DANGDUTAN HARAM KAITANYA DENGAN PORNOAKSI WANITA DAN PORNOGRAFI

Istilah pornografi dan pornoaksi tidak di temukan di kalangan ulama’ fiqih akan tetapi substansinya dari pengertian pornografi dan pornoaksi dapat di jumpai dalam kitab fikih. Keterangan kitab:

– Tafsir Al-Qosimi juz 3 halaman 48 – 49

تفسير القاسمي جزء 3 ص 48 – 49

قوله تعالى: “ولا تبرجنا تبرج الجاهلية الاولى ” أي تبرج النساء ايام الجاهلية الاولى اذ لا دين يمنعهم ولا ادب يزعمهم والتبرج فسر بالتبختر والتكسر بالمشي وباظهار الزينة وما يستدعي به شهوة الرجل اهـ

“Yakni para wanita di masa Jahiliyah pertama memper-elok diri dalam berjalan, sebab tidak ada agama yang melarangnya dan tak ada etika yang mengatur mereka. Kata ‘Tabarruj’ diinterpretasikan dengan melenggang, berlenggak-lenggok dalam melangkah, menampakkan perhiasannya, dan setiap hal yang dapat menarik hasrat para lelaki”.

مذاهب الاربعة جزء 2 ص 43

اما رقص النساء امام من لايحل لهن فانه حرام بالاجماع لما يترتب عليه من اثارة للشهوة والافتنان ولما فيه من التهتك والمحون ومثلهن الغلملن المراد امام من يشتهيهم ويفتـتن بهم اهـ

“Adapun hukum wanita menari-nari di depan lelaki yang bukan mahramnya adalah haram sesuai dengan konsensus para Ulama. Karena adanya faktor negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut, seperti meningkatkan libido (syahwat), fitnah, merusak kehormatan dan petaka. Sebagaimana wanita, lelaki muda belia (Amrod) pun diharamkan berdendang di depan lelaki yang menyukai sesama jenis (homosexual)”.

 

Dalam segala hal wanita di haruskan berpegang dan menta’ati peraturan syari’ah baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian, maupun profesi.

Keterangan kitab: Seorang perempuan muslimah yang beraktifitas diluar rumah wajib baginya melaksanakan beberapa ketentuan syariat Islam, diantaranya:

  1. Keluar rumah karena adanya keperluan
  2. Mendapat izin suami atau muhrimnya
  3. Terjamin dan aman dari fitnah
  4. Menutup aurat
  5. Menghindari bercampur dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya
  6. Tidak berpenampilan seperti orang laki-laki
  7. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh
  8. Profesi yang di lakukan tidak bertentangan dengan syari’ah

اداب حياة الزوجية ص 163

ليس في الاسلام ما يمنع المرأة ان تكون تاجرة او طبيـبة او مدرسة او محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو الى ذالك وما دامت تـختار لنفسها الاوسط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التـى اسفلنا بعضها اهـ

“Di dalam Islam tidak ada larangan yang mencegah wanita untuk menjadi usahawan, dokter, guru atau menjadi pekerja di profesi apapun yang ditujukan mencari rezeki yang halal, selama ada unsur darurat yang menuntutnya seperti itu, dan selama ia sanggup menerima persyaratan iffah (menjaga diri dari al-hal yang haram), seperti yang telah kami terangkan sebagiannya”.

اسعاد الرفيق جزء 2 ص 136

ومنهاخروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولوكانت مستورة وكان خروجها باذن زوجها اذا كانت تمر في طريقها على رجال اجانب –الى ان قال- قال في الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الحديث وينبغي حمله ليوافق قواعدنا على ما اذا تحققت الفتنة اما مجرد خشيتها فانما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر ايضا خروجها بغير اذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها اياه او خشية نحو فجارة او انهدام المنـزل

“Diantara maksiat tubuh (badan) adalah keluarnya wanita dari rumahnya dengan cara memakai wewangian atau berhias meskipun memakai penutup, dan keluar rumah atas izin suaminya tetapi ternyata ia melewati jalanan para lelaki yang bukan mahramnya…Ibn Hajar berkata dalam kitabnya, Zawajir : Hal ini adalah bagian dari dosa besar karena sudah dinyatakan dalam hadis secara jelas. Dan selayaknya hadis ini diarahkan (agar dapat selaras dengan kaidah kita) pada permasalahan dimana fitnah bisa terjadi secara pasti. Kalau hanya kekhawatiran terjadinya fitnah saja maka masuk dalam hukum makruh. Sedangkan bila ada dugaan kuat fitnah akan terjadi maka hukumnya adalah haram, tetapi tidak mencapai taraf ‘dosa besar’. Termasuk dalam kategori dosa besar adalah keluarnya wanita tidak dengan seizin dan restu dari suaminya tanpa ada faktor darurat secara syar’i, contohnya, meminta fatwa (pada Ulama, misalnya mengenai haid) dimana suaminya sendiri tidak memiliki pengetahuan di bidang ini, atau karena khawatir pada semisal godaan orang lain, robohnya rumah dll”.