APAKAH BERBEDA ANTARA MASJIDIL HAROM DAN NABAWI DENGAN YANG LAINYA?

Tidak ada pengecualian antara Masjidil Harom atau Masjid Nabawi dengan Masjid yang lain

MASJ
الشافعية قالوا…
أما المرور بالمسجد، فإنه يجوز للجنب والحائض والنفساء من غير مكث فيه، ولا تردد بشرط أمن عدن
تلوث المسجد، فلو دخل من باب وخرج من آخر جاز، أما إذا دخل وخرج من باب
واحد، فإنه يحرم؛ لأنه يكون قد تردد في المسجد، وهو ممنوع، إلا إذا كان
يقصد الخروج من باب آخر غير الذي دخل منه، ولكن بدا له أن يخرج منه، فإنه
لا يحرم

Ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa lewat di masjid boleh dilakukan orang yang junub, haidl dan nifas asal tidak diam atau berputar-putar di dalam masjid. Kalau masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain itu boleh. Sedangkan kalau masuk dan keluar dari pintu yang sama itu tidak boleh karena itu termasuk berputar. Kecuali apabila ia awalnya bermaksud keluar dari pintu lain selain tempat masuknya tapi ternyata tidak bisa maka hal itu dibolehkan.
Al-Fiqh Alal Madzahib Al-Arba’ah juz 1 h.86

وعن عائشة رضي الله عنها قالتْ: قالَ رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم:
“إني لا أُحِلُّ المَسْجِدَ لحائض ولا جُنُبٍ”. رواه أبو داود. وصحّحه ابنُ
خزيمةَ.

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haidl dan junub.”
Riwayat Abu Dawud dan hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.[Bulughul Maram 52].

Imam Ash-Shan’ani berkata :

:والحديث دليل على أنه لا يجوز
للحائض والجنب دخول المسجد، وهو قول الجمهور، وقال داود، وغيره: يجوز،
وكأنه بني على البراءة الأصلية، وأن هذا الحديث لا يرفعها.وأما عبورهما
المسجد، فقيل: يجوز لقوله تعالى:{… إلا عابري سبيل …}في الجنب، وتقاس
الحائض عليه، والمراد به: مواضع الصلاة.وأجيب: بأن الآية فيمن أجنب في
المسجد فإنه يخرج منه للغسل، وهو خلاف الظاهر، وفيها تأويل
اخر

Hadits tersebut adalah dalil tidak bolehnya perempuan yang sedang haidl dan junub masuk SERTA DIAM di dalam masjid, demikianlah menurut pendapat jumhur ulama.

Sementara Dawud az-zohiri, Ibnu Hazm dan ulama lainnya mengatakan boleh, sepertinya pendapatnya ini berdasarkan al-bara’ah al-ashliah (hukum asalnya, terlepas dari kewajiban), dan hadits ini tidak dapat mengangkat hukum asal tersebut. Mereka berhujjah dengan ayat Qur’an, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “..terkecuali sekedar
berlalu saja
.(.Q” S. An-Nisa’: 43) Mengenai yang junub, sedangkan perempuan haidl diqiaskan padanya.

Yang dimaksud dalam ayat itu adalah tempat-tempat shalat. Pendapat tersebut dapat dijawab,QIAS ITU BATIL Karena bahwa ayat itu berkenaan dengan orang yang junubnya terjadi di dalam masjid, maka dia harus keluar untuk mandi, ini berbeda dengan zhahirnya ayat tersebut. Dan terdapat penafsiran yang lain mengenai ayat ini.[Subulussalam juz 1 hal. 229)].

عن عائشة قالت: قال لي رسول اللَّه صلى
اللَّه عليه وآله وسلم نَاوِلْيِنِي الْخُمْرَةَ من المسجدِ فقلت: إني
حائضٌ فقال: إن حَيْضَتَكَ لَيْسَتْ في يَدِكَ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Ambilkanlah aku sajadahku dari masjid’. Lalu aku berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang haidl, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya haidl itu tidak berada di tanganmu.,’ (HR.Jama’ah keccuali Al-Bukkhari)

Asy-Syaukani berkata :

والحديث يدل على جواز دخول
الحائض المسجد للحاجة ولكنه يتوقف على تعلق الجار والمجرور أعني قوله: من
المسجد بقوله: ناوليني وقد قال بذلك طائفة من العلماء واستدلوا به على جواز
دخول الحائض المسجد للحاجة تعرض لها إذا لم يكن على جسدها نجاسة وأنها لا
تمنع من المسجد إلا مخافة ما يكون منها وعلقته طائفة أخرى بقوله: (قال لي
رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم من المسجد ناوليني الخمرة) على
التقديم والتأخير.وعليه المشهور من مذاهب العلماء أنها لا تدخل لا مقيمة
ولا عابرة لقوله: صلى اللَّه عليه وآله وسلم (لا أحل المسجد لحائض ولا
جنب)

Hadits di atas menunjukkan bolehnya masuk (MASUK PINTU LAIN KELUAR PINTU LAIN) masjid,bagi orang orang yang haidl dengan adanya hajat . Tetapi pendapat ini tergantung pada hubungan jar dan majrur, yakni pada perkataan “minal masjidi” berdasarkan perkataan” nawillini”. Mereka yang berpendapat demikian adalah segolongan Ulama.

Mereka menggunakan hadits ini sebagai dalil bolehnya masuk masjid bagi orang yang haidl karena adanya hajat, jika badannya tidak terkena najis maka tidak ada halangan baginya masuk masiid kecuali khawatir adanya najis. Golongan lain menggantungkan perkataan,”Rasulullah mengatakan kepada kami dari masjid, ambilkanlah aku kerudung” pada taqdim dan ta’khir (lafadz yang terdahulu dan yang terkemudian).

Madzhab Ulama yang masyhur berpendapat bahwa orang yang haidl tidak masuk masjid, tidak tinggal, dan tidak melewati berdasarkan sabda Nabi yang berbunyi :

Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haidl dan junub.”[Nailul
Authar juz. 1 hal. 189

Dari keterangan Hadist dan fatwa para Ulama’ kita bisa mengambil Ibarot bahwasannya tidak ada kekhususan dalam hal wanita Haidl masuk Masjidil harom atau masjid Nabi dengan Masid yang lainnya.
Wallohu A’lam