PETASAN KEMBANG API MAULID ADALAH MUNKAR

http://www.jejakislam.com/wp-content/uploads/2013/10/kembang+api2W.jpgSaya sudah menghimbau hal itu, namun tetap saja para pemuda senang melakukannya, saya terus terang saja kurang suka, namun untuk kegembiraan maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw. Riwayat bahwa Rasul saw melihat orang – orang Afrika bermain di Masjid Nabawiy, maka para sahabat marah, maka Rasul saw berkata :

“Biarkan mereka, ini adalah hari Ied” dan Rasul saw duduk menonton perbuatan mereka dengan senang. (Shahih Bukhari).

Riwayat lain ketika Abubakar shiddiq ra marah melihat dua orang wanita menghibur Aisyah ra dengan alat musik Mizmar dan syair, Abubakar ra berkata : “apakah alat musik syetan dihadapan Rasulullah..?!!”, maka Rasul saw keluar dari dalam selimut karena sedari tadi beliau berselubung selimut, seraya bersabda : “Biarkan mereka wahai Abubakar, ini adalah Ied kita”, padahal hari itu bukan hari Iedul Adha atau Iedul fitri, tapi hari Mina (Shahih Bukhari),

Maka jelaslah sudah segala bentuk kegembiraan, bahkan main di masjid yang jelas – jelas adat Yahudi dan Nasrani, bahkan Rasul saw memperbolehkannya dimainkan di Masjid pula. Dan bahkan Rasul saw menonton dan asyik tersenyum, menunjukkan selama kegembiraan yang berkaitan dengan syiar Islam maka tak apa. Walau dimasa kini tidak selayaknya ada acara gembira dengan bermain di masjid, itu terjadi dimasa awal islam. Namun jika hal hal diluar masjid, selama tak bertentangan dengan syariah maka boleh saja bahkan diakui oleh syariah kebolehannya, demikian pula saat acara pernikahan, acara haji, acara maulid dll. ini dari segi hukum.

Namun dari segi pribadi saya, saya kurang suka, ribut.., dan baunya menusuk dada, apalagi saya yang punya sakit asma, tapi saya tahan saja karena mereka sedang asyik begitu, kasihan juga jika dikerasi dan dilarang, Namun tetap hati kecil saya kalau disuruh memilih maka lebih baik yang lain lah, daripada petasan. Dan ternyata saat kedatangan Guru Mulia kita Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin Hafidh, beliau disambut dengan kembang api, kita tahu bahwa beliau ini sudah mencapai derajat Pakar hadits dan Mufassir.

Saya perhatikan apakah beliau cemberut dan marah atau bagaimana..?, karena jika mungkar maka beliau tidak akan diam, karena saya adalah murid beliau, pasti akan ditegur, namun ternyata beliau senyum cerah, bahkan sempat berdiri menonton sejenak sambil tersenyum gembira melihat kembang api itu sebelum masuk ke masjid. Saya pun tahu bahwa senyum beliau itu adalah ingin membuat para pemuda itu makin senang, karena mereka berbuat itu demi menyambut beliau, namun jika disuruh memilih, pastilah beliau pun memilih tak perlu pakai yang demikian itu.

Wallahu a’lam