MARI AMALKAN DO’A INI DI SAAT HARGA KEBUTUHAN NAIK DAN MAHAL

Tak bisa lagi disembunyikan, Kalangan menengah kebawah khususnya saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan dan kepapaan,mereka menjerit kala semua harga melejit, membelit dan seakan dunia menyempit, terhimpit dalam lingkaran pailit.

Mengubah kebijakan tak mungkin dilakukan, karena bukan golongan Elit.
Menurunkan kembali harga dirasa akan semakin Sulit.
Ya… karena kita hanya Wong Cilik yang tak punya kebijakan apa-apa…

Tapi ,Yakinlah rizqi dan karunia Allah akan selalu menghampiri sekalipun pada wong cilik , Tetaplah menjalankan ibadah , carilah dunia semampu yang bisa dilakukan dan tetaplah berdo’a. Karena Hanya Allah lah yang mencukupi kita dan Allah lah sebaik-baiknya yang diwakili.

Berikut saya share satu amalan dan do’a dari “Syeikh Al-Quthub Abi Al-Hasan ‘Ali Asy-Syadzili ” dalam sebuah karyanya ” Sirrul Jaliil Fii Khowaashi Hasbunallahu Wa Ni’mal Wakiil “.

Di baca/diamalkan/diwirid setelah setelah selesai sholat ashar :

حسبنا الله ونعم الوكيل (٤٥٠ )

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم يا كافي اكفني نوائب الدنيا ومصائب الدهر وذل الفقر . اللهم يا غني اغنني بغنائك عمن سواك وبجودك وبفضلك عن خلقك فإنك قلت وقولك الحق المبين ” ادعوني استجب لكم ” دعوناك كما امرتنا فاستجب منا كما وعدتنا
اللهم يا مغني اسألك غناك الدهر الي الابد
اللهم يا فتاح افتح لي باب رحمتك واصب علي ستر عنايتك وسخرلي خدام هذه الاسمآء بشيء استعين به علي معايشي وامر ديني ودنياي وأخرتي وعاقبة امري ، وسخره لي كما سخرت الريح والانس والجن والوحوش والطير لنبيك سليمان ابن داود عليهما السلام ، وب ” آهيا شراهيا ادوناي أصباؤت آل شداي ”
يا من امره بين الكاف والنون ، انما امره اذا اراد شيئا ان يقول له كن فيكون . فسبحان الذي بيده ملكوت كل شيء واليه ترجعون (٧)

سر الجليل في خواص حسبنا الله ونعم الوكيل _ الشيخ القطب ابي الحسن علي الشاذلي

Bacaan Latinnya :

Hasbunallhu Wa Ni’mal Wakiil (450x)

Do’a 7x : ” Bismillahir Rohmaanir Rohiim, Allahumma ya kaafi ikfini nawaaibad dunya wamashoibad dahri wa dzullal faqri.
Allahumma ya ghoniyyu ,aghnini bighina_ika ‘amman siwaka wabijudika wabifadhlika ‘an kholqika, fainnaka qulta waqoulukal haqqul mubin UD”UNI ASTAJIB LAKUM ,Da’aunaaka kama amartana fastajib minnaa kamaa wa’adtanaa.
Allahumma ya mughniyyu asaluka ghinaakad dahro ilal abadi. Allahumma ya fattahu iftahli baaba rohmatika washbi 'alayya sitro 'inaayatika ,wasakhkhirli khudaama hadzihil asmaa_i Bisyai_in asta;inu bihi 'ala ma'ayisyi wa amri diini wadunyaya wakhiroti wa'aqibati amri, Wasakhkhirhu li kama sakhortar riiha wal_insa waljinna walwuhusya waththoiro linabiyyika Sulaimana ibni Dawuda 'alaihimas salam, wa_bi_ "Ahyan Syarohiyan Adwanaya Ashbaut Al Syadaya". Ya Man Amruhu ainal kaafi wannun, innamaa amruhuidza aroda syaian an yaqula lahu Kun Fayakun. Fasubhaanal ladzi biyadihi malakutu kulli syai`in ,Wailaihi turja’un “

Terjemah do’a :
Ya Allah, Tuhan Yang Maha mencukupi, sudahilah ( Cukupkan ) kecelakaan dunia dan musibah sepanjang masa dan hinanya kefaqiran yang menimpaku. Wahai Tuhanku Yang Maha kaya, anugerahilah aku dengan kekayaan-MU, kedermawanan-MU dan kelebihan-MU. Sehingga aku tidak butuh bantuan dari selain-MU yang menjadi ciptaan-MU. Engkau telah berfirman dan firman-MU benar dan nyata ” Berdoalah kepada-KU niscaya aku kabulkan ( pinta )mu ” Kami pun memanjatkan doa kepada-MU sebagaimana yang telah Engkau perintahkan kepada kami, maka kabulkanlah doa kami sebagaimana janji-MU untuk mengabulkan kami.
Wahai Tuhan Yang Memberi Kekayaan, berilah aku kekayaan sepanjang masa dan selama lamanya.
Wahai Tuhan Dzat Yang Maha Pembuka, bukakanlah pintu rahmat-MU untukku dan hilangkanlah semua yang menutup pertolongan-MU serta tundukkanlah kepadaku Khadam ( penjaga ) doa ini dengan membawa sesuatu yang dapat menolongku atas masalah penghidupanku, agamaku, dunia dan akhiratku serta akibat semua permasalahanku. Tundukkanlah kepadaku sebagaimana Engkau tundukkan angin, manusia, jin, Binatang liar dan burung-burung tunduk kepada Nabi-MU Sulaiman putra Daud AS. Dan dengan wasilah / perantara penjaga doa ini yang bernama Ahiyan, Syarohiyan, Adunayan dan Asbawut Ali Sadaya.
Wahai Dzat yang perintahnya diantara huruf KAF dan NUN ” Sesungguhnya perintah-NYA hanyalah berkata ‘ JADILAH ‘ maka ‘ TERJADILAH ‘. Maka Maha Suci Allah yang di tangan-NYA Kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-NYA lah kamu dikembalikan.

*** Semoa melalui doa-do’a yang terpanjat dan usaha serta ikhtiyar yang dijalankan, Allah beri kemudahan kepada para pembaca dan muslimin muslimat , aamiin ya sami’ad du’a

DO’A PENYEMBUH DAN PERLINDUNGAN DARI PENYAKIT

Dinukil dari kitab Tafsir Al Kabir karya Imam Fakhruddun Ar Razy

أحدها : ما روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم اشتكى فرقاه جبريل عليه السلام ، فقال : بسم الله أرقيك من كل شيء يؤذيك ، والله يشفيك

Pertama :
Pernah suatu kali Rasululloh shollallohu alaihi wasallam mengadu kemudian malaikat Jibril alaihis salam meruqiyahnya dengan bacaan :

BISMILLAHI ARQIIK, MIN KULLI SYAI IN YU’DZIIK , WALLOHU YASYFIIK

وثانيها : قال ابن عباس : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا من الأوجاع كلها والحمى هذا الدعاء : بسم الله الكريم ، أعوذ بالله العظيم من شر كل عرق نعار ، ومن شر حر النار

Kedua :
Rasululloh pernah mengajari para sahabat untuk membaca doa dari segala rasa sakit dan sakit panas :

BISMILLAHIL KARIIM, AUDZUBILLAAHIL ADZIIM, MIN SYARRI KULLI ‘IRQIN NA’AAR, WAMIN SYARRI CHARRIN NAAR.

وثالثها : قال عليه السلام : من دخل على مريض لم يحضره أجله ، فقال : أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيك سبع مرات شفي

Ketiga:
Nabi pernah bersabda : “Barang siapa membaca kalimat berikut sebanyak tujuh kali kepada orang yg sakit dan belum datang ajalnya maka akan disembuhkan.”

AS’ALULLOHAL ADZIIM, ROBBIL ‘ARSYIL ADZIIM, AY YASYFIIK.

ورابعها : عن علي عليه السلام قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل على مريض قال : أذهب الباس رب الناس ، اشف أنت الشافي ، لا شافي إلا أنت

Keempat :
Diantara yang pernah dibaca Rasululloh shollallohu alaihi wasallam ktika mengunjungi orang sakit ,

ADZHIBIL BA’S ROBBAN NAAS, ISYFI ANTAS SYAFII, LAA SYAFIYA ILLA ANTA

وخامسها : عن ابن عباس قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعوذ الحسن والحسين يقول : أعيذكما بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ، ومن كل عين لامة ، ويقول : هكذا كان أبي إبراهيم يعوذ ابنيه إسماعيل وإسحاق

Kelima :
Rasululloh memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain sebagaimana yg dibacakan oleh Nabi Ibrahim kepada kedua putranya Nabi Ismail dan Nabi Ishaq ,

U’IDZUKUMA BIKALIMATILLAHIT TAAMMAH, MIN KULLI SYAITONIW WAHAAMMAH, WAMIN KULLI ;AINIL LAAMMAH.

وسادسها : قال عثمان بن أبي العاص الثقفي : قدمت على رسول الله وبي وجع قد كاد يبطلني فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اجعل يدك اليمنى عليه ، وقل بسم الله أعوذ بعزة الله وقدرته من شر ما أجد سبع مرات ، ففعلت ذلك فشفاني الله

Keenam:
Seorang sahabat mengadukan suatu penyakit kepada Rasululloh shollallohu alaihi wasallam kemudian beliau menyuruh sahabat tersebut membaca kalimat sebanyak tujuh kali dan tangan kanan diletakkan pada tempat yang sakit maka Allah menyembuhkan penyakitnya, kalimat tsb adalah :

BISMILLAHI A’UDZU BI IZZATILLAHI WAQUDROTIHI MIN SYARRI MAA AJIDU

وسابعها : روي أنه عليه السلام كان إذا سافر فنزل منزلا يقول : يا أرض ، ربي وربك الله أعوذ بالله من شرك وشر ما فيك وشر ما يخرج منك ، وشر ما يدب عليك ، وأعوذ بالله من أسد وأسود وحية وعقرب ، ومن شر ساكني البلد ووالد وما ولد

Ketujuh :
Ketika Rasululloh bepergian dan turun pada suatu tempat maka Rasululloh mengucapkan :

YAA ARDHU, ROBBI WAROBBUKILLAH, A’UDZUBILLAHI MIN SYARRIK, WASYARRI MAA FFIK, WASYARRI MAA YAKHRUJU MINKI, WASYARRI MAA YADUBBU ALAIKI, WA A’UDZU BILLAHI MIN ASADIN, WA ASWADI, WACHAYATIN, WA ‘AQROBIN, WAMIN SYARRI SAAKINIL BALAD, WA WAALID WAMAA WALAD

وثامنها : قالت عائشة : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اشتكى شيئا من جسده قرأ : ( قل هو الله أحد ) والمعوذتين في كفه اليمنى ومسح بها المكان الذي يشتكي

Kedelapan :
Ketika Rasululloh mengeluhkan sesuatu pada jasadnya maka beliau membaca QUL HUWALLOHU AHAD, SURAT AL FALAQ DAN SURAT AN NAS pada telapak tangannya kemudian mengusapkan pada tempat yang dikeluhkan.

التفسير الكبير
الإمام فخر الدين الرازي

AGAR TERBEBAS DARI CORONA COVID 19 INILAH DO’ANYA

Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya membagikan ijazah agar terhindar dari penyakit menular dan virus epidemi, terutama dari virus corona. Pembagian ijazah tersebut dilakukan pada Senin (2/3) di kediaman Habib Abdurrahim Puang Makka, Makassar, Sulawesi Selatan.

Terkait ijazah dari ulama asal Pekalongan itu, Pelaksana Tugas Ketua Umum Pengurus Pusat Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Matan) Hasan Habibi menyatakan bahwa ijazah tersebut bersifat umum, sehingga siapa pun boleh mengamalkan dan menyebarkannya.

“Abah (Habib Luthfi) mengijazahkan shalawat untuk dibaca semampunya, se-futuhnya, dan itu disampaikan Abah di ndalem (kediaman) Habib Abdurrahim Assegaf Puang Makka (Makassar),” kata Hasan.

Ijazah tersebut ditulis tangan oleh Sekjen Jatman, H Mashudi pada 2 Maret 2020 di Makassar. Mashudi mengawali ijazah tersbut dengan kalimat pembuka berikut: “Berikut Ijazah dari Rais Aam JATMAN agar terhindar dari penyakit menular dan virus epidemi, utamanya jenis penyakit yang akhir-akhir ini sedang melanda dunia, yakni virus corona.

” بِسْمِ اللهِ الَّرحْمنِ الّرحِيْمِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كُلِّ دَاءٍ وَدَوَاءٍ

“Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad, wa ‘alâ âli sayyidinâ Muhammad, bi’adadi kulli dâin wa dawâ-in.”

Sebagaimana diketahui, masyarakat dunia tengah dikejutkan dengan munculnya virus corona. Virus yang dikenal dengan nama lain Covid-19 ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember. Seiring berjalannya waktu, virus corona telah menyebar ke berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Virus tersebut disebut-sebut dapat menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil maupun menyusui.

Untuk Indonesia sendiri, Presiden Joko Widodo baru mengumumkan pada Senin (2/3) bahwa dua warganya terjangkit virus corona. Atas kejadian itu, pemerintah telah menetapkan kasus penyebaran Covid-19 sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Kementerian Kesehatan sendiri menyatakan telah menyiapkan 100 rumah sakit rujukan di 32 provinsi yang dinilai mampu menangani pasien jika ada yang terkonfirmasi virus tersebut.

Berdasarkan informasi terbaru, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa hingga kini di Indonesia ada 27 positive corona dan 155 pasien dalam pengawasan yang telah dikirim ke Balitbangkes untuk diperiksa per Selasa (2/10) dari rumah sakit di 35 provinisi.

ANJURAN MEMPERBANYAK DO’A INI DI BULAN ROJAB

Ketika masuk Bulan Rajab, umat Islam dianjurkan untuk memohon keberkahan hidup kepada Allah SWT. Mereka dianjurkan untuk memohon doa panjang umur selama bulan Rajab agar dapat mengalami bulan mulia Sya‘ban dan Ramadhan.

Adapun lafal doa yang lazim dibaca adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya‘bâna wa ballighnâ Ramadhânâ

Artinya, “Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban. Sampaikan kami dengan Bulan Ramadhan.”

Doa panjang umur itu juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana riwayat hadits berikut:

كان إذا دخل رجب قال اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Artinya, “Jika masuk bulan Rajab, Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab dan Sya‘ban. Sampaikan kami ke Bulan Ramadhan.’”

Syekh Ibnu Rajab menyimpulkan bahwa riwayat ini menganjurkan umat Islam untuk memohon panjang umur dengan niat untuk menambah kebaikan dan beramal saleh di masa mendatang.

Pandangan Ibnu Rajab ini dikutip oleh Syekh Abdur Rauf Al-Munawi ketika mensyarahkan kumpulan hadits Jami‘us Shaghir berikut ini:

قال ابن رجب: فيه أن دليل ندب الدعاء بالبقاء إلى الأزمان الفاضلة لإدراك الأعمال الصالحة فيها فإن المؤمن لا يزيده عمره إلا خيرا

Artinya, “Syekh Ibnu Rajab mengatakan, pada hadits ini terdapat dalil anjuran doa panjang umur hingga waktu-waktu utama (Ramadhan) agar dapat melakukan amal saleh di waktu-waktu tersebut.

Pasalnya, tidak bertambah usia orang beriman melainkan bertambah kebaikannya,” (Lihat Abdur Rauf Al-Munawi, Faidhul Qadir bi Syarhi Jami‘is Shaghir, [Beirut, Darul Makrifah, 1972 M/1391 H], cetakan kedua, juz V, halaman 131).

Dari keterangan ini kita dapat menyimpulkan bahwa niat dan itikad baik patut menjadi perhatian bagi kita dalam memohon panjang umur, yaitu niat beramal saleh dan memperbaiki diri untuk mengisi umur yang tersisa. Wallahu a‘lam.

DO’A AGAR MENJADI MANUSIA YANG TAHU DIRI RENDAH DIRI TAWADLU’

Tawaduk merupakan salah satu sifat mulia yang didambakan oleh banyak orang. Mengapa demikian? Sebab dengan sifat yang tawaduk kita akan bisa melahirkan sikap-sikap mulia di dunia dan akhirat. Dengan memiliki sifat tawaduk tersebut, tentunya kita seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”. Namun pada kenyataannya, sedikit saja orang yang benar-benar bisa memiliki sifat terpuji tersebut.

Disinilah kita bisa banyak berdoa agar Allah meridhai kita dan menjadikan kita hamba yang berhias tawaduk dalam hidupnya. Dalam kitab Irwa’ul Ghalil karya Muhammad Nashiruddin Al Albani tertulis sebuah doa yang berasal dari sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, yang bisa membantu kita untuk bisa menjadi hamba yang tawaduk. Doa tersebut adalah sebagai berikut:

اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين

Allahuma ahyini miskinan, wa amitni miskinan, wahsyurni fi zumratil masakin

“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu dan tawadhu dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu dan tawadhu dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu dan tawadhu.” (HR Tirmidzi)

Doa tersebut bisa menjadi senjata ampuh bagi setiap muslim yang menginginkan dirinya menjadi hamba yang tawaduk. Mengapa banyak dari kita menginginkan agar dapat memiliki sifat tawaduk? Ketahuilah bahwa hamba yang tawaduk itu akan mendapatkan kemulian di dunia dan akhirat.

Kemulian tersebut bukan tujuan awal dari tawaduk itu sendiri, melainkan hadiah dari Allah yang memang disediakan untuk hambanya yang bisa tawaduk. Tidak perlu berpura-pura baik di depan mata manusia, namun Allah akan derajatnya di dunia dan di akhirat.

Keterangan tersebut merujuk pada sebuah hadis yang berasal dari Abi Hurairah, ia berkata bahawa Nabi Muhammad bersabda:

ما نقضت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو الا عزا وما توضع أحدا لله الا رفعه الله

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

DO’A SAYYIDAH FATIMAH RA. AGAR TERBEBAS DARI KESUSAHAN DAN WAKTU YANG MUSTAJAB

Saat-saat yang diduga kuat waktu ijabah

أ – الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ وَبَعْدَهَا

ب – الدُّعَاءُ حَال السُّجُودِ

ج – الدُّعَاءُ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ

د – حَال الصَّوْمِ وَحَال الإِْفْطَارِ مِنَ الصَّوْمِ :

هـ – الدُّعَاءُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَبَعْدَ خَتْمِهِ

و – دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

ز – الدُّعَاءُ عِنْدَ الْقِتَال فِي سَبِيل اللَّهِ

ج – حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ :

ط – دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ

ي – دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ وَعَلَيْهِ

ك – دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ وَالْمَكْرُوبِ

ل – الدُّعَاءُ عِنْدَ نُزُول الْغَيْثِ

م – دَعْوَةُ الْمَرِيضِ

ن – حَال أَوْلِيَاءِ اللَّهِ

س – حَال الْمُجْتَهَدِ فِي الدُّعَاءِ إِذَا وَافَقَ اسْمَ اللَّهِ الأَْعْظَمَ

1. Doa diantara adzan dan Iqaamah dan setelahnya

2. Doa dikala sujud

3. Doa setelah shalat lima waktu

4. Doa disaat menjalani puasa dan ketika berbuka

5. Doa setelah membaca alQuran dan menghatamkannya

6. Doanya orang bepergian

7. Doa saat perang sabilillah

8. Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikri

9. Do’a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

10. doa orang tua kepada anaknya

11. Orang yang teraniaya, tertindas dan orang kesusahan

12. Doa saat turun hujan

13. Doa orang sakit

14. Doa saat menjadi kekasih allah

15. Doa saat ia bersungguh-sungguh dengan sebelumnya di dahului penyebutan asma-asma Allah yang Agung.

Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 39/225-233

DOA SAYYIDAH FATIMAH DARI NABI SAW AGAR KELUAR DARI KESUSAHAN

اللهم يا اول الاولين ويا اخر الاخرين ويا ذا القوة المتين وياراحم المساكين ويا ارحم الراحمين

Ya awwalal awwalin ya akhirul akhirin

Ya dzal quwwatil matin ya arhamal masakin ya arhamarrohimin

Doa tersebut adalah do’a kanjeng Nabi Muhammad saw yang beliau dapatkan dari Jibril AS, kemudian oleh Nabi diajarkan kepada sayyidah Fatimah. Doa ini bisa digunakan untuk menghilangkan kebingungan, kesedihan dan kesusahan.

Derajat sumber haditsnya adalah marfu’, namun menurut imam adz-dzahabi dalam mu’jam kabir, derajatnya mursal :

– (حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحِيمِ ، بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ ، قَالَ : أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ حَيَّانَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَكَرِيَّا ، قَالَ : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَمْرِيٍّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ عَبْدَةَ ، عَنْ أَبِي لُبَابَةَ ، عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفْلَةَ ، قَالَ : أَصَابَتْ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَامُ خَصَاصَةٌ ، فَقَالَ لِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَامُ لَوْ أَتَيْتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتِهِ ، فَأَتَتْهُ ، قَالَ : وَكَانَ عِنْدَ أُمِّ أَيْمَنَ فَأَتَتْهُ فَدَقَّتِ الْبَابَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ أَيْمَنَ : ” إِنَّ هَذَا لَدَقُّ فَاطِمَةَ ، وَلَقَدْ أَتَتْنَا فِي سَاعَةٍ مَا عَوَّدَتْنَا أَنْ تَأْتِيَنَا فِي مِثْلِهَا ، قُومِي فَافْتَحِي لَهَا الْبَابَ ” ، فَفَتَحَتِ الْبَابَ ، فَقَالَ : ” يَا فَاطِمَةُ ، لَقَدْ أَتَيْتِنَا فِي سَاعَةٍ مَا عَوَّدْتِنَا أَنْ تَأْتِينَا فِي مِثْلِهَا ؟ ” ، فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، هَذِهِ الْمَلَائِكَةُ طَعَامُهَا التَّهْلِيلُ وَالتَّسْبِيحُ وَالْحَمْدُ فَمَا طَعَامُنَا ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : ” وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا اقْتَبَسَ فِي آلِ مُحَمَّدٍ نَارٌ مُنْذُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ، وَلَقَدْ أَتَيْنَا أَعْنُزًا فَإِنْ شِئْتِ أَمَرْنَا لَكِ بِخَمْسَةِ أَعْنُزٍ ، وَإِنْ شِئْتِ عَلَّمْتُكِ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ آنِفًا ” ، فَقَالَتْ : عَلِّمْنِي كَلِمَاتٍ عَلَّمَكَهُنَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، قَالَ : ” قُولِي : يَا أَوَّلَ الْأَوَّلِينَ ، وَيَا آخِرَ الْآخِرِينَ ، وَيَا ذَا الْقُوَّةِ الْمَتِينَ ، وَيَا رَاحِمَ الْمَسَاكِينَ ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ” ، فَفَعَلْتُ ، قَالَ : فَانْصَرَفَتْ حَتَّى دَخَلَتْ عَلَى عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَقَالَ : مَا وَرَاءَكِ ؟ قَالَتْ : ذَهَبْتُ مِنْ عِنْدِكَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَتَيْتُكَ بِالْآخِرَةِ ، فَقَالَ : خَيْرٌ أَيَّامُكِ خَيْرٌ أَيَّامُكِ .

قال الذهبي في معجمه الكبير (2/ 258):

“هذا حديث مع غرابته مرسل، وقيل: بل لسويد صحبة، وهو أنصاري، تفرد بهذا الحديث إسماعيل بن عمر البجلي، وليس هو بمعتمد ضعفه ابن عدي”.

دعاء لتفريج الكرب والهم باذن الله :

اللهم يا اول الاولين ويا اخر الاخرين ويا ذا القوة المتين وياراحم المساكين ويا ارحم الراحمين

DO’A BA’DA SHOLAT FARDLU DAN PENJELASAN BAGAIMANA ADAB KITA DALAM BERDO’A

ADAB BERDOA

Al-Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, beliau menyebutkan bahwa dalam berdoa itu ada beberapa adab yang harus dijaga, yaitu :

    Hendaklah kita mengamati dan memilih waktu-waktu yang baik dan mulia untuk berdoa. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah Imam al-Ghazali dalam Ihya’nya mencontohkan bahwa waktu–waktu yang baik itu adalah seperti hari Arafah, bulan Ramadhan hari Jum’at, dan diwaktu sahur.

    Hendaklah kita mempergunakan kesempatan berdoa pada keadaan–keadaan yang mulia. Dengan berdasarkan hadits Rasulullah pula Imam al-Ghazali mencontohkan dalam kitabnya tersebut bahwa keadaan yang baik adalah seperti ketika berada dalam barisan (shaf) peperangan (jihad fisabilillah), ketika turunnya hujan, antara azan dan iqamat, ketika hari kala kita sedang berpuasa dan ketika berada pada sujud sembahyang.

    Hendaklah kita berdoa dengan menghadap qiblat (Ka’bah), baik berdoa setelah shalat atau pada waktu-waktu lainnya, begitu yang dilakukan Rasulullah kala Beliau berdoa. Adapun jika berdoa setelah shalat fardhu maka menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Fat-hul Mu’in, bahwa menghadap qiblat hanya disunatkan bagi selain imam. Adapun bagi imam maka sebaiknya ia berdiri pada tempat ia sembahyang dan menghadap jama’ah jika dari para jama’ah itu tidak terdapat orang perempuan, atau sebaiknya bagi imam berdoa dengan mengarahkan pihak kanannya kearah makmum sedangkan qiblat berada pada pihak kirinya.

    Hendaklah kita berdoa dengan mengangkatkan dua tangan kelangit (keatas). Menurut Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy dalam kitabnya Irsyaadil ‘Ibaad bahwa hukum mengangkat dua tangan itu adalah disunatkan bagi selain orang yang sedang sembahyang dan yang sedang berkhutbah, adapun bagi keduanya maka tidak disunatkan mengangkat dua tangan. Dan tangan yang diangkat itu adalah tangan yang dalam keadaan suci dan diangkat sampai sejajar tingginya dengan dua bahu. Adapun tangan yang bernajis menurut Syeikh Sayed Bakri bin Sayed Muhammad Syatha dalam kitab beliau I’anatuth Thaalibin maka hukum mengangkatnya adalah makruh walaupun tangan itu tertutup. Dan jika adalah hal yang didoakan itu merupakan hal yang sangat rumit dan mendesak maka menurut beliau berdasarkan al-Kurdiy bahwa tangan itu diangkat bukan sejajar dengan bahu tapi lebih keatas lagi, sekira-kira tampaklah putih–putih ketiaknya. Menurut Syeikh Syihabuddin Qulyubiy dalam kitab beliau Hasyiyah al-Mahalliy bahwa telapak tangan itu dirapatkan dan sebaiknya dalam keadaan terbuka, artinya telapak tangan tidak ditutup dengan penutup apapun jua. Hal itu kita lakukan sebagai isyarah kita sedang menadah pemberian dan anugerah dari Tuhan, dan dalam keadaan seperti itu maka pandangan mata ditujukan kelangit (keatas), sebagai isyarah kita memperhatikan rahmat Allah yang sedang diturunkan, dan setelah selesai berdoa maka tangan itu disapukan kewajah.

    Hendaklah berdoa dengan suara yang lunak dan sayup. Yang dimaksudkan disini adalah jangan meninggikan suara sampai terdengar oleh orang lain dan jangan pula mengecilkannya sampai tak terdengar pada diri sendiri. Guru besar kita pembangun mazhab Syafi’iy yaitu Muhammad bin Idris asy-Syafi’ie yang dikenal dengan Imam Syafi’iy dalam kitab beliau yang terkenal yaitu al-Um bahwa beliau berkata, “Saya memilih (berpendapat) bahwa disunatkan bagi imam dan makmum apabila telah selesai dari shalat agar mereka berzikir dan berdoa dan hendaknya mereka melakukan itu dengan merendahkan suara, kecuali kalau ia seorang imam yang bermaksud ingin mengajarkan zikir dan doa kepada para jama’ah maka baguslah jika ia membesarkan suaranya sebatas para jama’ah itu belum bisa, adapun jika mereka telah bisa maka suara imam kala berzikir dan berdoa itu harus dikecilkan kembali. Pendapat maha guru kita itu telah diikuti oleh semua murid beliau dan semua penganut mazhab Syafi’ie termasuk Syeikh Zainuddin al-Malibariy dalam kitabnya Fathul Mu’in, dan beliau menambahkan bahwa boleh juga bagi imam untuk membesarkan suara dalam zikir dan doanya jika ia bermaksud agar makmum atau para jama’ah membaca amien untuk doanya tersebut. Dan beliau menyebutkan dalam kitab tersebut, menurut guru beliau Syihabuddin Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamiy bahwa terlalu membesarkan suara ketika berzikir dan berdoa didalam mesjid, sekira-kira dapat mengganggu kekhusyukkan orang sembahyang maka membesarkan suara adalah sepantasnya diharamkan.

    Hendaklah kita dalam berdoa tidak membebani diri dengan bersajak. Kecuali pada doa-doa yang pernah diajari oleh Rasulullah, karena do’a yang paling bagus yang kita bacakan adalah do’a–do’a yang diajarkan oleh Rasulullah maka walaupun terdapat sajak didalamnya tapi tidak termasuk membebani diri. Yang dimaksud dengan bersajak ialah membebani diri dengan mencari persamaan kata atau huruf pada akhir kalimat lalu tidak memperhatikan maksud dari doa yang sedang dibaca itu, karena yang dituntut kala berdoa bukan persamaan kata tapi merendah diri dengan hati yang khusyuk dan lidah yang hina.

    Hendaklah keadaan kita dalam berdoa dengan merendah diri dan dengan khusyuk serta bersikap bahwa kita harap dan takut kepada Allah. Menurut Syeikh Jalaluddin al-Mahalliy dalam kitabnya Tafsir al-Jalalaini bahwa yang dimaksud dengan harap adalah bahwa kita dalam berdoa dengan satu kepastian bahwa kita berada dalam rahmat Allah SWT. dan kita pula harus cemas dan takut dari azab-Nya.

    Hendaklah kita mengokohkan doa dengan satu keyakinan bahwa doa itu pasti diperkenankan sebagaimana yang Allah janjikan. Dan hendaklah kita berbaik sangka pada Tuhan dengan membenarkan harapan bahwa doa pasti diterima-Nya. Disebutkan dalam berbagai kitab bahwa “Tuhan akan bersikap terhadap kita hamba menurut sangkaan kita terhadap-Nya, kalau kita menyangka bahwa Tuhan akan berbuat baik pada kita maka kebaikanlah yang diberikan Tuhan bagi kita, dan sebaliknya jika kita beranggapan bahwa yang akan diperbuat Tuhan terhadap kita adalah keburukan maka hal yang terburuklah yang bakal menghimpit kita nantinya. Oleh karena itu maka hendaklah kita dalam berdoa harus dengan satu keyakinan dan rasa percaya bahwa pintu keampunan Allah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan dosa–dosa kita. Dan pintu rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat dan mau berdoa pada-Nya. Dan rahmat yang luas itu akan diberikan bagi semua yang memerlukannya dan mau meminta kepada-Nya. Dari satu sisi bahwa kita dihadapan Tuhan harus mengakui kesalahan dan dosa yang kita lakukan dalam sebuah pengakuan yang melambangkan penyesalan bukan kepuasan dan bangga, dan dari sisi lain bahwa kita juga harus mengakui bahwa keampunan Allah SWT. jauh lebih besar dari sebesar apapun dosa-dosa kita.

    Hendaklah kita berdoa dengan penuh kesungguhan dan mengulang–ulang doa itu sampai tiga kali.

    Hendaklah kita memulai doa dengan menyebut nama Allah dan memuji kehebatan dan kebesaran-Nya apakah dalam bentuk Basmalah, Hamdalah, atau Zikir–Zikir lain yang sifatnya merupakan bentuk sanjungan kita kepada Allah SWT. setelah memuji Allah SWT. maka kita membaca shalawat kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW. Hal ini mengandung pengertian bahwa janganlah kita dalam berdoa menuju lansung pada permohonan dan permintaan, tapi berikan dulu kata-kata sanjungan dan pujian akan kebesaran Tuhan dan kemurahan-Nya. Tidakkah kita memperhatikan pengajaran Allah SWT. pada surat al-Fatihah, bahwa dalam surat tersebut sesungguhnya Allah SWT. mengajarkan kita akan cara berdoa kepada-Nya dengan firman-Nya. “Berikan Kami Jalan Yang Lurus. Yaitu Jalan Yang Telah Engkau Berikan Bagi Mereka, Yang Tidak Adalah Mereka Itu Dimurkakan Dan Tidak Pula Dalam Kesesatan.

    Doa tersebut tertulis setelah kata-kata pujian dan sanjungan terhadap dirinya pada ayat sebelumnya dengan firman-Nya “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Jenis Puji-Pujian Itu Hanyalah Hak Istimewa Bagi Allah Pemilik Alam Jagat Raya. Yang Pengasih Dan Penyayang. Yang Merupakan Raja Pada Hari Kiamat. Hanya Engkau Yang Kami Sembah Dan Hanya Kepada Engkau Pula Kami Mohon Pertolongan”.

    Hendaklah kita berdoa dengan memelihara adab bathiniyah. Adab inilah yang merupakan pangkal dan modal agar doa kita diterima oleh Allah SWT.

ADAB BATHINIYAH DAN HAKIKAT TAUBAT

Guru kita Imam Abdullah Ba’lawiy al-Haddad dalam kitab beliau an-Nashaih ad-Diniyyah wal Washaayaa al-Imaniyyah (Nasehat–Nasehat Agama Dan Wasiat Keimanan) beliau mengatakan;

“Bahwa Rasulullah SAW. menganjurkan agar dalam berdoa kita harus dengan keyakinan bahwa doa kita pasti diterima Allah SWT. dan segala apa yang kita minta kepada Allah bukan merupakan masalah yang sepele tapi seluruhnya merupakan sesuatu yang besar dalam artian bahwa segalanya itu tidak mungkin terjadi kalau Allah tiada menghendaki, dan doa yang kita ucapkan mestilah doa yang pasti maka janganlah berdoa dengan mengatakan “Ya Allah Ampunkanlah dosa ku jika engkau mau”. Tapi hendaklah kita berdoa dengan satu kepastian dan berbesarlah harapan bahwa doa kita bakal diqabulkan Tuhan. Dan ketika berdoa hendaklah hati kita menyatu dengan apa yang diucapkan oleh lidah dengan perasaan takut pada Tuhan atas kesalahan yang pernah kita lakukan dan loba kita akan penerimaan doa oleh Tuhan dengan kemurahan dan kasih sayang serta benar janjinya.

Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Allah yang selalu hidup dan maha mulia itu malu kepada hamba yang apabila sihamba tersebut mengangkatkan dua tangannya dan berdoa tapi Allah SWT. menolaknya”.

Al-Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin telah berkata bahwa untuk tercapai adab yang bathiniyah maka harus dengan “Bertaubat dari semua kesalahan dan dosa dengan Tuhan atau dengan sesama insan dan makhluq lainnya.

Menurut ‘Allaamah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuriy dalam kitabnya Tahqieqil Maqam ‘Ala Kifayatul ‘Awam, adalah hakikat taubat ialah:

عِبَارَةٌ عَنِ اْلإِقْلاَعِ مِنَ الذَّنْبِ, وَالنَّدْمِ, وَالْعَزْمِ عَلىَ أَنْ لاَ يَعُوْدَ إِلىَ مِثْلِ الذَّنْبِ الَّذِيْ وَقَعَ فِيْهِ.

Yaitu : Mencabut diri dari dosa dan kemaksiatan. Menyesali atas kesalahan. Bercita-cita dengan satu kepastian untuk tidak kembali lagi pada kesalahan dan dosa yang pernah dikerjakan.

SYARAT – SYARAT SAH TAUBAT

Masih Menurut ‘Allaamah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuriy dalam kitabnya yang tersebut diatas bahwa adalah syarat sahnya itu sebagai berikut:

    Taubat itu dilakukan sebelum Ghar-Gharah yaitu sebelum nafas sampai dikerongkongan. Ini merupakan syarat taubat yang umum dan mencakupi bagi orang kafir dan mukmin yang ‘ashiy (maksiat).

    Taubat itu dilakukan sebelum matahari keluar dari tempat ia terbenam di arah Barat, karena keadaan seperti ini memberi satu pengertian pintu taubat telah tertutup buat semua makhluq yang ada.

    Mencari dan meminta kema’afan dari para hamba Tuhan (manusia) jika dosa yang dilakukan itu ada kaitannya dengan mereka, caranya adakala dengan mengembalikan hak mereka atau meminta kepada mereka akan kebebasan dari hak-hak tersebut. Untuk dosa mengupat maka hal ini kita lakukan bila apa yang kita ucapkan itu telah sampai ketelinga orang yang kita upat. Dan jika belum sampai maka hal ini tidak diperlukan karena hanya akan menimbulkan sakit hati mereka kepada kita, tapi taubatnya cukuplah dengan berIstighfar untuknya, andaikan kelak apa yang kita upat itu pun sampai ketelinga mereka sedangkan kita telah berIstighfar untuk mereka maka hal itu sudah tidak mengapa lagi karena ketika berita noda itu sampai pada mereka adalah berita yang sudah terhapus nodanya. Dan begitu pulalah dosa zina, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa kita harus minta ma’af pada orang yang bertanggung jawab atas perempuan yang kita zinahi itu, apakah itu suaminya, bapaknya atau kakeknya. Tapi hal ini akan berakibat fatal dan sangat riskan karena bisa menimbulkan keburukan dan fitnah ataupun pembunuhan. Dan menurut pendapat yang lain dan inilah pendapat yang ada mashlahat, untuk taubatnya cukuplah antara kita dengan Allah jadi tak perlu minta ma’af pada manusia.

SEPULUH PERKARA YANG MEMATIKAN HATI

Diceritakan didalam kitab Majaalis as-Saniyah karangan ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaziy al-Fasyniy bahwa pada suatu hari disatu masa ada seorang Ulama Sufi di negeri Irak yang bernama Abu Ishaq Syeikh Ibrahim bin Adham. Pada satu ketika Beliau berjalan di pusat kota Basrah Irak, tiba-tiba masyarakat kota itu berkumpul dengan Beliau dan mereka berkata, ” Wahai Abu Ishaq! Kami sudah sangat lama sekali berdoa tapi doa kami tampaknya belum juga diterima Allah, gerangan apa yang telah terjadi wahai Aba Ishaq?. Maka Abu Ishaq Syeikh Ibrahim bin Adham menjawab sesuai dengan keberadaannya sebagai seorang Ulama Sufi, beliau berkata “Doa kalian tidak diterima Tuhan karena hati kalian telah mati”.

Hati itu bisa mati disebabakan oleh 10 perkara, yaitu :

    Kalian mengenal Allah tapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.

    Kalian mendakwakan bahwa kalian mencintai Rasulullah SAW. tapi kalian meninggalkan sunnahnya.

    Kalian membaca al Qur-an tapi kalian tidak mengamalkan isinya.

    Kalian makan nikmat Allah SWT. tapi kalian tidak mensyukuri nikmat tersebut.

    Kalian mengatakan bahwa syaithan adalah musuh kalian tapi kalian bergabung dengannya dan tidak pernah berselisih dengannya.

    Kalian mengatakan bahwa syurga itu pasti ada tapi kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.

    Kalian mengatakan bahwa neraka itu pasti ada tapi kalian tidak pernah lari dari padanya.

    Kalian mengatakan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti tapi kalian tidak mengadakan persiapan untuk menghadapinya.

    Kalian terbangun dari tidur maka kalian pun sibuk memeriksa keaiaban yang ada pada orang lain sementara keaiban yang ada pada diri kalian itu terabaikan.

    Kalian menguburkan jenazah tapi tidak mengambil contoh dan pelajaran dari padanya.

SEJARAH KAUM-KAUM YANG TIDAK DITERIMA DOA DAN PENYEBABNYA

    ‘Allamah Syaikh Ahmad bin Syaikh Hijaziy al-Fasyniy dalam kitabnya Majaalis as-Saniyah menceritakan telah berkata Wahab bin Munabbah (seorang ulama yang ahli sejarah), bahwa beliau pernah mendengar suatu kisah yang terjadi dizaman Nabi Musa As. “Suatu hari Nabi Musa As. berjalan-jalan, dan tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang sedang berdoa dengan merendah diri, yang kelihatannya silaki-laki tersebut sudah sangat lama melakukan hal seperti itu sampai mengundang perhatian Nabi Musa. Lalu Nabi Musa menadahkan tangan dan bermunajah pada Tuhan, Nabi Musa berkata, “Ya Allah! Apakah Engkau belum mengabulkan do’a laki-laki itu? Allah pun berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya, andaipun orang laki-laki itu menadahkan tangannya sampai kelangit untuk berdo’a, dan andaipun ia menangis sampai hilang nyawanya agar doanya diterima, namun Aku tidak akan mengabulkan permintaannya”. Nabi Musa bertanya, Ya Tuhan! Mengapa sampai demikian? Allah berfirman, “Wahai Musa, karena dalam perutnya ada yang haram, pada badannya ada yang haram, dan dalam rumahnya pun ada yang haram”.

    Al-Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menceritakan ada satu riwayat bahwa Ka’ab al-Ahbar (seorang ahli sejarah) pernah bercerita, “Tertimpa kemarau panjang pada satu kaum dizaman Nabi Musa, maka Nabi Musa bersama para umatnya kaum Bani Israil pun keluar kesatu tempat untuk berdoa agar Allah menurunkan hujan, namun hujan tidak juga turun. Nabi Musa dan Kaumnya melakukan hal ini sampai tiga kali tapi hujan tetap belum terjadi, sampai akhirnya Allah SWT. berkata kepada Nabi Musa, Wahai Musa! Sungguh Aku tak akan menerima doamu dan doa ummatmu, karena dalam kumpulan umatmu yang sedang berdoa kepadaku ada seorang yang suka namimah (membawa berita bohong dengan tujuan menghancurkan /tukang fitnah). Nabi Musa menyembah dan berkata, siapakah dia Ya Tuhanku, biar kami keluarkan dari kelompok kami ini. Lalu Allah berfirman, wahai Musa tak mungkin aku tunjukkan kepadamu siapa orangnya, bukankah aku melarang kalian untuk namimah dan mengapa engkau meminta aku bersifat namimah dengan meminta kepadaku untuk menunjukkan pelaku namimah yang ada diantara kamu. Akhirnya Nabi Musa pun mengambil satu alternatif dan berkata kepada umatnya, wahai para umatku sekalian, siapa diantara kalian yang memiliki sifat namimah maka bertaubatlah, maka yang merasa ada bersifat dengan sifat namimah pun bertaubat, alhasil akhirnya Allah SWT. pun menurunkan hujan.

    Al-Hujjatul Islam Imam al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin menceritakan; Sufyan ats-Tsuriy berkata, telah sampai kepadaku satu berita yang terjadi pada kaum Bani Israil, selama tujuh tahun mereka mengalami kemarau panjang sehingga mereka memakan bangkai dan anak – anak mereka yang masih kecil. Maka keluarlah mereka kegunung-gunung seraya menangis dan merendah diri, maka Allah SWT. mewahyukan kepada para Nabi mereka, “Andai pun kalian berjalan kepadaku dengan telapak kaki kalian sehingga lutut–lutut kalian terlepas dari sendinya, atau sehingga tangan–tangan kalian sampai kepenjuru langit, dan lidah–lidah kalian sampai tidak jelas lagi dalam berdoa kepadaku, namun aku tidak akan memperkenankan doa kalian, dan aku tak akan mengasihani terhadap tangis dan jerit kalian kalau masih ada diantara kalian yang belum mengembalikan sesuatu yang dizalimi kepada pemiliknya. Lalu mereka mengerjakannya dan hujan pun turun pada hari itu juga.

ANTARA DIAM DAN DOA

Dalam Risalah al-Imam Abu Qaasim al-Qusyairiy ra. beliau berkata bahwa ada perbedaan pendapat para ulama tentang apakah doa lebih baik dari pada diam? Atau diam itu lebih baik dari pada berdoa? Pendapat yang pertama mengatakan bahwa berdoa itu ibadah, hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah yang mengatakan demikian dalam haditsnya, dan karena dengan berdoa maka seseorang telah menampakkan ketergantungannya kepada Allah SWT. dan betapa ia sangat memerlukan Allah. Dengan kata lain menurut pendapat ini adalah berdoa itu lebih bagus dari pada diam.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa diam itu lebih bagus dari berdoa, karena hal ini dapat menunjukkan seseorang pada bersikap pasrah dan menerima qadha dan hukum Tuhan, karena memang segala sesuatu itu sudah ada ketentuannya dari Tuhan. Dan pendapat yang ketiga mengatakan sebaiknya bagi seseorang hendaklah ia berdoa dengan lidahnya dan dia terima hukum Tuhan dalam hati nya. Pendapat yang ketiga ini tampaknya ingin menyatukan perbedaan antara pendapat pertama dan kedua yang saling mengklaim hanya satu yang terbaik. Tapi pendapat ketiga menyimpulkan bahwa antara diam dan doa itu sama.

Lain halnya dengan Abu Qaasim al-Qusyairiy ra. Beliau berpendapat bahwa antara diam dan doa itu ada waktunya masing-masing yang ada kalanya sewaktu-waktu berdoa itu lebih baik dan pada waktu lain barangkali diam itu yang lebih baik. Maka bila ada suatu gejala dalam hati yang mengarahkan kita agar berdoa maka pada waktu itu adalah berdoa itu lebih baik. Dan jika gejala menunjuki bahwa kita tak perlu berdoa maka kala itu adalah diam terlebih baik.

Doa Sesudah Shalat

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ حَمْدًا يُوَافىِ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَارَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ وَإِلَيْكَ اْلمُشْتَكَى وَبِكَ اْلمُسْتَغَاثُ وَاَنْتَ اْلمُسْتَعَانُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَتُوْبُ إِلَيْكَ مِنَ اْلمَعَاصِى لاَ نَرْجِعُ إِلَيْهَا أَبَدًا, اَللَّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ عَنْ ذُنُوْبِنَا وَرَحْمَتُكَ نَرْجَى عِنْدَنَا مِنْ أَعْمَالِنَا, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنىَ, اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فىِ اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ السَّعَادَةِ وَاْلوِدَادِ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنْ اَهْلِ الشَّقَاوَةِ وَاْلِعنَادِ, اَللَّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ سِرَّنَا وَعَلاَنِيَتَنَا فَاقْبَلْ مَعْذِرَتَنَا وَتَعْلَمُ حَاجَاتَنَا فَأَعْطِنَا سُؤَلَنَا وَتَعْلَمُ مَا فىِ اَنْفُسِنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قُلُوْبَنَا وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى نَعْلَمَ اَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبْتَهُ عَلَيْنَا وَالرِّضَا بِمَا قَسَمْتَهُ لَنَا يَاذَااْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, اَللَّهُمَّ اَرِنَا اْلحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَاَرِنَا اْلبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ, اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآَمِنْ رَوْعَاتِنَا وَاَقِلَّ عَثَرَاتِنَا وَاحْفَظْنَا مِنْ بَيْنَ أَيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ َشمَآئِلِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا وَنَعُوْذُبِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا, اَلَّلهُمَّ بِعِلْمِكَ اْلغَيْبِ وَقُدْرَتِكَ عَلىَ اْلخَلْقِ أَحْيِنَا مَا كَانَتِ اْلحَيَاةُ خَيْرًا لَنَا وَتَوَفَّنَا مَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لَنَا, اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ أَمَرْتَنَا بِدُعَآئِكَ وَوَعَدْتَنَا إِجَابَتَكَ وَقَدْ دَعَوْنَاكَ كَمَا أَمَرْتَنَا فَأَجَبْنَاكَمَا وَعَدْتَنَا, اَللَّهُمَّ فَامْنُنْ عَلَيْنَا بِمَغْفِرَةٍ مَا قَارَفْنَا وَإِجَابَتَكَ فىِ سُقْيَانَا وَسِعَةَ َرِزْقِنَا, اَللَّهُمَّ امْنُنْ عَلَيْنَا بِصَفَاءِ اْلمَعْرِفَةِ وَهَبْ لَنَا تَصْحِيْحَ اْلمُعَامَلَةِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ عَلىَ السُّنَّةِ وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَحُسْنَ ظَنِّ بِكَ, وَامْنُنْ عَلَيْنَا بِكُلِّ مَا يُقَرِّبُنُا إِلَيْكَ مَقْرُوْنًا بِعَوَافىِ الدَّارَيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ, اَللَّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ اْلأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالَنَا إِلىَ أَحْسَنِ حَالٍ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَاعَزِيْزٌ يَامُتَعَالٍ, اَللَّهُمَّ أَعْطِنَا رِضَاكَ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ وَاخْتِمْ لَنَا باِلسَّعَادَةِ وَالَّشهَادَةِ وَاْلمَغْفِرَةِ, اَللَّهُمَّ أَظِلَّنَا فىِ ظِلِّكَ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّكَ وَاسْقِنَا بِكَأْسِ ُمحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَابًا هَنِيْئًا لاَ نَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِو اَللَّهُمَّ اخْتِمْ بِالسَّعَادَةِ آَجَالَنَا وَحَقِّقْ بِالزِّيَادَةِ آَمَالَنَا وَاَقْرِنْ بِاْلعَافِيَةِ غُدُوَنَا وَآَصَالَنَا وَاجْعَلْ إِلىَ رَحْمَتِكَ مَصِيْرَنَا وَمَآلَنَا وَاصْبُبْ سَجَالَ عَفْوِكَ عَلىَ ذُنُوْبَنَا وَمَنْ عَلَيْنَا بِإِصْلاَحِ عُيُوْبِنَا وَاجْعَلِ التَّقْوَى زَادَنَا وَفىِ دِيْنِكَ اجْتِهَادَنَا وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاعْتِمَادَنَا, وَثَبِِّتْنَا عَلَى نَهْجِ اْلإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا فىِ الدُّنْيَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَخَفِّفْ عَنَّا ثَقْلَ اْلأَوْزَارِ وَاْرْزُقْنَا عَيْشَ اْلأَبْرَارِ وَاكْفِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا شَرَّ اْلأَشْرَارِ وَأَعْتِقْ رَقَابَنَا وَرَقَابَ آَبَآئِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَاِخْوَانِنَا وَعَشِيْرَتِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنَ النَّارِ بِرَحْمَتِكَ يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَاسَتَّارُ يَاحَلِيْمُ يَاجَبَّارُ, اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا, اَللَّهُمَّ الْطُفْ بِنَا فىِ تَيْسِيْرِ كُلِّ عَسِيْرٍ فَإِنَّ تَيْسِيْرَ كُلِّ عَسِيْرٍعَلَيْكَ يَسِيْرٍ وَنَسْئَلُكَ الْيُسْرَى وَاْلمُعَافَاةَ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةِ, اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الِّنفَاقِ وَاَعْمَالَنَا مِنَ الِّريَآءِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَأَعْيُنَنَا مِنَ اْلخِيَانَةِ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ اْلخَائِنَةَ اْلاَعْيُنِ وَماَ تُخْفِي الصُّدُوْرُ, اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَناَ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَجْتَهُ وَلاَ دَيْناً إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْياَ وَاْلآَخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ, اَللَّهُمَّ ارْحَمْناَ بِالْقُرْآَنِ وَاجْعَلْهُ لَناَ إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً, اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ أَنآَءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَارَبَّ اْلعَالَمِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَناَ دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَناَ آَخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ فيِ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ اْلمَوْتَ رَاحَةً لَناَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ, اَللَّهُمَّ اهْدِنَا بِالْهُدَى وَنَقِّنَا بِالتَّقْوَى وَاغْفِرْلَنَا فيِ اْلآَخِرَةِ وَاْلأُوْلى, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ جُهْدِ الْبَلآَءِ وَدَرْكِ الشِّقَآءِ وَسُوْءِ اْلقَضَآءِ وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَآءِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَقَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَدُعَآءٍ لاَيُسْمَعُ وَنَفْسٍ لاَتَشْبَعُ. وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلجُوْعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيْعُ وَمِنْ اْلخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ وَ مِنَ اْلكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَاْلهَرَمِ وَمِنْ أَنْ نُرَدَّ إِلىَ أَرْذَلِ اْلعُمُرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَعَذَابِ اْلقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلهَمِّ وَاْلحَزْنِ وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسْلِ وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلجُبْنِ وَالْفَشْلِ وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ, رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ أَنْتَ وَلِيٌّ فىِ الدُّنْيَا وَاْلآَخِرَةْ تَوَفَّنَا مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ. وَاكْتُبْ لَنَا فىِ هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلآَخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ, اَللَّهُمَّ اجْعَلْ آَخِرَ كَلاَمِنَا مِنَ الدُّنْيَا عِنْدَ انْتِهَآءِ آَجَالِنَا قَوْلَ لآَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ كَمَا أَحْيَيْتَنَا عَلَيْهَا فَأَمِتْنَا عَلَيْهَا غَيْرَ مَفْتُوْنِيْنَ وَ لاَ ضَآلِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ وَلاَ مُغَيِّرِيْنَ وَلاَ مُبَدِّلِيْنَ وَأَنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ وَاهْدِنَا إِلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ, اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ اَدْيَانَنَا وَأَبْدَانَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَمْوَالَنَا وَأَهْلَنَا وَكُلَّ شَيْئٍ أَعْطَيْتَنَا, اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ وَجِوَارِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ, اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلاَمَةِ وَحَقِّقْنَا بِالتَّقْوَى وَاْلإِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَامَةِ فِي الْحَالِ وَالْمَالِ إنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَآءِ, رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّاِلمِيْنَ رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فىِ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلىَ اْلقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ, رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِنَا غِلاً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَؤُوْفُ الرَّحِيْمِ, رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْك َرَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا, رَبَّناَ ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ, رَبَّناَ ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْلَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنَا إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَـنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ, رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ, رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ بِنِعْمَتِكَ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلىَ وَالِدَيْنَ وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لَناَ فيِ ذُرِّيَتِنَا أَنَّا تُبْنَا إِلَيْكَ وَإِنَّا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ, رَبَّنَا آَتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةٍ وَفىِ اْلآخِرَةِ حَسَنَةٍ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَآئَنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ دُعَآءَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عليه وَسَلَّمَ, رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلِعزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ, وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَاَلمِيْنَ.

PACEKLIK DI KEMARAU BERKEPANJANGAN DAN DO’A ROSULULLOH SAW DALAM MEMOHON HUJAN

Standar kekeringan atau paceklik bukan seberapa tidak pernahnya hujan turun, melainkan tumbuh atau tidaknya tanah yang kita huni.

Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi membahas soal bencana kekeringan atau paceklik dan doa meminta hujan dari Nabi Muhammad.

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam Bâb al-Du’â ‘Ind al-Istisqâ’ mengawalinya dengan mengutip kitab Siyar al-Shâlihîn wa Sunan al-‘Âbidîn. Dalam kitab itu terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengatakan (HR. Imam Muslim dan Imam al-Baihaqi):

لَيْسَتْ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُمْطَرُوا وَلَكِنْ السَّنَةُ أَنْ تُمْطَرُوا وَتُمْطَرُوا وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

“Paceklik (kemarau) itu bukan kalian tidak diberi hujan, melainkan paceklik adalah kalian diberi hujan dan hujan, tapi bumi tidak menumbuhkan apa pun.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 173).

Dengan mengemukakan hadits ini, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi seakan-akan hendak memberitahu kita bahwa kemarau, kekeringan, atau paceklik standarnya bukan seberapa tidak pernahnya hujan turun, melainkan tumbuh atau tidaknya tanah yang kita huni. Andai hujan terus turun, tapi bumi tidak menghasilkan apa-apa, itu juga merupakan bencana atau paceklik.

Pada paragraf selanjutnya, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengutip sebuah riwayat yang berkaitan erat dengan hadits di atas. Tentunya agar pemahaman kita tentang bencana atau paceklik bisa lebih luas. Berikut riwayatnya (HR. Imam al-Bukhari):

عن أنس قال: قام رجل فقال: يا رسول الله، هلكت المواشي وتقطعت السبل، فادع الله أن يغيثنا، فرفع يديه وقال: (اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا)

قال أنس: فلا والله لا نري في السماء من سحاب ولا قزعة ولا شيئا، فطلعت سحابة من وراء سلع مثل الترس، فلما توسطت السماء انتشرت ثم أمطرت إلي الجمعة

فقال رجل: يا رسول الله، هلكت الأموال وانقطعت السبل، فادع الله يمسكها، فرفع رسول الله صلي الله عليه وسلم بيده وقال: (اللهمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا) فانجاب السحاب عن المدينة حتي أحدق بها كالإكليل

“Dari Anas, ia berkata: “Seorang laki-laki berdiri, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah binatang ternak telah mati (kehausan) dan jalanan telah retak-retak, maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami.” Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Allahummas qinâ, Allahummas qinâ, Allahummas qinâ” (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami).”

Anas berkata: “Demi Allah, kami tidak melihat awan mendung, gumpalan awan, dan sesuatu pun di langit, lalu muncullah awan mendung hitam dari belakang bukit Sala’ seperti lingkaran bergigi. Ketika awan hitam sampai di tengah dan menyebar, hujan turun sampai hari Jumat.

Kemudian laki-laki (yang sama) berkata: “Wahai Rasulullah, harta benda telah hancur, dan jalanan terputus (karena banjir), maka berdoalah kepada Allah agar menghentikan hujan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya dan berdoa: “Allahumma hawâlaynâ wa lâ ‘alainâ” (Ya Allah, [tunrunkanlah hujan] di sekeliling kami, bukan [azab] atas kami).” Kemudian awan mendung (mendadak) hilang dari (langit) Madinah sehingga (hanya) mengelilinginya seperti mahkota.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, h. 173)

Dalam riwayat di atas, seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah tentang banyaknya ternak yang mati dan memintanya untuk berdoa. Namun, ia hanya meminta diturunkannya hujan tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, seperti banjir dan lain sebagainya. Karena kekurangannya akan sesuatu, membuatnya fokus akan sesuatu itu saja, dalam hal ini adalah air hujan. Sehingga ketika bencana lain muncul akibat hujan yang tak kunjung reda, ia kembali meminta Rasulullah untuk berdoa. Dan dengan senang hati Rasulullah berdoa kepada Allah meminta hujan dihentikan.

Dari dua riwayat di atas, kita sedang diajari bahwa doa sebaiknya disertai dengan kesabaran, agar kita dapat memahami pentingnya keseimbangan dalam segala sesuatu. Dalam arti, tidak mengeluh berlebihan sampai marah, dan tidak senang berlebihan sampai lalai. Agar pikiran kita masih bisa memandang luas, sehingga fokus kita tidak hanya pada kekurangan yang sedang menimpa kita saja, tapi bagaimana caranya agar pemenuhan kekurangan kita dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyebabkan munculnya sisi buruk lain. Karena itu, kesabaran dan kepasrahan harus selalu menjadi pijakan dalam berdoa dan usaha dalam mencari solusi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan riwayat di atas, sedang mengingatkan kita bahwa keluhan tanpa kesabaran bisa menjadi bencana. Kita tahu, manusia selalu mengharapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. Ketika hari sangat panas, mereka meminta mendung; ketika jemuran tak kunjung kering, mereka meminta panas, dan seterusnya. Padahal, keberlebihan akan sesuatu memiliki konsekuensinya sendiri. Konsekuensi yang harus ditanggung dari hujan yang terus-menerus turun adalah banjir. Artinya, kelebihan maupun kekurangan air sama-sama bisa menjadi bencana. Bahkan di titik tertentu, kelebihan lebih berbahaya dari kekurangan.

Karena itu, Rasulullah mengingatkan kita bahwa bencana atau paceklik bukan melulu soal tidak adanya hujan, tapi ketidak-mampuan kita mengelola air juga bencana. Artinya, di saat persediaan air melimpah, kita lalai, dan di saat persediaan air menipis, kita mengeluh. Pertanyaannya, sudahkah keluhan kita berubah menjadi doa dan usaha?

Wallahu a’lam bish-shawwab…

PENYEBAB DI TERIMANYA DO’A DAN DO’A UNTUK ORANG YANG KESURUPAN

DO’A UNTUK ORANG KESURUPAN

Kesurupan atau masru’ sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Lembaga pendikan juga dayah (pesantren) terlebih bagi santriwati, itu terjadi semua akibat ulah mereka yang benci terhadap tegaknya agama Allah SWT, mereka yang menginginkan ilmu agama ini pudar ditelan masa sehingga berhujung dengan jahilnya manusia.

Pertanyaan :

Apa ada semacam doa yang dapat menyembuhkan dikala seseorang mengalami masru’ (kesurupan) ?

Jawaban :

Doa buat orang kesurupan menurut kitab I’anatut Thalibin karya Syekh Sayyid Bakr Syata :

    Azan di telinga orang kesurupan 7 x

    Membaca surah Al fatihah 7 x

    Ma’uzatain (surat Al falaq dan An nas) 7 x

    Membaca ayat Al kursi dan surat At thariq

    Akhir surat Al hasyr.

    Akhir surat Assaffat.

Referensi:

I’anatut Thalibinn juz 1 hal 267

(فائدة)

 من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر من * (لو أنزلنا هذا القرآن) * إلى آخرها، وآخر سورة الصافات من قوله: * (فإذا نزل بساحتهم) * إلى آخرها.

وإذا قرئت آية الكرسي سبعا على ماء ورش به وجه المصروع فإنه يفيق

 

Beberapa Sebab Mustajabahnya Do’a menurut Sayyid Muhammad Alawy al Maliky

Berdo’a merupakan solusi dari sebuah masalah, ketenangan dalam segala gangguan dan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Dalam berdoa, seseorang mencari keadilan pada Tuhan-nya atas segala perkara yang menimpanya.

Dengan berdoa seseorang berharap masalah yang menimpanya segera selesai, dan apa yang diinginkannya dikabulkan. Namun, hal demikan bukan perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Semua doa akan diterima walau dengan bentuk yang berbeda, seperti diampuni dosa, bertambah rezeki dan lain sebagainya.

Salah satu yang sangat harus diperhatikan dalam berdoa adalah adab dan ketentuan berdoa. Karena adab akan sangat berpengaruh kepada diterima dan ditolaknya doa.

Berikut ini akan dijelaskan adab-adab dalam berdoa sebagaimana di kutip dari Sayyid Muhammad Alawy dalam kitab beliau Duru’l Waqiyyah Ba Hazbul Mahiiyah pada halaman 11, karena dengan memperhatikan adab dan ketentuan berdoa, kita berharap doa akan lebih dekat untuk diterima.

  1. Mencari waktu yang tepat sebagai mana yang telah dijelaskan oleh Nabi saw dalam beberapa hadis seperti hari Arafah dalam setahun, bulan Ramadhan, hari jumat dalam seminggu dan waktu sahur di penghujung malam.
  2. Mengintip dan mencari-cari dalam keadaan yang mulia, seperti merangkak dalam saf peperangan pada jalan Allah, ketika turun hujan, ketika iqamah adzan shalat lima waktu, sesudah bershalawat, di antara azan dan iqamah dan pada saat berpuasa, karena banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang menunjukan kepada mulianya waktu-waktu di atas dan dianjurkan untuk berdoa saat itu.
  3. Menghadap kiblat, mengangkat dua tangan sehingga terlihat putih dari bathin tangan, karena Itba’ (mengikuti apa yang nabi saw lakukan) dan mengusapkannya kepada wajah saat selesai. Tidak boleh mengangkat wajah dan melihat langit, karena ada larangan kepada hal tersebut.
  4. Meringankan suara saat ketakutan dan mengeraskannya saat tidak ketakutan, karena ada perintah kepada demikian pada ayat dan hadits.
  5. Tidak memberatkan diri menggunakan bahasa yang puitis dalam berdoa, seperti menyusun doa yang mirip syair yang huruf ujungnya sama. Melakukan hal seperti ini boleh, tetapi jangan berlebihan. Karena ini merupakan satu anugerah dari Allah swt seperti yang telah dilakukan Rasulluah saw dan sebagian ulama ‘Arif billah.
  6. Merendahkan diri baik anggota lahir maupun bathin, penuh rasa harap.
  7. Yakin dengan yang di doakan, yakin diterima dan membenarkan harapan.
  8. Tegas dalam berdo’a dan mengulangnya sampai tiga kali.
  9. Membuka dan menutup doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada nabi saw.

    Dan terakhir adab bathin, yaitu: Taubat dari segala dosa, meminta maaf atas kedzaliman dan menghadap kepada Allah swt dengan penuh kesungguhan.

Demikian merupakan sebab yang paling ampuh untuk diterimanya doa.

Wallahua’lam.

INILAH AMALAN AGAR KITA DI PANGGIL ALLOH SWT MELAKSANAKAN IBADAH HAJI

Suatu hari di tahun 1990-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud.

Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru, yakni salat Tahajjud setiap malam, cukup dua rakaat, membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Setelah salam mewirid istighfar 70 kali, selawat nabi 100 kali, serta lafal “yaa syakuur” 1000 kali. KH. Sya’roni benar-benar mengamalkannya dengan istiqamah setiap malamnya.

Sampai tiba suatu hari, KH. Sya’roni didatangi tamu seorang lelaki muda, gagah dan tampan yang tak dikenal. Rupanya, ia merupakan alumni madrasah Qudsiyyah Kudus. Kepada beliau, lelaki ini mengaku bahwa saat itu tengah menjabat sebagai seorang petinggi kolonel.

Tiba-tiba lelaki tadi bertanya, apakah KH. Sya’roni masih mengajar di Qudsiyyah. Jawabannya “masih”. Lalu kolonel tadi kembali bertanya, “naik apa?”.  KH. Sya’roni agaknya merasa aneh dengan pertanyaan ini, sebab dengan posisi tempat tinggal dan madrasah yang tak jauh, tentu saja tidak ada jawaban lain selain “sepeda,” yang pantas untuk jawaban saat itu.

Tak pernah menyana sebelumnya, setelah mendengar jawaban “sepeda”, kolonel muda itu berujar dengan nada yang amat serius, “Bagaimana kalau Bapak Sya’roni saya belikan mobil?”

Tak ingin berlama-lama hanyut dalam keharuan, KH. Sya’roni kemudian memutuskan untuk ‘menawar’ bakal hadiahnya.

“Kalau misalkan saya minta ganti selain mobil, bisa nggak?” tawar KH. Sya’roni pada kolonel muda.

“Selain mobil, emm… apa itu?” tanya kolonel.

“Naik haji,” jawab KH. Sya’roni mantab.

“Oh, tentu saja bisa.”

Jawaban kolonel ini sekaligus menjawab doa KH Sya’roni selama bertahun-tahun. Akhirnya, beliau membuktikan sendiri bahwa lafal “yaa syakuur” yang diijazahkan oleh KH Bisri Musthofa memang mujarab.

Setelah sukses mengamalkan “yaa syakuur” sendiri, beliau mengajak keluarganya untuk turut juga mengamalkannya setiap malam. Dan benar, beberapa tahun kemudian, KH Sya’roni berangkat ke tanah suci untuk yang kedua kali. Beliau diajak oleh seorang aghniya’. Jika yang pertama dulu beliau berangkat sendiri, maka yang kedua ini beliau berangkat bersama istrinya. Dan tentunya, tanpa biaya, berkat “yaa Syakuur”. Begitu, Allah memberikan jalan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dengan perantara yang kadang tak terduga, termasuk wirid “yaa Syakuur”.

Dan kini, Mustasyar PBNU itu mengajak kita untuk bersama-sama turut juga mengikuti jejaknya, mengamalkan wirid “yaa Syakuur”, agar segera memenuhi panggilan ke Baitullah. Tentu saja, dengan tanpa meninggalkan rangkaian amalan sebelumnya yang juga diamalkan oleh KH. Sya’roni secara tekun dan niat yang ikhlas. (Istahiyyah)

*) Ditulis berdasarkan mauidhoh hasanah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi