TENTANG KALIMAH ALLOH SAAT TALQIN SAKARATUL MAUT

Kerangka Analisis Masalah

 ALLOH

Sudah menjadi tradisi, ketika ada orang yang sedang sakâratul maut, pihak keluarga menemani dan mengajarkan kalimah Tauhid. Hal ini adalah sebagai bentuk implementasi dari sabda Nabi: “Barang siapa yang akhir perkataannya mengucapkan kalimah ‘Lâ Ilâha Illalloh’, maka akan masuk surga”. Menurut Imam Subki, keutamaan hadist di atas sebagai tanda bahwa orang yang akhir hayatnya mengucapkan kalimat Tauhid, akan tergolong orang yang diampuni dari dosa-dosanya sehingga tidak akan masuk ke neraka sama sekali (lihat kitab Jamal).

Reaitas yang ada, ketika ada orang yang sedang sakâratul maut biasanya pihak keluarga mendampinginya dan mengajarkan (mentalqin) kalimat tauhid dengan ucapan “Laa Ilaaha Illa Allah” sesuai dengan redaksi dalam hadits. Namun umumnya, orang yang sakâratul maut hanya mampu mengucapkan lafadz الله saja.

Pertanyaan

Apakah lafadz الله yang diucapkan oleh orang yang sakâratul maut sudah mencukupi disebut kalimah tauhid dalam konteks ini?

Jawaban

Khilaf:

– Menurut versi Imam Ali Sibro Malisi dengan mengi’tibar dhahirul hadits belum bisa mencukupi dan tetap disunahkan mentalqin kalimat الله إلا اله لا seperti redaksi dalam hadits.

– Menurut versi Imam Zarkasih lafadl Allah sudah di anggap mencukupi sebab memiliki dilalah kalimat tauhid.

– Sedangkan versi Imam Al-Syamiri sudah di anggap cukup sekalipun tidak memiliki kalimah tauhid selama tidak berkata dengan kalam yang mengandung arti dunia.

Referensi

1. At-Turmusy vol. III hal. 290.

2. Hasyiyah As-Sanady ‘Ala Al-Bukhory vol. IV hal. 530.

3. Hasyiyah Al-Jamal vol. VI hal. 389.

4. Kasyful Al-Asror vol. V hal. 322.

5. Hasyiyah Qulyubi wa Umairoh vol. I hal. 375