SETELAH MENGHAMILI KEMUDIAN MALAH MENDAPAT BAYARAN

JAN                  Bagaimana Hukum fiqihnya pinjam binatang jantan orang lain untuk membuahi binatang betina milik kita .

Contoh kasus :

Saya punya 2 sapi betina, lalu saya pinjam sapi jantan milik tetangga saya untuk membuahi… Akad awalnya ikhlas suka rela, karena tidak tahu ilmu bagi hasilnya, tapi masalahnya dikemudian hari, sapi saya berkembang menjadi banyak jumlahnya, sedang sapi tetangga saya masih tetap 1.

Lalu tetangga saya bilang “Kalo tidak karena sapiku, tak bakal jadi banyak sapimu”. Saya merasa tak enak hati karena ada perkataan itu.

Nah, bagaimana perhitungan bagi hasil yang tepat menurut hukum fiqihnya. Agar tidak terjadi lagi kesenjangan dan kesalah fahaman persepsi seperti kasus diatas. ?

JAWABAN
 

Menurut qaul ashoh(lebih shohih) tidak diperboleh kan untuk memperjual  belikan mani pejantan (untuk mengawini hewan betina), bahkan menyewanya  (pejantan)  untuk mengawini juga tidak boleh. Tetapi ada pendapat yang memperbolehkan menyewakan  pejantan dan boleh mengambil ongkosnya.

Maroji` : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عسب الفحل ) رواه البخاري من رواية ابن عمر . وعسب بفتح العين وسكون السين المهملتين ( وهو ضرابه ) أي طروقه للأنثى ( ويقال ماؤه , ويقال أجرة ضرابه ) وعلى الأولين يقدر في الحديث مضاف ليصح النهي أي نهى عن بدل عسب الفحل من أجرة ضرابه أو ثمن مائه أي بذل ذلك وأخذه . ( فيحرم ثمن مائه وكذا أجرته ) للضراب ( في الأصح ) عملا بالأصل في النهي من التحريم والمعنى فيه أن ماء الفحل ليس بمتقوم ولا معلوم ولا مقدور على تسليمه وضرابه لتعلقه باختياره غير مقدور عليه للمالك , ومقابل الأصح جواز استئجاره للضراب كالاستئجار  لتلقيح النخل , ويجوز أن يعطي صاحب الأنثى صاحب الفحل شيئا هدية والإعارة للضراب محبوبة . (المحلي في قليوبي ج 2 ص 218)  

Dari Ibnu Umar radhiallah u ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallah u ‘alaihi wa sallam melarang sperma pejantan.”  (HR. Bukhari, no. 2284)

Yang dimaksud dengan “melarang sperma pejantan” dalam hadits di atas mencakup dua pengertian :

1. Jual beli sperma pejantan.

2. Uang sewa karena mengawini betina.

Ibnu Hajar mengatakan , “Apapun maknanya, memperjual belikan sperma jantan dan menyewakan  pejantan itu haram karena sperma pejantan itu tidak bisa diukur, tidak diketahui,  dan tidak bisa diserahterimakan.” (Fathul Bari, jilid 6, hal. 60)

Ibnul Qayyim mengatakan , “Yang benar, sewa pejantan adalah haram secara mutlak, baik dengan status ‘jual beli sperma’ ataupun ‘sewa pejantan’.

Haram bagi pemilik pejantan untuk mengambil hasil dari menyewakan  pejantan. Akan tetapi, tidak haram bagi pemilik binatang betina untuk menyerahkan uang kepada pemilik hewan jantan, apabila membayar sejumlah uang dalam hal ini adalah pilihan satu- satunya, karena dia menyerahkan sejumlah uang untuk mendapatkan hal mubah yang dia perlukan.” (Zadul Ma’ad, juz 5, hal. 704)

Dari Abu Amir Al-Hauzani  dari Abu Kabsyah Al-Anmari.
Abu Kabsyah datang ke rumah Abu Amir lalu mengatakan , “Pinjami aku kuda pejantanmu  untuk mengawini kuda betani milikku, karena sungguh aku mendengar Rasulullah  shallallah u ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang meminjamkan kuda pejantanny a secara cuma-cuma,  lalu kuda betina yang dibuahi itu berketurunan, maka pemilik kuda jantan tersebut akan mendapatkan pahala tujuh puluh kuda yang dijadikan sebagai binatang tunggangan  di jalan Allah.

Jika tidak berketurunan maka pemilik kuda pejantan akan mendapatkan pahala seekor kuda yang digunakan sebagai hewan tunggangan  di jalan Allah.” (HR. Ibnu Hibban, no. 4765)

Bagaimana jika pemilik hewan betina memberi hadiah kepada pemilik pejantan? Apakah pemilik pejantan boleh menerima hadiah tersebut?

Jawabannya  perlu rincian:

1. Jika hadiah tersebut adalah sebagai kompensasi karena pemilik hewan betina telah dipinjami hewan pejantan dan itu adalah upah, namun tidak tertulis maka tidak boleh bagi pemilik hewan pejantan untuk menerimanya.

2. Jika kondisi hadiah tersebut tidak sebagaimana di atas maka boleh diterima.

Para ulama bermazhab Hambali dan Syafi’i mengatakan, “Jika pemilik hewan pejantan diberi hadiah dan itu bukanlah uang sewa maka (uang tersebut) boleh diterima.” (Lihat: Zadul Ma’ad, juz 5, hal. 706)

باب عسب الفحل

BAABU ‘ASBIL FAHLI bab sperma pejantan

2164 حدثنا مسدد حدثنا عبد الوارث وإسماعيل بن إبراهيم عن علي بن الحكم عن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما قال نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن عسب الفحل

‘AN IBNI ‘UMAR RADHIYALLAAHU ‘ANHUMAA QAALA NAHAA ANNABIYYU SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM ‘AN ‘ASBIL FAHLI.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sperma pejantan

Sumber : Shahih Bukhhari

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat_hul Bari menjelaskan:

وعلى كل تقدير فبيعه وإجارته حرام ؛ لأنه غير متقوم ولا معلوم ولا مقدور على تسليمه

WA ‘ALAA KULLI TAQDIIRIN FABAI’UHUU WA IJAARATUHUU HARAAMUN LI ANNAHUU GHAIRU MUTAQAWWAMIN WA LAA MA’LUUMIN WA LAA MAQDUURIN ‘ALAA TASLIIMIHII.

Apapun maknanya, memperjual-belikan sperma jantan dan menyewakan pejantan itu haram karena sperma pejantan itu tidak bisa diukur, tidak diketahui, dan tidak bisa diserah-terimakan.

Ini adalah ta’bir Fat-hul Bari selengkapnya:

قوله : ( باب عسب الفحل ) أورد فيه حديث ابن عمر في النهي عنه ، والعسب بفتح العين وإسكان السين المهملتين وفي آخره موحدة ، ويقال له العسيب أيضا ، والفحل : الذكر من كل حيوان فرسا كان أو جملا أو تيسا أو غير ذلك ، وقد روى النسائي من حديث أبي هريرة : نهى عن عسب التيس واختلف فيه فقيل : هو ثمن ماء الفحل ، وقيل : أجرة الجماع ، وعلى الأخير جرى المصنف . ويؤيد الأول حديث جابر عند مسلم : نهى عن بيع ضراب الجمل وليس بصريح في عدم الحمل على الإجارة ؛ لأن الإجارة بيع منفعة ، ويؤيد الحمل على الإجارة لا الثمن ما تقدم عن قتادة قبل أربعة أبواب أنهم كانوا يكرهون أجر ضراب الجمل ، وقال صاحب ” الأفعال ”

: أعسب الرجل عسيبا اكترى منه فحلا ينزيه . وعلى كل تقدير فبيعه وإجارته حرام ؛ لأنه غير متقوم ولا معلوم ولا مقدور على تسليمه ، وفي وجه للشافعية والحنابلة تجوز الإجارة مدة معلومة ، وهو قول الحسن وابن سيرين ورواية عن مالك قواها الأبهري وغيره ، وحمل النهي على ما إذا وقع لأمد مجهول ، وأما إذا استأجره مدة معلومة فلا بأس كما يجوز الاستئجار لتلقيح النخل ، وتعقب بالفرق لأن المقصود هنا ماء الفحل وصاحبه عاجز عن تسليمه بخلاف التلقيح ، ثم النهي عن الشراء والكراء ، إنما صدر لما فيه من الغرر ، وأما عارية ذلك فلا خلاف في جوازه ، فإن أهدي للمعير هدية من المستعير بغير شرط جاز . وللترمذي من حديث أنس : أن رجلا من كلاب سأل النبي – صلى الله عليه وسلم – عن عسب الفحل فنهاه ، فقال : يا رسول الله ، إنا نطرق الفحل فنكرم ، فرخص له في الكرامة ولابن حبان في صحيحه من حديث أبي كبشة مرفوعا : من أطرق فرسا فأعقب كان له كأجر سبعين فرسا

Selanjutnya وفي وجه للشافعية والحنابلة تجوز الإجارة مدة معلومة

WA FII WAJHIN LISYSYAAFI’IYYATI WAL HANAABILATI TAJUUZU AL IJAARATU MUDDATAN MA’LUUMATAN

Kalau meminjamkan untuk dijadikan pejantan maka itu boleh bahkan ada anjuran.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam riwayat dalam Fathul Bari diatas:

من أطرق فرسا فأعقب كان له كأجر سبعين فرسا

MAN ATHRAQA FARASAN FA ‘AQABA KAANA LAHUU KA AJRI SAB’IINA FARASAN

“Barang siapa meminjamkan kuda untuk pejantan, dan beranak, maka hal itu baginya bagaikan pahala tujuh puluh kuda”