DO’A SAYYIDAH FATIMAH RA. AGAR TERBEBAS DARI KESUSAHAN DAN WAKTU YANG MUSTAJAB

Saat-saat yang diduga kuat waktu ijabah

أ – الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ وَبَعْدَهَا

ب – الدُّعَاءُ حَال السُّجُودِ

ج – الدُّعَاءُ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ

د – حَال الصَّوْمِ وَحَال الإِْفْطَارِ مِنَ الصَّوْمِ :

هـ – الدُّعَاءُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَبَعْدَ خَتْمِهِ

و – دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

ز – الدُّعَاءُ عِنْدَ الْقِتَال فِي سَبِيل اللَّهِ

ج – حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ :

ط – دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ

ي – دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ وَعَلَيْهِ

ك – دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ وَالْمَكْرُوبِ

ل – الدُّعَاءُ عِنْدَ نُزُول الْغَيْثِ

م – دَعْوَةُ الْمَرِيضِ

ن – حَال أَوْلِيَاءِ اللَّهِ

س – حَال الْمُجْتَهَدِ فِي الدُّعَاءِ إِذَا وَافَقَ اسْمَ اللَّهِ الأَْعْظَمَ

1. Doa diantara adzan dan Iqaamah dan setelahnya

2. Doa dikala sujud

3. Doa setelah shalat lima waktu

4. Doa disaat menjalani puasa dan ketika berbuka

5. Doa setelah membaca alQuran dan menghatamkannya

6. Doanya orang bepergian

7. Doa saat perang sabilillah

8. Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikri

9. Do’a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

10. doa orang tua kepada anaknya

11. Orang yang teraniaya, tertindas dan orang kesusahan

12. Doa saat turun hujan

13. Doa orang sakit

14. Doa saat menjadi kekasih allah

15. Doa saat ia bersungguh-sungguh dengan sebelumnya di dahului penyebutan asma-asma Allah yang Agung.

Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 39/225-233

DOA SAYYIDAH FATIMAH DARI NABI SAW AGAR KELUAR DARI KESUSAHAN

اللهم يا اول الاولين ويا اخر الاخرين ويا ذا القوة المتين وياراحم المساكين ويا ارحم الراحمين

Ya awwalal awwalin ya akhirul akhirin

Ya dzal quwwatil matin ya arhamal masakin ya arhamarrohimin

Doa tersebut adalah do’a kanjeng Nabi Muhammad saw yang beliau dapatkan dari Jibril AS, kemudian oleh Nabi diajarkan kepada sayyidah Fatimah. Doa ini bisa digunakan untuk menghilangkan kebingungan, kesedihan dan kesusahan.

Derajat sumber haditsnya adalah marfu’, namun menurut imam adz-dzahabi dalam mu’jam kabir, derajatnya mursal :

– (حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحِيمِ ، بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ ، قَالَ : أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ حَيَّانَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَكَرِيَّا ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَمْرِيٍّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ عَبْدَةَ ، عَنْ أَبِي لُبَابَةَ ، عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفْلَةَ ، قَالَ : أَصَابَتْ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَامُ خَصَاصَةٌ ، فَقَالَ لِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَامُ لَوْ أَتَيْتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتِهِ ، فَأَتَتْهُ ، قَالَ : وَكَانَ عِنْدَ أُمِّ أَيْمَنَ فَأَتَتْهُ فَدَقَّتِ الْبَابَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ أَيْمَنَ : ” إِنَّ هَذَا لَدَقُّ فَاطِمَةَ ، وَلَقَدْ أَتَتْنَا فِي سَاعَةٍ مَا عَوَّدَتْنَا أَنْ تَأْتِيَنَا فِي مِثْلِهَا ، قُومِي فَافْتَحِي لَهَا الْبَابَ ” ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ ، فَقَالَ : ” يَا فَاطِمَةُ ، لَقَدْ أَتَيْتِنَا فِي سَاعَةٍ مَا عَوَّدْتِنَا أَنْ تَأْتِينَا فِي مِثْلِهَا ؟ ” ، فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، هَذِهِ الْمَلَائِكَةُ طَعَامُهَا التَّهْلِيلُ وَالتَّسْبِيحُ وَالْحَمْدُ فَمَا طَعَامُنَا ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : ” وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا اقْتَبَسَ فِي آلِ مُحَمَّدٍ نَارٌ مُنْذُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ، وَلَقَدْ أَتَيْنَا أَعْنُزًا فَإِنْ شِئْتِ أَمَرْنَا لَكِ بِخَمْسَةِ أَعْنُزٍ ، وَإِنْ شِئْتِ عَلَّمْتُكِ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ آنِفًا ” ، فَقَالَتْ : عَلِّمْنِي كَلِمَاتٍ عَلَّمَكَهُنَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، قَالَ : ” قُولِي : يَا أَوَّلَ الْأَوَّلِينَ ، وَيَا آخِرَ الْآخِرِينَ ، وَيَا ذَا الْقُوَّةِ الْمَتِينَ ، وَيَا رَاحِمَ الْمَسَاكِينَ ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ” ، فَفَعَلْتُ ، قَالَ : فَانْصَرَفَتْ حَتَّى دَخَلَتْ عَلَى عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَقَالَ : مَا وَرَاءَكِ ؟ قَالَتْ : ذَهَبْتُ مِنْ عِنْدِكَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَتَيْتُكَ بِالْآخِرَةِ ، فَقَالَ : خَيْرٌ أَيَّامُكِ خَيْرٌ أَيَّامُكِ .

قال الذهبي في معجمه الكبير (2/ 258):

“هذا حديث مع غرابته مرسل، وقيل: بل لسويد صحبة، وهو أنصاري، تفرد بهذا الحديث إسماعيل بن عمر البجلي، وليس هو بمعتمد ضعفه ابن عدي”.

دعاء لتفريج الكرب والهم باذن الله :

اللهم يا اول الاولين ويا اخر الاخرين ويا ذا القوة المتين وياراحم المساكين ويا ارحم الراحمين

DO’A BA’DA SHOLAT FARDLU DAN PENJELASAN BAGAIMANA ADAB KITA DALAM BERDO’A

ADAB BERDOA

Al-Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, beliau menyebutkan bahwa dalam berdoa itu ada beberapa adab yang harus dijaga, yaitu :

    Hendaklah kita mengamati dan memilih waktu-waktu yang baik dan mulia untuk berdoa. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah Imam al-Ghazali dalam Ihya’nya mencontohkan bahwa waktu–waktu yang baik itu adalah seperti hari Arafah, bulan Ramadhan hari Jum’at, dan diwaktu sahur.

    Hendaklah kita mempergunakan kesempatan berdoa pada keadaan–keadaan yang mulia. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah pula Imam al-Ghazali mencontohkan dalam kitabnya tersebut bahwa keadaan yang baik adalah seperti ketika berada dalam barisan (shaf) peperangan (jihad fisabilillah), ketika turunnya hujan, antara azan dan iqamat, ketika hari kala kita sedang berpuasa dan ketika berada pada sujud sembahyang.

    Hendaklah kita berdoa dengan menghadap qiblat (Ka’bah), baik berdoa setelah shalat atau pada waktu-waktu lainnya, begitu yang dilakukan Rasulullah kala Beliau berdoa. Adapun jika berdoa setelah shalat fardhu maka menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Fat-hul Mu’in, bahwa menghadap qiblat hanya disunatkan bagi selain imam. Adapun bagi imam maka sebaiknya ia berdiri pada tempat ia sembahyang dan menghadap jama’ah jika dari para jama’ah itu tidak terdapat orang perempuan, atau sebaiknya bagi imam berdoa dengan mengarahkan pihak kanannya kearah makmum sedangkan qiblat berada pada pihak kirinya.

    Hendaklah kita berdoa dengan mengangkatkan dua tangan kelangit (keatas). Menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Irsyaadil ‘Ibaad bahwa hukum mengangkat dua tangan itu adalah disunatkan bagi selain orang yang sedang sembahyang dan yang sedang berkhutbah, adapun bagi keduanya maka tidak disunatkan mengangkat dua tangan. Dan tangan yang diangkat itu adalah tangan yang dalam keadaan suci dan diangkat sampai sejajar tingginya dengan dua bahu. Adapun tangan yang bernajis menurut Syeikh Sayed Bakri bin Sayed Muhammad Syatha dalam kitab beliau I’anatuth Thaalibin maka hukum mengangkatnya adalah makruh walaupun tangan itu tertutup. Dan jika adalah hal yang didoakan itu merupakan hal yang sangat rumit dan mendesak maka menurut beliau berdasarkan al-Kurdiy bahwa tangan itu diangkat bukan sejajar dengan bahu tapi lebih keatas lagi, sekira-kira tampaklah putih–putih ketiaknya. Menurut Syeikh Syihabuddin Qulyubiy dalam kitab beliau Hasyiyah al-Mahalliy bahwa telapak tangan itu dirapatkan dan sebaiknya dalam keadaan terbuka, artinya telapak tangan tidak ditutup dengan penutup apapun jua. Hal itu kita lakukan sebagai isyarah kita sedang menadah pemberian dan anugerah dari Tuhan, dan dalam keadaan seperti itu maka pandangan mata ditujukan kelangit (keatas), sebagai isyarah kita memperhatikan rahmat Allah yang sedang diturunkan, dan setelah selesai berdoa maka tangan itu disapukan kewajah.

    Hendaklah berdoa dengan suara yang lunak dan sayup. Yang dimaksudkan disini adalah jangan meninggikan suara sampai terdengar oleh orang lain dan jangan pula mengecilkannya sampai tak terdengar pada diri sendiri. Guru besar kita pembangun mazhab Syafi’iy yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi’ie yang dikenal dengan Imam Syafi’iy dalam kitab beliau yang terkenal yaitu al-Um bahwa beliau berkata, “Saya memilih (berpendapat) bahwa disunatkan bagi imam dan makmum apabila telah selesai dari shalat agar mereka berzikir dan berdoa dan hendaknya mereka melakukan itu dengan merendahkan suara, kecuali kalau ia seorang imam yang bermaksud ingin mengajarkan zikir dan doa kepada para jama’ah maka baguslah jika ia membesarkan suaranya sebatas para jama’ah itu belum bisa, adapun jika mereka telah bisa maka suara imam kala berzikir dan berdoa itu harus dikecilkan kembali. Pendapat maha guru kita itu telah diikuti oleh semua murid beliau dan semua penganut mazhab Syafi’ie termasuk Syeikh Zainuddin al-Malibariy dalam kitabnya Fathul Mu’in, dan beliau menambahkan bahwa boleh juga bagi imam untuk membesarkan suara dalam zikir dan doanya jika ia bermaksud agar makmum atau para jama’ah membaca amien untuk doanya tersebut. Dan beliau menyebutkan dalam kitab tersebut, menurut guru beliau Syihabuddin Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamiy bahwa terlalu membesarkan suara ketika berzikir dan berdoa didalam mesjid, sekira-kira dapat mengganggu kekhusyukkan orang sembahyang maka membesarkan suara adalah sepantasnya diharamkan.

    Hendaklah kita dalam berdoa tidak membebani diri dengan bersajak. Kecuali pada doa-doa yang pernah diajari oleh Rasulullah, karena do’a yang paling bagus yang kita bacakan adalah do’a–do’a yang diajarkan oleh Rasulullah maka walaupun terdapat sajak didalamnya tapi tidak termasuk membebani diri. Yang dimaksud dengan bersajak ialah membebani diri dengan mencari persamaan kata atau huruf pada akhir kalimat lalu tidak memperhatikan maksud dari doa yang sedang dibaca itu, karena yang dituntut kala berdoa bukan persamaan kata tapi merendah diri dengan hati yang khusyuk dan lidah yang hina.

    Hendaklah keadaan kita dalam berdoa dengan merendah diri dan dengan khusyuk serta bersikap bahwa kita harap dan takut kepada Allah. Menurut Syeikh Jalaluddin al-Mahalliy dalam kitabnya Tafsir al-Jalalaini bahwa yang dimaksud dengan harap adalah bahwa kita dalam berdoa dengan satu kepastian bahwa kita berada dalam rahmat Allah SWT. dan kita pula harus cemas dan takut dari azab-Nya.

    Hendaklah kita mengokohkan doa dengan satu keyakinan bahwa doa itu pasti diperkenankan sebagaimana yang Allah janjikan. Dan hendaklah kita berbaik sangka pada Tuhan dengan membenarkan harapan bahwa doa pasti diterima-Nya. Disebutkan dalam berbagai kitab bahwa “Tuhan akan bersikap terhadap kita hamba menurut sangkaan kita terhadap-Nya, kalau kita menyangka bahwa Tuhan akan berbuat baik pada kita maka kebaikanlah yang diberikan Tuhan bagi kita, dan sebaliknya jika kita beranggapan bahwa yang akan diperbuat Tuhan terhadap kita adalah keburukan maka hal yang terburuklah yang bakal menghimpit kita nantinya. Oleh karena itu maka hendaklah kita dalam berdoa harus dengan satu keyakinan dan rasa percaya bahwa pintu keampunan Allah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan dosa–dosa kita. Dan pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat dan mau berdoa pada-Nya. Dan rahmat yang luas itu akan diberikan bagi semua yang memerlukannya dan mau meminta kepada-Nya. Dari satu sisi bahwa kita dihadapan Tuhan harus mengakui kesalahan dan dosa yang kita lakukan dalam sebuah pengakuan yang melambangkan penyesalan bukan kepuasan dan bangga, dan dari sisi lain bahwa kita juga harus mengakui bahwa keampunan Allah SWT. jauh lebih besar dari sebesar apapun dosa-dosa kita.

    Hendaklah kita berdoa dengan penuh kesungguhan dan mengulang–ulang doa itu sampai tiga kali.

    Hendaklah kita memulai doa dengan menyebut nama Allah dan memuji kehebatan dan kebesaran-Nya apakah dalam bentuk Basmalah, Hamdalah, atau Zikir–Zikir lain yang sifatnya merupakan bentuk sanjungan kita kepada Allah SWT. setelah memuji Allah SWT. maka kita membaca shalawat kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW. Hal ini mengandung pengertian bahwa janganlah kita dalam berdoa menuju lansung pada permohonan dan permintaan, tapi berikan dulu kata-kata sanjungan dan pujian akan kebesaran Tuhan dan kemurahan-Nya. Tidakkah kita memperhatikan pengajaran Allah SWT. pada surat al-Fatihah, bahwa dalam surat tersebut sesungguhnya Allah SWT. mengajarkan kita akan cara berdoa kepada-Nya dengan firman-Nya. “Berikan Kami Jalan Yang Lurus. Yaitu Jalan Yang Telah Engkau Berikan Bagi Mereka, Yang Tidak Adalah Mereka Itu Dimurkakan Dan Tidak Pula Dalam Kesesatan.

    Doa tersebut tertulis setelah kata-kata pujian dan sanjungan terhadap dirinya pada ayat sebelumnya dengan firman-Nya “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Jenis Puji-Pujian Itu Hanyalah Hak Istimewa Bagi Allah Pemilik Alam Jagat Raya. Yang Pengasih Dan Penyayang. Yang Merupakan Raja Pada Hari Kiamat. Hanya Engkau Yang Kami Sembah Dan Hanya Kepada Engkau Pula Kami Mohon Pertolongan”.

    Hendaklah kita berdoa dengan memelihara adab bathiniyah. Adab inilah yang merupakan pangkal dan modal agar doa kita diterima oleh Allah SWT.

ADAB BATHINIYAH DAN HAKIKAT TAUBAT

Guru kita Imam Abdullah Ba’lawiy al-Haddad dalam kitab beliau an-Nashaih ad-Diniyyah wal Washaayaa al-Imaniyyah (Nasehat–Nasehat Agama Dan Wasiat Keimanan) beliau mengatakan;

“Bahwa Rasulullah SAW. menganjurkan agar dalam berdoa kita harus dengan keyakinan bahwa doa kita pasti diterima Allah SWT. dan segala apa yang kita minta kepada Allah bukan merupakan masalah yang sepele tapi seluruhnya merupakan sesuatu yang besar dalam artian bahwa segalanya itu tidak mungkin terjadi kalau Allah tiada menghendaki, dan doa yang kita ucapkan mestilah doa yang pasti maka janganlah berdoa dengan mengatakan “Ya Allah Ampunkanlah dosa ku jika engkau mau”. Tapi hendaklah kita berdoa dengan satu kepastian dan berbesarlah harapan bahwa doa kita bakal diqabulkan Tuhan. Dan ketika berdoa hendaklah hati kita menyatu dengan apa yang diucapkan oleh lidah dengan perasaan takut pada Tuhan atas kesalahan yang pernah kita lakukan dan loba kita akan penerimaan doa oleh Tuhan dengan kemurahan dan kasih sayang serta benar janjinya.

Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Allah yang selalu hidup dan maha mulia itu malu kepada hamba yang apabila sihamba tersebut mengangkatkan dua tangannya dan berdoa tapi Allah SWT. menolaknya”.

Al-Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin telah berkata bahwa untuk tercapai adab yang bathiniyah maka harus dengan “Bertaubat dari semua kesalahan dan dosa dengan Tuhan atau dengan sesama insan dan makhluq lainnya.

Menurut ‘Allaamah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuriy dalam kitabnya Tahqieqil Maqam ‘Ala Kifayatul ‘Awam, adalah hakikat taubat ialah:

عِبَارَةٌ عَنِ اْلإِقْلاَعِ مِنَ الذَّنْبِ, وَالنَّدْمِ, وَالْعَزْمِ عَلىَ أَنْ لاَ يَعُوْدَ إِلىَ مِثْلِ الذَّنْبِ الَّذِيْ وَقَعَ فِيْهِ.

Yaitu : Mencabut diri dari dosa dan kemaksiatan. Menyesali atas kesalahan. Bercita-cita dengan satu kepastian untuk tidak kembali lagi pada kesalahan dan dosa yang pernah dikerjakan.

SYARAT – SYARAT SAH TAUBAT

Masih Menurut ‘Allaamah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuriy dalam kitabnya yang tersebut diatas bahwa adalah syarat sahnya itu sebagai berikut:

    Taubat itu dilakukan sebelum Ghar-Gharah yaitu sebelum nafas sampai dikerongkongan. Ini merupakan syarat taubat yang umum dan mencakupi bagi orang kafir dan mukmin yang ‘ashiy (maksiat).

    Taubat itu dilakukan sebelum matahari keluar dari tempat ia terbenam di arah Barat, karena keadaan seperti ini memberi satu pengertian pintu taubat telah tertutup buat semua makhluq yang ada.

    Mencari dan meminta kema’afan dari para hamba Tuhan (manusia) jika dosa yang dilakukan itu ada kaitannya dengan mereka, caranya adakala dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kepada mereka akan kebebasan dari hak-hak tersebut. Untuk dosa mengupat maka hal ini kita lakukan bila apa yang kita ucapkan itu telah sampai ketelinga orang yang kita upat. Dan jika belum sampai maka hal ini tidak diperlukan karena hanya akan menimbulkan sakit hati mereka kepada kita, tapi taubatnya cukuplah dengan berIstighfar untuknya, andaikan kelak apa yang kita upat itu pun sampai ketelinga mereka sedangkan kita telah berIstighfar untuk mereka maka hal itu sudah tidak mengapa lagi karena ketika berita noda itu sampai pada mereka adalah berita yang sudah terhapus nodanya. Dan begitu pulalah dosa zina, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa kita harus minta ma’af pada orang yang bertanggung jawab atas perempuan yang kita zinahi itu, apakah itu suaminya, bapaknya atau kakeknya. Tapi hal ini akan berakibat fatal dan sangat riskan karena bisa menimbulkan keburukan dan fitnah ataupun pembunuhan. Dan menurut pendapat yang lain dan inilah pendapat yang ada mashlahat, untuk taubatnya cukuplah antara kita dengan Allah jadi tak perlu minta ma’af pada manusia.

SEPULUH PERKARA YANG MEMATIKAN HATI

Diceritakan didalam kitab Majaalis as-Saniyah karangan ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaziy al-Fasyniy bahwa pada suatu hari disatu masa ada seorang Ulama Sufi di negeri Irak yang bernama Abu Ishaq Syeikh Ibrahim bin Adham. Pada satu ketika Beliau berjalan di pusat kota Basrah Irak, tiba-tiba masyarakat kota itu berkumpul dengan Beliau dan mereka berkata, ” Wahai Abu Ishaq! Kami sudah sangat lama sekali berdoa tapi doa kami tampaknya belum juga diterima Allah, gerangan apa yang telah terjadi wahai Aba Ishaq?. Maka Abu Ishaq Syeikh Ibrahim bin Adham menjawab sesuai dengan keberadaannya sebagai seorang Ulama Sufi, beliau berkata “Doa kalian tidak diterima Tuhan karena hati kalian telah mati”.

Hati itu bisa mati disebabakan oleh 10 perkara, yaitu :

    Kalian mengenal Allah tapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.

    Kalian mendakwakan bahwa kalian mencintai Rasulullah SAW. tapi kalian meninggalkan sunnahnya.

    Kalian membaca al Qur-an tapi kalian tidak mengamalkan isinya.

    Kalian makan nikmat Allah SWT. tapi kalian tidak mensyukuri nikmat tersebut.

    Kalian mengatakan bahwa syaithan adalah musuh kalian tapi kalian bergabung dengannya dan tidak pernah berselisih dengannya.

    Kalian mengatakan bahwa syurga itu pasti ada tapi kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.

    Kalian mengatakan bahwa neraka itu pasti ada tapi kalian tidak pernah lari dari padanya.

    Kalian mengatakan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti tapi kalian tidak mengadakan persiapan untuk menghadapinya.

    Kalian terbangun dari tidur maka kalian pun sibuk memeriksa keaiaban yang ada pada orang lain sementara keaiban yang ada pada diri kalian itu terabaikan.

    Kalian menguburkan jenazah tapi tidak mengambil contoh dan pelajaran dari padanya.

SEJARAH KAUM-KAUM YANG TIDAK DITERIMA DOA DAN PENYEBABNYA

    ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaziy al-Fasyniy dalam kitabnya Majaalis as-Saniyah menceritakan telah berkata Wahab bin Munabbah (seorang ulama yang ahli sejarah), bahwa beliau pernah mendengar suatu kisah yang terjadi dizaman Nabi Musa As. “Suatu hari Nabi Musa As. berjalan-jalan, dan tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan merendah diri, yang kelihatannya silaki-laki tersebut sudah sangat lama melakukan hal seperti itu sampai mengundang perhatian Nabi Musa. Lalu Nabi Musa menadahkan tangan dan bermunajah pada Tuhan, Nabi Musa berkata, “Ya Allah! Apakah Engkau belum mengabulkan do’a laki-laki itu? Allah pun berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya, andaipun orang laki-laki itu menadahkan tangannya sampai kelangit untuk berdo’a, dan andaipun ia menangis sampai hilang nyawanya agar doanya diterima, namun Aku tidak akan mengabulkan permintaannya”. Nabi Musa bertanya, Ya Tuhan! Mengapa sampai demikian? Allah berfirman, “Wahai Musa, karena dalam perutnya ada yang haram, pada badannya ada yang haram, dan dalam rumahnya pun ada yang haram”.

    Al-Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menceritakan ada satu riwayat bahwa Ka’ab al-Ahbar (seorang ahli sejarah) pernah bercerita, “Tertimpa kemarau panjang pada satu kaum dizaman Nabi Musa, maka Nabi Musa bersama para umatnya kaum Bani Israil pun keluar kesatu tempat untuk berdoa agar Allah menurunkan hujan, namun hujan tidak juga turun. Nabi Musa dan Kaumnya melakukan hal ini sampai tiga kali tapi hujan tetap belum terjadi, sampai akhirnya Allah SWT. berkata kepada Nabi Musa, Wahai Musa! Sungguh Aku tak akan menerima doamu dan doa ummatmu, karena dalam kumpulan umatmu yang sedang berdoa kepadaku ada seorang yang suka namimah (membawa berita bohong dengan tujuan menghancurkan /tukang fitnah). Nabi Musa menyembah dan berkata, siapakah dia Ya Tuhanku, biar kami keluarkan dari kelompok kami ini. Lalu Allah berfirman, wahai Musa tak mungkin aku tunjukkan kepadamu siapa orangnya, bukankah aku melarang kalian untuk namimah dan mengapa engkau meminta aku bersifat namimah dengan meminta kepadaku untuk menunjukkan pelaku namimah yang ada diantara kamu. Akhirnya Nabi Musa pun mengambil satu alternatif dan berkata kepada umatnya, wahai para umatku sekalian, siapa diantara kalian yang memiliki sifat namimah maka bertaubatlah, maka yang merasa ada bersifat dengan sifat namimah pun bertaubat, alhasil akhirnya Allah SWT. pun menurunkan hujan.

    Al-Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menceritakan; Sufyan ats-Tsuriy berkata, telah sampai kepadaku satu berita yang terjadi pada kaum Bani Israil, selama tujuh tahun mereka mengalami kemarau panjang sehingga mereka memakan bangkai dan anak – anak mereka yang masih kecil. Maka keluarlah mereka kegunung-gunung seraya menangis dan merendah diri, maka Allah SWT. mewahyukan kepada para Nabi mereka, “Andai pun kalian berjalan kepadaku dengan telapak kaki kalian sehingga lutut–lutut kalian terlepas dari sendinya, atau sehingga tangan–tangan kalian sampai kepenjuru langit, dan lidah–lidah kalian sampai tidak jelas lagi dalam berdoa kepadaku, namun aku tidak akan memperkenankan doa kalian, dan aku tak akan mengasihani terhadap tangis dan jerit kalian kalau masih ada diantara kalian yang belum mengembalikan sesuatu yang dizalimi kepada pemiliknya. Lalu mereka mengerjakannya dan hujan pun turun pada hari itu juga.

ANTARA DIAM DAN DOA

Dalam Risalah al-Imam Abu Qaasim al-Qusyairiy ra. beliau berkata bahwa ada perbedaan pendapat para ulama tentang apakah doa lebih baik dari pada diam? Atau diam itu lebih baik dari pada berdoa? Pendapat yang pertama mengatakan bahwa berdoa itu ibadah, hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah yang mengatakan demikian dalam haditsnya, dan karena dengan berdoa maka seseorang telah menampakkan ketergantungannya kepada Allah SWT. dan betapa ia sangat memerlukan Allah. Dengan kata lain menurut pendapat ini adalah berdoa itu lebih bagus dari pada diam.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa diam itu lebih bagus dari berdoa, karena hal ini dapat menunjukkan seseorang pada bersikap pasrah dan menerima qadha dan hukum Tuhan, karena memang segala sesuatu itu sudah ada ketentuannya dari Tuhan. Dan pendapat yang ketiga mengatakan sebaiknya bagi seseorang hendaklah ia berdoa dengan lidahnya dan dia terima hukum Tuhan dalam hati nya. Pendapat yang ketiga ini tampaknya ingin menyatukan perbedaan antara pendapat pertama dan kedua yang saling mengklaim hanya satu yang terbaik. Tapi pendapat ketiga menyimpulkan bahwa antara diam dan doa itu sama.

Lain halnya dengan Abu Qaasim al-Qusyairiy ra. Beliau berpendapat bahwa antara diam dan doa itu ada waktunya masing-masing yang ada kalanya sewaktu-waktu berdoa itu lebih baik dan pada waktu lain barangkali diam itu yang lebih baik. Maka bila ada suatu gejala dalam hati yang mengarahkan kita agar berdoa maka pada waktu itu adalah berdoa itu lebih baik. Dan jika gejala menunjuki bahwa kita tak perlu berdoa maka kala itu adalah diam terlebih baik.

Doa Sesudah Shalat

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ حَمْدًا يُوَافىِ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَارَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ وَإِلَيْكَ اْلمُشْتَكَى وَبِكَ اْلمُسْتَغَاثُ وَاَنْتَ اْلمُسْتَعَانُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَتُوْبُ إِلَيْكَ مِنَ اْلمَعَاصِى لاَ نَرْجِعُ إِلَيْهَا أَبَدًا, اَللَّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ عَنْ ذُنُوْبِنَا وَرَحْمَتُكَ نَرْجَى عِنْدَنَا مِنْ أَعْمَالِنَا, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنىَ, اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فىِ اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ السَّعَادَةِ وَاْلوِدَادِ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ الشَّقَاوَةِ وَاْلِعنَادِ, اَللَّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ سِرَّنَا وَعَلاَنِيَتَنَا فَاقْبَلْ مَعْذِرَتَنَا وَتَعْلَمُ حَاجَاتَنَا فَأَعْطِنَا سُؤَلَنَا وَتَعْلَمُ مَا فىِ اَنْفُسِنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قُلُوْبَنَا وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى نَعْلَمَ اَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبْتَهُ عَلَيْنَا وَالرِّضَا بِمَا قَسَمْتَهُ لَنَا يَاذَااْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, اَللَّهُمَّ اَرِنَا اْلحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَاَرِنَا اْلبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ, اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآَمِنْ رَوْعَاتِنَا وَاَقِلَّ عَثَرَاتِنَا وَاحْفَظْنَا مِنْ بَيْنَ أَيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ َشمَآئِلِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا وَنَعُوْذُبِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا, اَلَّلهُمَّ بِعِلْمِكَ اْلغَيْبِ وَقُدْرَتِكَ عَلىَ اْلخَلْقِ أَحْيِنَا مَا كَانَتِ اْلحَيَاةُ خَيْرًا لَنَا وَتَوَفَّنَا مَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لَنَا, اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ أَمَرْتَنَا بِدُعَآئِكَ وَوَعَدْتَنَا إِجَابَتَكَ وَقَدْ دَعَوْنَاكَ كَمَا أَمَرْتَنَا فَأَجَبْنَاكَمَا وَعَدْتَنَا, اَللَّهُمَّ فَامْنُنْ عَلَيْنَا بِمَغْفِرَةٍ مَا قَارَفْنَا وَإِجَابَتَكَ فىِ سُقْيَانَا وَسِعَةَ َرِزْقِنَا, اَللَّهُمَّ امْنُنْ عَلَيْنَا بِصَفَاءِ اْلمَعْرِفَةِ وَهَبْ لَنَا تَصْحِيْحَ اْلمُعَامَلَةِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ عَلىَ السُّنَّةِ وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَحُسْنَ ظَنِّ بِكَ, وَامْنُنْ عَلَيْنَا بِكُلِّ مَا يُقَرِّبُنُا إِلَيْكَ مَقْرُوْنًا بِعَوَافىِ الدَّارَيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ, اَللَّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ اْلأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالَنَا إِلىَ أَحْسَنِ حَالٍ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَاعَزِيْزٌ يَامُتَعَالٍ, اَللَّهُمَّ أَعْطِنَا رِضَاكَ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ وَاخْتِمْ لَنَا باِلسَّعَادَةِ وَالَّشهَادَةِ وَاْلمَغْفِرَةِ, اَللَّهُمَّ أَظِلَّنَا فىِ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّكَ وَاسْقِنَا بِكَأْسِ ُمحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَابًا هَنِيْئًا لاَ نَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِو اَللَّهُمَّ اخْتِمْ بِالسَّعَادَةِ آَجَالَنَا وَحَقِّقْ بِالزِّيَادَةِ آَمَالَنَا وَاَقْرِنْ بِاْلعَافِيَةِ غُدُوَنَا وَآَصَالَنَا وَاجْعَلْ إِلىَ رَحْمَتِكَ مَصِيْرَنَا وَمَآلَنَا وَاصْبُبْ سَجَالَ عَفْوِكَ عَلىَ ذُنُوْبَنَا وَمَنْ عَلَيْنَا بِإِصْلاَحِ عُيُوْبِنَا وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا وَفىِ دِيْنِكَ اجْتِهَادَنَا وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاعْتِمَادَنَا, وَثَبِِّتْنَا عَلَى نَهْجِ اْلإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا فىِ الدُّنْيَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَخَفِّفْ عَنَّا ثَقْلَ اْلأَوْزَارِ وَاْرْزُقْنَا عَيْشَ اْلأَبْرَارِ وَاكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ اْلأَشْرَارِ وَأَعْتِقْ رَقَابَنَا وَرَقَابَ آَبَآئِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَاِخْوَانِنَا وَعَشِيْرَتِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنَ النَّارِ بِرَحْمَتِكَ يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَاسَتَّارُ يَاحَلِيْمُ يَاجَبَّارُ, اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا, اَللَّهُمَّ الْطُفْ بِنَا فىِ تَيْسِيْرِ كُلِّ عَسِيْرٍ فَإِنَّ تَيْسِيْرَ كُلِّ عَسِيْرٍعَلَيْكَ يَسِيْرٍ وَنَسْئَلُكَ الْيُسْرَى وَاْلمُعَافَاةَ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ, اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الِّنفَاقِ وَاَعْمَالَنَا مِنَ الِّريَآءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ اْلخِيَانَةِ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ اْلخَائِنَةَ اْلاَعْيُنِ وَماَ تُخْفِي الصُّدُوْرُ, اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَناَ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَجْتَهُ وَلاَ دَيْناً إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْياَ وَاْلآَخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآَنِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً, اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ أَنآَءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَناَ دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَناَ آَخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ فيِ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ اْلمَوْتَ رَاحَةً لَناَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ, اَللَّهُمَّ اهْدِنَا بِالْهُدَى وَنَقِّنَا بِالتَّقْوَى وَاغْفِرْلَنَا فيِ اْلآَخِرَةِ وَاْلأُوْلى, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ جُهْدِ الْبَلآَءِ وَدَرْكِ الشِّقَآءِ وَسُوْءِ اْلقَضَآءِ وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَآءِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَقَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَدُعَآءٍ لاَيُسْمَعُ وَنَفْسٍ لاَتَشْبَعُ. وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلجُوْعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيْعُ وَمِنْ اْلخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ وَ مِنَ اْلكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَاْلهَرَمِ وَمِنْ أَنْ نُرَدَّ إِلىَ أَرْذَلِ اْلعُمُرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَعَذَابِ اْلقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلهَمِّ وَاْلحَزْنِ وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسْلِ وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلجُبْنِ وَالْفَشْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ, رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ أَنْتَ وَلِيٌّ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةْ تَوَفَّنَا مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ. وَاكْتُبْ لَنَا فىِ هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلآَخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْ آَخِرَ كَلاَمِنَا مِنَ الدُّنْيَا عِنْدَ انْتِهَآءِ آَجَالِنَا قَوْلَ لآَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ كَمَا أَحْيَيْتَنَا عَلَيْهَا فَأَمِتْنَا عَلَيْهَا غَيْرَ مَفْتُوْنِيْنَ وَ لاَ ضَآلِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ وَلاَ مُغَيِّرِيْنَ وَلاَ مُبَدِّلِيْنَ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ وَاهْدِنَا إِلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ اَدْيَانَنَا وَأَبْدَانَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَمْوَالَنَا وَأَهْلَنَا وَكُلَّ شَيْئٍ أَعْطَيْتَنَا, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ وَجِوَارِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ, اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلاَمَةِ وَحَقِّقْنَا بِالتَّقْوَى وَاْلإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ فِي الْحَالِ وَالْمَالِ إنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَآءِ, رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّاِلمِيْنَ رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فىِ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلىَ اْلقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ, رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَؤُوْفُ الرَّحِيْمِ, رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْك َرَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا, رَبَّناَ ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ, رَبَّناَ ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْلَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنَا إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَـنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ, رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ, رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ بِنِعْمَتِكَ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلىَ وَالِدَيْنَ وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لَناَ فيِ ذُرِّيَتِنَا أَنَّا تُبْنَا إِلَيْكَ وَإِنَّا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ, رَبَّنَا آَتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةٍ وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةٍ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَآئَنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَآءَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عليه وَسَلَّمَ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلِعزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ, وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَاَلمِيْنَ.

PACEKLIK DI KEMARAU BERKEPANJANGAN DAN DO’A ROSULULLOH SAW DALAM MEMOHON HUJAN

Standar kekeringan atau paceklik bukan seberapa tidak pernahnya hujan turun, melainkan tumbuh atau tidaknya tanah yang kita huni.

Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi membahas soal bencana kekeringan atau paceklik dan doa meminta hujan dari Nabi Muhammad.

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam Bâb al-Du’â ‘Ind al-Istisqâ’ mengawalinya dengan mengutip kitab Siyar al-Shâlihîn wa Sunan al-‘Âbidîn. Dalam kitab itu terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengatakan (HR. Imam Muslim dan Imam al-Baihaqi):

لَيْسَتْ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُمْطَرُوا وَلَكِنْ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

“Paceklik (kemarau) itu bukan kalian tidak diberi hujan, melainkan paceklik adalah kalian diberi hujan dan hujan, tapi bumi tidak menumbuhkan apa pun.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 173).

Dengan mengemukakan hadits ini, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi seakan-akan hendak memberitahu kita bahwa kemarau, kekeringan, atau paceklik standarnya bukan seberapa tidak pernahnya hujan turun, melainkan tumbuh atau tidaknya tanah yang kita huni. Andai hujan terus turun, tapi bumi tidak menghasilkan apa-apa, itu juga merupakan bencana atau paceklik.

Pada paragraf selanjutnya, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip sebuah riwayat yang berkaitan erat dengan hadits di atas. Tentunya agar pemahaman kita tentang bencana atau paceklik bisa lebih luas. Berikut riwayatnya (HR. Imam al-Bukhari):

عن أنس قال: قام رجل فقال: يا رسول الله، هلكت المواشي وتقطعت السبل، فادع الله أن يغيثنا، فرفع يديه وقال: (اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا)

قال أنس: فلا والله لا نري في السماء من سحاب ولا قزعة ولا شيئا، فطلعت سحابة من وراء سلع مثل الترس، فلما توسطت السماء انتشرت ثم أمطرت إلي الجمعة

فقال رجل: يا رسول الله، هلكت الأموال وانقطعت السبل، فادع الله يمسكها، فرفع رسول الله صلي الله عليه وسلم بيده وقال: (اللهمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا) فانجاب السحاب عن المدينة حتي أحدق بها كالإكليل

“Dari Anas, ia berkata: “Seorang laki-laki berdiri, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah binatang ternak telah mati (kehausan) dan jalanan telah retak-retak, maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami.” Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Allahummas qinâ, Allahummas qinâ, Allahummas qinâ” (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami).”

Anas berkata: “Demi Allah, kami tidak melihat awan mendung, gumpalan awan, dan sesuatu pun di langit, lalu muncullah awan mendung hitam dari belakang bukit Sala’ seperti lingkaran bergigi. Ketika awan hitam sampai di tengah dan menyebar, hujan turun sampai hari Jumat.

Kemudian laki-laki (yang sama) berkata: “Wahai Rasulullah, harta benda telah hancur, dan jalanan terputus (karena banjir), maka berdoalah kepada Allah agar menghentikan hujan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya dan berdoa: “Allahumma hawâlaynâ wa lâ ‘alainâ” (Ya Allah, [tunrunkanlah hujan] di sekeliling kami, bukan [azab] atas kami).” Kemudian awan mendung (mendadak) hilang dari (langit) Madinah sehingga (hanya) mengelilinginya seperti mahkota.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, h. 173)

Dalam riwayat di atas, seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah tentang banyaknya ternak yang mati dan memintanya untuk berdoa. Namun, ia hanya meminta diturunkannya hujan tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti banjir dan lain sebagainya. Karena kekurangannya akan sesuatu, membuatnya fokus akan sesuatu itu saja, dalam hal ini adalah air hujan. Sehingga ketika bencana lain muncul akibat hujan yang tak kunjung reda, ia kembali meminta Rasulullah untuk berdoa. Dan dengan senang hati Rasulullah berdoa kepada Allah meminta hujan dihentikan.

Dari dua riwayat di atas, kita sedang diajari bahwa doa sebaiknya disertai dengan kesabaran, agar kita dapat memahami pentingnya keseimbangan dalam segala sesuatu. Dalam arti, tidak mengeluh berlebihan sampai marah, dan tidak senang berlebihan sampai lalai. Agar pikiran kita masih bisa memandang luas, sehingga fokus kita tidak hanya pada kekurangan yang sedang menimpa kita saja, tapi bagaimana caranya agar pemenuhan kekurangan kita dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyebabkan munculnya sisi buruk lain. Karena itu, kesabaran dan kepasrahan harus selalu menjadi pijakan dalam berdoa dan usaha dalam mencari solusi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan riwayat di atas, sedang mengingatkan kita bahwa keluhan tanpa kesabaran bisa menjadi bencana. Kita tahu, manusia selalu mengharapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. Ketika hari sangat panas, mereka meminta mendung; ketika jemuran tak kunjung kering, mereka meminta panas, dan seterusnya. Padahal, keberlebihan akan sesuatu memiliki konsekuensinya sendiri. Konsekuensi yang harus ditanggung dari hujan yang terus-menerus turun adalah banjir. Artinya, kelebihan maupun kekurangan air sama-sama bisa menjadi bencana. Bahkan di titik tertentu, kelebihan lebih berbahaya dari kekurangan.

Karena itu, Rasulullah mengingatkan kita bahwa bencana atau paceklik bukan melulu soal tidak adanya hujan, tapi ketidak-mampuan kita mengelola air juga bencana. Artinya, di saat persediaan air melimpah, kita lalai, dan di saat persediaan air menipis, kita mengeluh. Pertanyaannya, sudahkah keluhan kita berubah menjadi doa dan usaha?

Wallahu a’lam bish-shawwab…

PENYEBAB DI TERIMANYA DO’A DAN DO’A UNTUK ORANG YANG KESURUPAN

DO’A UNTUK ORANG KESURUPAN

Kesurupan atau masru’ sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Lembaga pendikan juga dayah (pesantren) terlebih bagi santriwati, itu terjadi semua akibat ulah mereka yang benci terhadap tegaknya agama Allah SWT, mereka yang menginginkan ilmu agama ini pudar ditelan masa sehingga berhujung dengan jahilnya manusia.

Pertanyaan :

Apa ada semacam doa yang dapat menyembuhkan dikala seseorang mengalami masru’ (kesurupan) ?

Jawaban :

Doa buat orang kesurupan menurut kitab I’anatut Thalibin karya Syekh Sayyid Bakr Syata :

    Azan di telinga orang kesurupan 7 x

    Membaca surah Al fatihah 7 x

    Ma’uzatain (surat Al falaq dan An nas) 7 x

    Membaca ayat Al kursi dan surat At thariq

    Akhir surat Al hasyr.

    Akhir surat Assaffat.

Referensi:

I’anatut Thalibinn juz 1 hal 267

(فائدة)

 من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر من * (لو أنزلنا هذا القرآن) * إلى آخرها، وآخر سورة الصافات من قوله: * (فإذا نزل بساحتهم) * إلى آخرها.

وإذا قرئت آية الكرسي سبعا على ماء ورش به وجه المصروع فإنه يفيق

 

Beberapa Sebab Mustajabahnya Do’a menurut Sayyid Muhammad Alawy al Maliky

Berdo’a merupakan solusi dari sebuah masalah, ketenangan dalam segala gangguan dan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Dalam berdoa, seseorang mencari keadilan pada Tuhan-nya atas segala perkara yang menimpanya.

Dengan berdoa seseorang berharap masalah yang menimpanya segera selesai, dan apa yang diinginkannya dikabulkan. Namun, hal demikan bukan perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Semua doa akan diterima walau dengan bentuk yang berbeda, seperti diampuni dosa, bertambah rezeki dan lain sebagainya.

Salah satu yang sangat harus diperhatikan dalam berdoa adalah adab dan ketentuan berdoa. Karena adab akan sangat berpengaruh kepada diterima dan ditolaknya doa.

Berikut ini akan dijelaskan adab-adab dalam berdoa sebagaimana di kutip dari Sayyid Muhammad Alawy dalam kitab beliau Duru’l Waqiyyah Ba Hazbul Mahiiyah pada halaman 11, karena dengan memperhatikan adab dan ketentuan berdoa, kita berharap doa akan lebih dekat untuk diterima.

  1. Mencari waktu yang tepat sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Nabi saw dalam beberapa hadis seperti hari Arafah dalam setahun, bulan Ramadhan, hari jumat dalam seminggu dan waktu sahur di penghujung malam.
  2. Mengintip dan mencari-cari dalam keadaan yang mulia, seperti merangkak dalam saf peperangan pada jalan Allah, ketika turun hujan, ketika iqamah adzan shalat lima waktu, sesudah bershalawat, di antara azan dan iqamah dan pada saat berpuasa, karena banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang menunjukan kepada mulianya waktu-waktu di atas dan dianjurkan untuk berdoa saat itu.
  3. Menghadap kiblat, mengangkat dua tangan sehingga terlihat putih dari bathin tangan, karena Itba’ (mengikuti apa yang nabi saw lakukan) dan mengusapkannya kepada wajah saat selesai. Tidak boleh mengangkat wajah dan melihat langit, karena ada larangan kepada hal tersebut.
  4. Meringankan suara saat ketakutan dan mengeraskannya saat tidak ketakutan, karena ada perintah kepada demikian pada ayat dan hadits.
  5. Tidak memberatkan diri menggunakan bahasa yang puitis dalam berdoa, seperti menyusun doa yang mirip syair yang huruf ujungnya sama. Melakukan hal seperti ini boleh, tetapi jangan berlebihan. Karena ini merupakan satu anugerah dari Allah swt seperti yang telah dilakukan Rasulluah saw dan sebagian ulama ‘Arif billah.
  6. Merendahkan diri baik anggota lahir maupun bathin, penuh rasa harap.
  7. Yakin dengan yang di doakan, yakin diterima dan membenarkan harapan.
  8. Tegas dalam berdo’a dan mengulangnya sampai tiga kali.
  9. Membuka dan menutup doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada nabi saw.

    Dan terakhir adab bathin, yaitu: Taubat dari segala dosa, meminta maaf atas kedzaliman dan menghadap kepada Allah swt dengan penuh kesungguhan.

Demikian merupakan sebab yang paling ampuh untuk diterimanya doa.

Wallahua’lam.

INILAH AMALAN AGAR KITA DI PANGGIL ALLOH SWT MELAKSANAKAN IBADAH HAJI

Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafal “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”.  KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. (Istahiyyah)

*) Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi

DO’A DI AWAL RAMADHAN DARI SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANY RAH.

Berikut adalah Do’a Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA Yang Biasa Dibaca oleh Hadhrotus Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqy RA Untuk Menyambut Bulan Romadhon :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الصِّيَامِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقِيَامِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاِيْمَانِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقُرْأَنِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاَنْوَارِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالْغُفْرَانِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاتِ مِنَ الدَّرَكَاتِ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ التَّائِبِيْنَ الْعَابِدِيْنَ.

اَلسَّلاََمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْعَارِفِيْنَ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمُجْتَهِدِيْنَ.

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلأَمَانِ. كُنْتِ لِلْعَاصِيْنَ حَبْسًا وَلِلْمُتَّقِيْنَ اُنْسًا.

اَلسَّلاَمُ عَلَى اْلقَنَادِيْلِ وَالْمَصَابِيْحِ الزَّاهِرَةِ. وَالْعُيُوْنِ السَّاهِرَةِ. وَالدُّمُوْعِ الْهَاطِلَةِ. وَالْمَحَارِيْبِ الْمُتَعَطِّرَةِ. وَاْلعَبَرَاتِ الْمُنْسَكِبَةِ الْمُتَفَطِّرَةِ. وَاْلاَنْفَاسِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْقُلُوْبِ الْمُحْتَقِرَةِ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ قَبِلْتَ صِيَامَهُمْ وَصَلاَتَهُمْ وَبَدَّلْتَ سَيِّئاَتِهِ بِحَسَنَاتِهِ. وَاَدْخَلْتَهُ بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِكَ. وَرَفَعْتَ دَرَجَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.

“Salam bagimu wahai bulan Romadhon.

Salam bagimu wahai bulan qiyam (bulan untuk mendirikan sholat tarawih).

Salam bagimu wahai bulan iman.

Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an.

Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya.

Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan.

Salam bagimu wahai bulan (untuk menaikkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah.

Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah.

Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang ma’rifat. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh-sungguh.

Salam bagimu wahai bulan yang aman. Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan kesenangan bagi orang-orang yang bertakwa.

Salam bagi pelita yang bersinar, mata-mata yang terjaga, airmata yang terus menetes, mihrab-mihrab yang semerbak mewangi, airmata yang tumpah, dan nafas-nafas yang naik dari hati yang hina.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan sholatnya, yang Engkau ganti kejelekannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Asih.”

*Doa ini biasa dibaca hadhrotus Syaikh pada malam tanggal 1 Romadhon ba’da maghrib, dengan model talqin (Beliau membaca beberapa kalimat, lalu ditirukan oleh jamaah). Dinukil dari Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA.

Wallohu a’lam

SHOLAWAT BAHRIYAH AL-KAMILATID DA-IMAH (SHOLAWAT MULTIFUNGSI)


صلواة بحرية الكاملة الدائمة
SHOLAWAT BAHRIYAH AL-KAAMILATID DAA-IMAH (SHOLAWAT MULTIFUNGSI)
.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً دَائِمَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَجْوَدِ ، وَبَحْرِ أَنْوَارِكَ ، وَمَعْدَنِ أَسْرَارِكَ ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ ، الْمُتَلَذِّذِ بِمُشَاهَدَتِكَ ، إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ ، وَسَبَابِ كُلِّ مَوْجُوْدٍ ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ ، الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ ، وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ• فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ وَسَاعَةٍ ، فِى لَيْلٍ وَنَهَارٍ ، وَقِيَامٍ وَقَعُوْدٍ ، وَنَوْمٍ وَيَقْظَةٍ ، تَدُوْمُ بِدَوَامِ مُلْكِكَ يَاأَللّٰهُ ، عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُكَ ، وَعَدَدَ خَلْقِكَ ، وَرِضٰى نَفْسِكَ ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ ، وَعَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهٖ عِلْمُكَ ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ ، وَجَرٰى بِهٖ قَلَمُكَ . وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ •
صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَ بِهَا عَنِّيْ • ﺭَﺏِّ ﺃَﻭْﺯِعْنِىٓ ﺃَﻥْ ﺃَﺷْﻜُﺮَ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻚَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻭَﻋَﻠَﻰٰ ﻭَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﺃَﻥْ ﺃَﻋْﻤَﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﺗَﺮْﺿَﺎﻩُ ﻭَﺃَﺩْﺧِﻠْﻨِﻲ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺃُﻭلٰٓئِكَ ﺣِﺰْﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﺧَﺸِﻲَ ﺭَﺑَّﻪُ • ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ • ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ ۚ • ﻳَﺎ ﺃَﻳَّﺘُﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻤَﺌِﻨَّﺔُ • ﺍﺭْﺟِﻌِﻲ ﺇِﻟَﻰٰ ﺭَﺑِّﻚِ ﺭَﺍﺿِﻴَﺔً ﻣَّﺮْﺿِﻴَّﺔً • ﻓَﺎﺩْﺧُﻠِﻲ ﻓِﻲ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ • ﻭَﺍﺩْﺧُﻠِﻲ ﺟَﻨَّﺘِﻲْ •
صَلَاةً تُطْمَئِنُّ وَتُخَلِّصُ وَتُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِيْ وَعَقْلِيْ وَفِكْرِيْ • ﺑَﻠٰﻰ ﺇِﻥْ ﺗَﺼْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻭَﻳَﺄْﺗُﻮﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻮْﺭِﻫِﻢْ ﻫٰﺬَﺍ ﻳُﻤْﺪِﺩْﻛُﻢْ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺑِﺨَﻤْﺴَﺔِ ﺁﻻَﻑٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻼَٓﺋِﻜَﺔِ ﻣُﺴَﻮِّﻣِﻴْﻦَ • ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻠَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑُﺸْﺮَﻯٰ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻟِﺘَﻄْﻤَﺌِﻦَّ ﻗُﻠُﻮﺑُﻜُﻢْ ﺑِﻪِ ۗ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟﻨَّﺼْﺮُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ • ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗُﺮِﺉَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻤِﻌُﻮْﺍ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﻧﺼِﺘُﻮْﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮْﻥَ • ﻭَﺍﺫْﻛُﺮْ ﺭَّﺑَّﻚَ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﺗَﻀَﺮُّﻋﺎً ﻭَﺧِﻴْﻔَﺔً ﻭَﺩُﻭْﻥَ ﺍﻟْﺠَﻬْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﺑِﺎﻟْﻐُﺪُﻭِّ ﻭَﺍﻵﺻَﺎﻝِ ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻦْ ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ • ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﺰَّﻝَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎۢ مُتَشَاﺑِﻬًﺎ ﻣَﺜَﺎﻧِﻲَ ﺗَﻘْﺸَﻌِﺮُّ ﻣِﻨْﻪُ ﺟُﻠُﻮﺩُ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗَﻠِﻴْﻦُ ﺟُﻠُﻮْﺩُﻫُﻢْ ﻭَﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰٰ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻫُﺪَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺑِﻪٖ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎءُ •
ُ
صَلَاةً تُشْرِحُ بِهَا صَدْرِيْ ، وَتَكْشِفُ بِهَا فُؤَادِيْ وَبَصَرِيْ وَنَظَرِيْ ، وَتُنْجِى بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأٓفَاتِ • ﺭَﺏِّ ﺍﺷْﺮَﺡْ ﻟِﻲْ ﺻَﺪْﺭِﻱْ • ﻭَﻳَﺴِّﺮْ ﻟِﻲْ ﺃَﻣْﺮِﻱْ • ﻭَﺍﺣْﻠُﻞْ ﻋُﻘْﺪَﺓً ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻲْ • ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻟِﻲْ • ﺃَﻓَﻤَﻦْ ﺷَﺮَﺡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻَﺪْﺭَﻩُ ﻟِﻠْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻧُﻮﺭٍ ﻣِّﻦْ ﺭَّﺑِّﻪِۦ • ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺧْﺮَﺟَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﺑُﻄُﻮْﻥِ ﺃُﻣَّﻬَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺄَﺑْﺼَﺎﺭَ ﻭَﺍﻟْﺄَﻓْﺌِﺪَﺓَ ۙ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ •
صَلَاةً تَفْتَحُ لِيْ بِهَا جَمِيْعَ الْعَالَمِ وَالْحِجَابِ وَالسِّتْرِ ، وَتَنْزِعُ الْحِجَابَ وَالسِّتْرَ مِنِّيْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ، بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ ، وَبَيْنِيْ وَبَيْنَ خَلْقِكَ أَجْمَعِيْنَ ، حَتَّى أُشَاهِدَ بِهَا عَجَائِبَ الْمَلَكُوْتِ ، وَأَسْتَجْلِيَ بِهَا عَرَائِسَ الْجَبَرُوْتِ ، وَأَسْتَمْطِرَ بِهَا غُيُوْثَ الرَّحَمُوْتِ ، وَأَرْتَضِ بِهَا عَنْ عِلَاقَةِ نَاسُوْتِ الْبَهَمُوْتِ ، يَالَهُوْتَ كُلِّ نَاسُوْتِ يَاأَللّٰهُ • ﺃَﻟَﻢْ ﻧَﺸْﺮَﺡْ ﻟَﻚَ ﺻَﺪْﺭَﻙَ • ﻭَﻭَﺿَﻌْﻨَﺎ ﻋَﻨْﻚَ ﻭِﺯْﺭَﻙَ • ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﻘَﺾَ ﻇَﻬْﺮَﻙَ • ﻭَﺭَﻓَﻌْﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻙَ • ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ • ﺇِﻥَّ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًﺍ • وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ إِلَّا بُشْرٰى وَ لِتَطْمَئِنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۚ وَ مَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۚ إِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ • ﺇِﺫْ ﻳُﻐَﺸِّﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﻨُّﻌَﺎﺱَ ﺃَﻣَﻨَﺔً ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎٓﺀِ ﻣَﺎٓﺀً ﻟِﻴُﻄَﻬِّﺮَﻛُﻢْ بِهِۦ ﻭَﻳُﺬْﻫِﺐَ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺭِﺟْﺰَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻭَﻟِﻴَﺮْﺑِﻂَ ﻋَﻠٰﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖَ ﺑِﻪِ ﺍﻷﻗْﺪَﺍﻡَ • إِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوْاۚ •
صَلَاةً تَجْتَمِعُ لِيْ وَتُعْطِى بِهَا جَمِيْعَ الْخَيْرِ وَ الْفَضَائِلِ وَالْكَمَالِ ، وَتَرْزُقَنِيْ مِنْ حَيْثُ لاَ أَحْتَسِبُ ، وَأَنْ تَجْعَلَنِيْ بِهَا كَبِيْرًا بِالْعِلْمِ وَالْعِرْفَانِ ، بِأَسْرَارِ وَحْدَتِكَ فِى جَمِيْعِ الْأَزْمَانِ ، وَارْزُقْنِيْ فَتْحًا جَامِعًا وَنُوْرًا لَامِعًا وَسَمْعًا سَامِعًا ، حَتَّى لَا أَسْمَعَ إِِلَّا مِنْكَ ، وَلَا أَقُوْلُ إِِلَّا عَنْكَ ، وَلَا أَسْكُنُ إِِلَّا إِِلَيْكَ ، فَأَنْتَ الْمَوْجُوْدُ بِكُلِّ مَكَانٍ ، وَالْمَعْبُوْدُ بِكُلِّ لِسَانٍ فِى كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ • ﻭَﻳُﺮِﻳْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻊَ ﺩَﺍﺑِﺮَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳْﻦَ • ﻟِﻴُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﻳُﺒْﻄِﻞَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥَ • ﺇِﺫْ ﺗَﺴْﺘَﻐِﻴْﺜُﻮْﻥَ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺎﺏَ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻧِّﻲْ ﻣُﻤِﺪُّﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻟْﻒٍ ﻣِﻦَ ﺍلْمَلَآﺋِﻜَﺔِ ﻣُﺮْﺩِﻓِﻴْﻦَ • ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَّﻪُ ﻣَﺨْﺮَﺟًﺎ • ﻭَﻳَﺮْﺯُﻗْﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑَﺎﻟِﻎُ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ۚ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْﺭًﺍ • ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِۦﻳُﺴْﺮًﺍ •
صَلَاةً تَغْفِرُ بِهَا خَطِيْأَتِ وَذُنُوْبِيْ ، وَتَدْفَعُ لِيْ بِهَا السِّحْرَ وَالْأَعْدَاءَ ، وَتُسَلِّمُنِيْ بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَمْرَاضِ وَالْغَلَاءِ وَالْبَلَاءِ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲْ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻘُﻮْﻡُ ﺍﻟْﺤِﺴَﺎﺏُ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَﺎٓ ﺇِﻥْ ﻧَّﺴِﻴْﻨَﺎٓ ﺃَﻭْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﻧَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﻤِﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎٓ ﺇِﺻْﺮًﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺣَﻤَﻠْﺘَﻪُۥ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻨَﺎ ۚ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺤَﻤِّﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻃَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﻪِۦ ۖ ﻭَﭐﻋْﻒُ ﻋَﻨَّﺎ ﻭَﭐﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﭐﺭْﺣَﻤْﻨَﺎٓ ۚ ﺃَﻧﺖَ ﻣَﻮْلٰنَا ﻓَﭑﻧﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﭐﻟْﻘَﻮْﻡِ ﭐﻟْﻜَٰﻔِﺮِﻳْﻦَ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻨَﺎ ﻭَﺇِﺳْﺮَﺍﻓَﻨَﺎ فِىٓ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻭَﺛَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻨَﺎ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻹﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮْﻧَﺎ ﺑِﺎْﻹﻳْﻤَﺎﻥِ ﻭَﻻَ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻓِﻲْ ﻗُﻠُﻮْﺑِﻨَﺎ ﻏِﻼًّ ﻟِﻠَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺀُﻭْﻑٌ ﺭَﺣِﻴْﻢٌ • ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻭَﺍﺭْﺣَﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ • ﺫَٰﻟِﻚَ ﺃَﻣْﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺰَﻟَﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﻜَﻔِّﺮْ ﻋَﻨْﻪُ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻪِۦﻭَﻳُﻌْﻈِﻢْ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮًﺍ • رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ هَبْ لِيْ مُلْكًا لَا يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ • ﺳَﻠَٰﻢٌ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِّﻦْ ﺭَّﺏٍّ ﺭَّﺣِﻴْﻢٍ •
صَلَاةً تَحُلُّ بِهَا عُقْدَتِيْ ، وَتُفَرِّجُ بِهَا كُرْبَتِيْ ، وَتُنَالُ بِهَا رَغَائِبِيْ ، وَحُسْنُ خَوَاتِمِيْ ، وَتَنْفَعُ بِهَا عُلُوْمِيْ ، وَتَقْضِ بِهَا حَوَائِجِيْ ، وَتَرْفَعُ بِهَا دَرَجَتِيْ ، وَتَهْدِيْ بِهَا قَوْمِيْ ، وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا عُلُوْمًا لَدُنِّيًا ، وَتُقَوِّ بِهَا جَنَانِيْ وَعَزْمِيْ ، وَتُسْرِعُ بِهَا فَهْمِيْ • ِ ﺃَلَا ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖُ ﻭَﺍﻷَﻣْﺮُ ۗ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ • ﺍﺩْﻋُﻮﺍْ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮُّﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔًۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ • ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۖ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ شَيْئٍ ﻋَﻠِﻴﻢٌ •
صَلَاةً تَجْعَلُنِيْ بِهَا الْإِسْتِقَامَةَ ، وَتُكْرِمُنِيْ بِهَا بِالسَّعَادَةِ وَالْكَرَامَةِ مَعَ ذُرِّيَتِيْ ، وَتُكْثِرُ بِهَا أَمْوَالِيْ وَأَصْحَابِيْ وَتَلَامِذِيْ وَأَتْبَاعِيْ وَأَضْيَافِيْ ، وَتَسْتَقِيْمُ بِهَا حَالِيْ ، وَتَرْزُقُنِيْ يَاأَللّٰهُ بِهَا تَمَامَ رِضْوَنِكَ وَرَحْمَتِكَ وَنِعْمَتِكَ وَعِنَايَتِكَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْأٓخِرَةِ • ﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺇِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻦُ • ﺍﻫْﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘِﻴْﻢَ • ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺃَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻏَﻴْﺮِ ﺍْﻟﻤَﻐْﻀُﻮْﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَلَآ ﺍﻟﻀَّﺎٓﻟِّﻴْﻦَ • ﻭَﺃْﻣُﺮْ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﺑِﺎﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺍﺻْﻄَﺒِﺮْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ۖ ﻟَﺎ ﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﺭِﺯْﻗًﺎ ۖ ﻧَّﺤْﻦُ ﻧَﺮْﺯُﻗُﻚَ ۗ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻗِﺒَﺔُ ﻟِﻠﺘَّﻘْﻮَﻯٰ •
صَلَاةً تَجُرُّ بِهَا الْأَمْوَالَ وَالْفُلُوْسَ وَالْمَطْعُوْمَةَ وَالْمَلْبُوْسَ وَالْمَرْكُوْبَ ، مِنْ كُلِّ جِهَّةٍ فِى أَيِّ وَقْتٍ وَسَاعَةٍ بِعَدَادِ النَّفَسِ وَالنُّفُوْسِ ، وَبَارِكْ لِيْ فِى رِزْقِيْ وَعُمْرِيْ وَحَيَاتِيْ • ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯٰ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ • ﻟِﻴُﻨْﻔِﻖْ ﺫُﻭْ ﺳَﻌَﺔٍ ﻣِّﻦْ ﺳَﻌَﺘِﻪِ ۖ ﻭَﻣَﻦْ ﻗُﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭِﺯْﻗُﻪُ ﻓَﻠْﻴُﻨْﻔِﻖْ ﻣِﻤَّﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۚ ﻟَﺎ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻫَﺎ ۚ ﺳَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻋُﺴْﺮٍ ﻳُﺴْﺮًﺍ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺃَﺗْﻤِﻢْ ﻟَﻨَﺎ ﻧُﻮْﺭَﻧَﺎ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰٰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎٓ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧﺖَ ﭐﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﭐﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ • ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﭐﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣُﺴْﻠِﻤَﻴْﻦِ ﻟَﻚَ ﻭَﻣِﻦْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻨَﺎٓ ﺃُﻣَّﺔً ﻣُّﺴْﻠِﻤَﺔً ﻟَّﻚَ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﻣَﻨَﺎﺳِﻜَﻨَﺎ ﻭَﺗُﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎٓ ۖ ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﭐﻟﺘَّﻮَّﺍﺏُ ﭐﻟﺮَّﺣِﻴْﻢُ • بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ • آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ • ﺇِﻧَّﻤَﺎٓ ﺃَﻣْﺮُﻩُۥٓ ﺇِﺫَﺍٓ ﺃَﺭَﺍﺩَ شَيْئًاﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮْﻝَ ﻟَﻪُۥ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮْﻥُ • ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺑِﻴَﺪِﻩٖ ﻣَﻠَﻜُﻮْﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮْﻥَ •
************************************************

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
Allohumma sholli sholaatan kaamilatan da-imatan, wa sallim salaaman taamman, wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, nuuril-ajwadi, wa bahri anwaarika, wa ma’dani asroorika, wa lisaani hujjatika, wa ‘aruusi mamlakatika, wa imaami hadrotika, wa thiroozi mulkika, wa khozaa-ini rohmatika, wa thoriiqi syarii’atika, al-mutaladz-dzidzi bi musyaahadatika, insaani ‘ainil-wujuudi, wa sabaabi kulli maujuudin, ‘aini a’yani kholqika, al-mutaqoddimi min nuuri dliyaa-ika (dibaca: diyaa-ika), wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin. Fii kulli lamhatin wa nafasin wa saa’atin, fii lailin wa nahaarin, wa qiyaamin wa qu’uudin, wa naumin wa yaqdzotin, taduumu bi dawaami mulkika yaa Allah, ‘adada maa wasi’ahu ‘ilmuka, wa ‘adada kholqika, wa ridloo nafsika, wa zinata ‘arsyika, wa midaada kalimaatika, wa ‘adada maa ahaatho bihii ‘ilmuka, wa ahshoohu kitaabuka, wa jaroo bihii qolamuka. Watammat kalimatu Robbika shidqow wa ‘ad-laa, laa mubaddila likalimaatihi, wahuwas-samii’ul-‘aliim.
1- Sholaatan turdliika (dibaca: turdika) wa turdliihi (dibaca: wa turdiihi) wa tardlo bihaa ‘annii.
Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakal-latii an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardloohu wa adkhilnii BIROHMATIKA fii ‘ibaadikas-shoolihiin. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, ulaa-ika hizbullooh, alaa inna hizballoohi humul-muflihuun. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, dzalika liman khosyiya Robbah. Rodliyallaahu ‘anhum wa rodlu ‘anhu, dzaalikal-fauzul ‘adhiim. Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodliitu lakumul-islaama diina. Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah, irji’ii ilaa Robbiki rodliyatam-mardliyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii.
2- Sholaatan tuthmainnu wa-tukhollishu wa-tunawwiru bihaa qolbii, wa-‘aqlii, wa-fikrii. Balaa intashbiruu wa-tattaquu wa-ya’tuukum mim-faurihim haadzaa yumdidkum Robbukum bi-khomsati aalaafim-minal-Malaaikati musawwimiin. Wamaa ja’alahul-loohu illaa busyroo lakum wa litathmainna quluubukum bih,wa man nashru illaa min ‘indillaahil-‘aziizil-hakiim. Wa idzaa quri-al-qur,aanu fastami’uu lahuu wa anshituu la’allakum turhamuun. Wadzkur-Robbaka fii nafsika tadlorru’aw – wakhiifataw – waduunal-jahri minal-qouli bil-ghuduwwi wal-aashooli walaa takum – minal – ghoofiliin. Alloohu nazzala ahsanal-hadiitsi kitaabam – mutasyaabiham matsaaniya taqsya’irru minhu juluudul-ladziina yakhsyauna Robbahum tsumma taliinu juluuduhum wa quluubuhum ilaa dzikrillaah, dzaalika hudalloohi yahdii bihii may-yasya-u.
3- Sholaatan tusyrihu bihaa shodrii, wa taksyifu bihaa fu-aadii wa bashorii wa nadzorii, wa tunji bihaa min jamii’il-ahwaali wal-aafaati. Robbisy-rohlii shodrii. Wa yassirlii amrii. Wahlul – ‘uqdatam – min lasaanii. Yafqohuu qoulii. Afaman syarohal-loohu shodrohuu lil-islaami fahuwa ‘alaa nuurim – mir-Robbihi. Walloohu akhrojakum mim-buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syai-aw – wa ja’ala lakumus-sam’a wal-abshooro wal-af-idata la’allakum tasykuruun.
4- Sholaatan taftahulii bihaa jamii’al-‘aalami wal-hijaabi was-sitri, wa tanzi’ul-hijaaba was-sitro minnii dhoohiron wa baathina, bainii wa bainaka, wa bainii wa baina kholqika ajma’iin, hatta usyaahida bihaa ‘ajaa-ibal – Malakuut, wa astajliya bihaa ‘aroo-isal – jabaruut, wa astamthiro bihaa ghuyuutsar-rohamuut, wa artadli bihaa ‘an ‘ilaaqoti naasuutil bahamuut, yaa lahuuta kulli naasuuti yaa Allah. Alam nasyroh laka shodrok. Wa wadlo’naa ‘angka wizrok. Alladzii angqodlo dzohrok. Wa rofa’naa laka dzikrok. Fa-inna ma’al-‘usri yusroo. Inna ma’al-‘usri yusroo. Wamaa ja’alahul-loohu illaa busyroo wa litathma-inna bihii quluubukum, wa man nashru illaa min ‘indillaah, innal-looha ‘aziizun hakiim. Idz yughosysyiikumun – nu’aasa amanatam-minhu wa yunazzilu ‘alaikum minas-samaa-i maa-al -liyuthohhirokum bihii wa yudz_hiba ‘angkum rijzasy-syaitooni wa liyarbitho ‘alaa quluubikum wa yutsabbita bihil-aqdaam. Idz yuuhii Robbuka ilal-Malaa_ikati annii ma’akum fatsabbitul – ladziina aamanuu.
5- Sholaatan tajtami’u lii wa tu’thii bihaa jamii’al-khoiri wal-fadllo_ili wal-kamaal, wa tarzuqonii min haitsu laa ahtasib, wa antaj’alanii bihaa kabiirom bil’ilmi wal-‘irfaan, bi_asroori wahdatika fii jamii’il-azmaan, warzuqnii fat_han jaami’aw – wa nuurol -laami’aw – wa sam’an saami’a. Hattaa laa asma’a illaa mingka, walaa aquulu illaa ‘angka, walaa askuunu illaa ilaika, fa_antal – maujuudu bikulli makaan, wal-ma’buudu bikulli lisaanin fii kulli makaaniw – wazamaan. Wa yuriidul-loohu ay-yuhiqqol-haqqo bikalimaatihi wa yaqtho’a daabirol-kaafiriin. Liyuhiqqol – haqqo wa yubthilal – baathila walau karihal-mujrimuun. Idz tastaghiitsuuna Robbakum fas-tajaaba lakum annii mumiddukum bi alfim minal-Malaa_ikati murdifiin. Wa may-yattaqil-laaha yaj’al-lahuu makhrojaa. Wa yarzuq-hu min haitsu laa yahtasib, wa may-yatawakkal ‘alalloohi fahuwa hasbuhu, innal-looha baalighu amrih, qod ja’alal-loohu likulli syay_ing qodroo. Wa may-yattaqillaaha yaj’al-lahuu min amrihii yusroo.
6- Sholaatan taghfiru bihaa khothii_ati wa dzunuubi, wa tadfa’ulii bihas-sihro wal-a’daa_a, wa tusallimunii bihaa min jamii’il-amroodli wal-gholaa_i wal-balaa_i. Robbanagh_firlii wa liwaalidayya wa lilmu’miniina yauma yaquumul-hisaab. Robbanaa laa tu_aakhidznaa in-nasiinaa au akhtho’naa, Robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishrong kamaa hamaltahuu ‘alal-ladziina ming qoblinaa, Robbanaa walaa tuhammilnaa maa-laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa waghfir-lanaa war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin. Robbanagh_fir lanaa dzunuubanaa wa isroofanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin. Robbanagh_fir lanaa wa li-ikhwaaninaal-ladziina sabaquuna bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillal-lilladziina aamanuu Robbanaa innaka Rouufur-Rohiim. Robbigh_fir warham wa anta khoirur-roohimiin. Dzaalika amrul-loohi anzalahuu ilaikum, wa may-yattaqil-laaha yukaffir ‘anhu sayyi_aatihii wa yu’dzim lahuu ajroo. Robbighfirlii wa hablii mulkal – laa yambaghii li-ahadim mim-ba’dii innaka antal-wahhaab. Salaamung qoulam mir-Robbir-Rohiim.
7- Sholaatan tahullu bihaa ‘uqdatii, wa tufarriju bihaa kurbatii, wa tunaalu bihaa roghoo_ibii, wa husnu khowaatimii, wa tamfa’u bihaa ‘uluumii, wa taqdli bihaa hawaa_ijii, wa tarfa’u bihaa darojatii, wa tahdii bihaa qoumii, wa tul_himunii bihaa ‘uluumal-ladunniyaa, wa tuqowwi bihaa janaanii wa ‘azmii, wa tusri’u bihaa fahmii. ALAA lahul-kholqu wal-amru, tabaarokal-loohu Robbul ‘aalamiin. Ud_’uu Robbakum tadlorru’aw wa-khufyatan innahuu laa yuhibbul-mu’tadiin. Wattaqul-looha wa yu’allimukumul-looh, wal-loohu bikulli syay-in ‘aliim.
8- Sholaatan taj’alunii bihal-istiqoomah, wa tukrimunii bihaa bis-sa’aadati wal-karoomati ma’a dzurriyatii, wa tuktsiru bihaa amwaalii wa ash_haabii wa talaamidzii wa atbaa’ii wa adl_yaafii, wa tastaqiimu bihaa haalii, wa tarzuqunii yaa Allah bihaa tamaama Ridl_waanika wa Rohmatika wa ni’matika wa ‘inaayatika fid-diini wad-dun_yaa wal-aakhiroh. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shiroothol-mustaqiim. Shiroothol-ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdluubi ‘alaihim waladl-dloolliin. Wa’mur ahlaka bish-sholaati wash-thobir ‘alaihaa, laa nas_aluka rizqoo, nahnu narzuquk, wal-‘aaqibatu lit-taqwaa.
9- Sholaatan tajurru bihal-amwaala wal-fuluusa wal-math_’uumat wal-malbuusa wal-markuuba, ming-kulli jihhatin fii ayyi waqtin wa saa’atin bi_’adaadin-nafasi wan-nufuusi, wa baarik-lii fii rizqii wa ‘umrii wa hayaatii. Walau anna ahlal-qoroo aamanuu wat-taqou lafatahnaa ‘alaihim barokaatim minas-samaa_i wal-ardli. Liyumfiq dzuu sa’atim min sa_’atih, wa mang_qudiro ‘alaihi rizquhuu fal-yumfiq mimmaa aataahul-looh, laa yakalliful-loohu nafsan illaa maa aataahaa, sayaj’alul-loohu ba’da ‘usriy – yusroo. Robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa, innaka ‘alaa kulli syay-ing qodiir. Robbanaa taqobbal-minnaa, innaka antas-samii’ul-‘aliim. Robbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatam muslimatal-laka wa arinaa manaasikanaa watub ‘alainaa, innaka antat-tawwaabur-rohiim. Birohmatika yaa ar_hamar-roohimiin. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. Innamaa amruhuu idzaa arooda syaian ay-yaquula lahuu kumfayakuun. Fasub_haanal-ladzii biyadihii malakuutu kulli syay-iw wa ilaihi turja’uun
.
Artinya:
Ya Allah, semoga sholawat dan salam yang sempurna serta keberkahan yang abadi selalu dilimpahkan kepada MUHAMMAD junjungan kami, yang menjadi cahaya terbaik, samudera cahaya-Mu, tambang rahasia-Mu, penyampai hujjah-Mu, singgasana kerajaan-Mu, imam hadrat-Mu, bingkai kerajaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syariat-Mu, yang diberi kelezatan menyaksikan-Mu, manusia yang dituankan, penyebab segala yang ada, penghulu para makhluk-Mu, yang memperoleh pancaran sinar cahaya-Mu. Semoga (Sholawat, salam dan keberkahan) juga tercurah kepada seluruh keluarga dan sahabat nya, dalam setiap kedipan mata, nafas dan waktu, pada waktu malam dan siang, ketika berdiri dan duduk, ketika tidur dan jaga, yang kekal seperti kekalnya Kerajaan-Mu yaa Allah, seperti jumlah luasnya ilmu-Mu, dan jumlah makhluk-Mu, dan keridloan-Mu, dan perhiasan ‘Arasy-Mu, dan jumlah kalimat-Mu, dan segala sesuatu yang meliputi ilmu-Mu, dan hitungan kitab-Mu, dan mengalirnya tinta-Mu.
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-An’am: 115)
1- Sholawat yang Engkau ridloi dan ridlo nabi Muhammad serta menjadikan Engkau meridloiku. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Qs. An-Naml:19)
Allah ridlo terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Qs. Al-Mujaadilah: 22)
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Qs. Al-Bayyinah: 8)
Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (Qs. Al-Maaidah: 119)
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Qs. al-maaidah: 3)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (Qs. Al-Fajr: 27-30)
2- Sholawat yang menjadi penyebab tenang dan bersih serta bercahaya nya hati, akal dan fikiran.
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Aali-Imron:125-126).
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Qs. Al-A’roof: 204-205)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. (Qs. Az-Zumar: 23)
3- Sholawat yang menjadi penyebab lapangnya dadaku, tersingkap hatiku, mata bathinku dan penglihatanku, dan menjadi penyebab selamat dari segala kengerian dan penyakit.
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, (Qs. Thoha: 25-28)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (Qs. Az-Zumar: 22)
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. An-Nahl:78)
4- Sholawat yang menjadi penyebab terbuka untukku seluruh Alam, penutup dan penghalang, dan Engkau (Allah) cabut/lepas penutup dan penghalang dari dhohir dan bathinku, yang jadi penghalang antara diriku dan diri-Mu, antara diriku dan semua Makhluk-Mu, hingga aku (bisa) menyaksikan keajaiban kerajaan-(Mu), menyaksikan singgasana keagungan-(Mu), dan Engkau hujani aku dengan rahmat, serta Engkau meridloi nafsu kebinatanganku, wahai Allah Tuhan seluruh manusia.
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Qs. Al-Insyiroh: 1-6)
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Ali-Imroon: 126)
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. (Qs. Al-Anfaal: 11-12)
5- Sholawat yang menjadi penyebab di kumpulkan dan diberikan kepadaku seluruh kebaikan, keutamaan dan kesempurnaan, memberiku rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka, menjadikan aku besar dengan ilmu dan pengetahuan dengan rahasia-rahasia ke Esa-an-Mu di setiap zaman. Berilah aku rezeki terbukanya semua (rahasia), cahaya yang berkilau, dan pendengaran yang mendengar, sehingga aku tidak mendengar kecuali dari-Mu, tidak berbicara kecuali dari-Mu, dan tidak berdiam kecuali kepada-Mu. Sungguh Engkau ada di setiap tempat, dan di sembah oleh setiap lisan di setiap tempat di zaman.
Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.
(Qs. Al-Anfaal: 8-9)
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Qs. Ath-Tholaaq: 2-4)
6- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau ampuni kesalahan dan dosaku, Engkau tolak sihir dan musuhku, dan Engkau selamatkan aku dari setiap penyakit, perampok dan bencana.
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (Qs. Ibrahim: 41)
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Al-Baqoroh: 286)
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Qs. Ali-Imroon: 147)
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Hasyr: 10)
“Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik”. (Qs. Al-Mu’minuun: 118)
Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (Qs. Ath-Tholaaq: 5)
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (Qs. Shod: 35)
(Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Qs. Yaasiin: 58)
7- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau lepaskan ikatanku, di hilangkan kesusahanku, sukses cita-citaku, baik kesudahanku, manfa’at ilmuku, terpenuhi hajatku, Engkau angkat derajatku, Engkau tunjukkan kaumku, Engkau mengilhamiku ilmu Ladunni, Engkau kuatkan hati dan cita-citaku, di luaskan pemahamanku.
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Qs. Al-A’roof: 54-55)
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Baqoroh: 282)
8- Sholawat yang menjadi penyebab Engkau jadikan aku istiqomah, Engkau muliyakan aku dengan kesenangan dan martabat bersama keluargaku, banyak harta, teman, murid, pengikut, tetangga, xan Engkau luruskan hal ihwalku. Ya Allah berilah aku rezeki keridloan-Mu, rahmat-Mu, nikmat dan pertolongan-Mu yang sempurna, di dalam agama, dunia dan akhirat.
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Qs. Al-Faatihah: 5-7)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Qs. Thoha: 132)
9- Sholawat yang menjadi penyebab mengalirnya harta-benda, uang, makanan, pakaian dan kendaraan dari segala arah, di setiap waktu dan masa, sejumlah hitungan nafas dan nyawa. (Ya Allah) berkahilah rezekiku, umur dan hidupku.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, (Qs. Al-A’roof: 96)
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (Qs. Ath-Tholaaq: 7).
“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs. At-Tahriim: 8)
“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqoroh: 127-128)
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Qs. Yaasin: 82-83)

Yang ingin baca banyak cukup baca inti sholawat nya saja, yaitu:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً دَائِمَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَجْوَدِ ، وَبَحْرِ أَنْوَارِكَ ، وَمَعْدَنِ أَسْرَارِكَ ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ ، الْمُتَلَذِّذِ بِمُشَاهَدَتِكَ ، إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ ، وَسَبَابِ كُلِّ مَوْجُوْدٍ ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ ، الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ ، وَعَلٰى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ أَجْمَعِيْنَ• فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ وَسَاعَةٍ ، فِى لَيْلٍ وَنَهَارٍ ، وَقِيَامٍ وَقَعُوْدٍ ، وَنَوْمٍ وَيَقْظَةٍ ، تَدُوْمُ بِدَوَامِ مُلْكِكَ يَاأَللّٰهُ ، عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُكَ ، وَعَدَدَ خَلْقِكَ ، وَرِضٰى نَفْسِكَ ، وَزِنَةَ عَرْشِكَ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ ، وَعَدَدَ مَا أَحَاطَ بِهٖ عِلْمُكَ ، وَأَحْصَاهُ كِتَابُكَ ، وَجَرٰى بِهٖ قَلَمُكَ . صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ وَتَرْضَ بِهَا عَنِّيْ صَلَاةً تُطْمَئِنُّ وَتُخَلِّصُ وَتُنَوِّرُ بِهَا قَلْبِيْ وَعَقْلِيْ وَفِكْرِيْ

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.
Allohumma sholli sholaatan kaamilatan da-imatan, wa sallim salaaman taamman, wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, nuuril-ajwadi, wa bahri anwaarika, wa ma’dani asroorika, wa lisaani hujjatika, wa ‘aruusi mamlakatika, wa imaami hadrotika, wa thiroozi mulkika, wa khozaa-ini rohmatika, wa thoriiqi syarii’atika, al-mutaladz-dzidzi bi musyaahadatika, insaani ‘ainil-wujuudi, wa sabaabi kulli maujuudin, ‘aini a’yani kholqika, al-mutaqoddimi min nuuri dliyaa-ika (dibaca: diyaa-ika), wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin. Fii kulli lamhatin wa nafasin wa saa’atin, fii lailin wa nahaarin, wa qiyaamin wa qu’uudin, wa naumin wa yaqdzotin, taduumu bi dawaami mulkika yaa Allah, ‘adada maa wasi’ahu ‘ilmuka, wa ‘adada kholqika, wa ridloo nafsika, wa zinata ‘arsyika, wa midaada kalimaatika, wa ‘adada maa ahaatho bihii ‘ilmuka, wa ahshoohu kitaabuka, wa jaroo bihii qolamuka, sholaatan turdliika (dibaca: turdika) wa turdliihi (dibaca: wa turdiihi) wa tardlo bihaa ‘annii, sholaatan tuthma-innu wa tukhollishu wa tunawwiru bihaa qolbii wa ‘aqlii wa fikri
.
Artinya:
Ya Allah, semoga sholawat dan salam yang sempurna serta keberkahan yang abadi selalu dilimpahkan kepada MUHAMMAD junjungan kami, yang menjadi cahaya terbaik dan lautan cahaya-Mu (ya Allah), dan tempat rahasia-Mu, dan penyampai hujjah-Mu, dan pengantin milik-Mu, dan imam hadirat-Mu, dan penyulam kekuasaan-Mu, dan perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syari’at-Mu, yang diberi kelezatan menyaksikan-Mu, manusia yang dituankan, dan penyebab segala yang ada, pemimpin yang memimpin makhluk-Mu, yang (diciptakan) terdahulu dari cahaya-Mu. Semoga (Sholawat, salam dan keberkahan) juga tercurah kepada seluruh keluarga dan sahabat nya, dalam setiap kedipan mata, nafas dan waktu, pada waktu malam dan siang, ketika berdiri dan duduk, ketika tidur dan jaga, yang abadi seperti langgengnya Kerajaan-Mu yaa Allah, seperti jumlah luasnya ilmu-Mu, dan jumlah makhluk-Mu, dan keridloan-Mu, dan perhiasan ‘Arasy-Mu, dan jumlah kalimat-Mu, dan segala sesuatu yang meliputi ilmu-Mu, dan hitungan kitab-Mu, dan mengalirnya tinta-Mu. Sholawat ridlo dan di ridloi-Mu serta Sholawat yang menjadi penyebab ridlo-Mu kepada saya. Sholawat yang menjadi penyebab tenang dan bersih serta bercahaya nya hati, akal dan fikiran

1- Mengharap (agar mendapat) RIDLO Allah swt dunia akhirat,
2- Agar mendapat SYAFA’AT Rosulullah saw dhohir dan bathin,
3- Agar mendapat KETENANGAN dhohir dan bathin,
4- Agar mendapat KECERDASAN,
5- Agar mendapatkan ilmu LADUNNI,
6- Agar mudah MENDAPATKAN RIZQI,
7- Agar Agar mendapat KEBERKAHAN dhohir dan bathin,
8- Agar menjadi KAYA RAYA dhohir dan bathin,
8- Agar terkabul (tercapai) semua CITA-CITANYA,
10- Agar mendapat KESELAMATAN dhohir bathin, dunia dan akhirat,
11- Agar menjadi orang yang SUKSES,
12- Agar menjadi KASYAF dengan izin Allah,
13- Agar di AMPUNI segala dosa dan kesalahan diri sendiri,
14- Agar mendapat ROHMAT Allah,
15- Agar mendapat BANTUAN dan PERTOLONGAN Allah,
16- Agar menjadi orang yang SHOLIH
17- Agar mendapat KESENANGAN dunia akhirat,
18- Agar KUAT INGATAN,
19- Agar DI MUDAH KAN segala urusan,
20- Agar DI PERLIHATKAN KEAJAIBAN-KEAJAIBAN,
21- Agar di beri IMAN yang kuat,
22- Agar mendapatkan KEBAIKAN dan KEUTAMAAN yang banyak,
23- Agar menjadi orang yang BERTAQWA,
24- Agar do’anya ISTIJABAH (mustajab),
25- Agar TERHINDAR dari SIHIR, BENCANA dan MUSUH,
26- Agar terhindar dari PENYAKIT (parah) dan PERAMPOK (penodong),
27- Agar DI AMPUNI dosa-dosa KEDUA ORANG TUA dan seluruh MU’MININ,
28- Agar DIDAMPINGI para Malaikat,
29- Agar menjadi orang yang ISTIQOMAH,
30- Agar HUSNUL-KHOTIMAH (mati dalam keadaan baik),
31- Agar mendapatkan DERAJAT yang tinggi,
32- Agar di beri ILMU YANG BERMANFA’AT,
33- Agar masyarakat (rakyat) nya MENDAPAT HIDAYAH (petunjuk dari Allah),
34- Agar DI HILANGKAN kesusahannya,
35- Agar DI SENANGI semua orang,
36- Agar banyak SANTRI dan PENGIKUT (bagi para guru dan pemimpin),
37- Agar banyak TEMAN, dan TETANGGA,
38- Agar FASHIH (lancar) dalam membaca dan bicara,
39- Agar MA’RIFAT
40- Agar di beri KEMULYAAN hingga anak cucunya,
41- Satu kali bacaan SHOLAWAT ini, Insya Allah melebihi berbagai macam Sholawat, baik dalam Fadlilah nya, jumlah bacaan nya maupun keagungannya, dll

BERBAGAI AMALAN-AMALAN BATIN

Fadilah Kalimah Toyyibah

Hazrat ABu Hurairah r.h meriwayatkan bahawa Rasullah s.a.w. bersabda, “Sentiasalah memperbaharui iman kamu”. Para sahabat bertanya, “Bagaiman kami memperbaharui iman kami, wahai Rasullah?”. Baginda s.a.w. bersabda, “Perbanyakkan ucapan LAILAHAILLAH [Hadith riwayat imam Ahmad]

Dalam satu riwayat, baginda Rasullah s.a.w bersabda, “Iman akan lusuh seperti mana pakain menjadi lusuh. Oleh itu hendaklah kamu sentiasa memohon kepada Allah supaya Allah memperbaharui iman kamu. Maksud iman menjagi lusuh ialah dengan kemaksiatan yang dilakukan makan kekuatan iman dan nur iman akan pudar.

Oleh itu, keterangan dalam sebuah hadith bahawa apabila sesaorang hamba melakukan kemaksiatan maka lahirlah dihatinya satu tanda hitam. Sekiranya dia bertaubat dengan sebenar-benar taubat maka tanda hitam itu akan lenyap, jika tidak tanda itu akan terus kekal. Apabila dia melakukan lagi dosa yang kedua maka lahirlah tanda yang kedua dan demikianlah seterusnya sehingga hati menjadi hitam dan berkarat. Kemudian keadaan hati itu akan berubah sama sekali sehingga perkataan yang benar tidak lagi akan memberi kesan kepada hatinya.

Diterangkan dalam sebuah hadith bahawa empat perkara yang akan merosakkan hati manusia;

    Berbahas dengan orang jahil

    Melakukan banyak dosa

    Banyak bergaul dengan wanita yang bukan muhram

    Sering duduk bersama dengan orang yang mati. Baginda ditanya “Siapakah yang dimaksudkan dengan orang yang mati?” Jawab Baginda s.a.w “Setiap orang yang kaya menjadi sombong dengan hartanya.”

 

Amal Bergantung Kepada Niat

Abul Laith Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Maisarah berkata: Allah terlah berfirman: Aku tidak menerima perkataan sesaorang hakim, tetapi aku melihat tujuan dan niatnya kepada Ku, maka aku jadikan diamnya untuk berfikir dan bicaranya sebagai zikir meski pun ia tidak berkata-kata.

Aun bin Abdullah berkata: Dahulu orang-orang soleh menulis surat kepada sahabatnya tiga kalimat;

    Siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah mencukupi segala urusan dunianya.

    Dan siapa yang memperbaikki niatnya, maka Allah akan memperbaikki zahirnya.

    Dan sesiapa yang memperbaikki hubungannya dengan Allah, maka allah akan memperbaikki hubungannya dengan sesama manusia.

Nabi s.a.w bersabda: “Niat seorang mukmin lebih baik dari amal perbuatannya”

Oleh sebab itu, niat itu mendapat pahala tanpa amal, sedangkan amal tanpa niat tidak ada pahalanya.

Nabi s.a.w bersabda: ” Seorang hamba dihadapkan pada hari khiamat membawa hasanah sebesar bukit, lalu ada seruan; Siapa yang pernah di iniaya oleh Fulan boleh datang untuk dibayar. Maka datanglah beberapa orang lalu mengambil bahagiannya sehingga tiada tinggal satu pun dari hasanah yang banyak itu, sehingga hamba itu menjadi bingung, lalu tuhan berkata kepadanya: Untuk mu ada simpanan pada Ku yang tidak Aku perlihatkan kepada malaikat atau seorang pun dari makhluk Ku, lalu ia bertanya: Apakah itu. Jawab tuhan: Ia itu NIAT mu, yang kau selalu niat akan berbuat kebaikkan, Aku tulis untuk mu berlipat ganda, tujuh puluh lipat ganda.”

Seorang ‘abid Bani Israel, ketika berjalan melihat anak bukit, lalu ia ingin, andaikan bukit itu menjadi tepung, maka akan diberinya makan kepada Bani Israel yang sedang menderita kelaparan. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi ketika itu: Katakanlah kepada ‘abid itu bahawa Allah berfirman; Telah Aku tetapkan bagimu pahala sekiranya bukit itu menjadi tepung dah kamu sedekahkanya.

Juga ada riwayat:

Akan dihadapkan pada hari kiamat seorang hamba, lalu ia meihat dalam suratan amalnya ada haji, umrah, jihad, zakat dan sedekah, maka ia berkata dalam hatinya; dari mana semua itu padahal aku tidak berbuat semua itu, mungkin ini bukan suratan amalku. Maka Allah berfirman; Bacalah itu suratan mu, semasa hidupmu dulu sering berkata, andainya aku mempunya harta nescaya aku jihad. Aku mengetahui akan niatmu itu, maka Aku beri pada mu pahala semua itu.

Abu Hurairah r.a. berkata; Nabi s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa mu, dahn tidak melihat harta mu, dan tidak melihat keadaan mu, tetapi melihat amal dan hati mu.

Saat Kematian

Abu Lais meriwayakan dengan sanadnya dari Albaraa’ bin Aazib r.a. berkata: Kami bersama Nabi s.a.w. keluar menghantar jenazah seorang sahabat ansar, maka ketika sampai kekubur dan belum dimasukkan kedalam lahad, Nabi s.a.w. duduk dan kami turut duduk, diam menundukkan kepala bagaikan ada burung diatas kepala kami, sedangkan Nabi.s.a.w mengorek-ngorek dengan dahan yang ditangannya, kemudian baginda mengangkat kepala dan bersadba: “Berlindunglah kamu kepada Allah dari siksa kubur, 2 atau 3 kali diulang.” Lalu bersabda lagi…

“Sesungguhnya seorang mukmin jika akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat (akan mati), turun kepadanya malaikat yang putih-putih wajahnya bagaikan matahari, membawa kafan dari syurga, maka duduk didepannya sejauh pandangan mata mengelinginya, kemudian datang malaikat maut dan duduk dekat kepalanya dan memanggil: Wahai ruh yang tenang baik, keluarlah menuju keampunan Allah dan ridhoNya”

Nabi s.a.w. bersabda lagi: “Maka keluar rohnya mengalir bagaikan titisan dari mulut kendi, maka langsung diterima, dan langsung dimasukkan kedalam kafan dan dibawa keluar semerbak harum bagaikan kasturi yang terharum diatas bumi, lalu dibawa naik. Maka tidak memalui rombongan malaikat melainkan ditanya: Roh siapakah yang harum ini? Dijawab ruh Fulan bin Fulan, sehingga sampai kelangit, dan disana dibukakan pintu langit, dan disambut oleh penduduknya dan pada tiap langit dihantar oleh malaikat muqorrbun dibawa naik kelangit yang atas hingga sampai kelangit ketujuh.

Maka Allah berfirman: Catatlah suratannya di ILLIYIN. Kemudian dikembalikan ke bumi, sebab daripadanya Kami jadikan, dan di dalamnya Aku kembalikan dan daripadanya pula akan Aku keluarkan pada saatnya.

Maka kembalilah ruh ke jasad didalam kubur, kemudian datang kepadanya dua malaikat untuk menanya: Siapa tuhan kamu? Maka dijawabnya: Allah tuhan ku. Lalu ditanya: Apa agamamu: Dijawab: Islam agama ku. Ditanya: Bagaimana pendapat mu tentang orang yang diutuskan dikalangan kamu? Dijawab: Ia utusan Allah. Ditanya: Bagaimana kamu mengetahui itu? Dijawab: Aku membaca kitab Allah lalu percaya dan membenarkannya.

Lalu terdengar suara: Benar hambaku, maka berikan kepadanya hamparan dari Syurga serta pakain Syurga dan bukakan untuknya pintu menuju ke Syurga, supaya ia mendapat bau dan hawa syurga. Lalu diluaskan kubur sepanjang pandangan mata kemudian datang kepadanya seorang yang bagus wajahnya dan harum baunya seraya berkata: Terimalah khabar gembira, ini saat yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Lalu ia berkata: Siapakah kamu? Jawabnya: Aku, amalmu yang baik. Lalu ia berkata: Ya tuhan segerakan lah hari Khiamat supaya segara aku bertem dengan keluarga ku dan kawan-kawan ku.”

Nabi s.a.w bersabda lagi: Adapun hamba yang kafir jika akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, maka turun kepadanya malaikat dari langit yang hitam mukanya dengan berpakaian hitam. Lalu duduk dimukanya sepanjang pandangan mata. Kemudian datang malaikat maut dan duduk disamping kepalanya, lalu berkata: Hai ruh yang jahat, keluarlah menuju murka Allah. Maka tersebar disemua anggota badannya, maka terputus semua urat dan ototnya, lalu diterimanya dan dimasukkan kedalam kain hitam dan dibawa dengan bau yang sangat busuk bagaikan bangkai dan dibawa naik. Maka tidak melalui malaikat melainkan ditanya: Ruh siapakah yang jahat dan busuk itu? Dijawab: Ruh Fulan bin Fulan dengan sebutan yang sangat jijik sehingga sampai kelangit dunia maka diminta buka, tetapi tidak dibuka untuknya.

Kemudian Nabi s.a.w membaca ayat: (maksudnya..) Tidak dibukakan kepada mereka itu pintu-pintu langit dan tidak dapat masuk Syurga hingga unta dapat masukke lubang jarum.

Kemudian diperintahkan: Tulislah orang itu didalam SIJJIN kemudian dilemparkan ruhnya itu begitu saja. Kemudian dikembalikan ruh itu kedalam jasad di dalam kubur, lalu didatangi oleh dua malaikat yang menundukkannya lalu menanya: Siapa tuhan kamu? Jawabnya: Aku tidak tahu. Lalu ditanya: Apa agama mu? Jawabnya: Au tidak tahu. Lalu ditanya: Apa pendapat kamu terhadap orang diutus dikalanga kamu? Jawabnya: Aku tidak tahu.

Maka dengar seruan dari langit: Dusta hambaku, hamparkan untuknya hamparan dari Neraka dan bukakan baginya pintu Neraka. Maka terasa olehnya panas hawa neraka, dan disempitkan kuburnya sehingga terhimpit dan rusak tulang rusuknya. Kemudian datang kepadanya seorang yang buruk wajahnya dan busuk baunya berkata kepadanya: Sambutlah hari yang sangat jijik bagimu, inilah saat yang telah diperingatkan oleh Allah kepadamu. Lalu ia bertanya: Siapakah kamu? Jawabnya: Aku amalanmu yang buruk. Lalu ia berkata: Ya tuhan jangan segerakan hati khiamat, ya tuhan jangan segerakan hari khiamat.

MEMBACA AL-QUR’AN DI DEKAT KUBUR ( DIKUBURAN )

Kalau kita berbicara mengenai hal ini merupakan suatu permasalahn yang khilafiyah yaitu masih ada perbedaan pendapat di anatara para Ulama’. Ulama yang tidak memperbolehkan adanya hal itu mempunyai dalil sedangkan ulama’ yang memperbolehkannya pun mempunyai dalil dan bahkan lebih banyak. Sehingga di sini kami mencoba mengupasnya sedikit agar tidak saling menghina dan menyalahkan bahkan menganggap bid’ah sesuatu.

GOLONGAN YANG TIDAK MEMPERBOLEHKAN

Diantara Ulama yang yang tidak memperbolehkan adanya membaca Al-Qur’an didekat pemakaman bahkan hal itu dikatakan suatu hal yang bid’ah yaitu pendapat yang dipelopori oleh ulama’-ulama’ dari Hijaz – maaf kalau ada yang tersinggung ( Baca Wahabi ). Diantara yang berfatwa seperti hal itu yaitu Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya “ AL-AQIDATU AL-ISLAMIYYAH ” beliau berkata.

“ Tidak boleh sedikitpun membaca daripada AL-Qur’an walaupun hanya surat AL-Fatihah. Rasulullah SAWbersabda Janganlah kamu menjadikan rumahmu bagaikan pemakaman. Sesungguhnya syaitan itu akan lari terbirit-birit dari sebuah rumah yang didalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah. ( HR Imam Muslim ). Hadits itu memberikan petunjuk bahwasanya pekuburan itu bukan tempat untuk membaca Al-Qur’an sebaliknya adalah ruimah. Dan tidak ada dasarnya yang kuat dari Rasulullah SAW dan Para Sahabatnya bahwasanya mereka telah membaca AL-Qur’an untuk orang-orang yang telah meninggal. Akan tetapi mereka telah berdo’a untuk orang-orang yang telah meninggal. Rasulullah SAW apabila telah selesai mengubur mayit beliau suka berdiri di atas kuburnya dan bersabda Mintalah ampun untuk saudaramu dan mintalah untuk dia kemantapan karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.( HR Imam Hakim )

( Aqidah Al-Islamiyyah, 101-102 )

Hadits yang ada di atas juga merupakan salah satu sandaran dari saudara kita yang tidak setuju dengan adanya hadiah pahala untuk orang yang meninggal khususnya menghadiahkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an.

Selain itu Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas juga jberpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dipekuburan itu hukumnya adalah MAKRUH tidak sampai haram dan bid’ah.

“ Dan Imam Malik dan Imam Abu Hanifa telah memakruhkannya karena membaca Al-Qur’an dipemakaman itu tidak ada haditsnya.”

( Fiqhu Sunnah I, 472 )

Akan tetapi pendapat Kedua Imam ini ternya tidak diikuti oleh sebagian besar Ulama yang ber-Madzhab Hanafi dan Maliki. Hal ini membuktikan bahwa para Ulama di Empat Madzhab itu tidak serta merta mengikuti apa yang di fatwakan oleh Imam Madzhab Mereka tetapi mereka meneliti terlebih dahulu apakah sesuai dengan sunnah dan Al-Qur’an. Hal ini akan kami jelaskan terkemudian.

GOLONGAN YANG MEMPERBOLEHKAN

Adapun Golongan yang memperbolehkan adanya bacaan AL-Qur’an di pemakaman dan ini merupakan apa yang kami ikuti. Adapun Ulama-Ulama yang memperbolehkan membaca Al-Qur’an di pemakaman yaitu Ulama’-Ulama’ dari Madzhab Syafi’I dan juga Ulama’-ulama’ Madzhab Hambali dan Jumhur Al-Ulama’. Para Ulama Di atas membolehkan dan bahkan menghukumi sunnah membaca Al-Qur’an di pemakaman itu. Fatwa ini dikemukakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’I ( yang oleh orang yang tidak sependapat bahwa Imam Syafi’I melarang membaca Al-Quran karena tidak sampai padahal yang sebenarnya tidak begitu). Selain itu pendapat Imam Syafi’I ini juga diikuti oleh murid beliau Imam Ahmad bin Hambal dan juga murid dari Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas. Seperti yang ada dalam kitab Fiqhu Sunnah

“Para Ulama ahli fiqih telah berbeda pendapat dalam menetapkan hukum membaca Al-Qur’an di pemakaman. Imam Syafi’I dan Imam Muhammad Al-Hasan ( Murid Imam Abu Hanifah ) berpendapat bahwa membaca Al-Quran dipemakaman hukumnya adalah sunnah dan pendapat keduanya disetujui oleh Imam Qadhi Itadhi dan Imam Al-Qorofi dari Madzhab Maliki. Dan Imam Ahmad bin hambal berpendapat bahwa membaca AL-Qur’an di pemakaman itu tidak ada salahnya ( boleh ).”

( Fiqhu Sunnah I, 472 )

Imam Al-Muhaddits Muhammad bin Allan As-Shiddiqi dalam kitab Syarah Riyadh Al-Sholihin berkata “Imam Syafi’I berkata Disunnahkan membaca sebagian ayat Al-Qur’an di dekat mayit dan lebih baik lagi jika mereka membaca Al-Qur’an sampai khatam.”

( Dalil Al-Falihin VI, 103 )

Al-Imam Muhyiddin Zakaria An-Nawawi dalam Al-Adzkar mengatakan “berkata Imam Syafi’I ra dan para sahabatnya : Sunnah hukumnya membaca sebagian Al-Qur’an di dekat mayit dan kalau mereka sampai menghatamkannya sangatlah baik.”

( AL-Adzkar, 147 )

Sudah saya jelaskan dalam tulisan yang terdahulu Bahwa dalam hal ini Imam Syafi’I yang seorang Mujtahid Mutlak tidak hanya berfatwa saja tetapi beliau juga langsung mempraktekkannya. Hal itu dijelaskan ketika beliau Imam Syafi’I pindah ke Mesir sekitar tahun 200 H

“Sudah populer diketahui banyak orang ( berita yang mutawattir ) bahwa Imam Syafi’I pernah berziarah ke makam Laits bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Qur’an di dekat kuburannya dengan sekali khatam. Lalu beliau berkata, Saya berharap semoga hal ini terus berlanjut dan maka pada begitulah pembacaan itu dilakukan..”

( Adz-Dzakhiratu Ats-Tsaminah, 47 )

Selanjutnya Seorang Ahli Hadits Al-Imam Syaukani juga berpendapat boleh membaca Al-Qur’an dipemakaman.

“ Dan tidaklah tercela hal itu menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadits shahih seperti Iqrau Yasin ‘Ala Mautakum (Bacalah Surat Yasin kepada orang mati diantara kamu). Dan tidak ada perbedaan antara membaca Yasin itu dilakukan secara jama’ah hadir di dekat mayit atau di atas kuburnya, dan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan atau sebagian baik dilakukan dimasjid ataupun dirumah. ”

( Al-Rasa’il Al-Salafiyyah, 46 )

Dan keterangan mengenai hal ini juga dipertegas mengenai kobolehan atau kesunnahan membaca Al-Qur’an ini di pemakaman oleh Al-Imam Ahmad bin Hambal yang juga merupakan seorang Mujtahid Mutlak. Imam Al-Qurthubi dalam Mukhtashar Tadzkirat Al-Qurthubi berkata

“ Imam Ahmad bin Hambal ra berkata apabila kamu berziarah ke pemakaman, maka bacalah surat Al-Fatihah, Al-Mu’awwidzatain, dan surat AL-Ikhlas. Kemudia hadiahkan pahalanya untuk ahli kubur. Maka sesungguhnya hadiah pahala itu sampai kepada mereka.”

( Mukhtashar Tadzkirat Al-Qurthubi, 25 ini juga bisa kita temukan dalam kitab karangan orang Indonesia yaitu Hujjah Ahlus Sunnah Wa Al-Jma’ah hal 8 )

Adapun pendapat-pendapat tersebut bersumber dari hadits diantaranya yaitu :

“ Dari Ma’qil bin Yasar ra dari nabi SAW beliau bersabda Surat yasin adalah hatii Al-Qur’an Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Allah SWT kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah Surat Yasin atas orang-orang yang meninggal diantara kalian.”

( HR Imam Ahmad, Imam Nasa’I, Imam Abu Daud dan dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim )

Sesuai penjelasan Imam Syaukani bahwa Raulullah SAW menyuruh kita membaca Surat yasin untuk yang meninggal adapun mengenai tempat tidak ditentukan , sehingga tidak ada salahnya membacanya di pemakaman. Hal ini bahayak dilakukan oleh para Sahabat yang mulya dan para tabi’in. mereka membaca beberapa ayat Al-Qur’an dan tidak hanya Surat Yasin.

Hadits dari sahabat Abdullah bin Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “ Jika telah meninggal salah seorang diantara kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segerakanlah membawa kekubur ( maksudnya dikubur ) dan bacakanlah Fatihah Al-Kitab disamping kepalanya.”

( HR Imam Baihaqi dan Thabrani )

“ Dari Sahabat Ali ra Rasulullah SAW bersabda Barang Siapa Memasuki pemakaman lalu membaca Syrat Al-Ikhlas sebelas kali dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang meninggal ( ahli kubur ) maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu.”

( HR Imam Daruqutni, Abu Muhammad Al-Samarqandi dan Imam Rafi’I lihat Haula Khashaish Al-Qur’an hal 45 )

Selain itu ada juga hadits dari Imam Ali ra Bahwa Rasulullah SAW bersabda Barang Siapa Memasuki pemakaman lalu membaca Syrat Al-Ikhlas sebelas kali dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang meninggal ( ahli kubur ) maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu.”

( HR Hafidz As-Salafi secara marfu’ )

Dan juga Hadits mengenai wasiat Ibnu Umar ra yang disebutkan oleh Abu Al-‘Izz AL-Hanafi

“ Dari Ibnu Umar ra bahwa beliau ra berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal surat Al-Baqarah dan akhirnya Dan dari sebagian Sahabat Muhajirin dinukil pula adanya pembacaan surat Al-Baqarah.”

( Syarah Aqidak At-Thahawiyyah, 485 )

Selain itu dari riwayat Imam Baihaqi dengan sanad hasan bahwa Ibnu Umar menyukai( menyunahkan ) agar dibaca di atas kubur sesudah pemakaman awal surat Al-Baqarah dan akhirnya.

( Al-Adzkar Imam Nawawi hal. 206 )

Barangkali teman dalam forum ini sudah tahu siapa itu Ibnu Umar ra yang nama aslinya Abdullah bin Umar ra. Nbeliau merupakan salah satu sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits, sekitar 2630 hadits. Selain itu beliau ra juga merupakan satu dari tujuh sahabat yang paling banyak memberi fatwa selain Ibnu umar ra juga Ibnu Abbas ra, Umar bin Khaththab ra, Ibnu umar ra, Aisyah Ummul Mu’minin, Abdullah bin Mas’ud, zaid bin tsabit dan Ali bin Abi Tholib.

Selan itu pujian para Sahabat atau para Tabi’in kepada Ibnu umar juga sangat banyak sehingga sangat tidak mungkin jikalau Ibnu Umar berfatwa sedangkan fatwa beliau ra menentang dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Juikalau ada perbedaan maka yang harus dilihat yaitu bagaimana penafsiran kita terhadap suatu hadits tersebut apakah sesuai dengan penafsiran para sahabat tersebut.

Dalam kitab Al-Manhalu Al-Latiif fi Ushuli Al-Hadits Al-Syarif karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani disebutkan bahwa

“ Diriwayatkan dari Ja’far dia berkata Tidak ada seorang sahabat diantara sahabat-sahabat nabi SAW apabila mendengar hadits darinya yang paling berhati-hati dengan tidak menambah dan mengurangi selain Ibnu Umar.”

Selain Itu Riwayat Dari Malik dia berkata Ibnu Shihab berkata kepadakuu “kamu jangan membanding-bandingkan pendapat Ibnu Umar karena sesungguhnya dia seorang yang menegakkan sunnah sesudah Rasulullah SAW tidak ada sesuatu yang meragukannya darinya baik yang terkait persoalan Rasulullah SAW ataupun Sahabat-sahabatnya.”

Sebenarnya mengenai keadilan Ibnu Umar dalam melaksanakan Sunnah Rasulullah SAW tanpa mengurang dan menambah dan kealiman ke wara’ an sangat banya.

Selain itu juga ada hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Barang siapa memasuki pemakaman lalu membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-Takatsur lalu berdo’a. Aku hadiahkan pahala bacaan yang aku baca dari firman-Mu untuk semua ahli kubur dari kalangan mu’minin dan mu’minat. Maka semua ahli kubur itu akam memberikan syafa’at kepada orang yang membaca surat tersebut.”

( HR Abu Qasim Al-Zaila’I, lihat Haula Khashaish Al-Qur’an )

Dan yang terakhir mari kita lihat pendapat salah seorang murid dari Imam Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnu Qoyyim Al-Jauzi dalam kitab beliau

Disebutkan dalam kitab Al-Ruh halaman 11 menulis bahwa Imam Al-Khallal telah meriwayatkan dari Imam Al-Sya’bi dan berkata bahwa jika ada sahabat di kalangan Anshar meninggal dunia mereka bergantian datang / berkumpul di depan kuburnya sambil membaca Al-Qur’an.

Selain itu Imam Al-Khallal dalamkitabnya Al-Jami’ keyila membahas mengenai bacaan Al-Qur’an disamping kubur berkata menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad Ad-Dauri menceritakan kepada kami yahya bin Mu’in menceritakan kepada kami Mubasyar Al-Halabi menceritakan kepada kamiAbdurrahman bin Ala’ bin Al-Lajlaj dari bapaknya ia berkata. Bapakku berkata “ Jika aku telah mati maka letakkan aku di liang lahat dan ucapkan Bismillah wa ‘ala Sunnati Rasulillahdan ratakan tanah atasku dab bacakan permulaan Surat Al-Baqarah disamping kepalaku karena sesungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar ra mengatakan demikian.”

Ibnu Qayyim juga menceritakan bahwa Al-Khallal berkata mengkhabarkan kepada kami Hasan bin Ahmad AL-Warraq menceritakan kepada kami Ali bin Musa Al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur dia berkata “ Pernah aku bersama Imam Ahmad bin Hambal dan Muhammad bin Qudomah Al-Jauhari menghadiri jenazah, maka ketika mayyit dimakamkan seseorang lelalki kurus membaca duduk disamping kubur sambil membaca Al-Qur’an . Melihat hal itu Imam Ahmad berkata Hai sesungguhnya membaca Al-Qur’an disamping kubur itu bid’ah. Maka ketika kami keluar dari kubur berkatalah Muhammad bin Qudomah kepada Imam Ahmad bin Hambal. Wahai Abu Abdillah bagaimana pendapatmu mengenai Mubassyar Al-Halabi? Imam Ahmad menjawab : Beliau orang yang Tsiqah, apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya ? Muhammad bin Qudomah menjawab : Ya, mengabarkan kepadaku Mubassyar dari Abdurrahman bin Ala’ bin Lajlaj dari bapaknya bahwa ia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan disamping kepalanya permulaan Surat Al-Baqarah dan akhirnya dan dia berkata : Aku telah mendengar Ibnu umar ra berwasiat dengan yang demikian. Mendengar riwayat itu Imam Ahmad berkata : Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar meneruskan bacaan Al-Qur’annya.”

( Dari Kitab Al-Ruh oleh Imam Ibnu Qayyim halaman 11-13 )

Sehingga dari nash dan bukti di atas bahwa membaca Al-Qur’an di pemakaman itu bukanlah sesuatu yang bid’ah tetapi sesuatu yang boleh dilakukan dan bahkan sunnah karena para Sahabat Beliau SAW baik itu sahabat Muhajirin ataupun Anshar melakukannya.

Demikian keteraangan kami semoga bermanfaat, maaf-maaf kalau ada salah tulis dan tulisan yang menyinggung saudaraku semua.

Semoga Allah SWT memberikan Hidayah-Nya kepada kita.

IKHLAS – BERSIH HATI DARI SEGALA TUJUAN SELAIN DARI KERIDHOAAN ALLAH

Nabi s.a.w. telah bersabda: “Yang sangat aku takuti atas kamu adalah syirik kecil”. Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah apakah syirik kecil itu.” Jawab baginda: “Riya’. Pada hari pembalasan kelak Allah berkata kepada mereka; pergi lah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal kerana mereka di dunia, lihatlah disana kalau-kalau kamu mendapat kebaikkan dari mereka.”

Riya’ adalah beramal untuk dilihat orang, dipuji. Abu Lais berkata: Dikatakan kepada mereka sedemikian itu kerana amal perbuatan mereka ketika didunia secara tipuan, maka dibalas demikian.

Allah membalas tipuan mereka itu dengan membatalkan semua amal perbuatan mereka itu. Kerana mereka dahulu tidak beramal untuk Allah, tiap amal yang tidak dikerjakan ikhlas untuk Allah tidak sampai kepadaNya.

Abu Lais meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w bersabda: Allah telah berfirman:

“Aku yang terkaya dari semua sekutu. Aku tidak berhajat dari segala amal yang di persekutukan kepada lain dari Ku, maka aku lepas bebas dari amal itu.”

Hadis ini sebagai dalil bahawa Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas melulu kepadaNya. Maka jika tidak ikhlas tidak diterima dan tidak ada pahalanya bahkan tempatnya tetap dalam neraka jahannam.

Tersebuat dalam surah al-Isyrak:

Sesiapa yang ingin kan dunia dengan amalnya, kami berikan kepadanya dari kekayaan dunia dan bagi sesiapa yang kami kehendakki kebinasaan nya, kemudian kami masukkan dia kedalam neraka jahanam sebagai seorang terhina dan terusir jauh dari rahmat Allah. Dan sesiapa yang inginkan akhirat dan berusaha dengan sungguh dan ikhlas dan disertai iman, maka usaha amal mereka itulah yang terpji.

Dari ayat ini nyatalah bahawa yang beramal kerana Allah maka akan diterima sedangkan yang beramal tidak kerana Allah taidak akan diterima dan hanya mendapat laelah dan susah semata-mata.

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w bersabda:

Ada kalanya orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, dan ada kalanya orang yang bangun malam tidak mendapar apa-apa dari ibadatnya kecuali mengantuk, yakni tidak mendapat pahala dari amalnya.

Orang yang beramal dengan Riya’ dan Sumaah itu bagaikan seorang yang keluar kepasar dengan mengisi dompetnya dengan batu, semua orang berasa kagum dan berkata: alangkah penuhnya dompet wang orang itu. Tetapi sama sekali tidak berguna bagi orang itu kerana tidak dapat dibelanjakan wang itu, hanya semata-mata mendapat pujian orang. Demikina jugalah orang yang beramal denga Riya’ dan Sumaah tidak tidak ada pahalanya di akhirat sebagaimana firman Allah dalam surah al-Furqan ayat 23:

Dan kami periksa semua amal perbuatan mereka lalu kami jadikan debu yang berhamburan.

Seorang datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: “Ya Rasulullah aku bersedekah dengan mengharap keridhoaan dari Allah dan ingin juga disebut kebaikkan aku”, maka turunlah ayat 111 surah al-Kahfi:

Maka sesiapa yang berharap akan bertemu tuhannya, maka hendaklah berbuat amal yang baik dan janganlah mempersekutukan Allah dalam semua ibadatnya.

Sesiapa yang takut tetapi tidak berhati-hati maka tidak berguna takut itu. Seperti berkata: Aku takut siksa Allah tetapi tidak hati-hati dari dosa, maka tidak berguna takutnya itu.

Sesiapa yang berharap tetapi tidak beramal maka sia-sia harapnya itu. Sesiapa yang niat tapi tidak dilaksanakan, tiak berguna niatnya itu. Sesiapa yang berdoa tanpa usaha, maka sia-sia doanya itu. Sesiapa yang ishtigfar tanpa menyesal, maka tidak berguna ish tigfarnya itu. Sesiapa yang beramal tanpa ikhlas makan sia-sia amalnya itu.

Akan keluar pada akhir zaman satu kaum yangmencari agama dengan menjual agama, memakai pakaian bulu, lidah mereka lebih manis dari madu, sedangkan hati mereka bagaikan serigala.

Abdullah alMubarak meriwayatkan dari AbuBakar bin Maryam dari Dhomirah dari Abi Habib; Rasulullah s.a.w bersabda:

Ada kalanya malaikat membawa amal seorang hamba dan mereka anggap banyak dan mereka menyanjungnya sehingga sampai ke hazrat Allah, lalu Allah berfirman kepada mereka: Kamu hanya mencatat amal hamba Ku sedangkan Aku mengawasi isi dan niat hatinya, hamba Ku ini tidak ikhlas kepada Ku dalam amalnya maka campakkanlah ia kedalam sijjin.

Dan ada kalanya membawa naik amal hamba yang meraka anggap sedikit dan kecil sehingga sampai kepada Allah, maka Allah berfirman kepada Malaikat: Kamu hanya mencatat amal hamba Ku sedangkan Aku mengawasi isi dan niat hatinya, orang iniamat khlas dalam amal perbuatannya kepada Ku, catatlah amalnya dalam illiyin.

Amal yang sedikit tapi Ikhlas lebih baik dari amal yang banyak tapi tidak ikhlas.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila hari Khiamat maka Allah akan menghukum diantara para makhluk dan semua umat bertekuk lutut.

Yang pertama akan dipanggil ialah orang yang pandai alQur’an, orang yang mati fisabilillah dan orang kaya.

Maka Allah bertanya kepada orang yang pandai alQur’an: Tidak kah Aku telah mengajarkan kepada mu atas apa yang Aku turunkan kepada utusanku.

Jawab orang itu: Benar Tuhan ku.

Firman Allah: Lalu apakah yang telah kamu lakukan atas apa yang kamu ketahui itu.

Jawabnya: Aku telah mempelajarinya di waktu malam dan mengamalkannya di waktu siang.

Firman Allah: Dusta kau.

Malaikat juga berkata: Dusta kau, sebenarnya engkau hanya ingin di gelar qari dan ahli dalam alQur’an, dan sudah disebut sedemikian itu.

Lalu dipanggil orang kaya dan ditanya: Apa yang engkau telah perbuatkan terhadap harta yang telah Aku kurniakan itu?

Jawabnya: Aku telah mengunakannya untuk membantu sanak saudara dan bersedekah.

Firman Allah: Dusta kau

Para Malaikat juga berkata: Dusta kau, kau berbuat begitu hanya ingin disebut sebagai dermawan, dan sudah terkenal demikina itu.

Lalu dihadapkan orang yang mati syahid berjihad fisabilillah, ditanya: Kenapa kamu terbunuh?

Jawabnya: Aku telah berperang untuk menegakkan agama Mu sehingga aku terbunuh.

Allah berfirman: Dusta engkau.

Malaikat juga berkata: Dusta engkau, engkau hanya ingin disebut pahlawan yang gagah berani dan sudah disebut demikian itu.

Kemudian Nabi s.a.w memukul paha ku sambil bersabda: HaiAbu Hurairah, ketiga-tiga orang itu lah yang pertama di bakar didalam api neraka pada hari khiamat.

Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal kebaikkannya sebagaimana menyembunyikan kejahatannya. Puncak IKHLAS adalah tidak ingin kepada pujian orang.

Zunnun al Mishri ketika ditanya: Bilakah orang diketahui bahawa ia masuk dalam pilihan Allah? Jawabnya: Jika telah meninggalkan isytirehat, dapat memberi apa yang ada, tidak inginkan kedudukkan dan didak mengharapkan pujian dan cacian orang (yakni dipuji tidak merasa bangga dan dicela tidak merasa gundah).

Fadilah Bulan Ramadhan

Dari Abu Hurairah r.a Rasullah s.a.w telah bersabda “Umatku telah diberikan dalam bulan Ramadhan lm aperkara yang belum pernah diberikan kepada mana-mana umat pun sebelum mereka:

 

    Bau busuk dari mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.

    Ikan-ikan dilaut akan beristigfar kepada mereka sehingga mereka berbuka.

    Setiap hari Allah aan menghiaskan syurgaNya dan berkata “Telah hampir masanya hamba-hamba ku yang soleh akan dilepaskan dari beban-beban dan mereka akan datang kepadamu.

    Dirantaikan syaitan-syaitan yang jahat didalam Ramadhan dan mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu dalam Ramadhan ini apa yang biasa diperbuat oleh mereka pada bulan yang lain.

    Mereka akan diampunkan pada malam terakhir bulan Ramadhan.

Ditanyakan kepada Rasullah s.a.w. “Adakah ia Lailatul Qadr?”

Baginda menjawab “Tidak! Namun seorang pekerja akan diberikan ganjaranya apabila dia telah menyelesaikan kerjanya.”

Khasiat Ayat Kursi

Mahfum ayat:

Allah, tidak ada yang benar disembah hanya Dia yang Hidup dan Maha Kaya, tidak pernah ditimpa mengantuk dan tidak pernah tidor, bagin Nya sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tidak ada yag boleh membri syafaat kecuali denga izin Nya. Ia maha mengetahui segala apa yang terjadi di hadapan mereka dan dibelakang mereka. Tidaklah mereka meliputi ilmunya sedikit jua kecuali yang dikehendakki Nya. Lebih luas kerusinya darilangit dam bumi. Tidak susah bagi Nya memelihara keduanya. Ia maha Tinggi dan maha Besar.

Penjelasan:

Ayat Kursi diturunkan pada suatu malam selepas Hijrah. Menurut riwayat, ketika ayat kursi diturunkan disertai dengan beribu-ribu malaikat sebagai penghantarnya, kerana kebesaran dan kemuliaannya.

Syaitan dan Iblis menjadi gempar kerana adanya suatu alamat yang menjadi perintang dalam perjuangan nya.

Rasulallah s.a.w segera memerintah kepada penulis alQuran iaitu Zaid bin Thabit agar segera menulisnya dan menyebarkannya.

Ada terdapat sembilan puluh lima buah hadis yang menjelaskan fazilat ayat kursi. Sebabnya ayat ini disebut ayat KURSI kerana di dalam nya terdapat perkataan KURSI, ertinya tempat duduk yang megah lagi yang mempunyai martabat.

Perlu di ingat, bukan yang di maksudkan dengan KURSI ini tempat duduk tuhan, tetapi adalah KURSI itu syiar atas kebesaran Tuhan.

Khasiat Ayat Kursi:

    Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan istikamah setiap kali selesai sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk kerumah atau kepasar, setiap kali masuk ke tempat tidur dan musafir, insyaallah akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja (pemerintah) yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahatan binatang yang memudharatkan. Terpelihara dirinya dann keluarganya, anak-anak nya, hartanya, rumahnya dari kecurian, kebakaran dan kekaraman.

    Terdapat keterangan dalam kitab Assarul Mufidah, barang siapa yang mengamalkan membaca ayat kursi, setiap kali membaca sebanyak 18 kali, inyaallah ia akan hidup berjiwa tauhid, dibukakan dada dengan berbagai hikmat, dimudahkan rezekinya, dinaikkan martabatnya, diberikan kepadanya pengaruh sehingga orang selalu segan kepadanya, diperlihara dari segala bencana dengan izin Allah s.w.t.

    Salah seorang ulama Hindi mendengar dari salah seorang guru besarnya dari Abi Lababah r.a, membaca ayat Kursi sebanyak anggota sujud (7 kali) setiap hari ada benteng pertahanan Rasulallah s.a.w.

    Syeikh Abul ‘Abas alBunni menerangkan: “Sesiapa membaca ayat Kursi sebanyak hitungan kata-katanya (50 kali), di tiupkan pada air hujan kemudian diminumnya, maka inysyaallah tuhan mencerdaskan akalnya dan memudahkan faham pada pelajaran yang dipelajari.

    Sesiapa yang membaca ayat Kursi selepas sembahyang fardhu, Tuhan akan mengampunkan dosanya. Sesiapa yang membacanya ketika hendak tidur, terpelihara dari gangguan syaitan, dan sesiapa yang membacanya ketika ia marah, maka akan hilang rasa marahnya.

    Syeikh alBuni menerangkan: Sesiapa yang membaca ayat Kursi sebanyak hitungan hurufnya (170 huruf), maka insyaallah, Tuhan akan memberi pertolongan dalam segala hal dan menunaikan segala hajatnya, dam melapangkan fikiranyan, diluluskan rezekinya, dihilangkan kedukaannya dan diberikan apa yang dituntutnya.

    Barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur, maka Tuhan mewakilkan dua malaikat yang menjaga selama tidurnya sampai pagi.

    Abdurahman bin Auf menerangkan bahawa, ia apabila masuk kerumahnya dibaca ayat Kursi pada empat penjuru rumahnya dan mengharapkan dengan itu menjadi penjaga dan pelindung syaitan.

    Syeikh Buni menerangkan: sesiapa yang takut terhadap serangan musuh hendaklah ia membuat garis lingkaran denga nisyarat nafas sambil membaca ayat Kuris. Kemudian ia masuk bersama jamaahnya kedalam garis lingkaran tersebut menghadap kearah musuh, sambil membaca ayat Kursi sebayak 50 kali, atau sebanayk 170 kali, insyaallah musuh tidak akan melihatnya dan tidak akan memudharatkannya.

    Syeikul Kabir Muhyiddin Ibnul Arabi menerangkan bahawa; sesiapa yang membaca ayat Kursi sebayak 1000 kali dalam sehari semalam selama 40 hari, maka demi Allah, demi Rasul, demi alQuran yang mulia, Tuhan akan membukakan baginya pandangan rohani, dihasilkan yang dimaksud dan diberi pengaruh kepada manusia. (dari kitab Khawasul Qur’an)

Bismillah Enam

Dintara Fadilah Bismillah Enam adalah seperti berikut:

    Luas rezkinya.

    Makbul segala hajat dan cita-cita.

    Jika ditiup kepada perempuan nescaya kasih ia kepada kita.

    Menang dalam peperangan.

    Penerang hati.

    Di jauhkan dari segala penyakit.

    Dibaca 70 kali tiap-tiap hari aman dari ancaman raja-raja dan pembesar yang zalim yang hendak membunuhnya.

    Dibaca ditempat yahng suci nescaya dapat melihat malaikat, jin dan syaitan.

    Dibaca dimalam jumaat 20 kali boleh melihat orang didalam kubur.

    Aman daripada binatang-binatang buas.

    Air laut menjadi tawar.

    Terlepas daripada terkena bunuh juka dibaca kepada tubuh badan.

    Jika ditulis dan dijadikan azimat atau dibaca pada sawah aman daripada ancaman babi, tikus atau burung.

    Terselamat daripada bahaya musuh dan seteru.

    Terselamat dari karam dilaut.

    Jika dibaca pada minyak malam jumaat tiga kali boleh memudahkan perempuan beranak jika meminumnya.

    Orang yang pekak jika dibaca pada telinganya selama 7 hari nescaya mendengar.

    Orang gila atau yang dirasuk oleh iblis apabila dibaca ditelinga tiga kali insyaallah lari iblisnya.

    Boleh tawarkan segala jenis bisa termasuk bisa sengat binatang seperti lebah, ular dan ikan.

    Boleh tawarkan segala jenis racun dan santau, seperti yang diperbuat daripada miang rebung, ulat buku mati beragan, hempedu katak dan sebagainya.

    Terkeluar daripada penjara apabila dibaca bersungguh-sungguh.

    Dijadikan jampi untuk menghalau jin dan syaitan.

 

Cara untuk merawat pesakit yang menderita kerana perkara diatas; letakkan tangan ditempat yang sakit, tahan nafas dan baca al-Fathihah dan juga ayat Bismillah Enam ini. Tiup tempat tersebut dah urut sedikit. Baca juga ayat ini pada air untuk disapukan pada tempat yang sakit dan untuk di minum. Angin akan keluar daripada pesakit dan diikuti oleh muntah, insyaallah.

Doa ini juga boleh digunakan kepada binatang yang termakan rumput yang diracun atau yang dipatuk ular. Kaedah rawatannya adalah dengan memberi makan rumput dan meminum air yang telah dibacakan dengan doa diatas.

AMAL KANLAH BISMILLAH ENAM INI KERANA IA MENJADIKAN SEGALA JENIS RACUN AKAN TAWAR DAN TIDAK MEMBERI MUDHARAT KEPADA PENGAMAL KALAU TERMINUM. GELAS YANG MENGANDUNGI RACUN AKAN PECAH KALAU DIPEGANG OLEH PENGAMAL BISMILLAH ENAM. INSYAALLAH.

PUASA – syarat syarat batiniah

Puasa itu terdiri dari tiga peringkat:

    Puasa umum

    Puasa khusus

    Puasa khusus dari khusus

Puasa umum iaitu mencegah perut dan kemaluan daripada memenuhi keinginnannya.

Adapun puasa khusus adalah puasa orang salih, dengan mencegah pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari dosa. Kesempurnaannya adalah dengan enam perkara:

PERTAMA. Memicingkan mata dan mencegah dari memandang kepada yang dicela dan makruh dan kepada yang membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingati Allah. Pandangan adalah merupakan panah yang beracun dari panah-panah Iblis yang di kutuk Allah. Barangsiapa yang meninggalkan pandangan kerana takutkan Allah nescaya dicampakkan oleh Allah keimanan dan kemanisan didalam hatinya. Lima perkara yang membatalkan puasa orang yang berpuasa adalah berdusta, mengumpat, mengadu domba, bersumpah palsu dan memandang dengan nafsu.

KEDUA. Menjaga lidah dari perkataan sia-sia, mengumpat, mengadu domba, berkata keji, kata permusuhan, kata-kata yang mengandungi riak. Lebih baik mendiamkan diri dan memenuhi waktu dengan berzikir dan membaca quran. Mengumpat dan berbohong adalah merosakkan puasa. Puasa adalah benteng, sesaorang yang berpuasa janganlah berkata keji dan perkataan jahil.

KETIGA. Mencegah pendengaran dari mendengar tiap-tiap yang makhruh. Setiap yang haram diucapkan maka haram juga lah mendengarnya. Maka berdiam diri sambil mendengar umpatan adalah haram.

KEEMPAT. Mencegah anggota tubuh yang lain dari segala dosa, tangan dan kaki dari segala yang makruh serta mencegah perut dari segala harta syubhat sewaktu berbuka. Tidak bererti puasa itu jika berbuka dengan bahan yang haram.

KELIMA. Tidak membanyakkan makanan yang halal waktu berbuka. Karung yang dibenci oleh Allah adalah perut yang penuh dengan makanan yang halal. Masakan dapat memperolehi faedah berpuasa untuk mengalahka nafsu, apabila semasa berbuka makan dengan banyak, dengan berbagai-bagai jenis makanan. Maksud dari berpuasa itu adalah mengosongkan perut untuk menghancurkan hawa nafsu, untuk menguatkan jiwa kepada bertakwa.

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang terbuka padanya sesuatu dari alam malakut. Barang siapa yang menjadikan diantara hatinya dan dadanya tempat menampung makanan, maka terhijablah daripadanya. Barang siapa yang mengosongkan perutnya pun belum cukup unutk mengangkat hijab, sebelum cita-citanya kosong dari selain dari Allah.

KEENAM. Apabila sesudah berbuka, hatinya bergoncang antara takut dan harap kerana tidak diketahui sama ada puasanya diterima atau tidak. Sekira puasanya diterima, dia adalah sebahagian dari orang-orang muqarrabin, sekiranya tertolak maka ia adalah sebahagian orang-orang mamqutin.

Ada pun yang khusus dari khusus itu adalah puasa hati dari segala cita-cita yang hina dan segala fikiran duniawi yang mencegah selain dari Allah Azza wa jalla. Di kira batal lah puasa ini dengan berfikir selain dari Allah dan hari akhirat, dan berfikir tentang hal dunia, kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama.

Seseorang yang berpuasa khusus dari khusus ini sekiranya berfikir pada siangnya apakah bahan yang akan di makan ketika berbuka nanti, nescaya itu dikira satu kesalahan padanya, kerana kurang percaya kepada rezeki yang Allah janjikan.

Inilah tingkat nabi-nabi, orang-orang sidik dan orang-orang muqarrabin, yang sentiasa menghadap hati kepada Allah Azza wa jalla.

 

Hikma Surah al-Fathihah

Sesiapa yang mengekalkan mambaca AlFathihah diantara sembahyang sunat subuh dengan Fardhu Subuh sebanyak 41 kali, makan fazilatnya ialah:

    Meminta pangkat melainkan dapat.

    Ia miskin melainkan kaya.

    Ia berhutang melainkan dibayar Allah akan hutangnya

    Ia sakit melainkan disembuhkan Allah.

    Ia lemah malainkan dikuatkan Allah.

    Ia berdagang di negeri orang,melainkan dimuliakan, dikasihi dan sampai cita-cita.

Berkata beberapa ulama termasuk beberapa orang murid kepada al-Sheikh al-Tamimi menyatakan:

“Suatu masa penyakit Taun dan wabak telah menyerang negeri Maltan dengan dahsyatnya kerana itu beberapa bayak kematian telah berlaku di negeri itu pada setiap hari.”

“Lalu tuan Sheikh al-Tamimi meminta sahabat dan muridnya membaca Fatihah keatas sesiapa yang dihinggapi oleh penyakit Taun dan wabak tersebut.”

“Maka kami pun membaca dan meniupkannya ke atas orang sakit itu, seketika lamanya kami lihat orang sakit itu pun sembuh dang penyakitnya berkurangan.”

Begitulah Fazilatnya sesiapa yang membaca 41 kali Fathihah keatas seorang yang sakit setelah itu dihembuskan kepadanya, Insya Allah afiat.

Pagar atau pendinding rumah.

Kaedah berikut dilakukan untuk mendinding rumah dan kawasannya juga tempat-tempat lain.

Untuk memagar rumah, mulakan dari bahagian kanan rumah. Mula-mula pacakkan teras kayu asam jawa disatu penjuru rumah (sebelah kanan) dan ketuk dengan pemukul besi hingga tenggelam paras bumi. Pijak tunggu tadi sambil mengadap ke penjuru lain yang di tuju dan baca:

    Ini tembok Nabi Sulaiman

    Dalamnya laut luarnya kota

    Kalau kamu pecah kota ini

    Kamu akan berenang dalam laut.

Tiup menghala penjuru yang hendak dituju. Baca bimillah, al-Fathihah dan surah Yasin dari awal hingga ayat ke 9.

Kemudian berjalan menuju ke arah penjuru lagi satu dengan membaca ayat ini berulang-ulang. Sambil membaca, Air Yasin di renjiskan disepanjang jalan ke penjuru yang dituju. Apabila tiba dipenjuru yang dituju, paku satu lagi tersa kayu asam jawa seperti yang dilakukan sebelum ini. Kemudian berdiri diatasnya sambil memandang penjuru yang berikutnya. Buat seperti tadi ke penjuru ketiga, kemudian seterusnya kembali ke penjuru yang mula-mula tadi.

Setelah menanam kesemua empat teras batang kayu asam jawa yang disediakan, pijaklah teras kayu asam jawa yang pertama tadi kemudian buat lingkungan di bahagian atas seluruh kawasan yang dipagar tadi, dengan isyarat tangan. Untuk tujuan ini, Air Yasin atau garam boleh digunakan untuk melinkungi bahagian atas rumah tadi.

Sekiranya terdapat penceroboh yang berniat buruk memasukki kawasan yang telah dipagar ini, nescaya ia akan rasakan bagai berada di tengah-tengah lautan yang luas, terkapai-kapai berenang unutk menyelamatkan dari lemas.

Begitu lah kebesaran Allah. ALLAHUAKHBAR.

Hikmat Surah al-Fathihah 2

Mengembalikan Pangkat

Sesiapa yang di pecat dari pekerjaannya atau jatuh pangkat yang disandang olehnya dan sukakan ia kembali kepada pangkatnya, hendaklah ia membaca Fathihah sebanyak 41 kali diantara Sunat Subuh dan Fardhunya selama 40 hari.

Jangan kurang dari bilangan ini dan jangan putuskan ayat-ayat yang dibaca.

Insayallah kembalilah pangkatnya semula atau menyandang pangkat yang lebih tinggi, percayalah kepada khudrat Allah.

Mendapat Zuriat

Sesiapa yang mandul tidak mendapat anak selama ia berkahwin dan suka pula hendak mendapat zuriat atau anak, hendaklah ia mengamalkan membaca surah Fathihah sebagaimana kaedah peraturan seperti ini:

Hendaklah membaca Fathihah sebanyak 41 kali selam 40 hari dengan tidak putus-putus dan tidak kurang bilangannya.

Masanya ialah diantara Sunat Subih dan Fardhu Subuh.

Insyaallah ia akan mendapat zuriat yang salleh lagi baik.

Fathihah di atas kapas.

Sesiapa membaca Fathihah 7 sebanyak 7 kali, kemudian diludahkan diatas sekeping kapas dan ditampalkan pada tempat yang luka atau kudis atau apa-apa sehaja penyakit kulit, akan bercantum lukanya dan sembuh kudisnya, dengan izin Allah.

Bacaan untuk pelayar

Jika di baca Fathihah sebanyak 41 kali di belakang orang yang hendak belayar, Inyaallah di selamatkan ia dalam pelayarannya dan di kembalikan semula ke tanah air dalam keadaan sihat afiat.

Jika hendak membereskan sesuatu pekerjaan

Sesiapa yang melakukan pekerjaan dan hendak selesaikan pekerjaan itu denga baik, bacalah Fathihah di tengah malam sebanyak 41 kali.

Insyaallah dimudahkan allah pekerjaannya dengan tidak mendapat suatu gangguan dan apa saja pekerjaanya dengan izin allah semuanya beres.

Jika berasa dahaga

Sesiapa yang berada dalam pelayaran atau perjalanan atau sesat maka takut ia dahaga atau lapar, hendaklah ia membaca Fathihah sekali diatas tapak tangannya, kemudian ditiupkan diatas tapak tangannya itu dan disapukan kemuka dan perutnya.

Insyaallah ia tidak akan merasa lapar atau dahaga pada hari itu.

Mengubat sakit telinga.

Jika mengidap sakit telinga baru atau pun lama, hendaklah dituliskan Fathihah dalam satu bekas ekmudian dihapuskan tulisan itu dengan minya mawar dan titikkan kedalam telinga, insayaallh afiat.

Minyak Fathihah.

Jika di bacakan 70 kali Fathihah kedalam minyak (apa saja jenis minyak) dan disimpan unutk persediaan bagi sakit-sakit angin, akhmar dan bagi menyegarkan tenaga dan urat. Juga bagi penyakit belakang dan pinggang. Insyaallah afiat apabila di gosokkan.

Menjadi Penawar.

Jika disengat binantang berbisa seperti lipan, kala atau ikan bersengat hendaklah diambil segelas air masuk kan sebutir garam jantan ( besar ) dalam air itu dan bacakan Fatihah sekali.

Kemudian di beri minum, Insyaallah akan hilang bisanya.

Syaikh Muhammad Husain bin ‘Abdul Lathif al-Fathani atau lebih dikenali dengan panggilan Tok Kelaba al-Fathani adalah ulama yang berasal dari Kelaba, Beris, Fathani Darus Salam. Beliau dilahirkan pada tahun 1280H/1863M dan kembali ke rahmatUllah pada 21 Sya`baan 1367H. Beliau juga terkenal dengan gelaran Tok Hadis kerana banyak menghafal hadis. Dalam karya beliau yang berjodol “Hadaaiqush Sholawaat fil khalawaat wal jalawaat“, beliau menisbahkan dirinya sebagai al-Kelantani muhtidan wal Kalabawiy baladan wal-‘Asy`ari i’tiqaadaan wasy-Syafi`i madzhaban wal Junaidiy qudwatan wal-Haddadiy ‘amalan (yang dibangsakan kepada negeri Kelantan asal; Dan yang dibangsakan kepada Kelaba negeri; Dan yang dibangsakan kepada Im,am Abil Hasan ‘Ali al-Asy`ari i’tiqad pada ilmu Usuluddin; Dan yang dibangsakan kepada Imam Syafi`i pada Ilmu Fiqh; Dan yang dibangsakan kepada Imam Abil Qaasim al-Junaid al-Baghdadi ikutan pada Ilmu Tasawwuf; Dan yang dibangsakan kepada Habib ‘Abdullah al-Haddad amal pada wiridnya). Selain dari hadits, beliau juga banyak menghafal kitab-kitab antara yang dihafalnya ialah kitab “Furu’ Masa-il“.

Pada halaman 308 karangannya tersebut, beliau menulis sepotong doa yang elok dijadikan munajat kita sebagai upaya memohon keselamatan dengan berwasilahkan surah al-Fatihah:-

        Soal: Adakah doa yang warid daripada Nabi s.a.w. dibaca kemudian daripada Fatihah yang tersebut itu atau tiada?

    Jawab: Tiada berjumpa hamba faqir daripada kitab-kitab yang sudah faqir baca dan lihat, bahkan ada dapat daripada khat guru saya dari Fathani iaitu inilah doanya: “Ya Allah, dengan haq al-Fatihah dan dengan sir al-Fatihah, wahai Tuhan yang menghilangkan kebimbangan, wahai Tuhan yang menghilangkan kesedihan, wahai Tuhan yang menghindarkan segala bala bencana, Hindarkanlah kami ya Allah dari segala bala bencana, wabak penyakit, kebimbangan, kesedihan, pancaroba, kesusahan dan kemurkaan, demi rahmatMu wahai Tuhan yang Maha Pengasih.

 

Dzikrul Jalaalah

Tiada tuhan selain Allah

wujud sepanjang zaman

Tiada tuhan selain Allah

disembah setiap tempat

Tiada tuhan selain Allah

disebut setiap lidah

Tiada tuhan selain Allah

dikenali dengan keihsanan

Tiada tuhan selain Allah

setiap masa sentiasa mentadbir ‘alam

Tiada tuhan selain Allah

    (Kami mohon) keamanan, keamanan dari kehilangan iman dan dari fitnah godaan syaithan. Wahai Tuhan yang sifat keihsananNya kekal abadi, telah banyak keihsananMu terhadap kami, keihsananMu yang berkekalan. Wahai Tuhan yang Maha Penyayang, Wahai Tuhan yang Maha Penganugerah, Wahai Tuhan yang Maha Pengasih, Wahai Tuhan yang Maha Pemurah, Wahai Tuhan yang Maha Pengampun, Wahai Tuhan yang Maha Pemaaf, ampunkanlah kami dan rahmatkanlah kami, Engkaulah sebaik-baik Pengasih.

Dzikrul Jalaalah adalah satu doa yang biasa diamalkan oleh para ulama kita. Ianya merupakan amalan berzikir menyebut lafaz tahlil diikuti permohonan untuk keamanan dari hilangnya keimanan dan keamanan dari fitnah godaan syaithan yang terkutuk. Dan ianya diakhiri dengan memohon keampunan dan rahmat Allah s.w.t. Almarhum Buya al-Maliki rahimahUllah dalam “Khulaashatu Syawaariqil Anwaari min ad`iyatis Saadatil Akhyaar” menganjurkan agar ianya dibaca setelah membaca asma-ul husna. Bisa sahaja dzikir dan doa ini dibaca tanpa didahului asma-ul husna sebagaimana diamalkan oleh sebahagian guru kita. Ya ianya bisa diamalkan kapan sahaja, sebaiknya dengan dawam. Mudah-mudahan kabul dan terpelihara dari hilangnya iman tatkala menghembuskan nafas kita yang terakhir…. Allahumma aamiin.

Hujan

Hujan merupakan anugerah Allah kepada kita. Biasanya ia turun sebagai rahmat untuk disyukuri, dan kekadang ianya menjadi bala` ujian untuk disabari. Air seperti juga api, boleh menjadi sebab kehidupan dan boleh juga menjadi pemusnah. Oleh itu, apabila hujan turun, maka disunnatkan kita memohon kepada Allah Tuhan yang menurunkan hujan tersebut, agar ianya menjadi hujan rahmat, hujan yang memberi manfaat kepada kita dan tidak membawa bahaya serta kemudaratan.

Imam an-Nawawi rhm. menulis dalam “al-Adzkar” halaman 278 dalam “Bab maa yaquulu idzaa nazalal mathar” (Bab apa yang diucapkan tatkala turun hujan) bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. apabila melihat hujan turun, baginda berdoa:-

Allahumma shoyyiban naafi`aan

“Ya Allah, jadikan hujan ini hujan yang memberi manfaat”

Manakala pada halaman 280, Imam an-Nawawi rhm. menulis:-

    Telah kami riwayatkan dalam Shohih al-Bukhari dan Shohih Muslim daripada Sayyidina Anas r.a. yang menyatakan: ” Telah masuk seorang lelaki ke dalam masjid pada hari Jumaat tatkala Rasulullah s.a.w. sedang berdiri berkhutbah. Lelaki tersebut berkata kepada Junjungan Nabi s.a.w.: “Wahai RasulAllah, telah binasa segala harta (akibat kemarau) dan telah terputus segala jalan (yakni usaha), maka mohonlah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka Junjungan s.a.w. pun mengangkat kedua tangan baginda seraya berdoa tiga kali dengan ucapan: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” Anas berkata: “Demi Allah, tidak kami melihat satu awan pun di langit walau secebis antara kami dan bukit Sala`. Tiba-tiba muncul awan di langit seperti rupa perisai, maka tatkala awan tersebut berada di tengah langit, ia berkembang dan kemudian menurunkan hujan. Demi Allah, tidaklah kami melihat matahari selama seminggu (yakni terus menerus hujan turun selama seminggu). Kemudian telah masuk seorang lelaki kepada Junjungan Nabi s.a.w. pada Jumaat yang berikutnya sedang Junjungan berkhutbah. Lelaki tersebut berkata:- “Wahai RasulAllah, telah binasa segala harta (yakni sebab banjir) dan telah putus segala jalan (yakni usaha), maka mohonlah kepada Allah untuk menahannya dari turun (yakni menahan hujan dari berterusan turun)”. Maka Junjungan Nabi s.a.w. pun mengangkat tangan baginda seraya berdoa:-

    “Allahumma hawaalayna wa laa ‘alainaa. Allahumma ‘alal aakaami wadhz-dhziraabi wa buthuunil awdiyati wa manaabitisy-syajar”

    “Ya Allah, jadikanlah hujan ini turun di sekitar kami dan tidak atas kami. Ya Allah, turunkanlah ianya atas segala gunung-ganang, bukit-bukau, lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

    Seketika juga kami keluar dan berjalan di bawah sinaran matahari (yakni, hujan berhenti turun).

Mudah-mudahan dapat kita amalkan dua doa yang mubarak ini yang diajar oleh Junjungan s.a.w. untuk menyambut hujan agar ianya menjadi sesuatu yang bermanfaat dan tidak memudaratkan. Mudah-mudahan Allah selamatkan negara kita dari segala bencana dan malapetaka. Mudah-mudahan Allah memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita yang telah ditimpa bencana serta menggantikan kemusnahan yang mereka alami dengan yang baharu dan pahala yang berlipat ganda. Allahumma aamiin.

Selain dari itu, eloklah diamalkan juga Sholawat Habib Hasan Ahmad BaHarun yang pernah aku postkan dahulu. Untuk memudahkan, maka aku postkan sekali lagi untuk tatapan kalian. Mudah-mudahan dalam dijadikan wasilah untuk mengajukan permohonan bagi kesejahteraan diri, ahli keluarga, harta benda dan kaum muslimin sekaliannya dari segala bala bencana, malapetaka, kemalangan, wabak penyakit, kezaliman bahaya hujan dan sebagainya.

Ya Allah Ya Tuhanku

Limpahkanlah sholawat ta’dhzimMu

Atas Junjungan Maulana Muhammad

Sebaik-baik makhluk ciptaanMu

Sholawat yang dengan keberkatannya

Engkau selamat sejahterakan kami

Juga ahli keluarga kami, anak-anak kami

Kaum kerabat kami, orang yang kami cintai

Guru-guru kami, murid-murid kami

Rakan taulan kami, jiran tetangga kami

Engkau selamat sejahterakan

Segala rumah kediaman kami, masjid kami

Ma’had kami, madrasah kami,

Ladang kami, pejabat tempat kerja kami,

Sekalian tempat kami dan segala harta-benda kami,

Dari bahaya gempa bumi dan pergerakannya

Dari bahaya hujan, angin, petir dan sebagainya

Dari bahaya kereta, kapal terbang, kapal laut dan lain kenderaan

Dari bahaya wabak, bala bencana, malapetaka dan seumpamanya

Dari bahaya jin, manusia, haiwan, thoghut, syaitan dan tipuannya

Dari bahaya jatuh, binasa, terbakar, tenggelam dan segala musibah

Dari bala` pada urusan agama, dunia dan akhirat

Kabulkanlah Ya Ilahi

Demi jah tuah Junjungan Nabi Pilihan al-Musthofa

Limpahkanlah juga sholawat

Ke atas ahli keluarga dan para sahabat baginda

Bersama-sama salam kesejahteraan yang sempurna

 

Ratib al-Haddad

Amalan peninggalan Imam al-Haddad rhm. yang terkenal dan banyak diamal orang kita di rantau sini, bahkan di seluruh pelusuk dunia Islam. Amalan yang berkat ini ialah ratib beliau yang terkenal dengan panggilan “Ratibusy Syahiir” atau “Ratibul Haddad“. Ratib ini telah banyak diamal oleh para ulama kita terdahulu dan posting aku kali ini hanya untuk mengkhabarkan beberapa nukilan ulama kita di Nusantara ini berhubung Ratibul Haddad. Aku mulakan dengan tulisan ulama terbilang yang paling produktif menulis iaitu Tok Syaikh Daud bin ‘Abdullah al-Fathani. Di mana dalam “Kaifiyyah Khatm al-Quran” pada halaman 256 – 260, beliau memuatkan Ratibul Haddad sepenuhnya dan memberi pengenalan ratib ini dalam bahasa ‘Arab (maaflah aku masih tak dapat nak tulis dalam font Arabic, masih tak tahu apa penyakitnya) yang bererti: “Inilah ratib Tuanku Wali yang ‘arif billah, Imam ahlillah, asy-Syaikh al-Kabiir pada jalan Allah, Quthub rahaa-ddin, ‘Ayn a’yaanish Shiddiiqiin as-Sayyid ‘Abdillah bin ‘Alawi bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdullah yang dikenali sebagai al-Haddad Ba ‘Alawi al-Husaini…..” Dan pada halaman 261, Tok Syaikh Daud menukilkan satu faedah bahawa Sayyidina al-Imam Ahmad bin Zain mendengar daripada sebahagian orang sholeh dan ahli ilmu menyatakan yang Imam al-Haddad berkata:-

    “Bahawasanya sesiapa yang membaca ratib ini teristimewa lafaz tahlilnya dengan adab, hudhur hati, yakin dan niat (ikhlas bertaqarrub kepada Allah) dan menyempurnakan tahlilnya 1,000 kali, nescaya akan terzahir baginya sesuatu daripada segala nur milik Allah ta`ala.“

Syaikh Ahmad bin Muhammad Kasim ulama kelahiran Jelebu, Negeri Sembilan pada tahun 1901M dan kembali ke rahmatullah pada tahun 1943. Menuntut ilmu ke Makkah al-Musyarrafah dan akhirnya membuka madrasah “al-Mubtadi` li Syari`ah al-Musthofa al-Hadi” atau madrasah “Nur ad-Diniyyah” di Melaka. Di madrasahnya Ratibul Haddad dijadikan wirid tetap dibaca setiap malam.

Tuan Guru Haji Muhammad Sulum @ Sulung al-Fathani (1895M – 1954M) pula menukilkan Ratibul Haddad dalam khatimahnya bagi karangannya “Gugusan Cahaya Keselamatan” di mana sebagai pengenalannya beliau menulis:-

    “Kenyataan wirid yang sangat berkat dunia dan akhirat bagi waliyullah yang besar Habib ‘Abdullah al-Haddad dan ratib baginya.”

Bahkan ramai lagi ulama kita yang menjadikan Ratibul Haddad ini sebagai pakaian mereka seperti al-‘Alim al-‘Allaamah asy-Syaikh Muhammad Husein bin Abdul Lathif al-Fathani yang dikenali sebagai Tok Kelaba al-Fathani dan juga ulama terbilang Acheh Darus Salam, asy-Syaikh Teungku Hasan Krueng Kalee yang empunya kitab berjodol “Risalah Lathifah fi adabi adz-dzikri wa at-tahlil wa kaifiyyati tilaawati ash-Shomadiyyah ‘ala thoriqati Quthubil Irsyad al-Habib ‘Abdullah al-Haddad“.

Sebagai penutup, aku nukilkan di sini artikel berjodol “Syarh Ratib al-Haddad – Dari Yaman ke Dunia Melayu” karangan Fadhilatul Ustaz Wan Mohd. Shoghir bin Wan Abdullah al-Fathani (mudah-mudahan Allah memanjangkan usia beliau serta memanfaatkannya bagi agama dan umat).

    Syarh Ratib al-Haddad

    SEKURANG-KURANGNYA ada dua jenis “wirid” atau disebut juga dengan “Ratib” yang sangat berpengaruh di kalangan orang-orang Arab, terutama golongan “Habaib” (Habib-Habib atau Saiyid/Syed) yang datang ke dunia Melayu. Yang pertama disebut “Ratib Al-Haddad” dan yang satu lagi dinamakan “Ratib Al-Attas”. Sebahagian besar yang diketahui oleh para pengamalnya, “Ratib Al-Haddad” ialah satu amalan yang dapat menenangkan jiwa, penuh berkat, terdapat beberapa fadhilat yang kadang-kadang menyalahi adat. Wirid atau ratib yang tersebut adalah disusun berdasarkan ayat-ayat al-Quran, doa, selawat, istighfar, dan sejenisnya. Yang pertama mengamalkannya ialah Al-Quthub al-Ghauts al-Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad Ba’alawi al-Huseini al-Hadhrami asy-Syafi’ie. Ulama besar keturunan Nabi Muhammad S.A.W ini dilahirkan di Tarim, Yaman, pada 5 Safar 1044 H/30 Julai 1634 M dan wafat pada 7 Zulqa’idah 1132 H/10 September 1720 M.

    Artikel ini bukan menceritakan riwayat hidup ulama yang tersebut tetapi adalah lebih memperkenalkan satu-satunya manuskrip bahasa Melayu yang membahas secara mendalam tentang “Ratib Al-Haddad”. Perlu saya sebutkan di sini bahawa hingga kini belum dijumpai “Ratib Al-Haddad” bahasan yang mendalam sepertinya dalam bentuk cetakan bahasa Melayu. Sungguh pun demikian, belum begitu lama, terdapat yang diusahakan oleh Syed Ahmad bin Muhammad bin Zain bin Semit cetakan yang ditulis dalam bahasa Arab, cetakan yang kedua Zulhijjah 1417 H/1997M, diterbitkan oleh Pustaka Nasional Singapura. Manuskrip yang dalam bahasa Melayu diselesaikan pada hari Ahad, jam 4.00 petang, bulan 24 Syawal 1224 H/2 Disember 1809 M. Disalin kembali tahun 1317 H/1899 M. Judul lengkap manuskrip dalam bahasa Arab “Sabil al-Hidayah wa ar-Rasyad fi Syarh ar-Ratib al-Haddad”. Judul terjemahan dalam bahasa Melayu “Jalan Pertunjuk dan Pengajaran Pada Menyatakan Faedah Kelebihan Quthub Bangsa Haddad”. Karangan asal dalam bahasa Arab dilakukan oleh keturunan ulama tersebut, beliau ialah Habib ‘Alawi bin Ahmad bin al-Hasan bin ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad. Nama penterjemah dari bahasa Arab ke bahasa Melayu tidak dinyatakan, kemungkinan adalah diterjemahkan oleh yang mengaku pemiliknya bernama Ahmad Salim ibnu al-Marhum Syeikh Mat Juban Pontianak, Kampung Melayu.

    Selain yang diberi judul di atas terdapat lagi manuskrip dalam bahasa Melayu, tetapi bahasan kandungannya berbeza, ialah “Kaifiyat Qiraat ar-Ratib al-Haddad“. Judul ini diterjemah oleh Saiyid Ahmad bin Muhammad al-‘Aidrus, tidak terdapat tarikh selesai penterjemahan. Manuskrip ini bekas dimiliki oleh Ahmad bin ‘Abdullah bin Qadhi. Manuskrip “Kaifiyat Qiraat ar-Ratib al-Haddad” lebih bercorak cara-cara mengamalkan ratib, tanpa mengemukakan dalil. Sedang “Sabil al-Hidayah wa ar-Rasyad” (manuskrip yang pertama) secara garis besar kandungannya ialah lebih mengutamakan dalil-dalil al-Quran dan hadis lebih lengkap untuk membuktikan bahawa amalan yang diajar oleh Quthub al-Ghauts al-Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad adalah tidak menyimpang dari ajaran Islam yang diajarkan oleh datuk nenek beliau, iaitu Nabi Muhammad S.A.W. Jika kita membuat perbandingan kandungan yang terperinci antara manuskrip bahasa Melayu dengan yang bahasa Arab cetakan Pustaka Nasional Singapura ternyata ada beberapa perkara yang dibicarakan dalam manuskrip Melayu tidak terdapat dalam yang bahasa Arab. Demikian juga sebaliknya.

    Dalam manuskrip yang bahasa Melayu dicatatkan tulisan Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam “Kitab Manaqib“, kata beliau, “Barangsiapa orang yang membiasakan atas ratib kami, nescaya dikurniai [oleh] Allah Ta’ala akan dia sebaik-baik kesudahan mati di dalam kalimah … “. Yang dimaksudkan di sini ialah mati dalam agama Islam dan beriman. Sebagaimana terdapat pada salah satu doa dalam ratib, yang terjemahannya “… matikan kami dalam agama Islam“. Doa ini pula ada hubungkait dengan doa dalam ratib juga, yang maksudnya, “Kami semata-mata ridha terhadap Allah, tuhan kami, kami suka agama Islam, adalah agama kami dan Nabi Muhammad S.A.W, Nabi kami. ” Terhadap Allah, Islam dan Nabi adalah sangat ditekankan dalam ilmu ‘aqidah supaya beri’tiqad dengan jazam dan betul. Perlulah diperhatikan, kerana sewaktu kita masuk kubur yang tersebut adalah pertama-tama perkara yang ditanya. Selain fadhilah untuk menghadapi sakarat al-maut, beliau sebut juga bahawa “Ratib al-Haddad” berfungsi “Dipeliharakan [oleh] Allah Ta’ala daripada terbakar, dan kecurian, dan tiada terbunuh orang akan dia … Ratib ini dibaca tiap-tiap ditimpa dukacita, nescaya diberi [oleh] Allah kesukaan“. Semua yang diriwayatkan bahawa bacaan-bacaan dalam ratib ada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam hadits shahih.

    Sebagai bukti “Ratib al-Haddad” sangat berpengaruh, dalam rangka “Majlis Haul Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad”, telah diadakan perhimpunan acara membaca ratib tersebut di Masjid Baitul Aman, di Jalan Damai, Kuala Lumpur, pada malam Sabtu 1 Zulqa’idah 1426 H/3 Disember 2005 M. Yang hadir selain dari seluruh Malaysia, ramai pula yang datang dari Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, India, Yaman, dan negara-negara lainnya. Acara diteruskan ke Batu Pahat (Johor), Temerloh (Pahang) dan Singapura. Selain membaca “Ratib al-Haddad” juga diadakan ceramah yang khusus membicarakan kehebatan dan jasa-jasa besar Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam penyebaran Islam. Karya-karya beliau telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa dan tersebar di seluruh dunia.

Ikhwah, sebenarnya hujjah yang dikemukakan oleh Cik Anon kita ini, adalah atsar Sayyidina ‘Abdullah bin Mas`ud r.a. Anon kita dengan taksubnya menshohihkan atsar tersebut dengan bersandarkan kepada al-Albani dan bukunya (maap le, kalam al-Albani ngak ada nilai di sini, kamu juallah perkataannya tempat lain). Tanpa menjelaskan kepada kita status atsar tersebut di sisi para ahli hadits yang lain. Atsar ini diriwayatkan oleh Imam ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad daripada al-Hakam bin al-Mubarak daripada ‘Amr bin Yahya daripada ayahnya daripada datuknya (Amr bin Salamah). Menurut sebahagian muhadditsin, kecacatan atsar ini adalah pada rawinya yang bernama ‘Amr bin Yahya (yakni cucu Amr bin Salamah). Imam Yahya bin Ma`in memandang “riwayat daripadanya tidak mempunyai nilai”. Imam adz-Dzahabi menyenaraikannya dalam kalangan rawi yang lemah dan tidak diterima riwayatnya, dan Imam al-Haithami menyatakan bahawa dia adalah rawi yang dhoif. Jadi sanad atsar ini mempunyai pertikaian di kalangan muhadditsin, sekalipun dinyatakan shohih oleh panutan Cik Anon kita, al-Albani.

Jika pun atsar tersebut dianggap shohih, maka Cik Anon sepatutnya merujuk kepada tafsiran dan penjelasan para ulama yang muktabar mengenainya. Anon juga tidak berlaku amanah bila tidak memaklumkan bahawa berhubung zikir bersama-sama atau berjemaah dalam satu majlis mempunyai sandaran yang banyak lagi shohih daripada hadits-hadits Junjungan Nabi s.a.w. dan atsar – atsar. Cik Anon juga gagal memahami bahawa puak yang ditegur oleh Sayyidina Ibnu Mas`ud adalah golongan KHAWARIJ. Maka atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud lebih kepada kritikan beliau kepada para pelaku yang tergolong dalam firqah Khawarij. Di mana golongan Khawarij memang terkenal dengan kuat beribadah, kuat sholat, kuat berpuasa, kuat membaca al-Quran, banyak berzikir sehingga mereka merasakan diri mereka lebih baik daripada para sahabat Junjungan s.a.w. Maka kritikan Sayyidina Ibnu Mas`ud ini ditujukan kepada kelompok Khawarij yang mereka itu mengabaikan bahkan mengkafirkan para sahabat kerana beranggapan ibadah mereka lebih hebat daripada para sahabat.

Oleh itu, janganlah digunakan atsar yang ditujukan kepada kaum Khawarij untuk kamu gunakan terhadap saudara kamu yang sangat memuliakan para sahabat Junjungan Nabi s.a.w. Sungguh sikap kamu ini jelas sikap Wahhabi yang menggunakan ayat-ayat yang ditujukan kepada orang kafir dan musyrikin untuk dijadikan peluru menghentam, membid`ah, mensyirik, mengkafirkan sesama Islam. Jangan kamu ingat para ulama kami tidak tahu mengenai atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud ini. Takutlah kamu kepada Allah, kerana seperti yang kamu katakan bahawa agama ini milik Allah bukannya hakmilik kamu dan bukan milik ikutan kamu golongan serpihan umat itu. Jangan kamu merobek perkara yang telah dipandang baik dan elok, kalau tidak dengan ijma’ umat ini, setidak-tidaknya baik dan elok di sisi jumhur. Jangan kamu taksub dan fanatik kepada seorang imam kamu untuk menuding jari bahawa para Imam kami dan ulama kami membuat-buat bid`ah. Insaflah wahai Cik Anon, khazanah ilmu Islam itu luas, seluas lautan lepas tidak bertepi, bukan hanya dalam karangan-karangan al-Albani sahaja.

Akhir sekali, aku nukilkan di sini kalam Imam as-Sayuthi rhm. berhubung atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud ini. Ikhwah dan Cik Anon boleh rujuk tulisan Imam Besar ini yang dengan jodol “Natiijatul Fikri fil Jahri fidz Dzikri” dalam “al-Hawi lil Fatawi” juz 1. Di situ Imam asy-Sayuthi menyenaraikan 25 hadits dan atsar yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhan hinggalah yang diriwayatkan oleh al-Mirwazi berhubung berzikir secara jahar dan majlis zikir berjemaah. Berhubung atsar Ibnu Mas`ud, Imam asy-Sayuthi pada halaman 394 menyatakan, antara lain:

    (Jika engkau kata) Telah dinukilkan yang Sayyidina Ibnu Mas`ud telah melihat satu kaum bertahlil dengan mengangkat suara dalam masjid, lalu beliau berkata: “Tidak aku melihat kamu melainkan (sebagai) pembuat bid`ah”, sehingga dikeluarkannya mereka dari masjid tersebut. (Kataku – yakni jawapan Imam as-Sayuthi) Atsar daripada Sayyidina Ibnu Mas`ud r.a. ini memerlukan penjelasan lanjut berhubung sanadnya dan siapa yang telah mengeluarkannya daripada kalangan para hafidz dalam kitab-kitab mereka. Jika dikatakan ianya memang tsabit, maka atsar ini bercanggah dengan hadits-hadits yang banyak lagi tsabit yang telah dikemukakan yang semestinya didahulukan (sebagai pegangan) berbanding atsar Ibnu Mas`ud apabila berlaku percanggahan. Kemudian, aku lihat apa yang dianggap sebagai keingkaran Sayyidina Ibnu Mas`ud itu (yakni keingkarannya terhadap majlis-majlis zikir bersama-sama tadi) akan penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab “az-Zuhd” yang menyatakan:- Telah memberitahu kami Husain bin Muhammad daripada al-Mas`udi daripada ‘Aamir bin Syaqiiq daripada Abu Waail berkata:- “Mereka-mereka mendakwa ‘Abdullah (yakni Ibnu Mas`ud) menegah daripada berzikir (dalam majlis-majlis zikir), sedangkan ‘Abdullah tidak duduk dalam sesuatu majlis melainkan dia berzikirUllah dalam majlis tersebut.” Dalam kitab yang sama, Imam Ahmad juga meriwayatkan bahawa Tsabit al-Bunani berkata:- “Bahawasanya ahli dzikrUllah yang duduk mereka itu dalam sesuatu majlis untuk berdzikrUllah, jika ada bagi mereka dosa-dosa seumpama gunung, nescaya mereka bangkit dari (majlis) dzikrUllah tersebut dalam keadaan tidak tersisa sesuatupun dosa-dosa tadi pada mereka”, (yakni setelah berzikir, mereka memperolehi keampunan Allah ta`ala).

Ikhwah, sekali lagi aku ingatkan bahawa para ulama kita bukan orang jahil dan bukanlah orang tidak takutkan Allah. Sungguh mereka lebih takutkan Allah, daripada kita semua, termasuklah Cik Anon kita. Oleh itu, berhati-hatilah bila mengkritik fatwa dan pandangan mereka. Aku sekadar membawa kalam mereka.

Berdzikirlah

Junjungan Nabi s.a.w. bersabda: “Ucapan yang paling dikasihi Allah ada empat, iaitu:- SubhanAllah wal Hamdulillah wa La ilaha illa Allah wa Allahu Akbar”. Inilah kalimah-kalimah yang paling dikasihi Allah, yang sewajarnya sentiasa basah bibir kita menyebutnya. Setidak-tidaknya didisiplinkan diri kita untuk mengucapkannya 100 kali pagi dan 100 kali petang, agar kita memperolehi kebajikan yang banyak. Sibuk mana pun kita, cubalah disiplinkan diri, disela-sela waktu yang kita ada. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam “Sunan“, juzuk 5, halaman 288 – 289, sepotong hadits berdarjat hasan ghorib daripada Muhammad bin Waziir al-Waasithiy daripada Abu Sufyan al-Humairiy iaitu Sa`id bin Yahya al-Waasithiy daripada adh-Dhahhak bin Humrah daripada ‘Amr bin Syu`aib daripada ayahandanya daripada nendanya bahawa Junjungan Nabi s.a.w. bersabda:-

من سبح الله مائة بالغداة و مائة بالعشي كان كمن حج مائة حجة، ومن حمد الله مائة بالغداة و مائة بالعشي كان كمن حمل على مائة فرس في سبيل الله أو قال غزا مائة غزوة، ومن هلل الله مائة بالغداة و مائة بالعشي كان كمن أعتق مائة رقبة من ولد إسماعيل، و من كبر الله مائة بالغداة و مائة بالعشي لم يأت في ذلك اليوم أحد بأكثر مما أتى به إلا من قال مثل ما قال أو زاد على ما قال

“Sesiapa yang bertasbih mensucikan Allah 100 kali waktu pagi dan 100 kali waktu petang, maka dia umpama orang yang mengerjakan 100 kali haji; Sesiapa yang bertahmid memuji Allah 100 kali waktu pagi dan 100 kali waktu petang, maka dia umpama orang yang menunggang 100 ekor kuda di jalan Allah, atau disabdakan baginda “orang yang berperang 100 peperangan (jihad)”; Sesiapa yang bertahlil mengesakan Allah 100 kali waktu pagi dan 100 kali waktu petang, maka dia umpama orang yang memerdekakan 100 orang hamba daripada keturunan Nabi Isma`il; Dan sesiapa yang bertakbir membesarkan Allah 100 kali waktu pagi dan 100 kali waktu petang, maka tiada seorang pun yang datang pada hari tersebut membawa pahala amalan yang lebih banyak daripadanya selain orang yang mengucapkan takbir seperti yang dia baca atau lebih banyak lagi.”

Besar sungguh rahmat dan kemurahan Allah, sungguh Allah itu asy-Syakuur, amalan yang sedikit dan ringan diganjariNya dengan berlipat-lipat kali ganda. Masih mahu lari ke tuhan-tuhan lainkah kita, ketuhanan yang palsu semuanya, selain Allah al-Haq. Kerajaan bagi bonus sebulan gaji, kita sudah gembira (yang tak gembira tu, kena demand le lebih kat Pak Lah), naik gaji 10%, kita gembira, Ini Allah balas ganjaran entah berapa peratus lipat gandanya (yang faham matematik kira sendiri, aku dah tak cukup jari nak kira), tak percaya lagikah kita kepada kasih sayang Allah terhadap hamba-hambanya yang beramal. Oleh itu, hendaklah kita sentiasa menjadi hamba-hamba yang taat beramal kebajikan, Allah tidak akan mempersia-siakan amalan hamba-hambaNya yang tulus beramal.

Majlis Dzikir

Halaqah-halaqah dzikir di mana umat berkumpul biasanya dalam lingkaran berkeliling untuk sama-sama menyebut dan memuji Allah s.w.t. dan bersholawat serta bermunajat adalah satu perkara yang sudah jelas hukumnya dan tidak perlu kepada perbahasan yang panjang. Antara dalil ialah hadits shohih riwayat Imam al-Bukhari dalam “Shohih”nya pada “Kitab ad-Da`awaat” yang diriwayatkan daripada Qutaibah bin Sa`iid daripada Jariir daripada al-A’masy daripada Abu Sholih daripada Sayyidina Abu Hurairah r.a. di mana diriwayatkan bahawa:- Junjungan s.a.w. bersabda:-

    “Bahawasanya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang tugas mereka ialah mengelilingi segenap pelosok bertujuan mencari ahli dzikir. Maka apabila mereka menemui satu kaum (yakni satu kumpulan manusia) yang sedang berdzikrullah, mereka pun berseru sesama sendiri (yakni sesama malaikat tadi): “Marilah kepada hajat (tuntutan / tujuan) kamu (yakni tugas mereka mencari ahli dzikir tadi)”.

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Maka malaikat-malaikat tersebut menyelubungi mereka (yakni kaum yang berdzikir itu) dengan sayap-sayap mereka sehingga ke langit dunia.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Lalu Tuhan mereka bertanya kepada para malaikat tersebut, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka: “Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab: “Mereka bertasbih kepadaMu, bertakbir kepadaMu, bertahmid kepadaMu, bertamjid kepadaMu (mengagungkan Allah).”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Maka Allah berfirman: “Adakah mereka melihatKu?”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Lalu para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Maka Allah berfirman: “Dan bagaimana jika sekiranya mereka melihatKu?”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Para malaikat itu berkata: “Jika sekiranya mereka melihatMu, nescaya jadilah mereka lebih kuat beribadah keranaMu, lebih kuat bertamjid keranaMu dan lebih banyak bertasbih keranaMu.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Allah berfirman: “Lalu apakah yang dipohon mereka kepadaKu?”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Para malaikat menjawab: “Mereka memohon kepadaMu akan syurga.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Allah berfirman: “Dan adakah mereka melihatnya (yakni melihat syurga)?”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Allah berfirman: “Maka bagaimana jika sekiranya mereka melihatnya?”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Para malaikat menjawab: “Jika sekiranya mereka melihatnya, nescaya sangat berkehendaklah mereka kepadanya, lebih sungguh-sungguh memohonnya dan lebih besar keinginan terhadapnya.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Allah berfirman: “Lalu dari apa mereka memohon perlindungan?”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Para malaikat menjawab: “Daripada api neraka.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Allah berfirman: “Dan adakah mereka melihatnya?”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Allah berfirman: “Maka bagaimana jika sekiranya mereka melihatnya?”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Para malaikat menjawab: “Jika sekiranya mereka melihatnya, nescaya jadilah mereka lebih kuat melepaskan diri daripadanya dan lebih takut lagi.”

Junjungan meneruskan sabdaan:

    “Maka berfirmanlah Allah: “Maka Aku persaksikan kamu bahawa sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.”

Junjungan meneruskan sabdaan:-

    “Berkata satu malaikat daripada malaikat-malaikat tersebut: “Di antara mereka (yakni antara kaum yang berdzikir itu) ada fulan (yakni orang) yang bukan daripada kalangan mereka, sesungguhnya dia datang kerana sesuatu hajat keperluannya.” Allah berfirman: ” Mereka sekalian adalah kaum/kumpulan yang tidak celaka orang yang ada bersama mereka.”

Ikhwah, inilah antara dalil yang menggalakkan perhimpunan-perhimpunan dzikir. Untuk kesimpulan buat posting ini, aku nukil perkataan almarhum Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad dalam bukunya “Miftahul Jannah” yang telah diterjemah dalam bahasa Inggeris oleh murid beliau Dr. Mostafa al-Badawi dengan jodol “Key to the Garden” pada halaman 116 – 117:-

Marilah kita sama-sama mempertingkatkan kerajinan diri untuk hadir ke majlis-majlis dzikir, termasuklah majlis-majlis ilmu yang bermanfaat. Tetapi adalah tidak benar, jika ditafsirkan majlis dzikir terhad kepada majlis – majlis ilmu sahaja sebagaimana tafsiran sesetengah geng anak Pak Wahab.

اللهم اجعلنا من الذاكرين لك كثيرا

    “Ya Allah, jadikanlah kami dari golongan orang yang banyak berdzikir kepadaMu”

Gelengan Zikir

Ikhwah, rezeki semuanya daripada pemberian Allah, dah jadi rezeki mike Ukhtina Mardhiah, tergolek bahan untuk aku buat posting pertanyaanmu. Aku cakap pasal gaya-gaya zikir dulu, hak lain tunggu dulu noooo. Ikhwah, yang kumaksudkan dengan gaya di sini ialah perlakuan zahir seseorang tatkala berzikir, yakni biasa kita lihat sewaktu berzikir ada yang mengeleng – gelengkan kepalanya ke kiri ke kanan dan sebagainya. Bagi sebahagian orang yang menerima baiah thoriqat, maka dalam ijazah zikir mereka diajar gaya-gaya tertentu sewaktu melaksanakan zikir tersebut dengan falsafahnya masing-masing. Ada yang mengajar agar tarikan kalimah “Laa” itu bermula dari bawah pusat, kemudian dibawa sehingga ke dahi kemudian diturunkan kalimah “ilaha” ke bahu kiri dan akhirnya dipalu kalimah “Allah” terus masuk ke dalam hati sanubari. Ada yang menarik kalimah “La ilaha” daripada hati sanubari sebagai isyarat mengeluarkan dan menafikan segala aghyar yang ada di dalamnya, kemudian dilontarkan ke belakang melalui bahu kanan, kemudian dikembalikan kalimah “illa” ke bahu kanan dan dipukul kalimah “Allah” ke dalam hati sanubari. Gaya-gaya ini biasanya diajar oleh syaikh yang mursyid kepada anak muridnya sewaktu menerima baiah thoriqat mereka. Bagi yang bukan ahlinya maka mereka memandang sinis perlakuan ini tanpa terlebih dahulu melihat dan mengkaji dalil dan alasan mereka berbuat sedemikian. Oleh itu, kalau nak tahu pergilah bertanya dengan mereka-mereka yang ahlinya, seperti Ustaz Jahid Haji Sidek, Prof. Dr. Harun Din dan sebagainya. Jangan tanya ngan THTL, MAZA, pilot, karang percuma free je kena bid`ah haarrrrraammmmmm.

Bagi orang awam yang tidak berthoriqah seperti di atas, mereka juga apabila berzikir, kebiasaannya dan pada umumnya, bergerak-gerak dan tergeleng-geleng kepala mereka. Sebenarnya semua ini punya sebab, alasan dan dalil. Antaranya ialah riwayat daripada Sayyidina Ali r.a. yang mensifatkan perlakuan para sahabat antaranya:-

فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا كما يميد الشجر في يوم الريح

“fa idza ashbahuu fa dzakarUllah maaduu kamaa yamiidusy syajar fi yawmir riih” yang bermaksud: “para sahabat apabila mereka berpagi-pagi mereka berzikrullah dalam keadaan bergerak (bergoyang) seperti goyangan pokok-pokok pada hari berangin.” Perkara ini juga disebut oleh Mufti Syaikh Ahmad bin Muhammad Sa`id Linggi dalam kitabnya “Faraa-idul Maatsir al-Marwiyyah lith Thoriqah al-Ahmadiyyah” di mana pada mukasurat 56 sebagai berikut:-

    Al-Hafidz Abu Nu`aim meriwayatkan bahawa as-Sayyid al-Jalil al-Fudhail bin ‘Iyyadh berkata:- “Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. apabila berzikir mereka menggerakkan badan condong ke kiri ke kanan seperti pohon kayu yang condong ditiup angin kuat.” Inilah di antara cara berzikir untuk keterangan lanjut mengenai cara ini, hendaklah ia menggerakkan tubuh badannya condong ke sebelah kanan memulakan dengan perkataan nafi “La” (daripada ayat tahlil La ilaha illa Allah) di sebelah kanan kerana nafsu yang condong kepada kejahatan ada di sebelah kanan. Kemudian menyebut lafaz “Allah” ketika badannya condong ke sebelah kiri, supaya hati menerima segala cahaya dan rahsia lafaz “Allah“.

Ustadz Muhibbul Aman Aly, pengasuh ruangan Istifta, Majalah Dakwah Bulanan terbitan Habib Taufiq as-Segaf dengan nama “Cahaya Nabawiy” dalam edisi 44 Th. IV Sya’ban-Ramadhan 1427H/September – Oktober 2006M telah ditanya mengenai dalil yang menjelaskan tentang cara membaca tahlil yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Soalan tersebut dijawab:-

    Sebenarnya tidak ada keharusan (peringatan: “harus” di sini mengikut pengertian bahasa Indonesia yang bererti “wajib atau mesti” dalam bahasa kita, jadi makna “tidak ada keharusan” ertinya “tidak ada kewajipan atau kemestian”, fahami betul-betul jangan salah faham karang sosat jalan) menggerak-gerakkan kepada ke kanan dan ke kiri dalam tatacara membaca kalimat tahlil. Akan tetapi jika cara itu dapat menambah kekhusyu’an pembaca dalam menghayati makna kalimat, maka hukumnya sunnah. Sedangkan cara yang umum adalah menoleh ke kanan pada kalimah nafi (la ilaha) dan menoleh ke kiri pada kalimah itsbat (illaAllah). Cara ini berdasarkan riwayat hadits yang artinya:- “Berkata Rasulullah s.a.w. kepada ‘Ali kw.: “Dengarkan perkataanku tiga kali, kemudian tirukan tiga kali dan aku mendengarkannya”. Lalu Rasulullah s.a.w. mengucapkan ‘La ilaha illa Allah‘ tiga kali dengan menoleh ke kanan pada kalimah nafi dan menoleh ke kiri dalam kalimah itsbat sambil memejamkan matanya. Demikian juga tentang gerakan badan secara spontan yang biasa dijumpai pada saat berdzikir, hukumnya adalah boleh. Karena gerakan itu merupakan reaksi spontan yang wajar ketika perasaan sedang terbawa oleh bacaan dzikir. Lihat: Bariqoh Mahmudiyah juz IV hal. 139 – 140, Mausu`ah Yusufiah hal 175.

Oleh itu, janganlah dibesar-besarkan masalah manusia berzikir dengan gerakan badan dan gelengan kepala. Aku sendiri kalau berzikir dengan duduk diam je samalah macam berjalan tak hayun tangan gamaknye, macam robot. Apa yang lebih patut difikirkan kita dan mereka yang seberang tu ialah anak-anak muda termasuk juga kekadang anak-anak tua, yang tergeleng-geleng, terloncat-loncat kat konsert Jom Heboh yang turut diadakan di Negeri Darus Sunnah yang langsung tidak sunnah. Sebenarnya banyak lagi dalil, cuma aku tak larat nak muatkan di sini. Insya-Allah, ada kesempatan di lain ketika, dunga`ukum.

Tidur lagi

Satu lagi posting mengenai amalan sebelum tidur, harap ikhwah jangan pulak tertidur, bukan apa dah terlanjur kitab ada di tangan, apa lagi habaq mai le, kalau dah tahu jadi ingatan, kalau tak tahu, jadi tahu, betui tak, jangan jadi togey sudah. Hidup tahu, jangan hidup tak tahu.

Baiklah, kita semua sedia maklum bahawa beristighfar memohon keampunan Allah merupakan amalan yang mesti bagi kita hamba yang banyak dosa ini. Lidah hendaklah dibiasakan mengucapkan ucapan “Aku mintak keampunan Allah yang Maha Agung”, mudah-mudahan dari lidah terus ke hati, tapi ada gak ulama habaq yang lidah itu cuma dalil bagi apa yang ada dalam hati. Apa-apa pun yang penting betul-betul mintak keampunan Allah s.w.t. Selain beristighfar selepas sholat, kita juga dianjurkan untuk beristighfar sebelum tidur, bahkan benar-benarlah kita mohon keampunan Allah sebelum kita tidur kerana tidur itu saudaranya mati. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits berdarjat hasan gharib dalam Sunannya pada kitab ad-Da`awaat daripada Sholeh bin ‘Abdullah daripada Abu Mu`aawiyah daripada al-Washshaafi daripada ‘Athiyyah daripada Sayyidina Abu Sa`id r.a. daripada Junjungan Nabi s.a.w. bersabda:- “Sesiapa yang ketika merebahkan dirinya ke tempat tidur mengucapkan istighfar 3 kali, Allah akan mengampunkan dosa-dosanya walaupun seumpama buih lautan, sebanyak bilangan daun pokok, sebanyak bilangan pasir halus dan sebanyak bilangan hari-hari dunia.”

Selain beristighfar, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan satu doa ringkas yang sayogia kita amalkan sewaktu hendak melelapkan mata kita. Doanya اللهم قني عذابك يوم تبعث عبادك (Allahumma qinii ‘adzaabaka yawma tab`atsu ‘ibaadak) atau setengah riwayat “tab`atsu” diganti dengan “tajma’u” yang membawa erti permohonan agar diselamatkan Allah daripada azabnya pada hari kebangkitan atau hari perhimpunan di padang Mahsyar kelak. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi daripada Ibnu Abu ‘Umar daripada Sufyan daripada ‘Abdul Malik bin ‘Umair daripada Rabi`iy bin Haraasy daripada Sayyidina Hudzaiifah al-Yamaani yang mengkhabarkan bahawa Junjungan Nabi s.a.w. apabila hendak tidur baginda meletakkan tangannya dibawah kepala baginda dan mengucapkan doa tersebut. Darjat haditsnya ialah hasan shohih. Jadi geng anak Pak Wahab tentu tak dak masalah nak amalkan…kan..kan…kan…. lainlah kalau dah tak caya sama Imam at-Tirmidzi.

Wirid Tidur

Waktu kecil dahulu, aku diajar dengan beberapa bacaan untuk diamalkan sebelum tidur. Bacaan-bacaan tersebut dinukilkan daripada kitab tok-nenek dahulu, kitab yang masyhur, di mana rata-rata golongan tua dahulu mengenali dan memilikinya. Kitabnya tak lain tak bukan kitab “Perukunan” dikenali juga sebagai “Perukunan Besar” karangan Syaikh Abdur Rasyid Banjar. Dalam kitab itu disebut sekali akan kaifiat dan kelebihannya, dan tidaklah aku ketahui akan sumber darjat riwayatnya itu. Tetapi bagiku, bacaan-bacaan tersebut tidaklah menjadi kesalahan atau bid`ah dholalah untuk diamalkan kerana semua bacaan – bacaan tersebut adalah tsabit pada syarak, cuma kelebihan yang dinyatakan dan waktu atau kaifiyat bacaannya sahaja yang mungkin kita yang jahil ini tidak tahu samada ianya warid daripada Junjungan s.a.w. dalam rupa bentuknya tersebut. Oleh itu jika kita dituntut untuk berhusnudz dzan, maka husnudz dzan terhadap ulama terdahulu terlebihlah wajar. Tujuan aku nukilkan di sini bukanlah untuk meninggalkan riwayat-riwayat yang shohih berkenaan doa, wirid dan zikir tidur sebagaimana diketahui umum dalam banyak hadits seperti riwayat Imam al-Bukhari berkenaan Ayatul Kursiy yang jika dibaca tatkala hendak tidur dipelihara kita daripada syaitan hingga ke pagi atau hadis berhubung tasbih Siti Fathimah r.anha atau hadits Imam at-Tirmidzi yang menyatakan apabila seseorang hendak tidur lalu membaca istighfar 3 kali nescaya diampunkan akan dosa kesalahannya walaupun sebanyak buih lautan, sebanyak bintang-bintang atau dedaun pohonan, sebanyak pasir halus dan sebanyak bilangan hari dunia. Kunukilkan di sini sekadar untuk dijadikan amalan tambahan bagi sesiapa yang berkehendak, sesiapa yang tidak mahu maka tidaklah ada apa-apa paksaan, kerana kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah memang terkenal dengan sikap tasamuh yang tinggi sesama ahli kalimah “La ilaha illa Allah“. Oleh itu, harap jangan ada yang nak bercekak ngan aku dalam apa yang hendak kusampaikan, kerana kalau ada yang cekak, aku pun cekak, bila sama-sama cekak maka tidaklah boleh berlawan lagi sebab satu perguruan, terpaksalah guna buah 6 tolak 6. Tapi la ni dah timbul 2 cekak pulak, satu cekak Hanafi lagi satu cekak Syafi`i, kot. Eh, melalut pulak aku dalam arena seni pertahanan diri cekak mencekak ni (p/s – aku melawak je, jadi ahli cekak tak kiralah dari kumpulan mana, jangan marah nooo sebab aku dulu pun cekak jugak).

Berbalik kepada kitab “Perukunan” maka tersebutlah pada mukasurat 25 – 26 demikian itu kitab begini bunyinya: “Sabda Rasulullah s.a.w. kepada sahabat:-Barangsiapa hendak tidur, jika belum membaca Quran 30 juzuk, jangan engkau tidur, maka baca olehmu akan Fatihah 3 kali maka serasa membaca Quran 30 juzuk. Barangsiapa hendak tidur jika belum perang sabilillah jangan engkau tidur, maka baca olehmu قل هو الله احد (al-Ikhlash) 3 kali maka serasa perang sabilillah. Barangsiapa hendak tidur jika belum memerdekakan hamba 40 orang jangan engkau tidur, maka baca olehmu sholawat 3 kali maka serasa memerdekakan hamba 40 orang. Maka barangsiapa hendak tidur jika belum memberi makanan segala mukminin maka jangan engkau tidur, maka baca olehmu Allahummagh fir lil mu`miniina wal mu`minaat wal muslimiina wal muslimaat 3 kali maka serasa memberi makanan segala mukminin. Barangsiapa hendak tidur jika belum naik haji jangan engkau tidur, maka baca olehmu akan SubhanAllah walhamdulillah wa la ilaha illaAllah wa Allahu Akbar 3 kali maka serasa naik haji.”

Begitulah, keterangan dalam kitab “Perukunan”, dan pernah juga aku terjumpa dalam kitab lain riwayat yang sedikit berbeza di mana Junjungan s.a.w. diriwayatkan bersabda kepada Siti ‘Aisyah r.anha ketika hendak tidur, “Wahai ‘Aisyah, jangan engkau tidur sebelum mengkhatamkan al-Quran, menjadikan para nabi mensyafaatimu kelak di hari kiamat, menjadikan semua orang Islam meredhaimu dan sebelum engkau mengerjakan haji dan umrah.” Siti Aisyah r.a. bertanya kepada Junjungan s.a.w.: “Ya RasulAllah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, apa yang engkau perintahkan aku lakukan empat perkara tersebut dalam waktu itu tidaklah dapat aku laksanakan.” Junjungan s.a.w. tersenyum dan menyatakan:- “Apabila engkau membaca suratul Ikhlas 3 kali, maka seolah-olah engkau mengkhatamkan al-Quran, apabila engkau membaca sholawat kepadaku dan ke atas para nabi maka kami akan mensyafaatimu pada hari kiamat, apabila engkau beristighfar untuk sekalian orang mukmin, maka telah redhalah mereka akan dikau, dan apabila engkau membaca SubhanaAllah wal hamdulillah wa la ilaha illaAllah wa Allahu Akbar, maka seolah-olah engkau berhaji dan berumrah.

AD-DU`A’ SILAAHUL MU`MIN

Tartib Ziarah Dhorih ash-Sholihin

Ikhwah, rehat sebentar dan atas permintaan yang tidak dapat aku tolak, maka kupaparkan di sini doa-doa yang dibaca sewaktu berziarah ke maqam para awliya yang disusun oleh al-Imam al-‘Aarif bIllah al-Habib ‘Abdullah bin Husain bin Thohir, yang diamalkan sewaktu ziarah dan sebelum membaca yaasin dan bertahlil. Kepada yang berhajat, bolehlah beramal, sesiapa yang tidak mahu, tiadalah apa-apa paksaan. Ini bukan aku yang punya amalan, jadi janganlah nak marah ngan aku pulak. Mudah-mudahan amalan kita semua diterima Allah, mendapat rahmat daripadaNya serta mendapat syafaat daripada Junjungan s.a.w. dan keberkatan para awliya.

Sholawat & Istighfar

Imam asy-Syihab ar-Romli telah ditanya:

    ” Adakah istighfar lebih afdhal daripada sibuk bersholawat dan mengucap salam ke atas Nabi s.a.w. atau dibezakan iaitu bagi orang yang kebiasaannya taat sholawat lebih afdhal dan bagi orang yang kebiasaannya maksiat istighfar lebih afdhal ?

Dijawab oleh Imam tersebut:-

    “Bahawasanya menyibukan diri dengan sholawat dan salam ke atas Nabi s.a.w. lebih afdhal daripada menyibukan diri dengan istighfar secara mutlak.”

Jadi banyakan sholawat, tapi jangan pula lupa beristighfar dan memohon keampunan Allah s.w.t.

Jumaat Terakhir Bulan Rajab

Shohibus Samahah Almarhum Mufti Syaikh Ahmad bin Muhammad Sa`id bin Jamaluddin al-Linqi al-Malayuwi dalam kitabnya “Tuhfatul Awthan wal Ikhwan ” menulis:-

    Daripada “Fawaaid” asy-Syaikh ‘Ali al-Ajhuri rhm. bahawa barangsiapa membaca ia pada akhir Jumaat daripada Rajab dan khatib di atas mimbar akan “AHMADU RASULULLAH MUHAMMADUR RASULULLAH” 35 kali tiada putuslah dirham-dirham daripada tangannya di dalam tahun itu.

Sewajar kita amalkan, mudah-mudahan timbul keberkatan dalam kelancaran rezki, hendaklah dibaca sewaktu Khatib duduk antara dua khutbah.

Zikir Berjamaah

Kutelaah akan kitab “Miftahul Falah wa Mishbahul Arwah” karangan panutanku Imam Ibnu Athoillah as-Sakandari yang merupakan khalifah Imam Abul ‘Abbas al-Mursi yang merupakan khalifah Imam Abul Hasan ‘Ali asy-Syadzili di mana termaktub antara lain:-

“Sebahagian orang berpendapat bahawa zikir yang dilakukan oleh satu orang dan zikir yang dilakukan secara berjemaah ibarat muadzdzin (tukang azan) yang tunggal dan muadzdzin jamaah. Sebagaimana muadzdzin jamaah suara-suara mereka lebih lantang dan lebih kuat sehingga boleh menembusi ruang udara yang tidak mungkin dijangkau oleh suara muadzdzin tunggal, demikian pula dengan zikir jamaah, ianya lebih banyak memberikan pengaruh ke dalam qalbu dan lebih memiliki kekuatan untuk mengangkat hijab qalbu berbanding zikir yang dilakukan secara sendirian. Selain itu, setiap orang akan mendapatkan pahala zikirnya sendiri dan pahala mendengar zikir orang lain.”

Allahummaj ‘alna minadz dzakiriin.

Tasbih 1000 Imam al-Haddad

Ini adalah seutas tasbih yang mengandungi 1000 bijian yang dinisbahkan kepada Imam Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad r.a. Bid`ah atau tidaknya menggunakan tasbih, bukan persoalanku, tetapi aku yakin para ulama tidak menyimpang dari jalan salafus sholeh yang tentunya berteraskan kepada jalan Junjungan Nabi s.a.w. Sekian ramai ulama yang a’laam yang tasbih sentiasa berada di tangan mereka untuk membantu mereka berzikir kepada Allah dan untuk menjalankan zikrullah pada tangan dan jari jemari mereka. Antaranya Imam Hasan al-Bashri, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam as-Sayuthi dan banyak lagi. Renung sejenak, bukankah mereka-mereka ini layak untuk dijadikan ikutan (worthy to be followed), bukankah mereka-mereka ini warisnya Rasulullah s.a.w. ? Kalau bukan mereka, maka siapakah lagi yang layak ? Penggunaan tasbih telah merata di kalangan umat ini zaman berzaman berkurun-kurun sejak dahulu sehingga kini. Justru itu kenapa baru kini dipermasalahkan ? Bukankah atsar telah jelas menyatakan “ma ra ahu muslimuna hasanan fa huwa ‘inda Allahi hasan” [Apa-apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka ianya juga baik di sisi Allah]. Tidak cukupkah endorsement yang telah diberikan oleh para ulama tersebut baik secara senyap atau secara terang melalui tulisan dan amalan ? Kalau pun khilafiyyah, maka ianya persoalan pegangan pribadi, tidak pernah terdengar pihak yang mewajibkan penggunaannya, maka kenapa ada pihak yang mengharamkan penggunaannya ? Kalau khilafiyyah, hendaknya berlapang dada. Allahumma faqqihna fid din.

Ni`al al-Musthofa s.a.w. 4

Rupa bentuk lakaran ni`al yang tercatat dalam kitab “Jawahirul Bihar” karangan Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani.

    Menurut Kiyai Haji Abdul Jalil Bakri, Mudir Pesantren Darut Tauhid, Brongkal, Pagelaran, Malang, Jawa Timur, sebahagian ulama menyatakan bahawa antara kelebihan timtsal / lakaran / gambaran / mitsal ni`al Junjungan s.a.w. adalah:-

    Apabila timtsal ni`al ini disimpan dalam rumah, maka rumah tersebut selalu mendapat perlindungan Allah dari berbagai marabahaya seperti kebakaran, kecurian dan sebagainya, serta penghuni-penghuni rumah tersebut akan memperolehi rahmat, barakah, keamanan, selama di rumah tersebut tiada suatu apapun yang menjadi pantangan masuk malaikat rahmat ke dalamnya.

    Apabila timtsal ini dibawa berpergian, maka perjalanannya diberkati dengan keamanan dan selamat serta berhasil.

    Apabila timtsal ini ditaruh di badan orang sakit, maka insya-Allah cepat disembuhkan Allah dengan keberkatan Sayyidina Empunya Ni`al.

Ni`al al-Musthofa s.a.w.

Malam 27 Rajab, umat sibuk memperingati Isra` dan Mi’raj Junjungan. Kemuliaan Junjungan terlalu amat sehingga apa sahaja bersama Junjungan turut menjadi mulia, seperti diisyaratkan oleh ayat “al-ladzi baarakNaa haulahu” (yang Kami, yakni Allah, berkati sekitarnya”), jika ayat tersebut menceritakan keberkatan Masjidil Aqsa, maka Junjungan s.a.w. ini kemuliaannya keberkatannya keagungannya melebihi segala selain Allah s.w.t., fikirkanlah wahai saudara lalu jadikanlah dirimu berada dalam daairah sekitar Junjungan s.a.w. dan sekitar pewaris dan khalifah Junjungan. Kemuliaan Junjungan tertumpah sehingga ke ni`alnya yang dibawa bersama menghadap Rabbul Jalil sehingga lakaran ni`al tersebut yang dilakar demi kecintaan kepada tuan empunyanya mengandungi keberkatan dan rahsia yang sukar diungkapkan. Lakaran ni`al Junjungan Nabi s.a.w. mempunyai rahsia dan keistimewaan di kalangan sebahagian ulama sehingga ianya dijadikan simbol bagi Usrah Dandarawi (iaitu pengamal Thoriqat Ahmadiyyah Rasyidiyyah Dandarawiyyah) di Mesir. Antara kelebihannya ialah seperti diceritakan oleh Imam al-Qasthaalani dalam kitabnya “al-Mawaahibul Laduniyyah” juz ke-2 mukasurat 174:-

Dan di antara kelebihannya yang telah dicuba manfaat dan keberkatannya ialah apa yang dikisahkan oleh seorang syaikh yang sholeh, Abu Ja’far Ahmad bin Abdul Majid:- “Aku telah membuat mitsal ni`al ini untuk seorang muridku, maka dia telah berjumpa denganku pada suatu hari dan berkata:- “Kelmarin aku telah melihat keberkatan ni`al ini yang ajaib. Isteriku telah ditimpa sakit yang berat sehingga hampir-hampir binasa, maka aku letakkan mitsal ni`al tersebut pada tempat sakitnya dan berdoa “ALLAHUMMA ARINIY BARAKATA SHOHIBI HADZAN-NA’LI” ( Ya Allah, tunjukkanlah aku keberkatan tuan empunya ni`al ini, yakni Junjungan Nabi s.a.w.), lalu dia disembuhkan Allah pada waktu itu juga.

Telah berkata Abu Ishaq:-“Telah berkata Abul Qaasim bin Muhammad:-“Di antara yang telah mujarrab keberkatannya ialah sesiapa yang membawanya bersama dengan niat untuk mengambil berkat, jadilah dia selamat daripada kejahatan penjahat, memperolehi kemenangan ke atas musuh dan mendapat penjagaan daripada syaitan yang jahat serta dipelihara daripada kedengkian orang-orang yang hasad. Dan jika dibawa oleh orang perempuan hamil yang sedang sakit hendak bersalin pada sebelah kanannya, nescaya dipermudahkan urusannya tersebut dengan pertolongan dan kekuatan Allah.”

Saudara, inilah antara penyaksian ulama kita berhubung lakaran ni`al al-Musthofa s.a.w. Percaya atau tidak terpulanglah, “al-madad fil masyhad fil I’tiqaad nailul murad” (“Bantuan/ Sokongan sekadar penyaksian dan dalam pegangan teguh tercapainya tujuan”). Untuk pengetahuan, Imam al-Qasthaalani adalah seorang ulama terbilang, pemuka ilmu hadits dan fiqh mazhab Syafi`i. Antara gurunya ialah Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari dan as-Sakhawi. Banyak mengarang kitab antara yang masyhur ialah “Irsyadus Sari fi syarhi Shohihil Bukhari” merupakan syarah Shohih Bukhari dalam 10 jilid besar dan “al-Is`aad fi talkhis al-Irsyad” merupakan furu’ feqah Syafi`i. Maka terpulanglah. Alfu Alfi Sholaatin Wa Alfu Alfi Salaamin ‘Alaika, Ya Shohibal-Mi’raaj. Alfu Alfi Sholaatin Wa Alfu Alfi Salaamin ‘Alaika, Ya Shohiban-Na’lain. (Jutaan sholawat dan salam untukmu Wahai Tuan Empunya Mi’raaj; Jutaan sholawat dan salam untukmu Wahai Tuan Empunya Dua Ni`al).

Lakaran Ni`al al-Mustafa s.a.w. yang dinisbahkan kepada Imam Ahmad Redha Khan Barelwi dan ditulis padanya bait-bait syair dalam bahasa Urdu yang menyanjung Junjungan al-Mustafa s.a.w. Syaikhul Hadits Maulana Zakaria al-Kandahlawi dalam catatannya untuk kitab “Syamail at-Tirmidzi” menyatakan:- “Gambar lakaran capal dan kelebihan serta keberkatannya telah diberikan dengan begitu terperinci di dalam kitab “Zadus Sa`id” karangan Maulana Asyraf ‘Ali Thanwi (rahmatullah ‘alaihi). Khasiatnya tidak putus-putus. Alim tersebut telah mengalaminya beberapa kali. Beliau berkata dengan menyimpan sebuah gambar lakaran capal ini seseorang itu akan diberkati dengan ziarah bertemu Rasulullah, akan dilepasi daripada ancaman kuku besi penzalim, mencapai kemasyhuran dan berjaya di dalam segala cita-cita melalui tawassul capal ini. ” Moga kita juga dapat memperolehi keberkatan ini, jika belum, bersabarlah mungkin belum ada rezeki, mungkin kecintaan belum benar-benar tulus, mungkin kekotoran jiwa belum memungkinkan pertemuan dengan sebersih-bersih dan sebaik-baik makhluk. Nartaji minkas syafa`ah, Ya RasulAllah.

Sandal Junjungan Mahkota Kemegahan

Ulama membuat lakaran atau imej sandal Junjungan s.a.w. demi kecintaan kepada Junjungan s.a.w. sehingga merasakan sandal di telapak kaki Junjungan s.a.w. lebih mulia dan lebih bertuah daripada diri mereka. Hal ini amat payah untuk difahami oleh orang – orang yang tidak mengenal cinta dan orang yang tidak pernah mengecap fana-ur-rasul. Perhatian diberikan hatta ke sandal Kekasih s.a.w. bukan kerana sandal tetapi kerana yang empunyanya. Tulusnya cinta pada Sang Kekasih telah menyebabkan keberkatan. Berbagai ulama telah mengarang berbagai kitab mengenai lakaran sandal atau ni`al al-Mustafa s.a.w. ini. Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani memperkatakannya serta membawa nukilan berbagai ulama dalam kitabnya “Jawahirul Bihar” jilid ke-3, Maulana Asyraf Ali Thanwi dalam “Zadus Sa`id”, Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya “Timtsalu Na’l an-Nabiy“, Imam Ibnu Muqri dalam kitabnya “Qurratul Aynayn fi Tahqiq Amr an-Na’layn“, Imam Abul Abbas al-Maqqari dalam kitabnya “Fathul Muta`al fi Madhin-Ni`al”, Imam al-Qashthalani dalam kitabnya “Mawahibul Laduniyyah” dan ramai lagi. Insya-Allah, jika diizinkan Rabbul Jalil kan kucuba mengutarakan serba sedikit mengenai keberkatannya buat renung sahabat yang berhajat. (Gambar sekadar hiasan)

Sandal/Capal Junjungan menjadi simbol kepada para pencinta baginda bahawasanya segala tindak-tanduk, amal-perbuatan, bahkan apa saja hendaklah sentiasa atas jalan dan di bawah qadam Junjungan s.a.w. agar tidak tersimpang perjalanan menuju keredhaan Allah. Kemuliaan Junjungan tiada tara, sehingga Junjungan tidak diperkenankan Rabbul ‘Izzah untuk menanggalkan sandal baginda sehingga pertemuan di tempat pertemuan “qaba qawsaini aw adna” sandal masih berada di tapak kaki Junjungan. Sehebat-hebat mahkota para raja dan pemerintah tidak dapat melawan kemuliaan yang telah dicapai oleh sandal Junjungan s.a.w. Alfu alfi sholaatin wa alfu alfi salaamin ‘alaika Ya Shohiban Na’lain. (Gambar sekadar hiasan)

Wirdul-Latif

Zikir Pagi Dan Petang

Wirdul-Latif adalah satu dari susunan wirid dan zikir oleh Al–Imam Al–Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Selalunya ia dibaca berseorangan pada waktu pagi dan petang. Seperti karangannya yang lain, Imam Haddad menguatkan wirid ini dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadith.

Dengan cara tulisannya yang senang difaham, pendek dan tepat, beliau menyusun ayat-ayat Al-Quran dan Hadith untuk berzikir kebesaran dan kelebihan Allah. Dinamakan Wirdul-Latif (wirid ringan) sebab senang dibaca dan senang dirasakan di hati kita. Juga sebab ia tidak begitu panjang seperti wirid yang besarnya, iaitu Wirdul-Kabir.

Karangan dan bacaan Wirdul-Latif di sini ialah seperti yang dianjurkan oleh pengikut-pengikut, murid-murid dan muslimin di negeri Arab, Semenanjung Asia dan Africa, dari keturunan Al-Haddad, Munsib-munsibnya di maqam Imam al Haddad di Al-Hawi, Tarim – Hadhramaut di negara Yaman.

Imam Alawi bin Ahmad bin Hassan Al-Haddad, anak kepada cucu beliau telah menyusunkan wirid ini dengan mengurangkan jumlah bacaan tasbih and tahmeed. Perulangan tasbih dan tahmeed dikurangkan kepada tiga dan ditambah satu ayat untuk gantinya. Baginda mengikut arahan Allah seperti di Surah 2 Al-Baqarah Ayat 286: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya.”

Diriwayatkan daripada Anas r.a. katanya: Rasulullah s.a.w telah masuk ke masjid dan baginda mendapati ada seutas tali yang direntangkan di antara dua tiang, lalu baginda bertanya: “Tali apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Tali itu digunakan oleh Zainab untuk sembahyang, apabila dia merasa malas atau keletihan dia akan berpegang pada tali tersebut.” Rasulullah s.a.w bersabda lagi, “Lepaskan ikatan tali tersebut, seseorang dari kamu hendaklah bersembahyang dengan keupayaan yang ada pada dirinya, apabila dia malas atau letih maka hendaklah dia berhenti.” Zainab adalah seorang yang kukuh imannya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Zainab r.a. jikalau ia mahu belajar satu zikir yang berpahala serupa dengan membaca bilangan zikir-zikir ini. Dan Baginda pun berkata, “tambahkan kalimah ‘seberapa banyak ciptaan Nya’ kepada setiap tasbih, taslim and tahmeed”.

Sudah tentulah lebih baik kalau kita ada masa dan tenaga untuk membaca wirid ini dengan sepenuhnya. Insya Allah Allah akan memberi kita taufiq dan hidayat dan merahmati Al-Habib kita serta memimpin kita ke jalan yang benar.

الوِرْدُ اْللَطِيف

  1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اْللهُ أَحَدٌ، اَللهُ اْلصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يٌوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. (ثلاثا)

  1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X)

Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”

Dari Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).

  1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَـرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَـرِّ النَّـفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ  شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.   (ثلاثا)

  1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”. Surah Al-Falaq (3X)

Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku..

  1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. (ثلاثا)

  1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas (3X)

Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.

  1. رَبِّ أَعُوذُ بِـكَ مِنْ هَمَـزَاتِ الشَّيَـاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُـرُونِ. (ثلاثا)
  2. Ya Tuhanku, aku berlindung dengan-Mu dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung pula dengan-Mu ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku. (3X)

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 97-98

  1. أَ فَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاَ وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُـوْنَ.
  2. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 115

  1. فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ.
  2. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya – Tidak ada Tuhan Selain Dia – Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang Agong.

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 116

  1. وَ مَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِـهِ، فَإِنَّمَا حِسَـابُهُ، عِنْدَ رَبّـِهِ، إِنَّـهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِـرُوْنَ.
  2. Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak beruntung.

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 117

  1. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
  2. Dan katakanlah: Ya Tuhanku berilah ampunan dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik!

Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 118

  1. فَسُبْحَانَ اللهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ.
  2. Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 17

  1. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ.
  2. Dan bagiNyalah segala puji di langit dan bumi, dan di waktu petang dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 18

  1. يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَيُحْيِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرِجُوْنَ.
  2. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya: dan seperti itulah kamu dikeluarkan dari kubur.

Surah 30: Ar-Rum Ayat 19

  1. أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم.ِ (ثلاثا)
  2. Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk. (3X)

Dari Abu Daud diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; “Apabila  Rasulullah s.a.w. sembahyang tahajjud, selepas beliau bertakbir, baginda membaca: “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar dan Lailaha illallah, tiga kali kemudian beliau mengucap: “Aku berlindung dengan Allah, Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, godaannya dan ludahnya.

  1. لَوْ أَنْزَلْنَـا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًـا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ.
  2. Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-pecah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Surah 59: Al-Hashr Ayat 21

  1. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهاَدَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ
  2. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

Surah 59: Al-Hashr Ayat 22

  1. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِـنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ، سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ.
  2. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan Selain Dia; Raja Yang Maha Suci; Yang Maha Sejahtera; Yang Mengurniakan keamanan; Yang Maha Memelihara; Yang Maha Perkasa; Yang Maha Kuasa; Yang Memeliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Surah 59: Al-Hashr Ayat 23

  1. هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ، لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيمُ.
  2. Dialah Allah Yang Menciptakan; Yang Mengadakan; Yang Membentuk Rupa; Yang Mempunyai sifat-sifat yang baik; Bertasbihlah kepada–Nya apa yang ada di langit dan di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. Surah 59: Al-Hashr Ayat 24
  3. سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ.
  4. Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Surah 37:Al-Saffat Ayat 79
  5. إِنَّا كَذَلِكَ نُجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ.
  6. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Surah 37:Al-Saffat Ayat 80
  7. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ.
  8. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Surah 37:Al-Saffat Ayat 81
  9. أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. (ثلاثا)
  10. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhlukNya. (3X)

Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”

  1. بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ أسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.      (ثلاثا)
  2. Dengan nama Allah yang dengan nama–Nya tak satu pun, yang di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana dan Ia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)

Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang, tiada kesakitan apa jua akan di alaminya.”

  1. الَّلهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِي نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ، فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. (ثلاثا)
  2. Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendapatkan kurnia, kesehatan serta perlindungan daripada-Mu di pagi hari ini, maka sempurnakan kurnia kesihatan serta perlindungan-Mu padaku di dunia dan akhirat. (3X)
  3. اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ. (أربعا)
  4. Ya Allah, di pagi hari ini aku mengambil–Mu sebagai saksi, begitu pun para pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu dan seluruh makhluk-Mu, bahawa Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau, Tunggal tiada sekutu, dan bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu. (4X) (Sila rujuk ke-31)
  5. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. (ثلاثا)
  6. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, pujian yang memadai nikmat-nikmat–Nya dan mencukupi penambahanNya. (3X)
  7. آمَنْتُ بِاللهِ العَظِيْمِ، وَكَفَرْتُ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ، وَاسْتَمْسَكْتُ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، لاَ اَنْفِصَامَ لَهاَ، وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيمٌ. (ثلاثا)
  8. Aku beriman kepada Allah Yang Maha Agung dan ingkar terhadap sembahan selain Allah, kejahatan dan thoghut (segala yang disekutukan dengan Allah), dan aku berpegang dengan tali yang kukuh yang tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X) Surah Al-Baqarah Ayat 256;

Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Salam, yang menceritakan satu peristiwanya kepada Rasulullah s.a.w. lalu baginda berkata, “Syurga itu Islam, dan berpeganglah Pegangan Yang Teguh (urwat al-wuthqa) supaya kamu sentiasa menjadi seorang Muslim sampai kamu mati.”

  1. رَضِيْتُ بِاللهِ رَبـًّا، وَ بِالإِسْلاَمِ دِيْنـًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُولاً. (ثلاثا)
  2. Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan rasul. (3X)

Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Sesiapa berdoa setiap pagi dan petang dengan doa ini akan masuk ke syurga.”  Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya ugama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.

  1. حَسْـبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَ هُـوَ عَلَيْـهِ تَـوَكَّلْتُ وَهُـوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْـمِ. (سبعاً)
  2. Cukuplah Allah sebagai pelindungku; tiada Tuhan melainkan Dia, kepada–Nya aku bertawakal, dan Dialah Penguasa Arasy yang agung. (7X) Surah 9 al-Tawbah Ayat 129. Dari Tirmidhi, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bagaimana saya hendak rehat sedangkan tiupan telah sedia di mulutnya, membuka telinganya dan tunduk kepalanya, menunggu arahan untuk meniup? Ditanya lagi, apa pula arahan baginda, “Cukuplah Allah sebagai pelindungku dan Dia lah sebaik-baik penjaga.”
  3. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. (عَشرًا)
  4. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam–Mu ke atas penghulu kami Muhammad serta keluarga dan sahabat-sahabatnya. (10X)

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin Al ’As:  Rasullulah s.a.w. bersabda: “Sesiapa meminta Allah berselawat kepadaku, Allah akan membalas keatasnya dengan sepuluh kali selawat.”

Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad s.a.w); wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya..”

  1. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فُجَاءَةِ الْخَيْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فُجَاءَةِ الشَّرِّ.
  2. Ya Allah aku bermohon kepada-Mu untuk kebaikan yang tidak disangka; dan aku berlindung dengan-Mu daripada bencana yang mengejut. (Sila rujuk Hadith Per. 31)
  3. اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ، وَ أَناَ عَبْدُكَ، وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ.
  4. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan daku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti titah dan amanat-Mu sekuat tenagaku.

Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Shaddad ibn Aws; Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sebaik-baiknya cara memohon ampunan dari Allah ialah: “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan daku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti titah dan amanat-Mu sekuat tenagaku tanpa soal. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau.” Rasulullah s.a.w bersambung lagi… (Sila rujuk Hadith Per. 31 dibawah)

  1. أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ مـَا صَنَعْـتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فاَغْفِرْ لِيْ، فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
  2. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau.

Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Buraydah ibn Hasib; Rasullulah s.a.w. bersabda: Kalau sesipa katakan di waktu pagi dan petang,: “ Ya Allah! Engkaulah Tuhanku; tiada tuhan selain-Mu, Engkau Penciptaku, aku hamba-Mu, dan aku berpegang dengan tali yang kokoh yang tidak akan putus; Aku berlindung dari perkara buruk yang aku telah lakukan; aku mengakui nikmat-Mu serta dosaku; ampunilah aku sebab tiada yang mampu mengampuni selainkan Engkau.”, dan jika dia mati pada hari atau malam itu, dia akan masuk syurga.

  1. اَللَّهُـمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ اِلَهَ إلاَّ أَنْتَ، عَلَيْكَ تَوَكَّلْـتُ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَـرْشِ الْعَظِيْـمِ.
  2. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku tiada tuhan selain Engkau, hanya kepada Engkau aku berserah diri, dan Engkaulah Tuhan yang mempunyai Keagungan.

Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas; Rasullulah s.a.w. apabila dimasa kesusahan berdoa dengan membaca: “Tiada yang berhak disembah melainkan Allah, Maha Sejahtera, Maha Kuasa. Tiada yang berhak disembah selain Allah, Tuhan senanjung syurga dan dunia, Raja Yang Agung.”

  1. مَا شَاءَ اللهُ كَـانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَـمْ يَكُنْ، وَلاَ حَـوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
  2. Apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi, Tiada daya dan tiada kekuatan tanpa pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Rujuk Keterangan di Per: 54)
  3. اَعْلَـمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْـرٌ، وَاَنَّ اللهَ قَدْ أَحَـاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًـا.
  4. Aku mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah tetap meliputi ilmu-Nya atas tiap-tiap sesuatu.

Surah 65: Al Talaq Ayat 12

  1. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ كُـلِّ دَابَّـةٍ أَنْتَ آخِـذٌ بِنَا صِيَتِهاَ، إِنَّ رَبِيِّ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ.    *
  2. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan diriku sendiri, dan dari kejahatan segala yang melata yang ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Mu, sesungguhnya Tuhanku selalu berada di atas jalan yang lurus.
  3. يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ، وَمِنْ عَذَابِكَ أَسْتَجِيْرُ.
  4. Ya Allah, Yang Hidup, Tuhan Yang Berdiri Sendiri, aku memohon pertolongan dengan kasih sayang-Mu, dan aku memohon perlindungan daripada siksa-Mu.
  5. أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَي نَفْسِيْ وَلاَ إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ طَرْفَةَ عَيْنٍ.
  6. Berilah kepadaku kebaikan dalam semua permasaalahanku, janganlah Engkau menyerahkan daku kepada diriku sendiri, dan jangan juga kepada salah seorang pun daripada makhluk-Mu walau sekelip mata sekalipun.
  7. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.
  8. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada keluh kesah dan kesedihan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada bebanan hutang dan daripada paksaan manusia.

Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik; apabila Rasulullah s.a.w., berhenti untuk berehat; saya dengar baginda berdoa: “Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada keluh kesah dan kesedihan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung dengan-Mu daripada bebanan hutang dan daripada paksaan manusia“

  1. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ، فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
  2. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat.
  3. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَـافِيَةَ، وَالْمَعَافاَةَ الدَّائِمَةَ، فِي دِيْنِيْ وَدُنْياَيَ وَأَهْلِيْ وَماَلِيْ.
  4. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu pengampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.

Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Umar; Rasulullah s.a.w. selalu mengucapkan doa ini di waktu pagi dan petang: “Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu pengampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depanku dan dari belakangku, dan dari kananku dan dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari).)

  1. اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ.
  2. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. (Sila rujuk Hadith Per: 40)
  3. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِماَلِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتاَلَ مِنْ تَحْتِيْ. *
  4. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depan dan belakangku, dan dari kanan dan kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari). (Sila rujuk Hadith Per: 40)
  5. اَللَّهُـمَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِـيْ، وَأَنْتَ تَهْدِيْنِـيْ،  وَأَنْتَ تُطْعِمُنِـيْ وَأَنْتَ تَسْقِيْنِـيْ،  وَأَنْتَ تُمِيْتُنِـي،  وَأَنْتَ تُحْيِيْنِـيْ.
  6. Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan daku, memberikan petunjuk kepadaku, memberi makanan padaku, memberikan minuman kepadaku, mematikan daku, dan membangkitkan daku semula.

Dari Muslim, diriwayatkan oleh Miqdad, Rasulullah s.a.w bersabda, “Allah, memberiku makanan, memberiku minuman,” setelah baginda dapati susunya telah di minum oleh seorang.

  1. أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً، وَماَ كاَنَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. *
  2. Kami berada pada pagi ini dengan fitrah beragama Islam, di atas kalimah ikhlas, dengan agama Nabi kami Muhammad s.a.w dan agama bapa kami Ibrahim a.s. yang lurus dan berserah diri (kepada Allah), dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain.

“Hari ini Kami telah lengkapkan agamamu, dan  penuhkan nikmat–Ku kepadamu, dan meredhai untukmu Islam sebagai agamamu.     Surah 5: al-Ma’idah Ayat 3

  1. اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ، أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ.
  2. Ya Allah! sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Engkau, demikian pula di waktu petang, dan di kala hidup dan di kala mati, dan hanya kepada-Mu lah tempat kebangkitan, kami berada di waktu pagi sedang kekuasaan tetap berada bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

Dari AbuDawud, diriwayatkan oleh Abu Malik; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila bangun pagi, bacalah: “Ya Allah, sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini keterbukaannya, kemudahannya, cahayanya, keberkatanmya dan petunjuknya; dan perlindungan dari keaiban yang datang dengan nya dan sesudahnya.” Pada petang hari serupa juga.

  1. اَللَّهُّمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيُوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُداَهُ
  2. Ya Allah, kami memohon kepada–Mu kebaikan hari ini, pembukaannya, kemudahannya, cahayanya, berkatnya dan petunjuknya.
  3. اَللَّهُمَّ إِنَّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذاَ الْيُوْمِ، وَخَيْرَ ماَ فِيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذاَ الْيُوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ.
  4. Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepada–Mu daripada keburukan hari ini dan keburukan apa yang terdapat didalamnya.
  5. اَللَّهُمَّ ماَ أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَـدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَى ذَلِكَ.
  6. Ya Allah, nikmat yang aku terima di pagi ini, atau yang di terima oleh salah seorang dari hamba-Mu, maka sumbernya hanyalah Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu lah pujian dan kepada-Mu kami bersyukur atas semuanya itu.

Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Abu Malik;  “Seorang bertanya Rasulullah s.a.w.: ‘Berilah kami suatu ayat yang boleh kami ulangi tiap pagi, petang dan apabila kami bangun dari tidur.’ Baginda suruh kami berdoa: “Ya Allah! Yang Mencipta Syurga dan dunia, Yang Mengetahui semua yang zahir dan batin, Engkaulah Tuhan sekian makhluk;  para malaikat saksikan bahwa tiada tuhan selain-Mu, kami berlindung dengan-Mu dari keburukan diri kami dan dari bisikan syaitan yang menyekutukan Mu.”

  1. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ.         (ثلاثا)
  2. Maha Suci Allah dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaanNya, sebanyak timbangan ‘ArsyNya dan sebanyak tinta untuk menulis kalimatNya. (3X)

Diriwayatkan daripada Juwairiyah Ummil Mukminin r.a., bawahasanya Nabi s.a.w keluar dari rumahnya pada suatu pagi setelah habis sembahyang subuh sedang Juwairiyah masih di tempat sembahyangnya (berzikir), apabila beliau kembali ke rumah setelah menunaikan shalat Dhuha, beliau dapati Juwairiyah masih di tempat sembahyangnya lagi, lalu beliau bertanya: Apakah engkau masih lagi berkeadaan seperti aku tinggalkanmu tadi? Maka berkata Nabi s.a.w.: Bila aku meninggalkanmu tadi aku telah mengucapkan empat kalimah sebanyak 3 kali, jika ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak awal hari tadi niscaya ia lebih daripada apa yang engkau ucapkan, iaitu wirid yang disambung dengan”sebanyak bilangan ……”.

  1. سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِـهِ  وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ.         (ثلاثا)
  2. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaan–Nya, sebanyak timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak bilangan kalimat–Nya. (3X)
  3. سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَـاءِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)
  4. Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan–Nya di langit, Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya dan Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan–Nya. (3X)

Diriwayatkan daripada Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahawasanya dia bersama Rasulullah s.a.w. mendatangi seorang perempuan sedang pada kedua tangan perempuan itu ada biji (kurma) atau kerikil dihitungnya dalam tasbihnya, maka bersabda Rasulullah s.a.w.: Mahukah engkau aku memberitahumu sesuatu yang lebih mudah atau lebih utama buatmu? Lalu beliau menyambung dengan membaca wirid yang disambung seperti diatas ini

  1. اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)
  2. Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan–Nya di langit, segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya dan segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)
  3. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِـكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)
  4. Tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan–Nya di antara keduanya, dan tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan–Nya. (3X)
  5. اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ،  اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ،  اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا)
  6. Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan–Nya. (3X)

Dari Al-Muwatta, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang membaca: “Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu”  dalam sehari sebanyak seratus kali, nescaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: “Maha suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah”, dalam sehari sebanyak seratus kali nescaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyak seperti buih di lautan .

(i)  Al-Habib Abibakar Sakaran didalam Hizbnya telah mengatakan bahawa pengucapan, “Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sekalian” ialah sebagai pintu menuju kepada Allah; dan kunci ke pintu itu ialah ucapan, “Tiada tuhan melainkan Allah”; dan pertahanannya ialah ucapan, “Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung”

  1. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي الأَرْضِ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا  بَيْـنَ  ذَلِـكَ

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ.  (ثلاثا)

  1. Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan–Nya di langit, tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X)
  2. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا بَيْـنَ  ذَلِـكَ،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الأُمِّي وَعَلَـى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ.

  1. Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy (buta huruf) dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan–Nya di langit, Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan–Nya di antara keduanya, Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad yang Ummiy dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sebanyak bilangan ciptaan–Nya.
  2. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ كُلِّ ذَرَّةٍ أَلْفَ مَرَّةٍ. (ثلاثا)
  3. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi–Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, sebanyak bilangan zarah yang dicipta-Nya seribu kali. (3X)
  4. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ ماَ هُوَ خَالِقٌ.
  5. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi–Nya, kepunyaan-Nya lah Kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.

وَ فِي بَعْض النسخ زيادة  واختـلاف في هذه التسبيحـات الأخيرة، فمن شاء فليعمل بها. فكلها واردة.  اهـ.

وقد اختارها حفيد الْمؤلف الإمام علوي بن أَحْمد بن حسن الْحداد لأن الثابت في الأصل من هذه التسبيحات هو:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)،   سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ.            (مائة مرة)

(وَيَزِيدُ صَبَاحًا) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْـكُ وَلَهُ الْحَمْـدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. (مائة مرة)

فمن عمل بِها فهو الأكمل. اهـ

Nota:

Jika dibaca pada waktu petang gantikanlah perkataan-perkataan yang di garis bawah itu seperti berikut:

وَيَقُولُ فِي الْمَسَاء بَدَل    ” أَصْبَحْتُ ”   –  “ أَمْسَيْتُ “

Di ayat 22, 23, 44 dan 45:  “Pagi” digantikan dengan “Petang”.

وَبَدَل                      “ اَلْنُشُوْرِ ”  –  “ اَلْمَصِيْرِ “

Di ayat 45 “kebangkitan” digantikan dengan “kembali”.

وَبَدَل                      ” الْيَوْمِ ”    –  ” اللَّيْلِ “

Dan di dalam ayat 46 dan 47:  “hari” digantikan dengan “malam”.

إنتهى الورد اللطيف

Tamat Wirdul-Latif

Ratib Al-Haddad

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.

Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.

Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen.

Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W.  Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai[1]. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.

الراتب الشهير

للحبيب عبد الله بن علوي الحداد

Ratib Al Haddad

Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]

يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم – الفاتحة-

Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w

  1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ

  1. Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.:  “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.

Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”

  1. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.
  2. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya. Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.

(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)

Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.

  1. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.
  2. Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain”. Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”

(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)

Diriwayatkan daripada Abu Mas’ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.

  1. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
  2. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”

(Surah 2: al-Baqarah  Ayat 286)

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.

  1. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. (3X)
  2. Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu (3X)

Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”

  1. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (3X)

  1. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X)

Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.

  1. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (3X)
  2. Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha Agung. (3X)

Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda:  Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: ‘SubhanAllah al-Azim dan ‘SubhanAllah wa bihamdihi.’”

  1. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (3X)
  2. Ya Allah ampunlah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)

Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90

  1. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X)
  2. Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dan kesejahteraan–Mu. (3X)

Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.

  1. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (3X)
  2. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X)

Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”

  1. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ. (3X)
  2. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)

Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”

  1. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (3X)
  2. Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami. (3X)

Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.

Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”

  1. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (3X)
  2. Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah. (3X)

Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar.  Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.

  1. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (3X)
  2. Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada Allah batin dan zahir. (3X)

Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.

Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang yang tiada apa-apa dosa.”

  1. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (3X)
  2. Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada kami. (3X)

Dari Tirmidhi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan

Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

  1. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (7X)
  2. Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam . (7X)

Sila rujuk ke no. 12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam.

Dan dari Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadith bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.

  1. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (3X)
  2. Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim. (3X)

Seperti di atas (16); Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu dicederakan akan bebas dari dicederakan musuhnya.

  1. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3X)
  2. Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka menggangu. (3X)

Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.

  1. يـَا عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا  عَلِيْمُ  يـَا قَدِيْرُ

يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ     يـَا لَطِيْفُ  يـَا خَبِيْرُ.    (3X)

  1. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi Sentiasa Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi Maha Mengetahui (3X)

Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.”

  1. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (3X)
  2. Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba–Nya. (3X)

Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.

  1. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(4X)
  2. Aku memohon keampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku memohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan. (4X)

Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah keampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada–Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”

  1. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (50X)
  2. Tiada Tuhan Melainkan Allah (50X)

Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”

  1. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
  2. Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya. Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta’ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah, sekalian tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.
  3. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ. (3X)

  1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X)

Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”

Dari Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).

  1. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

  1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”.

Surah Al-Falaq

Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.

  1. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ،  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

  1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas

Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.

  1. اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

  1. Bacalah Al-fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn Ali Ba’alawi, dan kepada asal–usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga–moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
  2. اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ – أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.

  1. Bacalah al-fatihah kepada roh-roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah.
  2. اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

  1. Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad, Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibn Alawi Al-Haddad, asal–usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.
  2. اَلْفَاتِحَة

إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ

  1. Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang soleh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampuni mereka dan merahmati mereka dan memberi kita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka.
  2. (ويدعو القارئ):
  3. Berdoalah disini apa yang di hajati. :

اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi–Nya atas penambahan nikmat-Nya kepada kami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad, ahli keluarga dan sahabat–sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kami dari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang  Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.

  1. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ. (3X)
  2. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keredhaan dan syurga–Mu; dan kami memohon perlindungan–Mu dari kemarahan–Mu dan api neraka. (3X)

Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohon perlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”

انتهى الراتب الشهير

Tamat Ratib Al-Haddad

[1] “Syarh Ratib Al-Haddad” – komentari, pembicaraan dan hujah Ratib Al-Haddad yang teliti bagi setiap ayat di dalam Ratib Haddad tulisan Al-Habib Alawi bin Ahmad bin Hassan bin Abdullah Al-Haddad, dalam bahasa Arab yang dicetak oleh Al-Habib Ali bin Essa bin Abdulkader Al-Haddad di Singapura dan di Maqam Imam Al-Haddad.

KUMPULAN DO’A DALAM SEMUA KEADAAN

1.Do’a Menolak Bencana

Laa ilaaha illalaahul kariimul ‘azhiimu. Subhaanahu tabaarakalaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiimi. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiina. Allaahumma rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban naari.

Artinya : Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maha Suci Dia, Maha Berkat Allah Tuhannya ‘arasy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. (HR. Nasa’i)

Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.Do’a Kesembuhan/Kesehatan Diri

Allahumma ‘aafinii fii badanii. Allaahuma ‘aafinii fi sam’ii. Allaahumma ‘aafinii fii basharii. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri laa illaaha illaa anta.

Artinya : Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan selain-Mu. (HR. Abu Daud)

3.Do’a Dilindungi Dari Rupa-rupa Penyakit

Allahumma innii a’uudzubka minal barashi wal junuuni wal judzaani wa sayyi’il aswqaami

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari penyakit celup, penyakit gila, penyakit kusta dan penyakit-penyakit buruk lainnya.

4.Do’a Menjenguk Orang Sakit/Kecelakaan

Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sa asyfi antasy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba’sa rabban naasi biyadikasy syifaa’u, laa aasyifa lahu illaa anta, as’alullaahal ‘azhiima, rabbal ‘ arsyil ‘azhiimi an-yasfiyaka.

Artinya : Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

5.Do’a Mengobati Orang Sakit

Bismillahirrahmaanirrahiimi. A’uudzu bi’izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhadziru

Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kuperoleh dan yang kutakuti. (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmi-dzi dan Nasai).

6.Do’a Menghadapi Musibah

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna. Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa.

Artinya : Sesungguhnya kami memiliki Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah kami pahala dalam misibahku in dan berilah pengganti yang lebih baik. (HR. Muslim)

7.Do’a Membimbing Orang Sekarat

Astaghfirullaahal ‘azhiimaa …… Laa Ilaaha Illallaahu muhammadun rasuulullaahi ….

Artinya : Aku mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. (dibaca terus-menerus istighfar dan syahadat tersebut pada telinga orang yang hampir wafat itu). (Tertunjuk dalam HR. Muslim, Abu Daud dan Hakim).

8.Do’a Di Sisi Orang Yang Telah Wafat

Allaahummaghfirlii wa lahu wa’aqibnii minhu ‘uqbaa hasanatan.

Artinya : Ya Allah, ampunilah aku dan orang ini dan berilah aku ganti yang baik daripadanya. (HR. Muslim)

9.Do’a Masuk Pekuburan Muslim

Assalamu ‘alaykum ahlad diyaari minal my’miniina wa innaa insyaa’allaahu bikum laahiquuna. As’alullaaha lanaa wa lakumul ‘aafiyata.

Artinya : Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung orang-orang mu’min. Kami in insya Allah akan bertemu dengan anda sekalian. Kumohonkan pada Allah kesejahteraan bagi kami dan bagi anda sekalian. (HR. Muslim)

  1. Do’a Terhindar dari Kesulitan dan Penderitaan

Biismillaahi ‘alaa nafsii wa maalii wa diinii, allaahumma radhinii biqadhaa’ika wa baarik lii fiimaa quddiralii hatta laauhibbaa\ ta’jiila maa akhkharta wa ta’khiira maa ‘ajjalta

Artinya : Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan ubun-ubunku dalam tangan-Mu, berlakulah atasku hukum keputusan-Mu dan adillah atasku segala taqdirmu. Aku mohon pada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Kau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu kiranya Engkau jadikan kitab al-Quran jadi kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesusahanku dan menghilangkan dukacitaku. (HR. Ahmad dan Ibnu Gibban)

  1. Do’a Menghadapi Kesedihan, Kelemahan, Kemalasan, Takut, Kikir, Banyak Hutang Dan Penindasan

Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazani wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatid dayni wa qahrir rijaali.

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain.

  1. Do’a Ketenangan Jiwa

Rabhanaa afrigh ‘alaynaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa wahshurnaa ‘alal qawmil kaafirina. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytana wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaabu. Allaahumma tsabbitnii an azilla wahdinii an adhilla. Allahumma kamaa hulta baynii wa bayna qalbii, fahul baynii wa baynasy syaythaani wa ‘amalihi. Allaahumma innii as-aluka nafsan muthma ‘innatan tu’minu biliqaa’ika wa tardhaa biqadhaa’ika wa taqna’u bi’athaa’ika

Artinya : Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap golongan yang kafir.

Ya Tuhan kami, janganlah kau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki dan berilah kami dari hadhirat-Mu rahmat karena Engkau adalah Yang Maha Pemberi.

Ya Allah kokohkanlah aku dari kemungkinan terpelesetnya iman, dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan sesat.

Ya Allah sebagaimana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku, maka berilah penghalang antaraku dan antara syaitan serta perbuatannya.

Ya Allah aku mohonkan pada-Mu jiwa yang tenang tenteram, yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas keputusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu.

  1. Do’a Mohon Ketenangan Dalam Menghadapi Musibah

Allahummarzuqnii nafsan muthma’innatan tu’minu biliqaa’ika wa tardhaa biqadhaa’ika

Artinya ; Ya Allah, berilah kami hati yang tenang, yang beriman akan saat perjumpaan dengan-Mu dan ridiha menerima segala ketetapan-Mu

  1. Do’a Ketika Menghadapi Kesulitan

Allahumma Laa shla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan

Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)

  1. Do’a Dimudahkan Segala Urusan

Allaahumma innii as-aluka tamaaman ni’mati fil asy-yaa’I kullihaa wasy syukra laka ‘alayhaa hattaa tardhaa wa ba’dar ridhaa, wal khiyarata fii jamii’I maa yakuunu fiihil khiyaratu wa bijamii’I masyuuril umuuri kullihaa laa bima’suurihaa yaa kariimu.

Artinya : Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu kesempurnaan ni’mat pada segala perkara dan mensyukuri-Mu atasnya, sehingga Engkau ridha dan sesudah ridha itu lalu aku mohonkan pula kepada-Mu untuk memilih segala apa yang boleh dipilih dan dengan segala kemudahannya, bukan yang sulit lagi sukar dikerjakannya. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia.

  1. Do’a Mohon Husnul Khatimah

Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika

Artinya : Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya dan sebaik-baiknya amalku adalah pada ujung akhirnya, dan sebaik-baiknya hariku adalah pada saat aku menemui-Mu. (Disebutkan oleh an-Nawawi)

  1. Do’a Waktu Bersin dan Jawaban yang Mendengarnya

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiina. (segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam),

kemudian dijawab oleh orang yang mendengarnya :

Yarhamukallahu (Semoga Allah merahmati anda), lalu orang yang yang bersin itu menjawabnya pula dengan : Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalaku (Semoga Allah memberi hidayat bagi anda dan membaguskan keadaan anda). (HR. Bukhari)

  1. Do’a Diberi Kesenangan Hidup

Allahumma ashlih lii fii diiniil ladzii huwa ‘ishmatu amrii wa ashlih lii dun-yaayal latii fiihaa ma’aasyi wa shlih lii aakhiratil latii fiihaa ma’aadii waj’alil hayaata ziyaadata lii fii kulli khayrin wajalil mawta raahatan lii min kulli syarrin.

Artinya : Ya Allah, baguskanlah untukku agamaku yang jadi pangkal urusanku, baguskan pula duniaku yang jadi tempat penghidupanku, dan baguskanlah akhiratku yang padanya tempat kembaliku nanti, jadikanlah hidup tu menjadi bekal/tambahan bagiku dalam segala kebaikan, serta jadikanlah mati itu pelepas segala keburukan bagiku. (HR. Muslimin)

  1. Do’a Berlindung Dari Mahluk Jahat

A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min syarri maa khalaqa

Artinya : Aku berlindung dengan menyebut kalimat-kalimat Allah Yang Maha sempurna dari segala kejahatan apa yang telah diciptakan-Nya.

  1. Do’a Dapat Bersyukur, Bersabar dan Tidak Menonjolkan Jasa

Allahummaj’alnii syakuuran waj’alnii fii ‘aynii shaghiiran wa fii a’yunin naasi kabiiran.

Artinya : Ya allah, jadikanlah aku orang yang berterimaksih pada-Mu, jadikanlah aku orang yang shabar, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku tapi orang yang besar dalam pandangan orang lain.

  1. Do’a Mengunjungi Pengantin Baru

Baarakallahu likulli waahidin minkumaa fii shaahibihii wa jama’a baynakumaa fi khayrin

Artinya : Semoga allah memberkati masing-masing kamu berdua (mempelai) terhadap temannya, dan semoga Allah mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majalah)

Baarakallahu laka wa baaraka ‘alayka wa jama’a baynakumaa fi khayrin

Artinya : Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah, dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  1. Do’a Ketika Melihat Bayi Baru Lahir

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin.

Artinya : Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah Yang Sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

  1. Do’a Mohon Putera yang Shalih

Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinna qurrata a’yunin waj’alnaa limuttaqiina imaaman.

Artinya : Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak-cucu kami yang menyenangkan kami dan jadikanlah kami sebagai ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Furqan, 74)

  1. Do’a Mohon Dianugerahi Rizki yang Berkah

Allahummarzuqnii rizqan halaalan thayyiban wasta’milnii thayyiban. Allahummaj’al awsa’a rizqika ‘alayya ‘inda kibari sinnii wanqithaa’i umrii.Allaahummakfinii bihalaalika ‘an haraamika wa aghninii bifadhlika ‘am-man siwaaka.Allaahumma in nii as-aluka rizqan waasi’an naafi’an. Allaahumma innii as-alukan na’iimal muqiinal ladzii laa yahuulu wa laa yazuulu.

Artinya : Ya Allah, berilah padaku rezki yang halal dan baik, serta pakaikanlah padaku segala perbuatan yang baik.

Ya Tuhanku, jadikanlah oleh-Mu rezekiku itu paling luas ketika tuaku dan ketika lemahku.

Ya Allah, cukupkanlah bagiku segala rezki-Mu yang halal daripada yang haram dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang lainnya.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu rezki yang luas dan berguna.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu ni’mat yang kekal yang tidak putus-putus dan tidak akan hilang.

  1. Do’a Bagi Kedua Orangtua

Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiran.

Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

DO’A DI RINGANKAN HISAB DAN 4 GOLONGAN MANUSIA YANG DI RINDUKAN SURGA

Sebagai umat Islam, kita pasti mengharapkan keselamatan di akhirat kelak dan berkumpul dengan saudara-saudara  kita di surga nantinya. Akan tetapi sebelumya, amalan kita selama di dunia akan dihisab. Walau nabi Muhammad Saw dijamin untuk masuk Surga, beliau tetap membaca doa agar dipermudah ketika dihisab dan mungkin bagi kita untuk mengamalkanya. Adapun doanya ialah:

(اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابَاً يَسِيرَاً…(رواه أحمد

“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah..”. (H.R Imam Ahmad)

Ini Empat Golongan yang Dirindukan Surga

Setiap orang yang beriman pasti menginginkan agar dirinya dimasukkan ke dalam surga. Di dalam surga, mereka berhasrat bukan hanya terhadap kenikmatan di dalamnya, lebih dari itu mereka berhasrat agar bertemu dengan Allah, Tuhan yang selama di dunia disembah dengan penuh kerinduan. Karena hanya di dalam surga, Allah dapat dilihat dan tidak ada kenikmatan apapun yang bisa menandingi kenikmatana melihat wujud-Nya.

Namun, ternyata surga bukan hanya bisa dirindukan tapi juga bisa merindukan. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda;

مَنْ سَأَلَ اللَه اْلجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ اْلجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثلَاَث َمَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ اَللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali, maka surga akan berkata, ‘Ya Allah masukkan dia ke dalam surga.’ Dan barangsiapa meminta dijauhkan dari neraka, maka neraka berkata, ‘Ya Allah, jauhkan dia dari neraka.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa surga juga bisa meminta kepada Allah agar seseorang dimasukkan ke dalamnya. Begitu juga dengan neraka, bisa meminta agar seseorang dijauhkan dari dirinya. Dalam kitab Raunaqul Majalis disebutkan, bahwa ada empat golongan yang dirindukan surga dan meminta kepada Allah agar mereka segera dimasukkan ke dalamnya.

اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِي الْقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ، وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالطَّائِمِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ

“Surga sangat rindu terhadap empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Quran, orang yang memelihara lisan, orang yang memberi makan terhadap orang-orang yang lapar serta orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.”

Pertama, pembaca Al-Quran. Selain dapat menentramkan hati, membaca Al-Quran juga bisa mengantarkan pembacanya ke derajat tertinggi di surga. Nabi SAW bersabda, “Bacalah (Al-Quran), naiklah (pada derajat-derajat surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukan derajatmu pada kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).

Kedua, orang yang selalu menjaga lisannya dari berkata kotor, mengumpat, menyakiti orang lain melalui lisannya. Disebutkan dalam sebuah hadis, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang hanya melaksanakan shalat wajib saja dan hanya bersedekah dengan sepotong keju namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Nabi SAW menjawab, “Dia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari).

Ketiga,  orang yang memberi makan terhadap orang lapar. Nabi SAW bersabda, “Siapapun mukmin memberi makan mukmin yang kelaparan. Pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya makanan dan buah-buahan surga.” (HR. Tirmidzi).

Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Nabi SAW bersabda, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Al-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Wallahu A’lam.