BAGAIMANA KALAU HANYA NUMPANG KENCING DI TOILET MASJID

Hanya Numpang Buang Air Kecil Di Toilet Masjid ] Tempat wudlu atau WC masjid pada awalnya disiapkan untuk kepentingan dan kemaslahatan masjid. Tempat wudlu dan WC ini disiapkan untuk mempermudah para jamaah dalam mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah. Namun, pada akhirnya, air tempat wudlu dan WC tersebut, malah menjadi sarana umum dan tidak hanya digunakan oleh orang-orang yang hendak melakukan ibadah. Para pengunjung pasar atau para musafir misalnya, lebih memilih untuk kencing atau buang hajat di WC masjid, selain karena gratis, juga karena mudah dijangkau.

Pertanyaan :
Bolehkah kencing atau buang hajat di WC masjid, sekalipun tidak melakukan ibadah?

Jawaban :
Biaya operasional dan perawatan WC dan bak air masjid tentu saja diambil dari harta masjid. Penggunaan (tasharuf) harta masjid adalah untuk imarah dan maslahah masjid. Imarah ialah hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan, renovasi dan perawatan bangunan masjid. Menurut sebagian ulama, imarah ialah shalat dan bentuk ibadah yang lain, sesuai dengan firman Allah:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“di masjid-masjid yang Telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”. (QS. An-Nur: 36)

Sedangkan maslahah ialah hal-hal yang berkaitan kebutuhan sarana dan prasarana ibadah, seperti kebutuhan air, penerangan, bahkan untuk konsumsi bagi para jamaah[1].

Hukum hanya sekadar kencing atau buang hajat di WC masjid adalah tidak boleh dan haram. Hal ini disebabkan karena adanya penggunaan harta masjid untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan imarah dan maslahah masjid. Alasan kedua, karena tujuan dibangunnya WC dan jeding masjid adalah untuk keperluan ibadah.

Namun, jika fasilitas WC dan bak air masjid tidak dibangun dari harta masjid, keberadaan air dan biaya perawatan juga tidak diambil dari harta masjid, dan ada qarinah (petunjuk) bahwa fasilitas tersebut untuk keperluan umum, maka sekadar kencing, buang hajat atau pemanfaatan yang lain diperbolehkan hukumnya[2].

Untuk menghindari keharaman dalam kasus di atas, hendaknya melakukan ibadah meskipun hanya sekadar berwudlu, atau mengganti ongkos pemanfaatan WC atau baik air masjid dengan minimalujrah mitsl (ongkos standar)[3]. Wallahu A’lam.

[1] Hasyiah Al-Qalyuby, 3/108, Rawa’i’ al-Bayan, 1/573, Bughyatul Mustarsyidin, 65
[2] Ianatut Thalibin, 1/69
[3] Hawasyi As-Syarwani, 6/258

Bila air toilet masjid tsb memang untuk dimanfa’atkan secara umum atau ada tanda-tanda untuk dimanfa’atkan secara umum maka numpang kencing tsb tidak harus bayar, namun bila air tsb memang dikhususkan untuk berwudlu’ atau mandi baik wudlu’ atau mandi sunah atau wajib maka numpang kencing ditoilet masjid tsb hukumnya haram. Referensi :

والجرار التي عند المساجد فيها الماء إذا لم يعلم أنها موقوفة للشرب أو للموضوء أو الغسل الواجب أو المسنون أو غسل النجاسة فأجاب أنه إذا دلت قرينة على أن الماء موضوع لتعميم الانتفاع جاز جميع ما ذكر من الشرب وغسل النجاسة وغسل الجنابة وغيرها ومثال القرينة جريان الناس على تعميم الانتفاع بالماء من غير نكير من فقيه وغيره إذ الظاهر من عدم النكير أنهم أقدموا على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب ووضوء وغسل نجاسة فمثل هذا إيقاع يقال بالجواز وقال إن فتوى العلامة عبد الله بامخرمة يوافق ما ذكره . إعانة الطالبين: 1/69

قوله يحرم التطهر بالمسبل للشرب أي أو بالماء المغصوب ومع الحرمة يصح الوضوء (قوله وكذا بماء جهل حاله) اي وكذلك حرم التطهر بماء لم يدر هل هو مسبل عن الشرب أو للتطهر.وسيذكر الشارح في باب الوقف أنه حيث أجمل الواقف شرطه اتبع فيه العرف المطرد في زمنه لانه بمنزلة شرط الواقف قال ومن ثم امتنع في السقايات المسبلة غير الشرب ونقل الماء منها ولو للشرب ثم قال وسئل العلامة الطنبداوي عن الجوابي والجرار التي عند المساجد فيها الماء إذا لم يعلم أنها موقوفة للشرب أو للموضوء أو الغسل الواجب أو المسنون أو غسل النجاسة فأجاب أنه إذا دلت قرينة على أن الماء موضوع لتعميم الانتفاع جاز جميع ما ذكر من الشرب وغسل النجاسة وغسل الجنابة وغيرها ومثال القرينة جريان الناس على تعميم الانتفاع بالماء من غير نكير من فقيه وغيره إذ الظاهر من عدم النكير أنهم أقدموا على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب ووضوء وغسل نجاسة فمثل هذا إيقاع يقال بالجواز وقال إن فتوى العلامة عبد الله بامخرمة يوافق ما ذكره. إعانة الطالبين : 1/69

Wallohu a’lam

KHUTBAH JUM’AT : JANGANLAH MEMANGGIL SESAMA MUSLIM CEBONG DAN KAMPRET

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلْآِمِر بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّاهِىْ عَنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِيْ وَالْمُنْكَرَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ﷺ صَاحِبِ الْأَنْوَارِ وَالْمُعْجِزَاتْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ في أَحْوَالِ الْجَلِيَّاتِ وَالْخَلْوَاتْ. أما بعد

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى في كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Hadirin jamaah jumah hafidhâkumullâh,

Dalam kesempatan Jumat kali ini, kami berwasiat kepada pribadi kami sendiri dan para hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhânahû wa ta’âlâ seraya menunaikan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semoga dengan ketakwaan kita tersebut, kita semakin dekat kepada Allah, selalu mendapatkan naungan ridha Allah subhânahû wa ta’âlâ, amin.

Ma’asyiral hâdlirin, jamaah Jumat hafidhâkumullâh,

Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang tinggal sebentar lagi ini masih diwarnai dengan ekspresi kebencian oleh antar-pendukung calon pemimpin. Satu pihak memanggil orang yang berlainan dukungan dengan “kecebong” yang berarti jenis amfibia yang masih dalam bentuk larva. Sedang pihak lain lagi memanggil lawannya dengan panggilan “kampret”. Kampret dalam bahasa Jawa mempunyai arti anak kelelawar.

Bagaimana fiqih memandang hal demikian?

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah al-Muhadzab menyebutkan panggilan-panggilan kepada orang lain dengan panggilan yang buruk seperti memanggil dengan nama hewan anjing, keledai, bisa mengakibatkan pelakunya mendapatkan ta’zir atau hukuman dari pemerintah. Hal ini menunjukkan, pemanggilan tidak baik kepada orang lain merupakan sikap yang dilarang agama.

وَمِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُوْجِبَةِ لِلتَّعْزِيْرِ قَوْلُهُ لِغَيْرِهِ يَا فَاسِقُ يَا كَافِرُ يَا فَاجِرُ يَا شَقِيُّ يَا كَلْبُ يَا حِمَارُ يَا تَيْسُ يَا رَافِضِيُّ يَا خَبِيْثُ يَا كَذَّابُ يَاخَائِنُ يَا قِرْنَانُ يَا قَوَادُ يَا دَيُّوْثُ يَا عَلقُ.

Artinya: “Di antara kata-kata yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan hukuman ta’zir adalah ketika ada satu orang memanggil orang lain dengan panggilan ‘Hai kafir, hai orang yang durhaka, hai orang yang celaka, hai anjing, hai keledai, hai kambing jantan, hai orang syi’ah râfidlah, hai orang jelek, hai penipu, hai orang yang berkhianat, hai orang yang mempunyai dua tanduk, hai orang yang tidak mempunyai gairah sama keluarganya dan hai segumpal darah.” (An-Nawawi, Syarah al-Majmu’, [Dârul Fikr], juz 20, halaman 125).

Dengan demikian, jika ada yang memanggil orang lain dengan panggilan nama hewan seperti anjing, keledai dan kambing hitam berhak dihukum pemerintah, maka begitu pula jika ada yang memanggil orang lain dengan sebutan kecebong atau pun kampret, masing-masing adalah nama hewan, bukan nama manusia sebenarnya. Pelakunya bisa dita’zir.

Ta’zir adalah sebuah hukuman dari syari’at yang tidak diatur aturan bakunya dalam agama. Tidak seperti had dan qishas. Keduanya mempunyai aturan-aturan teknis yang mengatur.

وَرُوِيَ: أَنَّ عَلِيّاً سُئِلَ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ لِلرَّجُلِ: يَا فَاسِقُ، يَا خَبِيْثُ

“Diriwayatkan, sesungguhnya Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang perkataan seorang laki-laki yang memanggil laki-laki lain dengan panggilan ‘hai fasiq, orang yang buruk’.”

فَقَالَ: هُنَّ فَوَاحِشُ، فِيْهِنَّ تَعزِيْرٌ، وَلَيْسَ فِيْهِنَّ حَدٌّ

“Ali menjawab, ‘Kalimat-kalimat itu adalah perkataan sangat kotor. Yang menyampaikan kalimat demikian berhak mendapatkan ta’zir, tidak had’.”

إِذَا ثَبَتَ هَذَا: فَإِنَّ التَّعزِيْرَ غَيْرُ مُقَدَّرٍ، بَلْ إِنْ رَأَى الْإِمَامُ أَنْ يَحْبِسَهُ.. حَبِسَهُ. وَإِنْ رَأَى أَنْ يَجْلِدَهُ.. جَلَدَهُ. وَلَا يَبْلُغُ بِهِ أَدْنَى الْحُدُوْدِ؛

“Kalau begitu, ta’zir adalah hukuman yang tidak diukur oleh syara’. Seumpama pemerintah memandang perlu memenjarakan, boleh. Seumpama kebijakan pemerintah adalah dengan dicambuk pelakunya, juga boleh. Yang penting tidak sampai batas minimal had.”

فَإِنْ كَانَ حُرًّا.. لَمْ يَبْلُغْ بِهِ أَرْبَعِيْنَ جَلْدَةً، بَلْ يَنْقُصُ مِنْهَا وَلَوْ جَلْدَةً. وَإِنْ كَانَ عَبْدًا.. لَمْ يَبْلُغْ بِهِ عِشْرِيْنَ جَلْدَةً. وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدْ

Kalau pelakunya merdeka, ia boleh dicambuk namun tidak sampai 40 cambukan, boleh kurang walaupun hanya kurang satu saja. Apabila hamba sahaya, tidak boleh sampai 20 cambukan. Demikian dikatakan oleh Abu Hanifah dan Muhammad bin Idris.” (Yahya bin Abil Khair bin Salim al-Umrani, Al-Bayân, [Dârul Minhâj, Jedah, 2000), juz 12, halaman 533)

Nama merupakan doa. Rasulullah ﷺ lebih suka memberikan nama dengan kata yang mengandung harapan-harapan baik. Karena Rasulullah Muhammad adalah orang baik, nama-nama yang diberikan pun selalu baik. Beliau tidak pernah membuat nama yang mempunyai akar kata buruk atau sial. Sebagaimana dahulu Rasul mengganti nama Burrah menjadi Zainab. Burrah adalah lubangan hidung unta bagian samping. Karena dirasa kurang baik, Rasul pun akhirnya menggantinya. Banyak kisah-kisah demikian dari Rasulullah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar, diceritakan bahwa dahulu nama putri dari Sayyidina Umar adalah ‘Âshiyah yang mempunyai arti wanita durhaka. Oleh Baginda Nabi kemudian diganti menjadi Jamîlah yang mempunyai arti wanita cantik. (Lihat: Tarbiyatul Awlâd, juz 1, halaman 78).

Dalam kitab Al-Muwatha’ susunan Imam Malik diceritakan dari Yahya bin Sa’id. Suatu ketika Umar bin Khattab bertanya pada seorang laki-laki.

“Siapa namamu?” tanya Sayyidina Umar

“Jamrah,” jawab laki-laki itu. Jamrah mempunyai arti bara api.

Umar melanjutkan pertanyaan kedua, “Siapa nama ayahmu?”

“Syihab (artinya nyala api).”

“Dari mana kamu?”

“Dari huruqah (artinya panas).”

“Lha kamu tinggalnya di mana?”

“Di hurratun nâr  (artinya panasnya bara api).”

“Daerah mana itu?”

“Dzi Ladhâ (artinya api yang menyala-nyala).”

Mendengar jawaban yang bertubi-tubi dari pria tersebut dengan segala namanya yang berkonotasi pada api dan membara, Sayyidina Umar kemudian berpesan pada pria itu.

“Kasih tahu wargamu. Mereka semua akan binasa dan kebakaran!”

Dan benar apa yang dikatakan Umar. Mereka binasa dan terkena kebakaran. (Lihat: Malik bin Anas, Syarah al-Muwatha’lil Abdil Karim Khadlir, Bab Mâ yukrahu minal Asmâ’)

Ma’asyiral hâdlirin, jamaah Jumat hafidhâkumullâh,

Panggilan cebong kampret jelas bukan panggilan pujian. Panggilan tersebut berkonotasi ejekan. Kita dilarang Allah sebagaiamana dalam Al-Quran untuk tidak saling mengejek kepada orang lain. Barangkali orang yang kita ejek itu lebih mulia di mata Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kita harus menghindari.

Buktikan kalua kita itu orang baik, hanya akan melakukan hal yang baik. Jika ada orang menghina kita, itu urusan mereka. Tugas kita sebagai orang baik hanya dengan membalas dengan kebaikan. Karena kita hanya mempunyai stok kebaikan dalam tubuh kita.

Kita tidak mempunyai stok perilaku buruk. Ibarat teko, tidak akan menuangkan isi yang tidak ada di dalamnya. Kalau dalamnya kopi, akan tertuang darinya kopi. Kalau isinya teh, akan keluar teh. Apabila kita ingin meniru Rasulullah yang baik, seharusnya kita menunjukkan isi pribadi kita, otak kita hanya berisi hal baik. Kita tidak perlu memanggil lawan politik dengan cebong kampret. Ini bukan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah suka memberi nama kunyah yang baik-baik, bukan memberika laqab yang buruk. Dalam Al-Qur’an dikatakan:

وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasiq) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS Al Hujurât: 11)

Kalau kita kemarin sudah terlanjur memanggil cebong kampret, sunnahnya kita menggantinya dengan yang baik.

وَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ سُمِيَ أَوْ لُقِبَ باِسْمٍ قَبِيْحٍ أَنْ يُبَدِّلَهْ

Artinya: “Disunnahkan bagi orang yang dikasih nama atau diberi panggilan yang buruk, untuk diganti dengan yang lain.” (Muhammad bin Ahmad Asy-Syâthiri, Syarah al-Yâqût an-Nafîs, [Dârul Hâwi], juz 3, halaman 387)

Hadirin,

Semoga kita senantiasa diberi pertolongan oleh Allah untuk bisa berbuat baik kepada sesama, tanpa menyakiti siapapun di muka bumi ini. Semoga kita bisa meniru akhlak Rasulullah ﷺ, bisa membahagiakan hati Rasulullah ﷺ. Semoga kita kelak mendapatkan syafa’at Rasulullah ﷺ, amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَاَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنْ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُركُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

INILAH MUSAFIR YANG BEBAS DARI SHALAT JUM’AT

Pada dasarnya shalat jum’at hukumnya adalah wajib bagi setaip muslim laki-laki. Hal ini berdasar pada firman Allah swt dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Demikianlah shalat jum’at menjadi salah satu momentum pertemuan antara umat muslim dalam sebuah komunitas tertentu. Diharapkan pertemuan fisik ini dapat menambah kwalitas ketaqwaan dan keimanan umat muslim. Karena itulah shalat jum’at didahului dengan khutbah yang berisi berbagai mauidhah. Di samping itu secara sosiologis sholat jum’at hendaknya menjadi satu media syi’ar Islam yang menunjukkan betapa besar dan kuwat persatuan umat.

Adapun syarat-syarat shalat jum’at seperti yang tertulis dalam kitab Matnul Ghayah wat Taqrib karya Imam Abu Suja’

وشرائط وجوب الجمعة سبعة أشياء : الاسلام والبلوغ والعقل والحرية والذكورية والصحة والاستيطان

Syarat wajib jum’at ada tujuh hal yaitu; Islam, baligh, berakal sehal, merdeka, laki-laki, sehat dan mustauthin (tidak sedang bepergian)

Dari ketujuh syarat tersebut, tiga syarat pertama Islam, baligh dan berakal dapat dianggap mafhum. Karena jelas tidak wajib shalat jum’at orang yang tidak beragama Islam, yang belum baligh, apalagi orang gila. Sedangkan mengenai empat syarat yang lain Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daruquthny dan lainnya dari Jabir ra, Nabi saw bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فعليه الجمعة إلا امراة ومسافرا وعبدا ومريضا

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka wajib baginya shalat jum’at kecuali perempuan, musafir, hamba sahaya dan orang yang sedang sakit.

Pada praktiknya, shalat jum’at sama seperti shalat-shalat fardhu lainnya. Hanya ada beberapa syarat khusus yang harus dipenuhi yaitu pertama  hendaklah diadakan di negeri, kota atau desa. kedua jumlah orang tidak kurng dari 40, dan ketiga masih adanya waktu untuk shalat jum’at, jika waktu telah habis atau syarat yang lain tidak terpenuhi maka dilaksanakanlah shalat dhuhur.

Dengan demikian shalat jum’at selalu dilakukan di masjid. Dan tidak boleh dilakukan sendirian di rumah seperti shalat fardhu yang lain. Hal ini tentunya menyulitkan mereka yang terbiasa bepergian jauh. Entah karena tugas negara atau tuntutan pekerjaan. Oleh karena itulah maka shalat jum’at tidak diwajibkan bagi mereka yang sedang sakit atau berada dalam perjalanan (musafir).

Khusus untuk musafir atau orang yang sedang berada dalam perjalanan ada beberapa ketentuan jarak tempuh. Tidak semua yang bepergian meninggalkan rumah bisa dianggap musafir. Sebagian ulama berpendapat bahwa seorang dianggap musafir apabila jarak perjalanan yang ditempuh mencapai 90 km, yaitu jarak diperbolehkannya meng-qashar shalat. Itupun dengan catatan agenda perjalanannya bersifat mubah (dibenarkan secara agama, tidak untuk ma’syiat ) dan sudah berangkat dari rumah sebelum fajar terbit.

Bolehnya meninggalkan shalat jum’at oleh musafir ini dalam wacana fiqih disebut dengan rukhshah (dispensasi). Yaitu perubahan hukum dari sulit menjadi mudah karena adanya udzur. Bepergian menjadi udzur seseorang untuk menjalankan shalat jum’at karena dalam perjalanan seseorang biasa mengalami kepayahan. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang, tidak jarang mereka harus melakukan bepergian. Dan seringkali seseorang masih dalam perjalanan ketika waktu shalat jum’at tiba.

Akan tetapi keringanan –rukhshah- ini tidak berlaku jika status seorang musafir telah berbah menjadi mukim. Yaitu dengan berniat menetap ditempat tujuan selama minimal empat hari. Misalkan jika seorang dari Surabaya pergi ke Jakarta lalu niat menginap di rumah sanak famili selama lima hari, maka tidak berlaku lagi baginya keringanan bepergian –rukhsah al-safar-. Maka dia tidak diperbolehkan meninggalkan shalat jum’at, jama’ atau qashar shalat. Begitu pula jika seseorang berniat mukim saja tanpa tahu batas waktunya secara pasti, maka hukumnya sama dengan bermukim empat hari. Contohnya ketika seseorang dari Jawa Timur merantau ke Jakarta, dengan niat mencari pekerjaan yang dia sendiri tidak tahu pasti kapan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Maka dalam kacamata fiqih ia telah dianggap sebagai mukimin di Jakarta dan wajib mengikuti shalat Jum’at bila tiba waktunya.

Lain halnya jika orang tersebut berniat untuk tinggal di Jakarta dalam jangka waktu maksimal tiga hari, maka baginya masih berlaku rukhshah. Hal mana juga berlaku bagi seseorang yang sengaja bermukim demi satu keperluan yang sewaktu-waktu selesai dan ia akan kembali pulang, tanpa mengetahui persis kapan waktunya selesai. Maka status musafir masih berlaku baginya dan masih mendapatkan rukhshah selama delapan belas hari.

Oleh karena itu untuk menentukan seorang sebagai musafir perlu ditentukan beberapa hal. Pertama jarak jauhnya harus telah mencapai masafatul qasr (kurang lebih 90 km). Kedua, tujuannya bukan untuk ma’syiat. Ketiga, mengetahui jumlah hari selama berpergian sebagai wisatawan yang hanya singgah satu atau dua hari, ataukah untuk studi atau bekerja yang lamanya sudah barang tentu diketahui (1 semester, 2 tahun dst) ataukah untuk satu urusan yang waktunya tidak diketahui dengan pasti. Semua ada aturan masing-masing. Demikian keterangan dari beberapa kitab Al-Madzahibul Arba’ah, Al-Hawasyiy Al-madaniyah dan Al-Fiqhul Islami)

KIRIM DO’A DAN SHODAQOH SERTA AMAL YANG BAIK UNTUK MAYIT

          Masalah ini adalah bagian dari masalah khilafiyah yang sering menjadi perdebatan dan pertentangan di kalangan umat Islam, yang mana masing-masing kelompok itu sendiri sebetulnya mempunyai dalil/dasar yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan kegiatan ibadahnya

          Menurut Imam Ibnu Taimiyah : Sesungguhnya orang yang sudah meninggal itu dapat mengambil kemanfaatan dari bacaan-bacaan Al Qur`an sebagaimana kemanfaatan yang diterima dari ibadah maliyah seperti shodaqoh dan sejenisnya. Sedangkan pendapat beliau dalam kitab Ar Ruh dikatakan bahwa : Sebaik-baik perkara yang dapat dihadiahkan kepada orang meninggal adalah shodaqoh, istighfar, do`a dan melaksanakan haji untuk orang yang sudah meninggal. Adapun bacaan Al Qur`an yang dibaca tanpa upah ( menurut mayoritas  Ulama bahwa ta`limul Qur`an diperbolehkan mengambil upah)  yang dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal, pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji ( yang diqodlo` oleh keluarganya ). Masih menurut Imam Ibnu Taimiyah dan dikuatkan oleh pendapatnya Imam Ibnu Qoyyim dalam kitab yang lain menyebutkan, bahwa pelaksanaan kirim do`a, shodaqoh dll sebagaimana diatas harus diniyati dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal, walaupun tidak disyaratkan dengan talafudz / melafalkan. (Adapun apabila dilafalkan seperti :

اللهمّ اوصِلْ واهدِ ثواب ماقرأناه من القرأن العظيم وما صلينا وما سبّحنا وما هللنا ومااستغفرنا….

          Seorang mufti negara Mesir Al `Allamah Syaich Hasanain Muhammad Mahluf telah mengutip pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim, beliau berpendapat: Bahwa menurut madzhab Imam Abu Hanifah, sesungguhnya orang yang melakukan ibadah, baik shodaqoh, membaca Al Qur`an, atau amal baik yang lain, pahalanya dapat dihadiahkan pada orang lain, dan pahala itu akan sampai padanya. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Al Muhibbu At Thobary, bahwa akan sampai pahala ibadah yang dikerjakan semata-mata dihadiahkan pada orang yang sudah meninggal, baik ibadah wajib maupun sunnah. ( Menurut ihthiyat / kehati-hatian para Ulama apabila ada orang yang sudah meninggal masih meninggalkan sholat, maka sebaiknya keluarganya mengqodlo sholat tersebut, dengan niyat :

اصلّى فرض الظهر اربع ركعات عن ……. لله تعالى

Artinya: Saya sholat dhuhur dengan 4 roka’at dari …………… karena Allah yang maha luhur.

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bahwa orang  meninggal yang masih memiliki tanggungan sholat, maka keluarga wajib membayar fidyah yang besarnya 1 mud tiap-tiap 1 kali sholat yang ditinggalkan.

          Demikian juga orang meninggal yang masih mempunyai tanggungan puasa Romadhon, maka wajib diqodlo keluarganya, sebagaimana sabda Rosululloh SAW :

من مات وعليه صيام صام عنه ولـيّه ( متّفق عليه )

Artiya: Orang meninggal yang masih memiliki tanggungan puasa, maka wajib diqodlo oleh keluarganya

Niyatnya sebagai berikut :

نويت أداء فرض الصوم عن …….. المرحوم لله تعالى

Adapun menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik , hanya wajib dibayar kifarat, sebgaimana Hadits Marfu` riwayat Ibnu Umar , Rosululloh bersabda :

 من مات وعليه صيام اُطعِمَ عنه مكان كلّ يومٍ مسكينٌ

Artiya: Orang meninggal yang masih memiliki tanggungan puasa, maka wajib dibayarkan berupa makanan pokok kepada orang miskin, sebesar 1 mud sebagai ganti setiap 1 hari puasa.

          Didalam syarah Al Mukhtar disebutkan bahwa : Dibenarkan kepada setiap orang yang hendak menjadikan pahala sholat dan amal baik lainnya, untuk orang lain dan pahala tersebut akan sampai kepadanya. Sebagaimana pendapat Al `Alim Al `Allamah Syaich Muhammad Nawawi bin `Aroby yang menjadi pimpinan para Ulama Hijaz, dalam kitab Nihayatuz Zain, beliau berpendapat : Salah satu bentuk sholat sunnah adalah sholat 2 rokaat untuk  orang meninggal di dalam kubur. Pendapat ini didasarkan pada sabda Rosulloh SAW :

لايأتي على المـيّت أشدّ من الليلة الأولى فارحموا بالصدقة من يموت فمن لم يجد فليصلّ ركعتين , يقرأ فيهما اى في كلّ ركعة منهما فاتحة الكتاب مرّةً وأية الكرسيّ مرّةً وألهاكم التكاثر مرّةً وقل هوالله احد عشر مرّاتٍ , ويقول بعد السلام اللهمّ إنّي صليتُ هذه الصلاةَ وتعلم مااُريد , اللهمّ ابعث ثوابـها إلى قبر …..  فيـبعث الله من ساعته إلى قبره ألفَ ملكٍ مع كلّ ملك نورٌ وهديّةٌ يؤنّسونه إلى يوم يُنفخ في الصور

Artinya: tidak ada sesuatu yang datang kepada mayit yang Paling berat siksaan bagi orang meninggal adalah keadaan malam pertama, maka belas kasihanilah dengan shodaqoh, apabila tidak ada maka sholatlah 2 roka`at yang mana pada tiap roka`atnya membaca Al Fatihah 1 x , ayat kursi 1 x , Alhakumut takatsur 1 x , dan Al Ihlas 10x , setelah salam berdo`a : Ya Alloh aku mengerjakan sholat ini, dan Engkau mengerti apa yang aku harapkan, Ya Alloh hadiahkan sholatku ini kepada ………….. “

          Di dalam kitab Fathul Qodir, diriwayatkan oleh Sayyidina Ali KW,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من مرّ على المقابر وقرأ قل هوالله احد إحدى عشرة ثمّ وهب أجرها للأموات اُعطِي من الأجر بعدد الأموات

Rosululloh SAW bersabda : Barangsiapa lewat di pekuburan, lalu membaca Surat Al Ikhlash 11 x , kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang yang meninggal di dalam pekuburan tersebut, maka ia akan memperoleh pahala sejumlah orang yang meninggal . ( Hadits ini menunjukkan bahwa hadiah bacaan Al Qur`an itu bisa sampai pada orang meninggal, dan yang membacanya juga memperoleh pahala yang besar )

          Sedangkan menurut riwayat Anas RA ,

أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم سُئل فقال السائل : إنّـا تصدّق عن موتانا وتحُجَّ عنهم وتدعو لهم , هل يصل ذلك إليهم ؟ قال نعم إنّه لَيَصِلُ إليهم وانّهم ليفرحون به كما يفرح احدكم بالطَبْق اذا اُهدِيَ اليهم

Rosululloh pernah ditanya seseorang , Wahai Rosululloh, aku shodaqoh untuk keluargaku yang telah meninggal, aku juga menghajikan mereka, berdo`a untuknya, apakah bisa sampai pahala-pahala tersebut kepada mereka ? Rosululloh bersabda : Ya , sungguh itu semua sampai kepada mereka,  sedangkan mereka merasa bahagia sebagaimana seseorang yang sedang menerima bingkisan.

          Didalam kitab Washiyatul Musthofa,

أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم قال : يا عليُّ تصدّقْ على موتاك فإنّ الله تعالى قد وكّل ملائكةً يحملون صدقات الاحياء إليهم فيفرحون بها اشدّ ما كانوا يفرحون في الدنيا

Rosululloh bersabda: Wahai Ali, shodaqohlah untuk orang mati kalian, sesungguhnya Alloh akan mengirim Malaikat membawa shodaqo-shodaqoh orang hidup kepada mereka, sedangkan mereka akan bergembira sebagaimana bergembira ketika menerima bingkisan waktu di dunia

          Menurut Madzhab Syafi`i, sesungguhnya shodaqoh itu pahalanya akan sampai pada orang yang telah meninggal secara pasti (tanpa batasan). Adapun membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, maka pendapat yang dipilih oleh beliau sebagaimana dalam syarah Al Minhaj, adalah sampainya pahala tersebut tapi perlu keyakinan dan kemantapan dalam niyat menyampaikannya, karena merupakan bentuk do`a ( ciri-ciri do`a adalah bisa dikabulkan dan bisa tidak )

          Menurut madzhab Maliki , sudah tidak ada ikhtilaf lagi tentang sampainya pahala shodaqoh pada orang meninggal, sedangkan untuk baca`an Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, masih khilafiyah walaupun para Ulama Muta`akhirin lebih cenderung menerima pendapat diterimanya pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, kepada orang yang telah meninggal. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ibnu Farohun, beliau berpendapat bahwa  sampainya pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, adalah pendapat yang paling rojih / unggul .

          Menurut Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu` bahwa Al Qodli Abu Thoyyib pernah ditanya tentang khataman Al Qur`an di pekuburan, Beliau menjawab: Pahalanya untuk yang membaca, sedangkan orang-orang yang meninggal seperti orang yang menghadiri acara khataman tersebut dengan berharap rahmat dan barokah dari Al Qur`an. Berdasar ini maka khotmil Qur`an di makam hukumnya boleh. Demikian juga berdo`a yang mengiringi khotmil Qur`an, maka lebih memungkinkan dan lebih mudah diijabahi, dan do`a tersebut akan memberi manfa`at pada orang yang meninggal. Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar yang mengambil referensi dari sebagian besar Ulama-Ulama Syafi`iyah, bahwa pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, akan sampai pada orang meninggal. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ulama-Ulama madzhab Ahmad bin Hanbal

          Menurut Imam Sya`rony dalam kitab Mizan Al Kubro, beliau berpendapat bahwa diterimanya pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, memang ada ikhtilaf, dan masing-masing memiliki dasar / hujjah. Dan madzhab Ahlus Sunnah menyatakan bahwa seseorang bisa menjadikan pahala dari amal baiknya kepada orang lain, dan pendapat ini sesuai dengan Imam Ahmad bin Hanbal.

          Imam Muhammad Ibnu Al Marwizy pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : Apabila kalian memasuki area makam, bacalah Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al Mu`awwidzatain, dan hadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka akan sampai pahalanya. Dan setelah itu berdo`alah : Allohumma aushil wa ahdi tsawaba ma qoro`tuhu minal Qur`anil `Adhim ila man fi hadzihil maqbaroh, khususon ila ………..

          Menurut  Al `Allamah Muhammad `Aroby dalam kitab Majmu` Tsalatsi Rosa`il, bahwa sesungguhnya membaca Al Qur`an untuk orang meninggal hukumnya boleh, dan pahalanya akan sampai padanya, walaupun dalam pembacaannya tersebut dengan upah. Pendapat ini yang dipakai pegangan para Ulama Fiqih madzhab Ahlus Sunnah, yang didasarkan pada hadits riwayat Abu Hurairah RA :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من دخل المقابر ثمّ قراء فاتحة الكتاب وقل هوالله احد وألهاكم التكاثر , ثمّ قال إنّي جعلتُ ثواب ما قرأتُ من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاءَ له الى الله تعالى

Rosulullah S.A.W bersabda: “Barangsiapa memasuki area makam, kemudian membaca Al Fatihah, Al Ikhlas dan At Takatsur, lalu berdo`a menghadiahkan baca`annya kepada ahli kubur yang mukmin dan mukminat, maka kelak ahli kubur tersebut akan memohonkan pertolongan pada Alloh untuknya “

Kesimpulan :

Menurut Madzhab Syafi`i : Pahala shodaqoh akan sampai pada orang yang meninggal secara pasti (tanpa batasan). Adapun membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, adalah sampainya pahala tersebut tapi perlu keyakinan dan kemantapan dalam niyat menyampaikannya, karena merupakan bentuk do`a

Menurut Madzhab Maliki :    Tidak ada ikhtilaf lagi tentang sampainya pahala shodaqoh untuk orang meninggal

Menurut Madzhab Hanbali     :  Pahala membaca Al Qur`an dan kalimat-kalimat thoyibah lain, akan sampai pada orang meninggal.

REFLEKSI KISAH KEBENCIAN DAN KEKEJAMAN PARA PENGUASA

Siapa yang tak kenal Adolf Hitler, Joseph Stalin, dan Pak Harto. Hitler dan Stalin adalah orang yang paling dibenci oleh seluruh warga Eropa. Bagaimana tidak, bayangkan saja, selain mereka adalah biang keladi meletusnya Perang Dunia Kedua, yang membuat dunia ini kacau balau, Hitler dan Stalin adalah pelaku genosida yang paling bengis sepanjang sejarah homo sapiens.

Hitler melakukan propaganda kebencian dan aksi pemusnahan massal kaum Yahudi di Eropa. Barang siapa yang bernasib apes karena ditakdirkan lahir dari keluarga Yahudi, maka ia harus siap-siap di-Kamp-kan oleh Hitler dan tentara fasisnya. Di-Kamp-kan adalah sebutan untuk metode penyiksaan dan pembunuhan massal dengan memasukkan orang-orang Yahudi ke dalam sebuah ruangan yang diberikan gas pembunuh.

Begitu pula Stalin, ia sama bengisnya dengan Hitler. Stalin, menjabat sebagai ketua polit biro Partai Komunis Uni Soviet (PKUS), menggantikan Vladimir Lenin yang buru-buru mati sebelum program Revolusi Bolsheviknya terlaksana. Ada yang menyebut bahwa Revolusi Bolshevik gagal gara-gara Stalin. Ia tak patuh dengan rencana revolusi yang digariskan Lenin.

Kembali ke kebengisan Stalin. Stalin orangnya sangat licik dan kejam. Bagaimana tidak licik dan kejam, ia membunuh sesama kamerad revolusionernya. Kabarnya Leon Trotsky dan sekeluarganya diclurit secara membabi buta. Belum sampai di situ saja kebengisan Stalin. Ia berlaku seenak dan semaunya menuduh orang-orang yang tidak sejalan garis kebijakannya sebagai ‘kaum kontra revolusi’. Dan barang siapa yang sudah mengantongi label sebagai ‘kaum kontra revolusi’. Tanpa ba bi bu ia harus siap-siap untuk diangkut oleh Tentara Merah untuk di-Gulag-kan di Siberia.

Siapa yang tidak takut Siberia. Tempat padang es yang dinginnya naudzubillah min dzalik itu. Di Siberia, sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah salju belaka. Dan cuaca Siberia konon katanya mencapai minus 17 derajat celcius. Jika tidak kuat-kuat, orang-orang yang punya gelar mulia sebagai ‘kaum kontra revolusi’ akan mati kedinginan seketika. Dan jumlah korban kekejajaman Stalin tak main-main, mencapai 40 juta manusia. Gila bukan?

Selanjutnya adalah Pak Harto. Pasti anda semua sudah mengenalnya. Setidaknya anda kenal bapak pembangunan (sekaligus bapak penggusuran) ini dari bokong truk: Piye le, penak jamanku tho?. Bagaimana tidak enak, jaman Pak Harto orang bisa hilang dan tidak tau nasibnya jika punya pandangan yang mengganggu keamanan dan ketertiban keluarga Cendana.

Tiga tokoh di atas memiliki satu kesamaan: yaitu otoriter. Sebagaimana tabiat para despot yang otoriter, walaupun mereka adalah orang-orang gagah yang punya meriam dan pasukan tentara ratusan hingga ribuan kompi di barak. Ada satu hal sepele yang membuat mereka takut bukan main: yaitu orang yang mempunyai pikiran waras.

Zaman Hitler, orang yang memiliki pandangan yang berbeda dengan garis kebijakan sang fuhrer, ia harus siap-siap dituduh sebagai antek Yahudi yang harus di-Kamp-kan di Auschwitz.

Begitu pula zaman Stalin. Di Rusia, barang siapa yang sedikit saja kurang cocok dengan garis partainya Stalin, ia harus siap-siap dicap sebagai ‘kaum kontra revolusi’. Dan jika stampel sial itu sudah melekat. Maka udara dingin Siberia sudah siap menantinya.

Kalau Pak Harto sedikit berbeda. Beliau orangnya sedikit malu-malu, barangkali karena beliau masih sangat menjunjung tinggi nilai budaya ningrat Jawa. Maka ia tidak bisa terang-terangan jika kurang sreg dengan orang lain. Pak Harto sukanya main belakang. Barang siapa yang berani berbicara lantang tak setuju dengan kebijakan Pak Harto, walaupun siang hari ia masih bisa tertawa dan main rasan-rasan. Malam harinya ia akan hilang dan tidak akan pulang lagi, seperti Wiji Thukul.

Baiklah, tiga kisah tokoh-tokoh gagah yang takut dengan orang yang punya pikiran waras di atas adalah kisah dari abad sebelumnya. Kalau zaman ini, abad 21, yang oleh Rheinald Kasali disebut-sebut sebagai era disrupsi, negara dengan penguasa yang zalim dan otoriter sudah lumyan tidak se-gila kisah-kisah di atas itu.

Akan tetapi, di zaman ini walaupun selamat dari kebengisan penguasa otoriter, dunia tetap tidak dalam keadaan baik-baik saja. Zaman ini selain disebut-sebut sebagai era disrupsi dan era revolusi industri 4.0 dengan masifnya bisnis start-up, juga terkenal dan dipercaya sebagai era “kebangkitan agama-agama”.

Akan tetapi, kebangkitan agama-agama ini berbeda dengan kebangkitan agama di abad-abad yang sebelumnya. Dulu, ketika nabi Muhammad Saw pada abad ke-7 masehi membawa cahaya terang yang membebaskan peradaban dari belenggu kejahiliyahan kaum kafir quraisy. Di masa itu, kaum perempuan dinaikkan derajatnya, kaum miskin disantuni, dan kaum budak dimerdekakan.

Di abad ini, kebangkitannya berbeda dan sangat menakutkan. Wajahnya tidak seteduh saat dibawa nabi Muhammad Saw. Saat ini kebangkitannya berwajah menakutkan. Orang-orang non muslim ketakutan dengannya. Padahal dulu nabi melindungi kaum Yahudi dan Nasrani di Madinah.

Kebangkitan agama di abad ini, alih-alih mengklaim mengikuti jejak nabi. Ia malah berwajah sebaliknya, tidak ramah dan tidak pula mencerahkan. Ia tampak sangat menakutkan. Ia malah berlaku di bawah bayang-bayang tabiat para penguasa otoriter yang sudah kita kisahkan dengan pilu di atas. Ia berlaku sama takutnya dengan orang-orang yang punya pikiran yang waras. Bahkan, lebih remeh lagi. Ia takut dengan komedi. Wallahhu a’lam.

KITAB RISALAH ADABUS SULUKIL MURID KARYA IMAM ABDULLOH AL HADDAD RAH.

KAJIAN KITAB RISALATU ADABI SULUKIL MURID

Karya : Al Habib Abdullah Alwi Al Haddad

فصلٌ

اِعلم أنّ أوّل الطريق باعثٌ قويّ يُقذف في قلب العبد يُزعجه ويُقْلقه ويَحثُّه على الإقبال على الله والدّارِ الآخرة، وعلى الإعراض عن الدُّنيا وعمّا الخَلْقُ مشغولون به مِن عَمارَتِها وجَمعِها والتَّمَتُّع بشهواتِها والاغتِرارِ بِزخَارِفها. وهذا الباعِثُ مِن جنود الله الباطِنة، وهو مِن نَفحاتِ العِناية وأعلامِ الهِدايَة، وكثيراً ما يُفتَح بهِ على العبْدِ عِند التَخْويف والتّرغيب والتّشويق، وعِند النّظَرِ إلى أهل الله تعالى والنّظَرِ منهم، وقد يقعُ بِدون سببٍ.

Ketahuilah bahwa jalan yang pertama-tama harus ditempuh adalah mengeluarkan dorongan yang kuat dihati untuk berminat dan mengajak untuk menuju Allah Ta’ala dan menuju jalan ke Akherat, serta menomor duakan dunia, dari segala yang biasanya dikejar manusia kebanyakan. Seperti mengumpulkan menumpuk kekayaan, bersenang-senang menurut hawa nafsunya, serta bermegah-megahan, dalam tindakan dan kemewahannya.

Dorongan ini merupakan rahasia-rahasia Tuhan yang dilimpahkan ke dalam hati hamba-Nya, itulah yang dikatakan inayah Tuhan dan tanda-tanda petunjuk-Nya, sering inayah serupa di limpahkan ke dalam hati hambanya dikala dalam ketakutan atau menggembirakan atau timbulnya kerinduan terhadap Zat-Nya, ataupun ingin mengadakan pertemuan dengan para wali Allah, atau sewaktu mendapatkan nasehat atau pandangan dari mereka. Adakalanya dorongan tersebut tanpa ada sesuatu sebab tertentu.

والتّعرُّضُ للنَّفحات مأمورٌ به ومُرغَّبٌ فيه والانتِظار والاِرتِقاب بدون التَّعرُّض ولزوم الباب حُمقٌ وغَباوةٌ.

كيف و قد قالَ عليه الصّلاةُ والسّلام: ” إنَّ لِرَبّكم في أيّام دهركُم نفحاتٍ ألاَ فتَعرّضوا لها”.

ومَن أكرَمه الله بهذا الباعِث الشَّريف فَليَعرِف قَدرَهُ المُنيف، وَلْيَعلَم أنّهُ مِن أعظَم نِعَم الله تعَالى عليه التي لا يُقدّرُ قَدرُها ولا يُبْلَغُ شُكرُها فَلْيُبالِغ في شُكر الله تعالى على ما منَحه وأوْلاهُ، وخصّه به مِن بين أشكالِه وأقرانِه فَكم مِن مُسلمٍ بلَغَ عُمرُه ثمانين سنَةً وأكثر لم يجد هذا الباعِث ولم يطْرُقْهُ يوماً مِن الدّهر.

Adapun cita-cita untuk-mendapatkan dorongan serupa itu, memang diharuskan dan digalakkan. Akan tetapi bercita-cita saja tanpa berusaha untuk meningkatkan dan mendapatkannya, itu satu keputusan yang bodoh, yang menunjukkan orang yang berharap atau bercita-cita saja tanpa amal, sangat bodoh sekali, bukankah Rasul SAW pernah bersabda ; ” Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan berbagai kelimpahan pada setiap manusia, maka hendaklah kamu menuntutnya “

Siapa yang telah mendapatkan penghargaan dari Allah Rabbul Alamin dengan dorongan yang Mulia ini, hendaklah ia menyediakan dirinya pada tempat yang sesuai. dan hendaklah ia tahu bahwa karunia Allah Ta’ala ini, adalah nilai yang paling tinggi di antara nikmat-nikmat yang lain. Dan tak dapat dinilai derajatnya, dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Kesyukuran atas nikmat-Nya, maka hendaklah melipatgandakan kesyukuran-mu terhadap Allah Ta’ala atas nikmat yang besar yang telah diberikan kepadamu.

Dipilih dan diutamakan diantara orang-orang yang setaraf dengan rekan-rekan yang berjuang yang telah mendapatkan nikmat.

Sangat banyak orang-orang Islam yang mencapai usia delapan puluh tahun atau lebih akan tetapi ia masih belum dikaruniakan dorongan serupa dan hatinya tidak pernah terketuk oleh rahasia bathinnya seharipun.

وعلى المُريد أن يجتهد في تَقْويَته وحِفظِه وإجابَته -أعني هذا الباعِث- فَتقوِيَته بالذّكر لله، والفِكر فيما عِند الله، والمُجالسة لأهل الله، وحِفظِه بالبُعد عَن مُجالسة المحجوبين والإعراضِ عَن وَسوَسة الشياطين، وإجابَتهِ بأن يُبادر بالإنابة إلى الله تعالى، ويَصْدُقَ في الإقبالِ على الله، ولا يَتَوَانى ولا يُسوِّف ولا يَتَباطَأ ولا يُؤَخِّر وقد أمكنَتْه الفُرصةُ فلْيَنتهِزها، وفُتِح له الباب فلْيَدخُل، ودَعاه الدّاعي فليُسرع

Seorang murid harus rajin berusaha untuk meperkokoh, memelihara dan menuruti ajakan dorongan bathin tersebut. Cara untuk memperkokohnya ialah dengan memperbanyak mengingat Allah Ta’ala (dzikir), merenung dan memperhatikan segala kekuasaan Allah Ta’ala, dan senantiasa dekat dan berdampingan dengan wali Allah.

Cara lain memeliharanya dengan menjauhkan diri dari berkumpul bersama-sama orang-orang yang tidak bermanfaat dalam agama, dan menjauhkan segala was-was dan tipu daya syaitan.

Yang terakhir dengan cara menuruti ajakannya ialah berlomba-lomba kembali kejalan Allah, berlaku benar dalam menghadapi segala perintah-Nya, tidak bermalas-malasan dan tidak menunda-nunda serta tidak pula melambat-lambatkannya.

Bahkan apabila sampai pada masanya hendaklah ia menunaikan, dan apabila terbuka pintu kebajikan hendak­lah ia masuk tanpa banyak berpikir, dan apabila diseru untuk berbakti hendaklah bergegas.

وَلْيحذَر مِن غدٍ بعد غدٍ فإنّ ذلك مِن عمَل الشّيطان، ولْيُقبل ولا يَتَثبّط ولا يتَعلَّل بِعَدم الفَراغ وعدم الصّلاحِيّة.

قال أبو الرّبيع رحِمه الله: سِيروا إلى الله عُرْجاً وَمَكَاسِير ولا تَنتَظروا الصِّحة فإنّ انتظار الصِّحة بَطالَةٌ.

وقال ابنُ عطاءِ الله في الحِكم: إحالَتُك العَمَل على وُجود الفراغِ مِن رُعوناتِ النّفوس.

Hendaklah berhati-hati atas ucapan besok atau lusa, sebab yang demikian itu adalah hasutan syaitan. Malah hendaklah ia terus-menerus mengerjakan segala amal baik itu dengan segera, tidak ditangguh-tangguhkan atau mencari-cari alasan karena tidak ada waktu, atau belum masa­nya untuk beramal dan sebagainya.

Berkata Abur Robi’ Rahimahullah : ” Tujukan dirimu ke jalan Allah dalam keadaan tampan atau cacat diri, jangan sekali-kali menunggu waktu sehat saja, karena menunggu waktu sehat itu adalah merugikan.”

Berkata Ibnu Atha’illah dalam kitabnya Al-Hikam : “menangguh-nangguhkan sesuatu amalan hingga adanya peluang, menandakan kebodohan jiwa”.

فصلٌ

وَأوَّلُ شيءٍ يَبْدَأ به المُريدُ في طريق الله تصحيحُ التَّوبة إلى الله تعالى مِن جميع الذنوب وإنْ كان عَليه شيءٌ مِن المَظالِم لأحدٍ مِن الخَلق فَليُبادر بِأدائها إلى أربابها إن أمكن وإلا فيَطلُب الإحلال منهم، فإنّ الذي تكون ذمّته مُرتَهنة بِحقوق الخَلق لا يُمكنه السّيرُ إلى الحقّ.

وشَرط صِحّة التّوبة صِدق النّدم على الذنوب معَ صِحّة العَزم على تَرْك العَوْد إليها مُدّة العُمر، ومَن تابَ عَن شيءٍ مِن الذنوب وهو مُصرٌّ عليه أو عازمٌ على العَوْد إليه فلا توبة له.

Langkah pertama yang harus dilalui si murid dalam menuju jalan Allah Ta’ala yang benar ialah dengan bertaubat pada Allah dengan sebenar-benarnya taubat dari segala dosa. Jika ada hak orang lain yang ada ditangannya di masa lalu, harus mencari jalan untuk mengembalikan dengan segera pada pemilik hak tersebut, jika barang tersebut tidak ada dan belum mampu untuk dikembalikan agar dimohon dari pemiliknya untuk dihalalkan, sebab kalau orang yang masih menanggung hak orang lain sangat sulit untuk menuju ke jalan Allah Ta’ala.

Syarat bertaubat ialah mengakui diri atas segala dosa-dosa yang telah lalu dengan sebenar-benarnya. Penyesalan serta berniat yang kuat tidak akan mengulanginya selama hayat dikandung badan. Orang yang taubat dari dosa, sedang ia terus melakukan dosa ataupun bercita-cita untuk melakukan lagi maka taubatnya itu sia-sia, namanya bukan taubat yang benar (Taubatan nashuha).

وَليكُن المُريد على الدوام في غايةٍ مِن الاِعتراف بالتَقصير عن القيامِ بما يجبُ عليه مِن حقِّ ربِّه، ومتى حزِنَ على تقْصيره وانكَسر قَلبه مِن أجله فليَعلم أنَّ الله عندَهُ إذ يقول سُبحانه: أنا عِندَ المُنكَسِرةِ قُلُوبهم مِن أجلي.

Seorang murid yang menuju ke jalan Allah Ta’ala harus senantiasa merasakan dirinya lemah, dan lalai dalam menunaikan hak-hak Allah yang wajib atas dirinya. Apabila ia merasa kesal dan lalai dan hatinya pun remuk redam mengenang dirinya yang malang, maka ketahuilah ketika itu Allah berada dan bersama-sama dengannya sesuai dengan Firman-Nya dalam hadits Qudsi :

” Aku senantiasa berada bersama-sama orang yang terpatah-patah hatinya karena Aku, “

وعلى المُريد أن يَحتَرِز مِن أصغَر الذنوب فضلاً عن أكبرها أشدّ مِن اِحترازِهِ مِن تَناولِ السُّم القاتِل، ويكون خوفُه لو ارْتكبَ شيئاً منها أعظم من خَوفه لو أكلَ السُّم، وذلكَ لأنّ المعاصي تعمل في القلوب عمَل السُّم في الأجسام، والقلبُ أعزُّ على المُؤمن مِن جِسمه بل رأس مالِ المُريد حِفظُ قلبه وعمارَتهُ. والجِسمُ غرضٌ للآفاتِ وعمّا قريبٍ يُتلَفُ بِالموتِ، وليس في ذهابِه إلا مُفارقةُ الدُّنيا النَّكِدة النَّغِصة وأمّا القلبُ إن تلِف فقد تلِفت الآخِرة فإنه لا ينجو مِن سخطِ الله ويفوزُ بِرِضوانه وثَوابه إلا مَن أتى الله بقلبٍ سليمٍ.

Seorang murid harus memelihara diri dari dosa-dosa kecil, apalagi dari dosa-dosa besar hendaklah lebih menjauhinya daripada menjauhi racun/bisa yang membunuh.

hendaklah takut dan gemetar apabila melakukan dosa, lebih takut daripada memakan racun yang mematikan , Sebab dosa dan maksiat itu akan me-matikan hati, Sebagaimana racun yang membinasakan badan.

Padahal hati seorang mukmin itu lebih mulia dan lebih berharga dari pada jasmani. Bahkan modal utama seorang murid adalah untuk memelihara dan menjaga hatinya, sedangkan badan senantiasa menghadapi berbagai bencana dan tak akan lama dia akan rusak direnggut maut.

kepergiannya berarti meninggal dunia (mati) yang penuh pancaroba dan malapetaka, dan sama sekali tidak dapat menjamin kebahagiaan yang kekal.

Adapun hati, jika ia binasa maka akan binasalah bersama akhiratnya. Sungguh tidaklah bisa selamat dari kemurkaan dan siksaanNya serta memperoleh keridhaan Allah dan mendapat balasan pahala (surgaNya) kecuali orang-orang yang mendatangi Allah dengan hati yang selamat.

Wallohu a’lam

WWW.JEJAKISLAM.COM MENYAMPAIKAN : SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1440 HIJRIYYAH

Selamat Tahun Baru Hijriah 1440 H.

Inti dari tahun baru Hijriah adalah Hijrah atau movement dari yang negatif ke hal yang positif, semoga kita mampu move total ke hal yang positif pada tahun baru ini.

Semoga kita Semakin bertambah Taqwa kepada Alloh swt. Amin

PENYEBAB DI SYAFA’ATINYA TUKANG RIBA OLEH NABI MUHAMMAD SAW.

Sebagai Dzat Yang Maha Segalanya, Allah Swt tentu saja tidak malaksanakan Ibadah sebagaimana kita mahlukNya. Allah Swt tentu saja tidak shalat, tidak puasa dan juga tidak berhaji.

Namun ada satu ibadah manusia yang Allah dan para MalaikatNya juga melakukannya, yaitu ber Shalawat pada Nabi SAW.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab: 56)

Nabi saw. bersabda :

“Dan kalau kamu membaca shalawat, maka bacalah dengan penuh penghormatan untuk ku.” Membaca shalawat untuk mencintai dan memuliakan Nabi saw.

Siti Aisyah ra. berkata : “Barangsiapa cinta kepada Allah Ta’ala, maka dia banyak menyebutnya dan buahnya ialah Allah akan mengingat dia, juga memberi rahmat dan ampunan kepadanya, serta memasukannya ke surga bersama para Nabi dan para wali. Dan Allah memberi kehormatan pula kepadanya dengan melihat keindahan-Nya. Dan barang siapa cinta kepada Nabi saw., maka hendaklah ia banyak membaca shalawat untuk Nabi saw., dan buahnya ialah ia akan mendapat syafaat dan akan bersama beliau di surga.”

Selanjutnya Nabi saw., bersabda : Barang siapa membaca shalawat untuk ku karena memuliakanku, maka Allah Ta’ala menciptakan dari kalimat (shalawat) itu satu malaikat yang mempunyai dua sayap, yang satu di timur dan satunya lagi di barat. Sedangkan kedua kakinya di bawah bumi sedangkan lehernya memanjang sampai ke Arasy.

Allah Ta’ala berfirman kepadanya :”Bacalah shalawat untuk hamba-Ku, sebagaimana dia telah membaca shalawat untuk Nabi-Ku. Maka Malaikat pun membaca shalawat untuknya sampai Hari Kiamat.” Allah SWT memberi salam kepada setiap orang yang memberi salam kepada Nabi saw., sebagaimana beliau bersabda :

“Saya berjumpa Jibril, maka dia berkata : ‘Sesungguhnya saya memberi kabar gembira kepadamu bahwA sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Barangsiapa memberi salam kepadamu, maka Aku memberi salam kepadanya dan barang siapa membaca shalawat untukmu, maka Aku membaca shalawat untuknya’.”

 Shalawat Nabi SAW dipercaya telah menjadi syafaat, rahmat, berkah, dan obat yang orisinil untuk menyelamatkan kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan kerap kali shalawat ini memutarbalikkan sebuah fakta inderawi.

Berikut sebuah kisah yang bertutur tentang keajaiban shalawat dari Ulama Besar, Imam Sufyan Ats-Tsauri..

Imam Sufyan Ats-Tsauri adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan gurunya. Nama lengkapnya adalah: Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi’ bin Abdillah bin Muhabah bin Abi Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Mulkan bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah bin Ilyas.

Imam Sufyan Ats-Tsauri lahir pada tahun 77 H. di Kufah pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Imam Sufyan ats-Tsauri menuturkan, “ Aku pergi haji. Manakala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seorang pemuda yang tak berdoa apapun selain hanya bershalawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka’bah, di Padang Arafah, di mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanyalah shalawat kepada Baginda Nabi SAW.”

Di Saat kesempatan yang tepat datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati,

“Sahabatku, ada doa khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu.”

Namun, dia berkata, “Aku tahu semuanya. Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti tindakanku yang aneh ini.”

“Aku berasal dari Khurasan. Ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia. Dan aku mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT. Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai. Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain. Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur.

Lalu, pintu tenda kami terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Alangkah tampak sedih engkau! Ada apakah gerangan?” Aku pun berkata, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita. Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.” Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah Anda, wahai kekasih kebaikan?” Dia menjawab, “Aku Muhammad al Musthafa” (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya).

Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kakinya, menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.”

Kemudian dengan lembut beliau Saw berkata, “Ayahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, wajah tukang riba berubah menjadi wajah keledai, tetapi disini Allah Yang Maha Agung mengubah lagi wajah ayahmu. Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik. Setiap malam sebelum tidur, dia melafalkan shalawat seratus kali untukku. Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafaat karena shalawatnya kepadaku. Setelah diizinkan, aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.”

Sufyan menuturkan, “Anak muda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak berdoa selain shalawat kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya Shalawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.”

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku. Jibril As. berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.” Berkata pula Mikail As., “Mereka yang bershalawat atasmu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.” Dan Israfil As. berkata pula, “Mereka yang bershalawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT mengampuni orang itu.” Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, ”Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.”

Bagaimana kita tidak CINTA dan BERSHOLAWAT kepada Rasulullah SAW?

Sementara para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bershalawat atas Rasulullah SAW.

Dengan kisah yang dikemukakan di atas, semoga kita tidak akan melepaskan peluang untuk selalu bershalawat kepada pemimpin kita, cahaya dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah SWT, Rasul, dan para MalaikatNya. Semoga shalawat, salam, serta berkah senantiasa tercurah ke hadirat Nabi kita, Rasul kita, cahaya kita, dan imam kita, Sayyidina Muhammad al Musthafa SAW beserta seluruh keluarga, dan sahabat-sahabat beliau yang mengikutinya, dan seluruh kaum mukmin yang senantiasa untuk melazimkan bershalawat kepada beliau. Amin.

SELAMAT IDUL FITRI 1439 H.

WWW.JEJAKISLAM.COM MENGUCAPKAN : SELAMAT IDUL FITRI 1439 H.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

SEMOGA PUASA KITA DI TERIMA DI SISI ALLOH SWT. SEHINGGA DI HARI YANG FITRI INI KITA SEMUA KEMBALI MENJADI FITRI SEBAGAIMANA BAYI YANG BARU DI LAHIRKAN. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN.

تقبل الله صيامنا وصيامكم وجعلنا الله من العائدين والفائزين أمين

BEBERAPA TUJUAN MELAKSANAKAN PUASA RAMADHAN

Salah satu rukum Islam adalah menjalankan puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan salah satu perintah Allah SWT yang telah tertuang dalam Al qur’an.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q. S. Al Baqarah :183)

Adapun tujuan berpuasa di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut :

 

  1. Menjalankan perintah Allah SWT

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q. S. Al Baqarah :186)

 

  1. Menjadi lebih bersyukur

Dengan berpuasa,  maka seseorang akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak memiliki makanan untuk dimakan sehingga ia akan jauh lebih bersyukur.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ.

Lihatlah kepada orang-orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah kalian melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut bagi kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat Allâh yang telah dianugerahkan kepada kalian.”

  1. Melatih pengendalian diri

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.”

“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.”

 

  1. Memohon ampunan

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ.”

“Kesalahan seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya akan dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah.”

 

  1. Memohon surga Allah

dari Sahl Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَاباً يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوْا أُغْلِقُ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.”

‘Sesungguhnya di Surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Dari pintu itu orang-orang yang berpuasa akan masuk pada hari Kiamat kelak. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Ditanyakan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’

Lalu mereka pun berdiri. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu akan ditutup sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.’”

  1. Membentuk akhlak mulia

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh yang bersifat lahiriah dan juga kekuatan bathin serta melindunginya dari faktor-faktor pencemaran yang merusak. Jika faktor-faktor pencemaran tersebut telah menguasai dirinya, maka ia akan rusak.

Dengan demikian, puasa akan menjaga kejernihan hati dan kesehatan anggota badan sekaligus akan mengembalikan segala sesuatu yang telah berhasil dirampas oleh nafsu syahwat. Puasa merupakan pembantu yang paling besar dalam merealisasikan ketakwaan…”

 

  1. Menjaga kesehatan

“…manfaat puasa juga dapat membersihkan tubuh dari pencemaran yang buruk dan memberikan kesehatan serta kekuatan. Hal tersebut telah diakui oleh banyak dokter. Bahkan mereka telah banyak mengobati pasien mereka dengan menggunakan puasa ini.”

 

  1. Menjaga diri dari api neraka

Sabda Rasulullah SAW :

الصّيِامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ اْلقِتَالِ

“Puasa itu perisai/penangkal dari api neraka seperti perisai bagi salah seorang kalian dari perang” (HR. Ahmad)

 

  1. Pahala langsung dari Allah

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Muslim)

 

  1. Mengharap syafaat di akhirat

Sabda Rasulullah SAW  :

الصِّيَامُ وَ الْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُوْلُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَ الشَّهْوَةَ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ. وَ يَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ فَيَشْفَعَانِ

“Puasa dan Al Qur’an memberi syafaat kepada hamba Allah pada hari kiamat. Puasa berkata : “Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya makan minum dan syahwatnya pada siang hari, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya”. Dan Al Qur’an pun berkata: “ Aku telah menghalanginya tidur pada malam, maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya.”(HR. Ahmad)

 

11.Melatih keikhlasan

Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya “ (HR Ahmad dan Muslim)

 

  1. Melatih untuk istiqomah

Dari Aisyah ra, ia berkata:

Adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (ungkapan kesungguhan dan kesiapan dalam beribadah) (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Semua amalan bani adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipatnya, Allah ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena aku, maka Aku yang akan membalasnya.’

Dan bagi orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Benar-benar mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada harumnya misk.” (HR. Muslim)

Demikian penjelasan terkait apa saja tujuan berpuasa di bulan ramadan dan dalilnya. Semoga bermanfaat.