I’ADAH SHOLAT KARENA SHOLAT DI KENDARAAN SAAT MUDIK LEBARAN

SHOLAT DI ATAS KAPAL SAAT BERLAYAR

KAPAL
DI romadlon kali ini banyak dari saudara saudara kita yang harus melakukan perjalanan pulang kampung atau mudik, berbagai sarana transportasi telah di sediakan oleh negara, baik di laut, udara atau di darat.

Yang terkadang menjadi polemik adalah tentang keadaan orang yang sholat di kendaraan, baik laut, udara dan darat. bahkan di dalam kitab Majmu’ di sebutkan orang yang Sholat wajib di atas kendaraan maka Wajib i’adah ketika nanti sampai di
rumah….

Pertanyaan….

Bagaimana dengan orang yang menghabiskan banyak waktunya di laut ketimbang di darat? apakah tidak ada Rukhsohnya?

JAWABAN
KITA TETAP DIHARUSKAN MENGHADAP KIBLAT DAN MENCARI ARAHNYA BAIK DALAM SHOLAT SUNAH MAUPUN WAJIB, BILA TIDAK BISA MAKA SHOLAT YANG KITA KERJAKAN HARUS DIULANG SESAMPAINYA DI DARATAN

KETERANGAN DIAMBIL DARI :

اما الراكب في سفينة فيلزمه الاستقبال واتمام الاركان سواء كانت واقفة أو سائرة لانه لا مشقة فيه وهذا متفق عليه هذا في حق ركابها الاجانب اما ملاحها الذى يسبرها فقال صاحب الحاوى وابو المكارم يجوز له ترك القبلة في نوافله في حال تسييره

Sedangkan bagi pengendara perahu maka wajib baginya menghadap kiblat serta menyempurnakan rukun-rukunnya sholat baik perahunya berhenti ataupun berlayar karena tidak ada kesulitan baginya dan hal ini disepekati ulama, hukum ini berlaku bagi setiap pengemudinya sedang bagi kelasinya yang menentukan arah perahu menurut pengarang kitab ‘al-Haawy dan Abu al Makarim baginya boleh tidak menghadap kiblat dalam sholat-sholat sunah saat perahunya berlayar”.
Al-Majmu’ ‘alaa Syarh al-Muhaddzab Juz 3 hal. 233

وَلَيْسَ لِرَاكِبِ السَّفِينَةِ وَلَا الرَّمَثِ وَلَا شَيْءٍ مِمَّا يُرْكَبُ في الْبَحْرِ أَنْ يصلى نَافِلَةً حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ السَّفِينَةُ وَلَكِنْ عليه أَنْ يَنْحَرِفَ إلَى الْقِبْلَةِ وَإِنْ غَرِقَ فَتَعَلَّقَ بِعُودٍ صلي على جِهَتِهِ يُومِئُ إيمَاءً ثُمَّ أَعَادَ كُلَّ مَكْتُوبَةٍ صَلَّاهَا بِتِلْكَ الْحَالِ إذَا صَلَّاهَا إلَى غَيْرِ قِبْلَةٍ ولم يُعِدْ ما صلى إلَى قبله بِتِلْكَ الْحَالِ

Dan tidak diperkenankan bagi orang yang naik perahu, rakit atau sesuatu yang ia kendarai dilaut untuk sholat sunat sesuai arah perahunya tapi dia menghadaplah kiblat meskipun ia tenggelam maka bergantunglah pada kayu, sholatlah dengan menghadap arah kiblat dengan menggunakan isyarat kemudian baginya wajib mengulangi setiap sholat wajib yang ia kerjakan dalam kondisi tersebut bila ia mengerjakan sholatnya dengan tidak menghadap kiblat dan tidak perlu baginya mengulangi sholat wajibnya dalam kondisi tersebut bila ia kerjakan dalam posisi ia menghadap kiblat.
Al-Umm Lis Syaafi’i Juz I hal. 98
وتصح الفريضة في السفينة الواقفة والجارية والزورق المشدود بطرف الساحل بلا خلاف إذا استقبل القبلة وأتم الاركان…..
(فرع) قال اصحابنا إذا صلي الفريضة في السفينة لم يجز له ترك القيام مع القدرة كما لو كان في البر وبه قال مالك واحمد وقال أبو حنيفة يجوز إذا كانت سائرة قال اصحابنا فان كان له عذر من دوران الرأس ونحوه جازت الفريضة قاعدا لانه عاجز فان هبت الريح وحولت السفينة فتحول وجهه عن القبلة وجب رده إلى القبلة ويبى علي صلاته بخلاف ما لو كان في البر وحول انسان وجهه عن القبلة قهرا فانه تبطل صلاته كما سبق بيانه قريبا قال القاضي حسين والفرق أن هذا في البر نادر وفى البحر غالب وربما تحولت في ساعة واحدة مرارا
* (فرع)
قال أصحابنا ولو حضرت الصلاة المكتوبة وهم سائرون وخاف لو نزل ليصليها علي الارض الي القبلة انقطاعا عن رفقته أو خاف علي نفسه أو ماله لم يجز ترك الصلاة وإخراجها عن وقتها بل يصليها على الدابة لحرمة الوقت وتجب الاعادة لانه عذر نادر.

Juga menurut imam Syafi’i dalam kitab al Um, Hukumnya SAH sholat fardlu yang dikerjakan diatas perahu yang diam, bergerak, sampan yang terikat dipinggir pantai dengan tanpa perbedaan ulama bila ia menghadap kiblat dan mampu menyempurnakan rukun-rukunnya sholat…

Berkata pengikut-pengikut as-Syafi’i :

“Bila seseorang sholat diatas perahu tidak diperkenankan baginya meninggalkan sholat dalam keadaan berdiri bila ia mampu seperti halnya sholatnya didaratan, pendapat ini selaras dengan Imam Malik dan Ahmad sedang Imam Abu Hanifah membolehkannya saat perahunya telah berlayar”.

Berkata pengikut-pengikut as-Syafi’i :

“Bila baginya ada halangan untuk menjalani sholat dalam perahu dengan berdiri semacam kepalanya berputar-putar dan lainnya maka boleh baginya menjalaninya dengan duduk, apabila angin bertiup membelokkan arah perahu dan memalingkan wajahnya dari kiblat maka wajib baginya kembali lagi menghadap kiblat dan meneruskan sholatnya berbeda saat ia sholat didaratan saat terdapat orang lain memalingkan wajahnya dari kiblat maka batal sholatnya seperti dalam keterangan yang telah lalu”.

Berkata al Qodli Husain :

“Perbedaannya adalah, kasus berpalingnya wajah didaratan itu jarang dan langka sedang dilautan hal yang banyak dan dalam sesaat terkadang bisa berpaling wajahnya berulang-ulang”.

Berkata pengikut-pengikut as-Syaafi’i “Bila waktunya sholat wajib telah tiba sementara dirinya sedang berjalan dan saat ia menjalani sholat didaratan dengan menghadap kiblat ia khawatir akan terpisah dari rombongan atau khawatir akan keselamatan dirinya, juga hartanya, maka baginya tidak diperbolehkan meninggalkan sholat dan mengerjakannya diluar waktu, namun sholatlah diatas kendaraan sekedar menghormati waktu dan diwajibkan baginya mengulangi sholatnya karena hal tersebut termasuk udzur yang langka”.
Al-Majmu’ ‘ala Syarh al-Muhaddzab Juz 3 hal. 240-241