KETIKA MEYAKINI BAHWA HAQIQAT RASA GARAM ITU ASIN


Dulu ketika kita semua masih berada di alam ruh, semua ber-bay`at, mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah Robb kita
Q.S al-A’rof : 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Muncul pertanyaan di benak saya
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir dari keluarga muslim ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir dari suku sunda (pasundan) ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di Jawa Barat ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di pulau Jawa ?
=> Apakah dulu ruh saya memesan kepada Allah agar terlahir di Indonesia ?

Dan seterusnya dan seterusnya …
Demikian saya, begitu juga anda dengan latar belakang suku, ras bahkan agama dan kepercayaan yang berbeda.

Ditemukan jawaban dan umat muslim menyakininya ; “Karena Irodah Allah”. Titik tekan nya “ALLAH”.
Jika seumpama, ada seseorang menghina saya karena saya bersuku Jawa, sebenarnya penghina sedang menghina SEBUAH NAMA yang berada di belakang saya.
Demikian saudara saudara yang terlahir di Zimbabwe, Nigeria sebagai suku NEGRO yang ber-kulit hitam.
Demikian mereka dengan suku dan ras ber-kulit putih.
Demikian mereka dengan suku dan ras ber-mata sipit.
Dan sebagainya …

Demikian seorang muslim dengan adab dan akhlaq mulianya menyakini : “Semua kebaikan dan kesholihan yang ia perbuat, ia nisbatkan hanya kepada Allah. Dan semua keburukan dan ke-tidak patutan, ia nisbatkan kepada dirinya sendiri”.

Dan entahlah … setelah anda membaca ini, rasa asin garam itu memang sama kita rasakan ? atau anda merasakan rasa yang lain ketika mengecap garam, mungkin garam yang anda rasakan itu manis, pahit, asam atau kecut ? atau jangan-jangan lidah saya tidak sehat merasakan garam itu asin ?
Wallahul muwafiq wal musta’an