DALIL KEABSAHAN BERTABARRUK(NGALAP BERKAH)

Menurut Jumhur ulama empat madzhab bertabaruk dengan orang-orang shalih dan peninggalannya adalah disyariatkan. Tidak ada yang melarang hal ini dalam masa-masa awal Islam. Disinyalir Ibnu Taimiyah di abad ke tujuh Hijriyah merupakan orang pertama yang menyelisihi jumhur dalam masalah ini.

Di antara dalil-dalil kebolehan bertabaruk dengan orang shaleh adalah adalah :

  1. Hadits Mathohir

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al Ausath dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata, “Rasulullah SAW mengutus orang kepada Mathohir (tempat-tempat wudhu umat muslim) untuk dibawakan air. Kemudian beliau meminumnya dengan harapan mendapatkan berkah dari tangan-tangan kaum muslim.” Al Haitsami mengatakan dalam Majma bahwa Thabrani meriwayatkannya da;am al Ausath dan perawinya terpercaya. Sedangkan Abdul Azis bin Abi Rawad terpercaya namun dinisbatkan kepada Irja.

  • Hadits sumur unta

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa para sahabat bersama Rasulullah SAW melewati tanah kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumurnya dan membuat adonan makanan dengannya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk membuang air yang diambil dari sumur itu dan memberikan adonan yang dibuat dengan air tersebut kepada unta. Beliau SAW memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang pernah didatangi oleh unta (unta yang menjadi mukjizat Nabi Shaleh).”

Imam Nawawi dalam syarahnya mengomentari bahwa hadits ini memiliki beberapa faidah diantaranya adalah anjuran untuk menghindari sumur-sumur kaum dzalim dan bertabaruk dengan sumur-sumur kaum shalihin.

  • Hadits Juraij

Dalam Shahih Muslim disebutkan tentang kisah Juraij, seorang shaleh yang terkenal. Juraij dituduh menghasilkan anak dari perzinahan dengan seorang pelacur sehingga kaumnya merusak biaranya. Kemudian Juraij berkata, “Di mana anak itu ?” Mereka mendatangkan bayi itu. Juraij berkata, “Tinggalkan aku agar aku bisa melaksanakan shalat.” Juraij pun melaksanakan shalat. Selesai dari shalatnya ia mendatangi bayi itu dan menyentuh perutnya seraya berkata, “Wahai anak, siapakah ayahmu?” Bayi itu pun menjawab, “ Fulan, si penggembala.” Bani Israil (yang merasa kaget karena jawaban bayi itu), mendekati Juraij, menciuminya serta mengusap-ngusap tubuhnya. Mereka berkata, “Kami akan membangun biara dari emas untukmu.” Juraij menjawab, “Tidak perlu (kalian berbuat seperti itu), tapi cukup dirikanlah (biaraku) dari tanah sebagaimana dulu adanya.”, Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan Juraij.”

Hadits ini adalah bentuk diamnya Nabi SAW dan menganggap baiknya Nabi SAW atas apa yang dilakukan mereka terhadap Juraij. Seandainya menciumi dan mengusap orang sholeh untuk bertabaruk adalah terlarang pastinya beliau menjelaskan.

Hadits-hadits yang menjelaskan tabaruk dengan Nabi SAW. Alasan tabaruk dengan Nabi adalah karena keimanan Nabi SAW, ketakwaanya, keshalehhan dan kedekatan Beliau SAW kepada Allah. Alasan ini juga terdapat pada para wali dan orang shaleh walau berbeda tingkatannya.

  • Sanggahan-sanggahan

Mereka yang melarang tabaruk dengan orang shaleh beralasan bahwa kebolehan tabaruk itu hanya khusus bagi Nabi SAW. Selain itu para sahabat dan salaf tidak melakukannya. Dan Tabaruk dengan orang shaleh dikhawatirkan berakhir dengan menjadikan mereka sebagai Sesembahan.

Argumen-argumen mereka sama sekali tidak berdasar dan tidak pantas diajukan setelah datangnya dalil yang jelas tentang kebolehan Tabaruk dengan peninggalan orang-orang shaleh.

Pernyataan bahwa Tabaruk adalah kekhususan Nabi SAW membutuhkan dalil dan mereka tidak memilikinya. Hukum asli segala hal adalah umum dan boleh diikuti.

  • Ilmu Yang Sedikit

Jika dikatakan bahwa dalilnya adalah keshalehan Nabi SAW sudah pasti sedangkan keshalehan selain Nabi hanya sebatas prasangka yang tidak pasti. Maka perlu diketahui bahwa persangkaan kuat dalam masalah ini sudah cukup sebab mayoritas hukum syariat didasari oleh persangkaan kuat dan bukan kepastian. Seandainya kita memakai cara pemikiran mereka, tidak ada lagi di muka bumi ini manusia yang layak untuk dihormati. Karena sebanyak apa pun ibadah atau ilmu seseorang, kita dengan mudah dapat berkata, “Untuk apa menghormati mereka? Mungkin saja hati mereka tidak sebaik dzohirnya.” Dalil ini hanya dipakai oleh kaum yang hatinya penuh buruk sangka terhadap sesama muslim.

Adapun alasan mereka bahwa para sahabat dan salaf tidak melakukannya. Itu salah sebab para sahabat dan salaf telah melakukannya. Dalam Mustadrak dikatakan, “Muhammad bin Thalhah termasuk seorang zahid yang rajin beribadah. Para sahabat Nabi bertabaruk dengan doanya, dan beliau adalah orang pertama yang dijuluki as Sajad (yang sering sujud). memberitahukan kepadaku tentang shahihnya hal ini Abdullah al Asfihani.”

Telah ditetapkan pula bahwa Imam Syafii bertabaruk dengan baju Imam Ahmad. Hikayat ini diriwayatkan dalam banyak jalur dan telah dituliskan para ulama dalam kitab-kitab mereka seperi Bidayah Wa Nihayah, Manaqib Ahmad dan lainnya.

Imam Syafii juga bertabaruk dengan kubur Abu Hanifah sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad. Dalam kitab Adab Ibnu Muflih juga meriwayatkan bahwa Imam Ahmad bertabaruk dengan baju Yahya bin Yahya.

Sedangkan argumen mereka bahwa tabaruk dengan atsar orang shaleh bisa menjadi perantara kepada penyembahan mereka. Maka hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai tabaruk dengan Nabi SAW. Faktanya Tabaruk dengan Nabi SAW disepakati kebolehannya dan tidak ada seorang pun umat Islam yang menyembah Nabi SAW.

Jika dikatakan Nabi telah mengajarkan sahabatnya tauhid maka tidak ditakutkan atas mereka akibat buruknya. Maka dikatakan begitupula dimungkinkan diajarkan kepada orang yang bertabaruk tauhid sehingga kita aman dari akibat buruknya.