LEWAT DI BAWAH KERANDA MAYIT SAAT MAU DI KUBURKAN

TRADISI LEWAT DI BAWAH KERANDA MAYIT

KERANDA                Entah dari mana sumbernya khususnya di Jawa banyak sekali tradisi-tradisi yang masih meyakini mitos masa dahulu. Salah satunya adalah tradisi lewat di bawah keranda orang meninggal yang di lakukan oleh kerabat-kerabatnya. Mereka melakukan semua itu karena mereka meyakini bahwa hal tersebut memiliki guna diantaranya agar kerabat yang masih kecil tidak terlalu mengingat si mayit dan sebagai wujud penghormatan terakhir kepada si mayit. Dan yang heboh adalah agar musibah sang kerabat dibawa pergi oleh si mayyit.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum berjalan di bawah keranda dengan memandang manfaat seperti dalam diskripsi?

 

Jawabanya di perinci :

  • Bisa menimbulkan kekufuran bila berkeyakinan atau beri’tikad bahwa yang mengakibatkan pengaruh positif ataupun negatif adalah bukan Allah, tapi prosesi lewat di bawah keranda tersebut yang memberikan pengaruh.
  • Menurut pendapat yang lebih shohih, hukumnya haram bila beri’tikad bahwa perbuatan tersebut dapat berpengaruh negatif atau  positif dengan kekuatan yang diciptakan oleh Allah  padanya.
  • Makruh bila tradisi lewat di bawah keranda berpotensi menghambat percepatan pemberangkatan jenazah ke pemakaman.
  • Sunnah bila bertujuan untuk menghindari gunjingan masyarakat awam ketika tidak melakukannya.

Referensi:

Tuhfatul Murid  125

 Al Fatawâ al Fiqhiyah al Kubra juz 2 hal. 7

 Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummil-Barohin  hal. 40-41,

 Fathul Bari juz  3 hal. 182-184