ADZAN DAN PAHALANYA

indexadzdan

ADZAN DAN PAHALANYA

               Adzan adalah pemberitahuan kepada umat islam untuk melaksanakan sholat karena sudah masuk waktunya, adzan di syari’atkan pada tahun ke 2 H sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abu Daud.

               Pada awal kisah di ceritakan bahwa Rosululloh Saw. Sedang bermusyawaroh dengan para Shohabat Ra.untuk menetukan pemberitahuan tentang masuknya waktu sholat kepada umat islam, para Shohabat Ra. Ada yang mengusulkan dengan di nyalakan api pada tempat yang tinggi agar kelihatan dari jauh bahwa waktu sholat telah tiba, ada juga yang mengusulkan agar di kibarkan bendera sebagai tanda masuk waktu sholat telah tiba dan ada juga yang mengusulkan supaya di pukul semacam lonceng sebagaimana orang yahudi. Dari semua usulan para shohabat, Rosululloh Saw tidak ada yang mengizinkan untuk di jadikan sebagai pemberitahuan datangnya waktu sholat.

                 Kemudian pagi harinya ada salah satu Shohabat Ra yang sowan ke nabi Saw dengan menceritakan mimpinya tadi malam yang di dalam mimpinya di ajarkan cara memberi tahu waktu sholat telah datang, Rosululloh Saw menyetujuinya dan menyuruh Shohabat itu untuk mengajari Shohabat Bilal Ra. Dari sinilah awal mula di Syari’atkanya adzan sebagaimana yang kita kenal sekarang.

              Salah satu keutamaan adzan adalah Bahwa orang yang adzan di bandingkan keutamaanya dengan Imam Sholat sebagaimana pendapat para ulama. Dasarnya adalah hadits dari Imam Abu Daud  berikut ini :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : أَلْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ أللهمَّ اَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرِ الْمُؤَذِنِيْنَ

Dari Abu Hurairoh Ra. Berkata : bersabda Rosululloh Saw. Seorang yang menjadi imam adalah seorang yang menanggungkan dan seorang yang beradzan adalah seorang yang dapat di percaya membawa amanat.(lalu Nabi berdo’a) “Wahai Alloh..berilah petunjuk orang orang yang menjadi imam dan ampunilah orang orang yang beradzan”.(HR.Abu Daud dan Ibnu Huzaimah)

                 Itulah keistimewaan seorang yang menjadi imam dan orang yang beradzan mendapatkan do’a khusus dari Rosululloh Saw. Sedangkan do’a Rosululloh pasti di terima oleh Alloh Swt.

Menjawab adzan

                 Orang yang menjawab ketika di kumandangkan adzan maka akan di beri pahala masuk surga oleh Alloh Swt. Sebagaimana hadits Nabi Saw yang di riwayatkan oleh Imam Muslim berikut ini :

Yang artinya :

Dari Umar bin KHottob Ra. Berkata : Nabi Saw bersabda :”Apabila muadzin(orang yang beradzan) mengatakan “Allohu Akbar Allohu Akbar” dan menjawablah seorang dari kamu dengan mengatakan “Allohu Akbar Allohu Akbar”. Kemudian muadzin meneruskan “Asyhadu An La Ilaha Illalloh” yang menjawab meneruskan juga mengatakan Asyhadu An La Ilaha Illalloh”. Kemudian muadzin melanjutkan asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh yang menjawab mengatakan juga Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh, kemudian yang adzan mengatakan Hayya ‘Alas Sholah yang menjawab mengatakan La Haula Wala Quwwata Illa Billah kemudian muadzin melanjutkan Hayya ‘Alal Falah yang menjawab mengatakan La Haula Wala Quwwata Illa Billah lalu muadzin mengatakan Allohu Akbar Allohu Akbar yang menjawab mengikuti Allohu Akbar Allohu Akbar dan muadzin mengakhiri dengan La ilaha Illalloh yang menjawab mengakhiri juga La ilaha Illalloh mengatakan yang demikian itu dari hatinya(maka akan di beri pahala)masuk surga”.(HR. Muslim).

Juga di dalam riwayat yang lain Rosululloh Saw bersabda :

عن سعد بن ابي وقّاص رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه واله وسلم قال : مَنْ قَالَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ : وَاَنَا اَشْهَدُ اَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُهُ , رَضِيْتُ بِااللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم رَسُوْلًا غَفَرَ اللهُ لَهُ ذَنْبَهُ

Dari Sa’ad bin Abi Waqosh Ra. Dari Rosululloh Saw. Beliau bersabda : Barang siapa ketika mendengar adzan membaca “Wa Ana Asyhadu An La Ilaha Illalloh Wahdahu La Syarikalah Wa Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rosuluh, Rodlitu Billahi Robba Wa Bil Islami Dina Wa Bi Muhammadin Shollallohu ‘Alaihi Wa  

Berdo’a setelah adzan

                   Bagi yang mau berdo’a setelah adzan selesai di kumandangkan akan di beri Syafa’at oleh Rosululloh Saw. Sebagaimana janji Beliau di dalam Hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori :

عن جابربن عبد الله رضي الله عنهما أَنَّ رسو لَ الله صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ : أللهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَ الصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ اَتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِى وَعَدْتَهُ, حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari jabir bin abdillah Ra. Berkata bahwa rosululloh Saw Bersabda :”Barang siapa jika setelah mendengar adzan membaca “Allohumma Robba Hadzihid Da’watit Tammah, Wash Sholatil Qo imah Ati Muhammadanil Wasilah Wal Fadlilah Wab’Atshu Maqomam Mahmudal Ladzi Wa ‘Attah”. Mendapat Syafa’atku pada hari kiamat”.(HR. Bukhori)

                    Juga akan di kabulkan do’a yang di panjatkan setelah adzan dan sebelum iqomat’ sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh imam Turmudzi :

عن انس رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه واله وسلم قَالَ : الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالِإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ قَالُوا فَمَا ذَا نَقُوْلُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : سَلُوا اللهَ الْعَفْوَ وَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْاَخِرَةِ

Dari Anas Ra, bahwa Rosululloh Saw. Bersabda :”Do’a di antara adzan dan iqomat tidak di tolak, maka para shohabat bertanya kepada rosululloh Saw. Ya Rosulalloh..apa yang harus kita panjatkan? Rosulululloh menjawab :”Mintalah kamu sekalian kepada Alloh Swt ampunan dan kesehatan keselamatan dunia dan akhirat”.(HR.Turmudzi)

                     Setelah adzan selesai di kumandangkan, maka berdo’alah dengan do’a setelah adzan sebagaimana hadits Nabi yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori di atas. Kemudian tambahkanlah do’a sebagai berikut ini :

اللهُمَّ  إِنَّا نَسْئَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ

Ya Alloh..Aku memohon kepada-MU ampunan dan keselamatan dan selalu dalam keadaan sehat selamat di dunia dan akhirat”.

WISATA RELIGI KE MAKAM AULIA ALLOH SWT

tentang-bidahTradisi ziarah wali yang dewasa ini populer dengan wisata religi,baik dengan membaca Al Qur’an dan aneka dzikir lainya di samping makam para wali, lalu berdo’a dan tawassul dengan para wali, Merupakan tradisi umat islam yang berlangsung sejak generasi shohabat dan juga di lakukan oleh ulama ahli hadits.

Al Imam Al Hakim An Naisabury bercerita tentang kisah gurunya yaitu Imam Al Hafidz Abu Ali An Naisabury yang mana beliau berziarah ke makam Imam Yahya bin Yahya An Naisabury ketika menghadapi kesulitan :

وقال الحاكم سَمِعْتُ أَبَا عَلي النيسابوري يَقُوْلُ كُنْتُ فِى غَمٍّ شَدِيْدٍ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّهُ يَقُوْلُ لِيْ صِرْ إِلَي قَبْرِ يَحْيَ بن يحي وَاسْتَغْفِرْ وَسَلْ تُقْضَ حَاجَاتُكَ فَأَصْبَحْتُ فَفعَلْتُ ذَلِكَ فَقُضِيَتْ حَاجَتِي

(تهذيب والتهذيب ص261 جزأ 11)

Al Imam Al Hakim Berkata “Aku mendengar Imam Abu Ali An Naisabury berkata “Aku mengalami kesusahan yang sangat,lalu aku bermimpi Nabi Saw. Seakan akan berkata kepadaku,”Datanglah ke makam yahya bin yahya (ulama ahli hadits) mohonlah ampunan kepada Alloh dan berdo’alah, hajatmu pasti terkabul”. Pagi harinya aku melakukan hal tersebut dan hajatkupun terkabul”.(Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqolany, Tahdzib wa tahdzib juz 11 hal 261).

Juga masih banyak keterangan tentang ziarah kubur seperti Al Hafidz Ibnu Huzaimah pengarang kitab Shohih Huzaimah yang di juluki Imamul Aimmah atau Imamnya para Imam dan juga Al Hafidz Ibnu Hibban pengarang kitab Shohih Ibnu Hibban yang mana beliau beliau adalah ahli ziarah kubur,lihat kitab Al Tsiqot.

Ziarah kubur sunnah hukumnya bagi laki laki dan boleh bagi wanita sebagaimana hadits yang di riwayatkan dari Imam Ahmad dan Imam Muslim dan Para penulis kitab Sunan.:

عن بريدة رضي الله عنه عن أبيه قال : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ :كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْأَخِرَةَ

“Saya pernah melarang kalian ziarah kubur, Maka ziarahlah karena ziarah bisa mengingatkan kematian”.

PANDANGAN ULAMA TENTANG ZIARAH KUBUR

1. Imam Hanafi Rohimahulloh...

Ulama hanafiyah berpendapat bahwa Ziarah kubur Sunah untuk laki laki dan wanita.

2. Jumhur Ulama

Mayoritas ulama yaitu Malikiyah,Syafi’iyah dan Hanabaliyah berpendapat bahwa ziarah kubur sunah bagi laki laki dan makruh bagi perempuan, sebab wanita mudah meratap, jika meratap maka tidak di perkenankan bagi wanita ziarah kubur.

Di dalam ziarah kubur juga ada do’a dan tawassul kepada para auliya yang telah meninggal dunia, Sedangkan tawassul itu sendiri adalah memohon datangnya manfaat atau terhindarnya bahaya kepada Alloh Swt.dengan menyebutkan nama seorang Nabi atau Wali karena memuliakan terhadap keduanya.

Dalil tawassul ini terdapat banyak sekali dalam hadits shohih, sehingga tawassul telah ada sejak kaum salaf,generasi shohabat dan tabi’in. Tak seorangpun dari ulama salaf yang melarangnya. Bahkan Imam Ibnu Timiyah membolehkan tawassul dalam kitabnya Al Kalim At Thoyyib hal 173 dan dalam kitabnya Qo’idah jalilah fit Tawassul wal Washilah hal 183-184.Beliau juga menganggap bahwa tawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat bukan sebagai kemungkaran dan kesalahan apalagi kesyirikan. Hala ini di sampaikan oleh beliau dalam kitabnya Iqtidlo Shirotol mustaqim hal 373 juz 1. Juga murid beliau yang terkemuka yaitu Imam Al Hafidz Ibnu Katsir Al dimasyqi membolehkan tawassul dalam kitabnya  Bidayah Wan Nihayah hal 92 juz 7.

Bahkan Syikh Ahmad bin Abdul Wahhab Al Najdi yang merupakan pendiri aliran wahabi membolehkan ziarah kubur dan tawassul dalam kitabnya yaitu Ahkam Tamanni Al Maut hal 75.:

وأخرج سعد الزنجانى عن أبي هريرة مرفوعا من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب وقل هو الله احد  وألهاكم التكاثر ثم قال إني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له إلى الله تعالى (أحكام تمنى الموت ص 75)

 

TATA TERTIB ZIAROH KUBUR

1. Niat menjalankan kesunnahan, Niat menambah cinta kepada para aulia dan ulama juga sholihin,juga niat tasyaffu’ dan tawassul agar tercapai hajat dan cita cita.

2. Melaksanakan sholat sunnah 2 roka’at karena hendak bepergian, caranya : pada roka’at pertam setelah fatihah sebaiknya membaca surat  Al Kafirun 1x atau surat Al Falaq 1x. Dan pada roka’at kedua setelah fatihah sebaiknya membaca surat Al Ikhlas 1x atau An Nas 1x. Setelah salam sebaiknya membac ayat Kursyi 1x  dan surat Quraisy 1x

3. Membaca do’a setelah di pintu keluar rumah

بِسْمِ اللهِ ثِقَةً بِاللهِ وَتَوَكُّلًا عَلَيْهِ

   “Dengan menyebut nama Alloh aku berangkat ziaroh dan dengan penuh percaya serta berserah diri padaNYA”.

4. Do’a sambil berjalan menuju kendaraan :

أللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِى الْأَهْلِ وَالْمَالِ,أَللهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ وَعْثَاءِ

 السَّفَرِ وَكَأَبَةِ الْ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالْأَهْلِ

“ Ya Alloh..Engkaulah yang menyertai kepergianku dan Engkaulah sebagai kholifah penanggung jawab urusan keluarga dan hartaku, Ya Alloh…Sungguh aku berlindung kepadaMU dari kejelekan kepergianku dan kejelekan penglihatanku juga dari kejelekan gejolak hatiku dalam memikirkan harta dan keluarga yang ku tinggal”.

5. Do’a naik kendaraan dengan kaki kanan :

بسم الله الرحمن الرحيم

6. Do’a setelah duduk di kendaraan :

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَه’ مُقْرِنِيْنَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

“ Maha suci Alloh yang menundukan kendaraan ini untukku dan sekali kali tidaklah aku bisa menguasainya dan sesungguhnya kepada hanya tuhanku aku akan pulang”.

7. Sambil berjalan di kendaraan membaca surat Al Qodr

8. Do’a jika singgah di suatu tempat sumpama restourant :

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق

“ Dengan kalimat kalimat Alloh yang sempurna aku berlindung dari kejelekan makhluk apapun”.

9. Do’a ketika mau masuk ke masjid :

أَللهُمَّ صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد . أَللهمَّ إغْفِرْلِى ذُنُبِى وافْتَحْ لِى أَبْوأبَ رَحْمَتِكَ

“ Ya Alloh..Rohmat dan salam semoga tetap engkau berikan kepada Nabi Muhammad Saw. Dan keluarganya, Ya Alloh…Ampunilah dosa dosaku dan bukalah pintu pintu rohmat untukku”.

 10. Do’a ketika mau keluar dari masjid :

أللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد وَصَحْبِهِ وسَلِّمْ , أللهُمَّ إغْفِرْلِي ذُنُوْبِي   وَافْتَحْلِي أَبْوابَ فَضْلِك

Ya Alloh…Rohmat dan salam semoga tetap Engkau berikan kepada nabi Muhammad Saw. Dan keluarganya juga shohabatnya. Ya Alloh…Ampunilah dosa dosaku dan bukalah pintu pintu anugerahMu untukku”.

  11. Sighot salam di makam aulia :

أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللهِ…….صَاحِبَ الْكَرَامَةِ

جِئْنَاكَ الزَّائِرِيْنَ  وَعَلَى مَقَامِكَ وَاقِفِيْنَ أَوْدَعْنَا عِنْدَكَ شَهَادَةَ اَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

+  سَلَامُ اللهِ وَالرَّحْمَةْ     عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَّ اللهْ

+  أَتَيْنَا كُمْ  وَزُرْنَاكُمْ     وَقَفْنَا  يَا وَلِيَّ اللهْ

+  سَعِدْ نَا إِذْ لَقِيْنَا كُم     قَصَدْنَايَا وَلِيَّ الله

+  تَوَسَّلْنَا بِكُمْ لِله          أَجِيْبُ يَا وَلِيَّ اللهْ

+  رَجَوْنَا مِنْ مَزَيَاكُمْ    لِتَدْعُوْا يَا وَلِيَّ اللهْ

+  إِلَى الرَّحْمَنِ مَا يُرَمْ   لَدَ يْنَا يَا وَلِيَّ  الله

  12.  Sighot tawassul ketika berdo’a di makam aulia :

أللهُمَّ إنَّا نَسْئَلُكَ وَ نَتَشَفَعُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَأَهْلِ بَيْتِه, وَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِوَلِيِّكَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا أَلشَّيْخُ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ ألأتِّيْجَانِي رضي اللهُ عنهُ

يَا سَادَتَنَا يا وَلِيَّ اللهِ شَيْخْ أَحْمَدْ التِّجَانِي إِنَّا نَوَسّلُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ  فِي قَضَاءِ حَاجَاتِنَا ……..أللهم يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ إِقْضِ حَاجَاتِنَا

   13. Do’a ketika akan pulang dari bepergian :

أَيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“ Kita semua hendak pulang, akan bertaubat, akan menyembah dan memuji kepada tuhan kita”.

   14. Do’a ketika akan masuk rumah setelah bepergian :

تَوْبًا تَوْبًا لِرَبِّنَا أَوْبًا لَا يُغَادِرُ حَوْبًا

Taubat dan sungguh sungguh taubat kita kepada Tuhan kita dengan taubat yang tidak menyisakan dosa sedikitpun”.

PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITS ATAS PERAYAAN MAULID

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang  ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman – teman dan saudara – saudara, menjamu dengan makanan – makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan sebab anugerah-Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits
Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
Berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurunkan Rahmat-Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi
Dengan karangan maulidnya yang bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
Dengan maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”

13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
Dengan maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
Telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy
Dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
Dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan Ibn Diba’
Dengan maulidnya addiba’i

18. Imam Ibn Hajar Al Haitsami
Dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri
Mengarang hasiah atas maulid Ibn Hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari’
Dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
Dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
Dengan maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
Dengan maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

27. Syihabuddin Al Halwani
Dengan maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
Dengan maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy
Dengan maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi
Dengan maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yang menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yang menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yang jelas – jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.