AKHLAK BERTETANGGA DALAM KEHIDUPAN KITA

ADAB BERTETANGGA

shil               Manusia tidak ada sempurna, pastilah perlu bantuan orang lain. Orang terdekat bagi kita tentulah tetangga kita. Bisa jadi dia adalah masih saudara kita atau orang lain yang tinggal dekat dengan kita.

* Hak yang dimiliki tetangga kita :
1. Tetangga yang merupakan saudara atau kerabat, dia memiliki 3 hak :

Yaitu : Hak kerabat, hak bertetangga dan hak beragama Islam
2. Tetangga muslim, dia memiliki 2 hak :

Yaitu Hak bertetangga dan hak beragama Islam
3. Tetangga non muslim, dia memiliki 1 hak :

Yaitu Hak bertetangga

*Tetangga yang baik bukanlah tetangga yang tidak mengganggu orang lain, namun mereka yang sabar dari disakiti tetangga lain.

Diantara hak bertetangga adalah :

– Bila ada yang meminjam (harta) , pinjamilah
– Bila diundang, datanglah
– Bila sakit, jenguklah
– Bila minta tolong, tolonglah
– Bila mendapat musibah, bertakziahlah
– Bila mendapat kebaikan, ucapkanlah selamat
– Bila meninggal, persaksikanlah ( memandikan, menyolatkan dan menguburkan)
– Bila ia musafir atau bepergian, jagalah rumah dan hartanya

* Adab bertamu :

– Buatlah janji terlebih dahulu
– Ketuklah pintu (hanya) tiga kali, bila tak dibukakan, berlalulah
– Berdiri di samping pintu ( tidak di depan pintu) agar aurat tuan rumah tidak terlihat langsung
– Jikalau ditanya tuan rumah, sebutlah nama ( jangan hanya berkata “saya yang datang”)

*Kesempurnaan bertetangga :

– lapang dada terhadapnya
– tidak tamak (dan ingin memiliki) apa yang ada pada tetangga lain
– menahan diri untuk menyakitinya
– bersabar bila disakiti.

Hidup bertetangga, penuh liku-liku kehidupan, bila tak pandai membawa diri akan rusak pula amalan kita.

Hikmah yang tersirat :

 Bicara pada saat diperlukan, diam pada saat yang tepat.

Hak Dan Keutamaan Tetangga Dalam Sunnah

[1]. Haram Menyakiti Tetangga

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6016) dan Muslim (46). Dan dikeluarkan juga oleh Ahmad (3/156), Al-Hakim (1/11) dan Ibnu Hibban (510) dengan sanad yang shahih dari Anas Radhiyallahu anhu. Dan juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari (6016) dari Abi Syuraih Al-Ka’bi.]
Dalam bab ini banyak sekali riwayat dan jalan dari selain para shahabat tersebut Radhiyallahu ‘anhum

[2]. Wasiat (untuk berlaku terpuji) Kepada Tetangganya dan Berbuat Baik Kepadanya

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata :

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya :

“Jibril terus menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris”. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6014) dan Muslim (2624). Dikeluarkan pula oleh Al-Bukhari (6015) dan Muslim (2625) dari Ibnu Umar. Dalam bab ini banyak riwayat dari para sahabat. Kalau hadits-hadits mereka dikumpulkan, niscaya akan menjadi satu juz yang besar]

[3]. Terkabulnya Laknat Terhadap Orang Yang Menyakiti Tetangganya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Artinya :

Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perihal tetangganya kepada beliau. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -tiga kali- : “Bersabarlah”. Kemudian Nabi bersabda kepada orang tersebut pada kali yang keempat -atau ketiga- : Keluarkanlah barang-barangmu ke jalan”. Maka orang itupun mengerjakan. (Abu Hurairah) berkata : Lalu mulailah orang-orang melewati orang tersebut dan bertanya kepadanya : Apa yang menimpamu ? Maka dia menjawab bahwa tetangganya telah menyakitinya. Lalu merekapun berkata : ‘Semoga Allah melaknatnya’. Kemudian tetangganya datang sembari berkata : Kembalikan barang-barangmu. Demi Allah, saya tidak akan menyakitimu selama-lamanya”.
[Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5153), Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (124) dan Al-Hakim (4/160) dengan sanad hasan. Dan Al-Bazzar (1904), Al-Hakim (4/166) dan Al-Bukhari dalam Al-Adab (125) membawakan riwayat sebagai syahid bagi hadits tersebut dari Abu Juhaifah. Dan di sanadnya ada kelemahan serta jahalah (rawi yang tidak dikenal)]

[4]. Anjuran Untuk Perhatian Terhadap Tetangga

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu berkata : Kekasihku Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku :
“Artinya :

Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka daripadanya dengan baik”.
[Diriwayatkan oleh Muslim (2625) (143). Dan diriwayatkan pula oleh Al-Bazaar (1901), At-Thabrani dalam Al-Ausath -sebagaimana dalam Al-Majma (8/165) dari Jabir dengan sanad dha’if]
Dalam riwayat lain.
“Artinya :

Wahai Abu Dzar ! Jika kamu masak sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu“. [Diriwayatkan oleh Muslim (2625) (142).]
Dan dalam suatu lafazh.
“Artinya :

Sesungguhnya hal itu lebih merata bagi keluarga dan tetangga”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (513), Ahmad (5/156) dengan sanad shahih.]

[5]. Toleran Terhadap Tetangga

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya :

Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian melarang tetangganya untuk menancapkan kayu di temboknya”.
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2463) dan Muslim (1600) Hadits tersebut mempunyai syahid pada : Ahmad (3/479 dan 480) Ibnu Majah (2336) dari Mujamma’ bin Jariyah. Dan yang lain dari Ibnu Abbas dalam (kitabnya) Ahmad (1/303), Al-Baihaqi (6/69)]

[6]. Tidak Menyakiti Tetangga Adalah Termasuk Iman

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6475) dan Muslim (47) (74)]

[7]. Sebaik-baik Tetangga

Dari Abdullah bin ‘Amr berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya :

Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik diantara mereka terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya“.
[Dikeluarkan oleh Tirmidzi (1944), Ahmad (2/167), Darimi (2/215) dan Hakim (1/164) dengan sanad shahih]

[8]. Tidak Ada Istilah Sedikit/Ringan Di Dalam Hal Menyakiti Tetangga

Dari Abdah bin Abi Lubabah (*) rahimahullah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak ada istilah sedikit atau ringan dalam hal menyakiti tetangga“.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (8/547) dengan sanad shahih dan mursal.
Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al-Kabir (23/258/No. 535) dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (10/27) dari Ummu Salamah.
Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid (8/170) berkata :

Dan orang-orang adalah tsiqat”.
Saya berkata : Pada syaikhnya Thabrani pada pembicaraan. Tetapi tidak mengapa untuk menjadi syahid. Maka hadits tersebut adalah hasan.]
(*) Dalam Ad-Durr al-Mantsur (2/159) tertulis : “Dari Abu Lubabah”, ini adalah salah.

[9]. Tetangga Yang Baik Adalah Termasuk Kebahagian

Dari Sa’d bin Abi Waqqash, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya :

Ada empat perkara yang termasuk kebahagian : Istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara yang termasuk kesengsaraan : Tetangga yang jelek, istri yang jelek, tempat tinggal yang sempit dan kendaraan yang jelek”.
[Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (1232) dan Al-Khatib (12/99) dengan sanad yang shahih]

[10]. Berbuat Baik Kepada Tetangga

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya :

Jadilah engkau orang yang wara’, niscaya akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya akan menjadi seorang mukmin. Dan bertetanggalah dengan baik terhadap tetanggamu, niscaya akan menjadi seorang muslim”.
[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (4217), Abu Ya’la (5865), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (10/365) dan dalam sanadnya ada seorang mudallis. Tetapi mempunyai syahid yang menguatkannya, dan telah saya bawakan serta saya keluarkan dalam Arba’i Ad-Da’wah wa Ad-Du’at (no. 13). Maka lihatlah.]