KARENA MENJELASKAN DAKWAH SURURIYYAH MENJADI JELASLAH BAHWA WAHABI VS WAHABI

Apakah Sururiyyah itu beserta ciri-cirinya yang sangat jelas? Apakah hal ini adalah suatu yang nyata/benar-benar ada atau hanya sekedar imajinasi/khayalan seseorang saja?

Asy Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab.

Jawaban :

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah, semoga shalawat serta salam atas nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga keluarganya dan para shahabatnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, yang Satu dan tak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba’du,

Sururisme (sururiyyah) adalah suatu penisbatan yang ditujukan kepada Muhammad Surur Zainal ‘Abidin. Pada awalnya dia berdiam di Kuwait, dimana dia mengeluarkan (mengarang) beberapa kitab yang baik yang didalamnya menjelaskan tentang aqidah Syi’ah serta buku-buku bagus lainnya. Kemudian dia pindah ke Jerman lalu ke Inggris (United Kingdom,red), dimana akhirnya dia menetap disana.

Lalu disana dia memproduksi majalah berjudul “Al Bayan”, kami dulu benar-benar gembira akan hal itu. Kemudian dia pun memproduksi majalah lainnya, yaitu “As Sunnah”, dan kami pun bersikap sama. Dan pada waktu itu kami katakan, “Inilah jawaban yang selama ini kita tunggu-tunggu”. Beberapa saudara kita pun memuji majalah Al Bayan dan kami pun waktu itu memujinya dengan mengatakan : “Tidak didapati (majalah) yang dapat menyamainya”. Namun seperti itulah keadaan dari hizbiyyah, pada awalnya mereka seakan-akan berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah sehingga hati umat melekat pada mereka, dan kekuatan mereka pun bertambah meningkat. Ketika mereka (ummat) mengetahui ada bahwa ada kritikan atasnya, maka kritikan tersebut tidak berpengaruh apa-apa padanya, sehingga mereka menampakkan apa yang mereka sebenarnya ada diatasnya.

Majalah “As Sunnah”, atau lebih tepat disebut “Al Bid’ah”, menyerukan umat untuk menjauhi para ulama dan menuduh para ulama sebagai tidak proaktif, dibayar oleh pemerintah dan tidak mempunyai pemahaman terhadap hal-hal terkini (fiqhul waqi’).

Namun, Alhamdulillah, topeng dari sururi-sururi (pengikut paham sururiyyah,red) itu pun terbongkar pada masa perang Teluk. Ini adalah anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Saya ingat waktu itu membaca beberapa perkataan (di dalam majalah mereka) yang didalamnya terdapat celaan terhadap Syaikh Al Albani – rahimahullah – , dikarenakan beliau membuat sebuah ceramah yang direkam yang berjudul “Pertemuan dengan Sururi”. Kemudian di halaman yang lainnya mereka memberikan pujian kepada Syaikh Bin Baz. Maka aku pun sadar terhadap arti dari pujian ini, yaitu agar mereka tidak dikatakan “Mereka menyerang para ulama”.

Beberapa hari setelah dikeluarkannya fatwa Syaikh Bin Baz tentang diperbolehkannya membuat perjanjian damai dengan Yahudi, mereka pun melancarkan serangan terhadap beliau. Maka inilah fakta dalam rencana mereka yang sebelumnya dipendam dengan baik, dalam rangka menjauhkan umat dari para ulama!. Dan majalah Al Bayan dan As Sunnah telah memberikan kontribusi pemahaman bahwa saat ini lebih patut untuk menyerahkan kepada “Salafiyyin di Yaman” yang mengerti permasalahan krisis yang terjadi di Yaman.

Maka aku katakan “Hai kalian orang-orang miskin, siapakah yang tidak mengetahui tentang kondisi kaum muslimin? Justru kamilah yang menemukan diri-diri kami yang memperbaiki situasi ini semua. (miskin = orang membutuhkan uluran tangan orang lain, artinya orang yang rendah/hina, red)

Maka, apa yang menjadikan terjatuhnya kaum muslimin ke dalam kerugian, ketakutan dan penderitaan, yakni diakibatkan oleh dosa-dosa yang kita lakukan. Allah berfirman :

“وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ ﴿١١٢﴾ [النحل: ١١٢]

(yang artinya ): “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” [QS An Nahl: 112] .

Sehingga jika kita menyadari tentang adanya penyakit, lalu apakah obatnya? Allah berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿٥٥﴾ [النور: ٥٥]

(yang artinya ) : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS An Nuur: 55]

Dosa inilah yang membawa kehinaan bagi kaum muslimin. Dan dosa-dosa itu diantaranya adalah mereka berurusan dengan hal yang menarik perhatian (harta, red), menghalalkan perzinaan di banyak negeri-negeri Islam, mereka gandrung dan menyerahkan diri pada hukum-hukum buatan manusia, yang dibuat dengan menurut cara para musuh Islam, dan banyak lagi yang bisa kita sebutkan…dan keluar dengan tanpa Hijab dan mempertontonkan hal-hal yang tidak senonoh,dan memcampuradukkan laki-laki dan wanita (ikhtilath) di sekolah-sekolah dan universitas-universitas.

Maka obat dari hal ini adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kembali kepada para Ulama. Allah berfirman :

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

(yang artinya ) : “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS An Nisaa: 83]

Maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk kembali kepada para ulama.

وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ

(yang artinya ) : “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” [QS Al ‘Ankabuut: 43]

Tapi apa yang kalian lihat, adalah seorang yang menghafal beberapa subyek/hal saja, lalu kemudian dia mengedarkannya berkeliling ke masjid-masjid, sambil menyeruduk dan membenturkan kepalanya (seperti banteng). Lalu teman-temannya memberikan julukan padanya “Syaikhul Islam!”. Inikah yang namanya ilmu? Padahal ilmu itu didapatkan dengan duduk diatas tikar dengan kebutuhanmu dilipat dibawahmu (mendengar langsung dari Syaikh), dengan bersabar dari kesusahan akibat perut yang lapar dan kosong. Sebagaimana bisa dilihat pada keadaan para shahabat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dan atas apa yang mereka dapatkan. Para Ulama’, merekalah yang mampu membawa segala sesuatu sesuai dengan kedudukannya, sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

(yang artinya ) : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” [QS Ar Ruum: 22]

Dan Allah berfirman :

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ

(yang artinya ) : “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. [QS Ar Ro’d: 19]

Penderitaan yang kaum muslimin diuji dengannya adalah dikarenakan mereka bodoh terhadap agamanya. Oleh karenanya, ketika ada seseorang yang menghafal beberapa ayat dan hadits kemudian dia mulai berbicara dengannya, apalagi dia mempunyai kemampuan berbicara dengan lancar, maka orang-orang pun mengatakan “Inilah Syaikh!”.

Alhamdulillah, realita dari hal ini menjadi jelas, sebagaimana dikatakan (penyair, red),

“Jika kamu mendengar seseorang yang pintar berbicara itu mulai berbicara, jangan berikan dirimu padanya.

Sebab karena hal yang tak biasa adalah sesuatu yang dibuat-buat,

Puaskanlah dengan mengambil ilmu dan pemahaman, dan

Kepandaian bicaranya akan berakhir, tanpa ada perlawanan.”

Dan Allah berfirman menceritakan tentang kisah Qarun :

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ﴿٧۹﴾ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ ﴿۸۰﴾ فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ ﴿۸١﴾ وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلاَ أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ ﴿۸٢﴾ [القصص: ٧۹ – ۸٢]

(yang artinya ) : “Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. [80] Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. [81] Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). [82] Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu. berkata: “Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni`mat Allah)”. [QS Al Qoshosh: 79 – 82]

Oleh karena itu, adalah merupakan kewajiban bagi kita untuk kembali kepada Ahlul Ilmi (Ulama) dan menuntut ilmu (thalabul ilmi, red), sebagaimana jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan para shahabat bagaimana cara menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Dan saya tidak akan lupa dengan apa yang dikatakan oleh si dungu ‘Abdul Qadir Asy Syaibani, “Kami akan mengirimkan beberapa saudara kami kepada Abi ‘Abdirrahman (yakni – kunyah – Syaikh Muqbil) untuk mendapatkan beberapa tegukan (ilmu) dalam waktu dua bulan, dan kemudian kami akan mengirimkannya ke beberapa markas (pusat dakwah) untuk mengambil alih markas tersebut dari Al Ikhwanul Muslimin”. Maka saya katakan “Dalam dua bulan, apakah mungkin bisa menghasilkan da’i ilallah?”

Jika kebodohan macam ini yang menguasai tujuan-tujuan dari berbagai kelompok dakwah, maka aku akan memberikan kabar akan hancurnya kelompok dakwah model itu. Maka, kita harus berkumpul dengan para ulama dan menimba ilmu dari mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama kita terdahulu. Salman Al Farisi duduk dan mencari ilmu kepada ulama yang dia temui pertama kali sampai ulama itu meninggal dan kemudian terhadap yang kedua dan ketiga sampai akhirnya dia bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti beliau (Shalallahu ‘alaihi wassalam). Dan hal ini juga ditempuh shahabat Mu’adz bin Jabal. Sebelum dia meninggal, mereka bertanya padanya, “Kepada siapa kami harus pergi (mencari ilmu setelah darimu)? Dia menjawab “Kepada Abdullah bin Mas’ud”.

Dan ketika salah seorang saudara kita meminta kepada seorang hizbiyyin untuk menuntut ilmu, dia berkata (dengan menukil ayat Al Qur’an),

مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ

(artinya) : “Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” [QS Aali ‘Imroon: 152]. Kemudian dia berkata, “Allah berfirman dalam ayat ini adalah berkaitan dengan para shahabat, maksudnya, mereka menyadari bahwa mereka tak mempunyai kesabaran dalam mencari ilmu dan menderita kelaparan. Mereka lebih memilih untuk hidup dengan orang-orang di rumah-rumah dan kendaraan-kendaraan dan dalam kehidupan dunia. Kemudian kami mendengar dari mereka, “Engkau menyerang organisasi-organisasi lain”, Lantas siapa yang mengatakan padamu bahwa kami menyerang oraganisasi-organisasi lain ? Ya, kami menyerang organisasi-oraganisasi yang didalamnya terdapat unsur hizbiyyah, berloyalitas terlarang, pencurian dan penyalahgunaan uang, organisasi semacam itulah yang kami kritisi dan kami menyerukan kepada umat agar menjauhinya”.

Inilah dakwah (yang dilancarkan hizbiyyah diatas, red) yang berbasis atas kedustaan dan muslihat, namun keadaan yang sebenarnya akan terbongkar nanti. Sebagaimana dakwahnya Ali bin Al Fadl yang telah terbongkar dengan sendirinya, begitu juga realita dengan dakwahnya Mu’tazilah, Syi’ah dan Sufi pun telah terlihat dengan nyata. Dan satu-satunya yang akan membongkar dan membuat keadaan asli mereka terlihat dengan nyata, dengan ijin Allah, adalah Ahlus Sunnah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Ahlus Sunnah adalah satu-satunya yang selalu memeriksa dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada di umat muslim. Rasulullah bersabda “ Tidak akan hilang dari umatku sekelompok orang yang selalu menampakkan kebenaran, tidak akan merugikan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, mereka tetap berada dalam kondisi yang demikian sampai datang keputusan Allah” (HR. Muslim) .

Maka Syaikh Rabi’ bin Hadi, semoga Allah menjaganya, membongkar kedok para hizbiyyin dan menjelaskan keyakinan-keyakinan yang mereka berada diatasnya. Sebagaimana Syaikh Abul Hasan * di Ma’rib (Penting untuk diketahui bahwa hal ini tertulis pada artikel yang dicetak pada edisi pertama tahun 2000 dari kitab Tuhfatul Mujiib. Sejak itu, yakni sejak meninggalnya Imam Muqbil Al Wadi’I rahimahullah, para Ulama’ memperingatkan dari kesalahan aqidah dan manhaj yang dianut dari pihak Abul Hasan al Ma’ribi. Sehingga seperti Syaikh Rabi al Madkhali, Syaikh Ahmad an Najmi dan Syaikh Ubaid all Jabiri mengingkarinya dan mentahdzirnya dan memperingatkan agar hati-hati atasnya, red), Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab di Hudaidah, Syaikh Muhammad Al Imam di Ma’bar, Syaikh Qasim dan Al Akh Muhammad As Sumali di Jami’ul Khair Shan’a.

Maka aku nasehatkan kepada saudara-saudara sekalian, sebab banyak dari mereka, alhamdulillah – segala puji bagi Allah -yang mau menerima (nasehat), untuk kembali kepada Alqur’an dan As Sunnah dan mendakwahkannya, dan tidak menyia-nyiakan kehidupan mereka untuk memuliakan syaikh anu dan anu. Dan jika mereka meninggalkan syaikh tertentu, maka mereka akan berkata “Hati-hatilah padanya, dia berasal dari Jama’at takfir” atau “dia adalah agen pemerintah”. Ini adalah perkataan-perkataan dari seseorang yang tidak takut pada Allah.

(Diterjemahkan secara bebas dari artikel Inilah Sururiyyah, berhati-hatilah darinya. Penulis Imam Muqbil bin Hadi al Wadi’I rahimahullah, dalam kitab beliau Tuhfat-ul-Mujib ‘alaa As’ilat-il-Haadir wal-Gharib (hal 179-18)

KEDUANYA ULAMA WAHABI SEMUA..

PENJELASAN HAJI DAN UMROH DENGAN LENGKAP

  1. Pengertian
  2. Haji

Haji menurut bahasa artinya menyengaja. Menurut syara’ ialah berkunjung ke Baitulloh untuk melaksanakn nusuk (ibadah) haji sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Dalam pengertian umum, istilah ibadah haji tercakup di dalamnya haji dan umroh.

  1. Umroh

Umroh menurut bahasa artinya berkunjung. Menurt istilah adalah berkunjung ke Baitulloh untuk melaksanakan nusuk (ibadah).

Aturan, syarat, rukun, sunnat dan larangan-larangan umroh persis sama dengan haji, kecuali pada rukun dan wajib umroh ada beberapa sedikit perbedaan. Yang karenanya, umroh disebut juga al hajju al ashghor atau haji kecil.

  1. Hukum

Melaksanakan ibadah haji dan juga Umroh hukumnya :

  1. fardlu (wajib) ‘aen, bagi yang sudah memenuhi syarat :
  2. islam d. merdeka
  3. baligh e. mampu (istitho’ah)
  4. berakal

Difardlukannya ibadah haji dan umroh hanya sekali dalam seumur hidup

  1. sunat, bagi :
  2. muslim yang belum baligh
  3. hamba sahaya
  4. muslim yang telah melaksanakan haji/umroh islam

Haji/umroh islam ialah haji/umroh untuk memenuhi kewajiban seorang muslim atau untuk memenuhi rukun islam.

  1. Dasar Hukum
  2. Al Quran surat Ali Imron ayat 97 :

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا

“semata-mata karena Alloh, menjadi kewajiban manusia untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitulloh bagi yang mampu dalam perjalanannya”

  1. Hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim.

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لإ إله إلا الله و أن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان (متفق عليه)

“Islam didirikan di atas lima perkara, yaitu (1) persaksian bahwa tiada tuhan selain Alloh dan Muhammad SAW. adalah utusan Alloh, (2) mendirikan sholat, (3) mengeluarkan zakat, (4) berkunjung ke Baitulloh, (5) berpuasa di bulan Romadlon (H.R. Bukhori dan Muslim)

Rukun dan Wajib dalam Haji dan Umroh

  1. Pengertian rukun dan wajib

Dalam selain ibadah haji, pengertian rukun dan wajib sama, ialah sesuatu yang harus ada atau harus dilaksanakan ketika melakukan suatu pekerjaan (ibadah). Seperti membaca Al Fatihah dalam sholat. Tanpa membaca fatihah, solat seseorang dihukumi tidak sah karena fatihah termasuk rukun atau bacaan yang wajib dibaca ketika sholat.

Dalam ibadah haji rukun dan wajib dibedakan. Haji seseorang tidak sah bila meninggalkan salah satu rukun haji. Tetapi bila yang ditingalkannya bagian dari wajib haji, maka hajinya tetap sah tapi diharuskan membayar dam (denda).

  1. Rukun dan wajib dalam haji dan umroh

Rukun Haji

  1. Ihrom
  2. Wuquf di arofah
  3. Thowaf
  4. Sa’i
  5. Bercukur
  6. Tartib

Wajib Haji

  1. Ihrom dari miqot
  2. Mabit di muzdalifah
  3. Mabit di mina
  4. Melontar jumroh
  5. Menghindari muharromat

Rukun Umroh

  1. Ihrom
  2. Thowaf
  3. Sa’i
  4. Bercukur
  5. Tertib

Wajib umroh

  1. Ihrom dari miqot
  2. Menghindari muharromat
  3. Muharromat (larang-larangan ihrom)

Yang dimaksud dengan muharromat dalam ibadah haji/umroh ialah larangan dari mengerjakan pelanggaran atau dari meninggalkan kewajiban. Akibat dari melanggar larangan ini diwajibkan dam.

  1. Dam

Dam artinya darah. dalam ibadah haji/umroh dam berarti sangsi atau dendaan karena adanya pelangggaran. Bentuk dam bermacam macam tergantung jenis pelanggarannya. Menurut sifatnya dam terbagi dua:1. Dam tartib (berurutan), ialah sifat dam yang memiliki beberapa poin dan pemenuhannya hanya satu dan HARUS berurutan dari yang pertama.2. Dam takhyir (pilihan), ialah sifat dam yang memiliki beberapa poin dan pemenuhannya BOLEH memilih salah satunya.

Jenis Pekerjaan / Pelanggaran

(A)

  1. mengerjakan haji tamattu’
  2. mengerjakan haji qiron
  3. tidak thowaf wada’ (menurut qoul yang menghukumi wajib)
  4. tidak mabit di muzdalifah
  5. tidak mabit di mina
  6. ihromnya tidak dari miqot
  7. tidak melontar jumroh

Termasuk jenis dam Tartib (berurutan)

Cara Membayar Dam :

  • Menyembelih seekor domba / kambing
  • Puasa selama 10 hari, 3 hari dilakukan ketika berihrom dan 7 hari setelah pulang ke kampung halaman

(B)

  • Jima’ mufsid (ialah jima’ yang dilakukan sebelum tahallul awwal)

Jenis dam Tartib

Cara membayar dam :

  • Menyembelih seekor unta
  • Seekor sapi
  • 7 ekor domba
  • Puasa lamanya seharga anak unta dibagi satu mud kali 1 hari

(C)

Nikah atau menikahkan

Tidak ada dam, hanya status pernikahannya tidak sah

(D)

  1. memotong rambut
  2. memotong kuku
  3. melanggar cara berpakaian*
  4. memakai wewangian
  5. memakai minyak rambut
  6. bercumbu
  7. jima’ antara dua tahallul
  8. jima’ setelah jima’ mufsid

* Khusus bagi laki-laki, yaitu tidak boleh mengenakan pakaian yang dijahit atau melingkar.

Termasuk jenis dam Takhyir (memilih)

Cara membayar dam : Boleh memilih :

  • menyembelih seekor domba
  • shodaqoh makanan sebanyak 3 kali ukuran zakat fithrah ( 10 liter) dibagikan kepada 6 orang faqir miskin

(E)

Membunuh binatang darat yang halal dimakan dan liar

Termasuk jenis dam Takhyir

Cara membayar dam : Boleh memilih :

  • Menyembelih binatang yang sebangsa dengan yang dibunuh
  • Shodaqoh seharga hewan tersebut
  • Puasa yang lamanya seharga hewan yang dibunuh dibagi satu mud kali satu hari

(F)

Mencabut / merusak pepohonan

Cara membayar dam : Shodaqoh makanan seharga pepohonan yang dirusak

  1. Miqot

Miqot artinya batas. Miqot ada dua macam

  1. Miqot zamani artinya batas waktu
  2. Miqot makani artinya batas tempat

MIQOT ZAMANI untuk umroh tidak ada, artinya semua hari dan tanggal dalam setahun (hijriyyah) boleh dipakai untuk ibadah umroh

MIQOT ZAMANI untuk haji adalah sejak masuk bulan haji (syawwal, dzul qo’dan dan dzul hijjah) dari tanggal 1 syawwal sampai dengan tanggal 9 dzulhijjah. Jadi tidak sah hajinya bila berihrom sebelum atau sesudah waktu tersebut.

Rentang waktu antara tanggal 1 syawwal dan 9 dzul hijjah adalah waktu untuk memulai atau berniat ihrom haji, bukan untuk melaksanakan pekerjaan haji. Karena seluruh pekerjaan haji memiliki waktu sendiri-sendiri dan harus dilaksanakan pada waktunya, dan pekerjaan haji dimulai pada tanggal 9 dzul hijjah yaitu wuquf di arofah.

Ketika seorang jamaah memulai ihrom haji pada tanggal 1 syawwal misalnya, maka setelah itu status yang bersangkutan disebut muhrim (orang yang ihrom). Sebagaimana ihrom yang berarti mengharamkan, maka seorang muhrim (haji) pun sedang mengharamkan (diri) dari melaksanakan larangan-larangan haji.

Jadi, ketika memulai ihrom dari tanggal 1 syawwal, maka sejak tanggal itu seluruh larangan haji terkena kepadanya sampai yang bersangkutan melakukan tahallul (kurang lebih 70 hari).

MIQOT MAKANI, bagi penduduk/muqim di makkah adalah pintu rumahnya, dan bagi yang diluar Makkah yaitu :

  • bagi yang datang dari arah Madinah miqotnya Dzul Hulaifah
  • bagi yang datang dari arah Sirya, Mesir dan afrika miqotnya Juhfah
  • bagi yang datang dari arah Yaman miqotnya Yulamlam dan Qornul Manazil
  • bagi yang datang dari arah timur kota Makkah miqotnya Dzatu ‘Iroq

RINCIAN DAN PENJELASAN PEKERJAAN HAJI DAN UMROH

  1. Ihrom

Ihrom adalah suatu keadaan (berhubungan dengan tempat dan waktu) antara niat memasuki ibadah haji atau ‘umroh sampai tahallul. Ihrom bukanlah pengertian dari pekerjaan yang mandiri seperti halnya thowaf atau sa’i. Lafadz niat ihrom haji adalah :

لبيك اللهم حجا

“ Ya Alloh, saya datang untuk memenuhi panngilan untuk melaksanakan haji”

نـويت الحج وأحرمت به

“Niat saya mengerjakan haji dan berihrom untuknya”

Hal-hal yang sunat dilakukan oleh orang berihrom :

  1. Membersihkan diri sebelum berihrom dari kotoran, memotong kuku dan bercukur
  2. Mandi sebelum berihrom
  3. Memakai wewangian sebelum berihrom
  4. Memakai pakaian serba putih dan suci
  5. Sholat sunat ihrom sebanyak dua rokaat sebelum berihrom
  6. Menghadap qiblat ketika niat berihrom
  7. Memperbanyak bacaan talbiyah selama berihrom kecuali ketika melontar jumroh, thowaf dan sa’i. Pada ketiga pekerjaan tersebut ada bacaan-bacaan tersendiri

Kalimat talbiyah :

لبيك اللهم لبيك, لبيك لا شريك لك لبيك, إن الحمد والنعمة لك والملك لاشريك لك

  1. Wuquf di ‘Arofah

Wuquf artinya diam. Masa wuquf di ‘arofah yaitu antara tanggal 9 dzulhijjah (ba’da dzuhur) sampai dengan terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah. Wuquf di ‘arofah sebenarnya cukup dengan hadir sejenak diantara masa wuquf tersebut. Yang paling utamanya bisa mencakup tanggal 9 dan 10.

Hal-hal yang disunatkan ketika wuquf

  1. Meninggalkan pembicaraan yang kurang berguna
  2. Berbuat hanya yang bersifat taqorrub kepada Alloh, seperti dzikir, membaca quran, tahlil, berdo’a dan membaca talbiyah.
  3. Bersikap tadlorru’ (merendahkan diri) dan ilhah (merengek) ketika berdo’a
  4. Mabit di Muzdalifah

Mabit artinya menginap. Masa mabit di muzdalifah cukup dengan hadir sejenak diantara tengah malam sampai terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah, dan setelah selesai wuquf di ‘arofah.

Disunatkan berdiam di Masy’aril Harom, yaitu suatu bangunan atau tugu perbatasan antara Muzdalifah dan Mina, sampai pagi sambil memperbanyak istighfar. Dan memungut batu untuk melontar jumroh ‘aqobah tanggal 10 di Mina.

  1. Mabit dan Melontar Jumroh di Mina

Pekerjaan yang dilakukan ketika berada di Mina intinya ada dua, yaitu :

  1. mabit, tanggal 11 – 12 – 13 dzulhijjah
  2. melontar jumroh :
  • jumroh ‘aqobah pada tanggal 10 dzulhijjah, awal waktunya setelah lewat tengah malam tanggal 10 (malam idul adalaha), utamanya dilakukan antara terbit matahari sampai tergelincir.
  • jumroh uula (kubro), jumroh wustho, dan jumroh ‘aqobah pada tanggal 11 – 12 – 13 dzulhijjah dan dilakukan secara berurutan, awal waktunya setelah tergelincir matahari (setiap hari melakukan lemparan jumroh).

Setiap satu kali melontar Jumroh adalah 7 kali lemparan dengan 7 buah batu (kerikil), dan tidak boleh disatukan sekaligus.

Batu-batu yang sudah dipakai melempar, tidak digunakan untuk lemparan berikutnya.

Pekerjaan lain yang dilakukan ketika di Mina yaitu :

  • memotong hewan qurban dan hewan untuk dam
  • bercukur sebagai tanda tahallul (tahallul awwal)
  1. Thowaf

Thowaf artinya berkeliling. Maksudnya adalah mengelilingi ka’bah dengan syarat-syarat tertentu.

Macam-macam thowaf :

  1. Thowaf Ifadloh (T. rukun haji)
  2. Thowaf Rukun ‘Umroh
  3. Towaf Wada’ (menurut pendapat yang menyatakan sunat)
  4. Thowaf Sunat
  5. Thowaf Qudum (thowaf selamat datang)
  6. Thowaf Nadzar (thowaf yang dijanjikan)

Setiap memasuki Masjidil Harom disunatkan melakukan thowaf sebagai pengganti sholat tahiyyatul masjid.

Syarat-syarat thowaf :

  1. Bersih dari hadats kecil dan hadats besar dan dari najis
  2. Menutupi aurat
  3. Thowaf dimulai dari hajar aswad (batu hitam di salah satu sudut ka’bah)
  4. Pundak harus lurus sejajar dengan hajar aswad pada awal dan akhir thowaf
  5. Ka’bah selamanya berada di sebelah kiri. jadi berkelilingnya ke arah kiri
  6. Thowaf dilakukan di luar ka’bah dan syadzarwan (bagian dasar ka’bah) serta di luar hijir Ismail
  7. Thowaf sebanyak 7 keliling. Artinya setiap satu kali thowaf adalah 7 keliling
  8. Langkah dalam thowaf hendaklah murni berupa langkah, tidak ada langkah dengan tujuan lain (seperti mengejar orang lain)
  9. Thowaf harus di dalam masjid

Hal-hal yang disunatkan ketika thowaf :

  1. Istilam (melambaikan tangan ke arah ka’bah) dan mencium hajar aswad
  2. Istilam ke Rukun Yamani (salah satu sudut ka’bah yang menghadap ke arah negara Yaman)
  3. Thowafnya dengan berjalan kaki
  4. Telanjang kaki, kecuali kalau terpaksa
  5. Berjalan agak cepat pada 3 putaran pertama
  6. Thowafnya terus menerus
  7. Sholat sunat thowaf dua rokaat atau lebih setelah thowaf. Utamanya dilakukan di belakang maqom Ibrohim
  8. Sa’i

Sa’i artinya berjalan. Maksudnya adalah berjalan antara Shofa dan Marwah.

Syarat-syarat sa’i :

  1. Dimulai dari shofa dan berakhir di marwah
  2. Sa’i dilakukan 7 jalan dengan hitungan yang jelas
  3. Sa’i harus dilakukan setelah thowaf
  4. Sahnya sa’i tergantung kepada sahnya thowaf

Sa’i ‘umroh dilakukan setelah thowaf ‘umroh, dan sa’i haji bisa setelah thowaf ifadloh atau thowaf qudum

Orang yang sa’inya menggunakan kursi roda dan sejenisnya, maka rodanya harus menyentuh anak tangga terbawah bukit shofa, sedangkan di marwah cukup memasuki bangunannya saja.

Sa’i selalu didahului dengan thowaf, namun tidak berarti setelah thowaf harus sa’i.

Sunat-sunat sa’i :

  1. bersih dari hadats dan najis
  2. Menutup aurat
  3. Naik ke bukit shofa dan marwah sehingga ka’bah bisa terlihat dari atasnya
  4. Berlari-lari kecil (jigjrig) diantara dua pal hijau bagi laki-laki yang mampu
  5. Berturut-turut pada stiap jalanan sa’i, antara ketujuh jalanan sa’i, dan antara thowaf dan sa’i
  6. Bercukur

Bercukur, yaitu menghilangkan 3 lembar rambut kepala. Caranya bisa dengan memotong, menggunting, mencabut, memakai obat dsb. Ketika bercukur disunatkan :

  1. menghadap qiblat
  2. berdo’a dan membaca dzikir sebelumnya
  3. membaca takbir sebelum dan sesudahnya
  4. Tartib

Tartib artinya tersusun. Maksudnya, tersusunnya pelaksanaan rukun-rukun haji dan ‘umroh sesuai dengan urutan dan aturannya.

  • Tartib dalam ‘umroh ialah menyusun semua rukun ‘umroh.
  • Tartib dalam haji ialah :
  1. mendahulukan ihrom dan wuquf dari seluruh pekerjaan haji
  2. mendahulukan thowaf dari sa’i.

Dalam pelaksanaannya, masing-masing antara rukun dan wajib haji tidak diatur harus diselesaikan/didahulukan salah satunya baru kemudian yang satunya lagi. Tetapi diantara keduanya dijadikan satuan pekerjaan yang utuh.

  1. Tahallul

Tahallul artinya menjadi halal, maksudnya terbebas dari semua yang diharamkan. Dari semua rangkaian kewajiban haji, ada tiga pekerjaan yang disebut pekerjaan utama. Yaitu melontar jumroh aqobah tanggal 10, bercukur, dan thowaf ifadloh. Dari mengerjakan ke tiga hal tersebut akan didapat dua macam/tahapan tahallul :

  1. Tahallul awal (pertama), ialah apabila sudah mengerjakan dua dari yang tiga di atas. Dan setelah tahallul ini, semua larangan ihrom menjadi halal kecuali jima’ (bersetubuh), muqoddimahnya dan nikah.
  2. Tahallul tsani (kedua), ialah bila sudah menyelesaikan ketiga-tiganya. Dan tahallul ini menghalalkan jima’

Urutan mengerjakan ketiga hal di atas bisa bervariasi, diantaranya :

  1. a) Jumroh ‘aqobah dahulu, kemudian bercukur. Setelah itu menuju makkah untuk thowaf ifadloh. Dan dalam pada itu (thowaf) si pelaku sudah dalam keadaan tahallul awal.
  2. b) Jumroh ‘aqobah dahulu, kemudian berangkat ke makkah untuk thowaf ifadloh serta sa’inya (bila setelah thowaf qudum tidak sa’i). Baru setelah itu bercukur (masih di makkah). Berarti tahallul awalnya dilakukan di makkah setelah thowaf (atau sa’i)
  3. Nafar

Nafar artinya bubar atau keluar. Maksudnya adalah keluar dari ibadah haji setelah melaksanakan semua kewajibannya.

Pelaksanaan nafar bisa dengan dua cara;

  1. Nafar awwal, keluar pada tahap pertama. Ini dilakukan oleh jamaah pada tanggal 12 dzul hijjah dengan meninggalkan pekerjaan tanggal 13.
  2. Nafar tsani, keluar pada tahap ke dua. Ini dilakukan oleh jamaah pada tanggal 13 Dzul hijjah dengan melaksanakan pekerjaan (kewajiban) pada tanggal 13.

Jamaah yang melakukan nafar awal brarti meninggalkan pekerjaan untuk tanggal 13, namun demikian, walau pekerjaan pada tanggal 13 termasuk wajib tetapi jamaah yang melakukan nafar awal tidak terkena konsekwensi dam dan hajinya sah.

URUTAN PEKERJAAN HAJI

Rukun Haji

  1. Ihrom
  2. Wuquf di arofah
  3. Thowaf
  4. Sa’i
  5. Bercukur
  6. Tartib

Wajib Haji

  1. Ihrom dari miqot
  2. Mabit di muzdalifah
  3. Mabit di mina
  4. 1, Melontar jumroh jumroh aqobah pada tanggal 10

     2, Melontarjumroh ula, wustho dan ‘aqobah

  1. Menghindari muharromat

Urutan/skema pekerjaan haji

1+ a — 2—b—d1—5—3—4—c + d2

urutan/skema pekerjaan umroh

1+ a—2— 3—4

CARA PELAKSANAAN HAJI DAN UMROH

Cara melaksanakan haji dan umroh bisa dengan tiga cara, yaitu :

  1. Tamattu’ yaitu melaksanakan umroh dahulu kemudian haji
  2. Ifrod yaitu melaksakan haji dahulu kemudian umroh
  3. Qiron yaitu melaksanakan haji dan umroh secara bersamaan

Demikian catatan kecil ini. Semoga bermanfaat. Wallohu almu’in wa bihii nasta’iin.

Hasyiyah Albajuri dan Hasyiyah I’anatuth Tholibin