KHUTBAH JUM’AT : MERDEKA DARI PENGHAMBAAN KEPADA SESAMA MANUSIA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

فقال تعالى : يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jamaah sidang jumah rahimakumullah…,

Segala puji syukur hanya milik Allah yang telah memerintahkan kita untuk berpegang pada tali agama Allah yang kokoh.

Syukur atas segala karunia-Nya kepada kita sehingga kita bisa berkumpul di masjid ini untuk menunaikan shalat jumah berjamaah. Marilah kita buktikan rasa syukur tersebut dengan melakukan segala apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangan-larangan-Nya.

Selanjutnya, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal menuju akhirat nanti.

Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Artinya: “Berbekallah, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 197).

Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah,

Beberapa puluh tahun lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dengan para tokoh pejuang dari kalangan ulama telah memproklamasikan kemerdekaan dari belenggu penjajahan.

Itu semua merupakan nikmat serta berkah dari Allah yang harus disyukuri. Kita bisa bayangkan sekarang, bagaimana nasib saudara-saudara kita yang masih dalam cengkeraman penjajah Zionis Israel.

Dengan bersyukur atas karunia Allah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, jika mengingkarinya, maka azablah akibatnya. Na’udzubillah.

Allah menyebut di dalam firman-Nya:

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ وَلَٮِٕن ڪَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ۬

Artinya: “Dan [ingatlah juga], tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [ni’mat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [ni’mat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim [14]:7).

Kita perlu mengingat nikmat Allah itu, agar kita tetap dapat menjaga takwa dan ibadah kepada-Nya sebagai wujud rasa syukur kita.

Allah juga mengingatkan kita pada ayat lain, tentang makna penting mensyukuri nikmat terbebas dari cengkeraman bangsa lain :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡڪُمۡ إِذۡ هَمَّ قَوۡمٌ أَن يَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ فَكَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنڪُمۡ‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan ni’mat Allah [yang diberikan-Nya] kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak mencengkeramkan tangannya kepadamu [untuk berbuat jahat], maka Allah mencegah tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakkal”. (Qs. Al-Maidah [5]: 11).

ibadahJama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah

Sesungguhnya Islam Allah turunkan antara lain adalah dengan membawa misi kemerdekaan serta ingin mengantarkan segenap manusia kembali kepada fitrah mereka yang suci, yakni sebagai hamba Allah, makhluk-Nya.

Karena itu, misi kemerdekaan yang utama yaitu membebaskan manusia dari penghambaan, belenggu, dan dari ketergantungan kepada manusia menuju totalitas penghambaan dan pengabdian hanya kepada Allah Tuhan semesta alam. “Tahriirul ‘ibaad min ‘ibaadatil ‘ibaad ilaa ‘ibaadati rabbil ‘ibaad”.

Itulah maka Allah menciptakan manusia bahkan jin dengan tujuan tidak lain adalah untuk menyembah-Nya. Seperti dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ (٥٦) مَآ أُرِيدُ مِنۡہُم مِّن رِّزۡقٍ۬ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ (٥٧) إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ (٥٨) فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ذَنُوبً۬ا مِّثۡلَ ذَنُوبِ أَصۡحَـٰبِہِمۡ فَلَا يَسۡتَعۡجِلُونِ (٥٩) فَوَيۡلٌ۬ لِّلَّذِينَ ڪَفَرُواْ مِن يَوۡمِهِمُ ٱلَّذِى يُوعَدُونَ (٦٠)

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (56) Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. (57) Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (58) Maka sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bahagian [siksa] seperti bahagian teman-teman mereka [dahulu]; maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya. (59) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka. (60). (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 56-60).

Oleh karena itulah hadirin rahimakumullah,

Hadirnya Islam ke muka bumi ini, yang berawal di tanah jazirah Arab, telah memberikan anjuran yang kuat untuk membebaskan para budak. Bahkan banyak sekali di antara denda yang ditetapkan dalam Islam adalah berupa pembebasan budak. Dan yang demikian ini terjadi pada zaman di mana perbudakan telah sedemikian kuat di tengah-tengah masyarakat Arab ketika itu.

Hal itu menunjukkan bahwa Islam menginginkan agar tidak ada penghambaan seorang hamba kepada hamba yang lainnya. Yang ada hanyalah penghambaan kepada Pencipta dan Penguasa Seluruh Hamba, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Itulah yang menjadi alasan sekaligus jawaban tatkala Perang Qadisiyah berlangsung. Yaitu saat panglima pilihan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Sa’ad bin Abi Waqqash memerintahkan Rabi’ bin Amir untuk menghadap Rustum, Panglima Perang Persia.

Saat itu Rustum bertanya kepada Rabi’ tentang tujuan kedatangan pasukan Islam ke wilayahnya. Dengan lantang Rabi’ menjawab dan jawabannya itu dicatat dengan tinta emas oleh sejarah, ”Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya kepada penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan kepada keadilan, al-Islam.”

Kemerdekaan individu, menjadi pribadi yang mandiri, adalah harapan setiap orang. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan sebuah doa yang hendaknya diucapkan oleh seorang muslim setiap pagi dan petang agar terhindar dari penjajahan, cengkeraman dan penghambaan kepada sesama manusia.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, dan dari kelemahan dan kemalasan, dan dari kepengecutan dan kekikiran, dan dari belitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu).

Pada doa lainnya beliau mengajarkan kita agar tidak diperbudak dan tidak dijajah oleh perbuatan korup, menjilat dan meminta-minta kepada selain-Nya :

اللهُمَّ اكْفِنِي بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Artinya: “Ya Allah, cukupilah aku dengan rezki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari rezki yang haram, dan perkayalah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak meminta-minta kepada selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi Ahmad dan Al-Hakim).

Karena itulah pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab, ketika Amr bin Ash, salah seorang gubernurnya, mempunyai seorang anak yang suatu hari memukul salah seorang warga. Begitu mendengar laporan tentang itu, maka Khailfah Umar pun menegur dengan keras kepada sang gubernur tersebut, ”Apakah engkau hendak memperbudak manusia sementara, mereka dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka?”

Demikian pula Ali bin Abi Thalib pernah berwasiat kepada anaknya, ”Wahai anakku, janganlah engkau menjadi hamba orang lain, karena Allah telah menjadikanmu merdeka.”

Namun kemerdekaan dan kebebasan individu yang dimaksudkan oleh Islam bukanlah kebebasan tanpa batas. Banyak manusia hari ini yang meneriakkan kebebasan individu tanpa batas, bahkan menafikan batasan-batasan dari Dzat yang telah menciptakannya, sementara mereka tidak sadar bahwa sejatinya mereka justru telah diperbudak oleh hawa nafsu mereka sendiri.

Kita lihat saat ini, betapa banyak manusia yang telah hanyut dalam hedonisme, menganggap kesenangan hidup sebagai hal yang paling utama dalam kehidupan. Budaya budaya materialism, semua dilihat dan dihitung berdasarkan materi, uang dan dunia, tanpa mempedulikan aturan-aturan Syari’at Allah. Merekalah  orang-orang yang diperbudak dan dijajah oleh hawa nafsu mereka sendiri.

Allah menegur di dalam ayat-ayat-Nya:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ (٣٧) وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (٣٨) فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ (٣٩) وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ (٤٠) فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِىَ ٱلۡمَأۡوَىٰ (٤١)

Artinya; “Adapun orang yang melampaui batas, (37) dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal [nya]. (39) Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal [nya]. (41). (Qs. An-Naazi’at [79]: 37-41).

Hadirin yang dirahmati Allah,

Untuk itu, marilah kita syukuri nikmat kemerdekaan ini bukan hanya dengan merayakannya secara seremonial, tetapi lebih dari iru, adalah kita isi dengan kegiatan, pekerjaan, amal shalih yang dapat meningkatkan jatidiri kita sebagai hamba Allah, yaitu dengan memperbaiki ibadah kita dalam arti seluas-luasnya. Baik itu ibadah individu yang langsung terkait dengan Allah atau hablum minallaah. Maupun ibadah sosial yang berhubungan dengan sesama manusia, sesama makhkluk Allah, yang tidak boleh saling menjajah, tidak boleh saling menzalimi, tidak boleh saling menyakiti dan tidak boleh saling bermusuhan. Apalagi saling bunuh tanpa alasan yang dibenarkan Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita sebagai hamba-Nya ke jalan yang diridhai-Nya. Amin.