HIWALAH ATAU MELIMPAHKAN HUTANG

HIWALAH ( MELIMPAHKAN HUTANG KEPADA ORANG LAIN )

hutang
pertanyaan:

           Bagaimana hukumnya melimpahkan hutang kita kepada orang lain yang berhutang kepada kita, misalnya begini saya punya hutang kepada nida, nida kebetulan datang menagih hutang ke saya, karena pada saat nida datang menagih hutang ke saya, saya lagi bokek, maka nida saya suruh menagih ke kang korab yang punya hutang kepada saya, ini hanya ilustrasi

Hukum dari masalah di atas adalah boleh, seperti ini adalah aqad hiwalah atau ngeligerno.
Hiwalah adalah memindah hutang pada orang lain yang mana orang lain itu juga mempunyai hutang pada orang yang memindahkan tadi.
Syaratnya Hiwalah adalah 6 :

1. Orang yang memindah atau ngeligeri atau di sebut Muhil. Dalam kasus diatas pelakunya adalah saya
2. Orang yang terkena pindahan atau di sebut Muhtal. Dalam kasus diatas kedudukannya adalah kang Korab
3. Orang yang menerima pindahan atau di sebut Muhal ‘alaih. Dalam kasus diatas kedudukannya adalah Nida
4. Yang terkena pindahan punya hutang pada yang memindah (kang Korab punya hutang pada saya)
5. Yang memindah atau muhil punya hutang pada yang terkena pindahan atau muhtal (saya punya hutang pada Nida)
6. Shighot

Referensi :

Asnal Matholib juz 2 hal. 230

هِيَ بِفَتْحِ الْحَاءِ أَفْصَحُ من كَسْرِهَا من التَّحَوُّلِ وَالِانْتِقَالِ يُقَالُ حَالَتْ الْأَسْعَارُ إذَا انْتَقَلَتْ عَمَّا كانت عليه وفي الشَّرْعِ عَقْدٌ يَقْتَضِي نَقْلَ دَيْنٍ من ذِمَّةٍ إلَى ذِمَّةٍ وَتُطْلَقُ على انْتِقَالِهِ من ذِمَّةٍ إلَى أُخْرَى وَالْأَصْلُ قبل الْإِجْمَاعِ خَبَرُ الصَّحِيحَيْنِ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وإذا أُتْبِعَ أحدكم على مَلِيءٍ فَلْيَتْبَعْ بِإِسْكَانِ التَّاءِ في الْمَوْضِعَيْنِ أَيْ فَلْيَحْتَلْ كما رَوَاهُ هَكَذَا الْبَيْهَقِيُّ وَلَهَا سِتَّةُ أَرْكَانٍ مُحِيلٌ وَمُحْتَالٌ وَمُحَالٌ عليه وَدَيْنٌ لِلْمُحْتَالِ على الْمُحِيلِ وَدَيْنٌ لِلْمُحِيلِ على الْمُحَالِ عليه وَصِيغَةٌ وَكُلُّهَا تُؤْخَذُ من كَلَامِهِ الْآتِي