisy syarhirroudl Juz II Hal. 412.
  3. Al Majmu’ Juz III Hal. 127.

1-وفى إحياء علوم الدين للإمام الغزالى  ما نصه :

ولنفرض المال من الأموال المصالح كأربعة أخماس الفيء والموارث فإنما أداه مما قد تعين مستحقه إن كان من وقف أو صدقة أو خمس فيء أو خمس غنيمة وما كان من ملك السلطان مما أحياه أو اشتراه فله أن يؤتي ما شاء لمن شاء ، وانما النظر فى الأموال الضائعة وما للمصالح فلا يجوز صرفه إلا الى من فيه مصلحة عامة أو هو محتاج اليه عاجز عن الكسب فأما الغني الذى لا مصلحة فيه فلا يجوز صرف مال بيت المال اليه هذا هو الصحيح وإن كان العلماء قد اختلفوا فيه اهـ

2-وفى بغية المسترشدين للسيد عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر  ما نصه :

{مسئلة ى} أرزاق القضاة كغيرهم من القائمين بالمصالح العامة من بيت المال يعطى كل منهم قدر كفايته اللائقة من غير تبذير فإن لم يكن أو استولت عليه يد عادية ألزم بذلك مياسير المسلمين وهم من عنده زيادة على كفاية سنة .

3-وفى هامش شرح الروض ما نصه :

لو استأجر بالإمامة ولو لنافلة كالتراويح لم يصح (قوله لو استأجر إلى آخره) ظن بعضهم أن الجامكية على الإمامة والطلب ونحوهما من باب الإجارة حتى لا يستحق شيئا إذا أخل ببعض آياته أو الصلاة وليس كذلك بل هو من باب الإرصاد . والأرزاق المبني على الإحسان والمسامحة بخلاف الإجارة فإنها من باب المعاوضة ولهذا يمتنع أخذ الأجرى على القضاء ويجوز أرزاقه من بيت المال عن الإجتماع .

4-وفى المجموع على شرح المهذب للإمام زكريا محى الدين بن شرف النووى  ما نصه :

قال صاحب الذخائر : الفرق بين الرزق والأجرة أن الرزق أن يعطيه كفايته هو وعياله والأجرة ما يقع به التراضى .

Jawaban c :

dapat difaham pada jawaban B.

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN TULISAN LATIN BAGI YANG TIDAK BISA MEMBACA ARAB

Banyak beredar di masyarakat buku-buku Yasin Tahlil yang juga menggunakan tulisan latin. Dengan tujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu membaca tulisan Arab.

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya membaca Qur’an tapi dengan bantuan tulisan latin karena sudah tua dan hanya bisa baca tulisan latin?

Jawaban:

Al Qur’an tidak boleh ditulis dengan bahasa latin, karena huruf selain arab tidak bisa mewakili sepenuhnya dengan huruf-huruf arab sementara membaca al qur’an harus sesuai dengan bahsanya (Arab)

Catatan:

Bagi orang yang tidak mampu membaca tulisan Arab (Al Qur’an) KARENA SUDAH TUA DAN TIDAK BISA BELAJAR LAGI, sebaiknya mengikuti bacaan orang yang fashih bacaanya atau dengan cara diimami oleh orang yang bacaanya fasih.

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 1 / ص 37)

وَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِعُلُومِهِ هل تَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ بِالْعَجَمِيَّةِ كَقِرَاءَتِهِ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ قَضِيَّةُ ما في الْمَجْمُوعِ عن الْأَصْحَابِ التَّحْرِيمُ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ قال وَأَمَّا ما نُقِلَ عن سَلْمَانَ رضي اللَّهُ عنه أَنَّ قَوْمًا من الْفُرْسِ سَأَلُوهُ أَنْ يَكْتُبَ لهم شيئا من الْقُرْآنِ فَكَتَبَ لهم فَاتِحَةَ الْكِتَابِ بِالْفَارِسِيَّةِ فَأَجَابَ عنه أَصْحَابُنَا بِأَنَّهُ كَتَبَ تَفْسِيرَ الْفَاتِحَةِ لَا حَقِيقَتَهَا ا هـ

 فَهُوَ ظَاهِرٌ أو صَرِيحٌ في تَحْرِيمِ كِتَابَتِهَا بِالْعَجَمِيَّةِ فَإِنْ قُلْت كَلَامُ الْأَصْحَابِ إنَّمَا هو جَوَابٌ عن حُرْمَةِ قِرَاءَتِهَا بِالْعَجَمِيَّةِ الْمُتَرَتِّبَةِ على الْكِتَابَةِ بها فَلَا دَلِيلَ لَكُمْ فيه قُلْت بَلْ هو جَوَابٌ عن الْأَمْرَيْنِ وَزَعْمُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ بِالْعَجَمِيَّةِ مُتَرَتِّبَةٌ على الْكِتَابَةِ بها مَمْنُوعٌ بِإِطْلَاقِهِ فَقَدْ يُكْتَبُ بِالْعَجَمِيَّةِ وَيُقْرَأُ بِالْعَرَبِيَّةِ وَعَكْسُهُ فَلَا تَلَازُمَ بَيْنَهُمَا كما هو وَاضِحٌ وإذا لم يَكُنْ بَيْنَهُمَا تَلَازُمٌ كان الْجَوَابُ عَمَّا فَعَلَهُ سَلْمَانُ رضي اللَّهُ عنه في ذلك ظَاهِرًا فِيمَا قُلْنَاهُ على أَنَّ مِمَّا يُصَرَّحُ بِهِ أَيْضًا أَنَّ مَالِكًا رضي اللَّهُ عنه سُئِلَ هل يُكْتَبُ الْمُصْحَفُ على ما أَحْدَثَهُ الناس من الْهِجَاءِ فقال لَا إلَّا على الْكَتْبَةِ الْأُولَى أَيْ كَتْبَةِ الْإِمَامِ وهو الْمُصْحَفُ الْعُثْمَانِيُّ قال بَعْضُ أَئِمَّةِ الْقُرَّاءِ وَنَسَبْتُهُ إلَى مَالِكٍ لِأَنَّهُ الْمَسْئُولُ وَإِلَّا فَهُوَ مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ

 قال أبو عَمْرٍو وَلَا مُخَالِفَ له في ذلك من عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ وقال بَعْضُهُمْ وَاَلَّذِي ذَهَبَ إلَيْهِ مَالِكٌ هو الْحَقُّ إذْ فيه بَقَاءُ الْحَالَةِ الْأُولَى إلَى أَنْ يَتَعَلَّمَهَا الْآخَرُونَ وفي خِلَافِهَا تَجْهِيلُ آخِرِ الْأُمَّةِ أَوَّلَهُمْ وإذا وَقَعَ الْإِجْمَاعُ كما تَرَى على مَنْعِ ما أَحْدَثَ الناس الْيَوْمَ من مِثْلِ كِتَابَةِ الرِّبَا بِالْأَلْفِ مع أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِلَفْظِ الْهِجَاءِ فَمَنْعُ ما ليس من جِنْسِ الْهِجَاءِ أَوْلَى وَأَيْضًا فَفِي كِتَابَتِهِ بِالْعَجَمِيَّةِ تَصَرُّفٌ في اللَّفْظِ الْمُعْجِزِ الذي حَصَلَ التَّحَدِّي بِهِ بِمَا لم يَرِدْ بَلْ بِمَا يُوهِمُ عَدَمَ الْإِعْجَازِ بَلْ الرَّكَاكَةَ لِأَنَّ الْأَلْفَاظَ الْعَجَمِيَّةَ فيها تَقْدِيمُ الْمُضَافِ إلَيْهِ على الْمُضَافِ وَنَحْوُ ذلك مِمَّا يُخِلُّ بِالنَّظْمِ وَيُشَوِّشُ الْفَهْمَ

 وقد صَرَّحُوا بِأَنَّ التَّرْتِيبَ من مَنَاطِ الْإِعْجَازِ وهو ظَاهِرٌ في حُرْمَةِ تَقْدِيمِ آيَةٍ على آيَةٍ كِتَابَةً كما يَحْرُمُ ذلك قِرَاءَةً فَقَدْ صَرَّحُوا بِأَنَّ الْقِرَاءَةَ بِعَكْسِ السُّوَرِ مَكْرُوهَةٌ وَبِعَكْسِ الْآيَاتِ مُحَرَّمَةٌ وَفَرَّقُوا بِأَنَّ تَرْتِيبَ السُّوَرِ على النَّظْمِ الْمُصْحَفِيِّ مَظْنُونٌ وَتَرْتِيبُ الْآيَاتِ قَطْعِيٌّ

 وَزَعْمُ أَنَّ كِتَابَتَهُ بِالْعَجَمِيَّةِ فيها سُهُولَةٌ لِلتَّعْلِيمِ كَذِبٌ مُخَالِفٌ لِلْوَاقِعِ وَالْمُشَاهَدَةِ فَلَا يُلْتَفَتُ لِذَلِكَ على أَنَّهُ لو سَلِمَ صِدْقُهُ لم يَكُنْ مُبِيحًا لِإِخْرَاجِ أَلْفَاظِ الْقُرْآنِ عَمَّا كُتِبَتْ عليه وَأَجْمَعَ عليها السَّلَفُ وَالْخَلَفُ

شرح البهجة الوردية – (ج 2 / ص 85)

( فَرْعٌ ) يَجُوزُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْمَسِّ وَالْحَمْلِ دُونَ قِرَاءَتِهِ وَيَحْرُمُ جَعْلُ أَوْرَاقِهِ وِقَايَةً لِغَيْرِهِ نَعَمْ لَا يَحْرُمُ الْوِقَايَةُ بِوَرَقَةٍ مَكْتُوبٍ فِيهَا نَحْوُ الْبَسْمَلَةِ ق ل وَظَاهِرٌ أَنَّ مَحَلَّهُ إذَا لَمْ يَقْصِدْ امْتِهَانَهُ أَوْ أَنَّهُ يُصِيبُهَا الْوَسَخُ لَا مَا فِيهَا وَإِلَّا حَرُمَ بَلْ قَدْ يَكْفُرُ سم عَلَى التُّحْفَةِ .

ا هـ

TANGGUNG JAWAB SIAPA KALAU BARANG PESANAN RUSAK KETIKA DI KIRIM

Beberapa kali kita mendengar adanya musibah. Segala musibah sudah menjadi ketentuan Allah ﷻ. Manusia hanya bisa berencana, namun Allah ﷻ jua yang menjadi penentu akhirnya.

Dalam setiap musibah, selalu ada saja korban. Tidak hanya nyawa, namun harta benda juga terpaksa melayang. Akibat gempa bumi, banyak bangunan rusak berat, termasuk gudang tempat penyimpanan barang dagangan ikut hancur sehingga barang-barang dagangan pun menjadi ikut hancur karenanya.

Pada musibah lain seperti kapal tenggelam, terkadang banyak melibatkan barang dagangan milik pedagang dari pulau seberang juga ikut raib karenanya. Tidak hanya puluhan juta, bahkan kadang mencapai ratusan juta hilang melayang. Itulah takdir Allah ﷻ. Sekali lagi, semua musibah ini mengingatkan kita akan sifat lemah seorang hamba di hadapan kemahakuasaan-Nya.

Yang sering menyisakan persoalan, adalah apabila terjadi musibah kapal tenggelam yang melibatkan raibnya harta pedagang sebelum sampai diterima oleh pemesan adalah siapakah sejatinya yang memiliki tanggung jawab/kewajiban untuk mengganti barang tersebut? Apakah pihak pemesan barang, ataukah pihak pedagang? Inilah yang akan menjadi fokus kajian fiqih muamalah kita kali ini. Tujuan kajian ini hanyalah berusaha mendudukkan fiqih sebagai wasit yang menengahi antara pedagang dan pembeli.

Sebelum kita mengupas mengenai hukum barang yang ikut raib dalam suatu musibah, terlebih dahulu kita perlu memerinci cara-cara pembeli dalam memesan barang. Setidaknya ada beberapa cara yang biasa dilakukan oleh pembeli dewasa ini dalam memesan barang, yaitu:

  1. Pemesanan via telepon langsung ke pihak pedagang supplier. Pemesanan via ini tidak syak lagi adalah dilakukan dengan jalan akad salam. Pemesan hanya menunjukkan daftar barang yang dipesan, selanjutnya meminta agar pihak supplier mengirimkan barang dagangan lewat jasa layanan transportasi/ekspedisi yang diinformasikan oleh pedagang pembeli.
  2. Pemesanan via telepon melalui wakil untuk diteruskan via pedagang supplier. Pemesanan via ini biasanya masuk kelompok akad wakalah. Pemesan melalui wakilnya mendatangi pedagang supplier dan menyerahkan daftar harga, kemudian barang diterima oleh wakil untuk dikirimkan via ekspedisi yang ditunjuk oleh pedagang pemesan.
  3. Pemesanan via telepon melalui makelar. Pemesanan via ini biasanya masuk kelompok akad samsarah. Pemesan biasanya meminta kepada seorang makelar untuk mencarikan barang sebagaimana daftar yang dibutuhkan, yang selanjutnya pihak makelar menentukan harga masing-masing barang tersebut.

Berdasarkan tipologi cara pemesanan pedagang pembeli ke pedagang supplier ini, maka selanjutnya kita bisa memilah hukum dari masing-masing tipologi pemesanan terhadap status barang yang dibeli. Sebelum lebih jauh melangkah ke hukum, ada sebuah kaidah dasar dalam ilmu fiqih, sebagaimana disampaikan Syekh Zainuddin al-Malaibary dalam kitabnya Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrati al-‘Ain berikut ini:

المبيع قبل قبضه من ضمان البائع

Artinya: “Barang dagangan sebelum diterima oleh pembeli adalah jaminan penjual.” (Zainuddin al-Malaibary, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrati al-‘Ain, Surabaya: Al-Hidayah, tt., 70).

Berdasarkan kaidah ini, status barang yang masih dalam proses pengiriman, pada dasarnya adalah merupakan tanggung jawab pedagang supplier. Alasan sederhananya adalah karena barang tersebut belum sampai ke tangan pedagang pembeli, sehingga statusnya masih merupakan milik pedagang supplier. Jika suatu ketika terdapat kerusakan yang terjadi pada barang dagangan akibat cacat atau rusak karena pengiriman, maka cacat dan kerusakan itu adalah tanggung jawab dari pedagang supplier. Dan bila pedagang supplier tidak menjamin atas barang tersebut, maka akad jual beli otomatis menjadi fasakh (rusak) sehingga pedagang supplier wajib mengembalikan harganya kepada pembeli. Hal ini berdasar kelanjutan dari Syekh Zainuddin al-Malaibary di atas sebagai berikut:

بمعنى انفساخ البيع بتلفه أو إتلاف بائع وثبوت الخيار بتعيبه أو تعييب بائع أو أجنبي وبإتلاف أجنبي فلو تلف بآفة أو أتلفه البائع: انفسخ البيع

Artinya: “[Barang dagangan yang belum diterima pembeli termasuk jaminan pedagang supplier], maknanya adalah rusaknya akad jual beli adalah sebab rusaknya barang dagangan atau rusak oleh pedagang supplier sendiri. Tetapnya khiyar (mengembalikan barang) adalah (bergantung) pada sebab kecacatan barang, atau kecacatan yang disebabkan pedagang atau cacat akibat keteledoran orang lain atau bahkan cacat akibat dirusak orang lain. Oleh karena itu, bila barang rusak akibat suatu bencana atau rusak akibat keteledoran pedagang sendiri, maka rusaklah akad jual beli.” (Zainuddin al-Malaibary, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrati al-‘Ain, Surabaya: Al-Hidayah, tt., 70).

Ibarat terakhir ini secara tegas menetapkan bahwa barang dagangan yang belum sampai ke pembeli dan rusak akibat adanya bencana (âfât), adalah merupakan bagian dari jaminan pedagang supplier sehingga pihak pedagang pembeli bisa mengajukan khiyar batalnya akad jual beli dan meminta kembali harga yang sudah diserahkan.

Bagaimana bila barang tersebut dibebankan kepada pedagang pembeli? Abu Ishaq Al-Syairazy dalam Al-Tanbīh fi al-Fiqhi al Imâm al-Syâfi’iy menjawabnya sebagai berikut:

لا يدخل المبيع في ضمان المشتري الا بالقبض ولا يستقر ملكه عليه الا بالقبض فان هلك قبل القبض انفسخ البيع

Artinya: “Barang dagangan tidak bisa masuk dalam jaminan pembeli kecuali lewat penerimaan. Status kepemilikan barang belum bisa ditetapkan padanya kecuali lewat penerimaan. Dan jika terjadi kerusakan sebelum penerimaan pembeli, maka rusak akad jual belinya.” (Abu Ishaq al-Syairazy, al-Tanbih fi al-Fiqhi al-Imâm al-Syâfi’iy, Beirut: Daru al-Kutub al-Ilmiyah, tt.: 1/87)

Berdasarkan keterangan ini, maka tetap sudah bahwa barang yang belum diterima oleh pedagang pembeli, adalah tidak bisa dibebankan kepada pedagang pembeli tersebut. Sepenuhnya barang yang masih ada dalam proses ekspedisi atau pengiriman adalah tanggung jawab supplier itu sendiri.

Apakah tanggung jawab pedagang supplier ini berlaku untuk ketiga jenis tipologi pemesanan barang sebagaimana sudah diungkapkan di atas?

Sebagaimana diketahui bahwa tipologi pemesanan barang yang pertama adalah dengan akad salam. Pada akad salam, transaksi jual beli terjadi secara langsung antara pedagang dan pembeli tanpa adanya pihak yang memperantarai. Penerimaan barang disampaikan via jasa ekspedisi pengiriman yang bisa dipilih dan disepakati bersama oleh pedagang ataupun pembelinya. Sifat kepemilikan barang oleh pembeli pemesan, adalah ditetapkan manakala barang tersebut telah sampai ke tangannya. Dengan demikian, selama dalam perjalanan itu, maka barang adalah masih status kepemilikan pedagang supplier, sehingga bila terjadi bencana di tengah pengiriman, maka pedagang supplier-lah yang menjadi penjamin barang tersebut.

Hal ini berbeda manakala pihak pedagang pembeli menyuruh orang sebagai wakilnya untuk membelikan barang. Bilamana hal ini terjadi, maka ketika wakil menerima barang, maka saat itu status kepemilikan barang sudah menjadi milik pihak yang mewakilkan yang diterima lewat tangan wakil. Bila terjadi kerusakan atau bencana dalam masa pengiriman oleh wakil, maka pihak pedagang pembeli sendirilah yang bertanggung jawab atas barang miliknya. Dengan demikian, pihak pedagang supplier bisa lepas tangan terhadap kerusakan barang.

Berbeda manakala pihak pedagang pembeli meminta bantuan makelar (samsarah). Karena pihak samsarah berperan mengambil harga baru terhadap barang dagangan yang dipesan oleh pembeli, maka bila terjadi kerusakan atau bencana dalam pengiriman barang sehingga barang tidak sampai kepada pembeli, pihak makelar-lah yang bertanggung jawab atas jaminan barang tersebut. Hal ini disebabkan kedudukan makelar tidak bisa disamakan dengan wakil. Status wakil adalah sama dengan muwakkil (orang yang mewakilkan). Ia digaji oleh orang yang mengangkatnya sebagai wakil dan hanya bertugas mewakilinya dalam akad transaksi. Sementara pihak samsarah seolah berperan sebagai pedagang baru yang menengahi antara supplier dengan pihak pedagang pembeli.

Wallahhu a’lam bish shawab.

HIKMAH PENCIPTAAN SYAITAN DAN CARA MENGHADAPI TIPUDAYANYA

Hikmah Diciptakannya Setan

Tiada Allah menciptakan sesuatu dengan manfaat dan tujuannya. Begitupun dengan penciptaan setan. Mungkin sebagian orang menganggap setan tiada guna, hanya karena setan selalu menjerumuskan anak Adam ke jalan yang kurang baik. Yang perlu diketahui adalah bahwa setan yang tidak pernah lepas dari manusia, sebab dia yang paling bersemangat menghancurkan orang yang taat kepada Allah.

Sebab itulah Ibnu Athaillah As Sakandari menuliskan petuah bijaknya dalam kitab “Al Hikam” sebagai berikut:

جعله لك عدوا ليوحشك به إليه وحرك عليك النفس ليدوم إقبالك عليه

“Allah menjadikan setan sebagai musuhmu agar kau benci kepadanya dan berlindung kepada-Nya. Dia juga tetap menggerakkan nafsumu supaya kau selalu menghadap kepada-Nya”

Dalam kitab tersebut disebutkan juga jika setan memang musuh yang nyata bagi segenap manusia. Namun yang seperti itu dimaksudkan agar kau benci kepadanya, dan selalu memohon perlindungan kepada Allah semata. Manusia sadar jika ia tidak akan mampu menghadapi setan sendirian, karena itu ia terdorong untuk meminta bantuan kepada sang Maha Kuat dan Maha Perkasa.

Permusuhan itulah yang mengembalikan manusia kepada Allah. manusia menjadi lebih dekat dan selalu bergantung hanya kepada Allah. inilah tujuan utama diciptakannya setan sebagai musuh manusia. Namun gambaran di atas tidak berlaku kepada manusia yang sudah mengarahkan tekadnya kepada yang Maha Haq, karena manusia yang masuk golongan ini sudah terbiasa menggantungkan dirinya kepada Allah. tidak lagi butuh ‘musuh’ untuk menjadikannya kembali kepada Allah. sebagaimana tersurat dalam QS An Nahl ayat 99:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”

Allah juga menggerakkan nafsu setiap manusia agar selalu menghadap kepada-Nya. Manusia tidak akan mampu melawan hawa nafsunya dan mengekang gelora yang sudah menyatu dengan darah dagingnya kecuali berlindung kepada Dzat yang lebih kuat darimu, yaitu Allah.

Alhasil, rupanya setan diciptakan untuk mendekatkan manusia kapada Allah, bukan menjauhkann dari-Nya. Kita yang mengerti bahwa setan adalah musuh yang nyata dalam kehidupan, karena itu mari kita mohon perlindungan kepada Allah semaksimal mungkin, sebab kita tidak akan bisa menghadapi setan sendirian. Kita butuh Allah untuk mengalahkannya. Ternyata setan menjadikan manusia lebih dekat pada-Nya.

Strategi Setan agar Manusia Enggan Bersedekah

Jalan kehidupan manusia di dunia ini tak semulus yang kita bayangkan, semuanya butuh perjuangan yang nyata, maupun kasat mata. Meski begitu kita tetap dianjurkan bersedekah dan saling menolong sesama, akan tetapi setan selalu mencari cara untuk menyengsarakan manusia dengan berbagai strateginya hingga menyurutkan niat bersedekah.

Salah satu Sahabat Nabi yang bernama Ibnu Abbas pernah berkata, ada dua hal dari pengaruh setan agar kita enggan bersedekah, kemudian beliau membaca Surat Al Baqarah,  Ayat 268:

(الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)

Artinya: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Menurut Imam Thobari dalam Tafsirnya, beliau menjelaskan bahwa setan memberi janji kepada manusia bahwa orang yang menyedekahkan hartanya ia akan menjadi fakir miskin, serta setan selalu membisikkan kepada manusia dengan segala cara agar manusia melakukan maksiat, atau kejahatan yang dilarang oleh Allah.

Sementara itu, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kita

untuk selalu taat kepada Allah dan menyedekahkan sebagian hartanya supaya mendapatkan ampunan dan anugerah dari Allah.

Maka dari itu, kita seharusnya lebih hati-hati dengan memperbanyak ilmu agama agar terhindar dari pengaruh setan, sehingga kita menjadi manusia yang diampuni oleh Allah, serta mulia dalam kehidupan ini.

 

Setan Selalu Mengintai, Ini Nasihat Ibn ‘Athaillah untuk Menghadapinya

Selama nafas msih berhembus, setan akan selalu mengintai manusia dengan berbagai cara. Setan membisiki manusia untuk melanggar batas ketentuan Allah. tidak ada kata malas bagi setan untuk mendorong manusia dalam keburukan. Sebab itulah manusia harus selalu waspada dan berhati-hati. Seringkali bisikan yang dikira berasal dari hati yang terdalah adalah bisikan setan untuk menjerumuskan.

Ibn Atha’illah berpesan menuliskan sebuah nasehat dalam kitabnya “Al hikam” sebagai berikut:

إذا علمت أن الشيطان لا يغفل عنك فلا تغفل أنت عمن ناصيتك بيده

“ Jika kau mengetahui bahwa setan tidak pernah lalai lupa kepadamu, maka jangan kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu”

Nasehat beliau mengingatkan bahwa setan memang tidak pernah bosan menyesatkan, menggoda, dan menjerumuskan manusia. Sebab itu pula, manusia jangan pernah lengah untuk memohon perlindungan kepada Dzat yang Maha Kuasa. Dijelaskan dalam Alquran jika setan telah berjanji untuk terus menggoda manusia. Difirmankan oleh Allah dalam QS: Al A’raf [7]: 17,

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

”Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”

            Dalam kita “Al Hikam” juga diceritakan bahwa dalam satu riwayat disebutkan bahwa setiap manusia memiliki setan yang menaruh belalainay di hati mausia. Jika manusai lupa berdzikir kepada Allah, maka setan akan membisikkannya. Sebaliknya jika manusia berdzikir, setan akan mundur dan menutup diri. Sebab itu jangan lupa kepada Dzat yang menentukan nasib setiap manusia, yaitu Allah. Dalam QS: Al Mu’minun [23]: 97 tersurat sebagai berikut,

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan.”

Sedahsyat apapun setan menginatai, yakinlah bahwa perlindungan Allah jauh lebih kuat dari semua tipu daya setan. Karena itu, yuk kita lebih sering-sering lagi berdzikir kepada Allah agar setannya mundur dan menutup diri.

BAGAIMANA KALAU HANYA NUMPANG KENCING DI TOILET MASJID

Hanya Numpang Buang Air Kecil Di Toilet Masjid ] Tempat wudlu atau WC masjid pada awalnya disiapkan untuk kepentingan dan kemaslahatan masjid. Tempat wudlu dan WC ini disiapkan untuk mempermudah para jamaah dalam mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah. Namun, pada akhirnya, air tempat wudlu dan WC tersebut, malah menjadi sarana umum dan tidak hanya digunakan oleh orang-orang yang hendak melakukan ibadah. Para pengunjung pasar atau para musafir misalnya, lebih memilih untuk kencing atau buang hajat di WC masjid, selain karena gratis, juga karena mudah dijangkau.

Pertanyaan :
Bolehkah kencing atau buang hajat di WC masjid, sekalipun tidak melakukan ibadah?

Jawaban :
Biaya operasional dan perawatan WC dan bak air masjid tentu saja diambil dari harta masjid. Penggunaan (tasharuf) harta masjid adalah untuk imarah dan maslahah masjid. Imarah ialah hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan, renovasi dan perawatan bangunan masjid. Menurut sebagian ulama, imarah ialah shalat dan bentuk ibadah yang lain, sesuai dengan firman Allah:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“di masjid-masjid yang Telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”. (QS. An-Nur: 36)

Sedangkan maslahah ialah hal-hal yang berkaitan kebutuhan sarana dan prasarana ibadah, seperti kebutuhan air, penerangan, bahkan untuk konsumsi bagi para jamaah[1].

Hukum hanya sekadar kencing atau buang hajat di WC masjid adalah tidak boleh dan haram. Hal ini disebabkan karena adanya penggunaan harta masjid untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan imarah dan maslahah masjid. Alasan kedua, karena tujuan dibangunnya WC dan jeding masjid adalah untuk keperluan ibadah.

Namun, jika fasilitas WC dan bak air masjid tidak dibangun dari harta masjid, keberadaan air dan biaya perawatan juga tidak diambil dari harta masjid, dan ada qarinah (petunjuk) bahwa fasilitas tersebut untuk keperluan umum, maka sekadar kencing, buang hajat atau pemanfaatan yang lain diperbolehkan hukumnya[2].

Untuk menghindari keharaman dalam kasus di atas, hendaknya melakukan ibadah meskipun hanya sekadar berwudlu, atau mengganti ongkos pemanfaatan WC atau baik air masjid dengan minimalujrah mitsl (ongkos standar)[3]. Wallahu A’lam.

[1] Hasyiah Al-Qalyuby, 3/108, Rawa’i’ al-Bayan, 1/573, Bughyatul Mustarsyidin, 65
[2] Ianatut Thalibin, 1/69
[3] Hawasyi As-Syarwani, 6/258

Bila air toilet masjid tsb memang untuk dimanfa’atkan secara umum atau ada tanda-tanda untuk dimanfa’atkan secara umum maka numpang kencing tsb tidak harus bayar, namun bila air tsb memang dikhususkan untuk berwudlu’ atau mandi baik wudlu’ atau mandi sunah atau wajib maka numpang kencing ditoilet masjid tsb hukumnya haram. Referensi :

والجرار التي عند المساجد فيها الماء إذا لم يعلم أنها موقوفة للشرب أو للموضوء أو الغسل الواجب أو المسنون أو غسل النجاسة فأجاب أنه إذا دلت قرينة على أن الماء موضوع لتعميم الانتفاع جاز جميع ما ذكر من الشرب وغسل النجاسة وغسل الجنابة وغيرها ومثال القرينة جريان الناس على تعميم الانتفاع بالماء من غير نكير من فقيه وغيره إذ الظاهر من عدم النكير أنهم أقدموا على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب ووضوء وغسل نجاسة فمثل هذا إيقاع يقال بالجواز وقال إن فتوى العلامة عبد الله بامخرمة يوافق ما ذكره . إعانة الطالبين: 1/69

قوله يحرم التطهر بالمسبل للشرب أي أو بالماء المغصوب ومع الحرمة يصح الوضوء (قوله وكذا بماء جهل حاله) اي وكذلك حرم التطهر بماء لم يدر هل هو مسبل عن الشرب أو للتطهر.وسيذكر الشارح في باب الوقف أنه حيث أجمل الواقف شرطه اتبع فيه العرف المطرد في زمنه لانه بمنزلة شرط الواقف قال ومن ثم امتنع في السقايات المسبلة غير الشرب ونقل الماء منها ولو للشرب ثم قال وسئل العلامة الطنبداوي عن الجوابي والجرار التي عند المساجد فيها الماء إذا لم يعلم أنها موقوفة للشرب أو للموضوء أو الغسل الواجب أو المسنون أو غسل النجاسة فأجاب أنه إذا دلت قرينة على أن الماء موضوع لتعميم الانتفاع جاز جميع ما ذكر من الشرب وغسل النجاسة وغسل الجنابة وغيرها ومثال القرينة جريان الناس على تعميم الانتفاع بالماء من غير نكير من فقيه وغيره إذ الظاهر من عدم النكير أنهم أقدموا على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب ووضوء وغسل نجاسة فمثل هذا إيقاع يقال بالجواز وقال إن فتوى العلامة عبد الله بامخرمة يوافق ما ذكره. إعانة الطالبين : 1/69

Wallohu a’lam

KHUTBAH JUM’AT : JANGANLAH MEMANGGIL SESAMA MUSLIM CEBONG DAN KAMPRET

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلْآِمِر بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّاهِىْ عَنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِيْ وَالْمُنْكَرَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ﷺ صَاحِبِ الْأَنْوَارِ وَالْمُعْجِزَاتْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ في أَحْوَالِ الْجَلِيَّاتِ وَالْخَلْوَاتْ. أما بعد

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى في كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Hadirin jamaah jumah hafidhâkumullâh,

Dalam kesempatan Jumat kali ini, kami berwasiat kepada pribadi kami sendiri dan para hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ seraya menunaikan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan kita tersebut, kita semakin dekat kepada Allah, selalu mendapatkan naungan ridha Allah subhânahû wa ta’âlâ, amin.

Ma’asyiral hâdlirin, jamaah Jumat hafidhâkumullâh,

Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang tinggal sebentar lagi ini masih diwarnai dengan ekspresi kebencian oleh antar-pendukung calon pemimpin. Satu pihak memanggil orang yang berlainan dukungan dengan “kecebong” yang berarti jenis amfibia yang masih dalam bentuk larva. Sedang pihak lain lagi memanggil lawannya dengan panggilan “kampret”. Kampret dalam bahasa Jawa mempunyai arti anak kelelawar.

Bagaimana fiqih memandang hal demikian?

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah al-Muhadzab menyebutkan panggilan-panggilan kepada orang lain dengan panggilan yang buruk seperti memanggil dengan nama hewan anjing, keledai, bisa mengakibatkan pelakunya mendapatkan ta’zir atau hukuman dari pemerintah. Hal ini menunjukkan, pemanggilan tidak baik kepada orang lain merupakan sikap yang dilarang agama.

وَمِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُوْجِبَةِ لِلتَّعْزِيْرِ قَوْلُهُ لِغَيْرِهِ يَا فَاسِقُ يَا كَافِرُ يَا فَاجِرُ يَا شَقِيُّ يَا كَلْبُ يَا حِمَارُ يَا تَيْسُ يَا رَافِضِيُّ يَا خَبِيْثُ يَا كَذَّابُ يَاخَائِنُ يَا قِرْنَانُ يَا قَوَادُ يَا دَيُّوْثُ يَا عَلقُ.

Artinya: “Di antara kata-kata yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan hukuman ta’zir adalah ketika ada satu orang memanggil orang lain dengan panggilan ‘Hai kafir, hai orang yang durhaka, hai orang yang celaka, hai anjing, hai keledai, hai kambing jantan, hai orang syi’ah râfidlah, hai orang jelek, hai penipu, hai orang yang berkhianat, hai orang yang mempunyai dua tanduk, hai orang yang tidak mempunyai gairah sama keluarganya dan hai segumpal darah.” (An-Nawawi, Syarah al-Majmu’, [Dârul Fikr], juz 20, halaman 125).

Dengan demikian, jika ada yang memanggil orang lain dengan panggilan nama hewan seperti anjing, keledai dan kambing hitam berhak dihukum pemerintah, maka begitu pula jika ada yang memanggil orang lain dengan sebutan kecebong atau pun kampret, masing-masing adalah nama hewan, bukan nama manusia sebenarnya. Pelakunya bisa dita’zir.

Ta’zir adalah sebuah hukuman dari syari’at yang tidak diatur aturan bakunya dalam agama. Tidak seperti had dan qishas. Keduanya mempunyai aturan-aturan teknis yang mengatur.

وَرُوِيَ: أَنَّ عَلِيّاً سُئِلَ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ لِلرَّجُلِ: يَا فَاسِقُ، يَا خَبِيْثُ

“Diriwayatkan, sesungguhnya Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang perkataan seorang laki-laki yang memanggil laki-laki lain dengan panggilan ‘hai fasiq, orang yang buruk’.”

فَقَالَ: هُنَّ فَوَاحِشُ، فِيْهِنَّ تَعزِيْرٌ، وَلَيْسَ فِيْهِنَّ حَدٌّ

“Ali menjawab, ‘Kalimat-kalimat itu adalah perkataan sangat kotor. Yang menyampaikan kalimat demikian berhak mendapatkan ta’zir, tidak had’.”

إِذَا ثَبَتَ هَذَا: فَإِنَّ التَّعزِيْرَ غَيْرُ مُقَدَّرٍ، بَلْ إِنْ رَأَى الْإِمَامُ أَنْ يَحْبِسَهُ.. حَبِسَهُ. وَإِنْ رَأَى أَنْ يَجْلِدَهُ.. جَلَدَهُ. وَلَا يَبْلُغُ بِهِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ؛

“Kalau begitu, ta’zir adalah hukuman yang tidak diukur oleh syara’. Seumpama pemerintah memandang perlu memenjarakan, boleh. Seumpama kebijakan pemerintah adalah dengan dicambuk pelakunya, juga boleh. Yang penting tidak sampai batas minimal had.”

فَإِنْ كَانَ حُرًّا.. لَمْ يَبْلُغْ بِهِ أَرْبَعِيْنَ جَلْدَةً، بَلْ يَنْقُصُ مِنْهَا وَلَوْ جَلْدَةً. وَإِنْ كَانَ عَبْدًا.. لَمْ يَبْلُغْ بِهِ عِشْرِيْنَ جَلْدَةً. وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدْ

Kalau pelakunya merdeka, ia boleh dicambuk namun tidak sampai 40 cambukan, boleh kurang walaupun hanya kurang satu saja. Apabila hamba sahaya, tidak boleh sampai 20 cambukan. Demikian dikatakan oleh Abu Hanifah dan Muhammad bin Idris.” (Yahya bin Abil Khair bin Salim al-Umrani, Al-Bayân, [Dârul Minhâj, Jedah, 2000), juz 12, halaman 533)

Nama merupakan doa. Rasulullah ﷺ lebih suka memberikan nama dengan kata yang mengandung harapan-harapan baik. Karena Rasulullah Muhammad adalah orang baik, nama-nama yang diberikan pun selalu baik. Beliau tidak pernah membuat nama yang mempunyai akar kata buruk atau sial. Sebagaimana dahulu Rasul mengganti nama Burrah menjadi Zainab. Burrah adalah lubangan hidung unta bagian samping. Karena dirasa kurang baik, Rasul pun akhirnya menggantinya. Banyak kisah-kisah demikian dari Rasulullah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar, diceritakan bahwa dahulu nama putri dari Sayyidina Umar adalah ‘Âshiyah yang mempunyai arti wanita durhaka. Oleh Baginda Nabi kemudian diganti menjadi Jamîlah yang mempunyai arti wanita cantik. (Lihat: Tarbiyatul Awlâd, juz 1, halaman 78).

Dalam kitab Al-Muwatha’ susunan Imam Malik diceritakan dari Yahya bin Sa’id. Suatu ketika Umar bin Khattab bertanya pada seorang laki-laki.

“Siapa namamu?” tanya Sayyidina Umar

“Jamrah,” jawab laki-laki itu. Jamrah mempunyai arti bara api.

Umar melanjutkan pertanyaan kedua, “Siapa nama ayahmu?”

“Syihab (artinya nyala api).”

“Dari mana kamu?”

“Dari huruqah (artinya panas).”

“Lha kamu tinggalnya di mana?”

“Di hurratun nâr  (artinya panasnya bara api).”

“Daerah mana itu?”

“Dzi Ladhâ (artinya api yang menyala-nyala).”

Mendengar jawaban yang bertubi-tubi dari pria tersebut dengan segala namanya yang berkonotasi pada api dan membara, Sayyidina Umar kemudian berpesan pada pria itu.

“Kasih tahu wargamu. Mereka semua akan binasa dan kebakaran!”

Dan benar apa yang dikatakan Umar. Mereka binasa dan terkena kebakaran. (Lihat: Malik bin Anas, Syarah al-Muwatha’lil Abdil Karim Khadlir, Bab Mâ yukrahu minal Asmâ’)

Ma’asyiral hâdlirin, jamaah Jumat hafidhâkumullâh,

Panggilan cebong kampret jelas bukan panggilan pujian. Panggilan tersebut berkonotasi ejekan. Kita dilarang Allah sebagaiamana dalam Al-Quran untuk tidak saling mengejek kepada orang lain. Barangkali orang yang kita ejek itu lebih mulia di mata Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kita harus menghindari.

Buktikan kalua kita itu orang baik, hanya akan melakukan hal yang baik. Jika ada orang menghina kita, itu urusan mereka. Tugas kita sebagai orang baik hanya dengan membalas dengan kebaikan. Karena kita hanya mempunyai stok kebaikan dalam tubuh kita.

Kita tidak mempunyai stok perilaku buruk. Ibarat teko, tidak akan menuangkan isi yang tidak ada di dalamnya. Kalau dalamnya kopi, akan tertuang darinya kopi. Kalau isinya teh, akan keluar teh. Apabila kita ingin meniru Rasulullah yang baik, seharusnya kita menunjukkan isi pribadi kita, otak kita hanya berisi hal baik. Kita tidak perlu memanggil lawan politik dengan cebong kampret. Ini bukan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah suka memberi nama kunyah yang baik-baik, bukan memberika laqab yang buruk. Dalam Al-Qur’an dikatakan:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasiq) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS Al Hujurât: 11)

Kalau kita kemarin sudah terlanjur memanggil cebong kampret, sunnahnya kita menggantinya dengan yang baik.

وَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ سُمِيَ أَوْ لُقِبَ باِسْمٍ قَبِيْحٍ أَنْ يُبَدِّلَهْ

Artinya: “Disunnahkan bagi orang yang dikasih nama atau diberi panggilan yang buruk, untuk diganti dengan yang lain.” (Muhammad bin Ahmad Asy-Syâthiri, Syarah al-Yâqût an-Nafîs, [Dârul Hâwi], juz 3, halaman 387)

Hadirin,

Semoga kita senantiasa diberi pertolongan oleh Allah untuk bisa berbuat baik kepada sesama, tanpa menyakiti siapapun di muka bumi ini. Semoga kita bisa meniru akhlak Rasulullah ﷺ, bisa membahagiakan hati Rasulullah ﷺ. Semoga kita kelak mendapatkan syafa’at Rasulullah ﷺ, amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَاَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنْ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُركُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

INILAH MUSAFIR YANG BEBAS DARI SHALAT JUM’AT

Pada dasarnya shalat jum’at hukumnya adalah wajib bagi setaip muslim laki-laki. Hal ini berdasar pada firman Allah swt dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Demikianlah shalat jum’at menjadi salah satu momentum pertemuan antara umat muslim dalam sebuah komunitas tertentu. Diharapkan pertemuan fisik ini dapat menambah kwalitas ketaqwaan dan keimanan umat muslim. Karena itulah shalat jum’at didahului dengan khutbah yang berisi berbagai mauidhah. Di samping itu secara sosiologis sholat jum’at hendaknya menjadi satu media syi’ar Islam yang menunjukkan betapa besar dan kuwat persatuan umat.

Adapun syarat-syarat shalat jum’at seperti yang tertulis dalam kitab Matnul Ghayah wat Taqrib karya Imam Abu Suja’

وشرائط وجوب الجمعة سبعة أشياء : الاسلام والبلوغ والعقل والحرية والذكورية والصحة والاستيطان

Syarat wajib jum’at ada tujuh hal yaitu; Islam, baligh, berakal sehal, merdeka, laki-laki, sehat dan mustauthin (tidak sedang bepergian)

Dari ketujuh syarat tersebut, tiga syarat pertama Islam, baligh dan berakal dapat dianggap mafhum. Karena jelas tidak wajib shalat jum’at orang yang tidak beragama Islam, yang belum baligh, apalagi orang gila. Sedangkan mengenai empat syarat yang lain Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daruquthny dan lainnya dari Jabir ra, Nabi saw bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فعليه الجمعة إلا امراة ومسافرا وعبدا ومريضا

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka wajib baginya shalat jum’at kecuali perempuan, musafir, hamba sahaya dan orang yang sedang sakit.

Pada praktiknya, shalat jum’at sama seperti shalat-shalat fardhu lainnya. Hanya ada beberapa syarat khusus yang harus dipenuhi yaitu pertama  hendaklah diadakan di negeri, kota atau desa. kedua jumlah orang tidak kurng dari 40, dan ketiga masih adanya waktu untuk shalat jum’at, jika waktu telah habis atau syarat yang lain tidak terpenuhi maka dilaksanakanlah shalat dhuhur.

Dengan demikian shalat jum’at selalu dilakukan di masjid. Dan tidak boleh dilakukan sendirian di rumah seperti shalat fardhu yang lain. Hal ini tentunya menyulitkan mereka yang terbiasa bepergian jauh. Entah karena tugas negara atau tuntutan pekerjaan. Oleh karena itulah maka shalat jum’at tidak diwajibkan bagi mereka yang sedang sakit atau berada dalam perjalanan (musafir).

Khusus untuk musafir atau orang yang sedang berada dalam perjalanan ada beberapa ketentuan jarak tempuh. Tidak semua yang bepergian meninggalkan rumah bisa dianggap musafir. Sebagian ulama berpendapat bahwa seorang dianggap musafir apabila jarak perjalanan yang ditempuh mencapai 90 km, yaitu jarak diperbolehkannya meng-qashar shalat. Itupun dengan catatan agenda perjalanannya bersifat mubah (dibenarkan secara agama, tidak untuk ma’syiat ) dan sudah berangkat dari rumah sebelum fajar terbit.

Bolehnya meninggalkan shalat jum’at oleh musafir ini dalam wacana fiqih disebut dengan rukhshah (dispensasi). Yaitu perubahan hukum dari sulit menjadi mudah karena adanya udzur. Bepergian menjadi udzur seseorang untuk menjalankan shalat jum’at karena dalam perjalanan seseorang biasa mengalami kepayahan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang, tidak jarang mereka harus melakukan bepergian. Dan seringkali seseorang masih dalam perjalanan ketika waktu shalat jum’at tiba.

Akan tetapi keringanan –rukhshah- ini tidak berlaku jika status seorang musafir telah berbah menjadi mukim. Yaitu dengan berniat menetap ditempat tujuan selama minimal empat hari. Misalkan jika seorang dari Surabaya pergi ke Jakarta lalu niat menginap di rumah sanak famili selama lima hari, maka tidak berlaku lagi baginya keringanan bepergian –rukhsah al-safar-. Maka dia tidak diperbolehkan meninggalkan shalat jum’at, jama’ atau qashar shalat. Begitu pula jika seseorang berniat mukim saja tanpa tahu batas waktunya secara pasti, maka hukumnya sama dengan bermukim empat hari. Contohnya ketika seseorang dari Jawa Timur merantau ke Jakarta, dengan niat mencari pekerjaan yang dia sendiri tidak tahu pasti kapan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Maka dalam kacamata fiqih ia telah dianggap sebagai mukimin di Jakarta dan wajib mengikuti shalat Jum’at bila tiba waktunya.

Lain halnya jika orang tersebut berniat untuk tinggal di Jakarta dalam jangka waktu maksimal tiga hari, maka baginya masih berlaku rukhshah. Hal mana juga berlaku bagi seseorang yang sengaja bermukim demi satu keperluan yang sewaktu-waktu selesai dan ia akan kembali pulang, tanpa mengetahui persis kapan waktunya selesai. Maka status musafir masih berlaku baginya dan masih mendapatkan rukhshah selama delapan belas hari.

Oleh karena itu untuk menentukan seorang sebagai musafir perlu ditentukan beberapa hal. Pertama jarak jauhnya harus telah mencapai masafatul qasr (kurang lebih 90 km). Kedua, tujuannya bukan untuk ma’syiat. Ketiga, mengetahui jumlah hari selama berpergian sebagai wisatawan yang hanya singgah satu atau dua hari, ataukah untuk studi atau bekerja yang lamanya sudah barang tentu diketahui (1 semester, 2 tahun dst) ataukah untuk satu urusan yang waktunya tidak diketahui dengan pasti. Semua ada aturan masing-masing. Demikian keterangan dari beberapa kitab Al-Madzahibul Arba’ah, Al-Hawasyiy Al-madaniyah dan Al-Fiqhul Islami)

KIRIM DO’A DAN SHODAQOH SERTA AMAL YANG BAIK UNTUK MAYIT

          Masalah ini adalah bagian dari masalah khilafiyah yang sering menjadi perdebatan dan pertentangan di kalangan umat Islam, yang mana masing-masing kelompok itu sendiri sebetulnya mempunyai dalil/dasar yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan kegiatan ibadahnya

          Menurut Imam Ibnu Taimiyah : Sesungguhnya orang yang sudah meninggal itu dapat mengambil kemanfaatan dari bacaan-bacaan Al Qur`an sebagaimana kemanfaatan yang diterima dari ibadah maliyah seperti shodaqoh dan sejenisnya. Sedangkan pendapat beliau dalam kitab Ar Ruh dikatakan bahwa : Sebaik-baik perkara yang dapat dihadiahkan kepada orang meninggal adalah shodaqoh, istighfar, do`a dan melaksanakan haji untuk orang yang sudah meninggal. Adapun bacaan Al Qur`an yang dibaca tanpa upah ( menurut mayoritas  Ulama bahwa ta`limul Qur`an diperbolehkan mengambil upah)  yang dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal, pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji ( yang diqodlo` oleh keluarganya ). Masih menurut Imam Ibnu Taimiyah dan dikuatkan oleh pendapatnya Imam Ibnu Qoyyim dalam kitab yang lain menyebutkan, bahwa pelaksanaan kirim do`a, shodaqoh dll sebagaimana diatas harus diniyati dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal, walaupun tidak disyaratkan dengan talafudz / melafalkan. (Adapun apabila dilafalkan seperti :

اللهمّ اوصِلْ واهدِ ثواب ماقرأناه من القرأن العظيم وما صلينا وما سبّحنا وما هللنا ومااستغفرنا….

          Seorang mufti negara Mesir Al `Allamah Syaich Hasanain Muhammad Mahluf telah mengutip pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim, beliau berpendapat: Bahwa menurut madzhab Imam Abu Hanifah, sesungguhnya orang yang melakukan ibadah, baik shodaqoh, membaca Al Qur`an, atau amal baik yang lain, pahalanya dapat dihadiahkan pada orang lain, dan pahala itu akan sampai padanya. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Al Muhibbu At Thobary, bahwa akan sampai pahala ibadah yang dikerjakan semata-mata dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal, baik ibadah wajib maupun sunnah. ( Menurut ihthiyat / kehati-hatian para Ulama apabila ada orang yang sudah meninggal masih meninggalkan sholat, maka sebaiknya keluarganya mengqodlo sholat tersebut, dengan niyat :

اصلّى فرض الظهر اربع ركعات عن ……. لله تعالى

Artinya: Saya sholat dhuhur dengan 4 roka’at dari …………… karena Allah yang maha luhur.

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bahwa orang  meninggal yang masih memiliki tanggungan sholat, maka keluarga wajib membayar fidyah yang besarnya 1 mud tiap-tiap 1 kali sholat yang ditinggalkan.

          Demikian juga orang meninggal yang masih mempunyai tanggungan puasa Romadhon, maka wajib diqodlo keluarganya, sebagaimana sabda Rosululloh SAW :

من مات وعليه صيام صام عنه ولـيّه ( متّفق عليه )

Artiya: Orang meninggal yang masih memiliki tanggungan puasa, maka wajib diqodlo oleh keluarganya

Niyatnya sebagai berikut :

نويت أداء فرض الصوم عن …….. المرحوم لله تعالى

Adapun menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik , hanya wajib dibayar kifarat, sebgaimana Hadits Marfu` riwayat Ibnu Umar , Rosululloh bersabda :

 من مات وعليه صيام اُطعِمَ عنه مكان كلّ يومٍ مسكينٌ

Artiya: Orang meninggal yang masih memiliki tanggungan puasa, maka wajib dibayarkan berupa makanan pokok kepada orang miskin, sebesar 1 mud sebagai ganti setiap 1 hari puasa.

          Didalam syarah Al Mukhtar disebutkan bahwa : Dibenarkan kepada setiap orang yang hendak menjadikan pahala sholat dan amal baik lainnya, untuk orang lain dan pahala tersebut akan sampai kepadanya. Sebagaimana pendapat Al `Alim Al `Allamah Syaich Muhammad Nawawi bin `Aroby yang menjadi pimpinan para Ulama Hijaz, dalam kitab Nihayatuz Zain, beliau berpendapat : Salah satu bentuk sholat sunnah adalah sholat 2 rokaat untuk  orang meninggal di dalam kubur. Pendapat ini didasarkan pada sabda Rosulloh SAW :

لايأتي على المـيّت أشدّ من الليلة الأولى فارحموا بالصدقة من يموت فمن لم يجد فليصلّ ركعتين , يقرأ فيهما اى في كلّ ركعة منهما فاتحة الكتاب مرّةً وأية الكرسيّ مرّةً وألهاكم التكاثر مرّةً وقل هوالله احد عشر مرّاتٍ , ويقول بعد السلام اللهمّ إنّي صليتُ هذه الصلاةَ وتعلم مااُريد , اللهمّ ابعث ثوابـها إلى قبر …..  فيـبعث الله من ساعته إلى قبره ألفَ ملكٍ مع كلّ ملك نورٌ وهديّةٌ يؤنّسونه إلى يوم يُنفخ في الصور

Artinya: tidak ada sesuatu yang datang kepada mayit yang Paling berat siksaan bagi orang meninggal adalah keadaan malam pertama, maka belas kasihanilah dengan shodaqoh, apabila tidak ada maka sholatlah 2 roka`at yang mana pada tiap roka`atnya membaca Al Fatihah 1 x , ayat kursi 1 x , Alhakumut takatsur 1 x , dan Al Ihlas 10x , setelah salam berdo`a : Ya Alloh aku mengerjakan sholat ini, dan Engkau mengerti apa yang aku harapkan, Ya Alloh hadiahkan sholatku ini kepada ………….. “

          Di dalam kitab Fathul Qodir, diriwayatkan oleh Sayyidina Ali KW,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من مرّ على المقابر وقرأ قل هوالله احد إحدى عشرة ثمّ وهب أجرها للأموات اُعطِي من الأجر بعدد الأموات

Rosululloh SAW bersabda : Barangsiapa lewat di pekuburan, lalu membaca Surat Al Ikhlash 11 x , kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang yang meninggal di dalam pekuburan tersebut, maka ia akan memperoleh pahala sejumlah orang yang meninggal . ( Hadits ini menunjukkan bahwa hadiah bacaan Al Qur`an itu bisa sampai pada orang meninggal, dan yang membacanya juga memperoleh pahala yang besar )

          Sedangkan menurut riwayat Anas RA ,

أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم سُئل فقال السائل : إنّـا تصدّق عن موتانا وتحُجَّ عنهم وتدعو لهم , هل يصل ذلك إليهم ؟ قال نعم إنّه لَيَصِلُ إليهم وانّهم ليفرحون به كما يفرح احدكم بالطَبْق اذا اُهدِيَ اليهم

Rosululloh pernah ditanya seseorang , Wahai Rosululloh, aku shodaqoh untuk keluargaku yang telah meninggal, aku juga menghajikan mereka, berdo`a untuknya, apakah bisa sampai pahala-pahala tersebut kepada mereka ? Rosululloh bersabda : Ya , sungguh itu semua sampai kepada mereka,  sedangkan mereka merasa bahagia sebagaimana seseorang yang sedang menerima bingkisan.

          Didalam kitab Washiyatul Musthofa,

أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم قال : يا عليُّ تصدّقْ على موتاك فإنّ الله تعالى قد وكّل ملائكةً يحملون صدقات الاحياء إليهم فيفرحون بها اشدّ ما كانوا يفرحون في الدنيا

Rosululloh bersabda: Wahai Ali, shodaqohlah untuk orang mati kalian, sesungguhnya Alloh akan mengirim Malaikat membawa shodaqo-shodaqoh orang hidup kepada mereka, sedangkan mereka akan bergembira sebagaimana bergembira ketika menerima bingkisan waktu di dunia

          Menurut Madzhab Syafi`i, sesungguhnya shodaqoh itu pahalanya akan sampai pada orang yang telah meninggal secara pasti (tanpa batasan). Adapun membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, maka pendapat yang dipilih oleh beliau sebagaimana dalam syarah Al Minhaj, adalah sampainya pahala tersebut tapi perlu keyakinan dan kemantapan dalam niyat menyampaikannya, karena merupakan bentuk do`a ( ciri-ciri do`a adalah bisa dikabulkan dan bisa tidak )

          Menurut madzhab Maliki , sudah tidak ada ikhtilaf lagi tentang sampainya pahala shodaqoh pada orang meninggal, sedangkan untuk baca`an Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, masih khilafiyah walaupun para Ulama Muta`akhirin lebih cenderung menerima pendapat diterimanya pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, kepada orang yang telah meninggal. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnu Farohun, beliau berpendapat bahwa  sampainya pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, adalah pendapat yang paling rojih / unggul .

          Menurut Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu` bahwa Al Qodli Abu Thoyyib pernah ditanya tentang khataman Al Qur`an di pekuburan, Beliau menjawab: Pahalanya untuk yang membaca, sedangkan orang-orang yang meninggal seperti orang yang menghadiri acara khataman tersebut dengan berharap rahmat dan barokah dari Al Qur`an. Berdasar ini maka khotmil Qur`an di makam hukumnya boleh. Demikian juga berdo`a yang mengiringi khotmil Qur`an, maka lebih memungkinkan dan lebih mudah diijabahi, dan do`a tersebut akan memberi manfa`at pada orang yang meninggal. Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar yang mengambil referensi dari sebagian besar Ulama-Ulama Syafi`iyah, bahwa pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, akan sampai pada orang meninggal. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ulama-Ulama madzhab Ahmad bin Hanbal

          Menurut Imam Sya`rony dalam kitab Mizan Al Kubro, beliau berpendapat bahwa diterimanya pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, memang ada ikhtilaf, dan masing-masing memiliki dasar / hujjah. Dan madzhab Ahlus Sunnah menyatakan bahwa seseorang bisa menjadikan pahala dari amal baiknya kepada orang lain, dan pendapat ini sesuai dengan Imam Ahmad bin Hanbal.

          Imam Muhammad Ibnu Al Marwizy pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : Apabila kalian memasuki area makam, bacalah Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al Mu`awwidzatain, dan hadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka akan sampai pahalanya. Dan setelah itu berdo`alah : Allohumma aushil wa ahdi tsawaba ma qoro`tuhu minal Qur`anil `Adhim ila man fi hadzihil maqbaroh, khususon ila ………..

          Menurut  Al `Allamah Muhammad `Aroby dalam kitab Majmu` Tsalatsi Rosa`il, bahwa sesungguhnya membaca Al Qur`an untuk orang meninggal hukumnya boleh, dan pahalanya akan sampai padanya, walaupun dalam pembacaannya tersebut dengan upah. Pendapat ini yang dipakai pegangan para Ulama Fiqih madzhab Ahlus Sunnah, yang didasarkan pada hadits riwayat Abu Hurairah RA :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من دخل المقابر ثمّ قراء فاتحة الكتاب وقل هوالله احد وألهاكم التكاثر , ثمّ قال إنّي جعلتُ ثواب ما قرأتُ من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاءَ له الى الله تعالى

Rosulullah S.A.W bersabda: “Barangsiapa memasuki area makam, kemudian membaca Al Fatihah, Al Ikhlas dan At Takatsur, lalu berdo`a menghadiahkan baca`annya kepada ahli kubur yang mukmin dan mukminat, maka kelak ahli kubur tersebut akan memohonkan pertolongan pada Alloh untuknya “

Kesimpulan :

Menurut Madzhab Syafi`i : Pahala shodaqoh akan sampai pada orang yang meninggal secara pasti (tanpa batasan). Adapun membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, adalah sampainya pahala tersebut tapi perlu keyakinan dan kemantapan dalam niyat menyampaikannya, karena merupakan bentuk do`a

Menurut Madzhab Maliki :    Tidak ada ikhtilaf lagi tentang sampainya pahala shodaqoh untuk orang meninggal

Menurut Madzhab Hanbali     :  Pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, akan sampai pada orang meninggal.