KEUTAMAAN SHODAQOH DI BULAN ROMADLON DAN SHODAQOHNYA SHOHABAT ALI BIN ABI THOLIB RA

Keutamaan Shodaqoh di Bulan Romadlon

jejakislam-11.jpg

                 Diantara amal ibadah yang sangat dianjurkan dalam bulan Romadlon adalah memperbanyak shodaqoh. Karena sesungguhnya shodaqoh yang paling utama adalah shodaqoh di bulan Romadlon sebagaimana sabda Rosululloh saw.

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Dari Anas r.a, dikatakan: “wahai Rosulalloh saw, shodaqoh apa yang nilainya paling utama?” Nabi s.a.w, menjawab: “Shodaqoh di dalam bulan Romadlon” (Hadits Shohih, riwayat Tirmidzi).

Apalagi jika shodaqoh itu berupa makanan yang ditashorufkan (dipergunakan) sebagai bahan berbuka puasa. Maka pahalanya seperti pahala orang yang berpuasa. Demikian keterangan Rosululloh saw dalam haditsnya yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi :

مَنْ اَفْطَرَ صَائِمًا فَلَهُ اَجْرُ صَائِمٍ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

Siapa yang memberi makanan orang yang sedang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut. (Hadits Shohih, riwayat Tirmidzi)

Kisah shodakohnya Shohabat Ali bin Abi Tholib ra.

Banyak orang yang bersedekah, tapi beranikah bersedekah dengan nominal yang lebih besar? Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Tapi kita perlu belajar juga dari kisah orang-orang yang berani bersedekah dengan nominal yang lebih besar. Salah satunya adalah Shohabat Ali bin Abi Tholib ra. Ia memiliki kisah yang menakjubkan saat bersedekah.

Kisah sedekah Ali bin Abi Tholib ra ini bisa dibaca di dalam kitab al Mawaaidz al Ushfuuriyyah. Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang mendapat cerita dari ayahnya yang mendengar dari kakeknya mengenai perilaku sayyidina Ali.
Suatu hari setelah pulang dari rumah Rosululloh, sayyidina Ali melihat dewi Fatimah sedang berdiri di teras rumah.
“Hai isteriku, apakah ada makanan hari ini untuk suamimu?” tanya Ali.
“Demi Alloh, aku tak memiliki apa-apa kecuali uang enam dirham, hasil upah memintal bulu bulu domba milik Salman al-Farisi. Dan aku berencana ingin membelikan makanan untuk Hasan dan Husain.”
“Biar aku saja yang membelikannya. Berikan uangnya kepadaku!”
Dewi Fatimah pun memberikan uang tersebut.
Ali pun bergegas pergi membeli makanan untuk kedua anaknya. Di tengah jalan, ia ketemu dengan seorang laki-laki yang berkata :

“Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan Yang Selalu Menepati Janji.”
Ali pun memberikan uang enam dirham tersebut kepadanya. Kemudian pulang ke rumahnya dengan tangan kosong. Dewi Fatimah yang melihat Ali ra pulang dengan tangan hampa langsung menangis.
“Mengapa kamu menangis?”
“Kenapa kamu pulang tanpa membawa sesuatu? Ke mana uang yang enam dirham tadi?”
“Isteriku yang mulia, aku telah meminjamkannya kepada Alloh.”
Mendengar jawaban sayyidina Ali, Dewi Fatimah berhenti menangis dan gembira. “Sungguh! Aku mendukung tindakannmu!”
Lalu Imam Ali pun keluar rumah karena ingin bertemu Rosululloh SAW. Di tengah jalan, ia disapa seorang laki-laki :

“Hai Abu Hasan, maukah kau beli untaku?”
“Aku tak punya uang,” kata sayyidina Ali
“Bayarnya belakangan saja.”
“Berapa?”
“Seratus dirham.”
“Baik. Kalau begitu aku beli.”
Setelah diberikan untanya kepada imam Ali, dan imam Ali pun ingin kembali pulang meletakkan untanya di sekitar rumahnya. Di tengah perjalanan, ia disapa seorang laki-laki.
“Hai Abu Hasan, apakah unta tersebut akan kau jual?”
“Ya.”
“Berapa?”
“Tiga ratus dirham.”
“Ya, aku beli.”
Lalu orang tersebut membayarnya dengan kontan 300 dirham dan mengambil unta tersebut.
Ali pun bergegas pulang ke rumahnya. Dewi Fatimah tersenyum melihat wajah sayyidina Ali yang sumringah.
“Kelihatan begitu gembira, apa yang terjadi, suamiku?”
“Isteriku yang mulia, kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham. Lalu kujual lagi 300 dirham dengan kontan.”
“Aku setuju.”
Setelah berdialog di rumahnya, sayyidina Ali pamit kepada dewi Fatimah mau menemui Rosululloh SAW di mesjid. Ketika masuk masjid, Nabi SAW tersenyum melihatnya.
“Hai Abu Hasan! Akankah kau yang lebih dahulu cerita ataukah aku terlebih dahulu?”
“Engkau saja yang cerita, ya Rosulalloh,” jawab imam Ali.
“Tahukah kamu siapa yang menjual unta kepadamu dan siapa yang membelinya kembali?”
“Tidak. Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu.”
“Berbahagialah Ali. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Alloh. Dan Alloh memberimu 300 dirham. Tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Yang pertama datang kepadamu adalah Jibril dan yang terakhir datang adalah Mikail.”
Subhanalloh…….

Hadiah untuk anak yang sholeh

 

         Sholeh adalah seorang anak yang cerdas dan sholeh, ta’at beribadah dan berahlaq mulia, walau usianya baru 10 tahun dan duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah, namun perangai dan tingkah lakunya mendahului usianya. Kecerdasanya sangat luar biasa selalu mendapat nilai MUMTAZ ketika ujian sekolah. Mampu membaca Al-Qur’an dengan baik serta tajwid yang cukup lumayan untuk ukuran anak seusianya

Kriiiing…
Kriiiiiing….
”Hallo”,, terdengar suara seorang wanita separuh baya di gagang telpon. ternyata dari ibunya yang menjadi TKW di negeri Bethon.
”dalem bu,,”
jawab si anak singkat.
”nak,,sekolah yang rajin ya nak, jaga simbah baik-baik, oh ya, katanya hari senin kamu mau ujian ya? kalau bisa Rangking 1 lagi maka apapun permintaanmu akan saya turuti nak”
”Inggih Bu, insyaAlloh”
jawabnya singkat pula.
Pagi-pagi betul anak itu sudah berangkat ke sekolah dengan berbekal sebotol air mineral tanpa se sen pun uang saku.
Dia berjalan menyusuri jalan setapak sebelum akhirnya mealui tepian parit kawasan pesawahan,
maklum rumahnya terpencil dan pelosok. Hampir 1 jam jalan kaki, ahkirnya dia sampai di Sekolahan. Langsung dia menemui guru Agamanya yang kebetulan sudah lebih dulu tiba.
”Assalamu’alaikum Pak”
”Wa’alaikumsalam” waaahhh ,,rajin amat kamu, kok tumben jam segini sudah nyampai sekolahan”
”Iya pak” karena saya mau menemui bapak sebelum ujian di mulai saya mau minta bapak mendo’akan saya, agar saya bisa di berikan kemudahan dalam menjawab soal-soal ujian dan saya bisa rengking 1 pak”
pintanya dengan suara yang polos.
”Oh pasti itu, kan sudah kewajiban seorang guru mendo’akan anak didiknya termasuk kamu.
Bapak percaya kamu anak yang baik dan rajin, insyaAlloh kamu akan mampu, semua teman-temanmu juga dewan guru disini tahu kalau kamu selalu rengking 1″.
“Iya pak, tapi ini masalahnya ada sesuatu yang menjadikan saya harus lebih semangat pak. Karena kemarin ibu saya nelpon dari luar negeri, beliau bilang kalau saya bisa Rengking 1 lagi maka apapun permintaan saya akan di turuti pak. Saya mohon do’akan saya pak..” sambil menyerahkan sebotol air yang di bawanya.

“saya Mohon, karena ini kesempatan buat saya pak, belum pernah ibuku memberi janji seperti ini….”
”Hmmmmm…”
Sang pendidik menghela nafas dalam dalam,sambil berterima kasih.
”Sholeh,,,, sebenarnya hadiah apa yang kamu inginkan dari ibumu andai kamu bisa rengking 1 lagi nak, sehingga kamu begitu semangatnya?

”BISMILLAH,,,
JIKA ALLOH MENGHENDAKI SAYA RENGKING 1 LAGI,SAYA HANYA MINTA PADA IBUKU AGAR BELIAU MAU MEMAKAI JILBAB DAN MELAKSANAKAN SHOLAT”

Hati sang guru pun tersentuh, Tiada terasa butiran kristal bening menetes dari kelopak mata sang pendidik itu, butiran air mata haru, butiran air mata bahagia, lalu diangkatnya kedua tangan sang guru seraya berdo’a memohon agar hajat sang anak didiknya terkabulkan..

ANDA YANG MENENTUKAN AKHIR KISAH ANAK SHOLEH INI, KARENA ANDA ADALAH ORANG YANG SHOLEH. AMIN…