ADA ZAMAN DIMANA MENJADI MENJADI ORANG LEMAH LEBIH BAIK DARIPADA BERMAKSIAT

قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ” سيأتي على الناس زمان يخير فيه الرجل بين العجز والفجور ، فمن أدرك ذلك الزمان فليختر العجز على الفجور ” هذا حديث صحيح

Rosululloh saw bersabda : Akan dating suatu masa pada umat manusia dimana seseorang dihadapkan pada dua pilihan, : Menjadi orang yang lemah atau orang yang maksiat. Barang siapa hidup di zaman itu maka hendaklah dia memilih menjadi orang yang lemah daripada menjadi orang yang bermaksiat. (HR. Ahmad dari Abu Hurairoh)

Imam as-Suyuthi menyatakan tentang maksud hadis dalam gambar ini adalah bahwa pada zaman tersebut seseorang dihadapkan pada dua pilihan: (1) jika dia mematuhi ajaran agama, maka dia menjadi orang lemah yang tertindas (2) jika dia ingin menjadi orang kuat, maka dia harus menabrak aturan-aturan agama. Nah, dalam kondisi ini, dia wajib memilih menjadi orang lemah, karena kepatuhan terhadap ajaran agama harus lebih didahulukan di atas kepentingan apapun. Lebih lanjut, Imam Suyuthi menyatakan:

والمخير ( في ذلك الزمان بين العجز والفجور ) هم الأمراء وولاة الأمور

“Orang yang (sering) berada dalam dua pilihan tersebut adalah orang-orang yang terjun di pemerintahan.” Demikian keterangan dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir: 478

Para pembaca yang bijaksana, berdasarkan hadits ini maka kita seyogyanya jangan sampai menilai para ulama yang ada di dalam zaman ini baik yang ada di pemerintahan ataupun yang tidak dengan penilaian yang tidak baik, apalagi sampai menjelekan mereka semua di karenakan mereka tidak mau mengambil atau tidak melakukan hal-hal yang menurut kita seharusnya dilakukan. Langkah dan pertimbangan mereka tentu tidak hanya sebatas kebaikan saja tetapi juga keridlo’an Alloh swt.

Alloh berfirman di dalam al-Qur’an :

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّر وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ الأنبياء 34

Bahwa ketika kejelekan dan kebaikan semuanya menjadi ujian, tentu kita harus berusaha mengembalikan semuanya kepada Alloh swt. Dan yang sangat penting harus kita lakukan adalah mengoreksi diri kita sendiri. Apakah sudah berusaha meminta tolong kepada Alloh swt tentunya dengan bersabar dan sholat, yang mana sabar dan sholat kita sudah seperti apa sebagai alat untuk meminta tolong kepada Alloh swt.

Apakah sudah benar sabar kita ataukah hanya sebatas di mulut saja?

Apakah sholat kita sudah memenuhi standar sholat yang baik walaupun menurut standar baik bagi orang awam?

Akan menjadi sebuah ketentraman dan kebaikan kalau kita mau saling koreksi diri dan memaklumi orang lain, apalagi yang di maksud orang lain itu adalah para ulama.