SHOLAT WITIR DAN MASALAHNYA DALAM SHOLAT TAROWIH KITA

 

ROMDLO            Sholat witir yang kita lakukan setelah selesai sholat tarowih berjumlah 3 rokaat yang di pisah dengan dua rokaat salam dan satu rokaat salam. Tapi apakah di perbolehkan melakukan sholat witir dengan cara di pisah dari tiga rokaat itu? Maksudnya dengan cara setelah dua rokaat salam, kemudian yang satu rokaat lagi di lakukan ketika makan sahur umpamanya.

Iman Ramli pernah ditanya tentang orang yang sholat Witir satu rokaat atau tiga rokaat di awal malam, kemudian di akhir malam atau di tengah malam dia bangun dan melakukan (melanjutkan) sisa (rokaat) Witirnya hingga sempurna menjadi sebelas rokaat. Apakah pekerjaan seperti itu dianggap Witir yang kedua, atau terbilang satu Witir sehubungan itu merupakan kelompok rokaat dari sholat Witir yang telah dilakukan sebelumnya, atau tidak?.

Apakah ada perbedaan sikap antara orang yang beri’tikad melakukan sholat tersebut dengan cara seperti demikian atau tidak. Dan apakah ada perbedaan antara orang yang terbiasa melakukan Witir satu rokaat atau lebih, atau tidak ada perbedaan?

Maka beliau menjawab bahwa apa yang telah dilakukannya (lanjutan witir pada tengah atau akhir malam) pada tahap kedua itu tidak disebut Witir atau tidak menjadi atau tidak terbilang Witir secara mutlak, karena terdapat hadits :

“Tidak ada witir dua kali dalam satu malam“.

Apabila dalam sholat yang kedua dia berniat Witir seraya dia sengaja melakukannya dan mengerti ketidakbolehannya maka sholat yang kedua tidak sah. Dan menurut pandangan yang lebih benar adalah, bahwa sholat yang kedua sah sebagai sholat sunnah mutlak.

 Keterangan dari kitab Fatawi Romli juz 2 hal 42 :

ﺳﺌﻞ ﻋﻤﻦ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻭ ﺛﻼﺛﺎ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺛﻢ ﻗﺎﻡ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻭ ﺃﻭﺳﻄﻪ ﻭﺻﻠﻰ ﺑﺎﻗﻴﻪ ﺇﻟﻰ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻹﺣﺪﻯ ﻋﺸﺮﺓ ﻓﻬﻞ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻌﻠﻪ ﻟﺬﻟﻚ ﻭﺗﺮﺍ ﺛﺎﻧﻴﺎ ﺃﻭ ﻳﻜﻮﻥ ﻭﺗﺮﺍ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻊ ﺍﻧﻀﻤﺎﻣﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﺃﻭ ﻻ ﻭﻫﻞ ﻳﻔﺘﺮﻕ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻋﺘﻘﺪ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻜﻴﻔﻴﺔ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺃﻡ ﻻ ﻭﻫﻞ ﻳﻔﺘﺮﻕ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻋﺘﺎﺩ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺑﻮﺍﺣﺪﺓ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻡ ﻻ ؟

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﺛﺎﻧﻴﺎ ﻭﺗﺮﺍ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻟﺨﺒﺮ : ﻻ ﻭﺗﺮﺍﻥ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ . ﺛﻢ ﺇﻥ ﻧﻮﻯ ﺑﺎﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻋﺎﻣﺪﺍ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﻨﻌﻘﺪ ﻭﺍﻷﺻﺢ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ .

Dan apakah di perbolehkan melakukan sholat witir yang tiga rokaat itu di jadikan satu? Sehingga apakah karena tiga rokaat langsung maka di samakan dengan sholat maghrib dalam di lirihkanya bacaan dalam rokaat yang terakhir?

Di terangkan dalam kitab Majmu’ bahwa bacaan pada rokaat yang ketiga dikeraskan dan tidak dihukumi makruh dengan alasan karena ada kesamaan dengan sholat Maghrib.

Justru bacaannya dikeraskan pada rokaat ketiga agar tidak sama dengan sholat Maghrib sehubungan bacaan pada rokaat ketiga di sholat Maghrib tidak di keraskan.

Dalam kitab Muhadzab juz 1 halaman 158 juga di terangkan sebagai berikut :

: ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻤﻦ ﺃﻭﺗﺮ ﺑﻤﺎ ﺯﺍﺩ ﻋﻠﻰ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳﻔﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺸﻔﻊ ﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﻭﻷﻧﻪ ﻳﺠﻬﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻮﺻﻮﻟﺔ ﺑﺎﻟﺮﻛﻌﺘﻴﻦ ﻟﻤﺎ ﺟﻬﺮ ﺑﻬﺎ ﻛﺎﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺠﻤﻌﻬﺎ ﺑﺘﺴﻠﻴﻤﻪ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﺕ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺭﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ

Sunnah bagi orang yang mengerjakan sholat Witir dengan lebih dari satu rokaat, untuk melakukan salam disetiap dua rokaat, karena terdapat riwayat Ibnu Umar ra. bahwa Nabi saw memisah (rokaat sholatnya) antara rokaat genap dan ganjil. Dan karena bacaan di dalam sholat Witir dikeraskan pada rokaat yang ketiga meskipun ia disambung dengan dua rokaat, karena rokaat ketiga pada sholat Maghrib bacaannya tidak dikeraskan.

Dan boleh mengumpulkan rokaat Witir yang ketiga dengan salam karena terdapat riwayat ‘Aisyah rah. Bahwa Nabi saw. Pernah tidak melakukan salam dalam dua rokaat sholat Witir.

Kita semua juga mengetahui bahwa sholat witir adalah sebagai penutup sholat dalam satu malam, tapi apakah sebenarnya di perbolehkan apabila setelah sholat witir melakukan sholat sunnah yang lainya?

Diperbolehkan bagi orang yang telah mengerjakan sholat witir untuk melakukan sholat sunat atau yang lainnya dimalam tersebut. Dalil tentang tentang diperbolehkannya sholat setelah sholat witir adalah hadits ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha. ‘Aisyah mengatakan:

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ

“Kami dulu sering mempersiapkan siwaknya dan bersucinya, setelah itu Alloh membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu` dan sholat sembilan rakaat.

Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Alloh, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam.

Setelah itu beliau berdiri dan sholat untuk rakaat ke sembilannya. Kemudian beliau berdzikir kepada Alloh, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau sholat dua rakaat setelah salam sambil duduk, itulah sebelas rakaat wahai anakku.

Ketika Nabiyullah berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan tujuh rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama, maka itu berarti sembilan wahai anakku. Namun tidak diperkenankan sholat witir lagi,karena sebelumnya sudah sholat witir.

Referensi :

(HR. Muslim no. 746)

Al Majmu’, Juz : 4 Hal : 16

إذا أوتر ثم أراد أن يصلي نافلة أم غيرها في الليل جاز بلا كراهة ولا يعيد الوتر كما سبق ودليله حديث عائشة رضي الله عنها وقد سئلت عن وتر رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت كنا نعدله سواكه وطهوره فيبعثه الله ما شاء أن يبعثه من الليل فيتسوك ويتوضأ ويصلي تسع ركعات لا يجلس فيهن إلا في الثامنة فيذكر الله ويمجده ويدعوه ثم ينهض ولا يسلم ثم يقوم فيصلي التاسعة ثم يقعد فيذكر الله ويمجده ويدعوه ثم يسلم تسليما يسمعنا ثم يصلي ركعتين بعد ما يسلم وهو قاعد رواه مسلم وهو بعض حديث طويل وهذا الحديث محمول على أنه صلى الله عليه وسلم صلى الركعتين بعد الوتر بيانا لجواز الصلاة بعد الوتر

Setelah separuh awal dari romadlon maka sholat witir akan di tambahi dengan qunut setelah ruku’ di satu rokaat yang terakhir. Apakah ini juga merupakan tuntunan dari Rosululloh saw?

Masalah seperti ini memang merupakan tuntunan Rosululloh saw juga sudah di bahas dari ulama zaman dahulu dan ada pendapat dari madzhab Syafi’i dalam kitab Majmu’nya Imam Nawawi sebagaimana berikut ini :

فرع) في مذاهبهم في القنوت في الوتر: قد ذكرنا أن المشهور من مذهبنا انه يستحب القنوت فيه في النصف الأخير من شهر رمضان خاصة

(Cabang) : Tentang qunut witir dalam pandangan ulama madzhab.

Telah kami sebutkan bahwa yang masyhur dari madzhab kami(asy Syafi’i) adalah bahwasanya disunnahkannya qunut dalam sholat witir pada pertengahan akhir bulan romadlon secara khusus.

ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻓﻲ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ :

ﻓﺮﻉ: ﻗﻨﻮﺕ ﺍﻟﻮﺗﺮ

Sub Bahasan Tentang Qunut Dalam Sholat Witir

ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻨﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻛﻌﺔ ﺍﻷﺧﻴﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ، ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻻ ﻏﻴﺮ، ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ.

Tuntunan Nabi adalah melakukan qunut di rakaat yang terakhir dalam shalat witir pada paruh akhir dari bulan Ramadhan, bukan selainnya. Dan Imam Malik juga berpendapat demikian.

ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ، ﻭﺃﺣﻤﺪ: ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺍﻟﻘﻨﻮﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮﻱ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ؛ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ: ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ – ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﻛﺎﻥ ﻳﻮﺗﺮ ﺑﺜﻼﺙ ﺭﻛﻌﺎﺕ، ﻭﻳﻘﻨﺖ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ.

Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal berkata: Qunut dianjurkan dalam sholat witir pada semua tahun (seluruh bulan dalam setahun). Abu ‘Abdillah al-Zubairi, ulama dari kalangan Syafi’iyyah juga berpendapat demikian. Hal itu karena terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab:

Bahwa Nabi saw. melakukan sholat witir tiga rokaat dan beliau berqunut sebelum ruku’.

ﻭﺣﻜﻲ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺍﻟﻘﻨﻮﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻻ ﻏﻴﺮ، ﻭﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻷﻭﻝ.

Dan diceritakan dari sebagian shohabat kami (Syafi’iyyah) bahwa qunut dianjurkan dalam sholat witir pada seluruh (hari) bulan Romadlon, bukan selainnya. Dan rekomendasi madzhab (Imam Syafi’i) adalah pendapat yang pertama.

ﻭﺩﻟﻴﻠﻨﺎ: ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻋﻤﺮ – ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ- : ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ، ﻓﻜﺎﻥ ﻳﻠﻲ ﺑﻬﻢ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ، ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ، ﺛﻢ ﻳﻨﻔﺮﺩ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ، ﻓﻴﻘﺎﻝ: ﺃﺑﻖ ﺃﺑﻲ، ﻭﻫﺬﺍ ﺑﻤﺤﻀﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻜﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺣﺪ.

Dalil kami adalah Ijma’ Shohabat. Hal demikian adalah bahwa Umar ra. mengumpulkan masyarakat atas imam sholat Ubay bin Ka’ab, lantas dia menyertai mereka melakukan sholat tarowih selama dua puluh malam, dan dia tidak berqunut kecuali pada paruh kedua, kemudian dia meneruskan sendiri di rumahnya. Lantas dikatakan: Ubay telah kabur atau lari. Hadits ini didapati pada shohabat Muhdlor, dan tak ada seorangpun yang mengingkarinya.

ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﻋﻤﺮ: ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ: ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺑﻌﺪﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ: ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺣﻤﺪﻩ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻗﺎﺗﻞ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ،

Dan diriwiyatkan dari Umar ra bahwa dia berkata :

Tuntunan Nabi adalah apabila bulan Romadlon telah mencapai separuh maka hendaklah orang-orang kafir dikutuk dalam sholat witir setelah ucapan do’a “Sami’allahu Liman Hamidah” (semoga Alloh menerima pujian orang yang memujinya), Allohumma Qotil al-Kafarota (wahai Alloh, perangilah atau hancurkanlah orang-orang kafir).

ﻭﻫﺬﺍ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ – ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ،- ﻭﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻏﻴﺮ ﺛﺎﺑﺖ ﻋﻨﺪ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ.

Hal inilah yang menuntut kesesuaian terhadap sunnah Rosulillah saw. Sedangkan hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka’ab itu tidak Tsabit menurut ulama ahli hadits.

ﻣﺮﻗﺎﺓ ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻴﺢ ﺷﺮﺡ ﻣﺸﻜﺎﺓ ﺍﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ :

ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ 1293 – ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ، ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻬﻢ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ ، ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺗﺨﻠﻒ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ، ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺃﺑﻖ ﺃﺑﻲ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ

Fasal Ketiga 1293 – Dari al-Hasan ra.

Bahwa Umar bin Khotthob ra. mengumpulkan masyarakat atas imam sholat Ubay bin Ka’ab, lantas dia melakukan sholat bersama mereka selama dua puluh malam, dan dia tidak berqunut (dalam sholat witir) bersama mereka kecuali pada paruh yang tersisa (dari bulan Romadlon), ketika telah (tinggal) sepuluh hari akhir (dari bulan Romadlon) maka dia mundur lalu sholat di rumahnya. Lalu mereka berkata: Ubay telah kabur atau lari. HR. Abu Dawud

ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ، ﺃﻱ : ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﻭﻟﻌﻠﻪ ﻣﻘﻴﺪ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻟﻤﺎ ﻣﺮ ﺑﺴﻨﺪ ﺹﺣﻴﺢ ﺃﻭ ﺣﺴﻦ ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺛﻢ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﻔﺎﺅﻻ ﺑﺰﻭﺍﻟﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻘﺎﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﺤﺎﻟﻠﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻘﺎﺻﻬﻢ ، ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻴﺮ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻟﻠﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭﺍﻟﻔﺼﺪ ﻣﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﻡ ﻟﺨﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﻭﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﻌﺎﻫﺔ .

Redaksi Hadits : “Dan dia tidak berqunut bersama mereka”, maksudnya dalam sholat witir. Barangkali demikian diqoyyidi (dibatasi) dengan do’a (laknat atau kutukan) terhadap orang-orang kafir, karena terdapat hadits dengan jalur sanad yang shohih atau hasan dari Umar ra bahwa:

“Tuntunan Nabi adalah apabila bulan Romadlon telah mencapai separuh maka hendaknya orang-orang kafir dikutuk dalam sholat witir. Dan hikmah terpilihnya paruh akhir (dari bulan Romadlon dengan berqunut) adalah bisa saja sebagai langkah pengharapan baik dengan musnahnya orang-orang kafir, dan berpindahnya mereka dari tempat dan perkemahannya, sebagaimana terpilihnya paruh akhir dari setiap bulan untuk melakukan bekam mengeluarkan darah sebagai upaya mengeluarkan penyakit dan hama dari tubuh.