KETENTUAN SYARAT RUKUN SHOLAT JAMA’AH

Shalat Jama’ah

Shalat berjamaah adalah simbol keutuhan umat Islam. Sekat perbedaan hilang digantikan persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Tidak heran jika shalat yang dikerjakan dengan berjamaah mempunyai pahala yang jauh lebih besar dibanding shalat sendirian. Rasulullah saw bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Artinya: Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih 27 derajat. (HR. al-Bukhari)

Shalat jamaah bisa didirikan paling sedikit oleh dua orang:  seorang imam dan seorang makmum. Hukum melakukan shalat berjamaah dalam shalat lima waktu adalah fardhu kifâyah bagi orang Muslim laki-laki, mukim, merdeka dan tidak ada udzur. Dengan demikian jika dalam satu desa tidak ada yang mengerjakan shalat berjamaah sama sekali, maka semua penduduk desa tersebut berdosa.

Seseorang masih dianggap mengikuti jamaah selagi imamnya masih belum melafalkan mîm-nya lafal: عَلَيْكُمْ dalam salam pertama, meskipun makmum tidak sempat duduk bersama duduk tasyahud-nya imam.

Syarat Sahnya Shalat Jamaah

1. Makmum harus berniat jadi makmum atau berniat berjamaah (mengikuti imam). Sedangkan imam hanya disunnatkan berniat jadi imam agar bisa memperoleh pahala jamaah.

Niat berjamaah dilakukan pada saat takbîratul ihrâm. Jika niat berjamaah dilakukan di pertengahan shalat maka hukumnya makruh dan tidak memperoleh fadhilahnya berjamaah. Keabsahan melakukan niat berjamaah di tengah-tengah shalat itu berlaku untuk selain shalat Jum’at. Sebab, shalat Jum’at wajib dikerjakan berjamaah. Imam dan makmum Jum’at wajib niat berjamaah bersamaan dengan takbîratul ihrâm.

2. Tahu terhadap perpindahan rukun yang dilakukan imam, bisa dengan melihat imamnya, mendengar suaranya, mendengar suara orang yang menyampaikan takbîr intiqâl-nya imam (muballigh), atau melihat sebagian dari makmum.

3. Makmum harus menyesuaikan dengan imamnya dalam melakukan atau meninggalkan sunnat-sunnat shalat yang jika tidak menyamai imamnya akan menyebabkan terjadinya perbedaan yang mencolok antara gerakan imam dan makmum. Misalnya, jika imam melakukan atau meninggalkan sujud tilâwah, maka makmum harus mengikuti imam.

4. Posisi makmum tidak boleh berada di depan imam. Boleh lurus dengan imam akan tetapi hukumnya makruh dan menghilangkan fadhilah jamaah. Patokan posisi pada saat berdiri adalah tumit kaki,  bukan ujung jari-jari. Jadi, tumit kaki makmum tidak boleh berada di depan tumit kaki imam.

5. Makmum tidak boleh mendahului atau terlambat dari imam dalam dua rukun fi’li (rukun yang berbentuk gerakan bukan ucapan) secara berurutan.

Sedangkan bersamaan dengan imam hukumnya ada lima:

a. Haram dan dapat membatalkan shalat, yaitu bersamaan dengan imam dalam takbîratul ihrâm.

b. Sunnat. Yaitu membaca âmîn setelah Fâtihahnya imam.

c. Makruh dan dapat menghilangkan keutamaan jamaah jika dilakukan dengan sengaja, yaitu bersamaan dengan imam dalam melakukan rukun-rukun fi’li dan salam.

d. Wajib, yaitu jika makmum tahu bahwa kalau tidak membaca Fâtihah bersama imam, maka ia akan tertinggal dua atau tiga rukun dari imam yang menyebabkan batalnya shalat.

e. Mubah (boleh). Yaitu di selain hal-hal di atas.

6. Antara imam dan makmum harus cocok dalam susunan atau bentuk shalatnya. Maka dari itu, tidak sah melakukan shalat lima waktu dikerjakan berjamaah dengan orang yang shalat khusuf (gerhana) atau jenazah, karena bentuk shalatnya tidak sama.

7.  Imam dan makmum harus berkumpul dalam satu tempat. Mengenai hal ini masih ada beberapa peninjauan:

Pertama, bila imam dan makmum sama-sama di dalam masjid, maka makmum boleh mengikuti imam sekalipun jarak antara makmum dan imamnya lebih dari 300 hasta (183,6 meter) asalkan :

1) makmum tahu pada perpindahan rukun imam,

 2) tidak ada penghalang yang membuat makmum tidak bisa sampai kepada imam jika misalnya makmum berjalan. Maksudnya, antara makmum dan imam ada jalan (ruang) tembus sekalipun dengan cara berpaling (mundur).

Kedua, bila imamnya di masjid sedangkan makmum berada di luar masjid, maka:

1) jarak antara ujung masjid dengan tempat itu tidak boleh melebihi 300 hasta (183, 6 meter) jika barisan shaf jamaah tidak bersambung hingga tempat tersebut;

2) makmum harus tahu perpindahan rukun imam;

3) tidak ada penghalang antara keduanya (harus ada jalan tembus yang menghubungkan makmum dan imam, walaupun dengan cara menyamping). Dalam persoalan kedua ini jalan tembus tidak bisa dengan cara berpaling (mundur).

Ketiga, bila jamaah dilakukan di tempat lapang atau di dalam bangunan yang bukan masjid, maka syaratnya:

1) jarak antara imam dan makmum tidak boleh lebih dari 300 hasta.

2) makmum harus mengetahui perpindahan rukun imamnya.

3) tidak ada penghalang antara keduanya (harus ada jalan tembus yang menghubungkan makmum dan imam, walaupun dengan cara menyamping). Dalam persoalan ketiga ini, juga jalan tembus tidak bisa dengan cara mundur.

8. Memiliki keyakinan bahwa shalat imamnya sah. Maka, makmum yang bermadzhab Syafii tidak sah bermakmum pada orang yang bermadzhab Maliki yang melarang membaca Basmalah di awal Fâtihah, jika makmum yakin bahwa imamnya tidak membaca Basmalah ketika membaca Fâtihah.

9. Tidak boleh bermakmum pada perempuan jika makmumnya laki-laki.

10. Tidak boleh bermakmum kepada orang yang sedang menjadi makmum.

Kesunnahan dan Kemakruhan dalam Jama’ah

Sunnat-sunnat bagi imam :

1.Mengerjakan kewajiban dan kesunnatan seringan mungkin. Ini bukan berarti sunnat memilih yang tidak sempurna, akan tetapi sunnat tidak melebihi kesempurnaan yang telah ditetapkan, semisal membaca tasbîh tiga kali saja. Hal ini karena kondisi makmum bermacam-macam. Bisa jadi di antara mereka ada yang sudah tua atau terburu-buru disebabkan ada urusan.

2.Mengeraskan suaranya di setiap takbir baik takbîratul ihrâm atau takbir intiqâl (perpindahan rukun).

3.Memanjangkan shalatnya di rakaat pertama. Ini berlaku ketika pada awalnya ia shalat sendirian, lalu berfirasat bahwa akan ada orang yang akan bermakmum pada dirinya.

4.Sebelum takbir memerintah makmum agar meluruskan barisannya.

5.Memperlama rukû‘ dalam rakaat terakhir. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada makmum yang baru datang (masbûq) agar memperoleh hitungan rakaat.

6.Juga makruh menjadi imam bagi orang-orang yang kebanyakan dari mereka tidak menyukainya karena alasan syariat, semisal penguasa yang tidak disukai karena kedzalimannya atau orang yang tidak disukai karena tidak menjaga diri dari najis.

Sunnat-sunnat bagi makmum :

1. Tidak berdiri kecuali setelah selesainya iqâmah.

2. Meratakan shaf atau barisan. Makruh hukumnya shalat di belakang shaf yang belum penuh dan dapat menghilangkan keutamaan jamaah. Shaf terbilang rata, jika antara lengan makmum saling dempet satu sama lain, berikut juga antara mata kaki makmum.

Sedangkan tatanan shaf yang baik adalah :

·Pertama, jika makmumnya satu orang dan laki-laki maka berdiri di sebelah kanan imam, agak mundur sekiranya jari-jari kaki sedikit berada di belakang tumit imam (tidak sampai lebih dari 3 hasta). Jika ada makmum lain datang, maka makmum ini berdiri di sebelah kiri imam lurus dengan makmum yang pertama, lalu setelah takbir, kedua makmum mundur dan merapatkan barisan ke belakang imam, atau imamnya maju. Akan tetapi lebih baik makmum mundur daripada imam maju.

·Kedua, jika makmumnya dua orang atau lebih, maka langsung merapatkan barisan di belakang imam.

·Ketiga, jika makmumnya perempuan dan imamnya laki-laki maka berdiri di belakang imam.

·Keempat, jika shaf pertama sudah sempurna, maka makmum yang baru datang dapat membuat shaf kedua. Jika ia hanya sendirian, maka agar mendapatkan keutamaan jamaah, ia harus mencari teman dalam shaf dengan cara menarik seorang jamaah di depannya. Penarikan itu dilakukan setelah ia takbir. Hal itu jika dia memiliki praduga kuat bahwa orang yang akan ditariknya mau.

3. Dalam perpindahan rukun, makmum mulai bergerak pada saat imam sudah sempurna dalam pekerjaan rukunnya. Dalam sujud makmum mulai bergerak ketika imam sudah meletakkan dahinya ke tempat sujud. Dalam rukû‘ makmum baru bergerak ketika imam sudah meluruskan badannya. Dalam duduk, makmum baru bergerak setelah tegaknya imam. Ketika salam makmum baru salam ketika imam selesai melakukan salam yang kedua.

4. Makmum masbûq  tetap disunnatkan membaca bacaan imam, ketika ia ikut dalam rukun itu. Misalnya seseorang ikut pada imam di saat tasyahhud,  maka selain ikut tasyahhud ia juga sunnat membaca doa tasyahhud yang disyariatkan.

5. Makmum mengangkat kedua tangan saat bangun dari tasyahhud awal, walaupun bagi makmum pada saat itu bukan waktu tasyahhud, seperti halnya jika makmum baru ikut di rakaat kedua imam.

Makruh-makruh dalam Shalat Jamaah :

1.Makmum berdiri sejajar dengan imam, atau berada di belakang imam melebihi dari tiga hasta.

2.Sendirian dalam shaf, atau berdiri di shaf belakang padahal shaf di depannya belum penuh.

3.Shalat di atas imam atau sebaliknya: imam di lantai dasar sedangkan makmum di lantai atas, atau sebaliknya. Hal ini apabila masih bisa shalat di tempat yang datar (tidak bertingkat).

4.Orang baligh bermakmum kepada anak kecil yang sudah pintar. Kalau belum pintar maka tidak sah.

5.Orang yang adil bermakmum kepada imam yang fasik.

6.Orang fasih bermakmum kepada orang yang mengucapkan kata-kata dengan mengulang huruf seperti mengulang-ngulang wau atau fâ’ (seperti bicaranya orang gugup).

7.Orang fasih bermakmum kepada orang lahn (bacaannya tidak tepat) yang tidak merusak makna. Apabila sampai merusak makna dan tidak mau berusaha untuk memperbaiki bacaannya, maka tidak sah bermakmum kepadanya.

8.Bermakmum pada makmum masbûq setelah salamnya imam. Maksudnya bermakmum kepada makmum masbûq yang sedang menambah rakaat. Atau, pada saat semua makmum masbûq berdiri (setelah salamnya imam), ada di antara mereka yang maju untuk menjadi imam. Hal ini selain makruh juga dapat menghilangkan keutamaan jamaah.

9.Bersamaan dengan imam dalam mengerjakan rukun, baik berupa rukun fi’li atau qauli. Untuk yang qauli adalah seperti membaca Fâtihah: pada saat imam membaca Fâtihah makmum sunnat mendengarkannya (tidak membaca sendiri). Hal itu apabila makmum yakin bisa menyusuli rukû‘ bersama imam. Bedahalnya jika imam membaca Fâtihah dan surat dengan cepat, jika makmum tidak membaca bersama dikhawatirkan terlambat dari imam, maka  makmum tidak makruh membaca Fâtihah bersama imam.

PENJELASAN ISTILAH UKURAN ATAU PARAMETER DALAM KITAB KUNING : MIQDAR, MIKYAL, MIZAN DAN MASAFAH

Miqdar, Mikyal, Mizan & Musafah

    1 Sha’    :    4     Mud : 3 Kg : 2 Bambu

    1 ’Araq    :    41,25    Liter

    1 Faraq    :    8,25    Liter

    1 Faqiz    :    22    Liter

    1 Qullah Air    :    95    Liter

    1 Mud    :    0,688    Liter : 750    Gram

    1 Wusuq    :    165,60    Liter : 180    Kg

    1 Awqiyyah Perak    :    126,8    Gram

    1 Daniq Perak    :    0,495    Gram

    1 Dirham Perak    :    2,975    Gram

    1 Mitsqal Emas    :    4,25    Gram

    1 Farsakh    :    5.544    Meter : 3 Mil

    1 Mil    :    1.848    Meter

    Musafah Qasar    :    16 Farsakh : 4 Burud : 34 Mil : 88.704 Meter

    Nisab Zakat Emas    :    85 Gram 24 ‘Iyar

    Nisab Zakat Perak    :    595 Gram

    Nisab Zakat Zuru’    :    900 Kg

    Kifarat Sumpah    :    10 Mud : 7,5 Kg

    Kifarat Jima’     :    60 Mud : 45 Kg

    Diyat Sempurna    :    1.000 Dinar : 4.259 Gram Emas

    Zakat Fitrah    :    1 Sha’ : 4 Mud : 3 Kg

    Nisab Mencuri    :    ¼ Dinar : 1 Gram 62 Mili

Sumber : KITAB “MA’LUMAT TAHAMMUK” Karya :Syaikh Nuruddin Al-Marbu Al-BAnjari Al-Makkiy

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS DAN KEISTIMEWAAN MEMBACANYA

Surah al-Ikhlas memiliki banyak nama. Ada hampir 20 nama. Surah al-Muqasqisah, surah an-Najaah, al-Jamaal, al-Amaan, an-Nisbah dan lain-lain. Surah ini merupakan wahyu yang ke-19.

Pada wahyu-wahyu pertama, tidak disebut kata Allah tapi memakai kata rabb yang berarti Tuhan. Misalnya dalam surah al-Alaq 1-5, surah al-Mudatsir 1-7, dan seterusnya. Ini menjadi tanda tanya, mengapa pada wahyu pertama tidak disebut nama Allah?

Jawabnya sederhana, yakni karena kaum musyrik (penyekutu Tuhan) juga percaya Allah. Akan tetapi kepercayaan mereka tentang Allah berbeda dengan orang Islam. Orang Islam misalnya percaya bahwa Allah Maha Esa, Maha Suci, tidak memiliki anak dan tidak ada yang sama dengannya.

Karena ayat-ayat pertama turun hanya memakai lafal “rabb”, maka orang-orang Yahudi bertanya,

“Hai Muhammad, Kau selalu menyebut ‘rabb’, selalu menyebut nama ‘Tuhan’. Seperti apa sebetulnya Tuhan yang Kau maksud? Terbuat dari emaskah? Terbuat dari kayukah atau terbuat dari perak? Bagaimana Sifatnya?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan menyampaikan wahyu surah al-Ikhlas. Demikian sebagaimana disebutkan dalam kitab Tafsir at-Tabari.

    Kata “Ikhlas” di dalam Tafsir al-Mishbah dimaknai dengan suatu upaya menyingkirkan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan Tuhan sehingga yang tersisa hanya gambaran tentang Tuhan. Misalnya anggapan manusia pada waktu itu yang menganggap Tuhan lebih dari satu, bahwa Tuhan memiliki anak dan lain sebagainya.

Surah al-Ikhlas bila diterjemahkan seperti demikian:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Allah adalah zat yang Maha Esa. Kata Esa merupakan terjemahan dari kata ahad. Di dalam bahasa Arab, ada kata ahad, ada kata wahid. Keduanya bermakna satu. Apa bedanya? Ahad dalam zatnya, dalam sifatnya dan dalam perbuatannya. Misalnya jam tangan yang dipakai seseorang ada satu. Jam tangan tersebut satu namun terdiri atas beberapa unsur. Jam tangan membutuhkan jarum dan beberapa bahan. Satu yang terdiri atas beberapa unsur seabagaimana contoh jam tangan menggunakan kata wahid. Sedangkan Tuhan yang Maha Esa tidak membutuhkan unsur yang lain untuk keesaannya. Inilah yang disebut dengan ahad.

Suatu riwayat disandarkan kepada Ibnu ‘Abbas ra, menyatakan bahwa ash-shamad berarti: “tokoh yang telah sempurna ketokohannya, mulia dan mencapai puncak kemuliaan, yang agung dan mencapai puncak keagungan, yang penyantun dan tiada yang melebihi santunannya, yang mengetahui lagi sempurna pengetahuannya, yang bijaksana dan tiada cacat dalam kebijaksanaannya.”

Al-Allamah Ismail Haqqy dalam Tafsir Ruhul Bayan menyebutkan bahwa kata ash-shamad yang berpola Fa’al maknanya berpola maf’ul. Maknanya yang dituju oleh siapa saja yang memohon pertolongan. Yakni, Allah adalah Tuan yang dituju, tempat bergantung segala sesuatu dan tempat memohon segala jenis permohonan. Selain Allah pasti membutuhkan Allah dalam seluruh aspeknya. Di alam raya ini tidak ada yang pantas dituju selain Allah.

Adapun makna dari firman Allah lam yalid wa lam yuulad, Ibnu ‘Abbas menafsirkan, bahwa makna dari firman Allah (لَمْ يَلِدْ) “Dia tiada beranak.” Adalah: Allah tidak beranak seperti halnya Maryam. (وَ لَمْ يُوْلَدْ) “dan tiada pula diperanakkan.” Yakni: Allah tidak diperanakkan seperti halnya ‘Isa dan ‘Uzair.

Ayat ini sekaligus menjadi sindiran terhadap orang-orang Nashrani dan Yahudi yang menganggap ‘Isa dan ‘Uzair adalah Anak Allah. Setiap yang terlahirkan pasti akan mati, dan setiap yang mati pasti akan mewariskan, sedangkan Allah tidak akan pernah mati dan tidak pula mewariskan.

(وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Yakni: tidak ada yang menyerupai-Nya. “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Adalah: Allah tidak serupa atau setara dengan siapapun, dan tidak ada yang dapat menyerupai atau menyetarakan-Nya.

Pada ayat yang terakhir ini terdapat taqdim dan ta’khir (kata yang “dimajukan” dan kata yang “diakhirkan”), di mana khabar kana (yaitu kata (كُفُوًا)) dimajukan terhadap isim kana (أَحَدٌ). Biasanya kalimat yang menyebutkan kata kana seperti ini, maka yang disebutkan setelahnya adalah isim-nya dahulu baru setelah itu khabar-nya. Namun untuk menyesuaikan irama akhir-akhirnya ayat agar terbentuk menjadi satu, maka khabar kana pada ayat ini diakhirkan, dan bentuk kalimat seperti ini merupakan bentuk bahasa yang sangat tinggi.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai surah al-Ikhlas. Tujuan utama kehadiran Alquran adalah memperkenalkan Allah dan mengajak manusia untuk mengesakan-Nya serta patuh kepada-Nya. Surah ini memperkenalkan Allah dengan memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan sekaligus menjawab pertanyaan sementara orang tentang Tuhan yang beliau sembah.

Surah al-Ikhlas memiliki beberapa khasiat. berikut adalah khasiat Surah al-Ikhlas. Pertama, orang yang membaca Surah al-Ikhlas lima puluh kali, ia akan mendapatkan panggilan masuk surga di hari kiamat. Jabir bin Abdullah  meriwayatkan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad bersabda,

“Siapa yang membaca Surah al-ikhlas setiap hari 50 kali, maka pada hari kiamat, ia akan dipanggil dari kuburnya ‘Bangkitlah, wahai orang yang memuji Allah, dan masuklah ke dalam surga!” (HR. Thabrani).

Kedua, orang yang membaca surah al-Ikhlas sebanyak tujuh kali sesudah salat Jumat bersama-sama surah al-Falaq dan an-Nas, maka dirinya akan dijaga oleh Allah Swt, dari berbagai kejahatan sampai hari Jumat berikutnya.

Ketiga, surah al-Ikhlas, dikenal pula sebagai sepertiga Alquran, disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, Kanjeng Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, “Apakah tidak ada yang mampu di antara kalian untuk membaca sepertiga Alquran dalam satu malam?”

Karena hal itu dirasa sulit bagi mereka, maka mereka menjawab, “Mana mungkin di antara kami ada yang mampu melakukannya, wahai Kanjeng Nabi?”

Rasulullah pun menjawab, “Qul huwa Allahu aḥad, Allahussamad adalah sepertiga Alquran.”

Keempat, keutamaan membaca surah al-Ikhlas adalah terhindar dari kefakiran. Cara pengamalannya adalah dengan membacanya setiap kali masuk rumah. Hal ini berdasarkan riwayat berikut, Rasulullah bersabda.

“Barang siapa membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ ketika akan masuk rumah, maka akan dijauhkan dari kefakiran dalam rumah dan tetangganya.” (HR. Ath-Thabrani dari Jarir ra).

Tentu saja masih ada banyak sekali khasiat membaca surah Al-Ikhlas yang tidak tertulis di sini. Wa ila-Allahi turja’ul umuur.

Referensi:

Tafsir Al-Mishbah Karya M. Quraish Shihab

Al Jaami’ liahkamil Qur’an karya Imam al-Qurtubhy

Jami’ al-Bayan ’an ta’wil al-Qur’an karya Imam Al-Tabari

Tafsir Ruhul Bayan karya Al-Alamah Ismail Haqqy

MACAM- MACAM JENIS TIDUR DAN HAL-HAL YANG MENYEBABKAN FAQIR JUGA MISKIN

Macam – Macam Tidur

(فائدة)

النوم على سبعة أقسام نوم الغفلة ونوم الشقاوة ونوم اللعنة ونوم العقوبة ونوم الراحة ونوم الرحمة ونوم الحسرات أما نوم الغفلة فالنوم في مجلس الذكر ونوم الشقاوة النوم في وقت الصلاة ونوم اللعنة النوم في وقت الصبح ونوم العقوبة النوم بعد الفجر ونوم الراحة النوم قبل الظهر ونوم الرحمة النوم بعد العشاء ونوم الحسرات النوم في ليلة الجمعة اهـ من هامش الحصن الحصين

Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sangat sempurna, karena pada diri manusia terdapat dua unsur yang tidak dimilki oleh makhluk-makhluk lain yaitu akal dan nafsu, jika manusia dominan dipengaruhi akal niscaya ia naik tingkatan malaikat, namun jika sebaliknya dipengaruhi nafsu ia akan turun derajatnya dan akan lebih rendah dari hewan.

Sungguh Allah maha adil yang telah memberikan kita berbagai nikmat, salah satunya Allah menciptakan waktu-waktu yang dianjurkan untuk istirahat, bias dengan tidur atau yang lainya, diantara waktu-waktu untuk istirahat ada yang baik, namun ada juga yang kurang afdhal.

Berikut ini penjelasan TIDUR dari Al-‘alamah Syaikh Sulaiman bin Mansur, salah satu ulama bermazhab Syafi’i yang wafat pada tahun 1204 H.

Tidur Ada Tujuh Macam

  1. Tidur lalai
  2. Tidur celaka
  3. Tidur laknat
  4. Tidur siksaan
  5. Tidur senang (istirahat)
  6. Tidur rahmat
  7. Tidur rugi

Penjelasan :

1) Tidur lalai ialah tidur di majelis zikir/ilmu

2) Tidur celaka ialah tidur saat sudah waktu shalat

3) Tidur laknat ialah tidur di waktu subuh

4) Tidur siksaan ialah tidur sesudah fajar

5) Tidur senang (istirahat) ialah tidur sebelum zuhur

6) Tidur rahmat ialah tidur setelah Isya

7) Tidur rugi ialah tidur di malam Jum’at

Kitab Hasyiah Jamal Juz I Hal. 274

 

34 Sebab yang Menyebabkan Fakir-Miskin

  1. Tidur dalam keadaan telanjang
  2. Kencing dalam keadaan telanjang
  3. Makan dalam keadaan berjunub
  4. Makan sambil tiduran
  5. Membiarkan berserakannya sisa makanan.
  6. Membakar kulit bawang merah dan bawang putih.
  7. Menyapu lantai dengan sapu tangan.
  8. Menyapu rumah di malam hari
  9. Membiarkan sampah mengotori rumah.
  10. Memanggil orangtua dengan nama keduanya.
  11. Mencongkel gigi dengan benda kasar.
  12. Mencuci tangan dengan lumpur dan debu.
  13. Duduk di beranda pintu.
  14. Besandar pada kaki gawang pintu.
  15. Berwudhu’ di tempat Qada hajat (Buang air besar dan kecil).
  16. Menjahit pakaian yang sedang dipakai.
  17. Mengelap wajah dengan kain.
  18. Membiarkan sarang laba-laba dirumah.
  19. Meremehkan shalat.
  20. Bersegera keluar dari mesjid sesudah shalat subuh.
  21. Pergi ke pasar di pagi buta.
  22. Berlama-lama di pasar.
  23. Membeli potongan makanan dari fakir yang meminta (mengemis).
  24. Berdoa keburukan kepada anak.
  25. Mematikan lampu (lilin) dengan cara meniup.
  26. Menulis dengan pena rusak.
  27. Menyisir rambut dengan sisir rusak.
  28. Tidak mau berdoa dengan kebagusan bagi orang tua.
  29. Memakai sorban sambil duduk.
  30. Memakai celana sambil berdiri.
  31. Bersikap kikir.
  32. Terlalu hemat.
  33. Berlebihan dalam kehidupan.
  34. Suka menunda dan meremehkan pekerjaan.

Sumber : Kitab Ta’lim Muta’alim hal.43-44

WALAUPUN KEINGINAN DAN HAJAT TERTUNDA JANGANLAH BERPUTUS ASA

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء – موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد

Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Di antara syarat diterimanya doa adalah apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak berputus asa. Belum terkabulnya doa seorang hamba, padahal ia telah berulang-ulang berdoa jangan sampai menjadikannya putus asa, karena Allah berfirman,

”Berdoalah kalian kepada-Ku maka Aku akan mengabulkanmu.” (Ghâfir: 60)

Allah SWT. akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Namun demikian, terkabulnya doa tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah. Karena Allah Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hamba-Nya; terkadang Allah menolak permintaan seorang hamba, karena memang yang terbaik adalah tidak terkabulnya doa itu. Dalam konteks ini, ketika Allah menolak suatu doa sebenarnya secara tersirat memberi, sebagaimana dikatakan oleh syaikh Atha’, ”Ketika Allah menolak sebuah permintaan sebenarnya memberi dan ketika memberi sebenarnya menolak.” Untuk memperkuat pandangan ini, simaklah ayat berikut ini,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216)

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Penolakan Allah dalam merealisasikan suatu doa, mempunyai substansi pemberian yang tepat bagi manusia. Demikian juga, Dia mengabulkan sebuah doa pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan. Jadilah seperti Musa yang sabar, karena sabar dan tidak tergesa-gesa merupakan sifat yang utama bagi seorang hamba. Simaklah kisah Musa dan Harun yang berdoa agar Fir’aun dan kaumnya beriman kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, ”Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.” (Yûnus: 88) Sampai akhir ayat yang mengisahkan tentang permohonan Musa dan Harun agar kaumnya beriman kepada Allah, dan ternyata permohonan itu baru dikabulkan setelah empat puluh (40) tahun berlalu, sebagaimana firman Allah berikutnya,

”Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu teteplah kalian berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Yûnus: 89)

Dalam sebuah hadits disebutkan, ”Sesungguhnya Allah menyukai kesabaran dalam doa.”

Juga dalam hadits lain disebutkan, ”Sesungguhnya hamba yang shaleh apabila berdoa kepada Allah, malaikat Jibril berkata: Wahai Tuhanku, hamba-Mu fulan telah berdoa, maka kabulkanlah. Kemudian Allah berfirman: Berdoalah wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku senang mendengar suaramu.”

Demikianlah, tata krama dalam berdoa yang telah ditunjukkan oleh Allah agar menjadi pedoman bagi umat Islam. Terkadang Allah mengabulkan atau mengganti dengan hal lain yang notabene merupakan kebaikan dan tambahan yang lebih baik.

ZINA MATA DAN BAHAYA LAKI LAKI BABYFACE SERTA ONANI ATAU MASTURBASI

ZINA MATA DAN ZINA HATI

Anggota badan itu memang berpotensi unt berbuat zina : Zina mata adalah penglihatan yang digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Sedangkan zina hati adalah hati mempunyai keinginan pada yang diharamkan kepada ALLAH.

.كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا مدرك له لا محالة العينان زناهما النظر والأذنان زناهما الإستماع واللسان زناه الكلام واليد زناها البطش والرجل زناها الخطا والقلب يهوي و يتمنى و يصدق ذلك الفرج أو يكذبه. الحديث. إسعاد الرفيق : ص : ٦٧

Memandang foto yang mengumbar aurat hukumnya adalah harom :

الحلال والحرام في الإسلام : ص : ١١٣ :

.فتصوير النساء عاريات أو شبه عاريات و إبراز موانع الأنوثة و الفتنة منهن و رسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات موقظة للغوائر الدنيا كما ترى ذلك واضحا في المجلة والصحف و دور السينما كل ذلك مما لا شك في حرمته و حرمة تصويره وحرمة نشره على الناس وحرمة إقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمجلات وتعليقه على الجدران وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته.

Yag memberi foto juga ikut berdosa karena termasuk membantu dan pelantara pada perbuatan ma’siat :

إسعاد الرفيق ٢/١٢٧

ومنها الإعانة على المعصية أى على معصية من معاصي الله بقول أو فعل أو غيره تم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك

أصول الفقه لمحمد أبو زهرة : ص : ٢٨٨

و بيان ذلك أن موارد الأحكام قسمان مقاصد وهي الأمور المكونة للمصالح والمفاسد في أنفسها أى التي هي في ذاتها مصالح أو مفاسد و وسائل وهي الطرق المقضيةإليها وحكمها حكم ما أفضت إليه من تحليل أو تحريم غير أنها أخفض رتبة من المقاصد في حكمها

Allah swt berfirman :

يعلم خائنة الاعين وما تخفى الصدور

Artinya : Dan (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang di sembunyikan oleh hati. (QS. Ghaafir : 19).

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن نظر الفجاءة فأمرنى ان اصرف بصرى

Artinya : Aku bertanya kepada Rasulullah saw dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja) maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku. (HR. Muslim).

Makna pandangan tiba-tiba adalah pandangan kepada wanita ajnabiyah tanpa sengaja, tidak ada dosa baginya pada pandangan pertama dan wajib untuk memalingkan pada saat itu juga. Apabila dipalingkan pada saat itu juga maka tidak berdosa tapi apabila terus-menerus memandang, maka berdosa berdasarkan hadist ini. Seorang penyair berkata :

كل الحودث مبدأها من النظر * ومعظم النار من مستصغر الشرر.

كم نظرة بلغت فى قلب صاحبها * كمبلغ السهم بين القوس والوتى.

والعبد ما دام ذا طرف يقلبه * فى اعين الناس موقوف على الخطر.

يسر مقلته ماضر مهجته * لا محر حبا بسر ورعاد بالضرر.

Artinya :

Seluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan * dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil.

Betapa banyak pandangan yang jatuh menimpa hati yang memandang * sebagaimana jatuhnya anak panah yang terlepaskan antara busur dan talinya.

Selama seorang hamba masih memiliki mata yang bisa ia bolak balik * maka ia sedang berada di atas bahaya di antara pandangan manusia.

Menyenangkan mata apa yang menjadikan penderitaan jiwa * sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.

– Dalam shohih bukhori, disebutkan :

ﺍﻟْﻌَﻴْﻦُ ﺗَﺰْﻧِﻲ، ﻭَﺍﻟْﻘَﻠْﺐُ ﻳَﺰْﻧِﻲ، ﻓَﺰِﻧَﺎ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦِ ﺍﻟﻨَّﻈَﺮُ، ﻭَﺯِﻧَﺎ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﺍﻟﺘَّﻤَﻨِّﻲ، ﻭَﺍﻟْﻔَﺮْﺝُ ﻳُﺼَﺪِّﻕُ ﻣَﺎ ﻫُﻨَﺎﻟِﻚَ ﺃَﻭْ ﻳُﻜَﺬِّﺑُﻪُ

“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)

– Syarah ‘Uquudul lujain :

(وَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُتِبَ عَلَىَ ابْنِ آدَمَ) أي قضى عليه وأثبت في اللوح المحفوظ (نَصِيبُهُ مِنَ الزّنَا) أي مقدماته كما نقله العزيزي عن المناوي (مُدْرِكٌ) أي فهو مدرك (ذَلِكَ)  أي ما كتب عليه (لاَ مَحَالَةَ) بفتح الميم أي لا بد ولا شك (فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النّظَرُ) إلى ما لا يحل (وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ)  إلى ما لا ينبغى شرعا (وَاللّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ) بما لا ينفع دنيا ولا دينا (وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ) أي القهر والأخذ بالعنف (وَالرّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا) بضم الخاء المعجمة  أي نقل الأقدام إلى مل لا يحل (وَالْقَلْبُ يَهْوَى) بفتح الواو أي يحبّ (وَيَتَمَنَّى) مالايحل (وَيُصَدّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذّبُه) أي بالإتيان بما < ص 17 > هو المقصود من ذلك، أو بالترك. رواه مسلم عن أبي هريرة.

Rosulullah SAW bersabda : Telah di tetapkan atas bani adam,jika tertulis di lauhil mahfudz ia berzina,maka itu akan terjadi, pasti ! Zina kedua mata adalah melihat pada hal yang tidak halal baginya,Zina kedua kuping adalah ketika diperdengarkan pada hal yang tak sepantasnya di dengar menurut syara’. Zina lisan adalah digunakan untuk mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi dunia dan agamanya. Zina tangan adalah merebut paksa. Zina kaki adalah digunakan untuk melangkah / berjalan menuju tempat yang tidak halal baginya. Dan hati ketika ditumpangi syahwat dan berharap sesuatu yang tak halal, adakalanya farjinya ikut membenarkan atau menganggap itu hanya dusta

وقال عليه السلام: {لِكُلِّ ابْنِ آدَمَ حَظٌّ مِنَ الزِّنَا، فَالعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَظَرُ، وَاليَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا البَطْشُ، وَالرِّجْلاَنِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا المَشْيُ، وَالفَمُ يَزْنِيْ وَزِنَاهُ القُبْلَةُ، وَالْقَلْبُ يَهُمّ أَوْ يَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبَهُ} كذا في الإحياء.

Rosul SAW bersabda : Pada setiap bani adam ada bagian dari zina.Kedua mata berzina dan zina keduanya adalah melihat, Kedua tangan berzina dan zina keduanya adalah merampas (mengambil paksa / tanpa hak). Kedua kaki berzina dan zina keduanya adalah digunakan berjalan ke tempat yang tak halal. Mulut berzina dan zinanya adalah melakukan ciuman. Dan hati berangan-angan atau mengharap/menghayalkan sesuatu yang tak halal baginya.

 

ZINA YANG DILAKUKAN BANCI YANG OPERASI GANTI KELAMIN

.وبواضح فرج الخنثى المشكل فلا يسمى الإيلاج فيه زنا لاحتمال ذكورته وكون هذا المحل زائدا. الباجوري ٢/٢٣٠

Untuk syarat zina yang masuk ke dalam zina yang dihad ada 12, diantaranya :

  1. Gender harus nyata, jadi jika khuntsa muskil yang punya 2 alat kelamin, maka tidak bisa dikatakan zina
  2. Alat kelamin harus asli. Bilamana ada seorang laki-laki punya 2 kelamin yg serupa dan sama maka tidak dihad
  3. Alat kelamin menempel, jadi jika dgn kelamin yg sudah putus maka tidak dihad
  4. Alat kelamin yg dimasuki nyata (wadeh). Dan lain-lain.

و الحاصل ان شروط وجوب حد الزنا بالجلد او بالرجم اثنا عشراحدها ان يكون المولج مكلفا….ثانيها واضح الذكورة فخرج الخنثى المشكل الذى له التان للرجال و النساء اذ اولج الة الذكورة فلا حد عليه لاحتمال انوثته و لاحتمال كون هذا عرقا زائدا……..ثالثها اولج جميع حشفته فخرج ما لو اولج بعض الحشفة فلا حد رابعها اصالة الذكر فخرج مالو خلق له ذكران مشتبهان فاولج احدهما فلا حد للشك فى كونه اصلياخمسها اتصال الذكر فخرج الذكر المبان فلا حد فيهسادسها ايلاج الحشفة فى قبل واضح الانوثة فخرج مالو اولج فى فرج خنثى مشكل فلا حد لاحتمال ذكورته و كون هذا محل زائدا……

نهاية الزين ٣٤٧

 

AMROD BABYFACE DAN PRILAKU HOMOSEKSUAL

Dalam HADITS : Nabi Muhammad shallaahu alaihi wa sallama bersabda :

أهل الجنة جرد مرد لا يفنى شبابهم

“Penduduk surga itu jurd (orang yang tidak memiliki rambut di tubuhnya), murd (yang tidak memiliki jenggot di janggutnya) dan yang kemudaannya tidak akan sirna”. [ Faidh Alqoodir III/85 ].

Dalam FIQH :

الأمرد وهو الشاب الذي لم تنبت لحيته ولا يقال لمن أسن ولا شعر بوجهه أمرد بل يقال له ثط بالثاء المثلثة

“Amrod adalah pemuda yang tidak tumbuh jenggotnya hanya saja bagi orang yang telah berusia yang tidak memiliki jenggot tidak bisa disebut amrod melainkan disebut dengan Tsath”. [ Al-Iqnaa Li Assyarbiiny II/407 ].

AMROOD (Meeril, Thuyuur) dan BAHAYANYA

( 1 ) ( اتفق الأئمة عليهم رضوان الله تعالى على تحريم اللواط في نظر الشرع وعلى أنه م…ن الفواحش العظام بل إنه لأفحش من جريمة الزنا وإنه كبيرة من الكبائر وذلك للأحاديث المتواترة في تحريمه ولعن فاعله……… آية 34 من العنكبوت وقال تعالى : { ولوطا اذ قال لقومه أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين إنكم لتأتون الرجال شهوة من دون النساء بل أنتم قوم مسرفون…….

وروى الترمذي عن أبن عباس رضي الله عنهما أنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( لا ينظر الله عز و جل إلى رجل أتى رجلا أو امرأة في دبرها ) رواه النسائي………

اللواط يستوجب لعنة الله حقا إن اللواط يستوجب لعنة الله وغضبه ولعنة الملائكة والناس أجمعين لآنه فعل شاذ ينتافى مع العقل السليم والذوق المستقيم ويدل على أن صاحبه قد خلع جلباب الحياء والمروءة وتخلى عن سائر صفات أهل الشهامة وتجرد حتى من عادات …..

ولهذا شدد علماء الإسلام في البعد عن هذه الجريمةن من إطالة النظر إلى الغلام الأمرد ولا سيما إن كان صاحب صورة جميلة . وبعضهم اشترط في تحريمها أن تكون بشهوة لأنها ذريعة للفاحشة ومهيجة للشهوة الكامنة . عن الحسن بن ذكوان رحمه الله أنه قال : لا تجالسوا أولاد الأغنياء فإن لهم صورا جميلة كصورة النساء وهم أشد فتنة من النساء . وعن النجيب بن السدي رحمه الله أه قال : كان يقال : ( لايبيت الرجل في بيت مع الأمرد ) وعن أبن سهل أنه قال : سيكون في هذه الأمة قوم يقال لهم اللوطيون وهم على ثلاثة أصناف : صنف ينظرون وصنف يصافحون وصنف يعملون ذلك العمل

وعن مجاهد أنه قال : لو أن الذي يعمل ذلك العمل ( يعني عمل قوم لوط ) اغتسل بكل قطرة نزلت من السماء وكل قطرة في باطن الأرض لم يزل نجسا حتى يتوب من ذنبه . وجاء رجل إلى مجلس الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله ومعه صبي حسن الوجهن جميل الصورة فقال له الإمام من هذا منك ؟ قال : أبن أختي قال له لا تجىء به هنا مرة ثانية ولا تمشي معه في الطريق لئلا يظن بك من لا يعرفك ويعرفه . وجخل سفيان الثوري رحمه الله الحمام العام فدخل عليه صبي حسن الوجه عاري الجسد فصرخ أغمض عينيه وقال : أخرجوه فإني أرى مع كل امرأة شيطانا وأرى مع كل صبي أرد بضعة عشر شيطانا . وذلك كله لأن ضرر هذه الفعلة الشنيعة من أخطر الأضارار على الرجال والنساء بل على الفرد والمجتمتع والإنسانية كلها فنسأل الله الحفظ والعصمة أنه سميع الدعاء

Ulama Madzhab Arba’ah (Hanafi, maliki, Syafi’I dan Hanbali) sepakat tentang keharamam sodomi bahkan keharamannya melebihi ketimbang perbuatan zina sekalipun dan termasuk dosa besar karena berdasarkan hadits-hadits yang mutawatir. Allah Subhaanahu wa ta’aala mengutuk perbuatan ini dengan firmanNya :

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (menjijikan) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf : 80 – 81)

Imam Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melihat lelaki yang ‘mendatangi’ lelaki dan perempuan yang ‘mendatangi’ perempuan dalam duburnya” (HR. an-Nasaa’i)

Sodomi merupakan perbuatan yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah Ta’aala, para malaikat dan semua manusia karena menjalaninya berarti melakukan perbuatan menyimpang yang tidak dapat di terima oleh akal sehat dan naluri yang lurus, menunjukkan pelakunya adalah mereka yang telah hilang rasa malunya, harga dirinya, bersedia melepas jiwa kesatriaannya dan menggantinya dengan perilaku binatang……

Karenanya demi menghindari perbuatan dosa ini para Ulama Islam sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari memandang PEMUDA AMROD terlebih bila ia sangatlah tampan, meski hanya sekedar memandang mereka menghukuminya haram namun sebagian ulama lain mensyaratkan keharaman memandang AMROOD tersebut bila di sertai unsur syahwat karena memandang AMROD memang bisa menjadi perantara perbuatan keji dan bisa membangkitkan syahwat yang terpendam. Hasan Bin Zakwaan berkata :

“Janganlah kalian duduk bersanding pemuda-pemuda pelantun lagu karena mereka memiliki wajah rupawan layaknya wajah perempuan dan fitnah (cobaan) yang ditimbulkan mereka lebih kuat ketimbang fitnah terhjadap wanita”.

Najib Bin Sayyidi berkata : “Jangnlah seseorang bermalam serumah bersama amrod”.

Ibnu Sahal berkata : “Akan datang di umat Muhammad shollallaahu ‘Alaihi wa sallam ini segolongan kaum yang di sebut “ALLUUTHIYYUUN (pengikut kaum Luth)”, mereka terbagi atas tiga kelompok : sekelompok hanya suka memandang, sekelompok saling berjabat tangan dan sekelompok yang lain melakukan penyimpangan seperti halnya kaum Luth (sodomi).

Imam Mujahid berkata : “Andai yang melakukan perbuatan tersebut (sodomi seperti kaum Nabi Luth As.) mandi dengan setiap tetes air yang turun dari langit dan setiap tetes air yang keluar dari bumi, kenajisan mereka tetap tak akan hilang selama ia belum bertaubat”.

Tersebutlah seorang lelaki yang sudah biasa mendengarkan pengajian di Majlis Ta’lim Imam Ahmad Bin Hanbalsuatu saat datang dengan membawa seorang pemuda tampan,

Imam Hanbal bertanya pada lelaki tersebut,

“Siapa pemuda tampan ini ?”

“Anak saudara perempuanku” Jawab lelaki tersebut

“Jangan kau bawa dia untuk kedua kalinya kesini” Larang Ahmad Bin Hanbal

“Dan jangan engkau membawanya berjalan bersamamu agar tidak menimbulkan sakwa sangka bagi orang yang tidak mengenalmu atau mengenalnya” Tambah Imam Ahmad Bin Hanbal .

Sufyan Atssauri memiliki kamar mandi umum yang biasa di buat buat mandi oleh orang-orang sekitarnya, suatu saat datang seorang anak tampan yang mandi dengan telanjang, Sufyan Atssauri berteriak sambil memejamkan mata,

“Keluarkan dia dari kamar mandi …..!!,

bersama wanita aku hanya melihat satu syetan tapi bersama setiap anak tampan aku dapat melihat lebih sepuluh syetan”

Semua keterangan di atas untuk menjaga diri dari bahayanya perbuatan menjijikkan yang bisa mengarah pada perbuatan sodomi, semoga Allah Ta’aala selalu menjaga kita dari semua perbuatan nista, Aamiin Yaa Robb. [ Al-fiqh ‘Alaa Madzaahib al-Arba’ah V/63-64 ].

وحكم اللواط وإتيان البهائم كحكم الزنا

ومن وطئ فيما دون الفرج عزر ولا يبلغ بالتعزير أدنى الحدود

Hukum Liwath/sodomi dan men’datangi’ binatang seperti hukumnya zina/haram. Dan barangsiapa siapa men’datangi’ pada anggauta selain farji (alat kelamin wanita) berhak di ta’zir. [ Matan Abi Sujaa’ I/206 ].

Dalam sebuah hadits Nabi disebutkan :

أخبرنا قتيبة بن سعيد قال ثنا عبد العزيز وهو الدراوردي عن عمرو هو بن أبي عمرو عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعن الله من عمل عمل قوم لوط لعن الله من عمل عمل قوم لوط لعن الله من عمل عمل قوم لوط قال أبو عبد الرحمن عمرو ليس بالقوي تابعه خالد بن مخلد عن سليمان بن بلال عن عمرو

Rosululloh Sallallaahu ‘Alaihi wa sallam melaknat orang yang berbuat seperti kaum Luth dengan bersumpah sebanyak 3 kali. Rosululloh Sallallaahu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “La’anallohu man ‘amila amalan qoumi luth wa la’anallohu man ‘amila ‘amalan qoumi luth wa la’anallohu man ‘amila ‘amalan qoumi luth.” ( Alloh melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum luth dan Alloh melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum luth dan Alloh melaknat orang yang berbuat seperti yang diperbuat kaum luth). [ Sunan Kubro li An-Nasaai IV/322 ].

Coba perhatikan (kurang lebihnya) cacian Imam Nawawy terhadap pelaku sodomi berikut ini :

بل أقبح وأفظع من العجماوات فناهيك برذيلة تتعفف عنها الكلاب والحمر والخنازوير فكيف يليق فعلها ممن هو في صورة كبيرة أو غني أو عظيمن كلان بل هو اسف من قدره وأشأم من خبةه

انت من الجيفة القذرة وأحق بالشرور وأولى بالفضيحة من غيره وأهل للخزي والعار فإن القاتل والسارق والزاني لا يكون في نظر المجتمع مثل الائط بل يكونون أحسن منه حالا واشرف بالنسبة له لأنه خائن لعهد الله تعالى وما له من المانة فبعدا وسحقا وهلاكا في جهنم ورئس المصير

“Perbuatan sodomi itu lebih hina dan nista dari apapun, engkau memandang hina kelakuan anjing, keledai dan babi (maaf) maka bagaimana mungkin perbuatan itu layak dilakukan dari makhluk semulya manusia, engkau bangkai yang menjijikkan, lebih berhak mendapatkan aneka kejelekan dan celaan dari lainnya, berhak caian dan umpatan, sesungguhnya pencuri dan pezina sekalipun lebih baik keadaannya ketimbang tukang sodomi karena mereka adalah para pelaku yang menghianati janji Allah, sedang pelaku sodomi ? Apa yang dihasilkan dari sekitar pinggang ? Jauh amat, terjerumus sekali, rugi sekali (bila harus di tanggung) dalam neraka jahannam dan merasakan kepedihan dalam tempat kembali kelak”. [Alfiqh ‘Alaa Madzaahib al-Arba’ah V/63].

Onani Termasuk Dosa Besar Atau Kecil?

Dalam kajin fiqih madzhab Syafi’i onani termasuk dosa kecil. Tapi dosa kecil yang diulang² akan menjadi dosa besar. ( Nihayatuzzein hal 214, lihat redaksi ibaroh di daftar referensi). Tapi mari kita simak hadis berikut dalam kitab Hasyiyah Aljamal 5/128 :

حاشية الجمل ٥ ص ١٢٨

وَقَدْ رَوَى أَبُو جَعْفَرٍ الْفِرْيَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْبَجَلِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا «سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَيَقُولُ لَهُمْ اُدْخُلُوا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ الْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ وَالنَّاكِحُ يَدَهُ وَنَاكِحُ الْبَهِيمَةِ وَنَاكِحُ الْمَرْأَةِ فِي دُبُرِهَا وَالْجَامِعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَابْنَتِهَا وَالزَّانِي بِحَلِيلَةِ جَارِهِ وَالْمُؤْذِي جَارَهُ حَتَّى يَلْعَنَهُ اللَّهُ» اهـ

Makna; Benar² Abu Ja’far Al Firyaniy telah meriwayatkan dari Abdurrohman Al Bajaliy dari Ibnu ‘Umar hadis marfu’ : ” Tujuh orang yg Alloh Ta’ala tidak akan melihat (tidak akan merahmati) mereka di hari kiyamat dan Alloh Ta’ala tidak akan mensucikan mereka , dan mereka akan disiksa dg pedih dan dikatakan pada mereka : “masuklah kalian ke neraka bersama orang² yg masuk neraka yaitu:

  1. Pelaku liwath dan yg di liwath.

( Liwath adalah memasukkan dzakar ke anus laki² maupun anus perempuan).

  1. Orang yg kawin dg tangannya (termasuk onani baik dg tangan ataupun alat).
  2. Orang yg mengawini menyetubuhi hewan.
  3. Orang yg mengawini wanitanya di anusnya.
  4. Orang yg menikahi wanita dan anaknya (Atau menikahi ibunya juga menyetubuhi putrinya atau sebaliknya).
  5. Orang yg menzinai (menyelingkuhi) istri tetangganya.
  6. Orang yg menyakiti tetangganya sampai dilaknat oleh Alloh.

Demikian juga dalam kitab Syu’ubul-iman onani masuk ke dalam 7 golongan orang yang tidak dilihat oleh Alloh Ta’ala dengan penglihatan rohmat, dan tidak akan disucikan oleh Alloh Ta’ala dan akan diasingkan.

شعب الإيمان

٥٠٨٧ – أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذَبَارِيُّ، وَأَبُو عَبْدِ اللهِ الْحُسَيْنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ بُرْهَانَ الْغَزَّالُ، وَأَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ، وَأَبُو مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ السُّكَّرِيُّ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، ثنا عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ الْجَزَرِيُّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” سَبْعَةٌ لَا يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَا يَجْمَعُهُمْ مَعَ الْعَالَمِينَ، يُدْخِلُهُمُ النَّارَ أَوَّلَ [ص: ٣٣٠] الدَّاخِلِينَ إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، إِلَّا أَنْ يَتُوبُوا، فَمَنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ النَّاكِحُ يَدَهُ، وَالْفَاعِلُ وَالْمَفْعُولُ بِهِ، وَالْمُدْمِنُ بِالْخَمْرِ، وَالضَّارِبُ أَبَوَيْهِ حَتَّى يَسْتَغِيثَا، وَالْمُؤْذِي جِيرَانَهُ حَتَّى يَلْعَنُوهُ، وَالنَّاكِحُ حَلِيلَةَ جَارِهِ ” ” تَفَرَّدَ بِهِ هَكَذَا مَسْلَمَةُ بْنُ جَعْفَرٍ هَذَا ” قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي التَّارِيخِ

Makna Hadis; Dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ bersabda : ” Tujuh yg Alloh Azza wa Jalla tidak akan melihat pada mereka di hari kiyamat dan Alloh Ta’ala tidak akan mensucikan mereka dan Alloh Ta’ala tidak akan mengumpulkan mereka bersama orang² , Alloh Ta’ala akan memasukkan mereka ke Neraka dalam golongan awal orang² yang masuk neraka , kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat. Maka sesiapa saja yg bertaubat maka Alloh Ta’ala menerima taubat mereka.

Tujuh tersebut adalah:

  1. Orang yang menikahi tangannya (melampiaskan syahwat dg tangan, onani maupun dg alat).
  2. Pelaku liwath dan
  3. Orang yang di liwath.

( Liwath adalah memasukkan dzakar ke anus laki² maupun anus perempuan).

  1. Orang yang pemabuk dengan khomer.
  2. Orang yang memukul kedua orang tuanya sampai keduanya minta tolong.
  3. Orang yang menyakiti tetangganya sehingga tetangganya melaknatnya.
  4. Orang yang menikahi (menyelingkuhi) istri tetangganya.

Daftar referensi lainnya:

جامع الأحاديث

٣٣٩٣٧- عن الحارث عن على قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سبعة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم، يقال لهم: ادخلوا النار مع الداخلين، إلا أن تتوبوا، إلا أن يتوبوا، إلا أن يتوبوا:الفاعل، والمفعول به، والناكح يده، والناكح حليلة جاره، والكذاب الأشر، ومعسر المعسر، والضارب والديه حتى يستغيثا (ابن جرير وقال: لا يعرف عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إلا رواية على ولا يعرف له مخرج عن على إلا من هذا الوجه غير أن معانيه معانى قد وردت عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بها أخبار بألفاظ خلاف هذه الألفاظ [كنز العمال ٤٤٣٦٣]

نهاية الزين ، ص ٢١٤

وَتجب فِي جَمِيع هَذِه الْمُحرمَات الْفِدْيَة إِلَّا عقد النِّكَاح فَلَا فديَة فِيهِ لِأَنَّهُ لَا ينْعَقد فوجوده كَالْعدمِ وَلَا دم فِي النّظر بِشَهْوَة والقبلة بِحَائِل وَإِن أنزل بِخِلَاف مَا سوى ذَلِك من الْمُقدمَات فَإِن فِيهِ الدَّم إِن بَاشر عمدا بِشَهْوَة وَبِخِلَاف الاستمناء فَلَا تجب الْفِدْيَة إِلَّا إِذا أنزل وَكلهَا صغائر إِلَّا قتل الصَّيْد وَالْجِمَاع الْمُفْسد فَإِنَّهُمَا من الْكَبَائِر

أسنى المطالب

(ومن الصغائر) جمع صغيرة وهي كل ذنب ليس بكبيرة. (النظر المحرم – ومن ذلك القبلة للصائم التي تحرم شهوته والوصال في الصوم والاستمناء ومباشرة الأجنبية بغير جماع.

Wallohu A’lam.

HUKUM BERPARTAI DAN GAJIH DARI PARTAI YANG LAMA DAN BARU

Tahun ini di negara kita banyak bermunculan berbagai partai baru, sehingga situasi seperti ini telah dibuat kesempatan oleh sebagian warga yang berkedudukan di partai lama, ikut bekecimpung dalam partai baru.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukumnya kita berpartai ?.
  2. Bagaimana hukum mengambil gaji dari partai lama, padahal ia sudah berkecimpung dalam partai lain ?.
  3. Dan bagaimana hukumnya menerima gaji dari partai baru ?.

Jawaban a. :

Hukumnya Fardlu Kifayah, kalau memang :

  1. Berpartisipasi.
  2. Partainya bertujuan menegakkan agama Islam.
  3. Tidak menimbulkan perpecahan, sedangkan simpati pada partai tersebut hukumnya Fardlu ‘Ain.

Referensi :

1. Fatawa Syaikh Kisyik Juz.I Hal.141.

  1. Syarhul Jadid Li Jauharotit Tauhid Hal. 157.
  2. Imamatul ‘Udhma Hal. 158.
  3. Bughyatul Mustarsyidin Hal. 251.
  4. Wahdatul Ummah Al Islamiyyah Hal. 48 – 49.

1-وفى فتاوى الشيخ كشك للشيخ عبد الحميد كشك ما نصه :

موقف الإسلام من الأحزاب ليس رفضا مطلقا او اباحة مطلقة انما يتحدد الموقف من الأحزاب السياسية فى النظرة الإسلامية بالموقف الذى تفقه هذه الأحزاب ذاتها من مبادئ الإسلام السياسية والإقتصادية والإجتماعية وبصفة عامة مبادئ الإسلام المتعلقة بتنظيم الحياة العامة فى الدولة وقد سئل ابن تيمية عن موقف الإسلام من الأحزاب السياسية فأجاب بأن الأحزاب التى تدعو الى خير وحق ويؤدى وجودها الى تحقيق مصالح الناس تدخل فى نطاق قوله تعالى عن المؤمنين {أولئك حزب الله ألا ان حزب الله هم المفلحون} وان الأحزاب التى

تقوم على محاداة الله ورسوله تدخل فى وصف الله سبحانه وتعالى للضالين بأنهم {حزب الشياطين}.

2-وفى شرح الجديد لجوهرة التوحيد ما نصه :

المعنى أنه يجب وجوبا كفائيّا على جماعة المسلمين أن ينصبوا عليهم إماما يقوم بتنفيذ أحكامهم وإقامة حدودهم وسدِّ ثُغورهم . وتجهيز جيوشهم وأخذ صدقاتهم وقهر المتغلّبة والمتلصّصة وقطّاع الطريق واقامة الجمعة والاعياد وقطع المنازعات الواقعة بين العباد وقبول الشهادات القائمة على الحقوق وتزويج الصغار والصغائر الذين لا أولياء لهم وقسمة الغنائم اهـ.

3-وفى إمامة العظمى ما نصه :

قلنا الإمامة وسيلة الى إقامة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر بمفهومه الواسع – وهذا واجب على أفراد الأمة الإسلامية حيث انه لا يمكن به على وجه الأكمل إلا بعد تنصيب إمام للمسلمين يقودهم وينظمونهم طريق الوصول الى القيام بهذا الواجب اهـ.

4-وفى بغية المسترشدين للسيد عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر ما نصه :

{مسئلة ج} ونحوه أى الأمر بالعروف والنهي عن المنكر قطب الدين فمن قام به من أيّ المسلمين وجب على غيره إعانته ونصرته ولا يجوز لأحد التقاعد عن ذلك والتغافل عنه وإن علم أنه لا يفيد.

5-وفى وحدة الأمة الإسلامية للشيخ الدكتور زكريا عبد الرزاق المصري ما نصه :

وعند ما تغفل الأمة عن قضية الولاء فيما بينها يدب فيها الضعف والتفكك فيطمع فيها الأعداء على اختلاف أصنافهم ومذاهبهم وتياراتهم للإجهاز على هذه الأمة وتقطيع أوصالها وتحويلها الى خلايا حية فى أجساد أعدائها كما تتحول الأطعمة فى المائدة الى خلايا فى جسد المتحلقين عليها من الأكلين كما أخبر النبى صلى الله عليه وسلم  عن هذه الحقيقة الصارخة والماثلة امام أعيننا بكل وضوح نحس بها فى الليل وفى النهار فى السر وفى العلانية بقوله :

” يوشك أن تداعى عليكم الأمم كما تداعى الأكلة الى قصعتها قالوا : أمن قلة نحن يومئذ يا رسول الله ؟ قال : بل أنتم كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل – اى مفككون لا محبة ولا مناصرة فيما بينكم – ولينـزعن الله المهابة من صدور عدوكم منكم وليقذفن الله فى قلوبكم الوهن، قيل : وما الوهن يا رسول الله، قال : حب الدنيا وكراهية الموت “، وحب الدنيا يؤدى الى التنافس عليها مما يجر الى التباغض بين المتنافسين، وكراهية الموت يؤدى الى الجبن عن التناصر حبا فى السلامة، فيكون الضعف والهوان والذل وطمع العدو فيهم بسبب زوال هيبة المؤمنين من قلوب أعدائهم بتعدد ولائهم وتفكك أواصرهم وانفصال أجزاء جسدهم بعضها عن بعض فيتجرأ عليهم العدو كما تتجرأ القطط على سبع مقطع الأوصال لا رأس له ولا أطراف .

ومن هنا جاء النكير الشديد فى القرآن الكريم وفى السنة النبوية على الفرقة والنـزاع والخلاف المؤدى الى التناحر والتدابر والتكفي والإستنصار على المؤمنين بغير المؤمنين لما يؤدى اليه ذلك من هدم كيان الأمة وتطويعه للكفر وأهله .اهـ

*) Catatan :

    Membentuk pimpinan hukumnya Fardlu Kifayah, sedangkan di negara kita – Indonesia – partai adalah satu-satunya sarana untuk membentuk pimpinan sekaligus sebagai salah satu sarana Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang efektif terhadap pemerintah karena DPR sebagai kepanjangan tangan partai kedudukannya seimbang dengan pemerintah. Kesimpulan inilah yang dibuat acuan jawaban diatas وللوسائل حكم المقاصد  .

Jawaban b. :

  • Hukumnya HALAL, apabila gajinya dari pemerintah.
  • Dan HARAM, kalau memang gajinya dari donatur yang menyaratkan tidak berkecimpung pada partai lain.

Referensi : 1. Ihya’ ‘Ulumuddin Juz II  hal. 153.

  1. Bughyatul Mustarsyidin Hal. 273.
  2. Hamisy syarhirroudl Juz II Hal. 412.
  3. Al Majmu’ Juz III Hal. 127.

1-وفى إحياء علوم الدين للإمام الغزالى  ما نصه :

ولنفرض المال من الأموال المصالح كأربعة أخماس الفيء والموارث فإنما أداه مما قد تعين مستحقه إن كان من وقف أو صدقة أو خمس فيء أو خمس غنيمة وما كان من ملك السلطان مما أحياه أو اشتراه فله أن يؤتي ما شاء لمن شاء ، وانما النظر فى الأموال الضائعة وما للمصالح فلا يجوز صرفه إلا الى من فيه مصلحة عامة أو هو محتاج اليه عاجز عن الكسب فأما الغني الذى لا مصلحة فيه فلا يجوز صرف مال بيت المال اليه هذا هو الصحيح وإن كان العلماء قد اختلفوا فيه اهـ

2-وفى بغية المسترشدين للسيد عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر  ما نصه :

{مسئلة ى} أرزاق القضاة كغيرهم من القائمين بالمصالح العامة من بيت المال يعطى كل منهم قدر كفايته اللائقة من غير تبذير فإن لم يكن أو استولت عليه يد عادية ألزم بذلك مياسير المسلمين وهم من عنده زيادة على كفاية سنة .

3-وفى هامش شرح الروض ما نصه :

لو استأجر بالإمامة ولو لنافلة كالتراويح لم يصح (قوله لو استأجر إلى آخره) ظن بعضهم أن الجامكية على الإمامة والطلب ونحوهما من باب الإجارة حتى لا يستحق شيئا إذا أخل ببعض آياته أو الصلاة وليس كذلك بل هو من باب الإرصاد . والأرزاق المبني على الإحسان والمسامحة بخلاف الإجارة فإنها من باب المعاوضة ولهذا يمتنع أخذ الأجرى على القضاء ويجوز أرزاقه من بيت المال عن الإجتماع .

4-وفى المجموع على شرح المهذب للإمام زكريا محى الدين بن شرف النووى  ما نصه :

قال صاحب الذخائر : الفرق بين الرزق والأجرة أن الرزق أن يعطيه كفايته هو وعياله والأجرة ما يقع به التراضى .

Jawaban c :

dapat difaham pada jawaban B.

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN TULISAN LATIN BAGI YANG TIDAK BISA MEMBACA ARAB

Banyak beredar di masyarakat buku-buku Yasin Tahlil yang juga menggunakan tulisan latin. Dengan tujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu membaca tulisan Arab.

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya membaca Qur’an tapi dengan bantuan tulisan latin karena sudah tua dan hanya bisa baca tulisan latin?

Jawaban:

Al Qur’an tidak boleh ditulis dengan bahasa latin, karena huruf selain arab tidak bisa mewakili sepenuhnya dengan huruf-huruf arab sementara membaca al qur’an harus sesuai dengan bahsanya (Arab)

Catatan:

Bagi orang yang tidak mampu membaca tulisan Arab (Al Qur’an) KARENA SUDAH TUA DAN TIDAK BISA BELAJAR LAGI, sebaiknya mengikuti bacaan orang yang fashih bacaanya atau dengan cara diimami oleh orang yang bacaanya fasih.

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 1 / ص 37)

وَسُئِلَ نَفَعَ اللَّهُ بِعُلُومِهِ هل تَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ بِالْعَجَمِيَّةِ كَقِرَاءَتِهِ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ قَضِيَّةُ ما في الْمَجْمُوعِ عن الْأَصْحَابِ التَّحْرِيمُ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ قال وَأَمَّا ما نُقِلَ عن سَلْمَانَ رضي اللَّهُ عنه أَنَّ قَوْمًا من الْفُرْسِ سَأَلُوهُ أَنْ يَكْتُبَ لهم شيئا من الْقُرْآنِ فَكَتَبَ لهم فَاتِحَةَ الْكِتَابِ بِالْفَارِسِيَّةِ فَأَجَابَ عنه أَصْحَابُنَا بِأَنَّهُ كَتَبَ تَفْسِيرَ الْفَاتِحَةِ لَا حَقِيقَتَهَا ا هـ

 فَهُوَ ظَاهِرٌ أو صَرِيحٌ في تَحْرِيمِ كِتَابَتِهَا بِالْعَجَمِيَّةِ فَإِنْ قُلْت كَلَامُ الْأَصْحَابِ إنَّمَا هو جَوَابٌ عن حُرْمَةِ قِرَاءَتِهَا بِالْعَجَمِيَّةِ الْمُتَرَتِّبَةِ على الْكِتَابَةِ بها فَلَا دَلِيلَ لَكُمْ فيه قُلْت بَلْ هو جَوَابٌ عن الْأَمْرَيْنِ وَزَعْمُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ بِالْعَجَمِيَّةِ مُتَرَتِّبَةٌ على الْكِتَابَةِ بها مَمْنُوعٌ بِإِطْلَاقِهِ فَقَدْ يُكْتَبُ بِالْعَجَمِيَّةِ وَيُقْرَأُ بِالْعَرَبِيَّةِ وَعَكْسُهُ فَلَا تَلَازُمَ بَيْنَهُمَا كما هو وَاضِحٌ وإذا لم يَكُنْ بَيْنَهُمَا تَلَازُمٌ كان الْجَوَابُ عَمَّا فَعَلَهُ سَلْمَانُ رضي اللَّهُ عنه في ذلك ظَاهِرًا فِيمَا قُلْنَاهُ على أَنَّ مِمَّا يُصَرَّحُ بِهِ أَيْضًا أَنَّ مَالِكًا رضي اللَّهُ عنه سُئِلَ هل يُكْتَبُ الْمُصْحَفُ على ما أَحْدَثَهُ الناس من الْهِجَاءِ فقال لَا إلَّا على الْكَتْبَةِ الْأُولَى أَيْ كَتْبَةِ الْإِمَامِ وهو الْمُصْحَفُ الْعُثْمَانِيُّ قال بَعْضُ أَئِمَّةِ الْقُرَّاءِ وَنَسَبْتُهُ إلَى مَالِكٍ لِأَنَّهُ الْمَسْئُولُ وَإِلَّا فَهُوَ مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ

 قال أبو عَمْرٍو وَلَا مُخَالِفَ له في ذلك من عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ وقال بَعْضُهُمْ وَاَلَّذِي ذَهَبَ إلَيْهِ مَالِكٌ هو الْحَقُّ إذْ فيه بَقَاءُ الْحَالَةِ الْأُولَى إلَى أَنْ يَتَعَلَّمَهَا الْآخَرُونَ وفي خِلَافِهَا تَجْهِيلُ آخِرِ الْأُمَّةِ أَوَّلَهُمْ وإذا وَقَعَ الْإِجْمَاعُ كما تَرَى على مَنْعِ ما أَحْدَثَ الناس الْيَوْمَ من مِثْلِ كِتَابَةِ الرِّبَا بِالْأَلْفِ مع أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِلَفْظِ الْهِجَاءِ فَمَنْعُ ما ليس من جِنْسِ الْهِجَاءِ أَوْلَى وَأَيْضًا فَفِي كِتَابَتِهِ بِالْعَجَمِيَّةِ تَصَرُّفٌ في اللَّفْظِ الْمُعْجِزِ الذي حَصَلَ التَّحَدِّي بِهِ بِمَا لم يَرِدْ بَلْ بِمَا يُوهِمُ عَدَمَ الْإِعْجَازِ بَلْ الرَّكَاكَةَ لِأَنَّ الْأَلْفَاظَ الْعَجَمِيَّةَ فيها تَقْدِيمُ الْمُضَافِ إلَيْهِ على الْمُضَافِ وَنَحْوُ ذلك مِمَّا يُخِلُّ بِالنَّظْمِ وَيُشَوِّشُ الْفَهْمَ

 وقد صَرَّحُوا بِأَنَّ التَّرْتِيبَ من مَنَاطِ الْإِعْجَازِ وهو ظَاهِرٌ في حُرْمَةِ تَقْدِيمِ آيَةٍ على آيَةٍ كِتَابَةً كما يَحْرُمُ ذلك قِرَاءَةً فَقَدْ صَرَّحُوا بِأَنَّ الْقِرَاءَةَ بِعَكْسِ السُّوَرِ مَكْرُوهَةٌ وَبِعَكْسِ الْآيَاتِ مُحَرَّمَةٌ وَفَرَّقُوا بِأَنَّ تَرْتِيبَ السُّوَرِ على النَّظْمِ الْمُصْحَفِيِّ مَظْنُونٌ وَتَرْتِيبُ الْآيَاتِ قَطْعِيٌّ

 وَزَعْمُ أَنَّ كِتَابَتَهُ بِالْعَجَمِيَّةِ فيها سُهُولَةٌ لِلتَّعْلِيمِ كَذِبٌ مُخَالِفٌ لِلْوَاقِعِ وَالْمُشَاهَدَةِ فَلَا يُلْتَفَتُ لِذَلِكَ على أَنَّهُ لو سَلِمَ صِدْقُهُ لم يَكُنْ مُبِيحًا لِإِخْرَاجِ أَلْفَاظِ الْقُرْآنِ عَمَّا كُتِبَتْ عليه وَأَجْمَعَ عليها السَّلَفُ وَالْخَلَفُ

شرح البهجة الوردية – (ج 2 / ص 85)

( فَرْعٌ ) يَجُوزُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْمَسِّ وَالْحَمْلِ دُونَ قِرَاءَتِهِ وَيَحْرُمُ جَعْلُ أَوْرَاقِهِ وِقَايَةً لِغَيْرِهِ نَعَمْ لَا يَحْرُمُ الْوِقَايَةُ بِوَرَقَةٍ مَكْتُوبٍ فِيهَا نَحْوُ الْبَسْمَلَةِ ق ل وَظَاهِرٌ أَنَّ مَحَلَّهُ إذَا لَمْ يَقْصِدْ امْتِهَانَهُ أَوْ أَنَّهُ يُصِيبُهَا الْوَسَخُ لَا مَا فِيهَا وَإِلَّا حَرُمَ بَلْ قَدْ يَكْفُرُ سم عَلَى التُّحْفَةِ .

ا هـ

TANGGUNG JAWAB SIAPA KALAU BARANG PESANAN RUSAK KETIKA DI KIRIM

Beberapa kali kita mendengar adanya musibah. Segala musibah sudah menjadi ketentuan Allah ﷻ. Manusia hanya bisa berencana, namun Allah ﷻ jua yang menjadi penentu akhirnya.

Dalam setiap musibah, selalu ada saja korban. Tidak hanya nyawa, namun harta benda juga terpaksa melayang. Akibat gempa bumi, banyak bangunan rusak berat, termasuk gudang tempat penyimpanan barang dagangan ikut hancur sehingga barang-barang dagangan pun menjadi ikut hancur karenanya.

Pada musibah lain seperti kapal tenggelam, terkadang banyak melibatkan barang dagangan milik pedagang dari pulau seberang juga ikut raib karenanya. Tidak hanya puluhan juta, bahkan kadang mencapai ratusan juta hilang melayang. Itulah takdir Allah ﷻ. Sekali lagi, semua musibah ini mengingatkan kita akan sifat lemah seorang hamba di hadapan kemahakuasaan-Nya.

Yang sering menyisakan persoalan, adalah apabila terjadi musibah kapal tenggelam yang melibatkan raibnya harta pedagang sebelum sampai diterima oleh pemesan adalah siapakah sejatinya yang memiliki tanggung jawab/kewajiban untuk mengganti barang tersebut? Apakah pihak pemesan barang, ataukah pihak pedagang? Inilah yang akan menjadi fokus kajian fiqih muamalah kita kali ini. Tujuan kajian ini hanyalah berusaha mendudukkan fiqih sebagai wasit yang menengahi antara pedagang dan pembeli.

Sebelum kita mengupas mengenai hukum barang yang ikut raib dalam suatu musibah, terlebih dahulu kita perlu memerinci cara-cara pembeli dalam memesan barang. Setidaknya ada beberapa cara yang biasa dilakukan oleh pembeli dewasa ini dalam memesan barang, yaitu:

  1. Pemesanan via telepon langsung ke pihak pedagang supplier. Pemesanan via ini tidak syak lagi adalah dilakukan dengan jalan akad salam. Pemesan hanya menunjukkan daftar barang yang dipesan, selanjutnya meminta agar pihak supplier mengirimkan barang dagangan lewat jasa layanan transportasi/ekspedisi yang diinformasikan oleh pedagang pembeli.
  2. Pemesanan via telepon melalui wakil untuk diteruskan via pedagang supplier. Pemesanan via ini biasanya masuk kelompok akad wakalah. Pemesan melalui wakilnya mendatangi pedagang supplier dan menyerahkan daftar harga, kemudian barang diterima oleh wakil untuk dikirimkan via ekspedisi yang ditunjuk oleh pedagang pemesan.
  3. Pemesanan via telepon melalui makelar. Pemesanan via ini biasanya masuk kelompok akad samsarah. Pemesan biasanya meminta kepada seorang makelar untuk mencarikan barang sebagaimana daftar yang dibutuhkan, yang selanjutnya pihak makelar menentukan harga masing-masing barang tersebut.

Berdasarkan tipologi cara pemesanan pedagang pembeli ke pedagang supplier ini, maka selanjutnya kita bisa memilah hukum dari masing-masing tipologi pemesanan terhadap status barang yang dibeli. Sebelum lebih jauh melangkah ke hukum, ada sebuah kaidah dasar dalam ilmu fiqih, sebagaimana disampaikan Syekh Zainuddin al-Malaibary dalam kitabnya Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrati al-‘Ain berikut ini:

المبيع قبل قبضه من ضمان البائع

Artinya: “Barang dagangan sebelum diterima oleh pembeli adalah jaminan penjual.” (Zainuddin al-Malaibary, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrati al-‘Ain, Surabaya: Al-Hidayah, tt., 70).

Berdasarkan kaidah ini, status barang yang masih dalam proses pengiriman, pada dasarnya adalah merupakan tanggung jawab pedagang supplier. Alasan sederhananya adalah karena barang tersebut belum sampai ke tangan pedagang pembeli, sehingga statusnya masih merupakan milik pedagang supplier. Jika suatu ketika terdapat kerusakan yang terjadi pada barang dagangan akibat cacat atau rusak karena pengiriman, maka cacat dan kerusakan itu adalah tanggung jawab dari pedagang supplier. Dan bila pedagang supplier tidak menjamin atas barang tersebut, maka akad jual beli otomatis menjadi fasakh (rusak) sehingga pedagang supplier wajib mengembalikan harganya kepada pembeli. Hal ini berdasar kelanjutan dari Syekh Zainuddin al-Malaibary di atas sebagai berikut:

بمعنى انفساخ البيع بتلفه أو إتلاف بائع وثبوت الخيار بتعيبه أو تعييب بائع أو أجنبي وبإتلاف أجنبي فلو تلف بآفة أو أتلفه البائع: انفسخ البيع

Artinya: “[Barang dagangan yang belum diterima pembeli termasuk jaminan pedagang supplier], maknanya adalah rusaknya akad jual beli adalah sebab rusaknya barang dagangan atau rusak oleh pedagang supplier sendiri. Tetapnya khiyar (mengembalikan barang) adalah (bergantung) pada sebab kecacatan barang, atau kecacatan yang disebabkan pedagang atau cacat akibat keteledoran orang lain atau bahkan cacat akibat dirusak orang lain. Oleh karena itu, bila barang rusak akibat suatu bencana atau rusak akibat keteledoran pedagang sendiri, maka rusaklah akad jual beli.” (Zainuddin al-Malaibary, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qurrati al-‘Ain, Surabaya: Al-Hidayah, tt., 70).

Ibarat terakhir ini secara tegas menetapkan bahwa barang dagangan yang belum sampai ke pembeli dan rusak akibat adanya bencana (âfât), adalah merupakan bagian dari jaminan pedagang supplier sehingga pihak pedagang pembeli bisa mengajukan khiyar batalnya akad jual beli dan meminta kembali harga yang sudah diserahkan.

Bagaimana bila barang tersebut dibebankan kepada pedagang pembeli? Abu Ishaq Al-Syairazy dalam Al-Tanbīh fi al-Fiqhi al Imâm al-Syâfi’iy menjawabnya sebagai berikut:

لا يدخل المبيع في ضمان المشتري الا بالقبض ولا يستقر ملكه عليه الا بالقبض فان هلك قبل القبض انفسخ البيع

Artinya: “Barang dagangan tidak bisa masuk dalam jaminan pembeli kecuali lewat penerimaan. Status kepemilikan barang belum bisa ditetapkan padanya kecuali lewat penerimaan. Dan jika terjadi kerusakan sebelum penerimaan pembeli, maka rusak akad jual belinya.” (Abu Ishaq al-Syairazy, al-Tanbih fi al-Fiqhi al-Imâm al-Syâfi’iy, Beirut: Daru al-Kutub al-Ilmiyah, tt.: 1/87)

Berdasarkan keterangan ini, maka tetap sudah bahwa barang yang belum diterima oleh pedagang pembeli, adalah tidak bisa dibebankan kepada pedagang pembeli tersebut. Sepenuhnya barang yang masih ada dalam proses ekspedisi atau pengiriman adalah tanggung jawab supplier itu sendiri.

Apakah tanggung jawab pedagang supplier ini berlaku untuk ketiga jenis tipologi pemesanan barang sebagaimana sudah diungkapkan di atas?

Sebagaimana diketahui bahwa tipologi pemesanan barang yang pertama adalah dengan akad salam. Pada akad salam, transaksi jual beli terjadi secara langsung antara pedagang dan pembeli tanpa adanya pihak yang memperantarai. Penerimaan barang disampaikan via jasa ekspedisi pengiriman yang bisa dipilih dan disepakati bersama oleh pedagang ataupun pembelinya. Sifat kepemilikan barang oleh pembeli pemesan, adalah ditetapkan manakala barang tersebut telah sampai ke tangannya. Dengan demikian, selama dalam perjalanan itu, maka barang adalah masih status kepemilikan pedagang supplier, sehingga bila terjadi bencana di tengah pengiriman, maka pedagang supplier-lah yang menjadi penjamin barang tersebut.

Hal ini berbeda manakala pihak pedagang pembeli menyuruh orang sebagai wakilnya untuk membelikan barang. Bilamana hal ini terjadi, maka ketika wakil menerima barang, maka saat itu status kepemilikan barang sudah menjadi milik pihak yang mewakilkan yang diterima lewat tangan wakil. Bila terjadi kerusakan atau bencana dalam masa pengiriman oleh wakil, maka pihak pedagang pembeli sendirilah yang bertanggung jawab atas barang miliknya. Dengan demikian, pihak pedagang supplier bisa lepas tangan terhadap kerusakan barang.

Berbeda manakala pihak pedagang pembeli meminta bantuan makelar (samsarah). Karena pihak samsarah berperan mengambil harga baru terhadap barang dagangan yang dipesan oleh pembeli, maka bila terjadi kerusakan atau bencana dalam pengiriman barang sehingga barang tidak sampai kepada pembeli, pihak makelar-lah yang bertanggung jawab atas jaminan barang tersebut. Hal ini disebabkan kedudukan makelar tidak bisa disamakan dengan wakil. Status wakil adalah sama dengan muwakkil (orang yang mewakilkan). Ia digaji oleh orang yang mengangkatnya sebagai wakil dan hanya bertugas mewakilinya dalam akad transaksi. Sementara pihak samsarah seolah berperan sebagai pedagang baru yang menengahi antara supplier dengan pihak pedagang pembeli.

Wallahhu a’lam bish shawab.

HIKMAH PENCIPTAAN SYAITAN DAN CARA MENGHADAPI TIPUDAYANYA

Hikmah Diciptakannya Setan

Tiada Allah menciptakan sesuatu dengan manfaat dan tujuannya. Begitupun dengan penciptaan setan. Mungkin sebagian orang menganggap setan tiada guna, hanya karena setan selalu menjerumuskan anak Adam ke jalan yang kurang baik. Yang perlu diketahui adalah bahwa setan yang tidak pernah lepas dari manusia, sebab dia yang paling bersemangat menghancurkan orang yang taat kepada Allah.

Sebab itulah Ibnu Athaillah As Sakandari menuliskan petuah bijaknya dalam kitab “Al Hikam” sebagai berikut:

جعله لك عدوا ليوحشك به إليه وحرك عليك النفس ليدوم إقبالك عليه

“Allah menjadikan setan sebagai musuhmu agar kau benci kepadanya dan berlindung kepada-Nya. Dia juga tetap menggerakkan nafsumu supaya kau selalu menghadap kepada-Nya”

Dalam kitab tersebut disebutkan juga jika setan memang musuh yang nyata bagi segenap manusia. Namun yang seperti itu dimaksudkan agar kau benci kepadanya, dan selalu memohon perlindungan kepada Allah semata. Manusia sadar jika ia tidak akan mampu menghadapi setan sendirian, karena itu ia terdorong untuk meminta bantuan kepada sang Maha Kuat dan Maha Perkasa.

Permusuhan itulah yang mengembalikan manusia kepada Allah. manusia menjadi lebih dekat dan selalu bergantung hanya kepada Allah. inilah tujuan utama diciptakannya setan sebagai musuh manusia. Namun gambaran di atas tidak berlaku kepada manusia yang sudah mengarahkan tekadnya kepada yang Maha Haq, karena manusia yang masuk golongan ini sudah terbiasa menggantungkan dirinya kepada Allah. tidak lagi butuh ‘musuh’ untuk menjadikannya kembali kepada Allah. sebagaimana tersurat dalam QS An Nahl ayat 99:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”

Allah juga menggerakkan nafsu setiap manusia agar selalu menghadap kepada-Nya. Manusia tidak akan mampu melawan hawa nafsunya dan mengekang gelora yang sudah menyatu dengan darah dagingnya kecuali berlindung kepada Dzat yang lebih kuat darimu, yaitu Allah.

Alhasil, rupanya setan diciptakan untuk mendekatkan manusia kapada Allah, bukan menjauhkann dari-Nya. Kita yang mengerti bahwa setan adalah musuh yang nyata dalam kehidupan, karena itu mari kita mohon perlindungan kepada Allah semaksimal mungkin, sebab kita tidak akan bisa menghadapi setan sendirian. Kita butuh Allah untuk mengalahkannya. Ternyata setan menjadikan manusia lebih dekat pada-Nya.

Strategi Setan agar Manusia Enggan Bersedekah

Jalan kehidupan manusia di dunia ini tak semulus yang kita bayangkan, semuanya butuh perjuangan yang nyata, maupun kasat mata. Meski begitu kita tetap dianjurkan bersedekah dan saling menolong sesama, akan tetapi setan selalu mencari cara untuk menyengsarakan manusia dengan berbagai strateginya hingga menyurutkan niat bersedekah.

Salah satu Sahabat Nabi yang bernama Ibnu Abbas pernah berkata, ada dua hal dari pengaruh setan agar kita enggan bersedekah, kemudian beliau membaca Surat Al Baqarah,  Ayat 268:

(الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)

Artinya: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Menurut Imam Thobari dalam Tafsirnya, beliau menjelaskan bahwa setan memberi janji kepada manusia bahwa orang yang menyedekahkan hartanya ia akan menjadi fakir miskin, serta setan selalu membisikkan kepada manusia dengan segala cara agar manusia melakukan maksiat, atau kejahatan yang dilarang oleh Allah.

Sementara itu, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada kita

untuk selalu taat kepada Allah dan menyedekahkan sebagian hartanya supaya mendapatkan ampunan dan anugerah dari Allah.

Maka dari itu, kita seharusnya lebih hati-hati dengan memperbanyak ilmu agama agar terhindar dari pengaruh setan, sehingga kita menjadi manusia yang diampuni oleh Allah, serta mulia dalam kehidupan ini.

 

Setan Selalu Mengintai, Ini Nasihat Ibn ‘Athaillah untuk Menghadapinya

Selama nafas msih berhembus, setan akan selalu mengintai manusia dengan berbagai cara. Setan membisiki manusia untuk melanggar batas ketentuan Allah. tidak ada kata malas bagi setan untuk mendorong manusia dalam keburukan. Sebab itulah manusia harus selalu waspada dan berhati-hati. Seringkali bisikan yang dikira berasal dari hati yang terdalah adalah bisikan setan untuk menjerumuskan.

Ibn Atha’illah berpesan menuliskan sebuah nasehat dalam kitabnya “Al hikam” sebagai berikut:

إذا علمت أن الشيطان لا يغفل عنك فلا تغفل أنت عمن ناصيتك بيده

“ Jika kau mengetahui bahwa setan tidak pernah lalai lupa kepadamu, maka jangan kau lalai terhadap Dzat yang menggenggam nasibmu”

Nasehat beliau mengingatkan bahwa setan memang tidak pernah bosan menyesatkan, menggoda, dan menjerumuskan manusia. Sebab itu pula, manusia jangan pernah lengah untuk memohon perlindungan kepada Dzat yang Maha Kuasa. Dijelaskan dalam Alquran jika setan telah berjanji untuk terus menggoda manusia. Difirmankan oleh Allah dalam QS: Al A’raf [7]: 17,

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

”Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”

            Dalam kita “Al Hikam” juga diceritakan bahwa dalam satu riwayat disebutkan bahwa setiap manusia memiliki setan yang menaruh belalainay di hati mausia. Jika manusai lupa berdzikir kepada Allah, maka setan akan membisikkannya. Sebaliknya jika manusia berdzikir, setan akan mundur dan menutup diri. Sebab itu jangan lupa kepada Dzat yang menentukan nasib setiap manusia, yaitu Allah. Dalam QS: Al Mu’minun [23]: 97 tersurat sebagai berikut,

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

“Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan.”

Sedahsyat apapun setan menginatai, yakinlah bahwa perlindungan Allah jauh lebih kuat dari semua tipu daya setan. Karena itu, yuk kita lebih sering-sering lagi berdzikir kepada Allah agar setannya mundur dan menutup diri.