BEBERAPA AKIBAT KEKENYANGAN DALAM BERBUKA PUASA

BUKIPIN

             Di karenakan terlalu lapar dalam berpuasa, terkadang seseorang dalam melakukan buka puasa memakan sajian berbuka terlalu banyak, akibatnya adalah kekenyangan yang berkepanjangan. Padahal jeda antara buka puasa dengan sholat isya hanya kurang lebih satu jam saja. Apa boleh buat, dari pada tidak sholat jamaah isya dan tarowih, lebih baik tetap berangkat ke masjid atau ke musholla dengan kondisi kekenyangan.

Pada kenyataanya apa yang di khawatirkan pun muncul ketika melakukan sholat jamaah, ada sesuatu yang di rasakan mau keluar dari dalam perutnya yang berupa angin,kentut.

Bingung… haruskah mengeluarkan angin itu sehingga batal sholatnya atau bagaimana, sedangkan posisinya sedang sholat isya berjamaah.

Kasus semacam di atas itu ada solusi hukmnya di dalam islam. Yaitu di dalam kitab Fathul Mu’in juz 1 halaman 226 dan kitab Bujairomi juz 1 halaman 354. Di snan di jelaskan bahwa :

Menahan kentut sebelum melakukan sholat adalah makruh, tetapi jika menahan kentut di dalam sholat maka hukumnya adalah wajib, di karenakan membatalkan fardlu adalah harom hukumnya. Tetapi, apa iya islam begitu sempit hukumnya? Padahal islam itu Romatan lil alamin…

Ternyata, masih di dalam kitab yang sama, penjelasan hukum harom ketika mebatalkan fardlu itu masih ada tambahanya, yaitu menjadi di perbolehkan membatalkan sholatnya ketika menahan kentut itu di duga kuat akan berefek buruk pada kesehatan.

Masalah belum berakhir sampai di situ, walau kondisi sudah lega, tetapi ada masalah baru yang muncul dan butuh solusi hukum lagi. Yaitu bagaimanakah seharusnya bersikap setelah membatalkan sholat? Sedangkan posisinya berada di tengah tengah barisan sholat?

Syaikh Nawawi Benten, dalam kitabnya ” Kasyifatus Saja syarh Safinatun Naja ” menuturkan :

Bagi orang yang kentut ditengah-tengah sholat dan ia mau keluar dari barisan sholat disunahkan untuk menutup hidungnya sambil keluar, supaya orang-orang menyangka bukan dialah yang kentut, tapi ia keluar karena mungkin hidungnya mengalami mimisan. Hal ini dianjurkan supaya orang-orang tidak membicarakan dirinya, yang mana membicarakan itu berakibat dosa yang akan mereka dapatkan.

Dari sini, dapat di ambil hikmah bahwasanya membuat orang berprasangka jelek atau buruk kepada kita sebab ulah kita dan membuat mereka menggunjing kita adalah suatu perkara yang tidak diperbolehkan oleh syara’.

Bertambah masalah yang butuh solusi hukum lagi adalah ketika yang membatalkan sholat karena kentut adalah sang imam sholat, sehingga otomatis imam itu harus menunjuk salah satu ma’mumnya untuk menggantikanya sebagi imam.

Pertanyaanya adalah :
1. Bagaimana mekanisme pergantian tersebut, apakah imam harus menarik orang yang ma’mum       di belakangnya?
2. Kalau batalnya imam waktu berdiri mungkin agak mudah di ketahui ma’mum, lalu bagaimana kalau batalnya imam sedang dala posisi sujud? apakah imam menunggu sampai berdiri dalam kondisi batal sholatnya?
3. Apakah ma’mum pengganti harus berjalan sampai ke tempat imam atau cukup maju sedikit saja posisinya

Jika demikian, maka inilah solusi hukumnya :

1 dan 3. Kalau imam batal sholatnya dalam keadaan berdiri, maka dia harus menarik salah satu ma’mum yang di belakangnya untuk maju ke depan dan tidak di syaratkan terlalu kedepan, cukup dengan lebih maju sedikit dari ma’mum yang lain.
2. Sedangkan apabiila batalnya imam tadi ketika sedang sujud, maka walau batal dia harus takbir agar ma’mum bangun lalu menarik salah satu dari ma’mum untuk maju kedepan menggantikanya.

Al Majmu’ syarh al Muhazzdaab juz 4 hal. 138-139

Garis besarnya, Sebetulnya tentang istikhlaf(pergantian imam dalam sholat), tidak mengharuskan imam untuk menunjuk ma’mum sebagai penggantinya. Karena hukum istikhlaf itu tidak wajib seperti ibaroh dalam qoul jadid.

Selanjutnya, istikhlaf boleh dengan cara inisiatif imam atupun ma’mum sendiri. Namun dalam keadaan sujud, mungkin imam sendiri yang lebih tahu dengan kebatalannya, berbeda halnya dengan saat posisi berdiri. oleh karena itu jika imam menghendaki adanya istikhlaf, maka imam hendaknya memberi isyarat seperti memegang bahu ma’mum untuk maju kedepan.

Adapun majunya ma’mum mengganti posisi imam tentu pada posisi yang memungkinkan untuk maju seperti ketika saat hendak duduk istirohah,

Kemudian bahwa seorang imam sholat, niat menjadi imam itu tidak wajib kecuali pada sholat jum’at. Karena salah satu syarat sahnya sholat jum’at itu dilakukan secara berjamaah, berbeda halnya dengan sholat maktubah lainnya. Karena berjamaah dalam sholat maktubah selain jum’at itu hukumnya sunnah.

Oleh karenanya, seorang imam sholat berjamaah selain sholat jum’at boleh niat menjadi imam(sehingga mendapat fadlilah jamaah) dan boleh niat sholat sendirian(tidak mendapat fadlilah jamaah).

Berbeda dengan status niat seorang ma’mum. Yang mana jika berkehendak berjamaah maka wajib niat menjadi ma’mum. Dan jika tidak niat menjadi ma’mum maka sholatnya bisa batal karena gerakannya yang mengikuti imam dianggap sebagai tula’ib atau bermain main dalam sholat.

ﻭﻳﺴﻦ ﻟﻤﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﻪ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﺄﻧﻔﻪ ﺛﻢ ﻳﻨﺼﺮﻑ ﻣﻮﻫﻤﺎً ﺃﻧﻪ ﺭﻋﻒ ﺳﺘﺮﺍً ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻟﺌﻼ ﻳﺨﻮﺽ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻴﻪ ﻓﻴﺄﺛﻤﻮﺍ، ﻭﻛﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﺃﺣﺪﺙ ﻭﻫﻮ ﻣﻨﺘﻈﺮ ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺮﺑﺖ ﺇﻗﺎﻣﺘﻬﺎ ﺃﻭ ﺃﻗﻴﻤﺖ ﺑﺎﻟﻔﻌﻞ

( أما أحكام الفصل ) فقال أصحابنا : إذا خرج الإمام عن الصلاة بحدث تعمده أو سبقه أو نسيه أو بسبب آخر ، أو بلا سبب ففي جواز الاستخلاف قولان مشهوران ( الصحيح ) الجديد : جوازه للحديث الصحيح ( والقديم ) والإملاء : منعه ، وقد ثبت في الصحيحين { أن رسول الله صلى الله عليه وسلم استخلف أبا بكر رضي الله عنه مرتين ، مرة في مرضه ، ومرة حين ذهب النبي صلى الله عليه وسلم ليصلح بين بني عمرو بن عوف وصلى أبو بكر بالناس فحضر النبي صلى الله عليه وسلم وهو في أثناء الصلاة فاستأخر أبو بكر واستخلف النبي صلى الله عليه وسلم } ومن أصحابنا من قطع بالجواز ، وقال : إنما القولان في الاستخلاف في الجمعة خاصة ، وهذا أقوى في الدليل ، ولكن المشهور في المذهب طرد القولين في جميع الصلوات فرضها ونفلها .

قال أصحابنا : فإن منعنا الاستخلاف أتم المأمومون صلاتهم فرادى ، وإن جوزناه فيشترط كون الخليفة صالحا لإمامة هؤلاء المصلين ، فلو استخلف لإمامة الرجال امرأة فهو لغو ولا تبطل صلاتهم إلا أن يقتدوا بها ، [ ص: 139 ] وكذا لو استخلف أميا أو أخرس أو أرت ، وقلنا بالصحيح : إنه لا تصح إمامتهم .

قال إمام الحرمين : ويشترط الاستخلاف على قرب ، فلو فعلوا في الانفراد ركنا امتنع الاستخلاف بعده ، وأما صفة الخليفة فإن استخلف مأموما يصلي تلك الصلاة أو مثلها في عدد الركعات صح بالاتفاق .

وسواء كان مسبوقا أم غيره وسواء استخلفه في الركعة الأولى أو غيرها ; لأنه ملتزم لترتيب الإمام باقتدائه فلا يؤدي إلى المخالفة ، فإن استخلف أجنبيا فثلاثة أوجه : ( الصحيح ) الذي قطع به المصنف والجمهور : أنه إن استخلف في الركعة الأولى أو الثالثة من رباعية جاز ; لأنه لا يخالفهم في الترتيب ، وإن استخلفه في الثانية أو الأخيرة لم يجز ; لأنه مأمور بالقيام غير ملتزم لترتيب الإمام ، وهم مأمورون بالقعود على ترتيب الإمام فيقع الاختلاف ( والوجه الثاني ) : وهو قول الشيخ أبي حامد : إن استخلفه في الأولى جاز ، وإن استخلفه في غيرها لم يجز ; لأنه إذا استخلفه في الثالثة خالفه في الهيئات فيجهر ، وكان ترتيبا غير ملتزم لترتيب الإمام ( والوجه الثالث ) : وبه قطع جماعة منهم إمام الحرمين : أنه لا يجوز استخلاف غير مأموم مطلقا ، قال إمام الحرمين : فلو قدم الإمام أجنبيا لم يكن خليفة ، بل هو عاقد لنفسه صلاة ، فإن اقتدى به المأمومون فهو اقتداء منفردين في أثناء الصلاة ، وقد سبق الخلاف فيه في هذا الباب ; لأن قدوتهم انقطعت بخروج الإمام ، والمذهب الأول