AQIQOH YANG DI PERUNTUKAN BAGI JANIN

Kamn
AQIQOH YANG DI PERUNTUKAN BAGI JANIN

ﻭﺳﺌﻞ ـ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ـ ﻫﻞ ﺗﺴﺘﺤﺐ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻘﻂ ﻣﻄﻠﻘﺎً ﺃﻭ ﻳﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﻇﻬﺮﺕ ﻓﻴﻪ ﺃﻣﺎﺭﺓ ﺍﻟﺘﺨﻠﻖ ﻣﻦ ﺗﺨﻄﻴﻂ ﻭﻏﻴﺮﻩ؟.

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﻌﻠﻮﻣﻪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ: ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺴﻦ ﻋﻦ
ﺳﻘﻂ ﻧﻔﺨﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻛﻤﺎ ﺟﺮﻳﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻲ ﺍﻹﺭﺷﺎﺩ ﻭﺍﻟﻌﺒﺎﺏ ﺗﺒﻌﺎً ﻟﻠﺰﺭﻛﺸﻲ ،
ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻨﻔﺦ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻓﻬﻮ ﺟﻤﺎﺩ ﻻ ﻳﺒﻌﺚ ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻓﻼ ﺗﺴﻦ ﻟﻪ
ﻋﻘﻴﻘﺔ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻧﻔﺨﺖ ﻓﻴﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﺣﻲ ﻳﺒﻌﺚ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﺸﻔﺎﻋﺘﻪ، ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ
ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ: ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﻖ ﻋﻦ ﻭﻟﺪﻩ ﻻ ﻳﺸﻔﻊ ﻟﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻓﺎﻓﻬﻢ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﺗﻪ
ﻣﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﺗﺎﺑﻌﺔ ﻟﻠﻮﻟﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﻔﻊ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻧﻔﺨﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻓﻜﺬﻟﻚ ﻳﻘﻴﺪ
ﻧﺪﺑﻬﺎ ﺑﻤﻦ ﻧﻔﺨﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ.

Imam Ibnu Hajar pernah ditanya – Apakah mengaqiqahi janin yang keguguran mutlak
disunnahkan, atau ada pemilahan antara janin yang sudah tampak tanda-tanda
penciptaan seperti garis-garis tubuh, dan selainnya?

Beliau menjawab -semoga Allah memanfaatkan ilmunya untuk orang-orang muslim- :
Bahwa aqiqah hanya disunnahkan untuk janin yang telah ditiupkan ruh padanya sebagaimana keterangan yang telah berlaku di Syarh al-Irsyad dan al-‘Ubab mengikuti rekomendasi Imam al-Zarkasyi. Sedangkan janin yang tidak ditiupkan ruh padanya itu hanyalah benda mati yang tidak akan dibangkitkan kembali dan tidak bermanfaat di akhirat, maka tidaklah disunnahkan untuk mengaqiqahinya, berbeda halnya dengan janin yang telah ditiupkan ruh padanya, sesungguhnya dia makhluk hidup yang akan dibangkitkan kembali di akhirat dan syafa’atnya berguna. Sungguh golongan ulama salaf telah berkata: “Barangsiapa yang tidak mengaqiqahi anaknya maka anaknya tidak akan mensyafa’atinya di hari kiamat”, maka fahamilah apa yang telah aku tuturkan bahwa aqiqah itu mengikuti (berhubungan) terhadap anak yang bisa mensyafa’ati, yaitu bayi yang telah ditiupkan ruh padanya, maka demikian juga kesunnahan aqiqah dibatasi dengan bayi yang telah ditiupkan ruh padanya.

Wallahu A’lam