TENTANG CADAR UNTUK KAUM MUSLIMAH

Hukum Cadar Bagi Perempuan

CADARAN
Memakai cadar adalah sebagai bentuk atau cara menutupi wajah, adapun wajah perempuan dihadapan orang laki-laki lain atau bukan mahromnya (orang yang halal menikahi) atau status haram menikahinya itu hanya sementara, seperti adik ipar, adalah termasuk aurat yang haram dilihat menurut pendapat yang mu’tamad (yang dapat dijadikan pedoman). Sedangkan dihadapan mahrom atau sesama jenis bukan hal yang haram dilihat, hal ini karena melihat dari definisi aurat, yang mempunyai dua makna :
1. Hal yang wajib ditutupi, yaitu ketika sholat bagi perempuan wajib menutupi auratnya di semua anggota badannya selain wajah dan telapak tangan, walau tidak ada yang melihat bahkan walau di tempat yang sunyi dan gelap,hal ini  karena faktor dogmatif (doktrin agama). Sebagaimana hadits Sayyidah Aisyah Ra :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ لَا يَقْبَلُ الله ُصَلَاةَ الحْائِضِ اِلَّا بِخُِمَارِ رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ اِلَّا النَّسَائِىُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حُزَيْمَةَ وَفِيْ حَدِيْثِ أَبِيْ دَاوُدَ مِنْ حَدِيْثِ اُمِّ سَلْمَةَ فِيْ صَلَاةِ الْمَرْأَةِ فِيْ دِرْعٍ وَخُمَارٍ لَيْسَ عَلَيْهَا إِزَارٌ وَاِنَّهُ قَالَ إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغْطِىْ ظُهُوْرَ قَدَ مَيْهَا

Dari hadits ini jelas bisa di pahami bahwa bagi wanita ketika sholat wajib menutupi semua anggota badan, karena pengertian خُمَارٌ adalah yang menutupi kepala dan leher. Adapun دِرْعٌ pengertiannya adalah menutup dua telapak kaki, sedangkan membuka wajah diperbolehkan dalam shalat karena tidak ada hadits yang memerintahkan. Kalau pakai cadar yang keningnya tertutup justru tidak sah karena sujud harus membuka kening.
2. Pengertian aurat yang kedua adalah sesuatu hal yang haram dilihat dikarenakan dampak negatif yang biasa terjadi dari sebab melihat. Negatif yang dimaksudkan sebagai dampak buruk dari melihat adalah pelanggaran syariat sebagaimana melampiaskan nafsu birahi terhadap sasaran yang dilarang syariat. Seperti ingin mencium, bahkan mengarah berzina. Dengan demikian jika dengan melihat tersebut jelas aman dari keluar syariat atau terjadinya negatif merupakan hal yang langka maka tidak haram. Karena itu syariat mengklasifikasikan aurat perempuan yang haram dilihat dengan mempertimbangkan orang yang melihat.

Sebagaimana berikut ini :
A. Dilihat sesama jenis. Artinya laki-laki terhadap laki-laki, perempuan terhadap perempuan. Maka diperbolehkan melihat dengan tanpa ada nafsu birahi. Kecuali pada anggota di antara lutut dan pusar. Jika melihat di tempat itu maka haram walau tidak ada syahwat. Sebagaimana ungkapan Syaikh Ibrahim al Baijuri dalam kitab Hasyiah Ibnu Qasim juz II Hal. 96.

وَسَكَتَ اَلْمُصَنِّفُ عَنْ نَظْرِ الرَّجُلِ إِلَى الرَّجُلِ وَنَظْرُ الْمَرْأَةِ إِلَى اْلمَرْأَةِ فَيَحِلُّ كُلٌّ مِنْهُمَا بِلَا شَهْوَةٍ إِلًّا لِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ فَيَحْرُمُ وَلَوْ بِلَا شَهْوَةٍ

Ketika dalam keadaan seperti ini, maka jelas tidak ada kewajiban memakai cadar.
B. Melihatnya orang laki-laki lain (orang yang bukan mahrom atau orang yang halal dinikahi) tidak dalam keadaan hajat. Dalam hal ini ada dua pendapat :

 Pertama

Haram melihat pada segala sesuatu yang menjadi anggota badan perempuan termasuk wajah, rambut. Dan pendapat ini yang banyak dijadikan pedoman karena menutup dari segala terjadinya hal yang negatif dengan sekecil apapun. Dengan mengikuti pendapat ini ketika wanita keluar pada tempat-tempat tanpa ada hajat maka wajib menutup wajahnya.

Kedua

Haram yang melihatnya pada selain wajah dan telapak tangan perempuan. Tidak haram pada wajah dan kedua telapak tangan, karena melihat firman Allah Swt :

وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَمِنْهَا

“Mereka tidak menampakkan tempat perhiasan mereka kecuali anggota yang nampak.”

Ayat إِلَّا مَا ظَهَرَمِنْهَا di interpretasikan (ditafsirkan) dengan wajah dan kedua telapak tangan. Dalam keadaan zaman yang banyak fitnah ini boleh kita taklid pada pendapat ini yang berarti tidak wajib memakai cadar. Sebagaimana ungkapan Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiahnya hal. 96 :

وَنَظْرُالرَّجُلِ إِلَى الْمَرْأَةِ عَلَى سَبْعَةِ أَحْزُبٍ اَحَدُهَا نَظْرُهُ إِلَى أَجْنَبِيَّةٍ لِغَيْرِ حَاجَةٍ فَغَيْرُ جَائِزٍ قَوْلُهُ اِلَى أَجْنَبِيَّةٍ اَىْ اِلَى شَيْءٍ مِنْ إِمْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ اَىْ غَيْرُ مُحَرَّمٍ وَلَوْ أَمَةً وَشَمِلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ اَلنَّظْرُ إِلَيْهِمَا وَلَوْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ أَوْ خَوْفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِىْ الْمِنْهَاجِ وَغَيْرِهِ وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَمِنْهَا وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَالْمُعْتَمَدُ اَلْأَوَّلُ وَلَا بَأْسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لَا سِيَّمَا فِىْ هَذَا الزَّمَانِ اَلَّذِىْ كَثُرَ فِيْهِ خُرُوْجُ النِّسَاءِ فِىْ الطُّرُقِ وَالْأَسْوَاقِ …إلخ .

C. Laki-laki melihat pada istrinya atau perempuan amat(budaknya), maka boleh pada anggota yang mana saja kecuali pada kelaminnya.

Sedangkan jika melihat kelamin ada dua pendapat :

Pertama menghukumi haram, tapi pendapat ini lemah. Yang lebih benar adalah pendapat yang kedua, yang memperbolehkan melihat kelamin tapi makruh.

وَالثَّانِى نَظْرُهُ إِلَى زَوْجَتِهِ وَأَمَّتِهِ فَيَجُوْزُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا عَدَا الْفَرْجَ مِنْهُمَا أَمَّا الْفَرْجُ فَيَحْرُمُ نَظْرُهُ وَ هَذَا وَجْهٌ ضَعِيْفٌ وَاْلأَصَحُّ جَوَازُ النَّظْرُ إِلَى الْفَرْجِ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ .(اه أبى شجاع)

Kasus seperti ini jelas tidak harus memakai cadar.

D. Melihat pada mahrom. Baik di sebabkan nasab atau susuan. Maka diperbolehkan pada selain anggota diantara lutut dan pusar selama tidak ada nafsu birahi. Jika ada nafsu birahi maka haram melihat kepada siapapun.

وَالثَّالِثُ نَظْرُهُ إِلَى ذَوَاتِ مَحَارِمِهِ بِنَسَبٍ أَوْ رَضَاعٍ أَوْ مُصَاهَرَةٍ أَوْ أَمَّتِهِ المُزَوَّجَةِ فَيَجُوْزُ أنْ يَنْظُرَ فِيْمَا عَدَا مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ . أبى شجاع

E. Melihat wanita karena ingin mengetahui, sebab akan menikahi. Maka boleh melihat pada wajah dan kedua telapak tangan sampai batas ia tahu .( قَدْرِ حَاجَةِ ) Selain itu (memenuhi batas kebutuhan) maka haram, walau perempuan itu akan dinikahi. Dengan demikian yang biasa dilakukan kebanyakan anak muda sekarang, selalu apel atau bahkan membawa pergi wanita setelah bertunangan apalagi hanya sekedar pacaran, hukumnya adalah haram.

.وَالرَّابِعُ النَّظْرُ لِأجْل ِالنِّكَاحِ فَيَجُوزُ إلىَ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ

F. Melihat untuk pengobatan. Di perbolehkan bagi dokter untuk melihat aurat pasiennya, tapi syaratnya sang dokter wajib meminimalisir dan tidak ada dokter yang sama jenis kelaminnya dengan pasien. Karena diperbolehkannya melihat aurat bagi dokter hanya dlorurot dan harus dihadiri laki-laki mahramnya.

وَكُلُّ مَا أُبِيْحَ لِلضَّرُوْرَةِ قُدِّرَ بِقَدْرِهَا

G. Melihat karena hubungan kerja agar mengenal dan jika ada hal-hal yang terjadi dapat diselesaikan karena sama-sama mengenal, dalam hal ini boleh melihat wajah. Dengan demikian, perempuan yang bekerja seperti melakukan transaksi jual beli tidak wajib memakai cadar agar dikenali.

النَّظْرُ لِلْمُعَامَلَةِ لِلْمَرْأَةِ فِِى بَيْعٍ وَغَيْرِهِ فَيَجُوْزُ النَّظْرُ إِلَى الْوَجْهِ خَاصَّةً

BERMACAM MACAM AURAT WANITA DALAM KEHIDUPAN

aurat wanita       Gaya dan mode pakaian dewasa ini menjamur hingga mempengaruhi gaya berpakaian  wanita muslimah.

Mulai dari celana legging yang ketat sehingga membentuk (maaf) underwear hingga kaos transparan  yang jelas-jelas menunjukkan ukuran bra seseorang.

Parahnya, di atas kepala menutup rambutnya ada sehelai kain yang dililitkan  ke leher sehingga seringkali  kalung dan anting-antingnya terlihat.

 Pertanyaan  :

 Bagaimana hukumnya berpakaian  ketat bagi seorang perempuan?

Jawab :

 Hukumnya haram, karena bisa menimbulkan fitnah, kecuali dihadapan suaminya atau mahramnya saja.

Referensi :

Al Fatawa Hal 918

وعبارته: سؤال, ماحكم ملابس الضيقة عند النساء وعند المحارم؟ الفتوي: لبس الملابس الضيقة التي تباين مفاتن المرأة و تبرز ما فيه الفتنة محرم لان النبي صلي الله عليه وسلم قال: صفان من اهل النار لم ارهما بعد رجال معهم سياط كاذناب البقر يضربون بها الناس _ يعني ظلما وعدوانا_ ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات: فقد فسر قوله كاسيات عاريات بأنهن يلبسن اللبسة قصيرة لا تستر مايجب ستره من العورة وفسر بأنهن يلبسن اللبسة تكون خفيفة لاتمنع من رؤية ما ورائها من بشرة المرآة وفسرة بأن يلبسن ملابس ضيقة فهي ساترة عن الرؤية لكنها مبدية لمفاتر المرآة وعلي هذا فلايجوز للمرآة أن تلبس هذه الملابس الضيقة الا لمن يجوز لها ابداء عورتها عندخ وهو الزوج فإنه ليس بين الزوج والزوجته عورة: لقوله تعالي والذين هم لفروجهم حافظيون إلا علي أزواجهم او ما ملكت ايمانهم فإنهم غير ملوين

  • AURAT WANITA
  • و منها : المرأة في العورة لها أحوال : حالة مع الزوج : و لا عورة بينهما و في الفرج وجه و حالة مع الأجانب : و عورتها كل البدن حتى الوجه و الكفين في الأصح و حالة مع المحارم و النساء : و عورتها ما بين السرة و الركبة و حالة في الصلاة : و عورتها كل البدن إلا الوجه و الكفين و صرح الإمام في النهاية : بأن الذي يجب ستره منها في الخلوة هي العورة الصغرى و هو المستور من عورة الرجل.
  • Bersama suami :
  • Tiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka kecuali bagian FARJI (alat kelamin wanita) yang terjadi perbedaan pendapat di antara Ulama
  • Bersama lelaki lain :
  • Menurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya boleh terbuka
  • Bersama lelaki mahramnya dan sesama wanita :
  • Auratnya diantara pusar dan lutut
  •  Di dalam sholat :
  • Seluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya
  •  Saat sendiri :
  • Menurut Imam Romli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat wanita saat sendiri adalah ‘aurat kecil’ yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut)
  • Asybaah wa An-Nadhooir I/410
  • Bahkan menurut keterangan dalam kitab Busyral Karim saat rambut itu sudah terpotong dari anggauta badan pun, bila masih dikenali itu milik wanita tetap dikatakan aurat dan haram untuk dilihat oleh orang laki-laki…
  • وتطلق ( العورة ) شرعا ما يحرم نظره وهو جميع بدن المرأة ولو أمة وإن انفصل كشعرها المبان فان ذلك يحرم نظره على الرجال وجميع بدن الرجل فانه يحرم نظره على النساء ويذكرون هذا في النكاح، وعلى ما يجب ستره في الصلاة. بشرى الكريم 1/92
  • Dalam bab Nikah Aurat adalah sesuatu yang haram dilihat. Aurat perempuan adalah semua badan sekalipun terpisah dari tubuhnya seperti rambut wanita yang di potong, maka haram di lihat oleh orang laki laki, dan Aurat orang laki laki adalah semua badan, sehingga kalau ada bagian tubuh orang laki laki terpisah maka haram d lihat oleh wanita. Sedangkan yang di maksud Aurat dalam shalat adalah sesuatu yang wajib di tutupi.
  • Busyral Karim 1/92.